Anda di halaman 1dari 8

ANOPLOCEPHALA

OLEH

MINTA MARITO KASIH MURNI PARDEDE


1902101010188

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2021
1. PENDAHULUAN
Kuda dikenal sebagai inang definitif dari berbagai kelas endoparasit seperti

nematoda dan cestoda (Uhlinger 1990). Species dari cestoda yang sering dicurigai

sebagai penyebab penyakit klinis pada usus adalah Anoplocephala perfoliata (Gasser

RB et al. 2005). A. perfoliata berukuran cukup kecil, biasanya 2.5-5 cm dan terkadang

sampai 8 cm. Bagian scolex nya berbentuk bulat dan memiliki 4 sucker. Species lain

dari famili ini antara lain Anoplocephala magna dan Paranoplocephala mamillana.

Penyakit pada kuda yang disebabkan oleh infeksi species cacing ini dikenal sebagai

anoplocephalosis (Nilsson et al. 1995). Kuda terinfeksi oleh cacing ini saat merumput

dan secara tidak sengaja menelan tungau oribatid yang terinfeksi cysticercoids. Invasi

A. perfoliata dapat menyebabkan kematian pada inangnya melalui perforasi sekum.

Invasi dari A. perfoliata terkadang muncul tanpa ada symptom yang terlihat

sebelumnya. Hal ini menjelaskan berbahayanya invasi dari A. perfoliata yang terjadi

(Veronesi et al. 2009). Nomenklatur: Filum : Plathyhelminthes Kelas : Cestoda Ordo :

Anoplocephalidea Famili : Anoplocephalidae Genus : Anoplocephala Spesies : A.

perfoliata, A. magna, Paranoplocephala mamillana.

Anoplocephala adalah cacing pita Yang merupakan parasit pd kuda

menyebabkan penyakit klinis seperti kolik (penyebab kematian utama pada kuda) ,

secara histologinya akan ditemukan udema dan ulcus pada ileocaecal, dan enteritis

cataral atau hemoragik pada usus halus dan lambung. Anoplocephala perfoliata

terdapat pada usus halus dan usus besar kuda dan kedelai, tersebar di seluruh dunia

dan merupakan cacing pita yang paling sering ditemukan pada kuda. A. perfoliata

pada jumlah sedikit, umumnya tidak menyebabkan penyakit. Namun, infestasi cacing

ini pada jumlah yang besar dapat menyebabkan berbagai penyakit. Cacing pita
menginfeksi kuda pada tahap usia apapun. Kuda tidak memiliki imunitas terhadap

cacing pita (Taylor et al. 2013). 

2. NOMENKLATUR
Phylum : Plathyhelminthes
Clas : Eucestoda
Ordo : Anoplocephalidea
Family : Anoplocephala
Genus : Anoplocephala

3. MORFOLOGI
Anoplochepala tidak memiliki rostelum/kait, memiliki lebar proglotid lebih

besar dibandingkan panjang proglotid, mempunyai 1 atau 2 set alat kelamin,

berbentuk seperti buah apokat, pada satu sisinya terdapat penonjolan berkait

(Pyriform apparatus).

4. SIKLUS HIDUP
Siklus hidup nematoda secara umum dimulai dari telur yang berkembang

selama 7-14 hari dari telur berkembang menjadi larva fase satu, fase dua, hingga fase

tiga yang merupakan larva infektif yang berkembang di lingkungan dengan suhu

hangat. Larva yang menginfeksi tubuh ternak dapat melalui ingesti rumput yang

membawa larva infektif, larva dapat menginfeksi dengan menembus kulit ternak atau

dapat melalui daerah kontaminasi oleh feses yang mengandung telur cacing. Larva

yang masuk melalui ingesti bergerak mengarah ke jantung dan pulmo menuju saluran

pencernaan hingga menjadi cacing dewasa. Telur cacing dari endoparasit nematoda,

ordo Strongylida dengan genus Strongylus spp. Telur genus Strongylus membutuhkan

waktu 3 hari untuk menjadi larva infektif dan menginfeksi kuda melalui penetrasi

kulit dari larva yang hidup pada rumput di pengembalaan. (Widyastuti dkk., 2017).
5. PATOGENESA
Invasi A. perfoliata bertanggung jawab atas gangguan usus termasuk ileo-

caecal, caeco-caecal, intususepsi caeco-colic, impaksi ileum dan kolik spasmodik

(Proudman, Holdstock 2000). Kolik usus adalah salah satu penyebab paling penting

morbiditas dan mortalitas pada kuda. Untuk alasan itulah, beberapa studi

epidemiologis telah dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko potensial dari

kondisi ini. Selama bertahun-tahun, Anoplocephala perfoliata telah dianggap sebagai

temuan insidental dalam usus kuda, jarang dikaitkan dengan sindrom kolik usus.

Namun, sejak 1980-an, peningkatan prevalensi laporan kasus yang menggambarkan

hubungan aslose antara penyebab spesifik kolik kuda, seperti impaksi, pecahnya usus,

intususepsi, volvulus, dan penghalang usus besar (Beroza et al. 2010).

6. GEJALA KLINIS
Parasit cacing terutama tipe strongil, biasanya menginfeksi usus besar kuda

dan dapat menyebabkan penyakit mulai dari yang ringan sampai kematian mendadak.

