Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktikum Pada Mata Kuliah Mikrobiologi

Dosen Pengampu : Ukit, M.Si.

Oleh :
Rifa Nur Afifah 1192060081
5C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2021/2022
PRAKTIKUM II
MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA
A. Tujuan Praktikum : 1. Mampu merumuskan masalah pembuatan media
pertumbuhan mikroba dengan menggunakan medium
NA (Nutrient Agar), Nutrient Broth, dan PDA
(Potato Dextrose Agar)
2. Mampu berhipotesis pembuatan media pertumbuhan
mikroba dengan menggunakan medium NA, Nutrient
Broth, dan PDA
3. Mampu membuat media dasar untuk biakan mikroba
dengan menggunakan medium NA, Nutrient Broth,
dan PDA dengan menggunakan Laminar Flow, tanpa
Laminar Flow, dan Presto
4. Mampu mengkomunikasikan langkah-langkah
praktikum dalam bentuk gambar dan hasil observasi
dalam bentuk table pengamatan
5. Mampu mengintepretasikan (menyimpulkan) dari
tabel pengamatan

B. Rumusan Masalah : 1. Apa itu media pertumbuhan mikroba?


2. Apa saja jeis media pertumbuhan mikroba?
3. Alat dan bahan apa saja yang diperlukan dalam
pembuatan media pertumbuhan mikroba?
4. Bagaimana cara membuat media pertumbuhan
mikroba?

C. Pendahuluan
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme yang berukuran sangat kecil
sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan harus menggunakan
mikroskop. Organisme yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme. Mempelajari
sifat-sifat yang dimiliki oleh mikroorganisme seperti jamur dan bakteri, penelitian yang dapat
dilakukan adalah pembiakan melalui media pertumbuhan. Media merupakan suatu bahan
yang terdiri atas campuran zat makanan (nutrient) yang berfungsi sebagai tempat tumbuh
mikroba. Media merupakan sarana pertumbuhan yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan
oleh mikroorganisme sebagai makanannya. Suatu media dapat menumbuhkan
mikroorganisme dengan baik harus memenuhi persyaratan antara lain media harus
mempunyai pH yang sesuai, media tidak mengandung zat-zat penghambat, media harus steril,
dan media harus mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan mikroorganisme
(Octavia, 2017: 626).
Penumbuhan mikroorganisme di laboratorium memerlukan media yang berisi zat hara
serta lingkungan pertumbuhan yag sesuai bagi bakteri. Zat hara diperlukan untuk
pertumbuhan, sintesis sel, keperluan energi dalam metabolisme dan pergerakan. Lazimnya,
media biakan mengandung air, sumber energi , zat hara sebagai sumber karbon, nitrogen,
sulfur, fosfat, oksigen dan hidrogen, kedalam bahan dasar media dapat pula ditammbahkan
faktor pertumbuhan berupa asam amino dan vitamin. Pemilihan media yang akan digunakan
disesuaikan sifat penelitian atau pemeriksaan. Fungsi dari suatu media yaitu secara kualitatif
digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroorganisme, sedangkan secara kuantitatif
digunakan untuk perbanyakan dan perhitungan jumlah mikroorganisme (Sari, 2019: 16).

Untuk menumbuhkan dan mengembangbiakan mikroba diperlukan media. Media harus


mengandung semua kebutuhan untuk pertumbuhan mikroba, yaitu sumber energi misalnya
gula, sumber nitrogen, juga ion inorganik essensial dan kebutuhan yang khusus, seperti
vitamin. Media pertumbuhan mengandung unsur makro yang dibutuhkan mikroba seperti
karbon (C), Hidrogen (H), oksigen (O), Nitrogen (N), dan Phospor (P). Selain itu media juga
mengandung unsur mikro seperti besi (Fe), dan Magnesium (Mg). media juga dapat
mengandung bahan tambahan lain seperti indikator phenol red (Yusmaniar, 2017: 12).

Berdasarkan konsistensinya, media pembiakan bakteri dapat dibagi menjadi media cair,
media padat, dan semi solid. Nutrient Broth (pepton dan ekstrak daging), Potato Dextrose
Agar, dan Nutrient Agar (pepton, ekstrak daging, dan agar) merupakan contoh medium cair
dan padat yang sering digunakan. Media padat diperoleh dengan cara menambahkan agar-
agar. Agar berasal dari ganggang merah yang berfungsi sebagai bahan pemadat. Media
setengah padat dibuat dengan bahan sama dengan media padat, akan tetapi yang berbeda
adalah komposisi agarnya. Sedangkan medium cair adalah medium yang berbentuk cair
medium cair digunakan untuk berbagai tujuan sepertipembiakan mikroba dalam jumlah
besar, penelaahan fermentasi, dan berbagai macam uji. (Padoli, 2017: 218).

