Anda di halaman 1dari 18

PERKEMBANGAN MORAL – SPIRITUAL PESERTA DIDIK BESERTA

PROBLEMATIKANYA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Pengembangan Peserta Didik
yang dibina oleh Ibu Neni Wahyuningtyas

Disusun oleh :

Cindi Puspita Sari (190412630141)

Cindy Yosifha Wardani (190412630432)

Erissa Zulinta Pratama (190411630438)

Natasya Sylvia (190412630107)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

Februari 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat, taufik
serta hidayahnya , sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan dalam bentuk
makalah yang berjudul Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik Serta
Problematikanya. Adapun makalah ini di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Perkembangan peserta didik.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak kesalahan ,


kekurangan , oleh karena itu saya mengharapkan saran , kritik yang dapat saya
jadikan perbaikan untuk tulisan-tulisan yang akan datang .

Besar harapan saya semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagaimana


mestinya serta untuk menambah bank pengetahuan dalam memahami
perkembangan pada peserta didik. Semoga bantuan , dorongan , serta bimbingan
yang telah di berikan kepada kami dalam menyusun makalah ini mendapat
balasan yang setimpal.

Malang , 18 Februari 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar.......................................................................................................i

Daftar Isi................................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN.....................................................................................1

1.1....................................................................................................................La
tar belakang...............................................................................................1
1.2....................................................................................................................Ru
musan Masalah..........................................................................................1
1.3....................................................................................................................Tu
juan............................................................................................................1

BAB 2 PEMBAHASAN.......................................................................................3

2.1 Definisi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik......................3


2.2 Teori-Teori dari Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik.........4
BAB 3 PENUTUP.................................................................................................13
3.1 Kesimpulan...............................................................................................13
DAFTAR RUJUKAN...........................................................................................14

ii
DAFTAR ISI

Kata pengantar.................................................................................................. i

Daftar Isi........................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................ 1

1.1 Latar belakang................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 1

1.3 Tujuan................................................................................................ 1

BAB 2 PEMBAHASAN................................................................................... 3

2.1 Definisi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik.............. 3

2.2 Teori-Teori dari Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik. 4


BAB 3 PENUTUP............................................................................................ 13
3.1 Kesimpulan........................................................................................ 13
DAFTAR RUJUKAN....................................................................................... 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan,
dimana aspek yang menjadi subjek sekaligus objek yang penting dalam hal ini adalah
peserta didik. Pendidikan yang diberikan tidak hanya dalam lingkup akademik namun
mendidik disini dimaksudkan untuk membentuk kepribadian yang sesuai dengan norma
hukum dan agama. Setiap peserta didik bersifat khas dan unik karena setiap peserta didik
berbeda-beda.

Dalam pendidikan dan pembelajaran diperlukan suatu pengetahuan akan


perkembangan-perkembangan yang terjadi pada peserta didik. Dimana aspek-aspek
perkembangan peserta didik cukup banyak seperti perkembangan fisik, perkembangan
intelektual, perkembangan moral, perkembangan spiritual atau kesadaran beragama dal
lain sebagainya. Setiap aspek-aspek tersebut dapat dikaji berdasarkan fase-fasenya untuk
membantu dalam memahami cara belajar dan tentunya sikap maupun tingkah laku peserta
didik. Selain itu, aspek pembelajaran yang diberikan kepada para peserta didik juga
berupa pendidikan moral dan spirituall untuk membentuk pribadi-pribadi yang sesuai
dengan harapan bangsa yang dituliskan pada tujuan pendidikan bangsa Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang, terbentuk beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
a. Apa yang dimaksud dengan perkembangan moral dan spiritual?
b. Apa teori-teori yang mendasari perkembangan moral dan spiritual pada
peserta didik?
c. Bagaimana proses perkembangan moral dan spiritual pada peserta didik?
d. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral dan spiritual
pada peserta didik?
e. Bagaimana implikasi atau dampak perkembangan moral dan spiritual
peserta didik terhadap pendidikan?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian perkembangan moral dan spiritual pada
peserta didik.
b. Untuk mengetahui teori-teori yang mendasari perkembangan moral dan
spiritual pada peserta didik.
c. Untuk mengetahui proses perkembangan moral dan spiritual pada peserta
didik.

