Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA DAN ILMU PEMULIAAN TERNAK


PENGAMATAN KROMOSOM LALAT BUAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Melulusi Mata Kuliah


Genetika Dan Pemuliaan Ternak Pada Jurusan Ilmu
Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar

Oleh :

ALI MUSTOPO
60700115063

JURUSAN ILMU PETERNAKAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Biologi sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu

yang mempelajari lebih spesifik mengenai kehidupan dimuka bumi ini, mulai dari

unit terkecil (sel) sampai pada tingkatan terbesar. Begitu banyak ilmuwan yang

terlahir dari penemuan-penemuannya dibidang biologi. Salah satu percobaan yang

pernah dilakukan oleh ahli biologi dibidang genetika adalah meneliti mengenai

lalat buah (Drosophila melanogaster) oleh Thomas Hunt Morgan.

Drosophila melanogaster merupakan objek yang sering digunakan dalam

penelitian Genetika karena mudah dikembangbiakkan dan juga mudah didapatkan

di alam bebas. Drosophila melanogaster biasanya ditemukan pada buah-buahan

yang sudah ranum. Hal ini dikarenakan makanan lalat buah adalah jamur yang

tumbuh pada buah.

Biasanya dalam melakukan pengamatan tentang Drosophila melanogaster

dibuat sebuah medium untuk pemeliharaan Drosophila tersebut. Sehingga

memudahkan melakukan pengamatan tentang lalat buah khususnya mengenai

siklus lalat buah. Karena tanpa suatu medium, setiap fase pada siklus hidup

Drosophila melanogaster sulit diamati (Campbell, 2002).

Siklus hidup Drosophila melanogaster relatif singkat. Hanya sekitar 2

minggu. Siklus hidupnya dimulai dari telur, satu hari kemudian menjadi larva dan

pada tahap larva mengalami empat kali pergantian kulit (instar), tiga hari

kemudian larva akan menjadi pupa. Setelah delapan hingga sebelas hari, pupa
akan berubah menjadi imago. Imago inilah yang disebut lalat buah dewasa.

Beberapa waktu kemudian imago akan bertelur kembali. Siklus hidup Drosophila

melanogaster disebut metamorposis sempurna (Anonim , 2008).

Berdasarkan uraian diatas, maka diperlukan suatau penelitian tentang

pengamatan kromosom lalat buah agar dapat mengtahui bentuk kromosom lalat

buat.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana cara mengetahui pengamatan kromosom dari kelenjar ludah

lalat buah ?

2. Bagaimana cara mendapatkan keterampilan memperoleh kromosom dari

kelenjar ludah lalat buah ?

3. Bagaimana cara mengetahui bentuk kromosom lalat buah?

C. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengamatan kromosom dari kelenjar ludah lalat buah.

2. Untuk mendapatkan keterampilan memperoleh kromosom dari kelenjar

ludah lalat buah.

3. Untuk mengetahui bentuk kromosom lalat buah.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum

Lalat buah adalah organisme yang memiliki ciri yang sudah dikenal dan

sesuai untuk penyelidikan genetika karena mudah berkembang biak dan memiliki

siklus hidup singkat. Sepasang lalat buah dapat menghasilkan 300-400 butir telur.

Siklus hidup Drosophila terdiri atas stadium telur, larva, pupa, dan imago. Telur

Drosophila sp. Telur Drosophila berukuran kira-kira 0,5 mm berbentuk lonjong,

permukaan dorsal agak mendatar, sedangkan permukaan ventral agak membulat.

Pada bagian anterodorsal terdapat sepasang filament yang fungsinya yang

melekatkan diri pada permukaan, agar telur tidak tenggelam pada medium.

Pada bagian ujung anterior terdapat lubang kecil yang disebut micropyle,

yaitu tempat masuknya spermatozoa. Telur yang dikeluarkan dari tubuh biasanya

sudah dalam tahap blastula. Dalam waktu 24 jam telur akan menetas menjadi

larva. Larva yang menetas ini akan mengalami 2 kali pergantian kulit, sehingga

periode stadium yang paling aktif. Larva kemudian menjadi pupa yang melekat

pada permukaan yang relative kering, yaitu pada dinding botol kultur atau pada

kertas saring. Pupa akan menetas menjadi imago setelah berumur 8-11 hari

bergantung pada spesies dan suhu lingkungan (Anonim, 2011).

