Anda di halaman 1dari 28

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS FROZEN

SHOULDER DI RSUD PANGLIMA SEBAYA

Oleh :
Kunstiarini
J130195019

PROGRAM STUDI PROFESI FISIOTERAPI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2020
HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan makalah dengan judul “PENATALAKSANAAN


FISIOTERAPI PADA KASUS FROZEN SHOULDER DI RSUD PANGLIMA
SEBAYA” guna memenuhi tugas akhir praktek profesi fisioterapi Universitas
Muhammadiyah Surakarta pada stase muskuloskletal periode 07-26 September
2020

Disusun oleh :
Kunstiarini
J130195019

Telah diperiksa dan disetujui


Pada tanggal :…………………..

Pembimbing

Zakiyyah Nur Haqqi S.Ftr.,Ftr


KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT atas segala


limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis diberikan kemudahan dalam
penulisan makalah ini. Pembuatan makalah ini guna melengkapi tugas akhir
praktek profesi fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta pada stase
muskuloskletal dengan judul “PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA
KASUS FROZEN SHOULDER DI RSUD PANGLIMA SEBAYA”.
Penyusunan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik atas bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terimakasih kepada ibu Zakiyyah Nur Haqqi selaku
Clinical Educator di RSUD Panglima Sebaya serta teman-teman sejawat di RSUD
Panglima Sebaya. Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kata sempurna, dan banyak kekurangan baik dalam metode penulisan maupun
dalam pembahasan materi, hal tersebut dikarenakan keterbatasan kemampuan
penulis, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun mudah-mudahan dikemudian hari dapat memperbaiki segala
kekuranganya. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua
dan menjadi bahan masukan dalam dunia pendidikan.

Tana Paser, 21 September 2020

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang..........................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................2
C. Tujuan Makalah.........................................................................................2
D. Manfaat Makalah.......................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................4
A. Definisi......................................................................................................4
B. Anatomi dan Fisiologi...............................................................................4
C. Etiologi......................................................................................................5
D. Patofisiologi...............................................................................................6
E. Tanda dan Gejala.......................................................................................7
F. Pemeriksaan...............................................................................................8
G. Penatalaksanaan.........................................................................................9
BAB III STATUS KLINIS....................................................................................12
A. Keterangan Umum Penderita..................................................................12
B. Data-Data Medis Rumah Sakit................................................................12
C. Segi Fisioterapi........................................................................................12
BAB IV PENUTUP...............................................................................................23
A. Kesimpulan..............................................................................................23
B. Saran........................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................24
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Frozen shoulder merupakan kondisi yang disebabkan karena
peradangan, perlengketan, dan penyusutan pada kapsul sendi bahu
sehingga menyebabkan hilangnya mobilitas pada bahu. Frozen shoulder
menyebabkan munculnya rasa nyeri bahu secara progresif yang
mengakibatkan keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS) serta kekakuan
dan hambatan fungsional dari gerakan bahu secara aktif maupun secara
pasif (Ghorbanpour, A, 2019)
Frozen shoulder bersifat idiopatik atau penyebabnya tidak
diketahui, diduga penyakit ini merupakan respon auto immobilisasi
terhadap hasil-hasil rusaknya jaringan lokal, selain dugaan adanya repon
auto immobilisasi ada juga faktor predisposisi lainnya yaitu usia, trauma
berulang, diabetes melitus, kelumpuhan, pasca operasi payudara dan infark
miokardia
Secara epidemiologi frozen shoulder diperkirakan memiliki
kejadian 3%-5% pada populasi umum serta sering terjadi pada orang-
orang yang berusia 40 - 70 tahun, dan lebih sering terjadi pada wanita
yaitu sekitar 60% dibandingkan pria yaitu sekitar 40%. Frozen shoulder
lebih sering terjadi pada penderita diabetes yaitu sekitar 15-20%
dibandingkan dengan yang tidak menderita diabetes yaitu sekitar 3-5%
(Uppal et al., 2015)
Di Indonesia prevalensi dari frozen shoulder pada populasi umum
dilaporkan sekitar 2% dengan prevalensi 11% pada penderita diabetes.
Frozen shoulder dapat bersifat unilateral atau bilateral yang mengenai
kedua bahu. Frozen shoulder bilateral lebih sering terjadi pada pasien
dengan diabetes melitus (Purnomo et al., 2017)
Fisioterapi sangat berperan untuk mengurangi keluhan dan
membantu penanganan pada kasus frozen shoulder. Berbagai metode
pendekatan intervensi dapat membantu mengurangi nyeri, meningkatkan

