Anda di halaman 1dari 51

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teori Antenatal Care (ANC)


2.1.1 Definisi Antenatal Care (ANC)
Antenatal Care(ANC) ialah perawatan fisik mental sebelum persalinan atau
masa hamil. ANC bersifat preventif care dan bertujuan mencegah hal-hal yang
9kurang baik bagi ibu dan anak (Purwaningsih & Fatmawati, 2010).
Antenatal Careadalah perawatan yang dilakukan atau diberikan kepada ibu
hamil mulai dari saat awal kehamilan hingga saat persalinan (Rahmatullah,
2016).Antenatal Care(ANC) adalahsuatu pelayanan yang diberikan oleh perawat
kepada ibu hamil, sepertipemantauan kesehatan secara fisik, psikologis, termasuk
pertumbuhan dan perkembangan janin serta mempersiapkan proses persalinan dan
kelahiran supaya ibu siap menghadapi peran baru sebagai orang tua (Wagiyo &
Putrono, 2016).
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan
untuk ibu selama masa kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal
yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Sedangkan tenaga
kesehatan yang berkompetenmemberikan pelayanan antenatal kepada ibu hamil
antara lain dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat (Dinas Kesehatan
Provinsi Bali, 2018)
2.1.2 Tujuan Antenatal Care (ANC)
Tujuan antenatal careuntuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan
atau janin berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini
komplikasi kehamilan.(Kemenkes RI, 2018). Tujuanasuhan keperawatan antenatal
adalah mendeteksi secara dini risiko komplikasi yang mungkin dialami ibu selama
hamil, mencegah komplikasi selama hamil, memantau kesehatan ibu dan janin,
membantu dan memfasilitasi proses adptasi yang terjadi sehingga ibu dapat
beradaptasi dengan perubahan fisik dan peran barunya, menginformasikan
kunjungan ulang, menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan,
menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal (Manurung, Tutiany, &
Suryati, 2011).
2.1.3 Standar Pelayanan Antenatal Care (ANC)
Standar pelayanan antenatal caremeliputi minimal empat kali (anamnesis, dan
pemantauan ibu dan janin dengan seksama), mengenali kehamilan risiko tinggi/
kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, IMS/ infeksi HIV,
memberikan pelayanan imunisasi, nasihat dan penyuluhan kesehatan, serta tugas
terkait lainnyayang diberikan oleh Puskesmas, data tercatat dengan tepat pada
setiap kunjungan, bila di temukan kelainan mampu mengambil tindakan yang
diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya (Runjati, 2011).
Pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikanharussesuai dengan standar dan
memenuhi elemen pelayanan sebagai berikut(Kemenkes RI, 2018):
1) Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.
2) Pengukuran tekanan darah.
3) Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA).
4) Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri).
5) Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid
sesuai status imunisasi.
6) Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.
7) Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).
8) Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan
konseling, termasuk keluarga berencana).
9) Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb),
pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum
pernah dilakukan sebelumnya).
2.1.4 Jadwal kunjungan Asuhan Antenatal
Program pelayanan kesehatan ibu di Indonesia menganjurkanagar ibu hamil
melakukan pemeriksaan kehamilan minimal empatkali selama masa kehamilan.
Pemeriksaan kehamilan sesuaidenganfrekuensi minimal di tiap trimester, yaitu
minimal satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), minimal
satu kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan minimal dua
kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu sampai persalinan)
(Kemenkes RI, 2018).Ibu hamil melakukan kunjungan antenatal careminimal
empatkali yaitu :
1) Kunjungan pertama/K1 (Trimester I)K1 adalahkunjungan pertama ibu hamil
pada masa kehamilan ke pelayanan kesehatan. Pemeriksaan pertama kehamilan
diharapkan dapat menetapkan data dasar yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam rahim dan kesehatan ibu sampai persalinan.
Kegiatan yang dilakukan sebagai berikut: anamnesa, pemeriksaan fisik umum,
pemeriksaan khusus obstetri, penilaian risiko kehamilan, menentukan taksiran
berat badan janin, pemberian imunisasi TT1, KIE pada ibu hamil, penilaian
status gizi, dan pemeriksaan laboratorium(Wagiyo & Putrono, 2016).2)
2) Kunjungan kedua/K2 (Trimester II)Pada masa ini ibu dianjurkan untuk
melakukan kujungan antenatalcareminimal satukali.Pemeriksaan terutama untuk
menilai risiko kehamilan, laju pertumbuhan janin, atau cacat bawaan.Kegiatan
yang dilakukan pada masa ini adalah anamnesis keluhan dan perkembangan
yang dirasakan ibu, pemeriksaan fisik, pemeriksaan USG, penilaian risiko
kehamilan, KIE pada ibu, dan pemberian vitamin (Wagiyo & Putrono, 2016).
3) Kunjungan ketiga dan ke-empat/K3 dan K4 (Trimester III)Pada masa ini
sebaiknya ibu melakukan kunjungan antenatalcaresetiap dua minggu sampai
adanya tanda kelahiran. Pada masa ini dilakukan pemeriksaan: anamnesis
keluhan dan gerakjanin, pemberian imunisasi TT2, pengamatan gerak janin,
pemeriksaan fisik dan obstetri, nasihat senam hamil, penilaian risiko kehamilan,
KIE ibu hamil, pemeriksaan USG, pemeriksaan laboratorium ulang(Wagiyo &
Putrono, 2016)
2.1.5 Konsep anemia
Anemia merupakan suatu keadaan dimana tubuh memiliki jumlah sel darah
merah (eritrosit) yang terlalu sedikit, yang mana sel darah merah itu
mengandung hemoglobin yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh
tubuh. Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit)
dalam tubuh berkurang dari kisaran normal. Anemia juga dapat diartikan
sebagai kurangnya sel darah merah dalam sirkulasi darah atau massa Hb kurang
dari 11 gr%. (Proverawati,2013. Wasdinar, 2007).
2.1.6 Klasifikasi anemia
Tubuh mengalami peningkatan jumlah sel darah 18% sampai 30% dan
hemoglobin sekitar 19%. (Manuba,2010). Hemodelusi ini terjadi karena
meningkatnya jumlah sel darah untuk mengimbangi pertumbuhan janin dalam
rahim, namun pertambahan sel darah merah tidak seimbang dengan peningkatan
volume darah.2.1.4Patofisiologi Anemia adalah suatu kondisi dimana tubuh
kekurangan zat besi dan biasanya terjadi secara bertahap. Adapun beberapa
tahapan-tahapan tersebut: pada stadium 1 Tubuh kehilangan zat besi melebihi
ukuran, yang menghabiskan cadangan zat besi dalam tubuh terutama disumsum
tulang. Stadium 2 Cadangan zat besi dalam tubuh yang berkurang tidak dapat
memenuhi kebutuhan untuk pembentukan sel darah merah yang mengakibatkan
produksi Hb lebih sedikit. Pada stadium 3 terjadi penurunan kadar Hb dan
haematokrit. Stadium 4, tubuh tidak dapat memenuhi kebutuhannya untuk
pembentukan sel darah merah. Maka sumsum tulang belakang akan berusaha
untuk menggantikan kekurangan zat besi tersebut, dengan cara mempercepat
proses pembelahan sel dan menghasilkan sel darah merah baru yang sangat kecil
(Mikrositik). Dan pada Stadium 5, kekurangan zat besi semakin buruk, dan
gejala-gejala anemia akan timbul atau dirasakan. Maka penambahan zat besi
pada ibu hamil sangat diperlukan, untuk memenuhi kebutuhi pembentukan sel
darah pada janin dan plasenta. 2.1.5Klasifikasi Anemia pada Kehamilan
Menurut Proverawat (2009), anemia dalam kehamilan diklasifikasikan menjadi
4 yaitu: Anemia defisiensi besi adalah tubuh yang mengalami kekurangan zat
besi dalam darah. Pengobatan untuk anemia ini dengan pengonsumsian tablet
penambah darah. Anemia megaloblastik ini disebabkan karena tubuh
kekurangan asam folat dan defisiensi vitamain B12, walaupun anmia ini jarang
terjadi. Pada anemia Hipoplastik ini disebabkan oleh sumsum tulang belakang
yang tidak dapat mencukupi sel-sel darah baru. Dan pada anemia Hemolitik ini
dapat disebabkan oleh penghancurah sel darah merah yang terlalu cepat dari
pembuatannya. Dan anemia yang dialami oleh partisan termasuk dalam Anemia
Defisiensi Besi.
2.1.7 Etiologi anemia Menurut Soekarti (2011)
penyebab terjadinya anemia adalah:
2.1.7.1 Pada umumnya masyarakat indonesia (termasuk remaja putri)
lebihbanyak mengkonsumsi makanan nabati yang kandungan zat besinya
sedikit, dibandingkan dengan makanan hewani, sehingga
kebutuhantubuhakan zat besi tidak terpenuhi.
2.1.7.2 Remaja putri biasanya ingin tampil langsing, sehingga membatasiasupan
makanan.
2.1.7.3 Setiap hari manusia kehilangan zat besi 0,6 mg yang diereksi,khususnya
melalui feses (tinja).
2.1.7.4 Remaja putri mengalami haid setiap bulan, sehingga kehilangan
zatbesi+1,3 mg per hari, sehingga kebutuhan zat besi lebih
banyakdaripada pria.
Menurut Handayani dan Haribowo (2008), pada dasarnya gejalaanemia
timbul karena dua hal berikut ini: Anoksia organ target karena berkurangnya
jumlah oksigenyangdapat dibawa oleh darah ke jaringan.Mekanisme
kompensasi tubuh terhadap anemia.
Menurut Ani (2016), anemia gizi besi dapat terjadi karena:
1. Kandungan zat besi dari makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi
kebutuhan.
2. Makanan yang kaya akan kandungan zat besi adalah: makanan
yangberasal dari hewani (seperti ikan, daging, hati dan ayam).
3. Makanan nabti (dari tumbuh-tumbuhan) misalnya: sayuran hijautua, yang
walaupun kaya akan zat besi, namun hanya sedikit yangbisa diserap baik
oleh usus
2.1.8 Patofisiologi Anemia pada Ibu Hamil
Anemia adalah suatu kondisi dimana tubuh kekurangan zat besi dan
biasanya terjadi secara bertahap. Adapun beberapa tahapan-tahapan tersebut:
pada stadium 1 Tubuh kehilangan zat besi melebihi ukuran, yang menghabiskan
cadangan zat besi dalam tubuh terutama disumsum tulang. Stadium 2 Cadangan
zat besi dalam tubuh yang berkurang tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk
pembentukan sel darah merah yang mengakibatkan produksi Hb lebih sedikit.
Pada stadium 3 terjadi penurunan kadar Hb dan haematokrit. Stadium 4, tubuh
tidak dapat memenuhi kebutuhannya untuk pembentukan sel darah merah. Maka
sumsum tulang belakang akan berusaha untuk menggantikan kekurangan zat
besi tersebut, dengan cara mempercepat proses pembelahan sel dan
menghasilkan sel darah merah baru yang sangat kecil (Mikrositik). Dan pada
Stadium 5, kekurangan zat besi semakin buruk, dan gejala-gejala anemia akan
timbul atau dirasakan. Maka penambahan zat besi pada ibu hamil sangat
diperlukan, untuk memenuhi kebutuhi pembentukan sel darah pada janin dan
plasenta.