1
d. Untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral
dan spiritual.
e. Untuk mengetahui dan memahami dampak dari perkembangan moral dan
spiritual peserta didik terhadap pendidikan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik


Secara etimologi istilah moral berasal dari bahasa Latin mos, moris (adat,
istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku, kelakuan) mores (adat istiadat, kelakuan,
tabiat, watak, akhlak). Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima
dan melakukan peraturan, nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai moral
ini antara lain, seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, atau larangan untuk
tidak berbuat kejahatan kepada orang lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa moral
merupakan tingkah laku manusia yang berdasarkan atas baik-buruk dengan
landasan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Seseorang dikatakan bermoral apabila ia mempunyai pertimbangan baik
dan buruk yang ditunjukkan melalui tingkah lakunya yang sesuai dengan adat dan
sopan santun. Sebaliknya seseorang dikatakan memiliki perilaku tak bermoral
apabila perilakunya tidak sesuai dengan harapan sosial yang disebabkan dengan
ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib
menyesuaikan diri.Selain itu ada perilaku amoral atau nonmoral yang merupakan
perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial yang lebih disebabkan karena
ketidak acuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja
terhadap standar kelompok.
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan
mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya
dengan orang lain (Santrock, 2002). Perkembangan moral juga merupakan
perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam kehidupan anak berkenaan
dengan tata cara, kebiasaan, adat, atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok
sosial. Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral) akan tetapi
dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Melalui
pengalamannya berinteraksi dengan orang lain (orang tua, saudara, teman sebaya
atau guru), anak belajar memahami tingkah laku mana yang buruk atau tidak
boleh dilakukan dan mana yang baik atau boleh dilakukan sehingga terjadi
perkembangan moral anak tersebut.
Pengertian Spiritual dan Perkembangan Spiritual
Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara,
spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Mempunyai kepercayaan atau
keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai komitmen terhadap sesuatu atau
seseorang.Konsep kepercayaan mempunyai dua pengertian. Pertama kepercayaan
didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan lembaga keagamaan seperti Islam,
Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua, kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu
yang berhubungan dengan Ketuhanan, Kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai

3
wewenang atau kuasaa, sesuatu perasaan yang memberikan alasan tentang
keyakinan (believe) dan keyakinan sepenuhnya (action), harapan (hope).
Definisi spiritual setiap individu dipengaruhi oleh budaya, perkembangan,
pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan. Spiritualitas juga
memberikan suatu perasaan yang berhubungan dengan intrapersonal (hubungan
antara diri sendiri), interpersonal (hubungan antara orang lain dengan lingkungan)
dan transpersonal (hubungan yang tidak dapat dilihat yaitu suatu hubungan
dengan ketuhanan yang merupakan kekuatan tertinggi). Jadi spiritual merupakan
kepercayaan peserta didik terhadap suatu keyakinan yang didasarkan pada adat
istiadat maupun ketuhanan.
Perkembangan spiritual lebih spesifik membahas tentang kebutuhan
manusia terhadap agama.Agama adalah sebagai sistem organisasi kepercayaan
dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas secara
lahiriah mengenai spiritualitasnya.Perkembangan spiritual diartikan sebagai tahap
dimana seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik untuk membentuk
kepercayaannya.Baik berupa kepercayaan yang berhubungan dengan religi
maupun adat.

