Anda di halaman 1dari 2

1.

Karakteristik budaya dominan masyarakat setempat ( Jawa dan Madura)


2. Enkulturasi dan sosialisasi.
Jawab:

1. Suku Madura dikenal dengan intonasi bicaranya yang keras dan terdengar kasar.
Walaupung begitu mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Selain itu orang
Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan
ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji). Sekali pun berpendapatan
kecil pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Masyarakat
Madura dikenal juga memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Istilah
khas disini menunjukkan bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang
tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain. Perbedaan yang cukup mencolok
dapat terlihat dalam kehidupan keseharian, sifat orang Madura yang lebih egaliter dan
terbuka, berbeda dengan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat "ewuh pakewuh". Dalam
hal mencari rezeki pun, orang-orang Madura sejak masa lalu sudah berani merantau ke
luar pulau. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Madura yang tersebar hampir di
seluruh penjuru Negeri bahkan sampai-sampai di luar negeri pun ada.

Sementara itu masyarkat jawa memiliki karakteristik yang berbeda menurut Suyanto
(1990) dalam bukunya yang berjudul Pandangan Hidup Jawa menerangkan, bahwa
karakteristik budaya Jawa adalah religious, non-doktriner, toleran, akomodatif, dan
optimistic. Karakteristik budaya Jawa ini melahirkan sifat kecenderungan yang khas bagi
masyarakat Jawa seperti: percaya pada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sangkan Paraning
Dumadi dengan segala sifat dan kebesaran-Nya, bercorak idealistis (percaya kepada
sesuatu yang bersifat immaterial-bukan kebendaan dan hal-hal yang bersifat adikodrati-
supernatural serta cenderung ke arah mistik, lebih mengutamakan hakikat daripada segi-
segi formal dan ritual, mengutamakan cinta kasih sebagai landasan pokok hubungan antar
manusia, percaya kepada takdir dan cenderung bersikap pasarah, bersifat konvergen dan
universal, momot dan non-sektarian, cenderung pada simbolisme, cenderung pada gotong
royong, rukun, damai, dan kurang kompetitif karena kurang mengutamakan materi.

2. Menurut Havilland, enkulturasi adalah pendidikan ditinjau dari pembelajaran yang


bersumber dari kebutuhan sehari-hari manusia seperti sandang, pakan, pangan, dan
perlindungan. Adat atau kebiasaan dalam hal tersebut akan membentuk perilaku serta
kepribadian anak di masa mendatang. Fungsi enkulturasi sebagai pembentukan identitas
sosial. Pengetahuan akan budaya akan membentuk karakter dan membentuk identitas diri
yang sesuai dengan budaya yang berlaku. Pembentukan identitas diri akan berlaku bagi
kebanyakan individu dalam budaya yang sama dan membentuk suatu identitas
sosial.Enkulturasi dapat diartikan sebagai proses didalam mana seseorang menguasai
pengertian dan kepercayaan-kepercayaan dari suatu masyarakat, yang berlangsung sejak
masa kanak-kanak, tanpa disertai pelatihan-pelatihan khusus. Enkulturasi dapat
mempengaruhi pemahaman kita tentang dunia, dan dengan berbagai cara, berhubungann
dengan kehadiran kita sebagai anggota masyatkat serta pemahaman kita tentang identitas
budaya kita Demorest, Morrison, Beken & Jungbluth, 2007).

Sedangkan Sosialisasi adalah konsep umum yang diartikan sebuah proses di mana
kita belajar interaksi dengan orang lain, tentang cara bertindak, berpikir, dan merasakan,
di mana semua itu merupakan hal penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang
efektif.
Menurut George Herbert Mead sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibagi melalui
beberapa tahap sebagai berikut.
a. Tahap persiapan (Preparatory Stage) Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat
seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk
memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan
kegiatan meniru meski tidak sempurna.
b. Tahap siap bertindak (Game Stage) Dalam tahap siap bertindak, peniruan yang dilakukan
sudah mulai berkurang dan digantikan peran secara langsung dimainkan sendiri dengan
penuh kesadaran. Kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat,
sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. kesadaran
adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya.
Lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai
berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah.
c. Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage). Pada tahap ini seseorang telah
dianggap dewasa, dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas.
Individu dapat bertenggang rasa 8 tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi
dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya
peraturan, kemampuan bekerja sama bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya,
dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadikan individu sebagai warga
masyarakat dalam arti sepenuhnya. Charles H. Cooley lebih menekankan peranan interaksi
dalam teorinya

Secara singkat perbedaan antara enkulturasi dan sosialisasi adalah dalam enkulturasi seorang


individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikirannya dengan lingkungan kebudayaannya,
sedangkan sosialisaasi si individu melakukan proses penyesuaian diri dengan lingkungan sosial.

Daftar Pustaka:
Pattiapon Nicolas, 2011. Adat Istiadat Tradisional Mengenal Bentuk-bentuk Karya Sastra Lisan
Masyarakat Hutumuri. Ambon. Sitompul. 2000. Manusia dan Budaya (Theologi Antropologi),
Jakarta. BPK. Gunung Mulia