Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KERAJAAN MATARAM KUNO

Di susun Oleh :

KELOMPOK 5

KELAS X APHP 1

 DINA NURAENI
 SALWA GUS HANANI
 M. NABIL
 DIKA MAULANA AKBAR

SMK NEGERI 2 RANGKASBITUNG


2021
KATA PENGANTAR

Puji  syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-
Nya lahkami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Kerajaan Mataram
Kuno”.  Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah
Indonesia.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran  yang bersifat membangun sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat


untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Mataram Kuno atau Mataram (Hindu) merupakan sebutan untuk dua dinasti,
yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra, yang berkuasa di Jawa Tengah bagian
selatan. Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Sanjaya pada tahun
732. Beberapa saat kemudian, Dinasti Syailendra yang bercorak Buddha Mahayana
didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Kedua dinasti ini berkuasa berdampingan
secara damai. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis
di masa raja Balitung. Pada umumnya para sejarawan menyebut ada tiga dinasti
yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa
Sailendra pada periode Jawa Tengah, serta Wangsa Isyana pada periode Jawa
Timur.
Istilah Wangsa Sanjaya merujuk pada nama raja pertama Medang, yaitu
Sanjaya. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa. Menurut teori van
Naerssen, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti Sanjaya sekitar
tahun 770-an), kekuasaan atas Medang direbut oleh Wangsa Sailendra yang
beragama Buddha Mahayana. Mulai saat itu Wangsa Sailendra berkuasa di Pulau
Jawa, bahkan berhasil pula menguasai Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra.
Sampai akhirnya, sekitar tahun 840-an, seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai
Pikatan berhasil menikahi Pramodawardhani putri mahkota Wangsa Sailendra.
Berkat perkawinan itu ia bisa menjadi raja Medang, dan memindahkan istananya ke
Mamrati. Peristiwa tersebut dianggap sebagai awal kebangkitan kembali Wangsa
Sanjaya.
BAB II
PEMBAHASAN

Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berada di wilayah aliran sungai-sungai


Bogowonto, Progo, Elo, dan Bengawan Solo di Jawa Tengah. Keberadaan kerajaan
ini dapat diketahui dari Prasasti Canggal. Prasasti berangka tahun 732 Masehi ini
menyebutkan bahwa kerajaan itu pada awalnya dipimpin oleh Sana. Setelah
kematiannya, tampuk kekuasaan dipegang oleh keponakannya, Sanjaya. Pada
masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Panangkaran berdiri pula sebuah dinasti
baru di Jawa Tengah, yaitu Dinasti Syailendra yang beragama Budha.
Perkembangan kekuasaan dinasti tersebut di bagian selatan Jawa Tengah
menggeser kedudukan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu hingga ke bagian
tengah Jawa Tengah. Akhirnya, untuk memperkuat kedudukan masing-masing,
kedua dinasti itu sepakat bergabung. Caranya adalah melalui pernikahan antara
Raja Putri Pramodharwani dari pihak Syailendra dengan Rakai Pikatan dari dinasti
saingannya.
Kerajaan Mataram Kuno terkenal keunggulannya dalam pembangunan candi
agama Budha dan Hindu. Candi yang diperuntukan bagi agama Budha antara lain
Candi Borobudur, yang dibangun oleh Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Candi
Hindu yang dibangun antara lain Candi RoroJongrang di Prambanan, yang dibangun
oleh Raja Pikatan. Pada zaman pemerintahan Raja Rakai Wawa terjadi banyak
kekacauan di daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram
Kuno sementara ancaman dari luar mengintainya. Keadaan menjadi semakin buruk
setelah kematian sang raja akibat perebutan kekuasaan di kalangan istana.
Akhirnya, pengganti Raja Wawa yang bernama Mpu Sindok mengambil keputusan
untuk memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di
sana ia membangun sebuah dinasti baru yang bernama Isyana.
Kerajaan mataram kuno dipimpin pertama kali oleh Raja Sanjaya yang
terkenal sebagai seorang raja yang besar. Ia adalah penganut Hindu Syiwa yang
taat. Setelah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya meninggal dunia, beliau kemudian
digantikan oleh putranya yang bernama Sankhara yang bergelar Rakai Panangkaran
Dyah Sonkhara Sri Sanggramadhanjaya. Raja Panangkaran lebih progresif dan
bijaksana daripada Sanjaya sehingga Mataram Kuno lebih cepat berkembang.
Daerah-daerah sekitar Mataram Kuno segera ditaklukkan, seperti kerajaan Galuh di
Jawa Barat dan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya.Ketika Rakai
Panunggalan berkuasa, kerajaan Mataram Kuno mulai mengadakan pembangunan
beberapa candi megah seperti candi Kalasan, candi Sewu, candi Sari, candi Pawon,
candi Mendut, dan Candi Borobudur.
Kemudian setelah Rakai Panunggalan meninggal, beliau digantikan oleh
Rakai Warak. Pada zaman pemerintahan Rakai Warak, ia lebih mengutamakan
agama Buddha dan Hindu sehingga pada saat itu banyak masyarakat yang
mengenal agama tersebut. Setelah Rakai Warak meninggal kemudian digantikan
oleh Rakai Garung.
Setelah Rakai Garung meninggal ia digantikan oleh Rakai Pikatan. Berkat
kecakapan dan keuletan Rakai Pikatan, semangat kebudayaan Hindu dapat
dihidupkan kembali. Kekuasaannya pun bertambah luas meliputi seluruh Jawa
Tengah dan Jawa Timur serta ia pun memulai pembangunan candi Hindu yang lebih
besar dan indah yaitu candi Prambanan (Candi Lara Jonggrang) di desa
Prambanan. Setelah Raja Pikatan wafat ia digantikan oleh Rakai Kayuwangi. Pada
masa pemerintahan Rakai Kayuwangi Kerajaan banyak menghadapi masalah dan
berbagai persoalan yang rumit sehingga timbullah benih perpecahan di antara
keluarga kerajaan. Selain itu zaman keemasan Mataram Kuno mulai memudar serta
banyak terjadi perang saudara.

