Anda di halaman 1dari 34

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. PENGETAHUAN

1.1 Definisi

Pengetahuan berasal dari kata “tahu”. Dalam KBBI (Kamus Besar

Bahasa Indonesia), kata tahu memiliki arti yaitu mengerti sesudah melihat

(menyaksikan, mengalami, dan sebagainya). Pengetahuan berarti segala

sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal atau Pendidikan.1

pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau

kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan

seseorang.2

2.2 TINGKAT PENGETAHUAN

Menurut Mubarak, dkk (dalam Arifin & Sri, 2016), pengetahuan

memiliki enam tingkatan, yaitu:3

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) suatu materi yang

telah dipelajari dan diterima sebelumnya. Oleh sebab itu, “tahu” merupakan

tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur


bahwa orang tahu tentang apa yang telah dipelajari antara lain

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

dan dapat menginterpretasikan objek yang telah diketahui dengan benar.

Orang yang telah memahami objek atau materi tersebut harus mampu

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan meramalkan

terhadap objek yang telah dipelajari.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi

sebenarnya. Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau

penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam

konteks atau situasi yang lain.

4. Analisis (Analysis)

Analisis merupakan kemampuan untuk menjabarkan suatu objek ke

dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur

organisasi dan berkaitan antara satu dengan yang lain. Kemampuan analisis

seseorang dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat

menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan

sebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis merujuk kepada kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru. Dengan kata lain, sintesis merupakan suatu kemampuan untuk

menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan

penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

berdasarkan kepada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

pengukuran tingkat pengetahuan dibagi menjadi tiga kategori sebagai

berikut:4,5

1. Tinggi : Jika jawaban benar ≥ 76 – 100%


2. Sedang : Jika jawaban benar 56 – 75%
3. Rendah : Jika jawaban benar ≤ 55%
1.2 Fakto-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo, faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara

lain yaitu:2

1. Faktor pendidikan

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin

mudah untuk menerima informasi tentang obyek atau yang berkaitan

dengan pengetahuan. Pengetahuan umumnya dapat diperoleh dari informasi

yang disampaikan oleh orang tua, guru, dan media masa. Pendidikan sangat

erat kaitannya dengan pengetahuan. Pendidikan merupakan salah satu

kebutuhan dasar manusia yang sangat diperlukan untuk pengembangan diri.

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin mudah

untuk menerima, serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi.

2. Faktor pekerjaan

Pekerjaan seseorang sangat berpengaruh terhadap proses mengakses

informasi yang dibutuhkan terhadap suatu obyek.

3. Faktor pengalaman

Pengalaman seseorang sangat mempengaruhi pengetahuan, semakin

banyak pengalaman seseorang tentang suatu hal, maka akan semakin

bertambah pula pengetahuan seseorang akan hal tersebut. Pengukuran

pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang


menyatakan tantang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau

responden.

4. Keyakinan

Keyakinan yang diperoleh oleh seseorang biasanya bisa didapat

secara turun-temurun dan tidak dapat dibuktikan terlebih dahulu, keyakinan

positif dan keyakinan negatif dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang.

5. Sosial budaya

Kebudayaan berserta kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi

pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu.

2. COVID-19

2.1 Definisi

COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom

pernapasan akut Coronavirus 2 (severe acute respiratory syndrome coronavirus

2 atau SARS-CoV-2). Virus ini merupakan keluarga besar Virus Corona yang

dapat menyerang hewan. Ketika menyerang manusia, Virus Corona biasanya

menyebabkan penyakit infeksi saluran pernafasan, seperti flu, MERS (Middle

East Respiratory Syndrome), dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).

COVID-19 sendiri merupakan Virus Corona jenis baru yang ditemukan di

Wuhan, Hubei, China pada tahun 2019. Karena itu, Virus Corona jenis baru ini

diberi nama Coronavirus disease-2019 yang disingkat menjadi COVID-COVID-


19 sejak ditemukan menyebar secara luas hingga mengakibatkan pandemi global

yang berlangsung sampai saat ini.6

2.2 Epidemiologi

Sejak kasus pertama di Wuhan, terjadi peningkatan kasus COVID-19 di

China setiap hari dan memuncak diantara akhir Januari hingga awal Februari

2020. Awalnya kebanyakan laporan datang dari Hubei dan provinsi di sekitar,

kemudian bertambah hingga ke provinsi-provinsi lain dan seluruh China.

Tanggal 30 Januari 2020, telah terdapat 7.736 kasus terkonfirmasi COVID-19 di

China, dan 86 kasus lain dilaporkan dari berbagai negara seperti Taiwan,

Thailand, Vietnam, Malaysia, Nepal, Sri Lanka, Kamboja, Jepang, Singapura,

Arab Saudi, Korea Selatan, Filipina, India, Australia, Kanada, Finlandia, Prancis,

dan Jerman.7

Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO menyatakan penyakit ini sebagai

