Anda di halaman 1dari 7

Nama : Nisfatin Rifkah Nurdiana

NIM : 1910811021

SA Psikologi Dasar

LK 4 Teori Dan Konsep Dasar Pengkondisian Perilaku

1. Teori Belajar Klasik (Classical Learning)


Tokoh : Ivan Pavlov
Konsep dan Asumsi Dasar tentang Perilaku :
Clasical conditioning termasuk pada teori behaviorisme, behavior adalah pandangan yang
menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang harus diamati, bukan
dengan proses mental. Clasical Conditioning adalah prosedur penciptaan refleks baru
dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Classical
conditioning sebagai pembentuk tingkah laku melalui proses persyaratan (conditioning
process). Dan Pavlov beranggapan bahwa tingkah laku organisme dapat dibentuk melalui
pengaturan dan manipulasi lingkungan. Untuk menunjukkan kebenaran teorinya, Pavlov
mengadakan eksperimen tentang berfungsinya kelenjar ludah pada anjing sebagai binatang
uji cobanya.
Proses dan Mekanisme Pembentukan Perilaku :
Proses pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar
untuk mengaitkan/mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral
(seperti melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna (seperti makanan)
dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan kapasitas yang sama. Pavlov melakukan
eksperimen pada anjing sebagai uji cobanya. Adapun langkah-langkah eksperimennya
adalah :
a. Anjing dibiarkan lapar, Paplov membunyikan metronom dan anjing mendengarkannya
dengan sungguh-sungguh. Variasi lain dilakukuan dengan menyalakan lampu dalam
kamar gelap dan anjing memperhatikan lampu menyala. Setelah metronom berbunyi atau
lampu menyala selama 30 detik, makanan (serbuk daging) diberikan dan terjadilah refleks
pengeluaran air liur.
b. Percobaan tersebut, baik dengan membunyikan metronom maupun menyalakan lampu,
diulang berkali-kali dengan jarak 15 menit.
c. Setelah diulang 32 kali, bunyi metronom atau nyala lampu selama 30 detik dapat
menyebabkan keluarnya air liur dan semakin bertambah deras jika makanan diberikan.
Dalam eksperimen di atas, ada beberapa hal yang bisa diterangkan :
- Bunyi metronom atau nyala lampu merupakan Conditioning Stimulus (CS) dan makanan
merupakan Unconditioning Stimulus (US).
- Keluarnya air liur karena bunyi metronom atau nyala lampu merupakan Conditioning
Refleks (CR) dan keluarnya air liur karena ada makanan merupakan Unconditioning
Refleks (UR)
- Makanan yang diberikan setelah air liur disebut Reinforcer (pengaruh) yang memperkuat
refleks bersyarat dan memberikan respons lebih kuat dibandingkan dengan refleks
bersyarat.
Hasil eksperimen-eksperimen yang dilakukan dengan anjing itu Pavlov kesimpulannya
bahwa gerakan–gerakan refleks itu dapat dipelajari dapat berubah karena mendapat latihan.
Sehingga dengan demikian dapat dibedakan dua macam refleks, yaitu refleks wajar
(Unconditioned Refleks) – keluar air liur ketika melihat makanan dan refleks
bersyarat/refleks yang dipelajari (Conditioned Refleks) – keluar air liur karena
menerima/bereaksi terhadap warna sinar tertentu, atau terhadap suatu bunyi tertentu.

Tahapan eksperimen dari teori Clasical Conditioning yaitu :