1
lingkup gerak sendi shoulder, mempertahankan kekuatan otot bahu dan
memperbaiki fungsi gerak shoulder. Berbagai modalitas elektroterapi
dapat dipilih untuk menangani kasus tersebut seperti TENS yang bertujuan
untuk mengurangi nyeri, ataupun Infrared yang bertujuan untuk perbaikan
sirkulasi yang akan melenturkan otot sehingga memudahkan untuk
dilakukannya mobilisasi pada bahu yang bertujuan untuk memulihkan dan
meningkatkan mobilitas dari sendi tersebut. Terapi latihan juga dapat
diberikan untuk meningkatkan luas gerak sendi, serta meningkatkan
kemampuan fungsional pada sendi bahu pasien.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini ialah:
1. Apa definisi dari frozen shoulder?
2. Bagaimana anatomi dan fisiologi pada sendi bahu?
3. Bagaimana etiologi dari frozen shoulder?
4. Bagaimana patofisiologi dari frozen shoulder?
5. Bagaimana tanda dan gejala dari frozen shoulder?
6. Bagaimana pemeriksaan pada frozen shoulder ?
7. Bagaimana penatalaksanaan kasus frozen shoulder?

C. Tujuan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui lebih rinci
mengenai:
1. Definisi frozen shoulder
2. Anatomi dan fisiologi sendi bahu
3. Etiologi frozen shoulder
4. Patofisiologi frozen shoulder
5. Tanda gejala frozen shoulder
6. Pemeriksaan frozen shoulder
7. Penatalaksanaan frozen shoulder

2
D. Manfaat Makalah
1. Aspek Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu
pengetahuan fisioterapi, khususnya fisioterapi bidang muskuloskletal.
2. Aspek Praktis
a. Bagi Penulis
Menambah ilmu pengetahuan baru serta menambah
wawasan mengenai kasus frozen shoulder dan penanganan kasus
tersebut.
b. Bagi Pembaca
Menambah pengetahuan pembaca tentang fisioterapi serta
perannya pada kasus frozen shoulder
c. Bagi Institusi Pelayanan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan
rekomendasi bagi tenaga kesehatan dalam menangani kasus frozen
shoulder dengan cara non farmakologi.
d. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai masukan bagi peserta didik
fisioterapi untuk menangani kasus frozen shoulder.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Frozen shoulder dikenal sebagai bahu membeku. Definisi teknis
bahu beku adalah adhesive capsulitis, yang merupakan istilah medis untuk
kekakuan dan nyeri yang terkait dengan rentang gerakan terbatas di bahu.
Frozen shoulder adalah kondisi peradangan di mana jaringan ikat di
sekitar sendi bahu menebal dan mengencang, yang menyebabkan
hilangnya mobilitas sendi bahu, kondisi kaku bahu disebabkan oleh
perubahan pada membran synovial, dimana sering terjadi synovitis atau
peradangan maupun degenerasi pada cairan synovium disekitar kapsul
sendi dan mengakibatkan reaksi fibrosus, kontraktur ligamen
coracohumeral, penebalan ligament glenohumeral superior, middle dan
inferior, pengkerutan pada ressesus axilaris, dan kapsul sendi bagian
posterior mengalami kontraktur sehingga yang khas pada kasus frozen
shoulder adalah pola kapsuler. Perubahan patologi tersebut juga dapat
disebabkan rusaknya jaringan lokal berupa inflamasi pada membran
sinovial dan kapsul sendi glenohumeral yang membuat formasi adhesive
sehingga menyebabkan perlengketan pada kapsul sendi glenohumeral
(Amien et al., 2018).
Kondisi peradangan yang menyebabkan fibrosis pada kapsul sendi
glenohumeral ini disertai dengan nyeri bahu dan kekakuan yang progresif
secara bertahap dan pembatasan rentang gerak yang signifikan serta
terdapat hambatan fungsional dari gerakan bahu (Mezian, K., & Chang, K.
2019).

B. Anatomi dan Fisiologi


Sendi bahu juga dikenal sebagai sendi glenohumeral, adalah sendi
ball and socket joint dengan rentang gerakan paling luas di tubuh manusia.
Otot-otot bahu memiliki berbagai macam fungsi, termasuk abduksi,
adduksi, fleksi, ekstensi, rotasi internal dan eksternal. Struktur tulang pusat

4
bahu adalah skapula, tempat semua otot berinteraksi. Di aspek lateral
skapula adalah permukaan artikular sendi glenohumeral, rongga glenoid.
Rongga glenoid dikelilingi perifer dan diperkuat oleh labrum glenoid,
kapsul sendi bahu, ligamen pendukung, dan perlekatan miotendin dari otot
rotator cuff. Otot bahu memainkan peran penting dalam memberikan
stabilitas pada sendi bahu. Ketidakstabilan bahu sering menyebabkan
cedera karena pada glenohumeral caput humerus berartikulasi
dengan glenoid relatif datar. Maka gerakan bahu harus
memperhatikan posisi caput humerus terhadap glenoid. Stabilitas
dinamis dari rotator cuff sebagai kontrol posisi untuk menjaga
perpidahan berlebih caput humerus. Kelompok otot utama yang
menopang sendi bahu adalah otot rotator cuff. Empat otot rotator cuff
termasuk supraspinatus, infraspinatus, teres minor, dan subscapularis
(McCausland, 2019).

