Anda di halaman 1dari 16

KIMIA LINGKUNGAN

KARTU IDENTITAS POLUTAN UDARA CO

Dosen Pengampu Mata Kuliah : Prof. Dr. Hj. Rudiana Agustini, M.Pd.

Kelompok 1

Esty Ayu Fadhilatul Munawaroh PKA 2018/18030194006

Airiza Dian Luthfiana PKU 2018/18030194032

Fairuziyah Aizzatun Nisa PKU 2018/18030194082

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2021
KARTU IDENTITAS KONTAMINAN/POLUTAN

Nama Kontaminan/Polutan : CO

1. Karakter (Sifat-sifat Fisik)


Keterangan Umum Unsur:
 Nama unsur : Karbon monoksida
 Lambang : CO
 Berat molekul : 28,01 gr/mol
Ciri-ciri Fisik:
 Titik didih : -192 °C (81 K)
 Titik leleh : -205 °C (68 K)
 Warna : Tidak berwarna
 Bau : Tidak berbau
 Rasa : Tidak berasa
 Fase : Gas
 Densitas : 0,789 g/cm³, liquid 1,250 g/L at 0 °C, 1 atm.
 Larut dalam : Air, etanol, benzena, CH3COOOH, NH4OH, etil asetat, kloroform
 Kelarutan dalam air : 0,0026 g/100 mL (20 °C)
 Titik nyala : Gas mudah terbakar
 Indeks bias : 1.0003364
 Jenis ikatan : Ikatan kovalen dan ikatan kovalen koordinasi
 Panjang ikatan : 0,111 nm
 Energi ikatan : 1079 kJ/mol
 Titik triple : 67,9 K (−205,1°C), 15,35 kPa
 Titik kritis : 132,7 K (−140.3°C), 3498 kPa, 11,1 mol/l (3,1×102 kg/m3)
 Kapasitas panas : 29 J/(mol K)
 Specific heat : 5,03 kal/mol°C pada -100°C volume konstan 1 atm
4,97 kal/ mol°C pada 0°C volume konstan 1 atm
5,01 kal/ mol°C pada 100°C volume konstan 1 atm
 Entropi : 43,457 kal/mol.K pada -100°C pada 1 atm
46,656 kal/mol.K pada 0°C pada 1 atm
48,8831 kal/mol.K pada 100°C pada 1 atm
1. Karakter (Sifat-sifat Fisik)
 Entropi molar standar : 197,66 J/(mol K)
 Temperature kritis : -140,23°C
 Tekanan kritis : 34,529 atm
 Volume kritis : 93,06 cm3
 Entalpi : 3130,6 kal/mol pada -100°C pada 1 atm
3831,8 kal/mol pada 0°C pada 1 atm
4529,8 kal/mol pada 100°C pada 1 atm
 Perubahan entalpi pembakaran : 283,0 kJ/mol
 Perubahan entalpi pembentukan : 110,53 kJ/mol
Daftar Pustaka
Perry, R. H. 1997. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook 7th Edition. New York: Mc
Graw Hill.

2. Sumber (Asal kontaminan/polutan)


 Asap kendaraan bermotor terutama dari kendaraan yang menggunakan bensin
sebagai bahan bakar
 Limbah industri pulp kertas
 Pembakaran sampah, seperti sisa-sisa kayu dan sisa-sisa tanaman.
 Pembakaran sisa pertanian
 Pembakaran batu bara sisa
 Kebakaran hutan
 Limbah industri besi dan baja
 Limbah industri bengkel sepeda motor
 Limbah pembangkit listrik
 Limbah pemanas timah
 Limbah kegiatan penerbangan
Daftar Pustaka
Alihta, Karina Nursyafira. 2017. Analisis Beban Pencemar Karbon Monoksida (CO) dan
Karbon Dioksida (CO2) di Kawasan Bandar Udara Internasional Kualanamu. Tugas
Akhir: Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
Damanik, Kanaya Yori. 2017. Analisis Konsentrasi Karbon Monoksida (CO) dan
Konsentrasi Timbal (Pb) serta Keluhan Kesehatan pada Mekanik Bengkel Sepeda
Motor di Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal Kota Medan Tahun
2. Sumber (Asal kontaminan/polutan)
2017. Skripsi: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.
Sastrawijaya, A.T. 2009. Pencemaran Lingkungan (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
Sengkey, Sandri Linna dkk. 2011. Tingkat Pencemaran Udara CO Akibat Lalu Lintas
dengan Model Prediksi Polusi Udara Skala Mikro. Jurnal Ilmiah Media Engineering
1 (2): 119-126.
Setiawan, Yusup dkk. 2004. Karakteristik Emisi Industri Pulp dan Kertas dalam Konteks
Pencemaran Udara. Jurnal Selulosa 39 (2): 1-11.

