Anda di halaman 1dari 13

PERADABAN ISLAM PADA MASA USMAN BIN

AFFAN

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 5

RESMA PURNAMA SARI


FITRIA
AYU SAPUTRI
MUTHI HENIDA

PRODI : HUKUM EKONOMI SYARIAH


SEMESTER : I (SATU)

DOSEN PEMBIMBING : TGK. FAHRURRADHI, M.Pd

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ACEH


TAMIANG (STAI AT)
2021/2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur yang sebesar-besarnya kehadirat Allah swt. karena berkat


taufik, hidayah, dan rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Peradaban Islam Pada Masa Usman Bin Affan” Meskipun dalam
bentuk yang sederhana. Begitu pula shalawat dan salam semoga tercurah pada
Nabi Muhammad saw. atas semua perjuangan beliau dalam membimbing ummat
manusia menuju jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

Sungai Iyu, 01 September 2021

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................... i

Daftar Isi…………………………………………...ii

BAB 1 Pendahuluan

A.Latar Belakang Masalah........................................................ 1

B. Rumusan Masalah ................................................................2

BAB II Pembahasan

A. sejarah Singkat Usman Bin Affan ..............................................3

B. Perhatian Sosial Terhadap Kemasyarakata................................5

C. Keadilan terhadap Hukum………………………………………6

D. Tokoh Seperjuangan .................................................................7

BAB III Penutup

A.Kesimpulan ..........................................................................9

B. Daftar Pustaka………………………………………………10

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tidak dapat diragukan lagi bahwa al-Quran sebagai kitab suci yang
menjadi petunuk kepada semua umat manusia di dalamnya terkandung
berbagai aspek kehidupan termasuk sejarah. Peristwa sejarah tetap akan
berlangsung dari masa ke masa karena apa yang pernah terjadi bukanlah
merupakan masa lalu yang mati melainkan peristiwa yang masih tetap hidup
dimasa kini still living in the present, yang memberi interpretasi atas peristiwa

yang terjadi dengan melihat kepada kausalita.1


Setelah Rasulullah SAW. Wafat, mulailah periode al-Khulafâ al-Rasyidîn
atau pase baru. Pada pase ini muncul persoalan baru yang dapat diselesaikan
dengan pemikiran/ijtihad. Pada saat para sahabat sibuk dalam pengurusan
jenazahnya, Abu Bakar dan Umar menuju ke Tsaqifah bani Sa’adah, di mana
kaum Anshar telah berkumpul. Mereka mencalonkan Sa’ad ibn ‘Ubadah dan
hampir memilihnya sebagi pengganti Nabi. Lalu Abu Bakar berpidato di hadapan
para sahabat yang ada di sana dengan alasan hadis Nabi SAW. al-Aimmatu min
Quraisy (kepemimpinan dalam Islam adalah dari kalangan Quraiy), setelah
melalui perdebatan akhinya Abu Bakar terpilih sebagai khalifah al-Rasul (

Pengganti Rasul).2 Dan dilakukan pembaiatan.


Dengan demikian pengangkatan Khulafâ al-Rasyidîn dilakukan dengan
musyawarah dan melalui bai’at. Dengan bai’at dimaksudkan sebagai pengakuan
dan persetujuan pemuka masyarakat atau masyarakat pada umumnya terhadap
seseorang untuk menjabat suatu jabatan.
Abu Bakar dibai’at dari calon yang diajukan sendiri oleh masyarakat,
karena Rasulullah SAW sampai meninggal dunia tidak pernah menunjuk
seorang sahabat sebagai penggantinya. Pembai’atan terhadap Umar Bin Khattab
dilaksanakan setelah ditetapkan oleh Abu Bakar sebagai calon penggantinya.
Usman Bin Affan dibai’at setelah ditetapkan oleh suatu komite yang dibentuk
oleh khlifah Umar bin Khattab menjelang wafatnya.

