Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

PENYAKIT KISTA OVARIUM SINISTRA

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah


Keperawatan Maternitas
Yang dibina oleh Dra. Goretti Maria Sindarti, M. Kes.

Oleh:
Prisma Alika Fikrian (P17211191019)
Putri Naila Fadlilatul H. (P17211191022)
Sonia Amalia Putri (P17211193031)
Tasya Safarida Santhi (P17211193032)
Heffy Maulidiyah Wardah (P17211193033)
Khofifa Nur Laila (P17211193052)
Iswandi (P17211193054)
Kelompok 5
Kelas 2A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
Oktober 2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan hidayah-Nya atas selesainya Tugas Kuliah yang berjudul ”
Asuhan Keperawatan Pada Klien Yang Mengalami Kista Ovarium” dengan tepat
waktu. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah keperawatan
maternitas. Atas dukungan moral dan materil yang diberikan dalam penyusunan
Makalah, maka kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Dra. Goretti
Maria Sindarti, M.Kes yang selaku pemberi tugas ini.
Kami menyadari bahwa Makalah ini belum sempurna. Oleh karena
itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk
penyempurnaan makalah ini.

Malang, Oktober 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................2
1.3 Tujuan ..............................................................................................2
1.4 Manfaat ............................................................................................3
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Penyakit Kista ovarium.........................................................4
2.1.1 Definisi Kista Ovarium..............................................................4
2.1.2 Etiologi Kista Ovarium..............................................................5
2.1.3 Tanda dan Gejala Kista Ovarium...............................................5
2.1.4 klasifikasi Kista Ovarium .........................................................6
2.1.5 Patofisiologi Kista Ovarium......................................................8
2.1.6 Pathway Kista Ovarium.............................................................9
2.1.7 penatalaksanaan Kista Ovarium................................................9
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan..........................................................11
2.2.1 Pengkajian................................................................................11
2.2.2 Analisis Data............................................................................11
2.2.3 Diagnosa Keperawatan............................................................13
2.2.4 Intervensi Kepetawan..............................................................14
2.2.5 Implementasi keperawatan......................................................14
2.2.6 Evaluasi keperawatan..............................................................15
2.3 Asuhan Keperawatan........................................................................17
BAB III PENUTUP......................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................37

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun
besar, kistik maupun padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium.
Dalam kehamilan tumor ovarium yabg dijumpai paling sering ialah
kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor ovarium yang
cukup besar dapat menyebabkan kelainan janin dalam rahim atau dapat
menghalangi masuknya kepala ke dalam panggul. Ovarektomi adalah
operasi pengangkatan dari ovarium atau indung telur. Tetapi istilah ini
telah digunakan secara tradisoinal dalam penelitian ilmu dasar yang
menggambarkan operasi pengangkatan indung telur. (Wiknjosastro,
2005).
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker
ovarium. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia angka
kejadian kista ovarium di Indonesia mencapai 37,2%, dan paling sering
terdapat pada wanita berusia antara 20-50 tahun, dan jarang sekali pada
masa pubertas (Wiknjosastro, 2005). Data dari Rumah Sakit
Muhammadiyah Surabaya kejadian kista ovarium dari Januari- Juni
2011 sebanyak 43 orang (Taufiqoh, 2012).
Kista ovarium ini memiliki beberapa Faktor predisposisi.
Faktor predisposisi yaitu adanya riwayat kista ovarium sebelumnya,
Siklus menstruasi yang tidak teratur, Meningkatnya distribusi lemak
tubuh bagian atas,menstruasi dini, Tingkat kesuburan juga menjadi
faktor risiko terjadi kista ovarium.
kista ovarium dapat menyebabkan obstipasi karena pergerakan
usus terganggu atau dapat juga terjadi penekanan dan menyebabkan
defekasi yang sering. Pasien juga mengeluhkan ketidaknyamanan
dalam coitus, yaitu pada penetrasi yang dalam. Pada tumor yang besar
dapat terjadi tidak adanya nafsu makan dan rasa sesak. Pada umumnya
tumor ovarium tidak mengubah pola haid. Ireguleritas siklus

1
2

menstruasi dan pendarahan vagina yang abnormal dapat terjadi. Pada


anak muda, dapat menimbulkan menarche lebih awal
Perawat adalah tenaga kesehatan yang paling banyak
berinteraksi dengan pasien daripada tenaga kesehatan yang lain,
sehingga perawat harus mengetahui gangguan yang ada pada kesehatan
yang lain, sehingga perawat harus mengetahui gangguan yang ada pada
kesehatan pasien. Gangguan tersebut dapat dipaparkan seseorang
perawat dalam beberpaa diagnose keperawatan yang digunakan untuk
membuat asuhan keperawatan pada klien selama di rumah sakit. Oleh
karena itu perawat harus bisa membuat asuhan keperawatan pada
pasien dengan gangguan orgam reproduksi.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan
masalah Kista Ovarium Sinistra.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Penulis mampu melakukan asuhan keperawatan yang sesuai
pada klien dengan masalah Kista Ovarium Sinistra.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian pada pasien anak dengan masalah
Kista Ovarium Sinistra.
2) Menegakkan diagnose keperawatan anak dengan masalah
Kista Ovarium Sinistra.
3) Merencanakan intervensi keperawatan yang dapat diberikan
pada pasien dengan masalah Kista Ovariu Sinistra.
4) Melakukan implementasi tindakan keperawatan pada pasien
dengan masalah Kista Ovarium Sinistra.
5) Melakukan evaluasi terhadap implementasi yang sudah
dilakukan pada pasien dengan masalah Kista Ovarium
Sinistra.