Drosophila melanogaster yang beterbangan di sekitar mediumnya ada

yang jantan dan ada yang betina. Drosophila melanogaster jantan dengan betina

dapat dibedakan dengan melihat ukuran dan ujung abdomennya. Drosophila


melanogaster jantan ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan Drosophila

melanogaster betina. Ujung abdomen Drosophila melanogaster jantan runcing

sedangkan ujung abdomen Drosophila melanogaster betina tumpul. Selain itu

juga dapat dilihat dari bintik hitam pada ujung abdomen yang dimiliki Drosophila

melanogaster jantan sedangkan pada betina tidak memiliki bintik hitam pada

ujung abdomennya (Anonim , 2008).

Metamorfosis lalat dimulai dari telur hasil fertilisasi. Lalat memiliki

tingkatan jumlah reproduksi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan serangga

lainnya. Selain itu laju produksinya juga lebih dibandingkan jenis serangga lain.

Hal ini disebabkan kemampuan mereka dalam hal kawin sangat efisien juga

efektif terlebih pada musim kawin. Setelah proses fertilisasi, induk lalat akan

bertelur. Biasanya ia melekatkan telurnya ke dalam sumber makanan misalnya

buah yang hampir busuk. Kemudian perkembangan selanjutnya adalah perubahan

telur menjadi larva (Diah, 2012).

Metamorfosis lalat yang ditandai berubahnya telur manjadi larva dibagi ke

dalam dua periode yakni periode embrionik dan periode perkembangan

postembrionik. Periode embrionik adalah fase dimana lalat melakukan fertilisasi

dan kemudian menghasikan telur yang kemudian menetas menjadi larva muda

hanya dalam kurun waktu 24 jam saja. Penetasan larva ini terjadi di dalam tempat

sang induk meletakkan telur. Larva lalat ini kadang disebut juga dengan belatung.

Pada fase ini, larva muda tersebut tak berhenti makan dan mempersiapkan dirinya

masuk ke dalam periode metamorfosis selanjutnya yakni post embrionik.


Berdasarkan latar belakang ini maka perlunya dilakukan praktikum untuk lebih

memahami dapat dimengerti (Diah, 2012).

Pada Drosophila ditemukan 4 pasang kromosom. Pada lalat jantan dan

lalat betina umumnya adalah sama,tetapi ada sedikit perbedaan yaitu pada salah

satu kromosom jantan terdapat lengkungan seperti mata pancing.(Sepoetro 1975).

Pada Drosophila jantan dan betina dapat mudah dipisahkan dalam bentuk

segmen-segmen abdomen. Abdomen betina mempunyai ujung meruncing dan

pola garis-garis yang berbeda dari pada abdomen jantan. Kelamin lalat ditentukan

sebagian oleh kromosom X yang dimiliki individu. Normalnya lalat betina akan

memiliki 2 kromosom X. Sedangkan lalat jantan hanya memiliki 1 kromosom X

ditambah 1 Y heterokromatik. Pada lalat buah kromosom Y tidak memiliki

peranan penting dalam penentuan jenis kelamin pada kromosom Drosophilla

hanya sedikit gen aktif. (Triana, 2003).

Pada Drosophila sp cirri-ciri suatu mutan dinyatakan oleh gabungan dari

satu atau beberapa huruf dan angka,sesuai dengan nama dan symbol yang pertama

kali ditemukan oleh penemunya kepada mutan tersebut. Sedangkan lalat yang

berfenotip normal dibert tanda +. Cara ini sedah dianut sejak Morgan mulai

penelitian dengan hewan ini. Untuk sifat yang bersifat dominant cirri tersebut

ditulis dengan huruf besar sebaliknya jika resesif akan ditulis dengan huruf kecil.

Pada gen yang mempunyai banyak ale lama alel yang diketemuakn ditandai

dengan angga dan huruf yang ditulis agak ke atas. Perhatikan benar-banar bahwa

setiap kode berlaku untuk satu gen saja. Dengan demikian apabila ada lebih dari

satu gen yang tidak normal,maka individu tersebuat dapat memiliki lebih dari satu
symbol. Walau demikan jarang sekali satu bahkan dua mutan dengan lebih dari 5

gen yang tidak normal (Anonim, 2008).

Adapun ayat yang berkaitan pada praktikum kita kali ini adalah dalam

surah An-Nuur ayat 45, yang berbunyi:

Terjemahan: Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka
sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan
sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain)
berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang
dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu.

