Anda di halaman 1dari 8

Page 220 of 9

TERAPI KONSERVATIF DAN FARMAKOLOGIS HIPERPLASIA PROSTAT JINAK

Pius Ave Rafael Silalahi1

1
Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Abstract: Conservative And Pharmacological Therapy of Benign Prostatic


Hyperplasia. Benign prostatic hyperplasia is a stromal and epithelial cell
hyperplasia of the prostate gland that often occurs in elderly men, around 18-25%
in men 40 years old, then 70% in men aged 60 years, and reaches 90% in men
aged 80 years. The incidence of benign prostatic hyperplasia in Indonesia has
placed BPH as the second most common cause of morbidity after stones in the
urinary tract. To prevent progression and complications of this disease requires an
appropriate management. The method used by the author in this article is a
literature study from various national and international sources. From the literature,
it was found that the treatment for benign prostatic hyperplasia includes
conservative therapy (watchful waiting, life advice education) and pharmacological
therapy (α-adrenergic receptor blockers, muscarinic receptor antagonists, 5a-
reductase inhibitors, combination therapy and other therapies).

Keywords : Benign prostate hyperplasia, conservative therapy, pharmacology


therapy.

Abstrak: Terapi Konsevatif Dan Farmakologis Hiperplasia Prostat Jinak.


Hiperplasia prostat jinak merupakan hyperplasia sel stroma dan epitel kelenjar
prostat yang sering terjadi pada pria usia lanjut, sekitar 18-25% pada pria 40
tahun, kemudian 70% pada pria usia 60 tahun, dan mencapai 90% pada pria usia
80 tahun. Kejadian hiperplasia prostat jinak di Indonesia telah menempatkan BPH
sebagai penyebab angka kesakitan nomor 2 terbanyak setelah penyakit batu pada
saluran kemih. Untuk mencegah progesivitas dan komplikasi dari penyakit ini
dibutuhkan suatu tatalaksana yang tepat. Metode yang digunakan oleh penulis
dalam artikel ini adalah studi literatur dari bebagai sumber berskala nasional dan
internasional. Dari berbagai literatur tersebut didapatkan bahwa terapi hiperplasia
prostat jinak meliputi terapi konservatif (watchfull waiting, life advice education)
dan terapi farmakologi (Penghambat reseptor α-adrenergik, Antagonis Reseptor
Muskarinik, Penghambat 5a- reductase, terapi kombinasi dan terapi lain).

Kata Kunci : Hiperplasia prostat jinak, terapi konservatif, terapi farmakologi.