2.2 Konsep Teori Intranatal Care (INC)


2.2.1 Definisi Intranatal Care (INC)
Persalinan merupakan proses pergerakan keluarnya janin, plasenta, dan
membran dari dalam rahim melalui jalan lahir. Proses ini berawal dari pembukaan
dan dilatasi serviks sebagai akibat kontraksi uterus dengan frekuensi, durasi, dan
kekuatan yang teratur. Mula-mula kekuatan yang muncul kecil, kemudian terus
meningkat sampai pada puncaknya pembukaan serviks lengkap sehingga siap
untuk pengeluaran janin dari rahim ibu (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke
dalam jalan lahir. Persalina dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin
yang terjadi pada kehailan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala, tanpa komplikasi baik ibu maupun janin (Asri &
Clervo, 2014).
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa persalinan adalah proses
pengeluaran hasil konsepsi berupa janin, plasenta, dan membran dari dalam rahim
melalui jalan lahir.
2.2.2 Lima Benang Merah dalam Asuhan Persalinan Normal
Ada lima aspek dasar, atau lima benang merah, yang penting dan saling terkait
dalam asuhan persalinan normal yang bersih dan aman, termasuk Inisiasi Menyusu
Dini dan beberapa hal yang wajib dilaksanakan bidan yaitu:
2.2.2.1 Aspek Pengambilan Keputusan Klinik Membuat keputusan klinik adalah
proses pemecahan masalah yang digunakan untuk merencanakan asuhan
bagi ibu dan bayi baru lahir. Hal ini merupakan proses sistematik dalam
mengumpulkan data, mengidentifkasi masalah, membuat diagnosis kerja
atau membuat rencana tindakan yang sesuai dengan diagnosis,
melaksanakan rencana tindakan dan akhirnya mengevaluasi hasil asuhan
atau tindakan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayi baru lahir
(GAVI, 2015).
2.2.2.2 Asuhan Sayang Ibu dan Bayi Asuhan sayang ibu dan bayi adalah asuhan
dengan prinsip saling menghargai budaya, kepercayaan, dan keinginan sang
ibu. Tujuan asuhan sayang ibu dan bayi adalah memberikan rasa nyaman
pada ibu dalam proses persalinan dan pada masa pasca persalinan. Salah
satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah mengikutsertakan suami dan
keluarga untuk memberi dukungan selama proses persalinan dan kelahiran
bayi. Asuhan tersebut bisa mengurangi jumlah persalinan dengan tindakan
(GAVI, 2015).
2.2.2.3 Pencegahan Infeksi Pencegahan Infeksi mutlak dilakukan pada setiap
melaksanakan pertolongan persalinan, hal ini tidak hanya bertujuan
melindungi ibu dan bayi dari infeksi atau sepsis namun juga melindungi
penolong persalinan dan orang sekitar ataupun yang terlibat dari terkenanya
infeksi yang tidak sengaja. Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah
dari komponenkomponen lain dalam asuhan sebelum persalinan, selama
dan setelah persalinan dan kelahiran bayi. Tindakan ini harus diterapkan
dalam setiap aspek asuhan untuk melindungiibu, bayi baru lahir, keluarga,
penolong persalinan dan tena ga kesehatan dari infeksi bakteri, virus dan
jamur (GAVI, 2015).
Dilakukan pula upaya untuk menurunkan risiko penularan penyakitpenyakit
berbahaya yang hingga kini belum ditemukan pengobatannya seperti Hepatitis dan HIV
(GAVI, 2015).
1. Prinsip-Prinsip Pencegahan Infeksi
a. Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus dianggap dapat
menularkan karena penyakit yang disebabkan infeksi dapat bersifat asimptomatik
(tanpa gejala).
b. Setiap orang harus dianggap berisiko terkena infeksi.
c. Permukaan benda di sekitar kita, peralatan dan benda-benda lainnya yang akan dan
telah bersentuhan dengan permukaan kulit yang tidak utuh, lecet selaput mukosa
atau darah harus dianggap terkontaminasi hingga setelah digunakan harus diproses
secara benar. Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya
telah diproses dengan benar maka semua itu harus dianggap masih terkontaminasi.
d. Risiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total tapi dapat dikurangi hingga
sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan Infeksi secara
benar dan konsisten (GAVI, 2015).
2. Pencegahan Infeksi pada Asuhan Persalinan Normal Hal-hal yang harus dilaksanakan
dalam pertolongan persalinan adalah pedoman pencegahan infeksi yang terdiri dari
Cuci Tangan, Memakai Sarung Tangan, Perlindungan Diri, Penggunaan Antiseptik
dan Desinfektan, Pemrosesan Alat, penanganan peralatan tajam, pembuangan sampah,
kebersihan lingkungan (GAVI, 2015).
2.2.2.4 Pencatatan SOAP dan Partograf Pendokumentasian adalah bagian penting dari
proses membuat keputusan klinik dalam memberikan asuhan yang diberikan
selama proses persalinan dan kelahiran bayi (GAVI, 2015).
Pendokumentasian SOAP dalam persalinan:
1. Pencatatan selama fase laten kala I persalinan.
2. Dicatat dalam SOAP pertama dilanjutkan dilembar berikutnya.
3. Observasi denyut jantung janin, his, nadi setiap 30 menit.
4. Observasi pembukaan, penurunan bagian terendah, tekanan darah, suhu setiap 4 jam
kecuali ada indikasi (GAVI, 2015). Partograf merupakan alat untuk memantau
kemajuan persalinan yang dimulai sejak fase aktif (Mutmainah, Johan & Llyod,
2017).
2.2.2.5 Rujukan Sistem Rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan
yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbale balik atas
masalah yang timbul baik secara vertical maupun horizontal ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang lebih kompeten (Purwoastuti dan Walyani, 2015). Rujukan ada 2 jenis
yaitu rujukan medic dan rujukan kesehatan. Rujukan medic antara lain transfer of
patient (konsultasi penderita untuk keperluan diagnostic, pengobatan dan tindakan
operatif), transfer of specimen (pengiriman specimen untuk pemeriksaan laboratorium
yang lebih lengkap), transfer of knowledge (pengiriman tenaga yang lebih kompeten
atau ahli untuk meingkatkan mutu pelayanan setempat). Rujukan kesehatan adalah
hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan ke fasilitasyang lebih mapu dan
lengkap (Purwoastuti dan Walyani,2015).
2.2.3 Sebab – Sebab Mulainya Persalinan
2.2.3.1 Teori Keregangan Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas
tertentu, setelah melewati batas tertentu, maka akan terjadi kontraksi sehingga
persalinan dapat dimulai (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
2.2.3.2 Teori Penurunan Progesteron Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur kehamilan
28 minggu, di mana terjadi penimbunan jaringan ikat sehingga pembuluh darah
mengalami penyempitan dan buntu. Produksi progesteron mengalami penurunan
sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap oksitosin akibatnya, otot rahim mulai
berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesteron tertentu (Rohani, Saswita,
& Marisah, 2014).
2.2.3.3 Teori Oksitosin Internal Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis pars posterior.
Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot
rahim sehingga sering terjadi kontraksi Braxton Hicks. Menurunnya konsentrasi
progesteron akibat tuanya usia kehamilan menyebabkan oksitosin meningkatkan
aktivitas sehingga persalinan dimulai (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
2.2.3.4 Teori iritasi mekanik Dibelakang serviks terdapat ganglion servikale. Bila ganglion
ini digeser atau ditekan oleh kepala janin akan menimbulkan kontraksi (Mutmainah,
Johan & Llyod, 2017).
2.2.3.5 Teori Prostaglandin Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15
minggu, yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat
menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga konsepsi dapat dikeluarkan.
Prostaglandin dianggap sebagai pemicu terjadinya persalinan (Rohani, Saswita, &
Marisah, 2014)
2.2.4 Tahapan Persalinan
2.2.4.1 Kala I (Kala Pembukaan) Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah
karena serviks mulai membuka dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya pembuluh
darah kapiler sekitar kanalis servikalis karena pergeseran-pergeseran, ketika serviks
mendatar dan membuka (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014). Kala I persalinan
dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks, sehingga mencapai
pembukaan lengkap (10 cm).
Persalinan kala I dibagi menjadi dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif (Rohani,
Saswita, & Marisah, 2014).
1. Fase laten, di mana pembukaan serviks berlangsung lambat dimulai sejak awal
kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan secara bertahap sampai
pembukaan 3 cm, berlangsung dalam 7-8 jam (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014)
2. Fase aktif (pembukaan serviks 4-10 cm), berlangsung selama 6 jam dan dibagi
dalam 3 subfase.
a. Periode akselerasi: berlangsung selama 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
b. Periode dilatasi maksimal : berlangsung selama 2 jam, pembukaan
berlangsung cepat menjadi 9 cm.
c. Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam 2 jam pembukaan jadi 10 cm
atau lengkap (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
Pada fase aktif persalinan, frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya
meningkat (kontraksi dianggap adekuat jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10
menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih) dan terjadi penurunan bagian
terbawah janin. Berdasarkan kurve Friedman, diperhitungkan pembukaan
primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam. Mekanisme
membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada
primigravida, ostium uteri internum akan membuka lebih dulu, sehingga serviks akan
mendatar dan menipis, kemudian ostium internum sudah sedikit terbuka. Ostium uteri
internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran servkas terjadi dalam waktu
yang sama (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
2.2.4.2 Kala II (Kala Pengeluaran Janin) Kala II persalinan dimulai ketika pembukaan serviks
sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II pada primipara
berlangsung selama 2 jam dan pada multipara 1 jam (Rohani, Saswita, & Marisah,
2014). Tanda dan gejala kala II yaitu his semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3
menit, ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi, ibu
merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan/atau vagina, perineum
terlihat menonjol, vulvavagina dan sfingter ani terlihat membuka, peningkatan
pengeluaran lendir dan darah (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014). Diagnosa kala II
ditegakkan atas dasar pemeriksaan dalam yang menunjukkan pembukaan serviks telah
lengkap, terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina (Rohani, Saswita, &
Marisah, 2014).
2.2.4.3 Kala III Kala III persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya
plasenta dan selaput ketuban. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah
bayi lahir (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
2.2.4.4 Kala IV (Kala Pengawasan) Kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir
dua jam setelah proses tersebut (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
2.2.5 Tujuan Asuhan Persalinan
2.2.5.1 Persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan, dalam upaya
mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman dengan memperhatikan aspek
sayang ibu dan sayang bayi (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014)
2.2.5.2 Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan hidup dan
memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya yang
terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar
prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal
(Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
2.2.5.3 Setiap intervensi yang akan diaplikasikan dalam asuhan persalinan normal harus
mempunyai alasan dan bukti ilmiah yang kuat tentang manfaat intervensi tersebut
bagi kemajuan dan keberhasilan proses persalinan (Rohani, Saswita, & Marisah,
2014).
2.2.6 Tanda – Tanda Persalinan
Menurut Oktariana (2016) tanda-Tanda Persalinan Sudah Dekat yaitu :
2.2.6.1 Tanda Lightening Menjelang minggu ke 36, tanda primigravida terjadi
penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul
yang disebabkan : kontraksi Braxton His, ketegangan dinding perut,
ketegangan ligamnetum Rotundum, dan gaya berat janin dimana kepala ke
arah bawah. Masuknya bayi ke pintu atas panggul menyebabkan ibu
merasakan ringan dibagian atas dan rasa sesaknya berkurang, bagian bawah
perut ibu terasa penuh dan mengganjal, terjadinya kesulitan saat berjalan,
sering kencing (follaksuria).
2.2.6.2 Terjadinya His Permulaan Makin tua kehamilam, pengeluaran estrogen dan
progesteron makin berkurang sehingga produksi oksitosin meningkat, dengan
demikian dapat menimbulkan kontraksi yang lebih sering, his permulaan ini
lebih sering diistilahkan sebagai his palsu. Sifat his palsu antara lain rasa nyeri
ringan dibagian bawah, datangnya tidak teratur, tidak ada perubahan pada
serviks atau tidak ada tanda-tanda kemajuan persalinan, urasinya pendek, tidak
bertambah bila beraktivitas.
Tanda-Tanda Timbulnya Persalinan (Inpartu)
1. Timbul rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan
teratur.
2. Keluar lendir bercampur darah (bloody show) yang lebih banyak karena
robekan kecil pada serviks. Sumbatan mukus yang berasal dari sekresi
servikal dari proliferasi kelenjar mukosa servikal pada awal kehamilan,
berperan sebagai barier protektif dan menutup servikal selama kehamilan.
Bloody show adalah pengeluaran dari mukus.
3. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya. Pemecahan membran
yang normal terjadi pada kala I persalinan.
4. Pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan pada serviks, frekuensi
minimal 2 kali dalam 10 menit.
2.2.7 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
2.2.7.1 Passage (Jalan Lahir) Jalan lahir ibu terdiri atas 2 bagian yaitu bagian keras
(tulang panggul) dan bagian lunak (uterus, otot dasar panggul dan perineum).
Panggul tersusun dari 4 buah tulang yaitu 2 buah tulang oscocsae, 1 tulang os
sacrum, 1 tulang os cocsigis (Rohani, Saswita & Marisah, 2014).
Menurut Walyani dan Purwoastuti (2016) Bidang Hodge adalah bidang semu
sebagai pedoman untuk menentukan kema juan persalinan yaitu seberapa jauh
penurunan kepala melalui pemeriksaan dalam (Vagina Toucher). Bidang
hodge terbagi menjadi empat yaitu :
1. Bidang Hodge I : bidang setinggi pintu atas panggul yang dibentuk oleh
promontorium, artikulasio sakro iliaka, sayap sacrum, linea inominata,
ramus superior os pubis, tepi atas simpisis.
2. Bidang Hodge II : setinggi pintu bawah simpisis pubis, sejajar dengan
bidang hodge I.
3. Bidang Hodge III : bidang setinggi spina ischiadica, sejajar dengan hodge I
dan hodge II.
4. Bidang Hodge IV : bidang setinggi os kogsigis, sejajar dengan hodge I, II
dan III.
2.2.7.2 Power (tenaga/kekuatan) Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan
adalah his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari
ligamen. Kekuatan primer yang diperlukan dalam persalinan adalah his,
sedangkan sebagai kekuatan sekundernya adalah tenaga meneran ibu (Rohani,
Saswita, & Marisah, 2014). His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos
dinding uterus yang di mulai dari daerah fundus uteri dimana tuba falopi
memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari ‘‘pacemaker’’
yang terdapat dari dinding uterus daerah tersebut.
Waktu kontraksi, otot-otot polos rahim bekerja dengan baik dan sempurna
memiliki sifat kontraksi simetris, fundus dominan, relaksasi (Rohani, Saswita,
& Marisah, 2014).
1. His Pembukaan kala I
a. His pembukaan serviks sampai terjadi pembukaan lengkap 10 cm.
b. Mulai makin, teratur dan sakit.
2. His Pengeluaran atau His Mengejan (kala II)
a. Sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinasi dan lama
b. His untuk mengeluarkan janin
c. Koordinasi bersama antara his kontraksi otot perut, kontraksi
diafragma dan ligamen.
3. His Pelepasan Uri (kala III) Kontraksi sedang untuk melepaskan dan
melahirkan plasenta (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
4. His Pengiring (kala IV) Kontraksi lemah, masih sedikit nyeri (meriang)
pengecilan rahim dalam beberapa jam atau hari (Walyani & Purwoastuti,
2016).
2.2.7.3 Passenger Cara penumpang (passenger) atau janin bergerak disepanjang jalan
lahir merupakan akibat interaksi beberapa factor yaitu ukuran kepala janin,
presetasi, letak, sikap dan posisi janin. Plasenta juga harus melalui jalan lahir
ia juga dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin. Waktu persalinan,
air ketuban membuka serviks dengan mendorong selaput janin ke dalam
ostium uteri. Bagian selaput janin di atas ostium uteri yang menonjol waktu
terjadi his disebut ketuban. Ketuban inilahyang membuka serviks (Rohani,
Saswita & Marisah, 2014).
2.2.7.4 Psikis Banyak wanita normal bisa merasakan kegairahan dan kegembiraan
disaat mereka merasa kesakitan awal menjelang kelahiran bayinya. Perasaan
positif ini berupa kelegaan hati, seolah-olah pada saat itulah benar-benar
terjadi realitas kewanitaan sejati yaitu munculnya rasa bangga bisa melahirkan
anak (Rohani, Saswita & Marisah,2014). Faktor psikologis meliputi
melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual, pengalaman
melahirkan sebelumnya, kebiaasaan adat, dukungan dari orang terdekat pada
kehidupan ibu (Rohani, Saswita & Marisah,2014).
2.2.7.5 Penolong Menurut Rohani, Saswita dan Marisah (2014), peran dari penolong
persalinan adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin
terjadi pada ibu dan janin dala hal ini tergantung dari kemampuan dan
kesiapan penolong dalam mengahadapi persalinan.
2.2.8 Perubahan Dan Adaptasi Fisiologi Psikologis Pada Ibu Bersalin
2.2.8.1 Kala I Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kala
1. Tekanan Darah Tekanan darah meningkat selama terjadinya kontraksi
(sistol ratarata naik) 10-20 mmHg, diastolik naik 5-10 mmHg. Antara
kontraksi, tekanan darah kembali seperti saat sebelum persalinan. Rasa
sakit, takut, dan cemas juga akan meningkatkan tekanan darah (Rohani,
Saswita, & Marisah, 2014).
2. Metabolisme Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob akan meningkat
secara berangsur-angsur disebabkan karena kecemasan dan aktivitas otot
skeletal, penigkatan ini ditandai dengan adanya peningkatan suhu tubuh,
denyut nadi, curah jantung (cardiac output), pernapasan, dan kehilangan
cairan (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
3. Suhu Tubuh Suhu tubuh sedikit meningkat oleh karena adanya
peningkatan metabolisme selama persalinan. Selama da setelah persalinan
akan terjadi peningkatan, jaga agar peningkatan suhu tidak lebih dari 0,5-1
0C (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
4. Detak Jantung Berhubungan dengan peningkatan metabolisme, detak
jantung akan meningkat secara dramatis selama kontraksi (Rohani,
Saswita, & Marisah, 2014).
5. Pernapasan Laju pernapasan terjadi sedikit peningkatan oleh karena
terjadinya peningkatan metabolisme yang dianggap normal, hiperventilasi
yang lama dianggap tidak normal dan bisa menyebabkan alkalosis
(Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
6. Ginjal Poliuri sering terjadi selama proses persalinan, mungkin
dikarenakan adanya peningkatan cardiac output, peningkatan filtrasi
glomerulus, dan peningkatan aliran plasma ginjal. Proteinuria yang sedikit
dianggap normal dalam persalinan (Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
7. Gastrointestinal Motilitas lambung dan absorpsi makanan padat secara
substansi berkurang sangat banyak selama persalinan. Selain itu,
berkurangnya pengeluaran getah lambung menyebabkan aktivitas
pencegahan hampir berhenti dan pengosongan lambung menjadi sangat
lambat, cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut dalam waktu
biasa. Mual dan muntah bisa terjadi sampai ibu mencapai persalinan kala I
(Rohani, Saswita, & Marisah, 2014).
8. Hematologi Haemoglobin meningkat sampai 1,2gr/100 ml selama
persalinan dan akan kembali sebelum persalinan sehari pascapersalinan,
kecuali terdapat perdarahan postpartum (Rohani, Saswita, & Marisah,
2014).
2.2.8.2 Kala II Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kala II
1. Kontraksi His pada kala II menjadi lebih terkoordinasi, lebih lama (25
menit), lebih cepat kira-kira 2-3 menit sekali. Sifat kontraksi uterus
simetris, fundus dominan, diikuti relaksasi (Rohani, Saswita, & Marisah,
2014).
2. Pergeseran organ dalam panggul Organ-organ yang ada dalam panggul
adalah vesika urinaria, dua ereter, kolon, uterus, rektum, tuba uterina,
uretra, vagina, anus, perineum, dan labia. Pada saat persalinan,
peningkatan hormon relaksin menyebabkan peningkatan mobilitas sendi,
dan kolagen menjadi lunak sehingga terjadi relaksasi panggul. Hormon
relaksin dihasilkan oleh korpus luteum. Karena adanya kontraksi, kepala
janin yang sudah masuk ruang panggul menekan otot-otot dasar panggul
sehingga terjadi tekanan pada rektum dan secara refleks menimbulkan rasa
ingin mengejan, anus membuka, labia membuka, perineum menonjol, dan
tidak lama kemudian kepala tampak di vulva pada saat his (Rohani,
Saswita, & Marisah, 2014).
3. Ekspulsi janin Ada beberapa tanda dan gejala kala II persalinan, yaitu
sebagai berikut:
a. Ibu merasa ingin mengejan bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
b. Ibu merasakan peningkatan tekanan pada rektum dan vaginanya.
c. Perineum terlihat menonjol.
d. Vulva vagina dan sfingter ani terlihat membuka.
e. Peningkatan pengeluaran lendir dan darah (Rohani, Saswita, &
Marisah, 2014)
2.2.8.3 Kala III Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kala III yaitu : Perubahan fisiologi
kala III, otot uterus menyebabkan berkurangnya ukuran rongga uterus secara
tiba-tiba setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran rongga uterus ini
menyebabkan implantasi plasenta karena tempat implantasi menjadi semakin
kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah. Oleh karena itu plasenta akan
menekuk, menebal, kemudian terlepas dari dinding uterus. Setelah lepas,
plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina (Rohani,
Saswita, & Marisah, 2014).
2.2.8.4 Kala IV Perubahan dan Adaptasi Fisiologis Kala IV yaitu Selama 10-45 menit
berikutnya setelah kelahiran bayi, uterus berkontraksi menjadi ukuran sangat
kecil yang mengakibatkan pemisahan antara dinding uterus dan plasenta, di
mana nantinya akan memisahkan plasenta dari tempat lekatnya. Pelepasan
plasenta membuka sinus-sinus plasenta dan menyebabkan perdarahan. Akan
tetapi, dibatasi sampai rata-rata 350 ml oleh mekanisme sebagai berikut:
serabut otot polos uterus tersusun berbentuk angka delapan mengelilingi
pembuluh-pembuluh darah ketika pembuluh darah tersebut melalui dinding
uterus. Oleh karena itu, kontraksi uterus setelah persalinan bayi menyempitkan
pembuluh darah yang sebelumnya menyuplai darah ke plasenta (Rohani,
Saswita, & Marisah, 2014).
2.2.9 Deteksi Dan Penapisan Awa Ibu Bersalin
Penapisan ibu bersalin merupakan deteksi kemungkinan terjadinya komplikasi
gawat darurat, yaitu ada/tidaknya:
2.2.9.1 Riwayat bedah sesar
2.2.9.2 Perdarahan pervaginam
2.2.9.3 Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
2.2.9.4 Ketuban pecah dengan mekoneum yang kental
2.2.9.5 Ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam)
2.2.9.6 Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (kurang dari 37 minggu)
2.2.9.7 Ikterus
2.2.9.8 Anemia berat
2.2.9.9 Tanda/gejala infeksi
2.2.9.10 Hipertensi dalam kehamilan/preeclampsia
2.2.9.11 Tinggi fundus uteri 40 cm atau lebih
2.2.9.12 Gawat janin
2.2.9.13 Primipara dalam fase aktif persalinan dengan palpasi kepala janin masih
5/5.
2.2.9.14 Presentasi bukan belakang kepala
2.2.9.15 Presentasi majemuk
2.2.9.16 Kehamlan gemelli
2.2.9.17 Tali pusat menumbung
2.2.9.18 Syok
2.2.9.19 Penyakit-penyakit penyerta
2.3 Konsep teori postnatal
2.3.1 Definisi Postnatal Care (PNC)
Nifas merupakan sebuah fase setelah ibu melahirkan dengan rentang waktu
kira-kira selama 6 minggu. Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta
keluar sampai alat-alat kandungan kembali normal seperti sebelum hamil (Asih &
Risneni, 2016).
Masa Nifas (puerperium) adalah masa setelah keluarnya pasenta sampai alat-
alat reproduksi pulih seperti sebelum hamil dan secara normal masa nifas
berlangsung selama 6 minggu atau 40 hari (Walyani & Purwoastuti, 2015).
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpukan bahwa masa nifas adalah masa
pulihnya kembali organ reproduksi setelah melahirkan seperti sebelum hamil dan
membutuhkan waktu selama 6 minggu atau 40 hari.

