Anda di halaman 1dari 8

Belajar Bahasa Arab dan Nahwu Shorof.

Oleh : Luthfi

Masih terngiang ditelinga saya, ucapan salah seorang penashihat beberapa waktu lalu
mengatakan : Baru-baru ini kita kedatangan ulama Saudi Arabia, mereka
bershilaturrahim ke Pondok kita di Kediri, termasuk ke Pondok Wonosalam. Salah satu
komentar tamu kita ini adalah Kekeluargaan warga kita bagus, Ibadah-ibadah dan
pengajaran pondok kita bagus, hanya sayangnya santri-santrinya pada nggak bisa
bahasa arab. Bahkan penerjemahnya saat itu adalah salah satu pengurus yang pernah
kontrak kerja di KSA, yg bisa bicara bahasa arab...tetapi bila disuruh berbahasa arab
ilmiah.....?? bisakah..??

Komentar ini memang cukup menggugah kita untuk naik kelas, setelah kita bertahun-
tahun pada kelas pengajaran yang sama, yaitu tidak pernah menyentuh materi-materi
bahasa arab lebih dalam, Nahwu shorof dan ilmu-ilmu bahasa arab yg umumnya di
pelajari oleh pondok pesantren umum diluaran sana. Memang sebagian ulama-ulama
kita ada yg mendalami nahwu shorof terutama ulama 10 di Pondok Kediri. Tapi yg
lainnya agak kurang dan lemah tentang hal ini. Sepeninggal Pak kyai Su’udi rasanya
ilmu nahwu terbawa hilang pula...

Sebenarnya Apa yang dipelajari di pusat pengajian ilmu agama seperti pondok dan
sekolah-sekolah arab? Apakah mereka memberi perhatian kepada pengajian agama
saja, seperti tauhid, fiqih dsb. nya? . Kalau kita lihat ilmu-ilmu di luaran sana , Kalau
belajar Nahwu shorof buahnya adalah bahasa arab ilmiah, belajar ilmu mantiq buahnya
adalah filosofi, belajar Ushul fiqih buahnya adalah fiqih dsb.

Jadi di pondok-2 umum materi-materi yang diajarkan pada tingkat awal biasanya antara
lain adalah:

1. Alqur’an
2. Tauhid
3. Fiqih
4. Tafsir
5. Hadits
6. Imla’
7. Khat
8. Nahwu
9. Shoraf
10. Tarikh

Bila naik ke kelas yang lebih tinggi, akan ditambah dengan beberapa materi tertentu,
antar lain:

1. Balaghah
2. Mantiq
3. Usul Fiqih
4. Faraidh
5. Mustalah Hadits
Materi diatas yang biasanya diajarkan oleh kebanyakan pondok-pondok umum tingkat
awal dan menengah.

Untuk kelas-kelas awal, perlu juga diberi pengenalan terhadap materi Nahwu dan
Shorof. Kalau dalam pengajian pondok tradisional juga menekankan dua materi ini
terlebih dahulu. Penekanan terhadap dua materi ini bukan hanya sekadar pengenalan
saja…. Tetapi dalam arti kata fokus pada pelajaran ini. Yang terlalu ekstrem sampai-
sampai pada tingkatan – Makan… nahwu & shorof, minum… nahwu & shorof, tidur…
nahwu & shorof, santai… nahwu & shorof…. Semua serba nahwu & shorof.

Dalam sistem pengajian tradisional, nahwu & shorof adalah penentu maju mundurnya
seseorang, keberhasilan dan kegagalan seorang pelajar pesantren terletak kepada
kemampuannya mengusai materi itu, Insya Allah. Saya katakan seperti ini karena saya
sedang membahas Bahasa Arab dan Nahwu shorof dalam tulisan ini bukan yang lain.

Mereka mengumpamakan nahwu itu ibu segala ilmu, manakala shorof adalah bapaknya.
Mereka juga ditanamkan keyakinan bahwa menguasai ilmu ini bermakna akan
menguasai ilmu-ilmu lain.