Proses Berkembangnya Kerajaan Mataram Kuno

Perkembangan Kerajaan Mataram Kuno dibagi menjadi 2 :


a.  Dinasti Sanjaya
Istilah Wangsa Sanjaya diperkenalkan oleh sejarawan bernama Dr. Bosch
dalam karangannya yang berjudul Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de
Sanjayawamsa (1952). Ia menyebutkan bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua
dinasti yang berkuasa, yaitu dinasti Sanjaya dan Sailendra. Istilah Wangsa Sanjaya
merujuk kepada nama pendiri Kerajaan Medang, yaitu Sanjaya yang memerintah
sekitar tahun 732. Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M) diketahui Sanjaya adalah
penerus raja Jawa Sanna, menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat ke
Kunjarakunja di daerah India, dan mendirikan Shivalingga baru yang menunjukkan
membangun pusat pemerintahan baru.
Menurut penafsiran atas naskah Carita Parahyangan yang disusun dari
zaman kemudian, Sanjaya digambarkan sebagai pangeran dari Galuh yang akhirnya
berkuasa di Mataram. Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha, cucu Ratu Shima dari
Kerajaan Kalingga di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Sena/Sanna/Bratasenawa,
raja Galuh ketiga. Sena adalah putra Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M).
Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah,
menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa, raja Sunda. Penyerangan ini
bertujuan untuk melengserkan Purbasora. Saat Tarusbawa meninggal pada tahun
723, kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangannya, Sunda
dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-
Galuh kepada putranya Rarkyan Panaraban (Tamperan). Di Kalingga, Sanjaya
memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh
puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rakai Panangkaran. Secara garis besar kisah
dari Carita Parahyangan ini sesuai dengan prasasti Canggal. Rakai Panangkaran
dikalahkan oleh dinasti pendatang dari Sumatra yang bernama Wangsa Sailendra.
Berdasarkan penafsiran atas Prasasti Kalasan (778 M), pada tahun 778 raja
Sailendra yang beragama Buddha aliran Mahayana memerintah Rakai Panangkaran
untuk mendirikan Candi Kalasan.
Sejak saat itu Kerajaan Medang dikuasai oleh Wangsa Sailendra. Sampai
akhirnya seorang putri mahkota Sailendra yang bernama Pramodawardhani
menikah dengan Rakai Pikatan, seorang keturunan Sanjaya, pada tahun 840–an.
Rakai Pikatan kemudian mewarisi takhta mertuanya. Dengan demikian, Wangsa
Sanjaya kembali berkuasa di Medang.