Media NA merupakan suatu medium yang berbentuk padat ynag merupakan perpaduan
antara bahan alamiah dansenyawa-senyawa kimia. Media NA berbentuk serbuk berwarna
putih kekuningan dan apabila setelah digunakan akan berbentuk padat karena terdapat
kandungan agar sebagai pemadatnya. Dalam hal ini agar digunakan, karena sifatnya yang
mudah membeku dan mengandung karbohidrat yang berupagalaktam sehingga tidak mudah
diuraikan oleh mikroorganisme. Komposisi yang terpenting dalam media ini adalah
karbohidrat dan protein yang terdapat pada ekstrak daging dan pepton sesuai dengan
kebutuhan sebagian besarbakteri (Thohari, 2019: 276).

Media Nutrient Broth (NB) adalah medium yang berbentuk cair dengan bahandasar
dengan bahan dasarnya ekstrak daging dan peptone. Perbedaan konsentrasi antara NA dengan
NB yaitu terletak pada bentuknya yang padat dan cair. Media Nb merupakan medium
berwarna coklat yang memiliki konsentrasi cair dari senyawa sintetik dan memiliki kegunaan
u tuk menunmbuhkan bakteri seperti NA (Yusmaniar, 2017: 12).

Media PDA (Potato Dextrose Agar) adalah media yang sering digunakan untuk
menumbuhkan jamur di laboratorium karena pH-nya rndah antara 4,5-5,6 sehingga
pertumbuhan bakteri dapat terlambat. Bakteri membutuhkan lingkungan yang netral pada pH
7,0 dan suhu optimum 25-30℃ untuk pertumbuhannya. Media ini seringkali berbentuk siap
pakai atau instan. Berdasarkan komposisinya PDA termasuk dalam media semi sintetik
karena tersusun atas bahan alami (kentang) dan bahan sintesis (dextrose dan agar). Kentang
merupakan sumber karbon (karbohidrat), vitamin dan energi, dextrose sebagai sumber gula
dan energi, selain itu komponen agar berfungsi untuk memadatkan medium PDA (Octavia,
2017: 626).

D. Alat dan Bahan

1. Alat
Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum media pertumbuhan
mikroba:
Tabel 1. Peralatan yang Digunakan Dalam Pembuatan Media NA, NB, dan PDA
No. Alat Jumlah No. Alat Jumlah
1. Cawan Petri Secukunya 14. Spatula 1 buah
2. Gelas Ukur 1 buah 25. Autoklaf 1 buah
3. Labu Erlenmeyer 2 buah 26. Kompor 1 buah
4. Gelas Beaker 500 mL 1 buah 17. Lampu Spiritus 1 buah
5. Gelas Beaker 200 mL 2 buah 18. Pisau 1 buah
6. Hotplate 1 buah 19. Panci Presto 1 buah
7. Waterbath 1 buah 20. Piring 1 buah
8. Magnet Stirrer 1 buah 21. Lap 1 buah
9. Timbangan Analitik 1 buah 22. Botol Semprotan 1 buah
10. Tabung Reaksi Secukupnya 23. Botol Kaca 3 buah
11. Botol Aquadest 1 buah 24. Saringan 1 buah
12. Batang Pengaduk 1 buah 25. Timbangan Digital 1 buah
13. Toples Kaca 1 buah 26. Panci Biasa 1 buah
2. Bahan
Tabel 2. Bahan-bahan yang Digunakan Dalam Pembuatan Media NA, NB, dan PDA
No. Bahan Jumlah No. Bahan Jumlah
1. Alcohol 70% Secukupnya 7. Kentang 200 gram
2. Nutrient Agar 5,4 gram + 2 gram 8. Aquadest Secukupnya
3. Nutrient Broth 800 mg 9. Tissue Secukupnya
4. Agar-agar 2 Sachet 10 Aluminium Foil Secukupnya
5. Dextrose Agar 20 gram 11. Kertas Koran Secukupnya
6. Kapas Secukupnya 12. Karet Gelang Secukupnya

D. Langkah Kerja
Langkah Kerja 1. Pembuatan Media Nutrient Agar (NA) dengan Laminar

Alat dan bahan disiapkan Dilakukan perhitungan untuk komposisi


NA dan aquadest yang akan digunakan

Penuangan pada gelas ukur dilakukan Aquadest disimpan dalam gelas beaker
secara bertahan karena keterbatasan dan dituangkan kedalam gelas ukur
ukuran gelas ukur yakni 100 mL

Air pada gelas ukur dituangkan Hotplate dinyalakan dan diukur dengan
kedalam labu erlenmeyer suhu 50℃ dan kecepatan pada angka 7.