3. Reaksi-reaksi yang Relevan (Karakter Kimia)


Berikut adalah reaksi-reaksi yang relevan (karakter kimia) dari karbon monoksida:
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan hemoglobin dalam darah akan
menggantikan oksigen yang terikat pada hemoglobin, sehingga menjadi CO-
Hb. Berikut adalah persamaan reaksi yang terjadi:
O2Hb + CO  COHb + O2
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan hidrogen akan menghasilkan gas
metana. Berikut adalah persamaan reaksi yang terjadi:
CO + 3H2  CH4 + H2O
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan oksigen akan menghasilkan gas
karbon dioksida. Berikut adalah persamaan reaksi yang terjadi:
2CO + O2 ⇌ 2CO2

 Karbon monoksida jika bereaksi dengan suatu alkohol akan menghasilkan


asam karboksilat. Berikut adalah persamaan reaksi antara methanol dan
karbon monoksida menghasilkan asam asetat:
CH3OH + CO  CH3COOH + H2O
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan besi (III) oksida akan
menghasilkan besi oksida dan karbon dioksida. Berikut adalah persamaan
reaksinya:
3Fe2O3 + CO  2Fe3O4 + CO2
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan dimetil alamin membentuk dimetil
nonamine. Berikut adalah persamaan reaksinya:
CO + (CH3)2NH  CH3COOH + H2O
 Karbon monoksida dapat menghasilkan sejumlah aldehida dengan hasil
3. Reaksi-reaksi yang Relevan (Karakter Kimia)
volume yang cukup tinggi jika direaksikan dengan alkena, dan H2 yang
dinamakan dengan reaksi hidroformilasi. Berikut adalah persamaan reaksi
hidroformilasi:

Misalnya: Untuk R adalah CH3 maka dihasilkan n-butanol dan iso butanol.
 Karbon monoksida dapat menghasilkan komplek asil apabila bereaksi
dengan spesies metal alkil melalui suatu reaksi yang disebut reaksi Reppe.
Berikut adalah persamaan reaksinya:

 Karbon monoksida jika direaksikan dengan alkohol dan alkuna maka akan
menghasilkan ester akrilat. Berikut adalah persamaan reaksinya:

 Karbon monoksida dapat menghasilkan Nikel tetrakarbonil Ni(CO) 4 sesuai


dengan persamaan reaksi di bawah ini:
NiX2 + 5CO + H2O  Ni(CO)4 + CO2 + 2HX
 Karbon monoksida dapat menghasilkan senyawa organoklor melalui reaksi
karbonilasi olefin dalam alkohol menggunakan paladium klorida sebagai
katalis, dengan persamaan reaksi di bawah ini:
RCH=CH2 + CO + ROH + PdCl2  RCH(CL)CH2COOR + Pd0 + HCl
 Karbon monoksida bereaksi dengan senyawa alkuna dan menggunakan
campuran Pd(II) bersama ligan phosphine dapat menghasilkan senyawa
monokarbonil. Reaksi ini menggunakan suhu dan tekanan tinggi dan
menghasilkan campuran dua isomer seperti reaksi dibawah ini:

 Karbon monoksida digunakan dalam reaksi karbonilasi terhadap styrene


dalam methanol/ THF yang dimasukkan PdCl2, CuCl2, ligan, BNPPA
menggunakan HCl dan menghasilkan 2-fenil propionate sesuai reaksi
3. Reaksi-reaksi yang Relevan (Karakter Kimia)
dibawah ini:

Daftar Pustaka
E. H. Pryde et all. 19722. Reactions of Carbon Monoxide with Unsaturated Fatty Acids
and Derivates. A Review 49(8): 451-456.
Perry, R. H. 1997. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook 7th Edition. New York: Mc
Graw Hill.
Safitri, Nyimas Sindi. 2015. Pabrik Asam Asetat dengan Proses KarbonilasiMetanol
Monsanto. Skripsi: Fakultas Teknologi Industri UPN Veteran Jawa Timur.

