Anda di halaman 1dari 7

RETENSI URIN

PERMASALAHAN DAN PENATALAKSANAANNYA

Widjoseno Gardjito
Lab/UPF Ilmu Bedah
FK Unair/RSUD Dr. Soetomo Surabaya

PENDAHULUAN
Retensi Urin merupakan suatu keadaan darurat urologi yang paling sering ditemukan dan
dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.
Berarti bahwa seorang dokter atau perawat dimanapun dia bertugas kemungkinan besar pernah
atau akan menghadapi kelainan ini. Oleh karena itu, yang bersangkutan harus bisa mendeteksi
kelainan tersebut dan selanjutnya dapat melakukan penanganan awal secara benar.
Bilamana retensi urin tidak ditangani sebagaimana mestinya, akan mengakibatkan terjadinya
penyulit yang memperberat morbiditas penderita yang bersangkutan. Pada dasarnya tidak
diperlukan peralatan maupun ketrampilan yang khusus untuk mendeteksi dan menangani penderita
dengan retensi urin, apapun yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut.
Permasalahan yang sering dihadapi seorang dokter atau seorang perawat adalah
- Retensi urin tidak dideteksi karena kelainan ini tidak terpikirkan, penderita tidak mengeluh atau
mengatakan bahwa masih bisa kencing secara berkala (inkontinensi paradoksa).
- Retensi menambah penderitaan atau menimbulkan penyulit yang merugikan, bahkan bersifat
permanen dan hal ini dapat terjadi karena dokter atau perawat menangani kelainan tersebut tanpa
memperhatikan persyaratan yang ditentukan, belum berpengalaman atau peralatan yang
dibutuhkan tidak dimiliki.

Pada kuliah ini akan diuraikan secara mendasar sebab-sebab terjadinya retensi urin, cara
mendeteksi dan cara melakukan penanganan secara benar dan akan diketengahkan pula beberapa
"pifalls" dan "tips" yang perlu diketahui oleh seorang dokter maupun seorang perawat bila
menghadapi kasus retensi urin.

Tujuan Umum
Setiap dokter dan perawat mampu mendeteksi dan melakukan tindakan awal secara benar dimana
dan kapan saja pada setiap kejadian retensi urin.

Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kuliah ini yang bersangkutan :
- mengetahui mendeteksi terjadinya retensi urin, baik yang akut maupun yang kronis.
- memahami berbagai alternatif dan cara menanganai retensi urin secara benar
- memiliki kemampuan untuk memilih alternatif penanganan yang tepat sesuai dengan peralatan
dan ketrampilan yang dimiliki.
- mengetahui penyulit yang dapat terjadi bila penanganan awal tidak adekuat.
- mengetahui cara merawat lanjutan termasuk bagaimana merujuk penderita yang sudah dikelola
pada fase awal.

PEMBAHASAN

Definisi
Retensi urin adalah keadaan dimana penderita tidak dapat mengeluarkan urin yang terkumpul
didalam buli-buli sehingga kapasitas maksimal dari buli-buli dilampaui.

Proses Miksi:
Buli-buli berfungsi ganda
1. Menampung urin sebagai "reservoir". Pada fase ini otot buli-buli (detrusor) dalam keadaan
relaksasi sedangkan sfmgter dalam keadaan tegang (menutup). Bila volume urin mencapai
kapasitas fisiologis (pada orang dewasa berkisar antara 250-400 ml), akan timbul rangsangan
untuk miksi, namun proses miksi masih bisa ditangguhkan karena ditahan oleh yang
bersangkutan. Bila volume urin mencapai kapasitas maksimal (pada orang dewasa berkisar
antara 500-600 ml), rangsangan untuk miksi makin meningkat, sehingga menimbulkan rasa tidak
nyaman dan proses miksi masih bisa ditahan sementara dengan menegangkan sfingter uretra
eksternum secara sadar (otot bergaris).
2. Mengosongkan isinya, disebut proses miksi. Peristiwa ini memerlukan kerja sama yang
terkoordinir secara harmonis antara detrusor yang berkontraksi dan sfmgter yang mengalami
relaksasi sehingga urin memancar keluar sampai buli-buli kosong.
Pada kedua fase tersebut diatas, buli-buli mencegah pengaliran urin kembali kedalam ureter
(mencegah terjadinya refluks).
Proses miksi akan berlangsung lancar bila detrusor dan sfingter dalam keadaan baik, berfungsi
normal (terkoordinir secara harmonis) dan tidak terdapat hambatan di uretra.

