Anda di halaman 1dari 4

Universitas Muhammadiyah Malang

Fakultas Ilmu Kesehatan


Program Studi D-3 & S-1 Keperawatan
Kampus II : JL. Bendungan Sutami No. 188-A Tlp. (0341) 551149 Fax.0341-
582060 Malang 65145 E-mail : fikes@umm.ac.id Website : fikes.umm.ac.id

SOP
Manajemen Konflik

No Dokumen No Revisi Halaman Tanggal Terbit


--- 1-3
Disetujui oleh Mengetahui,
Kepala Departemen Manajemen Keperawatan Kepala Laboratorium

Zahid Fikri, S.Kep., Ns., M.Kep Juwitasari, MSc


NIP UMM 1126030637 NIP UMM. 110128061987

Pengertian Konflik merupakan kondisi dimana pihak yang satu menghendaki agar pihak yang
lain berbuat sesuai dengan yang lain perbuat atau tidak berbuat sesuai denga napa
yang diinginkan, tetapi pihak lain menolak keinginan tersebut (Sudarmanto et al.,
2021). Konflik dapat terjadi antara individu-individu, antara kelompok-kelompok
dan organisasi-organisasi, jika dua orang individu masing-masing berpegang pada
pandangan yang sama sekali bertentangan tanpa ada kompromi kemudian menarik
kesimpulan yang berbeda dan cenderung bersifat tidak toleran, maka dapat
dipastikan akan timbul konflik (Sudarmanto et al., 2021).
Tujuan Praktikum Tujuan Umum :
Agar dapat memahami bentuk-bentuk konflik yang terjadi pada hubungan
interpersonal, intrapersonal serta interpersonal dalam organisasi, sosial, politik,
bisnis dan organisasi pemerintah (Rumah Sakit)
Tujuan Khusus :
1. Memahami konsep teoritis manajemen konflik, bentuk-bentuk konflik,
serta kaitan antara kesepakatan yang telah disetuhjui oleh kelompok dengan
konflik yang terjadi
2. Meminimalisir sumber konflik yang mungkin akan muncul
3. Meningkatkan kreativitas dan critical thinking dalam memecahkan masalah
yang muncul
4. Membangun rasa saling menghormati antar sesama perawat
Langkah-langkah Berikut Langkah-langkah dalam menyelesaikan konflik (Nursalam, 2014) :
Penyelesaian 1. Pengkajian.
Konflik a) Analisis situasi : Identifikasi jenis konflik untuk menentukan waktu yang
diperlukan, setelah dilakukan pengumpulan fakta dan memvalidasi semua
perkiraan melalui pengkajian lebih mendalam. Kemudian siapa yang
terlibat dan peran masingmasing. Tentukan jika situasinya dapat diubah.
b) Analisis dan mematikan isu yang berkembang. Jelaskan masalah dan
prioritas fenomena yang terjadi. Tentukan masalah utama yang
memerlukan suatu penyelesaian yang dimulai dari masalah tersebut.
Hindari penyelesaian semua masalah dalam satu waktu.
c) Menyusun tujuan. Jelaskan tujuan spesifik yang akan dicapai.
2. Identifikasi.
Mengelola perasaan. Hindari respons emosional: marah, sebab setiap orang
mempunyai respons yang berbeda terhadap kata-kata, ekspresi, dan tindakan.
3. Intervensi.
a) Masuk pada konflik yang diyakini dapat diselesaikan dengan baik.
Selanjutnya identifikasi hasil yang positif yang akan terjadi.
b) Menyeleksi metode dalam menyelesaikan konflik. Penyelesaian konflik
memerlukan strategi yang berbeda-beda. Seleksi metode yang paling
sesuai untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.
Diagram Proses
Konflik Konflik Laten

Konflik yang dirasakan Konflik yang dialami

Konflik yang tampak

Penyelesaian / Manajemen Konflik

Konflik Aftermath

(sumber : (Nursalam, 2014))

