Anda di halaman 1dari 13

Hasil lembar kerja 3

Psikologi sosial 2

Kelompok : Kelompok 1

Nama Anggota :

1. Rika Triyanti (2010811020)

2. M. Ricky Enrique v. (2010811057)

3. M. Zidan Irza (2010811067)

4. Ajeng Luki N (2010811084)

5. Silvia Mega Lestari (2010811085)

6. Januar Sofie Marlin (2010811086)

7. Noni Febriani (2010811089)

8. An Naba Filda (2010811094)

A. Definisi Prososial

Menurut Baron & Byrne (2003) perilaku prososial adalah suatu tindakan
menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu
keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan mungkin
bahkan melibatkan suatu resiko bagi orang yang menolongnya. Hal serupa
diungkapkan oleh William (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2015) membatasi perilaku
prososial secara lebih rinci sebagai perilaku yang memiliki intensi untuk mengubah
keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik,
dalam arti secara material maupun psikologis. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa
perilaku prososial bertujuan untuk membantu meningkatkan well being orang lain,
Myers (dalam Sarwono, 2002: 328) menyatakan bahwa perilaku prososial atau
altruisme adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan
kepentingan sendiri. Perilaku prososial dapat di mengeri sebagai perilaku yang
menguntungkan orang lain. Secara konkrit, pengertian perilaku prososial meliputi
tindakan berbagi (sharing), kerjasama (cooperation), menolong (helping), kejujuran
(honesty), dermawan ( generousity ) serta mempertimbangkan hak dan kesejahteraan
orang lain (Mussen dalam Dayakisni, 1988: 15).

Perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas, meliputi: segala bentuk
tindakan-tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain,
tanpa mempedulikan motif-motif si penolong. Beberapa jenis perilaku prososial tidak
merupakan tindakan altruistic. Perilaku prososial berkisar dari tindakan altruisme
yang tidak mementingkan diri sendiri atau tanpa pamrih sampai tindakan menolong
yang sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri (Sears dkk, 2001). Karena
pada umumnya bermanfaat bagi masyarakat, perilaku prososial menjadi bagian dari
aturan atau norma sosial. Tiga norma yang penting bagi perilaku prososial adalah:
tanggung jawab sosial, saling ketimbal balikan, dan keadaan sosial (Sears dkk, 2001).

Adapun indikator yang menjadi perilaku prososial menurut Staub (dalam


Dayakisni & Hudaniah, 2015) adalah:

a. Tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak
pelaku.

b. Tindakan itu dilahirkan secara sukarela.

c. Tindakan itu menghasilkan kebaikan berdasarkan batasan-batasan tersebut, dapat


ditarik.

Kesimpulan bahwa perilaku prososial adalah suatu tindakan menolong yang


menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada
orang yang melakukan tindakan tersebut, dan mungkin bahkan melibatkan suatu
resiko bagi orang yang menolongnya.

