Anda di halaman 1dari 8

pISSN: 2086-0722 eISSN: 2549-6603

PENGARUH PEMBERIAN TERAPI LATIHAN DENGAN KONDISI


SCOLIOSIS PADA ANAK

The Effect Of Exercise Therapy With Scoliosis Conditions In Children

Renni Hidayati Zein1, Nova Relida Samosir2,


Prodi D3 Fisioterapi Universitas Abdurrab Pekanbaru1,2
Renni.hidayati.z@univrab.ac.id ; 0812 7646 93131*

ABSTRAK

Postural adalah sikap tubuh yang baik pada otot-otot in-aktif maupun aktif. Kebiasaan postur
tubuh yang tidak benar seperti cara membawa tas yang berat pada sebelah bahu saja
mengakibat bahu menjadi tinggi sebelah sehingga menimbulkan adanya kelemahan otot-otot
trunk yang memicu resiko terjadinya scoliosis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan
terapi latihan yang baik pada kondisi scoliosis pada anak. Metode penelitian adalah
eksperimental dengan desain penelitian pre dan post test. Instrumen pengukuran
menggunakan inclinometer. Jumlah responden 14 orang siswa. Penelitian dilaksanakan pada
bulan Agustus-September 2020 di SDN 006 Langgini Bangkinang. Hasil Penelitian
didapatkan terjadi perbedaan derajat scoliosis pre dan post test yang dibuktikan dari hasil
analisis dengan nilai p<0.05.

Kata kunci: Postur, scoliosis, terapi latihan

ABSTRACT

Postural is a good posture for both inactive and active muscles. The habit of improper
posture, such as carrying a heavy bag on one shoulder, results in the shoulder becoming one-
sided, causing weakness in the trunk muscles which leads to the risk of scoliosis. This study
aims to provide good exercise therapy for scoliosis in children. The research method was
experimental with pre and post test research designs. The measurement instrument uses an
inclinometer. The number of respondents was 14 students. The research was conducted in
August-September 2020 at SDN 006 Langgini Bangkinang. The results showed that there
were differences in the degree of scoliosis pre and post test as evidenced by the results of the
analysis with a value of p <0.05.

Keywords: Posture, scoliosis, exercise therapy

Jurnal kesehatan Al-Irsyad Volume 14, Nomor 1, Maret 2021 120


PENDAHULUAN Menurut Parera et al (2016) Scoliosis
Perkembangan zaman yang semakin adalah adanya pembengkokan atau kurve
modern dibidang teknologi dan pendidikan ke lateral dari vertebra, karena kecacatan
pada sekolah-sekolah yang bergerak maju satu atau lebih dari Corpus Vertebra,
yang menuntut anak didik mereka untuk kelunakan atau kontraktur otot atau
selalu aktif dan kreatif, namun keaktifan ligamen yang pembengkokan vertebra
tersebut dapat mengakibatkan terjadinya dapat bermacam-macam misalnya,
kesalahan posisi pada tubuh yang kebiasaan sikap tubuh yang salah, penyakit
menimbulkan cidera pada jaringan otot, atau trauma pada satu samping tubuh atau
tulang dan ligamen Irianto & Yazid (2019) dapat pula disebabkan karena kecacatan
Kejadian ini banyak terjadi pada anak yang dibawa sejak lahir. Akibat dari
sekolah, dari sekolah dasar sampai keadaan tersebut diatas akan menghasilkan
mahasiswa perguruan tinggi yang pembengkokan pada vertebra. Tipe
membawa tas yang isinya berlebihan serta pembengkokan dapat type C atau type S
salah satu nya posisi saat memakai tas, dan (Chrisnawati et al., 2015).
kehidupan sehari-hari seperti posisi duduk, Scoliosis pada anak merupakan suatu
posisi tidur yang menyebabkan cedera kondisi melengkungnya tulang belakang
pada Vertebra(Sari & Sugijanto, 2013). kesamping secara tidak normal. Penyakit
Batas normal berat ransel yang ini lebih sering terjadi pada anak-anak
direkomendasikan oleh American sebelum masa pubertas dengan kisaran
Chiropractic Assosiation adalah 10% usia 10–15 tahun. Anak laki-laki dan
sampai 15% dari berat badan. Problem perempuan memiliki resiko yang sama
utama pada anak, ialah membawa ransel terjadinya mengalami kondisi Scoliosis
melebihi berat yang direkomendasikan, (Simanjuntak & Gading, 2019).
membawa ransel dengan satu bahu, posisi Berdasarkan penelitian yang pravelensi
duduk yang salah (lebih condong ke arah terjadi scoliosis di Sekolah Dasar Negeri 1
kanan atau kiri), posisi tidur yang salah, Blulukan dari 63 anak setelah dilakukan
dan adanya kebiasaan dalam aktifitas pengukuran dengan test adam foward
sehari-hari seperti main gadget dalam bending test dan menggunakan
waktu lama dan mempunyai resiko lebih scoliometer terdapat 12 anak yang
tinggi untuk menderita nyeri punggung mengalami scoliosis dengan derajat kurang
dan terjadinya kelainan tulang belakang dari 10 derajat. Perbandingan antara laki-
(Dumondor et al., 2015). laki 41,7 % dan perempuan 58,3 % yang

