Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

INSFEKSI MASA NIFAS


Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal
Dosen Pengampu : Desi Hertati, SST., M.Keb

Disusun Oleh : Kelompok III


AYU WULANDARI NIM 2019.A.10.0794
ELIN NIM 2019.A.10.0800
ERVIANA ARINDA DEWI NIM 2019.A.10.0801
EZRA NOVITA SULISTIA NINGRUM NIM 2019.A.10.0803
RINI ANGGRAINI NIM 2019.A.10.0820

YAYASAN EKAHARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2021
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
judul“Insfeksi Masa Nifas Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal”.Selama
mengikuti pendidikan ini penulis telah banyak mendapat bantuan dan dukungan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa terimakasih yang
takterhingga pada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan kepada
penulis. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada yang terhormat :
1. Ibu Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M. Kes Selaku Ketua STIKes Eka Harap
Palangka Raya.
2. Ibu Desi Kumala,SST.,M.Kes Selaku Ketua Prodi DIII Kebidanan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.
3. Ibu Desi Hertati, SST., M.Keb Selaku dosen pengampu Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.
4. Seluruh staf pengajar jurusan DIII Kebidanan sekolah tinggi ilmu kesehatan
eka harap palangka raya yang telah memberikan bimbingan dan ilmu
pengetahuan selamaini.
5. Kepada kedua orang tua dan saudara-saudara saya yang selama ini telah
banyak memberikan dukungan baik secara materi, doa, nasehat, dan
senantiasa memotivasisayai dalam menyelesaikan tugas ini.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................


....................................................................................................................................i
DAFTAR ISI ............................................................................................................
....................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..............................................................................................
........................................................................................................................1
B. Tujuan ............................................................................................................
........................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian.......................................................................................................
2
B. Jenis-Jenis Infeksi..........................................................................................
2
C. Pencegahan Infeksi Nifas...............................................................................
6
D. Masalah Lain Yang Biasa Dihadapi Pada Masa Nifas...................................
7
E. Etiologi...........................................................................................................
9
F. Manifestasi klinis...........................................................................................
9
G. Patofisiologi...................................................................................................
12
H. Klasifikasi......................................................................................................
12
I. Komplikasi.....................................................................................................
12
J. Data penunjang...............................................................................................
12

ii
K. Penatalaksanaan medis...................................................................................
13

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan.....................................................................................................
14
B. Saran...............................................................................................................
14

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................
....................................................................................................................................15

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan yaitu setelah kelahiran plasenta selesai sampai alat-alat kandungan
kembali seperti pra-hamil, lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu.
Infeksi nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah
persalinan. Suhu 38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum
dan diukur peroral sedikitnya empat kali sehari. Istilah infeksi nifas mencakup
semua peradangan yangdisebabkan oleh mesuknya kuman-kuman kedalam alat
genetalia pada waktu persalinan dan nifas. Infeksi nifas pada awalnya adalah
penyebab kematian maternal yang paling banyak,namun dengan kemajuan
ilmu kebidanan terutama pengetahuan tentang sebab-sebab infeksi nifas,
pencegahan dan penemuan obat-obat baru dari itulah dapat diminimalisir
terjdinya infeksi nifas.
Dari itulah seorang bidan perlu mengetahui tentang infeksi nifas, mulai
dari apa itu infeksi nifas , bagaimana penyebab terjadinya infeksinya,
pencegahanya dan pegobatan dari infeksi nifas tersebut . Hal ini ditujukan
untuk terwujugnya persalinan yang aman asuhan nifas yang higienis sehingga
komplikasi pada masa nifas tidak lagi terjadi.
B. Rumusan Masalah
Untuk mengetahui tentang infeksi nifas, mulai dari apa itu infeksi nifas ,
bagaimana penyebab terjadinya infeksinya, pencegahanya dan pegobatan dari
infeksi nifas.
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi dalam masa nifas dan
bagaimana cara mengatasi masalahnya.
2. Untuk mengetahui tentang masalah-masalah yang dihadapi dalam masa
nifas dan bagaimana cara mengatasi masalah,
3. Untuk menambah pengetahuan tentang masalah-masalah pada ibu nifas,
4. Untuk menambah pengetahuan tentang cara mengatasi masalah dalam
masa nifas

