Anda di halaman 1dari 78

7 LAPORAN PENDAHULUAN ORANG DENGAN GANGGUAN

JIWA

DEPARTEMEN JIWA

NERS 23

NAMA : VINDA PURNAMAWATI

NIM : 202020461011069

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2021
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA DENGAN

HALUSINASI

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN JIWA

KELOMPOK 1

NAMA : VINDA PURNAMAWATI

NIM : 202020461011069

TGL PRAKTEK / MINGGU KE : 3 Oktober 2021/ 3

Malang, 3 Oktober 2021

Mahasiswa Pembimbing

(Vinda Purnamawati S.Kep) (Ns. Sri Widowati, S.Kep., M.Kep)


LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

A. Definisi

Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses diterimanya rangsang stimulus yang


diterima panca indera seperti merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba
dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima
indera tersebut (Montagnese et al., 2021). Dalam Townsend (2009) halusinasi
merupakan keadaan seseorang mengalami perubahan dalam pola dan jumlah
stimulasi yang muncul secara internal atau eksternal disekitar dengan pengurangan,
berlebihan, distorsi atau kelainan berespon terhadap stimulus (Irwan et al., 2021).
Halusinasi merupakan suatu penyerapan panca indera tanpa ada rangsangan dari
luar, pada orang yang sehat memiliki ambang persepsi yang akurat, mampu
mengidentifikasi dan mengintepretasikan stimulus berdasarkan informasi yang
diterima melalui panca indera, dimana stimulus tersebut tidak ada pada pasien yang
mengalami halusinasi (Aritonang, 2019). Dalam Marlindawani J (2018), akibat dari
yang ditimbulkan pada pasien halusinasi dapat berakibat fatal karena beresiko
tinggi untuk merugikan dirinya sendiri, orang lain disekitarnya dan juga lingkungan
(Aritonang, 2019). Menurut Kusmawati F dan Hartono Y (2018), dapat diperkirakan
penduduk di Indonesia yang menderita gangguan jiwa sebesar 2-3% jiwa, yaitu
sekitar 1-1,5 juta jiwa diantaranya mengalami halusinasi (Aritonang, 2019).

B. Jenis-Jenis Halusinasi

Adapun beberapa macam jenis halusinasi yaitu (Zaini, 2019a) :

a. Halusinasi Pendengaran yaitu gangguan persepsi mendengar suara atau


kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang
jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada
percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang
terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk
melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan. Sederhananya halusinasi
pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin, barang,
kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar, sampai suara yang berbicara
mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut
(Montagnese et al., 2021)
b. Halusinasi Penglihatan yaitu gangguan persepsi stimulus visual dalam bentuk
kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau
kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau menakutkan seperti melihat
monster.
c. Halusinasi Penciuman yaitu gangguan persepsi klien merasa mencium bau-bauan
tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak
menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau
dimensia.
d. Pengecapan yaitu gangguan persepsi dimana klien merasa mengecap rasa seperti
rasa darah, urin atau feses.
e. Perabaan yaitu gangguan persepsi dimana klien mengalami nyeri atau
ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang
dari tanah, benda mati atau orang lain.

C. Etiologi

1. Faktor Predisposisi : Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya


halusinasi dalam (Andri et al., 2019)
a) Biologis

Secara biologis terjadi abnormalitas perkembangan sistem saraf yang


berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai
dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut (Chang
et al., 2018) :

1) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang


lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal,
temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
1) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang
berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin
dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
2) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan
terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi
otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral
ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil
(cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh
otopsi (post-mortem).
b) Psikologis
Secara psikologis klien yang mempengaruhi respon dan kondisi
psikologis klien adalah keluarga, pengasuh dan lingkungan klien (Zaini,
2019a). Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi
gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan
dalam rentang hidup klien (Zaini, 2019a).
c) Sosial Budaya

Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti:


kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam)
dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.

2. Faktor Presipitasi :
Klien dengan gangguan halusinasi secara umum akan timbul gangguan setelah
adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna,
putus asa dan tidak berdaya (Paula et al., 2021). Dalam Keliat (2006) disebutkan
bahwa penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat
mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Paula et al., 2021). Menurut Stuart
(2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah (Zaini, 2019a) :
a. Biologis

Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur


proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam
otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.

b. Stress lingkungan

Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor


lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.

c. Mekanisme Koping
1) Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
2) Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan berusaha
untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
3) Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan
stimulus internal. (Stuart, 2007).

D. Tanda dan Gejala

Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah

sebagai berikut (Nurhalimah, 2016) :

a. Bicara sendiri.

b. Senyum sendiri.

c. Ketawa sendiri.

d. Menggerakkan bibir tanpa suara.

e. Pergerakan mata yang cepat

f. Respon verbal yang lambat.

g. Menarik diri dari orang lain.

h. Berusaha untuk menghindari orang lain.

i. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.

j. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah.

k. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik.

l. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori.

m. Sulit berhubungan dengan orang lain.

n. Ekspresi muka tegang.

o. Mudah tersinggung, jengkel dan marah.

p. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat.

q. Tampak tremor dan berkeringat.

r. Perilaku panik.

s. Agitasi dan kataton.


t. Curiga dan bermusuhan.

u. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan.

v. Ketakutan.

w. Tidak dapat mengurus diri.

x. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.

E. Rentang Respon Halusinasi

Adaptif Maladaptif

Pikiran Logis Distorsi Pikiran Gx Proses Pikir/


delusi
Persepsi Kuat Ilusi Halusinasi

Emosi konsisten dengan Reaksi emosi berlebihan Sulit berespon


pengalaman atau kurang
Perilaku tidak sesuai Perilaku aneh/tidak biasa Isolasi sosial

Berhubungan sosial Menarik diri

Halusinasi merupakan salah satu mal-adaptif individu berada dalam rentang


respon neurobiology, dimana persepsi paling adaptif menandakan klien sehat,
persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus
berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera (Irwan et al., 2021).
Klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus itu tidak ada, di antara
kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena sesuatu hal
mengalami kelainan persepsi yaitu salah mempersepsikan stimulus yang
diterimanya yang disebut sebagai ilusi (Irwan et al., 2021). Klien mengalami ilusi
jika interpretasi yang dilakukannya terhadap stimulus pancaindera tidak akurat
sesuai stimulus yang diterima (Irwan et al., 2021).
F. Pohon Masalah

Risiko menciderai diri, orang lain


Akibat
dan lingkungan

Perubahan sensori perseptual :


Masalah Utama
halusinasi

Isolasi Sosial : menarik diri Penyebab

G. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Data yang harus dikaji (Zaini, 2019a) :
1) Perubahan sensori perseptual / jenis halusinasi
2) Tentukan masalah yang muncul dengan data subyektif dan data
obyektif yaitu, :
a. Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan

stimulus nyata.

b. Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata.

c. Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus.

d. Klien merasa makan sesuatu.

e. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya.

f. Klien takut pada suara/ bunyi/ gambar yang dilihat dan didengar.

g. Klien ingin memukul/ melempar barang-barang.

Dan untuk data objektif didapatkan :

a. Klien berbicara dan tertawa sendiri.

b. Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu.

c. Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu.

d. Disorientasi.

b. Masalah Keperawatan yang muncul (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,


2018) :
1. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
2. Isolasi Sosial : Menarik Diri

3. Risiko Perilaku Kekerasan

4. Risiko Mutilasi Diri / Menciderai Diri

c. Rencana Keperawatan
SLKI (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2018) SIKI (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Gangguan Persepsi Sensori :


Luaran Utama : Persepsi Sensori Intervensi Utama :
Luaran Tambahan : - Manajemen Halusinasi
- Fungsi sensori - Minimalisasi Rangsangan
- Orientasi kognitif Intervensi Pendukung :
- Proses informasi
- Dukungan pelaksanaan ibadah
- Dukungan pengungkapan kebutuhan
- Status neurologis
- Edukasi perawatan diri
- Status orientasi - Manajemen stres
Isolasi Sosial : Menarik Diri - Pencegahan bunuh diri
Luaran Utama : Keterlibatan Sosial - Pencegahan perilaku kekerasan
Luaran Tambahan : - Promosi perawatan diri
- Adaptasi disabilitas - Resturisasi kognitif
- Citra tubuh - Teknik menenangkan
- Dukungan sosial - Terapi aktivitas
- Harga diri - Terapi kelompok
- Interaksi sosial - Terapi kognitif perilaku
- Terapi relaksasi
- Resolusi berduka
- Status perkembangan
- Tingkat dimensia
Risiko Perilaku Kekerasan
Luaran Utama : Kontrol Diri
Luaran Tambahan :
- Harga Diri
- Orientasi Kognitif
- Status Orientasi
Risiko Mutilasi Diri / Menciderai Diri
Luaran Utama : Kontrol diri
Luaran Tambahan :
- Citra tubuh
- Dukungan sosial
- Dukungan Keluarga
- Harapan
- Harga diri
- Kesadaran Diri
- Status Orientasi
- Tingkat Depresi
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA DENGAN

HARGA DIRI RENDAH

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN JIWA

KELOMPOK 1

NAMA : VINDA PURNAMAWATI

NIM : 202020461011069

TGL PRAKTEK / MINGGU KE : 3 Oktober 2021/ 3

Malang, 3 Oktober 2021

Mahasiswa Pembimbing

(Vinda Purnamawati S.Kep) (Ns. Sri Widowati, S.Kep., M.Kep)


LAPORAN PENDAHULUAN
HARGA DIRI RENDAH
A. Definisi
Harga diri rendah Situasional Yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, missal
harus dioperasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja,
memiliki penyakit (Nurhalimah, 2016). Harga diri rendah adalah menolak dirinya
sebagai sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggungjawab pada
kehidupannya sendiri (Nurhalimah, 2016). Adapun yang mendefinisikan harga
diri rendah sebagai perasan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang
berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau
kemampuan diri (Murharyati et al., 2021). Adanya perasaan hilang kepercayaan
diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (E.
W. Wuryaningsih et al., 2018). Harga diri seseorang di peroleh dari diri sendiri
dan orang lain (Irwan et al., 2021). Orang dengan gangguan harga diri rendah
akan terjadi jika kehilangan kasih sayang, perilaku orang lain yang mengancam
dan hubungan interpersonal yang buruk (Paula et al., 2021). Tingkat harga diri
seseorang berada dalam rentang tinggi sampai rendah (Paula et al., 2021).
Individu yang memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan secara aktif dan
mampu beradaptasi secara efektif untuk berubah serta cenderung merasa aman
begitupun sebaliknya, jika memiliki harga diri rendah akan menganggap ancaman
(Paula et al., 2021).

B. Tanda dan Gejala

Harga diri rendah muncul saat lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut

lebih dari kemampuanya, berikut merupakan tanda dan gejala yang muncul yaitu

(Paula et al., 2021).

- Mengejek dan mengkritik diri.


- Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri.
- Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi, gangguan penggunaan zat.
- Menunda keputusan.
- Sulit bergaul.
- Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.
- Menarik diri dari realitas, cemas, panic, cemburu, curiga dan halusinasi.
- Merusak diri: harga diri rendah menyokong klieb untuk mengakhiri hidup.
- Merusak atau melukai orang lain.
- Perasaan tidak mampu.
- Pandangan hidup yang pesimitis.
- Tidak menerima pujian.
- Penurunan produktivitas.
- Penolakan tehadap kemampuan diri.
- Kurang memperhatikan perawatan diri.
- Berpakaian tidak rapi.
- Berkurang selera makan.
- Tidak berani menatap lawan bicara.
- Lebih banyak menunduk.
- Bicara lambat dengan nada suara lemah.
C. Rentang Respon
Adaptif Maladaptif

Aktualisasi Konsep Harga Diri Difusi Depersonalisasi


Diri diri + Rendah Identitas

Keterangan :

- Aktualisasi diri : Pernyataan diri tentang konsep diri yang (+) dengan latar

belakang pengalaman nyata yg sukses dan diterima.

- Konsep diri positif : Konsep diri (+) apabila individu mempunyai pengalaman

yang positif dalam beraktualisasi sosial .

- Harga diri rendah : Transisi antara respon konsep diri adaptif dengan konsep

diri maladaptif. Merasa diri tidak berharga, terhina dan terhempas dalam

kehidupan, selalu gagal dan salah.

- Kerancuan identitas : Kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek

identitas masa kanak-kanak kedalam kematangan aspek psikososial kepribadian

pada masa dewasa yang harmonis.


- Depersonalisasi :Perasaan yg tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang

berhubungan dengan kecemasan, kepanikan, serta tidak dapat membedakan

dirinya dengan orang lain.

D. Faktor Predisposisi & Presipitasi

1. Faktor Predisposisi dari HDR (Zaini, 2019a)

- Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan
orang tua tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang mempunyai tanggung
jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak
realistis.
- Faktor yang mempengaruhi peran seseorang di masyarakat umumnya
disesuaikan dengan jenis kelaminnya. Misalnya seseorang wanita dianggap
kurang mampu, kurang mandiri, kurang obyektif dan rasional sedangkan pria
dianggap kurang sensitive, kurang hangat, kurang ekspresif dibandingkan
wanita. Sesuai dengan standar tersebut, jika wanita atau pria berperan tidak
sesuai lazimnya maka dapat menimbulkan konflik diri maupun hubungan sosial.
- Faktor yang mempengaruhi identitas diri meliputi ketidak percayaan, tekanan
dari teman sebaya dan perubahan struktur sosial. Orang tua yang selalu curiga
pada anak akan menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri, ragu dalam
mengambil keputusan dan dihantui rasa bersalah ketika akan melakukan
sesuatu. Control orang yang berat pada anak remaja akan menimbulkan perasaan
benci kepada orang tua. Teman sebaya merupakan faktor lain yang berpengaruh
pada identitas. Remaja ingin diterima, dibutuhkan dan diakui oleh kelompoknya,
- Faktor biologis yaitu adanya kondisi sakit fisik yang dapat mempengaruhi kerja
hormon secara umum, yang dapat pula berdampak pada keseimbangan
neurotransmitter di otak, contoh kadar serotonin yang menurun dapat
mengakibatkan klien mengalami depresi dan pada pasien depresi kecenderungan
harga diri dikuasai oleh pikiran-pikiran negatif dan tidak berdaya.

