Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

DISTOSIA KELAINAN ALAT KANDUNGAN

Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal
Dosen Pengampu : Desi Hertati, SST., M.Keb

Disusun Oleh : Kelompok III

AYU WULANDARI NIM 2019.A.10.0794

ELIN NIM 2019.A.10.0800

ERVIANA ARINDA DEWI NIM 2019.A.10.0801

EZRA NOVITA SULISTIA NINGRUM NIM 2019.A.10.0803

RINI ANGGRAINI NIM 2019.A.10.0820

YAYASAN EKAHARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2021
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini. judul“Distosia
Kelainan Alat Kandungan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal”.Selama mengikuti
pendidikan ini penulis telah banyak mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terimakasih yang takterhingga
pada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan kepada penulis. Ucapan
terimakasih penulis sampaikan kepada yang terhormat :

1. Ibu Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M. Kes Selaku Ketua STIKes Eka Harap
Palangka Raya.
2. Ibu Desi Kumala,SST.,M.Kes Selaku Ketua Prodi DIII Kebidanan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.
3. Ibu Desi Hertati, SST., M.Keb Selaku dosen pengampu Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.
4. Seluruh staf pengajar jurusan DIII Kebidanan sekolah tinggi ilmu kesehatan eka
harap palangka raya yang telah memberikan bimbingan dan ilmu pengetahuan
selamaini.
5. Kepada kedua orang tua dan saudara-saudara saya yang selama ini telah banyak
memberikan dukungan baik secara materi, doa, nasehat, dan senantiasa
memotivasisayai dalam menyelesaikan tugas ini.

i
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN SAMPUL...................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 1
C. Tujuan................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 2
A. Pengertian Distosia Kelainan Alat Kandungan.................................... 2
B. Macam – Macam Alat Kandungan....................................................... 2
C. Kelainan Alat Kandungan dan Penanganannya ................................... 8
BAB III KESIMPULAN............................................................................... 20
A. Kesimpulan........................................................................................... 20
B. Saran .................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 21

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Distosia didefinisikan sebagai persalinan yang panjang, sulit, atau abnormal
yang timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan 5 faktor persalinan.
Setiap keadaan berikut dapat menyebabkan distosia :
1. Persalinan disfungsional akibat kontraksi uterus yang tidak efektif atau akibat
upaya mengedan ibu (kekuatan/ power).
2. Perubahan struktur pelvis (jalan lahir/ passage).
3. Sebab-sebab pada janin, meliputi kelainan presentasi maupun kelainan posisi,
bayi besar dan jumlah bayi ( passanger ).
4. Posisi ibu selama persalinan dan melahirkan.
5. Respon psikologis ibu selama persalinan yang berhubungan dengan
pengalaman, persiapan, budaya dan warisannya, serta sistem pendukung.

Kelima faktor ini bersifat interdependen. Dalam mengkaji pola persalinan


abnormal wanita, seorang bidan mempertimbangkan interaksi kelima faktor ini
dan bagaimana kelima faktor tersebut mempengaruhi proses persalinan. Distosia
diduga terjadi jika kecepatan dilatasi serviks, penurunan dan pengeluaran
(ekspulsi) janin tidak menunjukan kemajuan, atau jika karakteristik kontraksi
uterus menunjukan perubahan.

B. Rumusan Masalah
Untuk mengidentifikasi bagaimana distosia kelainan alat kandungan
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui distosia karena kelainan alat kandungan.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat mendiagnosis ibu dengan distosia karena kelainan alat kandungan.
b. Dapat mengetahui penyebab distosia karena kelainan alat kandungan.
c. Dapat mengetahui tanda dan gejala distosia karena kelainan alat
kandungan.
d. Dapat memberikan penanganan awal pada ibu dengan distosia kelainan alat
kandungan

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Distosia Kelainan Alat Kandungan.


Yang dimaksud dengan distosia adalah persalinan yang sulit yang ditandai
adanya hambatan kemajuan dalam persalinan. Persalinan yang normal (Eutocia)
ialah persalinan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan
dalam 24 jam, tanpa menimbulkan kerusakan yang berlebih. Istilah distosia atau
persalinan yang sulit kita pergunakan kalau tidak ada kemajuan dari persalinan.
Distosia alat kandungan adalah istilah yang digunakan pada kasus tidak
adanya kemajuan persalinan atau gangguan dalam proses persalinan yang
disebabkan oleh adanya kelainan pada alat kandungan. Alat kandungan yang
akan dibahas yaitu vulva, vagina, portio dan uterus.
B. Macam – Macam Alat Kandungan
1. Vulva
Vulva termasuk dalam bagian alat kandungan luar. Terdiri dari Labia
mayora, labia minora, orifisium uretra externa, introitus vagina , klitoris,
perineum dan anus.
a. Labia Mayora
Bentuknya lonjong. Kedua bibir ini dibagian bawah bertemu membentuk
perineum. Permukaannya terdiri dari bagian liar dan bagian dalam.
Bagian luar tertutup rambut yang merupakan kelanjutan dari mons
veneris. Bagian dalam tanpa rambut merupakan selaput yang
mengandung kelenjar sebasea (lemak).
b. Labia Minora
Berada di dalam lipatan L.mayora, tanpa rambut. Dibagian atas klitoris,
L.minora bertemu membentuk prepusium klitoris dan di bagian bawahnya
bertemu membentuk frenulum klitoris. L.minora mengelilingi orifisium
vagina.