1.4 Manfaat
3

a. Dapat mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan kista


ovarium sinistra.
b. Dapat mengetahui pengkajian pada pasien dengan Kista ovarium
sinistra.
c.Dapat menentukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Kista
ovarium sinistra.
d. Dapat menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan Kista
ovarium sinistra.
e. Dapat menyusun tindakan keperawatan pada pasien dengan Kista
ovarium sinistra.
f. Dapat melakukan evaluasi pada pasien dengan Kista ovarium
sinistra.
BAB II
KONSEP TEORI DAN ASUHAN KEPERAWATAN
2.1 Konsep Penyakit
2.1.1 Pengertian
Kista ovarium adalah pengumpulan cairan yang terjadi pada daerah
indung telur atau ovarium dan dibungkus oleh selaput yang yang terbentuk
dari lapisan terluar dari ovarium. Kista atau tumor merupakan bentuk
gangguan yang bisa dikatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada
ovarium yang jinak. Benjolan yang membesar, seperti balon yang berisi
cairan yang tumbuh di indung telur ini disebut juga kista fungsional karena
terbentuk selama siklus menstruasi normal atau setelah telur dilepaskan
sewaktu ovulasi. Kista ovarium biasanya berupa kantong yang tidak bersifat
kanker yang berisi material cairan atau setengah cair. (Nugroho, 2014).
Pembesaran dari indung telur yang mengandung cairan tersebut besarnya
bervariasi dapat kurang dari 5 cm sampai besarnya memenuhi rongga perut,
sehingga menimbulkan sesak nafas. (Manuaba, 2009).
Secara garis besar, kista merupakan tumor jinak yang menimbulkan
benjolan abnormal di bagian bawah abdomen dan berisi cairan abnormal
dapat berupa udara, nanah, dan cairan kental.

2.1.2 Penyebab
Penyebab dari terbentuknya kista sangat beragam, dan hal inilah yang
nantinya membedakan berbagai jenis kista. Berdasarkan penyebabnya, kista
ovarium bisa dibagi menjadi dua, yakni kista ovarium fungsional dan non-
fungsional. Kista ovarium fungsional ini merupakan jenis kista yang
terbentuk saat ovarium wanita melepaskan sel telur untuk dibuahi (ovulasi).
Jenis kista ini adalah yang paling umum dialami wanita dan biasanya tidak
berbahaya. Sedangkan kista non-fungsional adalah jenis kista yang tidak
berkaitan dengan fungsi normal siklus haid wanita.
Faktor umum penyebab dan pemicu lain timbulnya kista bisa terkait
dengan :

4
5

a. Gangguan pembentukan hormon pada hipotalamus hipofise dan indung


telur
b. Siklus menstruasi
c. Adanya pertumbuhan sel yang tidak normal
d. Pertumbuhan folikel ovarium yang tidak terkontrol
e. Faktor makanan berlemak yang berlebih sehingga zat lemak tidak bisa
dipecah sehingga mengganggu metabolisme.
f. Mempunyai riwayat kanker kolon yang dapat menyebar ke bagian alat
reporduksi lainnya.
g. Gaya hidup tidak sehat dan sering stres sehingga menjadi faktor
pemicu.
Pada penyebab pertumbuhan folikel yang tidak terkontrol dapat
diketahui jika pada folikel normal, keadaanya akan terbuka saat siklus
menstruasi untuk melepaskan sel telur. Namun pada beberapa kasus, folikel
tersebut tidak terbuka sehingga timbul bendungan cairan yang kemudian
menjadi kista. Cairan yang terbendung kebanyakan berupa darah yang keluar
akibat luka pada pembuluh darah kecil ovarium.

2.1.3 Tanda dan Gejala


Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya
sedikit nyeri yang tidak berbahaya. Gejala yang paling sering dirasakan pada
pasien dengan kista ovarium yakni :
a. Nyeri perut bagian bawah dan panggul yang dapat menyebar ke
punggung bawah belakang
b. Perut terasa penuh berat dan kembung
c. Siklus haid tidak teratur
d. Nyeri saat haid
e. Nyeri saat senggama
f. Tekanan pada dubur dan kandung kemih
g. Mual muntah
6

Adanya nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba disertai demam dan rasa ingin
muntah yang berlebihan merupakan tanda gejala yang perlu adanya
penanganan segera
2.1.4 Klasifikasi Kista
Tumor kista dari ovarium yang jinak di bagi dalam dua golongan
yaitu golongan non-neoplastik dan neoplastik. Untuk kista ovarium yang
golongan non neoplastik meliputi :
a. Kista folikel
Kista folikel berasal dari kegagalam resorbsi cairan folikel yang tidak
dapat berkembang sempurna dan dapat membesar setiap bulannya
sehingga sejumlah folikel tersebut dapat mati dengan disertai kematian
ovum. Kista folikel biasanya tidak bergejala dan dapat menghilang dalam
waktu <60 hari. Pemeriksaan untuk kista <4 cm adalah pemeriksaan
ultrasonografi awal, dan pemeriksaan ulang dalam waktu 4-8 minggu.
Sedangkan pada kista >4 cm dapat dilakukan pemberian kontrasepsi oral
selama 4- 8 minggu yang akan menyebabkan kista menghilang sendiri
(Yatim, 2008).
b. Kista lutein
Kista ini dapat terjadi pada masa kehamilan. Kista luteum berasal dari
corpus luteum hematoma. Perdarahan kedalam corpus terjadi pada masa
vaskularisasi. Bila perdarahan sangat banyak, terjadilah korpus leteum
hematoma yang berdinding tipis dan berwarna kekuningan. Biasanya
gejala-gejala yang di timbulkan sering menyerupai kehamilan ektopik
(Yatim, 2008).
c. Kista stain levental ovary
Kedua ovarium pada kista ini membesar dan bersifat polikistik, permukaan
rata, berwarna keabu-abuan dan berdinding tebal. Pada pemeriksaan
mikroskopis tampak tunika tebal dan fibrotik. Dibawahnya tampak folikel
dengan berbagai stadium, tetapi tidak di temukan korpus luteum. Secara
klinis, akan timbul gejala stain leventhal syndrome yang merupakan
penyakit herediter yang autosomaldominant (Yatim, 2008).
d. Kista korpus luteum
7

