Anda di halaman 1dari 5

TFT KELOMPOK 1: Dimas RAF, Yohanes Eko, Stephanie, Aloisius Reinaldo, Christian,

Irham M Rizqan, Devayana NR, H Bramantyo AS, Marsha Faradina, M Rusydi F

Empati - Definisi
Etimologi
Empati adalah serapan dari bahasa Inggris empathy. Asal katanya dari bahasa Yunani ́
(empatheia), “ketertarikan, niat” yang berasal dari (en), “di, pada” + ́ (pathos), “niat (passion)”
atau “mengalami (suffering)”
Dalam kamus didefinisikan sebagai “mengerti perasaan orang lain”
Teori
Empati diteorikan sebagai kapasitas untuk mengetahui (recognize) dan, untuk beberapa kasus, membagi
perasaan (baik kesenangan atau kesedihan) yang dialami oleh orang lain
Definisi pakar

 D. M. Berger : the capacity to know emotionally what another is experiencing from within the
frame of reference of that other person, the capacity to sample the feelings of another or to put
one’s self in another’s shoes
 Jean Decety : a sense of similarity in feelings experienced by the self and the other, without
confusion between the two individuals

Perbedaan empati dan simpati


Simpati dapat didefinisikan sebagai perasaan peduli kepada orang lain, menginginkan orang lain tersebut
lebih baik atau lebih bahagia
Beberapa pembeda yang ditabelkan
empati simpati
hubungan kepada teman, keluarga, komunitas orang yang tidak beruntung /
menderita
relatif kepada perhatian, perkembangan kebahagiaan, kemakmuran
personal
definisi sederhana membayangkan perasaan orang merasa kasihan
yang dipedulikan
emosi hubungan dekat perhatian, perlindungan
definisi penuh kemampuan untuk ikut kemampuan untuk mengerti dan
mengalami pemikiran, emosi, mendukung keadaan emosional
atau kejadian yang dialami orang atau pengalaman orang lain
lain tanpa perlu orang lain dengan sensitifitas
tersebut membicarakannya secara
langsung

Dari sini kelompok kami berpendapat bahwa Empati membutuhkan suatu timbal balik dan
kecenderungannya terbentuk akibat adanya keterlibatan interaksi fisik (terbatas ruang) dan
keberjalanannnya lebih bertahan lama jika dibandingkan simpati.

Empati – Aplikasi
Aplikasi empati sangat penting dalam membina hubungan dengan manusia lainnya. Bahkan menunjukkan
rasa empati harus dimulai dari hal-hal kecil seperti mendengarkan mereka berbicara kita hingga ketika
kita mendengar kabar buruk dari lingkungan sekitar kita.
Dalam lingkungan seperti himpunan, empati sangat dibutuhkan karena akan mewujudkan dengan rasa
kekeluargaan yang kuat antar sesama angora himpunan tersebut, dari kekeluargaan inilah yang akan
membuat anggota himpunan merasa nyaman berhimpun dan berinteraksi. Kekeluargaan yang timbul dari
empati juga akan menjadi bahan bakar bagi setiap anggota himpunannya agar tetap semangat untuk
berkontribusi, mengembangkan diri dan menebar manfaat di dalam kehidupannya di ITB.
Dalam lingkungan lain, seperti keluarga, tetangga atau pun komunitas lainnya, kita tidak akan bisa hidup
tenang dan tentram tanpa rasa empati, karena sebenarnya di masyarakat lebih kompleks disbanding di
kampus, namun di masyarakat biasanya penerapannya lebih mudah atau empati lebih terasa karena
kesadaran yang lebih baik sudah timbul disini. Empati sangat dibutuhkan ketika ada tetangga sekitar kita
yang tertimpa musibah.

Empati – Urgensi untuk Pengkader


Mengapa Seorang pengkader membutuhkan karakteristik empati?
Pada hakikatnya sebagai sesama manusia yang berinteraksi dalam suatu komunitas, empati sudah
sepatutnya harus diwujudkan agar kehidupan sehari-hari dalam komunitas tersebut berjalan konstruktif.
Begitu juga ketika nanti akan ada sebuah kelompok baru yang akan hidup bersama dalam komunitas
tersebut, dalam hal ini adalah proses kaderisasi kepada angkatan 2010 nanti. Sebaiknya angkatan 2009
sebagai pengkader mesti memiliki karakter empati karena

1. Dalam perecanaan dan pelaksanaan dari internal angkatan pengkader sendiri harus memiliki
empati, karena perencanaan dan persiapan PPAB nanti pasti akan menghabiskan sebagian waktu
liburan – karena angkatan pengkader juga panitia acara yang mesti mempersiapkannya secara
teknis dan non teknis. Disini diperlukan suatu empati agar kedepannya ketika PPAB sendiri sudah
benar-benar dimulai tidak ada lagi rasa tidak enak dalam internal angkatan dan lebih saling
mengerti dan mewujudkan kepedulian dengan saling membantu.
2. Untuk menumbuhkan keteladanan agar mudah menurunkan nilai-nilainya secara individu. Secara
psikologis, angkatan yang dikader akan mencontoh angkatan pengkader, mengapa? Karena
angkatan yang pengkader akan dianggap sebagai teladan oleh angkatan yang dikader. Jadi, dalam
hal empati, sebaiknya angkatan pengkader sudah memiliki dan memahaminya.
3. Rasa empati penting bagi angkatan pengkader kepada angkatan yang dikader untuk membantu
merancang acara agar mampu membuat konsep yang membuat feeling peserta lebih enak dan
agar kepercayaan akan acara-acara kaderisasi kedepannya juga lebih baik.
4. Terakhir, empati penting bagi angkatan pengkader dalam konteks membantu untuk membuat
angkatan yang dikader menjadi lebih baik dari mereka. Empati menjadi penting karena kita dapat
memperlakukan mereka dengan baik jika kita sebagai angkatan pengkader sendiri tau apa yang
dirasakan angkatan yang dikader.