Kuda terinfeksi karena memakan rumput yang tercemar telur, larva infektif, atau

penetrasi melalui kulit oleh larva infektif. Dampak dari infeksi cacing nematoda

gastro intestinal sangat besar yaitu produktivitas kerja yang menurun karena dapat

menyebabkan kelemahan, kehilangan berat badan, kolik, nafsu makan hilang, diare

bahkan kematian (Hillyer, 2004).

Gejala klinis dari infeksi parasit ini tidak teramati dengan jelas tetapi

Perubahan patologis yang disebabkan oleh Anoplocephala yaitu terdapat lesi di

mukosa dan submukosa di persimpangan ileocecal Timbulnya cedera yang signifikan

dari elemen saraf pada usus, penurunan jumlah ganglia myenteric dan sel saraf. Dan

bahkan pada kondisi akut bisa menyebabkan kematian.


7. DIAGNOSA
Larva dan cacing dewasa merupakan fase pathogen. Larva Strongylus vulgaris

merupakan yang paling pathogen, larva beredar di aliran darah dan melekat pada

dinding pembuluh darah berakibat menimbulkan gumpalan dan aneurysma pada

pembuluh darah. Larva Strongylus edentatus mampu bermigrasi kebawah parietal

peritoneum hingga menyebabkan peradangan pada peritoneum, Larva Strongylus

equines dapat menyebabkan kerusakan pada pankreas. Anemia dan keradangan lain

juga dapat disebabkan oleh cacing dewasa yang mengkaitkan diri menggunakan bukal

kapsul cacing dewasa ke dinding usus dan menghisap darah penderita menimbulkan

hyperemia disertai pembengkakan membrane (Studzińska et al., 2012).

8. PROGNOSA
Taeniasis yaitu bagian yang terinfeksi akan sembuh dan segera membaik.

Sistiserkosis yaitu tingkatan bagian yang terkena infeksi baik itu ringan atau

berat.

9. TERAPI
A. OBAT (KIMIA)
Semua anthelmintik lebih dari 95% efektif terhadap cacing pita.
Dewormers yang mengandung anthelmintik spektrum luas (ivermectin ir
moxidectine) ditambah praziquantel dengan aktivitas cesrocidal digunakan dengan
tingkat keberhasilan yang tinggi di Amerika Serikat. Selain itu, pyrantel pamoate
13,2 mg / kg oral (AS) atau pyrantel embonate 38mg / kg oral (Eropa) telah
menunjukkan khasiat yang baik. Karena sifat siklus hidup yang melibatkan inang
inang invertebrata yang hidup bebas, hewan dapat diinfeksi ulang setelah
perawatan, yang mungkin akan menimbulkan kesan yang salah bahwa pengobatan
tidak efektif. Intigransi-sindroma Ileocecal bisa sangat serius, dan membutuhkan
bedah untuk menyelamatkan kudanya.
Merek dagang : Fluconix-250 Nitroksinil aktif terhadap berbagai macam

cacing pencernaan, Nitroksinil menghambat proses proses fosforilasi oksidatif

pada mitokondria cacing yang menyebabkan kematian cacing. Indikasi :

Pencegahan dan pengobatan infestasi cacing hati dan cacing pada saluran

pencernaan pada sapi, kerbau, kambing, kuda dan domba. dosis & cara pemakaian

: diinjeksikan secara sub kutan Dengan dosis 1,0 ml per 25 kg berat badan

B. Herbal (TUMBUH-TUMBUHAN)

Herbal bisa menjadi cara yang sangat efektif dan lembut untuk mendukung

kuda dalam mengendalikan parasit. Tanah diatom adalah sisa-sisa kerangka

organisme mikroskopis yang bisa efektif dalam program pengendalian parasit

karena tajam terhadap serangga dan parasit. Berikan sekitar ½ gelas per hari

selama 5-7 hari, zat ini akan menyebabkan dehidrasi pada parasit. Biji Labu

Mentah dan Wortel juga memiliki sifat mengusir cacing dan zat yang baik untuk

diberikan ½ cangkir setiap hari bersama dengan wormer herbal selama 5-7 hari.

10. PREVENTIF
Dilakukan pengobatan secara intens untuk mengurangi telur larva di dalam

pencernaan kuda, sehingga dapat mengurangi perkembangan infeksi.

11. KERUGIAN

 Turunnya bobot badan

 Turunnya produksi susu pada ternak yang menyusui

 Terhambatnya pertumbuhan

 Penurunan harga jual


12. DAFTAR PUSTAKA
Proudman CJ, Holdstock NB. 2000. Investigation of an outbreak of tapeworm-
associated colic in a training yard. Jurnal Equine Vet J. Vol 32:37– 41.
Comparison of the sensitivity of coprological methods in detecting Anoplocephala
perfoliata invasions. Jurnal Parasitol Res. Vol 113:2401–2406.
Elsheika HM, Khan NA. 2011. Essentials of Veterinary Parasitology. Poole(UK):
Horizon Scientific Press. Taylor MA, Coop RL, Wall RL. 2013. 
Hillyer, M. 2004. A Practical Approach to Diarrhoea in The Adult Horse. in
Practice, 26(1).
Widyastuti, S.K., Satria, Y.P., Ida, A.P.A. 2017. Identifikasi dan Prevalensi
Nematoda Saluran Pencernaan Kuda Lokal (Equss caballus) di Kecamatan
Moyo Hilir Sumbawa. Denpasar. Indonesia Medicus Veterinus.

13. LAMPIRAN

A. GAMBAR PARASIT (CESTODA)


B. GAMBAR ORGAN NORMAL

C. GAMBAR ORGAN TERINFEKSI