Kista korpus luteum merupakan kista yang jarang terjadi. Kista korpus
luteum berukuran ≥ 3 cm, dan diameter kista sebesar 10 cm. Kista jenis ini
timbul karena waktu pelepasan sel telur terjadi perdarahan dan pecah yang
sering kali perlu tindakan operasi (kistektomi ovari) untuk mengatasinya.
Keluhan yang dirasakan yaitu rasa sakit yang berat di rongga panggul
terjadi selama 14- 60 hari setelah periode menstruasi terakhir (Yatim,
2008)
Kista ovarium neoplastik meliputi :
a. Kistoma ovarium simpleks
Kista ini mempunyai permukaan rata, halus, biasanya bertangkai,
seringkali bilateral, dan dapat membesar. Dinding kista tipis dan cairan di
dalamnya jernih, berwarna putih. Terapinya berupa pengangkatan kista
dengan reseksi ovarium dab jaringan yang di keluarkan harus di periksa
secara histologik untuk mengetahui apakah ada keganasan atau tidak.
b. Kista dermoid
Kista dermoid merupakan terotoma kistik jinak dimana stuktur ektodermal
dengan diferensiasi sempurna, seperti epital kulit, rambut, gigi dan produk
glandula sebasea berwarna putih kuning menyerupai lemak yang lebih
menonjol dari pada elemen-elemen entoderm dan mesoderm. Dinding
kista kelihatan putih, keabu-abuan, dan agak tipis. Konsistensi tumor
sebagian kistik kenyal, dan dibagian lain padat. Sepintas lalu kelihatan
seperti kista berongga satu. Tidak ada ciri khas pada kista dermoid.
c. Kista endometriosis
Kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di luar
rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan
endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama
saat menstruasi dan infertilitas.
d. Kista denoma ovarium musinosum
Kista tersebut bisa berasal dari suatu pertumbuhan satu elemen yang
menghalangi elemen lainnya. Penanganannya berupa pengangkatan tumor.
Jika pada operasi tumor sudah cukup besar sehingga tidak tampak banyak
8

sisa ovarium yang normal, biasanya dilakukan pengangkatan ovariam dan


tubafalopi (salpingo ooforektomi) (Rasjidi, 2010).
e. Kista denoma ovarium serosum
Pada umumnya kista ini tidak mencapai ukuran yang besar dibanding kista
denoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, bentuknya
multilokuler meskipun lazimnya berongga satu. Terapi umumnya sama
seperti kista denoma musinosum. Hanya berbeda pada lebih besarnya
kemungkinan keganasan, perlu di lakukan pemeriksaan yang teliti
terhadap tumor yang dikeluarkan. Bahkan terkadang perlu di periksa
sediaan yang di bekukan pada saat operasi untuk menentukan tindakan
selanjutnya pada waktu operasi (Rasjidi, 2010).

2.1.5 Patofisiologi
Ovarium normal akan membentuk kista kecil yakni Folikel de Graff.
Dalam siklusnya, folikel dengan diameter >2.8 cm akan melepaskan oosit
mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang memiliki
struktur 1,5 – 2 cm saat matang dengan kista di tengah. Bila tidak terjadi
fertilisasi, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan. Namun
bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian
secara gradual akan mengecil selama kehamilan. Fungsi ovarium yang
abnormal dapat menjadikan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak
sempurna didalam ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan
dan tidak melepaskan sel telur, terbentuk secara tidak sempurna didalam
ovarium sehingga terbentuk kista di dalam ovarium.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista
fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang
disebut kista theca-lutein. Kista tersebut distimulasi oleh gonadotropin, FSH
dan HCG. Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi
gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Untuk
kista neoplasia tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol
dalam ovarium, dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat
berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Keganasan paling sering
9

berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan lesi kistik parsial. Jenis kista
jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan
mucinous. Tumor ovari ganas lain terdiri dari tumor sel granulosa dari sex
cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari
tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional yang
meliputi ektodermal, endodermal, dan mesodermal.
2.1.6 Pathway

2.1.7 Penatalaksanaan Medis


Beberapa pilihan pengobatan yang mungkin disarankan :
a. Observasi
10

Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor selama 1 -2


bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah
satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga adanya
keganasan (Nugroho, 2010: 105).
b. Pendekatan
Pendekatan pada klien tentang pemilihan pengobatan nyeri dengan
analgetik / tindakan kenyamanan seperti, kompres hangat pada abdomen,
dan teknik relaksasi napas dalam (Prawirohardjo, 2011).
c. Pemberian obat
Obat anti inflamasi non steroid seperti ibu profen dapat diberikan kepada
pasien dengan penyakit kista untuk mengurangi rasa nyeri (Manuaba,
2009)
d. Pembedahan
Jika kista tidak menghilang setelah beberapa episode menstruasi dan
semakin membesar, anjurkan pasien melakukan pemeriksaan ultrasound
dan kemungkinan harus segera diangkat. Faktor-faktor yang menentukan
tipe pembedahan, antara lain tergantung pada usia pasien, keinginan pasien
untuk memiliki anak, kondisi ovarium dan jenis kista. Ada 2 tindakan
pembedahan yang utama yaitu laparaskopi dan laparatomi (Yatim, 2008).
Prinsip pengobatan kista dengan operasi adalah sebagai berikut :
a) Apabila kistanya kecil dan pada pemeriksaan sonogram tidak ada
tanda-tanda keganasan, biasanya dokter melakukan operasi dengan
laparaskopi. Alat laparaskopi di masukkan kedalam rongga panggul
dengan melakukan sayatan kecil pada dinding perut, yaitu sayatan
searah dengan garis rambut kemaluan (Yatim, 2008).
b) Apabila kistanya agak besar dan lebih dari 5 cm, biasanya
pengangkatan kista dilakukan dengan laparatomi. Teknik ini dilakukan
dengan pembiusan total. Dengan pemeriksaan laparatomi, sudah dapat
diketahui apakah mengalami proses keganasan (kanker) atau tidak.
Bila sudah masuk dalam golongan kista ganas maka dilakukan operasi
dengan mengangkat ovarium dan saluran tuba, jaringan lemak sekitar
serta kelenjar limfe (Yatim, 2008). 3)
11

e. Perawatan luka insisi / pasca operasi


Beberapa prinsip yang perlu diimplementasikan antara lain:
a) Balutan dari kamar operasi dapat dibuka pada hari pertama pasca
operasi.
b) Klien harus mandi shower bila memungkinkan.
c) Luka harus dikaji setelah operasi setiap hari pasca operasi sampai
pasien diperolehkan pulang.
d) Bila luka perlu dibalut ulang, balutan yang di gunakan harus yang
sesuai dan tidak lengket.
e) Pembalutan dilakukan dengan tehnik aseptic.

