Anda di halaman 1dari 23

Economic Value of Time dalam Ekonomi Islam

Disusun Guna memenuhi Tugas Matakulaih Ekonomi Makro Islam

Dosen Pengampu : Rina Rosia, S.H.I., M.S.I

Revisi Oleh: Vivi Alviyah (63040180025)

Disusun Oleh :

Aris Oktavianto (63040180016)


Ninda Nuraini (63040180024)
Vivi Alviyah (63040180025)
Erisa Nabila Shintiyaningsih (63040180030)

JURUSAN MANAJEMEN BISNIS SYARIAH S1


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI SALATIGA
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Taufik dan Hidayahnya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tentang “Economic Value of Time
dalam Ekonomi Islam” sebagai tugas mata kuliah ekonomi makro Islam.

Dalam penyusunan tugas ini tidak sedikit hambatan yang kami hadapi, namun kami menyadari
bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan
bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Economic Value of Time
dalam Ekonomi Islam” yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
informasi dan referensi.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari
segi penyusunan, bahasan, serta penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun, khususnya dari Dosen pengampu mata kuliah Ekonomi Makro
Islam guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang
akan datang.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................................i

DAFTAR ISI...............................................................................................................................................ii

BAB I.........................................................................................................................................................iii

PENDAHULUAN......................................................................................................................................iii

A. Latar Belakang................................................................................................................................iii

B. Rumusan Masalah...........................................................................................................................iii

C. Tujuan penulisa...............................................................................................................................iv

BAB II.........................................................................................................................................................1

PEMBAHASAN.........................................................................................................................................1

A. Konsep Economic value of Time.....................................................................................................1

B. Teori Profit and Loss Sharing..........................................................................................................2

C. Bunga dalam Perspektif Islam.........................................................................................................3

D. Kritik atas Time Value of Money....................................................................................................5

BAB III.......................................................................................................................................................9

PENUTUP...................................................................................................................................................9

KESIMPULAN.......................................................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................10

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam dunia ekonomi khususnya yang memfokuskan pada masalah moneter dan fiskal,
rasanya janggal jika tidak membahas masalah “uang”. Dalam kehidupan manusia uang
merupakan suatu alat pemenuhan bagi kebutuhan manusia dan alat pemudah aktivitas
perekonomian. Oleh karena itu, uang sangatlah penting bagi setiap manusia. Pada awal
peradaban untuk memenuhi kebutuhannya, manusia memperoleh makanan dengan cara berburu,
kemudian dengan cara barter, kemudian menggunakan uang logam dan sampai saat ini
menggunakan uang kertas, begitu sempurnanya perkembengan uang hingga saat ini.

Berkenaan dengan masalah uang, sistem ekonomi yang berlaku memiliki pandangan
yang berbeda. Perbedaan utama antara ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam yaitu dari
segi filosofinya, mengenai pandangan terhadap waktu dan uang. Ekonomi konvensional
mengenal konsep time value of money yaitu berpandangan bahwa nilai uang yang dimiliki saat
ini lebih berharga dibandingkan dengan nilai uang dimasa yang akan datang. Sedangkan dalam
Islam hanya mengenal konsep economic value of time, yaitu konsep yang menyatakan bahwa
waktulah yang memiliki nilai ekonomi, bukan uang yang memiliki nilai waktu.Dari perbedaan
pandangan tersebut penulis mencoba mengulas mengenai “Economic Value of Time” untuk
lebih memahami secara mendalam hal-hal yang berkaitan dengan judul tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Konsep Economic value of Time?
2. Bagaimanakah Teori Profit and Loss Sharing?
3. Bagaimanakah Bunga dalam Perspektif Islam?
4. Bagaimanakah Kritik atas Time Value of Money?

iv
C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui Konsep Economic value of Time
2. Mengetahui Teori Profit and Loss Sharing
3. Mengetahui Bunga dalam Perspektif Islam
4. Mengetahui Kritik atas Time Value of Money

v
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Economic value of Time


Dalam teori ekonomi Islam diakui bahwa manusia memiliki kebutuhan sesuai dengan
fitrah dalam dirinya. Namun cara yang ditempuh guna memenuhi kebutuhan tersebut, manusia
tidak bebas boleh melakukan hal apa saja sesuai dengan keinginan. Karena manusia dibatasi oleh
hukum (syariat) dan nilai-nilai yang diyakininya (akidah dan akhlak). Dalam keuangan Islam
tidak terdapat asumsi bahwa sejumlah uang akan memberikan fixed income karena dalam
keuangan Islam tidak memiliki konsep fixed pre-determined return melalui konsep bunga
(interest based economy)1. Konsep fixed pre-determined return merupakan konsep pemastian
keuntungan atas sejumlah uang, sehingga sangat logis jika orang akan lebih suka memegang
uang saat ini dibanding nanti, karena ada keuntungan pasti dengan memegang uang saat ini, atau
jika seseorang tersebut harus memegang uang tersebut nanti maka harus ada kompensasi atas
keuntungan yang “seharusnya’ dia dapatkan.