2.3.2 Tujuan Asuhan Masa Nifas


Menurut Asih & Risneni (2016), asuhan yang diberikan kepada ibu nifas bertujuan
untuk:
2.3.2.1 Memulihkan kesehatan klien
1. Menyediakan nutrisi sesuai kebutuhan.
2. Mengatasi anemia.
3. Mencegah infeksi dengan memperhatikan kebersihan dan sterilisasi.
4. Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot (senam nifas)
untuk memperlancar peredaran darah.
2.3.2.2 Mempertahankan kesehatan fisik dan psikologis.
2.3.2.3 Mencegah infeksi dan psikologis.
2.3.2.4 Memperlancar pembentukan dan pemberian ASI.
2.3.2.5 Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa
nifas selesai dan memelihara bayi dengan baik, sehingga bayi dapat
mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
2.3.2.6 Memberikan pendidikan kesehatan dan memastikan pemahaman serta
kepentingan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan
manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehat pada
ibu dan keluarganya melalui KIE.
2.3.2.7 Memberikan pelayanan keluarga berencana
2.3.3 Peran Dan Tanggung jawab Bidan Masa Nifas
Setelah proses persalinan selesai bukan berarti tugas dan tanggung jawab seorang
bidan terhenti, karena asuhan kepada ibu harus dilakukan secara komprehensif dan
terus menerus, artinya selama masa kurun reproduksi seorang wanita harus
mendapatkan asuhan yang berkualitas dan standar, salah satu asuhan
berkesinambungan adalah asuhan ibu selama masa nifas, bidan mempunyai peran
dan tanggung jawab antara lain:
2.3.3.1 Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai
dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis
selama masa nifas (Asih & Risneni, 2016).
2.3.3.2 Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga (Asih &
Risneni, 2016).
2.3.3.3 Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa
nyaman (Asih & Risneni, 2016).
2.3.3.4 Membuat kebijakan, perencanaan program kesehatan yang berkaitan
dengan kesehatan ibu dan anak, serta mampu melakukan kegiatan
administrasi (Asih & Risneni, 2016).
2.3.3.5 Mendeteksi komplikasi dan perluhnya rujukan (Asih & Risneni, 2016).
2.3.3.6 Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara
mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang
baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman (Asih & Risneni, 2016).
2.3.3.7 Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk
mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi
kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas (Asih & Risneni, 2016).
2.3.4 Tahapan Masa Nifas
Masa nifas dibagi dalam 3 tahap, yaitu puerperium dini (immediate puerperium),
puerperium intermedial (early puerperium), dan remote puerperium (later
puerperium). Adapun penjelasannya sebagai berikut :
2.3.4.1 Puerpenium dini (immediate puerperium), yaitu suatu masa kepulihan dimana
ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan (waktu 024 jam
postpartum).
2.3.4.2 Puerpenium intermedial (early puerperium), suatu masa dimana kepulihan dari
organ-organ reproduksi secara menyeluruh selama kurang lebih 6-8 minggu.
2.3.4.3 Remote puerpenium (late puerperium), waktu yang diperlukan untuk pulih dan
sehat kembali dalam keadaan sempurna secara bertahap terutama jika selama
masa kehamilan dan persalinan ibu mengalami komplikasi, waktu untuk sehat
bisa berminggu-minggu, bulan bahkan tahun (Walyani & Purwoastuti, 2015
2.3.5 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas Selama ibu berada dalam masa nifas, paling
sedikit 4 kali bidan harus melakukan kunjungan, dilakukan untuk menilai keadaan ibu
dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-
masalah yang terjadi. Kebijakan mengenai pelayanan nifas (puerperium) yaitu paling
sedikit ada 4 kali kunjungan pada masa nifas dengan tujuan untuk.
2.3.5.1 Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi Melakukan pencegahan terhadap
kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan-gangguan kesehatan ibu nifas
dan bayinya
2.3.5.2 Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas
2.3.5.3 Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan
ibu nifas maupun bayinya (Walyani & Purwoastuti, 2017).
Berikut ini merupakan aturan waktu dan bentuk asuhan yang wajib diberikan sewaktu
melakukan kunjungan masa nifas :
1. Kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan). Tujuannya adalah :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, serta melakukan rujukan
bila perdarahan berlanjut.
c. Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah
perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
d. Pemberian ASI awal.
e. Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dengan BBL.
f. Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermia.
g. Observasi 2 jam setelah kelahiran jika bidan yang menolong persalinan
(Walyani & Purwoastuti, 2015).
2. Kunjungan 2 (hari ke 6 setelah persalinan). Tujuannya adalah :
a. Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal, uterus berkontraksi
dengan baik, TFU di bawah pusat, tidak ada perdarahan abnormal.
b. Menilai adanya tanda-tanda infeksi, demam dan perdarahan.
c. Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cairan serta istirahat
yang cukup.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda
kesulitan menyusui.
e. Memberikan konseling tentang asuhan BBL, perawatan tali pusat, menjaga
bayi tetap hangat dan lain-lain (Walyani & Purwoastuti, 2015).
3. Kunjungan 3 (hari ke 14 setelah persalinan). Asuhan pada 2 minggu post partum
sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum (Walyani
& Purwoastuti, 2015). 4) Kunjungan 4 (6 minggu setelah persalinan) Tujuannya
adalah :
a. Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
b. Memberikan konseling KB secara dini (Walyani & Purwoastuti, 2015).
2.3.6 Perubahan Fisiologis Masa Nifas
2.3.6.1 Perubahan Sistem Reproduksi Pada Uterus, Vagina, Dan Perineum
1. Uterus Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya
kembali sebelum hamil. Involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih
kecil, karena cytoplasma nya yang berlebihan dibuang (Walyani & Purwoastuti,
2017). Involusi disebabkan oleh proses autolysis, pada mana zat protein dinding
rahim pecah, di absorbsi dan kemudian dibuang dengan air kencing (Walyani &
Purwoastuti, 2017).
Sebagai bukti dapat dikemukakan bahwa kadar nitrogen air kencing sangat tinggi
(Walyani & Purwoastuti, 2017).
a. Bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gr.
b. Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba dua jari bahwa pusat
dengan berat uterus 750 gr.
c. Satu minggu postpartum tinggi fundus uteri teraba pertengahan pusat simpisis
dengan berat uterus 500 gr.
d. Dua minggu postpartum tinggi fundus uteri tidak teraba di atas simpisis
dengan berat uterus 350 gr.
e. Enam minggu postpartum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50
gr (Walyani & Purwoastuti, 2017).
2. Lochea Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina
dalam masa nifas. Lochea tidak lain dari pada sekret luka, yang berasal dari luka
dalam rahim terutama luka plasenta. Macam-macam lochea:
a. Lochea rubra (cruenta): berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel
desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari postpartum.
b. Lochea sanguinolenta: berwarna kuning berisi darah dan lendir, hari ke 3-7
postpartum.
c. Lochea serosa: berwarna kuning tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14
postpartum.
d. Lochea alba: cairan putih, setelah 2 minggu.
e. Lochea purulenta: terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f. Lochea statis: lochea tidak lancar keluarnya (Walyani & Purwoastuti, 2017).
3. Serviks Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan,
ostium eksternal dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu
persalinan serviks menutup (Walyani & Purwoastuti, 2017).
4. Vulva dan vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang
sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama
sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur.
Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae
dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia
menjadi lebih menonjol (Walyani & Purwoastuti, 2017).
5. Perineum Segera setelah melahirkan, perineum menjadi lebih kendur karena
sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada
postnatal hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar
tonusnya sekalipun tetap lebih kendur daripada keadaan sebelum melahirkan
(Walyani & Purwoastuti, 2017).
6. Perubahan Sistem Pencernaan Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah
melahirkan anak. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat
pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong,
pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang
makan, hemoroid, laserasi jalan lahir supaya buang air besar kembali teratur dapat
diberikan diit atau makanan yang mengandung serat dan memberikan cairan yang
cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong
dengan pemberian huknah atau gliserin spuid atau diberikan obat laksanan yang
lain (Walyani & Purwoastuti, 2017).
7. Perubahan Sistem Perkemihan Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama.
Kemungkinan terdapat spasine sfingter dan oedema leher buli-buli sesudah bagian
ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan.
Urine dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam sesudah
melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen yang bersifat
menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan ini
menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo
6 minggu (Walyani & Purwoastuti, 2017).
8. Perubahan Sistem Musculoskeletal Ambulasi pada umumnya dimulia 4-8 jam post
partum. Ambulasi dini sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan
mempercepat proses involusi (Walyani & Purwoastuti, 2017).
9. Perubahan Endokrin Kadar estrogen menurun 10% dalam waktu sekitar 3 jam
postpartum. Progesteron turun pada hari ke 3 postpartum. Kadar prolaktin dalam
darah berangsur-angsur hilang (Walyani & Purwoastuti, 2017).
10. Perubahan Tanda-Tanda Vital
a. Suhu badan Dua puluh empat jam postpartum suhu badan akan naik sedikit
(37,50C-38,50C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan
cairan dan kelelahan, apabila keadaan normal suhu badan akan naik lagi
karena ada pembentukan ASI, buah dada menjadi bengkak, berwarna merah
karena banyaknya ASI bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada
endometrium, mastitis, praktus, urogenitalis atau sistem lain. Kita anggap
nifas terganggu kalau ada demam lebih dari 300C pada 2 hari berturutturut
pada 10 hari yang pertama post partum, kecuali hari pertama dan suhu harus
diambil sekurang-kurangnya 4x sehari (Walyani & Purwoastuti, 2017).
b. Nadi Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis
melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang
akan melebihi 100 adalah abnormal dan hal ini mungkin disebabkan oleh
infeksi atau perdarahan post partum yang tertunda (Walyani & Purwoastuti,
2017). Sebagian wanita mungkin saja memiliki apa yang disebut
bradikardi nifas (puerperal bradycardia). Hal ini terjadi segera setelah
kelahiran dan biasa berlanjut sampai beberapa jam setelah kelahiran anak.
Wanita macam ini biasa memiliki angka denyut jantung serendah 40-50 detak
per menit. Sudah banyak alasanalasan yang diberikan sebagai kemungkinan
penyebab, tetapi belum satupun yang sudah terbukti. Bradycardia semacam itu
bukanlah satu alamat atau indikasi adanya penyakit, akan tetapi sebagai satu
tanda keadaan kesehatan (Walyani & Purwoastuti, 2017).
c. Tekanan darah Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan
rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi
pada post partum dapat menandakan terjadinya preeklamsi post partum
(Walyani & Purwoastuti, 2017).
d. Pernafasan Keadaan pernafasan selalu berhbungan dengan keadaan suhu dan
denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal pernafasan juga akan
mengikutinya kecuali ada gangguan khusus pada saluran pernafasan (Walyani
& Purwoastuti, 2017).
e. Perubahan Sistem Kardiovaskular Persalinan pervaginam kehilangan darah
sekitar 300-400cc. Bila kelahiran melalui sectio caesaria kehilangan darah
dapat 2x lipat. Perubahan terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi.
Apabila pada persalinan pervaginam hemokonsentrasi akan naik dan pada
sektion caesaria hemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah
4-6 minggu (Walyani & Purwoastuti, 2017). Setelah melahirkan shunt akan
hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah keadaan ini
akan menimbulkan beban pada jantung dan dapat menimbulkan dekompensasi
kondisi pada penderita vitium cordia. Untuk keadaan ini dapat diatasi dengan
mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume
darah kembali seperti sedia kala. Umumnya hal ini terjadi pada hari ke 3
sampai hari ke 5 post partum (Walyani & Purwoastuti, 2017).
11. Perubahan Hematologi Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar
fibrinogen dan plasma serta faktor-faktor pembukaan darah meningkat pada hari
pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi
darah lebih mengental dan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor
pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih
dapat mencapai 15.000 selama persalinan akan tetapi tinggi dalam beberapa hari
pertama dari masa post partum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik
lagi sampai 25.000 atau 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita
tersebut mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosyt
akan sangat bervariasi pada awal-awal masa post partum sebagai akibat dari
volume darah, volume plasenta, dan tingkatan volume darah yang berubah-ubah.
Semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita tersebut.
Kira-kira selama kelahiran dan masa post partum terjadi kehilangan darah sekitar
200-500 ml. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan
diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobine pada hari ke 3 – 7
post partum dan akan kembali normal dalam 4-5 minggu post partum (Walyani &
Purwoastuti, 2017).
2.3.7 Proses Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas
Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting pada ibu dalam
masa nifas. Ibu nifas menjadi sangat sensitif, sehingga diperlukan pengertian dari
keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting pada masa nifas untuk
memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan psikologis
yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan psikologis yang
patologis (Asih & Risneni, 2016).
Menurut Asih dan Risneni (2016), adaptasi psikologis yang perlu dilakukan
sesuai dengan fase di bawah ini:
2.3.7.1 Fase Taking In Fase ini merupakan periode ketergantungan yang berlangsung
dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu, fokus
perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses
persalinan sering berulang diceritakannya. Kelelahan membuat ibu cukup
istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal
ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya. Oleh
karena itu, kondisi ibu perlu dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik.
Pada fase ini perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan untuk proses
pemulihannya.
2.3.7.2 Fase Taking Hold Fase ini berlangsung antara 3–10 hari setelah melahirkan.
Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa
tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaannya sangat sensitif
sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena
itu, ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang
baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya
sehingga tumbuh rasa percaya diri.
2.3.7.3 Fase Letting Go Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan
peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat
diri dan bayinya meningkat pada fase ini.

