Anda di halaman 1dari 16

55

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian


Hasil penelitian ini diperoleh dari data primer yang diambil menggunakan
kuesioner yang disebar langsung pada masyarakat setelah melakukan vaksinasi.
Pengambilan data dilakukan pada tanggal 10-17 Juli 2021. Berdasarkan teknik
pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling, didapatkan 95
responden yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi.
5.2 Anslisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mendapatkan gambaran distribusi
frekuensi karakteristik responden berupa usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
status pernikahan, dan untuk melihat gambaran variabel tingkat pengetahuan
mengenai vaksin COVID-19 pada masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas
Rawat Inap Pendopo.

5.2.1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia

Distribusi responden berdasarkan usia dapat dilihat pada table 1,


dimana kelompok usia 56-65 tahun meruupakan responden
terbanyak yaitu sebanyak 30 responden (31,6%) diikuti kelopok usia
46-55 tahun yaitu sebanyak 25 responden (26,3%), kelopok usia 26-
35 tahun yaitu sebanyak 18 responden (18,9%), kelopok usia diatas
65 tahun yaitu sebanyak 12 responden (12,6%) dan yang paling
sedikit yaitu kelompok usia 18-25 tahun dan 36-45 tahun masing-
masing 5 responden (5,3%).

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Usia


Variabel Frekuensi Persentase (%)
Usia
18-25 tahun 5 5,3
26-35 tahun 18 18,9
36-45 tahun 5 5,3
46-55 tahun 25 26,3
56-65 tahun 30 31,6
>65 taun 12 12,6

5.2.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Pada table 2 dapat dilihat bahwa responden laki-laik lebih banyak
dibandingakan responden perempuan yaitu 58 (61,0%) berbanding 37
(39%)

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
56
Laki-laki 58 61,0
Perempuan 37 39,0
5.2.3 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan dapat dilihat pada
table 3, dimana tingkat Pendidikan responden paling banyak adalah
SD/sederajat yaitu sebanyak 27 responden (28,4%) diikuti tidak/belum
tamat SD, SMP/sederajat, Perguruan Tinggi/sederajat dan SMP/sederajat
berturut-turut 25 (26,3%), 23 (24,2%), 11 (11,6%), dan 9 (9,5%)

Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan


Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
Tidak/belum tamat SD 25 26,3
SD/sederajat 27 28,4
SMP/sederajat 23 24,2
SMA/sederajat 9 9,5
Perguruan Tinggi/sederajat 11 11,6

5.2.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan


Data yang diperoleh dari total 95 responden didapat distribusi responden
berdasarkan pekerjaan seperti yang disajikan pada tabel 4. Mayoritas
responden adalah ibu rumah tangga/tidak bekerja yaitu sebanyak 32
responden (33,7%), wiaswasta 22 responden (23,1 %), pedagang 15
responden (15,8%), PNS 10 responden (10,5%), buruh 9 responden (9,5%)
dan pegawai swasta 7 responden (7,4%)

Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan


Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
PNS 10 10,5
Pegawai swasta 7 7,4
Wiraswasta 22 23,1
Buruh 9 9,5
Pedagang 15 15,8
Ibu Rumah Tangga 32 33,7
/tidak bekerja

5.2.5 Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan


Berdasarkan status pernikahan, sebanyak 70 responden ( 73,7%)
sudah menikah. Sedangkan yang belum menikah hanya terdapat 25
responden (26,3%)

Tabel 5 Distribusi Responden Berdasarkan Status Pernikahan


Status Pernikahan Frekuensi Persentase (%)
Belum menikah 25 26,3
Sudah menikah 70 73,7