Empati – Realita di 2009


Untuk menilai realita di 2009, kelompok 1 membuat angket agar kami bisa menilai dengan lebih ilmiah
dan berdiri tanpa dasar asumsi. Kami mendapatkan 47 responden dari jumlah 103 angkatan 2009.
Sebelum responden diajak mengisi kuisioner kami berikan dahulu definisi empati yang diangkat, yaitu
EMPATI adalah kapasitas untuk mengetahui dan membagi perasaaan yang dialami oleh orang lain dalam
acuan pemikiran orang tersebut. Lalu selanjutnya responden diajak mengisi angket dengan dua
pertanyaan. Pertanyaan angket yang diberikan adalah

1. Apakah teman – teman merasa sudah memberikan empati ke teman – teman angkatan 2009?
Jawaban Jumlah Persentase
Ya 35 74,46%
Tidak 12 25,54%

2. Bagaimanakah tingkat keempatian angkatan 2009 menurut teman-teman dari yang teman-teman
rasakan?

Jawaban Jumlah Persentase


Baik 2 4,25%
Cukup 28 59,58%
Kurang 17 36,17%

Kesimpulan yang bisa diamati dari hasil kuisioner ini adalah belum semua 2009 bisa merasakan empati
secara maksimal, dan masih ada beberapa yang memang mengakui belum bisa berempati dengan
maksimal. Apresiasi sebenarnya harus diberikan kepada teman-teman yang masih merasa belum bisa
maksimal tetapi semoga diharapkan kedepannya bisa ditingkatkan dan bisa lebih baik lagi. Fakta ini juga
menunjukkan masih adanya keraguan dalam pemaknaan dan penerapan empati sendiri. 35 orang
menyatakan telah memberikan empatinya namun hanya dua orang yang menyatakan tingkat keempatian
yang baik di angakatan 2009 – gap ini berarti menggambarkan belum adanya feedback yang seimbang
dalam kehidupan 2009. Fenomena ini bisa dibaca dalam kegiatan yang melibatkan nama angkatan, dan
yang peling mungkin mudah terlihat, adalah di Rapat Anggota HIMATEK.

Empati – Langkah Strategis Membangun Empati


Untuk menumbuhkan empati dibutuhkan langkah strategis yang berjalan secara paralel dan juga bisa
dilakukan bertahap:

1. Dari hasil angket diatas, sebaiknya setiap individu 2009 menghapus tembok-tembok keraguan:
mampu membicarakan rasa tidak enaknya namun dengan tanpa sedikitpun bernada atau terasa
menyakiti dan yang belum bisa berempati sebaiknya mulai membuka hatinya dan membuang
jahu-jauh perasaan tidak enak karena semua elemen mesti saling terbuka, disini diperlukan
ketegasan dalam setiap hati individu 2009.Adanya inisiatif dari tiap individu yang mau tampil
untuk menjadi contoh awal sehingga menjadi mata rantai dari tumbuh dan berkembangnya empati
dengan teman – teman seangkatan. Inisiator ini perlu karena pada dasarnya manusia cenderung
kurang suka untuk tampil beda dan memulai sesuatu yang baru. Perlu adanya sebuah agent of
change yang mampu membongkar segala batas-batas dalam 2009.
2. Kita harus meningkatkan intensitas berinteraksi yang dapat dilakukan dengan adanya acara
kebersamaan. Acara ini dibuat semenarik mungkin untuk memberikan kesan ke setiap anak –
anak di angkatan. Karena pada dasarnya empati erat kaitannya dengan emosional, maka
hubungan akan menjadi pemanas dalam kaitannya dengan empati dengan orang – orang di sekitar
kita.
3. Perlu diadakannya forum untuk membahas empati. Forum ini lebih ditujukan untuk saling
terbuka satu sama lain. Dari forum ini juga dapat digunakan untuk meningkatkan interaksi dengan
teman – teman seangkatan agar timbul rasa saling memahami yang selanjutnya diharapkan
membentuk empati yang lebih kuat.

Menumbuhkan empati sendiri tidaklah dengan tuntutan tetapi dengan alami, yaitu lewat interaksi sehari-
hari kita di himpunan, dari situ mudah timbul rasa mengenal, mengetahui dan memahami hingga saling
menginspirasi. Memahami empati berarti kita memiliki kapasitas untuk mengerti apa yang orang lain
pikirkan dengan caranya hidup, dengan caranya berfikir dan dengan caranya bersikap. Jadi, dengan kita
bisa berfikir seperti cara dia berfikir, maka kita bisa berperilaku seperti sikap dia. Kita akan
berkesempatan untuk melihat kehidupan dari sisi dia, namun ini bukan berarti “kita bisa merasakan
sakitnya perasaan mereka” atau “benar-benar mengerti mereka”, tetapi kita bisa merasakan dekat dengan
apa yang ia alami dan dengan begini di kemudian hari kita pun bisa memikirkan secara sama berkali-kali
bagaimana jika kita berada dalam posisinya ketika kita melakukan apa yang ia lakukan atau ketika dia
diperlakukan. Hasil dari empati ini adalah rasa compassion kepada orang tersebut. Dengan begini, jika
pun ada sedikit perbedaan atau masalah, karena kita bisa lebih merasakan orang tersebut, kita bisa
menyampaikan pemikiran kita dengan cara yang baik, cara yang membuatnya mengerti dan dengan cara
yang tanpa menyakiti dirinya dan perasaannya.