2
c. Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi yang bersifat erektil.
Mengandung banyak pembuluh darah dan serrat sarraf sensoris sehingga
sangat sensitive dan merupakan analog dari penis laki-laki.
d. Vestibulum
Alat reproduksi yang dibatasi oleh kedua L.minora, bagian atas klitoris,
bagian bawah pertemuan L.minora. pada vestibulum terdapat muara
urethra, 2 lubang saluran kelenjar bartholini, 2 lubang saluran kelenjar
skene.
e. Kelenjar bartholini
Kelenjar ini dapat mengeluarkan lendir, dan pengeluaran lendir
meningkat saat hubungan seks.
f. Hymen
Jaringan yang menutupi vagina, bersifat rapuh dan mudah robek. Hymen
ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang dikeluarkan
uterus dan darah saat menstruasi. Bila hymen tertutup akan menimbulkan
gejala klinik setelah mendapat menstruasi.
2. Kelainan pada Vagina
Pada vagina dapat terjadi  atresia vagina, adanya sekat vagina, dan kista
vagina. Pada atresia vagina terdapat gangguan dalam kanalisasi, sehingga
terbentuk suatu septum yang horizontal. Septum itu dapat ditemukan pada
bagian proksimal vagina, akan tetapi bisa juga pada bagian bawah, diatas
hymen (atresia retrohimenalis). Bila penutupan vagina itu menyeluruh,
menstruasi timbul tetapi darah haid tidak keluar. Terjadilah hematokolpos yang
dapat mengakibatkan hematometra dan hematosalpinks. Bila penutupan vagina
tidak menyeluruh, tidak akan timbul kesulitan, kecuali mungkin pada partus
kala dua.
3. Kelainan Pada Uterus
Merupakan jaringan otot yang kuat, terletak di pelvis minor diantara
kandung kemih dan rectum. Dinding depan, belakang dan atas tertutup

3
peritoneum, sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih.
Bentuknya seperti bola lampu dan gepeng. Untuk menyangga posisinya uterus
disangga beberapa ligament jaringan ikat dan parametrium. Ukurannya
tergantung dai usia wanita dan paritas. Ukuran anak-anak 2-3cm, nulipara 6-8cm,
multipara 8-9cm. dindingnya terdiri dari 3 lapisan; peritoneum, lapisan otot dan
endometrium.
Secara embriologis uterus, vagina, servik dibentuk dari kedua duktus
muller yang dalam pertumbuhan mudigah mengalami proses penyatuan.
Kelaina bawaan dapat terjadi akibat gangguan dalam penyatuan, dalam
berkembangnya kedua saluaran muller dan dalam kanalisasi
4. Anteversio uteri
Kelainan letak pada uterus ke depan dijumpai pada perut gantung. Perut
gantung terdapat pada multipara karena melemahnya dinding perut, terutama
multipara gemuk, hal ini menghalangi masuknya kepala ke dalam panggul,
pembukaan tidak lancar. Dalam persalinan tidur telentang, setiap ada his fundus
dorong ke atas
5. Retrofleksio uteri
Kadang kadang menyebabkan kemandulan karena kedua tuba tertekuk. Uterus
gravidus yang bertumbuh terus bisa terkurung dalam rongga panggul disebut
retrofleksio uteri gravidi inkarserata. Nasib kehamilan pada retrofleksio uteri
dapat koreksi spontan, abortus, koreksi tidak lengkap, inkrserasi
6. Tumor uterus / Mioma uteri
Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan
a. Mengurangi kemungkinan hamil
b. Kemungkinan abortus bertambah
c. Kelainan letak janin dalam rahim
d. Menghalangi jalan lahir
e. Inersia uteri dan atonia uteri
f. Sulit lepasnya plasenta
7. Karsinoma servisis uteri

