Anda di halaman 1dari 35

SISTEM REPRODUKSI PADA LANSIA

Mata Kuliah : Keperawatan Gerontik

Dosen Koordinator : Ns. Siti Mukaromah, M.Kep.,Sp,Kep.Kom

Disusun Oleh Kelompok 1 :

Indah Cahyani 17.347.136.01


Jami Sherley Anggraini 18.069.069.01
Moh. Arifin 18.077.077.01
Oktarina Dwi Jayanti 18.081.081.01
Ratna Putri Agustini 18.085.085.01
Remitasari Randi A.P 18.086.086.01
Sarah Exlesia 18.092.092.01
Tri Wahyuni Retno W.O 18.096.096.01

Kelas Keperawatan TK 4B Semester 7

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN DAN SAINS

WIYATA HUSADA SAMARINDA

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT bahwa penulis telah menyelesaikan
tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik dengan membahas perubahan fisik dan fungsi sistem
reproduksi pada lansia dalam bentuk makalah.

Dalam penyusunan tugas penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi
ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan rekan-rekan kami, sehingga kendala-kendala
yang penulis hadapi teratasi. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan
untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik di ITKes Wiyata Husada
Samarinda.

Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada rekan-rekan yang
membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan
yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan
ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

Samarinda, 12 September 2021

Penyusun,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
D. Manfaat 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Lansia 4
B. Konsep system Reproduksi Manusia 4
C. Perbedaan Sistem Reproduksi Pada Lansia & Orang Dewasa 5
D. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia ……………………………… ..10
E. Perubahan Anatomi Dan Fisiologis Pada Sistem Genitalia Lansia ………………...14
F. Dampak Disfungsi Sistem Reproduksi Terhadap Psikososial Pada Lansia 16
G. Masalah Yang Mungkin Terjadi Pada Lansia Akibat Perubahan Yang Terjadi …17
H. WOC ……………………………………………………………………………….20
I. Kasus 21
J. Format Pengkajian …………………………………………………………………21
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 12
B. Saran 12
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menua atau menjadi tua merupakan suatu keadaan yang terjadi dalam kehidupan
manusia. Proses menua tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak
permulaan kehidupan dan merupakan proses sepanjang hidup (Nugroho, 2015).
Secara global populasi lanjut usia (lansia) diprediksi akan terus mengalami
peningkatan. Pada tahun 2015 Asia dan Indonesia sudah memasuki era penduduk menua
(ageing population) yang dikarenakan jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
(penduduk lansia) melebihi angka 7 persen. Komposisi penduduk lanjut usia bertambah
pesat baik di negara maju ataupun di negara berkembang yang disebabkan karena
penurunan angka fertilitas (kelahiran) dan mortalitas (kematian) serta peningkatan angka
harapan hidup (life expectancy) yang mengubah struktur penduduk secara keseluruhan
(Kemenkes, 2017).
Populasi penduduk lanjut usia di dunia pada tahun 2015 adalah sebesar 12,3%
sedangkan pada tahun 2010 adalah sebesar 13,5% dari total keseluruhan penduduk.
Berdasarkan data proyeksi penduduk, presentase penduduk lansia di Indonesia pada tahun
2017 terdapat 23,66 juta jiwa (9,03%). Jumlah ini akan diprediksi menjadi 27,08 juta pada
tahun 2020, dan diperikirakan akan mengalami kenaikan lagi menjadi 33,69 juta pada tahun
2025 (Kemenkes, 2017).
Jumlah penduduk di Indonesia menunjukan belum keseluruhan penduduk di
provinsi adalah berstruktur tua. Ada 19 provinsi (55,58%) yang memiliki struktur penduduk
tua. Jawa tengah menempati nomor urut kedua (12,59%) setelah DI Yogyakarta (13,81%)
yang memiliki struktur penduduk tua. Struktur ageing population yang merupakan cerminan
dari tingginya rata-rata Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Indonesia. Tingginya UHH
adalah salah satu indikator keberhasilan pencapaian pembangunan terutama di bidang
kesehatan. Sejak tahun 2004-2015 memperlihatkan adanya peningkatan Usia Harapan
Hidup di Indonesia dari 68,8 tahun menjadi 70,8 tahun dan di prediksi pada tahun 2030-
2035 mencapai 72,2 tahun (Infodatin, 2016).

1
2

Pengaruh proses menua dapat menimbulkan masalah pada sistem tubuh manusia khususnya
pada lansia, salah satunya yaitu disfungsi pada sistem reproduksi. Reproduksi adalah upaya
makhluk hidup untuk mempertahankan jenisnya sehingga keturunanya tidak punah.
Menurut Nurhayati (2014, hlm. 310) reproduksi adalah kemampuan organisme untuk
menghasilkan organisme baru yang sifatnya sama persis dengan induknya atau merupakan
penggabungan sifat dari kedua induknya.
Kesehatan reproduksi mengacu pada keadaan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial
dalam semua hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya pada
semua tahap kehidupan (WHO, 2014).
Teori Sosial menerangkan bahwa dengan berubahnya usia seseorang secara
berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini
mengakibatkan interaksi sosial lansia menurun, baik secara kualitatif maupun kuantitasnya
sehingga sering terjadi kehilangan ganda yaitu: 1) Kehilangan peran (Loss of Role) 2)
Hambatan kontak sosial (Restraction of Contact & Relationships) 3) Berkurangnya
komitmen (Reduced Commitment to Social Mores & Values) (Rahayu, Atikah dkk, 2019).
Berdasarkan fenomena diatas, banyaknya masalah kesehatan reproduksi yang
dialami oleh lansia, dimana kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk dampak
psikososial para lansia saat bersosialisasi di lingkungannya, maka, diperlukan penelitian
terkait “ Konsep lansia, Perbedaan Sistem Reproduksi Pada Lansia dengan Remaja, serta
Dampak Disfungsi Sistem Reproduksi Terhadap Psikososial Pada Lansia? ”

B. Rumusan Masalah
“ Bagaimanakah Konsep Lansia, Apa Saja Perbedaan Sistem Reproduksi Pada Lansia
dengan Remaja, serta Dampak Disfungsi Sistem Reproduksi Terhadap Psikososial Pada
Lansia ? ”

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Mengetahui Konsep lansia, Perbedaan Sistem Reproduksi Pada Lansia dengan
Remaja, serta Dampak Disfungsi Sistem Reproduksi Terhadap Psikososial Pada
Lansia.
3