B. Aspek / Dimensi Prososial


Dimensi perilaku prososial
Mussen dalam Tinne (2012:7), perilaku prososial mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Berbagi, artinya kesedihan seseorang untuk berbagi perasaan dengan orang
lain, baik dalam suasana suka maupun duka suasana duka.
b. Menolong, artinya kesedihan seseorang untuk memberikan bantuan kepada
yang membutuhkan baik bantuan material maupun moral, termasuk di
dalamnya menawarkan sesuatu yang dapat menunjang, terlaksananya kegiatan
orang lain.
c. Kerjasama, artinya kesediaan seseorang untuk melakukan kerjasama dengan
orang lain untuk mencapai tujuan bersama, termasuk di dalamnya saling
memberi, saling menguntungkan.
d. Bertindak jujur, artinya kesediaan seseorang untuk bertindak dan berkata apa
adanya, tidak membohongi orang lain dan tidak melakukan kecurangan
terhadap orang lain.
e. Berdarma, artinya kesediaan seseorang untuk memberikan sebagian barang
yang dimilikinya secara sukarela kepada orang yang mebutuhkan.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan Schoeder dalam Bierhoff
(2002), perilaku prososial dapat mencakup hal-hal sebagai berikut :
a) Menolong, artinya suatu tindakan yang memiliki konsekuensi memberikan
keuntungan atau meningkatkan kesejahteraan orang lain. Menurut Mc Guire
dalam Tinne (2012:5) menolong dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Casual helping, artinya memberikan bantuan kecil kepada seseorang yang baru
dikenal, sebagai contoh : mengambilkan barang yang jauh dan
memberikannya kepada pemiliknya meskipun tidak mengenal pemiliknya.
2) Subtantial personal helping, artinya memberikan keuntungan yang nyata
kepada seseorang dengan mengeluarkan usaha-usaha yang cukup dapat
diperhitungkan, sebagai contoh : membantu teman mengangkut barang ketika
akan pindah kos.
3) Emotional helping, artinya memberikan dukungan secara emosional dan
personal pada seseorang, sebagai contoh : mendengarkan cerita seorang teman
yang tengah menghadapi masalah.
4) Emergency helping, artinya memberikan bantuan kepada seseorang (lebih
kepada orang yang tidak kenal) yang tengah menghadapi masalah yang serius
dan mengancam keselamatan jiwa, sebagai contoh menolong korban
kecelakaan.
b) Kerjasama, artinya hubungan antara dua orang atau lebih yang secar positif
saling tergantung berkenaan dengan tujuan mereka, sehingga gerak seseorang
dalam mencapai tujuan cenderung akan dapat meningkatkan gerak orang lain
untuk mencapai tujuannya.
Dimensi perilaku prososial juga diungkapkan oleh Soekanto dalam Robbik (2011),
yang mengatakan :
a. Simpati
Simpati adalah satu sikap emosional yang dicirikan oleh perasaan ikut merasa
terhadap pribadi lain yang mengalami satu pengalaman emosional. Dalam hal ini
simpati bertujuan untuk mengurangi penderitaan orang lain dan ikut merasakan apa
yang dirasakan oralng lain.
b. Kerja Sama
Kerja sama adalah kegiatan dua orang atau lebih yang saling membantu dalam
satu bidang kerja atau mencapai tujuan yang sama. Menurut Stewart kerja sama dapat
diartikan sebagai collaboration, karena dalam bersosialisasi bekerja sama memiliki
kedudukan yang sentral karena esensi dari kehidupan sosial dan berorganisasi adalah
kesepakatan bekerja sama.
Sedangkan dalam sudut pandang sosiologis, pelaksanaan kerjasama antar kelompok
masyarakat ada tiga bentuk (Soekanto, 1986: 60-63) yaitu:
a) Bargaining
Bargaining yaitu kerjasama antara orang per orang atau antarkelompok untuk
mencapai tujuan tertentu dengan suatu perjanjian saling menukar barang, jasa,
kekuasaan, atau jabatan tertentu.
b) Cooptation
Cooptation yaitu kerjasama dengan cara rela menerima unsur-unsur baru dari
pihak lain dalam organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya
keguncangan stabilitas organisasi.
c) Coalition
Coalition yaitu kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai
tujuan yang sama. Di antara oganisasi yang berkoalisi memiliki batas-batas tertentu
dalam kerjasama sehingga jati diri dari masing-masing organisasi yang berkoalisi
masih ada.
d) Berderma
Berderma adalah memberikan sesuatu pada yang membutuhkan.
e) Membantu
Membantu adalah memberi sokongan atau tenaga supaya menjadi kuat.
Wise (dalam zanden, 1984) menguraikan berbagai bentuk perilaku proposial yaitu: (1)
simpati yaitu perilaku yang menunjukkan kepedulian terhadap rasa sakit atau kesedian
orang lain, (2) bekerjasama, yaitu perilaku yang menunjukkan kemampuan dan
kesediaan individu untuk bekerja bersama orang lain, tetapi biasanya tidak selalu
untuk keuntungan bersama, (3) menyumbang, yaitu prilaku member hadiah,
sumbangan atau kontribusi kepada orang lain, biasanya berupa amal, (4) menolong,
yaitu perilaku member bantuan kepada orang lain, sehingga orang lain tersebut dapat
mencapai tujuan tertentu atau mendapatkan sesuatu, (5) altruisme, yaitu perilaku
menolong yang dilakukan untuk keuntungan orang lain, tanpa mengharapkan imbalan
apapun, umumnya dalam bentuk penyelamatan orang lain dari bahaya yang
mengancam.
Dari berbagai penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dimensi perilaku
prososial meliputi (1) berbagi, (2) menolong, (3) kejasama, (4) bertindak jujur, (5)
berderma, hal ini senada dengan pendapat Mussen (2012 : 7).