pandemi. Per 30 Maret 2020, terdapat 693.224 kasus dan 33.106 kematian di

seluruh dunia. Eropa dan Amerika Utara telah menjadi pusat pandemi COVID-

19, dengan kasus dan kematian sudah melampaui China. Amerika Serikat

menduduki peringkat pertama dengan kasus COVID-19 terbanyak dengan

penambahan kasus baru sebanyak 19.332 kasus pada tanggal 30 Maret 2020

disusul oleh Spanyol dengan 6.549 kasus baru. Italia memiliki tingkat mortalitas

paling tinggi di dunia, yaitu 11,3%.7,8


Gambar Epidemiologi Covid-19 di Indonesia9

Kementrian Kesehatan Repbulik Indonesia malaporkan bahwa pada tanggal 2

Maret 2020 hingga tanggal 25 maret 2020 terdapat kasus positif Covid-19 di

Indonesia sebanyak 790 kasus di 24 provinsi.8

Penyakit yang di sebabkan oleh Coronavirus dapat menginfeksi segala usia

dan usia rentan terkena di atas umur 50 tahun. Transmisi penyebaran Virus ini

bersifat zoonotik yaitu dapat menginfeksi dari hewan kepada manusia seperti

kelelawar, tikus bambu, unta dan musang. Selain dari hewan transmisi virus ini bisa

melalui kontak dengan penderita secara langsung, droplet, feses, dan oral. Hingga

saat ini pada tanggal 3 Juli 2020 di indonesia terdapat 59,394 terkonfirmasi Covid-19

dari 1624 kasus, 29,740 dalam perawaatan, 26,667 dinyatakan sembuh dan 2987

meninggal dunia. Di Indonesia dari 34 Provinsi Jawa Timur menempati peringkat

pertama dengan jumlah kasus 12,321 dan Aceh di peringkat terakhir dengan jumlah

kasus 86.8–10
2.3 Taksonomi

SARS-CoV-2 merupakan kelompok virus yang termasuk dalam ordo

Nidovirales, Family Coronaviridae, Arteriviridae, Mesoniviridae, dan

Roniviridae. Coronavirus merupakan virus RNA beruntai tunggal, memiliki

amplop dan tidak bersegmen. Virus ini bersifat spesifik terhadap inangnya

sehingga dapat menginfeksi pada manusia ataupun hewan.8

Gambar 2.1 Struktur skematik Coronavirus

2.4 Gejala

Pasien yang terkena Coronavirus dan menimbulkan penyakit disebut

Coronavirus Disease terjadi di tahun 2019 sehingga di singkat Covid-19.

Penyakit ini tidak terdapat gejala ataupun memiliki gejala ringan hingga gejala

berat, pada umumnya gejala berupa infeksi saluran pernafasan bagian atas yang

biasanya tanpa komplikasi yang disertai demam maupun tidak, batuk kering atau

berdahak, kelelahan, malaise, anorexia, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan,

sakit kepala, mual, keram otot, mengigil, sakit perut, dan diare.8,9
Gambar 2.2 Gejala Covid-19 -199

2.5 Istilah-Istilah Pada COVID-19

1) Pasien dalam Pengawasan (PDP)

A. Seseorang terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan

adanya demam (≥38°c) atau sebelumnya memiliki riwayat demam yang

di sertai dengan adanya gejala: batuk, sakit tenggorokan, sesak nafas,

pilek, di diagnosisi pneumonia ringan sampai berat.11

Tidak terdapat penyebab lain berdasarkan pemeriksaan klinis lainnya

dan 14 hari sebelum adanya gejala di atas memiliki riwayat seperti

berikut:

a. Pernah keluar negeri atau tinggal di luar negeri pada tempat

terjadinya wabah;
b. Pernah pergi ke tempat wabah atau tinggal di tempat wabah di

Indonesia.

B. Seseorang menderita demam (≥38°c) atau riwayat ISPA atau riwayat

demam namun pada 14 hari terakhir belum ada tanda tanda kemunculan

gejala namun memiliki riwayat kontak dengan penderita Covid-19.11

C. Penderita ISPA berat ataupun pneumonia berat di zona wabah di

Indonesia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak

ditemukannya penyebab klinik lainnya.11

2) Orang dalam Pengawasan (ODP)

Orang yang memiliki demam (≥38°c) atau ada riwayat demam atau

memiliki gejala infeksi saluran pernafasan seperti batuk, pilek, dan sakit

tenggorokan yang tidak memiliki penyebab lain sesuai pemeriksaan klinis

lainnya serta pada 14 hari terakhir tidak ada gejala yang timbul tapi memiliki

keriteria sebagai berikut:

A. Pernah keluar negeri atau tinggal di luar negeri pada tempat terjadinya

wabah.

B. Pernah pergi ke tempat wabah atau tinggal di tempat wabah di

Indonesia.11

3) Orang dengan Kontak Erat (ODKE)


Seseorang yang sedang kontak fisik atau sedang berada dalam ruangan yang

tedapat pasien dalam pengawasan atau terkonfirmasi Covid-19 pada radius 1

meter dalam 2 – 14 hari sebelum timbul gejala.11

a) Klasifikasi orang dengan kontak erat

a. Kontak erat risiko tinggi

Terjadi kontak dengan pasien mungkin atau terkonfirmasi Covid-19.

b. Kontak erat risiko rendah

Terjadi kontak dengan pasien dalam pengawasan.

b) Indikasi orang dengan kontak erat

a. Petugas kesehatan yang bekerja di tempat kasus Covid-19 tanpa

menggunakan APD sesuai protokol kesehatan;

b. Orang yang berada dengan pasien terkonfirmasi Covid-19 dan timbul

gejala pada 2 – 14 hari.