Gambar 2.1 Anatomi Shoulder Joint


Sumber: Mitkovski, 2020

C. Etiologi
Menurut Mezian, K & Chang, K (2019) penyebab terjadinya
frozen shoulder belum sepenuhnya dipahami, tetapi terdapat beberapa
faktor resiko yang telah diidentifikasikan, yaitu:
1. Usia
Kebanyakan kasus terjadi pada pasien dengan usia 40-60 tahun.
2. Diabetes Melitus

5
Pasien denga riwayat diabetes melitus memiliki risiko lebih
besar mengalami keterbatasan dalam sendi, tidak hanya dibahu
namun pada sendi lainnya. Penggunaan insulin juga memperbesar
risko kekakuan sendi.
3. Stroke
Berada dalam keadaan diam atau tidak banyak bergerak untuk
jangka waktu lama. Bahu yang jarang digerakkan atau tidak digunakan
memiliki risiko tinggi terkena frozen shoulder.
4. Shoulder Injury
Rotator cuff injuri, bursitis, fraktur pada daerah sendi bahu
5. Gangguan Tyroid
Kondisi hipertiroid atau hipotiroid sering menyebabkan kondisi
frozen shoulder bilateral

D. Patofisiologi
Perubahan patologi yang merupakan respon terhadap rusaknya
jaringan lokal berupa inflamasi pada membran synovial, menyebabkan
perlengketan pada kapsul sendi dan terjadi peningkatan
viskositas cairan synovial sendi glenohumeral dan selanjutnya kapsul
sendi glenohumeral menyempit. Cedera teringan terjadinya frozen
shoulder adalah jenis gesekan yang dapat menyebabkan reaksi radang
lokal maupun tendinitis. Penyakit ini biasanya sembuh dengan
sendirinya, tetapi bila disertai dengan impairmentyang lebih lama dan
terutama pada orang tua dapat terjadi kerobekan kecil, ini dapat
diikuti dengan pembentukan jaringan parut, metaplasia,
fibrikartilaginosa maupun pengapuran tendon. Penyembuhan disertai
dengan reaksi vaskuler dan kongesti lokal yang menyebabkan rasa
nyeri dan menyebabkan kelainan lebih lanjut. Pada kasus frozen
shoulder kapsul artikularis glenohumeral mengalami perubahan:
mengalami synovitis atau peradangan maupun degenerasi pada cairan
synovium pada sekitar kapsul sendi dan mengakibatkan reaksi
fibrosus, kontraktur ligamen coracohumeral, penebalan ligamen

6
superior glenohumeral, penebalan ligamen superior
glenohumeral, penebalan ligamen inferior glenohumeral,
peningkatakn pada ressesus axilaris, dan pada kapsul sendi bagian
posterior terjadi kontraktur sehingga yang khas pada kasus frozen
shoulder adalah pola kapsuler (Suharti, et al 2018).

E. Tanda dan Gejala


Frozen shoulder ditandai dengan adanya keterbatasan LGS
glenohumeral yang nyata, baik gerakan aktif maupun gerakan pasif. Nyeri
dirasakan pada daerah m. deltoideus. Bila terjadi pada malam hari sering
sampai menggangu tidur. Sifat keterbatasan meliputi pola kapsuler yaitu
keterbataan gerak sendi yang spesifik mengikuti struktur kapsul sendi.
Sendi bahu mengikuti keterbatasan yang paling terbatas yaitu eksoritasi,
endorotasi, dan abduksi Tanda dan gejala frozen shoulder adalah nyeri
terutama ketika meraih ke belakan g dan elevasi bahu dan rasa tidak
nyaman biasanya dirasakan pada daerah anterolateral bahu dan lengan
Pada kasus ini, nyeri yangterletak di anterolateral sendi dan menyebar ke
bagian anterior lengan atas, kadang-kadang juga ke bagian fleksor lengan
bawah. Rasa tidak nyaman memburuk pada malam hari dan biasanya
mengganggu tidur. Tenderness terjadi di sekitar caput humeri dan sulcus
bicipitalis. Gerakan pasif maupun aktif terbatas pada semua arah gerakan,
nyeri muncul pada gerak ekstrim. Pada stadium akut, spasme otot terlihat
pada semua otot di sekitar bahu. Masalah aktivitas yang sering ditemukan
pada penderita frozen shoulderadalah tidak mampu menyisir rambut,
kesulitan dalam berpakaian; kesulitan memakai breastholder (BH) bagi
wanita, mengambil dan memasukkan dompet di saku belakang, gerakan-
gerakan lainnya yang melibatkan sendi bahu karena stabilitas
glenohumeral sebagian besar oleh sistem muscolotendinogen, maka
gangguan pada otot-otot bahu tersebut akan menyebabkan nyeri dan
menurunnya mobilitas sendi sehingga mengakibatkan keterbatasan luas

