Anda di halaman 1dari 41

F1

1. Penyuluhan Dalam Gedung Mengenai COVID-19 di Puskesmas Kramatwatu

Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk kegiatan
penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang merugikan
kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.

Permasalahan
Persamaan pemahaman dan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan kelompok
isu aktual program kesehatan sebagai upaya pernyebarluasan informasi kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan yang lebih baik sehingga derajat kesehatan
masyarakat meningkat sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Sesuai dengan visi dan misi
Puskesmas Kramatwatu yaitu melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai dengan kondisi, situasi dan kebutuhan
masyarakat setempat serta dukungan dari tiap-tiap program yang ada di puskesmas misalnya
program gizi dan lintas sektor dari koramil atau polisi untuk menciptakan lingkungan yang
aman dan juga menggerakkan masyarakan untuk berperan aktif.

Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Penyuluhan dapat dikelompokkan dalam proses belajar satu arah (didaktitik) dan dua arah
(sokratik)
Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan
3.Tahap sesudah pelaksanaan
Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan di halaman tunggu pasien Puskesmas Kramatwatu. Tema
ini diambil berkaitan dengan kejadian pandemi Covid-19 di seluruh dunia, tak terkecuali sudah
memasuki Indonesia. Kami melakukan penyuluhan dengan cara mengumpulkan audiens
dalam hal ini pasien-pasien yang sedang berobat jalan di Puskesmas Kramatwatu sembari
menunggu antrian untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Penyuluhan dimulai dengan memberikan latar belakang mengapa Covid-19 bisa mewabah dan
berubah statusnya menjadi pandemi. Kami juga menjelaskan perjalanan serta bagaimana
penularan penyakit nya. Hingga akhirnya kami memberikan rekomendasi/saran yang bisa
dilakukan oleh masing-masing orang untuk menjaga diri dari tertularnya virus Covid-19.

Sebelum acara diakhiri, kami memberikan kesempatan kepada audiens untuk bertanya
seputar penyakit Covid-19 ini. Banyak dari antara audiens yang menyimak dengan seksama
terlihat dari kontak mata dan perhatian yang adekuat pada saat presentan memberikan
penyuluhan. Penyuluhan berlangsung sekitar 20 menit, dengan audiens yang hadir berjumlah
sekitar 50 orang.

Monitoring&Evaluasi
Kegiatan penyuluhan Covid-19 ini dapat diulang beberapa kali hingga sebagian orang
khususnya yang telah datang ke Puskesmas dan mendapatkan penyuluhan mengerti
bagaimana caranya menjaga diri agar terhindar dari Covid-19. Mereka yang telah
mendapatkan penyuluhan dapat membagikan ilmunya kepada orang lain sehingga kita
bersama-sama dapat mencegah virus Covid-19.

Evaluasi pasca penyuluhan:


- Masyarakat mengerti bagaimana menjaga diri agar terhindar dari virus Covid-19
- Angka kunjungan berobat jalan ke puskesmas lebih sedikit dikarenakan masyarakat sadar
betul bahwa puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan dan titik keramaian dapat
menjadi sumber potensial untuk menularkan virus. Sehingga masyarakat tidak terburu-buru
untuk membawa pasien sakit ke puskesmas.

2. Penyuluhan Mengenai Pentingnya Kontrol Rutin Pada Kencing Manis di Posbindu Wanayasa

Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk kegiatan
penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang merugikan
kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.

Pasien diabetes tipe 2 dapat merasakan berbagai gejala, beberapa di antaranya adalah
timbulnya bagian tubuh yang menghitam, luka sulit sembuh, hingga penglihatan kabur.
Namun, gejala-gejala tersebut membutuhkan waktu lama untuk dapat muncul dan dirasakan
penderitanya. Bahkan, kondisi ini berpotensi besar tidak disadari hingga komplikasi terjadi.

Permasalahan
Persamaan pemahaman dan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan kelompok
isu aktual program kesehatan sebagai upaya pernyebarluasan informasi kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan mengenai keehatan yang lebih baik sehingga derajat kesehatan
masyarakat meningkat sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Sesuai dengan visi dan misi
Puskesmas Kramatwatu yaitu melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai dengan kondisi, situasi dan kebutuhan
masyarakat setempat serta dukungan dari tiap-tiap program yang ada di puskesmas misalnya
program gizi dan lintas sektor dari koramil atau polisi untuk menciptakan lingkungan yang
aman dan juga menggerakkan masyarakan untuk berperan aktif.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Penyuluhan dapat dikelompokkan dalam proses belajar satu arah (didaktitik) dan dua arah
(sokratik)
Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan

3. Tahap sesudah pelaksanaan


Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Penyuluhan diadakan pada saat kegiatan Posbindu berlangsung di Posbindu Wanayasa.
Diabetes mellitus atau kencing manis menjadi tema yang kami ambil karena mayoritas lansia
yang datang berobat ke Posbindu menderita diabetes mellitus. Diabetes mellitus juga
merupakan penyakit kronik sehingga perubahan atau modifikasi gaya hidup menjadi lebih
sehat merupakan komponen penting --selain terapi farmakologis-- untuk tetap menjaga
tekanan darah tetap terkontrol.

Beberapa metode yang digunakan untuk menangani diabetes tipe 2 meliputi:


- Penerapan pola hidup sehat
- Pemberian obat
- Terapi insulin

Selain untuk meredakan gejala yang muncul, penanganan yang baik juga dapat mencegah
diabetes tipe 2 dan komplikasinya, seperti:
- Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung, dan stroke.
- Kerusakan saraf (neuropati diabetik). Kondisi ini sering terjadi pada kaki, dengan gejala yang
muncul dapat berupa mati rasa hingga nyeri. Pada pria, kerusakan pada saraf juga berkaitan
dengan terganggunya fungsi seksual.
- Kerusakan ginjal (nefropati diabetik). Kerusakaan yang parah dapat menyebabkan gagal
ginjal. Jika diabetes dibiarkan dalam waktu yang lama, kerusakan ginjal bisa mencapai stadium
akhir.
- Kerusakan mata (retinopati diabetik). Kerusakaan pada pembuluh darah retina berpotensi
menyebabkan gangguan penglihatan.
- Gangguan pendengaran.
- Gangguan kulit, seperti lebih mudah terjangkit infeksi bakteri maupun virus.
- Penyakit Alzheimer.

Kegiatan penyuluhan ini dihadiri oleh peserta lansia berjumlah sekitar 20 orang. Kami
menekankan pentingnya untuk meminum obat secara rutin dan modifikasi gaya hidup agar
lebih sehat serta memeriksakan diri secara rutin ke layanan kesehatan untuk memastikan
bahwa gula darah tetap terkontrol.

Monitoring & Evaluasi


Setelah kegiatan penyuluhan selesai dilaksanakan, penyuluh mencoba mengulang materi
penyuluhan yang sudah diberikan dengan tujuan audiens mengerti sepenuhnya tujuan dari
diadakannya penyuluhan ini.

Populasi lansia baik yang sehat ataupun mengalami diabetes mellitus harus dilakukan
pemeriksaan gula darah rutin berkala dan memastikan lansia yang mengalami diabetes gula
darahnya dapat terkontrol dengan baik.

3. Penyuluhan Mengenai Pentingnya Kontrol Rutin Pada Penyakit Darah Tinggi di Posbindu
Pegadingan

Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk kegiatan
penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang merugikan
kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi saat tekanan darah berada pada nilai
130/80 mmHg atau lebih. Kondisi ini dapat menjadi berbahaya, karena jantung dipaksa
memompa darah lebih keras ke seluruh tubuh, hingga bisa mengakibatkan timbulnya berbagai
penyakit, seperti gagal ginjal, stroke, dan gagal jantung.

Permasalahan
Persamaan pemahaman dan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan kelompok
isu aktual program kesehatan sebagai upaya pernyebarluasan informasi kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan mengenai keehatan yang lebih baik sehingga derajat kesehatan
masyarakat meningkat sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Sesuai dengan visi dan misi
Puskesmas Kramatwatu yaitu melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai dengan kondisi, situasi dan kebutuhan
masyarakat setempat serta dukungan dari tiap-tiap program yang ada di puskesmas misalnya
program gizi dan lintas sektor dari koramil atau polisi untuk menciptakan lingkungan yang
aman dan juga menggerakkan masyarakan untuk berperan aktif.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Penyuluhan dapat dikelompokkan dalam proses belajar satu arah (didaktitik) dan dua arah
(sokratik)
Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan

3.Tahap sesudah pelaksanaan


Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Penyuluhan diadakan pada saat kegiatan Posbindu berlangsung di Posbindu Pegadingan.
Hipertensi atau darah tinggi menjadi tema yang kami ambil karena mayoritas lansia yang
datang berobat ke Posbindu menderita hipertensi. Hipertensi juga merupakan penyakit kronik
sehingga perubahan atau modifikasi gaya hidup menjadi lebih sehat merupakan komponen
penting --selain terapi farmakologis-- untuk tetap menjaga tekanan darah tetap terkontrol.

Menjalani gaya hidup sehat dapat menurunkan sekaligus mencegah hipertensi. Beberapa cara
yang dapat dilakukan adalah:
- Konsumsi makanan yang sehat.
- Menjaga berat badan ideal.
- Rutin berolahraga.
- Berhenti merokok.

Tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah dan organ-organ lain di dalam tubuh. Jika
dibiarkan tanpa penanganan, hipertensi bisa menimbulkan penyakit-penyakit atau komplikasi
serius, seperti:
- Aterosklerosis
- Kehilangan penglihatan
- Terbentuk aneurisma
- Gagal ginjal

Kegiatan penyuluhan ini dihadiri oleh peserta lansia berjumlah sekitar 25 orang. Kami
menekankan pentingnya untuk meminum obat secara rutin dan modifikasi gaya hidup agar
lebih sehat serta memeriksakan diri secara rutin ke layanan kesehatan untuk memastikan
bahwa tekanan darah tetap terkontrol.

Monitoring & Evaluasi


Setelah kegiatan penyuluhan selesai dilaksanakan, penyuluh mencoba mengulang materi
penyuluhan yang sudah diberikan dengan tujuan audiens mengerti sepenuhnya tujuan dari
diadakannya penyuluhan ini.

Populasi lansia baik yang sehat ataupun mengalami hipertensi harus dilakukan pemeriksaan
tekanan darah rutin dan memastikan lansia yang hipertensi tekanan darahnya dapat
terkontrol dengan baik.

4. Penyuluhan Mengenai Makanan Gizi Seimbang di Posyandu Tonjong

Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk kegiatan
penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang merugikan
kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.

Permasalahan
Persamaan pemahaman dan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan kelompok
isu aktual program kesehatan sebagai upaya pernyebarluasan informasi kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan mengenai keehatan yang lebih baik sehingga derajat kesehatan
masyarakat meningkat sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Sesuai dengan visi dan misi
Puskesmas Kramatwatu yaitu melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai dengan kondisi, situasi dan kebutuhan
masyarakat setempat serta dukungan dari tiap-tiap program yang ada di puskesmas misalnya
program gizi dan lintas sektor dari koramil atau polisi untuk menciptakan lingkungan yang
aman dan juga menggerakkan masyarakan untuk berperan aktif.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Penyuluhan dapat dikelompokkan dalam proses belajar satu arah (didaktitik) dan dua arah
(sokratik)
Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan

3.Tahap sesudah pelaksanaan


Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Posyandu diadakan di rumah khusus untuk pelayanan Posyandu di Desa Tonjong. Setelah itu
dilakukan pemeriksaan ANC kepada para ibu hamil di Desa Tonjong, serta pemberian obat
bagi yang membutuhkan dan edukasi mengenai persiapan persalinan.

Kelas Ibu diadakan dengan tema kesehatan masa kehamilan, makanan gizi seimbang yang
diperlukan oleh anak dan ibu, diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Monitoring & Evaluasi


Setelah pemaparan materi selesai, pemateri memberikan kuis bagi audiens mengenai materi
yang telah disajikan sebelumnya. Bagi audiens yang dapat menjawab diberikan sedikit
bingkisan untuk memeriahkan acara sekaligus memompa semangat audiens yang lain untuk
ikut menjawab. Semua pertanyaan yang dilemparkan kepada audiens bisa dijawab seluruhnya.
Menandakan bahwa materi yang disampaikan dapat dicerna dengan baik oleh audiens.