Keuntungan dalam konteks ekonomi Islam haruslah diperoleh setelah menjalankan


aktivitas bisnis, yang masih menjadi pertanyaan adalah apa ukuran yang dapat digunakan untuk
menetapkan besarnya keuntungan yang diramalkan? , sedangkan dalam keuangan modern kita
mengenal adanya interest rate yang dilarang oleh Islam. Dalam ekonomi Islam penggunaan
sejenis discount rate dalam menentukan bai’ mu’ajjal (membayar tangguh) dapat dibenarkan
dengan alasan:

1. Jual beli dan sewa menyewa adalah sektor riil yang menimbulkan economic value added
(nilai tambah ekonomis) dan
2. Tertahannya hak si penjual (uang pembayaran) yang telah melaksanakan kewajiban
(menyerahkan barang dan jasa), sehingga tidak dapat melaksanakan kewajibannya
kepada pihak lainnya.

1
Fetria Eka Yudiana, “Dimensi Waktu Dalam Analisis Time Value Of Money Dan Economic Value Of Time”. Jurnal
Muqtasid. Vol. 4 No. 1, Juni 2003, hal. 139.

1
Demikian juga dengan penggunaan discount rate dalam menentukan nisbah bagi hasil. Nisbah
harus dikalikan dengan pendapatan aktual (actual return) bukan dengan pendapatan yang
diharapkan (expected return). Pada prinsipnya transaksi bagi hasil berbeda dengan transaksi jual
beli atau transaksi sewa menyewa. Dalam transaksi bagi hasil, hubungan yang terjadi adalah
hubungan antara pemodal (shahibul maal) dengan pengelola (mudharib). Hak bagi shahibul maal
dan mudharib adalah berbagi hasil atas pendapatan atau keun tungan yang diperoleh sesuai
dengan kesepakatan awal.

Syariah Islam menganjurkan untuk selalu menginvestasikan uang dalam usaha yang
produktif. Investasi dalam usaha yang produktif menjadi inti dari konsep keuangan menurut
syariah Islam. Dalam kegiatan investasi kita tidak dapat menuntut secara pasti pendapatan atau
keuntungan dimasa depan. Karena hasil dari investasi dimasa yang akan datang sangat
dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor yang dapat diprediksi maupun faktor yang tidak
dapat diprediksi. Faktor- faktor yang dapat diprediksikan atau dihitung sebelumnya seperti:

1. Banyaknya modal yang dibutuhkan


2. Besarnya nisbah yang disepakati
3. Tingkat perputaran modal.

Sedangkan faktor yang tidak dapat dihitung secara pasti adalah return (pendapatan investasi).
Sehingga nilai waktu uang yang diformulasikan dalam bentuk bunga tidak sesuai dengan syariah
Islam, konsep economic value of time menekankan bahwa waktulah yang memiliki nilai ekonomi
bukan uang yang memiliki nilai waktu.

Berikut ini merupakan rumus Time Value of Money dan Economic Value of Time beserta
analisinya

1. Time Value of Money


Rumusnya FV = PV (1 + i)n
Dimana:
FV : Future Value (nilai masa uang akan datang)
PV : Present Value (Nilai uang masa sekarang)
i : Tingkat suku bunga
n : Waktu

2
Contoh:
Dina memiliki uang sebanyak Rp. 20 juta dan akan Dina depositokan ke Bank dengan bunga 5%
per tahun. Berapakah nilai uang tersebut pada 5 tahun ke depan?
Diketahui:
Pv = Rp. 20.000.000,-
i = 5% atau 0 05
n = 5 tahun
Fv = ?
Jawaban:
Fv = Pv (1+ i)n