Makna dari ayat diatas adalah Allah telah menciptakan berbagai

macam makhluk hidup di bumi ini mulai dari yang bisa dilihat dengan mata

sampai yang kasat mata. Itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Misalnya saja bakteri Bacillus thuringiensis yang merupakan makhluk hidup

mikroskopis yang diciptakan oleh Allah yang tidak hanya memberikan

dampak negative yaitu menghasilkan racun bagi serangga tetapi juga

memberikan dampak positif yaitu kita dapat mempelajarinya dalam rekayasa

genetika.

B. Gambaran Khusus
Orang yang pertama yang menggunakan Lalat buah sebagai objek

penelitian Genetika adalah Thomas Hunt Morgan yang berhasil menemukan

penemuan pautan seks. Spesies lalat buah, Drosophila melanogaster, sejenis

serangga biasa yang umumnya tidak berbahaya yang merupakan pemakan

jamur yang tumbuh pada buah. Lalat buah adalah serangga yang mudah

berkembang biak. Dari satu perkawinan saja dapat dihasilkan ratusan

keturunan, dan generasi yang baru dapat dikembangbiakkan setiap dua

minggu (Soemartomo, 2010).

Karakteristik ini menjadikan lalat buah menjadi organisme yang cocok

sekali untuk kajian-kajian genetik.Pada percobaan ini akan dilakukan

perkawinan dihibrid pada lalat buah Drosophila melanogaster yang telah

ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol kultur berisi medium yang telah

dibuat sebelumnya dan telah memadat. Lalat yang dikawinkan terdiri dari 3-5

pasang lalat jantan dan betina dalam satu botol (Sepoetro, 2010).

Kemudian diamati setiap hari daur hidup perkembangan lalat

Drosophila melanogaster, jika keturunan F1 sudah ada yang dewasa maka

lalat dewasa tersebut dipindahkan untuk diamati morfologi dan ditentukan

jenis kelaminnya serta dihitung rasio keturunannya. Setelah itu lalat keturunan

F1 yang telah dewasa dikawinkan lagi untuk memperoleh keturunan F2,

perlakuan yang sama juga dilakukan pada keturunan F2. Permasalahan yang

akan dibahas dalam percobaan ini adalah bagaimana membuat medium kultur

Drosophila melanogaster, mengamati morfologi dan siklus hidup Drosophila

melanogaster, bagaimana membedakan seks lalat jantan dan lalat betina serta
melihat variasi fenotip dan genotip mata lalat yang terangkai kromosom-X dan

juga bagaimana melakukan perkawinan dihibrid pada Drosophila

melanogaster serta mengamati rasio fenotip pada keturunan F1 dan F2

(Soemartomo, 2010).

Menurut Borror.J.D (1992), yang menyatakan bahwa berikut

merupakan klasifikasi dari Drosophila Melanogaster adalah sebagai berikut:

Kerajaan : Animalia

Filum : Antrhopoda

Kelas : Insecta

Ordo : Diptera

Famili : Drosophila

Upafamili : Droshopilinae

Genus : Droshopila

Upagenus : Sophophora

Grup Spesies : Grup Melanogaster

Species Komplek : Melanogaster

Spesies : Drosophila Melanogaster

Selain itu, Drosophila Melanogaster juga diklasifikasikan kedalam sub

ordo Cyclophorpa (pengelompokkan lalat yang pupanya terdapat kulit instar

3, mempunyai jaw hooks) dan termasuk kedalam seri Acaliptara yaitu imago

menetas dengan keluar dari bagian anterior pupa.

Cirri-ciri Drosophila Melanogaster antara lain warna tubuh kuning

kecoklatan dengan cincin berwarna hitam ditubuh bagian belakang berukuran


305mm, urat tepi sayap (Costal Vein) mempunyai dua bagian yang terputus

dekat dengan tubuhnya. Sungut arista umumnya berbentuk bulu, memiliki

percabangan 7-12 percabangan. Mata majemuk berbentuk bulay agak elips

dan berwarna merah, terdapat mata Oceli pada bagian atas kepala dengan

ukuran lebih kecil dibandingkan mata majemuk. Crossvein posterior

umumnya kurus, tidak melengkung. Thoraks berbulu-bulu dengan warna dasar

putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam. Sayap

panjang, berwarna transparan dan posisi berbulu pada Thoraks (Tim Dosen,

2013).

Metamorphosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna,

yaitu dari telur-larva instar I-larva instar II-larva instar III-pupa-imago.

Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilasi, yang terdiri dari dua

periode. Pertama embrionik didalam telur pada saat fertilisasi sampai pada

larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24

jam. Dan pada saat ini, larva tidak berhenti-henti untuk makan. Periode kedua

adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan

postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa dan imago

(fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formulasi lainnya pada

perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Tim Dosen, 2013).