Selanjutnya yang perlu dilakukan ialah bagaimana pengetahuan yang telah didapatkan mampu
untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam setiap kunjungan posyandu
dapat ditanyakan kembali materi yang sebelumnya telah dikuasai dan menanyakan
aplikasinya. Dalam waktu jangka panjang kegiatan ini diharapkan dapat membantu setiap
audiens memiliki badan sehat dengan gizi yang seimbang. Sehingga masalah kesehatan yang
berkaitan dengan nutrisi seperti anemia, stunting, dll dapat dicegah dan menurunkan
prevalensi kasus tersebut.

5. Penyuluhan Mengenai Inisiasi Menyusui Dini di Posyandu Serdang

Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk kegiatan
penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang merugikan
kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.

Permasalahan
Persamaan pemahaman dan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan kelompok
isu aktual program kesehatan sebagai upaya pernyebarluasan informasi kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan mengenai keehatan yang lebih baik sehingga derajat kesehatan
masyarakat meningkat sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Sesuai dengan visi dan misi
Puskesmas Kramatwatu yaitu melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai dengan kondisi, situasi dan kebutuhan
masyarakat setempat serta dukungan dari tiap-tiap program yang ada di puskesmas misalnya
program gizi dan lintas sektor dari koramil atau polisi untuk menciptakan lingkungan yang
aman dan juga menggerakkan masyarakan untuk berperan aktif.

Inisiasi menyusui dini adalah langkah penting untuk memudahkan bayi dalam memulai proses
menyusui. Bayi baru lahir yang diletakkan pada dada atau perut sang ibu, secara alami dapat
mencari sendiri sumber air susu ibu (ASI) dan menyusu. Proses penting inilah yang disebut
inisiasi menyusui dini (IMD).

Manfaat ASI telah terbukti berperan penting sebagai sumber makanan utama dan membantu
memperkuat sistem kekebalan bayi baru lahir untuk melindunginya dari berbagai penyakit.
Proses menyusui ini sebenarnya dapat dimulai dan dikuatkan dengan inisiasi menyusui dini.
Sayang, belum banyak orang yang memahami pentingnya prosedur ini untuk bayi.

Perencanaan & Intervensi


Penyuluhan dapat dikelompokkan dalam proses belajar satu arah (didaktitik) dan dua arah
(sokratik)
Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan

3.Tahap sesudah pelaksanaan


Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Posyandu diadakan di rumah khusus untuk pelayanan Posyandu di Desa Serdang. Setelah itu
dilakukan pemeriksaan ANC kepada para ibu hamil di Desa Serdang, serta pemberian obat
bagi yang membutuhkan dan edukasi mengenai persiapan persalinan.

Kelas Ibu diadakan dengan tema kesehatan selama masa kehamilan dan pentingnya inisiasi
menyusui dini pada saat proses persalinan, diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan proses inisiasi menyusui dini dijalankan
dalam satu jam pertama sejak bayi lahir. Caranya adalah dengan menempatkan bayi di dada
ibunya segera setelah sang bayi keluar dari jalan lahir. Bayi ini kemudian akan secara alami,
tanpa dibantu, mencari puting ibunya untuk menyesap ASI. Ibu yang melahirkan normal dan
kondisi bayi yang sehat setelah lahir menjadikan hal ini bisa segera dilakukan setelah
melahirkan.

Berbagai manfaat inisiasi menyusui dini bagi ibu dan bayi, antara lain:
1. Meningkatkan kesempatan bayi memperoleh kolostrum
Kolostrum adalah tetes ASI pertama ibu yang kaya nutrisi dan membantu mencegah penyakit.
Cairan pertama dari ASI ini biasanya berwarna kuning, sangat kental dan hanya sebanyak kira-
kira satu sendok teh.
2. Mendukung keberhasilan ASI eksklusif
Inisiasi menyusui dini diketahui menunjang keberhasilan ASI eksklusif hingga setidaknya bayi
berusia 4 bulan. Pemberian ASI eksklusif dianjurkan hingga bayi berusia 6 bulan, namun boleh
dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun.
3. Memperkuat hubungan ibu dan bayi
Bukti menunjukkan bahwa kulit bayi yang bersentuhan langsung dengan kulit ibunya (skin-to-
skin contact) segera setelah lahir, dapat menciptakan keintiman yang lebih dalam dengan
sang ibu. Lebih jauh, kulit tubuh bayi yang bersentuhan langsung dengan kulit tubuh ibunya
merupakan cara efektif untuk menenangkan bayi sakit, yang dapat dilakukan kapan saja. Hal
ini juga membuat sang ibu lebih nyaman.
4. Meningkatkan kesehatan bayi
Inisiasi menyusui dini dapat mengurangi angka kematian bayi baru lahir. Selain itu, dapat
meningkatkan kesehatan, tumbuh kembang, dan membantu membangun daya tahan tubuh
bayi. Kemudian, ASI juga sangat baik untuk kesehatan sistem pencernaan bayi.

Monitoring & Evaluasi


Setelah pemaparan materi selesai, pemateri memberikan kuis bagi audiens mengenai materi
yang telah disajikan sebelumnya. Bagi audiens yang dapat menjawab diberikan sedikit
bingkisan untuk memeriahkan acara sekaligus memompa semangat audiens yang lain untuk
ikut menjawab. Semua pertanyaan yang dilemparkan kepada audiens bisa dijawab seluruhnya.
Menandakan bahwa materi yang disampaikan dapat dicerna dengan baik oleh audiens.

Selanjutnya yang perlu dilakukan ialah bagaimana pengetahuan yang telah didapatkan mampu
untuk diaplikasikan. Sehingga dalam setiap kunjungan posyandu dapat ditanyakan kembali
materi yang sebelumnya telah dikuasai dan menanyakan aplikasinya. Dalam waktu jangka
panjang kegiatan ini diharapkan dapat membantu setiap audiens untuk dapat menerapkan
inisiasi menyusui dini pada setiap proses persalinan.

Pada akhirnya, inisiasi menyusui dini dapat berhasil diterapkan jika ibu yang menjalani proses
persalinan telah siap secara fisik dan mental. Proses ini juga hanya akan berhasil jika sang ibu
percaya diri dan didukung penuh oleh semua pihak di sekitarnya, terutama rumah sakit,
dokter yang membantu proses persalinan, dan keluarga.

6. Kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah dan Edukasi Upaya Berhenti Merokok di SMPN 1
Kramatwatu

Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk kegiatan
penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang merugikan
kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.

Permasalahan
Persamaan pemahaman dan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan kelompok
isu aktual program kesehatan sebagai upaya pernyebarluasan informasi kesehatan.
Meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan yang lebih baik sehingga derajat kesehatan
masyarakat meningkat sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Sesuai dengan visi dan misi
Puskesmas Kramatwatu yaitu melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai dengan kondisi, situasi dan kebutuhan
masyarakat setempat serta dukungan dari tiap-tiap program yang ada di puskesmas misalnya
program gizi dan lintas sektor dari koramil atau polisi untuk menciptakan lingkungan yang
aman dan juga menggerakkan masyarakan untuk berperan aktif.

Perencanaan & Intervensi


Penyuluhan dapat dikelompokkan dalam proses belajar satu arah (didaktitik) dan dua arah
(sokratik)

Tahapan pelaksanaan kegiatan :


1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penyuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan

3.Tahap sesudah pelaksanaan


Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Kegiatan dilakukan di SMPN 1 Kramatwatu dengan target seluruh siswi perempuan untuk
kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah dan seluruh siswa/siswi SMPN 1 Kramatwatu
untuk kegiatan Penyuluhan Edukasi Berhenti Merokok.

Kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah bekerja sama dengan siswi yang tergabung dalam
Palang Merah Remaja SMPN 1 Kramatwatu dan mengadakan drama mengenai Anemia.
Selesai kegiatan drama, perwakilan puskesmas mengadakan edukasi pentingnya konsumsi
Tablet Tambah Darah pada remaja putri untuk mencegah Anemia. Kemudian dilanjutkan
dengan pembagian Tablet Tambah Darah kepada seluruh remaja putri SMPN 1 Kramatwatu
dan langsung meminum suplemen tersebut secara bersamaan.

Kegiatan dilanjutkan dengan Penyuluhan mengenai Edukasi Berhenti Merokok untuk seluruh
siswa/siswi di SMPN 1 Kramatwatu. Kegiatan dilakukan di aula yang besar dikarenakan jumlah
siswa/siswi yang mencapai 400 orang lebih. Kegiatan diawali dengan yel-yel sekolah dan
puskesmas untuk mengambil fokus perhatian siswa/siswi. Kegiatan utama berupa penyuluhan
Edukasi Berhenti Merokok dengan menggunakan media laptop dan proyektor sehingga
seluruh audiens dapat melihat bahan presentasi secara langsung. Kegiatan juga diselingi
dengan sesi tanya jawab dan pemberian hadiah berupa snack bagi siswa/siswi yang berhasil
menjawab pertanyaan dari penyuluh.

Kegiatan ini melibatkan para civitas akademika sekolah termasuk kepala sekolah, guru, wali
kelas, dan seluruh siswa/siswi SMPN 1 Kramatwatu. Kegiatan ditutup dengan berfoto
bersama.

Monitoring & Evaluasi


Perwakilan puskesmas terus berkomunikasi dengan pihak sekolah mengenai isu-isu kesehatan
yang relevan untuk diberikan kepada siswa/siswi SMPN 1 Kramatwatu. Kegiatan penyuluhan
ini akan terus dilaksanakan secara rutin dan dilakukan evaluasi berupa feedback dari masing-
masing institusi untuk dapat terus berkolaborasi menciptakan generasi yang menerapkan pola
hidup bersih dan sehat.

F2

1. Pemantauan Jentik Nyamuk dan Pemberantasan Sarang Nyamuk Ke Desa Margatani

Latar Belakang
Kondisi atau keadaan lingkungan merupakan faktor penentu utama derajat kesehatan
masyarakat dalam suatu proses pengamatan, penyuluhan, pendokumentasian secara verbal
dan visual menurut prosedur standar tertentu terhadap satu atau beberapa komponen
lingkungan dengan menggunakan satu atau beberapa parameter sebagai tolak ukur yang
dilakukan secara terencana, terjadwal, dan terkendali dalam satu siklus waktu tertentu yang
menekankan kegiatan pada sumber, ambient (lingkungan), pemaparan, dan dampak pada
manusia

Permasalahan
Belum terciptanya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan kebersihan
lingkungan terhadap peningkatan kualitas hidup khususnya pada daerah cakupan Puskesmas
Kramatwatu

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Program KESLING dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut :
- Inspeksi Sanitasi Rumah Sehat
- Inspeksi Sanitasi Sarana Air Minum Pedesaan
- Pengambilan dan Pemeriksaan Sampel Air dan Makanan
- Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
- Hygiene Sanitasi
- Penyuluhan Kesehatan Lingkungan
- Monitoring dan Pengawasan Kesehatan Lingkungan
- Monitoring Evaluasi Pasca Pemicuan
- Monitoring Evaluasi Pasca Hygiene Sanitasi
- Inspeksi Sanitasi TPM
- Inspeksi Sanitasi TTU
- Verifikasi Desa SBS
- Pembinaan TPM
- Pembinaan TTU
- Klinik Sanitasi

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2020, di Desa Margatani, oleh 2 dokter
internship, didampingi dengan 1 bidan. Program kesehatan lingkungan dilakukan dengan cara
skrining situasi lingkungan di Desa Margatani. Aspek yang diperhatikan adalah kebersihan,
mandi cuci kakus, sirkulasi udara, dan juga lokasi atau tempat yang rentan menjadi sarang
nyamuk.

Monitoring & Evaluasi


Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sewaktu – waktu
selama proses pendataan dengan survey di setiap Desa.