2.3.8 Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas


2.3.8.1 Nutrisi dan Cairan Mengonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, minum
sedikitnya 3 liter air setiap hari, pil zat besi harus diminum untuk menambah
zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca persalinan (GAVI, 2015).
2.3.8.2 Pemberian Kapsul Vitamin A 200.000 IU Kapsul vitamin A 200.000 IU pada
masa diberikan sebanyak dua kali, pertama segera setelah melahirkan, kedua
di berikan setelah 24 jam pemberian kapsul vitamin A pertama (GAVI, 2015).
Manfaat kapsul vitamin A untuk ibu nifas yaitu meningkatkan kandungan
vitamin A dalam Air Susu Ibu (ASI), bayi lebih kebal dan jarang kena
penyakit infeksi, kesehatan ibu lebih cepat pulih setelah melahirkan, ibu nifas
harus minum 2 kapsul vitamin A karena bayi lahir dengan cadangan vitamin A
yang rendah, kebutuhan bayi akan vitamin A tinggi untuk pertumbuhan dan
peningkatan daya tahan tubuh, pemberian 1 kapsul vitamin A 200.000 IU
warna merah pada ibu nifas hanya cukup untuk meningkatkan kandungan
vitamin A dalam ASI selama 60 hari, sedangkan dengan pemberian 2 kapsul
dapat menambah kandungan vitamin A sampai bayi 6 bulan (GAVI, 2015).
2.3.8.3 Ambulasi Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat
mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat tidurnya dan
membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan. Ibu postpartum sudah
diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24– 48 jam postpartum. Early
ambulation tidak diperbolehkan pada ibu postpartum dengan penyulit,
misalnya anemia, penyakit jantung, paruparu, demam dan sebagainya (GAVI,
2015).
2.3.8.4 Eliminasi Ibu diminta untuk buang air kecil 6 jam postpartum. Jika dalam 8
jam belum dapat berkemih atau sekali berkemih atau belum melebihi 100 cc,
maka dilakukan kateterisasi. Akan tetapi, kalau ternyata kandung kemih
penuh, tidak perlu menunggu 8 jam untuk kateterisasi (GAVI, 2015). Ibu
postpartum diharapkan dapat buang air besar setelah hari ke2 postpartum. Jika
hari ke-3 belum juga BAB, maka perlu diberi obat pencahar per oral atau per
rektal (GAVI, 2015).
2.3.8.5 Personal Hygiene Kebersihan diri sangat penting untuk mencegah infeksi.
Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut dua kali sehari, mencuci tangan
dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya
dan bagi ibu yang mempunyai luka episiotomi atau laserasi, disarankan untuk
mencuci luka tersebut dengan air dingin dan menghindari menyentuh daerah
tersebut (GAVI, 2015).
2.3.8.6 Istirahat dan Tidur Sarankan ibu untuk istirahat cukup. Tidur siang atau
beristirahat selagi bayi tidur (GAVI, 2015).
2.3.8.7 Seksual Ibu diperbolehkan untuk melakukan aktivitas kapan saja ibu siap dan
secara fsik aman serta tidak ada rasa nyeri (GAVI, 2015).
2.3.9 Respon Orangtua Terhadap Bayi Baru Lahir
2.3.9.1 Bounding Attachmet Bounding Attachmet adalah sentuhan awal atau kontak
kulit antar ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa ja setelah
kelahiran bayi (Asih & Risneni, 2016). Bounding Attachmet terdiri atas
beberapa tahap yaitu perkenalan (kontak mata, meyentuh, berbicara),
bounding atau ketertarikan (peningkatan hubungan kasih sayang dengan
keterikatan batin antara orang tua dan bayi), Attachment (perasaan sayang
yang mengikat antara individu dengan individu lain) (Asih & Risneni, 2016).
2.3.9.2 Respon Ayah dan Keluarga Reaksi orang tua dan bayi baru lahir berbeda-beda
sesuai dengan reaksi emosi dan pengalaman. Masalah lain juga berpengaruh
seperti jumlah anak dan masalah ekonomi (Purwoastuti & Walyani, 2015).
2.3.9.3 Sibling Rivalry Sibling Rivalry adalah adanya rasa persaingan saudara
kandung terhadap kelahiran adiknya. Biasanya hal tersebut terjadi pada anak
dengan usia 2 sampai 3 tahun (Purwoatuti & Walyani, 2015). Beberapa cara
untuk mengatasi sibling rivalry yaitu tidak membandingkan anak satu dengan
lainnya, membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri, menyukai
bakat dan keberhasilan anak, membuat anak mampu bekerja sama, memberi
perhatian setiap waktu (Asih & Risneni, 2016).
2.3.10 Proses Laktasi Dan Meyusui
2.3.10.1 Anatomi dan Fisiologi Payudara Mansyur dan Dahlan (2014) menjelaskan anatomi
dan fisiologi payudara sebagai berikut:
1. Anatomi Payudara (mammae) adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, atas
otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi. Manusia
mempunyai sepasang kelenjar payudara dengan berat kira-kira 200 gram, yang
kiri umumnya lebih besar dari kanan. Pada waktu hamil payudara membesar,
mencapai 600 gram dan pada waktu menyusui bisa mencapai 800 gram. Ada 3
bagian utama payudara yaitu:
a. Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar Korpus mammae terdapat
alveolus yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Alveolus terdiri dari
beberapa sel aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos, dan pembuluh
darah. Beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada payudara.
b. Areola yaitu bagian yang kehitaman di tengah Letaknya mengelilingi puting
susu dan berwarna kegelapan yang disebabkan oleh penipisan dan
penimbunan pigmen pada kulitnya. Perubahan warna ini tergantung dari corak
kulit dan adanya kehamilan. Luas kalang payudara biasa 1/3-1/2 dari
payudara.
c. Papilla atau puting yaitu bagian yang menonjol dipuncak payudara Terletak
setinggi interkosta IV, tetapi berhubungan dengan adanya variasi bentuk dan
ukuran payudara maka letaknyapun akan bervariasi pula. Pada tempat ini
terdapat lubang-lubang kecil yang merupakan muara duktus dari laktiferus,
ujungujung serat saraf, pembuluh darah, pembuluh getah bening, serat-serat
otot polos yang tersusun secara sirkuler sehingga bila ada kontraksi maka
duktus laktiferus akan memadat dan menyebabkan puting susu ereksi
sedangkan serat-serat otot yang longitudinal akan menarik kembali puting
susu tersebut. Ada 4 macam bentuk puting yaitu berbentuk normal/umum,
pendek/datar, panjang dan terbenam (inverted) namun bentuk.
2. Fisiologi Payudara Mansyur dan Dahlan (2014) menjelaskan laktasi/menyusui
mempunyai 2 pengertian yaitu produksi dan pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI
merupakan suatu interaksi yang snagat komplek antara rangsangan mekanik, saraf
dan bermacam-macam hormon.Mulai dari bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita
mulai memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem
payudara:
a. Saat bayi mengisap, sejumlah sel syarafdi payudara ibu mengirimkan pesan ke
hipotalamus.
b. Ketika menerima pesan itu, hipotalamus melepas “rem” penahan prolaktin
untuk mulai memproduksi ASI.
Menurut Asih dan Risneni (2016), ada dua reflek yang masingmasing berperan dalam
pembentukan ASI yaitu :
1. Refleks Prolaktin Sewaktu bayi menyusu ujung saraf peraba yang terdapat pada
putting susu terangsang. Rangsangan tersebut oleh serabut afferent dibawa ke
hipotalamus di dasar otak lalu memicu hipofise anterior untuk mengeluarkan
hormone prolaktin ke dalam darah. Melalui sirkulasi prolaktin memacu sel
kalenjer (alveoli) untuk memproduksi air susu. Jumlah prolaktin yang disekresi
dan jumlah susu yang diproduksi berkaitan dengan stimulus isapan yaitu
frekuensi, intensitas dan lamanya bayi menghisap.
2. Refleks Oksitosin (Let Down Reflex) Rangsangan yang ditimbulkan oleh bayi
saat menyusu juga merangsang hipofise posterior mengeluarkan hormon oksitosin.
Dimana setelah oksitosin di lepas ke dalam darah memacu otot-otot polos yang
mengelilingi alveoli dan duktulus berkonsentraksi sehingga memeras air susu dari
alveoli, duktulus dan sinus menuju putting susu.
2.3.10.2 Dukungan Bidan Dalam Pemberian ASI Menurut Purwoastuti dan walyani (2015)
dukungan bidan dalam pemberian ASI yaitu membiarkan bayi bersama ibunya segera
sesudah dilahirkan selama beberapa jam, mengajarkan cara merawat payudara yang
sehat pada ibu untuk mecegah maslah umum yang timbul, membantu ibu pada waktu
pertama kali menyusui, menempatkan bayi dekat dengan ibunya di kamar yang sama.
2.3.10.3 Manfaat Pemberian ASI Menurut Asih dan Risneni (2016), beberapa manfaat
pemberian ASI bagi bayi, ibu, keluarga dan negara yaitu :
1. Manfaat bagi bayi
a. Komposisi sesuai kebutuhan
b. Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi
c. ASI megandung zat pelindung
d. Perkembangan psikomotorik lebih cepat
e. Menunjang perkembangan kognitif
f. Menunjang perkembangan penglihatan
g. Memperkuat ikatan batin antar ibu dan anak
h. Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat
i. Dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri.
2. Manfaat bagi ibu
a. Mencegah perdarahan paska persalinan dan mempercepat kembalinya rahim
ke bentuk semula.
b. Mencegah anemia defisiensi zat besi
c. Mempercepat ibu kembali ke berat badan semula
d. Menunda kesuburan
e. Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan kanker ovarium
3. Manfaat bagi keluarga
a. Mudah dala proses pemberiannya
b. Mengurangi biaya rumah tangga
c. Bayi yang mendapat ASI jarang sakit sehingga mengurangi biaya berobat
4. Manfaat bagi negara
a. Penghematan untuk subsidi anak sakit
b. Penghematan devisa dalam hal pemberian susu formula
c. Mengurangi polusi
d. Mendapat sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas
2.3.10.4 Tanda Bayi Cukup ASI Tanda- tanda bayi mendapat cukup ASI menurut Mansyur
dan Dahlan (2014), antara lain:
1. Jumlah buang air kecilnya dalam satu hari paling sedikit 6 kali
2. Warna seni biasanya tidak berwarna kuning pucat
3. Bayi sering BAB berwarna kekuningan berbiji
4. Bayi kelihatannya puas, sewaktu-waktu merasa lapar bangun dan tidur dengan
cukup
5. Bayi sedikit menyusu 10 kali dalam 24 jam
6. Payudara ibu terasa lembut setiap kali selesai menyusui
7. Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI setiap kali bayi mulai
menyusui
8. Ibu dapat mendengar suara menelan yang pelan ketika bayi menelan ASI
2.3.10.5 ASI Ekslusif ASI ekslusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan
atau minuman lain selama umur 0-6 bulan, bayi harus diberi kesempatan menyusu
tanpa dibatasi frekuensi dan durasinya (Asih & Risneni, 2016). Menurut
Purwoastuti dan Walyani (2015), ada beberapa jenis ASI yaitu :
1. Kolostrum: cairan pertama yang dikeluarkan oleh kelenjar payudara pada hari
pertama sampai dengan hari ke-3, berwarna kuning keemasan, mengandung
protein tinggi rendah laktosa.
2. ASI Transisi: keluar pada hari ke 4 sampai hari ke 10 jumlah ASI meningkat
tetapi protein rendah dan lemak, hidrat arang tinggi.
3. ASI Mature: ASI yang keluar hari ke 10 dan seterusnya, nutrisi terus berubah
sampai bayi 6 bulan.
2.3.10.6 Cara Merawat Payudara Berikut ini kiat masase payudara yang dapat dilakukan
pada hari ke dua usai persalinan, sebanyak 2 kali sehari. Cucilah tangan sebelum
memasase. Lalu tuangkan minyak ke dua belah telapak tangan secukupnya.
Pengurutan dimulai dengan ujung jari, caranya:
1. Sokong payudara kiri dengan tangan kiri. Lakukan gerakan kecil dengan dua
atau tiga jari tangan kanan, mulai dari pangkal payudara dan berakhir dengan
gerakan spiral pada daerah putting susu.
2. Selanjutnya buatlah gerakan memutar sambil menekan dari pangkal payudara
dan berakhir pada putting susu diseluruh bagian payudara. Lakukan gerakan
seperti ini pada payudara kanan.
3. Gerakan selanjutnya letakkan kedua telapak tangan di antara dua payudara.
Urutlah dari tengah ke atas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan
keduanya perlahan. Lakukan gerakan ini kurang lebih 30 kali. Variasi lainnya
adalah gerakan payudara kiri dengan kedua tangan, ibu jari di atas dan empat
jari lainnya di bawah. Peras dengan lembut payudara sambil meluncurkan
kedua tangan ke depan kea rah putting susu. Lakukan hal yang sama pada
payudara kanan.
4. Lalu cobalah posisi tangan paralel. Sangga payudara dengan satu tangan,
sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah
pangkal payudara ke arah putting susu. Lakukan gerakan ini sekitar 30 kali.
Setelah itu, letakkan satu tangan di sebelah atas dan satu lagi di bawah
payudara. Luncurkan kedua tangan secara bersamaan kea rah putting susu
dengan cara memutar tangan. Ulangi gerakan ini sampai semua bagian
payudara terkena (Walyani & Purwoastuti, 2017).

2.3.10.7 Cara Menyusui Yang Baik Dan Benar


1. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada
puting susu dan aerola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai
disinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.
2. Bayi diletakkan menghadap perut ibu
a. Ibu duduk dikursi yang rendah atau berbaring dengan santai, bila
duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah (kaki ibu tidak
bergantung) dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
b. Bayi dipegang pada bahu dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada
lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menengadah, dan bokong bayi
ditahan dengan telapak tangan)
c. Satu tangan bayi diletakkan pada badan ibu dan satu didepan
d. Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara
e. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
f. Ibu menatap bayi dengan kasih saying
3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang
dibawah
4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara
a. Menyentuh pipi bayi dengan puting susu atau
b. menyentuh sisi mulut bayi
5. Setelah bayi membuka mulut dengan cepat kepala bayi diletakkan ke
payudara ibu dengan puting serta aerolanya dimasukkan ke mulut bayi
a. usahakan sebagian besar aerola dapat masuk kedalam mulut bayi
sehingga puting berada dibawah langit-langit dan lidah bayi akan
menekan ASI keluar
b. setelah bayi mulai menghisap payudara tidak perlu dipegang atau
disanggah.
6. Melepas isapan bayi Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit
kemudian dioleskan pada putting susu dan aerola sekitar dan biarkan
kering dengan sendirinya untuk mengurangi rasa sakit. Selanjutnya
sendawakan bayi tujuannya untuk mengeluarkan udara dari lambung
supaya bayi tidak muntah (gumoh) setelah menyusui (Walyani &
Purwoastuti, 2017).
7. Cara menyedawakan bayi :
a. Bayi dipegang tegak dengan bersandar pada bahu ibu kemudian
punggungnya ditepuk perlahan-lahan
b. Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu, kemudian punggungnya ditepuk
perlahan-lahan (Walyani & Purwoastuti, 2017).

2.4 Konsep Teori Bayi Baru Lahir (BBL)


2.4.1 Definisi Bayi baru lahir
Bayi baru lahir (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37
minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000
gram dan tanpa tanda – tanda asfiksia dan penyakit penyerta lainnya (Noordiati,
2018).
Menurut Saifuddin (2014) bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan
dimana bayi baru lahir dengan umur kehamnilan 37-42 minggu, lahir melalui jalan
lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis kuat,
napas secara spontan dan teratur, berat badan antara 2.500-4.000 gram serta harus
dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterine ke kehidupan
ekstrauterin. Bayi baru lahir adalah hasil konsepsi ovum dan spermatozoon dengan
masa gestasi memungkinkan hidup di luar kandungan. Tahapan bayi baru lahir
yaitu umur 0 sampai 7 hari disebut neonatal dini dan umur 8 sampai 28 hari disebut
neonatal lanut (Maternity, Anjany & Evrianasari, 2018).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bayi baru lahir
normal adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan aterm (37-42 minggu) dan
berat badan normal (2.500 gram-4000 gram)
2.4.2 Ciri – Ciri Bayi Baru Lahir Normal
Menurut Maternity, Anjany dan Evrianasari (2018), ciri-ciri bayi baru lahir normal
antara lain:
1) Berat badan : 2500 – 4000 gram.
2) Panjang badan lahir : 48 – 52 cm.
3) Lingkar kepala : 33 – 35 cm.
4) Lingkar dada : 30 – 38 cm.
5) Bunyi jantung : 120-160 x/menit.
6) Pernafasan : 40-60 x/menit.
7) Kulit kemerahan dan licin karena jaringan dan diikuti vernik caseosa.
8) Rambut lanugo terlihat, rambut kepala biasanya sudah sempurna.
9) Kuku telah agak panjang dan lepas.
10) Genetalia jika perempuan labia mayora telah menutupi labia minora, jika
laki-laki testis telah turun, skrotum sudah ada.
11) Refleks hisap dan menelan telah terbentuk dengan baik.
12) Refleks morrrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik.
13) Refleks graps atau menggemgam sudah baik.
14) Eliminasi baik, urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam. Mekonium
berwarna hitam kecoklatan.
2.4.3 Adaptasi Pada BBL dari Intrauterin ke Ekstrauterin
1) Adaptasi Fisik
1. Perubahan Pada Sistem Pernafasan Perkembangan sistem pulmonar
pada bayi yaitu pada umur 24 hari bakal paru-paru sudah terbentuk, 26
sampai 28 hari bakal bronchi membesar, 6 minggu dibentuk segmen
bronchus, 12 minggu diferensiasi lobus, 24 minggu dibentuk alveolus,
28 minggu dibentuk surfaktan, 34 sapai 36 minggu surfaktan matang.
Struktur matang ranting paru-paru sudah bisa mengembangkan sistem
alveoli. Selama dalam uterus janin mendapat oksigen dari pertukaran
gas melalui plasenta. Setelah lahir pertukaran gasmelalui paru–paru bayi
(Armini, Sriasih, Marhaeni, 2017).
2. Rangsangan Untuk Gerak Pernafasan Menurut Legawati (2018)
Rangsangan gerakan pertama terjadi karena beberapa hal berikut:
a. Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (stimulasi
mekanik).
b. Penurunan PaO2 dan peningkatan PaCo2 merangsang kemoreseptor
yang terletak di sinus karotikus (stimulasi kimiawi).
c. Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di dalam
uterus (stimulasi sensorik).
d. Reflek deflasi hering
3. Upaya Pernafasan Bayi Pertama Upaya nafas pertama bayi berfungsi
untuk megeluarkan cairan dalam paru dan mengembangkan jaringan
alveoli paru untuk pertama kali. Untuk mendapatkan fungsi alveol harus
terdapat surfaktan yang cukup dan aliran darah melalui paru. Surfaktan
megurangi tekanan permukaan dan membantu menstabilkan dinding
alveoli pada akhir persalinan sehingga tidak kolaps (Noordiati, 2018).
4. Perubahan Pada Sistem Kardiovaskuler Setelah bayi lahir paru akan
berkembang menyebabkan tekanan arteriol dalam paru berkurang.
Tekanan dalam jantung kanan turun sehingga tekanan jantung kiri lebih
besar yang mengakibatkan menutupnya foramen ovale secara
fungsional. Oleh karena itu tekanan dala paru turun dan tekanan dalam
aorta desenden naik dan karena rangsangan biokimia duktus arterious
berobliterasi ini terjadi pada hari pertama (Armini, Sriasih, Marhaeni,
2017).
5. Perubahan Pada Sistem Termoregulasi Noordiati (2018) menjelaskan
ketika bayi baru lahir, bayi berasa pada suhu lingkungan yang rendah
dari suhu di dalam rahim. Menurut Noordiati (2018) menjelaskan empat
kemungkinan mekanisme yang dapat menyebabkan bayi baru lahir
kehilangan panas tubuhnya.
a. Konduksi Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya
yang kontak langsung dengan tubuh bayi. Contohnya menimbang
bayi tanpa alas timbanga, tangan penolong yang dingin langsung
memegang BBL, meggunakan stetoskop dingin untuk pemeriksaan
BBL.
b. Evaporasi Panas hilang melalui proses penguapan yang bergantung
pada kecepatan dan kelembapan udara (perpindahan panas dengan
cara mengubah cairan menjadi uap). Contohnya tidak segera
mengeringkan bayi setelah lahir, tidak mengeringkan bayi setelah
mandi.
c. Konveksi Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang
sedang bergerak (jumlah panas yang hilang bergantung pada
kecepatan dan suhu udara). Contohnya membiarkan bayi dekat
jendela, membiarkan BBL di ruangan yang terpasang kipas angin.
d. Radiasi Panas dipncarkan dari BBL keluar tubuhnya ke lingkungan
yang lebih dingin (pemindahan panas antara 2 objek yang
mempunyai suhu berbeda). Contohnya membiarkan bayi di ruangan
yang memiliki AC.
6. Perubahan Pada Sistem Renal Ginjal sangat penting dalam kehidupan
janin, kapasitasya kecil hingga setelah lahir. Urine bayi encer, berwarna
kekuningkuningan dan tidak berbau. Warna cokelat disebabkan oleh
lendir bekas membrane mukusa dan udara asam akan hilang setelah
bayi banyak minum. Urine pertama kali di buang saat lahir dan dalam
24 jam dan akan semakin sering dengan banyak cairan (Noordiati,
2018).
7. Perubahan Pada Sistem Gastrointestinal Kemampuan bayi cukup bulan
menerima dan menelan makanan terbatas, hubungan esofagus bawah
dan lambung belum sempurna, sehingga mudah gumoh tertama bayi
baru lahir dan bayi muda. Kapasitas lambung terbatas kurang dari 30 cc
untuk bayi cukup bulan. Usus masih belum matang sehingga tidak
mampu melindungi diri dari zat berbahaya, kolon bayi baru lahir kurang
efisien dalam mempertahankan air sehingga bahaya diare menjadi serius
pada bayi baru lahir (Noordiati, 2018).
8. Perubahan Pada Sistem Hepar Segera setelah lahir hati menunjukkan
perubahan kimia dan morfologis yaitu kenaikan kadar protein dan
penurunan kadar lemak serta glikogen. Sel hemopoetik juga mulai
berkurang, walaupun memakan waktu agak lama (Armini, Sriasih,
Marhaeni, 2017).
9. Perubahan Pada Sistem Imunitas Sistem imunitas bayi baru lahir masih
belum matang sehingga rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi.
Sistem imunitas matang meyebabkan kekebalan alami dan buatan.
Kekebalan alami terdiri dari struktur tubuh yang mencegah dan
meminimalkan infeksi misalnya perlindungan oleh kulit membran
mukosa, fungsi saringan saluran gas, pembentukan koloni mikroba oleh
kulit dan usus dan perlindungan kimia oleh asam lambung (Noordiati,
2018).
10. Perubahan Pada Sistem Integumen Lailiyana dkk (2016) menjelaskan
bahwa semua struktur kulit bayi sudah terbentuk saaat lahir, tetapi
masih belum matang. Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik
dan sangat tipis. Verniks kaseosa juga berfungsi dengan epidermis dan
berfungsi sebagai lapisan pelindung. Kulit bayi sangat sensitif dan
mudah mengalami kerusakan. Bayi cukup bulan mempunyai kulit
kemerahan (merah daging) beberapa setelah lahir, setelah itu warna
kulit memucat menjadi warna normal. Kulit sering terlihat berbecak,
terutama didaerah sekitar ekstremitas. Tangan dan kaki terlihat sedikit
sianotik. Warna kebiruan ini, akrosianois, disebabkan ketidakstabilan
vasomotor, stasis kapiler, dan kadar hemoglobin yang tinggi. Keadaan
ini normal, bersifat sementara, dan bertahan selama 7 sampai 10 hari,
terutama bila terpajan udara dingin.
11. Perubahan Pada Sistem Reproduksi Perubahan sistem reproduksi pada
bayi laki-laki akan terlihat rugae (garis-garis lipatan yang meonjol) pada
skrotum, kedua belah testis sudah mengalami desensus ke dalam
skrotum, meatus uretra pada ujung penis normal, preputium melekat
pada glanspenis, panjang penis sekitar 2cm, refleks kremaster di
temukan (MSN & Saputra, 2014).
12. Perubahan Pada Sistem Skeletal Lailiyana dkk (2016) menjelaskan pada
bayi baru lahir arah pertumbuhan sefalokaudal pada pertumbuhan tubuh
terjadi secara keseluruhan. Kepala bayi cukup bulan berukuran
seperempat panjang tubuh. Lengan sedikit lebih panjang daripada
tungkai. Wajah relatif kecil terhadap ukuran tengkorak yang jika
dibandingkan lebih besar dan berat. Ukuran dan bentuk kranium dapat
mengalami distorsi akibat molase (pembentukan kepala janin akibat
tumpang tindih tulang-tulang kepala). Ada dua kurvatura pada kolumna
vertebralis, yaitu toraks dan sakrum. Ketika bayi mulai dapat
mengendalikan kepalanya, kurvatura lain terbentuk di daerah servikal.
Pada bayi baru lahir lutut saling berjauhan saat kaki dilluruskan dan
tumit disatukan, sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung. Saat
baru lahir, tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki. Ekstremitas
harus simetris. Harus terdapat kuku jari tangan dan jari kaki. Garis-garis
telapak tangan sudah terlihat. Terlihat juga garis pada telapak kaki bayi
cukup bulan.
13. Perubahan Pada Sistem Neuromuskuler Menurut MSN dan Saputra
(2014), ada beberapa refleks pada bayi baru lahir yaitu :
a. Reflek menghisap (sucking reflex) Gerakan meghisap dimulai
ketika putting susu ibu di tempatkan di dalam mulut neonatus
b. Reflek menelan (Swallowing Reflex) Neonatus akan melakukan
gerakan menelan ketika pada bagian posterior lidahnya di teteskan
cairan, gerakan ini harusterkoordinasi dengan gerakan pada reflek
menghisap
c. Reflek morrow Ketika neonatus diangkat dari boks bayi dan secara
tiba-tiba diturunkan tungkainya akan memperlihatkan gerakan
ekstensi yang simetris dan diikuti oleh gerakan abduksi.
d. Reflek mencari (rooting reflex) Reflex mencari sumber rangsangan,
gerakan neonatusmenoleh ke arah sentuhan yang dilakukan pada
pipinya.
e. Refleks leher yang tonic (tonic neck reflex) Sementara neonatus
dibaringkan dalam posisi telentang dan kepalanya ditolehkan ke
salah satu sisi, maka ekstremitas pada sisi homolateral akan
melakukan gerakan ekstensi sementara ekstremmitas pada sisi
kontralateral melakukan gerakan fleksi.
f. Refleks babinski Goresan pada bagian lateral telapak kaki di sisi
jari kelingking ke arah dan menyilang bagian tumit telapak kaki dan
akan membuat jari-jari kaki bergerak mengembang ke arah atas.
g. Palmar graps Penempatan jari tangan kita pada telapak tangan
neonatus akan membuatnya menggenggam jari tangan tersebut
dengan cukup kuat sehingga dapat menarik neonatus ke dalam
posisi duduk.
h. Stepping Refleks Tindakan mengangkat neonatus dalam posisi
tubuh yang tegak dengan kedua kaki menyentuh permukaan yang
rataakan memicu gerakan seperti menari.
i. Reflek terkejut Bunyi yang keras seperti bunyi tepukan tangan akan
menimbulkan gerakan abduksi lengan dan fleksi siku.
j. Tubuh melengkung (trunk incurvature) Ketika sebuah jari tangan
pemeriksa menelusuri bagian punggung neonatus di sebelah lateral
tulang belakang maka badan neonatus akan melakukan gerakan
fleksi dan pelvis berayun ke arah sisi rangsangan.

