Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

BAHASA INDONESIA
PEMBELAJARAN BERBASIS TEKS

Disusun Oleh :
Kelas C
Kelompok 2
A. Afifah Humairah 210903502072
Firla Amaria Putri 210903502068
Muhammad Haslim Ashari 210903501038
Aulya Dwi Maharani 210903502071

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Pembelajaran Berbasis Teks”
dengan lancar.

Selama melakukan penyusunan dan penulisan makalah ini penulis banyak menghadapi
tantangan dan hambatan. Alhamdulillah, semua itu dapat teratasi berkat bantuan dan dukungan
kedua orang tua , bapak dan ibu dosen , teman – teman dan terutama ridho Allah SWT. Untuk
itu, pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua
pihak yang telah turut memberikan andil dan membantu penulis hingga selesianya penyusunan
dan penulisan karya tulis ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak menampilkan kekurangan.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak bagi perbaikan makalah ini
dan menjadi masukan yang sangat berguna dalam penyusunan makalah berikutnya.

Dan akhirnya, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat menjadi
sumber informasi yang berguna.

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................. i
DAFTAR ISI ...............................................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................................ 2
1.4 Manfaat Penelitian .......................................................................................... 2
1.5 Hipotesis Tindakan ......................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori Pembelajaran berbasis teks .................................................................. 3
2.2 Teks sebagai bahan dasar pembelajaran ......................................................... 4
2.3 Jenis-jenis Teks .............................................................................................. 5
2.4 Prinsip-prinsip pembelajaran berbasis teks .................................................... 6
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 8
3.2 Saran ............................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pembelajaran berbasis teks sering disebut dengan pembelajaran berbasis genre.
Menurut bahasa genre diartikan sebagai jenis teks. Sedangkan menurut istilah, genre
didefinisikan sebagai “a staged, goal-oriented social process”, yaitu proses sosial yang
berorientasi kepada tujuan yang dicapai secara bertahap. Sebagai ilustrasi dapat
disebutkan bahwa teks dengan genre eksposisi mempunyai tujuan sosial untuk
menyampaikan gagasan agar gagasan itu diterima oleh pihak lain. Untuk itu, teks
eksposisi disusun dengan struktur teks: pernyataan tesis^argumentasi^pernyataan ulang
tesis (Tanda ^ berarti diikuti oleh).
Sementara itu, teks dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat
dimediakan secara tulis atau lisan yang ditata menurut struktur teks tertentu yang
mengungkapkan makna secara kontekstual (Wiratno, 2003; Wiratno, 2009). Dari definisi
itu, dapat diungkapkan bahwa teks tidak selalu berwujud bahasa tulis, sebagaimana telah
lazim dipahami oleh masyarakat, misalnya teks Pancasila yang sering dibacakan pada
saat upacara. Teks dapat berwujud tulisan maupun lisan.
Pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks di perguruan tinggi
merupakan kelanjutan dari pendekatan yang sama di SMP/MTs dan SMA/MA. Teks dan
fungsi sosialnya serta unsur-unsur kebahasaan yang dikandung di dalamnya menjadi
fokus kegiatan pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, perlu ditunjukkan bahwa unsur- unsur dan struktur
teks itu digunakan di dalam teks untuk memenuhi fungsi/tujuan sosialnya. Karena teks
yang satu memiliki fungsi/tujuan sosial yang berbeda, teks yang berbeda juga
memanfaatkan unsur-unsur kebahasaan dan struktur teks yang berbeda pula. Setiap bab
pada buku Bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi yang diterbitkan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan terdapat empat bagian kegiatan belajar (A, B, C, dan D).

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas maka dirumuskanlah beberapa masalah dibawah ini :
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berbasis teks ?
1.2.2 Jenis-jenis teks apa sajakah yang termasuk dalam pembelajaran
berbasis teks?
1.2.3 Apa prinsip-prinsip yang terkandung dalam pembelajaran berbasis
teks ?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.3.1 Untuk mengetahui teori dari pembelajaran berbasis teks
1.3.2 Untuk mengetahui dan memahami jenis teks apa sajakah yang terkait
dalam pembelajaran berbasis teks
1.3.3 Untuk mengetahui prinsip-prinsip apa sajakah yang termasuk dala
pembelajaran berbasis teks

1.4 MANFAAT PENELITIAN


Sebagai bahan masukan atau referensi bagi penelitian yang sejenis dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya untuk dunia pendidikan.