2. Penyehatan Lingkungan Permukiman (Pemeriksaan Rumah) Pasien TB di Desa Pejaten

Latar Belakang
Kondisi atau keadaan lingkungan merupakan faktor penentu utama derajat kesehatan
masyarakat dalam suatu proses pengamatan, penyuluhan, pendokumentasian secara verbal
dan visual menurut prosedur standar tertentu terhadap satu atau beberapa komponen
lingkungan dengan menggunakan satu atau beberapa parameter sebagai tolak ukur yang
dilakukan secara terencana, terjadwal, dan terkendali dalam satu siklus waktu tertentu yang
menekankan kegiatan pada sumber, ambient (lingkungan), pemaparan, dan dampak pada
manusia.

Penularan TBC umumnya terjadi melalui udara. Ketika penderita TBC aktif memercikkan lendir
atau dahak saat batuk atau bersin, bakteri TB akan ikut keluar melalui lendir tersebut dan
terbawa ke udara. Selanjutnya, bakteri TB akan masuk ke tubuh orang lain melalui udara yang
dihirupnya. Keadaan lingkungan rumah yang tidak higienis disertai dengan pencahayaan dan
ventilasi yang kurang baik dapat menjadi faktor risiko penularan TB dalam rumah.

Permasalahan
Belum terciptanya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan kebersihan
lingkungan terhadap peningkatan kualitas hidup khususnya pada daerah cakupan Puskesmas
Kramatwatu

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Program KESLING dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut :
- Inspeksi Sanitasi Rumah Sehat
- Inspeksi Sanitasi Sarana Air Minum Pedesaan
- Pengambilan dan Pemeriksaan Sampel Air dan Makanan
- Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
- Hygiene Sanitasi
- Penyuluhan Kesehatan Lingkungan
- Monitoring dan Pengawasan Kesehatan Lingkungan
- Monitoring Evaluasi Pasca Pemicuan
- Monitoring Evaluasi Pasca Hygiene Sanitasi
- Inspeksi Sanitasi TPM
- Inspeksi Sanitasi TTU
- Verifikasi Desa SBS
- Pembinaan TPM
- Pembinaan TTU
- Klinik Sanitasi

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2020 bersama dengan dokter internship dan
bidan desa di Desa Pejaten. Program kesehatan lingkungan kali ini bertujuan untuk
mengidentifikasi faktor risiko dari kesehatan lingkungan yang berpotensi sebagai media
penularan bakteri Tuberkulosis di dalam rumah. Aspek yang diperhatikan adalah sirkulasi
udara, ventilasi cahaya, dan kebersihan secara umum dari rumah pasien penderita
Tuberkulosis.

Monitoring & Evaluasi


Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sewaktu – waktu
selama proses pendataan dengan survey di setiap Desa.

3. Inspeksi Tempat Pengelolaan Makanan RM Tahu Sumedang TOP

Latar Belakang
Kondisi atau keadaan lingkungan merupakan faktor penentu utama derajat kesehatan
masyarakat dalam suatu proses pengamatan, penyuluhan, pendokumentasian secara verbal
dan visual menurut prosedur standar tertentu terhadap satu atau beberapa komponen
lingkungan dengan menggunakan satu atau beberapa parameter sebagai tolak ukur yang
dilakukan secara terencana, terjadwal, dan terkendali dalam satu siklus waktu tertentu yang
menekankan kegiatan pada sumber, ambient (lingkungan), pemaparan, dan dampak pada
manusia

Permasalahan
Belum terciptanya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan kebersihan
lingkungan terhadap peningkatan kualitas hidup khususnya pada daerah cakupan Puskesmas
Kramatwatu

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Program KESLING dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut :
- Inspeksi Sanitasi Rumah Sehat
- Inspeksi Sanitasi Sarana Air Minum Pedesaan
- Pengambilan dan Pemeriksaan Sampel Air dan Makanan
- Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
- Hygiene Sanitasi
- Penyuluhan Kesehatan Lingkungan
- Monitoring dan Pengawasan Kesehatan Lingkungan
- Monitoring Evaluasi Pasca Pemicuan
- Monitoring Evaluasi Pasca Hygiene Sanitasi
- Inspeksi Sanitasi TPM
- Inspeksi Sanitasi TTU
- Verifikasi Desa SBS
- Pembinaan TPM
- Pembinaan TTU
- Klinik Sanitasi

Pelaksanaan
Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 3 Maret 2020 di Tempat Pengelolaan Makanan RM
Tahu Sumedang TOP, Kramatwatu. Kegiatan ini merupakan bagian dari inspeksi sanitasi pada
bagian Tempat Pengelolaan Makanan yang secara rutin dilaksanakan. Aspek yang diperhatikan
adalah kebersihan selama proses pengelolaan makanan, tempat pembuangan dan
pengelolaan limbah, serta mandi cuci kakus.

Monitoring & Evaluasi


Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sewaktu – waktu.

4. Edukasi Mengenai Pentingnya Kebersihan Sanitasi dalam Upaya Pemberantasan Penyakit


Menular di Desa Harjatani

Latar Belakang
Kondisi atau keadaan lingkungan merupakan faktor penentu utama derajat kesehatan
masyarakat dalam suatu proses pengamatan, penyuluhan, pendokumentasian secara verbal
dan visual menurut prosedur standar tertentu terhadap satu atau beberapa komponen
lingkungan dengan menggunakan satu atau beberapa parameter sebagai tolak ukur yang
dilakukan secara terencana, terjadwal, dan terkendali dalam satu siklus waktu tertentu yang
menekankan kegiatan pada sumber, ambient (lingkungan), pemaparan, dan dampak pada
manusia.

Penyakit menular (communicable disease) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
mikroorganisme, seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur, dan dapat berpindah ke orang lain
yang sehat. Beberapa penyakit menular yang umum di Indonesia dapat dicegah melalui
pemberian vaksinasi serta pola hidup bersih dan sehat.

Permasalahan
Belum terciptanya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan kebersihan
lingkungan terhadap peningkatan kualitas hidup khususnya pada daerah cakupan Puskesmas
Kramatwatu

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Program KESLING dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut :
- Inspeksi Sanitasi Rumah Sehat
- Inspeksi Sanitasi Sarana Air Minum Pedesaan
- Pengambilan dan Pemeriksaan Sampel Air dan Makanan
- Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
- Hygiene Sanitasi
- Penyuluhan Kesehatan Lingkungan
- Monitoring dan Pengawasan Kesehatan Lingkungan
- Monitoring Evaluasi Pasca Pemicuan
- Monitoring Evaluasi Pasca Hygiene Sanitasi
- Inspeksi Sanitasi TPM
- Inspeksi Sanitasi TTU
- Verifikasi Desa SBS
- Pembinaan TPM
- Pembinaan TTU
- Klinik Sanitasi

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada hari 30 Januari 2020, di Desa Harjatani, oleh 2 dokter internship,
didampingi 1 bidan. Program kesehatan lingkungan dilakukan dengan cara skrining situasi
lingkungan di Desa Harjatani dilanjutkan dengan penyuluhan mengenai perlunya menjaga
kebersihan lingkungan untuk mencegah penyakit menular. Aspek yang diperhatikan adalah
kebersihan, mandi cuci kakus, sirkulasi udara, dan juga lokasi atau tempat yang rentan
menjadi sarang nyamuk.

Monitoring & Evaluasi


Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sewaktu – waktu
selama proses pendataan dengan survey di setiap Desa.

F3

1. Pelaksanaan KB pada saat Kegiatan Posyandu di Desa Toyomerto

Latar Belakang
Merencanakan keluarga sejahtera dengan mengatur jarak kehamilan dapat dimulai dengan
memilih dan menggunakan alat kontrasepsi yang tepat. Kontrasepsi adalah metode atau alat
yang digunakan untuk mencegah kehamilan. Ada berbagai jenis kontrasepsi, masing-masing
dengan manfaat dan kekurangannya masing-masing.

KB suntik merupakan jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Banyak
wanita memilih metode KB suntik karena praktis dan efektif dalam mencegah kehamilan.

Permasalahan
Masih rendahnya angka cakupan KB pada wanita usia produktif karena kurangnya kesadaran
masyarakat akan pentingnya Keluarga Berencana dalam mengatur jarak kelahiran antar anak.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Melakukan edukasi dan memberikan pelayanan KB utamanya KB suntik kepada wanita usia
produktif

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2020 di Posyandu Desa Toyomerto oleh 1
Dokter Internship didampingi oleh 1 bidan. Selanjutnya kami melakukan edukasi dan
memberikan pelayanan KB utamanya KB suntik kepada wanita usia produktif

Monitoring & Evaluasi


Masih didapatkan beberapa wanita usia produktif yang telah berkeluarga namun belum
menggunakan KB

Kader - kader desa terpilih bersama dengan bidan desa harus tetap berupaya aktif untuk
mengajak warga khususnya wanita usia produktif untuk menggunakan KB

2. Penjaringan Untuk Mendeteksi Keterlambatan Perkembangan Anak di PAUD Pelangi


Kramatwatu

Latar Belakang
Seorang anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan di hanya satu ranah
perkembangan saja, atau dapat pula di lebih dari satu ranah perkembangan. Keterlambatan
perkembangan umum atau global developmental delay merupakan keadaan keterlambatan
perkembangan yang bermakna pada dua atau lebih ranah perkembangan. Secara garis besar,
ranah perkembangan anak terdiri atas motor kasar, motor halus, bahasa / bicara, dan
personal sosial / kemandirian. Sekitar 5 hingga 10% anak diperkirakan mengalami
keterlambatan perkembangan.

Secara umum, orang tua sebaiknya mengenal tanda bahaya (red flags) perkembangan anak
yang sederhana seperti yang tercantum di bawah ini. Jika orang tua menemukan salah satu
tanda bahaya di bawah ini, sebaiknya jangan menunda dan segeralah memeriksakan buah
hatinya ke tenaga kesehatan terdekat.

Tanda bahaya perkembangan motor kasar


Gerakan yang asimetris atau tidak seimbang misalnya antara anggota tubuh bagian kiri dan
kanan.
Menetapnya refleks primitif (refleks yang muncul saat bayi) hingga lebih dari usia 6 bulan
Hiper / hipotonia atau gangguan tonus otot
Hiper / hiporefleksia atau gangguan refleks tubuh
Adanya gerakan yang tidak terkontrol

Tanda bahaya gangguan motor halus


Bayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan
Adanya dominasi satu tangan (handedness) sebelum usia 1 tahun
Eksplorasi oral (seperti memasukkan mainan ke dalam mulut) masih sangat dominan setelah
usia 14 bulan
Perhatian penglihatan yang inkonsisten

Tanda bahaya bicara dan bahasa (ekspresif)


Kurangnya kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan terhadap suatu benda
pada usia 20 bulan
Ketidakmampuan membuat frase yang bermakna setelah 24 bulan
Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan

Tanda bahaya bicara dan bahasa (reseptif)


Perhatian atau respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi, misalnya saat
dipanggil tidak selalu member respons
Kurangnya join attention atau kemampuan berbagi perhatian atau ketertarikan dengan orang
lain pada usia 20 bulan
Sering mengulang ucapan orang lain (membeo) setelah usia 30 bulan

Tanda bahaya gangguan sosio-emosional


6 bulan: jarang senyum atau ekspresi kesenangan lain
9 bulan: kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah
12 bulan: tidak merespon panggilan namanya
15 bulan: belum ada kata
18 bulan: tidak bisa bermain pura-pura
24 bulan: belum ada gabungan 2 kata yang berarti
Segala usia: tidak adanya babbling, bicara dan kemampuan bersosialisasi / interaksi

Tanda bahaya gangguan kognitif


2 bulan: kurangnya fixation
4 bulan: kurangnya kemampuan mata mengikuti gerak benda
6 bulan: belum berespons atau mencari sumber suara
9 bulan: belum babbling seperti mama, baba
24 bulan: belum ada kata berarti
36 bulan: belum dapat merangkai 3 kata

Permasalahan
Seringkali orang tua tidak menyadari ketika buah hatinya mengalami keterlambatan
perkembangan. Perkembangan setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kecepatan
pencapaian perkembangan tiap anak berbeda. Untuk itu, orang tua perlu mengenal tanda
bahaya (red flag) perkembangan anak.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Melakukan skrining perkembangan anak dengan menggunakan metode KPSP (Kuesioner Pra
Skrining Perkembangan)

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2020 oleh 1 Dokter Internship didampingi oleh 1
bidan. Selanjutnya kami melakukan skrining perkembangan anak untuk mendeteksi
keterlambatan perkembangan.