2. Faktor Presipitasi

Umumnya gangguan konsep diri harga diri rendah ini dapat terjadi secara

situasional atau kronik (Paula et al., 2021). Secara situasional misalnya


karena trauma yang muncul secara tiba-tiba misalnya harus di operasi,

kecelakaan, perkosaan atau di penjara termasuk di rawat di rumah sakit bisa

menyebabkan harga diri, harga diri rendah di sebabkan karena penyakit fisik

atau pemasangan alat bantu yang membuat klien tidak nyaman (Supinganto

et al., 2021). Contoh dari kasus yang sering terjadi yaitu karena prosedur

operasi amputasi sehingga kehilangan bagian tubuh, karena kecelakaan yang

menyebabkan perubahan penampilan/bentuk tubuh, kegagalan atau

produkivitas yang menurun. Sedangkan harga diri rendah kronik biasanya

dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum dirawat klien sudah memilki

pikiran negatif dan meningkat saat di rawat, hal tersenut dipengaruhi oleh

faktor Internal dan eksternal (Supinganto et al., 2021). Penyebab lainnya

adalah harapan fungsi tubuh yang tidak tercapai serta perlakuan petugas

kesehatan yang kurang menghargai klien dan keluarga (Supinganto et al.,

2021).

E. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang terdapat dalam (E. W. Wuryaningsih et al., 2018) :

1) Jangka pendek :
1. Kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis : pemakaian
obat-obatan, kerja keras, nonoton tv terus menerus.
2. Kegiatan mengganti identitas sementara: ikut kelompok sosial,
keagamaan, politik.
3. Kegiatan yang memberi dukungan sementara : kompetisi olah raga
kontes popularitas.
4. Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara :
penyalahgunaan obat-obatan.
2) Jangka Panjang :
1. Menutup identitas : terlalu cepat mengadopsi identitas yang disenangi
dari orang-orang yang berarti, tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau
potensi diri sendiri.
2. Identitas negatif : asumsi yang pertentangan dengan nilai dan harapan
masyarakat.
3) Mekanisme Pertahanan Ego: Mekanisme pertahanan ego yang sering
digunakan adalah : fantasi, disasosiasi, isolasi, proyeksi, mengalihkan
marah berbalik pada diri sendiri dan orang lain.
F. Pohon Masalah
Risiko Perilaku Kekerasan/
menciderai diri sendiri dan
orang lain

Isolasi Sosial Efek / Masalah Keperawatan


yang muncul

Harga Diri Rendah Masalah Utama dari M.K yang


akan muncul

Koping Individu Tidak Efektif Penyebab/causa

G. Masalah Keperawatan Yang akan Muncul berdasarkan SDKI


- Gangguan citra tubuh
- Harga diri rendah (kronis, situasional dan resiko situasional)
- Kesiapan meningkatkan konsep diri\
- Isolasi Sosial
- Risiko Perilaku Kekerasan
- Risiko Mutilasi Diri
H. Perilaku yang berhubungan dengan diagnosis
Tanda dan gejala (batasan karakteristik) menurut Townsend, 2010 :
1. Ekspresi verbal dari tidak adanya kontrol atau pengaruh atau situasi, hasil
atau perawatan diri.
2. Tidak berpartisipasi dalam perawatan atau pengambilan keputusan saat
kesempatan diberikan.
3. Mengekspresikan keragu-raguan yang berkenaan dengan pelaksanaan peran.
4. Segan mengekspresikan perasaan sebenarnya, takut diasingkan dari
pengasuh.
5. Apatis dan pasif
6. Ketergantungan pada orang lain yang dapat menghasilkan lekas tersinggung,
kebencian, marah, dan rasa bersalah.
H. Rencana Keperawatan
SLKI (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2018) SIKI (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018)

Gangguan citra tubuh Harga Diri Rendah


Luaran Utama : Citra Tubuh Intervensi Utama :
Luaran Tambahan : - Manajemen perilaku
Berat Badan - Promosi harga diri
Harga diri - Promosi koping
Identitas diri Intervensi Pendukung Kronis :
Identitas seksual - Dukungan keyakinan
Kesadaran diri - Dukungan memaafkan
Status koping - Dukungan pelaksanaan ibadah
Tingkat agitasi - Dukungan penampilan peran
Harga diri rendah (kronis, situasional dan - Dukungan pengambilan keputusan
resiko situasional) - Dukungan pengungkapan perasaan
Luaran Utama : Harga Diri - Dukungan perlindungan penganiayaan
Kronis, Luaran Tambahan : - Dukungan spiritual
Adaptasi disabilitas - Edukasi manajemen stres
Fungsi keluarga - Edukasi penyalahgunaan zat
Identitas seksual - Kontrak perilaku positif
Kesadaran diri - Manajemen depresi pascapersalinan
Ketahanan keluarga - Manajemen perilaku
Ketahanan personal - Manajemen stres
Resolusi berduka - Manajemen trauma pemerkosaan
Tingkat depresi - Pemberian obat
Situasional , Luatan Tambahan : - Pemberian obat oral
Citra tubuh - Perantara budaya
Identitas seksual - Perawatan perkembangan
Kesadaran diri - Promosi kepercayaan diri
Ketahanan personal - Promosi kesadaran diri
Ketahanan koping
- Rekstruksasi kognitif
Penampilan peran
- Terapi diversional
Perilaku menurunkan BB
- Terapi kognitif perilaku
Intervensi Pendukung Situasional :
Resolusi berduka
- Dukungan emosional
Tingkat ansietas
- Dukungan keyakinan
- Dukungan pelaksanaan ibadah
- Dukungan pengambilan keputusan
- Dukungan pengungkapan kebutuhan
- Dukungan perasaan bersalah
- Dukungan spiritual
- Dukungan perlindungan penganiayaan
- Manajemen perilaku
- Manajemen stres
- Manajemen trauma perkosaan
- Pemberian obat
- Pemberian obat oral
- Pencegahan bunuh diri
- Promosi citra tubuh
- Promosi kepercayaan diri
- Promosi kesadaran diri
- Restrukturisasi kognitif
- Terapi diversional
- Terapi kognitif perilaku
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA DENGAN

ISOLASI SOSIAL

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN JIWA

KELOMPOK 1

NAMA : VINDA PURNAMAWATI

NIM : 202020461011069

TGL PRAKTEK / MINGGU KE : 3 Oktober 2021/ 3

Malang, 3 Oktober 2021

Mahasiswa Pembimbing

(Vinda Purnamawati S.Kep) (Ns. Sri Widowati, S.Kep., M.Kep)


LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL
A. Definisi
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan
atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya
(Murharyati et al., 2021). Keadaan tersebut karena pasien mungkin merasa ditolak,
tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan
orang lain (Murharyati et al., 2021). Adapula yang mendefinisikan isolasi sosial
sebagai gangguan dalam berhubungan yang merupakan mekanisme individu
terhadap sesuatu yang mengancam dirinya dengan cara menghindari interaksi
dengan orang lain dan lingkungan (Paula et al., 2021). Isolasi soaial merupakan
pengalaman kesendirian seorang individu yang diterima sebagai perlakuan dari
orang lain serta sebagai kondisi yang negatif atau mengancam (Zaini, 2019a).
Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari hubungan dengan orang lain (Ruswadi, 2021).
B. Etiologi
a. Faktor Predisposisi

Berikut merupakan faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah


(Ruswadi, 2021) :

a. Faktor Perkembangan

Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari


ibu/pengasuh pada bayi bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat
menghambat terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidakpercayaan
tersebut dapat mengembangkan tingkah laku curiga pada orang lain
maupun lingkungan di kemudian hari.

Menurut Purba, dkk. (2008) tahap-tahap perkembangan individu dalam


berhubungan terdiri dari (Yosep, 2013) :

1) Masa Bayi

Bayi sepenuhnya tergantung pada orang lain untuk memenuhi


kebutuhan biologis maupun psikologisnya. Konsistensi hubungan
antara ibu dan anak, akan menghasilkan rasa aman dan rasa percaya
yang mendasar. Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi
hubungannya dengan lingkungan di kemudian hari. Bayi yang
mengalami hambatan dalam mengembangkan rasa percaya pada masa
ini akan mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain
pada masa berikutnya.

2) Masa Kanak-kanak

Anak mulai mengembangkan dirinya sebagai individu yang mandiri,


mulai mengenal lingkungannya lebih luas, anak mulai membina
hubungan dengan teman-temannya. Konflik terjadi apabila tingkah
lakunya dibatasi atau terlalu dikontrol, hal ini dapat membuat anak
frustasi. Kasih sayang yang tulus, aturan yang konsisten dan adanya
komunikasi terbuka dalam keluarga dapat menstimulus anak tumbuh
menjadi individu yang interdependen, Orang tua harus dapat
memberikan pengarahan terhadap tingkah laku yang diadopsi dari
dirinya, maupun sistem nilai yang harus diterapkan pada anak, karena
pada saat ini anak mulai masuk sekolah dimana ia harus belajar cara
berhubungan, berkompetensi dan berkompromi dengan orang lain.

3) Masa Praremaja dan Remaja


Pada praremaja individu mengembangkan hubungan yang intim dengan
teman sejenis, yang mana hubungan ini akan mempengaruhi individu
untuk mengenal dan mempelajari perbedaan nilai-nilai yang ada di
masyarakat. Selanjutnya hubungan intim dengan teman sejenis akan
berkembang menjadi hubungan intim dengan lawan jenis. Pada masa ini
hubungan individu dengan kelompok maupun teman lebih berarti
daripada hubungannya dengan orang tua. Konflik akan terjadi apabila
remaja tidak dapat mempertahankan keseimbangan hubungan tersebut,
yang seringkali menimbulkan perasaan tertekan maupun tergantung
pada remaja.

4) Masa Dewasa Muda

Individu meningkatkan kemandiriannya serta mempertahankan


hubungan interdependen antara teman sebaya maupun orang tua.
Kematangan ditandai dengan kemampuan mengekspresikan perasaan
pada orang lain dan menerima perasaan orang lain serta peka terhadap
kebutuhan orang lain. Individu siap untuk membentuk suatu kehidupan
baru dengan menikah dan mempunyai pekerjaan. Karakteristik
hubungan interpersonal pada dewasa muda adalah saling memberi dan
menerima (mutuality).

5) Masa Dewasa Tengah

Individu mulai terpisah dengan anak-anaknya, ketergantungan anak-


anak terhadap dirinya menurun. Kesempatan ini dapat digunakan
individu untuk mengembangkan aktivitas baru yang dapat
meningkatkan pertumbuhan diri. Kebahagiaan akan dapat diperoleh
dengan tetap mempertahankan hubungan yang interdependen antara
orang tua dengan anak.

6) Masa Dewasa Akhir

Individu akan mengalami berbagai kehilangan baik kehilangan keadaan


fisik, kehilangan orang tua, pasangan hidup, teman, maupun pekerjaan
atau peran. Dengan adanya kehilangan tersebut ketergantungan pada
orang lain akan meningkat, namun kemandirian yang masih dimiliki
harus dapat dipertahankan.

b. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga


Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi untuk
mengembangkan gangguan tingkah laku.

1) Sikap bermusuhan/hostilitas

2) Sikap mengancam, merendahkan dan menjelek-jelekkan anak

3) Selalu mengkritik, menyalahkan, anak tidak diberi kesempatan untuk


mengungkapkan pendapatnya.
4) Kurang kehangatan, kurang memperhatikan ketertarikan pada
pembicaananak, hubungan yang kaku antara anggota keluarga, kurang
tegur sapa, komunikasi kurang terbuka, terutama dalam pemecahan
masalah tidak diselesaikan secara terbuka dengan musyawarah.
5) Ekspresi emosi yang tinggi

6) Double bind (dua pesan yang bertentangan disampaikan saat


bersamaan yang membuat bingung dan kecemasannya meningkat)
c. Faktor Sosial Budaya

Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor


pendukung terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga disebabkan oleh
karena norma-norma yang salah yang dianut oleh satu keluarga.seperti
anggota tidak produktif diasingkan dari lingkungan sosial.

d. Faktor Biologis

Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa. Insiden


tertinggi skizofrenia ditemukan pada keluarga yang anggota keluarga yang
menderita skizofrenia. Berdasarkan hasil penelitian pada kembar
monozigot apabila salah diantaranya menderita skizofrenia adalah 58%,
sedangkan bagi kembar dizigot persentasenya 8%. Kelainan pada struktur
otak seperti atropi, pembesaran ventrikel, penurunan berat dan volume
otak serta perubahan struktur limbik, diduga dapat menyebabkan
skizofrenia.

b. Faktor Presipitasi

Stresor presipitasi terjadinya isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh faktor


internal maupun eksternal, meliputi:

a. Stressor Sosial Budaya

Stresor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan,


terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti perceraian, berpisah
dengan orang yang dicintai, kehilangan pasangan pada usia tua, kesepian
karena ditinggal jauh, dirawat dirumah sakit atau dipenjara. Semua ini
dapat menimbulkan isolasi sosial.

b. Stressor Biokimia

1) Teori dopamine: Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan mesolimbik


serta tractus saraf dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
2) Menurunnya MAO (Mono Amino Oksidasi) didalam darah akan
meningkatkan dopamin dalam otak. Karena salah satu kegiatan MAO
adalah sebagai enzim yang menurunkan dopamin, maka menurunnya
MAO juga dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia.
3) Faktor endokrin: Jumlah FSH dan LH yang rendah ditemukan pada
pasien skizofrenia. Demikian pula prolaktin mengalami penurunan
karena dihambat oleh dopamin. Hypertiroidisme, adanya peningkatan
maupun penurunan hormon adrenocortical seringkali dikaitkan dengan
tingkah laku psikotik.
4) Viral hipotesis: Beberapa jenis virus dapat menyebabkan gejala-gejala
psikotik diantaranya adalah virus HIV yang dapat merubah stuktur sel-
sel otak.
c. Stressor Biologik dan Lingkungan Sosial

Beberapa peneliti membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering terjadi


akibat interaksi antara individu, lingkungan maupun biologis.

d. Stressor Psikologis

Kecemasan yang tinggi akan menyebabkan menurunnya kemampuan


individu untuk berhubungan dengan orang lain. Intesitas kecemasan yang
ekstrim dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan individu untuk
mengatasi masalah akan menimbulkan berbagai masalah gangguan
berhubungan pada tipe psikotik.