4. Perubahan-perubahan Spesies (Karakter Kimia)


 Karbon monoksida jika bereaksi dengan hemoglobin dalam darah akan
menggantikan oksigen yang terikat pada hemoglobin, sehingga menjadi CO-
Hb. Berikut adalah persamaan reaksi yang terjadi:
O2Hb + CO  COHb + O2
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan hidrogen akan menghasilkan gas
metana. Berikut adalah persamaan reaksi yang terjadi:
CO + 3H2  CH4 + H2O
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan oksigen akan menghasilkan gas
karbon dioksida. Berikut adalah persamaan reaksi yang terjadi:
2CO + O2 ⇌ 2CO2

 Karbon monoksida jika bereaksi dengan suatu alkohol akan menghasilkan


asam karboksilat. Berikut adalah persamaan reaksi antara methanol dan karbon
monoksida menghasilkan asam asetat:
CH3OH + CO  CH3COOH + H2O
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan besi (III) oksida akan menghasilkan
besi oksida dan karbon dioksida. Berikut adalah persamaan reaksinya:
3Fe2O3 + CO  2Fe3O4 + CO2
 Karbon monoksida jika bereaksi dengan dimetil alamin membentuk dimetil
nonamine. Berikut adalah persamaan reaksinya:
4. Perubahan-perubahan Spesies (Karakter Kimia)
CO + (CH3)2NH  CH3COOH + H2O
Daftar Pustaka
Perry, R. H. 1997. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook 7th Edition.
New York: Mc Graw Hill.
Safitri, Nyimas Sindi. 2015. Pabrik Asam Asetat dengan Proses Karbonilasi
Metanol Monsanto. Skripsi: Fakultas Teknologi Industri UPN
Veteran Jawa Timur.

5. Perpindahan (Jejak di Sistem dan Lingkungan Air, Udara, atau Tanah dan
Manusia)

Karbon monoksida, walaupun dianggap sebagai polutan, telah lama ada di atmosfer
sebagai hasil produk dari aktivitas gunung berapi. Kandungan CO dalam gas gunung
berapi bervariasi dari <0.01% sampai 2%, bergantung pada gunung api tersebut. CO
antropogenik dari emisi automobile dan industry memberikan kontribusi pada efek rumah
kaca dan pemanasan global. Perubahan CO menjadi senyawa lain di atmosfer
diperkirakan berhubungan dengan terjadinya perubahan iklim, karena CO diketahui
berperan penting dalam pengendalian jumlah radikal OH di atmosfer. Oksidasi karbon
monoksida secara tidak langsung juga dapat berpengaruh terhadap energi radiasi berkaitan
dengan terbentuknya karbon dioksida dan ozon troposfer. Secara umum, proses
terbentuknya gas karbon monoksida (CO) melalui proses berikut ini:
a. Pembakaran bahan bakar fosil dengan udara
5. Perpindahan (Jejak di Sistem dan Lingkungan Air, Udara, atau Tanah dan
Manusia)
2C + O2 → 2CO
b. Pada suhu tinggi, terjadi reaksi antara CO2 dengan C
CO2 + C → 2CO
c. Pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen
CO2 → CO + O
Daftar Pustaka
Wardhana, Wisnu Arya. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit
Andi.