2.2 Teori-Teori dari Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik


A. Teori perkembangan moral
Kohlberg mengembangkan gagasannya mengenai perkembangan moral
melalui penelitian terhadap individu-individu dari berbagai usia. Terhadap setiap
orang, ia mengajukan ceritera dan disertai dengan pertanyaan-pertanyaan terhadap
ceritera tersebut. Mengenai perkembangan moral, dia yakin bahwa perkembangan
yang baik terjadi manakala perilaku manusia mengalami perubahan-perubahan
dari perilaku yang dikontrol secara internal oleh si pelaku moral.Ketiga tingkatan
tersebut adalah penalaran prakonvensional, penalaran konvensional, dan penalaran
postkonvensional.
1. Penalaran prakonvensional
Pada tingkatan terendah ini individu tidak menunjukkan adanya
internalisasi nilai-nilai moral-penalaran moral dikendalikan oleh faktor
internal, yakni hadiah, pujian, tepukan bahu, atau sebaliknya berupa
cacian, makian, kritik, hukuman. Pada tingkatan yang paling dasar ini
dipilah menjadi dua tahap, yaitu:
Tahap 1: punishment and obedience orientation. Pada tahap orientasi
hukuman dan kepatuhan ini pemikiran moral didasarkan pada
hukuman.Contohnya, seorang menjadi berperilaku patuh karena takut
kalau-kalau hukuman menimpa dirinya.

4
Tahap 2: Individualism and purpose. Pada tahap ini perkembangan moral
lebih berdasar pada hadiah dan minat pribadi anak atau remaja. Anak atau
remaja menjadi patuh karena dia berharap akan mendapatkan sesuatu yang
menyenangkan setelah dia menjalankan perilaku patuh.
2. Penalaran konvensional
Pada tingkatan ini individu melakukan kepatuhan berdasarkan standar
pribadi yang diperoleh atau yang diinternalisasi dari lingkungan ata orang
lain. Pada tingkatan kedua ini dipilah menjadi dua tahap:
Tahap 1: Interpersonal norm. Pada tahap norma interpersonal ini, anak
beranggapan bahwa rasa percaya, rasa kasih sayang , dan kesetiaan kepada
orang lain sebagai dasar untuk melakukan penilaian terhadap perilaku
moral. Agar anak dikatakan sebagai anak yang baik, maka anak
mengambil standar moral yang diberlakukan oleh orang tuanya.Dengan
demikian, hubungan antara anak dan orang tua tetap terjaga dalam suasana
penuh kasih sayang.
Tahap 2: social system morality. Pada tahap keempat ini ukuran moralitas
didasarkan pada sistem sosial yang berlaku saat itu.Artinya, kehidupan
masyrakat didasarkan pada aturan hukum yang dibuat dengan maksud
melindungi semua warga di dalam komunitas tertentu.Jadi pada tahap
perkembangan moral didasrkan pada pemahaman terhadap aturan, hukum,
keadilan, dan tugas sosial kemasyarakatan.

3. Penalaran postkonvensional
Tingkatan tertinggi dari perkembangan moral adalah diinternalisasikannya
standar moral sepenuhnya dalam diri individu tanpa didasarkan pada
standar orang lain. Pada tingkatan tertinggi ini dibagi menjadi dua tahap:
Tahap 1: community rights vs individual rights. Pada tahap ini,
perkembangan moral mengarah ke pemahaman bahwa nilai dan hukum
bersifat relatif.Sementara itu nilai yang dimiliki orang satu berbeda dari
orang yang lainnya.
Tahap 2: Universal ethical principles. Tahapan tertinggi dari
perkembangan moral adalah seseorang sudah mampu membentuk standar
moral sendiri berdasar pada hak-hak manusia yang bersifat
universal.Walaupun mengandung resiko, orang pada tahap ini berani
mengambil suatu tindakan berdasar kata hatinya sendiri, bahkan
bertentangan dengan hukum sekalipun.