PENDAHULUAN
Hiperplasia prostat jinak (LUTS). Jika telah muncul gejala
merupakan hyperplasia sel stroma LUTS penderita harus mengetahui
dan epitel kelenjar prostat yang bagaimana penanganan terhadap
sering terjadi pada pria usia lanjut. pembesaran prostat jinak ini.
Insiden hiperplasia prostat jinak akan (Sampekalo, 2015)
semakin meningkat dengan Menurut Global Cancer
bertambah usia, sekitar 18-25% Observatory diperkirakan terdapat
pada pria 40 tahun, kemudian 70% 1.276.106 kasus baru prostat di
pada pria usia 60 tahun, dan seluruh dunia pada 2018, dengan
mencapai 90% pada pria usia 80 insiden di negara maju sebanyak
tahun. Pembesaran prostat jinak ini 19%, sedangkan di negara
umumnya ditandai dengan gejala berkembang 5,39%. Kejadian BPH di
Lower Urinary Tract Symptomps Indonesia telah menempatkan BPH
sebagai penyebab angka kesakitan Score (IPSS). Penanganannya
nomor 2 terbanyak setelah penyakit meliputi penanganan konservatif
batu pada saluran kemih. (observasi), farmakologis dan
Sedangkan untuk Provinsi intervensi yang bertujuan untuk
Lampung jumlah kasus BPH memperbaiki kualitas hidup pasien
mencapai 689 kasus (29%) dan sesuai dengan derajat keluhan,
merupakan kasus Penyakit Saluran keadaan pasien, dan ketersediaan
Kemih kedua terbanyak setelah fasilitas lokal (Mochtar et al, 2015).
infeksi saluran kemih mencapai Berdasarkan uraian di atas,
(42%) (SP2TP Provinsi dapat diketahui bahwa Benign
Lampung,2012). Angka kejadian BPH Prostate Hyperplasia (BPH) menjadi
di Provinsi Lampung khususnya di salah satu penyakit dengan
RSUD Abdul Moeloek dilaporkan prevalensi dan insidensi yang tinggi
sebanyak 31 pasien yang dirawat pada masyarakat Indonesia,
tahun 2017 (Haryanto, 2016) sehingga dilakukan literature review
LUTS dibagi menjadi dua untuk membahas tatalaksan dan
bagian, yaitu symptom penyimpan pencegahan BPH yang perlu dipahami
dan symptom perkemihan. Simptom oleh setiap tenaga Kesehatan
penyimpanan terdiri dari frekuensi, Indonesia.
nocturia dan urgensi dan symptom
perkemihan meliputi perasaan tidak
puas setelah berkemih. Pada saat ini METODE
banyak pria yang sering
mengabaikan gejala ini sehingga Metode penelitian yang
terlambat untuk ditangani. digunakan dalam artikel ini adalah
Penyebab pasti terjadinya BPH literature review dari berbagai jurnal
sampai sekarang belum diketahui. penelitian nasional maupun
Namun yang pasti kelenjar prostat internasional. Kemudian beberapa
sangat bergantung pada hormon sumber bacaan yang telah
androgen. Faktor lain yang erat didapatkan, dievaluasi, diringkas, dan
kaitannya dengan BPH adalah proses dianalisis, sehingga mampu
penuaan. Secara molekuler diduga menghasilkan informasi baru
terdapat terjadi penambahan jumlah berdasarkan fakta dari beberapa
sel karena proliferasi epitel dan literatur yang berkaitan.
stroma atau kegagalan apoptosis
yang mengakibatkan akumulasi sel. PEMBAHASAN
Hormon androgen,esterogen,
interkasi epitel-stroma, growth Menurut Ikatan Ahli Urologi
factor, dan neurotransmitter diduga Indonesia (IAUI) tahun 2015,
sebagai yang bertanggung jawab tatalaksana BPH dibagi menjadi
dalam proses hyperplasia. Hormon beberapa kelompok yaitu konservatif
testoteron dalam kelenjar prostat (watchfull waiting), medikamentosa,
akan diubah menjadi pembedahan,. Penatalaksanaan BPH
dihidrotestoteron (DHT). DHT inilah bertujuan agar mengembalikan
yang kemudian secara kronis kualitas hidup pasien,. Terapi yang
merangsang pembesaran kelanjar diberikan pada pasien tergantung
prostat (Roehrborn,2011). pada tingkat keluhan pasien, ukuran
Dahulu, tujuan utama prostate, berat badan, tingkat
penatalaksanaan adalah mengurangi antigen prostat spesifik (PSA).
gejala LUTS akibat pembesaran (Mochtar et al, 2015)
prostat. Saat ini, tatalaksana
difokuskan kepada progesivitas Terapi Konservatif
penyakit dan pencegahan komplikasi
yang dapat dinilai melalui kuisioner Watchfull waiting
International Prostate Symptom
Penanganan konservatif ini malam hari atau saat keluar di
ditujukan untuk penderita tempat umum), mengurangi asupan
hyperplasia prostat jinak tanpa kafein atau alkohol karena memiliki
keluhan dan dengan keluhan ringan efek diuretic sehingga meningkatkan
yang tidak mengganggu penderita. pengeluaran cairan dan
Terapi konservatif pada hiperplasia meningkatkan frekuensi, urgensi dan