Fv = 20.000 .000(1+0,05)5

Fv = 20.000 .000(1,05)5
Fv = 25.525.631
2. Economic Value of Time
Formula investasi menurut Islam:
Harta Masa Depan (Hmd) = Ms + Pi, di mana
Pi = Ms.v. (QR), sehingga
Hmd = Ms + (Ms. v. Q.R)
Dimana:
HMD = Harta Masa Depan
Ms = Modal Sekarang
Pi = Pendapatan Investasi
V = Velocity of money (Tingkat pemanfaatan harta)
Q = Nisbah Bagi hasil
R = Return investasi
Contoh:
Bapak Ahmad membuka deposito sebesar Rp. 5.000.000, nisbah bagi hasil antara nasabah dan
bank 57% : 43%. Return atau pengembalian usaha adalah Rp.10.000 dan tingkat pemanfaatan

3
harta atau pemutaran harta terjadi 5 kali, berapa harta masa depan yang diperoleh bapak
Ahmad?
Diketahui:
Ms = Rp. 5.000.000
V = 5 kali
Q = 57%
R = Rp. 10.000
Jawaban:
Hmd = Ms + (Ms. V. Q. R)
Hmd = 5.000.000 + (5.000.000 x 5 x 57% x 10.000)
Hmd = 5.000.000 + 142.500.000.000
Analisis: Islam tidak mengenal konsep time value of money, Dasar perhitungan pada kontrak
berbasis time value of money adalah bunga. Sedangkan Dasar perhitungan pada kontrak berbasis
Economic value of time adalah nisbah. Economic value of time relatif lebih adil dalam
perhitungan kontrak yang bersifat pembiayaan bagi hasil (profit sharing).
B. Teori Profit and Loss Sharing
Keharaman bunga dalam syariah membawa konsekuensi adanya penghapusan bunga
secara mutlak. Teori PLS dibangun sebagai tawaran baru di luar sistem bunga yang cenderung
tidak mencerminkan keadilan (injustice/dzalim) karena memberikan diskriminasi terhadap
pembagian resiko maupun untung bagi para pelaku ekonomi 2. Prinsip keuangan islam dibangun
atas dasar larangan riba, larangan gharar, tuntunan bisnis halal, resiko bisnis ditanggung
bersama, dan transaksi ekonomi berlandaskan pada pertimbangan memenuhi rasa keadilan.3

Prinsip bagi hasil adalah hubungan antara pengelola dana dengan pemilik dana investasi
yang diatur dengan kontrak mudharabah. Kontrak mudharabah berarti salah satu pihak berperan
sebagai pemilik dana atau nasabah (sahibu al-mal) yang menyediakan dana untuk pengelola dana
(mudharib), yaitu bank Islam. Pendapatan (profit) sebagai hasil dari operasi dana investasi dibagi
antara bank dan pemilik dana sesuai dengan rasio yang disepakati di awal kontrak. Sebagai
pemilik bank, pemegang saham menerima proporsi atas pendapatan yang merupakan bentuk
penghargaan atas jasa yang diberikan oleh manajemen bank dalam mengelola dana, hal ini

2
Sadeq, 1992
3
Alsadek, et al., 2006
4
disebut sebagai bagian untuk mudharib. Apabila ada kerugian investasi yang disebabkan oleh
risiko bisnis, bukan karena kesalahan bank (mudharib), pemilik dana investasi menanggung
semua kerugian dana investasi dan tentu saja pemegang saham tidak mendapatkan hasil atas
usaha manajemen bank mengelola dana investasi.

Persyaratan dalam sistem bagi hasil Mudharabah

1. Barang yang diserahkan adalah mata uang. Tidak sah menyerahkan harta benda atau
emas perak yang masih dicampur atau masih berbentuk perhiasan.
2. Melafadzkan ijab dari yang punya modal, dan qobul dari yang menjalankannya.
3. Diterpakan dengan jelas, bagi hasil bagian pemilik mpdal dan mudharib
4. Dibedakan dengan jelas, antara modal dan hasil yang akan dibagihasilkan dengan
kesepakatan.

