Anda di halaman 1dari 8

Page 220 of 8

TERAPI KONSERVATIF DAN FARMAKOLOGIS HIPERPLASIA PROSTAT JINAK

Pius Ave Rafael Silalahi1

1
Program Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Abstract: Conservative And Pharmacological Therapy of Benign Prostatic


Hyperplasia. Benign prostatic hyperplasia is a stromal and epithelial cell hyperplasia
of the prostate gland that often occurs in elderly men, around 18-25% in men 40
years old, then 70% in men aged 60 years, and reaches 90% in men aged 80 years.
The incidence of benign prostatic hyperplasia in Indonesia has placed BPH as the
second most common cause of morbidity after stones in the urinary tract. To prevent
progression and complications of this disease requires an appropriate management.
The method used by the author in this article is a literature study from various
national and international sources. From the literature, it was found that the
treatment for benign prostatic hyperplasia includes conservative therapy (watchful
waiting, life advice education) and pharmacological therapy (α-adrenergic receptor
blockers, muscarinic receptor antagonists, 5a-reductase inhibitors, combination
therapy and other therapies).

Keywords : Benign prostate hyperplasia, conservative therapy, pharmacology


therapy.

Abstrak: Terapi Konsevatif Dan Farmakologis Hiperplasia Prostat Jinak.


Hiperplasia prostat jinak merupakan hyperplasia sel stroma dan epitel kelenjar
prostat yang sering terjadi pada pria usia lanjut, sekitar 18-25% pada pria 40 tahun,
kemudian 70% pada pria usia 60 tahun, dan mencapai 90% pada pria usia 80 tahun.
Kejadian hiperplasia prostat jinak di Indonesia telah menempatkan BPH sebagai
penyebab angka kesakitan nomor 2 terbanyak setelah penyakit batu pada saluran
kemih. Untuk mencegah progesivitas dan komplikasi dari penyakit ini dibutuhkan
suatu tatalaksana yang tepat. Metode yang digunakan oleh penulis dalam artikel ini
adalah studi literatur dari bebagai sumber berskala nasional dan internasional. Dari
berbagai literatur tersebut didapatkan bahwa terapi hiperplasia prostat jinak meliputi
terapi konservatif (watchfull waiting, life advice education) dan terapi farmakologi
(Penghambat reseptor α-adrenergik, Antagonis Reseptor Muskarinik, Penghambat
5a- reductase, terapi kombinasi dan terapi lain).

Kata Kunci : Hiperplasia prostat jinak, terapi konservatif, terapi farmakologi.

