Anda di halaman 1dari 13

METODE SQUASH PADA SEL TUMBUHAN

(Laporan Praktikum Mikroteknik)

Oleh

Jensa Yuswantoro
1917021036

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2021
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Preparat pejetan atau yang disebut dengan squash preparation merupakan
preparat yang dibuat dengan cara memejet sebuah objek diatas gelas objek atau
kaca preparat dengan menggunakan karet pensil. Preparat pejetan biasanya
digunakan untuk melihat proses mitosis pada akar bawang. Mitosis merupakan
pembelahan sel yang mana sel anakannya memiliki sifat yang sama dengan
induk selnya. Tahapan dalam pembelahan mitosis ialah profase, metafase,
anafase dan telofase (Hidayah, 2012).
Mitosis pada tumbuhan terjadi selama mulai dari 30 menit sampai beberapa
jam dan merupakan bagian dari suatu proses yang berputar dan terus-menerus.
Mitosis terjadi di dalam sel somatik yang bersifat meristematik. Mitosis
biasanya diikuti dengan pembelahan sel yang disebut dengan sitokenesis yang
mana sel akan terpisah menjadi dua. Berdasarkan latar belakang di atas, maka
dilakukan praktikum preparat segar mitosis (Farra, 2013).
Berdasarkan uraian singkat diatas guna menambah wawasan dan pengetahuan
mengenai pembuatan preparat dengan metode squash atau pemijatan pada akar
bawang merah maka dilakukan praktikum ini.