c. Orang yang berpergian dengan pasien terkonfirmasi Covid-19 dengan

radius 1 meter dan timbul gejala pada 2 – 14 hari.11

2.6 Patogenesis

Kebanyakan Coronavirus menginfeksi hewan dan bersirkulasi di

hewan. Coronavirus menyebabkan sejumlah besar penyakit pada hewan dan

kemampuannya menyebabkan penyakit berat pada hewan seperti babi, sapi,

kuda, kucing dan ayam. Coronavirus disebut dengan virus zoonotik yaitu

virus yang ditransmisikan dari hewan ke manusia. Banyak hewan liar yang
dapat membawa patogen dan bertindak sebagai vektor untuk penyakit

menular tertentu.11

Kelelawar, tikus bambu, unta dan musang merupakan host yang biasa

ditemukan untuk Coronavirus. Coronavirus pada kelelawar merupakan

sumber utama untuk kejadian severe acute respiratory syndrome (SARS)

dan Middle East respiratory syndrome (MERS). Namun pada kasus SARS,

saat itu host intermediet (masked palm civet atau luwak) justru ditemukan

terlebih dahulu dan awalnya disangka sebagai host alamiah. Barulah pada

penelitian lebih lanjut ditemukan bahwa luwak hanyalah sebagai host

intermediet dan kelelawar tapal kuda (horseshoe bars) sebagai host

alamiahnya. Secara umum, alur Coronavirus dari hewan ke manusia dan dari

manusia ke manusia melalui transmisi kontak, transmisi droplet, rute feses

dan oral.11

Coronavirus terutama menginfeksi dewasa atau anak usia lebih tua,

dengan gejala klinis ringan seperti common cold dan faringitis sampai berat

seperti SARS atau MERS serta beberapa strain menyebabkan diare pada

dewasa. Infeksi Coronavirus biasanya sering terjadi pada musim dingin dan

semi. Hal tersebut terkait dengan faktor iklim dan pergerakan atau

perpindahan populasi yang cenderung banyak perjalanan atau perpindahan.

Selain itu, terkait dengan karakteristik Coronavirus yang lebih menyukai

suhu dingin dan kelembaban tidak terlalu tinggi.12


Semua orang secara umum rentan terinfeksi. Pneumonia Coronavirus

jenis baru dapat terjadi pada pasien immunocompromis dan populasi normal,

bergantung paparan jumlah virus. Jika kita terpapar virus dalam jumlah besar

dalam satu waktu, dapat menimbulkan penyakit walaupun sistem imun tubuh

berfungsi normal. Orang-orang dengan sistem imun lemah seperti orang tua,

wanita hamil, dan kondisi lainnya, penyakit dapat secara progresif lebih

cepat dan lebih parah. Infeksi Coronavirus menimbulkan sistem kekebalan

tubuh yang lemah terhadap virus ini lagi sehingga dapat terjadi re-infeksi.12

Coronavirus hanya bisa memperbanyak diri melalui sel host-nya.

Virus tidak bisa hidup tanpa sel host. Berikut siklus dari Coronavirus setelah

menemukan sel host sesuai tropismenya. Pertama, penempelan dan masuk

virus ke sel host diperantarai oleh Protein S yang ada dipermukaan virus.

Protein S penentu utama dalam menginfeksi spesies host-nya serta penentu

tropisnya. Pada studi SARS-CoV protein S berikatan dengan reseptor di sel

host yaitu enzim ACE-2 (angiotensinconverting enzyme 2). ACE-2 dapat

ditemukan pada mukosa oral dan nasal, nasofaring, paru, lambung, usus

halus, usus besar, kulit, timus, sumsum tulang, limpa, hati, ginjal, otak, sel

epitel alveolar paru, sel enterosit usus halus, sel endotel arteri vena, dan sel

otot polos. Setelah berhasil masuk selanjutnya translasi replikasi gen dari

RNA genom virus. Selanjutnya replikasi dan transkripsi dimana sintesis

virus RNA melalui translasi dan perakitan dari kompleks replikasi virus.

Tahap selanjutnya adalah perakitan dan rilis virus.13


Setelah terjadi transmisi, virus masuk ke saluran napas atas kemudian

bereplikasi di sel epitel saluran napas atas (melakukan siklus hidupnya).

Setelah itu menyebar ke saluran napas bawah. Pada infeksi akut terjadi

peluruhan virus dari saluran napas dan virus dapat berlanjut meluruh

beberapa waktu di sel gastrointestinal setelah penyembuhan. Masa inkubasi

virus sampai muncul penyakit sekitar 3-7 hari.11

2.7 Tatalaksana pasien terkonfirmasi covid-1914–16

A. Pemeriksaan pcr swab

a) Pengambilan swab di hari ke-1 dan 2 untuk penegakan diagnosis. Bila

pemeriksaan di hari pertama sudah positif, tidak perlu lagi

pemeriksaan di hari kedua, Apabila pemeriksaan di hari pertama

negatif, maka diperlukan pemeriksaan di hari berikutnya (hari kedua).

b) Pada pasien yang dirawat inap, pemeriksaan PCR dilakukan sebanyak

tiga kali selama perawatan.

c) Untuk kasus tanpa gejala, ringan, dan sedang tidak perlu dilakukan

pemeriksaan PCR untuk follow-up. Pemeriksaan follow-up hanya

dilakukan pada pasien yang berat dan kritis.

d) Untuk PCR follow-up pada kasus berat dan kritis, dapat dilakukan

setelah sepuluh hari dari pengambilan swab yang positif.