4
Kanker leher rahim mempunyai pengaruh tidak baik terhadap kehamilan,
persalinan dan nifas. Selain kemandulan, abortus, perdarahan, hambatan
pertumbuhan janin. Apabila penyakit ini tidak diobati pada kira-kira 2/3 diantara
penderita kehamilan dapat mencapai cukup bulan. Kematian janin dapat juga
terjadi.
Pada trisemester I penderita harus segera diobati baik dengan penyinaran
maupun operasi radikal. Pengaobatan dengan sinar rontgen sebanyak 2000 rad
kepada pelvis menyebabkan hasil konsepsi mati dengan akibat abortus.
Pada trisemester II harus segera dilakukan histerotomi untuk
mengosongkan rahim disusul dengan penyinaran dan operasi radikal. Trisemester
III untuk kehamilan yang lebih 36 mg atau lebih segera melakukan seksio
sesarea, bila kurang 36 minggu sedapat dapatnya ditunda sampai janin ditaksir
2500 gram. Penundaan 1 atau 2 minggu masih dianggap aman.
8. Karsinoma korporis uteri
Hampir tidak memungkinkan hamil. Oleh karena itu kombinasi tumor ini
dengan kehamilan jarang. Terapi dalam kehamilan sama seperti yang tidak hamil
yaitu histerektomi dengan atau tanpa penyinaran sebelum atau sesudahnya.
9. Adneksa
a. Tuba
Telah diketahui bersama bahwa patensi tuba mutlak untuk pembuahan.
Kelainan pada tuba seperti peradangan atau tumor hampir tidak
memungkinkan hamil. Apabila terjadi kehamilan juga akan menghasilkan
kehamilan luar uterus, yang biasanya terganggu pada kehamilan muda.
b. Ovarium
Tumor ovarium baik kecil maupun besar, kistik atau padat, jinak atau
ganas mempunyai arti obstetrik yang lebih penting daripada tumor tumor lain.
Dalam kehamilan tumor ovarium jarang dijumpai, yang paling sering kista
dermoid.
Komplikasi yang paling sering dan berbahaya adalah torsi yang
menyebabkan nekrosis jaringan dan infeksi dengan gejala gejala sakit perut

5
mendadak. Kista dapat pecah karena trauma dan pengakhiran persalinan. Pada
masa nifas juga berbahaya karena pengecilan rahim memperbesar
kemungkinan torsi.
10. Ploraps Uteri
Prolapsus uteri adalah keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus
genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen, fasia endopelvik
danotot dasar panggul yang menyokong uterus.
Turunya uterus dari tempat biasa disebut desensus uteri atau prolap
uteri. Terbagi dalam 3 tingkat:
a. Tingkat 1 bila servik belum keluar dari vulva
b. Tingkat 2 bila servik sudah keluar vulva tapi corpus belum
c. Tingkat 3 bila korpus uteri sudah berada di luar vulva
Kehamilan dapat terjadi pada prolaps tk 1 dan 2 Uterus dan vagina
dipertahankan posisinya oleh :
a. Tonus otot uterus
b. Ligamen-ligamen yang memfiksasi uterus 
1) Lig kardinale
2) Lig rotundum
3) Lig infundibulopelvikum
4) Lig sakrouterina
c. Fasia endopelvik
d. Otot-otot dasar panggul m levator ani
Etiologi Prolapsus Uteri :
a. Dasar panggul yang lemah, karena kerusakan dasar panggul pada
persalinan yang terlampau sering dengan penyulit seperti ruptura
perineum atau oleh karena usia lanjut.
b. Tarikan pada janin pada pembukaan yang belum lengkap.
c. Ekspresi Crede yang berlebihan pada saat mengeluarkan plasenta.
d. Asites, tumor-tumor di daerah pelvis, batuk yang kronis dan pengejan
(obslipasi atau striktura pada traktus urinarius).

6
e. Relinakulum uteri yang lemah (asteni atau kelainan congenital berupa
kelemahan jaringan penyokong uterus yang sering pada nullipara.
Patologi Prolapsus Genitalis
a. Dengan adanya persalinan yang sulit, menyebabkan kelemahan pada
ligamentum-ligamentum, fasia endopelvik, otot-otot dan fasia dasar
panggul ok peningkatan tekanan intra abdominal dan faktor usia.
b. Karena servis uteri terletak diluar vagina akan menggeser celana dalam
dan menjadi ulkus dekubitus.
c. Dapat menjadi SISTOKEL karena kendornya fasia dinding depan vagina
(mis : trauma obstetrik) sehingga vesika urinaria terdorong ke belakang
dan dinding depan vagian terdorong ke belakang.
d. Dapat terjadi URETROKEL, karena uretra ikut dalam penurunan
tersebut. Harus di DD/dengan Difertikulum Uretra, pada Difertikulum
Uretra, uretra dan vesika urinaria normal saja, hanya di belakang uretra
ada lobang yang menuju ke kantong antara uretra dan vagina.
e. Dapat terjadi REKTOKEL, karena kelemahan fasia di dinding belakang
vagina, ok trauma obstetric atau lainnya, sehingga rekrum turun ke depan
dan menyebabkan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan.
f. Dapat terjadi ENTEROKEL, karena suatu hemia dari kavum dauglasi
yang isinya usus halus atau sigmoid dan dinding vagina atas belakang
menonjol ke depan.
g. Sistokel, uretrokel, rektokel, enterokel dan kolpokel disebut prolaps
vagina.
h. Prolaps uteri sering diikuti prolaps vagina, tetapi prolaps vagina dapat
berdiri sendiri.
Gejala Klinis Prolapsus Uteri
Sangat individual dan berbeda-beda, kadang-kadang prolapsus uterinya cukup
berat tapi keluhannya (-) dan sebaliknya. Prolapsus uteri dapat mendadak
seperti nyeri, muntah, kolaps dll (jarang). Keluhan-keluhannnya adalah :