Menurut teori psikoanalisa; perilaku skizofrenia disebabkan karena ego


tidak dapat menahan tekanan yang berasal dari id maupun realitas yang
berasal dari luar. Ego pada klien psikotik mempunyai kemampuan terbatas
untuk mengatasi stress. Hal ini berkaitan dengan adanya masalah serius
antara hubungan ibu dan anak pada fase simbiotik sehingga perkembangan
psikologis individu terhambat.

Menurut Purba, dkk. (2008) strategi koping digunakan pasien sebagai usaha
mengatasi kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang mengancam
dirinya. Strategi koping yang sering digunakan pada masing-masing tingkah laku
adalah sebagai berikut:

a) Tingkah laku curiga: proyeksi


b) Dependency: reaksi formasi
c) Menarik diri: regrasi, depresi, dan isolasi
d) Curiga, waham, halusinasi: proyeksi, denial
e) Manipulatif: regrasi, represi, isolasi
f) Skizoprenia: displacement, projeksi, intrijeksi, kondensasi, isolasi, represi dan
regrasi.

C. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala Isolasi Sosial adalah sebagai berikut (E. W. Wuryaningsih et
al., 2018) :

a. Apatis
b. ekspresi sedih
c. afek tumpul
d. Menghindar dari orang lain (menyendiri)
e. Komunikasi kurang/tidak ada.
f. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat.
g. Tidak ada kontak mata
h. klien sering menunduk.
i. Berdiam diri di kamar/klien kurang mobilitas.
j. Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan
atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
k. Tidak melakukan kegiatan sehari
l. Sering tidur, posisi tidur klien seperti posisi tidur janin.
Sedangkan Tanda & Gejala menurut Townsend,1998 dalam (Yosep, 2013) :
a. Sedih, afek tumpul
b. Menjadi tidak komunikatif
c. Asyik dengan fikirannya sendiri
d. Meminta untuk sendirian
e. Mengekspresikan perasaan kesendirian/penolakan
f. Disfungsi interaksi dengan teman sebaya,keluarga,orang lain.
D. Akibat yang Ditimbulkan dari Menarik Diri

Perilaku isolasi sosial : menarik diri dapat berisiko terjadinya perubahan


persepsi sensori halusinasi. Perubahan persepsi sensori halusinasi adalah
persepsi sensori yang salah (misalnya tanpa stimulus eksternal) atau persepsi
sensori yang tidak sesuai dengan realita/kenyataan seperti melihat bayangan
atau mendengarkan suara-suara yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi
merupakan pengalaman mempersepsikan yang terjadi tanpa adanya stimulus
sensori eksternal yang meliputi lima perasaan (pengelihatan, pendengaran,
pengecapan, penciuman, perabaan), akan tetapi yang paling umum adalah
halusinasi pendengaran.

E. Pohon Masalah
Risiko gangguan persepsi Efek / akibat dari masalah
sensori : Halusinasi keperawatan yang muncul

Isolasi Sosial : Menarik Diri Masalah Utama dari M.K yang


akan muncul

Mekanisme koping tidak


efektif

Gangguan Konsep diri: Harga


Penyebab/causa
diri rendah

(Zaini, 2019a)

F. Penatalaksanaan

1. Terapi Psikofarmaka

Terapi yang diberikan dapat berupa pemberian obat yaitu (Supinganto et al., 2021) :

a. Chlorpromazine
Mengatasi sindrom psikis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas,
kesadaran diri terganggu, daya ingat norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya
berat dalam fungsi-fungsi mental: faham, halusinasi. Gangguan perasaan dan
perilaku yang aneh atau tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan
sehari-hari, tidak mampu bekerja, berhubungan sosial dan melakukan kegiatan
rutin. Mempunyai efek samping gangguan otonomi (hypotensi) antikolinergik /
parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi, hidung tersumbat, mata kabur,
tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung. Gangguan ekstra pyramidal
(distonia akut, akathsia sindrom parkinson). Gangguan endoktrin (amenorhe).
Metabolic (Soundiee). Hematologik, agranulosis. Biasanya untuk pemakaian jangka
panjang. Kontraindikasi terhadap penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan
jantung (Supinganto et al., 2021)
b. Haloperidol (HLP)

Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi mental serta dalam
fungsi kehidupan sehari-hari. Memiliki efek samping seperti gangguan miksi dan
parasimpatik, defeksi, hidung tersumbat mata kabur , tekanan infra meninggi,
gangguan irama jantung. Kontraindikasi terhadap penyakit hati, penyakit darah,
epilepsy, kelainan jantung (Supinganto et al., 2021)

c. Trihexyphenidil (THP)

Segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pasca ensepalitis dan idiopatik, sindrom
Parkinson akibat obat misalnya reserpina dan fenotiazine. Memiliki efek samping
diantaranya mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung,
agitasi, konstipasi, takikardia, dilatasi, ginjal, retensi urine. Kontraindikasi terhadap
hypersensitive Trihexyphenidil (THP), glaukoma sudut sempit, psikosis berat
psikoneurosis (Supinganto et al., 2021)

2. Terapi Individu

Terapi individu pada pasien dengan masalah isolasi sosial dapat diberikan strategi
pertemuan (SP) yang terdiri dari tiga SP dengan masing-masing strategi pertemuan
yang berbeda-beda.

1. SP satu, perawat mengidentifikasi penyebab isolasi social, berdiskusi dengan


pasien mengenai keuntungan dan kerugian apabila berinteraksi dan tidak
berinteraksi dengan orang lain, mengajarkan cara berkenalan, dan memasukkan
kegiatan latihan berbiincang-bincang dengan orang lain ke dalam kegiatan
harian.
2. SP dua, perawat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, memberi
kesempatan pada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang,
dan membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang
lain sebagai salah satu kegiatan harian.
3. SP tiga, perawat mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, memberi
kesempatan untuk berkenalan dengan dua orang atau lebih dan menganjurkan
pasien memasukkan ke dalam jadwal kegiatan hariannya (Supinganto et al.,
2021).
3. Terapi kelompok
Menurut (Purba, 2009), aktivitas pasien yang mengalami ketidakmampuan
bersosialisasi secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu (Supinganto et
al., 2021):

A. Activity Daily Living (ADL)

Adalah tingkah laku yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari


yang meliputi (Supinganto et al., 2021) :

1) Bangun tidur, yaitu semua tingkah laku/perbuatan pasien sewaktu bangun tidur.

2) Buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK), yaitu semua bentuk tingkah
laku/perbuatan yang berhubungan dengan BAB dan BAK.
3) Waktu mandi, yaitu tingkah laku sewaktu akan mandi, dalam kegiatan mandi dan
sesudah mandi.
4) Ganti pakaian, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan keperluan berganti
pakaian.
5) Makan dan minum, yaitu tingkah laku yang dilakukan pada waktu, sedang dan
setelah makan dan minum.
6) Menjaga kebersihan diri, yaitu perbuatan yang berhubungan dengan kebutuhan
kebersihan diri, baik yang berhubungan dengan kebersihan pakaian, badan,
rambut, kuku dan lain-lain.
7) Menjaga keselamatan diri, yaitu sejauhmana pasien mengerti dan dapat menjaga
keselamatan dirinya sendiri, seperti, tidak menggunakan/menaruh benda tajam
sembarangan, tidak merokok sambil tiduran, memanjat ditempat yang berbahaya
tanpa tujuan yang positif.
8) Pergi tidur, yaitu perbuatan yang mengiringi seorang pasien untuk pergi tidur.
Pada pasien gangguan jiwa tingkah laku pergi tidur ini perlu diperhatikan karena
sering merupakan gejala primer yang muncul padagangguan jiwa. Dalam hal ini
yang dinilai bukan gejala insomnia (gangguan tidur) tetapi bagaimana pasien mau
mengawali tidurnya.
B. Tingkah laku sosial
Adalah tingkah laku yang berhubungan dengan kebutuhan sosial pasien dalam
kehidupan bermasyarakat yang meliputi (Supinganto et al., 2021) :
1) Kontak sosial terhadap teman, yaitu tingkah laku pasien untuk melakukan
hubungan sosial dengan sesama pasien, misalnya menegur kawannya, berbicara
dengan kawannya dan sebagainya.
2) Kontak sosial terhadap petugas, yaitu tingkah laku pasien untuk melakukan
hubungan sosial dengan petugas seperti tegur sapa, menjawab pertanyaan waktu
ditanya, bertanya jika ada kesulitan dan sebagainya.
3) Kontak mata waktu berbicara, yaitu sikap pasien sewaktu berbicara dengan orang
lain seperti memperhatikan dan saling menatap sebagai tanda adanya kesungguhan
dalam berkomunikasi.
4) Bergaul, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan kemampuan bergaul dengan
orang lain secara kelompok (lebih dari dua orang).
5) Mematuhi tata tertib, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan ketertiban yang
harus dipatuhi dalam perawatan rumah sakit.
6) Sopan santun, yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan tata krama atau sopan
santun terhadap kawannya dan petugas maupun orang lain.
7) Menjaga kebersihan lingkungan, yaitu tingkah laku pasien yang bersifat
mengendalikan diri untuk tidak mengotori lingkungannya, seperti tidak meludah
sembarangan, tidak membuang puntung rokok sembarangan dan sebagainya.

G. Asuhan Keperawatan

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Setiap melakukan pengajian ,tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi
pengkajian meliputi :

1. Identitas klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tangggal MRS,
informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.

2. Keluhan utama

Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi


kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan orang lain,
tidak melakukan kegiatan sehari–hari, dependen.

3. Faktor predisposisi kehilangan, perpisahan, penolakan orang tua, harapan orang


tua yang tidak realistis, kegagalan / frustasi berulang, tekanan dari kelompok
sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus
dioperasi, kecelakaan dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan malu karena
sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain
yang tidak menghargai klien / perasaan negatif terhadap diri sendiri yang
berlangsung lama.
4. Aspek fisik/biologis

Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan, TB, BB) dan keluhan fisik
yang dialami oleh klien.

5. Aspek Psikososial

a. Genogram yang menggambarkan tiga generasi

b. Konsep diri

1) Citra tubuh

Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima
perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan
perubahan tubuh, persepsi negatip tentang tubuh. Preokupasi dengan bagia tubuh
yang hilang, mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan.

2) Identitas diri

Ketidak pastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu
mengambil keputusan .

3) Peran

Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses menua, putus
sekolah, PHK.

4) Ideal diri
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan
yang terlalu tinggi

5) Harga diri

Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan
hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai diri, dan kurang percaya diri.
a. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubungan sosial
dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam
masyarakat.
b. Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah (spritual)
c. Status mental : Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan
kontak mata, kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka menyendiri
dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain, Adanya perasaan
keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup.
d. Kebutuhan persiapan pulang
e. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan
f. Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC,
membersikan dan merapikan pakaian.
g. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi
h. Klien dapat melakukan istirahat dan tidur, dapat beraktivitas didalam dan
diluar rumah
i. Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.
j. Mekanisme koping: apabila klien mendapat masalah takut atau tidak mau
menceritakan nya pada orang orang lain (lebih sering menggunakan koping
menarik diri).
k. Aspek medik : terapi yang diterima klien bisa berupa terapi farmakologi
ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.
B. Masalah Keperawatan Yang muncul
a. Isolasi Sosial
b. Gangguan Persepsi Sensori
c. Harga Diri Rendah Kronis/Situasional
d. Koping defensif
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA DENGAN

DEFISIT PERAWATAN DIRI

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN JIWA

KELOMPOK 1

NAMA : VINDA PURNAMAWATI

NIM : 202020461011069

TGL PRAKTEK / MINGGU KE : 3 Oktober 2021/ 3

Malang, 3 Oktober 2021

Mahasiswa Pembimbing

(Vinda Purnamawati S.Kep) (Ns. Sri Widowati, S.Kep., M.Kep)


LAPORAN PENDAHULUAN
DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Definisi
Defisit Perawatan Diri (DPD) merupakan suatu kondisi pada seseorang yang
mengalami kelemahan kemampuan dalam melengkapi aktivitas perawatan
diri secara mandiri seperti mandi, berhias, makan dan BAK/BAB (Yosep, 2013).
Menurut nurjannah (2004) menyebutkan Defisit perawatan diri adalah
gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi,
berhias, makan, toileting) (Widiyawati, 2020). Defisit perawatan diri ini terjadi
ketika seseorang tidak dapat memelihara diri mereka sendiri (Supinganto et al.,
2021).