Monitoring & Evaluasi


Semua anak tidak ada yang mengalami keterlambatan perkembangan
Memberikan edukasi baik kepada pengajar PAUD maupun orang tua mengenai pentingnya
mendeteksi keterlambatan perkembangan anak sedini mungkin agar dapat diterapi dengan
optimal sehingga anak dapat kembali tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya

3. Melaksanakan Imunisasi pada Balita di Posyandu Tonjong

Latar Belakang
Upaya imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956, Upaya ini merupakan upaya
kesehatan masyarakat yang terbukti paling low cost. Dengan upaya imunisasi terbukti bahwa
penyakit cacar telah terbasmi dan Indonesia telah dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak
tahun 1974.

Mulai tahun 1977 upaya imunisasi di perluas menjadi program pengembangan imunisasi
dalam rangka pencegahan penularan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(PD31) yaitu : TBC, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B.

Penyakit lain yang sudah dapat ditekan sehingga perlu di tingkatkan program nya adalah
tetanus maternal dan neonatal serta campak. Untuk campak telah di kembangkan upaya
eliminasi tetanus maternal dan neonatal (MNTE). Sedangkan terhadap campak di kembangkan
upaya reduksi campak (RECAM) ERAPO, MNTE dan RECAM juga merupakan komitmen global
dan wajib diikuti oleh semua Negara, disamping itu dunia juga menaruh perhatian terhadap
mutu pelayanan dengan menetapkan standar pemberian suntikan yang aman (SAFE
INJECTION PRACTICES) bagi penerima suntikan yang di kaitkan dengan pengelolaan limbah
medis tajam yang aman (SAVE WASTE DISPOSAL MANAGEMENT) bagi petugas maupun
lingkungan.

Permasalahan
Kurangnya kesadaran masyarakat khususnya ibu hamil maupun ibu yang memiliki anak balita
mengenai ANC dan imunisasi wajib

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Melakukan imunisasi dasar wajib kepada balita dan konseling kepada ibu hamil

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 9 Maret 2020 oleh 1 Dokter Internship didampingi oleh 1
bidan. Selanjutnya kami melakukan imunisasi rutin, pemeriksaan kehamilan pada ibu hamil,
dan memberikan kelas ibu.

Monitoring & Evaluasi


Masih didapatkan beberapa ibu hamil yang tidak rutin melakukan pemeriksaan kehamilan dan
beberapa balita yang tidak hadir untuk melakukan imunisasi rutin.

Kader - kader terpilih bersama bidan desa harus tetap berupaya aktif untuk mengajak warga
khususnya ibu hamil untuk melakukan ANC dan balita untuk melaksanakan imunisasi.

4. Memberikan Kelas Ibu Hamil saat Posyandi di Desa Serdang


Latar Belakang
Pemeriksaan kehamilan merupakan agenda wajib yang harus dilakukan oleh seorang ibu
hamil. Dengan pemeriksaan yang rutin, dokter bisa memantau kondisi kesehatan Anda dan
bayi dalam kandungan.

Pemeriksaan kehamilan terdiri dari perawatan kesehatan prenatal (sebelum melahirkan) dan
postpartum (setelah melahirkan). Tujuan pemeriksaan kehamilan adalah untuk memastikan
kehamilan yang sehat dan persalinan yang aman, baik untuk ibu maupun bayi.

Inisiasi menyusui dini adalah langkah penting untuk memudahkan bayi dalam memulai proses
menyusui. Bayi baru lahir yang diletakkan pada dada atau perut sang ibu, secara alami dapat
mencari sendiri sumber air susu ibu (ASI) dan menyusu. Proses penting inilah yang disebut
inisiasi menyusui dini (IMD).

Manfaat ASI telah terbukti berperan penting sebagai sumber makanan utama dan membantu
memperkuat sistem kekebalan bayi baru lahir untuk melindunginya dari berbagai penyakit.
Proses menyusui ini sebenarnya dapat dimulai dan dikuatkan dengan inisiasi menyusui dini.

Berbagai manfaat inisiasi menyusui dini bagi ibu dan bayi, antara lain:
1. Meningkatkan kesempatan bayi memperoleh kolostrum
Kolostrum adalah tetes ASI pertama ibu yang kaya nutrisi dan membantu mencegah penyakit.
Cairan pertama dari ASI ini biasanya berwarna kuning, sangat kental dan hanya sebanyak kira-
kira satu sendok teh.
2. Mendukung keberhasilan ASI eksklusif
Inisiasi menyusui dini diketahui menunjang keberhasilan ASI eksklusif hingga setidaknya bayi
berusia 4 bulan. Pemberian ASI eksklusif dianjurkan hingga bayi berusia 6 bulan, namun boleh
dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun.
3. Memperkuat hubungan ibu dan bayi
Bukti menunjukkan bahwa kulit bayi yang bersentuhan langsung dengan kulit ibunya (skin-to-
skin contact) segera setelah lahir, dapat menciptakan keintiman yang lebih dalam dengan
sang ibu. Lebih jauh, kulit tubuh bayi yang bersentuhan langsung dengan kulit tubuh ibunya
merupakan cara efektif untuk menenangkan bayi sakit, yang dapat dilakukan kapan saja. Hal
ini juga membuat sang ibu lebih nyaman.
4. Meningkatkan kesehatan bayi
Inisiasi menyusui dini dapat mengurangi angka kematian bayi baru lahir. Selain itu, dapat
meningkatkan kesehatan, tumbuh kembang, dan membantu membangun daya tahan tubuh
bayi. Kemudian, ASI juga sangat baik untuk kesehatan sistem pencernaan bayi.

Permasalahan
Kurangnya kesadaran masyarakat khususnya ibu hamil tentang pentingnya inisiasi menyusui
dini pada saat proses persalinan berlangsung.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Melakukan kelas ibu hamil dan memberikan edukasi mengenai pentingnya inisiasi menyusui
dini bagi bayi baru lahir

Pelaksanaan
Posyandu diadakan di rumah khusus untuk pelayanan Posyandu di Desa Serdang. Setelah itu
dilakukan pemeriksaan ANC kepada para ibu hamil di Desa Serdang, serta pemberian obat
bagi yang membutuhkan dan edukasi mengenai persiapan persalinan.

Kelas Ibu diadakan dengan tema kesehatan selama masa kehamilan dan pentingnya inisiasi
menyusui dini pada saat proses persalinan, diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan proses inisiasi menyusui dini dijalankan
dalam satu jam pertama sejak bayi lahir. Caranya adalah dengan menempatkan bayi di dada
ibunya segera setelah sang bayi keluar dari jalan lahir. Bayi ini kemudian akan secara alami,
tanpa dibantu, mencari puting ibunya untuk menyesap ASI. Ibu yang melahirkan normal dan
kondisi bayi yang sehat setelah lahir menjadikan hal ini bisa segera dilakukan setelah
melahirkan.

Monitoring & Evaluasi


Setelah pemaparan materi selesai, pemateri memberikan kuis bagi audiens mengenai materi
yang telah disajikan sebelumnya. Bagi audiens yang dapat menjawab diberikan sedikit
bingkisan untuk memeriahkan acara sekaligus memompa semangat audiens yang lain untuk
ikut menjawab. Semua pertanyaan yang dilemparkan kepada audiens bisa dijawab seluruhnya.
Menandakan bahwa materi yang disampaikan dapat dicerna dengan baik oleh audiens.

Selanjutnya yang perlu dilakukan ialah bagaimana pengetahuan yang telah didapatkan mampu
untuk diaplikasikan. Sehingga dalam setiap kunjungan posyandu dapat ditanyakan kembali
materi yang sebelumnya telah dikuasai dan menanyakan aplikasinya. Dalam waktu jangka
panjang kegiatan ini diharapkan dapat membantu setiap audiens untuk dapat menerapkan
inisiasi menyusui dini pada setiap proses persalinan.

Pada akhirnya, inisiasi menyusui dini dapat berhasil diterapkan jika ibu yang menjalani proses
persalinan telah siap secara fisik dan mental. Proses ini juga hanya akan berhasil jika sang ibu
percaya diri dan didukung penuh oleh semua pihak di sekitarnya, terutama rumah sakit,
dokter yang membantu proses persalinan, dan keluarga.

5. Melakukan Kunjungan Rumah Kepada Ibu Hamil G12P10A1 Risiko Tinggi di Desa Tonjong

Latar Belakang
Pemeriksaan kehamilan merupakan agenda wajib yang harus dilakukan oleh seorang ibu
hamil. Dengan pemeriksaan yang rutin, dokter bisa memantau kondisi kesehatan Anda dan
bayi dalam kandungan.

Pemeriksaan kehamilan terdiri dari perawatan kesehatan prenatal (sebelum melahirkan) dan
postpartum (setelah melahirkan). Tujuan pemeriksaan kehamilan adalah untuk memastikan
kehamilan yang sehat dan persalinan yang aman, baik untuk ibu maupun bayi.

Namun terdapat juga kemungkinan bahwa pasien diharuskan untuk lebih sering kontrol ke
dokter, yaitu jika memiliki risiko tinggi seperti:
- Hamil di atas usia 35 tahun.
- Jarak antar kehamilan terlalu dekat
- Berisiko melahirkan secara prematur.
- Mengalami komplikasi kehamilan.
- Memiliki riwayat penyakit, seperti asma, lupus, anemia, diabetes, tekanan darah tinggi, atau
obesitas.

Permasalahan
Kurangnya kesadaran masyarakat khususnya ibu hamil maupun ibu yang memiliki anak balita
mengenai ANC dan imunisasi wajib

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Melakukan imunisasi dasar wajib kepada balita dan konseling kepada ibu hamil terutama pada
saat kegiatan Posyandu Desa setiap bulannya

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 29 Februari 2020 bertempat di rumah pasien di Desa
Tonjong. Kegiatan dihadiri oleh dokter internship dan 2 orang bidan untuk melakukan
kunjungan rumah dan konseling mengenai kehamilan. Kami menekankan perlunya untuk
kontrol rutin mengenai kehamilan, terlebih lagi pasien termasuk ke dalam golongan kehamilan
berisiko tinggi.

Monitoring & Evaluasi


Masih didapatkan beberapa ibu hamil yang tidak rutin melakukan ANC ke layanan kesehatan.

Kader - kader terpilih bersama dengan bidan harus tetap berupaya aktif untuk mengajak
warga khususnya ibu hamil untuk melakukan ANC.

F4

1. Pemberian Obat Cacing di SDN Tonjong

Latar Belakang
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Upaya perbaikan status gizi
masyarakat akan memberikan kontribusi nyata bagi tercapainya tujuan pembangunan
nasional terutama dalam hal penurunan prevalensi gizi kurang pada balita serta Kurang
Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Pemberian suplementasi gizi merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan dalam
rangka mencukupi kekurangan kebutuhan gizi dari konsumsi makan harian yang berakibat
timbulnya masalah kesehatan gizi pada kelompok rawan gizi. Pada anak-anak, salah satu
penyebab terjadinya kurang gizi adalah penyakit cacingan.

Penyakit cacingan pada umumnya mengenai anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan
juga mengenai orang dewasa. Kebersihan yang tidak terjaga atau lingkungan yang kotor bisa
menjadi salah satu faktor yang dapat mempermudah penyebaran infeksi cacing.
Gejala-gejala penyakit cacingan kadang tampak samar. Gejala cacingan yang dikeluhkan bisa
berupa sakit perut, diare, mual, muntah, tidak nafsu makan, hingga penurunan berat badan.
Apabila tidak diobati dengan benar, penyakit cacingan dapat menyebabkan gangguan
kesehatan yang lebih berat, seperti anemia. Jika cacing mencapai organ tubuh lain, seperti
hati atau otak, maka dapat menimbulkan gangguan yang serius.