7
a. Terasa ada yang mengganjal/menonjol digenitalia ekstema (vagina atau
perasaan berat pada perut bagian bawah).
b. Riwayat nyeri dipinggang dan panggul yang berkurang atau hilang dengan
berbaring.
Komplikasi Prolapsus Uteri :
a. Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri
b. Dekubitus
c. Hipertropi serviks uteri dan elongasioa koli
d. Gangguan miksi dan stress inkontinensia
e. Infeksi saluran kencing
f. Infertilitas
g. Gangguan partus
h. Hemoroid
i. Inkarserasi usus
C. Kelainan Alat Kandungan dan Penanganannya
1. Kelainan Pada Vulva
Pada aplasia vagina tidak ada vagina dan ditempatnya introitus vagina
dan terdapat cekungan yang agak dangkal atau yang agak dalam.Terapi terdiri
atas pembuatan vagina baru beberapa metode sudah dikembangkan untuk
keperluan itu, operasi ini sebaiknya pada saat wanita Kelainan yang bisa
menyebabkan distosia ialah oedema vulva, stenosis vulva, kelainan bawaan,
varises, hematoma, peradangan, kondiloma akuminata dan fistula.
a. Oedema Vulva
Bisa timbul pada waktu hamil, biasanya sebagai gejala pre eklamsia akan
tetapi dapat pula mempunyai sebab lain misalnya gangguan gizi. Pada
persalinan lama dengan penderita dibiarkan mengedan terus, dapat pula
timbul oedema pada vulva. Kelainan ini umumnya jarang merupakan
rintangan bagi kelahiran per vaginam.
c. Stenosis Vulva

8
Biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang yang menyebabkan
ulkus-ulkus yang sembuh dengan parut-parut yang dapat menimbulakan
kesulitan. Walaupun umumnya dapat diatasi dengan mengadakan episiotomi,
yang cukup luas. Kelainan congenital pada vulva yang menutup sama sekali
hingga hanya orifisium utrethra eksternum tampak dapat pula, terjadi.
Penanganan ini ialah mengadakan sayatan median secukupnya untuk
melahirkan kepala
d. Kelainan Bawaan
Atresia vulva dalam bentuk atresia hymenalis yang menyebabkan
hematokolpos, hematimetra dan atresia vagina dapat menghalangi konsepsi.
e. Varises
Wanita hamil sering mengeluh melebarnya pembuluh darah di tungkai,
vagina, vulva dan wasir. Serta dapat menghilang setelah kelahiran. Hal ini
karena reaksi system vena pembuluh darah seperti otot-otot di tempat lain
melemah akibat hormone estroid. Bahaya varises dalam kehamilan dan
persalinan adalah bila pecah dapat mengakibatkan fatal dan dapat terjadi
pula emboli udara. Varises yang pecah harus dijahit baik dalam kehamilan
maupun setelah lahir.
f. Hematoma
Pembuluh darah pecah sehingga hematoma dijaringan ikat yang renggang
divulva, sekitar vagina atay ligamentum latum. Hematoma vulva dapat juga
terjadi karena trauma misalnya jatuh terduduk pada tempat yang keras atau
koitus kasar. Bila hematoma kecil resorbsi sendiri, bila besar harus insisi dan
bekuan darah dikeluarkan.
g. Peradangan
Peradangan vulva sering bersamaan dengan peradangan vagina dan dapat
terjadi akibat infeksi spesifik, seperti sifilis, gonorea, trikomoniasisSifilis
disebabkan oleh troponema palladium. Luka primer di vulva sering tidak
disadari penderita dalam stadium 2 dijumpai kondiloma akuminata yaitu
tonjolan kulit lebar-lebar dengan permukaan licin, basah, warna putih atau