4.1.1.1 Distribusi Skor Pengetahuan COVID-19, Keamanan, Keefektivan dan


57
Risiko vaksin COVID19 Responden
Pada tabel 3 dapat diketahui bahwa rata-rata total skor pengetahuan
tentang COVID-19 dari 95 responden adalah 2,16 dengan standar deviasi (sebaran
data dalam sampel) 0,55 dan median 2, nilai terendah adalah 1 dan tertinggi
adalah 4. Sementara untuk pengetahuan mengenai keamanan vaksin rata- rata skor
pada poin ini adalah 2,1 dengan standar deviasi 0,8 dan median 2 nilai
terendahnya adalah 1 dan tertinggi adalah 4. Lalu untuk pengetahuan mengenai
kefektifan vaksin COVID-19 rata-rata skornya adalah 2,13 dengan standar deviasi
0,78 dan median 2 nilai terendahnya adalah 1 dan tertinggi adalah 4. Pada poin
pengetahuan mengenai risiko vaksin COVID-19 rata-rata skor adalah 2,0 dengan
standar deviasi 0,68 dan median 2 nilai terendahnya adalah 1 dan tertinggi adalah
4. Secara keseluruhan pengetahuan responden mengenai vaksin COVID-19 rata-
rata skor adalah 2,1 dengan standar deviasi 0,71, median 2, nilai terendah 1 dan
nilai tertinggi 4.

Tabel 3. Distribusi Skor Pengetahuan COVID-19, Keamana, Keefektivan, dan


Risiko Vaksin COVID-19
Variabel Mea Std. Median Minimum Maksimum
n Deviasi
Pengetahuan 2,16 0,55 2 1 4
COVID-19
Keamanan Vaksin 2,1 0,8 2 1 4
COVID-19
Keefektivan Vaksin 2,13 0,78 2 1 4
COVID-19
Risiko Vaksin 2,0 0,68 2 1 4
COVID-19
Total 2,1 0,71 2 1 4

4.1.1.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Vaksinasi COVID-


19
Tabel 5 menunjukkan distribusi responden berdasarkan tingkat
pengetahuan tentang vaksinasi COVID-19. Responden yang memiliki
pengetahuan kurang jauh lebih banyak dibandingkan dengan tingkat pengetahuan
lainnya yaitu sebanyak 63 responden (66,3%), pengetahuan sangat kurang
sebanyak 16 responden (16,8%) pengetahuan baik 13 responden (13,7%) dan
yang paling sedikit yaitu tingkat pengetahuan sangat baik sebanyak 3 responden
(3,2%).

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan


Tingkat Pengetahuan Frekuensi Persentase
(%)
Pengetahuan Sangat Baik 3 3,2
Pengetahuan baik 13 13,7
Pengetahuan Kurang 63 66,3
Pengetahuan Sangat Kurang 16 16,8

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Hasil Deskriptif Univariat
4.2.1.1 Karakteristik Berdasarkan Usia
Jumlah responden yang didapatkan dalam penelitian berjumlah 95
responden. Usia responden terbanyak berada pada kelompok usia yang
memasuki kategori lanjut usia dengan rentang usia 56-65 tahun yaitu sebanyak
(31,6%). Kelompok usia ini merupakan penduduk dengan pengguna internet
yang cukup rendah. Mengingat banyak informasi yang disebarkan melalui
media internet dan mulai ditinggalkannya media-media konvensional seperti
media cetak. Hal ini bias menjadi faktor penyebab kurangnya pengetahuan pada
penelitian ini. Hasil penelitian ini selaras dengan data dari Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 bahwa sebanyak
143,26 juta pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi millenial
dengan rentang usia 19-24 tahun. Selain itu, semakin bertambah usia seseorang,
maka daya tangkap dan cara berpikir akan semakin berkembang sehingga peng
etahuan yang diperoleh akan lebih baik.1,2

4.2.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Berdasarkan jenis kelamin, didapatkan jenis kelamin terbanyak pada
penelitian ini adalah Laki-laki yaitu sebanyak 58 (61%), sedangkan jumlah
responden perempuan hanya 37 responden (39%). Dilihat dari data yang
diperoleh dari laporan tahunan Puskesmas Pendopo tahun 2020 tidak terdappat
perbedaan yang signifikan antara jumlah penduduk laki-laki dan penduduk
perempuan. Dimana jumlah penduduk laki-laki adalah sebanyak 22.362 jiwa,
sedangkan jumlah penduduk perempuan adalah sebanyak 24.590 jiwa.