B. Tujuan
Untuk mempelajari cara pembuatan preparat dengan metode
squash/pejetan/remasan
II. TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan mengalami pembelahan sel secara tidak langsung yang disebut juga
dengan mitosis. Mitosis adalah pembelahan duplikasi dimana sel memproduksi
dirinya sendiri dengan jumlah kromosom sel induk. Mitosis mempertahankan
pasangan kromosom yang sama melalui pembelahan inti dari sel somatis secara
berturut turut. Peristiwa ini terjadi bersama-sama dengan pembelahan sitoplasma
dan bahan-bahan di luar inti sel dan memiliki peran penting dalam pertumbuhan
dan perkembangan hampir semua organisme (Hidayah, 2012).
Fase mitosis pada bawang merah terlihat jelas sehingga menjadikan bawang
merah sebagai bahan yang ideal dalam pengamatan mitosis. Bawang merah juga
memiliki kemudahan dalam pembuatan preparatnya. Pengamatan yang dilakukan
ialah teknik squash pada ujung akar bawang merah (Imaniar, dkk., 2014).
Pembuatan sediaan mitosis menggunakan metode squash. Ujung akar tanaman
dipotong dan kemudian dimasukkan ke dalam larutan fiksatif. Ujung akar
tanaman merupakan bahan yang ideal dalam pengamatan pembelahan sel secara
mitosis (Ernawiati, 2007).
Pengamatan ukuran sel ujung akar pada metafase dengan cara mengambil dari
bagian ujung akar yang aktif tumbuh pada tanaman berumur 15 hari sepanjang 1-
1,5 mm dari ujung akar. Preparat dibuat dengan metode squash (pencet) dengan
media gliserin. Metode squash merupakan metode yang biasa digunakan dalam
mengamati proses pada ujung akar (Haryanti, dkk., 2009).
Pertumbuhan akar tidak akan terjadi apabila seluruh tunas dihilangkan atau dalam
keadaan istirahat. Pembelahan sel yang terjadi pada titik tumbuh ujung-ujung akar
tergantung pada prsediaan karbohidrat yang cukup. Pembelahan tersebut dapat
diamati dengan membuat preparat menggunakan metode squash (Hayati, dkk.,
2012).
Akar berperan penting pada saat tanaman merespons kekurangan air dengan cara
mengurangi laju transpirasi untuk menghemat air. Kebutuhan air pada tanaman
dapat terpenuhi dengan adanya penyerapan air oleh akar. Kekurangan air pada
tanaman akan mempengaruhi turgor sel sehingga akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan sel (Farra, 2013).
Kemampuan organisme untuk memproduksi jenisnya merupakan salah satu
karakteristik yang paling bisa membedakan antara makhluk hidup dan makhluk
mati. Kemampuan yang unik untuk menghasilkan keturunan ini, seperti semua
fungsi biologis memiliki dasar seluler (Campbell, dkk.,2008).
Makhluk hidup tingkat tinggi, sel somatik (sel tubuh), kecuali sel kelamin
mengandung satu sel kromosom yang berasal dari induk betina bentuknya serupa
dengan yang berasal dari induk betina. Maka sepasang kromosom tersebut disebut
dengan kromosom homolog. Oleh karena itu jumlah kromosom dalam sel tubuh
dinamakn diploid (2n). Sel kelamin (gamet) hanya mengandung separuh dari
jumlah kromosom yang terdapat dalam sel somatik, karena itu jumlah kromosom
dalam gamet dinamakan haploid (n). Satu sel kromosom haploid dari satu spesies
dinamakan genom (Suryo, 2001).
Setiap makhluk hidup terjadi mulai dari sebuah sel tunggal yang disebut zigot,
akan tetapi perbesaran dan perbanyakan dari sel tunggal itu sangat diperlukan agar
makhluk itu mencapai ukuran yang semestinya. Pembelahan sel lengkap
dibedakan atas dua proses yaitu: pembelahan inti sel (karyokinesis) dan
pembelahan sitoplasma (sitokinesis). Makhluk yang membiak secara seksual
mengenal dua macam pembelahan inti, yaitu pembelahan biasa (mitosis) dan
pembelahan reduksi (meiosis) (Suryo, 2001).
Kromosom adalah suatu struktur makromolekul yang berisi DNA di mana
informasi genetik dalam sel disimpan. Kata kromosom berasal dari kata khroma
yang berarti warna dan soma yang berarti badan Kromosom terdiri atas dua
bagian, yaitu sentromer / kinekthor yang merupakan pusat kromosom berbentuk
bulat dan lengan kromosom yang mengandung kromonema & gen berjumlah dua
buah (sepasang). Sastrosumarjo (2006) menjelaskan bahwa kromosom merupakan
alat transportasi materi genetik (gen atau DNA) yang sebagian besar bersegregasi
menurut hukum Mendel, sedangkan Masitah (2008) menjelaskan bahwa
kromosom adalah susunan beraturan yang mengandung DNA yang berbentuk
seperti rantai panjang. Setiap kromosom dalam genom biasanya dapat dibedakan
satu dengan yang lainnya oleh beberapa kriteria, termasuk panjang relatif
kromosom, posisi suatu struktur yang disebut sentromer yang memberi kromosom
dalam dua tangan yang panjangnya berbeda-beda, kehadiran dan posisi bidang
(area) yang membesar yang disebut knot (tombol) atau kromomer. Selain itu,
adanya perpanjangan arus pada terminal dan material kromatin yang disebut
satelit, dan sebagainya (Ernawiati, 2007).
Proses pertumbuhan tumbuhan berada pada ujung akar dan apeks batang pada
bagian meristem. Proses pembelahan sel dimulai dengan pembelahan intinya dan
selanjutnya terjadi pembelahan sel. Pembelahan sel secara mitosis pembelahan
inti selnya telah didahului dengan terjadinya beberapa perubahan yang sangat
pentingyaitu terbentuknya kromosom dalam inti sel selama berlangsungnya proses
pembelahan tersebut.
Menurut Suryo (2001) fase pada mitosis terdiri dari interfase, profase, metafase,
anafase, dan telofase.
a. Interfase
Interfase atau stadium istirahat dalam siklus sel termasuk fase yang berlangsung
lama karena pada tahap ini berlangsung fungsi metabolisme dan pembentukan dan
sintesis DNA. Maka sebenarnya kurang tepat juga jika dikatan bahwa interfase
merupakan fase istirahat, karena sebenarnya pada fase ini sel bekerja dengan
sangat berat. Interfase dibedakan lagi menjadi tiga fase, yaitu:
b. Profase
Pada fase profase, terjadi pemadatan (kondensasi) dan penebalan kromosom.
kromosom menjadi memendek dan menjadi tebal, bentuknya memanjang dan
letaknya secara random di tengah – tengah sel, terlihat menjadi dua untai kromatid
yang yang letaknya sangat berdekatan dan dihubungkan oleh sebuah sentromer.
Mendekati akhir profase, nukleolus dan membran nukleus menghilang dan
terbentuk benang – benang spindel.
c. Metafase
Pada fase ini, setiap individu kromosom yang telah menjadi dua kromatid
bergerak menuju bidang equator. Benang – benang gelendong melekat pada
sentromer setiap kromosom. Terjadi kondensasi dan penebalan yang maksimal
pada fase ini. Sehingga kromosom terlihat lebih pendek dan tebal dibandingkan
pada fase lainnya. Selain itu, kromosom juga terlihat sejajar di tengah – tengah
equator. Sehingga sangat baik dilakukan analisis kariotipe pada fase ini. Analisis
kariotipe dapat dimanfaatkan untuk:
1) analisis taksonomi yang berhubungan dengan klasifikasi mahluk hidup.
2) analisis galur substitusi dari monosomik atau polisomik, dan
3) untuk studi reorganisasi kromosomal.
d. Anafase
Fase ini dimulai ketika setiap pasang kromatid dari tiap – tiap pasang kromosom
berpisah, masing – masing kromatid bergerak menuju ke kutub yang berlawanan.
Pemisahan ini dimulai dari membelahnya sentromer. Sentromer yang telah
membelah kemudian ditarik oleh benang gelendong ke kutub yang berlawanan
bersama dengan kromatidnya. Pergerakan kromosom ke kutub diikuti pula oleh
bergeraknya organel – organel dan bahan sel lainnya. Ciri khusus yang terlihat
pada saat anafase adalah kromosom terlihat seperti huruf V atau J dengan ujung
yang bersentromer mengarah ke arah kutub. Pada saat ini, jumlah kromosom
menjadi dua kali lipat lebih banyak.
e. Telofase
Pada fase ini, membran nukleus terbentuk kembali, kromosom mulai mengendur
dan nukleolus terlihat kembali. Sel membelah menjadi dua yang diikuti oleh
terbentuknya dinding sel baru yang berasal dari bahan dinding sel yang lama,
retikulum endoplasma, atau bahan baru yang lainnya. Pembelahan ini juga
membagi sitoplasma menjadi dua. Pada akhir dari fase ini, terbentuk dua sel
anakan yang identik dan memiliki jumlah kromosom yang sama dengan tetuanya.
III. METODOLOGI PENELITIAN

