Anda di halaman 1dari 28

Laporan Praktikum

MORFOLOGI TUMBUHAN
“DETERMINASI TANAMAN”

OLEH

KELOMPOK : III (TIGA)


KELAS : D3 C FARMASI 2021
ASISTEN : BABY BESTARI

LABORATORIUM BAHAN ALAM


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2021
Lembar pengesahan
PRAKTIKUM
MORFOLOGI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN
“PENGENALAN ALAT MIKROSKOP”

OLEH

KELOMPOK 3

1. Tata Afrina (821321019)


2. Arief Setiawan Katili (821321020)
3. Aviyatul Fikriyyah Tantaena (821321076)
4. Nafla Afliany Djafar (821321077)
5. Ulfatul Magfirah Ismail (821321082)
6. Virginia aisyah balikan (821321084)

Gorontalo, 19 Oktober 2021


Mengetahui NILAI

BEBY BESTARI
DAFTAR ISI

KATA PEGANTAR.....................................................................................................i
BAB I............................................................................................................................1
PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Tujuan.................................................................................................................3
1.3 Manfaat...............................................................................................................3
BAB II...........................................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................................4
2.1 Determinasi........................................................................................................4
2.2 Uraian Tanaman................................................................................................8
2.2.1 Klasifikasi Tanaman Tomat (solanum lycopersicum)..............................8
2.2.2 Morfologi Tanaman....................................................................................8
2.2.3 Manfaat dan kandungan............................................................................8
2.2.4 Klasifikasi Tanaman Pletekan (Ruellia tuberosa L)................................9
2.2.5 Morfologi.....................................................................................................9
2.3 Uraian bahan....................................................................................................11
2.3.1 Alkohol(Dirjen Pom, 1979; Rowe, 2009)................................................11
2.3.2 Aquades (Dirjen POM edisi III, 1979)...................................................11
BAB III.......................................................................................................................13
METODOLOGI.........................................................................................................13
3.1 Waktu dan tempat...........................................................................................13
3.2 Alat dan bahan.................................................................................................13
3.2.1 Alat.............................................................................................................13
3.2.2 Bahan.........................................................................................................13
3.3 Prosedur kerja.................................................................................................13
BAB IV........................................................................................................................14
PEMBAHASAN.........................................................................................................14
4.1 Hasil..................................................................................................................14
4.2 Pembahasan.....................................................................................................15
BAB V.........................................................................................................................17
PENUTUP..................................................................................................................17
5.1 Kesimpulan.......................................................................................................17
5.2 Saran.................................................................................................................17
5.2.1 Saran untuk jurusan................................................................................17
5.2.2 Saran untuk laboratorium.......................................................................17
5.2.3 Saran untuk asisten..................................................................................17
5.2.4 Saran untuk praktikan.............................................................................17
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

KATA PEGANTAR
Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi rahmat, taufik dan hidayah-
Nya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan laporan ini. Shalawat dan salam
selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW dan para sahabat
dari dulu, sekarang, hingga akhir zaman.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga
kepada Asisten dosen yang telah memberikan ilmu dan bimbingannga kepada kami
sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini yang berjudul “Determinasi
Tanaman” karena telah menyelesaikan laporan yang merupakan tugas dan kewajiban
kami sebagai mahasiswa.
Laporan ini kami akui masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami harap
para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan laporan ini.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT, kami berserah diri. Semoga laporan ini
dapat menambah wawasan dan memberi manfaat bagi semua. Amin, Ya
Rabal’Alamin.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Gorontalo, 19 Oktober 2021


