Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PANCASILA SEBAGAI PENCEGAH PAHAM RADIKALISME

Mata kuliah : Pendidikan Pancasila

Dosen Pengampu : Catur Sugiarti, S.H., M.H.

Oleh:
Syifa Annisa / 141200201

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan hidayah-Ny
a sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “PANCASILA SEBAGAI
PENCEGAH PAHAM RADIKALISME” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Ibu Catur
Sugiarti, S.H., M.H. pada mata kuliah Pendidikan Pancasila. Selain itu, makalah ini juga bertujua
n untuk menambah wawasan tentang Pancasila sebagai pencegah paham radikalisme.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Catur Sugiarti, S.H., M.H. selaku dosen mata
kuliah Pendidikan Pancasila yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengeta
huan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 5 Juli 2021

Syifa Annisa

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................................................1
C. Tujuan............................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pancasila dan Fungsinya sebagai Ideologi Bangsa.......................................................4
B. Pengertian Radikalisme................................................................................................5
C. Pengaruh Radikalisme di Indonesia dan Bahaya Radikalisme Terhadap NKRI..........5
D. Radikalisme dan Pemuda..............................................................................................6
E. Upaya Pencegahan Radikalisme ..................................................................................7
F. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Pencegah Radikalisme
......................................................................................................................................8
G. Contoh Kasus Radikalisme di Indonesia .....................................................................9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................................12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 p
ulau. Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Sumatra dan Papua merupakan pulau utama di Indonesia.
Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai keragaman sosial,kelompok etnis, budaya,
agama, aspirasi politik dan sebagainya, sehingga bangsa ini secara sederhana dapat disebut
sebagai masyarakat multikultural. Indonesia dengan ideologinya, yaitu Pancasila. Kehadiran
Pancasila sebagai dasar negara untuk menjadi pemersatu kebegaraman yang ada pada bangsa
Indonesia. Namun, hal yang memprihatikan adalah masih ada kelompok dan organisasi
tertentu yang belum menyadari dan menghayati nilai dan fungsi Pancasila. Selain itu, ada
bahkan banyak kelompok tertentu yang ingin mengganti Pancasila ini sebagai dasar dan
Ideologi bangsa.
Radikalisme merupakan hal yang tidak bisa disepelekan oleh bangsa Indonesia. Realita
radikalisme di Indonesia semakin meresahkan. Ledakan bom bunuh diri, bom bali, sabitan
senjata, membunuh, meneror, merupakan aksi-aksi radikalisme yang telah terjadi di
Indonesia. Kita, sebagai rakyat dari bangsa Indonesia ini wajib untuk mencegah semakin
bertumbuhnya paham-paham radikalisme di negeri kita ini. Pancasila, sebagai dasar negara
dan ideologi bangsa berperan untuk membasmi paham-paham radikalisme yang ada di
negara kita.
Kita sebagai mahasiswa seharusnya bisa menjadi agen dari pencegahan dari radikalisme.
Namun sayangnya, justru banyak sekali mahasiswa yang terpapar radikalisme. Untuk itu,
makalah ini akan membahas tentang pencegahan radikalisme di kalangan mahasiswa melalui
Pendidikan Pancasila di lingkungan kampus.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja fungsi pancasila sebagai ideologi bangsa?
2. Apa itu radikalisme?
3. Apa saja pengaruh radikalisme di Indonesia dan bahaya nya terhadap keutuhan NKRI?

1
4. Apa hubungan radikalisme dan pemuda?
5. Bagaimana upaya pencegahan radikalisme pada masyarakat?
6. Apa saja implementasi dari nilai-nilai Pancasila?
7. Contoh kasus radikalisme

C. TUJUAN
1. Menjelaskan penegertian pancasila dan fungsinya sebagai ideologi bangsa
2. Menjelaskan penegertian radikalisme
3. Menjelaskan pengaruh radikalisme di Indonesia dan bahaya nya terhadap keutuhan NKRI
4. Menjelaskan hubungan radikalisme dan pemuda
5. Menjelaskan upaya pencegahan radikalisme
6. Menjelaskan bagaimana implementasi nilai-nilai Pancasila
7. Menjelaskan contoh kasus radikalisme