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
Pengkajian yang lengkap, akurat, sesuai kenyataan, kebenaran data sangat
penting untuk merumuskan suatu diagnosa keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan sesuai dengan respon individu (Potter dan Perry, 2005).
Pengkajian dibuat untuk mengetahui fungsi fisiologis dan perubahan perilaku
pasien melalui gejala atau mekanisme koping sebagai pertahanan terhadap
penyakit kista ovarium yang dialami. Proses pengkajian pada pasien dengan
kista ovarium meliputi :
a. Mengkaji data umum pasien yang meliputi identitas lengkap pasien berupa
nama, umur, agama, pendidikan, suku/bangsa, pekerjaan, dan alamat.
b. Mengkaji data subjektif dan anamnese pasien yang meliputi
a) Diagnosa medis,
b) Keluhan utama atau keluhan yang paling dominan dirasakan oleh
pasien,
c) Keluhan saat pengkajian,
d) Riwayat penyakit sekarang untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang diderita pada saat ini yang berhubungan dengan
gangguan reproduksi terutama kista ovarium.,
12

e) Riwayat penyakit lalu untuk mengetahui penyakit yang dulu


pernah diderita yang dapat mempengaruhi dan memperparah
penyakit yang saat ini diderita,
f) Riwayat kesehatan keluarga untuk mengetahui kemungkinan
adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gaangguan kesehatan
pasien,
g) Riwayat persalinan, kehamilan, dan nifas bertujuan untuk
mengetahui adanya penyulit atau tidak, harus digali lebih spesifik
untuk memastikan bahwa apa yang terjadi pada ibu adalah normal
atau patologis.
h) Riwayat menstruasi untuk mengetahui tentang menarche, siklus,
lama menstruasi, banyaknya menstruasi, sifat warna darah,
disminorhoe atau tidak dan flour albus atau tidak. Juga untuk
mengetahui ada tidaknya kelainan system reproduksi sehubungan
dengan menstruasi.
i) Riwayat perkawinan untuk mengetahui status perkawinan, berapa
kali menikah, syah atau tidak, umur berapa menikah dan lama
pernikahan.
j) Riwayat KB dikaji untuk mengetahui alat kontrasepsi yang pernah
dan saat ini digunakan ibu yang kemungkinan menjadi penyebab
atau berpengaruh pada penyakit yang diderita saat ini
k) Pola hubungan seksual untuk mengetahui pengaruh gangguan
kesehatan reproduksi yang dapat menimbulkan keluhan saat
berhubungan
l) Pola pemenuhan nutrisi, personal hygienedan fungsi pola eliminasi
m) Pola tidur dan aktivitas pasien
n) Riwayat psikososial
c. Mengkaji data objektif pasien dengan melakukan pemeriksaan umum yang
meliputi :
a) keadaan umum
b) pemeriksaan kesadaran
13

c) vital sign yang meliputi tekanan darah, temperatur/ suhu, nadi serta
pernafasan
d. Melakukan pemeriksaan fisik pasien yang meliputi
a) Pemeriksaan kepala untuk mengetahui bentuk kepala, keadaan
rambut rontok atau tidak, kebersihan kulit kepala.
b) Pemeriksaan muka untuk mengetahui keadaan muka oedem atau
tidak, pucat atau tidak.
c) Pemeriksaan mata untuk mengetahui keadaan mata sklera ikterik
atau tidak, konjungtiva anemis atau tidak.
d) Pemeriksaan hidung dikaji untuk mengetahui keadaan hidung
simetris atau tidak, bersih atau tidak, ada infeksi atau tidak.
e) Pemeriksaan telinga untuk mengkaji apakah ada penumpukan
sekret atau tidak.
f) Pemeriksaan mulut untuk melihat apakah bibir pecah-pecah atau
tidak, stomatitis atau tidak, gigi berlubang atau tidak.
g) Pemeriksaan leher untuk mengetahui apakah ada pembesaran
kelenjar tiroid, limfe, vena jugularis atau tidak.
h) Pemeriksaan ketiak untuk mengetahui apakah ada pembesaran
kelenjar limfe atau tidak.
i) Pemeriksaan dada untuk mengetahui apakah simetris atau tidak,
ada benjolan atau tidak.
j) Pemeriksaan abdomen untuk mengetahui luka bekas operasi dan
pembesaran perut.
k) Pemeriksaan ekstermitas atas dan bawah dilakukan untuk
mengetahui keadaan turgor baik atau tidak, ikterik atau tidak,
sianosis atau tidak, oedem atau tidak, reflek patella positif atau
tidak.
l) Pemeriksaan genitalia dan anus untuk mengetahui apakah ada
kelainan, abses ataupun pengeluaran yang tidak normal, ada
hemorroid atau tidak.
e. Melakukan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan neurologis, pemeriksaan
penunjang, dan terapi/penatalaksana.
14

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


Setelah dilakukan pengkajian sesuai dengan data yang didapat dilakukan
penyesuaian diagnosa keperawatan sebagai acuan dalam pemberian tindakan
keperawatan. Dalam langkah ini data yang telah dikumpulkan di
interpretasikan menjadi diagnosa keperawatan dan masalah :
a. Data
Data dasar meliputi data Subyektif atau pernyataan ibu tentang keterangan
umur serta keluhan yang dialami ibu. Dan data Obyektif yakni hasil
pemeriksaan yang telah dilakukan.
b. Penyebab
Mengidentifikasi penyebab dari munculnya data objektif dan subjektif
sehingga didapat masalah keperawatan
c. Masalah
Diagnosa yang ditetapkan setelah mengetahui tanda dan gejala yang
dialami pasien
2.2.3 Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dirancang untuk membantu
klien dalam beralih dari tingkat kesehatan saat ini ke tingkat yang diinginkan
dalam hasil yang diharapkan (Gordon, 1994). Rencana asuhan yang
menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi
klien atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga dari pedoman
antisipasi mengenai apa yang akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan
penyuluhan untuk masalah keperawatan pasien tersebut. Asuhan keperawatan
terhadap pasien tersebut mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua
aspek asuhan. Setiap rencana harus disetujui oleh kedua belah pihak yaitu
perawat dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif. Pada langkah ini
perawat bertugas merumuskan rencana asuhan sesuai hasil pembahasan
rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum
melaksanakannya (Purwandari, 2008: 81).
Didalam tahap intervensi, yang harus dituliskan dalam format intervensi
yakni apa diagnosa keperawatan yang diangkat dari kasus tersebut, tujuan
kriteria standar atau jika berpedoman pada buku standar PPNI maka yang
15