7
gerak sendi yang berakibat pada penurunan aktivitas fungsional (Suharti,
et al 2018).
Menurut Chan (2017) Capsulitis adhesiva memiliki 3 fase yang mana
tiap fase menunjukan tanda gejala yang berbeda. Fase-fase tersebut yaitu :

1. Fase Freezing
Terjadi selama 2-9 bulan yaitu rasa nyeri pada bahu yang
memburuk pada malam hari dan semakin bertambahnya kekakuan otot
sehingga menyebabkan kehilangan fungsi gerak bahu
2. Fase Frozen
Selama 4-12 bulan yang menyebabkan kesulitan dalam
beraktifitas namun sakit mulai menurun walaupun masih terdapat
kekakuan otot.
3. Fase Thawing
Masa pemulihan pada 2-24 bulan fungsi bahu kemabali atau
mendekati normal
F. Pemeriksaan
Pemeriksaan fisioterapi pada kasus frozen shoulder diawali dengan
anamnesis merupakan proses pengumpulan data baik data pribadi maupun
data pemeriksaan pasien yang kemudian menjadi dasar dari penyusunan
program terapi dan tujuan terapi yang disesuaikan dengan kondisi pasien
serta lingkungan sekitar pasien. Kemudian inspeksi Suatu penilaian
fisioterapis terhadap pasien dengan observasi visual. Untuk mendapatkan
gambaran mulai pasien bagaimana datang. Pemeriksaan meliputi: Posture
dan aligment, deformitas, kontur tubuh, kontur jaringan lunak,
kesimetrisan tubuh, warna dan tekstur kulit, luka atau tanda-tanda cidera,
ekspresi, Pola gerakan abnormal Palpasi Pemeriksaan yang dilakukan
dengan perabaandan penekanan beberapa bagian tubuh dengan
menggunakan jari dan lengan. Untuk mendeteksi suhu tubuh,
pergerakan, getaran, bentuk, ukuran rasa nyeri tekan, dan kelainan
jaringan atau organ tubuh. Palpasi merupakan tindakan untuk
menegaskan hasil inspeksi yang tidak tampak (Suharti, et al 2018)

8
Frozen Shoulder merupakan gangguan pada kapsul sendi, maka
gerakan aktif maupun pasif terbatas dan nyeri. Nyeri dapat menjalar ke
leher, lengan atas dan punggung, perlu dilihat faktor pencetus timbulnya
nyeri. Gerakan pasif dan aktif terbatas. Pertama-tama pada gerakan elevasi
dan rotasi interna lengan, tetapi kemudian untuk semua gerakan sendi
bahu. Appley scratch test merupakan tes tercepat untuk mengeveluasi
lingkup gerak sendi aktif pasien diminta menggaruk daerah angulus
medialis skapula dengan tangan sisi kontra lateral melewati belakang
kepala. Pada frozen shoulder pasien tidak dapat melakukan gerakan ini.
Bila sendi dapat bergerak penuh pada bidang geraknya secara pasif, tetapi
terbatas pada gerak aktif, maka kemungkinan kelemahan otot bahu sebagai
penyebab keterbatasan. Provokative test untuk mengevaluasi problem
yang terjadi pada bahu antara lain : Appely strach test, yergason test
pemeriksaan ini dilakukan dengan meminta pasien untuk memfleksikan
elbow sampai 90 derajat dan pronasi lengan bawah, kemudian fisioterapi
mempalpasi bagian tendon bisep dan memberikan tekanan kearah lateral
rotasi sembarai pasien melakukan rotasi kearah lateral hasil positif jika ada
tenderness pada tendon bicipitalis dan merupakan indikasi tendonitis
bicipitalis. Neer test postif menunjukan impengement syndrome pada
bahu. Drop arm test dilakukan dengan cara fisioterapist mengabduksikan
shoulder pasien sampai 90 derajat dan meminta pasien menurunkan lengan
secara perlahan, positif apabila ada nyeri hasil positif mengindikasikan
masalah pada rotator cuff. Painful arc test dilakukan dengan cara
fisioterapist meminta pasien melakukan gerakan abduksi, saat mencapai
lingkup gerak sendi anmtara 70 sampai 120 derajat pasien akan merasakan
nyeri karena pada lingkup ini bursa dalam keaadaan tertekan. Tes ini
mengindikasikan bursitis shoulder (Nagpal & Well, 2018)
Selain pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosa perlu
dilakukan pemeriksaan seperti X-ray, untuk menyingkirkan diagnosis
banding seperti fraktur dan osteoartritis.-Arthrografi, yaitu pemeriksan x-
ray dengan menggunakan kontras yang di suntikkan ke sendi bahu sebagai