B. Rentang Respon
Berikut merupakan rentang respon klien dengan defisit perawatan diri
(Supinganto et al., 2021).
Respon Adaptif Respon Maladaptif

Menyendiri (Solitude) Kesepian Manipulasi


Otonomi Menarik diri Impulsive
Kebersamaan Ketergantungan Narcisme
Saling ketergantungan
1) Menyendiri (Solitude)
Respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang dilakukan
dilingkungan sosialnya dan juga suatu cara mengevaluasi diri untuk
menentukan langkah selanjutnya.
2) Otonomi
Kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran,
perasaan dalam hubungan social
3) Kebersamaan
Kondisi dalam hubungan sosial interpersonal dimana individu mampu saling
member dan menerima.
4) Saling Ketergantungan
Hubungan saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam rangka
membina hubungan interpersonal.
C. Tanda Dan Gejala
Menurut Depkes (2000: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah (Widiyawati, 2020) :
a. Badan bau, pakaian kotor.
b. Rambut dan kulit kotor.
c. Kuku panjang dan kotor
d. Gigi kotor disertai mulut bau
e. Penampilan tidak rapi
f. Malas, tidak ada inisiatif.
g. Menarik diri, isolasi diri.
h. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.

D. Etiologi
Faktor Predisposisi dan Faktor Presivitasi Menurut Depkes (2000: 20), penyebab
kurang perawatan diri adalah (Supinganto et al., 2021) :
1) Faktor predisposisi
a) Perkembangan: Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien
sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
b) Biologis: Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu
melakukan perawatan diri.
c) Kemampuan realitas turun: Klien dengan gangguan jiwa dengan
kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya
dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d) Sosial: Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.
2) Faktor presipitasi
Kurang motivasi, kerusakan kognitif atau perceptual, cemas, lelah/lemah
yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu
melakukan perawatan diri. Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi
personal hygiene adalah (E. W. Wuryaningsih et al., 2018) :
a) Body Image: Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga
individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
b) Praktik Sosial: Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri,
maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c) Status Sosial Ekonomi: Personal hygiene memerlukan alat dan bahan
seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya
memerlukan uang untuk menyediakannya.
d) Pengetahuan: Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada
pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e) Budaya: Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
f) Kondisi fisik atau psikis: Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk
merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
3) Mekanisme Koping
E. Pohon Masalah

Gangguan Integritas kulit dan Efek / akibat dari masalah


Jaringan keperawatan yang muncul

Defisit Perawatan Diri Masalah Utama dari M.K yang


akan muncul

Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah Kronis Penyebab/causa

F. Masalah Keperawatan yang muncul


A. Defisit perawatan diri
B. Isolasi sosial
C. Harga diri rendah K/S
G. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa 1 : defisit perawatan diri

Tujuan Umum : Klien dapat meningkatkan minat dan motivasinya untuk


memperhatikan kebersihan diri (Yosep, 2013).
Tujuan Khusus :

TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.


Intervensi

1. Berikan salam setiap berinteraksi.


2. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan.
3. Tanyakan nama dan panggilan kesukaan klien.
4. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.
5. Tanyakan perasaan dan masalah yang dihadapi klien.
6. Buat kontrak interaksi yang jelas.
7. Dengarkan ungkapan perasaan klien dengan empati.
8. Penuhi kebutuhan dasar klien

TUK II : klien dapat mengenal tentang pentingnya kebersihan diri.

Intervensi

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi


terapeutik.
2. Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara
menjelaskan pengertian tentang arti bersih dan tanda- tanda bersih.
3. Dorong klien untuk menyebutkan 3 dari 5 tanda kebersihan diri.
4. Diskusikan fungsi kebersihan diri dengan menggali pengetahuan klien
terhadap hal yang berhubungan dengan kebersihan diri.
5. Bantu klien mengungkapkan arti kebersihan diri dan tujuan memelihara
kebersihan diri.
6. Beri reinforcement positif setelah klien mampu mengungkapkan arti
kebersihan diri.
7. Ingatkan klien untuk memelihara kebersihan diri seperti: mandi 2 kali pagi
dan sore, sikat gigi minimal 2 kali sehari (sesudah makan dan sebelum tidur),
keramas dan menyisir rambut, gunting kuku jika panjang.

TUK III : Klien dapat melakukan kebersihan diri dengan bantuan perawat.

Intervensi

1. Motivasi klien untuk mandii


2. Memberi kesempatan klien untuk mandi, memberi kesempatan klien untuk
mendemonstrasikan cara memelihara kebersihan diri yang benar.
3. Anjurkan klien untuk mengganti baju setiap hari.
4. Kaji keinginan klien untuk memotong kuku dan merapikan rambut.
5. Kolaborasi dengan perawat ruangan untuk pengelolaan fasilitas perawatan
kebersihan diri, seperti mandi dan kebersihan kamar mandi.
6. Bekerjasama dengan keluarga untuk mengadakan fasilitas kebersihan diri
seperti odol, sikat gigi, shampoo, pakaian ganti, handuk dan sandal.

TUK IV : Klien dapat melakukan kebersihan perawatan diri secara mandiri.

Intervensi

1. Monitor klien dalam melakukan kebersihan diri secara teratur, ingatkan untuk
mencuci rambut, menyisir, gosok gigi, ganti baju dan pakai sandal.

TUK V : Klien dapat mempertahankan kebersihan diri secara mandiri.

Intervensi

1. Beri reinforcement positif jika berhasil melakukan kebersihan diri.

TUK VI : Klien dapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan diri.

Intervensi

1. Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga


kebersihan diri.
2. Diskusikan bersama keluarga tentang tindakanyang telah dilakukan klien
selama di RS dalam menjaga kebersihan dan kemajuan yang telah dialami di
RS.
3. Anjurkan keluarga untuk memutuskan memberi stimulasi terhadap kemajuan
yang telah dialami di RS.
4. Jelaskan pada keluarga tentang manfaat sarana yang lengkap dalam menjaga
kebersihan diri klien.
5. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri.
6. Diskusikan bersama keluarga cara membantu klien dalam menjaga kebersihan
diri.
7. Diskusikan dengan keluarga mengenai hal yang dilakukan misalnya:
mengingatkan pada waktu mandi, sikat gigi, mandi, keramas, dan lain-lain
(Yosep, 2013)

LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA DENGAN

GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN JIWA

KELOMPOK 1

NAMA : VINDA PURNAMAWATI

NIM : 202020461011069

TGL PRAKTEK / MINGGU KE : 3 Oktober 2021/ 3

Malang, 3 Oktober 2021

Mahasiswa Pembimbing

(Vinda Purnamawati S.Kep) (Ns. Sri Widowati, S.Kep., M.Kep)


LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM

A. Definisi
Waham adalah kepercayaan atau keyakinan yang salah, tidak mudah
digoyahkan, dan tidak sesuai dengan latar belakang budaya klien (Marwick &
Birrel, 2018). Waham adalah keyakinan tentang suatu pikiran yang kokoh, kuat,
tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah
secara logis oleh orang lain (Widiyawati, 2020). Menurut Departemen
Kesehatan tahun 2000, waham didefinisikan sebagai keyakinan tentang suatu
pikiran yang kokoh, kuat, tidak sesuai dengan kenyataan, tidak cocok dengan
intelegensia dan latar belakang budaya, selalu dikemukakan berulang-ulang dan
berlebihan biarpun telah dibuktikan kemustahilannya atau kesalahannya atau
tidak benar secara umum (Ruswadi, 2021).
B. Jenis-Jenis Waham
Menurut Mayer Gross, waham dibagi 2 macam yaitu (Marwick & Birrel, 2018) :

a) Waham Primer : Timbul secara tidak logis sama sekali, tanpa penyebab apa-
apa dari luar. Misal seseorang merasa istrinya sedang selingkuh sebab ia
melihat seekor cicak berjalan dan berhenti dua kali.
b) Waham Sekunder : Biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan
merupakan cara bagi penderita untuk menerangkan gejala-gejala
skizofrenia lainnya.

Selain itu ada beberapa jenis waham dalam (Widiyawati, 2020) :

1. Waham Kejar : Klien mempunyai keyakinan ada orang atau komplotan


yang sedang mengganggunya atau mengatakan bahwa ia sedang ditipu,
dimata-matai atau kejelekannya sedang dibicarakan
2. Waham Somatik : Keyakinan tentang (sebagian) tubuhnya yang tidak
mungkin benar, umpamanya bahwa ususnya sudah busuk, otaknya
sudah cair, ada seekor kuda didalam perutnya.
3. Waham Kebesaran : Klien meyakini bahwa ia mempunyai kekuatan,
pendidikan, kepandaian atau kekayaan yang luar biasa, umpamanya ia
adalah Ratu Kecantikan, dapat membaca pikiran orang lain, mempunyai
puluhan rumah atau mobil.
4. Waham Agama : Keyakinan klien terhadap suatu agama secara
berlebihan dan diucapkan secara berulang-ulang tetapi tidak sesuai
dengan kenyataan.
5. Waham Dosa : Keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan
yang besar, yang tidak dapat diampuni atau bahwa ia bertanggung jawab
atas suatu kejadian yang tidak baik, misalnya kecelakaan keluarga,
karena pikirannya yang tidak baik
6. Waham Pengaruh : Yakin bahwa pikirannya, emosi atau perbuatannya
diawasi atau dipengaruhi oleh orang lain atau suatu kekuatan yang aneh
7. Waham Curiga : Klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau
kelompok yang berusah merugikan atau mencederai dirinya yang
disampaikan secara berulang-ulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
8. Waham Nihilistik : Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia
atau meninggal yang dinyatakan secara berulang-ulang dan tidak sesuai
dengan kenyataan
9. Delusion of reference : Pikiran yang salah bahwa tingkah laku seseorang
ada hubunganya dengan dirinya

C. Etiologi

Proses terjadinya waham dibagi menjadi enam yaitu :

1. Fase Lack of Human need

Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhn-kebutuhan klien baik secara


fisik maupun psikis. Secar fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-
orang dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat
miskin dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang
secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara Reality dengan
selft ideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi menginginkan
dipandang sebagai seorang dianggap sangat cerdas, sangat berpengalaman dn
diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat pentingnya
pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya
penghargaan saat tumbuh kembang ( life span history ).

2. Fase lack of self esteem

Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara
self ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan
kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah
melampaui kemampuannya. Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya,
menggunakan teknologi komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta
memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self ideal yang
melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh. Dari aspek
pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support system semuanya
sangat rendah.

3. Fase control internal external

Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia
katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan
kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang
sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap
penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena
kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan
sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan
klien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena
besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya
menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan
alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.

4. Fase environment support

Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya


menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap
sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya
diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak
berfungsinya norma ( Super Ego ) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan
dosa saat berbohong.
5. Fase comforting

Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta


menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan
mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien
menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering menyendiri dan
menghindar interaksi sosial ( Isolasi sosial ).

6. Fase improving

Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu


keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul
sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang
tidak terpenuhi ( rantai yang hilang ). Waham bersifat menetap dan sulit untuk
dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting
sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta
memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan
menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.

- Penyebab

Berbagai kehilangan dapat terjadi pada pasca bencana, baik kehilangan harta
benda, keluarga maupun orang yang bermakna. Kehilangan ini menyebabkan
stress bagi mereka yang mengalaminya. Jika stress ini berkepanjangan dapat
memicu masalah gangguan jiwa dan waham (Widiyawati, 2020).
- Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang
ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi,
pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang
lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan
lingkungan (Widiyawati, 2020).
D. Tanda dan Gejala
Adapun beberapa tanda gejala pada klien/individu dengan waham yaitu
(Paula et al., 2021):

1) Gangguan fungsi kognitif (perubahan daya ingat) : Cara berpikir magis dan
primitif, perhatian, isi pikir, bentuk dan pengorganisasian bicara (tangensial,
neologisme, sirkumtansial)
2) Fungsi persepsi : dapat berupa depersonalisasi dan halusinasi
3) Fungsi emosi : memiliki afek tumpul kurang respon emosional, afek datar,
afek tidak sesuai, reaksi berlebihan, ambivalen
4) Fungsi motorik : Imfulsif gerakan tiba-tiba dan spontan, manerisme,
stereotopik gerakan yang diulang-ulang, tidak bertujuan, tidak dipengaruhi
stimulus yang jelas, katatonia.
5) Fungsi sosial : kesepian : Isolasi sosial, menarik diri dan harga diri rendah.
6) Dalam tatanan keperawatan jiwa respon neurobiologis yang sering muncul
adalah gangguan isi pikir : waham dan gangguan persepsi sensori :
halusinasi.
E. Faktor Terjadinya Waham
Berikut ini merupakan Faktor predisposisi dan presipitasi terjadinya waham
pada individu (Yosep, 2013):

A. Faktor Predisposisi
a) Faktor Biologis
1. Gangguan perkembangan otak, frontal dan temporal
2. Lesi pada korteks frontal, temporal dan limbik
3. Gangguan tumbuh kembang
b) Faktor Genetik : Gangguan orientasi realita yang ditemukan pada klien
dengan skizoprenia
c) Faktor Psikologis
1. Ibu pengasuh yang cemas/over protektif, dingin, tidak sensitif
2. Hubungan dengan ayah tidak dekat/perhatian yang berlebihan
3. Konflik perkawinan
4. Komunikasi “double bind”
5. Sosial budaya
6. Kemiskinan
7. Ketidakharmonisan sosial
8. Stress yang menumpuk
B. Faktor Presipitasi
a) Stressor sosial budaya : Stres dan kecemasan akan meningkat bila terjadi
penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang paling
penting, atau diasingkan dari kelompok.
b) Faktor biokimia : Penelitian tentang pengaruh dopamine, inorefinefrin,
lindolomin, zat halusinogen diduga berkaitan dengan orientasi realita
c) Faktor psikologi : Intensitas kecemasan yang ekstrim dan menunjang
disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan
berkurangnya orientasi realiata.