prostat jinak dapat berupa watchful nokturia. Urethral Milking dapat juga
waiting, pada terapi ini pasien tidak dilakukan untuk mencegah urin
mendapat terapi apapun dari dokter menetes setelah berkemih (Gravas et
dan penanganan konservatif juga al, 2019)
meliputi penilaian ulang setiap tahun,
pemeriksaan fisik, dan penggalian Terapi Farmakologis
riwayat penyakit. Pengawasan ini
biasanya setiap 3-6 bulan sekali dan Penghambat reseptor α-
dilihat dari skor IPSS untuk melihat adrenegik
perkembangan penyakitnya. Jika Persarafan adrenegik terbukti
keluhan BPH menjadi IPSS>7 atau memiliki efek kontraksi otot polos
berkembang menjadi lebih parah, prostat. Pada kelenjar mengandung
pilihan terapi dapat diganti menjadi reseptor 1- dan 2- adrenergik,
terapi medikamentosa. (Mochtar et reseptor 1-adrenergik berhubungan
al, 2015) erat dengan elemen stroma yang
Pada watchful waiting ini, diduga berpengaruh terhadap tonus
pasien tidak mendapatkan terapi otot polos prostat. Aktivasi reseptor
apapun dan hanya diberi penjelasan ini akan meningkatkan konstriksi
mengenai sesuatu hal yang mungkin uretra, tonus otot polos prostat, serta
dapat memperburuk keluhannya, aliran urin akan terganggu akibatnya
misalnya (1) jangan banyak minum akan berkontribusi untuk terjadi
dan mengkonsumsi kopi atau alkohol LUTS. (Kapoor A, 2012)
setelah makan malam, (2) kurangi Terdapat dua subtipe dari
konsumsi makanan atau minuman reseptor α yaitu α1 dan α2, pada
yang menyebabkan iritasi pada prostat teridentifikasi terdapat α1A
bulibuli (kopi atau cokelat), (3) batasi dan α1B, α1A merupakan
penggunaan obat-obat influenza yang adrenoreseptor dominan yang
mengandung fenilpropanolamin, (4) berlokasi di sel otot stroma, α1B
kurangi makanan pedas dan asin, berlokasi di otot polos arteri dan
dan (5) jangan menahan kencing vena termasuk vaskularisasi kelenjar
terlalu lama (Mochtar et al, 2015 ; prostat dan terdapat α1D lebih
Gravas et al, 2019). banyak di kandung kemih (Roveny,
2016).
Life style advice education Pada kasus hiperplasia prostat
Modifikasi gaya hidup dan jinak dapat digunakan obat
pengaturan pola makan merupakan penghambat reseptor α-adrenergik,
salah satu pilihan untuk terapi obat-obat golongan inin dapat
konservatif. Terdapat komponen- menghambat tempat reseptor
komponen untuk manajemen adrenergik alfa, tetapi tidak semua
penyakit hiperplasia prostat jinak ini alfa bloker bersifat spesifik terhadap
yaitu edukasi, monitoring secara prostat. Penghambat alfa bekerja
berkala dan saran gaya hidup. berdasarkan lokasinya, α1A
Menurut European Association of merupakan target terapi yang paling
Urology 2019 pasien dengan BPH optimal untuk menurunkan tonus
dapat mengikut saran gaya hidup prostatic dan memperbaiki
seperti berikut yaitu pengurangan perkemihan. Penghambatan α1B
asupan cairan pada waktu tertentu menyebabkan dilatasi vena dan arteri
yang bertujuan untuk mengurangi termasuk juga vaskularisasi yang
frekuensi berkemih (misalnya di terdapat di kelenjar prostat, sehingga
dapat menurunkan tekanan darah penyebab LUTS dan memperbaiki
yang mengakibatkan hipotensi. storage pada LUTS. Golongan ini
Sedangkan untuk reseptor α1D akan diduga sangat bermanfaat dalam
mengurangi symptom penyimpanan penurunan gejala iritatif BPH pada
(frekuensi,nokturia,dan urgensi). pasien dengan volume prostat yang
(Gravas et al, 2019) belum begitu besar.
Pada golongan obat alfa bloker, Data American Urological
berdasarkan derajat selektivitasnya Association menunjukkan bahwa
terhadap subtipe reseptor α1. penggunaan antimuskarinik
Terazosin, alfuzosin dan doxazosin mengurangi simptom penyimpanan,
merupakan alfa bloker yang namun hal ini belum cukup untuk
nonselektif, maka kelompok obat ini mendukung penggunaannya sebagai
menyebabkan efek samping berupa monoterapi. Antimuskarinik biasanya
hipotensi, lelah dan pusing karena di gunakan untuk overaktif kandung
tersebar luasnya reseptor α1B dan kemih dan terdapat gejala iritatif,
α1B. Alfa bloker generasi kedua IAUI tidak begitu merekomendasikan
seperti doxazosin, terazosin, penggunaannya kecuali pada gejala
alfuzosin, efektif dalam mengobati yang tidak dapat disembuhkan oleh
BPH dan hipertensi tetapi mempunyai a1-blocker(McVary KT, 2011).
efek samping hipotensi. Bukti