Air dalam labu Erlenmeyer dibiarkan Aluminium foil disobek dan diletakkan
hingga mendidih dan berembun di timbangan analitik

Aluminium foil pada labu Erlenmeyer Timbangan analitik diter-kan ke-nol


dibuka, Aquadest yang telah dan dituangi serbuk NA sebanyak 5,4
mengembun ditambahkan serbuk NA gram
secara perlahan

Labu Erlenmeyer ditutup Labu Erlenmeyer diletakkan diatas


menggunakan aluminium foil hotplate dan dimasukakan magnet
stirrer
Labu Erlenmeyer ditutup kembali, Hotplat dimatikan ketika larutan
larutan didiamkan hingga homogen telah homogen
dengan menggunakan magnet stirrer

Media disterilisasi bersama cawan Larutan media NA didiamkan hingga


petri pada autoklaf dingin

Sterilisasi dilakukan pada suhu 120℃ Memindahkan media yang telah


selama 8 menit disterilisasi ke ruang laminar

Dinding samping cawan petri Cawan petri disiapkan dan kemudian


dipanaskan dengan api spiritus di lakukan teknik aseptik

Media dituangkan pada cawan petri Mikroba sudah dapat ditumbuhkan

Langkah Kerja 2. Pembuatan Media Nutrient Agar (NA) Tanpa Laminar

Penyemprotan menyeluruh Alat dan bahan dalam pembuatan


menggunakan alcohol 70% pada area media NA disiapkan
kerja dan dilakukan pengelapan
searah menggunakan tissue

Serbuk NA dimasukkan kedalam Serbuk NA ditimbang sebanyak 2


gelas beaker kecil berukuran 200 mL. gram dan disimpan pada kertas
pastikan terkena uap/ debu
berterbangan

Air pada gelas beaker berukuran besar Air dituangkan kedalam gelas
dituangkan kedalam gelas ukur beaker berisi serbuk NA dan diaduk
sebanyak 100 mL menggunakan batang pengaduk
Larutan NA yang belum homogen Waterbath disiapkan untuk
dimasukkan kedalam waterbath dan menghomogenkan serbuk NA
sesekali diaduk dengan aquadest

Larutan diaduk hingga serbuk NA Larutan NA yang sudah terlarut


terlerut sempurna dan berubah warna sempurna diangkat dan kompor
menjadi kuning jernih dimatikan

Tabung reaksi ditutup dengan kapas Media NA dimasukkan kedalam


dan disimpan pada rak tabung reaksi tabung reaksi sebanyak 15 mL

Tabung reaksi berisikan media NA Cawan petri dibungkus dalam


dibungkus kertas koran dan diikat keadaan terbalik menggunakan
karet gelang, koran

Katup udara pada autoklaf dibuka Media pada tabung reaksi dan
dan klep tutup autoklaf diputar cawan petri dimasukkan kedalam
hingga rapat autoklaf untuk disterilisasi pada
suhu 121℃ selama 15 menit

Setelah disterilisasi, keluarkan Media cawan petri dilakukan


media NA dan cawan petri dari dengan Teknik aseptic, mensterilkan
autoklaf cawan petri dan mulut tabung reaksi
menggunakan api spiritus

Media cawan petri sudah bisa Media NA pada tabung reaksi


digunakan sebagai media dituangkan pada cawan petri
pertumbuhan mikroba
Langkah Kerja 3. Pembuatan Media Nutrient Broth (NB) Tanpa Laminar

Penyemprotan menyeluruh Alat dan bahan dalam pembuatan


menggunakan alcohol 70% pada area media NB disiapkan
kerja dan dilakukan pengelapan
searah menggunakan tissue

Serbuk NB dimasukkan kedalam Serbuk NB ditimbang sebanyak 0,8


gelas beaker kecil berukuran 200 mL. gram dan disimpan pada kertas
pastikan terkena uap/ debu
berterbangan

Air pada gelas beaker berukuran besar Air dituangkan pada gelas beaker
dituangkan pada gelas ukur sebanyak yang berisikan serbuk NB
100 mL

Media NB dimasukkan kedalam Larutan diaduk menggunakan batang


tabung reaksi sebanyak 6 mL pengaduk hingga homogen

Tabung reaksi ditutup dengan kapas Tabung reaksi digabungkan dan


dan disimpan pada rak tabung reaksi dibungkus dengan koran serta di ikat
oleh karet gelang

