Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

HIPOTERMI

Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal
Dosen Pengampu : Desi Hertati, SST., M.Keb

Disusun Oleh : Kelompok VII

DECSTY MULIYANI NIM 2019.A.10.0796

DERIANTY NIM 2019.A.10.0798

KRISTINA ERNA MAYA YONA NIM 2019.A.10.0808

ROSSANA IRMA WATI NIM 2019.A.10.0822

YAYASAN EKAHARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2021
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
judul“Hipotermi Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal”.Selama mengikuti
pendidikan ini penulis telah banyak mendapat bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terimakasih yang
takterhingga pada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan kepada
penulis. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada yang terhormat :

1. Ibu Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M. Kes Selaku Ketua STIKes Eka Harap
Palangka Raya.
2. Ibu Desi Kumala,SST.,M.Kes Selaku Ketua Prodi DIII Kebidanan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.
3. Ibu Desi Hertati, SST., M.Keb Selaku dosen pengampu Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.
4. Seluruh staf pengajar jurusan DIII Kebidanan sekolah tinggi ilmu kesehatan
eka harap palangka raya yang telah memberikan bimbingan dan ilmu
pengetahuan selamaini.
5. Kepada kedua orang tua dan saudara-saudara saya yang selama ini telah
banyak memberikan dukungan baik secara materi, doa, nasehat, dan
senantiasa memotivasisayai dalam menyelesaikan tugas ini.

i
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN SAMPUL...................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 1
C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 3
A. Definisi Hipotermi ............................................................................... 3
B. Etiologi ................................................................................................ 3
C. Mekanisme Hipotermi.......................................................................... 4
D. Klasifikasi ............................................................................................ 5
E. Jenis-Jenis Hipotermi............................................................................ 5
F. Manifestasi Klinis ................................................................................ 5
G. Respon Tubuh Saat Hipotermi.............................................................. 7
H. Komplikasi............................................................................................ 7
I. Pemeriksaan ......................................................................................... 7
J. Penanganan........................................................................................... 8
K. Terapi Pengahangatan........................................................................... 8
L. Pencegahan........................................................................................... 9
BAB III KESIMPULAN............................................................................... 11
A. Kesimpulan........................................................................................... 11
B. Saran .................................................................................................... 11

Daftar Pustaka................................................................................................ 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipotermia merupakan keadaan dimana terjadi penurunan suhu tubuh
dari batas normal menjadi <35oC atau 95oF secara involunter.
Hipotermia terjadi karenapelepasan panas melalui konduksi, konveksi,
radiasi, atau evaporasi. Lokal cold injurydan frostbite terjadi karena
hipotermia menyebabkan penurunan viskositas darah dan kerusakan
intraseluler (intracellular injury). Hipotermia dapat dikategorikan
sebagaihipotermia ringan (32 –35oC), hipotermia sedang (28 –31oC) dan
hipotermia berat (dibawah 28oC). Gejala yang sering terjadi mulai dari
pusing, menggigil, hingga halusinasi seperti orang yang kesurupan.
Meskipun gejala awal yang terjadi hanya gejala ringan, penyakit ini
banyak menyebabkan kematian. Faktor risiko hipotermia semakin
meningkat pada orang tua, anak –anak, pecandu alkohol dan pendaki
gunung(Setiati, 2014).Pendakian atau mendaki gunung merupakan sebuah
kegiatan outdoor yang dapat dilakukan oleh setiap orang, asalkan memiliki
kemampuan fisik yang memadai. Fenomena mendaki gunung sekarang
tidak hanya dilakukan oleh orang-orang terlatih, tetapi banyak mahasiswa
maupun remaja yang melakukan pendakian tanpa memiliki kemampuan
dan persiapan yang matang hanya untuk sekedar mengikuti tren tanpa
mengetahui risiko yang mungkin terjadi. Kegiatan mendaki gunung ini
memiliki risiko yang mengancam keselamatan fisik maupun jiwa para
pendaki. Untuk meminimalkan risiko tersebut ada beberapa persiapan
yang harus disiapkan guna mencegah terjadinya hipotermia pada saat
pendakian.
B. Rumusan Masalah
Untuk Mengetahui dan bagaimana Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap
Kemampuan Pertolongan Pertama Hipotermia.