9
kelabu dan sangat infeksius. Wanita hamil fluor albus harus diperiksa
kemungkinan lues di samping pemeriksaan gonorea, trikomoniasias dan
kandidiasis. Gonorea dapat menyebabkan vulvovaginitis dalam kehamilan
dengan keluhan fluor albus dan disuria. Bayi yang lahir dengan ibu yang
menderita gonorea dapat mengalami blenora neonaturum. Trikomoniasis
vaginalis yang disebabkan parasit golongan protozoa menimbulkan gejala
fluor albus dan gatal. Pasangan pria dapat ditulari melalui persetubuhan dan
sebaliknya dia dapat menulari pasangan wanita. Penularan dapat terjadi juga
melalui handuk.
h. Kondiloma Akuminata
Merupakan pertumbuhan pada kulit selaput lender yang menyerupai jengger
ayam jago. Berlainan dengan kondiloma latum permukaan kasar papiler,
tonjolan lebih tinggi, warnaya lebih gelap. Sebaiknya diobati sebelum
bersalin, banyak penulis menganjurkan insisi dengan ele
i. Fistula
Fistula ktrocavteratau atau dengan tingtura podofilin. Kemungkinan residiv
selalu ada penyebab rangsangan tidak berantas lebih dahulu atau penyakit
primernya kambuh. vesikovaginal atau fistula rectovaginal biasanya terjadi
pada waktu bersalin baik sebagai tindakan operatif maupun akibat nekrosis
tekanan. Tekanan lama antara kepala dan tulang panggul gangguan sirkulasi
sehingga terjadi kematian jaringan local dalam 5-10 hari lepas dan terjadi
lubang. Akibatnya terjadi inkotenensia alvi. Fistula kecil yang tidak disertai
infeksi dapat sembuh dengan sendirinya. Fistula yang sudah tertutup
merupakan kontra indikasi per vaginam. Atresia vulva dalam bentuk atresia
himenalis yang menyebabkan hematokolpos, hematometra dan atresia
vagina dapat menghalangi konsepsi yang berakibat pada kemandulan.
Kelainan vagina yang cukup sering dijumpai dalam kehamilan dan
persalinan adalah septum vagina terutama vertika longitudinal. Septum yang
lengkap sangat jarang menyebabkan distosia karena separoh vagina yang
harus dilewati oleh janin biasanya cukup melebar sewaktu kepala lahir. Akan

10
tetapi septum yang tidak lengkap kadang kadang menghambat turunnya
kepala. Struktur vagina yang kongenital biasanya tidak menghalngi turunnya
kepala, akan tetapi yang disebabkan oleh parut akibat perlukaan dapat
menyebabkan distosia.
2. Kelainan pada Vagina
Pada vagina dapat terjadi  atresia vagina, adanya sekat vagina, dan kista
vagina. Pada atresia vagina terdapat gangguan dalam kanalisasi, sehingga
terbentuk suatu septum yang horizontal. Septum itu dapat ditemukan pada
bagian proksimal vagina, akan tetapi bisa juga pada bagian bawah, diatas
hymen (atresia retrohimenalis). Bila penutupan vagina itu menyeluruh,
menstruasi timbul tetapi darah haid tidak keluar. Terjadilah hematokolpos yang
dapat mengakibatkan hematometra dan hematosalpinks. Bila penutupan vagina
tidak menyeluruh, tidak akan timbul kesulitan, kecuali mungkin pada partus
kala dua.
Kista vagina sebagian besar dijumpai secara kebetulan. Kista vagina
berasal dari sisa duktus Gartner atau duktus Muller. Pada kista vagina yang
tidak terlalu besar tidak memerlukan pengobatan dan dapat dibiarkan serta tidak
akan mengganggu kehidupan rumah tangga. Bila pada saat persalinan terjadi
gangguan penurunan bagian terendah karena kista vagina, kista tersebut dapat
dipungsi sehingga cairannya keluar dan selanjutnya memperlancar proses
persalinannya.
Saluran yang menghubungkan vulva dengan uterus. Jaringan
muskulusnya merupakan kelanjutan dari mukulus sfingterani dan muskulus
levatorani, sehingga dapat dikendalikan. Vagina terletak diantara kandung
kemih dan rectum. Panjang bagian depannya sekitar 9cm, dan belakangnya
11cm. pada dinding terdapat lipatan-lipatan yang disebut ruggae dan terutama
di bagian bawah. Pada puncak vagina terdapat bagian menonjol ke dalam
vagina disebut portio. PH vagina sekitar 4,5 yang bersifat asam, keasaman
vagina memberikan proteksi terhadap kuman. Fungsi utamanya adalah untuk