6. Efek Toksikologi
 Gas CO yang keluar dari knalpot akan berada di udara ambient, jika terhirup oleh
manusia maka molekul tersebut akan masuk kedalam saluran pernapasan terus masuk
ke dalam paru-paru dan kemudian akan menempel pada hemoglobin darah
membentuk karboksi hemoglobin (COHb). Penguraian COHb yang relatif lambat
menyebabkan terlambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya
membawa oksigen ke seluruh tubuh. Pada kondisi tersebut akan berakibat serius
karena dapat menyebabkan kematian.
 Di udara, CO terdapat dalam jumlah yang sedikit yaitu 0,1 ppm. Di perkotaan
dengan lalu lintas yang padat, konsentrasi gas CO antara 10-15 ppm. Gas CO dalam
jumlah banyak (konsentrasi tinggi) dapat menyebabkan gangguan pada ekosistem
dan lingkungan
 Pengaruh CO terhadap hewan yaitu hemoglobin, pembawa oksigen dalam sel darah
hewan, menjadi tidak mampu membawa oksigen dengan adanya karbon monoksida.
Sehingga dapat menyebabkan hewan sesak napas dan menyebabkan kematian.
 Pengaruh CO terhadap tanaman sebesar 100 ppm tidak memberikan pengaruh yang
nyata pada tanaman tingkat tinggi. Pada paparan CO sebesar 200 ppm selama 35 jam
dapat menghambat kemampuan bakteri untuk memfiksasi nitrogen
 Pengaruh CO terhadap material adalah menghitamnya benda-benda pada daerah yang
telah tercemar oleh CO
Daftar Pustaka
Rivanda, Adrian. 2015. Pengaruh Paparan Karbon Monoksida Terhadap Daya Konduksi
Trakea. Journal Kedokteran Universitas Lampung, Vol. 4 (8): 153-159.
7. Identifikasi (Kualitatif dan Prinsip)
1. Salah satu metode pengambilan sampel yang digunakan untuk mengidentifikasi
paparan CO yaitu metode pengukuran secara pasif atau Passive Sampling.
Pengukuran secara pasif menggunakan alat passive sampler yaitu alat personal
dosimeter GASTEC Dosimeter Tube Model 1D. sepesifikasi alat tersebut adalah
sebagai berikut:
- Satuan ukur : part per million hours (ppm.jam)
- Rentang ukur : 1.04 – 2000 ppm
- Bekerja pada : suhu 0 - 40°C dan kelembapan 0 – 90%
- Waktu ukur : 0,5 – 24 jam
- Indikator warna : Kuning pucat (normal) – Cokelat (terpapar)
- Prinsip reaksi : Karbon Monoksida mereduksi Sodium Palladosulfite untuk
membebaskan logam Palladium, sehingga warna menjadi cokelat.
- Alat dipasang di kerah baju atau saku responden yang berada di area pernapasan
manusia (breathing zone)
- Alat ini digunakan untuk mengukur TWA (Time Weighted Average) untuk
paparan CO yang diterima responden dalam rentang waktu tertentu, ditandai
dengan perubahan warna pada indikator di dalam alat

2. Metode pengukuran Non-Dipersive Infra Red (NDIR). Prinsip kerja Non-Diprersive


Infra Red (NDIR) Analyzer berdasarkan SNI 7119.10:2011 yang menyatakan alat
analisis gas CO bekerja atas dasar sinar infra merah yang terabsorbsi oleh analit.
Sinar infra merah yang digunakan adalah sinar infra merah non dipersive. Gas nol
(zero gas) dan contoh uji masuk dalam sel pengukuran dalam jumlah yang tetap dan
diatur oleh katup selenoid yang bekerja dalam rentang waktu tertentu. Pengukuran ini
berdasarkan kemampuan gas CO menyerap sinar infra merah. Banyaknya intensitas
sinar yang diserap sebanding dengan konsentrasi CO. Konsentrasi CO terukur akan
dibandingkan dengan baku mutu udara ambien yang terdapat pada PP No. 41 Tahun
1999.
7. Identifikasi (Kualitatif dan Prinsip)

Daftar Pustaka
Alihta, Karina Nursyafira. 2017. Analisis Beban Pencemar Karbon Monoksida (Co) Dan
Karbon Dioksida (Co2) Di Kawasan Bandar Udara Internasional Kualanamu.Tugas
Akhir. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Sumatera
Utara
Herman , Anton. Dkk. Analisis Pengukuran Konsentrasi Karbonmonoksida (Co) Pada
Breathing Zone Petugas Parkir Basement Mall Kota Bandung.
Sari, Linna Oktaviana. 2014. Analisa Respon Dan Sensitifitas Alat Deteksi Kadar Polutan
Karbon Monoksida (Co) Di Udara Dengan Sensor Tgs 26. Arsitron. 5(1).