b. Dinasti Syailendra
Selama ini kerajaan Medang dianggap diperintah oleh dua wangsa yaitu
Wangsa Sailendra yang beragama Buddha dan Wangsa Sanjaya yang beragama
Hindu Siwa, pendapat ini pertama kali diperkenalkan oleh Bosch. ada awal era
Medang atau Mataram Kuno, wangsa Sailendra cukup dominan di Jawa Tengah.
Menurut para ahli sejarah, wangsa Sanjaya awalnya berada di bawah pengaruh
kekuasaan wangsa Sailendra. Mengenai persaingan kekuasaan tersebut tidak
diketahui secara pasti, akan tetapi kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa
Tengah. Sementara Poerbatjaraka menolak anggapan Bosch mengenai adanya dua
wangsa kembar berbeda agama yang saling bersaing ini. Menurutnya hanya ada
satu wangsa dan satu kerajaan, yaitu wangsa Sailendra dan Kerajaan Medang.
Sanjaya dan keturunannya adalah anggota Sailendra juga. Ditambah menurut
Boechari, melalui penafsirannya atas Prasasti Sojomerto bahwa wangsa Sailendra
pada mulanya memuja Siwa, sebelum Panangkaran beralih keyakinan menjadi
penganut Buddha Mahayana.
Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Sailendra tertera dalam prasasti Ligor,
prasasti Nalanda maupun prasasti Klurak, sedangkan raja-raja dari keluarga
Sanjaya tertera dalam prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih. Berdasarkan candi-
candi, peninggalan kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-8 dan ke-9 yang bercorak
Budha (Sailendra) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian selatan, sedangkan
yang bercorak Hindu (Sanjaya) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian utara.
Berdasarkan penafsiran atas prasasti Canggal (732 M) Sanjaya memang mendirikan
Shivalingga baru (Candi Gunung Wukir), artinya ia membangun dasar pusat
pemerintahan baru. Hal ini karena raja Jawa pendahulunya, Raja Sanna wafat dan
kerajaannya tercerai-berai diserang musuh. Saudari Sanna adalah Sannaha, ibunda
Sanjaya, artinya Sanjaya masih kemenakan Sanna. Sanjaya mempersatukan bekas
kerajaan Sanna, memindahkan ibu kota dan naik takhta membangun kraton baru di
Mdang i Bhumi Mataram. Hal ini sesuai dengan adat dan kepercayaan Jawa bahwa
kraton yang sudah pernah pralaya, diserang, kalah dan diduduki musuh, sudah
buruk peruntungannya sehingga harus pindah mencari tempat lain untuk
membangun kraton baru.
Hal ini serupa dengan zaman kemudian pada masa Mataram Islam yang
meninggalkan Kartasura yang sudah pernah diduduki musuh dan berpindah ke
Surakarta. Perpindahan pusat pemerintahan ini bukan berarti berakhirnya wangsa
yang berkuasa. Hal ini sama dengan Airlangga pada zaman kemudian yang
membangun kerajaan baru, tetapi ia masih merupakan keturunan wangsa penguasa
terdahulu, kelanjutan Dharmawangsa yang juga anggota wangsa Isyana. Maka
disimpulkan meski Sanjaya memindahkan ibu kota ke Mataram, ia tetap merupakan
kelanjutan dari wangsa Sailendra yang menurut prasasti Sojomerto didirikan oleh
Dapunta Selendra. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), puteranya,
Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri Dharmasetu, Maharaja
Sriwijaya. Prasasti yang ditemukan tidak jauh dari Candi Kalasan memberikan
penjelasan bahwa candi tersebut dibangun untuk menghormati Tara sebagai
Bodhisattva wanita.
Pada tahun 790, Sailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja
Selatan), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun. Candi
Borobudur selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-
833). Borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia, dan kini menjadi
salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Dari hasil pernikahannya dengan Dewi
Tara, Samaratungga memiliki putri bernama Pramodhawardhani dan putra bernama
Balaputradewa. Balaputra kemudian memerintah di Sriwijaya, maka selain pernah
berkuasa di Medang, wangsa Sailendra juga berkuasa di Sriwijaya.