PENDAHULUAN
Hiperplasia prostat jinak gejala LUTS penderita harus
merupakan hyperplasia sel stroma mengetahui bagaimana penanganan
dan epitel kelenjar prostat yang sering terhadap pembesaran prostat jinak
terjadi pada pria usia lanjut. Insiden ini. (Sampekalo, 2015)
hiperplasia prostat jinak akan semakin Menurut Global Cancer
meningkat dengan bertambah usia, Observatory diperkirakan terdapat
sekitar 18-25% pada pria 40 tahun, 1.276.106 kasus baru prostat di
kemudian 70% pada pria usia 60 seluruh dunia pada 2018, dengan
tahun, dan mencapai 90% pada pria insiden di negara maju sebanyak
usia 80 tahun. Pembesaran prostat 19%, sedangkan di negara
jinak ini umumnya ditandai dengan berkembang 5,39%. Kejadian BPH di
gejala Lower Urinary Tract Indonesia telah menempatkan BPH
Symptomps (LUTS). Jika telah muncul sebagai penyebab angka kesakitan
nomor 2 terbanyak setelah penyakit farmakologis dan intervensi yang
batu pada saluran kemih. bertujuan untuk memperbaiki kualitas
Sedangkan untuk Provinsi hidup pasien sesuai dengan derajat
Lampung jumlah kasus BPH mencapai keluhan, keadaan pasien, dan
689 kasus (29%) dan merupakan ketersediaan fasilitas lokal (Mochtar
kasus Penyakit Saluran Kemih kedua et al, 2015).
terbanyak setelah infeksi saluran Berdasarkan uraian di atas,
kemih mencapai (42%) (SP2TP dapat diketahui bahwa Benign
Provinsi Lampung,2012). Angka Prostate Hyperplasia (BPH) menjadi
kejadian BPH di Provinsi Lampung salah satu penyakit dengan prevalensi
khususnya di RSUD Abdul Moeloek dan insidensi yang tinggi pada
dilaporkan sebanyak 31 pasien yang masyarakat Indonesia, sehingga
dirawat tahun 2017 (Haryanto, 2016) dilakukan literature review untuk
LUTS dibagi menjadi dua membahas tatalaksan dan
bagian, yaitu symptom penyimpan pencegahan BPH yang perlu dipahami
dan symptom perkemihan. Simptom oleh setiap tenaga Kesehatan
penyimpanan terdiri dari frekuensi, Indonesia.
nocturia dan urgensi dan symptom
perkemihan meliputi perasaan tidak
puas setelah berkemih. Pada saat ini METODE
banyak pria yang sering mengabaikan
gejala ini sehingga terlambat untuk Metode penelitian yang
ditangani. digunakan dalam artikel ini adalah
Penyebab pasti terjadinya BPH literature review dari berbagai jurnal
sampai sekarang belum diketahui. penelitian nasional maupun
Namun yang pasti kelenjar prostat internasional. Kemudian beberapa
sangat bergantung pada hormon sumber bacaan yang telah
androgen. Faktor lain yang erat didapatkan, dievaluasi, diringkas, dan
kaitannya dengan BPH adalah proses dianalisis, sehingga mampu
penuaan. Secara molekuler diduga menghasilkan informasi baru
terdapat terjadi penambahan jumlah berdasarkan fakta dari beberapa
sel karena proliferasi epitel dan literatur yang berkaitan.
stroma atau kegagalan apoptosis
yang mengakibatkan akumulasi sel. PEMBAHASAN
Hormon androgen,esterogen,
interkasi epitel-stroma, growth factor, Menurut Ikatan Ahli Urologi
dan neurotransmitter diduga sebagai Indonesia (IAUI) tahun 2015,
yang bertanggung jawab dalam tatalaksana BPH dibagi menjadi
proses hyperplasia. Hormon beberapa kelompok yaitu konservatif
testoteron dalam kelenjar prostat (watchfull waiting), medikamentosa,
akan diubah menjadi pembedahan,. Penatalaksanaan BPH
dihidrotestoteron (DHT). DHT inilah bertujuan agar mengembalikan
yang kemudian secara kronis kualitas hidup pasien,. Terapi yang
merangsang pembesaran kelanjar diberikan pada pasien tergantung
prostat (Roehrborn,2011). pada tingkat keluhan pasien, ukuran
Dahulu, tujuan utama prostate, berat badan, tingkat antigen
penatalaksanaan adalah mengurangi prostat spesifik (PSA). (Mochtar et al,
gejala LUTS akibat pembesaran 2015)
prostat. Saat ini, tatalaksana
difokuskan kepada progesivitas Terapi Konservatif
penyakit dan pencegahan komplikasi
yang dapat dinilai melalui kuisioner Watchfull waiting
International Prostate Symptom Score Penanganan konservatif ini
(IPSS). Penanganannya meliputi ditujukan untuk penderita hyperplasia
penanganan konservatif (observasi), prostat jinak tanpa keluhan dan
dengan keluhan ringan yang tidak diuretic sehingga meningkatkan
mengganggu penderita. Terapi pengeluaran cairan dan meningkatkan
konservatif pada hiperplasia prostat frekuensi, urgensi dan nokturia.
jinak dapat berupa watchful waiting, Urethral Milking dapat juga dilakukan