Cara Penanganan Cara-cara penanganan konflik ada beberapa macam, meliputi (Nursalam, 2014) :
Konflik :
a. Bersaing/kompetisi
Strategi ini dapat diartikan sebagai win-lose situation. Penyelesaian ini
menekankan hanya ada satu orang atau kelompok yang menang tanpa
mempertimbangkan yang kalah. Akibat negatif dari strategi ini adalah
kemarahan, putus asa, dan keinginan untuk perbaikan di masa mendatang.
Contoh dari penanganan konflik dengan kompetisi adalah banyak sedikitnya
pengalaman menjadi perawat pelaksana menyebabkan satu dengan yang lain
akan bersaing.
b. Berkolaborasi
Strategi ini merupakan strategi win-win solution. Dalam kolaborasi, kedua
pihak yang terlibat menentukan tujuan bersama dan bekerja sama dalam
mencapai suatu tujuan. Oleh karena keduanya yakin akan tercapainya suatu
tujuan yang telah ditetapkan. Strategi kolaborasi tidak akan bisa berjalan bila
kompetisi insentif sebagai bagian dari situasi tersebut, kelompok yang terlibat
tidak mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan masalah, dan tidak
adanya kepercayaan dari kedua kelompok/seseorang (Bowditch dan Buono,
1994). Contoh dari penanganan konflik dengan berkolaborasi adalah
perbedaan peran antara satu dengan yang lain, sehingga akan bisa terselesaikan
dengan kolaborasi antar peran.
c. Menghindar
Menghindar adalah cara menyelesaikan konflik dimana pihak yang sedang
berkonfllik mengakui adanya konflik dalam interaksinya dengan orang lain
tetapi menarik diri atau menekan konflik tersebut (seakan-akan tidak ada
konflik atau masalah). Semua yang terlibat dalam konflik, pada strategi ini
menyadari tentang masalah yang dihadapi, tetapi memilih untuk menghindar
atau tidak menyelesaikan masalah. Strategi ini biasanya dipilih bila
ketidaksepakatan membahayakan kedua pihak, biaya penyelesaian lebih besar
daripada menghindar, atau perlu orang ketiga dalam menyelesaikannya, atau
jika masalah dapat terselesaikan dengan sendirinya. Contoh dari penanganan
konflik menghindar adalah kesalahpahaman terhadap prosedur tindakan
mengakibatkan konflik batin pada individu, biasanya individu tersebut
memilih menghindari konflik.
d. Mengakomodasi
Istilah lain yang sering digunakan adalah cooperative situation. Konflik ini
berlawanan dengan kompetisi. Pada strategi ini, seseorang berusaha
mengakomodasi permasalahan, dan memberi kesempatan pada orang lain
untuk menang. Pada strategi ini, masalah utama yang terjadi sebenarnya tidak
terselesaikan. Contoh Strategi ini biasanya digunakan dalam politik untuk
merebut kekuasaan dengan berbagai konsekuensinya, jika dalam ranah
keperawatan dapat digambarkan dalam perbedaan kekuasan yang
mengakibatkan perubahan suatu peran dalam menangani kasus klien
e. Berkompromi
Kompromi adalah cara penyelesaian konflik dimana semua pihak yang
berkonflik mengorbankan kepentingannya demi terjalinnya keharmonisan
hubungan kedua belah pihak tersebut. Dalam upaya ini tidak ada salah satu
pihak yang menang atau kalah. Ini adalah lose-lose solution di mana masing-
masing pihak akan mengorbankan kepentingannya agar hubungan yang dijalin
teteap harmonis. Contoh dalam penanganan konflik dengan berkompromi
adalah perbedaan pendapat terkait prosedur antar perawat yang menjadikan
pihak yang bertentangan menjadi berkompromi satu sama lain.
Referensi Nursalam. (2014). Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional (4th ed.). Salemba Medika.
Sudarmanto, E., Sari, D. P., Tjahjana, D., Wibowo, E., Mardiana, Sri Siska; Purba,
B., Purba, S., ; I., Tjiptadi, D. D., Kato, S. I., Rosdiana;, Manalu, N. V., &
Afandi. (2021). Manajemen Konflik (1st ed.). Yayasan Kita Menulis.