F. Rentang Respon Waham


Adaptif Maladaptif

Pikiran Logis Proses Pikir Gangguan Proses Pikir : Waham

Persepsi Akurat Kadang Ilusi PSP : halusinasi

Emosi Konsisten Emosi +/- Kerusakan emosi

Perilaku Sesuai Perilaku Tidak sesuai Perilaku tidak sesuai

Hubungan Sosial Menarik Diri Isolasi sosial terorganisir

G. Pohon Masalah

Perubahan Isi Pikir : Waham

effect

Isolasi Sosial : MD

Core problem

Harga Diri Rendah Kronis

causa

H. Penatalaksanaan

Penanganan pasien dengan gangguan jiwa waham antara lain (Nurarif & Kusuma,
2016) :
1) Psikofarmalogi
a) Litium karbonat

Jenis litium yang paling sering digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar,
menyusul kemudian litium sitial. Litium masih efektif dalam menstabilkan mood
pasien dengan gangguan bipolar. Gejala hilang dalam jangka waktu 1-3 minggu
setelah minum obat litium, obat ini juga digunakan untuk mencegah atau
mengurangi intensitas serangan ulang pasien bipolar dengan riwayat mania.

b) Haloperidol

Merupakan obat antipsikotik pertama dari turunan butirofenol. Mekanisme


kerjanya yang pasti tidak diketahui. Haloperidol efektif untuk pengobatan
kelainan tingkah laku berat pada anak-anak yang sering membangkang dan
eksplosif. Haloperidol juga efektif untuk pengobatan jangka pendek, pada anak
yang hiperaktif juga melibatkan aktivitas motoric berlebih disertai kelainan
tingkah laku, seperti : impulsive, sulit memusatkan perhatian, agresif, suasana
hati yang labil dan tidak tahan frustasi.

c) Karbamazepin

Karbamazepin terbukti efektif, dalam pengobatan kejang psikomotor, serta


neuralgi trigeminal. Karbamazepin secara kimiawi tidak berhubungan dengan
obat antikolvusan lain maupun obat-obat lain yang digunakan untuk mengobati
nyeri pada neuralgi trigeminal.

2) Pasien hiperaktif atau agitasi anti psikotik low potensial

Penatalaksanaan ini berarti mengurangi dan menghentikan agitasi untuk


pengamanan pasien. Hal ini berkaitan dengan penggunaan obat anti psikotik untuk
pasien waham.

a) Antipsikosis atipikal (olanzapine, risperidone) pilihan awal Risperidone tablet 1


mg, 2 mg, 3 mg atau Clozapine tablet 25 mg, 100 mg.
b) Tipikal (Chlorpromazine, haloperidol), chlorpromazine 25-100 mg, efektif untuk
menghilangkan gejala positif.
3) Penarikan diri high potensial
Selama seorang mengalami waham, dia cenderung menarik diri dari pergaulan
dengan orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri (khayalan dan
pikirannya sendiri). Oleh karena itu, salah satu penatalaksanaannya ditekankan
pada gejala dari waham itu sendiri, yaitu gejala penarikan diri yang berkaitan
dengan kecanduan morfin biasanya dialami sesaat sebelum waktu yang
dijadwalkan berikutnya, penarikan diri dari lingkungan sosial.

4) ECT tipe katatonik

Electro Convulsive Terapi (ECT) adalah sebuah prosedur dimana arus listrik
melewati otak untuk memicu kejang singkat. Hal ini tampaknya menyebabkan
perubahan dalam kimiawi otak yang dapat mengurangi gejala penyebab mental
tertentu, seperti skizofrenia katatonik. ECT bisa menjadi pilihan jika gejala yang
parah atau jika obat-obatan tidak membantu meredakan katatonik episode.

5) Psikoterapi

Walaupun obat-obatan penting untuk mengatasi pasien waham, namun psikoterapi


juga penting. Psikoterapi mungkin tidak sesuai untuk semua orang, terutama jika
gejala terlalu berat untuk terlibat dalam proses terapi yang memerlukan
komunikasi dua arah. Yang termasuk dalam psikoterapi adalah terapi perilaku,
terapi kelompok, terapi keluarga, terapi suportif.
I. Konsep Asuhan Keperawatan Jiwa

A. Pengkajian
Menurut Kaplan dan Sadock (1997), beberapa hal yang harus dikaji antara
lain sebagai berikut (Widiyawati, 2020) :

1. Identitas Klien Informan Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan
kontrak dengan klien tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama perawat,
tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.
2. Alasan Masuk Tanyakan pada keluarga atau klien hal yang menyebabkan klien
dan keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk
mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang Tanyakan pada klien atau keluarga, apakah klien
pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami,
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga dan tindakan kriminal.
4. Aspek Fisik Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital: TD, nadi, suhu,
pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau perlu kaji fungsi organ
kalau ada keluhan.
5. Aspek Psikososial Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga
generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga,
masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan
pola asuh.
1) Konsep Diri
2) Citra tubuh biasanya pasien dengan waham miliki perasaan negatif
terhadap diri sendiri
3) Identitas diri pada pasien dengan waham kebesaran misalnya
mengaku seorang polisi padahal kenyataannya tidak benar
4) Peran Klien Berperan sebagai kepala keluarga dalam keluarganya.
5) Ideal diri Klien berharap agar bisa cepat keluar dari RSJ karena ia
bosan sudah lama di RSJ.
6) Harga diri
7) Adanya gangguan konsep diri : harga diri rendah karena perasaan
negatif terhadap diri sendiri, hilangnya rasa percaya diri dan merasa
gagal mencapai tujuan.
8) Hubungan Sosial Pasien dengan waham biasanya memiliki hubungan
sosial yang tidak haramonis.
9) Spiritual Nilai dan Keyakinan : Biasanya pada pasien dengan waham
agama meyakini agamanya secara berlebihan
10) Kegiatan ibadah biasanya pada pasien dengan waham agama
melakukan ibadah secara berlebihan
11) Status Mental
12) Penampilan
13) Pada pasien waham biasanya penampilannya sesuai dengan waham
yang ia rasakan. Misalnya pada waham agama berpakaian seperti
seorang ustadz.
14) Pembicaraan pada pasien waham biasanya pembicaraannya selalu
mengarah ke wahamnya, bicara cepat, jelas tapi berpindah-pindah,
isi pembicaraan tidak sesuai dengankenyataan
15) Aktivitas motorik Pada waham kebesaran bisa saja terjadi
perubahan aktivitas yang berlebihan
16) Alam Perasaan
B. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang sering muncul pada pasien waham adalah (Tim
Pokja SDKI DPP PPNI, 2018) :

1) Waham
2) Harga diri rendah kronik/Situasional
3) Isolasi Sosial
4) Gangguan Komunikasi Verbal

C. Rencana Keperawatan
Rencana Keperawatan yang diberikan pada pasien tidak hanya berfokus
pada masalah waham sebagai diagnosa penyerta lain. Hal ini dikarenakan
tindakan yang dilakukan saling berkontribusi terhadap tujuan akhir yang
akan dicapai. Rencana tindakan keperawatan pada pasien dengan
diagnosa gangguan proses pikir : waham yaitu :

1. Bina hubungan saling percaya Sebelum memulai mengkaji pasien


dengan waham, saudara harus membina hubungan saling percaya
terlebih dahulu agar pasien merasa aman dan nyaman saat
berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan
dalam rangka membina hubungan saling percaya adalah:
a. Mengucapkan salam terapeutik

b. Berjabat tangan

c. Menjelaskan tujuan interaksi

2. Bantu orientasi realita

a. Tidak mendukung atau membantah waham pasien

b. Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman

c. Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari

d. Jika pasien terus menerus membicarakan wahamnya dengarkan


tanpa memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien
berhenti membicarakannya
e. Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan
realitas.
f. Diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.
g. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan
emosional pasien
h. Berdikusi tentang kemampuan positif yang dimiliki

i. Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki

j. Berdiskusi tentang obat yang diminum

k. Melatih minum obat yang benar.

D. Implementasi keperawatan
Implementasi disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Pada
situasi nyata sering pelaksanaan jauh berbeda dengan rencana hal ini
terjadi karena perawat belum terbiasa menggunakan rencana tertulis
dalam melaksanakan tindakan keperawatan. Adapun pelaksanaan
tindakan keperawatan jiwa dilakukan berdasarkan Strategi Pelaksanaan
(SP) yang sesuai dengan masing-masing maslaah utama. Pada masalah
gangguan proses pikir : waham terdapat 4 macam SP yaitu :

SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, latihan orientasi realita :


orientasi orang, tempat, dan waktu serta lingkungan sekitar.

SP 2 Pasien : Mengajarkan cara minum obat secara teratur

SP 3 Pasien : Mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara


memenuhi kebutuhan; mempraktekkan pemenuhan kebutuhan yang
tidak terpenuhi

SP 4Pasien :Mengidentifikasi kemampuan positif pasien yang dimiliki


dan membantu mempraktekkannya

E. Evaluasi
Evaluasi yang diiharapkan pada asuhan keperawatan jiwa dengan
gangguan proses pikir adalah :

1. Pasien mampu melakukan hal berikut:

a. Mengungkapkan keyakinannya sesuai dengan kenyataan.

b. Berkomunikasi sesuai kenyataan.


c. Menggunakan obat dengan benar dan patuh.

2. Keluarga mampu melakukan hal berikut:

a. Membantu pasien untuk mengungkapkan keyakinannya sesuai


kenyataan.
b. Membantu pasien melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan pasien.
c. Membantu pasien menggunakan obat dengan benar dan patuh.
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA DENGAN

RISIKO BUNUH DIRI

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN JIWA

KELOMPOK 1

NAMA : VINDA PURNAMAWATI

NIM : 202020461011069

TGL PRAKTEK / MINGGU KE : 3 Oktober 2021/ 3

Malang, 3 Oktober 2021

Mahasiswa Pembimbing

(Vinda Purnamawati S.Kep) (Ns. Sri Widowati, S.Kep., M.Kep)


LAPORAN PENDAHULUAN
RISIKO BUNUH DIRI
A. Pengertian
Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat
mengancam kehidupan (Paula et al., 2021). Bunuh diri merupakan kedaruratan
psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya (E. W. ;
Wuryaningsih et al., 2018). Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang
tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme
koping yang digunakan dalam mengatasi masalah (Widiyawati, 2020). Beberapa
alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk beradaptasi,
sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat terjadi karena
kehilangan hubungan interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang berarti,
perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri
sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan (Zaini, 2019b).
Menurut Shives (2008) mengemukakan rentang harapan putus harapan
merupakan rentang adaptif maladaptif. Respon maladaptif antara lain (Zaini,
2019b) :
1. Ketidakberdayaan, keputusasaan, apatis.
Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan
masalah, karena merasa tidak mampu mengembangkan koping yang
bermanfaat sudah tidak berguna lagi, tidak mampu mengembangkan koping
yang baru serta yakin tidak ada yang membantu.
2. Kehilangan, ragu-ragu
Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan
merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya :
Kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian, perpisahan individu akan
merasa gagal dan kecewa, rendah diri yang semuanya dapat berakhir dengan
bunuh diri.
a) Depresi
Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai
dengan kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat
individu ke luar dari keadaan depresi berat.
b) Bunuh diri
Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk
mengkahiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir individu
untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Zaini, 2019b).

Respon Adaptif Respon Mal-


adaptif

Self Growth Indirect Self Self Suicide


Enchancement Promoting Destructive Injury
Risk Taking Behavior

B. Klasifikasi

Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori (Ruswadi, 2021) :


• Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa
seseorang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang yang ingin
bunuh diri mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia tidak akan
berada di sekitar kita lebih lama lagi atau mengomunikasikan secara non
verbal.
• Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan
oleh individu yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah.
• Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau
diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak bunuh diri akan
terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya.
Sementara itu, menurut Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis
bunuh diri, meliputi (Paula et al., 2021) :
▪ Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh faktor
lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong seseorang
untuk bunuh diri.
▪ Bunuh diri altruistik
Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
▪ Bunuh diri egoistik
Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor
dalam diri seseorang seperti putus cinta atau putus harapan.

C. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala menurut Fitria (2009) dalam (Supinganto et al., 2021) :
• Mempunyai ide untuk bunuh diri
• Mengungkapkan keinginan untuk mati
• Impulsif
• Menunjukan perilaku yang mencurigakan
• Mendekati orang lain dengan ancaman
• Menyentuh orang lain dengan cara menakutkan
• Latar belakang keluarga
D. Faktor yang mempengaruhi
1. Faktor Mood dan Biokimiawi otak
Ghansyam pandey menemukan bahwa aktivitas enzim di dalam manusia
bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan mengakhiri nyawa sendiri.
Pandey mengetahui faktor tersebut setelah melakukan eksperimen terhadap
otak 34 remaja yang 17 diantaranya meninggal akibat bunuh diri. Ditemukan
bahwa tingkat aktivitas protein kinase C (PKC) pada otak pelaku bunuh diri
lebih rendah dibanding mereka yang meninggal bukan karena bunuh diri.
Hj. Rooswita mengatakan, “depresi berat menjadi penyebab utama. Depresi
timbul karena pelaku tidak kuat menanggung beban permasalahan yang
menimpa. Karena terus menerus mendapat tekanan, permasalahan kian
menumpuk dan pada puncaknya memicu keinginan bunuh diri” (Paula et al.,
2021).
2. Faktor riwayat gangguan mental
Dalam otak kita terdapat berbagai jaringan, termasuk pembuluh darah.
Didalamnya juga terdapat serotonin, adrenalin, dan dopamin. Ketiga cairan
tersebut bisa menjadi petunjuk dalam neurotransmiter (gelombang/gerakan
dalam otak) kejiwaan manusia. Karena itu, kita harus waspadai bila terjadi
peningkatan kadar ketiga cairan itu di dalam otak. Biasanya, bila kita lihat
dari hasil otopsi para korban kasus bunuh diri, cairan otak ini tinggi,
terutama serotonin.
Apa penyebab umum yang meningkatkan kadar cairan otak itu? Sebagai
contoh adanya masalah yang membebani seseorang sehingga terjadi stress
atau depresi. Itulah yang sering membuat kadar cairan otak meningkat.
3. Faktor meniru, imitasi, dan pembelajaran
Dalam kasus bunuh diri, dikatakan ada Proses Pembelajaran. Para korban
memiliki pengalaman dari salah satu keluarganya yang pernah melakukan
percobaan bunuh diri atau meninggal karena bunuh diri. Tidak hanya itu,
bisa juga terjadi pembelajaran dari pengetahuan lainnya. Proses pembelajran
di sini merupakan asupan yang masuk ke dalam memori seseorang. Memori
itu bisa menyebabkan perubahan kimia lewat pembentukan protein-protein
yang erat kaitannya dengan memori. Sering kali banyak yang idak menyadari
Proses Pembelajaran ini sebagai keadaan yang perlu diwaspadai. Bahkan,
kita baru paham kalau pasien sudah diperiksa psikiater/dokter. Kita perlu
memperhatikan bahwa orang yang pernah mencoba bunuh diri denngan cra
yang halus, seperti minum racun bisa melakukan cara lain yang lebih keras
dari yang pertama bila yang sebelumnya tidak berhasil.
4. Faktor isolasi sosial dan Human Relations
Secara umum, stress muncul karena kegagalan beradaptasi. Ini dapat terjadi
di lingkungan pekerjaan, keluarga, sekolah, pergaulan dalam masyarakat, dan
sebagainya. Demikian pula bila seseorang merasa terisolasi, kehilangan
hubungan atau terputusnya hubungan dengan orang lain yang disayangi.
Padahal hubungan interpersonal merupakan sifat alami manusia. Bahkan
keputusan bunuh diri juga bisa dilakukan karena perasaan bersalah. Suami
membunuh istri, kemudian dilanjutkan membunuh dirinya sendiri, bisa
dijadikan contoh kasus.
5. Faktor hilangnya perasaan aman dan ancaman kebutuhan dasar
Penyebab bunuh diri yang lain adalah rasa tidak aman. Rasa tidak aman
merupakan penyebab terjadinyabanyak kasus bunuh diri di Jakarta dan
sekitarnya akhir-akhir ini. tidak adanya rasa aman untuk menjalankan usaha
bagi warga serta ancaman terhadap tempat tinggal mereka berpotensi kuat
memunculkan gangguan kejiwaan seseorang hingga tahap bunuh diri.