C. Factor yang Mempengaruhi Perilaku Prososial


Menurut Eisenberg dkk. (2006: 646-698), terdapat 7 faktor yang mempengaruhi
perilaku prososial anak yaitu:
a. Faktor biologis, faktor biologis mempengaruhi individu dalam berperilaku
prososial. Hal ini dikarenakan ada unsur genetis yang menyebabkan
timbulnya perbedaan individual dan intensitas prososial.
b. Faktor budaya, masyarakat setempat perilaku individu dalam naungan
budaya tertentu sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma yang dianut
oleh anggota dalam lingkup budaya tersebut. Keanggotaan dalam suatu
kelompok budaya hanya sebatas memperkirakan kecenderungan hati
nurani individu untuk bertindak secara prososial dalam berbagai budaya.
c. Pengalaman sosialisasi, banyaknya interaksi anak dengan agen-agen
sosialisasi seperti orangtua, teman sebaya, guru, dan media masa,
memberikan pengalaman penting dalam pembentukan perilaku prososial
anak.
d. Proses kognitif, perilaku prososial melibatkan proses kognitif yang
meliputi inteligensi, persepsi terhadap kebutuhan orang lain, alih peran
atau empati, keterampilan memecahkan masalah interpersonal, atribusi
terhadap orang lain, dan penalaran moral.
e. Respon Emosional, Respon emosional adalah adanya perasaan bersalah
dan kepedulian terhadap orang lain. Respon ini akan tampak baik ada
maupun tidak ada orang lain. Faktor karakteristik individu.
f. Faktor karakteristik individu yang berhubungan dengan perilaku prososial
meliputi jenis kelamin, tingkat perkembangan yang tercermin pada usia,
serta tipe kepribadian.
g. Faktor situasional Tekanan eksternal dan peristiwa sosial mempengaruhi
respon prososial seseorang. Faktor ini terdiri dari kategori peristiwa yang
baru terjadi dan sesuatu yang berhubungan dengan konteks sosial.

Berdasarkan uraian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial


di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa secara umum terdapat dua faktor
yang mempengaruhi perilaku prososial yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor
internal meliputi faktor biologis, proses kognitif, respon emosional, dan
karakteristik individu, sedangkan faktor eksternal meliputi faktor budaya
masyarakat setempat, pengalaman sosialisasi, dan faktor situasional. Faktor self
gain dan empathy termasuk dalam faktor proses kognitif, sedangkan faktor
personal values and norm termasuk dalam faktor respon emosional atau
pengalaman sosialisasi.
D. Alasan Melakukan Perilaku Prososial
Perilaku prososial
Perilaku prososial merupakan salah satu bentuk perilaku yang muncul dalam kontak
sosial, sehingga perilaku prososial adalah tindakan yang dilakukan atau direncanakan
untuk menolong orang lain tanpa mempedulikan motif-motif si penolong. Tindakan
menolong sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan sendiri tanpa mengharapkan
sesuatu untuk dirinya. Tindakan prososial lebih menuntut pada pengorbanan tinggi
dari si pelaku dan bersifat sukarela atau lebih ditunjukkan untuk menguntungkan
orang lain daripada untuk mendapatkan imbalan materi maupun sosial. Akhir-akhir
ini banyak kejadian atau kecurangan yang terjadi di dunia pendidikan. Banyaknya
perilaku yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pendidik, seperti memberi
bocoran soal, memberikan jawaban pada saat ujian akhir nasional berjalan, serta
memberikan peluang kepada anak didiknya saling bertukar jawaban ketika ujian, serta
masih banyak lagi perilaku prososial yang seharusnya tidak dilakukan, akan tetapi hal
ini banyak ditemui, demi membantu anak didiknya.

R o b e r t d a n S t r a y e r ( 1 9 8 6 : 2 ) mengungkapkan bahwa empati nampaknya


berhubungan dengan perilaku prososial individu. Empati berkaitan dengan
kemampuan individu dalam mengekspresikan emosinya, oleh karena itu empati
seseorang dapat diukur melalui wawasan emosionalnya, ekspresi emosional, dan
kemampuan seseorang dalam mengambil peran dari individu lainnya. Pada dasarnya,
empati merupakan batasan dari individu apakah ia akan melakukan atau
mengaktualisasikan gagasan prososial yang mereka miliki ke dalam perilaku mereka
atau tidak.