B. Teori perkembangan spiritual.

5
Sementara Ernes Harms membagi perkembangan keagamaan menjadi tiga
tingkatan, yakni:
1. The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng), dimulai 3-6 tahun. Konsep
ketuhanan dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Hurlock (2002)
menambahkan bahwa disebut sebagai tahap dongeng karena anak
menerima semua keyakinanannya dengan unsur yang tidak nyata. Oleh
karena itu, cerita-cerita agama dan kebesaran upacara agama sangat
menarik anak-anak.
2. The Realistic Stage (tingkat kenyataan), dimulai 7-12 tahun. Pada masa
ini, anak mampu memahami konsep ketuhanan secara realistik dan
konkrit.
3. The Individual Stage, terjadi pada usia remaja dimana pada masa ini
situasi jiwa menudukung untuk mampu berfikir abstrak dan kesensitifan
emosinya.Pemahaman ketuhanan dapat ditekankan pada makna dan
keberadaan Tuhan bagi kehidupan manusia.

James Fowler (Desmita, 2017) merumuskan theory of faith didasarkan


pada teori perkembangan psikososial Erikson yang mengacu pada tahapan
kehidupan tahap perkembangan agama, yakni:
1. Tahap prima faith
Tahapan kepercayaan ini terjadi pada usia 0-2 tahun yang ditandai dengan
rasa percaya dan setia anak pada pengasuhnya. Kepercayaan ini tumbuh
dari pengalaman relasi mutual. Berupa saling memberi dan menerima yang
diritualisasikan dalam interaksi antara anak dan pengasuhnya.
2. Tahap intuitive-projektive
Tahapan yang berlangsung antara usia 2-7 tahun. Pada tahap ini
kepercayaan anak bersifat peniruan, karena kepercayaan yang dimilikinya
masih merupakan gabungan hasil pengajar dan contoh-contoh signifikasi
dari orang-orang dewasa, anak kemudian berhasil merangsang,
membentuk, menyalurkan, dan mengarahkanperhatian spontan serta
gambaran intuitif dan proyektifitasnya pada ilahi.
3. Tahapa mythic-literal faith
Dimulai dari usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, sesuai dengan tahap
kognitifnya, anak secara sistematis mulai mengambil makna dari tradisi
masyarakatnya. Gambaran tentang tuhan diibaratkan sebagai seorang
pribadi, orang tua atau penguasa, yang bertindak dengan sikap
memperhatikan secara konsekuensi, tegas dan jika perlu tegas.
4. Tahap synthenic-conventional faith
Tahapan yang terjadi pada usia 12-akhir masa remaja atau awal masa
dewasa. Kepercayaan remaja pada tahap ini ditandai dengan kesadaran
terhadap simbolismedan memiliki lebih dari satu cara untuk mengetahui
kebenaran. Sistem kepercayaan remaja mencerminkan pola kepercayaan
masyarakat pada umumnya, namun kesadaran kritisnya sesuai dengan
tahap operasional formal, sehingga menjadikan remaja melakukan kritis
atas ajaran-ajaran yang diberikan oleh lembaga keagamaan resmi
kepadanya. Pada tahap ini remaja juga mulai mencapai pengalaman

6
bersatu dengan yang transenden melalui simbol dan upacara keagamaan
yang menurutnya

C. Proses Perkembangan Moral dan Spiritual pada Peserta Didik


Setiap aspek perkembangan peserta didik memiliki tahapan atau proses
hingga mencapai suatu tahapan atau tingkatan yang matang. Perkembangan moral
pada peserta didik dapat berlangsung melalui beberapa cara yaitu:
1. Pendidikan langsung, melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku
yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orangtua, guru atau orang
dewasa lainnya. Di samping itu, yang paling penting dalam pendidikan
moral ini, adalah keteladanan dari orangtua, guru atau orang dewasa lainnya
dalam melakukan nilai-nilai moral.
2. Identifikasi, dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau
tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orang tua,
guru, artis atau orang dewasa lainnya).
3. Proses coba-coba (trial & error), dengan cara mengembangkan tingkah laku
moral secara coba-coba. Jika tingkah laku tersebut mendatangkan pujian
atau penghargaan maka akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku
yang mendatangkan hukuman atau celaan maka akan dihentikan. (Yusuf,
2011).

