Anda di halaman 1dari 7

NASKAH UAS-THE

UJIAN AKHIR SEMESTER-

TAKE HOME

EXAM UNIVERSITAS TERBUKA

SEMESTER: 2020/21.1

Pengantar Ilmu Hukum/ PTHI ISIP4130

1. Ruang lingkup PIH sangat luas, oleh karena itu pengkaijian terhadap hukum dalam
berbagai aspeknya perlu di pelajari secara interdisipliner, Universal dan Fenomenal.
Maksud dari interdisipliner adalah karena yang ingin dipelajari dalam hukum itu sangat
luas, maka agar hasilnya baik membutuhkan bantuan dari disiplin ilmu yang lain. Ilmu
Hukum menurut sebagian sarjana, adalah sebagai ilmu pengetahuan, sedangkan sebagian
sarjana yang lain, mengatakan bahwa hukum itu bukan termasuk ilmu.
Pertanyaan :
a. Bagaimana kedudukan Ilmu Hukum terhadap disiplin ilmu lainnya.
Jawab :

Ilmu Hukum Memandang Administrasi Negara

Sebagai aparatur pelaksana (penyelenggara) serta aktivitas


pelaksanan/penyelenggaraan UU (hukum). Bila Ilmu Administrasi negara
memandang Peraturan Perundang-undangan dianggap sebagai sumber hukum,
sebagai manifestasi dari hukum, sebagai produk hukum atau disingkat sebagai
hukum. Dalam mempelajari HAM dari sudut ilmu hukum maka sudut pandang
administrasi yang dibahas bersifat yuridis dan legalitas, yaitu:

1. administrasi sebagai aparatur pelaksana atau penyelenggara UU (hukum) serta

2. administrasi sebagai tata penyelenggaraan sesuatu karya yang berdasarkan atas


hukum negara.

b. Bagaimana pendapat saudara tentang sebagian ahli yang mengatakan hukum bukan
termasuk ilmu .
Jawab :
Tidak setuju karena menurut saya semua pengetahuan itu adalah ilmu dan ilmu
hukum adalah ilmu pengetahuan yang objeknya adalah hukum. Kajian ilmu hukum
tidak terbatas pada suatu wilayah saja karena juga membutuhkan
perbandingan mengenai hukum ditempat lain. Demikian pula bahwa ilmu hukum
mempelajari dan menelaah semua hal yang berhubungan dengan hukum. Untuk itu
secara sederhana, dapat dikatakan bahwa definisi ilmu hukum adalah ilmu
pengetahuan yang obyek kajiannya atau obyek telaahannya adalah hukum.

2. Dasar peraturan hukum adalah norma-norma sosial, dan norma -norma sosial akan
berubah menjadi norma hukum apabila setiap pelanggaran atas norma sosial tersebut
secara regular diberi sanksi fisik berdasarkan keputusan pemegang otoritas yang secara
sosial diberi wewenang khusus untuk menjatuhkan sanksi tersebut. Hukum atau norma
hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (living law)
dalam masyarakat.
Pertanyaan :
a. Bagaimana proses sebuah norma-norma sosial menjadi norma hukum di dalam suatu
masyarakat.
Jawab :
Proses berubahnya norma sosial menjadi norma hukum dimulai dengan
diperlukannya sebuah pedoman untuk tercapainya tujuan hidup bersama. Dalam
konteks diri manusia sebagai makhluk sosial, maka tujuan hidup bersama yang ingin
dicapai adalah kedamaian dan keteraturan hidup antar manusia. Untuk mencapai
tujuan bersama itu dibutuhkan suatu pedoman yang mengatur bagaimana manusia
dapat berperilaku pantas dan semestinya dalam masyarakat.
b. Apakah perbedaan antara norma sosial dengan norma hukum.
Jawab :

1. Norma hukum memiliki aturan pasti sedangkan norma sosial tidak tertulis atau
secara lisan
2. Norma hukum sifatnya akan mengikat semua orang sedangkan norma sosial
penegaknya kadang ada kadang tidak ada
3. Seperti halnya hukum yang berlaku norma hukum memiliki penegak yang sesui
dengan aturan yang berlaku
4. Norma hukum diciptakan oleh para pekerja di pemerintahan atau penguasa
sedangkan norma sosial adalah peraturan yang disepakati dalam masyarakat.
5. Sangsi dari norma hukum bersifat berat sedangkan norma sosial akan lebih ringan.