Dalam konsep bagi hasil apakah diperbolehkan jika perbandingan bagi hasilnya tidak
seimbang seperti 90% dan 10%. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa Pendapatan (profit)
sebagai hasil dari operasi dana investasi dibagi antara bank dan pemilik dana sesuai dengan rasio
yang disepakati di awal kontrak4. Maka jikalau di awal kontrak sudah disepakati bagi hasilnya
90% dan 10% maka diperbolehkan. Tetapi jikalau ada seseorang yang telah sepakat dengan akad
dan pembagian itu, tetapi dalam prosesnya ia merasa dirugukan dan ingin membatalkan akad
tersebut, maka dilihat terlebih dahulu alasnnya dan hal ini termasuk wanprestasi. Jika ada pihak
yang wanprestasi (mengingkari perjanjian), maka akad tersebut batal. Dan biaya yang sudah
dikeluarkan ditanggung bersama

Pada sisi pasiva bank Islam terdapat tiga macam kontrak yang terdiri dari5:

1. Non-investment deposits (SA)


2. Unrestricted profit-sharing investment deposits (PSIAU )
3. Restricted profit-sharing investment deposits (PSIAR )

4
Beni Agus. “Teori Perusahaan / Theory Of The Firm: Kajian Tentang Teori Bagi Hasil Perusahaan (Profit And Loss
Sharing) Dalam Perspektif Ekonomi Syariah”. Jurnal Aplikasi Pelayaran dan Kepelabuhanan. Vol. 5 No. 2, Maret
2015, hal 160.
5
Hall et al. (2004: 431)

5
Non-investment deposits (SA) adalah dana yang diterima bank Islam dalam bentuk
titipan, dalam hal ini bank harus menjamin uang yang diterima dari nasabah dan memberikan
bonus tertentu apabila bank memperoleh keuntungan. Adapun dalam unrestricted profit-
sharing investement deposits (PSIAU), Bank Islam membagi keuntungan dan kerugian
dengan nasabah yang memiliki dana. Dan terakhir, Restricted profit-sharing investment
deposits (PSIAR), Bank Islam hanya menyediakan layanan administratif, karena depositor
sendiri yang secara aktif bekerja dan berupaya dalam mengambil keputusan investasi. Hal ini
menggambarkan bahwa bank Islam bertindak sebagai lembaga penitipan (fiduciary) dan agen
pada saat yang sama.

C. Bunga dalam Perspektif Islam


Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa tujuan dari suatu bank adalah mencari keuntungan dan
keuntungan itu dicapai dengan berniaga kredit. Bank mendapat kredit dari orang luar dengan
membayar bunga. Sebaliknya bank memberikan kredit dari kepada orang luar dengan memungut
bunga yang lebih besar dari pada yang dibayarkannya. Jadi sedikit penjelasan di atas, maka yang
disebut bunga bank adalah tambahan yang harus dibayarkan oleh orang yang berhutang kepada
bank atau keuntungan yang diberikan pihak bank kepada orang yang menyimpan uang di bank
dengan besar-kecil sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bank tersebut. Tetapi konsensus
pendapat-pendapat menganggap bahwa bunga bank merupakan tambahan tetap bagi modal,
dikemukakan bahwa tambahan yang tetap ini merupakan biaya yang layak bagi proses produksi6

Dalam tafsir al-Manar, Muhammad Abduh dan di dalam fatwa-fatwanya, sebagaimana


dicatat ‘Ammarah, menyebutkan bahwa Muhammad Abduh membolehkan menyimpan uang di
bank dan juga boleh mengambil bunga simpanannya, 7 dengan kata lain ia mehalalkan bunga
bank. Hal ini menurutnya, didasarkan pada maslahah-mursalah (kesejahteraan). Larangan riba
menurut Muhammad Abduh adalah untuk menghindari adanya unsur eksploitasi dan
menghindari memakan harta orang lain secara batil (al-Baqarah: 188). Sementara bunga bank,
menurut Abduh tidak menimbulkan adanya pemerasan dan tidak ada persamaannya dengan apa
yang diharamkan al-Qur’an (al-Baqarah: 188).

6
(Manan, 1997)
7
Nasution. Tafsir Al-Manar .1996

6
Alasan lain yang menghalalkan menabung uang dan sekaligus mengambil bunga bank,
menurut Abduh ada tiga alasan yaitu Pertama, karena dengan keberadaan perbankan yang ada
sekarang tidak menciptakan penindasan, malahan sebaliknya mendorong kemajuan
perekonomian. Kedua, bahwa menyimpan uang di bank, pada intinya sama artinya dengan
perkongsian dalam bentuk lain. Ketiga, mendorong orang untuk maju di segala bidang, termasuk
ekonomi, adalah sikap yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sedangkan operasi dan jasa bank
yang ada sekarang tampaknya memang mendorong kemajuan ekonomi8.