Maka tidak heranlah jika setelah lima atau enam tahun mereka belajar agama di
pesantren tetapi tidak mahir atau tidak tahu seluk-beluk hukum-hakum fiqih dsb. Mereka
tidak ada waktu untuk mendalami tentang masalah-masalah fiqih & tauhid. Bukan
mereka tidak belajar, tetapi belum diberi pendalaman materi itu Coba bayangkan, ketika
belajar fiqih atau tauhid, mereka malah asyik memikirkan praktek nahwu dan shorof
pada kitab yang mereka pegang.

Tetapi…. Selepas suatu jangka waktu tertentu, dimana mereka sudah tidak memberi
perhatian khusus pada dua pelajaran itu. Mereka akan menjadi seseorang yang hebat
mengenai seluk-beluk hukum-hakum syara’. Halus ilmunya dan jauh pandangannya.
Hanya saja sangat disayangkan mereka tidak memperhatikan masalah manqul.
Memang mereka tidak memegang kaidah itu.

Pentingnya belajar Nahwu & Shorof , terutama untuk para mubaligh kita.

Begini contohnya… Kalau kita hendak belajar di Jepang, bahasa pengantarnya adalah
bahasa Jepang, apakah yang pertama-tama kita perlu pelajari? Sudah tentu bahasa
Jepang! Bagaimana bisa menerima dan memahami pelajaran seandainya kita tidak
mengetahui bahasa pengantar yang digunakan.

Bahasa pengantar dipusat pengkajian agama adalah bahasa arab. Walaupun bahasa
komunikasi antara guru dan murid ketika belajar adalah bahasa Indonesia, tetapi bahan
(kitab-kitab) yang dikaji adalah berbahasa arab.

Bahasa Arab (Lughah Arabiah) mempunyai banyak cabang-cabangnya. Antaranya ialah


Nahwu dan shorof itu sendiri. Dan kedua materi inilah yang menjadi tonggak utama
bahasa Arab.

Banyak kitab-kitab penting karya para ulama mu’tabar yang ada sejak jaman dulu, tetapi
hampir 100% di tulis dalam bahasa Arab. Walaupun ada sebagian karya-karya tertentu
yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Inggeris namun ia tetap tidak
sama dengan karya asalnya. Lebih-lebih lagi al-Quran dan al-Sunnah telah diturunkan
dengan bahasa Arab yang mempunyai mutu sastra yang tinggi dan mendalam. Bahasa
Arab menjadi satu-satunya cara untuk mencari kefahaman yang sebenarnya.

Isi kandungan Nahwu dan Shorof

Isi kandungan nahwu adalah sebagai berikut (azas):


1. Jumlah dan kalimat serta pembagiannya
2. Mabni dan Mu’rab – Bina’ dan I’rob
3. Kalimah2 yang di rafa’kan
4. Kalimah2 yang di nasabkan
5. Kalimah2 yang di jazmkan
6. Kalimah2 yang di jarkan

Keenam bab besar ini ada dimuat didalam kitab yang bagus serta banyak digunakan
hingga kini, yaitu kitab – Matan al-Jurimiyah, Di pondok kita juga di ajarkan. Dahulu,
kitab ini telah dijadikan teks book dipondok-pondok umumnya. Malahan, mereka
diwajibkan menghafalnya. Saya kira untuk menghafalnya memerlukan waktu 2 atau tiga
hari . Sehingga tersebar pepatah : “Barangsiapa yang hafal matan al-Jurumiyah, pasti
pinter.” Insya Allah.

Kata-kata di atas, saya kira kerana akan menunjukkan betapa pentingnya belajar dasar
Nahwu shorof dari kitab itu.

Dan, menurut pengalaman saya ketika belajar dahulu, Seandainya seseorang itu dapat
menguasai bab-bab di atas itu , berarti sudah memadai untuk ke tahap berikutnya yang
lebih tinggi.

Kalau kita memberi penekanan khusus terhadap pengajaran Nahwu & shorof kepada
para santri ,sekurang-kurangnya untuk menguasai bab-bab di atas Lebih kurang 6 bulan
ataupun kurang! Jika si santri itu mempunyai otak dan usaha yang biasa-biasa saja. Jika
otaknya encer mungkin kurang dari 3 bulan!