e) Bila diperlukan, pemeriksaan PCR tambahan dapat dilakukan dengan

disesuaikan kondisi kasus sesuai pertimbangan DPJP dan kapasitas di

fasilitas kesehatan masing-masing.


f) Untuk kasus berat dan kritis, bila setelah klinis membaik, bebas

demam selama tiga hari namun pada follow-up PCR menunjukkan

hasil yang positif, kemungkinan terjadi kondisi positif persisten yang

disebabkan oleh terdeteksinya fragmen atau partikel virus yang sudah

tidak aktif. Pertimbangkan nilai Cycle Threshold (CT) value untuk

menilai infeksius atau tidaknya dengan berdiskusi antara DPJP dan

laboratorium pemeriksa PCR karena nilai cut off berbeda-beda sesuai

dengan reagen dan alat yang digunakan.

g) Tabel 1. Jadwal Pengambilan Swab Untuk Pemeriksaan RT-PCR

Hari ke-
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11/12*
X X X
Keterangan : * hanya diperiksa untuk berat dan kriti

B.Tanpa gejala

a. Isolasi dan Pemantauan

 Isolasi mandiri di rumah selama 10 hari sejak

pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi, baik

isolasi mandiri di rumah maupun di fasilitas publik

yang dipersiapkan pemerintah.

 Pasien dipantau melalui telepon oleh petugas Fasilitas

Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

 Kontrol di FKTP terdekat setelah 10 hari karantina

untuk pemantauan klinis.


b. Non-farmakologis

Berikan edukasi terkait tindakan yang perlu

dikerjakan (leaflet untuk dibawa ke rumah):

 Pasien :

- Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat

berinteraksi dengan anggota keluarga

- Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer

sesering mungkin.

- Jaga jarak dengan keluarga (physical distancing)

- Upayakan kamar tidur sendiri / terpisah

- Menerapkan etika batuk (Diajarkan oleh tenaga medis)

- Alat makan-minum segera dicuci dengan air/sabun

- Berjemur matahari minimal sekitar 10-15 menit setiap harinya

(sebelum jam 9 pagi dan setelah jam 3 sore).

- Pakaian yg telah dipakai sebaiknya dimasukkan dalam kantong

plastik / wadah tertutup yang terpisah dengan pakaian kotor

keluarga yang lainnya sebelum dicuci dan segera dimasukkan

mesin cuci

- Ukur dan catat suhu tubuh 2 kali sehari (pagi dan malam hari)

- Segera beri informasi ke petugas pemantau/FKTP atau keluarga

jika terjadi peningkatan suhu tubuh > 38oC.

 Lingkungan/kamar:
- Perhatikan ventilasi, cahaya dan udara

- Membuka jendela kamar secara berkala

- Bila memungkinkan menggunakan APD saat membersihkan kamar

(setidaknya masker, dan bila memungkinkan sarung tangan dan

goggle).

- Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer

sesering mungkin.

- Bersihkan kamar setiap hari , bisa dengan air sabun atau bahan

desinfektan lainnya

 Keluarga:

- Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien

sebaiknya memeriksakan diri ke FKTP/Rumah Sakit.

- Anggota keluarga senanitasa pakai masker

- Jaga jarak minimal 1 meter dari pasien

- Senantiasa mencuci tangan

- Jangan sentuh daerah wajah kalau tidak yakin tangan bersih

- Ingat senantiasa membuka jendela rumah agar sirkulasi udara

tertukar

- Bersihkan sesering mungkin daerah yg mungkin tersentuh pasien

misalnya gagang pintu dll

c. Farmakologi

- Bila terdapat penyakit penyerta / komorbid, dianjurkan untuk tetap


melanjutkan pengobatan yang rutin dikonsumsi. Apabila pasien rutin

meminum terapi obat antihipertensi dengan golongan obat ACE-

inhibitor dan Angiotensin Reseptor Blocker perlu berkonsultasi ke

Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Dokter Spesialis Jantung

- Vitamin C (untuk 14 hari), dengan pilihan ; Tablet Vitamin C non

acidic 500 mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari), Tablet isap vitamin C

500 mg/12 jam oral (selama 30 hari) Multivitamin yang mengandung

vitamin C 1-2 tablet /24 jam (selama 30 hari), Dianjurkan

multivitamin yang mengandung vitamin C,B, E, Zink

- Vitamin D, Suplemen: 400 IU-1000 IU/hari (tersedia dalam bentuk

tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul

lunak, serbuk, sirup), Obat: 1000-5000 IU/hari (tersedia dalam bentuk

tablet 1000 IU dan tablet kunyah 5000 IU)

- Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat

Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM dapat

dipertimbangkan untuk diberikan namun dengan tetap memperhatikan

perkembangan kondisi klinis pasien.

- Obat-obatan yang memiliki sifat antioksidan dapat diberikan.

2.8 Pencegahan COVID-1914–16

A. Pembatasan Interaksi Fisik dan Pembatasan Sosial (Physical

Contact/Physical Distancing dan Social Distancing)


Pembatasan sosial adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk

dalam suatu wilayah. Pembatasan sosial ini dilakukan oleh semua orang di

wilayah yang diduga terinfeksi penyakit. Pembatasan sosial berskala besar

bertujuan untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit di wilayah

tertentu. Pembatasan sosial berskala besar paling sedikit meliputi:

meliburkan sekolah dan tempat kerja; pembatasan kegiatan keagamaan;

dan/atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Selain itu,

pembatasan social juga dilakukan dengan meminta masyarakat untuk

mengurangi interaksi sosialnya dengan tetap tinggal di dalam rumah

maupun pembatasan penggunaan transportasi publik.