2. Tujuan khusus
Mengetahui kasus apa saja yang sering terjadi pada sistem reproduksi lansia.

D. Manfaat
Penelitian yang dilakukan bermanfaat bagi :
1. Peneliti/Mahasiswa Keperawatan
Sebagai sarana dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah didapat dari
institusi selama proses pendidikan.
2. Perawat
Menambah wawasan perawat tentang pelayanan keperawatan lansia terutama
mengenai kesehatan system reproduksi.
3. Lansia
Memberikan pemahaman terkait perubahan fungsi system reproduksi, dampak pada
sosialnya, serta kasus yang mungkin saja dapat terjadi pada usia lansia terkait
kesehatan reproduksinya.
4. Pendidikan Keperawatan
Menambah informasi yang berbasis evidence base terkait dengan asuhan
keperawatan gerontik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP LANSIA
Lansia adalah seseorang yang mengalami tahap akhir dalam perkembangan
kehidupan manusia. UU No. 13/Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia disebutkan
bahwa lansia adalah seseorang yang berusia lebih dari 60 tahun (Dewi, 2014). Menurut
WHO (World Health Organization) lanjut usia meliputi usia pertengahan (middle age) yaitu
kelompok usia 45 tahun sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) yaitu usia 60 sampai 74
tahun, lanjut usia tua (old) yaitu antara 75 tahun sampai 90 tahun dan usia sangat tua (very
old) yaitu diatas 90 tahun (Nugroho, 2008).

B. KONSEP SISTEM REPRODUKSI MANUSIA


1. Pengertian sistem reproduksi manusia
Reproduksi manusia adalah cara makhluk hidup untuk menghasilkan individu
baru. Fertilisasi adalah proses penggabungan sperma dan ovum. Salah satu ciri
makhluk hidup ialah kemampuan untuk memperbanyak jenisnya. Pada manusia untuk
menghasilkan keturunan yang baru diawali dengan fertilisasi sehingga dengan
demikian reproduksi pada manusia dilakukan dengan cara generatif atau seksual.
Proses reproduksi meliput seksual (perangkat fisiologis untuk reproduksi),
pembentukan gamet (spermatozoa dan ovum), fertilisasi (penyatuan gamet),
kehamilan, dan laktasi. Untuk lebih jelasnya, berikut akan dijelaskan masing-masing
dari kedua sistem reproduksi tersebut.
2. Organ reprodukasi Pria
Alat kelamin atau alat reproduksi pada pria memiliki dua fungsi yaitu untuk
menghasilkan sel-sel kelamin dan menyalurkan sel-sel kelamin tersebut ke saluran
kelamin wanita. Campbell, (2008:172) membagi organ reproduktif pria menjadi dua
bagian utama, yaitu organ reproduktif eksternal dan organ reproduktif internal. Organ
reproduktif eksternal laki-laki terdiri dari skrotum dan penis. Sedangkan organ – organ
reproduktif internal laki-laki terdiri dari gonad yang menghasilkan sperma maupun
hormonhormon reproduktif, kelenjar-kelenjar aksesori yang menyekresikan produk-

4
5

produk esensial untuk penggerakan sperma, dan saluransaluran yang mengangkut


sperma dan sekresi-sekresi kelenjar,
3. Organ reproduksi wanita
Seperti halnya organ reproduktif pada pria, organ reproduktif pada wanita juga
terbagi menjadi organ reproduktif eksternal dan organ reproduktif internal. Campbell,
(2008:171) membaginya menjadi organ reproduktif eksternal perempuan adalah klitoris
dan dua pasang labia, yang mengelilingi klitoris dan bukaan vagina. Organ-organ
internalnya adalah gonad, yang menghasilkan sel-sel telur maupun hormon-hormon
reproduktif
4. Spermatogonis
Spermatogenesis adalah proses gametogenesis pada pria dengan cara
pembelahan meiosis dan mitosis. Sedangkan tempat menyimpan sperma sementara,
terletak di vas deferens. Sperma dihasilkan oleh tubulus seminiferus. Sel sel yang
berada di tubulus seminiferus berupa sel germinal dengan bermacam-macam tahap
perkembangan,
5. Oogenesis
Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur pada sistem reproduksi wanita.
Oogenesis dimulai dengan pembentukan sel-sel telur yang disebut oogonia.
Pembentukan sel telur pada manusia dimulai sejak dalam kandungan, yaitu dalam ovary
fetus wanita pada akhir bulan ke tiga usia fetus, semua oogonia yang bersifat diploid
telah selesai dibentuk dan siap memasuki tahap pembelahan,

C. PERBEDAAN SISTEM REPRODUKSI PADA LANSIA DAN ORANG DEWASA


1. Definisi (Usia Lanjut )
Lanjut usia (lansia) menurut World Health Organization (WHO) adalah seseorang
yang usianya mencapai 60 tahun keatas. Sutikno, 2015 mengemukakan lansia adalah
kelompok usia yang sensitif mengalami perubahan yang diakibatkan proses penuaan.
Proses penuaan tersebut akan mengakibatkan perubahan-perubahan pada lansia, salah
satu permasalahannya adalah adanya perubahan fisiologis yang akan berdampak pada
masalah psikolog (kesehatan mental).
2. Batasan- batasan lansia
6

Departemen Kesehatan RI (2009) batasan lansia terbagi dalam 3 kelompok yaitu :

a. Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakkan


kematangan jiwa (usia 55-59 tahun).

b. Usia lanjut dini (senescen) yaitu kelompok yang mulai memasuki masa usia
lanjut dini (usia 60-64 tahun). Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai
penyakit degeneratif (usia > 65 tahun.
3. Perubahan Sistem Reproduksi dan Kegiatan Seksual
Perubahan sistem reproduksi pada lansia antara lain selaput vagina menurun atau
kering, menciutnya ovarium dan uterus, atropi payudara, testis masih dapat
memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur dan dorongan seks
menetap sampai usia di atas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik. Seksualitas adalah
kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat
reproduksi (Sunaryo et al, 2016).
a) Perubahan Pada Sistem Reproduksi Pria
Perubahan menua yang terjadi pada pria adalah sebagai berikut. Pertama, testis
masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun adanya penurunan secara
berangsur-angsur. Kedua,atrofi asini prostat otot dengan area fokus hiperplasia
(Sunaryo et al, 2016).

b) Perubahan Pada Sistem Reproduksi Wanita


Perubahan menua yang terjadi pada wanita adalah sebagai berikut. Pertama
penurunan esterogen yang bersikulasi sehingga atrofi jaringan payudara dan
genital. Kedua, peningkatan endrogen yang bersikulasi sehingga penurunan massa
tulang dengan resiko osteoporosis dan fraktur, peningkatan kecepatan
aterosklerosis (Sunaryo et al, 2016).
7