Jurnal

Pada praktikum ini saya memperhatikan dan membaca dari jurnal dengan judul
“Pengaruh Jumlah Mata Tunas dan Komposisi Media Tanam terhadap
Pertumbuhan Setek Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.)” yang terdiri
dari Hayati, E. Sabaruddin dan Rahmawati, diterbitkan pada tahun 2012 pada
Jurnal Agrista, 16 (3) halaman : 129-134

Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah botol sampel, erlenmeyer,

tabung ukur, pipet tetes, pipet skala, pinset, silet, kaki tiga, asbes dan penggaris.

Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah akar tanaman bawang

merah Allium cepa, Asam acetat, aquades, alkohol, HCL, acetokarmin, selotip,

dan tissue.

Prosedur kerja
1. Menyediakan semua alat-alat yang akan digunakan di laboratorium dan

membuat larutan-larutan yang diperlukan.

2. Memotong akar Allium cepa sepanjang 0,5 cm.

3. Melakukan fiksasi dengan memakai larutan alkohol dan asam asetat dengan

perbandingan 3:1 selama 1 jam, setelah itu mencucinya 3 kali.


4. Merendam objek ke dalam larutan HCL, kemudian tutup dengan kapas / tissue

dan lakukan pemanasan dengan aquadest selama 8 menit, selama 3 kali.

5. Merendam objek ke dalam acetocarmin 4% selama 3 menit. Setelah itu

mencucinya 3 kali.

6. Meletakkan objek pada objek glass dengan memijat objek.

7. Mengamati objek di bawah mikroskop.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembahasan
Praktikum yang berjudul Pembuatan Preparat Squash ini bertujuan untuk

membuat preparat untuk mengamati pembelahan mitosis pada akar Bawang

Merah Allium cepa dan untuk menghitung jumlah kromosomnya.