1
2

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk Mengetahui Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap
Kemampuan Pertolongan Pertama Hipotermia
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi Definisi Hipotermi
b. Untuk mengidentifikasi Etiologi hipotermi
c. Untuk mengidentifikasi Mekanisme hipotermi
d. Untuk mengidentifikasi Klasifikasi hipotermi
e. Untuk mengidentifikasi jenis-jenis hipotermi
f. Untuk mengidentifikasi Manifestasi Klinis
g. Untuk mengidentifikasi Respon Tubuh saat Hipotermi
h. Untuk mengidentifikasi komplikasi hipotermi
i. Untuk mengidentifikasi pemeriksaan hipotermi
j. Untuk mengidentifikasi penanganan hipotermi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Hipotermi
Hipotermia adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh berada di bawah
35 derajat celcius. Sedangkan Hipotermi menurut Rutter tahun 1999 adalah
suhu inti tubuh dibawah 36 derajat celcius.
Hipotermia adalah penurunan suhu tubuh di bawah 36oC (Dep.Kes. RI,
1994). Bayi dengan suhu badan di bawah normal. Adapun suhu  normal bayi
adalah 36,5-37,5 °C. Suhu normal pada neonatus 36,5-37,5°C (suhu axila).
Hipotermia adalah suatu kondisi di mana inti suhu turun di bawah yang
diperlukan untuk metabolisme dan fungsi tubuh
B. Etiologi
1. Pada Orang Dewasa
Penyebab Hipotermi, yaitu:
a. Yang pasti, ada kontak dengan lingkungan yang dingin.
b. Adanya gangguan atau penyakit yang diderita.
c. Penggunaan obat-obatan (alcohol, barbiturate, phenothiazine, insulin,
steroid, β-blocker.
d. Sepsis, hipotiroid, radang pancreas

2. Pada Bayi
Etiologi Penyebab terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :
a. Jaringan lemak subkutan tipis.
b. Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.
c. Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.
d. BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering
(menggigil) pada reaksi kedinginan.
e. Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang
beresiko tinggi mengalami hipotermi.
Neonatus mudah sekali terkena hipotermi yang disebabkan oleh:
a. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan
sempurna

3
4

b. Permukaan tubuh bayi relatif lebih luas


c. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan
panas
d. Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakainnya agar
dia tidak kedinginan
e. Keadaan yang menimbulkan kehilangan panas yang
berlebihan, seperti lingkungan dingin, basah, atau bayi yang
telanjang,cold linen, selama perjalanan dan beberapa keadaan
seperti mandi, pengambilan sampel darah, pemberian infus,
serta pembedahan. Juga peningkatan aliran udara dan
penguapan.
f. Ketidaksanggupan menahan panas, seperti pada permukaan
tubuh yang relatif luas, kurang lemak, ketidaksanggupan
mengurangi permukaan tubuh, yaitu dengan memfleksikan
tubuh dan tonus otot yang lemah yang mengakibatkan
hilangnya panas yang lebih besar pada BBLR.
g. Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas, seperti
defisiensib ro wn fat, misalnya
h. bayi preterm, kecil masa kelahiran, kerusakan sistem syaraf
pusat sehubungan dengan anoksia, intra kranial hemorrhage,
hipoksia, dan hipoglikemia

C. Mekanisme Hipotermi
Adapun mekanisme tubuh kehilangan panas dapat terjadi secara:
1. Evaporasi adalah jalan utama bayi kehilangan panas. Kehilangan panas
dapat terjadi karena penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh
panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera
dikeringkan. Kehilangan panas juga terjadi pada bayi yang terlalu cepat
dimandikan dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan diselirnuti.
2. Konduksi adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara
tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur atau
timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan
5

menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi


diletakkan di atas benda-benda tersebut.
3. Konveksi adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar
udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di
dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas.
Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi aliran udara dari kipas angin,
hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
4. Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di
dekat benda-benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dan suhu
tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda-
benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak
bersentuhan secara langsung). (Wiknjosastro, 2008 : 124)

D. Klasifikasi
Hipotermi dibedakan atas :
1. stres dingin (36 -36,5 oC)
2. hipotermi sedang (32 -36 oC)
3. hipotermi berat (dibawah 32 oC)
E. Jenis-jenis Hipotermi :
Beberapa jenis hipotermia, yaitu
1. Accidental hypothermia terjadi ketika suhu tubuh inti menurun hingga
<35°c.>
2. Primary accidental hypothermia merupakan hasil dari paparan langsung
terhadap udara dingin pada orang yang sebelumnya sehat.
3. Secondary accidental hypothermia merupakan komplikasi gangguan
sistemik (seluruh tubuh) yan serius. Kebanyakan terjadinya di musim
dingin (salju) dan iklim dingin.