Jurnal kesehatan Al-Irsyad Volume 14, Nomor 1, Maret 2021 121


mengalami scoliosis sebesar lima banding Latihan kekuatan dengan bola sebagai
tujuh (Adillani et al., 2015). penyangga dipercaya pada permukaan
Fisioterapi merupakan bentuk pelayan yang labil akan membuat tulang belakang
kesehatan yang ditujukan kepada individu, mempunyai tantangan yang besar untuk
kelompok, dan masyarakat yang ditujukan menstabilkan otot antar Vertebra,
untuk perkembangan, pemeliharaan, meningkatkan keseimbangan dinamis dan
pemulihan, gerak, dan fungsi tubuh melatih stabilitas tulang belakang untuk
sepanjang daur kehidupan dengan mencegah stabilitas berulang (Pelealu et
menggunakan penanganan secara manual, al., 2014).
peningkatan gerak, peralatan (fisik,
METODE
elektroterapeutis, dan mekanis) latihan
fungsi, dan komunikasi (PERMENKES, Penelitian ini merupakan penelitian
65 : 2015). ekperimental dengan desain penelitian pre
Peran fisioterapi pada pasien Scoliosis dan post test. Penelitian digunakan untuk
yaitu untuk memperbaiki postur tulang memberikan terapi latihan yang baik pada
belakang melalui berbagai intervensi, salah kondisi scoliosis pada anak. Subjek
satunya Swiss Ball Exersice (Sekendiz et penelitian adalah siswa SDN 006 Langgini
al., 2010). Swiss Ball Exercise adalah Bangkinang dengan usia 9-12 tahun
metode latihan dengan menggunakan bola berjumlah 14 orang. Waktu penelitian
untuk menstabilkan tulang belakang dan pada bulan Agustus s.d September 2020.
membuat otot punggung dan bahu menjadi Instrumen pengukuran menggunakan
lebih fleksibel (Fitriyani et al., 2016). inclinometer. Subyek penelitian dilakukan
pengukuran oleh fisioterapis.
Swiss Ball Exercise merupakan suatu
metode latihan menggunakan bola karena HASIL
dengan bola akan menciptakan kestabilan
antar tulang belakang dan membuat otot Karakteristik subyek berdasarkan jenis

punggung dan bahu menjadi lebih kelamin didapatkan hasil sebagai berikut

fleksibel.(Ratmawati, 2015). Latihan Swiss yang dapat dilihat pada tabel 1.