pada terapi ini pasien tidak mendapat untuk mencegah urin menetes setelah
terapi apapun dari dokter dan berkemih (Gravas et al, 2019)
penanganan konservatif juga meliputi
penilaian ulang setiap tahun, Terapi Farmakologis
pemeriksaan fisik, dan penggalian
riwayat penyakit. Pengawasan ini Penghambat reseptor α-
biasanya setiap 3-6 bulan sekali dan adrenegik
dilihat dari skor IPSS untuk melihat Persarafan adrenegik terbukti
perkembangan penyakitnya. Jika memiliki efek kontraksi otot polos
keluhan BPH menjadi IPSS>7 atau prostat. Pada kelenjar mengandung
berkembang menjadi lebih parah, reseptor 1- dan 2- adrenergik,
pilihan terapi dapat diganti menjadi reseptor 1-adrenergik berhubungan
terapi medikamentosa. (Mochtar et al, erat dengan elemen stroma yang
2015) diduga berpengaruh terhadap tonus
Pada watchful waiting ini, otot polos prostat. Aktivasi reseptor
pasien tidak mendapatkan terapi ini akan meningkatkan konstriksi
apapun dan hanya diberi penjelasan uretra, tonus otot polos prostat, serta
mengenai sesuatu hal yang mungkin aliran urin akan terganggu akibatnya
dapat memperburuk keluhannya, akan berkontribusi untuk terjadi
misalnya (1) jangan banyak minum LUTS. (Kapoor A, 2012)
dan mengkonsumsi kopi atau alkohol Terdapat dua subtipe dari
setelah makan malam, (2) kurangi reseptor α yaitu α1 dan α2, pada
konsumsi makanan atau minuman prostat teridentifikasi terdapat α1A
yang menyebabkan iritasi pada dan α1B, α1A merupakan
bulibuli (kopi atau cokelat), (3) batasi adrenoreseptor dominan yang
penggunaan obat-obat influenza yang berlokasi di sel otot stroma, α1B
mengandung fenilpropanolamin, (4) berlokasi di otot polos arteri dan vena
kurangi makanan pedas dan asin, dan termasuk vaskularisasi kelenjar
(5) jangan menahan kencing terlalu prostat dan terdapat α1D lebih banyak
lama (Mochtar et al, 2015 ; Gravas et di kandung kemih (Roveny, 2016).
al, 2019). Pada kasus hiperplasia prostat
jinak dapat digunakan obat
Life style advice education penghambat reseptor α-adrenergik,
Modifikasi gaya hidup dan obat-obat golongan inin dapat
pengaturan pola makan merupakan menghambat tempat reseptor
salah satu pilihan untuk terapi adrenergik alfa, tetapi tidak semua
konservatif. Terdapat komponen- alfa bloker bersifat spesifik terhadap
komponen untuk manajemen prostat. Penghambat alfa bekerja
penyakit hiperplasia prostat jinak ini berdasarkan lokasinya, α1A
yaitu edukasi, monitoring secara merupakan target terapi yang paling
berkala dan saran gaya hidup. optimal untuk menurunkan tonus
Menurut European Association of prostatic dan memperbaiki
Urology 2019 pasien dengan BPH perkemihan. Penghambatan α1B
dapat mengikut saran gaya hidup menyebabkan dilatasi vena dan arteri
seperti berikut yaitu pengurangan termasuk juga vaskularisasi yang
asupan cairan pada waktu tertentu terdapat di kelenjar prostat, sehingga
yang bertujuan untuk mengurangi dapat menurunkan tekanan darah
frekuensi berkemih (misalnya di yang mengakibatkan hipotensi.
malam hari atau saat keluar di tempat Sedangkan untuk reseptor α1D akan
umum), mengurangi asupan kafein mengurangi symptom penyimpanan
atau alkohol karena memiliki efek
(frekuensi,nokturia,dan urgensi). pasien dengan volume prostat yang
(Gravas et al, 2019) belum begitu besar.
Pada golongan obat alfa bloker, Data American Urological
berdasarkan derajat selektivitasnya Association menunjukkan bahwa
terhadap subtipe reseptor α1. penggunaan antimuskarinik
Terazosin, alfuzosin dan doxazosin mengurangi simptom penyimpanan,
merupakan alfa bloker yang namun hal ini belum cukup untuk
nonselektif, maka kelompok obat ini mendukung penggunaannya sebagai
menyebabkan efek samping berupa monoterapi. Antimuskarinik biasanya
hipotensi, lelah dan pusing karena di gunakan untuk overaktif kandung
tersebar luasnya reseptor α1B dan kemih dan terdapat gejala iritatif,
α1B. Alfa bloker generasi kedua IAUI tidak begitu merekomendasikan
seperti doxazosin, terazosin, penggunaannya kecuali pada gejala
alfuzosin, efektif dalam mengobati yang tidak dapat disembuhkan oleh
BPH dan hipertensi tetapi mempunyai a1-blocker(McVary KT, 2011).
efek samping hipotensi. Bukti
menyarankan alfa bloker generasi Penghambat 5α- reductase
ketiga (tamsulosin) memiliki potensi Obat golongan Penghambat 5α-
yang relative lebih besar dalam Reductase bekerja dengan