Penyebab retensi urin .


- Kelemahan detrusor.
cedera /gangguan pada sumsum tulang belakang, kerusakan serat saraf (diabetes melitus),
detrusor yang mengalami peregangan/dilatasi yang berlebihan untuk waktu lama
- Gangguan koordinasi detrusor-sfingter (dis-sinergi)
cedera /gangguan sumsum tulang belakang di daerah cauda equina.
- Hambatan pada jalan keluar:
 kelainan kelenjar prostat (BPH, Ca)
 striktura uretra
 batu uretra
 kerusakan uretra (trauma)
 gumpalan darah didalam lumen buli-buli (clot retention) dll.

Akibat retensi urin


- Buli-buli akan mengembang melebihi kapasitas maksimal sehingga tekanan didalam lumennya
dan tegangan dari dindingnya akan meningkat.
- Bila keadaan ini dibiarkan berlanjut, tekanan yang meningkat didalam lumen akan menghambat
aliran urin dari ginjal dan ureter sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis dan lambat laun
terjadi gagal ginjal.
- Bila tekanan didalam buli-buli meningkat dan melebihi besarnya hambatan di daerah uretra, urin
akan memancar berulang-ulang (dalam jumlah sedikit) tanpa bisa ditahan oleh penderita,
sementara itu buli-buli tetap penuh dengan urin. Keadaan ini disebut : inkontinensi paradoksa
atau "overflow incontinence"
- Tegangan dari dinding buli-buli terns meningkat sampai tercapai batas toleransi dan setelah batas
ini dilewati, otot buli-buli akan mengalami dilatasi sehingga kapasitas buli-buli melebihi
kapasitas maksimumnya, dengan akibat kekuatan kontraksi otot buli-buli akan menyusut.
- Retensi urin merupakan predileksi untuk terjadinya infeksi saluran kemih (ISK) dan bila ini
terjadi, dapat menimbulkan keadaan gawat yang serius seperti pielonefritis, urosepsis, khususnya
pada penderita usia lanjut.

Gambaran Klinis
- Rasa tidak nyaman hingga rasa nyeri yang hebat pada perut bagian bawah hingga daerah genital.
- Tumor pada perut bagian bawah.
- Tidak dapat kencing.
- Kadang-kadang urin keluar sedikit-sedikit, sering, tanpa disadari, tanpa bisa ditahan
(inkontinensi paradoksa).

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS


Anamnesis
 Tidak bisa kencing atau kencing menetes /sedikit-sedikit
 Nyeri dan benjolan/massa pada perut bagian bawah
 Riwayat trauma: "straddle", perut bagian bawah/panggul, ruas tulang belakang.
 Pada kasus kronis, keluhan uremia
Pitfalk
Retensi urin pada:
penderita cedera pada sumsum tulang belakang (paraplegi), tidak merasakan nyeri bila buli-
buli penuh.
penderita trauma tulang panggul yang disertai kerobekan uretra, rasa nyeri kabur karena juga
dirasakan nyeri akibat kerusakan struktur lainnya.

Inspeksi:
 Penderita gelisah
 Benjolan/massa perut bagian bawah
 Tergantung penyebab : batu dimeatus eksternum, pembengkakan dengan/tanpa fistulae didaerah
penis dan skrotum akibat striktura uretra, perdarahan per uretra pada kerobekan akibat trauma.

Palpasi dan perkusi


 Teraba benjolan/massa kistik-kenyal (undulasi) pada perut bagian bawah.
 Bila ditekan menimbulkan perasaan nyeri pada pangkal penis atau menimbulkan perasaan
ingin kencing yang sangat mengganggu.
 Terdapat keredupan pada perkusi.