c. Bagaimana penerapan di masyarakat khususnya masyarakat di Indonesia terhadap


hukum yang hidup ( living law) ?
Jawab :
Penerapan nya belum cukup efektif , The living law merupakan aturan-aturan yang
digunakan di dalam hubungan-hubungan kehidupan yang sedang berlangsung dan
bersumber dari adat istiadat atau kebiasaan. Menurut Ehrlich konsep
mengenai hukum yang hidup dalam masyarakat (The Living Law), sebagai lawan
dari hukum perundang- undangan.
3. Hukum berdasarkan bentuknya dapat dibagi dua yaitu hukum yang tertulis (statute law,
written law,scriptum ), dan hukum yang tidak tertulis (un-statutery, un-written law), yaitu
hukum yang masih hidup dalam keyakinan dan kenyataan dalam masyarakat , dianut dan
ditaati oleh masyarakat yang bersangkutan dan salah satunya adalah kebiasaan tidak
tertulis yang karena dianggap patut lalu diulang dan diikuti sehingga selanjutnya
dianggap sebagai norma hukum dalam masyarakat yang bersangkutan.
Pertanyaan :
a. Bagaimana sebuah kebiasaan yang tidak tertulis yang kemudian dapat menjadi sebuah
norma hukum yang tidak tertulis ?
Jawab :

Menurut Abintoro Prakoso dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum (hal. 99), kebiasaan


atau tradisi adalah sumber hukum yang tertua, sumber dari mana dikenal atau digali
sebagian dari hukum di luar undang-undang, tempat dapat menemukan atau menggali
hukumnya. Kebiasaan merupakan tindakan menurut pola perilaku yang tetap, ajeg,
lazim, normal atau adat dalam masyarakat atau pergaulan hidup tertentu.
 
Abintoro Prakoso mengatakan dalam buku yang sama (hal. 101), apabila ternyata dalam
peraturan perundang-undangan tidak ada ketentuannya atau jawabannya, maka barulah
mencari dalam hukum kebiasaan atau kearifan lokal. Hukum kebiasaan adalah hukum
yang tidak tertulis, untuk menemukannya adalah dengan cara menanyakan kepada tokoh
masyarakat atau warganya yang dianggap mengetahui tentang kebiasaaan masyarakat
setempat.

 
Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai
hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
 
Dari pendapat di atas, perlu dipahami bahwa hakim memiliki peran penting dalam
menegakkan hukum, salah satunya dengan melakukan konstruksi melalui nilai-nilai
hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat sebagaimana disebutkan oleh
Pasal 5 ayat (1) UU Kekuasaan Kehakiman. Ketentuan ini dimaksudkan agar putusan
hakim dan hakim konstitusi sesuai dengan nilai hukum dan rasa keadilan masyaraka
 
Selanjutnya dapat dikatakan bahwa hakim boleh menjadikan hukum tidak tertulis
sebagai dasar untuk mengadili, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Pasal 50 ayat (1)
UU Kekuasaan Kehakiman, yaitu:
 
Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat
pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber
hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.
 
Maka dari itu, hakim sebagai penegak hukum dan keadilan memiliki kekuatan untuk
menggunakan hukum tidak tertulis sebagai dasar memutus.
b. Bagaimana penerapan sebuah kebiasaan yang tidak tertulis ini yang kemudian menjadi
sebuah norma hukum yang tidak tertulis dalam sistem peradilan di Indonesia ?
Jawab :

 Hukum tidak tertulis yang mempunyai akar dari budaya bangsa mempunyai potensi yang
kuat dalam mewujudkan perasaan hukum yang nyata dan hidup di kalangan rakyat
Indonesia. Keberadaan hukum tidak tertulis (yang dalam ini adalah hukum adat) tidak
cukup hanya sampai pada makna pengakuan saja, namun perlu dilestarikan dan
diberdayagunakan.Salah satu langkah konkret yang dapat dilakukan dalam upaya
pemberdayaan hukum tidak tertulis adalah dengan memasukan hukum tidak tertulis
sebagai bagian pertimbangan di dalam pembentukan hukum nasional dan hal ini perlu
menjadi bagian substansi pembahasan di dalam perubahan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Seminar
Pembangunan Hukum Nasional ini disambut antusias oleh para peserta dan diharapkan
dapat menjadi masukan bagi penyusunan Grand Design Pembangunan Hukum Nasional
yang sedang disusun oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional.