4.2.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Berdasarkan tingkat pendidikan, didapatkan tingkat pendidikan terakhir


responden terbanyak adalah SD/sederajat sebanyak 27 orang (28,4%), lalu
diikuti responden yang tidak tamat SD sebanyak 25 orang (26,3%). Menurut
Notoadmodjo menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi
kemampuan berfikir seseorang, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin
mudah berfikir secara rasional, menangkap informasi baru dan menguraikan
masalah baru. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mendasari
sikap seseorang terhadap perilaku kesehatan. Menurut penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh Zhong et al. (2020) tingkat pendidikan yang tinggi dapat
mendorong seseorang untuk mempelajari pengetahuan dan memperoleh
informasi mengenai COVID-19.2,3
4.2.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Pernikahan
Berdasarkan status pernikahan, didapatkan status pernikahan terbanyak
adalah sudah menikah yaitu sebnyak 70 orang (73,7%), hal ini selaras dengan
penelitian yang dilakukan Srichan et al. (2020) bahwa status pernikahan
merupakan salah satu faktor signifikan yang berhubungan dengan pengetahuan
tentang COVID-19. Penelitian lain yang dilakukan oleh Ali et al. (2020) juga
menunjukkan bahwa status pernikahan merupakan faktor penyebab variasi
pengetahuan di beberapa wilayah yang diteliti. Seseorang yang sudah menikah
61

cenderung memiliki pemahaman yang baik tentang suatu pengetahuan dan


memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi terhadap perilaku pencegahan
penyakit dibandingkan individu yang belum menikah. Hal ini kemungkinan
karena individu yang sudah menikah selain menjaga dirinya sendiri, mereka
juga memiliki tanggung jawab untuk merawat dan menjaga keluarganya. Oleh
karena itu, seseorang akan cenderung belajar lebih banyak tentang perlindungan
dari suatu penyakit dan memiliki sikap yang lebih positif terhadap upaya
pencegahan.4–6
4.2.1.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan, Kepatuhan
Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Physical Distancing
Berdasarkan hasil pada tabel 8, didapatkan rata-rata skor pengetahuan
tentang COVID-19 adalah 6,72,16 dengan lebih dari setengah responden
(56,4%) memiliki pengetahuan yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Retnaningsih et al. (2020) di Provinsi Sumatra
Selatan bahwa mayoritas subjek penelitian memiliki pengetahuan baik (55,3%).
Pengetahuan tentang COVID-19 yang baik akan menimbulkan perilaku yang
baik sehingga dapat mengurangi risiko penularan (Akalu, Ayelign and Molla,
2020). Berdasarkan rata-rata frekuensi jawaban responden terhadap 10
pertanyaan tentang COVID-19, didapatkan mayoritas responden menjawab
dengan benar pada setiap pertanyaan (lihat tabel 4). Sebagian besar responden
(66,7%) sudah mengetahui virus penyebab COVID-19 adalah virus SARS-
CoV-2, namun sebagian responden (33,3%) masih memiliki pengetahuan yang
salah tentang virus penyebab COVID-19. Lebih dari setengah responden
(53,5%) mengetahui gejala klinis utama COVID-19 adalah demam, kelelahan,
batuk kering, dan nyeri otot, namun hampir setengah dari responden (46,5%)
masih belum mengetahui gejala utama COVID-19. Lebih dari separuh
responden (65,7%) menjawab salah dan menganggap bahwa hidung tersumbat
bukanlah gejala COVID-19 yang jarang terjadi. Menurut Lovato and de
Filippis (2020) gejala hidung tersumbat hanya dialami oleh sebagian kecil
pasien COVID-19 (3,7%). Hanya 49,9 responden mengetahui kelompok yang
rentan terinfeksi COVID-19 adalah usia tua, hipertensi, diabetes, obesitas, dan
62

