Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ILMIAH

“Pengertian, Manfaat, dan Penggunaan Diksi”

Oleh:
NAJLA NABILA (2010313019)
ADZRA FADHILA ISWAN (2010311004)
IKLIL LATIFAH (2010313026)

PEMBIMBING:
Lilimiwirdi, S.S., M.Hum

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah dengan judul “Pengertian, Manfaat, dan
Penggunaan Diksi” yang merupakan salah satu tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu
Lilimiwirdi, S.S., M.Hum. selaku pembimbing dalam penyusunan tugas ini.

Penulis sangat berharap semoga karya ilmiah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa
pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi kami sebagai penyusun merasa
bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman.Oleh karena itu, penulis memohon maaf sebesar-besarnya.
Kami juga sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan karya ilmiah ini.

Padang, 20 Oktober 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I 1
1.1.Latar Belakang 1
1.2.Batasan Masalah 1
1.3.Rumusan Masalah 1
1.4.Tujuan Makalah 1
1.5.Manfaat Makalah 1
BAB II 2
2.1. Kajian Teoretis 2
2.2. Teori Pembahasan 2
Pengertian Diksi 2
Manfaat Diksi 3
Fungsi Diksi 3
Penggunaan Diksi 3
BAB III 7
3.1 Simpulan 7
3.2 Saran 7
DAFTAR PUSTAKA 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Bahasa Indonesia dalam perkembangannya telah mengalami berbagai pasang surut.
Pemakaian kata dan struktur ejaan seiring dengan perkembangan zaman sering mengalami
kekacauan. Orang Indonesia tidak jarang yang malu untuk menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar demi mengikuti modernisasi. Sehingga banyak sekali orang yang tidak
memedulikan pentingnya penggunaan bahasa terutama dalam tata cara pemilihan kata.
Dengan tidak memedulikan cara penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, ketika
berbahasa, baik lisan maupun tulisan, sering mengalami kesalahan dalam penggunaan dan
pemilihan kata, frasa, paragraf, dan wacana.

Agar tercipta suatu komunikasi yang efektif dan efisien, pemahaman tentang
penggunaan diksi atau pemilihan kata sangat penting, bahkan vital, terutama untuk
menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Kata sebagai unsur bahasa, tidak dapat
dipergunakan sewenang-wenang, tetapi kata-kata tersebut harus digunakan dengan mengikuti
kaidah-kaidah yang benar.

Diksi merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi.


Diksi bukan hanya soal memilih kata, melainkan mencakup bagaimana efek dari kata tersebut
terhadap makna dan informasi yang ingin disampaikan. Dengan demikian, diksi yang dipilih
dan digunakan untuk berkomunikasi harus dipahami dalam konteks alinea dan wacana.

1.2.Batasan Masalah
Mengingat luasnya pembahasan yang bisa ditemukan dalam permasalahan ini, maka
perlu adanya batasan-batasan masalah yang jelas mengenai apa yang dibuat dan diselesaikan
dalam makalah ini. Dengan demikian, makalah ini dibatasi untuk membahas tentang
pengertian, manfaat, dan penggunaan diksi.

1.3.Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari diksi?
2. Apa manfaat dari diksi?
3. Bagaimana cara penggunaan diksi?

1.4.Tujuan Makalah
1. Mendeskripsikan pengertian dari diksi.
2. Mendeskripsikan manfaat dari diksi
3. Mendeskripsikan cara penggunaan diksi.

1.5.Manfaat Makalah
Manfaat dibuatnya makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui penggunaan
diksi yang baik dan benar dalam pengolahan kata, serta ketepatan diksi dalam menyampaikan
suatu gagasan.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kajian Teoretis
Pilihan kata atau diksi pada dasarnya merupakan hasil dari upaya memilih kata
tertentu untuk dipakai dalam suatu tuturan bahasa. Pemilihan kata dilakukan apabila tersedia
sejumlah kata yang artinya hampir sama atau bermiripan. Dari senarai kata itu dipilih satu
kata yang paling tepat untuk mengungkapan suatu pengertian.
Pemakaian kata bukanlah sekadar memilih kata yang tepat, melainkan juga kata yang
cocok. Cocok dalam hal ini berarti sesuai dengan konteks di mana kita berada, dan maknanya
tidak bertentangan dengan nilai rasa masyarakat pemakainya. Sebagai contoh, kata mati
bersinonim dengan mampus, meninggal, wafat, mangkat, tewas, gugur, berpulang, kembali
ke haribaan, Tuhan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kata-kata tersebut tidak dapat bebas
digunakan. Mengapa? Ada nilai rasa nuansa makna yang membedakannya. Kita tidak akan
mengatakan Kucing kesayanganku wafat tadi malam. Sebaliknya, kurang tepat pula jika kita
mengatakan Menteri Fulan mati tadi malam.
Dalam uraian di atas ada tiga hal yang dapat kita petik. Pertama, kemahiran memilih
kata hanya dimungkinkan bila seseorang menguasai kosakata yang cukup luas. Kedua, diksi
atau pilihan kata mengandung pengertian upaya atau kemampuan membedakan secara tepat
kata-kata yang memiliki nuansa makna serumpun. Ketiga, diksi atau pilihan kata menyangkut
kemampuan untuk memilih kata-kata yang tepat dan cocok untuk situasi tertentu.