menyarankan alfa bloker generasi Penghambat 5α- reductase
ketiga (tamsulosin) memiliki potensi Obat golongan Penghambat 5α-
yang relative lebih besar dalam Reductase bekerja dengan
menghambat kontraksi otot polos menginduksi proses apoptosis prostat
prostat versus otot polos vascular sel epitel prostat yang kemudian
dibanding antagonis a1 selektif mengecilkan volume prostat hingga
lainnya. Selain itu, dibandingkan 20-30%. Penghambat 5a-reduktase
dengan antagonis lain, tamsulosin bekerja dengan menghambat
tidak banyak berefek pada tekanan konversi testosterone menjadi
darah. Alfuzosin, terazosin, metabolit aktif dihidrotestosteron
doxazosin, tamsulosin efektif untuk mengecilkan ukuran prostat dan
pasien LUTS sedang hingga berat. mengurangi pertumbuhan jaringan
Efektivitas klinis keempatnya dinilai prostat dan dapat menurunkan
sama tetapi ada perbedaan pada efek konsentrasi PSA sekitar 50% dalam 6
samping. (McVary et al, 2011 ; bulan pemakaian pertama. (Sarwa,
Katzung BG; 2014) 2012 ; Dhingra N, 2011)
Penggunaan inhibitor 5a-
Antagonis Reseptor Muskarinik reductase kurang efektif
Pengobatan dengan dibandingkan dengan alfa bloker
menggunakan obat-obatan antagonis dalam mengurangi LUTS dan tidak
muskarinik bertujuan untuk diperuntukan sebagai terapi LUTS
menghambat atau mengurangi tanpa pembesaran prostat tetapi 5a-
stimulasi reseptor muskarinik reduktase akan mengurangi risiko
sehingga mengurangi kontaksi sel retensi urin. Terdapat 2 jenis obat
otot polos kandung kemih. (Ikatan 5α-reductase inhibitor pada saat ini
urologi). Beberapa obat antagonis yang dipakai untuk mengobati BPH
reseptor muskarinik yang terdapat di yaitu finasteride dan dutasteride.
Indonesia adalah fesoterodine (Mochtar et al, 2015)
fumarate, propiverine HCL, Finasteride merupakan suatu
solifenacin succinate, dan tolterodine inhibitor mirip steroid enzim,
I-tartrate (Mochtar et al, 2015). diberikan secara oral dan akan terjadi
Golongan antimuskarinik penurunan kadar dihidrotestoteron
menghambat reseptor muskarinik di dalam waktu 8 jam. Waktu paruhnya
otot detrusor, sehingga akan mencapai sekitar 8 jam, sebanyak
menurunkan komponen overaktif 40-50% dosis dimetabolis dan
dieksresikan separuh di tinja.
Finasteride dilaporkan cukup efekti Terapi Kombinasi
dalam mengurangi ukuran prostat
pada pria dengan hyperplasia prostat Terapi Kombinasi Penghambat
jinak dengan dosis yang dianjurkan Reseptor α-Adrenergik dan
di AS adalah 5 mg/hari. Pemakaian Penghambat 5α- Reduktase
finasteride digunakan bila volume Terapi kombinasi ini bertujuan
prostat > 40 ml (Katzung BG, 2014) untuk menggabungkan kerja dari
Dutasteride adalah turunan kedua golongan obat, sehingga dapat
steroid lain yang dapat diberikan per meningkatkan efektivitas dalam
oral, waktu paruh obat ini lebih memperbaiki gejala LUTS sedang-
panjang daripada finasteride. berat dan mempunyai risiko progresi
Dosisnya adalah 0,5 mg per hari. (volume prostat besar, PSA yang
Pemakaian dutasteride baik tinggi (>1,3 ng/dl). Terapi
digunakan bila volume prostat >30 farmakologi untuk kasus hyperplasia
ml. (Katzung BG, 2014 ; Mochtar et prostat jinak sebaiknya diawali
al, 2015) dengan agen tunggal, kemudian
Efek samping yang paling menambah agen kedua sesuai
relevan dalam penggunaan kebutuhan (Roveny, 2016).
penghambat 5a-reductase ini adalah Berdasarkan penelitian yang
penurunan fungsi seksual, penurunan dilakukan Pandanwangi pada tahun
libido, terjadi disfungsi ereksi, 2016 menyatakan bahwa kualitas
gangguan ejakulasi, ginekomastia, hidup pasien hyperplasia prostat
atau timbul bercak-bercak jinak yang diberi terapi kombinasi
kemerahan di kulit (Mochtar et al, dengan obat dutasteride dan
2015 ; Gravas et al, 2019). tamsulosin lebih baik dari pada yang
diberi monoterapi obat golongan
Phospodiesterase 5 inhibitor penghambat reseptor a-adrenergik
Phospodiesterase 5 inhibitor dan monoterapi obat golongan
(PDE 5 inhibitor) meningkatkan penghambat 5a-reduktase
konsentrasi dan memperpanjang (Pandanwangi, 2016 ; Roehrborn CG
aktivitas cyclic guanosine et al, 2011 ; Salsabila S, 2020).
monophosphate (cGMP) intraseluler Terapi kombinasi terbukti lebih
yang menyebabkan relaksasi otot superior menurunkan risiko
polos, enzim Phospodiesterase 5 progesivitas klinis dibandingkan