Pembatasan sosial dalam hal ini adalah jaga jarak fisik (physical

distancing), yang dapat dilakukan dengan cara:

a. Dilarang berdekatan atau kontak fisik dengan orang mengatur

jarak minimal 1 meter, tidak bersalaman, tidak berpelukan dan

berciuman.

b. Hindari penggunaan transportasi publik (seperti kereta, bus, dan

angkot) yang tidak perlu, sebisa mungkin hindari jam sibuk ketika

berpergian.

c. Bekerja dari rumah (Work From Home), jika memungkinkan dan

kantor memberlakukan ini.

d. Dilarang berkumpul massal di kerumunan dan fasilitas umum.

e. Hindari bepergian ke luar kota/luar negeri termasuk ke tempat-

tempat wisata.
f. Hindari berkumpul teman dan keluarga, termasuk

berkunjung/bersilaturahmi tatap muka dan menunda kegiatan

bersama. Hubungi mereka dengan telepon, internet, dan media

sosial.

g. Gunakan telepon atau layanan online untuk menghubungi dokter

atau fasilitas lainnya.

h. Jika anda sakit, Dilarang mengunjungi orang tua/lanjut usia. Jika

anda tinggal satu rumah dengan mereka, maka hindari interaksi

langsung dengan mereka.

i. Untuk sementara waktu, anak sebaiknya bermain sendiri di rumah.

j. Untuk sementara waktu, dapat melaksanakan ibadah di rumah.

B. Menerapkan Etika Batuk dan Bersin

Menerapkan etika batuk dan bersin meliputi:

a. Jika terpaksa harus bepergian, saat batuk dan bersin gunakan tisu

lalu langsung buang tisu ke tempat sampah dan segera cuci tangan.

b. Jika tidak ada tisu, saat batuk dan bersin tutupi dengan lengan atas

bagian dalam.

3. Vaksin
A. Pengertian

Pengertian vaksin yang dijelaskan dalam Peraturan Menteri Kesehatan

Nomor 42 Tahun 2013, vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang

sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang

telah diolah, berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi

toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan

menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi

tertentu.17

B. Penggolongan Vaksin

Vaksin digolongkan menjadi dua golongan, yaitu penggolongan

berdasarkan asal antigen dan sensitivitas terhadap suhu.18

1. Penggolongan berdasarkan asal antigen (Immunization Essential)

a. Berasal dari bibit penyakit yang dilemahkan (live attenuated)

 Virus : Polio (OPV), Campak, Yellow Fever

 Bakteri : BCG

b. Bakteri berasal dari bibit penyakit yang dimatikan (inactivated)

 Seluruh partikel diambil :

Virus : IPV (Injectable/Inactivated Polio Vaccine),

Rabies Bakteri : Pertusis

 Sebagian partikel
diambil : Murni :

Meningococal

Gabungan : Hib (Haemofilus Influenza type B)

 Rekombinan (rekayasa genetika) : Hepatitis B

2. Penggolongan vaksin berdasarkan sensitivitas terhadap suhu :

Vaksin sensitif suhu beku (freeze sensitive = FS), yaitu golongan vaksin

yang akan rusak terhadap suhu dingin dibawah 0°C (beku) seperti :

a. Hepatitis B

b. DPT

c. DPT-HB

d. DT

e. TT

Vaksin sensitif panas (heat sensitive = HS) yaitu golongan vaksin yang

akan rusak terhadap paparan panas yang berlebihan yaitu :

a. BCG

b. Polio

c. Campak.19

C. Jenis Vaksin Covid-19

a) Vaksin Sinovac
Vaksin sinovac diproduksi oleh Perusahaan biofarmasi yang

berkedudukan di Beijing China . perusahaan tersebut memproduksi

sinovac dan sinofarm. Sinovac yaitu vaksin yang tidak aktif. Mekanisme

vaksin tersebut dengan cara mennggunakan virus yang sudah dimatikan

guna merangsang system kekebalan tubuh terhadap virus tanpa risiko

memberikan respon terhadap penyakit yang serius.20

Sinovac memakai metode vaksin yang lebih tradisional seperti

digunakan pada banyak vaksin diantaranya adalah vaksin rabies. Hal

tersebut diungkapkan oleh Associate Professor Luo Dahai dari Nanyang

Technological University kepada BBC.20

Vaksin Sinovac telah menjalani uji coba fase tiga di berbagai

Negara. Data sementara dari uji coba tahap akhir di Turki dan Indonesia

menunjukkan bahwa vaksin tersebut efektif masing-masing sebesar

91,25% dan 63,50%. 20

Vaksin tersebut dipilih karena memiliki keunggulan utama yaitu

dapat disimpan di lemari es standar dengan suhu 2-8 derajat Celsius. Hal

ini tentu lebih menguntungkan bagi negara –negara berkembang karena

dapat menyimpan vaksin dalam jumlah yang besar pada suhu tersebut.