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Infeksi nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah
persalinan. Suhu 38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum
dan diukur peroral sedikitnya empat kali sehari.
Masa Nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran placenta dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil
dan berlangsung kira-kira 6 minggu.
Setelah persalinan, terjadi beberapa perubahan penting di antara nya
makin meningkatkan pembentukan urine untuk mengurangi hemodilusi
darah,terjadi beberapa penyerapan bahan tertentu melalui pembuluh darah
vena sehingga mengalami peningkatan suhu badan sekitar 0,5 C yang bukan
merupakan keadaan patologis menyimpang pada hari pertama. Perlukaan
karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman ke dalam
tubuh,sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas.
Infeksi kala nifas adalah infeksi-perdangan pada semua alat genetalia
pada masa nifas oleh sebab apapun dengan kententuan meningkatnya suhu
badan melebihi 38 C tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut
selama 2 hari. Masuknya kuman-kuman dapat terjadi dalam kehamilan,waktu
persalinan dan nifas. Hal ini dapat mengakibatkan demam nifas yaitu demam
dalam nifas.
B. Jenis-Jenis Infeksi
1. Infeksi pada perineum, vulva, vagina dan serviks
Gejalanya berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi dan kadang-
kadang perih bila kencing. Bila getah radang bisa keluar, biasanya
keadaannya tidak berat, suhu sekitar 38°C dan nadi di bawah 100 per
menit. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak
dapat keluar, demam bisa naik sampai 39 – 40°C dengan kadang-kadang
disertai menggigil.

2
3

2. Endometritis
Jenis infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman
memasuki endometrium, biasanya pada luka bekas insersio plasenta, dan
dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada infeksi
dengan kuman yang tidak seberapa patogen radang terbatas pada
endometritium.
Gambaran klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan
penderita, dan derajat trauma pada jalan lahir. Biasanya demam mulai 48
jam postpartum dan bersifat naik turun (remittens). His royan dan lebih
nyeri dari biasa dan lebih lama dirasakan. Lochia bertambah banyak,
berwarna merah atau coklat dan berbau. Lochia berbau tidak selalu
menyertai endometritis sebagai gejala. Sering ada sub involusi. Leucocyt
naik antara 15000-30000/mm³.
Kadang-kadang lokia tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput
ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiametra dan dapat menyebabkan
kenaikan suhu. Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada
perabaan dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas, penderita
merasa kurang sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertama. Mulai hari ke-
3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari
suhu dan nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan
sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan
kadang-kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya berat.
Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan
tidak berbau.
Sakit kepala, kurang tidur dan kurang nafsu makan dapat mengganggu
penderita. Kalau infeksi tidak meluas maka suhu turun dengan berangsur-
angsur dan turun pada hari ke 7-10. Pasien sedapatnya diisolasi, tapi bayi
boleh terus menyusu pada ibunya. Untuk kelancaran pengaliran lochia,
pasien boleh diletakkan dalam letak fowler dan diberi juga uterustonika.
Pasien disuruh minum banyak
4

