Anda di halaman 1dari 4

Praktikum ke-4 Hari/tanggal praktikum : Selasa, 15

Maret 2011
MK Sosiologi Umum (KPM 130) Kelas : A02

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK


(Arbain Rambey)
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI
(Franky Raden)
Oleh: Rizqi Adha Juniardi (E24100103)
Asisten Praktikum: Dwi Agustina (I34080007)
Debbie L. Prastiwi (I34080059)

Ikhtisar I
Di surat kabar Medan muncul iklan-iklan yang formatnya selalu
sama, yaitu mengajak masyarakat Batak Toba untuk mengusir
perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit. Lingkungan Bona
Pasogit adalah sub-etnik Batak Toba untuk menyebut daerah tempat
tinggal mereka di Sumatera Utara, tepatnya di sekitar Danau Toba. Iklan
itu dipasang oleh Parbato atau Pertungkuan Batak Toba, sebuah
organisasi kesukuan yang berdiri pada bulan Agustus 1997. Ompu
Monang sebagai ketua Parbato sejak 1997 mengatakan bahwa di
Indonesia banyak masalah yang bisa didekati secara etnis untuk kondisi
Indonesia yang multi-etnis. Tiap etnis harus sadar diri untuk menggalang
solidaritas kecil yang akhirnya berguna untuk solidaritas Indonesia
secara keseluruhan.
Etnis Batak Toba memiliki ciri khas etnis tersendiri yaitu
mengubah nama asli setelah kelahiran cucu pertama, seperti Ompu
Monang yang mengganti namanya dari Daniel Napitupulu menjadi Ompu
Monang yang artinya “kakeknya” Monang Napitupulu. Kehangatan
keluarga nomor satu, serta kehadiran cucu adalah berkah dan rahmat
yang luar biasa. Lain lagi dalam upacara perkawinan Batak Toba. Dalam
undangan tertera banyak sekali nama pengundang, pada pestanya pun
hampir tiap orang merasa penting dan punya hubungan kekerabatan
sangat dekat dengan mempelai. Kekerabatan ini menciptakan rasa
tanggung jawab pada kehidupan seorang anak sehingga bisa melebar
pada paman-pamannya. Jadi, jarang sekali anak Batak Toba yang
telantar karena ada saudara lain yang akan menampungnya.

1
Sisi negatif kekerabatan Batak Toba menurut Ompu Monang
adalah penghamburan uang dari waktu. Acara keluarga dalam
perkawinan Batak Toba akan membuat pesta menjadi molor lima jam
lebih. Pada acara pengulosan pun terjadi pemborosan yaitu setiap orang
akan memberikan kain ulos yang menjadi ajang gengsi keluarga
mempelai padahal ulos itu akan dijual atau dibeli orang lain untuk
diberikan lagi. Pada acara pemberian nasehat bisa sampai berjam-jam,
padahal menurut pengamatan Ompu Monang tidak ada satupun nasehat
itu yang perlu didengarkan oleh mempelai. Jika ada perkawinan bukan di
Hari Minggu, betapa banyaknya waktu kerja efektif yang hilang karena
upacara perkawinan.
Ompu Monang mencatat banyak penyelewengan adat Batak Toba,
contohnya pembangunan makam Batak Toba yang nilainya hingga
ratusan juta rupiah per makam. Persaingan harga makam tidak lain
adalah persaingan gengsi antar keluarga. Parbato sudah mengadakan
seminar untuk membahas penyelewengan adat Batak Toba, namun tidak
ada hasil nyata yang didapatkan untuk mengatasi keborosan adat ini.
Untuk mengatasi kebuntuan ini, Ompu Monang akhirnya
“mengorbankan” diri sendiri pada pesta perkawinan anak
perempuannya. Ia melaksanakannya dengan cara yang menurut dia
efisien namun tidak keluar dari adat Batak Toba. Dengan semangat
Ompu Monang mengingatkan bahwa gerakan etnis masih perlu agar
organisasi tidak cuma bicara dan perbuatan nyata adalah nasehat
terbaik.
Analisis I
Unsur Idiil Aktivitas Fisik
Bahasa
Sistem
Teknologi
Sistem Ekonomi
Organisasi
Sosial
Sistem
Pengetahuan
Kesenian
Sistem Religi