Stuart (2006) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjang


perilaku resiko bunuh diri meliputi (Zaini, 2019b) :
• Diagnosis psikiatri
Tiga gangguan jiwa yang membuat pasien berisiko untuk bunuh diri yaitu
gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, dan skizofrenia.
• Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan resiko
bunuh diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
• Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan yang
dini, dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang
berhubungan dengan bunuh diri.
• Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
resiko untuk perilaku resiko bunuh diri
• Faktor biokimia
Proses yang dimediasi serotonin, opiat, dan dopamine dapat menimbulkan
perilaku resiko bunuh diri.
E. Stressor pencetus
Stuart (2006) menjelaskan bahwa pencetus dapat berupa kejadian yang
memalukan, seperti masalah interpersonal, dipermalukan di depan umum,
kehilangan pekerjaan, atau ancaman pengurungan. Selain itu, mengetahui
seseorang yang mencoba atau melakukan bunuh diri atau terpengaruh media
untuk bunuh diri, juga membuat individu semakin rentan untuk melakukan
perilaku bunuh diri (Paula et al., 2021).
F. Penilaian stressor
Upaya bunuh diri tidak mungkin diprediksikan pada setiap tindakan. Oleh karena
itu, perawat harus mengkaji faktor resiko bunuh diri pada pasien (Supinganto et
al., 2021).
G. Sumber koping
Pasien dengan penyakit kronis, nyeri, atau penyakit yang mengancam kehidupan
dapat melakukan perilaku destruktif-diri. Sering kali pasien secara sadar memilih
untuk bunuh diri (Supinganto et al., 2021).
H. Mekanisme koping
Stuart (2006) mengungkapkan bahwa mekanisme pertahanan ego yang
berhubungan dengan perilaku destruktif-diri tidak langsung adalah
penyangkalan, rasionalisasi, intelektualisasi, dan regresi (Widiyawati, 2020).
I. Gambaran klinis dan diagnosis
Dalam mengenali pasien yang cenderung bunuh diri merupakan satu tugas
yang penting namun sulit dilaksanakan. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa resiko bunuh diri yang berhasil akan meningkat pada jenis pria, berkulit
putih, umur lanjut, dan isolasi sosial. Pasien dengan riwayat keluarga percobaan
bunuh diri atau bunuh diri yang berhasil membuat resiko makin tinggi juga,
demikian pula pasien dengan nyeri kronik, pembedahan yang baru terjadi, atau
mengidap penyakit fisik kronik. Demikian pula pasien yang tidak mempunyai
pekerjaan, tinggal sendiri, yang mengatur masalah-masalahnya secara teratur,
dan hari ulang tahun dari kematian anggota keluarga.
Delapan puluh persen pasien yang melaksanakan bunuh diri dan berhasil,
biasanya mengidap gangguan afetif dan 25% biasanya bergantung pada alkohol.
Bunuh diri merupakan 15% sebab kematian pada kedua kelompok orang diatas.
Sedangkan resiko tinggi untuk peminum alkohol dalam kurun waktu 6 bulan
setelah suatu kehilangan anggota keluarga. Skizofrenia merupakan gangguan
yang jarang, oleh sebab itu menjadi faktor pengurangan angka bunuh diri pada
kasus ini, namun 10% dari para pasien skizofrenik meninggal akibat bunuh diri.
Harapan yang terbaik bagi upaya pencegahan bunuh diri terletak pada
penemuan dan terapi sedini mungkin dari gangguan psikiatri yang
menyebabkannya. Peran dari upaya bunuh diri yang terdahulu dalam menilai
resiko bunuh diri saat mendatang amat kompleks, kebanyakan dari para korban
bunuh diri yang berhasil tidak pernah mencoba pada masa sebelumnya, biasanya
mereka akan berhasil pada percobaan pertama. Walaupun para pelaku yang
mencoba bunuh diri masa lampau menunjukkan perilaku yang mampu merusak
diri, hanya 10% para pelaku percobaan bunuh diri yang berhasil dalam 10 tahun.
Sejumlah cukup besar orang yang secara sengaja melakukan tindak merusak
diri seperti memotong nadi atau membakar diri dengan cara yang jelas tidak
mematikan tanpa keinginan sungguh untuk membunuh diri. Berbagai motif
mungkin berada dibelakang ini, termasuk manipulasi secara sengaja dan amarah
yang tak sadar terhadap orang lain yang berarti dalam hidupnya. Secara
diagnostik, pasien dapat memenuhi kriteria untuk gangguan anti sosial atau
ambang, atau perilaku itu dapat berada bersama dengan gagasan aneh yang lain
dan perilaku skizofrenik (E. W. ; Wuryaningsih et al., 2018).
J. Pedoman wawancara dan psikoterapi
Awali pembicaraan dengan bertanya pada pasien apakah ia pernah merasa ingin
menyerah saja terhadapa hidup ini? atau mereka merasa lebih baik mati.
Pendekatan seperti ini membewa stigma kecil saja dan dapa diterima oleh
kebanyakan orang. Lalu bicaralah soal tepatnya apa yang dipikirkan oleh pasien?
Dan catatlah semua pikiran itu. Begitu masalahnya telah mulai diperbincangkan,
gunakan kata seperti “bunuh diri” dan mati daripada “cidera” atau “melukai”
karena beberapa pasien bingung dengan kata-kata itu dan kebanyakan mereka
tidak mau mencederai dirinya, walaupun bila mereka ingin membunuh dirinya.
Ajukan pertanyaan seperti : berapa sering pikiran bunuh diri anda? Apakah
pikiran bunuh diri anda makin meningkat? Apakah anda hanya punya pikiran
yang kurang baik saja atau pernahkah anda merencanakan cara bunuh dirinya?
Apakah pikiran bunuh diri anda hanya sepintas saja atau benar-benar serius?
Pertimbangkan umur pasien dan kecanggihan serta keinginan dan cara bunuh
dirinya. Cocokkan ucapan dan rencana dari cara yang akan dilakukan itu (Zaini,
2019b).