3. Septicemia dan piemia


Kedua-duanya merupakan infeksi berat namun gejala-gejala septicemia
lebih mendadak dari piemia. Pada septicemia, dari permulaan penderita
sudah sakit dan lemah. Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat
dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar
antara 39 – 40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat
(140 – 160 kali/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam enam
sampai tujuh hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi
seperti piemia.
Pada piemia, penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut
nyeri, dan suhu agak meningkat. Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum
dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan
embolus memasuki peredaran darah umum. Suatu ciri khusus pada piemia
ialah berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil,
kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Ini terjadi pada saat dilepaskannya
embolus dari tromboflebitis pelvika. Lambat laun timbul gejala abses pada
paru-paru, pneumonia dan pleuritis. Embolus dapat pula menyebabkan
abses-abses di beberapa tempat lain.
4. Parametritis
Parametritis adalah infeksi jaringan pelvis yang dapat terjadi beberapa
jalan :
a. Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau
dari endometritis.
b. Penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai
ke dasar ligamentum.
c. Penyebaran sekunder dari tromboflebitis. Proses ini dapat tinggal
terbatas pada dasar ligamentum atau menyebar ekstraperitoneal ke
semua jurusan. Jika menjalar ke atas, dapat diraba pada dinding
perut sebelah lateral di atas ligamentum inguinalis, atau pada fossa
iliaka.
Parametritis ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas.
Bila suhu tinggi menetap lebih dari seminggu disertai rasa nyeri di kiri
5

atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai
terhadap kemungkinan parametritis. Pada perkembangan proses
peradangan lebih lanjut gejala-gejala parametritis menjadi lebih jelas. Pada
pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus
dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat
meluas ke berbagai jurusan. Di tengah-tengah jaringan yang meradang itu
bisa tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara
menetap menjadi naik-turun disertai dengan menggigil. Penderita tampak
sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Dalam dua pentiga kasus tidak terjadi
pembentukan abses, dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor di
sebelah uterus mengecil sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat
parametrium yang kaku. Jika terjadi abses, nanah harus dikeluarkan karena
selalu ada bahaya bahwa abses mencari jalan ke rongga perut yang
menyebabkan peritonitis, ke rektum, atau ke kandung kencing.
5. Peritonitis
Peritonitis dapat berasal dari penyebaran melalui pembuluh limfe uterus,
parametritis yang meluas ke peritoneum, salpingo-ooforitis meluas ke
peritoneum atau langsung sewaktu tindakan perabdominal. Peritonitis
nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga
ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika.
Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika
mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan
peritonitis.
Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah
pelvis. Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis
umum. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap
baik. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses. Nanah yang
biasanya terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan dengan
kolpotomia posterior untuk mencegah keluarnya melalui rektum atau
kandung kencing.
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan
merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan
6

kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita,
yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit
muka dingin; terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica. Mortalitas
peritonitis umum tinggi. Peritonitis yang terlokalisir hanya dalam rongga
pelvis disebut pelvioperitonitis, bila meluas ke seluruh rongga peritoneum
disebut peritonitis umum, dan ini sangat berbahaya yang menyebabkan
kematian 33% dari seluruh kematian akibat infeksi.

C. Pencegahan Infeksi Nifas


Lusa (2011) mengemukakan bahwa, infeksi nifas dapat timbul selama
kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga pencegahannya berbeda.
1. Selama kehamilan
Pencegahan infeksi selama kehamilan, antara lain:
a. Perbaikan gizi.
b. Hubungan seksual pada umur kehamilan tua sebaiknya tidak
dilakukan.
2. Selama persalinan
Pencegahan infeksi selama persalinan adalah sebagai berikut:
a. Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalan lahir.
b. Membatasi perlukaan jalan lahir.
c. Mencegah perdarahan banyak.
7

d. Menghindari persalinan lama.


e. Menjaga sterilitas ruang bersalin dan alat yang digunakan.
3. Selama nifas
Pencegahan infeksi selama nifas antara lain
a. Perawatan luka post partum dengan teknik aseptic
b. Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus
steril
c. Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan
khusus, tidak bercampur dengan ibu nifas yang sehat.
d. Membatasi tamu yang berkunjung.
e. Mobilisasi dini
D. Masalah Lain Yang Biasa Dihadapi Pada Masa Nifas
1. Masalah nyeri
Sebagian wanita mengalami rasa nyeri meskipun persalinan normal 8-60
jam post partum : nyeri pada shymphisis 3-4 hari pertama, nyeri perineum,
dysuria, nyeri leher atau punggung dengan ibu mendapat anastesi general
bedrest dan pemberian analgesik.
a. Afterpain (Cu)
1) Penyebab : Obat-obatan yang diberikan untuk menghentikan
perdarahan dan pemberian ASI.
2) Cara mengatasi :
a) BAK secara teratur,
b) berbaring tengkurap,
c) mobilisasi,
d) pemberian paracetamol atau acetamenophen kira-kira 1 jam
sebelum pemberian ASI.
b. Nyeri Perineum
1) Ibu nifas mengalami nyeri tidak lebih dari 8 minggu.
2) Penyebab : trauma persalinan dan penjahitan robekan perineum.
3) Cara mengatasi :
a) meletakkan potongan es diatas genetalia,
b) duduk didalam air hangat atau air dingin,
8

c) lakukan kegel exercise.


c. Hemoroid
1) Penyebab : wanita yang cenderung mengalami konstipasi, penanganan
pembuluh darah pada bagian anus dan rektum pada saat meneran.
2) Cara mengatasi: duduk diatas air hangat atau dingin, hindari duduk
terlalu lama, banyak minum dan banyak makan makanan berserat,
pemberian analgesik.

d. Nyeri Pada Payudara


1) Hal yang dilakukan pada upaya pencegahan :
a) Pemberian ASI sedini mungkin,
b) Pemberian Asi setiap 2-3 jam dan jangan memberikan bayi
minum air atau suplemen lain,
c) Gunakan kedua payudara secara bergantian ketika menyusui.
e. Masalah Cemas
1) Tingkat estrogen dan progesteron turun,
2) keletihan saat bersalin,
3) mengalami nyeri perineum, pembekakan payudara dan afterpain,
4) post partum blues
9

f. Perawatan Perineum
1) Penghangatan dan berendam
2) Tujuan: mengurangi ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah
infeksi, mempercepat penyembuhan.
E. Etiologi
1. Berdasarkan masuknya kuman ke dalam alat kandungan.
a. Eksasogen       : kuman datang dari luar.
b. Autogen          : kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh.
c. Endogen          : dari jalan lahir sendiri.
2. Berdasarkan kuman yang sering menyebabkan infeksi.
a. Streptococcus haemolytieus aerobicus merupakan sebab infeksi yang
paling berat, khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen
(dari penderita lain, alat atau kain yang tidak steril).
b. Staphylococcus aerus masuk secara eksogen, infeksinya sedang,
banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit.
c. Eschercia Coli sering berasal dari kandung kemih atau rektum dan
dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva dan
endometrium.
d. Clostridium Welchii, bersifat anaerob. Jarang ditemukan akan tetapi
sangat berbahaya. Infeksi lebih sering terjadi pada abortus
kriminalis.

Faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi adalah sebagai


berikut :
a. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh ibu seperti
perdarahan, anemia, nutrisi buruk, status sosial ekonomi rendah, dan
imunosupresi.
b. Partus lama, terutama dengan ketuban pecah lama.
c. Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan pada jalan
lain.
d. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban, dan bekuan darah.
F. Manifestasi Klinis
Infeksi nifas dibagi atas 2 golongan yaitu :
10

1. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina dan endometrium


Infeksi perineum, vulva, vagina dan serviks
Tanda dan gejala :
a. Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi, disuria dengan atau tanpa
distensi urin
b. Jahitan luka mudah lepas, merah dan bengkak
c. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaan tidak berat. Suhu
sekitar 38  C, nadi kurang dari 100 X / menit
d. Bila luka terinfeksi, tertutup jahitan dan getah radang tidak dapat
keluar, demam bisa meningkat sampai 39 – 40  C, kadang – kadang
disertai menggigil
Penyebaran infeksi nifas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endom
etrium meliputi:
a. Vulvitis adalah infeksi pada vulva. Vulvitis pada ibu pasca
melahirkan terjadi di bekas sayatan episiotomi atau luka perineum.
Tepi luka berwarna merah dan bengkak, jahitan mudah lepas, luka
yang terbuka menjadi ulkus dan mengeluarkan nanah.

b. Vaginitis merupakan infeksi pada daerah vagina.  Vaginitis pada


ibu pasca melahirkan terjadi secara langsung pada luka vagina atau
luka perineum. Permukaan mukosa bengkak dan kemerahan, terjadi
ulkus dan getah mengandung nanah dari daerah ulkus.
11

c. Servisitis Infeksi yang sering terjadi pada daerah servik, tapi tidak


menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas
dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan
infeksi yang menjalar ke parametrium.
d. Endometritis Kadang – kadang lochea tertahan dalam uterus oleh
darah, sisa plasenta dan selaput ketuban yang disebut locheometra.
2. Penyebaran dari tempat – tempat infeksi melalui vena – vena jalan limfe
dan permukaan endometrium Infeksi nifas yang penyebarannya melalui
pembuluh darah adalah Septikimea, Piemia dan tromboflebitis pelvica. 
Infeksi ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman patogen
Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan
merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas.
a. Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toksinnya
langsung masuk ke dalam peredaran darah dan
menyebabkan infeksi. Gejala klinik septikemia lebih akut antara
lain: kelihatan sudah sakit dan lemah sejak awal; keadaan umum
jelek, menggigil, nadi cepat 140 – 160 x per menit atau lebih; suhu
meningkat antara 39-40 ; tekanan darah turun, keadaan umum
memburuk; sesak nafas, kesadaran turun, gelisah.
b. Piemia dimulai dengan tromflebitis vena-vena pada daerah
perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil yang dibawa
ke peredaran darah, kemudian terjadi infeksi dan abses pada organ-
organ yang diserangnya Tidak lama post partum pasien sudah
merasa sakit, perut nyeri, suhu tinggi, menggigil setelah kuman
dengan emboli memasuki peredaran darah umum. Ciri khas:
Berulang – ulang suhu meningkat disertai menggigil, diikuti oleh
turunnya suhu lambat akan timbul gejala abses paru, pneumonia
dan pleuritis
c. Tromboflebitis Radang pada vena terdiri dari tromboflebitis pelvis
dan tromboflebitis femoralis. Tromboflebitis Pelvis yang sering
meradang adalah pada vena ovarika, terjadi karena mengalirkan
darah dan luka bekas plasenta di daerah fundus uteri.
12

d. Peritonitis menyerang pada daerah pelvis (pelvio peritonitis).


1) Peritonitis umum : Suhu badan tinggi, nadi cepat dan kecil,
perut nyeri tekan (defence muskulare), pucat, mata cekung
yang disebut dengan muka hipokrates (facies hipocratica),
kulit dingin
2) Peritonitis yang terdapat dipelvis : Pasien demam, nyeri
perut bawah, nyeri periksa dalam kavum douglasi menonjol
karena adanya abses
G. Patofisiologi
Setelah kala III, daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka
dengan    diameter kira-kira 4 cm, permukaan tidak  rata, berbenjol-benjol
karena banyaknya vena yang ditutupi trombus dan merupakan area yang baik
untuk tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenis-jenis yang patogen
dalam tubuh wanita. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan,
begitu juga vulva, vagina, perineum merupakan tempat masuknya kuman
patogen. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat
menyebar di luar luka asalnya.
H. Klasifikasi
1. Infeksi terbatas lokalisasinya pada perineum, vulva, serviks dan
endometrium.
2. Infeksi yang menyebar ke tempat lain melalui : pembuluh darah vena,
pembuluh limfe dan endometrium.
I. Komplikasi
1. Komplikasi pada paru-paru : infark, abses, pneumonia,
2. Komplikasi pada ginjal sinistra, nyeri mendadak, yang diikuti dengan
proteinuria dan hematuria,
3. Komplikasi pada persendian, mata dan jaringn subkutann
J. Data Penunjang
1. Sel darah putih : Normal / tinggi dengan pergeseran difrensiasi ke kiri
2. LED dan SDM : Sangat meningkat
3. HB / HT : Penurunan karena adanya anemia
13