8. Identifikasi (Kuantitatif, termasuk Prinsip Reaksi dan Kerja Instrumen/alat)


a. Mengukur kadar CO di udara dengan Gastec

Gambar 1. Gastec
Prosedur yang harus dilakukan yaitu:
1) Alat Gastec GV-100s pump dan Gastec detector tubes disiapkan
2) Arah mata angin ditentukan
3) Tube pada breaker alat gastec dipatahkan
4) Tube dipasang pada ruber tube holder dan dilakukan sampling selama 4 menit
5) Data meteorologi diukur
6) Dicatat hasil pengukuran dan dianalisa
Perhitungan:
 Tekanan (ppm)
ppm ×1013 hpa
Tekanan =
Po
8. Identifikasi (Kuantitatif, termasuk Prinsip Reaksi dan Kerja Instrumen/alat)
Keterangan:
Ppm adalah kadar CO yang dikur dengan alat (ppm)
Po adalah tekanan baromatik saat pengukuran (hpa)
 Konsentrasi (1 jam)
ppm × BM
C= × 103
24,45
Keterangan:
C adalah konsentrasi kadar CO (μg/Nm3)
ppm adalah tekana hitung (ppm)
BM adalah berat molekul
 Konsentrasi (24 jam)
t1
C (24) = [ ] × C
t2
Keterangan:
C adalah konsentrasi kadar CO (μg/Nm3)
C (24) adalah konsentrasi kadar CO dengan pengukuran 24 jam (μg/Nm3)
t1 adalah lama pengukuran (menit)
t2 adalah 24 jam (1440 menit)

PP Nomor 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara dengan baku


mutu gas CO adalah 30.000 μg/Nm3untuk pengukuran 1 jam dan 10.000μg/Nm3
untuk pengukuran 24 jam. Jika hasil yang didapatkan lebih kecil dari baku mutu,
maka dapat dikatakan kadar CO dalam suatu udara yang diteliti kecil sehingga tidak
berdampak pada kesehatan lingkungan dan manusia.
b. Mengukur kadar gas CO dengan CO meter
8. Identifikasi (Kuantitatif, termasuk Prinsip Reaksi dan Kerja Instrumen/alat)
Cara kerja:
1) Instal batu baterai
2) Tekan tombol power
3) Seluruh instrumen aktif ditandai munculnya segmen digital pada display
4) Pada display akan muncul angka yang menunjukkan kadar CO dan suhu pada
waktu pengukuran
5) Tekan tombol Rec kemudian tunggu hingga waktu pengukuran selesai tekan Rec
lalu diperoleh hasil kadar maksimal dan minimal CO pada daerah pengukuran
6) Untuk mematikan tekan tombol power hingga berbunyi dan alat akan turn off
dengan sendirinya.
Prosedur yang harus dilakukan, yaitu:
1) Tentukan area yang akan dilakukan pengukuran
2) Buat tabel hasil pengukuran
3) Pasang baterai pada alat
4) Hidupkan alat dengan cara menekan tombol power pada alat hingga berbunyi
dan muncul angka pada display yang menunjukkan kadar gas CO dan juga suhu
pada tempat pengukuran
5) Setelah muncul angka, catat suhu pada tempat pengukuran, kemudian tekan
tombol Rec tunggu sampai waktu pengukuran selesai kemudian tekan tombol
Rec lagi
6) Diperoleh hasil kadar gas CO baik maksimal dan minimal pada tempat
pengukuran
7) Catat hasil yang diperoleh pada tabel hasil pengukuran
8) Matikan alat dengan cara menekan tombol power hingga berbunyi dan alat akan
turn off dengan sendirinya
Kadar Nilai Ambang Batas (NAB) normal gas CO yang diperbolehkan sesuai isi
NAB menurut Permenakertrans No. 13/MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisik dan
Faktor Kimia adalah 29 mg/m3.
Daftar Pustaka
Fernando, Bernhard, dan Amir. 2012. Realisasi Alat Ukur Konsentrasi Karbon Monoksida
(CO) pada Gas Buang Kendaraan Bermotor Berbasis Sensor Gaas TGS2201 dan
Mikrokontroler ATMMega8535. Lampung: Universitas Lampung.
Fitriana dan Oginawati. 2012. Studi Paparan Gas Karbonmonoksida dan Dampaknya
8. Identifikasi (Kuantitatif, termasuk Prinsip Reaksi dan Kerja Instrumen/alat)
Terhadap Pekerja di Terminal Cicaheum Bandung. Jurnal Teknik Lingkungan,
Volume 10, No. 1.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 1999. Peraturan Pemerintah RI Nomor 41
Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara Jakarta.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 13 MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor
Fisika dan Kimia di Lingkungan Kerja.