1.5 HIPOTESIS TINDAKAN


Hipotesis tindakan pada penelitian ini mendasarkan diri pada pemodelan teks dan
analisis terhadap fitur-fitur penelitian secara eksplisit, serta focus pada hubungan antara
teks dan konteks penggunaannya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 TEORI PEMBELAJARAN BERBASIS TEKS

Pembelajaran berbasis teks sering disebut dengan pembelajaran berbasis genre.


Menurut bahasa genre diartikan sebagai jenis teks. Sedangkan menurut istilah, genre
didefinisikan sebagai “a staged, goal-oriented social process” (Martin, 1985a; Martin, 1992),
yaitu proses sosial yang berorientasi kepada tujuan yang dicapai secara bertahap.

Genre merupakan “proses sosial” karena melalui genre atau teks, anggota
masyarakat dapat berkomunikasi. genre “berorientasi kepada tujuan” karena orang
menggunakan jenis teks tertentu untuk melakukan sesuatu, misalnya untuk memasak mi
instan orang menggunakan teks prosedur, dan genre dikatakan “bertahap” agar dapat
mencapai tujuannya, teks disusun dalam tahapan-tahapan (Martin & Rose, 2003:7-8).

Tahapan-tahapan itu tidak lain adalah tahapan-tahapan pada struktur teks


(Wiratno, 2014). Melalui tahapan-tahapan itulah tujuan sosial atau fungsi sosial teks dapat
dicapai. Sebagai ilustrasi dapat disebutkan bahwa teks dengan genre eksposisi mempunyai
tujuan sosial untuk menyampaikan gagasan, agar gagasan itu dapat diterima oleh pihak lain.
Untuk itu, teks eksposisi disusun dengan struktur teks sebagai berikut : pernyataan
tesis^argumentasi^pernyataan ulang tesis (Tanda ^ berarti diikuti oleh).

Sementara itu, teks dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat
dimediakan secara tulis atau lisan yang ditata menurut struktur teks tertentu dengan
mengungkapkan makna secara kontekstual (Wiratno, 2003; Wiratno, 2009). Dari definisi itu,
dapat diungkapkan bahwa teks tidak selalu berwujud bahasa tulis, sebagaimana telah lazim
dipahami oleh masyarakat, misalnya teks Pancasila yang sering dibacakan pada saat upacara.
Teks dapat berwujud baik tulis maupun lisan. Bahkan dalam multimoda, teks dapat berwujud
perpaduan antara teks lisan atau tulis dan gambar/animasi/film. Selain itu, dapat diungkapkan
pula bahwa teks dimaknai melalui konteks.sebagai berikut :

3
2.2 TEKS SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBELAJARAN

Pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks di perguruan tinggi


merupakan kelanjutan dari pendekatan yang sama di SMP/MTs dan SMA/MA. Teks dan
fungsi sosialnya, serta unsur-unsur kebahasaan yang dikandung di dalamnya menjadi fokus
kegiatan pembelajaran.

Fungsi sosial teks itu merupakan tujuan teks tersebut. Sudah barang tentu unsur-
unsur kebahasaan di dalam teks tidak lagi diajarkan secara terpisah-pisah, tetapi secara
integratif dengan struktur teks dan fungsi/tujuan sosialnya. Dalam proses pembelajaran, perlu
ditunjukkan bahwa unsur-unsur dan struktur teks tersebut dapat digunakan pada teks untuk
memenuhi fungsi/tujuan sosialnya. Karena teks yang satu memiliki fungsi/tujuan sosial yang
berbeda, teks yang berbeda juga memanfaatkan unsur-unsur kebahasaan dan struktur teks
yang berbeda pula.

Telah disampaikan di atas bahwa teks berada dalam konteks. Teks diliputi oleh
dua konteks, yaitu konteks situasi dan konteks budaya. Konteks situasi berkenaan dengan
penggunaan bahasa yang di dalamnya terdapat register yang melatarbelakangi lahirnya teks,
yaitu adanya sesuatu (pesan, pikiran, gagasan, ide) yang hendak disampaikan (field), sasaran
atau partisipan yang dituju oleh pesan, pikiran, gagasan, atau ide itu (tenor), dan format bahasa
yang digunakan untuk menyampaikan atau mengemas pesan, pikiran, gagasan, atau ide
tersebut (mode).

Terkait dengan format bahasa tersebut, teks dapat diungkapkan ke dalam berbagai
jenis atau genre, misalnya deskripsi, laporan, prosedur, eksplanasi, eksposisi, diskusi, naratif,
cerita petualangan, anekdot, dan lain sebagainya. Jenis-jenis itu tergolong ke dalam genre
mikro dan sudah dipelajari di SMP atau MTs dan SMA atau MA. Di perguruan tinggi,
pembelajaran dipusatkan pada genre makro.