F. Manifestasi Klinis
Menurut tingkat keparahannya, Gejala Klinis hipotermia dibagi menjadi 3 ,
1. Mild atau ringan
a. Sistem saraf pusat: amnesia, apati, terganggunya persepsi halusinasi
6

b. Cardiovaskular: denyut nadi cepat lalu berangsur melambat,


meningkat4nya tekanandarah,
c. Penafasan: nafas cepat lalu berangsur melambat,
d. Saraf dan otot: gemetar, menurunnya kemampuan koordinasi otot
2. Moderate, sedang
a. Sistem saraf pusat: penurunan kesadaran secara berangsur, pelebaran
pupil
b. Cardiovaskular: penurunan denyut nadi secara berangsur
c. Pernafasan: hilangnya reflex jalan nafas(seperti batuk, bersin)
d. Saraf dan otot: menurunnya reflex, berkurangnya respon menggigil,
mulai munculnya kaku tubuh akibat udara dingin
3. Severe, parah
a. Sistem saraf pusat: koma,menurunnya reflex mata(seperti mengdip
b. Cardiovascular: penurunan tekanan darah secara berangsur,
menghilangnya tekanan darah sistolik
c. Pernafasan: menurunnya konsumsi oksigen
d. Saraf dan otot: tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer
Manifestasi Klinis pada bayi :
1. Hipotermia sedang:
a. Kaki teraba dingin
b. Kemampuan menghisap lemah
c. Tangisan lemah
d. Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata
2. Hipotermia berat
a. Sama dengan hipotermia sedang
b. Pernafasan lambat tidak teratur
c. Bunyi jantung lambat
d. Mungkin timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolik
3. Stadium lanjut hipotermia
a. Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
b. Bagian tubuh lainnya pucat
7

c. Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung,


kaki dan tangan
d. (sklerema)

G. Respon Tubuh saat Hipotermi


Apabila terjadi paparan dingin, secara fisiologis tubuh akan memberikan
respon untuk menghasilkan panas berupa :
1. Shivering thermoregulation/ST
Merupakan mekanisme tubuh berupa rnenggigil atau gemetar secara
involuner akibat dari kontraksi otot untuk menghasilkan panas.
2. Non-shivering thermoregulation/NST
Merupakan mekanisrne yang dipengaruhi oleh stimulasi sistem saraf
sirnpatis untuk menstimulasi proses metabolik dengan melakukan oksidasi
terhadap jaringan lemak coklat. Peningkatan metabolisme jaringan lemak
coklat akan meningkatkan produksi panas dan dalam tubuh.
3. Vasokonstriksi perifer
Mekanisme ini juga distimulasi oleh sistern saraf simpatis, kemudian
sistem saraf perifer akan memicu otot sekitar arteriol kulit utuk
berkontraksi sehingga terjadi vasokontriksi. Keadaan ini efektif untuk
mengurangi aliran darah ke jaringan kulit dan mencegah hilangnya panas
yang tidak berguna. (Kosim, 2008 : 92)