1. Sebelum pengkondisian
Pada tahap ini membutuhkan stimulus tak terkondisi yang apabila dilakukan akan
memperoleh respons.
2. Selama pengkondisian
Pada tahap ini stimulus terkondisi akan diberikan ke subyek lalu diikuti dengan stimulus
tak terkondisi dan dilakukan secara berulang-ulang. Sehingga stimulus yang sebelumnya
tidak menghasilkan respon maka secara perlahan akan memunculkan respon.
3. Setelah pengkondisian
Stimulus terkondisi yang sebelumnya tidak memancing respon karena selalu dikaitkan
dengan stimulus alami maka akhirnya akan memicu respon. Respon ini disebut dengan
respon terkondisi karena respon ini merupakan hasil dari pengkondisian bukan dari reflek
alami.
Contoh Pengkondisian Perilaku dalam kehidupan Sehari-hari :
Contohnya saat kita mendengarkan lagu/instrumen (NS) kita tidak ada respon apapun
(no, respon) setelah itu kita melihat sebuah gerakan/tarian (US) kita tertarik dan ikut menari
(UR). Kemudian saat kita mendengarkan instrumen/lagu ditambah dengan melihat
gerakan/tarian kita tertarik dan ikut menari (UR), setelah itu saat kita hanya mendengar
instrumen tersebut (CS) kita otomatis langsung tertarik dan ikut menari (CR) meskipun kita
tidak melihat gerakan/tarian dari instrumen tersebut.

2. Teori Belajar Operan (Operant Conditioning)


Tokoh : Burrhus Frederic Skinner
Konsep dan Asumsi Dasar tentang Perilaku :
Menurut skinner perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus/rangsangan dari luar. Burrhus Frederic Skinner menekankan pada perubahan
perilaku yang dapat diamati dengan mengabaikan kemungkinan yang terjadi dalam proses
berpikir pada otak seseorang.
Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia
dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.
Proses dan Mekanisme Pembentukan Perilaku :
Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan
dalam sebuah peti yang disebut dengan Skinner Box. Kotak Skinner ini berisi dua macam
komponen pokok, yaitu manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain
berupa wadah makanan. Manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan
gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri dari tombol, batang
jeruji, dan pengungkit.
B.F. Skinner melakukan eksperimen terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati
menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
- Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
- Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat
melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan
perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Skinner membedakan 2 macam respon antara lain :


- Respondent conditioning yakni respon yang diperoleh dari beberapa stimulus yang
teridentifikasi.
- Operant conditioning adalah suatu respon terhadap lingkungannya. Respon yang
timbul ini diikuti oleh stimulus-stimulus tertentu. Stimulus yang demikian itu disebut
penguatan sebab stimulus-stimulus itu memperkuat respon yang telah dilakukan
seseorang. Seperti reward dan penguatan/reinforcement, penguatan terdiri atas
penguatan positif dan negatif.
Contoh Pengkondisian Perilaku dalam kehidupan Sehari-hari :
Contohnya anak di kelas yang memperhatikan guru sedang memberikan materi kemudian
anak tersebut dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh gurunya, maka guru
memberikan penghargaan pada anak tersebut dengan nilai yang tinggi, pujian, atau hadiah
(ini termasuk reward pada teori operant conditioning). Berkat pemberian penghargaan ini,
maka anak tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih bersemangat lagi. Hadiah/reward
tersebut me-reinforce hubungan antara stimulus dan respons.

3. Teori Belajar Observasional


Tokoh : Albert Bandura
Konsep dan Asumsi Dasar tentang Perilaku :
Teori belajar sosial dari Albert Bandura menunjukkan pentingnya suatu proses
mengamati dan meniru perilaku dalam proses belajar, pembentukan sikap dan
mempengaruhi reaksi seseorang dalam proses belajar. Menurut bandura individu belajar
banyak tentang perilaku melalui peniruan (modeling) bahkan tanpa adanya penguat
(reinforcement) yang diterimanya dan proses belajar semacam ini disebut observational
learning atau pembelajaran melalui pengamatan.
Kesimpulannya pada teori belajar observasional adalah permodelan/modeling, melalui
belajar mengamati yang untuk selanjutnya disebut imitasi atau modeling, individu secara
kognitif menampilkan tingkah laku orang yang diamati dan mengadopsi tingkah laku
tersebut dalam dirinya sendiri.
Proses dan Mekanisme Pembentukan Perilaku :
Eksperimen Bandura yang cukup terkenal adalah Bobo Doll Experiment. Eksperimen ini
dilakukan pada tahun 1950-an. Dengan tujuan untuk menguji hipotesis bahwa perilaku
agresi bisa diperoleh melalui belajar sosial atau modeling. Dalam eksperimennya, Bandura
meminta sebagian anak untuk menonton film yang menunjukkan perilaku agresi yang
ditunjukkan oleh orang dewasa terhadap sebuah boneka, sedangkan sebagian anak lainnya
menonton film yang menunjukkan perilaku tidak agresi. Penelitian Bandura menunjukkan
bahwa anak yang menonton perilaku agresi menunjukkan perilaku agresi yang bahkan lebih
tinggi terhadap boneka yang disediakannya. Kemudian Albert Bandura dan Richard Walters
(1959, 1963) melakukan eksperimen pada anak-anak yang berkenaan dengan peniruan. Dari
hasil eksperimen menemukan bahwa peniruan dapat berlaku hanya melalui pengamatan
terhadap perilaku model (orang yang ditiru) meskipun pengamatan itu tidak dilakukan terus
menerus. Proses belajar semacam ini disebut “observational learning” atau pembelajaran
melalui pengamatan.