4. Definisi Remaja
- Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan
sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan
dalam semua hal yang berkaitan dengan sistim reproduksi, serta fungsi dan
prosesnya.
- Remaja atau adolescence, berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti
tumbuh ka arah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan
hanya kematangan fisik saja, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis.
- Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan
fisik, emosi dan psikis. Masa remaja adalah suatu periode masa
pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa peralihan.
Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa
dewasa.
5. Tahapan Remaja
Tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan
seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut :
- Masa remaja awal/dini (early adolescence) : umur 11 – 13 tahun. Dengan ciri
khas : ingin bebas, lebih dekat dengan teman sebaya, mulai berfikir abstrak dan
lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya.
- Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : umur 14 – 16 tahun. Dengan
ciri khas : mencari identitas diri, timbul keinginan untuk berkencan, berkhayal
tentang seksual, mempunyai rasa cinta yang mendalam.
- Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 – 20 tahun. Dengan ciri khas :
mampu berfikir abstrak, lebih selektif dalam mencari teman sebaya, mempunyai
citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta, pengungkapan kebebasan
diri.
Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu.
Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas yang
jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan. Terdapat
ciri yang pasti dari pertumbuhan somatik pada remaja, yaitu peningkatan massa
tulang, otot, massa lemak, kenaikan berat badan, perubahan biokimia, yang terjadi
8

pada kedua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan walaupun polanya
berbeda. Selain itu terdapat kekhususan (sex specific), seperti pertumbuhan payudara
pada remaja perempuan dan rambut muka (kumis, jenggot) pada remaja laki-laki.

6. Perubahan fisik pada remaja

Perubahan fisik dalam masa remaja merupakan hal yang sangat penting dalam
kesehatan reproduksi, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik yang sangat
cepat untuk mencapai kematangan, termasuk organ-organ reproduksi sehingga
mampu melaksanakan fungsi reproduksinya. Perubahan yang terjadi yaitu :

1) Munculnya tanda-tanda seks primer; terjdi haid yang pertama (menarche)


pada remaja perempuan dan mimpi basah pada remaja laki-laki.
2) Munculnya tanda-tanda seks sekunder, yaitu :
a. Pada remaja laki-laki; tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar bertambah
besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, suara bertambah besar, dada lebih
besar, badan berotot, tumbuh kumis diatas bibir, cambang dan rambut di
sekitar kemaluan dan ketiak.
b. Pada remaja perempuan; pinggul melebar, pertumbuhan rahim dan vagina,
tumbuh rambut di sekitar kemaluan dan ketiak, payudara membesar.

7. Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja


Kuatnya norma sosial yang menganggap seksualitas adalah tabu akan
berdampak pada kuatnya penolakan terhadap usulan agar pendidikan seksualitas
terintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan. Sekalipun sejak reformasi
bergulir hal ini telah diupayakan oleh sejumlah pihak seperti organisasi-
organisasi non pemerintah (NGO), dan juga pemerintah sendiri (khususnya
Departemen Pendidikan Nasional), untuk memasukkan seksualitas dalam mata
pelajaran ’Pendidikan Reproduksi Remaja’; namun hal ini belum sepenuhnya
mampu mengatasi problem riil yang dihadapi remaja. Faktanya, masalah terkait
seksualitas dan kesehatan reproduksi masih banyak dihadapi oleh remaja.
Masalah-masalah tersebut antara lain :
1) Perkosaan.
Kejahatan perkosaan ini biasanya banyak sekali modusnya. Korbannya tidak
hanya remaja perempuan, tetapi juga laki-laki (sodomi). Remaja perempuan
rentan mengalami perkosaan oleh sang pacar, karena dibujuk dengan alasan
untuk menunjukkan bukti cinta.
9

2) Free sex.
Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-ganti.
Seks bebas pada remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis selain dapat
memperbesar kemungkinan terkena infeksi menular seksual dan virus HIV
(Human Immuno Deficiency Virus), juga dapat merangsang tumbuhnya sel
kanker pada rahim remaja perempuan. Sebab, pada remaja perempuan usia 12-
17 tahun mengalami perubahan aktif pada sel dalam mulut rahimnya. Selain
itu, seks bebas biasanya juga dibarengi dengan penggunaan obat-obatan
terlarang di kalangan remaja. Sehingga hal ini akan semakin memperparah
persoalan yang dihadapi remaja terkait kesehatan reproduksi ini, yaitu :
1. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Hubungan seks pranikah di
kalangan remaja didasari pula oleh mitos-mitos seputar masalah
seksualitas. Misalnya saja, mitos berhubungan seksual dengan pacar
merupakan bukti cinta. Atau, mitos bahwa berhubungan seksual hanya
sekali tidak akan menyebabkan kehamilan. Padahal hubungan seks
sekalipun hanya sekali juga dapat menyebabkan kehamilan selama si
remaja perempuan dalam masa subur.
2. Aborsi. Aborsi merupakan keluarnya embrio atau janin dalam kandungan
sebelum waktunya. Aborsi pada remaja terkait KTD biasanya tergolong
dalam kategori aborsi provokatus, atau pengguguran kandungan yang
sengaja dilakukan. Namun begitu, ada juga yang keguguran terjadi secara
alamiah atau aborsi spontan. Hal ini terjadi karena berbagai hal antara lain
karena kondisi si remaja perempuan yang mengalami KTD umumnya
tertekan secara psikologis, karena secara psikososial ia belum siap
menjalani kehamilan. Kondisi psikologis yang tidak sehat ini akan
berdampak pula pada kesehatan fisik yang tidak menunjang untuk
melangsungkan kehamilan.
10

3. Perkawinan dan kehamilan dini. Nikah dini ini, khususnya terjadi di


pedesaan. Di beberapa daerah, dominasi orang tua biasanya masih kuat
dalam menentukan perkawinan anak dalam hal ini remaja perempuan.
Alasan terjadinya pernikahan dini adalah pergaulan bebas seperti
hamil di luar pernikahan dan alasan ekonomi. Remaja yang menikah
dini, baik secara fisik maupun biologis belum cukup matang untuk
memiliki anak sehingga rentan menyebabkan kematian anak dan ibu
pada saat melahirkan. Perempuan dengan usia kurang dari 20 tahun
yang menjalani kehamilan sering mengalami kekurangan gizi dan
anemia. Gejala ini berkaitan dengan distribusi makanan yang tidak
merata, antara janin dan ibu yang masih dalam tahap proses
pertumbuhan.
4. IMS (Infeksi Menular Seksual) atau PMS (Penyakit Menular Seksual),
dan HIV/AIDS. IMS ini sering disebut juga penyakit kelamin atau
penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Sebab IMS dan
HIV sebagian besar menular melalui hubungan seksual baik melalui
vagina, mulut, maupun dubur. Untuk HIV sendiri bisa menular dengan
transfusi darah dan dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Dampak
yang ditimbulkannya juga sangat besar sekali, mulai dari gangguan
organ reproduksi, keguguran, kemandulan, kanker leher rahim, hingga
cacat pada bayi dan kematian.

D. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA


(DISFUNGSI SEKSUAL)
1) Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara
degeneratif yang akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri
manusia, tidak hanya perubahan fisik, Mental, Psikososial, tetapi juga
kognitif, sosial, dan seksual.
a) Perubahan fisik
i. Sistem reproduksi
Perubahan sistem reproduksi pada lansia antara lain
selaput vagina menurun atau kering, menciutnya ovarium
dan uterus, atropi payudara, testis masih dapat memproduksi
11

meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur dan


dorongan seks menetap sampai usia di atas 70 tahun, asal
kondisi kesehatan baik. Seksualitas adalah kebutuhan dasar
manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan
dengan alat reproduksi (Sunaryo et al, 2016).

ii. Perubahan Pada Sistem Reproduksi Pria


Perubahan menua yang terjadi pada pria adalah sebagai
berikut. Pertama, testis masih dapat memproduksi spermatozoa
meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur.
Kedua,atrofi asini prostat otot dengan area fokus hiperplasia
(Sunaryo et al, 2016).

iii. Perubahan Pada Sistem Reproduksi Wanita


Perubahan menua yang terjadi pada wanita adalah
sebagai berikut. Pertama penurunan esterogen yang bersikulasi
sehingga atrofi jaringan payudara dan genital. Kedua, peningkatan
endrogen yang bersikulasi sehingga penurunan massa tulang
dengan resiko osteoporosis d& fraktur, peningkatan kecepatan
aterosklerosis (Sunaryo et al, 2016).
b) Perubahan Mental
Lansia akan mengalami perubahan-perubahan antara lain
muncul perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan
cemas, ada kekacuan mental akut, merasa terancam akan
timbulnya suatu penyakit, takut dilantarkan karena merasa tidak
berguna serta muncul perasaan kurang mampu untuk mandiri
(Sunaryo et al, 2016).
c) Perubahan Psikososial
Lansia akan menghadapi masalah-masalah serta reaksi
individu terhadapnya akan sangat beragam, tergantung pada
kepribadian individu yang bersangkutan. Saat Ini orang yang telah
menjalani kehidupannya dengan bekerja diharapkan dapat
12

beradaptasi pada masa pensiunnya. Sehingga banyak lansia yang


merasakan terasingkan karena sudah tidak berhubungan dengan
masyarakat (Sunaryo et al, 2016).
d) Perubahan Kognitif
i. Memory (Daya ingat, Ingatan)
ii. IQ (Intellegent Quocient)
iii. Kemampuan Belajar (Learning)
iv. Kemampuan Pemahaman (Comprehension)
v. Pemecahan Masalah (Problem Solving)
vi. Pengambilan Keputusan (Decission Making)
vii. Kebijaksanaan (Wisdom)
viii. Kinerja (Performance)
ix. Motivasi
2) Masalah Utama Pada Perubahan Fisik Sistem Reproduksi Lansia (Disfungsi
Seksual)
a) Disfungsi Seksual
Disfungsi seksual menurut Diagnostic dan Statistical
Manual of Mental Disorders fourth edition (DSM V) adalah
sekelompok gangguan yang ditandai dengan adanya gangguan
klinis yang signifikan dalam hal ketidakmampuan seseorang
merespon secara seksual atau merasakan kenikmatan seksual.
b) Siklus Seksual Normal
Siklus seksual normal terdiri dari empat fase, yaitu fase I
hasrat (desire), ditandai dengan adanya fantasi seksual dan
keinginan untuk berhubungan seksual. Hasrat dapat dicetuskan
melalui proses biologis atau keinginan untuk menyatu atau terikat
dengan pasangan; fase II excitement, muncul karena adanya
stimulasi fisiologi, psikologis ataupun keduanya; fase III orgasme,
tercapainya puncak kenikmatan seksual, pelepasan ketegangan
seksual dan kontraksi ritmis otot perineal dan organ reproduktif
yang terdapat di pelvis; fase IV resolusi, darah yang terbendung
dalam corpora cavernosa penis kembali mengalir, mengakibatkan
tubuh kembali kedalam keadaan istirahat (Sadock, Sadock dan
13

Ruiz, 2017).
c) Jenis-Jenis Disfungsi Seksual
Jenis-jenis disfungsi seksual menurut DSM 5 terdiri dari:
Male hypoactive sexual desire disorder, Female
sexualinterest/arousal disorder, Erectile disorder, Female
orgasmic disorder, Delayed ejaculation, Premature (early)
ejaculation, Genito-pelvic pain/penetration disorder,
Substance/medicationinduced sexual dysfunction, Other specified
sexual dysfunction, dan Unspecified sexual dysfunction (Sadock,
Sadock dan Ruiz, 2017).
d) Faktor-faktor yang mempengaruhi disfungsi seksual pada
lansia Usia
Perubahan anatomi terkait usia pada pria adalah penipisan
rambut pubis, jaringan skrotum melemah, atrofi otot perineum,
berkurangnya jaringan kolagen dan penambahan berat badan.
(Phanjoo, 2000; Trudel, Turgeon dan Piché, 2010).
Perubahan fisiologis pada pria yaitu waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai ereksi menjadi lebih lama,
membutuhkan stimulasi langsung dan adanya kesulitan untuk
mempertahankan ereksi. Jumlah semen yang dihasilkan,
kontraksi rektum, prostat dan penis juga lemah pada saat
ejakulasi. Lansia lebih mampu mengontrol ejakulasi sehingga,
memberikan kepuasan yang lebih dalam berhubungan seksual
(Hillman, 2000; Gareri et al., 2014).
Perubahan pada perempuan setelah menopause yaitu,
berkurangnya estrogen menimbulkan berbagai efek pada tubuh,
seperti penipisan rambut pubis, vagina menjadi kering, mukosa
menjadi tipis dan kering, rugae vagina menghilang,
vaskularisasi, lemak subkutan serta kelenturan jaringan
berkurang mengakibatkan labia mayor dan minor mengkerut dan
menjadi tidak sensitif terhadap rangsangan taktil (Trudel,
Turgeon dan Piché, 2010; Ambler, Bieber dan Diamond, 2012).
14

e) Contoh Kasus Disfungsi Seksual Pada Lansia


Seorang lansia Ny. Y berusia 66 tahun datang ke Rs, dan
mengatakan bahwa akhir-akhir ini sering merasakan nyeri ketika
melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, nyeri yang dialami
terasa tidak seperti biasanya dan Ny. Y juga mengatakan bahwa
terkadang kurang merasakan kenikmatan seksual disaat melakukan
hubungan seksual dengan pasangannya.