Indonesia hal ini juga memudahkan mengingat kondisi infrastruktur tiap-

tiap provinsi tidak sama.20

Selain Indonesia beberapa negara di kawasan Asia telah

menandatangai kesepakatan untuk memberli vaksin Sinovac yaitu

Singapura, Malaysia, Filipina. Adapun Indonesia sejak 13 Januari 2021


sudah dimulai vaksinasi nasional yang dipelopori oleh presiden Joko

Widodo sebagai orang pertama penerima vaksin di Istana

Merdeka.Vaksinasi tersebut merupakan titik awal pelaksanaan vaksinasi

massal secara gratis guna menangani masalah pandemic Covid-19 di

Indonesia. 20

b) Vaksin Sinopharm

Vaksin Sinopharm serupa dengan Sinovac. Vaksin sinopharm

memiliki mekanisme yang sama . Pada 30 Desember Sinopharm telah

mengumumkan bahwa uji coba fase ke tiga vaksin menunjukkan nilai

efektifitas sebesar 79%. Di China sekitar satu juta orang sudah disuntik

menggunakan Vaksin Sinopharm, di bawah izin pengggunaan darurat.

Akan tetapi Uni Emirat Arab mengatakan menurut hasil uji coba pada

penelitian fase ke tiga menunjukkan angka efektifitas sebesar 86%. Turki,

Brasil , Chili, Uni Emirat dan Bahrain telah menyetujui penggunaan

vaksin Sinopharm.20

c) Vaksin Moderna

Vaksin Moderna memiliki nama dagang adalah mRNA-1273, yang

dibuat oleh ModernaTX, Inc, dengan tipe vaksin adalah mRNA. Food

Drug and Adminintration (FDA) telah mengizinkan penggunaan darurat

Vaksin Covid-19 Moderna untuk mencegah Covid 19 pada individu

berusia 18 tahun ke atas di bawah otorisasi penggunaan darurat

(Emergency Use Authorization). Kandungan yang terdapat dalam vaksin


Moderna adalah: ribonucleic acid (mRNA), lipids (SM-102, polyethylene

glycol [PEG] 2000 dimyristoyl glycerol [DMG], cholesterol, and 1,2-

distearoyl-sn-glycero-3-phosphocholine [DSPC]), tromethamine, trome-

thamine hydrochloride, acetic acid, sodium acetate, dan sucrose.21

Berdasarkan bukti uji klinis, vaksin Moderna 94,10% dinyatakan

efektif mencegah penyakit Covid-19 yang dikonfirmasi di laboratorium

pada orang yang menerima dua dosis yang tidak memiliki bukti terinfeksi

sebelumnya. Vaksin menunjukkan efektifitas tinggi dalam uji klinis

(kemanjuran) di antara orang-orang dari berbagai kategori usia, jenis

kelamin, ras, serta etnis dan diantara orang-orang dengan kondisi medis

yang mendasarinya.22

d) Pfizer BioNTech

Nama vaksin Covid 19 dari Pfizer BionTech adalah BNT162b2,

diproduksi oleh Pfizer Inc., and BioNTech, dan termasuk golongan vaksin

tipe mRNA. Adapun kandungan vaksin Pfizer Inc., and BioNTech adalah

mRNA, lipids ((4-hydroxybutyl)azanediyl)bis(hexane-6,1- diyl)bis(2-

hexyldecanoate), 2 [(polyethylene glycol)-2000]-N,N-

ditetradecylacetamide, 1,2- Distearoyl-sn-glycero-3- phosphocholine,

and cholesterol), potassium chloride, monobasic potassium phosphate,

sodium chloride, dibasic sodium phosphate dihydrate, and sucrose.23

Di dalam uji klinis, yang melibatkan sekitar 20.000 relawan berusia

16 tahun ke atas setidaknya telah menerima satu dosis vaksin Pzifer-


BioNTech. Di dalam uji klinis yang sedang berlangsung, vaksin Pzifer-

BioNTech Covid 19 telah terbukti mampu mencegah Covid 19 setelah

diberikan dua dosis dengan jarak pemberian antara dosis pertama dan ke

dua adalah tiga minggu, namun durasi waktu pelindungan setelah

diberikan vaksin kepada seseorang belum diketahui jangka waktu

perlindungannya. Uji klinis fase 2 dan fase 3 untuk vaksin Pzifer-

BioNTech, mencakup orang-orang dengan ras putih 81,90%, Hispanik

26,20%, Afrika/Amerika 9,80%, Asia 4,40%, < 3% ras lain. Berdasarkan

bukti dari uji klinis, vaksin Pzifer-BioNTech 95% efektif mencegah

penyakit Covid-19, yang dikonfirmasi di laboratorium pada orang tanpa

bukti infeksi sebelumnya.23

e) AstraZeneca

AstraZeneca merupakan peusahaan farmasi dari Ingrris yang

telah melakukan pengembanganvaksin Covid -19 bersama Oxford

University, dan pemerintah Indonesia telah melakukan kerjasama dalam

rangka penyediaan vaksin yang disebut dengan nama AZD1222. Vaksin

AstraZeneca dibuat dari versi lemah virus flu biasa yang berasal dari

simpanse yang telah dimodifikasi supaya tidak tumbuh pada manusia dan

hingga saat ini uji coba masih terus berlangsung dengan melibatkan

sebanyak sekitar 20.000 sukarelawan. Dikutip dari BBC, disebutkan

bahwa vaksin AstraZeneca memiliki keefektifan secara rata-rat adalah

70%. Keunggulan lain dari vaksin tersebut adalah mudah untuk


didistribusikan dikarenakan tidak memerlukan penyimpanan pada

temperature ruang yang sangat dingin.24

D. Keamanan vaksin

Vaksin covid-19 yang beredar sampai saat ini dinyatakan aman dan efektif