Ini adalah untuk para santri yang full waktunya untuk mondok yang berusia 15 tahun+.
yang berusia sekitar 25 tahun hingga 35 tahun. Sedikit-demi sedikit dia naik kelas.
Sedikit-sedikit bisa bercakap-cakap bahasa arab dan membaca kitab-kitab arab tanpa
harokat.

*************

Untuk materi shorof isi kandungannya ialah:


1. Menghafal dan memahami pecahah kalimah-kalimah arab

Di sini terdapat 35 pecahan yang disebut sebagai TASRIF. Dalam waktu setahun
ataupun kurang, para pelajar diwajibkan menghafal dan memahami 35 tasrif . Jadi,
selama setahun itu mereka perlu memberikan perhatian khusus kepada tasrif 35 itu
saja.. Sampai benar2 mahir.
Untuk menghafalnya saya kira hanya memakan waktu kira-kira sebulan atau kurang.
Tetapi untuk memahirkan memerlukan waktu setengah tahun atau kurang. Bergantung
kepada IQ santri lagi.

Di bawah, nanti saya akan berikan contoh latihan, yang saudara-saudara sendiri pun
bisa pelajari. Mudah kok.

*********

Gambaran Mudah
Apa itu Nahwu dan Shorof?

Nahwu:
Kita lihat kalimah-kalimah arab, dan perhatikan baris akhirnya… Perkataannya sama
tetapi pada suatu tempat kita lihat huruf akhirnya berharikat fathah, pada kesempatan
lain ia berharokat kasroh dan seterusnya..

Contoh:
Lihat huruf akhir kalimah Muhamad pada tiga contoh di bawah:

Harokat akhir dari dua lafaz dari tiga contoh di atas bukan boleh diberi harokat
sembarangan. Ada peraturan dan undang-undangnya. Kalau ia berada dalam keadaan
ini, mesti diharokat fathah, kalau dalam keadaan yang lain hendaklah diharokat kasroh.
Begitulah seterusnya.

Bagaimana cara hendak mengetahui keadaan-keadaan tersebut? Keadaan bagaimana


ia perlu diharokat dhomah, kasrohs dan fathah atau mati (sukun)? Ya.. Di sinilah perlu
kita mempelajari ilmu Nahwu. Di dalamnya kita akan mempelajari peraturan-peraturan
mengharokatkan huruf akhir…

Di bawah ini saya berikan contoh azas peraturan itu, di mana saudara-saudara akan
mendapati bahwa nahwu itu amat mudah. Semua orang bisa memahaminya:

Kita lihat kembali contoh di atas:

Contoh 1:
Muhamad telah pergi
Makna: Dzahaba – Telah pergi

>>>> Pada contoh ini, harokat huruf akhir lafadz Muhamad hendaklah diberi harokat
dengan dhommah . Mengapa?? Begini, pada contoh Muhamad telah pergi (terjemahan
asal=Telah pergi muhamad).

Telah pergi (Dzahaba) adalah perbuatan. Sedangkan Muhamad adalah orang yang
melakukan perbuatan. Orang yang melakukan perbuatan di dalam Nahwu disebut
dengan istilah Fa’il. Dan, setiap fai’il hendaklah diberi harokat dengan dhommah. Itulah
sebabnya mengapa huruf akhir lafadz Muhamad diharokat dhommah.

Mudah Bukan?

Contoh 2:

Hasan telah memukul Muhamad


Makna: Dhoroba hasanun – Saya telah memukul (Telah memukul oleh saya)

**********

Telah memukul adalah – Perbuatan


Hasan – (Fa’il) Orang yang melakukan perbuatan (pukul) - Lihat huruf akhir di harokat
dhommah!!!
Muhamad – orang yang terkena perbuatan (pukul)

>>> Hasan sebagai Fai’l (yang melakukan perbuatan), harus diharokat dhommah.
Manakala Muhamad adalah orang yang terkena perbuatan – orang yang kena pukul. Di
dalam Nahwu, yang terkena perbuatan disebut sebagai Maf’ul Bih. Menurut kaedahnya,
setiap lafadz yang menjadi maf’ul bih hendaklah diharokat fathah. Oleh karena itu lafadz
muhamad hendaklah diharokat fathah…

Mudah juga bukan…??