penyakit imum, sedangkan 50,1% responden tidak mengetahuinya. Sebagian


besar responden (69,6%) mengetahui virus penyebab COVID-19 menyerang
saluran pernapasan, namun masih ada sebagian responden (30,4%) yang
menjawab salah.
Sebagian besar responden (81,3%) telah mengetahui cara penularan
COVID-19, hanya sebagian kecil responden (19,7%) yang belum mengetahui
cara penularan COVID-19 yang benar. Lebih dari separuh responden (65,5%)
responden mengetahui bahwa terapi COVID-19 saat ini hanya berupa
pengobatan sesuai gejala dan terapi pendukung, namun sebanyak 142 responden
(34,5%) masih menjawab salah dan menganggap pemberian antibiotik dapat
mengobati COVID-19. Sebagian besar responden (77,6%) telah mengetahui
bahwa salah satu upaya pencegahan COVID-19 adalah mencuci tangan dengan
air dan sabun mengalir, hanya 92 responden (22,4%) yang menjawab salah.
Hampir seluruh responden (94,9%) mengetahui bahwa mengonsumsi tambahan
vitamin merupakan tindakan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh, namun
masih ada sebagian kecil responden (5,1%) yang belum menjawab dengan
benar. Sebanyak 321 responden (78,1%) sudah paham urutan mencuci tangan
yang benar, namun masih terdapat sebagian responden (21,9%) belum
mengetahui urutan mencuci tangan yang sesuai dengan anjuran WHO. Hal ini
perlu dijadikan pertimbangan untuk terus meningkatkan penyuluhan kepada
masyarakat tentang cara mencuci tangan yang baik dan benar sebagai upaya
pencegahan penyakit menular. Pengetahun yang telah diperoleh mampu
membuat seseorang mengambil keputusan dalam bertindak. Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa seseorang yang telah mengetahui informasi tentang
COVID-19 akan mampu menentukan tindakan yang sesuai mengenai penyakit
tersebut (Achmadi, 2013).
Berdasarkan kepatuhan masyarakat dalam memakai masker, didapatkan
rata-rata skor adalah 13,172,11 dengan skor terendah adalah 5 dan tertinggi
adalah 15. Pada tabel 9 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat memiliki
kepatuhan yang baik dalam memakai masker (62,3%). Hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian Azlan et al. (2020) dimana lebih dari setengah
63

masyarakat selalu memakai masker saat keluar rumah (51,2%). Penelitian yang
dilakukan Purnamasari and Raharyani (2020) juga sejalan dengan hasil
penelitian yang didapat, yaitu sebagian besar masyarakat memiliki kepatuhan
memakai masker yang baik (72,2%). Kepatuhan yang dimiliki masyarakat
kemungkinan dipengaruhi oleh kebijakan yang telah diberlakukan oleh Wali
kota Palembang dalam Peraturan Wali Kota Palembang Nomor 27 Tahun 2020
yang mewajibkan masyarakat untuk senantiasa memakai masker saat berada di
luar rumah dan bagi masyarakat yang melanggar aturan ini akan dikenakan
sanksi administratif berupa teguran secara lisan, tertulis, hingga denda
administratif. Cara penularan virus SARS-CoV-2 yang paling dominan adalah
melalui droplet sehingga pemakaian masker merupakan tindakan yang sangat
penting untuk dilakukan terutama di lingkungan masyarakat. Pemakaian masker
bertujuan untuk mengurangi risiko penularan antar sesama, mencegah
kemungkinan penularan aerosol dan mengurangi kontak dari tangan ke wajah
(Kumar et al., 2020). Namun, masih ada sebagian masyarakat yang memiliki
kepatuhan kurang dalam memakai masker (37,7%). Hal ini kemungkinan
dikarenakan masih banyak masyarakat yang menggangap bahwa pemakaian
masker merupakan hal yang bertentangan dengan kebebasan dan
individualisme, selain itu kurangnya pemahaman akan pentingnya memakai
masker di era pandemi COVID-19 menyebabkan masih ada masyarakat yang
tidak memakai masker saat keluar rumah. Semakin tinggi pengetahuan tentang
tujuan dan manfaat memakai masker, maka kesadaran untuk berperilaku patuh
memakai masker juga akan meningkat. Perilaku patuh yang ada di masyarakat
dapat mengurangi jumlah kasus dan kematian akibat COVID-19 (Wang et al.,
2020; Chen et al., 2020; Purnamasari and Raharyani, 2020).
Berdasarkan kepatuhan masyarakat dalam mencuci tangan, didapatkan
rata-rata skor adalah 12,642,33 dengan skor terendah adalah 5 dan skor
tertinggi adalah 15. Lebih dari separuh responden memiliki kepatuhan mencuci
tangan yang baik (58,2%). Hasil penelitian ini terbilang cukup rendah
dibandingan penelitian sebelumnya yang dilakukan Azlan et al. (2020) dan
Kebede et al. (2020) bahwa lebih dari 80% responden telah menerapkan
64