Dari palpasi dan perkusi dapat ditetapkan batas atas buli-buli yang penuh, dikaitkan dengan jarak
antara simfisis-umbilikus.
Tergantung penyebab
- teraba batu di uretra anterior sampai dengan meatus eksternum.
- teraba dengan keras (indurasi) dari uretra pada striktura yang panjang
- teraba pembesaran kelenjar prostat pada pemeriksaan colok dubur.
- teraba kelenjar prostat letaknya tinggi bila terdapat ruptur total uretra posterior.

Kepastian diagnosis
 Foto polos abdomen dan genitalia
- terlihat bayangan buli-buli yang penuh dan membesar.
- adanya batu (opaque) di uretra atau orifisium internum.
 Uretrografi untuk melihat adanya striktura, kerobekan uretra, tumor uretra.
 Ultrasonografi untuk melihat volume buli-buli, adanya batu, adanya pembesaran kelenjar
prostat.

Pitfall
 Pada wanita dewasa massa di perut bagian bawah harus dibedakan antara buli-buli yang
penuh akibat retensi urin, uterus yang membesar karena kehamilan atau sistoma ovarii yang
besar.

Tips
 Tanpa adanya fasilitas radiologi, disarankan untuk melakukan kateterisasi (kateter nelaton
16F) untuk memastikan diagnosis sekaligus untuk menanggulangi retensi urinnya (lihat
syarat-syarat dan tehnik kateterisasi)
 Pada pria tidak dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dan menangani retensi urin dengan
kateter logam.

PENATALAKSANAAN:
Bila diagnosis retensi urin sudah ditegakkan secara benar, penatalaksanaan ditetapkan
berdasarkan masalah yang berkaitan dengan penyebab retensi urinnya.
Pilihannya adalah
1. Kateterisasi
2. Sistostomi suprapubik
- trokar
- terbuka
3. Pungsi suprapubik

1. Kateterisasi
Syarat-syarat
- dilakukan dengan prinsip aseptik
- digunakan kateter nelaton/sejenis yang tidak terlalu besar, jenis Foley
- diusahakan tidak nyeri agar tidak terjadi spasme dari sfingter.
- diusahakan dengan sistem tertutup bila dipasang kateter tetap.
- diberikan antibiotika profilaksis sebelum pemasangan kateter 1 X saja (biasanya tidak diperlukan
antibiotika sama sekali). Kateter tetap dipertahankan sesingkat mungkin, hanya sepanjang masih
dibutuhkan.

Teknik kateterisasi
- Kateter Foley steril, untuk orang dewasa ukuran 16-18 F.
- Desinfeksi dengan desinfektans yang efektif, tidak mengiritasi kulit genitalia (tidak mengandung
alkohol)
- Anestesi topikal pada penderita yang peka dengan jelly xylocaine 2-4% yang dimasukkan dengan
semperit 20cc serta "nipple uretra" diujungnya. Jelly tersebut sekaligus berperan sebagai pelicin.
(Pada batu atau striktura uretra, akan dirasakan hambatan pada saat memasukkan jelly tersebut)
- Kateter yang diolesi jelly K-Y steril dimasukkan kedalam uretra. Pada penderita wanita biasanya
tidak ada masalah. Pada penderita pria, kateter dimasukkan dengan halus sampai urin mengalir
(selalu dicatat jumlah dan warna / aspek urin), kemudian balon dikembangkan sebesar 5-10 ml. .
- Bila diputuskan untuk menetap, kateter dihubungkan dengan kantong penampung steril dan
dipertahankan sebagai sistem tertutup.
- Kateter di fiksasi dengan plester pada kulit paha proksimal atau didaerah inguinal dan diusahakan
agar penis mengarah kelateral, hal ini untuk mencegah terjadinya nekrosis akibat tekanan pada
bagian ventral uretra di daerah penoskrotal