2) Adaptasi Psikologis
1. Reaktivitas 1 (The First Period Reactivity) Dimulai pada masa persalinan dan
berakhir 30 menit setelah bayi lahir. Selama periode ini detak jantung cepat dan
pulsasi tali pusat jelas. Selama periode ini setiap usaha harus dibuat untuk
mudahkan kontak bayi degan ibu (Armini, Sriasih, Marhaei, 2017).
2. Fase Tidur (The Period of Unresponsive Sleep) Fase ini berlangsung selama 30
menit sapai 2 jam persalinan. Tingkat pernapasan menjadi lebih labat. Bayi dala
keadaan tidur, suara usus muncul tapi berkurang. Jika mungkin, bayi tidak
diganggu untuk pengujian utama dan jangan memandikannya. Selama masa tidur
memberikan kesempatan pada bayi untuk memulihkan diri dari proses persalinan
dan periode transisi ke kehidupan di luar uterine (Armini, Sriasih, Marhaeni,
2017).
3. Reaktivitas 2 (The Second Periode Of Reactivity) Periode berlangsung selama 2
sampai 6 jam setelah persalinan. Jantung bayi labil dan terjadi perubahan warna
kulit yang berhubungan dengan stimulus lingkungan. Pemberian makan awal
penting dalam pencegahan hipoglikemia dan stimulasi pengeluaran kotoran dan
pencegahan penyakit kuning. Pemberian makan awal juga menyediakan
kolonisasi bakteri isi perut yang mengarahkan pembentukan vitamin k oleh
traktusintestinal (Armini, Sriasih, Marhaeni, 2017).
3) Kebutuhan Fisik BBL
1. Nutrisi Legawati (2018) menganjurkan berikan ASI sesering mungkin sesuai
keinginan ibu (jika payudara penuh) dan tentu saja ini lebih berarti pada menyusui
sesuai kehendak bayi atau kebutuhan bayi setiap 2-3 jam (paling sedikit setiap 4
jam), bergantian antara payudara kiri dan kanan. Seorang bayi yang menyusu
sesuai permintaannya bisa menyusu sebanyak 12-15 kali dalam 24 jam.
2. Cairan dan Elektrolit Menurut Legawati (2018) air merupakan nutrien yang
berfungsi menjadi medium untuk nutrien yang lainnya. Air merupakan kebutuhan
nutrisi yang sangat penting mengingat kebutuhan air pada bayi relatif tinggi 75-
80 % dari berat badan dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 55-60 %.
Bayi baru lahir memenuhi kebutuhan cairannya melalui ASI. Segala kebutuhan
nutrisi dan cairan didapat dari ASI.
3. Personal Higiene Menurut Legawati (2018) menjelaskan memandikan bayi baru
lahir merupakan tantangan tersendiri bagi ibu baru. Ajari ibu, jika ibu masih ragu
untuk memandikan bayi di bak mandi karena tali pusatnya belum pupus, maka
bisa memandikan bayi dengan melap seluruh badan dengan menggunakan waslap
saja. Yang penting siapkan air hangat-hangat kuku dan tempatkan bayi didalam
ruangan yang hangat tidak berangin. Lap wajah, terutama area mata dan sekujur
tubuh dengan lembut. Jika mau menggunakan sabun sebaiknya pilih sabun yang 2
in 1, bisa untuk keramas sekaligus sabun mandi. Keringkan bayi dengan cara
membungkusnya dengan handuk kering.
4. Kebutuhan Kesehatan Dasar a) Pakaian Pakaikan baju ukuran bayi baru lahir yang
berbahan katun agar mudah menyerap keringat. Sebaiknya bunda memilih pakaian
berkancing depan untuk memudahkan pemasangan pakaian. Jika suhu ruangan
kurang dari 25ºC beri bayi pakaian dobel agar tidak kedinginan. Tubuh bayi baru
lahir biasanya sering terasa dingin, oleh karena itu usahakan suhu ruangan tempat
bayi baru lahir berada di 27ºC. Tapi biasanya sesudah sekitar satu minggu bayi
baru lahir akan merespon terhadap suhu lingkungan sekitarnya dan mulai bisa
berkeringat (Noordiati, 2018).
5. Sanitasi Lingkungan Bayi masih memerlukan bantuan orang tua dalam
mengontrol kebutuhan sanitasitasinya seperti kebersihan air yang digunakan untuk
memandikan bayi, kebersihan udara yang segar dan sehat untuk asupan oksigen
yang maksimal (Noordiati, 2018).
6. Perumahan Suasana yang nyaman, aman, tentram dan rumah yang harus di dapat
bayi dari orang tua juga termasuk kebutuhan terpenting bagi bayi itu sendiri. Saat
dingin bayi akan mendapatkan kehangatan dari rumah yang terpunuhi
kebutuhannya. Kebersihan rumah juga tidak kalah terpenting. Bayi harus terbiasa
dengan sinar matahari namun hindari dengan pancaran langsung sinar matahari
dipandangan matanya. Yang paling utama keadaan rumah bisa di jadikan sebagai
tempat bermain yang aman dan menyenangkan untuk anak (Legawati, 2018).
4) Kebutuhan Psikososial
1. Kasih Sayang ( Bounding Attachmet ) Ikatan antara ibu dan bayinya telah terjadi
sejak masa kehamilan dan pada saat persalinan ikatan itu akan semakin kuat.
Bounding merupakan suatu hubungan yang berawal dari saling mengikat diantara
orangtua dan anak, ketika pertama kali bertemu. Attachment adalah suatu
perasaan kasih sayang yang meningkat satu sama lain setiap waktu dan bersifat
unik dan memerlukan kesabaran. Hubungan antara ibu dengan bayinya harus
dibina setiap saat untuk mempercepat rasa kekeluargaan. Kontak dini antara ibu,
ayah dan bayi disebut Bounding Attachment melalui touch/sentuhan (Legawati,
2018).
2. Rasa Aman Rasa aman anak masih dipantau oleh orang tua secara intensif dan
dengan kasih sayang yang diberikan, anak merasa aman (Noordiati, 2018).
3. Harga Diri Dipengaruhi oleh orang sekitar dimana pemberian kasih sayang dapat
membentuk harga diri anak. Hal ini bergantung pada pola asuh, terutama pola
asuh demokratis dan kecerdasan emosional (Noordiati, 2018).
4. Rasa Memiliki Didapatkan dari dorongan orang di sekelilingnya (Noordiati,
2018).

2.5 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan ANC Menggunakan Varney