Menurut Wijayanti (2012), adapun perbedaan antara lalat buah jantan

dan betina adalah sebagai berikut:

a. Ukuran tubuh lalat jantan lebih kecil dibanding dengan tubuh lalat buah

betina.
b. Ukuran sayap jantan lebh pendek dari ukuran sayap betina.

c. Pada lalat buah jantan memiliki sisir kelamin, sedangkan pada lalat

betina tidak memiliki sisir.

d. Pada abdomen lalat buah jantan berbentuk tumpul dan berwarna hitam,

sedangkan pada lalat buah betina berbentuk runcing.

e. Bagian abdomen jantan memiliki 3 ruas, sedangkan betina memiliki 6

ruas pada bagian abdomennya.


BAB III

METODE PRATIKUM

A. Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum pada hari Selasa,

tanggal 3 Mei 2016, Pukul 16:00-18:00 WITA, dan bertempat di Laboratorium

Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin

Makassar.

B. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Alat

Adapun alat yang digunakan dalam pratikum ini adalah cawan petri, cover

glass atau deck glass, jarum, mikroskop, objek glass dan pinset.

2. Bahan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah aquadest,

Drosophila melanogaster, imonersion oil dan tissue.


C. Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja yang duganakan dalam praktikum ini yaitu:

1. Mengambil beberapa ekir lalat buah dengan menggunakan pinset.

2. Meletakkan lalat buah kedalam cawan petri yang telah berisi aquadest.

3. Mengambil lalat buah kemudian meletakkannya kedalam objek glass.

4. Menusuk bagian anterior dan posterior dengan menggunakan jarum dan

menarik secara berlawanan.

5. Memisahkan lalat buah dengan kelenjer ludahnya, kemudian menutupnya

dengan deck glass.

6. Mengamati dibawah mikroskop dengan menggambar hasil pengamatan.

7. Kemudian, mengambil beberapa ekor lalat buah dengan menggunakan

pinset,

8. Mengamati bagian morfologi lalat buah jantan dan betina.

9. Menggambar hasil pengamatan.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Morfologi Drosophila melanogaster

A.1.1. Drosophila melanogaster Betina

Sumber: Laboratorium ilmu peternakan,


fakultas sains dan teknologi,
UIN Alauddin Makassar, 2015.

Sumber: Data Primer; 2015


2. Pengamatan Kromosom

A.2.1. Kromosom Drosophila melanogaster Betina

Sumber: Laboratorium ilmu peternakan,


fakultas sains dan teknologi,
UIN Alauddin Makassar, 2015.

Sumber: Data Primer; 2015


B. Pembahasan

1. Morfologi Drosophila melanogaster betina

Pada pengamatan Drosophila melanogaster betina memiiki ciri

morfologi mempunyai mata yang berbentuk bulat agak lonjong dan berwarna

merah, mempunyai sungut yang bercabang-cabang kecil dan terdiri dari 7

cabang kecil. Drosophila melanogaster  betina mempunyai kepala yang

berbentuk bulat dan berwarna hitam. Thoraknya mempunyai bulu halus dan

mempunyai warna dasar putih. Pada abdomen Drosophila melanogaster

betina mempunyai ujung yang lancip dan bersegmen  7  yang ditandai dengan

garis-garis berwarna hitam. Sayap Drosophila melanogaster betina memiliki

sayap yang panjang dan berwarna hijau transparan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Lidho (2011), yang menyatakan

bahwa ciri-ciri Drosophila melanogaster antara lain warna tubuh kuning

kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.

Berukuran kecil antara 3-5mm, urat tepi sayap (Costal vein) mempunyai

dua bagian yang terputus dekat dengan tubuhnya. Sungut arista umumnya

berbentuk bulu, memiliki  7-12 percabangan. Crossvein posterior

umumnya lurus, tidak melengkung. Mata majemuk berbentuk bulat agak

elips dan berwarna merah, terdapat mata Oceli pada bagian atas kepala

dengan ukuran lebih kecil dibandingkan dengan mata majemuk. Thoraks

berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen

lima dan bergaris hitam. Sayap panjang, berwarna transparan dan posisi

berbulu pada Thoraks. Drosophilla memiliki ciri morfologi yang berbeda


antara jantan dan betinanya. Pada Drosophila jantan memiliki ukuran

tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang betina. Memiliki 3

ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir kelamin, sedangkan pada

yang betina ukuranya relatif lebih besar. Memilliki 6 ruas pada bagian

abdomen dan tidak memiliki sisir kelamin merupakan hewan yang

bersayap, berukuran kecil.