Perawatan Kateter tetap


Penderita dengan kateter tetap harus
- Minum banyak untuk menjamin diuresis
- Melaksanakan kegiatan sehari-hari secepatnya bila keadaan mengijinkan Membersihkan ujung
uretra dari sekrit dan darah yang mengering agar pengaliran sekrit dan lumen uretra terjamin.
- Mengusahakan kantong penampung urin tidak melampaui ketinggian buli-buli agar urin tidak
mengalir kembali kedalamnya
- Mengganti kateter (nelaton) setiap dua minggu bila memang masih diperlukan untuk mencegah
pembentukan batu (kateter silikon : penggantian setiap 6-8 minggu sekali)

Pitfalls :
 Ukuran kateter yang terlalu besar akan menekan mukosa uretra dan menghambat pengaliran
sekrit yang diproduksi sehingga mengundang terjadinya uretritis dengan segala
konsekuensinya (a.l striktura)
 Mengembangkan balon dan kateter yang ujungnya belum masuk sempuma di dalam lumen
buli-buli akan menimbulkan nyeri dan bila dipaksakan dapat menimbulkan lesi pada uretra.
 Melakukan kateterisasi secara kasar akan menimbulkan nyeri dan terjadi spasme dan sfingter
sehingga kateter tidak dapat masuk

Tips :
 Menggunakan jelly dari bahan yang larut dalam air dan tidak menimbulkan iritasi pada
mukosa uretra (jelly K-Y').
 Menghindari penggunaan antibiotika pada pemasangan kateter tetap karena akan
mengandung tumbuhnya kuman yang kebal. Penggunaan antibiotika hanya dibenarkan bila
terjadi bakteriemia atau terdapat ancaman sepsis.
 Mengusahakan pengaliran urin selalu lancar (bebas dari tekukan selang kantong penampung
dan gumpalan darah, dan debris dan sebagainya) dengan mengusahakan diuresis yang
memadai dan mengusahakan sistem tertutup yang tidak mengganggu.
 Mengatasi spasrne sfingter dengan menekan tempat tersebut selama beberapa menit dengan
ujung kateter sehingga begitu terjadi relaksasi, kateter akan masuk dengan lancar (perlu
kesabaran)
 Mencegah balon dikembangkan di dalam lumen uretra dengan cara memasukkan kateter
sedalam mungkin kedalam bull-buh, balon dikembangkan dan setelah itu kateter ditarik
kembali sehingga balon terletak tepat pada orifisium internum.

2. Sistostomi Trokar
Indikasi
1. Kateterisasi gagal : striktura, batu uretra yang menancap (impacted).
2. Kateterisasi tidak dibenarkan : kerobekan uretra path trauma.
Sebagian ahli berpendapat bahwa sistostomi pada pria lebih aman daripada kateter tetap karena
penyulit akibat pemakaian kateter pada uretra dapat ditiadakan (uretritis, striktura, fistula)

Syarat-syarat:
- Retensi urin dan bull-buli penuh, kutub atas lebih tinggi pertengahan jarak antara simfisis -
umbilikus
- Ukuran kateter Foley lebih kecil daripada celah dalam trokar (< - > 20F)

Pitfalls
 Cara kerja yang tidak sistematis dan kurang cepat bisa berakibat buli-buli sudah menguncup
(karena semua urin mengalir keluar) sebelum berhasil masuk kedalam lumen buli-buli.
 Kekuatan besar untuk mengatasi tahanan dan kulit dan fasia dapat menyebabkan dorongan
kelewatan sehingga trokar menembus dinding belakang buli-buli.

Tips
 Siapkan segala peralatan sebelum mulai melakukan sistostomi sehingga dapat bekerja cepat.
Dicek ukuran kateter dan balon dites terlebih dahulu.
 Untuk menghindari tahanan dari kulit dan fasia, kedua struktur tersebut ditusuk/disayat
terlebih dahulu dengan pisau tajam sehingga trokar dapat menembus dinding buli-buli
dengan mulus
 Ujung kateter Foley dipotong beberapa milimeter distal dari balon, sehingga segmen kateter
yang masuk lumen buli-buli tidak terlalu panjang.