Selain itu, berdasarkan hasil penyelidikan Kohlberg mengemukakan 6


tahap (stadium) perkembangan moral yang berlaku secara universal dan
dalam urutan tertentu.Masing-masing tingkat terdiri dari 2 tahap, sehingga
keseluruhan ada 6 tahapan yang berkembang secara bertingkat dengan
urutan yang tetap. Dalam stadium nol, anak menganggap baik apa yang
sesuai dengan permintaan dan keinginannya.

Ada 3 tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg, yaitu tingkat :

1. Prakonvensional,
Pada stadium 1, anak berorientasi kepada kepatuhan dan
hukuman.Anak menganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang
ditimbulkannya.Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan
ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat.Ia
harus menurut atau kalau tidak, akan memperoleh hukuman.
Pada stadium 2, berlaku prinsip Relaivistik-Hedonism.Pada
tahap ini, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang
ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka
sadar bahwa setiap kejadian mempunyai berbagai segi. Jadi, ada
Relativisme.Relativisme ini artinya bergantung pada kebutuhan dan
kesanggupan sesorang.Misalnya mencuri kambing karena
kelaparan.Karena perbuatan “mencuri” untuk memenuhi kebutuhanya,
maka mencuri dianggap sebagai perbuatan yang bermoral, meskipun

7
perbuatan mencuri itu diketahui sebagai perbuatan yang salah karena
ada akibatnya, yaitu hukuman.

2. Konvensional
Stadium 3, meliputi orientasi mengenai anak yang baik. Pada
stadium ini, anak mulai memasuki umur belasan tahun, dimana anak
memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik
oleh orang lain dan masyarakat adalah sumber yang menentukan,
apakah perbuatan sesorang baik atau tidak. Menjadi “anak yang
manis” masih sangat penting dalam stadium ini.
Stadium 4, yaitu tahap mempertahankan norma-norma sosial
dari otoritas.Pada stadium ini perbuatan baik yang diperlihatkan
seseorang bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan
masyarakatnya, melainkan bertujuan agar dapat ikut mempertahankan
aturan-aturan atau norma-norma sosial.Jadi perbuatan baik merupakan
kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan-aturan yang ada, agar tidak
timbul kekacauan (Baharuddin, 2009).

3. Pasca-konvensional
Stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara
dirinya dengan lingkungan sosial, pada stadium ini ada hubungan
timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial,atau dengan
masyarakat. Seseorang harus memperlihatkan kewajibannya, harus
sesuai dengan tuntutan norma-norma sosial kerena sebaiknya,
lingkungan sosial atau masyarakat akan memberikan perlindungan
kepadanya.
Stadium 6, tahap ini disebut prinsip universal. Pada tahap ini ada
norma etik disamping norma pribadi dan subjektif. Dalam hubungan
dan perjanjian antara seseorang ada unsur subjektif yang menilai
apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak. Dalam hal ini, unsur etika
akan menentukan apa yang boleh dan baik dilakukan atau sebaliknya
(Baharuddin, 2009). Menurut Furter (1965), menjadi remaja berarti
mengerti nila-nilai. Mengerti nilai-nilai ini tidak berarti hanya
memperoleh pengertian saja melainkan juga dapat
menjelaskanya/mengamalkannya.Hal ini selanjutnya berarti bahwa
remaja sudah dapat menginternalisasikan penilaian-penilaian moral,
menjadikanya sebagai nilai-nilai pribadi. Untuk selanjutnya
penginternalisasian nilai-nilai ini akan tercemin dalam sikap dan
tingkah lakunya.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta


Didik
Berbagai aspek perkembangan pada peserta didik dipengaruhi oleh interaksi
atau gabungan dari pengruh internal dan faktor eksternal.Begitu pula dengan
perkembangan moral dan spiritual dari peserta didik. Meskipun kedua aspek

8
perkembangan tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal yang hampir
sama tetapi kadar atau bentuk pengaruhnya berbeda.
Pada perkembangan moral peserta didik faktor internal meliputi faktor
genetis atau pengaruh sifat-sifat bawaan yang ada pada diri peserta
didik.Selanjutnya sifat-sifat yang mendasari adanya perkembangan moral
dikembangkan atau dibentuk oleh lingkungan. Peserta didik akan mulai melihat
dan memasukkan nilai-nilai yang ada di lingkubgan sekitarnya baik lingkungan
keluarga maupun lingkungan masyarakat yang dapat meliputi para tetua yang
mungkin menjadi teladan di masyarakat, para tetangga, teman maupun guru yang
ada di lingkungan sekolah. Semua aspek di atas memiliki peran yang penting
dalam perkembangan moral peserta didik yang kadarnya tau besarnya pengaruh
bergantung pada usia atau kebiasaan dari peserta didik itu sendiri (Baharuddin,
2011).
Meskipun faktor eksternal memiliki pengaruh yang cukup besar pada
perkembangan moral peserta didik, peserta didik tetap mampu menentukan hal-
hal atau nilai-nilai yang akan dianut atau digunakan sebagai pembentuk jati diri.
Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh pengetahuan peserta didik akan nilai-nilai
moral yang tenyunya pertama kali akan dilihat dari sosok atau jati diri orang tua.
Meskipun terkadang orang tua tidak secara formal memberikan nilai-nilai moral
tersebut, peserta didik tetap mampu menginternalisasi atau memasukkan nilai-
nilai tersebut ke dalam jati dirinya yang diwujudkan dengan sikap dan tingkah
laku peserta didik.Oleh karena itu, para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat
sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Dimana dalam
usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu
tersebut, banyak faktor yang mempengaruhinya diantaranya yaitu:
1. Tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.
2. Banyak model (orang-orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-
orang yang terkenal dan hal-hal lain) yang diidentifikasi oleh anak sebagai
gambaran-gambaran ideal.
3. Lingkungan meliputi segala segala unsur lingkungan sosial yang
berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah unsur lingkungan
berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang
sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.
4. Tingkat penalaran, dimana perkembangan moral yang sifatnya penalaran
menurut Kohlberg, dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana
dikemukakan oleh piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang
menrut tahap-tahap perkembangan piaget, makin tinggi pula tingkat moral
seseorang.
5. Interaksi sosial dalam memberik kesepakatan pada anak untuk
mempelajari dan menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat,
keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain (Yusuf, 2011)
Perkembangan spiritual juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal
pula.Faktor internal pada perkembangan spiritual juga berupa faktor
keturunan yaitu berupa pembawaan dimana faktor ini merupakan

9
karakteristik dari orang itu sendiri, dasar pemikiran dari individu
berdasarkan kepercayaan dan budaya yang dimilikinya.Faktor eksternal
dapat berupa keluarga yang sangat menentukan pula dalam perkembangan
spiritual anak karena orang tua memiliki peran yang sangat penting
sebagai pendidik atau penentu keyakinan yang mendasari anak. Kemudian
pendidikan keagamaan yang diterapkan di sekolah juga dapat menjadi
faktor penentu perkembangan spiritual anak, karena dengan adanya
pendidikan anak akan mulai berpikir secara logika dan menentukan apa
yang baik dan tidak bagi dirinya dan kelak akan menjadi karakter dari
peserta didik. Selain itu, adanya budaya yang berkembang di masyarakat
akan mempengaruhi perkembangan spiritual peserta didik pula. Baik
perkembangan yang menuju arah yang baik (positif) atau menuju ke arah
yang buruk (negatif), itu semua tergantung pada bagaimana cara anak
berinteraksi dengan masyarakat tersebut (Baharuddin, 2009).