menghambat kontraksi otot polos menginduksi proses apoptosis prostat
prostat versus otot polos vascular sel epitel prostat yang kemudian
dibanding antagonis a1 selektif mengecilkan volume prostat hingga
lainnya. Selain itu, dibandingkan 20-30%. Penghambat 5a-reduktase
dengan antagonis lain, tamsulosin bekerja dengan menghambat
tidak banyak berefek pada tekanan konversi testosterone menjadi
darah. Alfuzosin, terazosin, metabolit aktif dihidrotestosteron
doxazosin, tamsulosin efektif untuk mengecilkan ukuran prostat dan
pasien LUTS sedang hingga berat. mengurangi pertumbuhan jaringan
Efektivitas klinis keempatnya dinilai prostat dan dapat menurunkan
sama tetapi ada perbedaan pada efek konsentrasi PSA sekitar 50% dalam 6
samping. (McVary et al, 2011 ; bulan pemakaian pertama. (Sarwa,
Katzung BG; 2014) 2012 ; Dhingra N, 2011)
Penggunaan inhibitor 5a-
Antagonis Reseptor Muskarinik reductase kurang efektif dibandingkan
Pengobatan dengan dengan alfa bloker dalam mengurangi
menggunakan obat-obatan antagonis LUTS dan tidak diperuntukan sebagai
muskarinik bertujuan untuk terapi LUTS tanpa pembesaran
menghambat atau mengurangi prostat tetapi 5a-reduktase akan
stimulasi reseptor muskarinik mengurangi risiko retensi urin.
sehingga mengurangi kontaksi sel Terdapat 2 jenis obat 5α-reductase
otot polos kandung kemih. (Ikatan inhibitor pada saat ini yang dipakai
urologi). Beberapa obat antagonis untuk mengobati BPH yaitu finasteride
reseptor muskarinik yang terdapat di dan dutasteride. (Mochtar et al, 2015)
Indonesia adalah fesoterodine Finasteride merupakan suatu
fumarate, propiverine HCL, solifenacin inhibitor mirip steroid enzim,
succinate, dan tolterodine I-tartrate diberikan secara oral dan akan terjadi
(Mochtar et al, 2015). penurunan kadar dihidrotestoteron
Golongan antimuskarinik dalam waktu 8 jam. Waktu paruhnya
menghambat reseptor muskarinik di mencapai sekitar 8 jam, sebanyak 40-
otot detrusor, sehingga akan 50% dosis dimetabolis dan
menurunkan komponen overaktif dieksresikan separuh di tinja.
penyebab LUTS dan memperbaiki Finasteride dilaporkan cukup efekti
storage pada LUTS. Golongan ini dalam mengurangi ukuran prostat
diduga sangat bermanfaat dalam pada pria dengan hyperplasia prostat
penurunan gejala iritatif BPH pada jinak dengan dosis yang dianjurkan di
AS adalah 5 mg/hari. Pemakaian untuk menggabungkan kerja dari
finasteride digunakan bila volume kedua golongan obat, sehingga dapat
prostat > 40 ml (Katzung BG, 2014) meningkatkan efektivitas dalam
Dutasteride adalah turunan memperbaiki gejala LUTS sedang-
steroid lain yang dapat diberikan per berat dan mempunyai risiko progresi
oral, waktu paruh obat ini lebih (volume prostat besar, PSA yang
panjang daripada finasteride. tinggi (>1,3 ng/dl). Terapi
Dosisnya adalah 0,5 mg per hari. farmakologi untuk kasus hyperplasia
Pemakaian dutasteride baik prostat jinak sebaiknya diawali
digunakan bila volume prostat >30 dengan agen tunggal, kemudian
ml. (Katzung BG, 2014 ; Mochtar et al, menambah agen kedua sesuai
2015) kebutuhan (Roveny, 2016).
Efek samping yang paling relevan Berdasarkan penelitian yang
dalam penggunaan penghambat 5a- dilakukan Pandanwangi pada tahun
reductase ini adalah penurunan fungsi 2016 menyatakan bahwa kualitas
seksual, penurunan libido, terjadi hidup pasien hyperplasia prostat jinak
disfungsi ereksi, gangguan ejakulasi, yang diberi terapi kombinasi dengan
ginekomastia, atau timbul bercak- obat dutasteride dan tamsulosin lebih
bercak kemerahan di kulit (Mochtar et baik dari pada yang diberi monoterapi
al, 2015 ; Gravas et al, 2019). obat golongan penghambat reseptor
a-adrenergik dan monoterapi obat
Phospodiesterase 5 inhibitor golongan penghambat 5a-reduktase
Phospodiesterase 5 inhibitor (PDE (Pandanwangi, 2016 ; Roehrborn CG
5 inhibitor) meningkatkan konsentrasi et al, 2011 ; Salsabila S, 2020).
dan memperpanjang aktivitas cyclic Terapi kombinasi terbukti lebih
guanosine monophosphate (cGMP) superior menurunkan risiko
intraseluler yang menyebabkan progesivitas klinis dibandingkan
relaksasi otot polos, enzim monoterapi. Tetapi dikarenakan terapi
Phospodiesterase 5 dijumpai di kombinasi menggabungkan dua agen
jaringan reproduksi pria, jaringan maka terapi ini juga meningkatkan
prostat, otot detrusor kandung kemih, efek samping, seperti ejakulasi
serta otot polos pembuluh darah abnormal, dispnea, dan edema.