Permasalahan
Kurang energi dan Protein pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat
Indonesia. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah
dengan menjadikan tata laksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang
ditemukan.
Peningkatan surveillans dan juga pendistribusian langsung makanan tambahan ke warga
diharapkan dapat menurunkan angka gizi kurang ataupun gizi buruk.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali merupakan langkah yang efektif dalam
mencegah terjadinya infeksi cacing di dalam tubuh.

Selain itu cara efektif lain untuk mencegah penyakit cacingan yaitu dengan menjaga
kebersihan diri dan lingkungan, diantaranya:
- Menyimpan daging mentah dan ikan dengan baik, kemudian masak hingga matang.
- Mencuci buah dan sayur dengan benar sebelum dikonsumsi.
- Ganti pakaian dalam dan seprei setiap hari selama terinfeksi.
- Cuci pakaian tidur, seprei, pakaian dalam, dan handuk dengan air panas untuk membasmi
telur cacing.
- Hindari menggaruk daerah di sekitar anus yang gatal. Gunting kuku agar tidak ada tempat
untuk telur cacing. Jangan menggigit kuku.
- Cuci tangan secara teratur, terutama setelah buang air, mengganti popok bayi, sebelum
memasak dan sebelum makan.
- Hindari berjalan tanpa alas kaki dan menyentuh tanah atau pasir tanpa sarung tangan.

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2020 bertempat di SDN Tonjong Desa Tonjong
dengan dokter internship dan didampingi oleh bidan desa. Seluruh siswa/siswi mulai dari
kelas 1SD sampai dengan 6SD mendapatkan obat cacing dengan dosis menyesuaikan berat
badan anak. Selesai pemberian obat cacing dilanjutkan dengan edukasi pentingnya
meminum obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk mencegah penyakit cacingan.

Monitoring & Evaluasi


Bidan desa bekerja sama dengan pihak sekolah dan orang tua perlu memantau
perkembangan anak-anak mereka, termasuk juga mengingatkan perlunya minum obat
cacing setiap 6 bulan sekali untuk mencegah penyakit cacingan. Salah satu gejala yang
mudah ditemui oleh anak dengan cacingan ialah berat badan yang tidak naik, orang tua
perlu kesadaran dini untuk mendeteksi perkembangan anak sesuai dengan usianya.
Diharapkan ketika infeksi cacingan dapat dicegah dan teratasi, maka status gizi anak-anak
dapat dikategorikan sebagai gizi baik.

2. Penyuluhan Mengenai Makanan Gizi Seimbang di Posyandu Tonjong


Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk
kegiatan penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang
merugikan kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.

Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Upaya perbaikan status gizi
masyarakat akan memberikan kontribusi nyata bagi tercapainya tujuan pembangunan
nasional terutama dalam hal penurunan prevalensi gizi kurang pada balita serta Kurang
Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Pemberian suplementasi gizi merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan dalam
rangka mencukupi kekurangan kebutuhan gizi dari konsumsi makan harian yang berakibat
timbulnya masalah kesehatan gizi pada kelompok rawan gizi. Salah satu program
suplementasi yang saat ini dilaksanakan oleh pemerintah yaitu pemberian makanan
tambahan (PMT) pada ibu hamil. Makanan tambahan ibu hamil merupakan suplementasi gizi
berupa biscuit lapis yang dibuat dengan formulasi khusus dan di fortifikasi dengan vitamin
dan mineral yang diberikan kepada ibu hamil dengan kategori Kurang Energi Kronis (KEK)
untuk mencukupi kebutuhan gizi.

Permasalahan
Kurang energi dan Protein pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat
Indonesia. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah
dengan menjadikan tata laksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang
ditemukan.
Peningkatan surveillans dan juga pendistribusian langsung makanan tambahan ke warga
diharapkan dapat menurunkan angka gizi kurang ataupun gizi buruk.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


- Pendataan penderita gizi kurang ataupun gizi buruk
- Pendistribusian makanan tambahan ke kader
- Pemberian makanan tambahan kepada penderita gizi buruk dan gizi kurang
- Monitoring dan Evaluasi

Pelaksanaan
1. Kegiatan dilaksanakan oleh 1 dokter PIDI, 1 ahli gizi, dan 1 perawat
2. Persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan
3. Pelaksana kegiatan mengunjungi rumah penderita gizi kurang dan gizi buruk
4. Skrining keadaan sosial ekonomi dan lingkungan penderita gizi buruk dan gizi kurang
5. Pemberian makanan tambahan dan penyuluhan
6. Kegiatan selesai

Monitoring & Evaluasi


Selanjutnya yang perlu dilakukan ialah bagaimana pengetahuan yang telah didapatkan
mampu untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam setiap kunjungan
posyandu dapat ditanyakan kembali materi yang sebelumnya telah dikuasai dan
menanyakan aplikasinya. Dalam hal ini perlu kerjasama antara ahli gizi, bidan desa, dan
kader desa untuk memantau perkembangan dan terapi yang telah diberikan.

Dalam waktu jangka panjang kegiatan ini diharapkan dapat membantu setiap audiens
memiliki badan sehat dengan gizi yang seimbang. Sehingga masalah kesehatan yang
berkaitan dengan nutrisi seperti anemia, stunting, dll dapat dicegah dan menurunkan
prevalensi kasus tersebut.

3. Kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri di SMPN 1 Kramatwatu

Latar Belakang
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Upaya perbaikan status gizi
masyarakat akan memberikan kontribusi nyata bagi tercapainya tujuan pembangunan
nasional terutama dalam hal penurunan prevalensi gizi kurang pada balita serta Kurang
Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Pemberian suplementasi gizi merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan dalam
rangka mencukupi kekurangan kebutuhan gizi dari konsumsi makan harian yang berakibat
timbulnya masalah kesehatan gizi pada kelompok rawan gizi. Salah satu program
suplementasi yang saat ini dilaksanakan oleh pemerintah yaitu pemberian makanan
tambahan (PMT) pada ibu hamil. Makanan tambahan ibu hamil merupakan suplementasi
gizi berupa biscuit lapis yang dibuat dengan formulasi khusus dan di fortifikasi dengan
vitamin dan mineral yang diberikan kepada ibu hamil dengan kategori Kurang Energi Kronis
(KEK) untuk mencukupi kebutuhan gizi.

Kurang darah atau anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang
sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, organ tubuh tidak
mendapat cukup oksigen, sehingga membuat penderita anemia pucat dan mudah lelah.
Anemia dapat terjadi sementara atau dalam jangka panjang, dengan tingkat keparahan yang
bisa ringan sampai berat. Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin (bagian utama dari sel
darah merah yang mengikat oksigen) berada di bawah normal.

Remaja putri termasuk yang paling rentan terkena anemia dikarenakan kebutuhan akan zat
besi yang tinggi untuk pertumbuhan ditambah dengan kehilangan darah menstruasi
membuat remaja putri termasuk populasi yang paling sering didapatkan anemia.

Permasalahan
Kurang energi dan Protein pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat
Indonesia. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah
dengan menjadikan tata laksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang
ditemukan.
Peningkatan surveillans dan juga pendistribusian langsung makanan tambahan ke warga
diharapkan dapat menurunkan angka gizi kurang ataupun gizi buruk.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penyuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan

3.Tahap sesudah pelaksanaan


Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Kegiatan dilakukan di SMPN 1 Kramatwatu dengan target seluruh siswi perempuan untuk
kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah dan seluruh siswa/siswi SMPN 1 Kramatwatu
untuk kegiatan Penyuluhan Edukasi Berhenti Merokok.

Kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah bekerja sama dengan siswi yang tergabung
dalam Palang Merah Remaja SMPN 1 Kramatwatu dan mengadakan drama mengenai
Anemia. Selesai kegiatan drama, perwakilan puskesmas mengadakan edukasi pentingnya
konsumsi Tablet Tambah Darah pada remaja putri untuk mencegah Anemia. Kemudian
dilanjutkan dengan pembagian Tablet Tambah Darah kepada seluruh remaja putri SMPN 1
Kramatwatu dan langsung meminum suplemen tersebut secara bersamaan.

Monitoring & Evaluasi


Perwakilan puskesmas terus berkomunikasi dengan pihak sekolah mengenai isu-isu
kesehatan yang relevan untuk diberikan kepada siswa/siswi SMPN 1 Kramatwatu. Kegiatan
penyuluhan ini akan terus dilaksanakan secara rutin dan dilakukan evaluasi berupa feedback
dari masing-masing institusi untuk dapat terus berkolaborasi menciptakan generasi yang
menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

4. Kunjungan Rumah Ibu Hamil Anemia di Desa Margagiri

Latar Belakang
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Upaya perbaikan status gizi
masyarakat akan memberikan kontribusi nyata bagi tercapainya tujuan pembangunan
nasional terutama dalam hal penurunan prevalensi gizi kurang pada balita serta Kurang
Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Pemberian suplementasi gizi merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan dalam
rangka mencukupi kekurangan kebutuhan gizi dari konsumsi makan harian yang berakibat
timbulnya masalah kesehatan gizi pada kelompok rawan gizi. Salah satu program
suplementasi yang saat ini dilaksanakan oleh pemerintah yaitu pemberian makanan
tambahan (PMT) pada ibu hamil. Makanan tambahan ibu hamil merupakan suplementasi
gizi berupa biscuit lapis yang dibuat dengan formulasi khusus dan di fortifikasi dengan
vitamin dan mineral yang diberikan kepada ibu hamil dengan kategori Kurang Energi Kronis
(KEK) untuk mencukupi kebutuhan gizi.

Permasalahan
Kurang energi dan Protein pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat
Indonesia. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah
dengan menjadikan tata laksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang
ditemukan.
Peningkatan surveillans dan juga pendistribusian langsung makanan tambahan ke warga
diharapkan dapat menurunkan angka gizi kurang ataupun gizi buruk.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


- Pendataan penderita gizi kurang ataupun gizi buruk
- Pendistribusian makanan tambahan ke kader
- Pemberian makanan tambahan kepada penderita gizi buruk dan gizi kurang
- Monitoring dan Evaluasi

Pelaksanaan
1. Kegiatan dilaksanakan oleh 1 dokter PIDI, 1 ahli gizi, dan 1 bidan desa
2. Persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan
3. Pelaksana kegiatan mengunjungi rumah penderita gizi kurang dan gizi buruk
4. Skrining keadaan sosial ekonomi dan lingkungan penderita gizi buruk dan gizi kurang
5. Pemberian makanan tambahan dan penyuluhan
6. Kegiatan selesai

Monitoring & Evaluasi


Ahli gizi bekerja sama dengan bidan desa dan kader desa sewaktu-waktu akan meninjau
ulang untuk memastikan program terus dijalankan sehingga hasil yang diharapkan menjadi
optimal.

5. Kunjungan Rumah Balita dengan Gizi Kurang dan Anemia di Desa Margatani

Latar Belakang
Gizi memegang peranan penting dalam siklus hidup manusia. Upaya perbaikan status gizi
masyarakat akan memberikan kontribusi nyata bagi tercapainya tujuan pembangunan
nasional terutama dalam hal penurunan prevalensi gizi kurang pada balita serta Kurang
Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Pemberian suplementasi gizi merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan dalam
rangka mencukupi kekurangan kebutuhan gizi dari konsumsi makan harian yang berakibat
timbulnya masalah kesehatan gizi pada kelompok rawan gizi. Salah satu program
suplementasi yang saat ini dilaksanakan oleh pemerintah yaitu pemberian makanan
tambahan (PMT) pada ibu hamil. Makanan tambahan ibu hamil merupakan suplementasi
gizi berupa biscuit lapis yang dibuat dengan formulasi khusus dan di fortifikasi dengan
vitamin dan mineral yang diberikan kepada ibu hamil dengan kategori Kurang Energi Kronis
(KEK) untuk mencukupi kebutuhan gizi.