untuk menekan penularan covid-19. Data terakhir pada juni 2021 Food and Drug

Administration’S (FDA) melakukan uji klinis dengan hasil dari 10.000 partisipan

yang diuji klinis semuanya aman dan efektif. 24

Di Indonesia Vaksin covid-19 diawasi oleh Badan Pengawas dan Obat

(BPOM). BPOM menyatakan berdasarkan data uji pada hewan dan uji klinik

pada manusia mulai dari studi fase 1, fase 2 dan interim fase 3 di Tiongkok,

Indonesia, Turki dan Brazil (>10.000 subjek), secara keseluruhan menunjukkan

vaksin aman. Laporan efek samping yang ditimbulkan bersifat ringan hingga

sedang, yaitu efek samping lokal berupa nyeri, indurasi (iritasi), kemerahan dan

pembengkakan. Selain itu terdapat efek samping sistemik berupa myalgia (nyeri

otot), fatigue, dan demam.25

Gejala KIPI setelah penyuntikan vaksin umumnya bersifat sementara dan

ringan, serta akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan, seperti: nyeri,

bengkak, dan kemerahan di lokasi suntikan, atau demam, sakit kepala, lelah atau

tidak enak badan, mengantuk, mual, dan lapar.26

Cara menanganinya bisa dengan mengompres dengan air dingin di area

suntikan jika terasa nyeri atau bengkak atau kemerahan. Jika demam, bisa dengan
kompres atau mandi dengan air hangat, perbanyak minum air putih, dan istirahat,

serta minum obat bila perlu.26

Kalau mengalami KIPI yang lebih berat dari yang di atas, catat reaksi /

keluhan yang dialami dan laporkan pada petugas atau fasilitas layanan kesehatan,

bisa menyebabkan masalah serius seperti reaksi anafilaksis dan thrombosis.

Walapun demikian gejala yang disebutkan diatas jarang ditemukan. Angka

kejadian reaksi tersebut 7/1.000.000 kasus. 26

Efek samping jangka panjang dari vaksin covid-19 belum ada kasus

dilaporkan, karena pelaksanaan vaksinasi covid-19 ini relative baru diseluruh

negara dan penelitian mengenai vaksin covid-19 terbatas.26

Untuk menjawab keraguan masyarakat mengenai kehalalan vaksin

COVID-19, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa MUI No. 14

tahun 2021 yang menyatakan vaksin covid-19 boleh (mubah) untuk diberikan.27

E. Efektifitas vaksin

Semua vaksin covid-19 yang beredar saat ini dinyatakan efektif karena

telah melalui uji klinis. Vaksin covid adalah alat yang sangat penting untuk

mebantu menghentikan pandemic covid. Vaksin menjadi sangat penting untuk

segera mengakhiri pandemi ini karena vaksin telah terbukti dapat memusnahkan

banyak wabah, misalnya polio. Terdapat 3 fase uji klinis utama yang harus

dilewati vaksin agar dapat diproduksi masal untuk masyarakat, yaitu fase 1, 2,
dan 3. Keseluruhan tahap pengembangan vaksin seringkali memakan waktu

hingga tahunan.28,29

Sayangnya, umat manusia saat ini tidak bisa menunggu lama sehingga

percepatan pengembangan vaksin harus dilakukan. Percepatan itu menimbulkan

keraguan akan keamanan dari vaksin yang kini sedang dikembangkan. Keraguan

akan keamanan vaksin dapat menurunkan tingkat kerelaan masyarakat untuk

diimunisasi. Ini akan menghambat tercapainya herd immunity yang penting untuk

penanganan pandemi. Herd immunityadalah kondisi dimana penularan penyakit

dalam suatu populasi terhambat akibat tidak adanya inang yang dapat diinfeksi.

Keberadaan herd immunity juga akan melindungi masyarakat yang belum

memperoleh akses ke vaksin karena tingkat penularan dalam populasi yang

rendah. Vaksin ini membantu seseorang untuk meminimalisir gejala yang

didapat saat terinfeksi covid-19. Vaksin juga di harapkan bisa membentuk

imunitas pada sekelompok orang. Efektifitas ini tercapai apabila seseorang

menerima vaksin sesuai dosis yang direkomendasikan. Vaksin ini tidak

menyebabkan 100% terhindar dari covid-19 karena hingga saat ini belum ada

vaksin yang memiliki efektifitas 100% untuk mencegah suatu penyakit.30

Tahapan uji preklinis dan klinis vaksin COVID-19 sedang dipercepat

melalui pengunaan teknologi yang sudah ada serta pengerjaan beberapa tahap

secarasimultan dengan memanfaatkan sumber daya dan atensi yang melimpah

akibat tekanan pandemi. Hal tersebut tercermin dalam vaksin-vaksin yang saat

ini sedang berada dalam uji klinis fase 3, sehingga pengawasan keamanan yang

ketat tetap terjamin walaupun pengembangannya dipercepat.25


DAFTAR PUSTAKA

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia [Internet]. 2016. Available from:

kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Pengetahuan

2. Notoadmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. 3rd ed. Jakarta: Rineka

Cipta; 2005. 68–70 p.

3. Mubarak dkk. Promosi Kesehatan : sebuah pengantar PProses Belajar dan

Mengajar dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu; 2007.

4. Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka

Cipta; 2006.

5. Azwar S. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar Jogja Offset; 2000.

6. Johns H. Lembar kegiatan literasi saintifik untuk pembelajaran jarak jauh topik

penyakit Coronavirus 2019 (Covid-19). J Ilmu Pendidik. 2020;2(1):28–37.


7. Titik R, Hilmi RS. KOPIDPEDIA Bunga Rampai Artikel Penyakit Virus

Korona (COVID-19). Alya T, Budiman, Cice T, Dll, editors. Bandung: Pusat

Penerbitan Universitas (P2U) Unisba; 2020.

8. COVID-19 GT. Peta Sebaran | Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-

19 [Internet]. 2021 [cited 2021 Jul 6]. Available from:

https://covid19.go.id/peta-sebaran

9. Erlina B, Isbaniyah F, Agus SD, Dll. PNEUMONIA COVID-19 DIAGNOSIS

& PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru

Indonesia (PDPI). Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2020.

10. KEMENKES RI. Pedoman kesiapan menghadapi COVID-19. Pedoman

kesiapan menghadapi COVID-19. 2020;3(0):115.

11. Qiang W. Diagnosis dan penatalaksanaan Pneumonia Covid-19 di Indonesia.

Jakarta: Penerbit buku PDPI; 2020.

12. Ye, Q., Wang, B., & Mao. The Pathogenesis and Treatment of the ‘ Cytokine

Storm ’ in COVID-19. J Infect [Internet]. 2020;80(6):607–13. Available from:

https://doi.org/10.1016/j.jinf.2020.03.037

13. Fehr, A.R., And Perlman S. Coronavirus: An Overview Of Their Replication

And Pathogenesis. Methods Mol Biol. 2015;1282:1–5.

14. KEMENKES RI. Tentang Novel Coronavirus (NCOV) [Internet]. 2020 [cited

2021 Jul 16]. Available from:

https://www.kemkes.go.id/resources/download/infoterkini/COVID19/TENTA

NG NOVEL CORONAVIRUS.pdf.

15. KEMENKES RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus


Disease (COVID-19) Revisi ke-5. Jakarta: Direktorat Jendral Pencegahan dan

Pengendalian Penyakit; 2020.

16. WHO. Clinical management of severe acute respiratory infection when novel

coronavirus (2019-nCoV) infection is suspected. In: World Healt

Organizatiom, editor. Geneva; 2020.

17. KEMENKES RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2013 tentang

penyelenggaraan imunisasi. Jakarta; 2103.

18. Wong D. Buku Ajar Pediatrik. Jakarta: EGC; 2008.

19. Erlina B, Isbaniyah F AS. PNEUMONIA COVID-19 DIAGNOSIS &

PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru

Indonesia (PDPI), editor. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI);

2020.

20. Yvette Tan. Covid: What do we know about China’s coronavirus vaccines?

[Internet]. 2021 [cited 2021 Jul 6]. Available from:

https://www.bbc.com/news/world-asia-china

21. Centre for Desease Control and Prevention (CDC). Information about the

Moderna COVID-19 Vaccine. General information. [Internet]. 2021 [cited

2021 Jul 6]. Available from: https://www.cdc.gov/coronaviru,diakses

22. Moderna. Fact Sheet For Recipients And Caregivers Emergency Use

Authorization (Eua) Of The Moderna Covid-19 Vaccine To Prevent

Coronavirus [Internet]. 2021 [cited 2021 Jul 16]. Available from:

www.modernatx.com/covid19vaccine-eua

23. Centre for Desease Control and Prevention (CDC). Information about the
Pfizer- BioNTech COVID-19 Vaccine. General information. [Internet]. 2021

[cited 2021 Jul 16]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-

ncov/vaccines/different-vaccines.html

24. Centre for Desease Control and Prevention (CDC). Information about the

Aztrazeneca COVID-19 Vaccine.General information [Internet]. 2021 [cited

2021 Jul 16]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-

ncov/vaccines/different-vaccines.html

25. BPOM. Komitmen Badan POM Mengawal Vaksin COVID-19 [Internet]. 2020

[cited 2020 Jul 16]. Available from:

https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/19151/Komitmen-Badan-POM-

Mengawal-Vaksin-COVID-19.html

26. Koesnoe S. Teknis Pelaksanaan Vaksin Covid dan Antisipasi KIPI.Satgas

Imunisasi Dewasa PB PAPDI. 2020; Available from:

https://www.papdi.or.id/pdfs/1001/Dr Sukamto - Ws Vaksin Covid KIPI.pdf

27. Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hukum Penggunaan Vaksin Covid-19

Produk Astrazeneca. 14 Tahun 2021 Indonesia; 2021 p. 12–3.

28. Lazarus JV, Ratzan SC, Palayew A, Gostin LO, Larson HJ, Rabin K et al. A

global survey of potential acceptance of a COVID-19 vaccine. nat med.

2021;27(2):225–8.

29. Hanney, S. R., Wooding, S., Sussex, J. dan Grant J 2020. From COVID-19

research to vaccine application: why might it take17 months not 17 years and

what are the wider lessons? Heal Res Policy Syst. 18(1):61.

30. Mallory, M. L., Lindesmith, L. C., dan Baric R. Vaccination-induced herd


immunity: Successes and challenges. J Allergy Clin Immunol.

2018;142(1):64–6.