dituliskan mengenai format standar luaran keperawatan, dan kemudian untuk


kolom berikutnya yakni mengenai intervensi keperawatan berupa apa
intervensi yang akan diambil disertai dengan observasi, terapeutik, edukasi,
dan kolaborasi. Padda kolom terakhir ada rasional ataupun tujuan dari
intervensi yang dipilih terhadap masalah kesehatan pasien.
2.2.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan merupakan sebuah fase dimana perawat
melaksanakan atau menerapkan intervensi atau rencana keperawatan yang
sudah di buat sebelumnya. Implementasi terdiri atas melakukan dan
mendokumentasikan yang merupakan tindakan khusus yang digunakan untuk
melaksanakan intervensi. Implementasi keperawatan membutuhkan
fleksibilitas dan kreativitas perawat. Sebelum melakukan suatu tindakan,
perawat harus mengetahui alasan mengapa tindakan tersebut dilakukan.
Fokus implementasi diantaranya seperti membina hubungan saling percaya
dengan pasien, emonitor serta memeriksa keluhan pasien, emonitor tanda-
tanda vital pada pasien, membantu pasien untuk melakukan terapi guna
mengurangi keluhan, meminimalisir terjadinya masalah baru yang muncul,
membantu meningkatkan koping dan meningkatkan harga dirinya.
2.2.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tindakan akhir dalam proses
keperawatan. Evaluasi terdiri 2 jenis yaitu evaluasi formatif dan sumatif.
Evaluasi formatif yaitu kegiatan evaluasi yang menghasilkan umpan balik
selama program berlangsung. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan setelah
program selesai dan mendapatkan informasi efektivitas pengambilan
keputusan. Evaluasi asuhan keperawatan didokumentasikan dalam bentuk
SOAP (subyektif, obyektif, assessment, planing). Adapun komponen SOAP
yaitu S (subyektif) dimana perawat menemukan keluhan klien yang masih
dirasakan setelah dilakukan tindakan. Untuk komponen kedua yakni O
(obyektif) adalah data yang berdasarkan hasil pengukuran atau observasi
klien secara langsung dan dirasakan setelah selesai tindakan keperawatan.
Komponen selanjutnya A (assesment) adalah interpretasi dari data subyektif
dan obyektif. P (planning) adalah perencanaan keperawatan yang akan
16

dilanjutkan dihentikan, dimodifikasi atau ditambah dengan rencana kegiatan


yang sudah ditentukan sebelumnya.
Keuntungan adanya hasil evaluasi terhadap perawatan pada pasien
yakni perawat mampu mengkomunikasikan status klien dan hasilnya terhadap
tindakan yang dilakukan, memberikan informasi untuk memutuskan tindakan
apa yang akan dilakukan selanjutnya atau sudah cukup dan memberhentikan
pengobatan, memberikan bukti revisi untuk perencanaan perawatan dan
merefleksikan keefektifan asuhan dari catatan evaluasi dan perkembangan
pasien.
17

2.3 Asuhan Keperawatan

FORMAT PENGKAJIAN GANGGUAN REPRODUKSI


Askep : Kista Ovarium Sinistra
Tanggal Pengkajian : 20 Oktober 2020
Ruang/RS : Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R Soedarsono
A. DATA UMUM KLIEN
1. Nama Klien : Ny. S
2. Usia : 29 tahun
3. Agama : Islam
4. Status perkawinan : Kawin
5. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
6. Pendidikan Terakhir :SMA
7. Nama suami : Tn. G
8. Umur : 30 tahun
9. Agama : Islam
10. Pekerjaan : Wiraswasta
11. Pendidikan terakhir : SMA
12. Alamat : Jalan Anggrek, Pasuruan.
B. ANAMNESE
1. Diagnosa Medis : Kista Ovarium Sinistra
2. Keluhan Utama : Pasien mengeluh nyeri
3. Keluhan Saat pengkajian : Nyeri akut pada benjolan yang timbul
4. Riwayat penyakit Sekarang : Benjolan di area perut bagian kiri bawah.
Benjolan dirasakan sejak sekitar 1,5 tahun yang lalu. Benjolan semakin lama
semakin besar. Tidak adanya pengobatan yang dilakukan selama 1,5 tahun yang
lalu sehingga nyeri yang ditimbulkan semakin parah.
5. Riwayat penyakit yang lalu : Tidak ditemukan penyakit masa lalu
6. Riwayat kesehatan keluarga : Tidak ada penyakit menular dalam keluarga
7. Riwayat menstruasi
a. Menarche : Umur: 16 th
b. Siklus : Teratur
c. Jumlah : 400 cc
18

d. Lamanya : 6 hari
e. Keteraturan : teratur
f. Dismenorhea : tidak ada
g. Masalah Khusus : tidak ada
8. Riwayat Perkawinan
a. Status perkawinan : Kawin
b. Dengan suami : 1
c. Lama perkawinan : 6 tahun
9. Riwayat KB : pil KB
10. Pola Aktifitas sehari-hari
a. Makan dan minum : frekuensi makan 3 kali/sehari, diet padat,
makan selalu habis
b. Pola eliminasi : BAK 4 kali/sehari dengan konsentrasi cair
warna urine kuning jernih. BAB sehari sekali dengan konsentrasi feses
lunak dan berwarna kuning kecoklatan
c. Pola istirahat dan tidur : Klien tidur 5-6 jam dan mengalami insomnia
karena rasa nyeri dan tidak nyaman yang dirasakan
d. Kebersihan diri : Klien mandi sehari 3 kali dan mampu
menjaga kebersihan diri
11. Riwayat Psikososial : Klien berinteraksi dengan baik kepada orang
lain
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Compos mentis
2. Tanda vital
a. S :36,4 ‫ﹾ‬C
b. N :80 x/mnt
c. T :120/80mmHg
d. RR : 20 x/mnt
3. Pemeriksaan Kepala dan leher : Normal
4. Dada dan thorax : Normal
5. Payudara : Normal
6. Abdome : Terdapat benjolan yang tidak wajar pada perut bagian kiri bawah
19