Contoh 3:
Farid mengambilnya dari Muhamad
Makna: Akhodzahu – mengambilnya
Min – Dari

*********

Akhodzahu – Perbuatan (Fi’il)


Farid – Orang yg melakukan perbuatan (fai’il) mengambil
Min – Disebut sbg huruf JAR
Muhamad – terletak setelah huruf jar, disebut sebagai MAJRUR.

>>> Lafadz (Farid), oleh kerana ia terletak di tempat fa’il (yg melakukan perbuatan),
maka kita beri harokat dhommah. Lafaz (Min), adalah huruf Jar. Huruf jar ini fungsinya
ialah memberi harokat huruf akhir lafadz setelahnya dengan kasroh. Lafadz (Muhamad)
terletak selepas huruf jar (min). Maka lafadz (Muhamad) diberi harokat dengan kasroh.

Lagi-lagi mudah kan????

***************

SHOROF …..

Ilmu shorof juga mudah.

Kalau Nahwu adalah ilmu yg bertindak mengawal harokat huruf akhir agar ia senantiasa
diberi harokat dengan betul, shorof adalah ialah ilmu yang mengawal harokat huruf
sebelum akhir. Contoh:

Lafaz: Muhammad

Huruf akhir lafaz ini adalah (dal) – Baris huruf ini dikawal Nahwu.
Huruf sebelum akhir ialah (Mim), (Ha), (Mim) – Baris huruf-huruf ini dikawal oleh Sorof.

Sekarang ini, para santri pondok sering mengeluh karena sukarnya pelajaran Nahwu
dan Shorof. Mereka akhirnya tidak dapat menguasai pelajaran tersebut dengan baik.

Ada sebuah cerita seorang guru agama diberi tugas mengajar di salah sebuah sekolah
Arab. Dia ditugaskan untuk mengajar kelas atas. Dia mengajar beberapa mata
pelajaran, seperti fiqih, adab dan beberapa mata pelajaran lain. Selang beberapa bulan
kemudian dia berhenti dari mengajar disekolah tersebut. Setelah ditanya kepadanya:
“Kenapa berhenti?” Dia menjawab, “……tidak tahan saya, saya bisa sakit jiwa.”
Tidak tahan, yang dia maksudkan ialah, umumnya para santrinya atau muridnya tidak
menguasai Nahwu dan Shorof dengan baik. Jadi, bagaimana mungkin mengajar
pelajaran-pelajaran yg ada padahal para murid tidak memiliki bekal nahwu shorof. Yang
mana semua mata pelajaran tadi adalah dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, jika tidak
menguasai Nahwu dan Shorof maka amat sukarlah untuk memahaminya dengan baik.
Apalagi yg akan dikaji salah satunya adalah Kitab al-Iqna’ adalah sebuah kitab lama
yang termasuk agak sukar dibaca. Kalau tidak tahu nahwu & shorof, bagaimana para
santri bisa membacanya? Tidak sampai disitu saja, bahkan kalau ada orang yang
membacakan untuknya juga, belum tentu dia dapat memahaminya.

Saya sendiri sering merasakan, kalau menyimak santri pondok waduh...maknanya


berantakan, segitu sudah lewat metode manqul. Maka tidak heran kalau ada guru yang
nyerah angkat tangan santrinya ampun deh.....susahnya di ajari.Tetapi ya itu .....kita
harus sabar dan bersama-sama ayo kita naik kelas lah.

***********

Kegagalan para santri menguasai bahasa Arab amat mungkin sekarang ini. Yang amat
menyedihkan ialah, masalah ini terus menerus terjadi. Sampai guru ngajinya juga nggak
bisa bahasa arab.