H. Komplikasi
a. Radang dingin, atau kematian jaringan

b. Chilblains, atau kerusakan saraf dan pembuluh darah

c. Gangren, atau kerusakan jaringan

d. Trench foot, atau rusaknya saraf dan pembuluh darah akibat terendam air

e. Kematian

I. Pemeriksaan
8

pemeriksaan fisik dengan termometer khusus, yang dapat mengukur suhu


tubuh yang rendah serta mengkonfirmasi diagnosis. Pemeriksaan
penunjang juga dapat dilakukan untuk mendeteksi masalah pada organ
vital, seperti elektrokardiografi, pemeriksaan laboratorium
J. Penanganan
1. Penanganan Pada orang dewasa
2. Penanganan Pada Bayi
a. Bayi baru lahir mengenakan pakaian dan selimut yang disetrika atau
dihangatkan diatas tungku.
b. Menghangatkan bayi dengan lampu pijar 40 sampai 60 watt yang
diletakkan pada jarak setengah meter diatas bayi.
c. Meminta pertolongan kepada petugas kesehatan terdekat.
d. Dirujuk ke rumah sakit
e. Terapi yang bisa diberikan untuk orang dengan kondisi hipotermia,
yaitu jalan nafas harus tetap terjaga juga ketersediaan oksigen yang
cukup
K. Terapi Penghangatan
1. Penghangatan eksternal pasif. Teknik ini merupakan terapi pilihan untuk
hipotermia ringan. Pada teknik ini singkirkan baju basah pasien
kemudian tutupi tubuh pasien dengan selimut atau insulasi lain. Hal ini
akan membatasi pelepasan panas tubuh pasien dan membiarkan tubuh
pasien untuk memproduksi panas tubuh dan meningkatkan suhu inti
tubuh karena pasien dengan hipotermi ringan masih dapat meningkatkan
produksi panas tubuh dengan menggigil.
2. Penghangatan eksternal aktif. Teknik ini digunakan untuk pasien dengan
hipotermia sedang atau untuk pasien yang tidak berespon dengan
penghangatan eksternal pasif. Selimut hangat, mandi air hangat atau
lempeng pemanas digunakan untuk menghangantkan pasien. Selain itu
dapat pula diberikan cairan infuse hangat intravena (suhu 390-400C) atau
oksigen yang dipanaskan (suhu 4200-460C) dan dilembabkan. Komplikasi
yang sering terjadi akibat teknik ini adalah afterdrop atau rewarming
shock. Pada penghangatan eksternal terjadi vasodilatasi perifer dan darah
9

yang dingin dari ekstrimitas kembali ke sirkulasi inti tubuh sehingga


dapat terjadi penurunan tekanan darah dan peningkatan kerja miokardium
yang semula tertekan. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya fibrilasi
ventrikel.
3. Penghangatan internal aktif. Dalam teknik yang digunakan untuk
hipotermia berat ini, pemberian oksigen hangat dan lembab dengan suhu
420 -460C serta cairan infus intavena hangat dengan suhu 43 0C dapat terus
diberikan. Cairan infus intravena yang diberikan adalah cairan NaCl
0,9% atau cairan intravena campuran dekstrosa 5% dalam NaCL 0,9%.

L. Pencegahan
Penanganan hipotermia adalah penstabilan suhu tubuh
dengan menggunakan selimut hangat ( tapi hanya pada bagian dada, untuk
mencegah turunnya tekanan darah secara mendadak ) atau menempatkan
pasien di ruangan yang hangat. Berikan juga minuman hangat ( kalau pasien
dalam kondisi sadar ).
Pencegahannya :  Gejala kedinginan yang lebih parah akan membuat
gerakan tubuh menjadi tidak terkoordinasi, berjalan sempoyongan dan
tersandung-sandung. Pikiran menjadi kacau, bingung, dan pembicaraannya
mulai ngacau. Kulit tubuh terasa sangat dingin bila disentuh, nafas menjadi
pendek dan lamban. Denyut nadi pun menjadi lamban, seringkali menjadi
kram bahkan akhirnya pingsan. Untuk membantu penderita sebaiknya
jangan cepat-cepat menghangatkan korban dengan botol berisikan air panas
atau membaringkan di dekat api atau pemanas. Jangan menggosok-gosok
tubuh penderita. Jika korban pingsan, baringkan dia dalam posisi miring.
Periksa saluran pernafasan, pernafasan dan denyut nadi. Mulailah
pernafasan buatan dari mulut dan menekan dada.
1. Pindahkan ke tempat kering yang teduh. Ganti pakaian basah dengan
pakaian kering yang hangat, selimuti untuk mencegah kedinginan. Jika
tersedia, gunakan bahan tahan angin, seperti alumunium foil atau plastik
untuk perlindungan lebih lanjut. Panas tubuh dari orang lain juga bagus
untuk diberikan, suruh seseorang melepas pakaian, dan berbagi pakai
10