1
Pemerintahan Khalifah ‘Usman Ibn’Affan selama 12 tahun. Enam
tahun pertama dikenal sebagai periode kemajuan dan enam tahun berikutnya
adalah periode kemunduran yang diawali dengan munculnya keresahan-
keresahan akibat ketidak puasan masyarakat terhadap kebijaksanaan politik dan
pemerintahan yang dijalankan oleh Khalifah Usman Bin ‘Affan beserta
gubernur-gubernurnya di propinsi-propinsi yang pada akhirnya memuncak dalam
bentuk pemberontakan yang tidak terelakkan. Pemberontakan ini pada akhirnya
membawa kematian Khalifah Usman Bin Affan. Peristiwa tersebut telah
membawa akibat yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah Islam selanjutnya
menimbulkan kerusuhan yang memecah belah kesatuan umat.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana Sejarah Singkatnya ?
b. Bagaimana Perhatian Sosial Terhadap Kemasyarakatan ?
c. Bagaimana Keadilan terhadap Hukum ?
d. siapa Tokoh Seperjuangan ?

2
BAB II
PEMBAHSAN

A. SEJARAH SINGKAT UMAR BIN AFFAN

Usmân ibn ‘Affân khalifah ketiga setelah Abu Bakar as-Siddîq dan Umarbin
Khattab. Beliau adalah sahabat Nabi Muhammad SAW., nama lengkapnya
adalah Usman bin ‘Affan bin Abi al-Ash bin Umayah bin ‘Abdi Syams bin Abdi

Mannaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Gâlib.4
Ibunya adalah ‘Urwah, putri Ummu Hakim al-Baidha, putri Abdul Muttalib,

nenek Nabi SAW..5 Beliau dilahirkan pada tahun keenam dari tahun Gajah ia

lebih muda dari Nabi Muhammad SAW enam tahun.6 tepatnya pada tahun 576

M 7. Ayahnya bernama Affan Bin Abi Al- Ash Bin Umayyah Bin Abdul Al-

Syams Bin Abdi Manaf8. Dari jalur silsilah tersebut, dapat diketahui bahwa
Usman Bin Affan masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Nabi
Muhammad SAW baik dari pihak ibunya maupun dari pihak bapaknya.
Ibnu Hisyam menyebutkan di dalam Sîrat Sayyidinâ Muhammad Rasûlillâh
bahwa sesudah Abu Bakar masuk Islam orang-orang dari masyarakatnya
sendiri yang dipercayainya dan suka mengunjunginya dan duduk-duduk dengan
dia, diajaknya beriman kepada Allah dan kepada Islam maka yang masuk Islam
karena ajakannya itu adalah ‘Usman bin ‘Affan. Abu Bakar mengajaknya
menemui Rasulullah SAW lalu mereka menyatakan masuk Islam dan melakukan
shalat.
Utsman ibn ‘Affan terpilih menjadi khalifah sesuai dengan pesan
Khalifah Umar ibn Khattab menjelang wafatnya. Beliau membuat tim
formatur untuk memilih calon khalifah. Akhirnya Usman ibn ‘Affan (644-656)
terpilih menjadi Khalifah III dari al-Khulafâ al-Rasyidîn, pengganti Umar.
Dalam sebuah riwayat menyebutkan, bahwa Abd al-Rahman ibn ‘Auf sebagai
ketua tim Pelaksanaan pemilihan khalifah, pasca wafatnya Umar ibn Khattab,

3
berkata kepada Usman ibn‘Affan di suatu tempat sebagai berikut. “Jika saya
tidak memba’atmu [Usman], maka siapa yang kau usulkan? Ia berkata,”Ali”.
Kemudian ia [Abd al-Rahman Bin Auf] berkata kepada Ali, jika saya tidak
memba’iatmu, maka siapa yang kau usulkan untuk diba’iat? Ia berkata,
“Usman”. Kemudian Abd al-Rahman Bin Auf bermusywarah dengan tokoh-
tokoh lainnya, ternyata mayoritasnya lebih memilihUsman, sebagai khalifah”.
Memperhatikan percakapan dari dua sahabat tersebut, maka tampaklah bahwa
sesungguhnya Usman dan Ali tidak ambisius menjadi khalifah, justru keduanya
saling mempersilahkan untuk menentukan khalifah secara musyawarah.