2.5.1 Pengkajian
1) Pengkajian adalah hal yang dilakukan bidan untuk melakukan pengumpulan data
yang yang didapatkan secara langsung ke masyarakatbaik berupa (data subjektif)
dan data yang tidak langsung ke yaitu (data objektif) yang meliputi Data Subjektif :
Nama, umur, suku/bangsa, agama, Pendidikan, suku, no telephone, alamat rumah,
Menurut Saminem (2009) pada langkah pertama, dilakukan pengkajian melalui
pengumpulan semua data dasar yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien
secara lengkap. Semua informasi yang akurat dikumpulkan dari semua sumber yang
berkaitan dengan kondisi klien. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap.
Jika klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter dalam
manajemen kolaborasi, bidan akan melakukan konsultasi. Langkah-langkah dalam
pengkajian data sebagai berikut:
1. Data Subyektif
a. Menanyakan identitas, yang meliputi: Dalam bukunya, Walyani (2015)
menjelaskan beberapa poin yang perlu dikaji dalam menanyakan identitas yaitu:
1) Nama Istri/Suami Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk
memperlancar komunikasi dalam asuhan sehingga tidak terlihat kaku dan
lebih akrab.
2) Umur Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam
kehamilan yang berisiko atau tidak. Usia dibawah 16 tahun dan diatas 35
tahun merupakan umur-umur yang berisiko tinggi untuk hamil. Umur yang
baik untuk kehamilan maupun persalinan adalah 19 tahun-25 tahun.
3) Suku/Bangsa/Etnis/Keturunan Ras, etnis, dan keturunan harus diidentifikasi
dalam rangka memberikan perawatan yang peka budaya kepada klien.
4) Agama Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait agama
yang harus diobservasi.
5) Pendidikan Tanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan juga minat,
hobi, dan tujuan jangka panjang. Informasi ini membantu klinisi memahami
klien sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca tulisnya.
6) Pekerjaan Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui
apakah klien berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi
kelahiran, prematur dan pajanan terhadap bahaya lingkungan kerja yang
dapat merusak janin.
7) Alamat Bekerja Alamat bekerja klien perlu diketahui juga sebagai
pelengkap identitas diri klien.
8) Alamat Rumah Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih
memudahkan saat pertolongan persalinan dan untuk mengetahui jarak
rumah dengan tempat rujukan.
9) No.RMK (Nomor Rekam Medik) Nomor rekam medik biasanya digunakan
di Rumah Sakit, Puskesmas, atau Klinik.
10) Telepon Pada poin ini Romauli (2011) berpendapat bahwa telepon perlu
ditanyakan bila ada, untuk memudahkan komunikasi.
b. Menanyakan Alasan Kunjungan Romauli (2011) menuliskan apakah alasan
kunjungan ini karena ada keluhan atau hanya untuk memeriksakan kehamilan.
c. Menanyakan Keluhan Utama Menurut Walyani (2015) keluhan utama adalah
alasan kenapa klien datang ke tempat bidan. Hal ini disebut tanda atau gejala.
Dituliskan sesuai dengan yang diungkapkan oleh klien serta tanyakan juga sejak
kapan hal tersebut dikeluhkan oleh pasien.
d. Menanyakan Riwayat Menstruasi Menurut Walyani (2015) yang perlu
ditanyakan tentang riwayat menstruasi adalah sebagai berikut:
1) Menarche (usia pertama datang haid) Usia wanita pertama haid bervariasi,
antara 12-16 tahun. Hal ini dapat dipengaruhi oleh keturunan, keadaan gizi,
bangsa, lingkungan, iklim dan keadaan umum.
2) Siklus Siklus haid terhitung mulai hari pertama haid hingga hari pertama
haid berikutnya, siklus haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah
klien mempunyai kelainan siklus haid atau tidak. Siklus haid normal
biasanya adalah 28 hari.
3) Lamanya Lamanya haid yang normal adalah ±7 hari. Apabila sudah
mencapai 15 hari berarti sudah abnormal dan kemungkinan adanya
gangguan ataupun penyakit yang mempengaruhinya.
4) Banyaknya Normalnya yaitu 2 kali ganti pembalut dalam sehari. Apabila
darahnya terlalu berlebih, itu berarti telah menunjukkan gejala kelainan
banyaknya darah haid.
5) Dismenorhoe (Nyeri Haid) Nyeri haid perlu ditanyakan untuk mengetahui
apakah klien menderita atau tidak di tiap haidnya. Nyeri haid juga menjadi
tanda bahwa kontraksi uterus klien begitu hebat sehingga menimbulkan
nyeri haid.
e. Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang Lalu
1) Kehamilan Menurut Marmi (2014) yang masuk dalam riwayat kehamilan
adalah informasi esensial tentang kehamilan terdahulu mencakup bulan dan
tahun kehamilan tersebut berakhir, usia gestasi pada saat itu. Adakah
gangguan seperti perdarahan, muntah yang sangat (sering), toxemia
gravidarum.
2) Persalinan Menurut Marmi (2014) riwayat persalinan pasien tersebut
spontan atau buatan, aterm atau prematur, perdarahan, ditolong oleh siapa
(bidan, dokter).
3) Nifas Marmi (2014) menerangkan riwayat nifas yang perlu diketahui
adakah panas atau perdarahan, bagaimana laktasi.
4) Anak Menurut Marmi (2014) yang dikaji dari riwayat anak yaitu jenis
kelamin, hidup atau tidak, kalau meninggal berapa dan sebabnya meninggal,
berat badan waktu lahir.
f. Riwayat Kehamilan Sekarang Menurut Walyani (2015) dalam mengkaji riwayat
kehamilan sekarang yang perlu ditanyakan diantaranya:
1) HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) Bidan ingin mengetahui tanggal hari
pertama dari menstruasi terakhir klien untuk memperkirakan kapan kirakira
sang bayi akan dilahirkan.
2) TP (Tafsiran Persalinan)
3) EDD (Estimated Date of Delivery) atau perkiraan kelahiran ditentukan
dengan perhitungan internasional menurut hukum Naegele. Perhitungan
dilakukan dengan menambahkan 9 bulan dan 7 hari pada hari pertama haid
terakhir atau dengan mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan
7 hari dan 1 tahun.
4) Masalah-Masalah
a) Trimester I Tanyakan pada klien apakah ada masalah pada kehamilan
trimester I, masalah-masalah tersebut misalnya hiperemesis gravidarum,
anemia, dan lain-lain.
b) Trimester II Tanyakan pada klien masalah apa yang pernah ia rasakan
pada trimester II kehamilan.
c) Trimester III Tanyakan pada klien masalah apa yang pernah ia rasakan
pada trimester III kehamilan.
5) ANC Tanyakan pada klien asuhan kehamilan apa saja yang pernah ia
dapatkan selama kehamilan trimester I, II, dan III
6) Tempat ANC Tanyakan pada klien dimana tempat ia mendapatkan asuhan
kehamilan tersebut
7) Penggunaan Obat-Obatan Pengobatan penyakit saat hamil harus selalu
memperhatikan apakah obat tersebut tidak berpengaruh terhadap tumbang
janin.
8) Imunisasi TT Tanyakan kepada klien apakah sudah pernah mendapatkan
imunisasi TT
g. Riwayat KB Menurut Walyani (2015) yang perlu dikaji dalam riwayat KB
diantaranya metode KB apa yang selama ini ia gunakan, berapa lama ia telah
menggunakan alat kontrasepsi tersebut, dan apakah ia mempunyai masalah saat
menggunakan alat kontrasepsi tersebut.
h. Pola Kebiasaan Sehari-hari Menurut Walyani (2015) dalam pola kebiasaan
sehari-hari yang perlu dikaji diantaranya:
1) Pola Nutrisi: jenis makanan, porsi, frekuensi
2) Kebiasaan Merokok/Minuman Keras/Obat Terlarang Hal ini perlu
ditanyakan karena ketiga kebiasaan tersebut secara langsung dapat
memengaruhi pertumbuhan, perkembangan janin.
3) Pola Eliminasi Yang dikaji adalah pola BAB (Buang Air Besar) dan BAK
(Buang Air Kecil), poin yang perlu ditanyakan yaitu frekuensi, warna, dan
masalah dalam pola eliminasi.
4) Pola Seksual Sebaiknya koitus dihindari pada kehamilan muda sebelum 16
minggu dan pada hamil tua, karena akan merangsang kontraksi.
5) Personal Hygiene Poin penting yang perlu dikaji adalah frekuensi mandi,
gosok gigi, dan ganti pakaian.
6) Pola Istirahat dan Tidur Yang perlu dikaji adalah lama waktu untuk tidur
siang dan tidur malam.
7) Pola Aktivitas Tanyakan bagaimana aktivitas klien. Beri anjuran kepada
klien untuk menghindari mengangkat beban berat, kelelahan, latihan yang
berlebihan, dan olahraga berat.
i. Menanyakan Riwayat Kesehatan Menurut Walyani (2015) dalam riwayat
kesehatan yang perlu dikaji yaitu:
1) Riwayat Kesehatan Ibu Tanyakan kepada klien penyakit apa yang pernah
diderita klien dan yang sedang diderita klien. Hal ini diperlukan untuk
menentukan bagaimana asuhan berikutnya.
2) Riwayat Kesehatan Keluarga Tanyakan pada klien apakah mempunyai
keluarga yang saat ini sedang menderita penyakit menular. Apabila klien
mempunyai keluarga yang menderita penyakit menular sebaiknya bidan
menyarankan kepada klien untuk menghindari secara langsung atau tidak
langsung bersentuhan fisik atau mendekati keluarga tersebut untuk
sementara waktu agar tidak menular pada ibu hamil dan janinnya. Tanyakan
juga kepada klien apakah mempunyai penyakit keturunan. Hal ini
diperlukan untuk mendiagnosa apakah si janin berkemungkinan akan
menderita penyakit tersebut atau tidak.
j. Menanyakan Data Psikologi Menurut Walyani (2015) yang perlu dikaji dalam
data psikologis yaitu:
1) Respon Ibu Hamil Terhadap Kehamilan Respon ibu hamil pada kehamilan
yang diharapkan diantaranya siap untuk hamil dan siap menjadi ibu, lama
didambakan, salah satu tujuan perkawinan.Sedangkan respon ibu hamil pada
kehamilan yang tidak diharapkan seperti belum siap dan kehamilan sebagai
beban (mengubah bentuk tubuh, menganggu aktivitas).
2) Respon Suami Terhadap Kehamilan Respon suami terhadap kehamilan
perlu diketahui untuk lebih memperlancar asuhan kehamilan.
3) Dukungan Keluarga Lain Terhadap Kehamilan Tanyakan bagaimana respon
dan dukungan keluarga lain misalnya anak (apabila telah mempunyai anak),
orang tua, mertua klien.
k. Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan perlu ditanya karena untuk
mengetahui siapa yang diberi kewenangan klien mengambil keputusan apabila
ternyata bidan mendiagnosa adanya keadaan patologis bagi kondisi kehamilan
klien yang memerlukan adanya penanganan serius.
1) Menanyakan Data Status Pernikahan. Walyani (2015) menjelaskan dalam
status pernikahan yang perlu dikaji diantaranya:
a) Menikah Tanyakan status klien, apakah ia sekarang sudah menikah atau
belum menikah. Hal ini penting untuk mengetahui status kehamilan
tersebut apakah dari hasil pernikahan yang resmi atau hasil dari
kehamilan yang tidak diinginkan. Status pernikahan bisa berpengaruh
pada psikologis ibunya pada saat hamil.
b) Usia Saat Menikah Tanyakan pada klien pada usia berapa ia menikah.
Hal ini diperlukan karena apabila klien mengatakan bahwa ia menikah di
usia muda sedangkan klien pada saat kunjungan awal ke tempat bidan
sudah tidak lagi muda dan kehamilannya adalah yang pertama, ada
kemungkinan bahwa kehamilannya saat ini adalah kehamilan yang
sangat diharapkan. Hal ini akan berpengaruh bagaimana asuhan
kehamilannya.
c) Lama Pernikahan Tanyakan kepada klien sudah berapa lama menikah.
Apabila klien mengatakan bahwa telah lama menikah dan baru saja bisa
mempunyai keturunan, maka kemungkinan kehamilannya saat ini adalah
kehamilan yang sangat diharapkan.
d) Dengan Suami Sekarang Tanyakan pada klien sudah berapa lama
menikah dengan suami sekarang, apabila mereka tergolong pasangan
muda, maka dapat dipastikan dukungan suami akan sangat besar
terhadap kehamilannya.
b. Data Objektif
1) Pemeriksaan Umum Dalam pemeriksaan umum yang perlu dilakukan
diantaranya pemeriksaan:
a) Keadaan Umum Mengetahui data ini dengan mengamati keadaan
umum pasien secara keseluruhan.
b) Kesadaran Menurut Walyani (2015) untuk mendapatkan gambaran
tentang kesadaran pasien, dapat melakukan pengkajian tingkat
kesadaran mulai dari keadaan composmentis (kesadaran baik), sampai
gangguan kesadaran (apatis, somnolen, sopor, koma).
c) Tinggi Badan Menurut Walyani (2015) tinggi badan diukur dalam
cm, tanpa sepatu. Tinggi badan kurang dari 145 cm ada kemungkinan
terjadi Cepalo Pelvic Disproportion (CPD).
d) Berat Badan Menurut Walyani (2015) berat badan yang bertambah
terlalu besar atau kurang, perlu mendapat perhatian khusus karena
kemungkinan terjadi penyulit kehamilan.
e) Lingkar Lengan Atas (LILA) Menurut Pantiawati & Saryono (2010)
standar minimal untuk lingkar lengan atas pada wanita dewasa atau
usia reproduksi adalah 23,5 cm. Jika ukuran LILA kurang dari 23,5
cm maka interpretasinya adalah kurang energi kronik (KEK).
f) Tanda-Tanda Vital
o Tekanan Darah Menurut Walyani (2015) tekanan darah yang
normal adalah 110/80 mmHg sampai 140/90 mmHg. Bila
>140/90mmHg, hati-hati adanya hipertensi/preeklampsi.
o Nadi Menurut Marmi (2014) denyut nadi maternal sedikit
meningkat selama hamil, tetapi jarang melebihi 100 denyut
permenit (dpm). Curigai hipotiroidisme jika denyut nadi lebih dari
100 dpm. Periksa adanya eksoflatmia dan hiperrefleksia yang
menyertai.
o Pernafasan Menurut Romauli (2011) untuk mengetahui fungsi
sistem pernapasan. Normalnya 16-24 kali/menit.
o Suhu Menurut Walyani (2015) suhu badan normal adalah 36,5°C
sampai 37,5°C. Bila suhu ebih dari 37,5°C kemungkinan ada
infeksi.
2) Pemeriksaan Fisik
a) Muka Menurut Romauli (2011) dalam pemeriksaan muka tampak
cloasma gravidarum sebagai akibat deposit pigmen yang berlebihan.
b) Mata Menurut Walyani (2015) untuk pemeriksaan mata yang perlu
diperiksa palpebra, konjungtiva, dan sklera. Periksa palpebra untuk
memperkirakan gejala oedem umum. Periksa konjungtiva dan sklera
untuk memperkirakan adanya anemia dan ikterus.
c) Hidung Menurut Romauli (2011) hidung yang normal tidak ada
polip, kelainan bentuk, kebersihan cukup.
d) Telinga Menurut Romauli (2011) telinga yang normal tidak ada
serumen berlebih dan tidak berbau, bentuk simetris.
e) Mulut Menurut Romauli (2011) dalam pemeriksaan mulut adakah
sariawan, bagaimana kebersihannya. Dalam kehamilan sering
timbul stomatitis dan gingivitis yang mengandung pembuluh darah
dan mudah berdarah, maka perlu perawatan mulut agar selalu
bersih. Adakah caries, atau keropos yang menandakan ibu
kekurangan kalsium. Saat hamil sering terjadi caries yang berkaitan
dengan emesis, hiperemesis gravidarum. Adanya kerusakan gigi
dapat menjadi sumber infeksi.
f) Leher Menurut Marmi (2014) dalam pemeriksaan leher perlu
diperiksa apakah vena terbendung di leher(misalnya pada penyakit
jantung), apakah kelenjar gondok membesar atau kelenjar limfa
membengkak.
g) Dada Menurut Walyani (2015) dalam pemeriksaan dada perlu
inspeksi bentuk payudara, benjolan, pigmentasi puting susu. Palpasi
adanya benjolan (tumor mamae) dan colostrum.
h) Perut Menurut Walyani (2015) pada pemeriksaan perut perlu
inspeksi pembesaran perut (bila pembesaran perut itu berlebihan
kemungkinan asites, tumor, ileus, dan lain-lain), pigmentasi di linea
alba, nampaklah gerakan anak atau kontraksi rahim, adakah striae
gravidarum atau luka bekas operasi.
i) Ekstremitas Menurut Walyani (2015) pada pemeriksaan ekstremitas
perlu inspeksi pada tibia dan jari untuk melihat adanya oedem dan
varises.
3) Pemeriksaan Kebidanan
a) Palpasi Uterus Palpasi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan
cara merabah. Tujuannya untuk mengtahui adanya kelainan dan
mengetahui perkembangan kehamilan. Menurut Kriebs dan Gegor
(2010) manuver leopold bertujuan untuk evaluasi iritabilitas, tonus,
nyeri tekan, konsistensi dan kontratiliktas uterus; evaluasi tonus otot
abdomen, deteksi gerakan janin, perkiraan gerak janin, penentuan
letak, presentasi, posisi, dan variasi janin; penentuan apakah kepala
sudah masuk PAP.
b) Leopold I Lengkungkan jari-jari kedua tangan anda mengelilingi
puncak fundus (Kriebs dan Gegor, 2010). Normal tinggi fundus
uteri sesuai dengan usia kehamilan. Pada fundus teraba bagian lunak
dan tidak melenting (bokong). Tujuan: untuk mengetahui tinggi
fundus uteri dan bagian yang ada di fundus (Romauli, 2011).
c) Leopold II Tempatkan kedua tangan anda dimasing-masing sisi
uterus (Kriebs dan Gegor, 2010).Normal teraba bagian panjang,
keras seperti papan (punggung) pada satu sisi uterus, dan pada sisi
lain teraba bagian kecil janin. Tujuan: untuk mengetahui batas kiri
atau kanan pada uterus ibu, yaitu punggung pada letak bujur dan
kepala pada letak lintang (Romauli, 2011).
d) Leopold III Dengan ibu jari dan jari tengah satu tangan, berikan
tekanan lembut, tetapi dalam pada abdomen ibu, di atas simpisis
pubis, dan pegang bagian presentasi (Kriebs dan Gegor,
2010).Normal pada bagian bawah janin teraba bagian yang bulat,
keras dan melenting (kepala janin). Tujuan: mengetahui
presentasi/bagian terbawah janin yang ada di simpisis ibu (Romauli,
2011).
e) Leopold IV Tempatkan kedua tangan di masing-masimg sisi uterus
bagian bawah beri tekanan yang dalam dan gerakan ujung-ujung jari
ke arah pintu atas panggul (Kriebs dan Gegor, 2010).Posisi tangan
masih bertemu, dan belum masuk PAP (konvergen), posisi tangan
tidak bertemu dan sudah masuk PAP (divergen). Tujuan: untuk
mengetahui seberapa jauh masuknya bagian terendah janin ke dalam
PAP(Romauli, 2011).
f) Leopold IV (2) Auskultasi Auskultasi adalah pemeriksaan yang
mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh melalui alat
stetoskop (Alimul, 2006).
g) Auskultasi dengan menggunakan stetoskop monoaural atau doopler
untuk menetukan Denyut Jantung Janin (DJJ) setela umur
kehamilan 18 minggu, yang meliputi frekuensi, keteraturan, dan
kekuatan DJJ. DJJ normal adalah 120-160/menit. Bila DJJ <120
atau >160/menit, maka kemungkinan ada kelainan janin atau
plasenta (Walyani, 2015). Pada presentasi biasa (letak kepala),
tempat ini kiri atau kanan dibawah pusat. Jika bagian-bagian anak
belum dapat ditentukan, maka bunyi jantung harus dicari pada garis
tengah di atas simpisis. Cara menghitung bunyi jantung adalah
dengan mendengarkan 3x5 detik kemudian jumlah bunyi jantung
dalam 3x5 detik dikalikan dengan 4.
Apakah yang dapat kita ketahui dari bunyi jantung anak: Dari
adanya bunyi jantung anak (1a) Tanda pasti kehamilan (1b) Anak
hidup (b) Dari tempat bunyi jantung anak terdengar (1a) Presentasi
anak (1b) Posisi anak (kedudukan punggung) (1c) Sikap anak
(habitus) (1d) Adanya anak kembar Kalau bunyi jantung terdengar