Ball Exercise merupakan suatu latihan


Tabel 1 Distribusi Subyek Penelitian
yang meningkatkan kekuatan yang mana
Berdasarkan Jenis Kelamin
lebih efektif untuk melatih sistem
Jenis Kelompok Perlakuan
muskuloskeletal (Sari & Sugijanto, 2013). No.
Kelamin Jumlah Persentase

Jurnal kesehatan Al-Irsyad Volume 14, Nomor 1, Maret 2021 122


1. Laki-laki 7 50,0% Inclinometer sebelum dan sesudah
2. Perempuan 7 50,0%
terhadap masing-masing kelompok sampel
Jumlah 14 100%
dengan menggunakan uji non parametrik
Berdasarkan data pada tabel 1 telah dengan Wilcoxon 2 related sampel yang
didapatkan hasil bahwa subyek berjenis disajikan pada tabel 3 berikut:
kelamin laki-laki dan perempuan
berjumlah sama yaitu jenis kelamin laki- Tabel 3 Uji Beda Nilai Inclinometer Pre
laki sebanyak 7 orang dengan nilai dan Post Setiap Kelompok
persentase 50,0% dan jumlah subyek
Wilcoxon
penelitian yang jenis kelamin perempuan Nilai Inclinometer Asymp. Sig. (2-
sebanyak 7 orang dengan nilai persentase tailed)
Pre
50,0%. Karakteristik subyek berdasarkan 0.000
Post
usia didapatkan hasil sebagai berikut yang
dapat dilihat pada tabel 2. Berdasarkan tabel 3 di atas menunjukkan
nilai signifikansi Pre dan Post pada
Tabel 2 Distribusi Subyek Penelitian kelompok perlakuan Swiss ball exercise.
Berdasarkan Usia Dibuktikan dengan nilai p = 0,000 yang
Kelompok berarti < 0,05 maka dapat disimpulkan
No. Umur Perlakuan
Jumlah Persentase bahwa terdapat perbedaan nilai
1. 9 5 35,72% Inclinometer sebelum dan sesudah pada
2. 10 7 50,0%
3. 11 2 14,28% kelompok perlakuan Swiss ball exercise.
Jumlah 14 100%
Analisa data pada penelitian ini
Berdasarkan data pada tabel 2 telah menggunakan uji wilcoxon untuk
didapatkan hasil bahwa subyek terbanyak mengetahui pengaruh pre dan post test
terdapat pada usia 10 tahun dengan jumlah pada derajat kurva skoliosis karena jumlah
7 orang dan nilai persentase 50,0%. data < 30 maka data berdistribusi tidak
Jumlah subyek terendah terdapat pada usia normal. Hasil analisa data dapat dilihat
11 tahun yaitu 2 orang dengan nilai sebagai berikut : Uji Pengaruh pre dan
persentase 14,28%. post test penurunan derajat kurva
Uji Beda Pre dan Post Setiap skoliosisdengan terapi latihan metode
Kelompok Sampel. Dilakukan uji beda Swiss ball exercise. Uji beda pre test dan
nilai derajat scoliosis menggunakan post test pada perlakuan menggunakan uji

Jurnal kesehatan Al-Irsyad Volume 14, Nomor 1, Maret 2021 123


statistik non parametrik yaitu uji wilcoxon. kebanyakan perempuan dan pada laki-laki
Hal ini dapat dilihat pada tabel 4. dengan perbandingan antara 3:1
(Ratmawati, 2015). Sebanyak 4% populasi
Tabel 4 Hasil Uji Beda Pre dan Post Test
terdapat 10-15 tahun yang kebanyakan
Penurunan Derajat Kurva Skoliosis
perempuan. Bentuk normal tulang

Derajat P Kesimpulan belakang dilihat berbentuk lurus dari atas


Kurva sampai bawah (tulang ekor). Tetapi jika
Skoliosis
terjadi skoliosis maka tulang belakang
Pre dan 0,000 Ha diterima
akan berubah bentuk ke arah kiri atau
Post Test
Perlakuan kanan dengan tipe S atau C(Azhari et al.,
2015).
Berdasarkan hasil uji Wilcoxon pada tabel
di atas didapatkan nilai p = 0,000 yang Berdasarkan umur menunjukkan bahwa

berarti nilai p< 0,05. Nilai p<0,05 subyek berumur 9 tahun sebanyak 5 orang

menunjukkan Ha diterima sehingga ada (35,72%), subyek berumur 10 tahun

perbedaan bermakna antara sebelum dan sebanyak 7 orang (50,0%) dan subyek

sesudah perlakuan. Hal ini berarti terapi berumur 11 tahun sebanyak 2 orang

latihan metode Swiss ball exercise (14,28%). Skoliosis berlaku untuk siapa

berpengaruh terhadap penurunan derajat saja dan tidak memandang umur (Irianto &

kurva skoliosis. Yazid, 2019).