2.2. Teori Pembahasan


A. Pengertian Diksi
Keterbatasan kosakata yang dimiliki seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat
membuat seseorang tersebut mengalami kesulitan mengungkapkan maksudnya kepada orang
lain. Sebaliknya, jika seseorang terlalu berlebihan dalam menggunakan kosa kata, dapat
mempersulit diterima dan dipahaminya maksud dari isi pesan yang hendak disampaikan.
Oleh karena itu, seseorang harus mengetahui dan memahami bagaimana pemakaian kata
dalam komunikasi. Salah satu yang harus dikuasai adalah diksi atau pilihan kata.
Menurut Enre, diksi atau pilihan kata adalah penggunaan kata-kata secara tepat untuk
mewakili pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam pola suatu kalimat. Pendapat lain
dikemukakan oleh Widyamartaya yang menjelaskan bahwa diksi atau pilihan kata adalah
kemampuan seseorang membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan
gagasan yang ingin disampaikannya, dan kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan
situasi dan nilai rasa yang dimiliki sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca.
Diksi atau pilihan kata selalu mengandung ketepatan makna dan kesesuaian situasi dan nilai
rasa yang ada pada pembaca atau pendengar.
Pendapat lain dikemukakan oleh Keraf yang menurunkan tiga kesimpulan utama
mengenai diksi, antara lain sebagai berikut:
a. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai
untuk menyampaikan gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata
yang tepat.
b. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat
nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan

2
menemukan bentuk yang sesuai atau cocok dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki
kelompok masyarakat pendengar.
c. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan penguasaan
sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan dan
pemakaian kata oleh pengarang dengan mempertimbangkan aspek makna kata yaitu makna
denotatif dan makna konotatif sebab sebuah kata dapat menimbulkan berbagai pengertian.

B. Manfaat Diksi
Manfaat diksi yaitu supaya pembaca atau pendengar tersebut bisa membedakan
dengan secara baik terhadap kata-kata denotatif, konotatif, sinonim, antonim, serta juga kata
yang hampir mempunyai ejaan yang mirip. Sedangkan untuk atau bagi penulis, diksi tersebut
bermanfaat supaya penulis dapat membedakan kata-kata yang di tulisnya sendiri serta kata-
kata yang dikutipnya dari orang lain.

C. Fungsi Diksi
Mengacu pada pengertian diksi di atas, fungsi diksi adalah agar pemilihan kata dan
cara penyampaiannya dapat dilakukan dengan tepat sehingga orang lain mengerti mengenai
maksud yang disampaikan.
Diksi juga berfungsi untuk memperindah suatu kalimat. Misalnya diksi dalam suatu
cerita, dengan diksi yang baik maka penyampaian cerita dapat dilakukan secara runtut,
menjelaskan tokoh-tokoh, mendeskripsikan latar dan waktu, dan lain sebagainya.
Secara umum, berikut ini adalah fungsi diksi, yakni :
1. Membantu audiens/ pembaca mengerti apa yang disampaikan penulis atau pembicara.
2. Menciptakan aktivitas komunikasi yang lebih efektif dan efisien.
3. Menyampaikan gagasan atau ide dengan tepat.
4. Menjadi lambang ekspresi yang ada pada suatu gagasan.

D. Penggunaan Diksi
Di atas sudah disebutkan bahwa kemahiran memilih kata terkait erat dengan
penguasaan kosakata. Seseorang yang menguasai kosakata, selain mengetahui makna kata, ia
juga harus memahami perubahan makna. Di samping itu, agar dapat menjadi pemilih kata
yang akurat, seseorang harus menguasai sejumlah persyaratan lagi. Berikut ini adalah rincian
syarat ketepatan kata.

a) Dapat membedakan antara denotasi dan konotasi.


Kata denotatif atau biasa disebut makna leksikal adalah makna kata secara
lepas tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah struktur atau kata denotatif
berhubungan dengan konsep denotatif, sedangkan kata yang konotatif berhubungan
dengan konsep konotasi. Denotasi adalah konsep dasar yang didukung oleh kata,
sedangkan nilai rasa atau gambaran tambahan yang ada di samping denotasi disebut
konotasi.