11
mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi, alat hubungan seks dan jalan
lahir pada waktu persalinan
3. Kelainan Pada Uterus
Merupakan jaringan otot yang kuat, terletak di pelvis minor diantara
kandung kemih dan rectum. Dinding depan, belakang dan atas tertutup
peritoneum, sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih.
Bentuknya seperti bola lampu dan gepeng. Untuk menyangga posisinya uterus
disangga beberapa ligament jaringan ikat dan parametrium. Ukurannya
tergantung dai usia wanita dan paritas. Ukuran anak-anak 2-3cm, nulipara 6-
8cm, multipara 8-9cm. dindingnya terdiri dari 3 lapisan; peritoneum, lapisan
otot dan endometrium.
Secara embriologis uterus, vagina, servik dibentuk dari kedua duktus
muller yang dalam pertumbuhan mudigah mengalami proses penyatuan.
Kelaina bawaan dapat terjadi akibat gangguan dalam penyatuan, dalam
berkembangnya kedua saluaran muller dan dalam kanalisasi.
Uterus didelfis atau uterus duplek terjadi apabila kedua saluaran muller
berkembang sendiri-sendiri tanpa penyatuan sedikitpun sehingga terdapat 2
saluran telur, 2 servik dan 2 vagina.
Uterus subseptus terdiri atas 1 korpus uteri dengan septum yang tidak
lengkap, 1 servik, 1 vagina cavum uteri kanan dan kiri terpisah secara tidak
lengkap.
Uterus arkuatus hanya mempunyai cekungan di fundus uteri, kelainan ini
paling ringan dan sering dijumpai. Uterus bikornis unilateral rudimentarius
terdiri atas 1 uterus dan disampingnya terdapat tanduk lain. Uterus unikornis
terdiri atas 1 uterus, 1 servik yang berkembang dari satu saluran kanan dan
kiri. Kelainan ini dapat menyebabkan abortus, kehamilan ektopik dan kelainan
letak janin.
4. Anteversio uteri
Kelainan letak pada uterus ke depan dijumpai pada perut gantung. Perut
gantung terdapat pada multipara karena melemahnya dinding perut, terutama

12
multipara gemuk, hal ini menghalangi masuknya kepala ke dalam panggul,
pembukaan tidak lancar. Dalam persalinan tidur telentang, setiap ada his fundus
dorong ke atas
5. Retrofleksio uteri
Kadang kadang menyebabkan kemandulan karena kedua tuba tertekuk. Uterus
gravidus yang bertumbuh terus bisa terkurung dalam rongga panggul disebut
retrofleksio uteri gravidi inkarserata. Nasib kehamilan pada retrofleksio uteri
dapat koreksi spontan, abortus, koreksi tidak lengkap, inkrserasi
6. Tumor uterus / Mioma uteri
Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan
1. Mengurangi kemungkinan hamil
2. Kemungkinan abortus bertambah
3. Kelainan letak janin dalam rahim
4. Menghalangi jalan lahir
5. Inersia uteri dan atonia uteri
6. Sulit lepasnya plasenta
Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma :
a. Tumor tumbuh lebih cepat akibat hipertensi dan edema terutama dalam bulan-
bulan pertama, mungkin karena pengaruh hormonal.
b. Tumor menjadi lebih lunak, dapat berubah bentuk dan mudah terjadi gangguan
sirkulasi didalamnya. Tumor tampak merah disebut degenerasi merah atau tampak
seperti daging disebut degenerasi daging
c. Torsi pada mioma subserosum yang bertangkai.Torsi ini dapat menyebabkan
nekrosis dengan gambaran akut abdomen.
Penanganan
Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma. Bila degenerasi
merah maka diambil sikap koservatif dengan istirahat baring dan kontrol yang ketat.
Bila mioma menghalangi jalan lahir harus dilakukan SC. Pengangkatan secepat-
cepatnya setelah 3 bulan postpartum

13
7. Karsinoma servisis uteri
Kanker leher rahim mempunyai pengaruh tidak baik terhadap kehamilan,
persalinan dan nifas. Selain kemandulan, abortus, perdarahan, hambatan
pertumbuhan janin. Apabila penyakit ini tidak diobati pada kira-kira 2/3 diantara
penderita kehamilan dapat mencapai cukup bulan. Kematian janin dapat juga
terjadi.
Pada trisemester I penderita harus segera diobati baik dengan penyinaran
maupun operasi radikal. Pengaobatan dengan sinar rontgen sebanyak 2000 rad
kepada pelvis menyebabkan hasil konsepsi mati dengan akibat abortus.
Pada trisemester II harus segera dilakukan histerotomi untuk mengosongkan
rahim disusul dengan penyinaran dan operasi radikal. Trisemester III untuk
kehamilan yang lebih 36 mg atau lebih segera melakukan seksio sesarea, bila
kurang 36 minggu sedapat dapatnya ditunda sampai janin ditaksir 2500 gram.
Penundaan 1 atau 2 minggu masih dianggap aman.
8. Karsinoma korporis uteri
Hampir tidak memungkinkan hamil. Oleh karena itu kombinasi tumor ini
dengan kehamilan jarang. Terapi dalam kehamilan sama seperti yang tidak hamil
yaitu histerektomi dengan atau tanpa penyinaran sebelum atau sesudahnya.
9. Adneksa
a. Tuba
Telah diketahui bersama bahwa patensi tuba mutlak untuk pembuahan.
Kelainan pada tuba seperti peradangan atau tumor hampir tidak memungkinkan
hamil. Apabila terjadi kehamilan juga akan menghasilkan kehamilan luar
uterus, yang biasanya terganggu pada kehamilan muda.
b. Ovarium
Tumor ovarium baik kecil maupun besar, kistik atau padat, jinak atau ganas
mempunyai arti obstetrik yang lebih penting daripada tumor tumor lain. Dalam
kehamilan tumor ovarium jarang dijumpai, yang paling sering kista dermoid.
Komplikasi yang paling sering dan berbahaya adalah torsi yang menyebabkan
nekrosis jaringan dan infeksi dengan gejala gejala sakit perut mendadak. Kista