Permasalahan
Kurang energi dan Protein pada anak masih menjadi masalah gizi dan kesehatan masyarakat
Indonesia. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah
dengan menjadikan tata laksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang
ditemukan.
Peningkatan surveillans dan juga pendistribusian langsung makanan tambahan ke warga
diharapkan dapat menurunkan angka gizi kurang ataupun gizi buruk.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


- Pendataan penderita gizi kurang ataupun gizi buruk
- Pendistribusian makanan tambahan ke kader
- Pemberian makanan tambahan kepada penderita gizi buruk dan gizi kurang
- Monitoring dan Evaluasi

Pelaksanaan
1. Kegiatan dilaksanakan oleh 1 dokter PIDI, 1 ahli gizi, dan 1 bidan desa
2. Persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan
3. Pelaksana kegiatan mengunjungi rumah penderita gizi kurang dan gizi buruk
4. Skrining keadaan sosial ekonomi dan lingkungan penderita gizi buruk dan gizi kurang
5. Pemberian makanan tambahan dan penyuluhan
6. Kegiatan selesai

Monitoring & Evaluasi


Ahli gizi bekerja sama dengan bidan desa dan kader desa sewaktu-waktu akan meninjau
ulang untuk memastikan program terus dijalankan sehingga hasil yang diharapkan menjadi
optimal.

F5

1. Penyuluhan Dalam Gedung Mengenai COVID-19 di Puskesmas Kramatwatu

Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk
kegiatan penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang
merugikan kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah
virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19.
Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru
yang berat, hingga kematian.

Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui berbagai cara, yaitu:


- Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19
batuk atau bersin
- Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah menyentuh
benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-19
- Kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19

Permasalahan
Persamaan pemahaman dan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan
kelompok isu aktual program kesehatan sebagai upaya pernyebarluasan informasi
kesehatan. Meningkatkan pengetahuan mengenai keehatan yang lebih baik sehingga derajat
kesehatan masyarakat meningkat sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Sesuai dengan visi
dan misi Puskesmas Kramatwatu yaitu melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai dengan kondisi, situasi dan kebutuhan
masyarakat setempat serta dukungan dari tiap-tiap program yang ada di puskesmas
misalnya program gizi dan lintas sektor dari koramil atau polisi untuk menciptakan
lingkungan yang aman dan juga menggerakkan masyarakan untuk berperan aktif.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Penyuluhan dapat dikelompokkan dalam proses belajar satu arah (didaktitik) dan dua arah
(sokratik)
Tahapan pelaksanaan kegiatan :
1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan

3.Tahap sesudah pelaksanaan


Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan di halaman tunggu pasien Puskesmas Kramatwatu. Tema
ini diambil berkaitan dengan kejadian pandemi Covid-19 di seluruh dunia, tak terkecuali
sudah memasuki Indonesia. Kami melakukan penyuluhan dengan cara mengumpulkan
audiens dalam hal ini pasien-pasien yang sedang berobat jalan di Puskesmas Kramatwatu
sembari menunggu antrian untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Penyuluhan dimulai dengan memberikan latar belakang mengapa Covid-19 bisa mewabah
dan berubah statusnya menjadi pandemi. Kami juga menjelaskan perjalanan serta
bagaimana penularan penyakit nya. Hingga akhirnya kami memberikan rekomendasi/saran
yang bisa dilakukan oleh masing-masing orang untuk menjaga diri dari tertularnya virus
Covid-19.

Sebelum acara diakhiri, kami memberikan kesempatan kepada audiens untuk bertanya
seputar penyakit Covid-19 ini. Banyak dari antara audiens yang menyimak dengan seksama
terlihat dari kontak mata dan perhatian yang adekuat pada saat presentan memberikan
penyuluhan. Penyuluhan berlangsung sekitar 20 menit, dengan audiens yang hadir
berjumlah sekitar 50 orang.

Monitoring & Evaluasi


Kegiatan penyuluhan Covid-19 ini dapat diulang beberapa kali hingga sebagian orang
khususnya yang telah datang ke Puskesmas dan mendapatkan penyuluhan mengerti
bagaimana caranya menjaga diri agar terhindar dari Covid-19. Mereka yang telah
mendapatkan penyuluhan dapat membagikan ilmunya kepada orang lain sehingga kita
bersama-sama dapat mencegah virus Covid-19.

Evaluasi pasca penyuluhan:


- Masyarakat mengerti bagaimana menjaga diri agar terhindar dari virus Covid-19
- Angka kunjungan berobat jalan ke puskesmas lebih sedikit dikarenakan masyarakat sadar
betul bahwa puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan dan titik keramaian dapat
menjadi sumber potensial untuk menularkan virus. Sehingga masyarakat tidak terburu-buru
untuk membawa pasien sakit ke puskesmas.

2. Pemberian Obat Cacing di SDN Tonjong

Latar Belakang
Penyakit cacingan pada umumnya mengenai anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan
juga mengenai orang dewasa. Kebersihan yang tidak terjaga atau lingkungan yang kotor bisa
menjadi salah satu faktor yang dapat mempermudah penyebaran infeksi cacing.

Gejala-gejala penyakit cacingan kadang tampak samar. Gejala cacingan yang dikeluhkan bisa
berupa sakit perut, diare, mual, muntah, tidak nafsu makan, hingga penurunan berat badan.
Apabila tidak diobati dengan benar, penyakit cacingan dapat menyebabkan gangguan
kesehatan yang lebih berat, seperti anemia. Jika cacing mencapai organ tubuh lain, seperti
hati atau otak, maka dapat menimbulkan gangguan yang serius.
Permasalahan
Belum terpenuhinya cakupan bagi anak-anak dibawah usia 12 tahun untuk mendapatkan
obat cacing sebagai terapi preventif cacingan di dalam tubuh.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali merupakan langkah yang efektif dalam
mencegah terjadinya infeksi cacing di dalam tubuh.

Selain itu cara efektif lain untuk mencegah penyakit cacingan yaitu dengan menjaga
kebersihan diri dan lingkungan, diantaranya:
- Menyimpan daging mentah dan ikan dengan baik, kemudian masak hingga matang.
- Mencuci buah dan sayur dengan benar sebelum dikonsumsi.
- Ganti pakaian dalam dan seprei setiap hari selama terinfeksi.
- Cuci pakaian tidur, seprei, pakaian dalam, dan handuk dengan air panas untuk membasmi
telur cacing.
- Hindari menggaruk daerah di sekitar anus yang gatal. Gunting kuku agar tidak ada tempat
untuk telur cacing. Jangan menggigit kuku.
- Cuci tangan secara teratur, terutama setelah buang air, mengganti popok bayi, sebelum
memasak dan sebelum makan.
- Hindari berjalan tanpa alas kaki dan menyentuh tanah atau pasir tanpa sarung tangan.

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2020 bertempat di SDN Tonjong Desa Tonjong
dengan dokter internship dan didampingi oleh bidan desa. Seluruh siswa/siswi mulai dari
kelas 1SD sampai dengan 6SD mendapatkan obat cacing dengan dosis menyesuaikan berat
badan anak. Selesai pemberian obat cacing dilanjutkan dengan edukasi pentingnya
meminum obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk mencegah penyakit cacingan.

Monitoring & Evaluasi


Bidan desa bekerja sama dengan pihak sekolah dan orang tua perlu memantau
perkembangan anak-anak mereka, termasuk juga mengingatkan perlunya minum obat
cacing setiap 6 bulan sekali untuk mencegah penyakit cacingan. Salah satu gejala yang
mudah ditemui oleh anak dengan cacingan ialah berat badan yang tidak naik, orang tua
perlu kesadaran dini untuk mendeteksi perkembangan anak sesuai dengan usianya.
Diharapkan ketika infeksi cacingan dapat dicegah dan teratasi, maka status gizi anak-anak
dapat dikategorikan sebagai gizi baik.

3. Kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah dan Edukasi Upaya Berhenti Merokok di SMPN 1
Kramatwatu

Latar Belakang
Penyuluhan/promosi kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu
dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan. Dengan kata lain pendekatan melalui aspek pendidikan termasuk
kegiatan penyuluhan kesehatan, yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat yang
merugikan kesehatan untuk searah dengan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kurang darah atau anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang
sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, organ tubuh tidak
mendapat cukup oksigen, sehingga membuat penderita anemia pucat dan mudah lelah.
Anemia dapat terjadi sementara atau dalam jangka panjang, dengan tingkat keparahan yang
bisa ringan sampai berat. Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin (bagian utama dari sel
darah merah yang mengikat oksigen) berada di bawah normal.

Remaja putri termasuk yang paling rentan terkena anemia dikarenakan kebutuhan akan zat
besi yang tinggi untuk pertumbuhan ditambah dengan kehilangan darah menstruasi
membuat remaja putri termasuk populasi yang paling sering didapatkan anemia.

Permasalahan
Persamaan pemahaman dan kesepakatan dalam pelaksanaan kegiatan penyuluhan
kelompok isu aktual program kesehatan sebagai upaya pernyebarluasan informasi
kesehatan. Meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan yang lebih baik sehingga
derajat kesehatan masyarakat meningkat sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Sesuai
dengan visi dan misi Puskesmas Kramatwatu yaitu melakukan upaya pemberdayaan
masyarakat melalui pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai dengan kondisi, situasi
dan kebutuhan masyarakat setempat serta dukungan dari tiap-tiap program yang ada di
puskesmas misalnya program gizi dan lintas sektor dari koramil atau polisi untuk
menciptakan lingkungan yang aman dan juga menggerakkan masyarakan untuk berperan
aktif.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Penyuluhan dapat dikelompokkan dalam proses belajar satu arah (didaktitik) dan dua arah
(sokratik)

Tahapan pelaksanaan kegiatan :


1. Tahap persiapan
a. Mengundang peserta
b. Menetapkan waktu diskusi kelompok
c. Menentukan tempat diskusi kelompok
d. Pembagian tugas tim penyuluh
e. Persiapan materi belajar

2. Langkah- langkah dalam penyuluhan kelompok


a. Mengkaji kebutuhan kesehatan masyarakat
b. Menetapkan masalah kesehatan masyarakat
c. Memprioritaskan masalah yang terlebih dahulu ditanganu melalui penyuluhan kesehatan
kelompok
d. Menyusun perencanaan penyuluhan
• Menetapkan tujuan
• Penentuan sasaran
• Menyusun materi/isi penuluhan
• Memilih metode yang tepat
• Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
• Penentuan kriteria evaluasi
e. Pelaksanaan penyuluhan
f. Penilaian hasil penyuluhan

3. Tahap sesudah pelaksanaan


Mencatat hasil kegiatan

Pelaksanaan
Kegiatan dilakukan di SMPN 1 Kramatwatu dengan target seluruh siswi perempuan untuk
kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah dan seluruh siswa/siswi SMPN 1 Kramatwatu
untuk kegiatan Penyuluhan Edukasi Berhenti Merokok.

Kegiatan Penyuluhan Tablet Tambah Darah bekerja sama dengan siswi yang tergabung
dalam Palang Merah Remaja SMPN 1 Kramatwatu dan mengadakan drama mengenai
Anemia. Selesai kegiatan drama, perwakilan puskesmas mengadakan edukasi pentingnya
konsumsi Tablet Tambah Darah pada remaja putri untuk mencegah Anemia. Kemudian
dilanjutkan dengan pembagian Tablet Tambah Darah kepada seluruh remaja putri SMPN 1
Kramatwatu dan langsung meminum suplemen tersebut secara bersamaan.

Kegiatan dilanjutkan dengan Penyuluhan mengenai Edukasi Berhenti Merokok untuk seluruh
siswa/siswi di SMPN 1 Kramatwatu. Kegiatan dilakukan di aula yang besar dikarenakan
jumlah siswa/siswi yang mencapai 400 orang lebih. Kegiatan diawali dengan yel-yel sekolah
dan puskesmas untuk mengambil fokus perhatian siswa/siswi. Kegiatan utama berupa
penyuluhan Edukasi Berhenti Merokok dengan menggunakan media laptop dan proyektor
sehingga seluruh audiens dapat melihat bahan presentasi secara langsung. Kegiatan juga
diselingi dengan sesi tanya jawab dan pemberian hadiah berupa snack bagi siswa/siswi yang
berhasil menjawab pertanyaan dari penyuluh.