Katup udara pada autoklaf dibuka dan Media NB pada tabung reaksi
klep tutup autoklaf diputar hingga dimasukkan kedalam autoklaf untuk
rapat disterilisasi pada suhu 121℃ selama
15 menit

Setelah sterilisasi selesai, media NB Media NB yang telah disterilisasi


dikeluarkan dari autoklaf disiapkan untung media agar miring

MediaNB agar miring siap digunakan Media NB agar miring dilakukan


untuk media pertumbuhan mikroba dengan memiringkan tabung reaksi
Langkah Kerja 4. Pembuatan Media Potato Dextose Agar (PDA) dengan Presto

Alat dan bahan disiapkan Kentang dikupas, dibilas bersih dan


dipotong dadu dengan ukuran 1x1 cm

Panci disiapkan sebagai media Menakar kentang sebanyak 200 gram


perebusan kentang dan kompor dan menakar dextrose agar sebanyak
dinyalakan 20 gram dengan timbangan digital

Kentang dimasukan kedalam panci Air sebanyak 1 Liter dituangkan


kedalam panci

Kentang disaring agar terpisah dari Kentang direbus hingga bertekstur


kaldunya lunak

Kaldu kentang dimasukkan kedalam Kaldu kentang didinginkan


toples kaca

Air kaldu dituangkan kedalam panci Panci disiapkan kembali untuk


pembuatan media PDA dan kompor
diyalakan

Kaldu kentang, Dextrose agar 20 gram Media PDA diaduk secara terus-
dan agar-agar 1 bungkus di masukkan menerus supaya agar-agar tidak
kedalam panci mengental

Kompor dimatikan dan media PDA Media diaduk sampai mendidih/


dituangkan kedalam cangkir takar berbuih

Media PDA dimasukan kedalam botol Mulut botol ditutup menggunakan


kaca kapas dan koran dengan karet gelang
Panci presto disiapkan dan kompor Media PDA dimasukkan kedalam
dinyalakan tabung reaksi dan ditutup
menggunakan kapas dan koran serta
diikat dengan karet gelang

Media PDA pada tabung reaksi dan Panci ditutup dan media
botol kaca dimasukkan kedalam panci disterilisasikan dengan tekanan
presto dengan posisi berdiri untuk maksimum selama 30-45 menit
dilakukan sterilisasi

Media diposisikan miring selagi masih Media PDA dikeluarkan dari panci
cair

Media yang sudah memadat sudah


dapat digunakan sebagai media
pertumbuhan mikroba

E. Hasil Pengamatan

Dari prakrtikum yang dilakukan dalam pembuatan media pertumbuhan mikroba dengan
media Nutriet Agar, Nutrient Broth, dan Potato Dextrose Agar, didapatkan hasil akhir sebagai
berikut :

Gambar 1. Pembuatan Media NA dengan Laminar

Gambar tersebut menunjukkan media yang baru saja dituangkan dari labu Erlenmeyer
kedalam cawan petri yang sebelumnya sudah di lakukan sterilisasi menggunakan teknik
aseptic. Penuangan dilakukan di ruangan laminar atau laminar flow. Media tersebut berupa
media padat pada cawan petri.
Gambar 2. Pembuatan Media NA Tanpa Laminar

Gambar diatas merupakan proses penuangan media NA sebanyak 15 mL yang baru


saja distrerilisasi basah pada autoklaf di suhu 121℃ selama 15 menit. Proses penuangan
dilakukan di meja kerja dengan teknik aseptic.

Gambar 3. Pembuatan Media NB Tanpa Laminar

Gambar diatas merupakan tahap akhir pembuatan media NB miring pada media
Nutrient Broth sebanyak 6 mL didalam tabung reaksi.

Gambar 4. Pembuatan Media PDA dengan Presto

Gambar diatas adalah media Potato Dextrose Agar yang telah melakukan proses
streilisasi pada panci presto selama 30-45 menit dengan tekanan maksimal. Media ini
didinguinkan untuk menghasilkan media agar miring.
F. Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, mengenai Media Pertumbuhan Mikroba


yang telah dilakukan pada hari Kamis, 7 Oktober 2021, didapatkanlah hasil sebagai berikut :

Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-
zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya.
Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit
untuk menyusun komponen sel.