E. PERUBAHAN ANATOMI DAN FISIOLOGIS PADA SISTEM


GENITALIA LANSIA
1. Wanita
Dengan berhentinya produksinya hormon estrogen, genitalia
interna dan eksterna berangsur-angsur mengalami atrofi.
a. Vagina
 Vagina mengalami kontraktur, panjang dan lebar vagina
mengalami pengecilan.
 Fornises menjadi dangkal, begitu pula serviks tidak lagi
menonjol ke dalam vagina. Sejak klimakterium, vagina
berangsur-angsur mengalami atropi, meskipun pada wanita
belum pernah melahirkan. Kelenjar seks mengecil dan berhenti
berfungsi. Mukosa genitalia menipis begitu pula jaringan sub-
mukosa tidak lagi mempertahankan elastisitasnya akibat
fibrosis.
 Perubahan ini sampai batas tertentu dipengaruhi oleh
keberlangsungan koitus, artinya makin lama kegiatan tersebut
dilakukan kurang laju pendangkalan atau pengecilan genitalia
eksterna.

b. Uterus
Setelah klimaterium uterus mengalami atrofi, panjangnya
menyusut dan dindingnya menipis, miometrium menjadi sedikit
dan lebih banyak jaringan fibrotik. Serviks menyusut tidak
menonjol, bahkan lama-lama akan merata dengan dinding jaringan.

c. Ovarium
Setelah menopause, ukuran sel telur mengecil dan
permukaannya menjadi “keriput” sebagai akibat atrofi dari medula,
bukan akibat dari ovulasi yang berulang sebelumnya, permukaan
ovarium menjadi rata lagi seperti anak oleh karena tidak terdapat
folikel. Secara umum, perubahan fisik genetalia interna dan
15

eksterna dipengaruhi oleh fungsi ovarium. Bila ovarium berhenti


berfungsi, pada umumnya terjadi atrofi dan terjadi inaktivitas organ
yang pertumbuhannya oleh hormon estrogen dan progesteron.

d. Payudara (Glandula Mamae)


Payudara akan menyusut dan menjadi datar, kecuali pada
wanita yang gemuk, dimana payudara tetap besar dan
menggantung. Keadaan ini disebabkan oleh karena atrofi hanya
mempengaruhi kelenjar payudara saja.
Kelenjar pituari anterior mempengaruhi secara histologik
maupun fungsional, begitu pula kelenjar tiroid dan adrenal menjadi
“keras” dan mengkibatkan bentuk tubuh serupa akromegali ringan.
Bahu menjadi gemuk dan garis pinggang menghilang. Kadang
timbul pertumbuhan rambut pada wajah. Rambut ketiak, pubis
mengurang, oleh karena pertumbuhannya dipengaruhi oleh
kelenjar adrenal dan bukan kelenjar ovarium. Rambut kepala
menjadi jarang. Kenaikan berat badan sering terjadi pada masa
klimakterik.
2. Pria
Beberapa perubahan yang terjadi pada lansia pria adalah :
a) Produksi testoteron menurun secara bertahap.
Penurunan ini mungkin juga akan menurunkan hasrat dan
kesejahteraan . Testis menjadi lebih kecil dan kurang produktif .
Tubular testis akan menebal dan berdegenerasi. Perubahan ini akan
menurunkan proses spermatogenesis, dengan penurunan jumlah
sperma tetapi tidak mempengaruhi kemampuan untuk membuahi
ovum.

b) Kelenjar prostat biasanya membesar.


Hipertrofi prostate jinak terjadi pada 50% pria diatas usia
40 tahun dan 90% pria diatas usia 80 tahun. Hipertrofi prostat jinak
ini memerlukan terapi lebih lanjut. c. Respon seksual terutama fase
penggairahan (desire), menjadi lambat dan ereksi yang sempurna
mungkin juga tertunda.

c) Fase orgasme, lebih singkat dengan ejakulasi yang tanpa disadari.


Intensitas sensasi orgasme menjadi berkurang dan tekanan
ejakulasi serta jumlah cairan sperma berkurang. Kebocoran cairan
ejakulasi tanpa adanya sensasi ejakulasi yang kadang-kadang
dirasakan pada lansia pria disebut sebagai ejakulasi dini atau
prematur dan merupakan akibat dari kurangnya pengontrolan yang
berhubungan dengan miotonia dan vasokongesti, serta masa
16

refrakter memanjang pada lansia pria. Ereksi fisik frekuensinya


berkurang termasuk selama tidur.

d) Penurunan tonus otot menyebabkan spasme pada organ genital


eksterna yang tidak biasa. Frekuensi kontraksi sfingter ani selama
orgasme menurun.

e) Kemampuan ereksi kembali setelah ejakulasi semakin panjang,


pada umumnya 12 sampai 48 jam setelah ejakulasi. Ini berbeda
pada orang muda yang hanya membutuhkan beberapa menit saja.

f) Ereksi pagi hari (morning erection) semakin jarang terjadi.


Hal ini tampaknya berhubungan dengan semakin
menurunnya potensi seksual. Oleh karena itu, jarang atau seringnya
ereksi pada pagi hari dapat menjadi ukuran yang dapat dipercaya
tentang potensi seksual pada seorang pria. Penelitian Kinsey, dkk
menemukan bahwa frekuensi ereksi pagi rata-rata 2,05 perminggu
pada usia 31-35 tahun dan hal ini menurun pada usia 70 tahun
menjadi 0,50 perminggu.

F. DAMPAK DISFUNGSI SISTEM REPRODUKSI TERHADAP


PSIKOSOSIAL PADA LANSIA
Disfungsi seksual merupakan masalah kesehatan reproduksi yang
dapat terjadi pada lansia yang didefinisikan sebagai gangguan fungsi
seksual yang sering dan munculnya masalah seksual yang persisten.
Seksualitas pada laki-laki dan perempuan dibentuk oleh sosial dan budaya.
Budaya menetapkan harapan-harapan, keyakinan dan perilaku terhadap
seksualitas. Pandangan sosial ini mengakibatkan lansia menarik diri dari
segala bentuk ekpresi seksual, dan mengabaikan atau menekan hasrat
seksual karena hal tersebut dianggap “sakit”, “tidak pantas”, atau “salah”
(Phanjoo, 2000; Delamater dan Sill, 2016).
Riwayat trauma seksual memberikan dampak negatif terhadap
kehidupan seksual, kepuasan serta fungsi seksual pada laki-laki dan
perempuan. Pasien dengan riwayat trauma akan terjadi kesulitan dalam
merasakan intimasi. Padahal kemampuan untuk merasakan intimasi dalam
aktivitas seksual dibutuhkan untuk membentuk hubungan yang romantis
(Zoldbrod, 2015; Franckowiak, 2017).
17

Hal lain yang mempengaruhi hasrat serta aktivitas seksual


perempuan adalah adanya Pronatalisme, yaitu tekanan sosial untuk
bereproduksi dan menonjolkan reproduksi sebagai tujuan utama dari
aktivitas seksual. Hilangnya kemampuan reproduksi pada perempuan yang
menopause memunculkan keyakinan bahwa sudah tidak ada lagi alasan
baginya melakukan aktivitas seksual (Delamater, 2012).