kebiasaan menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan dan


menggunakan hand sanitizer. Mencuci tangan merupakan salah satu langkah
pencegahan penularan virus SARS-CoV-2 yang sangat sederhana namun efektif
untuk dilakukan masyarakat. Mencuci tangan telah terbukti secara signifikan
dapat mengurangi risiko penularan penyakit saluran pernapasan, baik di
lingkungan rumah sakit maupun di lingkungan masyarakat dengan penurunan
risiko penularan mencapai 44% (Chen et al., 2020; Fung and Cairncross, 2006;
Rabie and Curtis, 2006). Meskipun demikian, nyatanya masih ada masyarakat
yang belum menerapkan kebiasaan mencuci tangan secara teratur. Hal ini dapat
dilihat dari hasil penelitian bahwa hampir setengah responden memiliki
kepatuhan yang kurang dalam mencuci tangan (41,8%). Perilaku mencuci
tangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kurangnya motivasi dan
pengetahuan tentang pentingnya mencuci tangan, pengaruh lingkungan sekitar,
keterampilan akan cara mencuci tangan, dan ketersediaan sarana mencuci
tangan (Yalçin, Yalçin and Altin, 2004). Peraturan Wali Kota Palembang
Nomor 27 Tahun 2020 telah mewajibkan seluruh fasilitas umum, perkantoran,
restoran, serta tempat ibadah untuk selalu menyediakan fasilitas cuci tangan
dengan sabun dan air mengalir atau menyediakan cairan antiseptik berbasis
alkohol. Hal-hal lainnya yang memengaruhi kepatuhan dalam mencuci tangan
perlu diperhatikan. Masyarakat perlu diberikan penyuluhan tentang manfaat dan
cara mencuci tangan yang baik dan benar terutama pada masa pandemi seperti
saat ini.
Berdasarkan kepatuhan masyarakat dalam menjalankan physical
distancing, didapatkan rata-rata skor adalah 20,613,88 dengan skor terendah
adalah 9 dan skor tertinggi adalah 30. Lebih dari separuh responden memiliki
kepatuhan physical distancing yang baik (54%). Physical distancing dirancang
untuk mengurangi interaksi antar sesama dalam komunitas. Transmisi COVID-
19 melalui droplet memerlukan kedekatan dalam jarak tertentu sehingga
membatasi jarak fisik dan tidak berkumpul dikeramaian merupakan tindakan
yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan penyakit. Pemerintah telah
mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2020
65

tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan


Penanganan COVID-19. Kebijakan tersebut mengatur tentang pelaksanaan
pembatasan sosial seperti meliburkan sekolah dan kantor (work from home),
membatasi jam operasional di tempat umum, dan melarang kegiatan berkumpul
dalam jumlah besar. Physical distancing harus terus dilakukan seluruh
masyarakat sampai ditemukannya vaksin atau obat-obatan yang efektif dan
tersedia dalam jumlah yang besar. (Güner, Hasanoğlu and Aktaş, 2020; Kissler
et al. (2020). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian penelitian
sebelumnya yang dilakukan di Indonesia oleh Yanti et al. (2020) bahwa
mayoritas masyarakat memiliki perilaku yang baik dalam menjaga jarak (93%).
Penelitian yang dilakukan Azlan et al. (2020) di Malaysia juga menunjukkan
bahwa sebanyak 83,4% masyarakat di Malaysia menghindari tempat ramai
sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19.
Peraturan Wali Kota Palembang Nomor 27 Tahun 2020 telah
mewajibkan seluruh fasilitas umum, perkantoran, restoran, serta tempat ibadah
untuk menerapkan pembatasan fisik dengan cara mengatur posisi duduk,
mengatur tata letak meja dan kursi pengunjung, memasang pembatas antar
pekerja/pengunjung, dan memberi jarak kontak. Namun, sebagian masyarakat
masih tidak menjaga jarak fisik, melakukan kegiatan lain di luar rumah, dan
masih melakukan kontak fisik antar sesama. Hal ini dapat dilihat dari hasil
penelitian bahwa sebanyak 46% responden memiliki kepatuhan yang kurang
terkait physical distancing. Kejadian ini dapat disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan masyarakat dan rendahnya perhatian tentang physical distancing.
Selain itu, permasalahan lain seperti penurunan ekonomi juga berdampak pada
kurangnya kebutuhan pangan atau sembako sehingga masyarakat tetap harus
melakukan pekerjaan di luar rumah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari
(Yanti et al., 2020; Indrawati, 2020).
66

4.2.2 Pembahasan Hasil Analitik Bivariat


4.2.2.3 Hubungan Pengetahuan tentang COVID-19 dengan Kepatuhan
Memakai Masker
Penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan tingkat pengetahuan
terhadap kepatuhan masyarakat Kota Palembang. Berdasarkan hasil uji chi-square
diperoleh nilai p-value sebesar 0,001 atau p-value kurang dari alpha (0,05) yang
artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang COVID-19
dengan kepatuhan memakai masker pada masyarakat Kota Palembang.
Masyarakat yang memiliki pengetahuan kurang tentang COVID-19 akan
mempunyai kecenderungan untuk memiliki kepatuhan yang kurang dalam
memakai masker sebanyak dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat
yang memiliki pengetahuan baik. Hal ini dapat dilihat dari Nilai OR yang didapat
adalah 2,005. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Retnaningsih et al.
(2020) bahwa pengetahuan berhubungan secara signifikan dengan perilaku
memakai masker sebagai upaya pencegahan COVID-19. Sebelum seseorang
menerapkan perilaku baru terkait pencegahan COVID-19, maka akan terjadi suatu
proses secara berurutan, yaitu kesadaran (awareness) dimana orang tersebut
menyadari, dalam arti mengetahui tentang suatu objek terlebih dahulu, lalu
seseorang akan tertarik (interest) terhadap stimulus atau objek tersebut dan
menimbang-nimbang (evaluation) tentang baik atau buruknya stimulus tersebut
bagi dirinya, kemudian akan muncul tahapan mencoba merubah perilaku (trial)
yang kemudian akan terbentuk perilaku baru (adoption) sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus tersebut (Notoatmodjo,
2010). Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman pribadi atau pengalaman
orang lain. Informasi terkait upaya pencegahan COVID-19 paling banyak
didapatkan melalui media cetak, media elektronik, dan media sosial. Informasi
terkait COVID-19 yang diperoleh seseorang dapat meningkatkan pengetahuan dan
menimbulkan perilaku positif terhadap upaya pencegahan. Kepatuhan masyarakat
dapat dipengaruhi oleh pendidikan, faktor lingkungan, interaksi dengan petugas
kesehatan dan pengetahuan individu. Pengetahuan seseorang berperan penting
dalam terwujudnya perilaku patuh karena dengan semakin tinggi pengetahuan
67

seseorang, maka semakin baik pula kepatuhan seseorang (Notoatmodjo, 2012;


Basha et al., 2020; Wang et al., 2018; Azwar, 2007).