9
tanda pengerutan atau penyusutan kapsul sendi bahu. MRI, yaitu untuk
mengevaluasi jaringan di sekitar sendi. (park et al., 2017)

G. Penatalaksanaan
Penatalakasanaan untuk kasus frozen shoulder ialah :
a. Medikamentosa
Untuk mengurangi rasa nyeri diberikan analgesik dan obat
anti inflamasi nonsteroid. Pemakaian relaksan otot bertujuan untuk
mengurangi kekakuan dan nyeri dengan menghilangkan spasme
otot. Beberapa penulis menganjurkan pemberian suntikan
menghilangkan nyeri secara cepat. Harus diperhatikan
kemungkinan ruptur dari tendon pada penyuntikan tersebut
b. Fisioterapi
Fisioterapi sangat berperan untuk mengurangi keluhan dan
membantu penanganan pada kasus frozen shoulder. Berbagai metode
pendekatan intervensi dapat membantu mengurangi nyeri,
meningkatkan lingkup gerak sendi shoulder, mempertahankan
kekuatan otot bahu dan memperbaiki fungsi gerak shoulder. Pada fase
freezing nyeri sering kali lebih parah dari fase yang lainnya. Pada fase
ini modalitas fisioterapi berupa TENS dapat diberikan ke pasien guna
meminimalisir nyeri serta latihan-latihan mobilisasi secara soft dengan
rentang gerak yang dapat ditoleransi oleh pasien contoh latihan yang
dapat diberikan iialah pendulum exercise, passive supine forward
elevation, passive external rotation, and active assisted range of motion
in extension, horizontal adduction, and internal rotation. Pada fase
frozen modalitas terapi berupa TENS dapat dilanjutkan karena pada
fase ini sering kali masih terasa nyeri pada bahu kemudian SWD dapat
digunakan guna melanvarkan sirkulasi serta persiapan otot-otot untuk
latihan. Latihan yang direkomendasikan pada fase ini ialah
melanjutkan dan mempertahankan latihan ROM exercise pada fase
sebelumnya, streching untuk otot-otot disekitar bahu serta penambahan
latihan penguatan otot-otot sekitar bahu menjaga kekuatan otot.

10
Kontraksi isometrik atau statis adalah latihan yang tidak memerlukan
gerakan sendi dan dapat dilakukan tanpa mengkhawatirkan
bertambahnya nyeri pada bahu. Pada fase thawing pasien mendapatkan
kembali rentang gerak secara perlahan sangat penting untuk
mendapatkan bahu untuk kembali normal dengan mendapatkan
kembali gerakan dan kekuatan penuh. Sehingga latihan yang
ditekankan pada fase ini ialah strengthening. Latihan penguatan juga
dapat berkembang dari kontraksi isometrik atau statis, ke latihan
menggunakan resistance band (Chan, 2017)

11
BAB III

STATUS KLINIS

A. KETERANGAN UMUM PENDERITA


Nama : Ny. R
Umur : 17 Desember 1962 (57 Tahun)
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Kristen
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Tapis
No. RM : 300 632

B. DATA-DATA MEDIS RUMAH SAKIT


(diagnose medis, catatan klinik, medikamentosa, hasil foto rontgen)
Diagnosa Medis : Frozen Shoulder Sinistra

C. SEGI FISIOTERAPI
A. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF
1. BODY CHART

12
2. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama
- Nyeri bahu kiri
- Kaku pada bahu kiri
- Gerak terbatas pada bahu kiri
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Dua bulan lalu pasien merasakan nyeri pada bahu kiri dan
kesulitan untuk digerakan keatas ataupun kesamping. Nyeri
berkurang ketika pasien beristirahat dan nyeri bertambah berat
ketika pasien beraktivitas. Pasien melakukan terapi di RSUD
Panglima Sebaya hingga saat ini
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
d. Riwayat Penyakit Penyerta
Tidak ada
e. Riwayat Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang mengeluhkan penyakit
serupa dengan pasien
3. ANAMNESIS SISTEM
Sistem Keterangan
Kepala dan leher Tidak ada keluhan
Kardiovaskuler Tidak ada keluhan
Respirasi Tidak ada keluhan
Gastrointestinalis Tidak ada keluhan
Urogenital Tidak ada keluhan
Muskuloskeletal Spasme m deltoideus, m upper trapezius
Nervorum Tidak ada keluhan

