Anda di halaman 1dari 2

Saudara mahasiswa, silahkan diskusikan topik berikut ini..

Menurut pendapat anda, apakah dalam situasi pandemi Covid seperti


sekarang ini pemerintah perlu mencetak uang? Jika memang mencetak
uang, apa konsekwensinya bagi perekonomian? Apabila tidak mencetak
uang, kebijakan apakah yang perlu dilakukan pemerintah untuk
menormalkan perekonomian?

Silahkan dikemukakan pendapatnya masing masing, jika perlu dukung


dengan tabel atau gambar yang menguatkan pendapat tersebut.

Jangan lupa menulis sumber materi untuk menghindari indikasi plagiasi.


Hindari copy paste jawaban teman. Copy paste diperbolehkan dari sumber
utama (buku/jurnal) namun diwajibkan  untuk di rewrite terlebih dahulu
dan dilengkapi sumber referensi sebelum di upload.

Selamat berdiskusi. Salam literasi.

 Menurut pendapat saya, usulan untuk mencetak uang sebagai strategi membiayai penanganan
dampak ekonomi dari virus Covid 19 adalah Tidak sesuai dan tidak lazim bagi kebijakan
moneter yang dilakukan oleh bank sentral. Konsekuensi dari mencetak uang sebagai
penanganan dampak perekonomian akibat Covid 19 tentu akan diikuti oleh inflasi atau bahkan
hiperinflasi. Seperti pada saat tahun 1960-an, pada saat itu terjadi defisit APBN dikarenakan
pengeluaran yang sangat besar terutama untuk program-program politik. Defisit membesar
karena ketidakmampuan pemerintah menggali potensi penerimaan. Mengutip data yang
disampaikan oleh Radius Prawiro (1968), defisit APBN pada tahun 1965 mencapai Rp 1,32
triliun atau 4 kali lipat dari tahun sebelumnya. Penerimaan negara hanya Rp 923,444 miliar,
sedangkan pengeluaran mencapai Rp 2,244 triliun.

     Lalu bagaimana upaya pemerintah saat itu dalam mengatasi defisit APBN?

   Pada saat itu pemerintah berupaya menutup defisit APBN dengan cara yang salah yakni
mencetak uang. Sehingga yang terjadi adalah jumlah uang beredar melonjak tajam menjadi Rp
2,713 triliun atau 4,2 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Konsekuensi dari kebijakan ini
adalah memperburuk kondisi perekonomian.

     Dikutip dari data Radius Prawiro pada tahun 1966 terjadi kemerosotan penghasilan negara
dari ekspor berkisar antara 750 sampai 450 juta dolar AS setiap tahunnya. Angka ekspor yang
turun itu sudah pasti berdampak buruk pada keuangan negara. Cadangan devisa terkuras hanya
karena sebagian besar perolehan devisa digunakan untuk membayar bunga pinjaman dan
pelunasan utang luar negeri. Dalam The Economy of Indonesia (2007) menyebut cadangan
devisa terus menyusut : pada 1967 hanya tersisa 17 juta dolar AS dan total pembayaran utang
yang dijadwalkan pada periode 1967-1984 mencapai 2,42 miliar dolar AS atau hampir tiga tahun
pendapatan ekspor.
     Kebijakan apa yang dapat pemerintah ambil selain mencetak uang?

   Dalam masa pandemi seperti saat ini, penerimaaan pajak belum optimal, penerimaan negara
belum kuat, maka penerbitan surat hutang baru menjadi pilihan yang relevan dikarenakan
Kinerja fiscal measures dan attack rate pandemic di Indonesia  cukup baik dibandingkan negara
G-20 lainnya. Selain itu, Indonesia juga tidak mengalami kontraksi ekonomi yang parah
dibandingkan negara lain , penambahaan utang juga dirasa tepat karena pembayaran utang
Indonesia saat ini dalam posisi yang relatif terjaga. Pada kuartal I/2021 Neraca Pembayaran
Indonesia tercatat surplus US$4,1 miliar. Sedangkan, neraca transaksi berjalan mengalami defisit
rendah US$1 miliar.

     Upaya pemerintah untuk mendahulukan sumber pembiayaan dari dalam negeri lewat
penerbitan surat utang. Upaya lainnya :

• Melakukan belanja besar-besaran guna meredam kontraksi ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Langkah tersebut dipilih karena lewat belanja besar-besaran, permintaan dalam negeri meningkat
dan dunia usaha tergerak untuk berinvestasi
• Pemerintah membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.
Komite tersebut akan memastikan penanganan kesehatan dan ekonomi berjalan sinergi, dan
menjaga pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020.
• Pemerintah memberi bantuan kredit berbunga rendah, dan menyiapkan berbagai program agar
UMKM bergeliat kembali. Salah satunya adalah kebijakan restrukturisasi dan subsidi bunga
kredit.
• Pemerintah menempatkan dana di perbankan guna memutar roda ekonomi.
     Sumber refrensi : 

https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/08/083300865/pandemi-corona-efektifkah-jika-
pemerintah-lakukan-cetak-uang-baru-?page=all

Kompas.com

Lestari, Etty Puji.(2019).Ekonomi Moneter-Edisi Kedua.Tangerang Selatan : Universitas


Terbuka;

Glassbuner,Bruce.(2007).The Economy Of Indonesia.London : Cornell University Press.