saluran kemih. Tadalafil merupakan Kombinasi ini hanya
agen Phospodiesterase 5 inhibitor direkomendasikan apabila
yang direkomendasikan untuk terapi direncanakan pengobatan jangka
keluhan berkemih meski terdapat Panjang (> 1 tahun) (Roehrborn CG et
sildenafil dan vardenafil. (Katzung BG, al, 2011).
2014)
Menurut IAUI, tadalafil 5mg/hari Terapi Kombinasi Penghambat
dapat menurunkan IPSS sebesar 22- Reseptor α-Adrenergik dan
37%. Penurunan ini dapat diketahui Antimuskarinik.
setelah pengobatan selama 1 minggu, Kombisi ini bertujuan untuk
alasan memilih tadalafil dikarenakan memblok α1-adrenoceptor dan
tadalafil tidak memiliki efek samping cholinoreceptor muskarinik (M2 dan
flushing dan gangguan visual.Tetapi M3). Terapi kombinasi ini mampu
memiliki efek samping sakit punggung untuk menurunkan gejala iritasi
dan myalgia (Gravas, 2019 ; Mochtar seperti frekuensi,nokturia,urgensi dan
et al, 2015). skor IPSS juga dapat turun.
Menurut EAU, terapi kombinasi
Terapi Kombinasi memiliki efek samping yang paling
umum berupa mulut kering dan bisa
Terapi Kombinasi Penghambat terjadi kegagalan ejakulasi, efek
Reseptor α-Adrenergik dan samping terapi kombinasi juga
Penghambat 5α- Reduktase dilaporkan lebih tinggi dibandingkan
Terapi kombinasi ini bertujuan monoterapi dan harus dilakukan
pemeriksaan residu urin selama untuk memperbaiki kualitas hidup
pemberian terapi ini. (Gravas et al, pasien dan menurunkan gejala LUTS
2019) sesuai dengan derajat keluhan dan
keadaan pasien. Terapi konservatif
Terapi Lain dianjurkan untuk penderita
hiperplasia prostat jinak tanpa
Fitofarmaka keluhantas penyakit atau keluhan
Terapi ini adalah suatu terapi ringan dan untuk menentukan terapi
dengan menggunakan ekstrak farmakologis yang bertujuan untuk
tumbuh-tumbuhan yang digunakan mengurangi progesivitas penyakit.
untuk mengurangi gejala dari
penyakit. Fitoterapi yang banyak
dipasarkan antara lain, Pygeum DAFTAR PUSTAKA
africanum, Serenoa repens, Hypoxis
rooperi, radix urtica. Sejauh ini, belum Dhingra N, Bhagwat D. (2011).
banyak literatur yang membahas Benign prostatic hyperplasia: An
mengenai suplemen diet, agen overview of existing treatment.
fitoterapi yang untuk manajemen
Indian J Pharmacol, 43(1), 6-12.
LUTS akibat pembesaran prostat
jinak. Oleh sebab itu, EAU dan IAUI
Gravas S, Bachmann A, Descazeaud
tidak menganjurkan untuk terapi
A, et al. (2019). Guidelines on
pembesaran prostat jinak
dikarenakan belum tercukupinya Management of Non-Neurogenic
literatur yang membahas terapi ini Male Lower Urinary Tract
(Gravas et al, 2019 ; Mochtar et al, Symptoms (LUTS), incl. Benign
2015 ; Roveny, 2016) Prostatic Obstruction (BPO).
European Association of Urology.
NX-1207
NX-1207 merupakan obat injek Haryanto H, Rihiantoro T. (2016).
intra prostat untuk tatalaksana pada
Disfungsi Ereksi Pada Penderita
hiperplasia prostat jinak yang
memiliki suatu efek proapotosis di Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)
kelenjar prostat. Pemakaian obat ini di Rumah Sakit Kota Bandar
dengan cara diinjeksikan ke prostat Lampung. Jurnal Keperawatan,
dalam dosis tunggal. Penelitian Neal 12(2).
Shore dan Barret Cowan menyatakan
bahwa penggunaan NX-1207 ini Kapoor A. (2012). Benign prostatic
masih dalam uji klinis fase I dan II, hyperplasia (BPH) – management
tetapi telah menunjukan efek in the primary care setting. The
signifikan untuk pasien dengan gejala Canadian Journal of Urology: CJU,
LUTS dan dibandingkan dengan terapi 19 (51), 10-17.
oral yang ada, NX-1207 memiliki efek
samping yang lebih sedikit dari terapi Katzung, B.G., Masters, S.B. dan
oral(Shore,2011). Trevor, A.J., 2014, Farmakologi
Dasar & Klinik, Vol.2, Edisi 12,
SIMPULAN
Editor Bahasa Indonesia Ricky
Hiperplasia prostat jinak
merupakan penyakit yang kerap Soeharsono et al., Penerbit Buku
diderita oleh pria usia lanjut dan Kedokteran EGC, Jakarta.
menyebabkan penurunan kualitas
hidup pada penderitanya. Oleh sebab McVary KT, Roehrborn CG, Avins
itu, perlu diketahui pilihan terapi yang AL,Barry MJ, et al. (2011). Update
baik untuk meningkatkan kualitas on AUA guideline on the
hidup penderita hyperplasia prostat
jinak. Terapi-terapi ini bertujuan
management of benign prostatic PROF.DR.R.D.KANDOU MANADO
hyperplasia. J Urol, 185 (5). periode 2009- 2013. Jurnal e-clinic.