Mengetahui

Kelompok III
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur, meracik
formulasi obat, identifikasi, kombinasi, analisis dan standarisasi atau pembakuan
pengobatan serta termasuk pula sifat-sifat obat dan distribusinya serta penggunaan
yang aman. Penyediaan obat-obatan mengandung arti pengumpulan, pengenalan,
pengawetan, pembakuan bahan obat-obatan (Syamsuni, 2006).
Dalam farmasi kita mempelajari beberapa ilmu yang berhubungan penyediaan
sediaan bahan obat baik dari hewan maupun tumbuhan, salah satunya ilmu Botani
Farmasi Botani Farmasi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang ilmu
tumbuh-tumbuhan termasuk jamur dan alga yang memuat morfologi ataupun anatomi
dari tumbuhan itu sendiri (Singh, 2010).
Secara bahasa morfologi berasal dari kata morphologi (Morphe: bentuk, logos:
ilmu) yang berarti ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk luar dari tumbuhan,
khususnya tumbuhan berbiji mengenai organ-organ tubuhnya dengan. segala
variasinya. Menurut istilah morfologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari
bentuk dan susunan tubuh tumbuhan yang dipisahkan menjadi morfologi luar dan
morfologi dalam. Morfologi tumbuhan tidak hanya menguraikan bentuk dan susunan
tubuh tumbuhan saja, tetapi juga bertugas untuk menentukan apakah fungsi masing-
masing bagian itu dalam kehidupan tumbuhan. dan selanjutnya juga berusaha
mengetahui darimana asal bentuk dan susunan tubuh tersebut (Tjitrosoepomo, 2009).
Membahas morfologi tumbuhan, baik hewan maupun tumbuhan memiliki
karakteristik serta morfologi yang berbeda-beda. Oleh sebab itu identifikasi dan
klasifikasi merupakan ilmu yang penting untuk membantu manusia menggolongkan
atau mengkategorikan tumbuhan satu dengan tumbuhan lain yang memiliki ciri
morfologi dan fisiologi yang sama. Hal ini tentunya sangat membantu para cendekia
untuk mempermudah jalannya penelitian serta meringankan kerja yang harus
dilakukan (Tjitroesoepomo, 2009).
Determinasi tumbuhan adalah identifikasi suatu tumbuhan sehingga nama ilmiah
tumbuhan tersebut diketahui. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui kebenaran
identitas suatu tanaman untuk menghindari kesalahan dalam pengumpulan tanaman.
Maka dari itu, determinasi tumbuhan didasarkan pada acuan suatu sistem klasifikasi
tanaman (Faisal dkk., 2018).
Identifikasi tumbuhan adalah menentukan namanya yang benar dan tempatnya
yang tepat dalam sistem klasifikasi. Tumbuhan yang akan dil identifikasi mungkin
belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan.Identifikasi dilakukan dengan cara
mengamati beberapa karakter morfologi seperti bentuk, ukuran, jumlah organ, adanya
duri, aksesoris, buah dan biji serta karakter lain sperti warna, aroma, dan rasa dari
daun batang". Kunci determinasi digunakan untuk mencari atau memberi jenis
tumbuhan yang belum diketahui. Kunci determinasi yang tepat adalah kunci
determinasi yang mudah, cepat, serta yang bisa memperoleh hasil yang tepat
(Abdullah, 2008).
Identifikasi merupakan kegiatan dalam taksonomi tumbuhan. Walaupun
identifikasi merupakan proses yang terpisah, namun dalam praktiknya mencakup dua
kegiatan yang meliputi klasifikasi dan tata nama. (Hasanuddin, 2006). Dalam
mengidentifikasi suatu tumbuhan diperlukan suatu keahlian khusus, teliti, dan
tanggap. Inti dari identifikasi merupakan penamaan suatu tumbuhan yang meliputi
tumbuhan berbiji maupun tumbuhan tak berbiji (Tom, 2009).
Suatu identifikasi akan menghasilkan tatanama suatu spesies baik itu tumbuhan
ataupun hewan. Dalam dunia identifikasi makan diperlukan suatu pengetahuan baik
itu pengetahuan langsung maupun tidak. (Freud, 2008).
Menurut Steenis (2008) Determinasi merupakan pengklasifikasian makhluk hidup
berdasarkan ciri-ciri baik morfologi maupun anatominya. Langkah-langkah yang
harus ditempuh untuk mengadakan klasifikasi adalah pencandraan sifat-sifat
pengelompokkan berdasarkan ciri-ciri dan pemberian nama dijadikan data utama.
(Widiyadi, 2009).
Mempunyai Bakal biji yang letaknya ada dalam jumlah yang banyak dengan
hanya 1-2 bakal biji per lokul. Sedangkan buah bentuknya sangat bermacam dan
beragam tipe. Hanya ada sedikit perisperm pada Biji, juga endosperm kadang ada dan
tidak. Subkelas Dillenidae tergolong besar dikarenakan ada sekitar 13 ordo, 78 famili
dan sekitar 23.000-25.000 species (Simbolon, 2008).
Berdasarkan penjelasan di atas sehingga perlu dilakukan pratikum agar
mahasiswa dapat mengetahui apakah yang dimaksud dengan determinasi,agar
mahasiswa dapat mengetahui nama maupun pengklasifikasian makhluk hidup,agar
mahasiswa dapat mengetahui nama tanaman yang belum pernah diketahui
sebelumnya.
1.2 Maksud percobaan
1.Bagaimana mengetahui cara melakukan determinasi
2.Bagaimana mengetahui nama maupun pengklasifikasian tumbuhan
3.Bagaimana mengetahui nama tanaman yang belum pernah diketahui
sebelumnya
1.3 Tujuan percobaan
Praktikum ini dilakukan memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui cara melakukan determinasi.
2. Untuk mengetahui nama maupun pengklasifikasian makhluk hidup.
3. Untuk mengetahui nama tanaman yang belum pernah diketahui sebelumnya.
1.4 Manfaat percobaan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui cara melakukan determinasi.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui nama maupun pengklasifikasian tumbuhan.
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui nama tanaman yang belum pernah diketahui
sebelumnya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori


Identifikasi merupakan kegiatan dalam taksonomi tumbuhan, walaupun
identifikasi merupakan proses yang terpisah, namun dalam praktisnya mencakup dua
kegiatan yang meliputi klasifikasi dan tata nama (Hasanuddin, 2006),
Dalam mengidentifikasi suatu tumbuhan diperlukan suatu keahlian khusus, teliti,
dan tanggap. Inti dari identifikasi merupakan penamaan suatu tumbuhan yang
meliputi tumbuhan berbiji maupun tumbuhan tak berbiji (Tom, 2009).
Suatu identifikasi akan menghasilkan tatanama suatu spesies baik itu tumbuhan
ataupun hewan. Dalam dunia identifikasi makan diperlukan suatu pengetahuan baik
itu pengetahuan langsung maupun tidak. Pengetahuan secara langsung didapat dari
para ahli dan pengetahuan secara tidak langsung didapat melalui kunci
determinasi (Freud, 2008).
Sifat secara umum diidentifikasikan sebagai pertanda atau yang mengacu pada
bentuk, susunan, tingkah laku,yang digunakan untuk membandingkan,
menginterpressetasikan atau memisah antara organisme uang satu dengan yang
lainnya, sifat sering dibedakan dengan ciri (Diazb, 2009).
Indentifikasi atau “pengenalan” merupakan kegiatan untuk menetapkan identitas
(“jati diri”) suatu tumbuhan, yang dalam hal ini tidak lain daripada “menentukan
namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi”. Istilah
identifikasi sering juga digunakan istilah “determinasi”.
Identifikasi tumbuhan yang belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan harus
tidak boleh menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti dimuat dalam
KITT. Nama takson baru itu selanjutnya harus dipublikasikan melalui cara-cara yang
diatur pula oleh KITT. Prosedur identifikasi tumbuhan yang untuk pertama kali akan
diperkenalkan oleh dan ke dunia ilmiah itu memerlukan bekal yang lazimnya hanya
dimiliki oleh mereka yang berpendidikan ilmu hayat, khususnya taksonomi
tumbuhan. Oleh karena itu pekerjaan identifikasi yang pertama kali itu hanya
dilakukan oleh ahli-ahli yang bekerja dalam lembaga penelitian taksonomi tumbuhan
(herbarium), jarang sekali oleh pihak-pihak lain di luar mereka. Adapun teknik
identifkasi yaitu:
1. Bertanya langsung kepada ahlinya.
2. Mencocokkan dengan herbarium.
3. Mencocokkan dengan uraian dan gambar dalam buku flora atau monografi.
4. Menggunakan kunci identifikasi.
Identifikasi tumbuhan sangat penting untuk mengenali tumbuhan itu sendiri
seperti yang telah disepakati di tingkat dunia agar memahami bahwa yang
dimaksudkan adalah tumbuhan yang sama. Identifikasi berasal dari kata identik yang
artinta sama atau serupa dengan dan untuk ini dapat terlepas dari nama latin.
Identifikasi tumbuhan adalah menentukan nama yang benar dan tempatnya yang tepat
dalam klasifikasi. Tumbuhan yang akan di identifikasi mungkin belum dikenal oleh
dunia ilmu pengetahun. Penentuan nama baru dan penentuan tingkat-tingkat takson
harus mengikuti semua aturan yang ada dalam kode internasional tatanama tumbuhan
(KITT). Untuk mengidentifikasi tumbuhan yang telah dikenal oleh dunia ilmu
pengetahuan, memerlukan sarana antara lain bantuan dari orang lain, spesimen,
herbarium, buku-buku flora dan monografi kunci identifikasi serta lembar identifikasi
jenis. Melakukan identifikasi tumbuhan berarti mengungkapkan atau menetapkan
identitas suatu tumbuhan, yang dalam hal ini tidak lain daripada menentukan
namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi (Wahyudi,
2006).
Dalam taksonomi terdapat dua istilah yang sering dianggap sinonim yaitu
identifikasi dan determinasi. Karena dua istilah dianggap sinonim, maka
penggunaannya sering diperlukan. Kalau kita memperhatikan definisi dari kedua
istilah tersebut, sesungguhnya terdapat perbedaan. Identifikasi meruakan proses
mempersamakan, mencocokkan, membandingkan, dan sebagainya. Sedangkan to
determine yang artinya menentukan atau memastikan. Dengan demikian, identifikasi
sesungguhnya berarti langkah-langkah yang dilakukan dengan mempersamakan,
mencocokkan, atau membandingkan sifat dan ciri yang dimiliki oleh dua tumbuhan
(Rifai, 1976).
(Rideng, 1989) Istilah taksonomi diciptakan oleh A.P de candolle. Seorang ahli
tumbuhan bergia swiss di herbarium genewa yang artinya teori tentang klasifikasi
tumbuhan. Secara taksonomi berasal dari bahasa Yunani: Takson artinya unit atau
kelompok, dan nomos artinya hukum. Jadi hukum atau aturan yang digunakan untuk
menempatkan suatu makhluk hidup pada takson tertentu.
Pengklasifikasian makhluk hidup didasarkan pada banyaknya persamaan dan
perbedaan, baik morfologi, fisiologi maupun anatominya. Makin banyak persamaan
di antara makhluk hidup makin dekat kekerabatannya, makin sedikit persamaan
makhlik hidup dikatakan makin jauh kekerabatannya.
Determinasi merupakan pengklasifikasian makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri
baik morfologi maupun anatominya (Steenis, 2008). Kunci determinasi digunakan
untuk mencari nama tumbuhan atau hewan yang belum diketahui. Kunci determinasi
yang baik adalah kunci yang dapat digunakan dengan mudah, cepat, serta hasil yang
diperoleh tepat. Pada umumnya kunci disusun secara menggarpu (dikotom), memuat
ciri-ciri yang bertentangan satu sama lain. Artinya, apabila suatu makhluk hidup
memiliki ciri-ciri yang satu, berarti ciri yang lain pasti gugur. Dikenal macam kunci
determinasi, yaitu kunci determinasi bertakik (Idented Key) dan kunci determinasi
paralel (Bracketed Key) (Rifai, 1976).
Kunci determinasi atau kunci dikotom adalah cara atau langkah untuk mengenali
organisme dan mengelompokkannya pada takson makhluk hidup. Kunci dikotomis
berisi deskripsi ciri-ciri organisme yang disajikan dengan karakter berlawanan. Kunci
dikotomis terdiri dari sederetan pernyataan yang terdiri dari dua baris dengan ciri
yang berlawanan (Hutapea, 1993).
Selain itu juga kunci determinasi itu semacam kamus gambar/deskripsi ciri
makhluk hidup yang memuat semua makhluk hidup, yang dibuat untuk
mempermudah penggolongan makhluk hidup dan mengetahui nama makhluk hidup
tersebut. Untuk mengidentifikasi makhluk hidup yang baru saja dikenal, kita
memerlukan alat pembanding. Alat pembanding dapat berupa gambar, realita atau
spesimen (awetan hewan atau tumbuhan), hewan atau tumbuhan yang sudah
diketahui namanya, atau kunci identifikasi. Kunci identifikasi disebut juga kunci
determinasi. Penggunaan kunci identifikasi dalam identifikasi telah lama digunakan.
Kunci identifikasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Carolus
Linnaeus (1707-1778), seorang ahli botani dan dianggap 'Bapak Taksonomi'.
Bukunya adalah Sistema Naturae. Beliau memaparkan teori tentang semua tumbuhan
yang diketahui mengikut satu sistem yang disebut sistem tata nama binomial
(Hutapea, 1993).
Taksonomi bertujuan untuk mengumpulkan data dengan menggunakan suatu
pendekatan yang sistematik dan teratur supaya dapat disimpan untuk memudahkan
rujukan dan perkembangan dunia ilmu pengetahuan. Taksonomi menyediakan satu
pengetahuan yang sistematik untuk menguraikan flora dan fauna di habitat yang
berlainan di dunia. Taksonomi juga membolehkan ahli ekologi mencari hubungan di
antara organisme dan di antara organisme dengan lingkungannya dengan lebih
sistematik (Hassanudin, 2006).
Linaeus memperkenalkan enam hierarki (tingkatan) untuk mengelompokkan
makhluk hidup. Keenam hierarki (yang disebut takson) itu berturut-turut dari
tingkatan tertinggi (umum) hingga terendah (spesifik) adalah : Phylum/filum untuk
hewan, atau Divisio/divisi untuk tumbuhan, Classic/kelas, Ordo/bangsa,
Familia/keluarga/suku, Genus/marga, dan Spesies (jenis) (Diazb, 2009).
Perkembangan pengetahuan lebih lanjut memaksa dibuatnya takson baru di antara
keenam takson yang sudah ada (memakai awalan 'Super-' dan 'Sub'). Dibuat pula satu
takson di atas phylum, yaitu Regnum(secara harfiah berarti Kingdom atau kerajaan)
untuk membedakan prokariota (terdiri dati Regnum Archaea dan bacteria) dan
Eukariota (terdiri dari regnum fungi atau jamur, plantae atau tumbuhan, dan animalia
atau hewan) (Hassanudin, 2006).
Penyusunan sifat-sifat yang harus dipilih maka dikenal tiga macam kunci
determinasi, yaitu kunci perbandingan, kunci analisis dan sinopsis. Yang akan
dibahas disini adalah kunci analisis. Kunci analisis merupakan kunci yang paling
umum digunakan dalam pustaka. Kunci ini sering juga disebut kunci dikotom sebab
terdiri atas sederetan bait atau kuplet. Setiap bait terdiri atas dua (atau adakalanya
beberapa) baris yang disebut penuntun dan berisi ciri-ciri yang bertentangan satu
sama lain. Untuk memudahkan pemakaian dan pengacuan, maka setiap bait diberi
bernomor, sedangkan penuntunnya ditandai dengan huruf. Pemakaian kunci analisis
harus mengikuti bait-bait secara bertahap sesuai dengan yang ditentukan oleh
penuntun. Dengan mempertentangkan ciri-ciri yang tercantum dalam penuntun-
penuntun itu akhirnya hanya akan tinggal satu kemungkinan dan kita dituntun
langsung pada nama takson yang dicari. Kunci analisis dibedakan menjadi dua
macam berdasarkan cara penempatan bait-baitnya yaitu kunci bertakik (kunci indent)
dan kunci paralel (Rifai, 1976).
Pada kunci bertakik maka penuntun-penuntun yang sebait ditakikkan pada tempat
tertentu dari pinggir (menjarak pada jarak tertentu dari pinggir), tapi letaknya
berjauhan. Di antara kedua penuntun itu ditempatkan bait-bait takson tumbuhan,
dengan ditakikkan lebih ke tengah lagi dari pinggir yang memenuhi ciri penuntun
pertama, juga dengan penuntun-penuntun yang dipisah berjauhan. Dengan demikian
maka unsur-unsur takson yang mempunyai ciri yang sama jadi bersatu sehingga bisa
terlihat sekaligus (Abidin, 2006).