Salah satu ulama Indonesia, yang menghalalkan bunga bank, menurut catatan Khoiruddin
Nasution (1996) selanjutnya adalah H. Abdullah Ahmad, seorang ulama yang berasal dari
Padang, Sumatera Barat. Dia mengatakan, bunga bank boleh diambil dengan syarat, persentase
bunga tersebut diumumkan lebih dahulu, sehingga jika bunga diumumkan sebelumnya maka
berarti seorang yang meminjam rela dengan bunga yang diumumkan. Di sini sebagai tambahan,
hendaknya agar prosentase bunga hendaknya selalu dikontrol oleh pemerintah agar bank dalam
menetapkan bunga tidak sembarangan, namun mengikuti UU pemerintah.

Tokoh yang berpendapat bahwa bunga itu haram karena sangat berpegang teguh pada
konteks al-Qur’an (dalam arti konteksnya bukan maknanya) yang mana al-Qur’an dan as-Sunnah
dua sumber pokok Islam melarang keras adanya bunga karena kezalimannya (QS. al-Muzammil
dan QS. al-Baqarah) dan mengatakan bahwa beberapa orang Islam terpelajar yang silau oleh
pesona lahiriyah peradaban Eropa mengatakan bahwa yang dilarang Islam adalah riba bukan
bunga. Oleh karenanya Daoualibi, seorang ahli politik dan jurnalis Syiria mengatakan, Islam
semestinya membedahkan antara bunga yang dihubungkan dengan tujuan produktif dan
konsumtif. Bagi pinjaman yang berhubungan dengan usaha dan tujuan produktif, seperti untuk
tujuan dangang atau usaha yang lainya, maka menjadi pantas untuk mendapatkan bagian dari
keuntungan yang diperoleh si peminjam. Sebaliknya, untuk pinjaman yang sifatnya untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari peminjam, maka tidak dipungut bunga dan digunakan
prinsip saling tolong menolong (Nasution, 1996).

8
(Khoirudin, 1996)

7
Bagaimana cara kita menyikapi perbedaan pendapat mengenai hukum bunga bank. Yang
pertama kita tidak boleh membenci atau menghakimi pendapat yang berlawanan dengan
pendapat kita. Kedua jika kita menganggap bunga bank itu haram maka kita sebisa mungkin
tidak mendekati bunga bank, tetapi jika ada yang berpendapat dan menerapkan di kehidupannya
bahwa bunga bank itu halal kita jangan memaksa orang tersebut untuk ikut serta berpendapat
bunga bank itu haram.

Apakah bunga bank dengan riba itu merupakan hal yang sama dan bagaimanakah
hukumnya. Bunga bank hamper sama dengan riba tetapi terdapat perbedaan di antara keduannya
persamaan umumnya dadalah adanya penambahan uang ketika mengembalikan pinjamanyang
besarnya dihitung sedangkan perbedaanya adalah kalua riba menggandakan uang tetapi
cenderung untuk keperluan pribadi tetapi bunga bank sistemnya untuk membantu masyarakat.

Untuk hukum bunga bank sendiri di Indonesia terdapat tiga pendapat dari ahli hukum
(ulama) antara lain:9

1. Haram : karena termasuk barang yang dipungut manfaatnya


2. Halal : sebab tidak ada syarat pada waktu akad, sebab menurut para ahli
terkenal, bahwa adat yang berlaku itu tidak termasuk menjadi syarat
3. Syubhat : tidak tentu halal haramnya

Tetapi ulama sepakat bahwa bunga bank adalah riba. Namun mereka berbeda pendapat
tentang hukum memanfaatkan ke berbagai kegiatan social kemasyarakatan dan social
keagamaan10.

D. Kritik atas Time Value of Money


Ketika seseorang memiliki sebuah uang apakah orang tersebut memilih untuk
membelanjakan ungannya tahun ini ataukah tahun depan? Pada kenyatanya sebagian besar
orang lebih memilih untuk membelanjakan uangnya pada tahun ini dari pada tahun yang
akan datang. Oleh karena itu ada Teory Economic Value of Time (EVT) bahwa yang bernilai
uang adalah waktunya. Karena waktu tidak bias diulang kembali dan karena rupiah nilainya
tidak setabil, pasti mengalami inflasi/ deflasi. Hal tersebut juga menjadi kritik terhadap teori

9
Pengurus wilayah nahdatul ulama JAwa Timur. “Nu menjawab problematika umat”. 2010. Hal 371
10
Nurhadi. “Bunga Bank Antara Halal dan Haram”. Nur El-Islam. Vol. 4 No. 2, Oktober 2017, hal 69