4. Lawrence M. Friedman menyebutkan bahwa sistem hukum meliputi komponen-


komponen sebagai berikut : Komponen Substansi Hukum, Komponen Struktur Hukum
dan Komponen Budaya (Budaya hukum masyarakat). Baru-baru ini pemerintah telah
mengesahkan UndangUndang Cipta kerja (Omnibus Law), namun banyak terjadi
penolakan yang disertai unjuk rasa baik oleh buruh maupun para mahasiswa.
Pertanyaan :
Analysis tentang produk hukum tersebut baik secara Substansi Hukum, Struktur Hukum
maupun Budaya Hukum dalam hal :
a. Siapa yang terlibat dalam pembuatan produk perundang-undangan tersebut.
Jawab :
Terlepas diskursus substansialnya, Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law
Cipta Kerja ini dinilai selain memiliki kelemahan seperti terkesan dominasi eksekutif
dan cenderung mengubah praktika pembentukan peraturan perundang-undangan, juga
memiliki sejumlah keunggulan tertentu, di antaranya dapat menjadi solusi bagi
penyelesaian konflik antarperaturan perundang-undangan atau benturan antarregulasi,
selain solusi bagi inkonsistensi regulasi. Pihak yang pro terhadap omnibus law ini
berpandangan bahwa di tengah persaingan ekonomi global, pemerintah harus
mengakselarasi proses pembangunan ekonomi agar dapat menjadi lima besar
kekuatan ekonomi dunia pada 2045. Salah satu upaya pemerintah ialah dengan
menciptakan regulasi yang ramah terhadap investasi dan dapat mempercepat laju
proses pembangunan. Namun, kondisi riil di lapangan kerap terhambat oleh problema
regulasi yang dinilai menghambat investasi.  Atas dasar itulah pemerintah ingin
memangkas jalur ini melalui kebijakan deregulasi dan debirokrasi. Konkritnya
pemerintah ingin melakukan reformasi hukum melalui RUU omnibus law agar dapat
mempermudah dan membentuk iklim investasi yang ramah bagi para investor demi
kesejahteraan rakyat.
b. Bagaimana pengaturan dan proses pembuatan peraturan perundang-undangan
tersebut.
Jawab :

1. Perencanaan penyusunan UU dilakukan dalam Program Legislasi Nasional


(Prolegnas) yang disusun oleh DPR, Dewan Perwakilan Daerah (“DPD”), dan
pemerintah untuk jangka menengah dan tahunan berdasarkan skala prioritas
pembentukan RUU
2. RUU dapat berasal dari DPR, presiden, atau DPD
3. Setiap RUU yang diajukan harus dilengkapi dengan naskah akademik, kecuali untuk
RUU anggaran pendapatan dan belanja negara, RUU penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang (“Perpu”) menjadi UU, serta RUU
pencabutan UU atau pencabutan Perpu
4. RUU dari DPR diajukan oleh anggota DPR, komisi, gabungan komisi, atau Badan
Legislasi.
5. RUU yang diajukan oleh presiden diajukan dengan surat presiden kepada pimpinan
DPR dan usulannya berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah,
pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya
alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan
keuangan pusat dan daerah
6. Materi muatan RUU yang diajukan oleh DPD serupa dengan yang dapat diajukan
oleh presiden yang telah diterangkan di atas. RUU tersebut beserta naskah
akademiknya diajukan secara tertulis oleh pimpinan DPD kepada pimpinan DPR.
7. Selanjutnya RUU ditindaklanjuti dengan dua tingkat pembicaraan
8. Pembicaraan tingkat I dilakukan dalam rapat komisi, rapat gabungan komisi, rapat
Badan Legislasi, rapat Badan Anggaran, atau rapat panitia khusus.
9. Kegiatan dalam pembicaraan tingkat I meliputi pengantar musyawarah, pembahasan
daftar inventarisasi masalah, dan penyampaian pendapat mini.
10. Pembicaraan tingkat II dilakukan dalam rapat paripurna DPR yang berisi
a. penyampaian laporan yang berisi proses, pendapat mini fraksi, pendapat mini
DPD, dan hasil pembicaraan tingkat I;
b. pernyataan persetujuan atau penolakan dari tiap-tiap fraksi dan anggota DPR
secara lisan yang diminta oleh pimpinan rapat paripurna; dan
c. pendapat akhir presiden yang disampaikan oleh menteri yang ditugaskan.
11. Bila tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah mufakat, keputusan diambil
dengan suara terbanyak.
12. RUU yang telah mendapat persetujuan bersama DPR dengan presiden diserahkan
kepada presiden untuk disahkan menjadi UU dengan dibubuhkan tanda tangan,
ditambahkan kalimat pengesahan, serta diundangkan dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia.
13. Apabila pembahasan RUU telah memasuki pembahasan daftar inventarisasi masalah
pada periode masa keanggotaan DPR saat itu, hasil pembahasan RUU tersebut
disampaikan kepada DPR periode berikutnya dan berdasarkan kesepakatan DPR,
presiden, dan/atau DPD, RUU tersebut dapat dimasukkan kembali ke dalam daftar
Prolegnas jangka menengah dan/atau Prolegnas prioritas tahunan
 