14
dapat pecah karena trauma dan pengakhiran persalinan. Pada masa nifas juga
berbahaya karena pengecilan rahim memperbesar kemungkinan torsi.
10. Ploraps Uteri
Prolapsus uteri adalah keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus
genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen, fasia endopelvik
danotot dasar panggul yang menyokong uterus.
Turunya uterus dari tempat biasa disebut desensus uteri atau prolap
uteri. Terbagi dalam 3 tingkat:
a. Tingkat 1 bila servik belum keluar dari vulva
b. Tingkat 2 bila servik sudah keluar vulva tapi corpus belum
c. Tingkat 3 bila korpus uteri sudah berada di luar vulva
Kehamilan dapat terjadi pada prolaps tk 1 dan 2 Uterus dan vagina
dipertahankan posisinya oleh :
a. Tonus otot uterus
b. Ligamen-ligamen yang memfiksasi uterus 
1) Lig kardinale
2) Lig rotundum
3) Lig infundibulopelvikum
4) Lig sakrouterina
c. Fasia endopelvik
d. Otot-otot dasar panggul m levator ani
Etiologi Prolapsus Uteri :
a. Dasar panggul yang lemah, karena kerusakan dasar panggul pada persalinan
yang terlampau sering dengan penyulit seperti ruptura perineum atau oleh
karena usia lanjut.
b. Tarikan pada janin pada pembukaan yang belum lengkap.
c. Ekspresi Crede yang berlebihan pada saat mengeluarkan plasenta.
d. Asites, tumor-tumor di daerah pelvis, batuk yang kronis dan pengejan
(obslipasi atau striktura pada traktus urinarius).

15
e. Relinakulum uteri yang lemah (asteni atau kelainan congenital berupa
kelemahan jaringan penyokong uterus yang sering pada nullipara.
Patologi Prolapsus Genitalis
a. Dengan adanya persalinan yang sulit, menyebabkan kelemahan pada
ligamentum-ligamentum, fasia endopelvik, otot-otot dan fasia dasar panggul
ok peningkatan tekanan intra abdominal dan faktor usia.
b. Karena servis uteri terletak diluar vagina akan menggeser celana dalam dan
menjadi ulkus dekubitus.
c. Dapat menjadi SISTOKEL karena kendornya fasia dinding depan vagina
(mis : trauma obstetrik) sehingga vesika urinaria terdorong ke belakang dan
dinding depan vagian terdorong ke belakang.
d. Dapat terjadi URETROKEL, karena uretra ikut dalam penurunan tersebut.
Harus di DD/dengan Difertikulum Uretra, pada Difertikulum Uretra, uretra
dan vesika urinaria normal saja, hanya di belakang uretra ada lobang yang
menuju ke kantong antara uretra dan vagina.
e. Dapat terjadi REKTOKEL, karena kelemahan fasia di dinding belakang
vagina, ok trauma obstetric atau lainnya, sehingga rekrum turun ke depan
dan menyebabkan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan.
f. Dapat terjadi ENTEROKEL, karena suatu hemia dari kavum dauglasi yang
isinya usus halus atau sigmoid dan dinding vagina atas belakang menonjol
ke depan.
g. Sistokel, uretrokel, rektokel, enterokel dan kolpokel disebut prolaps vagina.
h. Prolaps uteri sering diikuti prolaps vagina, tetapi prolaps vagina dapat berdiri
sendiri.
Gejala Klinis Prolapsus Uteri
Sangat individual dan berbeda-beda, kadang-kadang prolapsus uterinya
cukup berat tapi keluhannya (-) dan sebaliknya. Prolapsus uteri dapat mendadak
seperti nyeri, muntah, kolaps dll (jarang). Keluhan-keluhannnya adalah :
a. Terasa ada yang mengganjal/menonjol digenitalia ekstema (vagina atau
perasaan berat pada perut bagian bawah).