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pancasila dan Fungsinya Sebagai Ideologi Bangsa


Pancasila merupakan pilar ideologi negara Indonesia. Pancasila selain sebagai dasar
Negara, juga merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila yang diterima dan
ditetapkan sebagai dasar Negara seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945
merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa. Hal ini mengandung makna bahwa
di dalam Pancasila mengandung jiwa yang luhur, nilai-nilai yang luhur dan ajakan
moralitas bagi bangsa Indonesia.
Sebagai ideologi bangsa, Pancasila tentunya memiliki fungsi-fungsi. Berikut fungsi-
fungsi dari Pancasila:
1. Pancasila Sebagai Ideologi Negara
Pancasila sebagai ideologi negara merupakan tujuan bersama Bangsa Indonesia yang
diimplementasikan di dalam Pembangunan Nasional. Pancasila sebagai ideologi negara
berarti Pancasila dijadikan pedoman oleh masyarakat Indonesia dalam menjalankan
kehidupannya. Nilai-nilai yang terkandung dalam kelima asas Pancasila menjadi landasan
masyarakat dalam bersosialisasi, kehidupan beragama, hak asasi manusia, dan bekerja
sama.
2. Pancasila Sebagai Dasar Negara
Pancasila sebagai dasar negara atau sering juga disebut sebagai Dasar Falsafah Negara
atau ideologi negara. Hal ini mengandung pengertian bahwa Pancasila sebagai dasar yang
mengatur penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Pancasila adalah dasar negara dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang harus dilaksanakan secara konsekuen dan
konsisten.
3. Pancasila Sebagai Jiwa Bangsa Indonesia
4. Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia
Pancasila merupakan pencerminan dari jati diri bangsa Indonesia. Oleh karena itu, bangsa
indonesia harus menjadikan pengalaman pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan

3
bermasyarat dan bernegara. Diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal
perbuatan sikap mental.
5. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berarti Pancasila sebagai pedoman di setiap
hal yang kita lakukan. Jadi sikap kita sebagai warga negara Indonesia juga harus
mencerminkan nilai-nilai yang ada pada setiap butir Pancasila. Nilai-nilai tersebut yaitu :
nilai ketuhanan,kemanusiaan,persatuan,kerakyatan atau demokrasi,keadilan sosial.
6. Pancasila Sebagai Sumber Dari Segala Sumber Hukum
Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum memberi makna bahwa sistem hukum
nasional wajib berlandaskan Pancasila. Sumber tertib hukum Republik Indonesia adalah
pandangan hidup, kesadaran, cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana
kejiwaan serta watak Bangsa Indonesia.
7. Pancasila Sebagai Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia
Pada saat mendirikan negara, Bangsa Indonesia belum memiliki undang-undang dasar
negara yang tertulis. PPKI merupakan wakil seluruh rakyat Indonesia yang mengesahkan
perjanjian luhur untuk membela Pancasila selama-lamanya.
8. Pancasila Sebagai Cita-Cita dan Tujuan Bangsa Indonesia
Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa artinya, Pancasila dijadikan sebagai cita-cita
dan tujuan yang hendak dicapai bangsa Indonesia. Dasar negara Pancasila yang
terkandung di dalam pembukaan UUD 1945 Alinea ke dua memuat cita-cita dan Alinea
ke empat yang memuat tujuan nasional. Cita-cita bangsa Indonesia adalah rakyat yang
merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Sedangkan tujuan bangsa adalah
melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
Mencerdaskan kehidupan bangsa, Memajukan kesejahteraan umum, Ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
9. Pancasila Sebagai Falsafah Hidup yang Mempersatukan Bangsa
Pancasila sebagai falsafah hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia artinya sebagai
falsafah hidup dan kepribadian bangsa Indonesia, Pancasila mengandung nilai-nilai dan
norma-norma yang diyakini paling benar,paling adil, paling bijaksana atau paling tepat
bagi kehidupannya. dengan keyakinan tersebut, Pancasila merupakan sarana yang sangat
ampuh untuk mempersatukan bangsa Indonesia.