2. Siklus Hidup Drosophila melanogaster

Drosophila melanogaster memiliki siklus hidup yang pendek, yaitu

dimulai dari telur - larva instar 1 – larva instar II – larva instar III – pupa –

imago. Larva instar I umumnya  muncul pada hari kedua yang berupa ulat

kecil yang mulai bergerak, umumnya ulat-ulat tersebut berada

dipermukaan medium karena merupakan sumber makanan. Fase

selanjutnya larva instar II, yaitu ukuran larva lebih besar dan terlihat warna

kehitam-hitaman pada bagian anterior (mulut) larva (Silvia, 2003).

Pada larva instar III, ukuran larva relatif besar dan warna hitam

yang muncul lebih jelas, pergerakan larva lebih aktif. Selanjutnya, pada

fase prapupa yaitu sudah tidak ada lagi pergerakan dan pada tubuh larva 

muncul selaput dan tubuhnya pendek. Dari prapupa selanjutnya menjadi

pupa, kutikula menjadi keras seperti cangkang dan berpigmen (agak

kecoklatan) dan tidak bergerak. Selanjutnya, pupa akan menetas setelah 8

hari tegantung dari suhu lingkungannya dan pada hari ke 10 terbentuklah

lalat dewasa dengan sayap yang telah terbentang sempurna, sehingga lalat

bergerak aktif (terbang) di dalam medium. Hal ini sesuai dengan pendapat
Silvia (2003), yang menyatakan bahwa metamorfosis pada Drosophila

termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva inst ar I – larva

instar II – larva instar III – pupa – imago. Perkembangan dimulai segera

setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode

embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda

menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam. Dan

pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan. Periode

kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan

postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan

imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya

pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

1.  Inti sel tubuh lalat buah hanya memiliki 8 buah kromosom saja, sehingga

mudah sekali diamati dan dihitung.

2. Cara mendapatkan kromosom dari lalat buah adalah dengan cara menarik

secara berlawanan antara bagian anterior dan posteriornya.

3. Delapan buah kromosom pada lalat buah dibedakan atas enam buah

kromosom (atau tiga pasang) yang pada lalat betina maupun jantan

bentuknya sama. Karena itu kromosom-kromosom ini disebut autosom

(kromosom tubuh), disingkat dengan huruf A. dua buah kromosom (atau

sepasang) disebut kromosom kelamin (seks kromosom), sebab bentuknya

ada yang berbeda pada lalat betina dan jantan.

B. Saran

Adapun saran dalam praktikum ini adalah diharapkan agar praktikan lebih

hati-hati lagi dalam melakukan pengamatan terhadap kromosom dari lalat buah

agar tidak terjadi kekeliruan selama melakukan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008. Drosophila melanogaster. http://id.wikipedia.org/wiki/drosop
hilamelanogaster.html (Diakses tanggal 05 Juni 2015)

Anonim, 2010. Kromosom Drosophila melanogaster. http://id.wikipedia.org/wiki/


Heretabilitas dan Korelasi genetik telur.html ( Diakses tanggal 05 Mie 2015).

Borror.J.D,Triplehorn. 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Universitas


Gadjah Mada Press : Yogyakarta.

Campbell, N.A. 2002. Biologi Jilid I. Erlangga : Jakarta.

Hasnah,dkk. 2009. Pengamatan Kromoson pada Drosophila melanogaster. Adli


Pustaka : Bogor.

Sunandar, Diah. 2012. The Genome of Drosophila melanogaster. Academic Press


Inc : California.

Silvia, Triana. 2003. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsenterasi Formaldehida


Terhadap Perkembangan Larva Drosophila. Bandung : Jurusan Biologi
Universitas Padjdjaran.
Soemartomo. 2010. Pengamatan Siklus Hidup Lalat Buah (Drosophila melanog
aster), (http:// hasanpalopo.blogspot.com/). Diakses pada tanggal 05 Juni
2015.

Soepotra. 2010. Laporan Praktikum Drosophila, (http://www.blogger.com/profi


le/SAINS-lap oran-praktikum-Drosophila.htm). Diakses pada tanggal 05 Juni
2015.

Tim Dosen, 2013. Penuntun Praktikum Genetika dan Pemuliaan Ternak.


Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar : Makassar.

Triplehorn, Borror.J.D. 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Yogyakarta:


Universitas Gadjah Mada Press.

Wijayanti. 2012. Lalat Buah, http//id.wikipedia.org/wiki/Lalat buah Diakses 05


Juni 2015