E. Dampak Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Didik pada Pendidikan


Manusia pada umumnya berkembang sesuai dengan tahapan-tahapannya.
Ketika individu memasuki usia sekolah, yakni antara tujuh sampai dengan dua
belas tahun, individu tersebut disebut sebagai peserta didik yang akan
berhubungan dengan proses pembelajaran dalam suatu sistem pendidikan.
Cara pembelajaran yang diharapkan harus sesuai dengan tahapan
perkembangan anak, yakni memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) programnya
disusun secara fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan perbedaan individual
anak; (2) tidak dilakukan secara monoton, tetapi disajikan secara variatif melalui
banyak aktivitas; dan (3) melibatkan penggunaan berbagai media dan sumber
belajar sehingga memungkinkan anak terlibat secara penuh dengan menggunakan
berbagai proses perkembangannya (Syamsuddin, 2007).
Aspek-aspek perkembangan peserta didik yang berimplikasi terhadap proses
pendidikan melalui karakteristik perkembangan moral dan religi akan diuraikan
seperti di bawah ini:
1. Implikasi Perkembangan Moral
Purwanto (2006) berpendapat bahwa moral bukan hanya memiliki
arti bertingkah laku sopan santun, bertindak dengan lemah lembut, dan
berbakti kepada orang tua saja, melainkan lebih luas lagi dari itu. Selalu
berkata jujur, bertindak konsekuen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan
sesama manusia, mengabdi kepada rakyat dan negara, berkemauan keras,
berperasaan halus, dan sebagainya, termasuk pula ke dalam moral yang
perlu dikembangkan dan ditanamkan dalam hati sanubari anak-anak.
Adapun perkembangan moral menurut Santrock yaitu perkembangan yang
berkaitan dengan aturan mengenai hal yang seharusnya dilakukan oleh
manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Desmita, 2008).
Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, salah
satunya melalui pendidikan langsung. Pendidikan langsung yaitu melalui

10
penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar-salah atau baik-
buruk oleh orang tua dan gurunya. Selanjutnya pada usia sekolah dasar
anak sudah dapat mengikuti tuntutan dari orang tua atau lingkungan
sosialnya. Pada akhir usia ini, anak dapat memahami alasan yang
mendasari suatu bentuk perilaku dengan konsep baik-buruk. Misalnya, dia
memandang bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada
orang tua merupakan suatu hal yang buruk.Sedangkan perbuatan jujur,
adil, dan sikap hormat kepada orang tua merupakan suatu hal yang baik.
(Yusuf, 2011).
Selain itu berdasarkan teori Piaget (Hurlock, 1980) memaparkan bahwa
pada usia lima sampai dengan dua belas tahun konsep anak mengenai
moral sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar dan
salah yang dipelajari dari orang tua, menjadi berubah dan anak mulai
memperhitungkan keadaan-keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral.
Misalnya bagi anak usia lima tahun, berbohong selalu buruk. Sedangkan
anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong
dibenarkan.Oleh karena itu, berbohong tidak selalu buruk.
Selain lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan juga menjadi sarana
yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan moral peserta
didik.Untuk itu, sekolah diharapkan dapat berfungsi sebagai kawasan yang
sejuk untuk melakukan sosialisasi bagi anak-anak dalam pengembangan
moral dan segala aspek kepribadiannya.Pelaksanaan pendidikan moral di
kelas hendaknya dihubungkan dengan kehidupan yang ada di luar
kelas.Dengan demikian, pembinaan perkembangan moral peserta didik
sangat penting karena percuma saja jika mendidik anak-anak hanya untuk
menjadi orang yang berilmu pengetahuan, tetapi jiwa dan wataknya tidak
dibangun dan dibina (Hartono, 2002).