1. Pembuatan Media NA dengan Laminar

Berdasarkan pembuatan media NA yang dilakukan pada media cawan petri, ternyata
proses pembuatan dilakukan harus dengan takaran yang sesuai dan dengan proses kerja yang
harti-hati. Kandungan serbuk NA dengan air harus dilakukan penakaran terlebih dahulu.
Takaran media NA adalah 0,02 gram/mL. Pada praktikum dibuat untuk 18 cawan petri yang
berisi 15 mL. Berarti dibutuhkan 270 mL air dalam pembuatan media NA. 270 mL dikalikan
0,02 gram/ mL, sehingga dibutuhkan 5,4 gram media NA untuk 18 cawan petri. Kandungan
pada media NA harus sesuai dengan takaran yang sudah ditetapkan karena komposisi akan
mempengaruhi hasil pada media NA nantinya. Takaran pada media NA sudah disesuaikan
dengan komposisi yang terkandung didalamnya. Hal ini sesuai dengan penyataan Widodo
(2019: 1.34), bahwa berdasarkan komposisinya, media NA merupakan media sintesis karena
komposisi zat kimianya dapat diketahui jenis dan takarannya secara pasti.

Media NA merupakan media padat, sehingga dalam proses penghomogenannya harus


dilakukan pemanasan. Pemanasan merupakan salah satu proses penting dalam membuat
media pertumbuhan mikroorganisme. Pada proses pemanasan media harus terus diaduk
supaya agar-agar dapat tercampur dengan rata. Penghomoghgenan media NA dilakukan pada
labu Erlenmeyer yang disimpan diatas hotplate dan untuk mengaduknya digunakan magnet
stirrer. Penggunaan magnet stirrer dapat menghomogenkan larutan karena kutub magnet yang
ada pada labu erlenmeyer berlawanan arah dengan kutub magnet yang ada didalam hotplate.
Jadi, kerja dari magnet stirrer akan melakukan putaran pada saat penhomogenan larutan,
sebab magnet yang ada didalam hotplate memutar dan menyebabkan kutub berlawanan pada
magnet yang ada di labu Erlenmeyer memutar pula.

Menurut Silvia (2018: 1), bahwa Hotplate Magnetic Stirrer adalah peralatan laboratorium
yang digunakan untuk memanaskan dan mengaduk larutan satu dengan larutan lain yang
bertujuan untuk membuat suatu larutan homogen dengan bantuan pengaduk batang magnet
(stir bar). Dengan menggunakan Hot Plate Magnetic Stirrer, pencampuran dapat dilakukan
dengan menghemat waktu, tenaga, dan gliserol yang dihasilkan akan lebih banyak karena
minyak dan katalis akan lebih homogen. Selain itu, dari segi pemanasan Hot Plate Magnetic
Stirrer lebih dapat dikontrol dan juga lebih aman dibandingkan dengan pemanas berupa
kompor ataupun bunsen.

Sebelum media disterilisasi, media NA dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 15


mL. Penggunaan media pada cawan petri hanya berisi setengahnya saja dan sebelum
memasukan media kedalam cawan petri atau petridish dilakukan sterilisasi terlebih dahulu
menggunakan lampu spiritus. Penuangan yang tidak penuh pada cawan petri bertujuan untuk
media pertumbuhan mikroba nantinya. Berdasarkan Hardiansyah (2020: 43), penuangan
media NA di atas cawan petri sekitar 15-20 mL, kemudian ditutup dan direkatkan dengan
plastik wrap. Media akan di simpan pada kotak penyimpanan dan didiamkan hingga media
memadat.

Cawan petri harus disterilkan menggunakan teknis aseptic dengan lambu spiritus/
pembakaran bunsen. Pensterilan tersebut dilakukan agar pada saat penuangan media NA,
media tidak terkena debu atau kontaminasi dari mikroorganisme lain. Walaupun sudah
dilakukan sterilisasi pada autoklaf, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya kontaminasi
lain. Hal ini akan mempengaruhi media NA, bisa saja media tersebut seharusnya disimpan
atau diinkubasi karena tidak akan digunakan langsung. Akan tetapi karena adanya
kontaminasi malah membuat media ditumbuhi mikroba. Oleh karena itu, seperti yang
dikatakan Luklukyah (2019: 14) bahwa adanya pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan
bahwa pertumbuhan bakteri masih berlangsung dan tidak sempurnanya proses sterilisasi,
artinya sudah terjadi kontaminasi di dalamnya dan pengujian atau pekerjaan yang dilakukan
tidak valid . Jika sterilisasi berlangsung sempurna, maka spora bakteri yang merupakan
bentuk paling resisten dari kehidupan mikroorganisme.

2. Pembuatan Media NA Tanpa Laminar

Pada proses kerja pembuatan media pertumbuhan mikroba tentunya area kerja harus
steril, maka dalam proses pembuatan media NA tanpa laminar ini area kerja disemprot
dengan alcohol 70% dan dilap menggunakan tissue searah. Proses ini idnamakan desinfeksi.
Desinfeksi dilakukan agar area kerja bebas dari mikroorganisme atau debu yang ada pada
area kerja. Menurut Susatyo (2016: 160), proses desinfeksi dilakukan untuk mengurangi
jumlah kuman dan untuk mengurangiinfeksi silang.