B. PEMERIKSAAN OBYEKTIF
1. PEMERIKSAAN TANDA VITAL
a. Tekanan darah : 130/80 mmHg

13
b. Denyut Nadi : 80 x/menit
c. Pernafasan : 22 x/menit
d. Suhu : 37o C

2. INSPEKSI
a. Statis :
1) Shoulder asimetris (sinistra lebih rendah dari pada dextra)
2) Posture cinderung kifosis
b. Dinamis :
1) Ketika diminta untuk mengakat tangan keatas tidak mampu
full ROM
2) Nyeri ketika tangan digerakan kearah scapula

3. PALPASI
1) Spasme m. Deltoideus, m. Upper trapezius
2) Suhu sekitar bahu normal

4. AUSKULTASI
Tidak dilakukan

5. PERKUSI
Tidak dilakukan
6. PEMERIKSAAN GERAK DASAR
a. Gerak Aktif
Gerakan Shoulder Sinistra ROM Nyeri
Fleksi Tidak Full ROM +
Ekstensi Full ROM -
Abduksi Full ROM +
Adduksi Tidak Full ROM -
Internasl rotasi Tidak Full ROM +
Eksternal rotasi Tidak Full ROM +

14
b. Gerak Pasif
Gerakan Shoulder Sinistra ROM Nyeri End Feel
Fleksi Tidak Full ROM + Springy
Ekstensi Full ROM - Elastis
Abduksi Full ROM + Springy
Adduksi Tidak Full ROM - Soft
Internasl rotasi Tidak Full ROM + Firm
Eksternal rotasi Tidak Full ROM + Firm

c. Gerak Isometrik
Gerakan Shoulder Sinistra Kontraksi Nyeri
Fleksi Minimal +
Ekstensi Minimal -
Abduksi Minimal +
Adduksi Minimal -
Internasl rotasi Minimal +
Eksternal rotasi Minimal +

a. PEMERIKSAAN SPESIFIK
a. Nyeri dengan NRS (Numeric Rating Scale)
1) Nyeri diam : 2 (nyeri ringan)
2) Nyeri gerak : 4 (nyeri sedang)
3) Nyeri tekan : 3 (nyeri ringan)
b. Pemeriksaan kekuatan otot dengan MMT (Manual Muscle
Test)
GRUP OTOT Nilai Otot
REGIO SHOULDER Sinistra Dextra
Fleksor 4 5
Ekstensor 4 5
Abduktor 4 5
Adduktor 4 5
Internal rotasi 4 5
Eksternal rotasi 4 5

c. Pemeriksaan ROM

15
ROM shoulder sinistra

Bidang ROM
Sagital 30O - 0O - 120O
Frontal 100O - 0O - 35O
Rotasi F (90O) 60O - 0O - 45O

d. Pemeriksaan Spesifik
1) Yergason test (-)
2) Apley stratch test (+)
3) Painfull arc test (-)
4) Drop arm test (-)

e. Kemampuan functional menggunakan shoulder pain and


disability indeks (SPADI)
Skala Nyeri

Sangat Nyeri ? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Ketika posisi tiduran sisi yang terkena? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Meraih sesuatu di rak tinggi? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Menyentuh ke bagian belakang leher 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
anda?
Mendorog dengan tangan yang sakit? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Skala Disabilitas

Mencuci rambut anda? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10


Menggosok punggung anda? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Mengenakan baju? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Memakai kemeja dengan kancing didepan? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Memakai celana anda ? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Menempatkan benda ke rak yang tinggi? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Membawa benda berat 10 pounds (4,5 kg)? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Mengambil sesuatu dari saku belakang anda? 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Hasil

Jumlah skor nyeri : 19/50 x 100 = 38 %


Jumlah skor disabilitas : 30/80 x 100 = 37,5 %

16
Jumlah skor spadi : 49/130 x 100 = 37,7%
Kesimpulan : Keterbatasan ringan
b. PEMERIKSAAN KOGNITIF, INTRAPERSONAL DAN
INTERPERSONAL
a. Kognitif : Kognitif pasien baik, pasien mampu
menceritakan riwata penyakit yang diderita
b. IntraPersonal : Pasien memiliki semangat yang tinggi
untuk
sembuh
c. InterPersonal : Pasien mampu menjalin komunikasi serta
kerja sama yang baik dengan fisioterapist