Kegiatan ini melibatkan para civitas akademika sekolah termasuk kepala sekolah, guru, wali
kelas, dan seluruh siswa/siswi SMPN 1 Kramatwatu. Kegiatan ditutup dengan berfoto
bersama.

Monitoring & Evaluasi


Perwakilan puskesmas terus berkomunikasi dengan pihak sekolah mengenai isu-isu
kesehatan yang relevan untuk diberikan kepada siswa/siswi SMPN 1 Kramatwatu. Kegiatan
penyuluhan ini akan terus dilaksanakan secara rutin dan dilakukan evaluasi berupa feedback
dari masing-masing institusi untuk dapat terus berkolaborasi menciptakan generasi yang
menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

F6

1. PISPK pada Balita dengan Gizi Kurang dan Anemia di Desa Margatani

Latar Belakang
Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari Agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu
Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia. Program ini didukung oleh program sektoral
lainnya yaitu Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Kerja, dan Program Indonesia
Sejahtera. Program Indonesia Sehat selanjutnya menjadi program utama Pembangunan
Kesehatan yang kemudian direncanakan pencapaiannya melalui Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri
Kesehatan R.I. Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015.

Sasaran dari Program Indonesia Sehat adalah meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi
masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan
perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan. Sasaran ini sesuai dengan
sasaran pokok RPJMN 2015-2019, yaitu: (1) meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan
anak, (2) meningkatnya pengendalian penyakit, (3) meningkatnya akses dan mutu pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan, (4)
meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu Indonesia Sehat dan
kualitas pengelolaan SJSN kesehatan, (5) terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan
vaksin, serta (6) meningkatnya responsivitas sistem kesehatan.

Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakkan tiga pilar utama, yaitu: (1)
penerapan paradigma sehat, (2) penguatan pelayanan kesehatan, dan (3) pelaksanaan
jaminan kesehatan nasional (JKN). Penerapan paradigma sehat dilakukan dengan strategi
pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan upaya promotif dan preventif,
serta pemberdayaan masyarakat. Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi
peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mutu
menggunakan pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis risiko kesehatan.
Sedangkan pelaksanaan JKN dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan manfaat
(benefit), serta kendali mutu dan biaya. Kesemuanya itu ditujukan kepada tercapainya
keluarga-keluarga sehat.

Permasalahan
Masih belum tercapainya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat yang adekuat,
sehingga diperlukan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga yang merupakan
unit terkecil dalam tatanan kehidupan bernegara.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


- Pendataan permasalahan kesehatan dalam keluarga termasuk penderita gizi kurang ataupun
gizi buruk
- Pemeriksaan kesehatan dasar kepada setiap anggota keluarga
- Pendistribusian makanan tambahan ke kader
- Pemberian makanan tambahan kepada penderita gizi buruk ataupun gizi kurang
- Monitoring dan Evaluasi

Pelaksanaan
1. Kegiatan dilaksanakan oleh 1 dokter PIDI, 1 ahli gizi, dan 1 bidan desa
2. Persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan
3. Pelaksana kegiatan mengunjungi rumah yang sebelumnya sudah diassessment oleh bidan
desa memiliki masalah kesehatan maupun gizi kurang atau gizi buruk
4. Skrining keadaan sosial ekonomi dan lingkungan penderita
5. Pemberian makanan tambahan dan penyuluhan
6. Kegiatan selesai

Monitoring & Evaluasi


Ahli gizi bekerja sama dengan bidan desa dan kader desa sewaktu-waktu akan meninjau ulang
untuk memastikan program terus dijalankan sehingga hasil yang diharapkan menjadi optimal.

2. PISPK Ibu Hamil dengan Anemia di Desa Margagiri

Latar Belakang
Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari Agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu
Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia. Program ini didukung oleh program sektoral
lainnya yaitu Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Kerja, dan Program Indonesia
Sejahtera. Program Indonesia Sehat selanjutnya menjadi program utama Pembangunan
Kesehatan yang kemudian direncanakan pencapaiannya melalui Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri
Kesehatan R.I. Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015.

Sasaran dari Program Indonesia Sehat adalah meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi
masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan
perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan. Sasaran ini sesuai dengan
sasaran pokok RPJMN 2015-2019, yaitu: (1) meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan
anak, (2) meningkatnya pengendalian penyakit, (3) meningkatnya akses dan mutu pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan, (4)
meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu Indonesia Sehat dan
kualitas pengelolaan SJSN kesehatan, (5) terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan
vaksin, serta (6) meningkatnya responsivitas sistem kesehatan.

Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakkan tiga pilar utama, yaitu: (1)
penerapan paradigma sehat, (2) penguatan pelayanan kesehatan, dan (3) pelaksanaan
jaminan kesehatan nasional (JKN). Penerapan paradigma sehat dilakukan dengan strategi
pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan upaya promotif dan preventif,
serta pemberdayaan masyarakat. Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi
peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mutu
menggunakan pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis risiko kesehatan.
Sedangkan pelaksanaan JKN dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan manfaat
(benefit), serta kendali mutu dan biaya. Kesemuanya itu ditujukan kepada tercapainya
keluarga-keluarga sehat.

Permasalahan
Masih belum tercapainya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat yang adekuat,
sehingga diperlukan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga yang merupakan
unit terkecil dalam tatanan kehidupan bernegara.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


- Pendataan permasalahan kesehatan dalam keluarga termasuk penderita gizi kurang ataupun
gizi buruk
- Pemeriksaan kesehatan dasar kepada setiap anggota keluarga
- Pendistribusian makanan tambahan ke kader
- Pemberian makanan tambahan kepada penderita gizi buruk ataupun gizi kurang
- Monitoring dan Evaluasi
Pelaksanaan
1. Kegiatan dilaksanakan oleh 1 dokter PIDI, 1 ahli gizi, dan 1 bidan desa
2. Persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan
3. Pelaksana kegiatan mengunjungi rumah yang sebelumnya sudah diassessment oleh bidan
desa memiliki masalah kesehatan maupun gizi kurang atau gizi buruk
4. Skrining keadaan sosial ekonomi dan lingkungan penderita
5. Pemberian makanan tambahan dan penyuluhan
6. Kegiatan selesai

Monitoring & Evaluasi


Ahli gizi bekerja sama dengan bidan desa dan kader desa sewaktu-waktu akan meninjau ulang
untuk memastikan program terus dijalankan sehingga hasil yang diharapkan menjadi optimal.

3. PISPK Pasien TB di Desa Wanayasa

Latar Belakang
Penguatan upaya kesehatan dasar (primary health care) yang berkualitas merupakan salah
satu arah kebijakan kesehatan dalam RPJMN 2015- 2019. Namun, akses dan mutu
pelayanan kesehatan dasar saat ini masih belum menjangkau seluruh penduduk, terutama di
daerah tertinggal, terpencil, dan kepulauan. Pelayanan kesehatan dasar sangat diperlukan
untuk pencapaian target MDGs yang belum tercapai, Sustainable Development Goals (SDGs)
2030 dan Standar Pelayanan Minimum (SPM). Keberhasilan pelayanan kesehatan dasar
yang utamanya promotif dan preventif akan mengurangi beban pelayanan lanjutan.

Pelayanan kesehatan dasar yang juga disebut basic health services terdiri dari beberapa
jenis pelayanan kesehatan yang dianggap esensial (sangat penting) untuk menjaga
kesehatan seseorang, keluarga dan masyarakat agar hidup produktif secara sosial dan
ekonomi. World Health Organization (WHO) (Technical Brief, 2008) menyatakan bahwa
jenis-jenis pelayanan tersebut ditetapkan atas dasar kondisi epidemiologi suatu negara. WHO
juga menyarankan bahwa jenis pelayanan tersebut harus sudah terbukti cost effective,
affordable, dan praktis untuk dilaksanakan. Di Indonesia, jenis pelayanan dalam
pelayanan kesehatan dasar mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masalah
kesehatan. Terdapat dua ketentuan yang menetapkan jenis-jenis pelayanan dasar, yaitu
Peraturan Menteri Kesehatan 43/2014 tentang Standar Pelayanan Minimum dan
Peraturan Menteri Kesehatan 75/2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jenis-jenis
pelayanan kesehatan dasar tersebut memerlukan pelayanan promotif, preventif, skrining,
kuratif, dan rehabilitatif yang harus diberikan secara komprehensif dan holistik baik kepada
kelompok masyarakat maupun individu, tidak bisa parsial (upaya kesehatan masyarakat/UKM
saja atau upaya kesehatan perorangan/UKP saja).

Puskesmas yang dikembangkan sejak tahun 1968 merupakan fasilitas kesehatan terdepan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar. Sampai tahun 2000, Puskesmas
berada langsung di bawah pembinaan Departemen Kesehatan pada saat itu.
Puskesmas bersama Posyandu adalah kunci sukses Indonesia dalam Program KB,
imunisasi, perbaikan gizi balita dan pemberantasan diare. Sejak era desentralisasi tahun
2000, Puskesmas diserahkan kepada pemerintah daerah. Pengembangan dan
pembinaan Puskesmas bervariasi dan tergantung pada komitmen dan kapasitas daerah.
Sejak itu, kinerja Puskesmas mulai menurun yang ditandai dengan Contraceptive Prevalence
Rate (CPR) yang menurun, Maternal Mortality Ratio (MMR) dan kurang gizi balita yang
stagnan. Sejak itu pula banyak Puskesmas tidak mempunyai SDM sesuai standar. Kemudian,
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diselenggarakan pada tahun 2014 dan Puskesmas
ditetapkan menjadi provider (FKTP) BPJS. Sejak itu pula tenaga dan waktu staf Puskesmas
tersita untuk melaksanakan UKP bagi peserta BPJS, sedangkan kegiatan UKM terabaikan.
Padahal banyak jenis pelayanan kesehatan dasar merupakan UKM, diselenggarakan di tengah
masyarakat atau di luar gedung (Posyandu, pemberantasan vektor, sanitasi lingkungan,
dan promosi kesehatan).

Permasalahan
Tantangan pembangunan kesehatan terus meningkat, ditandai dengan transisi
epidemiologi yaitu meningkatnya penyakit tidak menular, sementara beberapa penyakit
menular belum teratasi dengan baik seperti tuberkulosis, malaria, HIV/AIDS, DBD, filariasis,
diare, ISPA, dan kusta. Pelayanan kesehatan dasar masih tetap relevan untuk menghadapi
tantangan-tantangan tersebut. Jumlah Puskesmas sampai dengan tahun 2017 adalah 9.767
Puskesmas, 2.277 Puskesmas terletak di daerah terpencil dan sangat terpencil. Satu-satunya
fasilitas pelayanan primer yang menyelenggarakan sekaligus pelayanan kesehatan
masyarakat (PKM) dan pelayanan kesehatan perorangan (PKP) adalah Puskesmas. Uraian
tersebut menunjukkan urgensi penguatan pelayanan kesehatan dasar dan sekaligus
Puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar tersebut.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Pelayanan kesehatan dasar merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama dan merupakan
kontak pertama penduduk dengan sistem pelayanan kesehatan, mencakup kegiatan promotif
dan preventif, penilaian kesehatan (assessment), diagnosis dan pengobatan untuk kondisi akut
dan kronis, serta pelayanan rehabilitasi

Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2020 bersama dengan dokter internship dan
bidan desa di Desa Wanayasa. Program kesehatan lingkungan kali ini bertujuan untuk
mengidentifikasi faktor risiko dari kesehatan lingkungan yang berpotensi sebagai media
penularan bakteri Tuberkulosis di dalam rumah. Aspek yang diperhatikan adalah sirkulasi
udara, ventilasi cahaya, dan kebersihan secara umum dari rumah pasien penderita
Tuberkulosis.

Monitoring & Evaluasi


Monitoring dan Evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dilakukan secara sewaktu – waktu
selama proses pendataan dengan survey di setiap Desa.