4.2.2.4 Hubungan Pengetahuan tentang COVID-19 dengan Kepatuhan


Mencuci Tangan
Penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan tingkat pengetahuan
terhadap kepatuhan mencuci tangan pada masyarakat Kota Palembang.
Responden yang memiliki pengetahuan kurang dan kepatuhan mencuci tangan
juga kurang terdapat 89 orang atau 49,7%, lebih besar daripada yang pengetahuan
baik namun kepatuhan mencuci tangan kurang yaitu sebanyak 83 orang (35,8%).
Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value sebesar 0,004 atau p-
value lebih kecil dari alpha (0,05) yang artinya terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan responden tentang COVID-19 dengan kepatuhan mencuci
tangan pada masyarakat Kota Palembang. Nilai OR dari analisis penelitian ini
adalah 1,775 yang artinya bahwa masyarakat dengan pengetahuan yang kurang
tentang COVID-19 akan mempunyai kecenderungan untuk memiliki kepatuhan
yang kurang dalam mencuci tangan sebesar 1,775 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan yang berpengetahuan baik. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Nwonwu et al. (2020) bahwa responden yang memiliki
pengetahuan baik tentang COVID-19 berhubungan dengan tindakan pencegahan
yang baik pula. Responden yang memiliki pengetahuan baik memiliki peluang 3,2
kali lebih tinggi untuk melakukan tindakan pencegahan yang baik dibandingkan
masyarakat yang memiliki pengetahuan yang buruk tentang COVID-19. Menurut
teori Lawrence Green (1980) dalam Notoadmodjo (2014) menjelaskan bahwa
perilaku kesehatan seseorang dipengaruhi oleh faktor predisposisi (pengetahuan,
sikap, kepercayaan, dan keyakinan), faktor pemungkin (ketersediaan sarana dan
prasarana), dan faktor pendorong (sikap dan perilaku petugas kesehatan). Dalam
konteks penelitian ini, pengetahuan termasuk ke dalam faktor predisposisi yang
dapat memengaruhi kepatuhan seseorang. Oleh karena itu, pengetahuan tentang
COVID-19 merupakan faktor yang penting. Hal ini dikarenakan semakin tinggi
pengetahuan tentang COVID-19 maka semakin tinggi pula pengetahuan tentang
68

mencuci tangan sebagai upaya pencegahan. Hasil penelitan yang dilakukan


Lestari (2019) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan
tindakan cuci tangan. Masyarakat yang mengetahui tentang penyakit, efek yang
ditimbulkan, dan cara penularannya lebih mungkin untuk mencegah diri mereka
dari penularan. Oleh sebab itu, upaya promosi kesehatan terkait COVID-19 di
masyarakat perlu ditingkatkan karena akan menimbulkan dampak yang baik
terhadap perilaku pencegahan (Nwonwu et al., 2020).

4.2.2.5 Hubungan Pengetahuan tentang COVID-19 dengan Kepatuhan


Physical Distancing
Penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan tingkat pengetahuan
terhadap kepatuhan physical distancing pada masyarakat Kota Palembang.
Responden yang memiliki pengetahuan kurang dan kepatuhan physical distancing
juga kurang terdapat 97 orang atau 54,2%, lebih besar daripada responden yang
memiliki pengetahuan baik namun kepatuhan physical distancing kurang yaitu
sebanyak 92 orang (39,7%). Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh nilai p-
value sebesar 0,003 atau p-value lebih kecil dari alpha (0,05) yang artinya
terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang COVID-19 dengan
kepatuhan physical distancing pada masyarakat Kota Palembang. Nilai OR dari
analisis penelitian ini adalah 1,800 yang artinya masyarakat dengan pengetahuan
yang kurang tentang COVID-19 akan mempunyai kecenderungan untuk memiliki
kepatuhan yang kurang dalam physical distancing sebanyak 1,800 lebih tinggi
dibandingkan dengan masyarakat yang memiliki pengetahuan baik. Dari 232
responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik terdapat 140 responden
yang melakukan physical distancing. Hal ini menujukkan bahwa pengetahuan
yang baik tentang COVID-19 akan menimbulkan perilaku patuh dalam
menjalankan physical distancing. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Hafandi and Ariyanti (2020) bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara tingkat pengetahuan tentang COVID-19 dengan kepatuhan
physical distancing di Kota Tarakan. Menurut teori Lawrence Green (1980) dalam
Notoadmodjo (2014) menjelaskan bahwa perilaku kesehatan seseorang
69