Pembuatan median NA tanpa laminar sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembuatan
media NA menggunakan laminar. Hanya saja pada proses penuangan media NA pada
petridist atau cawan petri tidak dilakukan diruangan laminar. Proses pembuatan media NA
tanpa laminar dibuat dengan takaran serbuk NA sebanyak 2 gram yang dilarutkan dengan
aquadest sebanyak 100 mL.

Serbuk NA yang memiliki sifat padat, mengharuskan adanya pemanasan untuk


menghomogenkan larutan. Perbedan dengan pembuatan media NA menggunakan laminar
yang sebelumnya, penghomogenan pada media NA tanpa laminar menggunakan waterbath.
Namun, fungsinya sama saja dengan hotplate. Media NA memiliki sifat yang padat sehingga
jika tidak dipanaskan media tersebut tidak akan larut dalam air dan akan terbentuk gumpalan-
gumpalan saja. Selain itu, warna yang dihasilkanpun akan keruh. Oleh karena itu, perlu
dilakukannya penghomogenan dengan panas. Larutan yang homogen akan memiliki warna
kuning kecoklatan dan jernih. Hal ini sesuai dengan Wulan (2017: 15) yang menjelaskan
bahwa media NA adalah media universal yang berwarna coklat muda, memiliki konsistensi
yang padat dimana media ini berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebagai media
menumbuhkan bakteri.

Penggunaan laminar pada proses kerja di laboratorium tentunya mengurangi kontaminasi


dari mikroorganisme. Widodo (2019: 1.8), menjelaskan bahwa laminar air flow adalah alat
yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena laminar mempunyai pola pengaturan dan
penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasi sinar UV beberapa jam sebelum
digunakan.

Pembuatan media NA hasil penghomogenan kemudian dimasukkan kedalam tabung


reaksi dengan konsentrasi 15 mL dan ditutup menggunakan kapas. Kapas digunakan agar
media tidak terkontaminasi. Peuangan 15 mL media NA pada tabung reaksi akan digunakan
sebagai media cawan petri. Namun sebelumnya media tersbebut harus dilakukan sterilisasi
menggunakan autoklaf. Sterilisasi dilakukan pada suhu 121℃ selama 15 menit. Hal ini sesuai
dengan Widodo (2019: 1.6) bahwa autoklaf dapat mensterilkan berbagai macam alat dan
bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan
yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121oC (250o F).
Jadi, tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi (15 Psi = 15
pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121oC.

Pembuatan media cawan petri dilakukan dengan terlebih dahulu mensterilkan dinding
cawan petri agar terhindar dari mikroorganisme yang menempel pada cawan petri.
Pensterilan dilakukan menggunakan lampu spiritus dengan didekakatkan pada api. Menurut
Nufailah (2020: 3) sterilisasi menggunakan lampu spiritus dilakukan dengan alat yang
dilewatkan diatas lampu spiritus, kemudian menungkan medium NA.

Medium padat yaitu medium yang diberi agar, sehingga pada suhu kamar medium
mengeras. Medium jenis ini biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau
morfologi koloni dan mengisolasi biakan murni. Media padat biasanya mengandung bahan
yang dapat membiakan konsitensi padat dan bukan sebagai bahan makanan bagi
mikroorganisme. Bahan-bahan tersebut antara lain agar-agar dan gelatin. Pada media NA
yang dibuat adalah media padat pada cawan petri. Media NA merupakan media padat karena
mengandung agar. Menurut Yusmaniar (2017: 13) media padat mengandung komposisi agar
sebesar 15 %. Media padat digunakan untuk mempelajari koloni kuman, untuk isolasi dan
untuk memperoleh biakan murni. Contoh media padat Nutrient Agar (NA); Potato Detrose
Agar (PDA); Plate Count Agar (PCA), dan lain-lain. Media ini digunakan untuk menghitung
total bakteri dengan metode cawan.

3. Pembuatan Media NB Tanpa Laminar

Tidak jauh berbeda dengan pembuatan media NA tanpa laminar, pembuatan media NB
dilakukan tahapan yang sama hanya saja pada media NB tidak dilakukan penghomogenan
dengan pemanasan. Hal ini dikarenakan media NB adalah media cair yang dapat larut dengan
hanya diaduk menggunakan batang pengaduk. Menurut Yusmaniar (2017: 12), media cair
digunakan untuk pembenihan diperkaya sebelum disebar ke media padat, tidak cocok untuk
isolasi mikroba dan tidak dapat dipakai untuk mempelajari koloni kuman. Contoh media cair
Nutrient broth.