Sistostomi Terbuka
Indikasi
- lihat sistostomi trokar
- bila sistostomi trokar gagal
- bila akan melakukan tindakan tambahan seperti mengambil batu di dalam bull-buli, evaluasi
gumpalan darah, memasang "drain" di rongga Retzii, dan sebagainya.
Perawatan kateter sistostomi jauh lebih sederhana daripada kateter tetap melalui uretra. Demikian
pula penggantian kateter sistostomi setiap dua minggu, lebih mudah dan tidak menimbulkan nyeri
yang berarti. Kadang-kadang saja urin merembes di sekitar kateter.

3. Pungsi Buli-Buli
Merupakan tindakan darurat sementara bila keteterisasi tidak berhasil dan fasilitas / sarana untuk
sistostomi baik trokar maupun terbuka tidak tersedia. Digunakan jarum pungsi dan penderita
segera dirujuk ke pusat pelayanan dimana dapat dilakukan sistostomi.
Penderita dan keluarga harus drberi informasi yang jelas tentang prosedur ini karena tanpa
tindakan susulan sistostomi, buli-buli akan terisi penuh kembali dan sebagian urin merembes
melalui lubang bekas pungsi.

CARA MERUJUK PENDERITA


Rujukan ditentukan oleh masalah atau diagnosis yang dihadapi, karena tindakan awal (kateterisasi,
sistostomi maupun pungsi suprapubik), harus diikuti dengan evaluasi lanjutan dan tindakan
definitif.
Beberapa contoh kasus rujukan
Masalah / jenis penyakit Rujukan

Batu Uretra  dicoba didorong kedalam bull-bull


 dokter/ahli bedah: vesikolitotomi
 ahli urologi: litotripsi transuretral (dewasa), transvesikal (anak),
vesikolitotomi.
Strlktura uretra dengan atau
tanpa penyullt (Astulae dsb)
 ahli bedah : eksisi, uretrostomi
 ahli urologi : sachse, eksisi, uretrostomi,
Paraplegi akibat trauma  secepatnya kateterisasi intermiten
pads fase akut
 dirujuk bila terdapat indikasi untuk stabilisasi dai ruas tulang
belakang dsb
BPH  ahli bedah: prostatektomi terbuka
 ahli urologi : TUR Prostat, prostatektomi terbuka
 bila kondisi umum tak mengijinkan, jangan dirujuk, kateter
seumur hidup
Ca Prostat  ahli urologi: TUR untuk desobstruksi
 stadium terminal: sistostomi (kadang-kadang tidak efektif
karena volume buli-buli mengecil). Tak usah dirujuk
Atonla bull-bull
"Diabetic Bladder"
 "bladder training"
 ahli urologi: sistometri, "bladder training", BNI
Dis-sinergi detrusor-sfingter  ahli urologi: sistometri, endoskopi, pemeriksaan profil uretra,
BNI dsb.
"Clot-retention"  ahli bedah : evaluasi (sistostomi ?)
 ahli urologi : evakuasi, koagulasi, reseksi

Kerobekan Uretra  dirujuk bila hemodinamik sudah stabil: bila disertai kontusio
serebri, dirujuk setelah GCS membaik dan stabil

Tips
Bila merujuk hendaknya penderita dan keluarga diberi informasi yang jelas mengenai langkah-
langkah evaluasi maupun definitif yang akan dilakukan sehingga yang bersangkutan dapat
mempersiapkan diri baik fisik mental maupun dari segi sosioekonomi.

KESIMPULAN

 Untuk mendeteksi retensi urin tidaklah sulit. Diperlukan perhatian dan kewaspadaan dari
dokter maupun perawat yang bersangkutan.
 Untuk menangani retensi urin tidak dibutuhkan keahlian maupun ketrampilan khusus.
Diperlukan pemahaman akan syarat-syarat dan tekniknya serta cara-cara merawatnya.
 Di informasikan pula mekanisme rujukan.
 Dengan memperhatikan pitfalls dan tips, penanganan retensi urin sebagai tindakan awal akan
mengurangi penderitaan clan mencegah terjadinya penyulit yang lebih serius.