2. Implikasi Perkembangan Spiritual


Anak-anak sebenarnya telah memiliki dasar-dasar kemampuan
spiritual yang dibawanya sejak lahir.Untuk mengembangkan kemampuan
ini, pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting.Oleh karena itu,
untuk melahirkan manusia yang ber-SQ tinggi dibutuhkan pendidikan
yang tidak hanya berorientasi pada perkembangan aspek IQ saja,
melainkan EQ dan SQ juga.
Zohar dan Marshall (Desmita, 2008) pertama kali meneliti secara ilmiah
tentang kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan untuk menghadapi dan
memecahkan persoalan makna dan nilai, yang menempatkan perilaku dan
hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Purwanto (2006) mengemukakan bahwa pendidikan yang dilakukan
terhadap manusia berbeda dengan “pendidikan” yang dilakukan terhadap
binatang.Menurutnya, pendidikan pada manusia tidak terletak pada
perkembangan biologis saja, yaitu yang berhubungan dengan
perkembangan jasmani.Akan tetapi, pendidikan pada manusia harus
diperhitungkan pula perkembangan rohaninya.Itulah kelebihan manusia
yang diberikan oleh Allah SWT sebagai tuhan semesta alam, yaitu

11
dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal
penciptanya, yang membedakan antara manusia dengan binatang.Fitrah ini
berkaitan dengan aspek spiritual.
Perkembangan spiritual membawa banyak implikasi terhadap pendidikan
dan diharapkan muncul manusia yang benar-benar utuh dari lembaga-
lembaga pendidikan.Untuk itu, pendidikan agama nampaknya harus tetap
dipertahankan sebagai bagian penting dari program-program pendidikan
yang diberikan di sekolah dasar.Tanpa melalui pendidikan agama,
mustahil SQ dapat berkembang baik dalam diri peserta didik (AKBIN,
2010).

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa,
1. Moral merupakan tingkah laku manusia yang berdasarkan atas baik buruk
dengan landasan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Spiritual
merupakan kepercayaan peserta didik terhadap suatu keyakinan yang didasarkan
pada adat istiadat maupun ketuhanan.
2. Teori perkembangan moral menurut Kohlberg terdapat tiga tingkatan yaitu
penalaran prakonvensional, konvensional, dan postkonvensional. Setiap tingkatan
dibagi menjadi dua tahap.Teori perkembangan spiritual didasarkan pada ayat-ayat
alquran dan hadits yang menjelaskan tentang fitrah beragama.
3. Tahapan perkembangan moral
4. Faktor yang mempengaruhi perkembangan moral dan spiritual meliputi faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi sifat atau pembawaan dari
diri sendiri, dalam perkembangan moral berupa sifat-sifat yang diturunkan dan
pada perkembangan spiritual berupa keyakinan. Faktor eksternal meliput
keluarga, masyarakat sekitar, sekolah, dan tentunya budaya.

13
DAFTAR RUJUKAN

Baharuddin. 2009. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Yogyakarta:


Ar-Ruzz Media
Baharuddin. 2009. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Hartono, Agung. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka
Cipta
Pengurus Besar Asosisi Bimbingan dan Konseling Indonesia
(ABKIN).2010. Jurnal Bimbingan dan Konseling ISSN 1411-5026.
Bandung: AKBIN
Syamsuddin, Abin. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosda Karya
Yusuf, Syamsu. 2011. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rajawali
Pers
Hurlock, Elisabeth B. 1991. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Diterjemahan oleh Istiwidayanti, dkk.
Jakarta: Erlangga.
Santrock, J. W. 2002. Life-Span Development. Perkembangan Masa
Hidup. Diterjemahkan oleh Juda Damanik, Achmad Chusairi. Jakarta:
Erlangga
Triyono, dkk. 2012. Perkembangan Peserta Didik. Malang: FIP UM
2009. Modul Perkembangan Peserta Didik. (Online),
(ftik.iainpurwokerto.ac.id). Diakses pada tanggal 25 Februari 2019.

14