4
B. Pengertian Radikalisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikalisme diartikan sebagai paham atau
aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara
kekerasan atau drastis.
Sementara, kata radikalisme berarti paham atau aliran yang radikal dalam politik; paham
atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan; sikap
ekstrem dalam aliran politik.
Kesimpulannya, Radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan
atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Radikalisme
memiliki keyakinan yang kuat akan kebenaran ideologi atau program yang mereka bawa.
Dalam gerakan sosial, kaum radikalis memperjuangkan keyakinan yang mereka anut.
Menurut pegiat anti radikalisme di Indonesia, terdapat tiga macam radikalisme yakni
keyakinan, tindakan, dan politik, termasuk mengganti ideologi Pancasila dengan khilafah.
1. Radikal Secara Keyakinan
Adalah jenis radikalisme yang sering kali menilai bahwa seseorang itu kafir dan akan
masuk neraka kecuali kelompoknya sendiri.
2. Radikal Secara Tindakan
Adalah jenis radikalisme yang merupakan kelompok yang selalu menghalalkan segala
cara, termasuk melakukan pembunuhan atas nama agama.
3. Radikal Dalam Bentuk Politik
Adalah jenis radikalisme yaitu kelompok yang ingin mengganti ideologi negara yang sah,
Pancasila, dengan ideologi khilafah.
C. Pengaruh Radikalisme di Indonesia dan Bahaya Radikalisme Terhadap Keutuhan NKRI
Pengaruh radikalisme yang merupakan suatu pemahaman baru yang dibuat-buat oleh
pihak tertentu mengenai suatu hal, seperti agama,sosial,dan politik, seakan menjadi
semakin rumit karena berbaur dengan tindakan yang cenderung melibatkan kekerasan.
Berbagai tindakan terror yang tak jarang memakan korban jiwa seakan menjadi cara dan
senjata utama bagi para pelaku paham radikal dalam menyampaikan pemahaman mereka
dalam upaya untuk mencapai suatu perubahan.
Radikalisme mendapat respon positif dari para penganutnya karena para pemimpin
gerakan radikalisme ini menggunakan fondasi agama sehingga orang-orang yang sudah

5
terkontaminasi cenderung fanatik dan memaksakan paham keagamaan yang dianutnya
agar diterima masyarakat secara luas dan tidak menutup kemungkinan cara-cara
kekerasan seringkali digunakan karena menanggap seseorang yang berbeda dengan
kelompok dan golongannya dianggap sebagai musuh yang harus dihancurkan.
Bahaya radikalisme harus dipahami masyarakat Indonesia. Bahaya radikalisme membuat
stabilitas dan kedamaian suatu negara dapat terancam.
Radikalisme juga mengakibatkan adanya aksi terorisme yang saat ini tengah marak
terjadi di Indonesia. Selain dari faktor radikalisme agama, aksi terorisme muncul juga
akibat dari gesekan-gesekan dari anti persatuan, separatisme dan lain-lain. Paham
radikalisme jika tidak segera ditangani akan membuat ideologi Pancasila semakin terkikis
karena Indonesia merupakan sebuah Negara yang sangat beragam dan bervariasi baik
dari segi etnis, budaya, ras dan agama, sedikit saja friksi diantara faktor-faktor tersebut
dapat menjadi pemantik gerakan radikalisme yang sudah ada cikal bakalnya terutama
yang mengenai agama.
Paham radikal menjadi sangat bermasalah di Indonesia karena berusaha memaksakan
kehendak kepada semua orang untuk mendirikan agama atas dasar agama tertentu.
Padahal, masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai macam agama dan suku yang sangat
majemuk.
Pemaksaan kehendak itu tidak sejalan dengan semangat ideologi bangsa yang
mengayomi semua identitas di Indonesia. Dengan kondisi masyarakat yang seperti ini,
akan lebih baik bila setiap elemen bangsa menerima adanya perbedaan identitas
kemudian bisa saling bertoleransi.
D. Radikalisme dan Pemuda
Generasi milenial seperti kalangan pemuda dinilai merupakan sasaran empuk penyebaran
radikalisme. Pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Masa depan negeri ini
bertumpu pada kualitas mereka. Namun ironisnya, kini tak sedikit kaum muda yang
justru menjadi pelaku radikalisme dan terorisme. Serangkaian aksi mulai dari Bom Bali-
1, Bom Gereja Kepunton, bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton,hingga aksi
penembakan Pos Polisi Singosaren di Solo dan Bom di Beji dan Tambora, melibatkan
pemuda. Data BNPT menunjukan sekitar 80 persen kaum milenial rentan terpapar
radikalisme. Dari hasil identifikasi, baik pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral

6
Makassar, dan serangan di Mabes Polri, dilakukan oleh generasi milenial khususnya
mahasiswa. Salah satu penyebabnya adalah masih banyak pemuda yang belum bisa
berpikir kritis, lebih mudah untuk di doktrin, dan dinilai efektif dalam melakukan aksi
terror. Salah satu target doktrin adalah pemuda juga karena dianggap masih muda, emosi
belum stabil, memiliki semangat tinggi dan sedang mencari jati diri.
Persentuhan kalangan pemuda dengan radikalisme tentu bukan sesuatu yang awalnya
muncul sendiri di tengah-tengah masyarakat. Radikalisme itu muncul karena adanya
proses komunikasi dengan jaringan-jaringan radikalisme. Dengan demikian, gerakan-
gerakan radikal yang selama ini telah ada mencoba membuat metamorfosa
dengan merekrut pemuda khususnya mahasiswa, sebagai kalangan terdidik. Dengan
cara ini, kesan bahwa radikalisme hanya dipegangi oleh masyarakat awam
kebanyakan menjadi luntur dengan sendirinya.
E. Upaya Pencegahan Radikalisme
Radikalisme berhubungan erat dengan pancasila. Pancasila bisa menjadi penghalang dan
pencegah paham radikalisme. Setelah diuraikan dalam penjelasan sebelumnya, generasi
mellenial menjadi sasaran empuk dalam penyebaran paham-paham radikalisme di
Indonesia. Keberadaan remaja sebagai agen perubahan menjadi sangat penting. Generasi
millennial harus bisa diajak untuk bersama-sama mencegah dan menangkal penyebaran
paham radikalisme di Indonesia khususnya lingkungan kampus.
Berikut merupakan upaya-upaya pencegahan paham radikalisme di Indonesia :
1. Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Pancasila
Sejak dini Lembaga Pendidikan harus memberikan pemahaman terkait pancasila dan
berbagai masalah sosial budaya, serta menumbuhkan rasa nasionalisme kepada pelajar,
misalnya dengan pemberian mata pelajaran atau mata kuliah Pendidikan pancasila
sehingga tertanam di dalam diri tentang nilai-nilai pancasila yang sangat penting
sehingga memiliki dasar dalam pencegahan radikalisme.
2. Melakukan Sosialisasi Tentang Radikalisme
Dengan mengadakan sosialisasi atau penyuluhan tentang radikalisme dan pencegahan-
pencegahannya, masyarakat dapat memahami dan mengerti bahaya dari radikalisme itu
sendiri sehingga masyarakat dapat menahan dan mencegah diri dari terpaparnya