Identifikasi suatu tumbuhan sangat penting untuk mengenali tumbuhan itu sendiri
seperti yang telah disepakati di tingkat dunia agar memahami bahwa yang
dimaksudkan adalah tumbuhan yang sama. Identifikasi berasal dari kata identik yang
artinya sama atau serupa dengan dan untuk ini dapat terlepas dan nama latin.
Identifikasi tumbuhan adalah menentukan nama yang benar dan tempatnya yang tepat
dalam klasifikasi. Penentuan nama baru dan penentuan tingkat-tingkat takson harus
mengikuti semua aturan yang ada dalam kode internasioanal tatanama tumbuhan
(KITT). Untuk mengidentifikasi tumbuhan yang telah dikenal oleh dunia ilmu
pengetahuan, memerlukan sarana, antara lain, bantuan orang lain, spesimen,
herbarium, dan buku flora. Melakukan identifikasi tubuhan berarti mengungkapkan
atau menetapkan identitas suatu tumbuhan. Yang dalam hal ini tidak lain daripada
menentukan namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem identifikasi
(Wahyuni, 2016).
Buku kunci determinasi berisi beberapa pernyataan yang nantinya akan semakin
menjurus menuju nama spesies, misalnya kita menemukan suatu tanaman yang belum
diketahui nama spesies maupun genus dan familinya, rale bias menggunakan buku
kunci determinasi untuk mencari tahu namanya (Widiyati, 2012).
Menurut Rifai (1976), berdasarkan cara menyusun sifat-sifat yang harus dipilih
maka dikenal tiga macam kunci determinasi, yaitu:
1. Kunci perbandingan
2. Kunci analisis
3. Kunci sinopsis
Determinasi diawali dengan menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Seperti
buku flora, silet, dan tanaman yang belum diketahui nama dari tanaman tersebut
(tanaman X). Pengambilan eksemplar tanaman harus diambil selengkap mungkin atau
beberapa eksemplar yang kalau disimpulkan memberi gambaran yang lengkap, lebih
baik di kumpulkan sendiri hingga habitus pohon dan semak diketahui. Hal ini
dilakukan karena dalam melakukan determinasi, dibutuhkan deskripsi/ gambaran
yang jelas dari tanaman tersebut (Steenis, 2008).
Kemudian tahap yang dilakukan selanjutnya adalah memperhatikan bunga dari
tanaman tersebut. Hal ini dilakukan dengan cara membuka sebuah bunga, bila
mungkin, dengan hati-hati dan lihat kedudukan, bentuk dan jumlah dari bagian
bunga, iris bunga membujur dan sebuah bakal buah melintang dan diiris tersendiri.
Dari percobaan, diperoleh bahwa tanaman X tersebut memiliki bunga sejati, artinya
tidak ada benang sari dan atau putik (Steenis, 2008).
Selain itu juga, tanaman X ini tidak memiliki alat pembelit, daunnya mempunyai
tulang daun sejajar, tidak berduri, dengan pangkal berpelepah. Bunganya merupakan
bulir, terdapat di ketiak sekam (sisik tipis). Batangnya bulat, ibu tangkai karangan
bunga kebanyakan berbuku, serta lidah atau karangan rambut pada batas antara
pelepah dengan helaian daun yang kelihatan jelas. Sehingga tanaman ini tergolong
dalam suku rumput-rumputan (gramineae) ( Steenis, 2008).
Tanaman ini memiliki karangan bunga yang terdiri dari banyak poros yang kaku
terkumpul, berbentuk serupa bongkol atau bentuk payung yang rapat, yang masing-
masing dekat pangkal mendukung 1 anak bulir. Sehingga diperoleh bahwa tanaman
ini termasuk dalam genus spinifex (Steenis, 2008). Klasifikasi merupakan salah satu
cara penyederhanaan terhadap objek. Hal ini, makhluk hidup yang besar dan
beragam. Secara umum, klasifikasi diartikan sebagai suatu proses pengelompokkan
sesuatu berdasarkan aturan-aturan. Dalam pengertian biologi, klasifikasi diketahui
sebagai sesuatu yang menyangkut sifat sebagai akar perwujudan dari suatu proses
evolusi (Suyadi, dkk, 2005).
2.2 Uraian Tanaman
2.2.1 Klasifikasi Tanaman Tomat (solanum lycopersicum)
Kingdom: Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae Gambar 2.2.1
Genus : Solanum
Tomat
Spesies : Solanum lycopersicum L.
2.2.2 Morfologi Tanaman
Buah tomat (solanum lycopersicum) berasal dari amerika tropis, ditanam
sebagai tanaman buah di ladang,pekarangan, atau ditemukan liar pada ketinggian 1-
1600 m dpl. Tanaman ini tidak tahan hujan,sinar matahari terik,serta menghendaki
tanah yang gembur dan subur ((Dalimartha,2007). Tanaman tomat ini tergolong
tanaman semusim (annual). Artinya tanaman berumur pendek yang hanya satu kali
bereproduksi dan setelah itu mati. Tanaman tomat merupakan tanaman perdu atau
semak yang menjalar pada permukaan tanah dengan panjang mencapai dua meter
(Fatmawanthi,2002)
2.2.3 Manfaat dan kandungan
Kandungan yang terdapat dalam buah tomat meliputi alkaloid solanine
(0,007%), saponin, asam folat, asam malat, asam sitrat, biflavonoid, protein, lemak,
gula (fruktosa glukosa),adenine, trigonelin, kolin, tomatin, mineral
(Ca,Mg,P,K,Na,Fe,sulfur,klorin),
vitamin (B1,B2,B6,C,E,niasin),histamin,dan likopen (Dalimartha,2007). Sebagai
sumber vitamin,buah tomat sangat baik untuk mencegah dan mengobati berbagai