dijumpai di jaringan reproduksi pria, monoterapi. Tetapi dikarenakan
jaringan prostat, otot detrusor terapi kombinasi menggabungkan
kandung kemih, serta otot polos dua agen maka terapi ini juga
pembuluh darah saluran kemih. meningkatkan efek samping, seperti
Tadalafil merupakan agen ejakulasi abnormal, dispnea, dan
Phospodiesterase 5 inhibitor yang edema. Kombinasi ini hanya
direkomendasikan untuk terapi direkomendasikan apabila
keluhan berkemih meski terdapat direncanakan pengobatan jangka
sildenafil dan vardenafil. (Katzung Panjang (> 1 tahun) (Roehrborn CG
BG, 2014) et al, 2011).
Menurut IAUI, tadalafil 5mg/hari
dapat menurunkan IPSS sebesar 22- Terapi Kombinasi Penghambat
37%. Penurunan ini dapat diketahui Reseptor α-Adrenergik dan
setelah pengobatan selama 1 Antimuskarinik.
minggu, alasan memilih tadalafil Kombisi ini bertujuan untuk
dikarenakan tadalafil tidak memiliki memblok α1-adrenoceptor dan
efek samping flushing dan gangguan cholinoreceptor muskarinik (M2 dan
visual.Tetapi memiliki efek samping M3). Terapi kombinasi ini mampu
sakit punggung dan myalgia (Gravas, untuk menurunkan gejala iritasi
2019 ; Mochtar et al, 2015).
seperti frekuensi,nokturia,urgensi Hiperplasia prostat jinak
dan skor IPSS juga dapat turun. merupakan penyakit yang kerap
Menurut EAU, terapi kombinasi diderita oleh pria usia lanjut dan
memiliki efek samping yang paling menyebabkan penurunan kualitas
umum berupa mulut kering dan bisa hidup pada penderitanya. Oleh sebab
terjadi kegagalan ejakulasi, efek itu, perlu diketahui pilihan terapi
samping terapi kombinasi juga yang baik untuk meningkatkan
dilaporkan lebih tinggi dibandingkan kualitas hidup penderita hyperplasia
monoterapi dan harus dilakukan prostat jinak. Terapi-terapi ini
pemeriksaan residu urin selama bertujuan untuk memperbaiki
pemberian terapi ini. (Gravas et al, kualitas hidup pasien dan
2019) menurunkan gejala LUTS sesuai
dengan derajat keluhan dan keadaan
Terapi Lain pasien. Terapi konservatif dianjurkan
untuk penderita hiperplasia prostat
Fitofarmaka jinak tanpa keluhantas penyakit atau
Terapi ini adalah suatu terapi keluhan ringan dan untuk
dengan menggunakan ekstrak menentukan terapi farmakologis
tumbuh-tumbuhan yang digunakan yang bertujuan untuk mengurangi
untuk mengurangi gejala dari progesivitas penyakit.
penyakit. Fitoterapi yang banyak
dipasarkan antara lain, Pygeum
africanum, Serenoa repens, Hypoxis DAFTAR PUSTAKA
rooperi, radix urtica. Sejauh ini,
belum banyak literatur yang Dhingra N, Bhagwat D. (2011).
membahas mengenai suplemen diet, Benign prostatic hyperplasia: An
agen fitoterapi yang untuk overview of existing treatment.
manajemen LUTS akibat pembesaran
Indian J Pharmacol, 43(1), 6-12.
prostat jinak. Oleh sebab itu, EAU
dan IAUI tidak menganjurkan untuk Gravas S, Bachmann A, Descazeaud
terapi pembesaran prostat jinak
A, et al. (2019). Guidelines on
dikarenakan belum tercukupinya
literatur yang membahas terapi ini Management of Non-Neurogenic
(Gravas et al, 2019 ; Mochtar et al, Male Lower Urinary Tract
2015 ; Roveny, 2016) Symptoms (LUTS), incl. Benign
Prostatic Obstruction (BPO).
NX-1207 European Association of Urology.
NX-1207 merupakan obat injek
intra prostat untuk tatalaksana pada Haryanto H, Rihiantoro T. (2016).
hiperplasia prostat jinak yang
Disfungsi Ereksi Pada Penderita
memiliki suatu efek proapotosis di
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
kelenjar prostat. Pemakaian obat ini
dengan cara diinjeksikan ke prostat di Rumah Sakit Kota Bandar
dalam dosis tunggal. Penelitian Neal Lampung. Jurnal Keperawatan,
Shore dan Barret Cowan menyatakan 12(2).
bahwa penggunaan NX-1207 ini
masih dalam uji klinis fase I dan II, Kapoor A. (2012). Benign prostatic
tetapi telah menunjukan efek hyperplasia (BPH) – management
signifikan untuk pasien dengan gejala in the primary care setting. The
LUTS dan dibandingkan dengan Canadian Journal of Urology: CJU,
terapi oral yang ada, NX-1207 19 (51), 10-17.
memiliki efek samping yang lebih
sedikit dari terapi oral(Shore,2011). Katzung, B.G., Masters, S.B. dan
Trevor, A.J., 2014, Farmakologi
SIMPULAN Dasar & Klinik, Vol.2, Edisi 12,
Editor Bahasa Indonesia Ricky RSUD Provinsi Nusa Tenggara
Soeharsono et al., Penerbit Buku Barat. Jurnal Kedokteran, 9(1),
Kedokteran EGC, Jakarta. 43-51.