Percobaan ini menggunakan tanaman bawang merah karena bawang

merupakan salah satu tanaman yang sangat mudah diamati tahapan mitosisnya

karena bisa langsung diamati dengan bantuan mikroskop dan tahapan

pembelahan selnya dapat terlihat jelas. Bagian yang akan diamati adalah ujung

akar karena pada ujung akar merupakan bagian meristem yang masih

berkembang dengan baik sehingga masih mudah untuk diamati.

Langkah pertama yang kami lakukan adalah mengecambahkan akar Bawang

Merah Allium cepa. Penumbuhan akar dilakukan di dalam gelas plastik yang

berisi air dengan cara menusuk bagian tengah bawang merah secara horizontal

sedemikian rupa sehingga hanya bagian akarnya saja yang menyentuh air dan
ditunggu selama kurang lebih 1 minggu dengan asumsi bahwa akar bawang

sudah muncul.

Setelah selama kurang lebih 1 minggu, akar Bawang Merah Allium cepa telah

muncul. Kamipun mengambil akar Bawang Merah Allium cepa. Selanjutnya

memotong akar Bawang Merah Allium cepa dengan panjang ± 0,5 cm.

Potongan-potongan akar Bawang Merah Allium cepa kemudian difiksasi

dengan larutan alcohol absolute dan asam asetat glacial dengan perbandingan

3: 1. Fiksasi ini dimaksudkan agar kondisi fisiologis potongan akar Bawang

Merah Allium cepa stabil untuk jangka waktu tertentu sama dengan kondisi

saat dipotong. selanjutnya potongan akar Bawang Merah Allium cepa dicuci

menggunakan air sebanyak 3 kali pencucian. Hal ini dimaksudkan supaya

potongan akar Bawang Merah Allium cepa bersih dari bahan fiksatif.

Pencucian menggunakan air dikarenakan bahan fiksatif yaitu alkohol absolut

dan asam asetat glacial larut dalam air. Potongan akar dimasukkan ke dalam 1

ml HCl yang ada dalam botol vlacon sampai terendam. Kemudian ditutup

dengan kapas dan dipanaskan dalam penangas air selama ± 8 menit dengan

suhu 50-60˚ C. Fungsi HCl yaitu untuk melunakkan sel agar mudah disquash

saat pembuatan preparat nantinya. HCl akan melarutkan pectin maupun

selulose yang ada pada dinding sel sehingga sel menjadi lunak. Sedangkan

fungsi pemanasan yaitu untuk mempercepat reaksi pelunakan sel dimana suhu

yang digunakan selama pemanasan yakni berkisar antara 50-60 C yang

merupakan suhu optimal terjadinya reaksi. Jika lebih dari 60 C maka akan

terjadi kerusakan komponen sel sedangkan bila di bawah 50 C maka reaksi

berjalan lambat.Selanjutnya kami mencuci potongan akar sesudah dipanaskan


sebanyak 3 kali pencucian. Hal ini mempunyai fungsi sama dengan pencucian

sebelumnya yakni untuk membersihkan HCl 1ml. Selain itu, pencucian

dimaksudkan agar dalam langkah selanjutnya dalam pewarnaan lebih

sempurna. Langkah berikutnya yaitu mewarnai potongan akar yang telah dicuci

dengan acetocarmin. Pewarnaan dimaksudkan agar sel-sel yang akan diamati

terlihat karena jika tidak diwarnai maka akan transparan sehingga sulit diamati

di bawah mikroskop. Perendaman menggunakan asetocarmin selama 3 menit

dimaksudkan agar proses pewarnaan berjalan sempurna. Penggunaan bahan

pewarna acetocarmin supaya dapat memberi warna pada benang-benang

kromatin. Hal ini berhubungan dengan tujuan pembuatan preparat yaitu untuk

mengamati pembelahan mitosis yang terjadi pada ujung akar Bawang Merah

Allium cepa. Dengan adanya pewarnaan menggunakan acetocarmin, bagian

ujung akar yang aktif membelah akan berwarna lebih tua dibandingkan sel-sel

yang telah terdiferensiasi. Kemudian kami mencuci potongan akar yang telah

diwarnai dengan acetocarmin dengan menggunakan air sebanyak 3 kali

pencucian. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kepekatan bahan pewarna