Berdasarkan pada tabel 4 hasil terapi
PEMBAHASAN latihan metode Swiss ball exercise dalam
memperkecil derajat skoliosis pre test dan
Hasil Karakteristik Responden
post test latihan didapat perbedaan yang
Berdasarkan Subyek Penelitian
signifikan nilai derajat skoliosis pre test
Dari hasil data yang diperoleh pada latihan lebih besar dari pada nilai derajat
penelitian ini terdapat subyek penelitian skoliosis post test latihan, yang berarti
dengan karakteristik jenis kelamin bahwa terapi latihan metode Swiss ball
menunjukkan bahwa subyek laki-laki exercise dapat memperkecil derajat
sebanyak 7 orang (50,0%) dan perempuan skoliosis (Kisner et al., 2017).
sebanyak 7 orang (50,0%). Penelitian Tabel 4 menunjukkan p < 0,05, artinya
sebelumnya yang menyebutkan bahwa di bahwa ada perbedaan derajat skoliosis
setiap negara diperkirakan kira-kira 3% secara bermakna pre test dan post test
penduduk mengalami skoliosis latihan dengan metode Swiss ball exercise.
Jurnal kesehatan Al-Irsyad Volume 14, Nomor 1, Maret 2021 124
Hal ini menunjukkan terapi latihan metode terbukti dapat menurunkan derajat
Swiss ball exercise dapat memperkecil scoliosis pada anak usia 9-12 tahun. Hal
derajat skoliosis (Sari & Sugijanto, 2013). ini disebabkan karena latihan dengan
Latihan Swiss ball exercise ternyata metode Swiss ball exercise berperan
terbukti dapat menurunkan derajat membuat otot punggung dan bahu menjadi
scoliosis pada anak usia 9-12 tahun. Hal lebih fleksibel sehingga meningkatkan
ini disebabkan karena latihan dengan kekuatan otot dalam melatih sistem
metode Swiss ball exercise berperan muskuloskeletal. Latihan kekuatan dengan
membuat otot punggung dan bahu menjadi bola sebagai penyangga pada permukaan
lebih fleksibel sehingga meningkatkan yang labil akan membuat tulang belakang
kekuatan otot dalam melatih sistem mempunyai tantangan yang besar untuk
muskuloskeletal (Purnama, 2018). Latihan menstabilkan otot antar vertebra,
kekuatan dengan bola sebagai penyangga meningkatkan keseimbangan dinamis dan
pada permukaan yang labil akan membuat melatih stabilitas dan memilikiefek positif
tulang belakang mempunyai tantangan terhadap tubuh untuk dapat meningkatkan
yang besar untuk menstabilkan otot antar kekuatan dan daya tahan otot. Sehingga
vertebra, meningkatkan keseimbangan latihan ini akan meningkatkan
dinamis dan melatih stabilitas dan propioseptive (Sari & Sugijanto, 2013).
memilikiefek positif terhadap tubuh untuk
KESIMPULAN
dapat meningkatkan kekuatan dan daya
tahan otot. Sehingga latihan ini akan Berdasarkan hasil penelitian dengan
meningkatkan propioseptive (Pelealu et teori pada pembahasan dapat diambil
al., 2014). kesimpulan bahwa ada Pengaruh
Penelitian ini mempunyai kelemahan Pemberian Terapi Latihan dengan Kondisi
sejak awal berlangsungnya penelitian. Scoliosis pada Anak Sekolah Dasar Negeri
Beberapa kelemahan tersebut diantaranya : 006 Langgini Bangkinang.
waktu penelitian yang tidak efektif akibat
pandemic saat ini sehingga peneliti harus DAFTAR PUSTAKA