macam penyakit,seperti sariawan karena kekurangan vitamin C,xerapthalmia pada
mata akibat kekurangan vitamin A, beri-beri,, radang syaraf, lemahnya otot-otot,
dermatitis, bibir menjadi merah dan radang lidah akbiat kekurangan vitamin B.
sebagai sumber mineral, buah tomat dapat bermanfaat untuk pembentukan tulang dan
gigi (zat kapur dan fosfor) sedangkan zat besi (Fe) yang terkandung di dalam buah
tomat dapat berfungsi untuk pembentukan sel darah merah atau hemoglobi. Buah
tomat juga mengandung serat yang berfungsi memperlancar proses pencernaan
makanan didalam perut dan membantu memudahkan buang kotoran. Selain itu, tomat
mengandung zat potassium yang sangat bermanfaat untuk menurunkan gejala tekanan
darah tinggi. Vitamin E sudah banyak digunakan dalam kosmetik diataranya adalah
sebagai pelembab dan sebagai agen antioksidan. Vitamin E dapat mengurangi
penuaan kulit akibat sinar matahari dan mencegah pembentukan sel kanker kulit.
Manfaat vitamin E yang lain adalah memelihara stabilitas jaringan ikat di dalam sel
sehingga kelenturan dan kekenyalan kulit terjaga (Rideng, 1989)
2.2.4 Klasifikasi Tanaman Pletekan (Ruellia tuberosa L)
Menurut Plantamor (2012) tanaman pletekan
Regnum : Plantae
Divisi : Kelas
Magnoliophyta : Magnoitopsida
Ordo : Scrophulariales
Familia : Genus Gambar 2.2.4
Acanthaceae : RuelliaTomat
Pletekan
Spesies : Ruellia tuberosa L
2.2.5 Morfologi
Tanaman pletekan memiliki habitus terna, semusim dan tinggi 0,4-0,9 m.
Batangnya tegak, pangkal sedikit berbaring, bersegi, berwarna hijau. Daunnya
tunggal, bersilang berhadapan, berbentuk solet, ujungnya membulat, pangkal runcing,
tepi begerigi, memiliki panjang 6-18 cm, lebar 3-9 cm, licin, pertulangan menyirip
dan berwarna hijau. Majemuk, bentuk payung, diketiak daun, terdiri 1 15 bunga
dengan kelopak 2-3 cm, benang sari melekat pada tabung mahkota berjumlah 4, dasar
mahkota membentuk tabung, ujung berlekuk 5, panjang 3,5-5 cm, berwarna ungu.
Buah kotak, lonjong, kering, berbiji banyak, panjang 2-3 cm,membuka dengan 2
katup, warnanya hijau. Biasanya buahnya digunakan anak anak untuk bermain yaitu
jika dicelupkan ke 8 dalam air, polong kering tersebut akan meletup. Bijinya
berbentuk bulat, kecil, cokelat. Berakar tunggang, membentuk umbi, berwarna
cokelat (Thaib, 2016).
Ruellia tuberosa L. berasal dari daerah tropis di Amerika tetapi aslinya di Asia
Tenggara (Thailand, Semenanjung Malaysia, Jawa) dan tempat lain di daerah tropis
(India, Sri Lanka, Afrika), tanaman ini juga di budidaya sebagai tanaman hias
(Tjondronegoro, 1994).
1. Manfaat Pletekan
Daun pletekan (Ruellia tuberosa L.) berkhasiat sebagai obat sakit kencing batu
dan kencing manis. Untuk obat kencing batu dipakai ± 15 gram daun pletekan,
dengan cara dicuci dan direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih selama 15
menit, kemudian didinginkan dan disaring. Hasil saringan diminum sekaligus
(Widodo, 2011).
Untuk obat kencing manis dipakai daun pletekan 9 secukupnya dengan. cara
dicuci dan direbus dengan air sekitar 500 ml sampai mendidih dan tersisa
setengahnya kemudian didinginkan lalu disaring. Hasil saringan sebanyak 1 gelas
diminum setiap pagi dan sore hari sampai gula darah kembali normal (Yuliani,
dkk, 2015).
Ruellia tuberosa L. rupanya masih jarang digunakan dalam pengobatan di Asia
Tenggara. Ruellia tuberosa L. memiliki berbagai aplikasi dalam pengobatan
tradisional di Amerika tropis, yang paling umum digunakan yaitu akar. Rebusan
akar kering dan bubuk digunakan sebagai diuretik, sering dalam kasus gonore dan
sifilis, untuk mengobati masalah ginjal dan diabetes, sebagai obat penurun panas,
dan mengobati pilek. Rebusan seluruh tanaman dimanfaatkan secara eksternal
untuk luka dan secara internal untuk mengobati paru radang selaput lendir hidung,
asma, influenza dan pilek. Daun digunakan untuk mengobati sakit gigi, dan
rebusan daun untuk demam, bronchitis crhonic dan keputihan. Di Thailand, biji
dan daun dimanfaatkan sebagai obat untuk bisul dan abses. Ruellia tuberosa L.
ditanam sebagai tanaman hias untuk perusahaan (Vogel, 1989).
perbedaan ketebalan sel epitel yang signifikan antara kelompok kontrol positif
dengan perlakuan. Hal ini dikarenakan adanya kandungan nutrisi dalam tanaman
pletekan seperti daunnya mengandung polifenol dan akarnya mengandung
flavonoida. Kandungan-kandungan tersebut dapat menurunkan kadar glukosa
darah sehingga dapat memperbaiki sistem epitelialisasi menunjukkan bahwa
pemberian 3,2 mg ekstrak cair R. tuberosa L. secara oral mampu menurunkan
trigliserin dan tingkat kolesterol LDL (Thomas, 2009)
2.3 Uraian bahan
2.3.1 Alkohol(Dirjen Pom, 1979; Rowe, 2009)
Nama Resminya : Aethanolum
Sinonim : Alkohol, etanol, ethyl alcohol
Rumus molekul : C2H6O
Rumus struktur :