7. Genetalia : Ada iritasi dan kemerahan


8. Extremitas : Normal
9. Pemeriksaan neurologis : Normal
10. Pemeriksaan Penunjang : USG, Laboratorium, EKG
11. Terapi/penatalaksanaan : terapi clominofene, paracetamol

Pasuruan, 20 Oktober 2020

(PETUGAS KESEHATAN)
20

A. ANALISA DATA
ANALISIS DATA
Nama pasien : Ny. S
No RM : 05xxx

Hari/
Tgl/ DATA PENYEBAB MASALAH
Jam
20 DS: Pembesaran ovarium Nyeri akut
oktober 1. Pasien mengeluh nyeri
2020 pada bagian benjolan
2. Pasien mengatakan Menahan organ
memiliki benjolan pada sekitar
perut bagian kiri bawah
semenjak 1,5 tahun yang
lalu dan semakin Tekanan syaraf sel
membesar tumor

DO:
1. Teraba massa di area
MK: nyeri akut
inguinal dextra dengan
ukuran sekitar 20x15 cm
2. Ditemukan nyeri tekan
pada area inguinal
dextra.
DS: pembesaran ovarium Gangguan pola
1. Pasien mengatakan tidur
mengalami sulit tidur
Menahan organ
DO:
sekitar
1. Pasien terlihat
memiliki lingkar bawah
Tekanan syaraf sel
mata yang menghitam
tumor
diakibatkan kurangnya
21

Hari/
Tgl/ DATA PENYEBAB MASALAH
Jam
tidur
2. Pasien terlihat gelisah MK: Nyeri akut
karena mengalami nyeri
MK: Gangguan pola
tidur
DS: Kurang informasi Ansietas
1. Pasien mengeluh takut
jika keadaan penyakitnya
semakin memburuk Kurang pengetahuan

DO:
1. Muka tampak pucat
MK: Ansietas
2. Tampak Gelisah
3. Merasa tidak berdaya

Berfokus pada diri


sendiri
22

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

DAFTAR DIAGNOSIS KEPERAWATAN

Nama pasien : Ny. S


No RM : 05XXX

Tanggal Tanggal
No Dx Diagnosis Keperawatan
Ditemukan teratasi
D.0077 Nyeri akut berhubungan dengan 20 Oktober 22
proses pembesaran ovarium yang 2020 Oktober
menekan daerah di sekitarnya 2020
dibuktikan dengan munculnya
benjolan yang kian membesar
D.0055 Gangguan pola tidur berhubungan 20 Oktober 22
dengan proses pembesaran ovarium 2020 Oktober
sehingga menekan daerah 2020
sekitarnya dan terjadi nyeri akut
dibuktikan dengan timbul gelisah
dan muncul lingkar hitam pada
bagian bawah mata pasien akibat
kurang tidur
Ansietas berhubungan dengan 20 Oktober 22
D.0080 kurangnya informasi dan 2020 Oktober
pengetahuan pasien terhadap 2020
penyakitnya dibuktikan dengan
ketakutan akan penyakit yang
diderita, gelisah, serta wajah
terlihat pucat

C.
23

D. INTERVENSI KEPERAWATAN

Nama pasien : Ny. S


No RM : 05XXX

No Tujuan/ Kriteria
Intervensi Rasional
DX Hasil
D.007 Setelah dilakukan Obeservasi 1. Untuk mengetahui
7 intervensi - Identifikasi skala nyeri yang
keperawatan selama lokasi, durasi, dialami px
2x24 jam, maka kuaitas dan 2. Untuk membantu px
Kontrol Nyeri intensitas nyeri dalam mengontrol nyeri
Meningkat dengan - Identifikasi 3. Mengurangi nyeri yang
kriteria hasil : skala nyeri dialami px dengan
- melaporkan nyeri - Identifikasi bantuan obat analgesik
terkontrol 4 faktor yang sesuai dosis yang
-kemampuan mempemberat diberikan
mengenali nyeri 4 dan
-penggunaan memperingan
analgesik 4 nyeri
- Monitor efek
samping
penggunaan
analgetik
Terapeutik
- Berikan teknik
nonfarmakologi
k untuk
mengurangi
rasa nyeri
- Kontrol
lingkungan
yang
memperberat
24

rasa nyeri
- Fasilitasi
istirahat dan
tidur
Edukasi
- Jelaskan
penyebab dan
pemicu nyeri
- Jelaskan strategi
meredakan
nyeri
- Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
tepat
- Ajarkan teknik
nonfarmakologi
s untuk
mengurangi
rasa nyeri

Kolaborasi
- Kolaborasi
pemberian obat
intravena
analgesik
berupa aspirin
500mg setiap 6
jam

D.005 Setelah dilakukan Observasi 1. untuk membantu px


5 intervensi - Identifikasi kembali ke pola tidur
keperawatan selama kesiapan dan normal
2x24 jam, maka kemampuan
25

Status menerima 2. Membantu px


Kenyamanan informasi mengkontrol nyeri meski
Meningkatdengan Terapeutik dalam kondisi
kriteria hasil : - Menyediakan membutuhkan istirahat
-keluhan sulit tidur5 materi dan
-pola tidur 4 media
-merintih4 pengaturan
aktifitas dan
istirahat
- Jadwalkan
pemberian
pendidikan
kesehatan
sesuai
kesepakatan
- Berikan
kesempatan
kepada pasien
dan keluarga
untuk bertanya
Edukasi
- Mengajarkan cara
identifikasi
kebutuhan istirahat
- Mengajarkan cara
identifikasi target
dan jenis aktivitas
sesuai kemampuan

Setelah dilakukan Observasi 1. Untuk membantu px


intervensi - Identifikasi dalam mengontrol diri
keperawatan selama masalah potensial dalam ketakutannya
2x24 jam, maka menghadapi penyakit yang
26