K. Pohon Masalah

Resiko perilaku kekerasan Akibat

Resiko Mutilasi Diri Core Problem

Isolasi Sosial
Penyebab

Harga Diri Rendah Penyebab

L. Peran Perawat dalam Perilaku Mencederai Diri


A. Pengkajian
1. Lingkungan dan upaya bunuh diri : perawat perlu mengkaji peristiwa yang
menghina atau menyakitkan, upaya persiapan, ungkapan verbal, catatan,
lukisan, memberikan benda yang berharga, obat, penggunaan kekerasan,
racun.
2. Gejala : perawat mencatat adanya keputusasaan, celaan terhadap diri sendiri,
perasaan gagal dan tidak berharga, alam perasaan depresi, agitasi gelisah,
insomnia menetap, berat badan menurun, bicara lamban, keletihan,
withdrawl.
3. Penyakit psikiatrik : uoaya bunuh diri sebelumnya, kelainan, afektif, zat
adiktif, depresi remaja, gangguan mental lansia
4. Riwayat psikososial: bercerai, putus hubungan, kehilangan pekerjaan, stress
multiple (pindah, kehilangan,putus hubungan, masalah sekolah, krisis
disiplin), penyakit kronik.
5. Faktor kepribadian: impulsive, agresif, bermusuhan, kognisi negative dan
kaku, putus asa, harga diri rendah, antisocial
6. Riwayat keluarga : riwayat bunuh diri, gangguan afektif, alkoholisme.
B. Masalah Keperawatan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2018)
- Risiko Mutilasi Diri
- Isolasi Sosial
- Harga Diri Rendah S/K
- Risiko Perilaku Kekerasan
C. Intervensi dan Rasional
- Observasi perilaku kliem lebih sering melalui aktivitas dan interaksi rutin,
hindari kesan pengamatan dan kecurigaan pada klien (observasi ketat
dibutuhkan supaya intervensi dapat terjadi jika dibutuhkan untuk memastikan
keamanan klien).
- Tetapkan kontrak verbal dengan klien bahwa ia akan meminta bantuan jika
keinginan untuk bunuh diri dirasakan (mendiskusikan perasaan ingin bunuh
diri dengan orang yang dipercaya memberikan derajat keringanan untuk klien,
sikap penerimaan klien sebagai individu dapat dirasakan)
- Jika mutilasi diri terjadi, rawat luka klien dengan tidak mengusik
penyebabnya jangan berikan reinforcement positif untuk perilaku tersebut
(kurangnya perhatian untuk perilaku maladaptive dalat menurunkan
pengulangan mutilasi).
- Dorong klien untuk bicara tentang perasaan yang dimilikinya sebelum
perilaku ini terjadi (agar memecahkan masalah dan memahami faktor
pencetus).
- Bertindak sebagai model dalam mengekspresikan kemarahan yang tepat
(perilaku bunuh diri dipandang sebagai marah yang diarahkan pada diri
sendiri)
- Singkirkan semua benda yang berbahaya dari lingkungan klien (keamanan
klien merupakan prioritas keperawatan)
- Arahkan kembali perilakku mutilasi dengan penyaluran fisik (latihan fisik
merupakan cara yang aman untuk menyalurkan ketegangan yang terpendam)
- Komitmen semua staf untuk memberikan spirit kepada klien(bukti control
terhadap situasi dan memberikan kemanan fisik serta semangat hidup)
- Berikan obat-obatan sesuai hasil kolaborasi, pantau keefektifan, dan efek
samping (obat penenang seperti ansiolotik/ antipsikotik dapat memberikan
efek menenangkan pada klien dan mencegah perilaku agresif)
- Gunakan restrain mekanis bila keadaan memaksa sesuai prosedur tetap (bila
klien menolak obat-obatan dan situasi darurat, restrain diperlukan pada jam-
jam tertentu)
- Observasi klien dalam restrain tiap 15 menit/ sesuai prosedur tetap dengan
mempertimbangan keamanan, sirkulasi darah, kebutuhan dasar (keamanan
klien merupakan prioritas keperawatan)
D. Intervensi Klien Bunuh Diri
1. Listening, Kontrak, Kolaborasi dengan Keluarga
Klien bisa ditolong dengan terapi dan bisa hidup lebih baik, jika ia mau
berbicara dan mendengar dalam upaya memecahkan persoalan, serta tidak
ada alasan melalui kesulitan sendirian tanpa bantuan orang lain. Selain itu,
bila mendapati ada orang yang hendak melakukan bunuh diri, sebaiknya
dengarkan apa yang dia keluhkan. Berikan dukungan agar dia tabah dan
tetap berpandangan bahwa hidup ini bermanfaat, buat lingkungan tempat dia
tinggal aman dengan cara menjauhkan alat-alat yang bisa digunakan untuk
bunuh diri. “Kalau perlu buatlah semacam ‘kontrak’ pada dia untuk tidak
melakukan bunuh diri, meski tingkat keberhasilan ini sangat kecil. “Kesulitan
utama yang dihadapi apabila orang yang akan melakukan bunuh diri itu tidak
menunjukkan gejala-gejala tersebut. Pada tingkat permukaan dia tampak
mengerti dan memahami arti hidup, serta terkesan tidak akan melakukan
bunuh diri, tetapi tiba-tiba dia sudah mati bunuh diri. Lingkungan sosial,
termasuk keluarga, juga menjadi sarana yang baik untuk membantu
mengurangi atau menghilangkan keinginan orang untuk bunuh diri.
2. Pahami Persoalan dari “Kacamata” Mereka
Menghadapi orang yang berniat bunuh diri atau gagal melakukan bunuh diri,
perlu sikap menerima, sabar dan empati. Perawat berupaya agar tidak
bersikap memvonis, memojokkan, apalagi menghakimi mereka yang punya
niat bunuh diri atau gagal melakukan bunuh diri. “Kalau mereka merasa
dipojokkan kemungkinan bunuh diri akan semakin cepat”. Yang paling
penting disini adalah mencoba menampung segala keluhannya dan menjadi
pendengar yang baik. Hindari argumentasi dan nasihat-nasihat. Jangan harap
kata-kata anda bisa menjadi senjata ajaib untuk menyadarkannya. Pada
dasarnya dalam diri orang yang ingin bunuh diri tersimpan sikap mendua
atau ambivalen. Sebagian dari dirinya ingin tetap hidup, tapi sebagian lagi
ingin segera mati untuk mengakhiri penderitaannya. Karena sedang
menderita itulah, sebenarnya ia sangat membutuhkan orang lain. Ia butuh
ventilasi untuk mengalirkan masalah dan perasaannya. Namun, orang yang
berniat bunuh diri biasanya takut untuk mencoba mencari pertolongan. Ia
takut usaha itu justru akan menambah beban penderitaannya karena bisa
saja ia akan dibilang bodoh, sinting, berdosa, atau diberi cap negatif lainnya.
3. Pentingnya Partisipasi Masyarakat
Gangguan kejiwaan sebenarnya bisa sembuh hanya perlu terus dievaluasi
karena bisa sewaktu-waktu kambuh. Masih banyak stigma atau penilaian
negatif di masyarakat kepada klien gangguan kejiwaan. Namun, bila
dibandingkan dulu, stigma sekarang sudah menurun. Bahkan stigma
membuat pihak keluarga klien juga tidak memahami karakter anggota
keluarganya yang menderita gangguan jiwa. Keluarga jadi bersikap apatis
dan sering mengelak bila diajak konsultasi ke psikiater.Padahal, dukungan
keluarga sangat penting untuk upaya penyembuhan klien gangguan
kejiwaan. Keluarga perlu didukung masyarakat sekitarnya agar klien
gangguan jiwa dianggap sama dengan penyakit-penyakit fisik lain seperti
Decomp, DM,hepatitis, dan sebagainya. Yang membutuhkan perawatan dan
tenaga ahli serta dianggap sebagai cobaan yang bisa menimpa siapa saja.
4. Express Feeling
Perlu ada dukungan dari lingkungan. Istilah ngetopnya sharing atau curhat,
sehingga membantu meringankan beban yang menerpa. Salah satu solusi
yang ditawarkan selain mengontrol emosi, lebih mendekatkan diri kepada
Yang Maha Kuasa. Express feeling sangat penting agar masalah yang menekan
semakin ringan.
5. Lakukan Implementasi khusus
- Semua ancaman bunuh diri secara verbal dan non verbal harus ditanggap
serius oleh perawat, Laporkan sesegera mungkin dan lakukan tindakan
pengamatan
- Jauhkan semua benda yang berbahaya dari lingkungan klien.
- Jika klien beresiko tinggi untuk bunuh diri, observasi secara ketat
meskipun di tempat tidur/kamar mandi.
- Observasi dengan cermat saat klien makan obat, periksa mulut, pastikan
bahwa obat telah ditelan, berikan obat dalam bentuk cair bila
memungkinkan.
- Jelaskan semua tindakan pengamanan kepada klien, komunikasikan
perhatian dan kepedulian perawat
- Waspadai bila klien terlihat tenang sebab mungkin saja ia telah selesai
merencanakan bunuh diri.
M. Evaluasi dan Pengelolaan
1. Bila mengevaluasi pasien yang cenderung bunuh diri, jangan tinggalkan
mereka sendiri, singkirkan semua benda yang potensial berbahaya.
2. Bila megevaluasi pasien yang baru saja mencoba bunuh diri, nilailah apakah
usaha itu telah direncanakan atau impulsif saja sambil menentukan derajat
letalitasnya, kemungkinan pasien pulih kembali.
3. Pengelolaan bergantung sebagian besar pada diagnosis. Pasien dengan
depresi berat dapat diobati sebagai pasien berobat jalan bila keluarganya
dapat mengawasi mereka dengan seksama dan terapi dapat dimulai dengan
segera. Bila tidak, perawatan inap di rumah sakit diperlukan.
4. Gagasan bunuh diri dari pasien alkoholik biasanya akan membaik dalam
beberapa hari dengan abstinensi. Kebanyakan tidak ada terapi spesifik yang
perlu diberikan. Bila depresi tetap bertahan setelah gejala abstinensi mereda,
dugaan besar adalah gangguan depresi berat. Semua pasien yang cenderung
bunuh diri yang mengalami intoksikasi alkohol atau obat harus dinilai ulang
saat mereka lepas pengaruh alkoholnya.
5. Gagasan bunuh diri pada pasien skizofrenik harus diperhatikan secara serius
karena mereka cenderung mempergunakan cara yang keras dan aneh dengan
derajat letalitas tinggi.
6. Pasien dengan gangguan kepribadian akan mengambil manfaat dari bantuan
dan konfrotasi empatik, dan perlu dilanjutkan pendekatan secara rasional,
bertanggung jawab pada masalah yang mencetuskan dan menyebabkan
krisis tersebut. Keikutsertaan keluarga atau teman dan manipulasi
lingkungan dapat membantu untuk menyelesaikan krisis yang membawa
pasien untuk bunuh diri.
7. Perawatan inap di rumah sakit jangka panjang dianjurkan bagi kasus dengan
kecenderungan mutilasi diri, namun perawatan inap jangka pendek tidak
akan mempengaruhi perilaku yang berulang ini. Parasuisida juga mungkin
akan mendapatkan manfaat yang baik dari rehabilitasi jangka panjang, dan
stabilisasi jangka pendek juga diperlukan dari waktu ke waktu, tetapi terapi
jangka pendek tidak akan dapat mempengaruhi secara berarti perjalanan
gangguan ini.
N. Terapi obat
Pasien dalam krisis karena kematian orang terdekat atau peristiwa lain
dengan perjalanan waktu yang terbatas akan berfungsi lebih baik setelah
menerima sedasi ringan seperlunya, terutama bila sebelum itu tidurnya
terganggu. Benzodiazepin merupakan obat terpilih dan ramuan yang khas ialah
Lorazepam (Ativan) 1 mg 1-3x sehari untuk 2 minggu. Iritabilitas pasien mungkin
meningkat dengan penggunaan teratur Benzodiazepin dan iritabilitas ini
merupakan satu resiko untuk bunuh diri, maka Benzodiazepin harus digunakan
secara hati-hati pada pasien yang bersikap keras dan bermusuhan. Hanya
sejumlah kecil dari medikasi itu harus disediakan, dan pasien harus diikuti dalam
beberapa hari. Antidepresiva merupakan terapi yang pasti bagi semua pasien
yang menampilkan diri dengan gagasan bunuh diri, tetapi tidak biasanya untuk
mulai memberikan antidepresiva di UGD. Bila diberi resep, harus diadakan
perjanjian untuk pemeriksaan lanjutan, sebaiknya keesokan harinya.
Rujukan-Silang : Putus alkohol, depresi, hospitalisasi, mutilasi-diri (Nurhalimah,
2016).
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA DENGAN

RISIKO PERILAKU KEKERASAN

DEPARTEMEN

KEPERAWATAN JIWA

KELOMPOK 1

NAMA : VINDA PURNAMAWATI

NIM : 202020461011069

TGL PRAKTEK / MINGGU KE : 3 Oktober 2021/ 3

Malang, 3 Oktober 2021

Mahasiswa Pembimbing

(Vinda Purnamawati S.Kep) (Ns. Sri Widowati, S.Kep., M.Kep)


LAPORAN PENDAHULUAN
RISIKO PERILAKU KEKERASAAN
A. Pengertian
Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah.
Menurut WHO (dalam Bagong. S, dkk, 2000), kekerasan adalah penggunaan
kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri,
perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau
kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian
psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak.
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk
melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya
tingkah laku tersebut (Purba dkk, 2008).
Perilaku kekerasan dianggap sebagai suatu akibat yang ekstrim dari
marah atau ketakutan/panic. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan sering
dipandang sebagai rentang dimana agresif verbal di suatu sisi dan perilaku
kekerasan (violence) di sisi lain. Suatu keadaan yang menimbulkan emosi,
perasaan frustasi, benci atau marah. Hal ini akan memengaruhi perilaku
seseorang. Berdasarkan keadaan emosi secara mendalam tersebut terkadang
perilaku menjadi agresif atau melukai karena penggunaan koping yang kurang
bagus (Buku Ajar Keperawatan Jiwa : 80)

B. Rentang Respons Marah

Adaptif Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Amu/PK

C. Faktor Predisposisi
1. Faktor psikologis

a. Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan


mengalami hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi PK.

b. Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa kecil yang


tidak menyenangkan.
c. Frustasi.
d. Kekerasan dalam rumah atau keluarga.

2. Faktor social budaya

Seseorang akan berespons terhadap peningkatan emosionalnya secara agresif


sesuai dengan respons yang dipelajarinya. Sesuai dengan teori menurut
Bandura bahwa agresi tidak berbeda dengan respons-respons yang lain.
Factor ini dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering
mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan terjadi. Budaya
juga mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat membantu
mendefinisikan ekspresi marah yang dapat diterima dan yang tidak dapat
diterima.
3. Faktor biologi
Berdasarkan hasil penelitian pada hewan, adanya pemberian stimulus
elektris ringan pada hipotalamus (pada system limbic) ternyata menimbulkan
perilaku agresif, dimana jika terjadi kerusakan fungsi limbic (untuk emosi dan
perilaku), lobus frontal (untuk pemikiran rasional), dan lobus temporal
(untuk interpretasi indra penciuman dan memori) akan menimbulkan mata
terbuka lebar, pupil berdilatasi, dan hendak menyerang objek yang ada
disekitarnya

D. Faktor presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam, baik berupa
injuri secra fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Beberapa factor pencetus
perilaku kekerasan adalah :

1. Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan yang


penuh dengan agresif, dan masa lalu yang tidak menyenangkan.
2. Interaksi : penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik,
merasa terancam baik internal dari permasalahan diri klien sendiri maupun
eksternal dari lingkungan.

3. Lingkungan : panas, padat dan bising.

E. Tanda dan Gejala


Yosep (2009), mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah
(Nurarif & Kusuma, 2016):
1. Fisik

a. Muka merah dan tegang

b. Mata melotot/pandangan tajam

c. Tangan mengepal

d. Rahang mengatup

e. Postur tubuh kaku

f. Jalan mondar-mandir

2. Verbal

a. Bicara kasar

b. Suara tinggi, membentak atau berteriak

c. Mengancam secara verbal atau fisik

d. Mengumpat dengan kata-kata kotor

e. Suara keras

f. Ketus

3. Perilaku

a. Melempar atau memukul benda/orang lain

b. Menyerang orang lain

c. Melukai diri sendiri atau orang lain

d. Merusak lingkungan

e. Amuk/agresif

F. Akibat Dari Perilaku Kekerasan

Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi


mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu
tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan
lingkungan.

G. Peran Perawat dalam Perilaku Kekerasan


Perawat dalam mengimplementasikan berbagai intervensi untuk mencegah dan
memanajemen perilaku agresif, intervensi tersebut dapat melalui rentang intervensi
keperawatan.

Strategi preventif strategi antisipasif strategi pengurungan

Kesadaran diri komunikasi manajemen krisis

Pendidikan klien perubahan lingkungan seclusion

Latihan asertif tindakan psikofarmakologi restrain

Keterangan gambar :

1. Kesadaran diri : perawat harus meningkatkan kesadaran dirinya dan melakukan


supervise dengan memisahkan masalah pribadi dan masalah klien.
2. Pendidikan klien : pendidikan yang diberikan pada klien mengenai cara
komunikasi dan cara mengekspresikan marah yang tepat, serta respons adaptif
dan maladaptive.
3. Latihan asertif : kemampuan dasar perawat yang harus dimiliki adalah
berkomunikasi dengan setiap orang, mengatakan tidak untuk sesuatu yang tidak
beralasan, sanggup melakukan complain, dan mengekspresikan penghargaan
yang tepat.
4. Komunikasi : strategi komunikasi terapeutik

5. Perubahan lingkungan : perawat mampu menyediakan berbagai aktivitas untuk


meminimalkan/mengurangi perilaku klien yang tidak sesuai.
6. Tindakan perilaku : kontrak dengan klien untuk membicaraan mengenai perilaku
yang dapat diterima dan yang tidak.