membatasi sampel untuk tidak langsung


Adillani, M., Dwi Rosella, K., St FT, S., &
bertatap muka dan melanjutkan latihan
Kurniawati, D. (2015). Pengaruh
dirumah sendiri, Keterbatasan alat saat
Pemberian Terapi Latihan Metode
melakukan penelitian seperti matras dan
Schroth Terhadap Skoliosis Pada
ball. Latihan Swiss ball exercise ternyata
Usia 10-12 Tahun Di Sekolah Dasar
Jurnal kesehatan Al-Irsyad Volume 14, Nomor 1, Maret 2021 125
Negeri 1 Blulukan. Universitas Surabaya), 8(1), 47–58.
Muhammadiyah Surakarta.
Kisner, C., Colby, L. A., & Borstad, J.
Azhari, P. F., Hidayat, B., & Rizal, A. (2017). Therapeutic exercise:
(2015). Penghitungan Derajat foundations and techniques. Fa
Kelengkungan Tulang Punggung Davis.
Pada Manusia Menggunakan Metode
Parera, A. C., Sengkey, L. S., & Gessal, J.
Transformasi Contourlet Dan K-
(2016). Deteksi dini skoliosis
nearest Neighbor. Majalah Ilmiah
menggunakan skoliometer pada siswa
Momentum, 11(2).
kelas VI SD di Kecamatan Mapanget
Chrisnawati, A. S., Hagijanto, A. D., & Manado. E-CliniC, 4(1).
Maer, B. D. A. (2015). Perancangan
Pelealu, J., Angliadi, L. S., & Angliadi, E.
E-book Pencegahan Skoliosis Untuk
(2014). Rehabilitasi Medik pada
Remaja Perempuan Usia 12-15
Skoliosis. Jurnal Biomedik : JBM,
Tahun. Jurnal DKV Adiwarna, 1(6),
6(1).
15.
Purnama, M. S. (2018). Distorsi Postural
Dumondor, S. V, Angliadi, E., & Sengkey,
Tulang Belakang Atlet Ditinjau Dari
L. (2015). Hubungan penggunaan
Cabang Olahraga. Prosiding Seminar
ransel dengan nyeri punggung dan
Bakti Tunas Husada, 1(1).
kelainan bentuk tulang belakang pada
siswa di SMP negeri 2 Tombatu. E- Ratmawati, Y. (2015). Pengaruh Latihan

CliniC, 3(1). Swiss Ball terhadap Peningkatan


Fleksibilitas Trunk pada Remaja Putri
Fitriyani, A., Hartati, H., & Handoyo, H.
Usia 17-21 Tahun. Interest: Jurnal
(2016). Perubahan Kualitas Hidup
Ilmu Kesehatan, 4(1).
dan Kenyamanan Sehari-hari Dengan
Swiss Ball Exercise pada Skoliosis Sari, S., & Sugijanto, K. (2013). Swiss

Sedang. Jurnal Ilmiah Kesehatan Ball Exercise dan Koreksi Postur

Keperawatan, 12(2). tidak Terbukti Lebih Baik Dalam


Memperkecil Derajat Skoliosis
Irianto, K. A., & Yazid, H. (2019).
Idiopatik Daripada Klapp Exercise
Congenital Scoliosis: an Article
Dan Koreksi Postur PadaAnakUsia
Review. JOINTS (Journal
11-13 Tahun. Skripsi.
Orthopaedi and Traumatology

Jurnal kesehatan Al-Irsyad Volume 14, Nomor 1, Maret 2021 126


Sekendiz, B., Cug, M., & Korkusuz, F.
(2010). Effects of Swiss-ball core
strength training on strength,
endurance, flexibility, and balance in
sedentary women. The Journal of
Strength & Conditioning Research,
24(11), 3032–3040.

Simanjuntak, C. A., & Gading, P. W.


(2019). Pemeriksaan Awal Skoliosis
pada Pelajar SLTP di Kota Jambi.
Jurnal MEDIC (Medical Dedication),
2(1), 53–58.

Jurnal kesehatan Al-Irsyad Volume 14, Nomor 1, Maret 2021 127