Harga Diri yang dialami diderita


Meningkat dengan
Terapeutik 2. Untuk menenangkan
kriteria hasil :
- Mendiskusikan keadaan dan kondisi px
-penilaian diri positif
rencana mencapai
5
tujuan yang
-penerimaan
diharapkan
penilaian positif
- Motivasi berpikir
terhadap diri sendiri
positif dan
5
berkomitmen
dalam mencapai
tujuan
- Mendiskusikan
solusi dalam
menghadapi
masalah

Edukasi
Mengajarkan
memecahkan
masalah dan situasi
yang sulit
27

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Nama pasien : Ny. S


No RM : 05XXX

TTD
TANGGA TINDAKAN
No JAM PERAWA
L KEPERAWATAN
T
1. 20 10.00 Membina hubungan saling
Oktober percaya dengan keluarga
2020 dan klien dengan cara :

- Menyapa klien dan


memperkenalkan diri
- Menjelaskan maksud
dan tujuan
2. 10.15 Memeriksa keluhan
pasien

DS :

1. Pasien mengeluh nyeri


pada bagian perut
bagian kiri bawah
1. Pasien mengatakan
memiliki benjolan
pada perut bagian
bawahnya semenjak
1,5 tahun yang lalu
dan semakin
membesar
2. Pasien mengatakan
mengalami sulit tidur
3. Pasien mengeluh takut
jika keadaan
penyakitnya semakin
28

memburuk

DO :

1. Teraba massa di area


abdomen kiri dengan
ukuran sekitar 20x15 cm

2. Ditemukan nyeri tekan


pada area Abdomen
kiri.Pasien terlihat
memiliki lingkar bawah
mata yang menghitam
diakibatkan kurangnya
tidur

3. Pasien terlihat gelisah


karena mengalami nyeri
Muka tampak pucat

4. Tampak Gelisah

5. Merasa tidak berdaya

6. Berfokus pada diri


sendiri
3. 10.30 Mengukur Tanda-Tanda
Vital :
S : 36,4 ‫ﹾ‬C
N : 80 x/menit
T : 120/80 mmHg
RR : 20 x/menit
4. 10.45 - Membantu pasien
mengidentifikasi lokasi,
karakteristik, durasi,
frekuensi,kualitas, dan
29

intesitas nyeri
- Membantu pasien
mengidentifikasi skala
nyeri
- Membantu pasien
mengidentifikasi faktor
pemberat dan
memperingan nyeri

5. 10.55 Membantu
mengidentifikasi kesiapan
dan kemampuan
menerima informasi
6. 11.00 Membantu
mengidentifikasi masalah
potensial yang dialami

7. 14.00 Operan Shift

8. 14.30 Memberikan teknik non-


farmokologis untuk
mengurangi rasa nyeri

9. 14.40 Menyediakan materi dan


media pengaturan aktiitas
dan istirahat
10. 15.00 - Mendiskusikan
rencana mencapai tujuan
yang diharapkan
- Motivasi berpikir
positif dan berkomitmen
dalam mencapai tujuan
- Mendiskusikan solusi
dalam menghadapi
masalah
30

11. 21 07.50 Menjaga Situasi


Oktober lingkungan dan bina
2020 hubungan saling percaya
dengan pasien dan
keluarga
12. Mengukur Tanda-Tanda
08.00 Vital :
S : 37 ‫ﹾ‬C
N : 83 x/menit
T : 120/80 mmHg
RR : 18 x/menit
13. 08.15 - Menjelaskan strategi
nyeri
- Kolaborasi pemberian
obat intravena analgesik
berupa aspirin 500mg
setiap 6jam

14. 08.30 - Mengajarkan cara


identifikasi kebutuhan
istirahat
- Mengajarkan cara
identifikasi target dan
jenis aktivitas sesuai
kemampuan
15. 08.50 - Mengajarkan
memecahkan
masalah dan situasi
yang sulit
16. 12.45 Mengukur Tanda-Tanda
Vital :
S : 37 ‫ﹾ‬C
N : 85 x/menit
T : 130/80 mmHg
31

RR : 18 x/menit
17. 13.00 Monitor Status
Kenyamanan pasien
18. 13.10 Monitor Tingkat Harga
Diri Pasien
19. 13.20 Monitor Skala Nyeri
Pasien
20. 13.30 Kolaborasi pemberian
obat intravena analgesik
berupa aspirin 500mg
setiap 6jam
21. 14.00 Operan Shift

22. 22 07.50 Menjaga Situasi


Oktober lingkungan dan bina
2020 hubungan saling percaya
dengan pasien dan
keluarga
23. Mengukur Tanda-Tanda
08.00 Vital :
TD : 120/90 mmHg
N : 90x/menit
S : 36,5 °C
RR : 20x/menit
24. 08.15 Monitor skala nyeri pasien

25. 08.30 Monitor Kualitas Pola


Tidur pasien
26. 08.45 Monitor Tingkat Harga
Diri Pasien
32

EVALUASI FORMATIK

No Tanggal Diagnosa Evaluasi Ttd


1 21 oktober Nyeri akut S : pasien menyatakan
2020 berhubungan dengan nyeri berkurang
proses pembesaran walaupun masih sedikit
ovarium yang menekan nyeri
daerah di sekitarnya O:
dibuktikan dengan
S : 37 ‫ﹾ‬C
munculnya benjolan
N : 83 x/menit
yang kian membesar
T : 120/80 mmHg
RR : 18 x/menit
A : Masalah teratasi
sebagian
P : Lanjutkan intervensi
Gangguan pola tidur S : pasien menyatakan
berhubungan dengan sudah bisa memulai
proses pembesaran tidur namun masih
ovarium sehingga terbangun di malam hari
menekan daerah karenya nyeri yang di
sekitarnya dan terjadi rasakan
nyeri akut dibuktikan O:
dengan timbul gelisah S : 37 ‫ﹾ‬C
dan muncul lingkar
N : 83 x/menit
hitam pada bagian
T : 120/80 mmHg
bawah mata pasien
RR : 18 x/menit
akibat kurang tidur
Warna hitam di bawah
mata berkurang
Wajah nampak gelisah
berkurang walaupun
Masih nampak gelisah
A : Masalah teratasi
33

sebagian
P : Lanjutkan intervensi
21 oktober Ansietas berhubungan S : pasien menyatakan
2020 dengan kurangnya percaya tenaga madis
informasi dan akan membantu
pengetahuan pasien penyembuhan
terhadap penyakitnya penyakitnya dan tidak
dibuktikan dengan akan semakin parah
ketakutan akan penyakit O :
yang diderita, gelisah, S : 37 ‫ﹾ‬C
serta wajah terlihat
N : 83 x/menit
pucat
T : 120/80 mmHg
RR : 18 x/menit
Wajah pasien tidak
pucat
Wajah nampak gelisah
berkurang
A : Masalah teratasi
sebagian
P : Lanjutkan intervensi