Berat molekul : 46,07


Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih mudah menguap dan mudah
bergerak bau khas rasa panas,mudah terbakar dan
memberikan nyala biru yang tidak berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air,dalam kloroform p dan eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terhindar dari cahaya tempat
wadah tertutup rapat, terhindar dari cahaya,ditempat
sejuk jauh dari nyala api
Kegunaan : Sebagai, zat tambahan, juga dapat membunuhan kuman
2.3.2 Aquades (Dirjen POM edisi III, 1979)
Nama Resminya : Aqua destilata
Nama Lainnya : Aquades, air suling
Rumus Molekul : H2O
Rumus Struktur :

Berat Molekul : 18,02 gr / mol / H2O


Pemerian : Cairan tidak berwarna dan berbau dan tidak berasa
Kelarutan : Larut dengan semua jenis larutan
Kegunaan : Zat pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
BAB III

METODOLOGI
3.1 Waktu dan tempat
Praktikum Determinasi dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2021 pukul 14.00-
17.00 WITA. Pelaksanaan praktikum bertempat di Laboratorium Bahan Alam,
Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga Dan Kesehatan, Universitas Negeri
Gorontalo.
3.2 Alat dan bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum determinasi yaitu buku FLORA,silet dan
Pensil
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum determinasi yaitu Tanaman Tomat
(tumbuhan yang diketahui) dan Tanaman Pletekan (tumbuhan yang tidak
ketahui)
3.3 Prosedur kerja
Adapun Langkah-langkah kerja dalam menentukan determinan
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Diperhatikan bagian-bagian pada tanaman
3. Diamati satu persatu
4. Dibuat catatan selengkap mungkin
5. Diidentifikasi tanaman dengan menggunakan kunci determinasi
6. Ditentukan nama familia
7. Dibandingkan uraian tentang familia dengan tanaman
8. Dimulai dengan menentukan nama genus
9. Ditemukan spesies

BAB IV

PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1.hasil pengamatan
N NAMA PENGAMATAN LITERATUR
O BAHAN
1. Tomat
(Solanum
Tuberosum
)

Kunci Determinasi Klasifikasi


1b-2b-3b-4b-6b-7b-9a- Regnum : Plantae
41b-42b-43b-54a-55b- Divisi : Spermatophyta
57b-58a-111 Family Subdivisi : Angiospermae
Solanaceae, 1b-3b-5b-6a Kelas : Dicotyledonae
Genus Solanum. 1a Ordo : Solanales
Solanum lycopersicum Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum
lycopersicum
2. Pletekan

Kunci Determinasi Klasifikasi


1b-2b-3b-4b-6b-7b-9b- Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Lamiales
Famili : Acanthaceae
Genus : Ruellia
Spesies : Ruellia tuberosa
L.