Dalam sejarah tercatat, selama pemerintahan Usman dibagi dalam dua


periode, yaitu periode kemajuan dan periode kemunduran sampai ia terbunuh.
Periode I, pemerintahan Usman membawah kemajuan luar biasa, dalam mengatur
administrasi negara- dalam bidang hukum dan organisasi kemiliteran Usman Ibn
‘Affan tidak mengubah pemerintahannya dengan sistem lain dari pada yang
sudah dijalankan oleh khalifah Umar dan tidak meninggalkan sistem syura
yang sudah biasa dijalankan oleh Rasulullah SAW dan diikuti pula oleh

Abu Bakar dan Umar.14


Dengan demikian pada masa permulaan segalanya berjalan secara
lancar dan stabil, perluasan wilayah berlanjut dan pembangunan sarana-sarana
umum dapat berjalan. Tentara Islam berhasil menaklukkan Armenia, Kaukus,
Afghan, Kurdistan, Herat, dan Naisabur. Perkembangan Islam sebagai
kekuatan politik pada masa pemerintahannya telah berhasil memperluas
daerah kekuasaan Islam sampai ke perbatasan Aljazâir ( Barqah, Tripoli dan
Syprus di front al-Maghrib bahkan ada sumber menyatakan sampai ke Tunisia
di al-Maghrib, di utara sampai ke Aleppo dan sebagian Asia Kecil, di Timur
Laut sampai ke Mâ Warâ al-Nahar – Transoxiana-, dan di Timur seluruh
Persia, bahkan sampai di perbatasan Balucistan (wilayah Pakistan sekarang),

serta Kabul, dan Ghazni.15. Perluasan Islam ini merupakan lanjutan dari apa
yang diusahakan oleh Umar Bin Khattab. Sebelumnya secara pesat menguasai

4
daerah luas yang meliputi seluruh semenanjung Arabia, Palestina, Suriah, Irak,
Persia, dan Mesir.

B. PERHATIAN SOSIAL TERHADAP KEMASYARAKATAN

Seorang tokoh yahudi yang mendengki terhadap Islam dan berpura-pura


masuk Islam bernama Abdullah bin Saba’ sangat memainkan perannya sehingga
timbul fitnah di masa-masa kekhilafahan Utsman ra. Provokator ini berhasil
memfitnah Utsman dengan fitnah-fitnah yang keji dan berhasil pula menghasut
orang-orang berwatak keras yang belum mantap imannya, minim ilmu, fanatik
terhadap suatu pendapat, serta berlebih-lebihan dalam agama, yaitu orang-orang
khawarij, untuk berkonspirsi kepada seorang sahabat utama Utsman yang telah di
jamin masuk surga. Hal ini didukung oleh perubahan sosial di masyarakat Islam
ketika itu dengan adanya orang-orang yang masuk Islam saat perluasan wilayah,
namun tidak seiring dengan pemahaman yang benar tentang Islam itu sendiri
kepada mereka.

Berikut beberapa tuduhan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab kepada


Utsman bin Affan:

1. Nepotisme, bahwa Utsman dituduh mengganti tokoh-tokoh sahabat dengan


keluarganya yang derajatnya lebih rendah.
2. Tuduhan bahwa Utsman banyak memberi kepada kerabatnya.
3. Tuduhan bahwa Utsman mengusir Abu Dzar.[6]
Dalam sejarah, Utsman sering dikatakan sebagai khalifah yang nepotisme. Hal ini
didasarkan pada orang-orang dekat dari keluarga Utsman yang diangkat menjadi
pejabat penting. Kendatipun demikian, M.A. Shaban memberikan penilaian yang
lain. Masa pemerintahan Utsman, wilayah kekuasaan Islam sudah bertambah luas.
Oleh karena itu Utsman perlu mengangkat orang-orang yang dapat dipercaya dan
setia terhadap pemerintahan pusat. Selaku tokoh dari kelompok suku yang besar,
tidak ada yang dinilainya lebih wajar dari pada menunjuk dan mengangkat kerabat
sendiri sebagai gubernur-gubernur.

5
Kelemahan dan nepotisme telah membawa Khalifah Utsman ke puncak
kebencian rakyat, yang pada beberapa waktu kemudian menjadi pertikaian yang
mengerikan di kalangan umat Islam. Selanjutnya Ketika Utsman mengangkat
Marwan bin Hakam menjadi sekretaris utamanya, segera timbul mosi tidak
percaya dari rakyat. Begitu pula penempatan Muawiyah, Walid bin Uqbah dan
Abdullh bin Sa’ad masing-masing sebagai gubernur Suriah, Irak dan Mesir,
sangat tidak sukai oleh umum.
Banyak kaum muslimin yang telah meninggalkan Utsman, hilanglah
kawan-kawannya dan orang-orang tempat ia menumpahkan kepercayaan, kecuali
kaum kerabatnya. Rakyat di daerah-daerah banyak yang mengeluh, karena
kesewenang-wenangan yang dijalankan pembesar-pembesar pemerintah turunan
Umaiyah. Tetapi keluhan rakyat ini tak sampai kepada khalifah. Atau mungkin
pembantu-pembantu khalifah yang terdiri dari orang-orang Umaiyah sengaja
memandang enteng saja keluhan rakyat ini.