Mochtar C, Umbas R, Soebadi D, Sarwa AV, Wei JT. (2012). Benign


Rasyid N, Noegroho B, Poernomo Prostatic Hyperplasia and Lower
BB, et al. (2015). Panduan Urinary Tract Symptoms. New
penatalaksanaan klinis
England Journal Medicine, 363(3).
pembesaran prostat jinak (Benign
prostatic hyperplasia/BPH). Edisi 2.
Shore N, Cowan B. (2011). The
Jakarta : Ikatan Ahli Urologi
potential for NX-1207 in benign
Indonesia.
prostatic hyperplasia: an update
Pandanwangi S, Amirudin. (2017). for clinicians. Therapeutic
Kajian Perbandingan Efektivitas Advances in Chronic Disease :
Tamsulosin, Dutasteride Dan SAGE Journals, 2(6), 377-383.
Kombinasinya Pada Pasien BPH Di
RSUD Gunung Jati Cirebon. Medical
Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian,
1(2).

Roehrborn, CG. et al. (2011). Clinical


outcomes after combined therapy
with dutasteride plus tamsulosin or
either monotherapy in men with
benign prostatic hyperplasia (BPH)
by baseline characteristics: 4-year
results from the randomized,
double-blind Combination of
Avodart and Tamsulosin (CombAT)
trial. BJU International, 107(6),
946-954.

Roveny.(2016). Terapi Farmakologis


Hiperplasia Prostat Jinak. Cermin
Dunia Kedokteran, 43(4).

Salsabila S, Maulana A, Nandana PI,


Wedayani AAAN. (2020). Pengaruh
Pemberian Kombinasi Obat
Dutasteride Dan Tamsulosin
Terhadap Kadar PSA (Prostate
Specific Antigen) Pada Pasien BPH
(Benign Prostatic Hyperpelasia) di
RSUD Provinsi Nusa Tenggara
Barat. Jurnal Kedokteran, 9(1), 43-
51.

Sampekalo G., Monoarfa R.A., Salem


B. (2015) Angka kejadian LUTS
yang disebabkan oleh BPH di RSUP

Anda mungkin juga menyukai