7
radikalisme. Sosialisasi ini dapat dilakukan di sekolah, kampus, organisasi masyarakat,
dan lain-lain.
3. Pembinaan Agama bagi siswa di Sekolah Maupun Perguruan Tinggi
Pendidikan agama juga merupakan hal dasar dari pencegahan radikalisme. Dengan
pemahaman agama yang baik dan benar, masyarakat khususnya pelajar tau dan mengerti
ajaran agama yang baik dan benar itu seperti apa sehingga bisa mencegah terpaparnya
radikalisme di kemudian hari. Dalam hal ini, peran guru agama di lingkungan sekolah
dan para pemuka agama di masyarakat sangat penting.
4. Membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKM-PIB)
Mengajak kembali organisasi ekstra yang berhaluan Pancasila di kampus untuk ikut
memperkuat upaya melawan radikalisme di kampus. UKM ini menjadi wadah bagi
organisasi mahasiswa untuk berkontestasi dalam memperkuat ideologi kebangsaan yang
mulai pudar di lingkungan kampus dengan merebaknya pemikiran radikal.
F. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Pencegah Radikalisme
Pancasila merupakan ideologi bangsa sebagai dasar dalam pedoman menjalankan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila memiliki nilai-nilai yang
terkandung dalam lima sila yang juga bersifat universal dapat diterima oleh siapapun dan
tidak terbatas oleh waktu, yaitu: nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai
kerakyatan, dan nilai keadilan. Kelima nilai dalam Pancasila ini merupakan senyawa
yang
sangat penting bagi bangsa Indonesia dalam menggerakan roda kehidupan Bangsa
Indonesia. Karena itu, implementasi nilai-nilai Pancasila, agar tetap aktual menghadapi
ancaman radikalisme harus lebih ditekankan pada penyampaian tiga pesan berikut:
1. Negara ini dibentuk berdasarkan kesepakatan dan kesetaraan, di mana di dalamnya
tidak boleh ada yang merasa sebagai pemegang saham utama, atau warga kelas satu.
2. Aturan dalam bernegara telah disepakati, dan Negara memiliki kedaulatan penuh
untuk menertibkan anggota negaranya yang berusaha secara sistematis untuk merubah
tatanan, dengan cara-cara yang melawan hukum.
3. Negara memberikan perlindungan, kesempatan, masa depan dan pengayoman
seimbang untuk meraih tujuan nasional masyarakat adil dan makmur, sejahtera, aman,
berkeadaban dan merdeka.

8
Nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI 1945 yang harus tetap diimplementasikan itu adalah :
a) Kebangsaan dan persatuan
b) Kemanusiaan dan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia
c) Ketuhanan dan toleransi
d) Kejujuran dan ketaatan terhadap hukum dan peraturan
e) Demokrasi dan kekeluargaan
Pemahaman yang mendalam terhadap empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD
1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Melalui pendidikan kewarganegaraan, para
pemuda didorong untuk menjunjung tinggi dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur
yang sejalan dengan kearifan lokal seperti toleransi antar-umat beragama, kebebasan
yang bertanggung jawab, gotong royong, kejujuran, dan cinta tanah air serta kepedulian
antar-warga masyarakat.
Penanaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila sangat diperlukan, karena menjadi
landasan sikap dan berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa , dan
bernegara. Memiliki jiwa nasionalisme serta memiliki sikap toleransi yang dapat menjadi
tameng dalam menangkal gerakan radikalisme. Implementasi nilai-nilai Pancasila dapat
ditanamkan melalui penerapan fungsi-fungsi Pancasila secara menyeluruh dan merata
dalam kehidupan berbangsa.
G. Contoh Kasus Radikalisme di Indonesia
Ledakan Bom Bunuh Diri di 3 Gereja di Surabaya
3 Gereja pada hari Minggu, 13 Mei 2018 silam mengalami teror. Dalam teror kali ini,
pelaku diketahui merupakan satu keluarga. Terjadi suatu ledakan dari aksi bom bunuh
diri ini di tiga Gereja yaitu Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, Gereja Santa
Maria Tak Bercela di Ngagel Madya Kecamatan Gubeng, dan Gereja Pantekosta di Jalan
Arjuno.
Sedikitnya 11 orang tewas dan 41 korban luka-luka saat rangkaian bom bunuh diri terjadi
di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol
Frans Barung Mangera, mengatakan serangan itu terjadi dalam waktu hampir bersamaan,
antara pukul 06.00 hingga 08.00 WIB. Berikut kronologi kejadian:
Pukul 06.30-07.00 WIB

9
Serangan bom pertama terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya,
Kecamatan Gubeng. Dalam rekaman CCTV yang beredar, terlihat 2 orang sedang
berboncengan menaiki sepeda motor menuju gereja. Satu pelaku yang dibonceng terlihat
membawa ransel yang diduga berisi bom.