Utsman semakin mempercayakan segala sesuatunya kepada famili dan


kaum kerabatnya. Akhirnya mereka membulati segala kekuasaan di tangan
mereka. Dengan tangan besi mereka melakukan sewenang-wenang, menggencet
dan menjatuhkan hukuman yang berat-berat kepada orang-orang yang mereka
curigai. Mereka buat suatu komplotan untuk memukul lawan-lawan politik yang
tak sepaham dengan mereka.

C. KEADILAN TERHADAP HUKUM


Pada waktu umar meninggal dunia, ,maka terpilihlah utsman bin affan untuk
menjadi khalfah yang ketiga dari khufa al-rasyidin. Pada masa pemerintahannya
didalam menghadapi suatu perkara maka beliau mengikuti jejak yang di tempuh
khalifah sebelumnya pada masa utsman inilah maka peradilan dilaksanakan dalam
suatu gedung tertentu .
Khalifah utsman mengikuti langkah yang di tempuh oleh khalifah umar
dalam hal-hal pemilihan qadhi,,yang begitu pula beliau selalu menyadarkan
keputusannya pada al-quran dan sunnah.bila tidak di ketemukan dalam al-quran

6
dan sunnah maka beliau mengadakan musyawarah dengan sahabat-sahabatnya
dalam menetapkan suatu hukum .
Khalifah utsman begitu menganjurkan kepada petugas-petugas / qadhi-
qadhinya yang berada di daerah pabila dalam menjalankan tugasnya agar
mermeka selalu berlaku adil demi terciptannya kebenaran.begitu pentingnya
masalah keadilan sehingga beliau mengirimkan surat kepada petugas yang isimya
sebagai berikut.
“maka sesunggguhnya allah menciptakan makhluk yang benar maka allah
tidak akan menerima juga kecuali dengan benar.ambilah kebenaran dan
perhatikanlah amanah .tegakkanlah amanh itu dan janganlah kalian merupakan
orang yang pertama kali meniadakannya maka kalian akan merupakan kongsi
orang-orang yang sesudah kamu,penuhilah ! penuhilah ! jangan kalian membuat
aniaya kepada anak yatim dan begitu juga yang berbuat aniaya kepada orang
yang engkau mengikat janji dengannya”.
Dapat di pahami dari penjelasan diatas bawah surat khalifah utsman
tersebut adalah memerintahkan kepada petugas-petugas dan para qadhanya agar
menjalankan keadilan dalam melaksanakan tugasnya terhadap masyarakat dan
melarang untuk berbuat curang dalam menjalankan tugas mereka.

D. TOKOH SEPERJUANGAN

Pada tahun ke-24 Hijriah, Utsman mengirimkan pasukan yang dipimpin


Alwalid bin Aqobah. Mereka bergerak menuju negeri di utara, khususnya
Azerbaijan dan Armenia. Para pemimpin dari dua negeri itu telah mengkhianati
perjanjian dengan kaum Muslimin pada era Umar bin Khaththab

Betapa takutnya penduduk Azerbaijan dan Armenia begitu mendengar kabar


kedatangan balatentara Muslimin. Hal itu semata-mata lantaran besarnya kekuatan
umat Islam. Toh mereka sendiri tahu, dalam hal perjanjian tersebut, para pemuka
merekalah yang bersalah. Maka, pasukan yang dikirim Khalifah Utsman itu tidak
melakukan suatu pertempuran. Sebab, penduduk setempat sudah mengaku takluk.

7
Mirip dengan dua negeri di utara Arab, orang-orang Iskandariah di Mesir juga
menolak perjanjian dengan kaum Muslimin. Sebab, mereka merasa mendapat
sokongan dari Romawi. Pada tahun 25 Hijriah, pasukan Muslimin datang berjihad
ke sana, sehingga Iskandariah takluk ke dalam wilayah umat Islam.