McVary KT, Roehrborn CG, Avins Sampekalo G., Monoarfa R.A., Salem
AL,Barry MJ, et al. (2011). Update B. (2015) Angka kejadian LUTS
on AUA guideline on the yang disebabkan oleh BPH di RSUP
management of benign prostatic PROF.DR.R.D.KANDOU MANADO
hyperplasia. J Urol, 185 (5). periode 2009- 2013. Jurnal e-
clinic.
Mochtar C, Umbas R, Soebadi D,
Rasyid N, Noegroho B, Poernomo Sarwa AV, Wei JT. (2012). Benign
BB, et al. (2015). Panduan Prostatic Hyperplasia and Lower
penatalaksanaan klinis
Urinary Tract Symptoms. New
pembesaran prostat jinak (Benign
England Journal Medicine, 363(3).
prostatic hyperplasia/BPH). Edisi
2. Jakarta : Ikatan Ahli Urologi
Shore N, Cowan B. (2011). The
Indonesia.
potential for NX-1207 in benign
Pandanwangi S, Amirudin. (2017). prostatic hyperplasia: an update
Kajian Perbandingan Efektivitas for clinicians. Therapeutic
Tamsulosin, Dutasteride Dan Advances in Chronic Disease :
Kombinasinya Pada Pasien BPH Di SAGE Journals, 2(6), 377-383.
RSUD Gunung Jati Cirebon.
Medical Sains : Jurnal Ilmiah
Kefarmasian, 1(2).

Roehrborn, CG. et al. (2011). Clinical


outcomes after combined therapy
with dutasteride plus tamsulosin
or either monotherapy in men with
benign prostatic hyperplasia (BPH)
by baseline characteristics: 4-year
results from the randomized,
double-blind Combination of
Avodart and Tamsulosin (CombAT)
trial. BJU International, 107(6),
946-954.

Roveny.(2016). Terapi Farmakologis


Hiperplasia Prostat Jinak. Cermin
Dunia Kedokteran, 43(4).

Salsabila S, Maulana A, Nandana PI,


Wedayani AAAN. (2020). Pengaruh
Pemberian Kombinasi Obat
Dutasteride Dan Tamsulosin
Terhadap Kadar PSA (Prostate
Specific Antigen) Pada Pasien BPH
(Benign Prostatic Hyperpelasia) di

Anda mungkin juga menyukai