Kehidupan Rakyat Mataram Kuno


Rakyat Mataram menggantungkan kehidupannya pada hasil pertanian. Hal ini
mengakibatkan banyak kerajaan-kerajaan serta daerah lain yang saling mengekspor
dan mengimpor hasil pertaniannya.Usaha untuk meningkatkan dan
mengembangkan hasil pertanian telah dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai
Kayuwangi. Yang diperdagagkan pertama-tama hasil bumi, seperti beras, buah-
buahan, sirih pinang, dan buah mengkudu.Juga hasil industry rumah tangga, seperti
alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian,paying,keranjang, dan barang-barang
anyaman, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi,
kambing, itik, dan ayam serta telurnya juga di perjual belikan.
Usaha perdagangan juga mulai mendapat perhatian ketika Raja Balitung
berkuasa.Raja telah memerintahkan untuk membuat pusat-pusat perdagangan serta
penduduk disekitar kanan-kiri aliran Sungai Bengawan Solo diperintahkan untuk
menjamin kelancaran arus lalu lintas perdagangan melalui aliran sungai
tersebut.Sebagai imbalannya, penduduk desa di kanan-kiri sungai tersebut
dibebaskan dari pungutan pajak.Lancarya pengangkutan perdagangan melalui
sungai tersebut dengan sendirinya akan menigkatkan perekonomian dan
kesejahteraan rakyat Mataram Kuno.

Penyebab runtuhnya Kerjaan Mataram Kuno


Runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh beberapa faktor.
1  1.  Pertama, disebabkan oleh letusan gunung Merapi yang mengeluarkan lahar.
Kemudian lahar tersebut menimbun candi-candi yang didirikan oleh kerajaan,
sehingga candi-candi tersebut menjadi rusak.
2 2. Kedua, runtuhnya kerajaan Mataram disebabkan oleh krisis politik yang terjadi
tahun 927-929 M.
3 3. Ketiga, runtuhnya kerajaan dan perpindahan letak kerajaan dikarenakan
pertimbangan ekonomi. Di Jawa Tengah daerahnya kurang subur, jarang terdapat
sungai besar dan tidak terdapatnya pelabuhan strategis.Sementara di Jawa Timur,
apalagi di pantai selatan Bali merupakan jalur yang strategis untuk perdagangan,
dan dekat dengan daerah sumber penghasil komoditi perdagangan.
Mpu Sindok mempunyai jabatan sebagai Rake I Hino ketika Wawa menjadi
raja di Mataram, lalu pindah ke Jawa timur dan mendirikan dinasti Isyana di sana
dan menjadikan Walunggaluh sebagai pusat kerajaan. Mpu Sindok yang membentuk
dinasti baru, yaitu Isanawangsa berhasil membentuk Kerajaan Mataram sebagai
kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yang berpusat di Jawa Tengah. Mpu Sindok
memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan 948 M.Sumber sejarah yang
berkenaan dengan Kerajaan Mataram di Jawa Timur antara lain prasasti Pucangan,
prasasti Anjukladang dan Pradah, prasasti Limus, prasasti Sirahketing, prasasti
Wurara, prasasti Semangaka, prasasti Silet, prasasti Turun Hyang, dan prasasti
Gandhakuti yang berisi penyerahan kedudukan putra mahkota oleh Airlangga
kepada sepupunya yaitu Samarawijaya putra Teguh Dharmawangsa.

Peninggalan – peninggalan Kerajaan Mataram Kuno


A.    Prasasti
1)      Prasasti Canggal ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggal
berangka tahun 732 M dalam bentuk Candrasangkala.
2)      Prasasti Kalasan, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka tahun 778 M,
ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta
3)      Prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih Kedu, Jateng berangka tahun 907 M
yang menggunakan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti tersebut adalah daftar
silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality yaitu Raja Sanjaya, Rakai
Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan,
Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah Balitung. Untuk
itu prasasti Mantyasih/Kedu ini juga disebut dengan prasasti Belitung
4)      Prasasti Klurak ditemukan di desa Prambanan berangka tahun 782 M ditulis
dalam huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta isinya menceritakan pembuatan arca
Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.