Pada tahun ke-26 Hijriah, sebanyak 3.300 orang pasukan Muslimin dapat
menaklukan Sabur. Mereka dipimpin Utsman bin Abil Aash. Setahun kemudian,
Khalifah Utsman mengamanatkan kepada Abdullah bin Sa'ad bin Abbi Abi Sarah
untuk menaklukan Afrika Utara. Ibnu Sa'ad merupakan gubernur Mesir yang
menggantikan Amr bin Ash. Saat itu, pasukan Muslimin terdiri dari 20 ribu orang.
Adapun jumlah pasukan lawan, yakni dari kaum Berber, terdiri atas 120 ribu
orang alias enam kali lipat balatentara Muslimin.

Salah seorang sahabat, Abdullah ibnu Azzubair, kemudian tampil berhadap-


hadapan dengan Raja Berber, Jarjir. Dalam pertempuran itu, Jarjir berhasil
ditumpas. Sesudah penaklukan Afrika Utara, kaum Muslimin menargetkan
pembebasan Andalusia (Spanyol).

Pada tahun ke-28 Hijriah, pasukan Muslimin yang dipimpin Muawiyah bin
Abi Sufyan dapat menaklukan Pulau Siprus. Setahun berikutnya, Abdullah bin
Amir memimpin pasukan hingga menguasai wilayah kerajaan Persia.

Pada tahun ke-30 Hijriah, Tibristan dapat dikuasai. Pada tahun ke-31
Hijriah, pecah peperangan Dzatish-Shawari. Lalu, setahun berikutnya, Muawiyah
bin Abi Sufyan mencoba menyerang daerah-daerah jajahan Romawi. Pasukannya
sampai pula ke Konstantinopel.

Pada tahun yang sama tentara yang dipimpin Ibnu Aamir menguasai
Marwarrauz, Thaliqon, Fariab, Jauzjan dan Thakharstan. Banyak sejarawan
menilai, era Khalifah Utsman sebagai zaman kemenangan kaum Muslimin. Umat
Islam begitu disegani para negeri adidaya kala itu, semisal Romawi, Parsi dan
Turki.

8
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Khalifah Usman ibn ‘Affan adalah khalih ketiga setelah Abu Bakardan
Umar ibn Khattab. Beliau dilahirkan pada tahun ke enam dari tahun gajah
yaitu pada tahun 576 M. Beliau memeluk agama Islam dan melakukan Shalat
atas ajaka Abu Bakar. Khalifah Usman adalah saudagar kaya , sangant
dermawan untuk kepentingan agama Islam dan kaum muslimin.
Khalifah Usman Bin Affan terpilih sebagai khalifah ketiga dalam suatu
musyawarah panitia yang diketuai oleh Abdurrahman Bin Auf yang telah
ditunjuk oleh Khalifah Umar Bin Khattab.Beliau menjabat sebagai khalifah
selama 12 tahun. Enam tahun pertama tercatat benyak kemajuan-kemajuan yang
dicapai untuk kemajuan Islam. Dan pada enam tahun terakhir muncullah
pemberontakan dari masyarakat Islam akibat adanya tuduhan yang ditujukan
kepada Khalifah Usman Bin Affah bahwa beliau menjalankan roda pemerintahan
secara nepotisme. Usaha Khalifah Usman yang terbesar untuk kepentingan umat
Islam adalah kompilasi al-Qur’an dengan melakukan penyeragaman bacaan yeng
dikenal sekarang dengan nama al-Mushaf.
pada masa pemerintahan Khalifah Usman Bin Affan telah dimanfaatkan
oleh para keluarganya dari Bani Umaiyyah untuk mendapatkan kekuasaan dan
kekayaan yang menimbulkan tuduhan adanya praktek nepotisme dalam
menjalankan roda pemerintahan. Yang menimbulkan pemberontakan terhdap
khalifah Usman dan membawah pada pembunuhan Khalifah Usman ibn ‘Affan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahmad, Islam dari Masa Kemasa, ( Cet. III Bandung: Rosdakarya,1993 ).
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen
Agama, Ensiklopedi Islam Indonesia, ( Jakarta: Proyek Peningkatan
Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama IAIN, 1992/1993 ).

https://www.kompasiana.com/nirwantiwanti/5fafcb858ede48439b514742/peradab
an-islam-pada-masa-khalifah-usman-dan-ali

https://www.kompas.com/skola/read/2020/03/03/193000169/masa-kekhalifahan-
usman-bin-affan?page=all
Rida, Muhammad, Usman Bin Affan Zu Nurain, ( Beirut : Dar al-Kutub al-
Islamiyyat,
1987 ).

10

Anda mungkin juga menyukai