sehingga pada bagian ujung akar yang akan diamati dapat terlihat, yakni tidak

terlalu pekat karena warna merah dari acetocarmin dan tidak terlalu

transparan.Selanjutnya, ujung akar yang berwarna merah tua dipotong karena

pada bagian inilah terdapat sel-sel yang aktif membelah. Karena aktivitas

pembelahannya maka banyak benang-benang kromatin yang terwarnai oleh

acetocarmin. Bagian ujung akar yang berwarna hitam ini diletakkan pada gelas

benda kemudian ditutup dengan gelas penutup. Langkah terakhir adalah


menekan gelas penutup dengan kuku agar diperoleh lapisan tipis yang mudah

untuk diamati di bawah mikroskop.

Pengamatan kali ini kami tidak dapat melihat kromosom yang terdapat pada

inti sel, hal ini dikarenakan keterbatasan alat yang kami gunakan. Pada

praktikum kali ini, praktikan menyadari bahwa adanya kekurangan dalam

pelaksanaan prosedur, sehingga hasil pengamatan yang praktikan lakukan

kurang maksimal diantaranya : kesalahan pada proses pengerjaan dan

keterbatasan alat serta bahan yang digunakan.

Kelebihan dari metode squash ini yaitu dapat melihat tahap pembelahan

mitosis pada tumbuhan dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama,

tapi dibalik kelebihan terdapat pula kekurangan menggunakan metode squash

yaitu alat serta bahan yang kurang lengkap sehingga tidak dapat membuat

preparat secara maksimal.


V. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan yaitu Metode yang digunakan

untuk membuat preparat ujung akar Bawang Merah Allium cepa yakni metode

squash. Metode ini merupakan metode penekanan pada preparat ujung akar

sehingga diperoleh lapisan tipis preparat yang memudahkan untuk diamati di

bawah mikroskop. Dan diketahui bahwa ada 4 tahapan pada pembelahan mitosis

yaitu profase, metafase, anafase, dan telofase.


DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A., Reece J.B., Michael L.,C., 2008. Biologi jilid 1 edisi kelima.
Erlangga: Jakarta.

Ernawiati, E., 2007, Efek Antimitosis Ekstrak Umbi Kembang Sungsang (Gloriosa
superb Linn.) terhadap Pembelahan Sel Akar Tanaman Cabai Merah
(Capsicum annum L.), Jurnal Sains MIPA, 13 (1) : 35-38.

Farra, 2013. Pembuatan Preparat Mitosis Akar Bawang Merah dan Bawang
Putih. http://ketemukata.wordpress.com. Diakses pada hari selasa, tanggal
17 Maret 2015 pukul 21.00 WITA.

Fransisca, 2012. Pembuatan Preparat Squash. www.fransiscaveni.blogspot.com.


Diakses pada hari selasa, tanggal 17 Maret 2015 pukul 21.00 WITA.

Haryanti, S., Hastuti, R.B., Setiari, N. dan Banowo, A., 2009, Pengaruh Kolkisin
terhadap Pertumbuhan, Ukuran Sel Metafase dan Kandungan Protein Biji
Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata (L) Wilczek), Jurnal Penelitian
sains dan Teknologi, 10 (2) : 112-120.

Hayati, E. Sabaruddin dan Rahmawati, 2012, Pengaruh Jumlah Mata Tunas dan
Komposisi Media Tanam terhadap Pertumbuhan Setek Tanaman Jarak
Pagar (Jatropha Curcas L.), Jurnal Agrista, 16 (3) : 129-134.

Hidayah, 2012. Pembuatan Preparat Squash Akar Bawang.


www.uruzukuyo.blogspot.com. Diakses pada hari selasa, tanggal 17 Maret
2015 pukul 21.00 WITA.

Imaniar, E.F. dan Pharmawati, M., 2014, Kerusakan Kromosom Bawang Merah
(Allium cepa) Akibat Perendaman dengan Etidium Bromida, Jurnal
Simbiosis, 2 (2) : 173-183.

Suryo. 2001. Genetika Manusia. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.