G. MASALAH YANG KEMUNGKINAN TERJADI PADA LANSIA


AKIBAT PERUBAHAN YANG TERJADI

Permasalahan yang timbul pada usia lanjut atau lansia

1. Permasalahan dari Aspek Fisiologis


Terjadinya perubahan normal pada fisik lansia yang dipengaruhi
oleh factor kejiwaan, sosial, ekonomi dan medik. Perubahan tersebut
akan terlihat dalam jaringan dan organ tubuh seperti kulit menjadi
kering dan keriput, rambut beruban dan rontok, penglihatan menurun
sebagian atau menyeluruh, pendengaran berkurang, indra perasa
menurun, daya penciuman berkurang, tinggi badan menyusut karena
proses osteoporosis yang berakibat badan menjadi bungkuk, tulang
keropos, massanya dan kekuatannya berkurang dan mudah patah,
elastisitas paru berkurang, nafas menjadi pendek, terjadi pengurangan
fungsi organ didalam perut, dinding pembuluh darah menebaldan
menjadi tekanan darah tinggi otot jantung bekerja tidak efisien, adanya
penurunan organ reproduksi, terutama pada wanita, otak menyusut dan
reaksi menjadi lambat terutama pada pria, serta seksualitas tidak terlalu
menurun (Darmojo, 2017).

2. Permasalahan dari Aspek Psikologis Menurut Martono, 1997 dalam


Darmojo (2010), beberapa masalah psikologis lansia antara lain:

a. Kesepian (Loneliness) Dialami oleh lansia pada saat meninggalnya


pasangan hidup, terutama bila dirinya saat itu mengalami
penurunan status kesehatan seperti menderita penyakit fisik berat,
gangguan mobilitas atau gangguan sensorik terutama gangguan
pendengaran harus dibedakan antara kesepian dengan hidup
sendiri. Banyak lansia hidup sendiri tidak mengalami kesepian
karena aktivitas sosialnya tinggi, lansia yang hidup dilingkungan
yang beraggota keluarga yang cukup banyak tetapi mengalami
kesepian. yang sudah rapuh dari seorang lansia, perasaan kosong
kemudian diikuti dengan ingin menangis dan kemudian suatu
18

periode depresi. Depresi akibat duka cita biasanya bersifat self


limiting.

b. Depresi Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi


manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan
gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak
berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2015 dalam repository.usu.ac.id
”depresi”). Maslim (2015 ), berpendapat bahwa depresiadalah
suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh defisiensi relatif salah
satu atau beberapa aminergik neurotransmiter (noradrenalin,
serotonin, dopamin) pada sinaps neuron di SSP terutama pada
sistem limbik (repository.usu.ac.id). Depresi bukan merupakan
suatu keadaan yang disebabkan oleh patologi tunggal, tetapi
biasanya bersifat multifaktorial. pada usia lanjut dimana stress
lingkungan sering menimbulkan depresi dan kemampuan
beradaptasi sudah menurun.akibat depresi pada lanjut usia sering
kali tidak sebaik pada usia muda (Van der Cammen, dalam
Darmojo, 2017).

1. Gangguan cemas membagi gangguan cemas dalam beberapa golongan


yaitu fobia, gangguan panik, gangguan cemas umum, gangguan stress
setelah trauma dan ganggua obstetif-kompulsif. Pada lansia gangguan
cemas merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan biasanya berhubungan
dengan penyakit medis, depresi, efek samping obat atau gejala
penghentian mendadak suatu obat (Darmojo,2017)

2. Psikosis Psikosis bisa terjadi pada lansia, baik sebagai kelanjutan keadaan
dari dewasa muda atau yang timbul pada lansia. Contoh dari psikosis pada
lansia adalah sebagai berikut :

1) Parafrenia
Menurut Brocklehurs Parafrenia merupakan suatu bentuk
skizofrenia lanjut yang sering terdapat pada lansia yang ditandai
dengan waham (dalam kamus besar bahasa Indonesia waham
adalah keyakinan atau pikiran yg salah karena bertentangan dengan
dunia nyata serta dibangun atas unsur yg tidak berdasarkan logika;
sangka; curiga), yang sering lansia merasa tetangganya mencuri
barang-barangnya atau tetangga berniat membunuhnya (Darmojo,
2017). Parafrenia biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi atau
diisolasiatau menarik diri dari kegiatan social.
19

b. Sindroma diagnose
Merupakan suatu keadaan dimana lansia menunjukkan
penampilan perilaku yang sangat mengganggu. Rumah atau kamar
yang kotor sertaberbau karena lansia ini sering bermain-main
dengan urin dan fesesnya. Lansia sering menumpuk barang
barangnya dengan tidak teratur (jawa:Nyusuh). Kondisi ini
walaupun kamar sudah dibersihkan dan lansia dimandikan bersih
namun dapat berulang kembali.

3. Permasalahan Dari Aspek Sosial Budaya


Menurut Setiabudhi (2016 ), permasalahan sosial budaya lansia
secara umum yaitu masih besarnya jumlah lansia yang berada di bawah
garis kemiskinan, makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga
anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan
dihormati, berhubung terjadi perkembangan pola kehidupan keluarga
yang secara fisiklebih mengarah pada bentuk keluarga kecil, akhirnya
kelompok masyarakat industri yang memiliki ciri kehidupan yang lebih
bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan
perhitungan untung rugi, lugas dan efisien yang secara tidak langsung
merugikan kesejahteraan lansia, masih rendahnya kuantitas tenaga
professional dalam pelayanan lansia dan masih terbatasnya sarana
pelayanan pembinaan kesejahteraan lansia, serta belum membudayanya
dan melembaganya kegiatan pembinaankesejahteraan lansia.
20

H. WOC

Faktor fisik Faktor psikis Faktor usia Idiopatik

Gangguan dorongan Disfungsi ereksi Gangguan ejakulasi Menopause


seksual Penyakit peyronie

Vagina mengering
Tidak mampu Ejakulasi Ejakulasi Ejakulasi Pembengkokan
Penurunan libido dini terhambat retrograde
mempertahan batang penis saat
kan ereksi ereksi
Daerah sensitif
Tidak dapat Cairan semen semakin sulit
Jarang melakukan seks Tidak percaya
ejakulasi keluar sedikit dirangsang
diri pada
pasangan
Gangguan
Ketidak efektifan citra tubuh
pola seksualitas Ansietas Gangguan aktivitas seks

Harga diri rendah

Penurunan libido Perubahan fungsi seks

Disfungsi seksual
21

I. KASUS
Tn. P di diagnosa diabetes mellitus pada usia 57 tahun dan Tn.p
mengalami disfungsi seksual pada <1 tahun setelah diabetes (bersamaan dengan
munculnya diagnosa). Dampak disfungsi seksual dan hambatan yang terjadi pada
klien pria diabetes mencakup gangguan hubungan sosial (dampak sosial),
gamgguan hubungan dengan pasangan (dampak dengan pasangan) dan
munculnya respon psikologis klien.

J. FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK


a. Pengkajian
Hari/ Tgl :
Jam :
Nama :

1. Identitas

a. Nama :

b. Tempat /tgl lahir :

c. Jenis Kelamin :

d. Status Perkawinan :

e. Agama :

f. Suku :

2. Riwayat Pekerjaan dan Status Ekonomi

a. Pekerjaan saat ini :

b. Pekerjaan sebelumnya :

c. Sumber pendapatan :

d. Kecukupan pendapatan :
22

3. Lingkungan tempat tinggal

Kebersihan dan kerapihan ruangan ?,Penerangan?, Sirkulasi udara?,


Keadaan kamar mandi & WC?, Pembuangan air kotor?, Sumber air
minum?, pembuangan sampah ?, sumber pencemaran?, Privasi?, Risiko
injuri?

4. Riwayat Kesehatan

a. Status Kesehatan saat ini

1. Keluhan utama dalam 1 tahun terakhir :

2. Gejala yang dirasakan :

3. Faktor pencetus :

4. Timbulnya keluhan : ( ) Mendadak ( )


Bertahap
5. Upaya mengatasi :

6. Pergi ke RS/Klinik pengobatan/dokter praktek/bidan/perawat ?

7. Mengkomsumsi obat-obatan sendiri ?, obat tradisional ?

8. Lain-lain…..

b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

1. Penyakit yang pernah diderita :

2. Riwayat alergi ( obat, makanan, binatang, debu dll ) :

3. Riwayat kecelakaan :

4. Riwayat pernah dirawat di RS :

5. Riwayat pemakaian obat :

5. Pola Fungsional
23

a. Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan

Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan misal merokok, minuman


keras, ketergantungan terhadap obat ( jenis/frekuensi/jumlah/ lama
pakai )
b. Nutrisi metabolik

Frekuensi makan ?, nafsu makan?, jenis makanan?, makanan yg tdk


disukai ?, alergi thdp makanan?, pantangan makanan?, keluhan yg
berhubungan dengan makan?
c. Eliminasi

BAK : Frekuensi & waktu?, kebiasaan BAK pada malam hari?,


keluhan yang berhubungan dengan BAK?
BAB : Frekuensi & waktu?, konsistensi?,keluhan yang
berhubungan dg BAB?, pengalaman memakai pencahar?

d. Aktifitas Pola Latihan

Rutinitas mandi?, kebersihan sehari-hari?, aktifitas sehari-


hari?,apakah ada masalah dengan aktifitas?, kemampuan
kemandirian?
e. Pola istirahat tidur

Lama tidur malam?, tidur siang?,keluhan yang berhubungan dengan


tidur?
f. Pola Kognitif Persepsi

Masalah dengan penglihatan (Normal?, terganggu (


ka/ki)?,kabur?,pakai kacamata?.Masalah pendengaran
normal?,terganggu (ka/ki)?memakai alat bantu dengar ?, tuli ( ka/ki
) ? dsbnya.
Kesulitan membuat keputusan ?

g. Persepsi diri-Pola konsep diri


Bagaimana klien memandang dirinya ( Persepsi diri sebagai lansia?),
bagaimana persepsi klien tentang orang lain mengenai dirinya?
h. Pola Peran-Hubungan
24

Peran ikatan?, kepuasan?,pekerjaan/ sosial/hubungan perkawinan ?

i. Sexualitas

Riwayat reproduksi, kepuasan sexual, masalah ?

j. Koping-Pola Toleransi Stress

Apa yang menyebabkan stress pada lansia, bagaimana penanganan


terhadap masalah ?
k. Nilai-Pola Keyakinan
Sesuatu yang bernilai dalam hidupnya ( spirituality : menganut suatu
agama, bagaimana manusia dengan penciptanya ), keyakinan akan
kesehatan, keyakinan agama

6. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum :

b. TTV :

c. BB/TB

d. Kepala

e. Rambut :
f. Mata :

g. Telinga :
h. Mulut, gigi dan bibir :

i. Dada :

j. Abdomen :

k. Kulit :

l. Ekstremitas Atas :

m. Ekstremitas bawah :
25

7. Pengkajian Khusus ( Format Terlampir )

a. Fungsi kognitif SPMSQ :

b. Status fungsional (Katz Indeks ) :

c. MMSE :

d. APGAR keluarga :

e. Skala Depresi :

f. Screening Fall :

g. Skala Norton :

B. ANALISA DATA

C. PRIORITAS MASALAH

D. INTERVENSI

E. IMPLEMENTASI
26

Kuesioner Disfungsi Seksual Pada Lansia

A. Pengetahuan

1. Keinginan seksual muncul karena hormon-hormon seksualnya sudah mulai


berfungsi?

a. Ya
b. Tidak

c. Tidak tahu

2. Olah raga merupakan salah satu cara mengendalikan keinginan seksual?

a. Ya
b. Tidak

c. Tidak tahu

3. Menurut anda dapatkah wanita menjadi hamil saat dia melakukan hubungan
intim/seks untuk pertama kali?

a. Ya
b. Tidak

c. Tidak tahu

4. Menurut anda dapatkah wanita menjadi hamil apabila melakukan hubungan


seks / intim hanya satu kali saja.?
a. Ya
b. Tidak

c. Tidak tahu

5. Menurut anda dapatkah wanita menjadi hamil walaupun saat melakukan


hubungan intim/seks, laki-laki mengeluarkan sperma di luar kemaluan wanita
(vagina)?
a. Ya
b. Tidak

c. Tidak tahu
27

B. Sikap

1. Di tahapan hubungan yang mana yang menurut anda wajar dilakukan


oleh wanita seperti berciuman, berpelukan, dan bersentuhan dengan
pasangannya?
a. Pada saat kencan pertama
b. Pada saat sudah beberapa kali
kencan
c. Pada kencan serius atau pendekatan
d. Pada hubungan yang sudah ada
ikatan secara informal (pacar)
e. Pada hubungan yang sudah mau
menikah (sudah tunangan)

f. Pada hubungan sudah menikah

2. Di tahapan hubungan yang mana yang menurut anda wajar dilakukan


oleh pria seperti petting (saling menggesek-gesekkan alat kelamin) dan oral
seks dengan pasangannya?
a. Pada saat kencan pertama
b. Pada saat sudah beberapa kali
kencan
c. Pada kencan serius atau pendekatan
d. Pada hubungan yang sudah ada
ikatan secara informal (pacar)
e. Pada hubungan yang sudah mau
menikah (sudah tunangan)

f. Pada hubungan sudah menikah

3. Di tahapan hubungan yang mana yang menurut anda wajar dilakukan


oleh pria seperti hubungan intim atau seks dengan pasangannya?