Hurlock (1999: 118) mengungkapkan bahwa empati adalah kemampuan seseorang


untuk mengerti tentang perasaan dan emosi orang lain serta kemampuan untuk
membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Empati pada diri individu, akan
dapat menggerakkan hati dan perilakunya untuk membantu anak didiknya supaya
dapat lulus ujian atau lulus UAN. Perilaku prososial yang dilakukan guru terhadap
anak didiknya lebih banyak dilakukan oleh guru laki-laki daripada guru perempuan.
Faktor personal yang mendasari perilaku prososial dikategorikan menjadi dua, yaitu
faktor personal dan faktor situasional. Karakteristik kepribadian yang mempengaruhi
perilaku prososial yaitu adanya kematangan emosi. Individu yang matang secara
emosi, akan mampu berperilaku prososial dengan baik. Perilaku prososial Chaplin
(1995: 53) memberikan pengertian perilaku sebagai segala sesuatu yang dialami oleh
individu meliputi reaksi yang diamati. Watson (1984: 272) menyatakan bahwa
perilaku prososial adalah suatu tindakan yang memiliki konsekuensi positif bagi orang
lain, tindakan menolong sepenuhnya yang dimotivasi oleh kepentingan sendiri tanpa
mengharapkan sesuatu untuk dirinya. Kartono (2003: 380) menyatakan bahwa
perilaku prososial adalah suatu perilaku sosial yang menguntungkan di dalamnya
terdapat unsur+unsur kebersamaan, kerjasama, kooperatif, dan altruisme. Perilaku
prososial dapat memberikan pengaruh bagaimana individu melakukan interaksi sosial.

Bringham (1991: 277) menyatakan aspek-aspek dari perilaku prososial adalah:

a. Persahabatan Kesediaan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan orang
lain.
b. Kerjasama Kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain demi tercapai suatu
tujuan.
c. Menolong Kesediaan untuk menolong orang lain yang sedang berada dalam kesulitan
d. Bertindak Kesediaan jujur untuk melakukan sesuatu seperti apa adanya, tidak berbuat
curang.
e. Berderma Kesediaan untuk memberikan sukarela sebagian barang miliknya kepada
orang yang membutuhkan. Aspek-aspek perilaku prososial yang dipakai dalam
penelitian ini yaitu berbagi, menolong, kerja sama, bertindak jujur, berderma.

E. Ciri Atau Karakteristik Perilaku Penolong dan Yang Di Tolong


Karakteristik perilaku penolong yang terdiri dari :
1) Kepribadian Kepribadian tiap individu berbeda-beda, salah satunya adalah
kepribadian individu yang mempunyai kebutuhan tinggi untuk dapat diakui oleh
lingkungannya. Kebutuhan ini akan memberikan corak yang berbeda dan memotivasi
individu untuk memberikan pertolongan.
2) Suasana hati, dalam suasana hati yang buruk menyebabkan kita memusatkan
perhatian pada diri kita sendiri yang menyebabkan mengurangi kemungkinan untuk
membantu orang lain. Dalam situasi seperti ini apabila kita beranggapan bahwa
dengan melakukan tindakan menolong dapat mengurangi suasana hati yang buruk dan
membuat kita merasa lebih baik mungkin kita akan cenderung melakukan tindakan
menolong.
3) Rasa bersalah, rasa bersalah merupakan perasaan gelisah yang timbul bila kita
melakukan sesuatu yang kita anggap salah. Keinginan untuk mengurangi rasa
bersalah dapat menyebabkan kita menolong orang yang kita rugikan atau berusaha
menghilangkannya dengan melakukan tindakan yang lebih baik.
4) Distress diri dan rasa empatik, distress diri adalah reaksi pribadi terhadap
penderitaan orang lain, perasaan cemas, prihatin, tidak berdaya, atau perasaan apapun
yang dialami. Empatik adalah perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain,
khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan
penderitaaan orang lain.
Karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan yang terdiri dari :
1) Menolong orang yang disukai, individu yang mempunyai perasaan suka terhadap
orang lain dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya tarik fisik atau adanya
kesamaan antar individu.
2) Menolong orang yang pantas ditolong, individu lebih cenderung melakukan
tindakan menolong apabila individu tersebut yakin bahwa penyebab timbulnya
masalah berada di luar kendali orang tersebut.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mendasari
perilaku pada penelitian ini menggunakan empati sebagai salah satu faktor perilaku
prososial karena dengan ikut memahami apa yang dirasakan orang (berempati) dapat
menimbulkan perilaku prososial.