4. Pemeriksaan Berkala di SDN Kamasan Desa Margasana

Latar Belakang
Penguatan upaya kesehatan dasar (primary health care) yang berkualitas merupakan salah
satu arah kebijakan kesehatan dalam RPJMN 2015- 2019. Namun, akses dan mutu
pelayanan kesehatan dasar saat ini masih belum menjangkau seluruh penduduk, terutama di
daerah tertinggal, terpencil, dan kepulauan. Pelayanan kesehatan dasar sangat diperlukan
untuk pencapaian target MDGs yang belum tercapai, Sustainable Development Goals (SDGs)
2030 dan Standar Pelayanan Minimum (SPM). Keberhasilan pelayanan kesehatan dasar
yang utamanya promotif dan preventif akan mengurangi beban pelayanan lanjutan.

Pelayanan kesehatan dasar yang juga disebut basic health services terdiri dari beberapa
jenis pelayanan kesehatan yang dianggap esensial (sangat penting) untuk menjaga
kesehatan seseorang, keluarga dan masyarakat agar hidup produktif secara sosial dan
ekonomi. World Health Organization (WHO) (Technical Brief, 2008) menyatakan bahwa
jenis-jenis pelayanan tersebut ditetapkan atas dasar kondisi epidemiologi suatu negara. WHO
juga menyarankan bahwa jenis pelayanan tersebut harus sudah terbukti cost effective,
affordable, dan praktis untuk dilaksanakan. Di Indonesia, jenis pelayanan dalam
pelayanan kesehatan dasar mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masalah
kesehatan. Terdapat dua ketentuan yang menetapkan jenis-jenis pelayanan dasar, yaitu
Peraturan Menteri Kesehatan 43/2014 tentang Standar Pelayanan Minimum dan
Peraturan Menteri Kesehatan 75/2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jenis-jenis
pelayanan kesehatan dasar tersebut memerlukan pelayanan promotif, preventif, skrining,
kuratif, dan rehabilitatif yang harus diberikan secara komprehensif dan holistik baik kepada
kelompok masyarakat maupun individu, tidak bisa parsial (upaya kesehatan masyarakat/UKM
saja atau upaya kesehatan perorangan/UKP saja).

Puskesmas yang dikembangkan sejak tahun 1968 merupakan fasilitas kesehatan terdepan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar. Sampai tahun 2000, Puskesmas
berada langsung di bawah pembinaan Departemen Kesehatan pada saat itu.
Puskesmas bersama Posyandu adalah kunci sukses Indonesia dalam Program KB,
imunisasi, perbaikan gizi balita dan pemberantasan diare. Sejak era desentralisasi tahun
2000, Puskesmas diserahkan kepada pemerintah daerah. Pengembangan dan
pembinaan Puskesmas bervariasi dan tergantung pada komitmen dan kapasitas daerah.
Sejak itu, kinerja Puskesmas mulai menurun yang ditandai dengan Contraceptive Prevalence
Rate (CPR) yang menurun, Maternal Mortality Ratio (MMR) dan kurang gizi balita yang
stagnan. Sejak itu pula banyak Puskesmas tidak mempunyai SDM sesuai standar. Kemudian,
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diselenggarakan pada tahun 2014 dan Puskesmas
ditetapkan menjadi provider (FKTP) BPJS. Sejak itu pula tenaga dan waktu staf Puskesmas
tersita untuk melaksanakan UKP bagi peserta BPJS, sedangkan kegiatan UKM terabaikan.
Padahal banyak jenis pelayanan kesehatan dasar merupakan UKM, diselenggarakan di tengah
masyarakat atau di luar gedung (Posyandu, pemberantasan vektor, sanitasi lingkungan,
dan promosi kesehatan).

Permasalahan
Tantangan pembangunan kesehatan terus meningkat, ditandai dengan transisi
epidemiologi yaitu meningkatnya penyakit tidak menular, sementara beberapa penyakit
menular belum teratasi dengan baik seperti tuberkulosis, malaria, HIV/AIDS, DBD, filariasis,
diare, ISPA, dan kusta. Pelayanan kesehatan dasar masih tetap relevan untuk menghadapi
tantangan-tantangan tersebut. Jumlah Puskesmas sampai dengan tahun 2017 adalah 9.767
Puskesmas, 2.277 Puskesmas terletak di daerah terpencil dan sangat terpencil. Satu-satunya
fasilitas pelayanan primer yang menyelenggarakan sekaligus pelayanan kesehatan
masyarakat (PKM) dan pelayanan kesehatan perorangan (PKP) adalah Puskesmas. Uraian
tersebut menunjukkan urgensi penguatan pelayanan kesehatan dasar dan sekaligus
Puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar tersebut.
Perencanaan & Pemilihan Intervensi
Pelayanan kesehatan dasar merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama dan merupakan
kontak pertama penduduk dengan sistem pelayanan kesehatan, mencakup kegiatan promotif
dan preventif, penilaian kesehatan (assessment), diagnosis dan pengobatan untuk kondisi akut
dan kronis, serta pelayanan rehabilitasi

Pelaksanaan
Kegiatan ini dilaksanakan pada 10 Maret 2020. Dilakukan kepada siswa/siswi di SDN Kamasan,
Desa Margasana. Dilaksanakan oleh 2 dokter PIDI dan 2 bidan.

Kegiatan dilaksanakan pada seluruh kelas mulai dari kelas 1SD hingga 6SD, dengan
pemeriksaan menyeluruh kepada seluruh siswa/siswi. Hasil pemeriksaan dicatat dalam
laporan, bila ada murid yang terskrining memiliki penyakit atau terdapat keterlambatan
perkembangan maka dibuatkan rujukan untuk ke puskesmas.

Monitoring & Evaluasi


Memberikan edukasi baik kepada guru pengajar maupun orang tua mengenai pentingnya
skrining penyakit pada anak sedini mungkin. Hasil pemeriksaan dan rujukan (bila terdapat
masalah kesehatan) disampaikan kepada koordinator dari sekolah (guru) untuk disampaikan
ke orangtua murid yang bersangkutan.

5. Penjaringan Untuk Mendeteksi Keterlambatan Perkembangan Anak di PAUD Pelangi


Kramatwatu

Latar Belakang
Penguatan upaya kesehatan dasar (primary health care) yang berkualitas merupakan salah
satu arah kebijakan kesehatan dalam RPJMN 2015- 2019. Namun, akses dan mutu
pelayanan kesehatan dasar saat ini masih belum menjangkau seluruh penduduk, terutama di
daerah tertinggal, terpencil, dan kepulauan. Pelayanan kesehatan dasar sangat diperlukan
untuk pencapaian target MDGs yang belum tercapai, Sustainable Development Goals (SDGs)
2030 dan Standar Pelayanan Minimum (SPM). Keberhasilan pelayanan kesehatan dasar
yang utamanya promotif dan preventif akan mengurangi beban pelayanan lanjutan.

Pelayanan kesehatan dasar yang juga disebut basic health services terdiri dari beberapa
jenis pelayanan kesehatan yang dianggap esensial (sangat penting) untuk menjaga
kesehatan seseorang, keluarga dan masyarakat agar hidup produktif secara sosial dan
ekonomi. World Health Organization (WHO) (Technical Brief, 2008) menyatakan bahwa
jenis-jenis pelayanan tersebut ditetapkan atas dasar kondisi epidemiologi suatu negara. WHO
juga menyarankan bahwa jenis pelayanan tersebut harus sudah terbukti cost effective,
affordable, dan praktis untuk dilaksanakan. Di Indonesia, jenis pelayanan dalam
pelayanan kesehatan dasar mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masalah
kesehatan. Terdapat dua ketentuan yang menetapkan jenis-jenis pelayanan dasar, yaitu
Peraturan Menteri Kesehatan 43/2014 tentang Standar Pelayanan Minimum dan
Peraturan Menteri Kesehatan 75/2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jenis-jenis
pelayanan kesehatan dasar tersebut memerlukan pelayanan promotif, preventif, skrining,
kuratif, dan rehabilitatif yang harus diberikan secara komprehensif dan holistik baik kepada
kelompok masyarakat maupun individu, tidak bisa parsial (upaya kesehatan masyarakat/UKM
saja atau upaya kesehatan perorangan/UKP saja).
Puskesmas yang dikembangkan sejak tahun 1968 merupakan fasilitas kesehatan terdepan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar. Sampai tahun 2000, Puskesmas
berada langsung di bawah pembinaan Departemen Kesehatan pada saat itu.
Puskesmas bersama Posyandu adalah kunci sukses Indonesia dalam Program KB,
imunisasi, perbaikan gizi balita dan pemberantasan diare. Sejak era desentralisasi tahun
2000, Puskesmas diserahkan kepada pemerintah daerah. Pengembangan dan
pembinaan Puskesmas bervariasi dan tergantung pada komitmen dan kapasitas daerah.
Sejak itu, kinerja Puskesmas mulai menurun yang ditandai dengan Contraceptive Prevalence
Rate (CPR) yang menurun, Maternal Mortality Ratio (MMR) dan kurang gizi balita yang
stagnan. Sejak itu pula banyak Puskesmas tidak mempunyai SDM sesuai standar. Kemudian,
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diselenggarakan pada tahun 2014 dan Puskesmas
ditetapkan menjadi provider (FKTP) BPJS. Sejak itu pula tenaga dan waktu staf Puskesmas
tersita untuk melaksanakan UKP bagi peserta BPJS, sedangkan kegiatan UKM terabaikan.
Padahal banyak jenis pelayanan kesehatan dasar merupakan UKM, diselenggarakan di tengah
masyarakat atau di luar gedung (Posyandu, pemberantasan vektor, sanitasi lingkungan,
dan promosi kesehatan).

Permasalahan
Tantangan pembangunan kesehatan terus meningkat, ditandai dengan transisi
epidemiologi yaitu meningkatnya penyakit tidak menular, sementara beberapa penyakit
menular belum teratasi dengan baik seperti tuberkulosis, malaria, HIV/AIDS, DBD, filariasis,
diare, ISPA, dan kusta. Pelayanan kesehatan dasar masih tetap relevan untuk menghadapi
tantangan-tantangan tersebut. Jumlah Puskesmas sampai dengan tahun 2017 adalah 9.767
Puskesmas, 2.277 Puskesmas terletak di daerah terpencil dan sangat terpencil. Satu-satunya
fasilitas pelayanan primer yang menyelenggarakan sekaligus pelayanan kesehatan
masyarakat (PKM) dan pelayanan kesehatan perorangan (PKP) adalah Puskesmas. Uraian
tersebut menunjukkan urgensi penguatan pelayanan kesehatan dasar dan sekaligus
Puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan dasar tersebut.

Perencanaan & Pemilihan Intervensi


Pelayanan kesehatan dasar merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama dan merupakan
kontak pertama penduduk dengan sistem pelayanan kesehatan, mencakup kegiatan promotif
dan preventif, penilaian kesehatan (assessment), diagnosis dan pengobatan untuk kondisi akut
dan kronis, serta pelayanan rehabilitasi

Pelaksanaan
Kegiatan ini dilaksanakan pada 11 Maret 2020. Dilakukan kepada siswa/siswi PAUD dan TK
Pelangi, Desa Kramatwatu. Dilaksanakan oleh 2 dokter PIDI dan 2 bidan.

Kegiatan dilaksanakan pada kelas-kelas, dengan pemeriksaan menyeluruh kepada seluruh


siswa/siswi. Hasil pemeriksaan dicatat dalam laporan, bila ada murid yang terskrining memiliki
penyakit atau terdapat keterlambatan perkembangan maka dibuatkan rujukan untuk ke
puskesmas. Hasil pemeriksaan dan rujukan (bila ada) disampaikan kepada koordinator dari
sekolah (guru) untuk disampaikan ke orangtua murid yang bersangkutan.

Monitoring & Evaluasi


Memberikan edukasi baik kepada pengajar PAUD maupun orang tua mengenai pentingnya
mendeteksi keterlambatan perkembangan anak sedini mungkin agar dapat diterapi dengan
optimal sehingga anak dapat kembali tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya