Anda di halaman 1dari 18

Prinsip P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Kerja)

MAKALAH

Disusun dalam rangka untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kesehatan &
Kecelakaan Kerja (K2L)

Dosen Pengampu :

Agus Yohanan, SH., M.KL

Disusun Oleh Kelompok 2 :

1. Chalimatul Khusna
NIM. 191313251355
2. Esa Dahil Helsinky
NIM. 191313251363
3. Ignasius Umbu Kabalu
NIM. 191313251367
4. Krisna Yuda Wiradana
NIM. 191313251369
5. Muhammad Fauzy
NIM. 191313251372
6. Priti Dewi Iraini
NIM. 191313251374

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN LINGKUNGAN

STIKES WIDYAGAMA HUSADA MALANG

2020/2021
Kata Pengantar
Pertama-tama kami panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah ‫ﷻ‬
yang telah memberikan rahmat dan berkah-Nya, yang tiada putus putus nya
sehingga atas hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Shalawat serta salam kami haturkan kepada baginda Rasulullah ‫ﷺ‬
yang telah membawa kami dari alam kegelapan menuju ke alam yang terang-
benderang.

Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya


kepada bapak Agus Yohanan, SH., M.KL selaku dosen mata kuliah Kesehatan
dan Keselamatan Lingkungan (K2L), dalam kajian makalah ini kami penuhi
sebagai pengajuan tugas dari mata kuliah Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan
(K2L) ini sudah kami susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari
berbagai pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari segala hal tersebut, kami sadar sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karenanya kami dengan lapang dada menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat
maupun menginspirasi untuk pembaca.

Malang, 6 Oktober 2021

Tim Penyusun

i
ii
Daftar Isi

Kata Pengantar.......................................................................................................i
Daftar Isi.................................................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN....................................................................................1
2.1 Latar Belakang.............................................................................................1
2.2 Rumusan Masalah........................................................................................3
2.3 Tujuan..........................................................................................................3
BAB II : PEMBAHASAN......................................................................................4
2.1 Pengertian P3K.............................................................................................4
2.2 Tujuan P3K..................................................................................................4
2.3 Dasar Perundangan P3K..............................................................................5
2.3.1 Permenaker Nomor 15 Tahun 2008......................................................5
2.3.2 Kepdirjen PPK No. Kep.53/DJPPK/VIII/2009.....................................6
2.4 Prinsip Dasar Tindakan Pertolongan............................................................6
2.5 Mekanisme Pemberian Pertolongan.............................................................9
BAB III : PENUTUP............................................................................................12
3.1 Kesimpulan................................................................................................12
3.2 Saran...........................................................................................................12
Daftar Pustaka......................................................................................................13

iii
BAB I

PENDAHULUAN
2.1 Latar Belakang
Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan
dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan
produktivitas. Melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan
Undang-Undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah
melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di
tempat kerja. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara
efektif dan efisien serta meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas
(Kemnaker, 2019).

Undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


menetapkan syarat-syarat keselamatan kerja. Syarat tersebut ditulisakan pada
Bab III, pasal (3) ayat (1) antara lain mencegah, mengurangi,dan memadam
kebakaran, mencegah dan mengurangi bahaya peledakan, memberi
kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian lain yang berbahaya, memberikan pertolongan pada kecelakaan,
memberi alat-alat perlindungan diri pada pekerja, dst (UU No. 1 Tahun
1970).

Pengurus atau orang yang memimpin langsung suatu tempat kerja wajib
mematuhi dan menaati semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan. Salah satu kewajiban pengurus adalah mematuhi dan menaati
syarat dalam memberikan pertolongan pada kecelakaan. Pertolongan pertama
di tempat kerja merupakan upaya memberikan pertolongan pertama secara
cepat dan tepat kepada pekerja dan/atau orang lain yang berada di tempat
kerja, yang mengalami sakit atau cedera di tempat kerja (Chairunnisa et al.,
2016).

Pertolongan pertama adalah bagian dari pelayanan kesehatan tenaga kerja.


Pertolongan pertama pada kecelakaan berguna untuk masyarakat umum,

1
karyawan, tenaga kerja, dan semua individu sehubungan dengan keselamatan
dan kesehatan kerja pada tingkat perusahaan. Pertolongan pertama ini
bertujuan menyelamatkan jiwa penderita, meringankan penderitaan dan
mencegah agar tidak lebih parah serta mempertahankan jiwa penderita hingga
pertolongan lebih lanjut diberikan (Wulandari, 2012).

Masih tingginya angka kecelakaan kerja di Indonesia salah satunya


disebabkan oleh budaya K3 yang masih rendah. Sumber daya manusia adalah
salah satu aset utama yang berfungsi sebagai penggerak operasional
perusahaan untuk mencapai efisiensi dan produktifitas yang tinggi
(Fridayanti, 2016). Aktivitas pekerjaan memiliki potensi bahaya tersendiri.
Penilaian risiko dapat dilakukan untuk mengetahui risko yang diakibatkan
dari potensi bahaya yang ada. Potensi bahaya jika tidak dikendalikan akan
menyebabkan risiko kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja (Mitasari,
2018).

Menurut data Bidang Pengawasan Tenaga Kerja Disnakertrans Provinsi


Jawa Tengah (2018), angka kecelakaan kerja bulan Juni tahun 2018 sejumlah
746 kecelakaan kerja dengan kejadian tertinggi di Kabupaten Klaten
sebanyak 101 kejadian kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tahun 2017 di
Provinsi Jawa Tengah sejumlah 1468 kejadian dengan kejadian tertinggi di
Kabupaten Demak sejumlah 461 kecelakaan. Di Provinsi Jawa Tengah pada
tahun 2016 sebanyak 1903 kasus kejadian kecelakaan kerja dengan angka
kecelakaan kerja tertinggi di Kabupaten Sukoharjo 447 kecelakaan.

Berdasarkan jenis bahaya dengan potensi bahaya dan risiko yang bisa
ditimbulkan, perlu adanya upaya untuk mengurangi risiko menjadi parah.
Untuk itu perlu adanya pencegahan terjadinya kecelakaan dan penanganan
cepat dan tepat saat terjadi kecelakaan agar tidak berakibat fatal. Salah satu
upaya yang dilakukan untuk menghindari risiko akibat kecelakaan kerja
menjadi lebih parah dibutuhkan kapasitas dan peningkatan kemampuan
pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat keja, dengan standar yang
sudah diatur oleh pemerintah melalui peraturan (Wulandari, 2012).

2
Pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat kerja diatur oleh
pemerintah melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Nomor: PER.15/MEN/VIII/2008. Dalam peraturan tersebut mengatur tentang
kewajiban pengusaha untuk menyediakan petugas P3K di tempat kerja dan
fasilitas P3K di tempat kerja. Agar dapat melaksanakan pertologan dengan
baik, maka petugas P3K di tempat kerja harus memiliki pengetahuan dan
keterampilan dasar di bidang P3K di tempat kerja dan memiliki lisensi
(Herlinawati & Azhari, 2008). Pengetahuan dan keterampilan pelaksanaan
P3K di tempat kerja bagi pengusaha dan pekerja sangat penting sehingga
kasus kecelakaan kerja dapat ditangani dengan baik dan risiko akibat
kecelakaan dapat ditekan. Keterlambatan penanganan dalam pertolongan
pertama korban kecelakaan kerja akan mengalami suatu kondisi buruk berupa
kecacatan atau kematian. Pedoman pelatihan dan pemberian lisensi petugas
pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat kerja diatur dalam Keputusan
Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor:
KEP.53/DJPPK/VIII/2009 (Kepdirjen PPK, 2009).

2.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan P3K?
2. Apa tujuan dari P3K?
3. Bagaimana dasar perundingan P3K?
4. Apa saja prinsip dasar tindakan pertolongan?
5. Bagaimana mekanisme pemberian pertolongan?

2.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari P3K.
2. Mengetahui tujuan dari P3K.
3. Mengetahui dasar perundingan P3K.
4. Mengetahui prinsip dasar tindakan pertolongan.
5. Mengetahui mekanisme pemberian pertolongan.

3
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian P3K
Pertolongan pertama pada kecelakaan kerja merupakan suatu upaya
pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum
mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau tenaga kesehatan
lainnya. Pertolongan tersebut bukan sebagai pengobatan atau penanganan
yang sempurna tetapi hanyalah berupa pertolongan sementara yang dilakukan
oleh petugas kesehatan atau masayarakat umum yang pertama kali melihat
korban (Buntarto, 2015). Tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan
kerja bertujuan untuk menyelamatkan korban, meringankan penderitaan
korban serta mencegah terjadinya bahaya lebih lanjut akibat kecelakaan kerja,
mempertahankan daya tahan korban sampai pertolongan lebih baik diberikan
dan membawa korban pada tim medis terdekat (Buntarto, 2015).
Menurut Buntarto (2015), prinsip penolong dalam memberikan tindakan
pertolongan pertama kecelakaan kerja adalah:
A. Penolong harus bersikap tenang, tidak panik agar bisa menjadi penolong
bukan pembunuh atau menjadi korban selanjutnya;
B. Memperhatikan dengan cermat, menguatkan hati untuk melakukan
tindakan yang dapat membuat korban merasa tidak nyaman atau kesakitan
sementara, demi keselamatannya serta melakukan tindakan dengan tangkas
dan tepat tanpa menambah kerusakan pada korban;
C. Memperhatikan keadaan korban seperti pingsan, ada tidaknya pendarahan
dan luka, patah tulang atau merasa sangat kesakitan.

2.2 Tujuan P3K


Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) adalah upaya pertolongan dan
perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat
pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. Ini pertolongan
tersebut bukan sebagai pengobatan atau penanganan yang sempurna, tetapi
hanyalah berupa pertolongan sementara yang dilakukan oleh petugas P3K
(petugas medik atau orang awam) yang pertama kali melihat (Cecep, 2014).

4
Tujuan P3K yaitu mencegah cidera bertambah parah, menunjang upaya
penyembuhan serta mencegah kematian, mencegah cacat yang lebih berat,
mencegah infeksi, mengurangi rasa sakit dan rasa takut. Prinsip yang harus
ditanamkan pada petugas P3K dalam melaksanakan tugas menurut Margareta
(2012), adalah sikap tenang (tidak panik), tidak tergesa-gesa, memperhatikan
korban, melakukan tindakan secara hati-hati. Tindakan pertolongan pertama
yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cacat atau penderitaan hingga
menyelamatkan korban dari kematian, tetapi bila tindakan dilakukan tidak
baik dan benar akan memperburuk kondisi akibat kecelakaan hingga
membunuh korban (Anggraini et al., 2018).

Tujuan pertolongan pertama (Amarudin et al., 2016) adalah:

A. Menyelamatkan jiwa penderita;


B. Mencegah cacat, atau menjadi parah;
C. Memberi rasa nyaman;
D. Menunjang proses penyembuhan;
E. Mencarikan pertolongan lebih lanjut.

P3K pada kecelakaan kerja merupakan perlakuan paling cepat dan tepat
yang dilakukan oleh seseorang dalam upaya pemulihan keadaan bagi orang
yang sedang mengalami kecelakaan. Dalam melakukan tindakan P3K, pihak
penolong perlu memiliki alat dan bahan yang digunakan untuk menangani
luka yang dialami oleh korban dengan sesegera mungkin (Anggraini et al.,
2018).

2.3 Dasar Perundangan P3K


Peraturan yang mengatur pembinaan kesehatan tenaga kerja dalam rangka
memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja yang mengalami kecelakaan
di tempat kerja yang memerlukan bantuan pertolongan pertama pada
kecelakaan di tempat kerja secara tepat dan cepat adalah:

2.3.1 Permenaker Nomor 15 Tahun 2008


Dalam rangka memberikan perlindungan bagi pekerja yang mengalami
kecelakaan di tempat kerja perlu dilakukan pertolongan pertama secara

5
cepat dan tepat. Pemerintah melalui menteri tenaga kerja dan transmigrasi
membuat Peraturan Menteri Tenega Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor: Per.15/MEN/VIII/2008 tentang pertolongan pertama pada
kecelakaan di tempat kerja (Permanakertrans, 2008). Pasal (2) ayat (1)
menyebutkan bahwa pengusaha wajib menyediakan petugas P3K dan
fasilitas P3K di tempat kerja dan pada ayat 2 menyebutkan pengurus wajib
melaksanakan P3K di tempat kerja. Peraturan ini dalam bab dan pasalnya
mengatur petugas P3K di tempat kerja terkait jumlah, syarat menjadi
petugas P3K, lisensi, buku kegiatan P3K, pedoman pelatihan tugas petugas
P3K, fasilitas P3K di tempat kerja dan syarat fasilitas P3K di tempat kerja
(Permanakertrans, 2008).

2.3.2 Kepdirjen PPK No. Kep.53/DJPPK/VIII/2009


Keputusan ini mengatur tentang pedoman pelatihan dan pemberian
lisensi petugas pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat kerja. Syarat
pelaksanaan pelatihan petugas P3K di tempat kerja meliputi peserta,
penyelenggara pelatihan, kurikulum pelatihan, instruktur dan evaluasi, serta
penerbitan sertifikat juga diatur dalam keputusan ini (Kepdirjen PPK, 2009).
Keputusan ini juga mengatur tentang lisensi petugas P3K di tempat kerja
yang diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan setempat. Buku kegiatan petugas P3K di tempat kerja juga
diatur dalam keputusan ini.

2.4 Prinsip Dasar Tindakan Pertolongan


Kesiapan pertolongan yang perlu dipertimbangkan adalah petugas P3K di
tempat kerja dan fasilitas P3K di tempat kerja. Ada tiga prinsip dasar yang
harus dilakukan oleh petugas P3K. Pertama, pedoman tindakan yang
berhubungan dengan situasi lingkungan dan kondisi penderita. Kedua,
gangguan umum pada penderita yang harus ditolong. Ketiga, kesiapan
pertolongan berupa penolong, sarana, dan peralatan yang diperlukan
(Amarudin et al., 2016).

Pedoman tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan (Amarudin et al.,


2016):

6
A. Menjaga keselamatan diri sendiri, anggota, tim, korban, dan orang sekitar;
B. Dapat menjangkau penderita;
C. Dapat mengenali masalah yang dapat mengancam nyawa;
D. Meminta bantuan atau rujukan;
E. Memberikan pertolongan dengan cepat, tepat berdasarkan keadaan
penderita;
F. Membantu petugas pertolongan pertama yang lain;
G. Mempersiapkan penderita untuk dipindahkan (transportasi).

Untuk memberikan pertolongan pertama yang tepat, petugas harus


mengenali ciri gangguan pada penderita. Gangguan dibagi menjadi dua yaitu
umum dan lokal. Gangguan umum merupakan kondisi yang dapat
menyebabkan keadaan darurat. Gangguan lokal merupakan kondisi yang
mempengaruhi cedera lebih lanjut (Amarudin et al, 2016).

Gangguan umum dapat berupa:

A. Gangguan pernapasan;
B. Gangguan kesadaran;
C. Gangguan peredaran darah yang disebabkan oleh pendarahan hebat,
kekurangan cairan, rasa nyeri yang hebat dan alergi.
Sedangkan gangguan lokal berupa:
A. Perdarahan atau luka ringan akibat jaringan terputus atau robek;
B. Patah tulang;
C. Luka bakar.

Prinsip dasar tindakan pertolongan menurut Sunaryo et al (2017) yaitu:

A. Prinsip P-A-T-U-T
1) P = penolong mengamankan diri sendiri terlebuh dahulu sebelum
bertindak.
2) A = amankan korban dari gangguan di tempat kejadian, sehingga
bebas dari bahaya.
3) T = tandai tempat kejadian sehingga orang lain mengetahui bahwa di
tempat tersebut terjadi kecelakaan.

7
4) U = usahakan meghubungi ambulan, dokter, rumah sakit atau petugas
yang berwajib.
5) T = tindakan pertolongan terhadapkorban dalam urutan yang paling
tepat.
B. Pemberian Pertolongan
1) Menilai situasi:
A) Mengenali bahaya diri sendiri dan orang lain;
B) Memperhatikan sumber bahaya;
C) Memperhatikan jenis pertolongan;
D) Memperhatikan adanya bahaya susulan.
2) Mengamankan tempat kejadian:
A) Memperhatikan penyebab kecelakaan;
B) Utamakan keselamatan diri sendiri;
C) Singkirkan sumber bahaya yang ada (putuskan aliran dan matikan
sumber);
D) Hilangkan faktor bahaya misalnya dengan menghidupkan exhaus
ventilasi, jauhkan sumber;
E) Singkirkan korban dengan cara aman dan memperhatikan
keselamatan diri sendiri (dengan alat pelindung).
3) Memberikan pertolongan:
A) Menilai kondisi korban dan tentukan status korban dan prioritas
tindakan;
B) Periksa kesadaran, pernafasan, sirkulasi darah dan gangguan
lokal;
C) Berikan pertolongan sesuai status korban:
a) Baringkan korban dengan kepala lebih rendah dari tubuh;
b) Apabila nafas dan jantung terhenti berikan resusitasi jantung
paru;
c) Selimuti korban;
d) Apabila terdapat luka ringan obati seperlunya (luka bakar
ringan);

8
e) Apabila terdapat luka berat carikan pertolongan ke rumah
sakit atau dokter.

2.5 Mekanisme Pemberian Pertolongan


Berikut ini langkah pertolongan pertama menurut Afifuddin (2017), pada
kecelakaan yang bisa dilakukan:

A. Amati dan Waspadai Kondisi Lingkungan


Langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum melakukan pertolongan
pertama pada kecelakaan adalah mengamati lingkungan sekitar. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui penyebab kecelakaan, sehingga bisa tahu
langkah apa yang perlu dilakukan sebagai pertolongan pertama. Pastikan
juga keselamatan diri dan orang di sekitar, agar tidak menambah korban.
B. Cek Tingkat Kesadaran Korban
Beberapa korban kecelakaan bisa saja mengalami kondisi hilang
kesadaran. Jika tidak ada indikasi luka berat, periksalah tingkat kesadaran
korban, dengan menepuk pundak atau memberikan wewangian untuk
menyadarkan korban.
C. Periksa Pernapasan dan Kondisi Luka Korban
Langkah selanjutnya adalah periksa jalan napas dan pernapasan korban.
Dekatkan jari ke lubang hidung korban untuk memeriksa apakah korban
masih bernapas atau tidak. Kemudian, periksa juga apakah ada perdarahan
dan bagaimana kondisi luka korban.
D. Lakukan Kompresi Dada untuk Memberikan Bantuan Pernapasan
Ketika korban dalam kondisi tidak sadar, salah satu langkah
pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan
kompresi dada. Hal ini bertujuan untuk membantu pernapasan korban.Cara
melakukannya dengan meletakkan salah satu tumit tangan di tengah dada
korban, sembari meletakkan tumit satunya dengan kondisi jari-jari tangan
mengunci. Lalu, tekan dada menggunakan tumit dengan kedalaman 4
hingga 5 cm. Jika tidak ada tanda yang lebih baik, segera bawa korban ke
instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat, agar mendapatkan
penanganan yang lebih baik.

9
E. Periksa Kondisi Luka
Jika menemukan luka pada korban, segera obati luka tersebut agar tidak
mengalami pendarahan berat yang dapat memperparah kondisi korban.
Namun, penanganan luka harus dilakukan sesuai dengan jenisnya. Jika
terdapat luka terbuka yang mengeluarkan darah terus-menerus, gunakanlah
kain bersih untuk menutup luka, agar perdarahan berhenti untuk
sementara.

Menurut Sunaryo et al (2017), ada beberapa prinsip yang harus


ditanamkan pada jiwa petugas P3K apabila menghadapi kecelakaan adalah
sebagai berikut ini:

A. Bersikaplah tenang, jangan pernah panik, agar bisa menjadi penolong


bukan pembunuh atau menjadi korban selanjutnya (ditolong);

B. Gunakan mata dengan jeli, setajam mata elang (mampu melihat burung
kecil diantara dedaunan), kuatkan hati/tega melakukan tindakan yang
membuat korban menjerit kesakitan sementara demi keselamatannya,
lakukan gerakan dengan tangkas dan tepat tanpa menambah kerusakan
(“Eagle eyes – Lion heart – Ladies hand”);

C. Perhatikan keadaan sekitar kecelakaan cara terjadinya kecelakaan, cuaca


dan sebagainya;

D. Perhatikan keadaan penderita apakah pingsan, ada perdarahan dan luka,


patah tulang, merasa sangat kesakitan;

E. Periksa pernafasan korban, jika tidak bernafas, periksa dan bersihkan jalan
nafas kemudian lakukan dengan cara memberikan pernafasan bantuan (A
= Airway; B = Breathing Management);

F. Periksa nadi/denyut jantung korban, jika jantung berhenti, lakukan pijat


jantung luar. Jika ada pendarahan massif segera hentikan (C = Circulatory
Management).