8
Time Value of Money. Di bawah ini akan dibahas secara lebih jelas kritik terhadap Time
Value of Money.

1. Tidak lengkap kondisinya


Dalam setiap perekonomian selalu ada kadaan inflasi dan deflasi. Salah satu
dampak adanya inflasi adalah penurunan nilai mata uang. Dibawah ini merupakan
beberapa rumus untuk menhitung nilai uang yang terdiri dari penghitungan bunga tetap,
bunga majemuk dan penghitungan present value.
a) Perhitungan Bunga Tetap/Flat
contoh kasusnya: Tuan A mengajukan kredit tanpa agunan sebesar 240 juta rupiah
dengan jangka waktu pelunasan 12 bulan dan akan dibebankan bunga pinjaman sebesar
10% setiap tahunnya. Inilah angsuran yang harus dibayar oleh Tuan A setiap bulannya.
 Jumlah pinjaman : 240 juta
 Bunga per tahun : 10%
 Jangka waktu : 12 bulan
 Cicilan pokok:
Rp. 240 juta :12 bulan = Rp 20 juta/bulan
 Bunga:
(Rp 240 juta X 10%): 12 bulan = Rp 2 juta
 Angsuran setiap bulan:
Rp 20 juta + Rp 2 juta = Rp 22 juta

Dari total pinjaman tersebut setelah dihitung dengan metode perhitungan bunga flat maka
angsuran yang harus dibayar oleh Tuan A hingga pinjaman tersebut lunas adalah 22 juta
rupiah setiap bulannya.
b) Perhitungan Bunga Majemuk
Jika modal awal sebesar M 0mendapat bunga majemuk sebesar b (dalam persentase)
perbulan, maka setelah n bulan besar modalnya M n menjadi:
M n = M 0 (1+b)n
Contoh:

9
Diketahui modal pinjaman Rp1.000.000 dengan bunga majemuk sebesar 2 % per bulan,
maka setelah 5 bulan modalnya adalah:
M n = M 0 (1+b)n
M n= 1.000 .000(1+0,02)5 = 1.104.080, 80
Jika modal awal sebesar M 0 disimpan di bank mendapatkan bunga sebesar b pertahun
dan perhitungan bunga dihitung sebanyak m kali dalam setahun, maka besar modal pada
akhir tahun ke-n adalah:
b mn
M n=M 0 (1+ )
m
Contoh:
Diketahui: M 0 = 1.000.000, m = 12 kali, n = 2 tahun, dan b = 6 %, maka
0.06 12 x 2
M n=1.000 .000(1+ ) =1.127 .159,78
12
c) Perhitungan Present Value
Rumus Present Value perTahun:
Po= FV /(1+i)n
Contoh: Fatih menginginkan agar nilai uangnya menjadi Rp 5.000.000 pada 5 tahun yang
akan datang nanti. Berapakah jumlah uang yang harus ditabung Fatih saat ini, seandainya
diberikan bunga sebesar 5% per tahun?
Keterangan
FV: Rp 5.000.000
i : 5% = 0.05.
n : 5.
Jawaban:
Po= FV /(1+i)n
Po= 5.000 .000/(1+0.05)5
Po= 3.917.630
Jadi jumlah uang yang harus ditabung oleh Fatih adalahRp 3.917.630
Jika suatu saat terjadi penurunan nilai mata uang langkah yang dilakukan untuk
mengatasi masalah tersebut menurut A Prasetyantoko salah seorang ekonom mengatakan
untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah itu tidak bisa dilakukan dari kebijakan

10
moneter yang berlebihan, atau dengan menaikkan BI rate secara terus menerus.
Pemerintah bersama kementrian terkait seharusnya mampu mengeluarkan kebijakan yang
mampu mendorong pertumbuhan disektor riil. Sejauh ini “obat” mengatasi pelemahan
rupiah hanya satu arah, yaitu berasal dari BI. Masalahnya, kenaikan BI rate yang terjadi
secara terus-menerus akan berdampak secara stuktural.
Bila keberadaan inflasi menjadi alasan adanya time value of money, seharusnya
keberadaan deflasi menjadi alasan adanya negative time value of money. Katakanlah
tingkat deflasi 10% per tahun, seseorang dapat membeli 10 potong pisang goreng hari ini
dengan membayar Rp 10.000, namun bila ia membelinya tahun depan, dengan jumlah
uang yang sama yaitu Rp 10.000, ia dapat memebli 11 pisang goreng. Oleh karena itu ia
akan memberi kompensasi untuk naiknya daya beli uangnya akibat deflasi. Inikah yang
berlaku? Ternyata tidak. Hanya satu kondisi saja yang diakomodir oleh konsep time
value of money, yaitu kondis inflasi sedangkan kondisi deflasi diabaikan.
2. Ketidakpastian Return
Sebenarnya, dalam ekonomi konvensional penerapan time value of money tidak
senaif yang dibayangkan misalnya dengan mengabaikan ketidakpastian return yang akan
diterima. Bila unsur ketidakpastian return ini dimaksukkan, ekonomi konvensional
menyebut kompensasinya sebagai discount rate. Jadi istilah discount rate lebih umum
dibandingkan istilah interest rate.
Jadi dalam ekonomi konvensional, ketidakpastian return dikonversi menjadi suatu
kepastian melalui premium for uncertainty. Dalam setiap investasi tentu selalu ada
probabiliti untuk mendapat positif return, negatif return, dan no return. Adanya
probabiliti inilah yang menimbulkan uncertainty (ketidakpastian). Probability untuk
mendapat negatif return dan no return ini yang dipertukarkan (exchange of liabilities)
dengan sesuatu yang pasti yaitu premium for uncertainty.

11
Katakanlah probibaliti positif return dan negative return masing-masing sebesar
0,4; sedangkan probability no return sebesar 0,2. Apa yang dilakukan dalam perhitungan
discount rate adalah mempertukarkan probability negative return (0,4) dan probability no
return (0,2) ini dengan premium for uncertainty, sehingga yang tersisa tinggal probability
untuk positif return (1,0).

Keadaan Natural Uncertainty Discount Rate (Probability)


(Probability)
Positif Return 0,4 1,0
No return 0,2 0,0
Negatif Return 0,4 0,0

Keadaan inilah yang ditolak dalam ekonomi syariah, yaitu keadaan al ghunmu bi
la ghurmi (mendapatkan pengembalian tanpa bertanggung jawab atas risiko apapun) dan
al kharaj bi la dhaman (mendapatkan penghasilan tanpa bertanggung jawab atas
pengeluaran apapun). Sebenarnya keadaan ini juga ditolak oleh teori keuangan, yaitu
dengan menjelaskan adanya hubungan antara risiko dan return, bukankah pengembalian
sejalan dengan risiko?

12
Dalam ekonomi syariah, penggunaan dalam sejenis discount rate dalam menentukan
harga mu’ajjal (bayar tangguh) dapat digunakan. Hal ini dapat dibenarkan karena:

a. Jual beli dan sewa menyewa adalah sector riil yang menimbulkan economic value
added (nilai tambah ekonomis)
b. Tertahannya hak si penjual (uang pembayaran) yang telah melaksanakan
kewajibannya (menyerahkan barang atau jasa), sehingga ia tidak dapat melaksanakan
kewajibannya kepada pihak lain.

Begitu pula penggunaan discount ratte dalam menentukan nisbah bagi hasil dapat
digunakan. Nisbah ini akan dikalikan dengan actual return, bukan dengan expected
return. Transaksi bagi hasil berbeda dengan transaksi jual beli atau transaksi sewa
menyewa, karena dalam transaksi bagi hasil hubungannya bukan antara penjual dan
pembeli, atau penyewa dan yang menyewakan. Yang ada adalah hubungan antara
pemodal dan yang memproduktifkan modal tersebut. Jadi tidak ada pihak yang telah
melaksanakan kewajibannya namun masih tertahan haknya. Si pemodal telah
melaksanakan kewajibannya yaitu memberikan sejumlah modal, yang memproduktifkan
modal juga telah melaksanakan kewajibannya yaitu memproduktifkan modal tersebut.
Hak bagi mereka berdua akan timbul ketika usaha memproduktifkan modal tersebut telah
mendapatkan pendapatan atau keuntungan. Hak mereka adalah berbagi hasil atas
pendapatan atau keuntungan tersebut, sesuai kesepakatan awal apakah bagi hasil itu akan
dilakukan atas pendapatan atau keuntungan.