c. Bagaimana upaya masyarakat terhadap produk peraturan perundang-undangan yang


tidak sejalan dengan kehendak masyarakat (yang dianggap bertentangan dengan
masyarakat).
Jawab :
Masyarakat demo

1. Blokade di Pinggir Ibu Kota

Polres Bekasi Kota menurunkan 803 personel untuk mencegah massa yang akan
melakukan unjuk rasa ke Istana Negara. “Titik penyekatan di universitas di wilayah
Bekasi Kota,” kata Humas Polres Metro Bekasi Kota, Komisaris Erna Ruswing,
Selasa, 20 Oktober 2020.

Erna mengatakan pihaknya sudah memberikan imbauan agar masyarakat tidak ikut
demo di masa pandemi Covid-19

Sementara di Depok, 600 polisi dan TNI diturunkan. “Massa diperiksa dan jika
memungkinkan diputar balik,” kata Kapolres Depok, Komisaris Besar Azis
Adriansyah.

2. Demo Dimulai

Meski dihalangi di perbatasan, ratusan massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa


Seluruh Indonesia atau BEM SI mulai berdatangan ke Kawasan Patung Arjuna
Wijaya, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat pukul 12.00 WIB. Pendemo terhenti di
Kawasan itu, karena polisi menutup akses ke Istana Negara.

3. Massa Buruh
Massa buruh dari Gerakan Serikat Buruh Indonesia mendatangi Kawasan Patung
Arjuna Wijaya pada pukul 14.30 WIB. Meski berada di tempat yang sama, massa
buruh tak bergabung dengan mahasiswa. BEM SI berada di sekitar silang Monas,
sedangkan GSBI di depan kantor Indosat. Mereka melakukan orasi sendiri-sendiri
dengan tuntutan serupa yaitu cabut UU Cipta Kerja.
4. Massa Misterius

Sejumlah orang tanpa bendera dan spanduk organisasi tiba-tiba merangsek masuk
ke barisan massa dari BEM SI pada pukul 15.00. Mereka membakar ban. Merespon
kedatangan massa tak dikenal, BEM SI merapatkan barisan. “Hati-hati, kita tidak
ingin ada penyusup masuk barisan,” kata seorang mahasiswa dari mobil komando.

Demonstran dari kalangan mahasiswa dan buruh membubarkan diri sekitar pukul
16.30.

Pada pukul 16.35, tiga orang remaja berkaos tanpa alas kaki menaiki Patung Arjuna
Wijaya. Pukul 17.07, massa yang bukan lagi dari kalangan mahasiswa melempari
polisi dengan petasan. Pukul 17.40, sejumlah massa membakar ban di dua titik di
Jlaan MH. Thamrin.

5. Massa Sisa

Sejumlah orang yang tidak teridentifikasi asal kelompoknya masih berkumpul di


Kawasan Patung Arjuna Wijaya menjelang maghrib.

Saat diminta membubarkan diri, mereka meminta air dan rokok ke personel TNI
dan Polisi. Polisi dan TNI memberikan mereka air, tapi tidak rokok. Sebelum
benar-benar membubarkan diri, massa yang berpakaian serba hitam tersebut
meminta awak media mundur dari lokasi.

Anda mungkin juga menyukai