16
b. Riwayat nyeri dipinggang dan panggul yang berkurang atau hilang dengan
berbaring.
Komplikasi Prolapsus Uteri :
a. Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri
b. Dekubitus
c. Hipertropi serviks uteri dan elongasioa koli
d. Gangguan miksi dan stress inkontinensia
e. Infeksi saluran kencing
f. Infertilitas
g. Gangguan partus
h. Hemoroid
i. Inkarserasi usus
Penanganannya
Dalam kehamilan tumor ovarium yang lebih besar telor angsa harus dikeluarkan
karena:
a. Kemungkinan keganasan
b. Kemungkinan torsi
c. Kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetrik yang gawat
Triwulan pertama, pengangkatan tumor sebaiknya ditunda sampai 16 minggu.
Operasi paling baik antara 16-20 mg. Operasi pada kehamilan muda dapat disusul
oleh abortus apabila korpus luteum graviditatis yang menghasilkan prosgesteron ikut
terangkat. Pada kehamilan lebih 16 minggu plasenta sudah terbentuk sehingga fungsi
corpus luteum diambil alih plasenta dan produksi progesteron berlangsung terus, pada
kehamilan > 20 mg teknik lebih sulit sehingga rangsangan mekanis pada uterus sulit
dihindarkan sehingga dapat terjadi partus prematurus.
Bila tumor diketahui pada kehamilan tua dan tidak menyebabkan penyulit
obstetrik atau gejala gejala akut , atau tidak mencurigakan akan mengganas dapat
ditunggu partus spontan. Operasi dapat dilakukan dalam masa nifas. Lain halnya
dengan tumor yang dianggap ganas atau yang disertai gejala-gejala akut. Dalam hal
ini operasi harus segera dilakukan tanpa menghiraukan usia kehamilan.

17
Penanganan Prolapsus Uteri
Penanganan dibagi atas :
Pencegahan
Faktor-faktor yang mempermudah prolapsus uteri dan dengan anjuran :
a. Istirahat yang cukup, hindari kerja yang berat dan melelahkan gizi cukup
b. Pimpin yang benar waktu persalinan, seperti :
1) Tidak mengedan sebelum waktunya
2) Kala II jangan terlalu lama
3) Kandung kemih kosongkan)
4) episiotomi agar dijahit dengan baik
5) Episiolomi jika ada indikasi
6) Bantu kala II dengan FE atau VE
Pengobatan
a. Pengobatan Tanpa Operasi
1) Tidak memuaskan dan hanya bersifat sementara
2) pada prolapsus uteri ringan
3) ingin punya anak lagi
4) menolak untuk dioperasi
5) Keadaan umum pasien tak mengizinkan untuk dioperasi
Caranya :
1) Latihan otot dasar panggul
2) Stimulasi otot dasar panggul dengan alat listrik
3) Pemasangan pesarium
Pengobatan dengan Operasi
a. Operasi Manchester/Manchester-Fothergill
b. Histeraktomi vaginal
c. Kolpoklelsis (operasi Neugebauer-La fort)
d. Operasi-operasi lainnya : Ventrofiksasi/hlsteropeksi

18
Interposisi
Jika Prolaps uteri terjadi pada wanita muda yang masih ingin mempertahankan
fungsi reproduksinya cara yang terbaik adalah dengan :
a. Pemasangan pesarium
b. Ventrofiksasi (bila tak berhasil dengan pemasangan pesarium)

19
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Distosia didefinisikan sebagai persalinan yang panjang, sulit, atau
abnormal yang timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan 5
faktor persalinan. Salah satunya adalah distosia kelainan alat kandungan.
1. Vulva
Kelainan yang bisa menyebabkan distosia ialah oedema vulva, kelainan
bawaan, varises, hematoma, peradangan, kondiloma akuminata, fistula dan
vulvitis diabetika.
2. Vagina
a. Kelainan Vagina (Aplasia vagina)
b. Stenosis Vagina Kongenital
c. Tumor vagina
d. Kista vagina
e. Uterus/Serviks
f. Retroflexio Uteri
g. Prolaps uteri
h. Kelainan Bawaan Uterus
B. SARAN
1. Untuk mahasiswa kebidanan atau tenaga kesehatan
Mahasiswa kebidanan harus bisa berfikir secara kritis dan harus memberi
asuhan kebidanan yang intensif bagi ibu hamil dengan Distosia karena
kelainan alat kandungan.
2. Untuk ibu hamil dengan Distosia karena kelainan alat kandungan
a. Banyak istirahat
b. Mengkonsumsi makanan yang mengandung protein dan akan
mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak.

20
21

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC
Wiknjosastro, Hanifa.2008.Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka
Saifuddin, Abdul Bari.2008.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka
Bagian Obsgyn FK UNPAD.1984.Obstetri Patologis. Bandung: Elstar Offset
http://obstetriginekologi.com/