di kiri atau di kanan, di bawah pusat maka presentasinya kepala,
kalau terdengar di kiri kanan setinggi atau di atas pusat maka
presentasinya bokong (letak sungsang). Kalau bunyi jantung
terdengar sebelah kiri, maka punggung sebelah kiri, kalau terdengar
sebelah kanan maka punggung sebelah kanan. Kalau terdengar di
pihak yang berlawanan dengan bagian-bagian kecil, sikap anak
fleksi. Kalau terdengar sepihak dengan bagian-bagian kecil sikap
anak defleksi. Pada anak kembar bunyi jantung terdengar pada dua
tempat dengansama jelasnya dan dengan frekuensi yang berbeda
(perbedaan lebih dari 10/menit) (c) Dari sifat bunyi jantung anak
Dari sifat bunyi jantung anak kita mengetahui keadaan anak. Anak
yang dalam keadaan sehat bunyi jantungnya teratur dan
frekuensinya antara 120160/menit. Kalau bunyi jantung <120/menit
atau >160/menit atau tidak teratur, maka anak dalam keadaan
asfiksia atau kekurangan O2 (Obstetri Fisiologi UNPAD, 1984) (3)
Pemeriksaan Ano-Genital Menurut Walyani (2015) pemeriksaan
anus dan vulva. Vulva diinspeksi untuk mengetahui adanya oedema,
varices, keputihan, perdarahan, luka, cairan yang keluar, dan
sebagainya. Menurut Romauli (2011) pada pemeriksaan anus
normalnya tidak ada benjolan atau pengeluaran darah dari anus. (4)
Perkusi Menurut Romauli (2011) pada perkusi dikatakan normal
bila tungkai bawah akan bergerak sedikit ketika tendon diketuk.
Bila gerakannya berlebihan dan cepat, maka hal ini mungkin tanda
pre eklampsi. Bila refleks patella negatif kemungkinan pasien
mengalami kekurangan B1. d) Pemeriksaan Penunjang (1)
Pemeriksaan Darah Menurut Romauli (2011) yang diperiksa adalah
golongan darah ibu dan kadar hemoglobin. Pemeriksaan
hemoglobin dilakukan untuk mendeteksi faktor risiko kehamilan
yang adanya anemia.
4) Pemeriksaan Urin Menurut Romauli (2011) pemeriksaan yang
dilakukan adalah reduksi urin dan kadar albumin dalam urin sehingga
diketahui apakah ibu menderita preeklamsi atau tidak.
2.5.2 Interpretasi data
Pada langkah ini dilakukan pengkajian dengan pengumpulan semua data yang
di perlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap seperti, riwayat
kesehatan, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya, meninjau catatan
terbaru atau catatan selanjutnya, meninjau data laboratorium dan
membandingkannya dengan hasil study (Rukiah: 2013).
Data yang diperoleh untuk kasus anemia dilakukan dengan cara
mengumpulkan data lengkap dari klien dengan menilai keadaan klien melalui
anamnese, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (Laboratorium).
Data subjektif yaitu data yang didapatkan dari ibu seperti ibu mengeluh sering
ermasa lelah dan sering mengantuk, merasa pusing dan lemah, merasa tidak enak
badan, mengeluh sakit kepala. Data objektif yaitu merupakan data dari hasil
pemeriksaan yang dilakukan seperti, tampak kuku pada tangan pucat, konjungtiva
pucat dan hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar Hb < 11 gr%.
2.5.3 Dianosa masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang telah di identifikasi, langkah ini
membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil
mengamati klien, bidan di harapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah
potensial ini benar-benar terjadi.
Adapun Masalah potensial anemia pada ibu hamil dimasa kehamilan, dapat
mengakibatkan abortus, dapat menyebabkan persalinan prematur, dapat
menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim
terganggu(Bothamley 2013: 126).
Sedangkan pada masa persalinan anemia dapat mengakibatkan gangguan his
atau kekuatan untuk mengedan, kala pertama dapat berlangsung lama, kala dua
berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan
operasi kebidanan, kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan
atonia uteri. Pada masa nifas terjadi subinvolusio uteri menimbulkan perdarahan
postpartum, pengeluaran ASI berkurang(Samariantity, 2012:15)
2.5.4 Identifikasi kebutuhan segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau
untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan aggota tim kesehatan yang
lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan
dari proses manejemen kebidanan. Jadi manejemen bukan hanya selama asuhan
primer periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut
bersama bidan terus menerus misalnya pada waktu tersebut dalam persalinan
(Jannah 2013:
208).
Pada kasus anemia tidak diperlukan tindakan segera kepada klien selama
keadaan atau konidis pada ibu yang mengalami anemia ini tidak merasakan seperti
sesak napas, pingsan, syok atau dalam keadaan tidak sedarkan diri.
2.5.5 Intervensi
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang menyeluruh, ditentukan
langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manejemen
terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau di antisipasi, pada
langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat di lengkapi (Jannah
2013: 209).
Tujuan yang ingin dicapai adalah kehamilan berlangsung normal, keadaan ibu
dan janin baik, dan anemia dapat teratasi. Kriteria dalam mencapai tujuan yaitu ibu
dapat mengatasi anemia yang dialaminya, dapat baradaptasi dengan kehamilannya.
Tindakan yang akan diambil jika ditemukan anemia pada ibu hamil yaitu
Pemberian suplemen besi merupakan salah satu cara yang dianggap paling cocok
bagi ibu hamil untuk meningkatkan kadar Hb sampai pada tahap yang diinginkan.
Selama masa kehamilan minimal diberikan 90 tablet sampai 42 minggu setelah
melahirkan, diberikan sejak pemeriksaan ibu hamil pertama. Setiap satu kemasan
tablet besi terdiri dari 30 tablet.
Memberikan informasi kepada ibu tentang pentingnya gizi pada ibu hamil,
istirahat yang cukup serta kebersihan yang harus diperhtikan selama kehamilan
sampai masa persalinan selesai. Sedangkan tindakan segera atau kolaborasi yang
akan dilakukan dengan anemia pada kehamilan jika dibutuhkan yaitu dengan
pemasagan oksigen dan melakukan transfusi darah.
2.5.6 Implementasi
Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh dilangkah lima harus
dilaksanakan secara efesien. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan
atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien atau anggota tim
kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggung
jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya, memastikan langkah-langkah tersebut
benar-benar terlaksana. Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi denga dokter
untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan
dalam manejemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut.
Implementasi yang diberikan pada ibu adalah hasil pemeriksaan kepada ibu
dan jelaskan hal-hal yang di anggap penting, agar ibu dapat mengetahui
perkembangan kehamilannya serta merupakan tujuan utama pelayanan antenatal.
Jelaskan penyebab anemia agar ibu tahu cara mengatasi anemianya. Dan anjuran
pemberian tablet Fe untuk meningkatkan kadar Hb ibu disamping intake makanan
yang mengandung zat besi, istirahat yang cukup serta kebersihan diri yang harus
terjaga.
2.5.7 Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi
sesuai denga kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam maslah dan
diagnosis. Rencana tersebut dapat di anggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaanya. Adapun kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut
lebih efektif sedang sebagian belum efektif (Jannah 2013).
Pada prinsip tahapan evaluasi adalah pengkajian kembali terhadap klien untuk
menjawab pertanyaan seberapa jauh tercapainya rencana yang dilakukan. Untuk
menilai ke efektifan tindakan yang diberikan, bidan dapat menyimpulkan jumlah
kadar Hb dengan melakukan pemeriksaan laboratorium kembali.
2.6 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan INC, Menggunakan Varney
2.6.1 Pengkajian
1) Subyektif
1. Keluhan utama Keluhan utama atau alasan utama wanita datang kerumah sakit
atau bidan ditentukan dalam wawacara.
Hal ini bertujuan mendiagnosa persalinan tanpa menerima pasien secara resmi
mengurangi atau menghindari beban biaya pada pasien. Ibu diminta untuk
menjelaskan hal-hal berikut :
a. Frekuensi dan lama kontraksi
b. Lokasi dan karakteristik rasa tidak nyaman akibat kontraksi
c. Menetapkan kontraksi meskipun perubahan posisi saat ibu berjalan atau
berbaring
d. Keberadaan dan karakter rabas atau show dari vagina
e. Status membran amnion Pada umumnya klien mengeluh nyeri pada daerah
pinggang menjalar keperut, adanya his yang semakin sering, teratur,
keluarnya lendir darah, perasaan selalu ingin buang air kemih
2. Pola Aktifitas Sehari-hari
a. Pola Nutrisi Aspek ini adalah komponen penting dalam riwayat prenatal.
Status nutrisi seorang wanita memiliki efek langsung pada pertumbuhan
dan perkembangan janin. Pengkajian diet dapat mengungkapkan data
praktek khusus, alergi makanan, dan perilaku makan, serta faktor-faktor
lain yang terkait dengan status nutrisi. Jumlah tambhan kalori yang
dibutuhkan ibu hamil adalah 300 kalori dengan komposisi menu seimbang
(cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, nutrisi, vitamin, air dan
mineral).
b. Pola Eliminasi Pola eliminasi meliputi BAK dan BAB. Dalam hal ini perlu
dikaji terakhir kali ibu BAK dan BAB. Kandung kemih yang penuh akan
menghambat penurunan bagian terendah janin sehingga diharapkan ibu
dapat sesering mungkin BAK. Apabila ibu belum BAB kemungkinan akan
dikeluarkan saat ersalinan, yang dapat mengganggu bila bersamaan dengan
keluarnya kepala bayi. Pada akhir trimester III dapat terjadi konstipasi.
c. Pola Personal Hygiene Kebersihan tubuh senantiasa dijaga kebersihannya.
Baju hendaknya yang longgar dan mudah dipakai, sepatu atau alas kaki
dengan tumit tinggi agar tidak dipakai lagi.
d. Pola fisik dan istirahat Klien dapat melakukan aktifitas biasa terbatas
aktifitas ringan, membutuhkan tenaga banyak, tidak membuat klien cepat
lelah, capeh, lesu. Pada kala I apabila kepala janin masuk sebagian ke
dalam PAP serta ketuban pecah, klien dianjurkan untuk duduk dan berjalan-
jalan disekitar ruangan atau kamar bersalin. Pada kala II kepala janin sudah
masuk rongga PAP klien dalam posisi miring, kekanan atau ke kiri. Klien
dapat tidur terlentang, miring kiri atau ke kanan tergantung pada letak
punggung anak, klien sulit tidur pada kala I – kala IV.
2.6.1.2 Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Kesadaran
b. Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan)
c. LILA Untuk mengetahui status gizi ibu, normalnya 23,5 Cm
d. Berat badan Ditimbang waktu tiap kali ibu datang untuk control
kandungannya
e. Tinggi Badan Pengukuran cukup dilakukan satu kali yaitu saat ibu
melakukan pemeriksaan kehamilan pertama kali.
2. Pemeriksaan fisik obstetri
a. Muka : apakah oedema atau tidak, sianosis atau tidak
b. Mata : konjungtiva : normalnya berwaran merah mudah
Sclera : normalnya berwarna putih
c. Hidung : bersih atau tidak, ada luka atau tidak, ada caries atau tidak
d. Leher : ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe atau tidak e)
Dada : payudara simetris atau tidak, putting bersih dan menonjol atau
tidak, hiperpigmentasi aerola atau tidak, colostrums sudah keluar atau
tiadak
e. Abdomen : ada luka bekas SC atau tidak, ada linea atau tidak, striae
albicans atau lividae
1) Leopold I : tinggi fundus uteri sesuai dengan usia kehamilan atau
tidak, di fundus normalnya teraba bagian lunak dan tidak melenting
(bokong).
2) Leopold II : normalnya teraba bagian panjang, keras seperti papan
(punggung), pada satu sisi uterus dan pada sisi lainnya teraba bagian
kecil.
3) Leopold III : normalnya teraba bagian yang bulat keras dan
melenting pada bagian bawah uterus ibu (simfisis) apakah sudah
masuk PAP atau belum.
4) Leopold IV : dilakukan jika pada Leopold III teraba bagian janin
sudah masuk PAP. Dilakukan dengan menggunakan patokan dari
penolong dan simpisis ibu, berfungsi untuk mengetahui penurunan
presentasi.
5) Denyut Jantung Janin(DJJ) : terdengar denyut jantung dibawah
pusat ibu (baik di bagian kiri atau kanan). Normalnya 120-160
x/menit g) Genetalia : vulva dan vagina bersih atau tidak, oedema
atau tidak, ada flour albus atau tidak, ada pembesaran kelenjar skene
dan kelenjar bartolini atau tidak, ada kandiloma atau tidak, ada
kandiloma akuminata atau tidak, ada kemerahan atau tidak. Pada
bagian perineum ada luka episiotomy atau tidak. Pada bagian anus
ada benjolan atau tidak, keluar darah atau tidak
f. Ektremitas atas dan bawah : simetris atau tidak, oedema atau tidak,
varises atau tidak. Pada ekstremitas terdapat gerakan refleks pada kaki,
baik pada kaki kiri maupun kaki kanan.
3. Pemeriksaan khusus Vaginal toucher sebaiknya dilakukan setiap 4 jam
selama kala I persalinan dan setelah selaput ketuban pecah, catat pada jam
berapa diperiksa, oleh siapa dan sudah pembukaan berapa, dengan VT
dapat diketahui juga effacement, konsistensi, keadaan ketuban, presentasi,
denominator, dan hodge.Pemeriksaan dalam dilakukan atas indikasi
ketuban pecah sedangkan bagian depan masih tinggi, apabila kita
mengharapkan pembukaan lengkap, dan untuk menyelesaikan persalinan.
2.6.2 Interpretasi data
Pada langkah ini dilakukan pengkajian dengan pengumpulan semua data yang
di perlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap seperti, riwayat
kesehatan, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya, meninjau catatan
terbaru atau catatan selanjutnya, meninjau data laboratorium dan
membandingkannya dengan hasil study (Rukiah: 2013).
Data yang diperoleh untuk kasus anemia dilakukan dengan cara
mengumpulkan data lengkap dari klien dengan menilai keadaan klien melalui
anamnese, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (Laboratorium).
Data subjektif yaitu data yang didapatkan dari ibu seperti ibu mengeluh sering
ermasa lelah dan sering mengantuk, merasa pusing dan lemah, merasa tidak enak
badan, mengeluh sakit kepala. Data objektif yaitu merupakan data dari hasil
pemeriksaan yang dilakukan
2.6.3 Dianosa masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang telah di identifikasi, langkah ini
membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil
mengamati klien, bidan di harapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah
potensial ini benar-benar terjadi.
Sedangkan pada masa persalinan anemia dapat mengakibatkan gangguan his
atau kekuatan untuk mengedan, kala pertama dapat berlangsung lama, kala dua
berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan
operasi kebidanan, kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan
atonia uteri. Pada masa nifas terjadi subinvolusio uteri menimbulkan perdarahan
postpartum, pengeluaran ASI berkurang(Samariantity, 2012:15)
2.6.4 Identifikasi kebutuhan segera
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang menyeluruh, ditentukan
langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manejemen
terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau di antisipasi, pada
langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat di lengkapi (Jannah
2013: 209).
Tujuan yang ingin dicapai adalah kehamilan berlangsung normal, keadaan ibu
dan janin baik, dan anemia dapat teratasi. Kriteria dalam mencapai tujuan yaitu ibu
dapat mengatasi anemia yang dialaminya, dapat baradaptasi dengan kehamilannya.
Tindakan yang akan diambil jika ditemukan anemia pada ibu hamil yaitu
Pemberian suplemen besi merupakan salah satu cara yang dianggap paling cocok
bagi ibu hamil untuk meningkatkan kadar Hb sampai pada tahap yang diinginkan.
Selama masa kehamilan minimal diberikan 90 tablet sampai 42 minggu setelah
melahirkan, diberikan sejak pemeriksaan ibu hamil pertama. Setiap satu kemasan
tablet besi terdiri dari 30 tablet.
Memberikan informasi kepada ibu tentang pentingnya gizi pada ibu hamil,
istirahat yang cukup serta kebersihan yang harus diperhtikan selama kehamilan
sampai masa persalinan selesai. Sedangkan tindakan segera atau kolaborasi yang
akan dilakukan dengan anemia pada kehamilan jika dibutuhkan yaitu dengan
pemasagan oksigen dan melakukan transfusi darah.
2.6.5 Intervensi
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang menyeluruh, ditentukan
langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manejemen
terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau di antisipasi, pada
langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat di lengkapi (Jannah
2013: 209).
Intervensi pada ibu bersalin yaitu memberikan asuhan 60 langkah APN yang
sesuai standar asuhan kebidanan menurut WHO.
2.6.6 Implementasi
Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh dilangkah lima harus
dilaksanakan secara efesien. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan
atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien atau anggota tim
kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggung
jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya, memastikan langkah-langkah tersebut
benar-benar terlaksana. Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi denga dokter
untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan
dalam manejemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut asuhan
implementasi pada ibu bersalin yaitu memberikan asuhan 60 langkah APN yang
sesuai standar asuhan kebidanan menurut WHO.
2.6.7 Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi
sesuai denga kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam maslah dan
diagnosis. Rencana tersebut dapat di anggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaanya. Adapun kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut
lebih efektif sedang sebagian belum efektif (Jannah 2013).
Pada prinsip tahapan evaluasi adalah pengkajian kembali terhadap klien untuk
menjawab pertanyaan seberapa jauh tercapainya rencana yang dilakukan. Untuk
menilai ke efektifan tindakan yang diberikan bidan.