F. Definisi Empati dan Altruisme


Empati
Empati berasal dari kata emphatheia yang artinya itu merasakan. Istilah ini,
pada awalnya digunakan oleh para teoritikus estetika untuk pengalaman objektif
orang lain. Lalu pada tahun 1920-an seorang ahli psikologi Amerika yang bernama, E.
B. Tichener, untuk pertama kalinya menggunakan istilah mimikri motor untuk
penggunaan istilah empati. Menurut Tichener istilah empati menyatakan bahwa
empati berasal dari peniruan secara fisik atas beban orang lain yang kemudian
menimbulkan perasaan yang serupa yang berada dalam diri seseorang.

Lalu menurut M Umar dan Ahmadi Ali, empati adalah suatu kecenderungan
yang dirasakan oleh seseorang untuk merasakan sesuatu yang dilakukan oleh orang
lain andaikan ia berada dalam situasi orang lain. Sedangkan Patton berpendapat
bahwa, empati bermakna memposisikan diri pada orang lain.

Altruisme
Myers (2012) mendefinisikan altruisme adalah motif untuk meningkatkan
kesejahteraan orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri. Altruisme sendiri
kebalikan dari egoisme, orang yang memiliki sifat altruis cenderung peduli dan mau
membantu orang lain meskipun hal tersebut tidak ada keuntungan yang ditawarkan
atau dengan kata lain tidak mengharapkan suatu imbalan. Pendapat lain juga
dikemukakan oleh Baron & Byrne (2005) yang menyatakan bahwa altruisme yang
sejati ialah kepedulian yang tidak mementingkan diri sendiri melainkan untuk
kebahagiaan orang lain.
Aronson, Wilson, & Alkert (Taufik, 2012) mengartikan bahwa altruisme adalah
sebagai pertolongan yang diberikan secara murni, tulus, tanpa mengharap balasan
apapun dari orang lain dan tidak memberikan manfaat apapun untuk dirinya sendiri.
G. Perbedaan Empati, Altruisme, dan Prososial
Empati adalah sebuah pondasi dari semua interaksi hubungan antar manusia.
Mampu merasakan kondisi emosional orang lain. Dalam memahami empati bisa
diperoleh dari beberapa pendekatan atau dalam perannya dalam hubungan antar
pribadi, disamping perannya dalam kegiatan untuk mempengaruhi atau mengubah
orang lain melalui konseling atau psikoterapi yang sifatnya banyak berorientasi klinis.
Empati secara harfiah maksudnya adalah munculnya rasa empati seseorang yang
masuk kedalam diri orang lain, sehingga timbul penilai bahwa orang tersebut mustahil
bisa melakukannya. Pihak lain juga banyak yang mengatakan bahwa dengan
melakukan empati terhadap orang lain, seseorang dimungkinkan untuk dapat
memahami orang lain karena seseorang masuk dan menjadi sama dengan orang lain,
sehingga empati justu dianggap sebagai salah satu cara yang efektif dalam usaha
mengenali memahami dan mengevaluasi orang lain.

Altruism lebih dimotivasi oleh motif-motif intrinsik, perilaku prososial selain


dipengaruhi oleh kecenderungan-kecenderungan intrinsik yang murni untuk
membantu orang lain, juga seringkali dipengaruhi oleh harapan-harapan sosial yang
tinggi. Harapan-harapan tersebut dapat berupa sifat ingin dipuji atau untuk
mendapatkan imbalan tertentu (Robinson & Curry, 2005). Menurut Comte (dalam
Taufik, 2012) mendefinisikan Altruisme berasal dari kata “alter” yang artinya “orang
lain”. Secara bahasa, altruism adalah perbuatan yang berorientasi pada kebaikan orang
lain.
Sedangkan menurut Sears dkk (1994), mendefinisikan altruism adalah
tindakan suka rela yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk
menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun (kecuali mungkin
perasaaan telah melakukan kebaikan). Menurut Myrers (2012), altruism adalah salah
satu tindakan prososial dengan alasan kesejahteraan orang lain tanpa ada kesadaran
akan timbal balik (imbalan). Perilaku altruism adalah suatu tindakan sosial yang
dilakukan secara sukarela untuk menolog orang lain tanpa mengharapkan reward atau
imbalan dari target yang ditolong, kecuali perasaan positif dari dalam diri si penolong.
Perilaku altruistik sudah pasti merupakan perilaku psososial, tetapi perilalku prososial
belum tentu merupakan perilaku altruistik (Perwitasari, 2008)
Prososial merupakan bentuk perilaku yang cenderung menguntungkan bagi
orang lain. Perilaku ini mencakupi beberapa hal diantaranya, yaitu; memberi rasa
aman terhadap orang lain (comforting), saling berbagi, bekerja secara kooperatif, dan
menunjukkan sikap empatik terhadap orang lain (Robinson & Curry, 2005). Perilaku
prososial juga mencakup tindakan yang dilakukan untuk memberikan keuntungan
bagi orang lain, seperti berbagi, menghibur, memuji prestasi orang lain untuk
menyenangkan hatinya, sampai menolong orang lain dalam mencapai tujuannya.
Dengan kata lain, perilaku prososial bertujuan untuk membantu meningkatkan
kebahagiaan orang lain, dikarenakan seseorang yang melakukan tindakan prososial
turut mensejahterakan kehidupan penerima bantuan. Oleh karena itu, menurut
Eisenberg dan Miller menyatakan bahwa empati, altruisme, dan perilaku prososial
merupakan konstruksi istilah yang saling berkaitan erat satu sama lain (Hojat et. al.,
2005).