selimut dengan si korban. Jika penderita sadar, berikan minuman hangat


jangan memberikan minuman alkohol. Segeralah cari bantuan medis.
2. Bila kita melakukan kegiatan luar ruangan ( pendakian gunung
khususnya ) pada musim hujan atau di daerah dengan curah hujan tinggi,
harus membawa jas hujan, pakaian hangat ( jaket tahan air dan tahan
angin ) dan pakaian ganti yang berlebih dua tiga stel, serta kaus tangan
dan topi ninja juga sangat penting. Perlengkapan yang tidak kalah
pentingnya adalah sepatu pendakian yang baik dan dapat menutupi
sampai mata kaki, jangan pakai sendal gunung atau bahkan jangan
pakai sendal jepit.
3. Bawa makanan yang cepat dibakar menjadi kalori, seperti gula jawa,
coklat dll. Dalam perjalanan banyak “ngemil” untuk mengganti energi
yang hilang.
4. Bila angin bertiup kencang, maka segeralah memakai perlengkapan
pakaian hangat, seperti jaket dan kaus tangan. Kehilangan panas tubuh
tidak terasa oleh kita, dan tahu-tahu saja kita jatuh sakit.
5. Bila hujan mulai turun bersegeralah memakai jas hujan, jangan
menunggu hujan menjadi deras. Cuaca di gunung tidak dapat diduga.
Hindari pakaian basah kena hujan.
6. Bila merasa dirinya lemah atau kurang kuat dalam tim, sebaiknya terus
terang pada team leader atau anggota seperjalanan yang lebih
pengalaman untuk mengawasi dan membantu bila dirasa perlu.
11
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hipotermi pada bayi baru lahir perlu mendapat perhatian dari para
petugas kesehatan dan khususnya calon ibu yang akan memiliki anak. Mereka
perlu memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara memperlakukan bayi
pertama kali ketika lahir.
Penanganan yang salah terhadap bayi bisa menyebabkan dampak
negatif bagi mereka. Sebagai contoh terjadinya hipotermi pada bayi
disebabkan oleh kebiasaan / perilaku yang salah seperti mengeringkan dan
membersihkan tubuh bayi menunggu setelah plasenta lahir, memandikan bayi
dilakukan segera setelah lahir, membersihkan lemak bayi segera setelah lahir,
memercikkan air hangat / air dingin / air kembang / minyak wangi pada bayi
baru lahir yang tidak menangis (untuk merangsang pernafasan) , mengosok
tubuh bayi dengan minyak kayu putih / obat gosok , bayi baru lahir tidak
segera didekapkan / dipisah /tidak segera disusui oleh ibunya. Semua
kebiasaan diatas justru mengakibatkan penurunan suhu tubuh pada bayi.
Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian
bayi baru lahir. Oleh karena itu para petugas kesehatan harus melakukan
tindakan pencegahan terjadinya hipotermi di tingkat pelayanan dasar.
Sebaiknya para petugas kesehatan memiliki penguasaan dalam mencegah dan
menangani hipotermi pada bayi baru lahir untuk memberikan dampak positif
yang sangat berarti dalam mencegah terjadinya kematian. Begitu pula dengan
ibu, penolong persalinan, dan keluarga di rumah yang bisa dengan mudah
mencegah terjadinya hipotermi.

B. SARAN
1. Upaya pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir dilakukan dengan
benar bila bayi dikeringkan dan melakukan kontak kulit langsung dengan
ibu.

12
13

2. Suhu lingkungan selama dan setelah kelahiran sangat besar pengaruhnya


pada bayi baru lahir. Semakin dingin ruangan semakin besar terjadinya
hipotermi.
3. Cara terbaik mencegah hipotermi adalah mempertahankan tubuh bayi
tetap hangat melalui metode ”kanguru” dan memenuhi kebutuhan
kalorinya dengan memberi ASI sedini mungkin (30 menit setelah bayi
lahir).
4. Pencegahan hipotermi sangat mudah dan dapat dikerjakan dimana saja,
kapan saja, oleh siapa saja yang terlibat dalam persalinan dan perawatan
bayi.
5. Penanganan hipotermi lebih sulit dibandingkan pencagahannya karena
bila bayi mengalami hipotermi berarti keadaannya sangat berbahaya
dengan risiko sakit dan mati meningkat
6. Bayi dengan berat lahir rendah mudah terkena hipotermi karena pusat
pengatur suhu belum berfungsi baik, kehilangan panas melalui
permukaan kepala lebih besar, karena permukaan kepala bayi lebih luas
daripada bagian tubuh lainnya dan lapisan lemak bawah kulit tipis.
14

DAFTARPUSTAKA
DepKes RI, 1992 Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks keluarga. SP : Jakarta
Saifudin Abdul Bahri. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal
neonatal.YBP_SP.Jakarta
JHPIEGO.2003. Panduan pengajar asuhan kebidanan fisiologi bagi dosen
diploma III kebidanan. Buku 5 asuhan bayi baru lahir,Pusdiknakes.Jakarta
Modul Asuhan Persalinan Normal