Konteks yang kedua adalah konteks budaya masyarakat tutur bahasa yang
menjadi tempat jenis-jenis teks tersebut diproduksi. Konteks situasi merupakan konteks yang
terdekat yang menyertai penciptaan teks, sedangkan konteks budayalebih bersifat
institusional dan global.

4
Totalitas makna sebuah teks dapat dipahami dengan menggali situasi dan konteks
budaya sekaligus. Konteks budaya yang dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia
di perguruan tinggi adalah konteks budaya akademik. Pada konteks yang demikian, maka
diciptakan dan digunakan teks dengan ragam akademik.

2.3 JENIS-JENIS TEKS

Di atas telah menyatakan bahwa jenis teks dimaknai sebagai genre. Genre sebagai
jenis teks dapat digolongkan menjadi genre faktual dan genre fiksional atau genre rekaan.
Genre faktual adalah jenis teks yang dibuat berdasarkan kejadian, peristiwa, atau keadaan
nyata yang berada di sekitar lingkungan hidup. Genre fiksional adalah jenis teks yang dibuat
berdasarkan imajinasi, bukan berdasarkan kenyataan yang sesungguhnya.

Genre faktual meliputi: laporan, deskripsi, prosedur, rekon (recount), eksplanasi,


eksposisi, dan diskusi. Sementara, genre fiksional mencakup: rekon, anekdot, cerita/naratif,
dan eksemplum. Genre yang dipelajari pada mata kuliah Bahasa Indonesia adalah genre
faktual, bukan genre fiksional.

Di pihak lain, genre dapat dijelaskan dari sudut pandang makro dan mikro. Nama-
nama genre yang disebutkan di atas meliputi: laporan, deskripsi, prosedur, rekon, eksplanasi,
eksposisi, dan diskusi (untuk yang faktual) dan rekon, anekdot, cerita/narartif, dan eksemplum
(untuk genre fiksional) adalah nama-nama genre mikro. Kenyataannya, teks-teks yang
dijumpai di masyarakat merupakan campuran dari beberapa genre mikro. Genre yang
digunakan untuk menamai jenis teks itu secara keseluruhan disebut genre makro.

Genre makro berfungsi sebagai payung yang membawahi genre-genre mikro


yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, dapat disebutkan teks editorial. Nama editorial
sekaligus digunakan sebagai nama genre makro editorial. Di dalam editorial, mungkin
ditemukan campuran genre mikro deskripsi, laporan, eksplanasi, dan rekon. Akan tetapi,
sangat mungkin keseluruhan editorial itu hanya ditulis dengan genre eksposisi atau diskusi.
Dengan demikian, nama genre makronya adalah editorial, dan nama genre mikro yang ada di
dalamnya adalah genre eksposisi atau diskusi.

5
2.4 PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN BERBASIS TEKS
Adapun prinsip-prinsip dalam pembelajaran berbasis teks, antara lain sebagai
berikut :
I. Menekankan pentingnya guru mengembangkan kesadaran siswa bahwa setiap teks
merupakan kreasi unik dari seorang penulis yang unik dan bersifat relatif bagi
sekolompok orang dan konteks tertentu.
II. Menganggap belajar Bahasa sebagai aktivitas sosial yang memastikan adanya
kebergantungan antar siswa dan masyarakat, dalam hal ini dapat dikatakan teman,
guru, ataupun orang dewasa lainnya yang bisa membantu siswa mencapai hasil
belajar yang lebih baik, termasuk orang tua.
III. Menegaskan bahsa siswa belajar di bawah bimbingan guru.
IV. Berkeyakinan bahwa pengajaran tata Bahasa merupakan bagian penting untuk
menuntun siswa terhadap pengetahuan mengenai bagaimana bahasa berfungsi,
serta pengetahuan yang dapat melahirkan pemberdayaan lebih luas bagi siswa.

Selain itu pada pengajaran dan pembelajaran berbasis teks, terdapat empat tahap
yang harus ditempuh (Rose & Martin, 2012), yaitu:

(1) tahap pembangunan konteks;


(2) tahap pemodelan teks;
(3) tahap pembuatan teks secara bersama-sama;
(4) tahap pembuatan teks secara mandiri.

Keempat tahap itu berlangsung secara siklus. Dosen dapat memulai kegiatan
belajar-mengajar dari tahap mana pun, meskipun pada umumnya tahap-tahap itu ditempuh
secara urut. Selain itu, apabila kegiatan belajar-mengajar mengalami kesulitan pada tahap
tertentu, misalnya pembuatan teks secara bersama-sama, dosen boleh mengarahkan
mahasiswa untuk kembali kepada tahap pemodelan.