Sejumlah saksi menyebut serangan terjadi saat pergantian jemaat misa. Ledakan keras
terdengar hingga radius 100 meter. Dalam aksi ini, ada seorang warga gereja, Aloysius
Bayu, dengan berani menghalangi motor yang digunakan pelaku teror bom untuk
memasuki wilayah Gereja Santa Maria Tak Bercela. Akibatnya, bom meledak bersama
dua pelaku yang diketahui kakak beradik dan turut menewaskan Bayu. Bayu
meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil.
07.15 WIB
Serangan bom kedua terjadi di Gereja Kristen Indonesia Jalan Raya Diponegoro,
Surabaya.
Sejumlah saksi sempat melihat wanita bercadar membawa dua anak balita memasuki
halaman gereja. Ibu dan dua anaknya yang berupaya masuk ke ruang kebaktian ini
sempat dihalau oleh seorang sekuriti di pintu masuk GKI Jalan Diponegoro Surabaya,
sebelum kemudian ketiganya meledakkan diri di halaman gereja.
07.53 WIB
Serangan bom ketiga terjadi di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Saksi mata
menuturkan ledakan terjadi dari tempat parkir kendaraan. Diduga serangan bom mobil.
Api langsung membumbung tinggi di lokasi kejadian.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
a) Pancasila merupakan pilar ideologi negara Indonesia. Pancasila selain sebagai dasar
Negara, juga merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila yang diterima dan
ditetapkan sebagai dasar Negara seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945
merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa. Hal ini mengandung makna bahwa
di dalam Pancasila mengandung jiwa yang luhur, nilai-nilai yang luhur dan ajakan
moralitas bagi bangsa Indonesia.
b) Bahaya radikalisme harus dipahami masyarakat Indonesia. Bahaya radikalisme
membuat stabilitas dan kedamaian suatu negara dapat terancam. Radikalisme juga
mengakibatkan adanya aksi terorisme yang saat ini tengah marak terjadi di Indonesia.
Selain dari faktor radikalisme agama, aksi terorisme muncul juga akibat dari gesekan-
gesekan dari anti persatuan, separatisme dan lain-lain. Paham radikalisme jika tidak
segera ditangani akan membuat ideologi Pancasila semakin terkikis karena Indonesia
merupakan sebuah Negara yang sangat beragam dan bervariasi baik dari segi etnis,
budaya, ras dan agama, sedikit saja friksi diantara faktor-faktor tersebut dapat menjadi
pemantik gerakan radikalisme yang sudah ada cikal bakalnya terutama yang mengenai
agama.
c) Terdapat upaya-upaya dalam pencegahan radikalisme yang dapat kita lakukan sebagai
warga negara untuk tameng penyebaran radikalisme di negara kita ini.
d) Implementasi nilai-nilai Pancasila harus diwujudkan dan diterapkan melalui upaya
untuk tetap menjaga nilai-nlai Pancasila. Sebagai arahan dalam mengatasi dan
menyelesaikan berbagai tantangan yang timbul dalam masyarakat, penerapan nilai-nilai

11
Pancasila dapat menjadi landasan yang kuat untuk mencegah dan menangkal
perkembangan serta penyebaran paham dan gerakan radikalisme di Indonesia. Menangkal
paham-paham radikalisme dengan implementasi nilai-nilai dari setiap sila pancasila serta
mempertahankan ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.idntimes.com/news/indonesia/margith-juita-damanik/5-kasus-teror-di-
indonesia-selama-mei/4
http://husadakaryajaya.ac.id/2017/11/02/implementasi-nilai-nilai-pancasila-menghadapi-
radikalisme/
https://kepri.kemenag.go.id/page/det/begini-upaya-pencegahan-paham-radikalisme-di-
kalangan-generasi-muda-menurut-jamzuri
https://www.liputan6.com/news/read/3523888/ini-motif-bom-gereja-surabaya-versi-
kapolri
https://www.merdeka.com/peristiwa/ini-kronologi-lengkap-serangan-bom-bunuh-diri-di-
3-gereja-surabaya.html
https://kumparan.com/boy-anugerah/menanggulangi-paham-radikal-di-masyarakat-
1vBkaPVCUQa/full

12