dipengaruhi oleh faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan


keyakinan), faktor pemungkin (ketersediaan sarana dan prasarana), dan faktor
pendorong (sikap dan perilaku petugas kesehatan). Oleh karena itu, pengetahuan
tentang COVID-19 merupakan faktor yang penting, karena dengan memiliki
pengetahuan yang baik, seseorang akan dapat menentukan sikap dan tindakan
yang baik pula dalam menghadapi masalah kesehatan terutama untuk mengurangi
risiko penularan.

4.3 Keterbatasan Penelitian


Penelitian ini memiliki keterbatasan karena kuesioner disebarkan secara
online menggunakan google form sehingga distribusi data mayoritas mencakup
usia remaja akhir dan kurang mencakup usia tua/lanjut karena kurangnya
pemahaman dalam pengisian kuesioner. Dalam proses pengambilan data,
informasi yang diberikan responden melalui kuesioner bersifat subjektif dan
terkadang jawaban yang diberikan tidak menunjukkan keadaan sesungguhnya.
Selain itu, penelitian mengenai hubungan antara pengetahuan masyarakat tentang
COVID-19 dengan kepatuhan dalam upaya pencegahan masih sangat terbatas
sehingga peneliti mengalami kesulitan mendapatkan literatur.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dari hasil penelitian tingkat pengetahuan masyarakat tentang COVID-19
didapatkan sebanyak 179 responden (43,6%) memiliki pengetahuan yang
kurang dan sebanyak 232 responden (56,45%) memiliki pengetahuan yang
baik.
2. Dari hasil penelitian didapatkan 155 responden (37,7%) memiliki
kepatuhan yang kurang dalam memakai masker dan 256 responden
(62,3%) memiliki kepatuhan yang baik.
3. 172 responden (41,8%) memiliki kepatuhan yang kurang dalam mencuci
tangan dan 239 responden (58,2%) memiliki kepatuhan yang baik.
4. Dari hasil penelitian didapatkan 189 responden (46%) memiliki kepatuhan
yang kurang dalam menjalankan physical distancing dan 222 responden
(54%) memiliki kepatuhan yang baik.
5. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang COVID-
19 dengan kepatuhan memakai masker (p=0,001), kepatuhan mencuci
tangan (p=0,004), dan kepatuhan physical distancing (p=0,003).
5.2 Saran
1. Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi fasilitas pelayanan kesehatan
bersama dengan lintas sektor yang berwenang untuk meningkatkan
promosi kesehatan dalam bentuk edukasi mengenai COVID-19, gejala,
penularan, dan pencegahannya baik menggunakan poster, pamphlet,
brosur atau melalui video/iklan yang dapat diakses oleh seluruh
masyarakat.
2. Diharapkan seluruh masyarakat Kota Palembang menerapakan peraturan
Wali Kota Palembang terkait upaya pencegahan dan pengendalian

70
71

COVID-19 karena peraturan tersebut memuat sanksi/kekuatan hukum


sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan masyarakat.
3. Pada penelitian selanjutnya dapat diteliti lebih dalam lagi mengenai tingkat
pengetahuan tentang COVID-19 dan hubungannya terhadap upaya
pencegahan berupa pemakaian masker, mencuci tangan, dan physical
distancing.
4. Perlu dilakukan penelitian serupa dengan mencakup persebaran kelompok
usia yang merata mengingat bahwa upaya pencegahan COVID-19 harus
dilakukan oleh semua golongan usia.