Setiap bab pada buku Bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi yang diterbitkan
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini terdapat empat bagian kegiatan belajar (A,
B, C, dan D). Bagian A berkenaan dengan tahap pembangunan konteks, yang dimaksudkan
sebagai langkah-langkah awal yang dilakukan oleh dosen bersama mahasiswa untuk
mengarahkan pemikiran ke dalam pokok persoalan yang akan dibahas pada bab itu. Bagian
B adalah tahap pemodelan, yaitu tahap yang berisi tentang pembahasan teks yang diberikan
sebagai model pembelajaran. Pembahasan diarahkan kepada semua aspek kebahasaan yang

6
membentuk teks itu secara keseluruhan. Bagian C adalah tahap pembangunan teks secara
bersama-sama. Pada bagian ini, karena pada dasarnya mahasiswa belum dapat membangun
teks secara mandiri, mahasiswa masih membutuhkan fasilitasi dari pihak lain. Fasilitasi itu
dapat berasal dari dosen, teman sejawat, atau siapa pun. Dengan demikian, pada tahap ini
mahasiswa bersama-sama mahasiswa lain dan dosen sebagai fasilitator menyusun kembali
teks seperti yang ditunjukkan pada model. Tugas-tugas yang diberikan berupa semua aspek
kebahasaan yang sesuai dengan ciri-ciri yang dituntut pada jenis teks yang dimaksud. Adapun
Bagian D adalah tahap belajar mandiri. Pada tahap ini, mahasiswa diharapkan dapat
mengaktualisasikan diri dengan menggunakan teks sesuai dengan jenis dan ciri-ciri seperti
yang ditunjukkan pada model tanpa bantuan dari mana pun.

7
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pembelajaran berbasis teks adalah pembelajaran yang menjadikan teks sebagai


dasar, asas, pangkal, dan tumpuan. Adapun teks meliputi teks tertulis dan teks lisan. Bahasa
sepenuhnya milik manusia yang dibangun dan disempurnakan mengikuti perubahan
peradaban jaman.Pengekspresian rasa, pikiran,emosi yang terikat dalam tatanan norma sosial
dan budaya manusia terakumulasi dalam bentuk teks. Teks selalu ditemani oleh dua mitra
sejati genre dan register. Kebermaknaan teks tersebut diimplikasikan dalam tatanan formal
pembelajaran Bahasa Indonesia yang diperkenalkan kepada seluruh peserta didik, guna
membedah, membidik dan memekakan cakrwala pengetahuannya.Pembelajaran teks dalam
Bahasa Indonesia bergaris lurus dengan pendekatan ilmiah yang mengedepankan sisi
kesistematisan, terkontrol, empiris, dan kritis. Representasi dari hal itu, tereksplisitkan pada
genre teks yang dibelajarkan terdiri atas teks tunggal (mikro) dan teks majemuk (makro).Hal
baik yang dapat diperoleh dari pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks ini yaitu dapat
berlatih untuk berpikir metodologis, sebagai suatu kemampuan berpikir yang dibutuhkan pada
masa yang akan datang, dan mampu mengembangkan kemampuan membaca pemahaman,
serta kemampuan menulis juga semakin berkembang dengan baik.

3.2 Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi penelitian, diajukan saran-saran sebagai


berikut. Pertama, guru hendaknya bisa menggunakan empat aspek pembelajaran berbasis teks
dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, antara lain, (1) membangun konteks, (2) telaah
model, (3) konstruksi terbimbing, dan (4) konstruksi mandiri dengan baik dan sesuai dengan
tuntutan yang ada dalam Kurikulum 2013. Untuk itu, guru hendaknya selalu belajar untuk
meningkatkan pemahaman dan kemampuannya dalam melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan tuntutan Kurikulum yang berlaku.

8
DAFTAR PUSTAKA

Alisyahbana, S.T. (1984a). “The Problem of Minority Languages in the Overall

Linguistic Problems of Our Time”. In Coulmas, F. Linguistic Minorities and

Literacy. Berlin: Mouton Publishers.

Alisyahbana, S.T. (1984b). “The Concept of Language Standardisation and Its

Application to Indonesian Language”. In Coulmas, F. Linguistic Minorities and

Literacy. Berlin: Mouton Publishers.

Baker, C. (1996). Foundations of Bilingual Education and Bilingualism, 2nd edition.

Clevedon: Multilingual Matters.

Brinton, D.M. (1999). “Out of the Mouths of Babes: Novice Teacher Insights into

Anda mungkin juga menyukai