C. DIAGNOSIS FISIOTERAPI
a. Impairment
1) Body structure
 Glenohumeral joint
 Muscle deltoideus
 Muscle upper trapezius
2) Body function
 Kekakuan sendi glenohumeral
 Spasme muscle deltoideus
 Spasme muscle upper trapezius
 Penurunan lingkup gerak sendi bahu
 Penurunan kekuatan otot sekitar bahu
b. Functional limitation
1) Kesulitan saat memakai breastholder (BH)
2) Kesulitan menggosok punggung (saat mandi)
3) Kesulitan saat akan mengambil barang yang tinggi
c. Disability
1) Participation retriction
 Pasien belum mampu mengikuti acara sosial disekitar
rumah seperti kerja bakti
2) Personal factor
 Pasien memiliki motivasi yang tinggi untuk sembuh
dengan mengikuti terapi yang telah diberikan
3) Enviromental factor

17
 Lingkungan pasien mendukung kesembuhan pasien.
Keluarga selalu menemani ketika pasien datang untuk
terapi

D. PROGRAM / RENCANA FISIOTERAPI


1. Tujuan
a. Jangka Pendek
1) Mengurangi nyeri pada area bahu
2) Mengurangi spasme muscle deltoideus dan muscle upper
trapezius
3) Meningkatkan lingkup gerak sendi shoulder (LGS)
b. Jangka Panjang
1) Meningkatkan kekuatan otot
2) Mengoptimalkan aktivitas functional pasien

2. Rencana Tindakan Fisioterapi


a. Pemberian tens untuk mengurangi nyeri
b. Terapi latihan untuk meningkatkan ROM shoulder
c. Strengthening untuk meningkatkan kekuatan otot sekitar
shoulder
E. TREATMENT FISIOTERAPI
1. TENS
Tujuan : untuk menurunkan nyeri
F : 2 x seminggu
I : Toleransi pasien
T : 15 menit
T : Peletakan pada area nyeri
2. Infrared
Tujuan : untuk relaksasi otot/ menurunkan spasme otot
F : 2 x seminggu
I : jarak lampu IR ke area terapi ± 35-40 cm
T : 15 menit
T : tegak lurus ke area terapi

18
3. Free Aktive Exercise
Tujuan : memelihara ROM
F : 2 x sehari (pagi dan sore)
I : 2 set 8 x repitisi
T : 10 – 20 menit
T : exercise
4. Streching
Tujuan : mengurangi ketegangan & meningkatkan fleksibilitas otot
F : 2 x sehari (pagi dan sore)
I : 2 set 8 x repitisi
T : 10 – 20 menit
T : penguluran otot
5. Strengthening
Tujuan : meningkatkan kekuatan otot area bahu
F : 2 x sehari (pagi dan sore)
I : 2 set 8 x repitisi
T : 10 – 15 menit
T : exercise
6. Manipulasi (traksi & translasi)
Tujuan : mengembalikan fungsi dari sendi normal
F : 2 – 3 kali dalam seminggu
I : toleransi pasien
T : 10 – 15 menit
T : mobilisasi

F. EDUKASI DAN HOME PROGRAM


a. Edukasi
1. pasien diminta melakukan kompres panas (jika pasien tahan) ±
15 menit pada bahu yang sakit untuk mengurangi rasa nyeri
yang timbul
2. pasien dianjurkan agar tetap meggunakan lengannya dalam
batas toleran

19
3. pasien diharapkan untuk menghindari posisi immobilisasi yang
lama yang dapat memperburuk kondisi
b. Home Program
1. latihan sesuai metode/ dosis yang telah diajarkan
2. Strengthening dengan beban minimal dan dapat ditambah
secara bertahap
3. merambatkan jari lengan yang sakit ke dinding (walking finger)
4. latihan dengan handuk, posisi lengan seperti huruf “S” terbalik
kedua lengan memegang handuk kemudian bahu yang sehat
menarik ke atas sampai lengan yang sakit tertarik