G. Apabila terjadi syok cari dan atasi penyebabnya;

10
H. Setelah A, B, dan C stabil, periksa ulang cedera penyebab atau penyerta.
Kalau ada fraktur (patah tulang lakukan pembidaian pada tulang yang
patah). Jangan buru-buru memindahkan atau membawa ke klinik atau
rumah sakit sebelum tulang yang patah dibidai;

I. Sementara memberikan pertolongan, petugas P3K juga harus


menghubungi petugas medis atau rumah sakit rujukan. Setiap menemukan
korban yang baru mati dengan tidak sewajarnya tanpa mengetahui
penyebab kematian, maka urutan langkah penanganan harus baku menurut
urutan A, B dan C sesuai kedaruratan penyebab kematian korban.

11
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
A. Pertolongan pertama di tempat kerja merupakan upaya memberikan
pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja dan/atau orang
lain yang berada di tempat kerja, yang mengalami sakit atau cedera di
tempat kerja.
B. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menghindari risiko akibat
kecelakaan kerja menjadi lebih parah dibutuhkan kapasitas dan
peningkatan kemampuan pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat
keja, dengan standar yang sudah diatur oleh pemerintah melalui peraturan.

3.2 Saran
A. Pengaturan ketersediaan petugas P3K dan fasilitas P3K harus sesuai aturan
yang telah ditetapkan dalam standarisasi K3;
B. Penempatan fasilitas P3K harus diberi tanda dengan jelas agar
memudahkan petugas untuk menjangkau ketika terjadi kecelakaan kerja;
C. Fasilitas P3K harus bisa dijaga dan dipelihara dengan baik oleh petugas
P3K, sebagai kesiapsiagaan dalam kejadian kecelakaan kerja.

12
Daftar Pustaka
Afifuddin, M. 2019. Melaksanakan Prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
CV Sarnu Untung.

Amarudin, et al. 2016. Modul Pembinaan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan


(P3K) Di Tempat Kerja. Jakarta: Direktorat Pengawasan Norma
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja –Ditjen Binwansker.

Anggraini, N, A., Mufidah, A., Putro, D, S., Permatasari, I, S., Putra, I, N, A.,
Hidayat, M, A., & Suryanto, A. 2018. Pendidikan Kesehatan Pertolongan
Pertama pada Kecelakaan pada Masyarakat di Kelurahan
Dandangan. Journal of Community Engagement in Health, 1(2): 21-24.

Buntarto, D. 2015. Panduan Praktis Keselamatan dan Kesehatan Kerja Untuk


Industri.

Chairunnisa, S., dkk. 2016. Analisis Mitigasi Pertolongan Pertama pada


Kecelakaan di PT.X. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 109-110. Universitas
Diponegoro.

Fridayanti, N., & Kusumasmoro, R. 2016. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan


Kerja Di PT Ferron Par Pharmaceuticals Bekasi. Jurnal Administrasi
Kantor, 4(1): 211–234.

Herlinawati, & Azhari, T. 2018. Hubungan Pengetahuan dan Sikap


denganPerilaku Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) pada
Karyawan Gedung E Bagian Benang. Jurnal Kesehatan, 9(1): 1–8.

Kemnaker. 2019. National Occupational Safety and Health (OSH) Profile In


Indonesia 2018. Jakarta.

Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor:


KEP.53/DJPPK/VIII/2009.

Mitasari, O., Subekti, A., & Khairansyah, M, D. 2018. Teknik Identifikasi


Menggunakan Metode HIRDC dan FTA pada Pekerjaan Non Rutin di

13
Industri Pengolahan Minyak Pelumas. Seminar Nasional K3 PPNS, 2(1):
689–694.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor :


Per.15/Men/VIII/2008 Tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Di
Tempat Kerja.

Sunaryo, et al. 2017. Gambaran Pengetahuan Pekerja Terhadap Penerapan P3K


Di tempat Kerja Pada Gedung CBO PT. ABC, Kota Surabaya Tahun 2017.
Laporan Penelitian. Universitas Nahdatul Ulama Surabaya.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.

Wulandari, C. 2012. Hubungan antara Sistem Pertolongan Pertama pada


Kecelakaan (P3K) di Tempat Kerja dengan Peran Petugas Safety
Representative dalam Penerapan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan
(P3K) di PT. Petrokimia Gresik. Skripsi. Jember: Universitas Jember.

14