2.7 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan PNC, Menggunakan Varney


2.7.1 Pengkajian
2.7.1.1 Subyektif Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua
data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan langkah
pertama untuk mengumpulkan semua sumber yang berkaitan dengan kondisi
pasien (Wulandari, 2008 ).
1. Biodata yang mencakup identitas pasien
2. Keluhan Utama Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan
denganmasa nifas, misalnya pasien mersa mules, sakit pada jalan lahir, karena
adanya jahitan pada perineum(Ambrawati, Wulandari, 2008 )
3. Riwayat Mestruasi
4. Riwayat obstetric
a. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu. Berapa kali ibu hamil,
apakah perna abortus, jumlah anak, cara persalinan yang lalu, penolong
persalinan, keadaan nifas yang lalu.
b. Riwayat persalinan sekarang Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis
kelaminan anak, keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal
ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami
kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini
(Wulandari, 2008).
c. Riwayat KB Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan
kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini dan beralih ke
kontarsepsi apa(Ambrawati, Wulandari, 2008 ).
5. Riwayat kesehatan klien
a. Riwayat kesehatan yang lalu Data-data ini diperlukan untuk mengetahui
kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti: jantung,
DM, Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini.
b. Riwayat kesehatan sekarang Data-data ini diperlukan untuk mengetahui
kemungkinan adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang
hubungannya dengan nifas dan bayinya.
c. Riwayat kesehatan keluarga Data ini diperlukan untuk mengetahui
kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan
kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabilah ada penyakit keluarga yang
menyertainya (Ambrawati, Wulandari, 2008).
6. Pola / Data fungsional Kesehatan
a. Nutrisi Gizi atau nutrisi adalah zat yang diperlukan oleh tubuh untuk
keperluan metabolismenya. Kebutuhan gizi pada masa nifas terutama bila
menyusui akan akan meningkat 25%, karena berguna untuk proses
kesembuhan karena sehabis melahirkan dan untuk memproduksi ASI yang
cukup untuk menyehatkan bayi. Semua itu akan meningkat tiga kali dari
kebutuhan biasa. Makanan yang dikonsumsi berguna untuk melakukan
altivitas, metabolisme, cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI serta
sebagai ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan
perkembangan. Menu makanan seimbang yang harus dikomsumsi adalah
porsi cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas atau berlemak, tidak
mengandung alcohol, nikotin serta bahan pengawet atau pewarna
(Ambrawati, Wulandari, 2008 ).
b. Istirahat Kebahagiaan setelah melahirkan membuat ibu sulit istirahat.
Seorang ibu baru akan cemas apakah ia akan mampu merawat anaknya atau
tidak. Hal ini mengakibatkan sulit tidur. Juga akan terjadi gangguan pola
tidur karena beban kerja bertambah, ibu harus bangun malam untuk
meneteki atau mengganti popok yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.
Anjurkan ibu supaya istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan. Sarankan ibu untuk kembali pada kegiatan rumah tangga secara
perlahan-lahan serta untuk tidur siang atau beristirahat selama bayi tidur.
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal antara lain
mengurangi jumlah ASI yang di produksi, memperlambat proses involusi
uteri dan memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi dan
ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
c. Aktivitas Perlu dikaji untuk mengetahui apakah bendungan ASI yang
dialami ibu disebabkan karena aktivitas fisik secara berlebihan (Saifuddin,
2006).
d. Eliminasi Dalam 6 jam pertama post partum, pasien sudah harus dapat
buang air kecil. Semakin lama urine tertahan dalam kandung kemih maka
dapat mengakibatkan kesulitan pada organ perkemihan, misalnya infeksi.
Biasanya, pasien menahan air kencing karena takut akan merasakan sakit
pada luka jalan lahir. Bidan harus dapat meyakinkan pada pasien bahwa ia
pasti mampu menahan sakit pada luka jalan lahir. Bidan harus meyakinkan
pada pasien bahwa kencing sesegera mungkin setelah melahirkan akan
mengurangi komplikasi post partum. Berikan dukungan mental pada pasien
bahwa ia pasti mampu menahan sakit pada luka jalan lahir akibat terkena
air kencing karena iapun sudah berhasil berjuang untuk melahirkan
bayinya.Dalam 24 jam pertama, pasien juga sudah harus dapat buang air
besar karena semakin lama feses tertahan dalam usus maka akan semakin
sulit baginya untuk buang air besar secara lancar. Feses yang tertahan
dalam usus semakin lama akan semakin mengeras karena cairan yang
terkandung dalam feses akan selalu terserap oleh usus. Bidan harus dapat
meyakinkan pasien untuk tidak takut buang air besar karena buang air besar
tidak akan menambah para luka jalan lahir. Untuk meningkatkan volume
feses, anjurkan pasien untuk makan tinggi serat dan banyak minum air
putih ( Purwanti, 2011)
e. Kebersihan diri Karena keletihan dan kondisi psikis yang belum stabil,
biasanya ibu post partum masih belum cukup kooperatif untuk
membersihkan dirinya. Bidan harus bijaksana dalam memberikan motivasi
tanpa mengurangi keaktifan ibu untuk melakukan personal hygiene secara
mandiri. Pada tahap awal, bidan dapat melibatkan keluarga dalam
perawatan kebersihan ibu. Beberapa langkah penting dalam perawatan
kebersihan diri ibu pos partum, antara lain seksual. Secara fisik aman untuk
memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat
memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu
darah merah berhenti dan ibu tidak merasa nyeri, aman untuk memulai,
melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Banyak budaya yang
mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu
tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan
bergantung pada pasangan yang bersangkutan (Saleha, 2009).
7. Riwayat psikososial budaya Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang
menganut adat istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan pasien
khususnya pada masa nifas misalnya pada kebiasaan pantang makanan. Untuk
mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya. Wanita banyak
mengalami perubahan emosi/ psikologis selama masa nifas sementara ia
menyesuaikan diri menjadi seorang ibu (Ambrawati, Wulandari, 2008).
2.7.1.2 Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum dan kesadaran penderita Compos mentis (kesadaran
baik) gangguan kesadaran (apatis, samnolen, spoor, koma).
b. Tanda-tanda vital
2. Pemeriksaan fisik
a. Muka Periksa palpebra, konjungtiva, dan sclera. Periksa palpebra untuk
memperkirakan gejala oedema umum. Periksa konjungtiva dan sclera
untuk memperkirakan adanya anemia dan ikterus.
b. Mata Dilakukan pemeriksaan dengan melihat konjungtiva, sclera,
kebersihan, kelainan, serta gangguan pengelihatan.
c. Hidung Dilakukan pemeriksaan dengan melihat kebersihan, adanya
polip, dan alergi pada debu.
d. Mulut Periksa adanya karies, tonsillitis atau faringitis. Hal tersebut
merupakan sumber infeksi.
e. Leher Periksa adanya pembesaran kelenjar limfe dan parotitis.
f. Ketiak Periksa adanya kelainan atau tidak serta periksa adanya luka atau
tidak.
g. Payudara Inspeksi bentuk payudara, benjolan, pigmentasi putting susu.
Palpasi adanya benjolan (tumor mamae) dan colostrum.
h. Genitalia
1) Lochea normal: merah hitam (lochea rubra), bau biasa, tidak ada
bekuan darah atau butir-butir darah beku (ukuran jeruk kecil), jumlah
perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya perlu mengganti pembalut
setiap 3-5 jam).Lochea abnormal: merah terang, baubusuk,
mengeluarkan darah beku, perdarahan berat (memerlukan
penggantian pembalut setiap 0-2 jam).
2) Keadaan perineum: oedema, hematoma,bekas luka
episiotomi/robekan, hecting (Ambrawati, Wulandari, 2008).
i. Kandung kemih : kosong atau tidak
j. Anus : tidak ada hemorrhoid
k. Ekstremitas : tidak ada oedema, varices pada ekstrimitas atas
danbawah (Depkes, 2002).
3. Pemeriksaan penunjang/laboratorium Melakukan tes laboratorium yang
diperlukan yakni protein urine, glukosa urine dan hemoglobin, golongan
darah (Sulistyawati, 2009).

2.7.2 Interpretasi data


Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus atau tidak,
keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang keluhannya, data obyektif
yaitu Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan tentang
pengeluaran pervaginam, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (Ambarwati, 2010)
2.7.3 Dianosa masalah potensial
Diagnosa kebidanan dan masalah berdasarkan intrepertasi yang benar atas
data-data yang telah di kumpulkan. Dalam langkah ini data yang telah
dikumpulkan di intepretasikan menjadi diagnosa kebidanan dan masalah.
Keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti
diagnosa tetapi membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam rencana asuhan
terhadap pasien, masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang
diidentifikasikan oleh bidan.Diagnosa kebidanan Diagnosa dapat ditegakan yang
berkaitan dengan para, abortus, anak , umur ibu, dan keadaan nifas. Data
2.7.4 Identifikasi kebutuhan segera
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan.
Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan
atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan
lainnya sesuai dengan kondisi pasien (Ambrawati, 2010).
2.7.5 Intervensi
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang menyeluruh, ditentukan
langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manejemen
terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau di antisipasi, pada
langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat di lengkapi (Jannah
2013: 209).
2.7.6 Implementasi
Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh dilangkah lima harus
dilaksanakan secara efesien. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan
atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien atau anggota tim
kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggung
jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya, memastikan langkah-langkah tersebut
benar-benar terlaksana. Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi denga dokter
untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan
dalam manejemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh.
2.7.7 Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi
sesuai denga kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam maslah dan
diagnosis. Rencana tersebut dapat di anggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaanya. Adapun kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut
lebih efektif sedang sebagian belum efektif (Jannah 2013).
Pada prinsip tahapan evaluasi adalah pengkajian kembali terhadap klien untuk
menjawab pertanyaan seberapa jauh tercapainya rencana yang dilakukan. Untuk
menilai ke efektifan tindakan yang diberikan bidan.

2.8 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir Menggunakan Varney
2.8.1 Pengkajian
Subyektif Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui
anmanesa sebagai langkah I Varney. S (Subyektif) ini merupakan informasi yang
diperoleh langsung dari klien. Informasi tersebut dicatat sebagai kutipan langsung
atau ringkasan yang berhubungan dengan diagnosa(Marmi, 2012). Catatan ini
berhubungan masalah dengan sudut pandang pasien, Ekspresi pasien mengenai
kekhawatiran dan keluhannya dicatat sehingga kutipan langsung atau ringkasan yang
berhubungan dengan diagnosa (data primer), Pada bayi atau anak kecil data subyektif
ini dapat diperoleh dari orangtuanya (data sekunder
2.8.1.1 Data subyektif menguatkan diagnosa yang akan dibuat.
Tanda gejala subyektif yang diperoleh dari hasil bertanya dari pasien, suami atau
keluarga yaitu:
1. Menanyakan identitas neonatus yang meliputi:
a. Nama bayi ditulis dengan nama ibu, misal bayi Ny. Nina,
b. Tanggal dan Jam Lahir
c. Jenis Kelamin
2. Identitas orangtua
3. Menanyakan riwayat kehamilan sekarang Menanyakan riwayat kehamilan,
persalinan dan nifas sekarang yang meliputi: apakah selama kehamilan ibu
mengkonsumsi obat-obatan selain dari tenaga kesehatan, apakah ibu
mengkonsumsi jamu, menanyakan keluhan ibu selama kehamilan, apakah
persalinannya spontan, apakah persalinan dengan tindakan atau operasi, apakah
mengalami perdarahan atau kelainan selama persalinan, apakah saat ini ibu
mengalami kelainan nifas, apakah terjadi perdarahan.
4. Menanyakan riwayat intranatal Menanyakan riwayat intranatal yang meliputi :
apakah bayi mengalami gawat janin, apakah dapat bernapas spontan segera
setelah bayi lahir.
2.8.1.2 Obyektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik pasien, hasil laboratorium
dan tes diagnosis lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung
assesment sebagai langkah I Varney. Data yang diperoleh dari apa yang dilihat dan
dirasakan oleh bidan pada waktu pemeriksaan termasuk juga hasil pemeriksaan
laboratorium dan USG. Apa yang dapat di observasi oleh bidan akan menjadi
komponen yang berarti dari diagnosa yang akan ditegakkan (Marmi, 2012).
1. Data ini memberi bukti gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan
diagnosa.
2. Data yang digolongkan dalam kategori ini antara lain; data psikologi, hasil
observasi yang jujur, informasi kajian teknologi (hasi; pemeriksaan laboratorium,
rontgen, USG)
3. Apa yang dapat diobservasikan oleh bidan akan menjadi komponen yang penting
dari diagnosa yang ditegakkan.
4. Tanda gejala obyektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan antara lain:
a. Periksa keadaan umum:
1) Ukuran secara keseluruhan (perbandingan tubuh bayi proporsional/tidak).
2) Tonus otot, tingkat aktivitas (gerakan bayi aktif atau tidak)
3) Warna kulit dan bibir (kemerahan/kebiruan)
4) Tangis bayi
5) Periksa tanda vital
6) Periksa laju napas dihitung selama 1 menit penuh dengan mengamati naik
turun dinding dada dan abdomen secara bersamaan. Laju napas normal 40-
60 x/menit.
7) Periksa laju jantung menggunakan stetoskop dapat didengar dengan jelas.
Dihitung selama 1 menit. Laju jantung normal 120-160 x/menit.
8) Suhu tubuh bayi baru lahir normalnya 36,5-37,5°C diukur dengan
termometer di daerah aksila bayi
9) Lakukan penimbangan Letakkan kain dan atur skala timbangan ke titik nol
sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi dengan berat alas dan
pembungkus bayi.
10) Lakukan pengukuran panjang badan Letakkan bayi di tempat datar. Ukur
panjang badan bayi menggunakan alat pengukur panjang badan dari kepala
sampai tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan.
11) Ukur lingkar kepala Pengukuran dilakukan dari dahi kemudian melingkari
kepala kembali ke dahi
12) Periksa kepala Periksa ubun-ubun, sutura/molase, pembengkakan/daerah
yang mencekung
13) Ukur lingkar lengan atas Pengukuran dilakukan pada pertengahan lengan
bayi
14) Periksa telinga Periksa hubungan letak mata dan kepala. Tatap wajahnya,
bayangkan sebuah garis melintas kedua matanya dan bunyikan bel/suara,
apabila terjadi refleks terkejut maka pendengaran baik, apabila tidak terjadi
refleks kemungkinan mengalami gangguan pendengaran.
15) Periksa mata Bersihkan kedua mata bayi dengan kapas dan buka mata bayi
dan lihat apakah ada tanda infeksi/pus serta kelainan pada mata.
16) Periksa hidung dan mulut Apakah bayi dapat bernapas dengan mudah
melalui hidung/ada hambatan dan lakukan pemeriksaan pada bibir dan
langit, refleks isap dinilai dengan mengamati pada saat bayi menyusui.
Perhatikan adanya kelainan kongenital.
17) Periksa leher Amati apakah ada pembengkakan atau benjolan serta amati
juga pergerakan leher.
18) Periksa dada Periksa bentuk dada, puting, bunyi napas, dan bunyi jantung
dan ukur lingkar dada dari daerah dada ke punggung kembali ke dada
(pengukuran dilakukan melalui kedua puting susu).
19) Periksa bahu, lengan dan tangan Sentuh telapak tangan bayi dengan jari
anda dan hitung jumlah jari tangan bayi; bayi akan menggenggam tangan
anda kuat-kuat sehingga tubuhnya terangkat naik.
20) Periksa sistem saraf, adanya refleks morro Pemeriksa bertepuk tangan, jika
terkejut bayi akan membuka telapak tangannya seperti akan mengambil
sesuatu.
21) Periksa perut bayi Perhatikan bentuk, penonjolan sekitar tali pusat,
perdarahan tali pusat, dan benjolan di perut bayi.
22) Periksa alat kelamin Untuk laki-laki, periksa apakah kedua testis sudah
berada dalam skrotum dan penis berluang diujungnya.Untuk bayi
perempuan periksa labia mayora dan minora, apakah vagina dan uretra
berlubang.
23) Periksa tungkai dan kaki Perhatikan bentuk, gerakan dan jumlah jari
24) Periksa punggung dan anus bayi Letakkan bayi dalam posisi telungkup,
raba sepanjang tulang belakang untuk mencari ada tidaknya kelainan.
Periksa juga lubang anus.
25) Periksa kulit bayi Perhatikan verniks caseosa (tidak perlu dibersihkan
karena menjaga kehangatan tubuh), warna kulit, pembengkakan, bercak
hitam dan tanda lahir.
2.8.2 Interpretasi data
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus atau tidak,
keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang keluhannya, data obyektif
yaitu Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan tentang
pengeluaran pervaginam, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (Ambarwati, 2010)
2.8.3 Dianosa masalah potensial
Diagnosa adalah hasil pengkajian mengenai kondisi klien berdasarkan hasil
analisa data yang didapat. Segala sesuatu masalah yang menyimpang sehingga
kebutuhan klien terganggu, kemungkinan mengganggu kehamilan atau kesehatan
bayi tetapi tidak masuk dalam diagnosa.
2.8.4 Identifikasi kebutuhan segera
Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi atau kolaborasi
atau rujukan sebagai langkah 2,3 dan 4 varney. Mengidentifikasi masalah atau
diagnosa potensial lainnya berdasarkan masalah yang sudah ada adalah suatu
bentuk antisipasi, pencegahan apabila perlu menunggu dengan waspada dan
persiapan untuk suatu pengakhiran apapun. Langkah ini sangat vital untuk asuhan
yang aman. Untuk menjaga kehangatan tubuh bayi dianjurkan agar tidak mandikan
sedikitnya 6 jam setelah lahir (Asri dan Clervo, 2012). Epidermis dan dermis tidak
terikat dengan baik dan sangat tipis (Lailiyana dkk, 2012). Apabila bayi dibiarkan
dalam suhu kamar maka akan kehilangan panas melalui konveksi (Sudarti dan
Fauziah, 2012).Surasmi dkk (2013)juga menjelaskan hiperbilirubinemia adalah
kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologi. Dapat juga diartikan
sebagai ikterus dengan konsentrasi bilirubin, yang serumnya mungkin menjurus ke
arah terjadinya kernicterus bila kadar bilirubin tidak dikendalikan.Masalah atau
diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data atau informasi subyektif maupun
obyektif yang dikumpulkan dan disimpulkan. (Marmi, 2012).
2.8.5 Intervensi
Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang menyeluruh, ditentukan
langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manejemen
terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau di antisipasi, pada
langkah ini informasi atau data dasar yang tidak lengkap dapat di lengkapi (Jannah
2013: 209).
2.8.6 Implementasi
Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh dilangkah lima harus
dilaksanakan secara efesien. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan
atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien atau anggota tim
kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggung
jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya, memastikan langkah-langkah tersebut
benar-benar terlaksana. Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi denga dokter
untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan
dalam manejemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh.

2.8.7 Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah
diberikan meliputi kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi
sesuai denga kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam maslah dan
diagnosis. Rencana tersebut dapat di anggap efektif jika memang benar efektif
dalam pelaksanaanya. Adapun kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut
lebih efektif sedang sebagian belum efektif (Jannah 2013).
Pada prinsip tahapan evaluasi adalah pengkajian kembali terhadap klien untuk
menjawab pertanyaan seberapa jauh tercapainya rencana yang dilakukan. Untuk
menilai ke efektifan tindakan yang diberikan bidan.
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Eny dan Wulandari. 2010, Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Nuha Medika.
Arisman. 2011.Gizi Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Arief Mansjoer. 2011 .Kapita Selekta Kedokteran.Media Aesculpius. Jakarta
Asri, Dwi dan Clervo. 2010. Asuhan Persalinan Normal. Yogyakarta: Nuha Medika
Aziz Alimul.H. 2011. Pengantar Kebutuhan Dasar Munusia Aplikasi Konsep dan Proses
Keperawatan.Jakarta. Salemba Medika
Bothamley, Judy. 2013. Patofisiologi Dalam Kebidanan. Jakarta: penerbit buku kedokteran
EGC.
Marmi.2011.Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta: Nuha Medika.
Mangkuji Betty. 2013. Asuhan Kebidanan Tujuh Langkah Varney. Jakarta. Penerbit buku
kedokteran EGC.
Maryunani, Anik. 2010. Biologi Reproduksi Dalam Kebidanan. Jakarta: CV Trans Info
Medika.
Nirwana, Ade Benih. 2011. Kapita Selekta Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Nugroho Taufan. 2012. Patologi Kebidanan. Yongyakarta: Naha Medika.
Nugroho, Taufik. 2014. Buku Ajar Askeb 1 Kehamilan. Yogyakarta: Naha Medika.
Nurhayati, Aprina. 2013. Konsep kebidanan. Jakarta. Penerbit salemba medika.
Prawirohadjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono. 2014
Proverawati Atikah. 2011. Anemia Dan Anemia Kehamilan. Nuha Medika. Yogyakarta.
Purwoastuti, Endang. 2015.Ilmu Obstetri Dan Ginekologi Sosial bagi Kebidanan.
Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Pantikawati, Ika. 2012. Asuhan kebidanan 1 kehamilan. Yongyakarta: nuha medika.
Rukiyah, Ai Yeyeh. 2013. Asuhan Kebidanan 1 Kehamilan. Jakarta: CV Trans Info Medika.
Robson, Elizabeth. 2011. Patologi Pada Kehamilan: Manajemen dan Asuhan Kebidanan.
Jakarta: EGC.
Tarwoto.2013.Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil. Jakarta: Trans Info Medika.