13
Certainty in Return Uncertainty in Return
Konvensional Islami konvensional Islami
Interest rate Ketentuan dalam Discount rate Discount rate
sitentukan oleh: jual beli / sewa ditentukan oleh: ditentukan atas
1. Preferensi secara tangguh 1. Preferensi dasar ekspektasi
konsumsi bayar ditentukan konsumsi keuntunga, dan
saat ini oleh: sat ini digunakan untuk
2. Inflasi yang 1. Tingkat 2. Premium for menentukan nisbah
diharapkan keuntungan uncertainty bagi hasil.
setiap kali Dengan kata lain, Bagi hasil yang
transaksi actual return harus dibayar
2. Frekuensi dipaksakan harus adalah nisbah bagi
transaksi sama dengan hasil dikalikan
dalam satu expected return-nya dengan actual
periode return-nya. Dengan
kata lain actusl
return tidsk hsrus
sama dengan
expected return-nya

14
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN
Pada dasarnya manusia dalam memenuhi kebutuhan tidak bebas boleh melakukan hal apa
saja sesuai dengan keinginan. Karena dibatasi oleh hukum (syariat) dan nilai-nilai yang
diyakininya (akidah dan akhlak). Syariah Islam menganjurkan untuk selalu menginvestasikan
uang dalam usaha yang produktif. Karena jika seseorang tidak menginfestasikan uangnya nilai
ekonomis dari waktu uang tersebut akan terbuang sia-sia padahal waktu tidak bias diulang
kembali. Begitu juga dengan keharaman bunga dalam syariah membawa konsekuensi adanya
penghapusan bunga secara mutlak. Beberapa tokoh berpendapat bahwa bunga itu haram karena
sangat berpegang teguh pada konteks Al-Qur'an dan beberapa ulama Indonesia ada yang
menghalalkan bunga bank yaitu salah satunya adalah H. Abdullah Ahmad yang mengatakan,
bunga bank boleh diambil dengan syarat, persentase bunga tersebut diumumkan lebih dahulu,
sehingga jika bunga diumumkan sebelumnya maka berarti seorang yang meminjam rela dengan
bunga yang diumumkan. Kritik terhadap time value of money diantaranya yaitu tidak lengkap
kondisinya yang hanya mengakomodir kondisi inflasi bukan deflasi dan ketidakpastian return.

15
DAFTAR PUSTAKA

Adam, Lukman. 2015. Mengurai penyebab dan solusi pelemahan nilai tukar Rupiah.
www.dpr.go.id. Volume VII Nomor 15.

Agus, Beny. 2015. Teori Perusahaan / Theory of the Firm: Kajian Tentang Teori Bagi Hasil
Perusahaan (Profit And Loss Sharing) Dalam Perspektif Ekonomi Syariah. Jurnal
Aplikasi Pelayaran dan Kepelabuhanan: Volume 5, Nomor 2.

Ardiprawiro. 2015. Dasar Manajemen Keuangan. Universitas Gunadarma. Halaman 38.

Eka, fetria. 2013. Dimensi Waktu Dalam Analisis Time Value of Money Dan Economic Value of
Time. Jurnal Muqtasid: Volume 4 Nomor 1.

Kajian pustaka.com. (13, Februari 2018). Pengertian, karakteristik, jenis dan syarat bagi hasil.
Diakses tanggal 20 juni 2020. https://www.kajianpustaka.com/2018/02/pengertian-
karakteristik-jenis-syarat-bagi-hasil.html?m=1.

Karim, Adiwarman. 2007. Ekonomi Makro Islam. Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Manajemen Keuangan.net. (November 2019). Nilai Waktu Uang (Time Value of Money).
Diakses tanggal 20 juni 2020. https://manajemenkeuangan-
net.cdn.ampproject.org/v/s/manajemenkeuangan.net/nilai-waktu-uanga/amp/?
amo_js_v=a3&amp_gsa=1&usqp+mq331AQFKAGwASA
%3D#aoh=15928823310613&referrer=https%3A%2F
%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F
%2Fmanajemenkeuangan.net%2Fniali-waktu-uang%2F.

Nabhan, Fiqih. 2010. Profit and Loss Sharing: Solusi Ekonomi Islam Menghadapi Globalisasi
Ekonomi. Jurnal Muqtashid: Volume 1 Nomor 2.

Nurhadi.2017. “Bunga Bank Antara Halal dan Haram”. Jurnal Nur El-Islam. Volume. 4 Nomor
2.

16
Sala, Abdul. 2013. Bunga Bank Dalam Perspektif Islam (Studi Pendapat Nahdlatul Ulama Dan
Muhammadiyah). Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia: Volume III, No.1.

Suselopress.blogspot.com. (8 November 2015). Time Value Of Money and Economic Value of


Time. Diakses tanggal 20 juni 2020. http://dedisuselopress.blogspot.com/2015/11/time-
value-of-money-and-economic-value.html?m=1.

17