Media NB untuk takaran aquadest 100 mL, membutuhkan 800 mg serbuk NB. Dalam
proses pengadukannya dapat langsung homogen. Oleh karena itu, proses pembuatan NB lebih
cepat dibandingkan media NA. NB tidak mengandung agar karena NB adalah kaldu. Pada
praktikum pembuatan media NB, diperuntukan untuk membuat media NB miring. Menurut
Widodo (2019: 1.33), media cair pada media NB tidak mengandung agar. Komposisi untuk
media NB sama dengan NA, tetapi tidak memakai agar sebagai pemadat. Hal inilah yang
menyebabkan larutan media NA cepat homogen dan tidak perlu dilakukan pemanasan.

Ketika media NA telah dimasukkan kedalam tabung reaksi dengan banyaknya 6 mL,
kemudian media dilakukan pembungkusan dan dimasukkan kedalam autoklaf untuk proses
sterilisasi. Sterilisasi dilakuka sama halnya seperti pada pembuatan media NA tanpa laminar.
Setelah dilakukan proses steriliasi, media NB yang diperuntukan untuk media miring ini,
maka langsung diposisikan miring pada tabung reaksinya.

4. Pembuatan Media PDA dengan Presto

Pembuatan media PDA menggunakan presto tergolong mudah, sehingga dapat dilakukan
di rumah. Pembuatan PDA dengan kaldu kentang, dextrose, dan agar-agar sudah memenuhi
syarat bahan dalam pembuatan media PDA. Media PDA yang biasanya digunakan di
laboratorium adalah media PDA instan yang harganya mahal. Namun,ternyata PDA dapat
dibuat juga dirumah dengan bahan-bahan yang sederhana. Kentang dalam hal ini digunakan
sebagai sumber karbohidrat, dextrose sebagai sumber nutrisi, dan agar sebagai pemadat.
Kentang diambil kaldunya untuk direbus bersamaan dengan dextrose dan agar-agar. Proses
merebus tersebut sama halnya dengan penghomogenan menggunakan hotplate di
laboratorium. Media PDA yang dibuat menggunakan panci dituangkan dalam botol sebagai
pengganti dari tabung reaksi. Pembuatan media PDA dilakukan dengan cara media agar
miring. Media agar miring biasanya digunakan untuk media pertumbuhan mikroba, Hal ini
dijelaskan pula oleh Astuti (2019: 4), bahwa agar miring merupakan satu bentuk medium
yang digunakan untuk membiarkan mikroba, terutama yang bersifat aerobic dan anaerobic
fakultatif.

Komposisi kentang 200 gram, dextrose 20 gram, agar-agar 1 sachet, dan aquadest 1 liter
merupakan takaran yang digunakan dalam satu kali proses pembuatan media. Dextrose dalam
hal ini dapat diganti dengan gula pasir atau sukrosa dengan takaran yang sama karena
keduanya merupakan gula. Menurut Arifah (2019:29), peran dextrose dalam media PDA
adalah sebagai penyedia nutrisi. Dextrose dan gula pasir sama-sama merupakan gugusan gula
dan sumber karbohidrat yang mudah diubah menjadi energi. Gula pasir atau sukrosa adalah
hasil dari penguapan nira atau tebu. Gula pasir mengandung sukrosa 97,1 %, gula reduksi
1,24%, kadar air 0,61%, dan senyawa organic bukan gula 0,75. Sedangkan dextrose
(C6H12O6) merupakan monosakarida yang terdiri dari satu unit gula spesifik D-glukosa. Gula
tergolong sukrosa (C12H22O11) yang merupakan disakarida terdiri dari dua unit gula spesifik
glukosa dan fruktosa.

Pemotongan kentang dengan ukuran 1 x 1 cm, penambahan air 1 liter dan penambahan
agar juga dijelaskan oleh Arifah (2019: 30), bahwa dalam pembuatan media PDA digunakan
kentang yang dipotong 1 x1 cm yang dicuci bersih dan direbus dengan 500 mL aquadest.
Kemudian ditambahkan aquadest sampai volume 1000 mL dan dimasukkan agar serta
dextrose hingga mendiidh sambil terus diaduk. Penggunaan agar yakni 15 gram. Proses
tersebut sama halnya dengan yang dilakukan pada praktikum pembuatan PDA dengan
menggunakan presto. Bedanya penambahan air pada praktikum dilangsungkan 1000 mL atau
1 liter dan untuk agar tidak diberitahukan bahwa 1 sacher agar memiliki takaran 15 gram.
Pembuatan media PDA dengan kentang menggunakan panci presto tentunya bisa menjadi
alternatif dalam mengganti media PDA instan.