20
G. UNDERLYING PROCESS

Degeneratif

Penurunan cairan
sinovial pada sendi bahu

Peningkatan tekanan
didalam sendi

Jarak permukaan sendi


menyempit karena pelumas
sendi menipis

Peningkatan jumlah serabut


yang bersilangan serta
susunan yang tidak teratur

Rusaknya jaringan
lokal/peradangan

Perlengketan kapsul sendi


glenohumeral

Frozen Shoulder

Nyeri Hipomobility Muscle imbalance

Penurunan
Muscle Muscle
Lingkup Gerak Sendi
weaknes spasme

Penurunan kekuatan otot

TENS, IR, Free aktive exercise, Strenghthening, Streching, manual terapi

Menurunkan nyeri Meningkatkan kekuatan otot Meningkatkan ROM

Meningkatkan aktivitas functional


21
H. EVALUASI
1. Evaluasi nyeri
Evaluasi Nyeri diam Nyeri Gerak Nyeri Tekan
T1 2 4 3
T2 1 4 2
T3 1 4 2
T4 1 3 2

2. Evaluasi ROM
Evaluasi S F R
T1 30 - 0O - 120O
O
100 - 0O - 35O
O
F (90 ) 60O - 0O - 45O
O

T2 30O - 0O - 120O 100O - 0O - 35O F (90O) 60O - 0O - 45O


T3 30O - 0O - 120O 100O - 0O - 35O F (90O) 60O - 0O - 45O
T4 30O - 0O - 120O 100O - 0O - 35O F (90O) 60O - 0O - 45O

3. Evaluasi kemampuan functional


Evaluasi Skor SPADI
Terapi awal 37,7 %
Terapi akhir 34,6 %

I. PROGNOSIS
Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Sanam : Bonam
Quo ad Fungsional : Dubia ad Bonam
Quo ad Cosmeticam : Bonam

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Frozen shoulder adalah kondisi peradangan di mana jaringan ikat
di sekitar sendi bahu menebal dan mengencang, yang menyebabkan

22
hilangnya mobilitas sendi bahu serta menyebabkan nyeri, kekakuan serta
penurunan ROM. Berbagai metode pendekatan intervensi fisioterapi dapat
membantu mengurangi nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi shoulder,
mempertahankan kekuatan otot bahu dan memperbaiki fungsi gerak
shoulder. Beberapa intervensi tersebut yaitu TENS, IR, Terapi latihan serta
manual terapi.
B. Saran
Diharapkan makalah ini dapat dijadikan sumber referensi ataupun
pembelajar mengenai kasus frozen shoulder tentang bagaimana
management serta penanganan/penatalaksanaan kasus frozen shoulder dari
segi fisioterapist.

DAFTAR PUSTAKA

Amien, S., Rokhim, S., Faizah, A. 2018. Penatalaksanaan Fisioterapi pada


Frozen Shoulder Sinistra Terkait Hiperintensitas Labrum Posterior
Superior di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto.
Depok Jawa Barat: Jurnal Vokasi Indonesia: Vol. 6 No. 1
Beach, H., & Gordon, P. R. (2016). Videos in clinical medicine. Clinical
examination of the shoulder. The New England journal of medicine,
375(11), e24.
Chan, H. B. Y., Pua, P. Y., & How, C. H. (2017). Physical therapy in the
management of frozen shoulder. Singapore medical journal, 58(12), 685

23
Ghorbanpour, A. (2019). Case Report: Fascial Treatment in Frozen Shoulder: A
Case Report. Modern Rehabilitation, 13(2)
Mezian, K., & Chang, K. V. (2019). Frozen Shoulder.
McCausland, C., Sawyer, E., Eovaldi, B. J., & Varacallo, M. (2019). Anatomy,
Shoulder and Upper Limb, Shoulder Muscles
Mitkovski, I. (2020). Biomechanical Principles of Shoulder Joint as a Basis of
Post Fracture Endoprosthesis Replacement. Journal of IMAB–Annual
Proceeding Scientific Papers, 26(1), 2910-2915
Nagpal, A., & Wells, K. S. (2018). 78 Shoulder Pain. Ramamurthy's Decision
Making in Pain Management, 219
Park, G. Y., Park, J. H., Kwon, D. R., Kwon, D. G., & Park, J. (2017). Do the
findings of magnetic resonance imaging, arthrography, and
ultrasonography reflect clinical impairment in patients with idiopathic
adhesive capsulitis of the shoulder?. Archives of Physical Medicine and
Rehabilitation
Purnomo, D., Abidin, Z., & Puspitasari, N. (2017). Pengaruh Short Wave
Diathermy (SWD) dan Terapi Latihan terhadap Frozen Shoulder Dextra.
Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi, 1(1), 65-71.
Suharti, A., Sunandi, R., & Abdullah, F. (2018). Penatalaksanaan Fisioterapi pada
Frozen Shoulder Sinistra Terkait Hiperintensitas Labrum Posterior
Superior di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Jurnal
Vokasi Indonesia, 6(1).
Uppal, H. S., Evans, J. P., & Smith, C. (2015). Frozen shoulder: A systematic
review of therapeutic options. World journal of orthopedics, 6(2), 263.

24

Anda mungkin juga menyukai