22 Nyeri akut S : pasien menyatakan


Oktober berhubungan dengan tidak nyeri lagi dan
2020 proses pembesaran tidak ada nyeri tekan
ovarium yang menekan O:
daerah di sekitarnya
TD : 120/90 mmHg
dibuktikan dengan
N : 90x/menit
munculnya benjolan
S : 36,5 °C
yang kian membesar
RR : 20x/menit
A : Masalah teratasi
P : hentikan intervensi

22 oktober Gangguan pola tidur S : pasien menyatakan


34

2020 berhubungan dengan dapat memulai tidur dan


proses pembesaran tidak bangun di malam
ovarium sehingga hari.
menekan daerah O:
sekitarnya dan terjadi
TD : 120/90 mmHg
nyeri akut dibuktikan
N : 90x/menit
dengan timbul gelisah
S : 36,5 °C
dan muncul lingkar
RR : 20x/menit
hitam pada bagian
Warna hitam dibawah
bawah mata pasien
mata hilang
akibat kurang tidur
Wajah tidak nampak
gelisah
A : Masalah teratasi
P : hentikan intervensi

22 Okt. 20 Ansietas berhubungan S : pasien menyatakan


dengan kurangnya tidak takut penyakitnya
informasi dan semakin parah
pengetahuan pasien O:
terhadap penyakitnya
TD : 120/90 mmHg
dibuktikan dengan
N : 90x/menit
ketakutan akan penyakit
S : 36,5 °C
yang diderita, gelisah,
RR : 20x/menit
serta wajah terlihat
Tidak pucat
pucat
Tidak gelisah
A : Masalah teratasi
P : hentikan intervensi
35

EVALUASI SUMATIF

Pada tanggal 20 Oktober 2020 seorang perempuan berusia 29 tahun


datang ke rumah sakit umum daerah Dr R Soedarsono. Pasien mengeluhkan nyeri
pada bagian benjolan yang timbul. Pada saat itu pasien dilakukan pengkajian.
Sehingga didapatkan diagnosa atau masalah keperawatan nyeri akut, gangguan
pola tidur dan anxietas. Pada saat tanggal itu juga dilakukan beberapa tindakan
untuk mengatasi masalah tersebut.
Pada tanggal 21 Oktober 2020 setelah pasien dilakukan beberapa tindakan
selama 1x24 jam untuk mengatasi masalah nyeri akut, gangguan pola tidur dan
anxietas. Dapat diketahui dari pemeriksaan suhu 37 c nadi 83x/ menit tensi darah
120/80 RR 18 kali per menit. Selain warna hitam di bawah mata pasien berkurang
pasien tidak pucat dan wajah nampak gelisah berkurang. Selain itu pasien
menyatakan nyeri berkurang dari sebelumnya. Sudah bisa memulai tidur namun
pada malam hari terbangun karena rasa nyeri yang dirasakannya dan pasien
menyatakan mulai percaya kepada tenaga medis serta penyakitnya akan tertangani
oleh tenaga medis. Dari sini dapat dinyatakan bahwa masalah keperawatan teratasi
sebagian. Sehingga intervensi dilanjutkan
Pada tanggal 22 Oktober 2020 setelah dilakukan beberapa tindakan
selama 2 x24 jam untuk mengatasi masalah keperawatan pada pasien. Yaitu
masalah nyeri akut gangguan pola tidur dan anxietas. Dapat diketahui dari
pemeriksaan ttv. Suhu tubuh 36,5 c nadi 90x/menit tensi darah 120/90 RR 20 kali
per menit. Warna hitam dibawah mata pasien sudah hilang pasien tidak pucat serta
wajah nampak gelisah sudah tidak terlihat. Selain itu pasien juga menyatakan nyeri
sudah tidak terasa. Dapat memulai tidur dan tidak terbangun di malam hari serta
pasien menyatakan bahwa yakin penyakitnya tidak akan bertambah parah.
Sehingga dari sini masalah keperawatan telah teratasi dan intervensi tindakan
keperawatan dihentikan.
BAB III

PENUTUP

Demikian makalah asuhan keperawatan pada klien dengan kista ovarium


guna memenuhi tugas mata kuliah keperawatan maternitas yang dibimbing oleh
Dra, Goretti Maria Sindarti, M. Kes. Makalah ini diharapkan dapat menjadi acuan
bagi penulis dalam melaksanakan praktek klinik. Penulis sangat terbuka terhadap
segala kritikan dan saran terhadap makalah ini agar lebih baik untuk kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Faisal. 2005. Penyakit Kandungan, Myom, Kista, Indung Telur, Kanker
Rahim/Leher Rahim, serta Gangguan lainnya. Jakarta: Pustaka
Populer Obor

Purwandari Atik. 2008. Konsep Keperawatan. Jakarta: EGC

Nugroho, Taufan. 2010. Kesehatan Wanita, Gender dan Permasalahannya.


Yogyakarta : Nuha Medika

Manuaba, Ida Bagus.2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta :


EGC

Prawirohardjo, Sarwono. 2011. Ilmu Kebidanan. Edisi Empat. Jakarta : Yayasan


Bina Pustaka

Potter, P.A, Perry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, dan Praktik.Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata Komalasari,
dkk. Jakarta : EGC

Rasjidi I. 2010. Epidemologi Kanker Pada Wanita. Jakarta : CV Sagung Seto

Wirawan, I Made. C. 2013. @BlogDokter. Jakarta : PT. Mizan Publika