4.2 Pembahasan
Kunci determinasi atau kunci dikotom adalah cara atau langkah untuk mengenali
organisme dan mengelompokannya pada takson makhluk hidup (Anggriawan,2010).
Determinasi dilakukan untuk memudahkan kita mempelajari organism yang
beraneka ragam pada tumbuhan,untuk melihat hubungan kekerabatan antara makhluk
hidup yang satu dan yang lain, serta untuk mencari nama tumbuhan atau hewan yang
belum diketahui.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan yaitu determinasi tanaman,yang
namanya sudah diketahui dan belum diketahui dengan cara pengamatan,
perbandingan dan pencocokan morfologi tumbuhan dengan buku flora yang ditulis
oleh Van Steenis didapatkan hasil berupa kunci determinasi dan tanaman.
Adapun tujuan praktikum adalah mengetahui bagaimana cara melakukan
determinasi terhadap dengan nama yang belum diketahui dan yang sudah diketahui
dengan menggunakan buku flora. Determinasi diawali dengan menyiapkan alat dan
bahan yang diperlukan. Seperti buku flora, silet dan tanaman yang akan diamati.
Untuk tanamn yang diambil tanaman utuh dengan alat hara dan alat generative yang
masih utuh. Hal ini dilakukan karena dalam melakukan determinasi, dibutuhkan
deskripsi/gambaran yang jelas dari tanaman tersebut.
Langkah kedua yaitu diamati bagian-bagian dari tanaman yang dijadikan sampel
mulai dari bagian akar hingga bunganya. Terdapat tanaman dengan yang tanaman
sudah diketahui yaitu tanaman tomat (Solanum licopersicum) dan tanaman yang
belum diketahui yaitu tanaman pletekan (Ruellia tuberose).
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa tomat (Solanum
licopersicum) merupakan tanaman herba dari family solanaceae. Tomat (Solanum
licopersicum) memiliki bunga berwarna kuning cerah,memiliki putik dan benang sari
(bunga sempurna) dan dapat menyerbuk sendiri. Batang tanaman tomat bervariasi ada
yang tegak atau menjalar, padat dan merambat, berwarna hijau berbentuk silinder dan
ditumbuhi rambut-rambut halus terutama di bagian yang berwarna hijau daun
tanaman tomat biasanya berukuran panjang sekitar 20-30cm serta lebarnya 16-20cm.
daun tanaman tomat memiliki jarak yang dekat dengan ujung dahan sementara
tangkai daunnya berbentuk bulat berukuran 7-10cm. Hasil determinasi dengan
menggunakan kunci determinasi, tomat (Solanum licopersicum) memiliki urutan
determinasi 1b-2b-3b-4b-6b-7b-9a-41b-42b-43b-54a-55b-57b-58a-111Famili
Solanum ceae 1b-3b-5b-6a genus Solanum 1a Solanum licopersicum
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa tanaman pletekan atau (Ruellia
tuberose) merupakan tanaman herba dari famili Acantheae. Pletekan (Ruellia
tuberose) memiliki habitus terna (herba), semusim dan tinggi 0,4-0,9 m. batangnya
tegak pangkal sedikit berbaring, bersegi, berwarna hijau, daunnya tunggal, bersilang
berhadapan, berbentuk solet, ujungnnya membulat, pangkal runcing, tepi bergerigi,
memiliki panjang 6-18 cm, lebar 3-9 cm, licin, pertulangan menyirip dan berwarna
hijau. Majemuk, bentuk paying, diketiak daun, terdiri dari 1-15 bunga dengan
kelopak 2-3 cm, benang sari melekat pada tabung mahkota berjumlah 4, dasar
mahkota membentuk tabung, ujung berlekuk 5, panjang 3,5-5 cm, berwarna ungu.
Buah kotak, lonjong, kering, berbiji banyak, panjang 2-3 cm, membuka dengan dua
katup, warnanya hijau. Biasanya buahnnya digunakan anak-anak untuk bermain yaitu
jika dicelupkan ke dalam air, polong kering tersebut akan meletup. Bijinya berbentuk
bulat, kecil, cokelat. Berakar tunggang,membentuk umbi, berwarna cokelat (Mirsha,
2013)
BAB Vl

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Identifikasi merupakan kegiatan dalam taksonomi tumbuhan, walaupun
identifikasi merupakan proses yang terpisah, namun dalam praktiknya mencakup dua
kegiatan yang meliputi klasifikasi dan tata nama.
Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengadakn klasifikasi adalah
pecandraan sifat-sifat pengelompokan berdasarkan cirri-ciri dan pemberian nama
dijadikan data utama
5.2 Saran
5.2.1 Saran untuk jurusan
Agar kiranya dari pihak jurusan dapat meningkatkan fasilitas-fasilitas yang ada
pada laboratorium yang digunakan
5.2.2 Saran untuk laboratorium
Agar kiranya dapat meningkatkan kelengkapan alat-alat yang ada dalam
laboratorium. Agar praktikan dapat lebih mudah, cepat dan lancer dalam melakukan
suatu percobaan atau penilitian.
5.2.3 Saran untuk asisten
Kami berharap agar kirany dapat terjadi kerjasama yang lebih baik lagi antara
asisten dan praktikan saat berada dalam laboratorium maupun diluar laboratorium.
Sebab, kerjasama yang baik akan lebih mempermudah proses penyaluran pengetahun
dari asisten kepada praktikan.
5.2.4 Saran untuk praktikan
Kami berharap agar kiranya kepada sesama praktikan dapat menyimak dengan
baik saat asisten memberikan arahan agar mempermudah kita menyelesaikan praktik
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin,Z. 2006. Penggemukan Sapi Potong. PT. Agro Media Pustaka.Jakarta
Andikusumo, Kunaryo, dkk. 2014. Pengantar Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang
Press
Anggriawan, R. 2010. Pengaruh Varietas Jagung Hibrida Metode Terhadap
Variabel
Kimia,Fisik, dan Fungsional Tepung Jagung Hibrida.Universitas Jenderal
Soedirman.
Diazb. 2009. Kupas Tuntas Pengawasan,Pemeriksaan,Dan Penyidikan Pajak. Jakarta
PT Indeks.
Furnawanthi,I , 2002. Khasiat dan Manfaat lidah buaya. Jakarta:Agro Media Pustaka
Freud, Sigmund. 2008. Pengantar umum Psikoanalisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Rifai. 1976. Keaneka ragaman Tumbuhan. UM Press Malang
Simpson, M.G, 2006. Plantsystematics Elsevier Academic Press Publivation, London
Steenis. 2008. Flora Cetakan Ke-12. Jakarta : PT PradyanaParamita
LAMPIRAN-LAMPIRAN

NO NAMA GAMBAR FUNGSI


1. Buku Flora Digunakan untuk mencari determinasi
tumbuhan.

2. Lap halus Digunakan untuk mengeringkan

3. Pensil Digunakan untuk mencatat hasil determinasi

4 Silet Digunakan untuk memotong sampel

5 Tisu Digunakan untuk membersihkan sampel