9. Perundang-undangan yang Terkait dan Tuntutan yang Diberlakukan)


1. Jenis parameter pencemar udara berdasarkan pada baku mutu udara ambien menurut
Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, yaitu meliputi : Sulfur dioksida (SO2),
Karbon monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Oksidan (O3), Hidro karbon
(HC), PM10, PM 2,5, TSP, Pb (Timah Hitam), Dustfall. Ada lima jenis polutan di
udara, yaitu partikulat dengan diameter kurang dari 10 µm (PM10), sulfur dioksida
(SO2), nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO) dan timbale
2. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 1997 Pasal 1 Ayat 3,
polusi/pencemaran adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi,
dan atau komponen lain kedalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan
lingkungan dari kegiatan proses alam, sehingga kualitas turun sampai ke tingkat
tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi
secara optimal.
3. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara, udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan
manusia serta makhluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara kelestarian
fungsinya melalui pengendalian pencemaran udara untuk pemeliharaan kesehatan
dan kesejahteraan manusia serta perlindungan bagi makhluk hidup lainnya
4. Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara dinyatakan bahwa daerah dapat menetapkan BMUA (Baku Mutu
Udara Ambien) daerah berdasarkan status mutu udara ambien di daerah yang
bersangkutan melalui keputusan gubernur
5. Menurut UU No. 32 tahun 2009, pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke
dalamlingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu
lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
9. Perundang-undangan yang Terkait dan Tuntutan yang Diberlakukan)
6. Peraturan perundangan dalam kaitannya dengan upaya penanggulangan pencemaran
yang bersifat nasional adalah undang – undang no. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan
Pokok Pengelolaan lingkungan Hidup
7. Berdasarkan PP No 41 Tahun 1999 Pasal 1 Ayat 3 dijelaskan bahwa sumber
pencemar adalah setiap usaha/kegiatan yang mengeluarkan bahan pencemar ke udara
yang menyebabkan udara tidak dapat berfungsi dengan sebagaimana mestinya.
8. Peraturan perundangan dalam kaitannya dengan upaya penanggulangan pencemaran
yang bersifat nasional adalah undang – undang no. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan
Pokok Pengelolaan lingkungan Hidup. Beberapa peraturan tentang upaya
pengendalian pencemaran misalnya yang diterapkan untuk : Sektor industri, Sektor
pertambangan, Sektor transportasi, Teknologi pengendalian pencemaran
Daftar Pustaka :
Alihta, Karina Nursyafira. 2017. Analisis Beban Pencemar Karbon Monoksida (Co) Dan
Karbon Dioksida (Co2) Di Kawasan Bandar Udara Internasional
Kualanamu.Tugas Akhir. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara
Amalia , Rizki Dwika. 2017. Strategi Pengendalian Pencemaran Gas Co Dari Aktivitas
Transportasi Di Kota Batu, Jawa Timur. Tesis. Jurusan Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
Ratnani, R. D. 2008. Teknik Pengendalian Pencemaran Udara Yang Diakibatkan Oleh
Partikel. Momentum. 4(2)
Sari, Linna Oktaviana. 2014. Analisa Respon Dan Sensitifitas Alat Deteksi Kadar Polutan
Karbon Monoksida (Co) Di Udara Dengan Sensor Tgs 26. Arsitron. 5(1).