G. Kesimpulan
Dari hasil praktikum mengenai media pertumbuhan mikroba, maka apabila ditarik
kesimpulan bahwa setiap media pertumbuhan mikroba difungsikan untuk fungsinya yang
berbeda. Teknik yang dugunakan dalam pembuatan media pertumbuhan mikrobanyapun
berbeda. Hal itu tergantung pada praktikan yang melakukan percobaannya. Pada media NA,
pengomogenan larutan harus dengan pemanasa begitupun dengan media PDA, sedangkan
pada media NB penghomogenan dilakukan hanya dengan pengadukan dengan batang
pengaduk. Hal ini karena pada media NB merupakan broth yang berarti kaldu dan kaldu ini
sifatnya cair. Pada media NB tidak terdapat komposisi agar. Komposisi agar pada media NA
dan PDA sebanyak 15 gram. Hal tersebut sudah menjadi takaran bahwa untuk media padat
memiliki kandungan agar sebanyak 15 gram. Pembuatan media pertumbuhan mikroba harus
dilakukan dengan keadaan steril. Oleh karena itu, pada proses pembuatan media pertumbuhan
dilakukan sterilisasi basah dengan autoklaf.

H. Daftar Pustaka
Arifah, A. 2019. Gula Pasir Sebagai Pengganti Dektrosa Pada Komposisi PDA Untuk
Efisiensi Biaya Praktikum dan Penelitian Fitopatologi. Jurnal Temapela. Vol.2(1):28-
32.
Astuti, Lilies. 2019. Penuntun Praktikum Oral Mikrobiologi. Makkasar: AGMA
Dina Nufailah. 2020. Uji Aktivitas Antibakteri Produk Reduksi Asam Palmitat Dalam Sistem
NaBH4/ BF3.Et2O Terhadap Escherichia coli Dan Staphylococcus aureus.
Universitas Diponegoro.
Hardiansyah, M Yusril. 2020. Identifikasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria pada
Rizosfer Bambu Duri dengan Gram KOH 3%. Jurnal Agrotecnology Research. Vol.
4(1): 41-46.
Luklukyah, Zahrotul. 2019. Panduan Praktikum Mikrobiologi Dasar. Magelang: Universitas
Tidar.
Nurtjahyani, Supiana. 2014. Efektivitas Pengenceran Terhadap Pertumbuhan Koloni Mikroba
Pada Saus Tomat. Jurnal Saintek. Vol.11(2):65-68.
Octavia, Artha. 2017. Perbandingan Pertumbuhan Jamur Aspergillus flavus Pada Media PDA
(Potato Dextrose Agar) dan Media Alternatif dari Singkong (Manihot esculenta
Crantz). Jurnal Analis Kesehatan : Vol. 6(2): 625-631.
Padoli. 2017. Mikrobiologi dan Parasitologi Keperawatan. Jakarta : Pusdik SDM Kesehatan
Sandi Pratiwi, Silvia .2018. Penggunaan Hot Plate Magnetic Stirrer Dalam Pembuatan
Gliserol Dari Reaksi Hidrolisis Minyak Goreng Bekas dengan Katalis Asam klorida.
Undergraduate thesis. UNDIP.
Sari, Laily. 2019. Pembuatan Media Pertumbuhan Bakteri dengan Menggunakan Umbi Ubi
Jalar Cilembu (Ipomoea batatas (l.) Lam) Untuk Bakteri Lactobacillus acidophilus,
Salmonella typhii dan Escherichia coli. Skripsi. Universitas Sumatera Utara
Susatyo, Jojok. 2016. Perbedaan Pengaruh Pengolesan dan Perendaman Alkohol 70%
terhadap Penurunan Angka Hitung Kuman Pada Alat Kedokteran Gigi. Jurnal Vokasi
Kesehatan. Vol.11(1):160-164
Thohari, Nofriana. 2019. Pemanfaatan Tepung Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Sebagai
Media Alternatif (Nutrient Agar) Untuk Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli.
Analisis Kesehatan Sains. Vol. 8(2): 725-737
Widodo, Lestari. 2019. Mikrobiologi Edisi 2. Tanggerang Selatan: Universitas Terbuka
Yusmaniar,Wardiyah. 2017. Mikrobiologi dan PArasitologi. Jakarta : Pudik SDM Kesehatan

Anda mungkin juga menyukai