Malangnya lagi kerana sebab-sebab tertentu mereka tidak memanfaatkan dengan


sebaik-baiknya kesempatan belajar bahasa arab. Banyak santri yang merasa bosan
dengan Nahwu dan Shorof. Mereka bilang susah.. Lalu mereka meninggalkannya begitu
saja lalu beralih ke pelajaran lain saja. Langkah segera perlu diambil, kerana jika tidak,
kita akan kekurangan para ulama / mubaligh/ot yang kompeten tentang bahasa arab
dan kaidah-kaidahnya. Bagaimana akan menyelesaikan segala masalah yang dihadapi
oleh umat yg melingkupinya jika mereka tidak mampu merujuk pada kitab-kitab yang
ada.

Pondok-pondok kita sekarang ini, memang tidak seperti dulu yang kebanyakkannya di
jadikan sebagai `tong sampah’, Anak-anak yang tidak seberapa pandai, anak yang
terlalu nakal, anak yang tidak lulus SD, SMP dsb. diantarkan oleh orang tuanya ke
pondok. Anak yang cerdas, mampu, terus di sekolahkan akademik. Malahan pondok
telah dijadikan sebagai satu ”hantu” atau ancaman. Orang tua mengancam: “Rajin-
rajinlah belajar.. Kalau malas ayah pondokkan kan lho kamu.” Atau: “Kalau nakal-nakal
lagi, ayah pondokkan lho!” Anak ini jadi takut!!! Sekarang ini masih ada saja orang tua
yang berfikiran begitu.

Tapi Alhamdulillah sekarang mulai ada perubahan . Orang tua sudah tidak berfikiran
begitu lagi. Malahan menjadikan sekolah agama / pondok pesantren adalah sebagai
satu hadiah kepada anak-anak. Dan sudah banyak yang menjadikan anak ke sekolah
agama’ sebagai satu trend. Mereka merasa kurang puas kalau anaknya hanya sekolah
umum. Mereka merelakan anak-anaknya mondok. Nabi s.a.w. telah bersabda…. Mati
ketika sedang menuntut ilmu termasuk mati syahid!!

*******

Perlu diingatkan bahwa bahasa Arab yang dimaksudkan di sini bukanlah bahasa Arab
komunikasi, tetapi bahasa arab ilmiah. Bahasa Arab komunikasi tidak dapat membantu
anda ke arah yang dikehendaki disini. Saya mendapati banyak yang keliru dalam
masalah ini. Sebab itulah mereka yang belajar bahasa Arab beberapa kali dengan
beberapa guru masih tidak `nampak’ dan tidak dapat dimanfaatkan untuk mendalami
soal hukum-hakum Islam. Bahkan mubaligh-mubaligh kita yang mahir bahasa arab
karena kontrak kerja di KSA. Dan juga, jangan berfikir mereka yang mahir dengan
bahasa Arab ilmiah tidak mengahadapi masalah. Banyak dikalangan mereka memang
pakar membaca dan mengkaji kitab-kitab ilmiah – bahkan kitab yg susah di baca- tetapi
mereka tidak dapat bertutur dalam bahasa Arab!!

Para intelek kita sebenarnya bisa di jadikan ulama bahasa. kerana mereka mempunyai
modal cukup, yaitu semangat, cinta Islam dan otak yang cerdas. Hanya perlu
menambah satu hal saja, yaitu belajar bahasa Arab. Bahasa Arab ilmiah...

Akhirnya saya ingin menekankan bahwa anda semua bisa dijadikan ulama. Mulailah
dengan Nahwu dan Shorof….. mulailah belajar bahasa arab ilmiah, Ia mudah kok Insya
Allah. Dan lagi , tulisan ini adalah untuk menyemangati kita belajar bahasa arab ilmiah,
jangan dipadamkan dengan “alah dengan manqul saja lah dari pada susah”. Ini sama
sekali diluar topik yang sedang anda baca. Walaupun mungkin anda tidak sehebat
mereka yang memang belajar secara formal, namun setidaknya anda tahu secara
mendalam seluk-beluk bahasa arab.

Jadikan belajar bahasa arab ini sebagai pengembaraan anda selanjutnya yang cukup
menantang..... Ayo kamu bisa.....!!!!

AJKH

Wass.

LF

15 Sep 2008.