a. Pada saat kencan pertama


b. Pada saat sudah beberapa kali

Kencan
28

c. Pada kencan serius atau pendekatan


d. Pada hubungan yang sudah ada

ikatan secara informal (pacar)

e. Pada hubungan yang sudah mau

menikah (sudah tunangan)

f. Pada hubungan sudah menikah

4. Di tahapan hubungan yang mana yang menurut anda wajar dilakukan


oleh wanita seperti hubungan intim atau seks dengan pasangannya?

a. Pada saat kencan pertama


b. Pada saat sudah beberapa kali

kencan

c. Pada kencan serius atau pendekatan


d. Pada hubungan yang sudah ada

ikatan secara informal (pacar)

e. Pada hubungan yang sudah mau

menikah (sudah tunangan)

f. Pada hubungan sudah menikah


29

1. Bagaimana tingkat keyakinan Anda apakah bisa dan bertahan


ereksi?
[ ] 0. Tidak ada aktivitas seks
[ ] 1. Sangat rendah
[ ] 2. Rendah
[ ] 3. Sedang
[ ] 4. Tinggi
[ ] 5. Sangat tinggi
2. Bila Anda ereksi dengan rangsangan, berapa sering penis ereksi
cukup keras untuk penetrasi?
[ ] 0. Tidak coba berhubungan seksual
[ ] 1. Tidak pernah/hampir tidak pernah
[ ] 2. Jarang
[ ] 3. Kadang
[ ] 4. Sering
[ ] 5. Selalu/hampir selalu
3. Selama hubungan seksual berapa sering Anda mampu
mempertahankan ereksi sesudah penetrasi ke vagina?
[ ] 0. Tidak coba berhubungan seksual
[ ] 1. Tidak pernah/hampir tidak pernah
[ ] 2. Jarang
[ ] 3. Kadang
[ ] 4. Sering
[ ] 5. Selalu/hampir selalu
4. Selama hubungan seksual, berapa sulit Anda mampu
mempertahankan ereksi sampai selesai dan ejakulasi?
[ ] 0. Tidak coba berhubungan seksual
[ ] 1. Sangat sulit sekali
[ ] 2. Sangat sulit
[ ] 3. Sulit
[ ] 4. Sedikit sulit
[ ] 5. Tidak sulit
30

5. Bila melakukan hubungan seksual, berapa sering Anda merasa


puas?
[ ] 0. Tidak coba berhubungan seksual
[ ] 1. Tidak pernah/hampir tidak pernah
[ ] 2. Jarang
[ ] 3. Kadang
[ ] 4. Sering
[ ] 5. Selalu/hampir selalu
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut WHO (World Health Organization) lanjut usia
meliputi usia pertengahan (middle age) yaitu kelompok usia 45 tahun
sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) yaitu usia 60 sampai 74 tahun,
lanjut usia tua (old) yaitu antara 75 tahun sampai 90 tahun dan usia
sangat tua (very old) yaitu diatas 90 tahun (Nugroho, 2008). Perubahan
Sistem Reproduksi dan Kegiatan Seksual Perubahan sistem reproduksi
pada lansia antara lain selaput vagina menurun atau kering,
menciutnya ovarium dan uterus, atropi payudara, testis masih dapat
memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur
dan dorongan seks menetap sampai usia di atas 70 tahun, asal kondisi
kesehatan baik.
Perubahan fisik pada remaja Perubahan fisik dalam masa
remaja merupakan hal yang sangat penting dalam kesehatan
reproduksi, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik yang sangat
cepat untuk mencapai kematangan, termasuk organ-organ reproduksi
sehingga mampu melaksanakan fungsi reproduksinya. Disfungsi
seksual merupakan masalah kesehatan reproduksi yang dapat terjadi
pada lansia yang didefinisikan sebagai gangguan fungsi seksual yang
sering dan munculnya masalah seksual yang persisten.

B. Saran

31
DAFTAR PUSTAKA

Caesarina Ancah. 2009. Kespro Remaja, disampaikan pada Seminar Nasional


Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Remaja di PP. Nuris. Juni
2009. Jember-Jawa Timur.
Widyastuti, Yani dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Fitramaya. Yogyakarta.
Muhalla, H. I. (2017). Studi Fenomenologi : Pengalaman Disfungsi Seksual Pada
Klien Pria Diabetes UNIVERSITAS INDONESIA Studi Fenomenologi :
Pengalaman di RSUPN Dr . Cipto Mangukunsumo Jakarta. 1–197.
Ninla Elmawati Falabiba. (2019). 済無No Title No Title No Title. 1–13.
Rahayu, A., Noor, M. S., Yulidasa, F., Rahman, F., & Putri, A. O. (2020).
Kesehatan Reproduksi Remaja dan Lansia. In e-conversion - Proposal for a
Cluster of Excellence.
Santander, B. (2017). No Title日本の国立公園に関する3拙著に対する土屋
俊幸教授の批評に答える. 経済志林, 87(1,2), 149–200.
Zulaikha, A., & Mahajudin, M. S. (2017). Disfungsi Seksual Berhubungan dengan
Keharmonisan Rumah Tangga pada Lansia. Jurnal Psikiatri Surabaya, 6(1),
1. https://doi.org/10.20473/jps.v6i1.19104

Ambler, D. R., Bieber, E. J. and Diamond, M. P. (2012) ‘Sexual Function in Elderly


Women : A Review of Current Literature’, 5(1), pp. 16–27. doi:
10.3909/riog0156.
Gareri, P. et al. (2014) ‘Erectile Dysfunction in the Elderly : An Old Widespread
Issue with Novel Treatment Perspectives’, International Journal of
Endocrinology, 2014.
Hillman, J. L. (2000) Clinical Perspectives on Elderly Sexuality Issues in the
Practice of Psychology. 1st edn. New York: Springer Science + Business
Media New York.
Phanjoo, A. L. (2000) ‘Sexual dysfunction in old age’, Advances in Psychiatric
Treatment, 6, pp. 270–277.
Sadock, B. J., Sadock, V. A. and Ruiz, P. (2017) Kaplan & Sadock’sComprehensive
Textbook of Psychiatry. 10th edn. China: Wollters Kluwer.
Trudel, G., Turgeon, L. and Piché, L. (2010) ‘Marital and sexual aspects of old
age’, Sexual and Relationship Therapy, (November 2014), pp. 37–41. doi:
10.1080/713697433.

Anda mungkin juga menyukai