10. Ide-ide Penanganan (Preventif dan Kuratif)


A. Preventif
1. Mendayagunakan secara maksimal instrumen pengawasan dan perizinan. Salah
satu instrumen pengawasan dan perizinan adalah penerapan Baku Mutu
Lingkungan (BML). Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau
unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya
tertentu sebagai unsur lingkungan hidup
10. Ide-ide Penanganan (Preventif dan Kuratif)
2. Penanggulangan emisi debu. Alat-alat pemisah debu bertujuan untuk
memisahkan debu dari alirah gas buang. Debu dapat ditemui dalam berbagai
ukuran, bentuk, komposisi kimia, densitas, daya kohesi, dan sifat higroskopik
yang berbeda. Klasifikasi pemisah debu berdasarkan prinsip kerjanya yaitu
pemisah brown, penapisan, pengendap elektrostatik, pengumpul sentrifugal,
pemisah inersia, pengendapan dengan gravitasi.
3. Pengendalian emisi dengan perubahan pada proses. Pendekatan ini lebih
ditekankan pada konsep pencegahan polusi (cleaner production), yaitu melakukan
modifikasi pada poses sedemikian rupa sehingga 9 kuantitas maupun kualitas
udara yang diemisikan di bawah baku mutu udara. Bentuk modifikasi yang
dilakukan dapat melalui substitusi bahan, perubahan proses produksi (misalnya
oil based menjadi water based), perubahan durasi produksi dan sebagainya
4. Fabric filter/Baghouses. Fabric filter menyisihkan debu dari aliran gas dengan
melewatkannya melalui fabric berpori. Partikel debu membentuk pori-pori lebih
atau kurang melekat pada permukaan fabric. Normalnya lapisan ini yang
melakukan filtrasi. Fabric Filter atau baghouse beroperasi dengan prinsip seperti
vacuum cleaner, yakni udara pembawa partikel debu didorong ke dalam suatu
cloth bag. Saat udara melewati fabric, debu akan terakumulasi pada cloth dan
menghasilkan suatu aliran udara bersih. Debu secara periodik disisihkan dari
cloth dengan guncangan atau menggunakan aliran udara terbalik. Fabric Filter
terbatas untuk kondisi dengan temperatur rendah dan kering, tetapi dapat
digunakan untuk berbagai jenis debu dan mempunyai efisiensi yang cukup tinggi.
5. Potensi terbesar polusi oleh kendaraan bermotor adalah kemacetan lalu lintas dan
tanjakan. Karena itu, pengaturan lalu lintas, rambu-rambu, dan tindakan tegas
terhadap pelanggaran berkendaraan dapat membantu mengatasi kemacetan lalu
lintas dan mengurangi polusi udara.
6. Pembatasan usia kendaraan, terutama bagi angkutan umum, perlu
dipertimbangkan sebagai salah satu solusi. Sebab, semakin tua kendaraan,
terutama yang kurang terawat, semakin besar potensi untuk memberi kontribusi
polutan udara.
7. Pemberian pelatihan terkait K3 termasuk di dalamnya bahaya mengenai paparan
gas CO.
B. Kuratif
10. Ide-ide Penanganan (Preventif dan Kuratif)
1. Kerja bakti rutin di tingkat RT/RW atau instansiinstansi untuk membersihkan

lingkungan dari polutan.

2. Melokalisasi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) sebagai tempat/pabrik

daur ulang.

3. Menggunakan penyaring pada cerobongcerobongi di kilang minyak atau pabrik


yang menghasilkan asap atau jelaga penyebab pencemaran udara
4. Penanaman pohon-pohon yang berdaun lebar di pinggir-pinggir jalan, terutama
yang lalu lintasnya padat serta di sudut-sudut kota, juga mengurangi polusi udara.
Daftar Pustaka
Alihta, Karina Nursyafira. 2017. Analisis Beban Pencemar Karbon Monoksida (Co) Dan
Karbon Dioksida (Co2) Di Kawasan Bandar Udara Internasional
Kualanamu.Tugas Akhir. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara
Amalia, Rizki Dwika. 2017. Strategi Pengendalian Pencemaran Gas Co Dari Aktivitas
Transportasi Di Kota Batu, Jawa Timur. Tesis. Jurusan Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
Herman, Anton. Dkk. Analisis Pengukuran Konsentrasi Karbonmonoksida (Co) Pada
Breathing Zone Petugas Parkir Basement Mall Kota Bandung.
Ratnani, R. D. 2008. Teknik Pengendalian Pencemaran Udara Yang Diakibatkan Oleh
Partikel. Momentum. 4(2)
Sari, Linna Oktaviana. 2014. Analisa Respon Dan Sensitifitas Alat Deteksi Kadar Polutan
Karbon Monoksida (Co) Di Udara Dengan Sensor Tgs 26. Arsitron. 5(1).