7. Psikofarmakologi : pemberian obat sesuai kolaborasi dan mampu menjelaskan


manfaat obat pada pasien dan keluarga.
8. Manajemen krisis : bila pada waktu intervensi tidak berhasil, maka perlu
intervensi yang lebih aktif.
H. Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diharapkan pada


penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelasaian masalah langsung dan
mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (tuart dan
sundeen, 1998 hal : 33)
Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk
melindungi diri antara lain :
a. Sublimasi : menerima suatu sasaran pengganti yang mulia. Artinya dimata
masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyaluranya
secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan
kemarahannya pada obyek lain seperti meremas remas adona kue, meninju
tembok dan sebagainya, tujuanya adalah untuk mengurangi ketegangan
akibat rasa marah.
b. Proyeksi : menyalahkan orang lain kesukaranya atau keinginanya yang tidak
baik, misalnya seorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai
perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa
temanya tersebut mencoba merayu, mencumbunya
c. Represi : mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk
kealam sadar. Misalnya seorang anak yang sangat benci pada orang tuanya
yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang
diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak
baik dan dikutuk oleh tuhan. Sehingga perasaan benci itu ditekannya dan
akhirnya ia dapat melupakanya.
d. Reaksi formasi : mencegah keinginan yang berbahaya bila di ekspresikan.
Dengan melebih lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan
menggunakanya sebagai rintangan. Misalnya seseorang yang tertarik pada
teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kuat.
e. Deplacement : melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan.
Pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang
membangkitkan emosi itu. Misalnya : timmy berusia 4 tahun marah karena ia
baru saja mendapatkan hukuman dari ibunya karena menggambar didinding
kamarnya. Dia mulai bermai perang-perangan dengan temanya.
I. Sumber Koping
Menurut Suart Sundeen 1998 :
1. Aset ekonomi

2. Kemampuan dan keahlian

3. Tehnik defensif

4. Sumber sosial

5. Motivasi

6. Kesehatan dan energi

7. Kepercayaan

8. Kemampuan memecahkan masalah

9. Kemampuan sosial

10. Sumber sosial dan material

11. Pengetahuan

12. Stabilitas budaya

J. Penatalaksanaan Umum

1. Farmakoterapi

Klien dengan ekspresi marah perlu perawatan dan pengobatan yang tepat.
Adapun pengobatan dengan neuroleptika yang mempunyai dosis efektif tinggi
contohnya Clorpromazine HCL yang berguna untuk mengendalikan
psikomotornya. Bila tidak ada dapat digunakan dosis efektif rendah,
contohnya Trifluoperasine estelasine, bila tidak ada juga maka dapat
digunakan Transquilizer bukan obat anti psikotik seperti neuroleptika, tetapi
meskipun demikian keduanya mempunyai efek anti tegang, anti cemas, dan
anti agitasi.
2. Terapi Okupasi

Terapi ini sering diterjemahkan dengan terapi kerja, terapi ini bukan
pemberian pekerjaan atau kegiatan itu sebagai media untuk melakukan
kegiatan dan mengembalikan kemampuan berkomunikasi, karena itu dalam
terapi ini tidak harus diberikan pekerjaan tetapi segala bentuk kegiatan
seperti membaca Koran, main catur dapat pula dijadikan media yang penting
setelah mereka melakukan kegiatan itu diajak berdialog atau berdiskusi
tentang pengalaman dan arti kegiatan uityu bagi dirinya. Terapi ini
merupakan langkah awal yangb harus dilakukan oleh petugas terhadap
rehabilitasi setelah dilakukannyan seleksi dan ditentukan program
kegiatannya.
3. Peran serta keluarga

Keluarga merupakan system pendukung utama yang memberikan


perawatan langsung pada setiap keadaan(sehat-sakit) klien. Perawat
membantu keluarga agar dapat melakukan lima tugas kesehatan, yaitu
mengenal masalah kesehatan, membuat keputusan tindakan kesehatan,
memberi perawatan pada anggota keluarga, menciptakan lingkungan
keluarga yang sehat, dan menggunakan sumber yang ada pada masyarakat.
Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah akan dapat
mencegah perilaku maladaptive (pencegahan primer), menanggulangi
perilaku maladaptive (pencegahan skunder) dan memulihkan perilaku
maladaptive ke perilaku adaptif (pencegahan tersier) sehingga derajat
kesehatan klien dan kieluarga dapat ditingkatkan secara optimal. (Budi Anna
Keliat,1992).
4. Terapi somatik

Menurut Depkes RI 2000 hal 230 menerangkan bahwa terapi somatic


terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan
mengubah perilaku yang mal adaftif menjadi perilaku adaftif dengan
melakukan tindankan yang ditunjukkan pada kondisi fisik klien, tetapi target
terapi adalah perilaku klien
5. Terapi kejang listrik

Terapi kejang listrik atau elektronik convulsive therapy (ECT) adalah


bentuk terapi kepada klien dengan menimbulkan kejang grand mall dengan
mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis
klien. Terapi ini ada awalnya untukmenangani skizofrenia membutuhkan 20-
30 kali terapi biasanya dilaksanakan adalah setiap 2-3 hari sekali (seminggu
2 kali).
K. Pohon Masalah

Risiko Perilaku Kekerasan


Akibat

RBD/Risiko Mutilasi Diri Masalah Utama

HDR Penyebab

L. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko Mutilasi Diri b.d perilaku kekerasan.
2. Perilaku kekerasan b.d Mekanisme koping individu in efektif.
3. Harga Diri Rendah S/K
M. Fokus Intervensi

1. Resiko menciderai diri dan orang lain b.d perilaku kekerasan.

TUM : Klien dapat melanjutkan peran sesuai dengan tanggung jawab.

TUK : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Kriteria hasil :

1. Klien mau menjawab salam

2. Klien mau menjabat tangan

3. Klien mau menyabutkan nama

4. Klien mau tersenyum

5. Ada kontak mata

6. Mau mengetahui nama perawat

7. Mau menyediakan waktu untuk kontak


Intervensi :
1. Memberi salam atau panggil nama klien

2. Sebutkan nama perawat sambil menjabat tangan

3. Jelaskan tujuan interaksi

4. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat


5. Beri sikap aman dan empati

6. Lakukan kontrak singkat tapi sering

TUK 2 : Klien dapat mengnidentifikasi penyebab perilaku kekerasan


Kriteria Evaluasi :
1. Klien dapat mengungkapkan perasaannya

2. Klien dapat mengungkapkan penyebab marah, baik dari diri sendiri


nmaupun orang lain dan lingkungan.
Intervensi :
1. Anjurkan klien mengnungkapkan yang dialami saat marah.

2. Obsevasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien.

3. Simpulkan tanda-tanda jengkel atau kesal yang dialami klien.

TUK 3 : Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.

Kriteria Evaluasi :

1. Klien dapat mengunngkapkan yang dialami saat marah.

2. Klien dapat menyimpulkan tanda-tanda marah yang dialami.

Intervensi :

1. Anjurkan klien mengnungkapkan yang dialami saat marah.

2. Obsevasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien.

3. Simpulkan tanda-tanda jengkel atau kesal yang dialami klien.

TUK 4 : Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa


dilakukan.
Kriteria evaluasi :
1. Klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan

2. Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
3. Klien dapat mengetahui cara yang biasa dapat menyelesaikan masalah atau
tidak.
Intervensi :
1. Anjurkan klien mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
2. Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan.
3. Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya
selesai.
TUK 5: Klien dapat mengidentifikasi akibat dari perilaku kekerasan.

Kriteria evaluasi : Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan
klien.

Intervensi :

1. Berbicara akibat atau kerugian dari cara yang dilakukan klien.

2. Bersama klien menyimpulkan akibat cara yang digunakan oleh klien.

3. Tanyakan pada klien ”Apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”.
TUK 6 : Klien dapat mengidentifikasi cara kontruktif dalam berespon
terhadap kemarahan.
Kriteria evaluasi : Klien dapat melakukan cara berespon terhadap
kemarahan secara konstruktif. Intervensi :
1. Tanyakan pada klien ”Apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”.
2. Berikan pujian jika klien mengetahui cara lain yang sehat.

3. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat :

a. Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal atau memukul bantal
atau kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga.
b. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang kesal atau tersinggung
atau jengkel (saya kesal Anda berkata seperti itu : saya marah karen
mami tidak memenuhi keinginan saya).
c. Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat ;
latihan asertif.
d. Secar spiritual : anjurkan klien sembahyang, berdoa atau ibadah lain
meminta pada Tuhan untuk beri kesabaran, mengadu pada Tuhan
kekerasan atau kejengkelan.
TUK 7 : Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku
kekerasan.
a. Kriteria evaluasi :
b. Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
c. Fisik : tarik nafas dalam olahraga menyiram tanaman,
d. Verbal : mengatakan secara langsung dengan tidak menyakiti.
e. Spiritual : sembahyang, berdoa atau ibadah klien.

Intrevensi :

a. Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien. 2. Bantu klien
mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih.
b. Bantu klien untuk memaksimulasi cara tersebut (role play).
c. Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien mensimulasi cara
tersebut.
d. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat
jengkel atau marah.
Daftar Pustaka :

Andri, J., Febriawati, H., Panzilion, P., Sari, S. N., & Utama, D. A. (2019). Implementasi
Keperawatan dengan Pengendalian Diri Klien Halusinasi pada Pasien Skizofrenia.
Jurnal Kesmas Asclepius, 1(2), 146–155. https://doi.org/10.31539/jka.v1i2.922

Aritonang, M. (2019). Efektifitas Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Terhadap


Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pendengaran Pasien Ruang Cempakadi Rsj
Prof. Dr. Ildrem Medan. Jurnal Kesehatan Surya, 248–257.

Chang, C. C., Tzeng, N. S., Chao, C. Y., Yeh, C. Bin, & Chang, H. A. (2018). The Effects of Add-
on Fronto-Temporal Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS) on Auditory
Verbal Hallucinations, Other Psychopathological Symptoms, and Insight in
Schizophrenia: A Randomized, Double-Blind, Sham-Controlled Trial. International
Journal of Neuropsychopharmacology, 21(11), 979–987.
https://doi.org/10.1093/ijnp/pyy074

Irwan, F., Efendi Putra Hulu, Manalu, L. W., Romintan Sitanggang, & Waruwu, J. F. P.
(2021). Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Masalah Halusinasi. February, 1–47.
https://doi.org/10.31219/osf.io/fdqzn

Marwick, K. F., & Birrel, S. (2018). Crash Course Psychiatry 1e Indonesian Edition (A.
Kusmawardhani, P. R. Lukman, & F. Kaligis (eds.); 1st ed.). Elsevier.
https://www.google.co.id/books/edition/Crash_Course_Psychiatry_1e_Indonesian_
Ed/Pvn2DwAAQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=waham+adalah&pg=PA126&printsec=fro
ntcover

Montagnese, M., Leptourgos, P., Fernyhough, C., Waters, F., Larøi, F., Jardri, R., McCarthy-
Jones, S., Thomas, N., Dudley, R., Taylor, J. P., Collerton, D., & Urwyler, P. (2021). A
Review of Multimodal Hallucinations: Categorization, Assessment, Theoretical
Perspectives, and Clinical Recommendations. Schizophrenia Bulletin, 47(1), 237–
248. https://doi.org/10.1093/schbul/sbaa101

Murharyati, A., Rokhman, A., Rahmawati, A. N., Lindriani;, Nyumirah, N., & Baba, W. N.
(2021). Keperawatan Jiwa Mengenal Kesehatan Mental. Ahlimedia Book.
https://www.google.co.id/books/edition/KEPERAWATAN_JIWA_MENGENAL_KESE
HATAN_MENT/WeY_EAAAQBAJ?hl=en&gbpv=0

Nurarif, amin huda, & Kusuma, H. (2016). Asuhan keperawatan praktis berdasarkan
penerapan diagnosa NANDA NIC NOC dalam berbagai kasus edisi revisi jilid 2.
MediAction.

Nurhalimah. (2016). Keperawatan Jiwa : Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan.

Paula, V., Trisnadewi, N. W., Oktaviani, N. P. W., Hadiansyah, T., Mukhoirotin;, & Widodo,
D. (2021). Keperawatan Jiwa Lanjutan. Yayasan Kita Menulis.
https://www.google.co.id/books/edition/Keperawatan_Jiwa_Lanjutan/de0sEAAAQ
BAJ?hl=en&gbpv=0

PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. (2018). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

PPNI, Tim Pokja SIKI DPP. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

PPNI, Tim Pokja SLKI DPP. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Ruswadi, I. (2021). Keperawatan Jiwa : Panduan Praktis Untuk Mahasiswa Keperawatan.


Penerbit Adab.
https://www.google.co.id/books/edition/KEPERAWATAN_JIWA_Panduan_Praktis_
Untuk_M/g20qEAAAQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=keperawatan+jiwa+ansietas&prints
ec=frontcover

Supinganto, A., Yani, A. L., Kuswanto;, Darmawan, D., Paula, V., & Marliana, T. (2021).
Keperawatan Jiwa Dasar. Yayasan Kita Menulis.
https://www.google.co.id/books/edition/Keperawatan_Jiwa_Dasar/fl8sEAAAQBAJ
?hl=en&gbpv=1&dq=keperawatan+jiwa+ansietas&printsec=frontcover

Townsend, M. C. (2010). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Psikiatri Rencana Asuhan &
medikasi Psikotropik. Edisi 5. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Widiyawati, W. (2020). Keperawatan Jiwa. CV. Literasi Nusantara.


https://www.google.co.id/books/edition/KEPERAWATAN_JIWA/2dMoEAAAQBAJ?
hl=en&gbpv=1&dq=keperawatan+jiwa+ansietas&printsec=frontcover

Wuryaningsih, E. W. ;, Windarwati, H. D. ;, Dewi, E. I. ;, Deviantory, F. ;, & Kurniawan,
Enggal, H. ; (2018). Buku Ajar Keperawatan Jiwa 1 (1st ed.). UPT Percetakan &
Penerbitan Universitas Jember.
https://books.google.co.id/books?id=PFnYDwAAQBAJ&pg=PA18&dq=masalah+psi
kososial&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwjs9uve55rsAhWUeisKHUeaBrEQ6AEwBXoEC
AYQAg#v=onepage&q=masalah psikososial&f=false

Wuryaningsih, E. W., Windarwati, H. D., Dewi, E. I., Deviantony, F., & Kurniyawan, E. H.
(2018). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa 1. UNEJ Press.
https://www.google.co.id/books/edition/Buku_Ajar_Keperawatan_Kesehatan_Jiwa
_1/PFnYDwAAQBAJ?hl=en&gbpv=1&dq=keperawatan+jiwa+ansietas&printsec=fro
ntcover

Yosep, I. (2013). Keperawatan Jiwa (5th ed.).

Zaini, M. (2019a). Asuhan Keperawatan Jiwa: Masalah Psikososial di Pelayanan Klinis dan
Komunitas. Deepublish.
https://books.google.co.id/books?id=ZhKfDwAAQBAJ&pg=PA43&dq=penyakit+psi
kososial&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwi1_J7izprsAhXKYisKHfmPDiUQ6AEwAHoECA
YQAg#v=onepage&q=penyakit psikososial&f=false

Zaini, M. (2019b). Asuhan Keperawatan Jiwa Masalah Psikososial & Pelayanan Klinis &
Komunitas. Deepublish.
https://books.google.co.id/books?id=ZhKfDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=an
sietas&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwib9t_54N_qAhUTbn0KHaRRAgAQ6AEwBXoECA
UQAg#v=onepage&q=ansietas&f=false