B.     Candi
1)      Candi Gatotkaca
Candi Gatotkaca adalah salah satu candi Hindu yang berada di Dataran Tinggi
Dieng, di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Candi ini terletak
di sebelah barat Kompleks Percandian Arjuna, di tepi jalan ke arah Candi Bima, di
seberang Museum Dieng Kailasa. Nama Gatotkaca sendiri diberikan oleh penduduk
dengan mengambil nama tokoh wayang dari cerita Mahabarata.
2)      Candi Bima
Berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah, [1] candi ini terletak paling selatan di kompleks Percandian Dieng. Pintu
masuk berada di sisi timur. Candi ini cukup unik dibanding dengan candi-candi lain,
baik di Dieng maupun di Indonesia pada umumnya, karena kemiripan arsitekturnya
dengan beberapa candi di India. Bagian atapnya mirip dengan shikara dan
berbentuk seperti mangkuk yang ditangkupkan. [2] Pada bagian atap terdapat relung
dengan relief kepala yang disebut dengan kudu.
3)      Candi Dwarawati
Bentuk Candi Dwarawati mirip dengan Candi Gatutkaca, yaitu berdenah dasar segi
empat dengan penampil di keempat sisinya. Tubuh candi berdiri di atas batur
setinggi sekitar 50 cm. Tangga dan pintu masuk, yang terletak di sisi barat, saat ini
dalam keadaan polos tanpa pahatan.
4)      Candi Arjuna
Candi ini mirip dengan candi-candi di komples Gedong Sanga. Berdenah dasar
persegi dengan luas sekitar ukuran sekitar 4 m2. Tubuh candi berdiri diatas batur
setinggi sekitar 1 m. Di sisi barat terdapat tangga menuju pintu masuk ke ruangan
kecil dalam tubuh candi. Pintu candi dilengkapi dengan semacam bilik penampil
yang menjorok keluar sekitar 1 m dari tubuh candi. Di atas ambang pintu dihiasi
dengan pahatan Kalamakara.
5)      Candi Semar
Candi ini letaknya berhadapan dengan Candi Arjuna. Denah dasarnya berbentuk
persegi empat membujur arah utara-selatan. Batur candi setinggi sekitar 50 cm,
polos tanpa hiasan. Tangga menuju pintu masuk ke ruang dalam tubuh candi
terdapat di sisi timur. Pintu masuk tidak dilengkapi bilik penampil. Ambang pintu
diberi bingkai dengan hiasan pola kertas tempel dan kepala naga di pangkalnya. Di
atas ambang pintu terdapat Kalamakara tanpa rahang bawah.
6)      Candi Puntadewa
Ukuran Candi Puntadewa tidak terlalu besar, namun candi ini tampak lebih tinggi.
Tubuh candi berdiri di atas batur bersusun setinggi sekitar 2,5 m. Tangga menuju
pintu masuk ke dalam ruang dalam tubuh candi dilengkapi pipi candi dan dibuat
bersusun dua, sesuai dengan batur candi. Atap candi mirip dengan atap Candi
Sembadra, yaitu berbentuk kubus besar. Puncak atap juga sudah hancur, sehingga
tidak terlihat lagi bentuk aslinya. Di keempat sisi atap juga terdapat relung kecil
seperti tempat menaruh arca. Pintu dilengkapi dengan bilik penampil dan diberi
bingkai yang berhiaskan motif kertas tempel.
7)      Candi Sembrada
Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar. Di
pertengahan sisi selatan, timur dan utara terdapat bagian yang menjorok keluar,
membentuk relung seperti bilik penampil. Pintu masuk terletak di sisi barat dan,
dilengkapi dengan bilik penampil. Adanya bilik penampil di sisi barat dan relung di
ketiga sisi lainnya membuat bentuk tubuh candi tampak seperti poligon. Di halaman
terdapat batu yang ditata sebagai jalan setapak menuju pintu.
8)      Candi Srikandi
Candi ini terletak di utara Candi Arjuna. Batur candi setinggi sekitar 50 cm dengan
denah dasar berbentuk kubus. Di sisi timur terdapat tangga dengan bilik penampil.
Pada dinding utara terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu, pada dinding
timur menggambarkan Syiwa dan pada dinding selatan menggambarkan Brahma.
Sebagian besar pahatan tersebut sudah rusak. Atap candi sudah rusak sehingga
tidak terlihat lagi bentuk aslinya.
9)      Candi Gedong Songo
Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan
budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Di
kompleks candi ini terdapat sembilan buah candi. Candi ini diketemukan oleh Raffles
pada tahun 1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa
Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini memiliki persamaan dengan
kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200
m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara
19-27 °C)
10)  Candi Sari
Candi Sari adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambi Sari,
Candi Kalasan dan Candi Prambanan, yaitu di bagian sebelah timur laut dari kota
Yogyakarta, dan tidak begitu jauh dari Bandara Adisucipto. Candi ini dibangun pada
sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno dengan
bentuk yang sangat indah. Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti
yang nampak pada stupa di Candi Borobudur, dan tersusun dalam 3 deretan sejajar.
Bentuk bangunan candi serta ukiran relief yang ada pada dinding candi sangat mirip
dengan relief di Candi Plaosan. Beberapa ruangan bertingkat dua berada persis di
bawah masing-masing stupa, dan diperkirakan dipakai untuk tempat meditasi bagi
para pendeta Buddha (bhiksu) pada zaman dahulunya. Candi Sari pada masa
lampau merupakan suatu Vihara Buddha, dan dipakai sebagai tempat belajar dan
berguru bagi para bhiksu.
11)  Candi Mendut
Candi Mendut adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi yang terletak di Jalan
Mayor Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengahini, letaknya berada
sekitar 3 kilometer dari candi Borobudur.Candi Mendut didirikan semasa
pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah
yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun
bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang
ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan
Candi Mendut.
12)  Candi Sewu
Secara administratif, kompleks Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan,
Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Candi Sewu
adalah candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8 yang berjarak hanya delapan
ratus meter di sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu merupakan kompleks
candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi
Sewu berusia lebih tua daripada Candi Prambanan. Meskipun aslinya terdapat 249
candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan "Sewu" yang berarti
seribudalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro
Jonggrang.
13)  Candi Pawon
Letak Candi Pawon ini berada di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur, tepat
berjarak 1750 meter dari Candi Borobudur ke arah timur dan 1150 m dari Candi
Mendut ke arah barat. Nama Candi Pawon tidak dapat diketahui secara pasti asal-
usulnya. Ahli epigrafi J.G. de Casparis menafsirkan bahwa Pawon berasal
daribahasa Jawa awu yang berarti 'abu', mendapat awalan pa- dan akhiran -an yang
menunjukkan suatu tempat. Dalam bahasa Jawa sehari-hari kata pawon berarti
'dapur', akan tetapi de Casparis mengartikannya sebagai 'perabuan' atau tempat
abu. Penduduk setempat juga menyebutkan Candi Pawon dengan nama Bajranalan.
Kata ini mungkin berasal dari kata bahasa Sanskerta vajra =yang berarti 'halilintar'
dan anala yang berarti 'api'.
14)  Candi Borobudur
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,
Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di
sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di
sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentukstupa ini didirikan oleh para
penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk
bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya
dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[1] Stupa
utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh
tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha
tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan)
Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Secara umum  kerajaan Mataram Kuno pernah di pimpin oleh 3 dinasti yang
pernah berkuasa pada waktu itu, yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Sailendra, dan
Wangsa Isyana.Istilah Isyana berasal dari nama Sri Isyana
Wikramadharmottunggadewa, yaitu gelar Mpu Sindok setelah menjadi raja Medang
(929–947). Silsilah Wangsa Isyana dijumpai dalam prasasti Pucangan tahun 1041
atas nama Airlangga, seorang raja yang mengaku keturunan Mpu Sindok. Dalam
masa 70 tahun itu tercatat hanya tiga prasasti yang berangka tahun yang ditentuka,
yaitu prasasti Hara-Hara tahun 888 Saka (966 M) prasasti Kawambang Kulwan
tahun 913 Saka (992 M) dan prasasti ucem tahun 934 Saka (1012-1013 M).
Usaha untuk meningkatkan dan mengembangkan hasil pertanian telah
dilakukan sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi. Yang diperdagagkan
pertama-tama hasil bumi, seperti beras, buah-buahan, sirih pinang, dan buah
mengkudu. Juga hasil industri rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan
tembaga, pakaian,paying,keranjang, dan barang-barang anyaman, gula, arang, dan
kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing, itik, dan ayam serta
telurnya juga di perjualbelikan.

Saran
Semoga makalah tersebut dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi
para pembaca.Selain itu kita bisa mengetahui lebih dalam tentang kerajaan-kerajaan
hindu-budha di Indonesia khususnya Kerajaan Kalingga.Kita sebagai penerus harus
bisa melestarikannya serta menjaga peninggalan-peninggalannya.

Anda mungkin juga menyukai