Ikhtisar II

2
Suku Kenyah konon juga suku Modang berasal dari daerah
pegunungan yang bernama Apokayan di sebelah utara Kalimantan
Timur. Daerah ini terisolir dan penduduknya masih hidup dalam
keutuhan bentuk kebudayaan dan sistem nilai yang asli. Namun setelah
masuk misionaris Belanda yang membawa agama Kristiani ke daerah ini
tahun 1930-an, mulai timbul persoalan baru dalam masyarakat seperti
konflik antara mereka yang menganut agama baru dengan mereka yang
tetap memeluk ajaran lama. Akumulasi konflik ini membawa efek
perpecahan tragis antar anak-anak suku bahkan antar keluarga sendiri
yang masih satu keturunan. Mereka yang menganut agama baru
memutuskan untuk meninggalkan daerah asal.
Sepanjang sungai Kelinjau terdapat perkampungan Dayak Kenyah
dan Modang. Datang pula suku pendatang baru seperti dari kota Kutai,
Bugis, dan Toraja. Pendatang baru membuka komunikasi langsung
dengan kota, mengkonfrontir mereka dengan situasi dan mekanisme
yang berbeda dengan kebudayaan mereka sehingga suku Dayak sadar
bahwa satu-satunya sektor yang bisa diandalkan adalah sektor ekonomi
untuk memasuki ke dunia baru. Dilihat sepintas kehidupan mereka
sebenarnya berkecukupan namun sekarang berubah karena adanya
standar sektor ekonomi yang datang dari kota. Hal ini menjadi faktor
paling kuat untuk menggoncang dan memojokkan kehidupan suku Dayak
hingga nyaris mencabut mereka dari akar kehidupan budaya mereka
sendiri. Kesenian pun menjadi terpisah dengan kehidupan sehari-hari
suku Dayak, tidak lagi muncul dalam spontanitas sehingga kesenian
menjadi suatu peristiwa yang khusus dan temporal seperti asumsi
masyarakat perkotaan. Struktur dan mekanisme suku Dayak yang hilang
seperti bangunan Lamin karena setiap keluarga memiliki rumah sendiri,
infiltrasi kesenian kota yang diterima kalangan muda membuat mereka
semakin menjauh dari kesenian tradisi, dan teknologi kaset yang
merusak bentuk-bentuk musik.
Pendidikan moral yang para orang tua ceritakan kepada anak suku
Dayak nyaris hilang karena tergilas oleh pendidikan formal yang
disodorkan pemerintah dan swasta. Putusnya kontinuitas pendidikan
menimbulkan masalah ekonomi baru bagi penduduk yang harus
menyekolahkan anaknya di kota. Uluran tangan pemerintah seperti

3
sekolah, balai pengobatan, dan lembaga sosial desa memang terkabul
namun pemerintah tidak memikirkan konsepsional dalam menangani
pengadaptasian kultur. Bantuan ini layaknya hanya bersifat praktis dan
sektoral belaka sehingga membuat masyarakat Dayak terlontar ke dunia
luar tanpa bekal menyeluruh akan struktur dan mekanisme kehidupan
mereka. Tanpa adanya perbekalan akan membuat suku Dayak berpikir
untuk mengejar tingkat kehidupan ekonomi tanpa peduli terlantarnya
nilai-nilai yang tergolek dalam sektor kehidupan lain. Secara ekstrim
yang terjadi pada suku Dayak adalah pemusnahan eksistensi
sekelompok manusia dalam dimensi kultural. Tidak hanya memberi
fasilitas namun yang mendasar adalah bagaimana menghormati dan
memberi hak hidup mereka di atas nilai kultur tradisi.
Hancurnya kultur suku Dayak akan mengurangi perbendaharaan
kultur bangsa Indonesia. Suku Dayak jelas belum siap untuk dihadapkan
secara frontal kepada jaringan mekanisme kehidupan modern yang
manifestasinya hanya kelimpahan materi. Terciptanya semua masalah
itu, baik secara mikro di desa-desa Kalimantan, Bali, dan Nias maupun
yang terjadi secara makro di Negara ini membuktikan bahwa masyarakat
kita masih berada dalam kondisi arkhanis, tidak ada yang superior antara
satu dengan yang lainnya.
Analisis II
Unsur Idiil Aktivitas Fisik
Bahasa
Sistem
Teknologi
Sistem Ekonomi
Organisasi
Sosial
Sistem
Pengetahuan
Kesenian
Sistem Religi