4. Kultur dari bahan intra uterus / intra servikal / drainase luka /


pewarnaan gram dari lochea servik dan uterus : mengidentifikasi
organisme penyebab
5. Urinalisis dan kultur : mengesampingkan infeksi saluran kemih
6. Ultra sonografi : Menentukan adanya fragmen – fragmen plasenta yang
tertahan, melokalisasi abses peritoneum
7. Pemeriksaan biomanual : Menentukan sifat dan lokasi nyeri pelvis,
masa / pembekuan abses, atau adanya vena – vena dengan trombosis
K. Penatalaksanaan Medis
1. Pengobatan Infeksi Nifas
a. Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan servik,
luka operasi dan darah, serta uji kepekaan untuk
mendapatkan antibiotik yang tepat.
b. Memberikan dosis yang cukup dan adekuat.
c. Memberi antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil
laboratorium.
d. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh sepertiinfus, transfusi
darah, makanan yang mengandung zat – zat yang diperlukan tubuh
serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai.
2. Pengobatan Kemoterapi dan Antibiotika Infeksi Nifas
a. Pemberian Sulfonamid – Trisulfa merupakan kombinasi dari
sulfadizin 185gr,  sulfamerazin 130 gr, dan sulfatiozol 185 gr.
Dosis 2 gr diikuti 1 gr 4-6 jam kemudian peroral.
b. Pemberian Penisilin – Penisilin-prokain 1,2 sampai 2,4 juta satuan
IM, penisilin G 500.000 satuan setiap 6 jam atau metsilin 1 gr
setiap 6 jam IM ditambah ampisilin kapsul 4×250 gr peroral.
c. Tetrasiklin, eritromisin dan kloramfenikol.
d. Hindari pemberian politerapi antibiotika berlebihan.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Masa Nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran placenta dan
berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil
dan berlangsung kira - kira 6 minggu.
Infeksi nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah
persalinan. Suhu 38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum
dan diukur peroral sedikitnya empat kali sehari. Istilah infeksi nifas
mencakup semua peradangan yangdisebabkan oleh mesuknya kuman-kuman
kedalam alat genetalia pada waktu persalinan dan nifas. Infeksi nifas pada
awalnya adalah penyebab kematian maternal yang paling banyak,namun
dengan kemajuan ilmu kebidanan terutama pengetahuan tentang sebab-sebab
infeksi nifas, pencegahan dan penemuan obat-obat baru dari itulah dapat
diminimalisir terjdinya infeksi nifas.
B. SARAN
Agar pelaksanaan kunjungan nifas dapat berjalan dengan baik dan dapat
mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan, maka disarankan kepada
semua pihak segera membenahi semua komponen yang berkaitan dengan
pelaksanaan kunjungan nifas yang sesuai dengan standar, antara lain:
1. Bagi Pihak Dinas Kesehatan Kota . Dapat mengusulkan anggaran khusus
untuk penunjang pelaksanaan kunjungan nifas kepada Pemerintah Daerah
sehingga pelaksanaan kunjungan nifas lebih optimal.
2. Sedangkan untuk pemantauan dan pengawasan agar dapat dilakukan
secara berkala dan sistematis serta melakukan supervise minimal setiap
triwulan langsung ke Puskesmas maupun Pustu/Poskeskel sehingga bidan
penanggungjawab wilayah menganggap bahwa kunjungan nifas adalah
kegiatan wajib yang harus dilakukan.

14
15

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, Gary F., dkk. (2005). Obstetri Williams. Ed 21. Jakarta : EGC
Saifuddin, Abdul Bari (2006) Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Walsh, Linda (2008) Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta, EGC
Varney, Helen, dkk. (2008) Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 2.
Jakarta, EGC