Daftar Pustaka

Andromeda, S. (2014). Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Altruisme Pada

Karang Taruna Desa Pakang.

Baron, R. A. dan Byrne. D.(2005). Psikologi sosial. Jilid 2. Alih Bahasa: Ratna

Djuwita. Edisi kesepuluh. Jakarta: Erlangga.

Bringham, J. C. (1991). Social psychology. Edisi 2. New York: Harper Colling

Publisher Inc.

Bashori, K. (2017). Menyamai Perilaku Prososial Di Sekolah. SUKMA: JURNAL

PENDIDIKAN.

Dayakisni, T. & Hudaniah.(2015). Psikologi Sosial. (Edisi Revisi). Malang. UMM

Press.

Eisenberg, N., Fabes, R. A., & Spinrad, T. L. (2006). Prosocial Development.


Dalam Eisenberg, N., Damon, W., & Lerner, R. M. (Editor). Handbook
of Child Psychology:Social, Emotional, and Personality Development.
Edisi 6.Volume 3. (Hlm. 646-718). New Jersey: John Wiley & Sons. Inc.

Emosi Volume I, No 1, Desember 2010Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati dan

Kematangan Emosi

Hurlock, E. B. (1999). Perkembangan anak. Jilid 2. Alih Bahasa: Med. Meitasari

Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga.

Kusmanto, A. S. (2011). Empati Sebagai Sarana Untuk Memperkokoh Sikap Pro-

sosial Pelajar.

Mahasiswa Jurusan Bahasa Dan Sastra Inggris Uin Malulana Malik Ibrahim

Malang.Hubungan Kedemokratisan Pola Asuh Dengan Perilaku Prososial


Mahasiswa Jurusan Bahasa Dan Sastra Inggris Uiin Malulana Malik Ibrhim,
15(2), 9–39.

Robert and Strayer, J. (1996). Adolescent p r o s o c i a l b e h a v i o u r .

www.personal.psi.edu./fakulty/j/g/jgp4/497 /prosocial2.htm.

Sarwono, S. W. (2002). Psikologi sosial, individu dan teori-teori psikologi sosial.

Jakarta: Balai Pustaka

Tina, R. (1994). Hubungan Kedemokratisan Pola Asuh Dengan Perilaku Prososial

UIN Malang. Pengertian Empati. Jurnal: Bab II hal. 17.

http://etheses.uin-malang.ac.id/2176/6/08410125_Bab_2.pdf

Universitas Mercu Buana Yogyakarta.Altruisme. Jurnal: Bab II hal. 11.

http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/3602/3/BAB%202.pdf

Watson. (1984). Psychology science and application. Illionis: Scoot Foresmar and

Company
Sosiometri LKM 3 Psikologi Sosial 2
No Nama Keterlibatan Penyampaian Kerjasama Keaktifan Total
Ide
1. Rika Triyanti 85 85 85 85 85
2. M. Ricky Enrique 84 82 84 84 84
V
3. M. Zidan Irza 84 83 85 84 84
4. Ajeng Luki 83 83 85 85 84
Novalia
5. Silvia Mega 83 84 84 84 84
Lestari
6. Januar Sofie 84 83 84 83 84
Marlin
7. Noni Febriani 86 85 86 86 86
8. An Naba Filda 84 84 85 83 84

Link Video

https://youtu.be/Y8opSKk9TW8