Bandura menyebutkan empat proses yang mempengaruhi belajar observasional yaitu proses
atensi, retensi, reproduksi dan motivasi.
Bandura mengidentifikasi adanya tiga model dasar pembelajar melalui pengamatan antara
lain :
1. Melalui model hidup ( live model) yang memberi contoh perilaku secara demonstratif
2. Melalui model instruksional verbal (verbal instructional model) yang mendeskripsikan
dan menjelaskan suatu perilaku
3. Melalui model simbolik (symbolic model) yang menggunakan tokoh nyata atau fiktif
yang menampilkan perilaku tertentu dalam buku, film, program televisi

Ada 4 proses yang mempengaruhi proses modeling


- Proses perhatian, pada tahap ini anak mengikuti apa yang dilakukan atau dikatakan oleh
model
- Tahap memori, pada tahap ini anak harus dapat menerima informasi berupa apa yang
dilakukan atau dikatakan oleh model dan menyimpannya dalam memori
- Proses produksi, pada tahap ini anak mulai mengikuti model dan apabila anak
mengalami kesulitan maka anak diberi bantuan
- Proses motivasi, pada tahap ini anak mulai melakukan apa yang diajarkan oleh model
namun anak perlu diberi penguat agar anak termotivasi untuk melakukan yang diajarkan
model.
Maka dari itu proses belajar sosial dapat terjadi melalui aktifitas peniruan/imitation dan
penyajian contoh perilaku/modeling.
Contoh Pengkondisian Perilaku dalam kehidupan Sehari-hari :
Contohnya saat anak belajar bersepeda. Ditahap perhatian, anak akan tertarik mengamati
para pengendara sepeda. Oleh karena itu, ia akan mengamati bagaimana seseorang
mengayuh sepeda, selanjutnya pada tahap penyimpanan dalam ingatan anak akan tersimpan
bahwa bersepeda itu menyenangkan dan suatu saat jika waktunya tepat ia akan meminta
kakaknya untuk mengajarinya mengendarai sepeda. Semuanya itu kemudian dilaksanakan
pada tahap reproduksi di mana anak kemudian benar-benar belajar mengendarai sepeda
bersama kakaknya. Ketika anak itu sudah berhasil, di sinilah tugas kakaknya untuk memberi
reward sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan anak sekaligus merupakan tahap motivasi.
DAFTAR PUSTAKA

Bahan Ajar Psikologi Kepribadian II. 2017 Universitas Udayana


Lesilolo, Herly Janet. 2018. PENERAPAN TEORI BELAJAR SOSIAL
ALBERT BANDURA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH.
KENOSIS Vol. 4 No. 2
Rahman, Dr.Agus Abdul. 2018. SEJARAH PSIKOLOGI. Depok : Rajawali
Pres
Hergenhahn, B.R. H.Olson Matthew. 2008. THEORIES OF LEARNING.
Jakarta : PT.Fajar Interpratama Mandiri

Nilai: 70