3
Kata yang denotatif mengandung makna yang sebenarnya, makna kata yang
sesuai dengan konsepnya sehingga disebut juga makna konseptual, makna yang sesuai
dengan makna kata dalam kamus atau makna leksikal. Kata yang konotatif
mengandung makna tambahan yang sesuai dengan sikap dan nilai rasa tertentu
pengguna bahasa bersangkutan. Kata konotatif biasa juga disebut makna gramatikal
atau makna struktural, yaitu makna yang timbul bergantung pada struktur tertentu
sesuai dengan konteks dan situasi di mana kata itu berada.
Contoh :
(1) Toko itu dilayani gadis-gadis cantik.
(2) toko itu dilayani dara-dara cantik
(3) toko itu dilayani perawan- perawan cantik.
Kata-kata gadis, dara, perawan secara denotatif maknanya sama, yaitu wanita
atau wanita muda yang belum kawin, tetapi secara konotatif maknanya berbeda.
Gadis mengandung makna umum, dara mengandung makna yang bersifat puitis, dan
perawan mengandung makna asosiasi tertentu. Demikian pula kata-kata kelompok,
rombongan, dan gerombolan secara denotatif bermakna kumpulan benda atau orang,
tetapi secara konotatif dibedakan maknanya, yaitu kelompok dan rombongan berada
dalam makna positif, sedangkan gerombolan dipahami dalam hubungan makna
negatif.
Contoh :
(4) Kelompok anak muda itu sedang asyik bermain musik.
(5) Ketua rombongan turis yang baru tiba dikalungi untaian bunga
(6) Gerombolan pengacau tersebut telah ditumpas habis.
Membahas suatu masalah yang bersifat ilmiah sebaiknya digunakan kata-kata
yang denotatif. Kata-kata atau istilah harus bebas dari konotasi, sedangkan pada karya
sastra lebih banyak digunakan kata-kata yang konotatif sebagai upaya merakit
keindahan. Dalam kaitan makna kata terdapat beragam konotasi sosial, yaitu ada yang
bersifat positif dan negatif, tinggi, rendah, sopan, dan porno, atau yang sakral.
Misalnya, kata-kata karyawan, asisten, wisma, hamil, dan berpulang dianggap positif,
baik, sopan, dan modern jika dibandingkan dengan kata-kata buruh, pembantu,
pondok, bunting, dan mati yang dianggap negatif, kurang baik, kasar dan kuno. Agar
dapat menyatakan gagasan dengan tepat, seseorang pembicara atau penulis harus
dapat pula memilih kata-kata dengan konotasi yang tepat. Kata konotasi adalah kata-
kata yang mengalami pergeseran dari makna kata leksikal.

b) Dapat membedakan kata-kata yang hampir bersinonim.


Contoh:
1. Siapa pengubah peraturan yang memberatkan pengusaha?
2. Pembebasan bea masuk untuk jenis barang tertentu adalah peubah
peraturan yang selama ini memberatkan pengusaha.
menurut KBBI :
- Pe·u·bah: 1 simbol yang digunakan untuk menyatakan unsur yang tidak tentu
dalam suatu himpunan; 2 besaran yang bervariasi atau besaran yang dapat

4
mengambil salah satu dari suatu himpunan nilai tertentu (dalam matematika);
variabel.
- Peng·u·bah: orang atau sesuatu yang mengubah.
c) Dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip.
Kata-kata yang tergolong kata mirip adalah kata-kata yang tampak mirip dari
segi bentuknya atau kata-kata yang rasanya mirip dari segi maknanya. Kata suatu dan
sesuatu, sedang dan sedangkan termasuk kata-kata memunyai kemiripan bentuk,
sedangkan kata-kata seperti tiap-tiap dan masing-masing, jam dan pukul, dari dan
daripada termasuk kata yang memunyai kemiripan makna. Kata-kata tersebut sering
dikacaukan penggunaannya sehingga melahirkan kalimat yang tidak tepat, tidak baku,
dan tidak efektif.

Contoh:
intensif-insentif
interferensi-inferensi
karton-kartun
preposisi-proposisi
korporasi-koprasi

d) Dapat memahami dengan tepat makna kata-kata abstrak.


Kata abstrak adalah kata-kata yang berupa konsep. Kata-kata abstrak dalam
bahasa Indonesia pada umumnya adalah kata-kata bentukan dengan konfiks peng-/
-an dan ke-/ -an, seperti pada kata-kata perdamaian, penyesalan, kecerdasan
ketahanan nasional, di samping kata-kata seperti demokrasi dan aspirasi.
Contoh:
keadilan, kebahagiaan, keluhuran,
kebajikan, kebijakan, kebijaksanaan
e) Dapat memakai kata penghubung yang berpasangan secara tepat

Pasangan yang salah Pasangan yang benar

antara ... dengan ... antara ... dan ...

tidak ... melainkan ... tidak ... tetapi ...

baik ... ataupun ... baik ... maupun ...

bukan ... tetapi ... bukan ... melainkan ...

Contoh pemakaian kata penghubung yang salah:


- Antara hak dengan kewajiban pegawai haruslah berimbang.
- Korban PHK itu tidak menuntut bonus, melainkan pesangon.
- Baik dosen ataupun mahasiswa ikut memperjuangkan reformasi.
- Bukan aku yang tidak mau, tetapi dia yang tidak suka.
Contoh pemakaian kata penghubung yang benar:

5
- Antara hak dan kewajiban pegawai haruslah berimbang.
- Korban PHK itu tidak menuntut bonus, tetapi pesangon.
- Baik dosen maupun mahasiswa ikut memperjuangkan reformasi.
- Bukan aku yang tidak mau, melainkan dia yang tidak suka.

f) Dapat membedakan antara kata-kata yang umum dan kata-kata yang khusus.
Kata-kata yang tergolong kata umum dibedakan dari kata-kata yang tergolong kata
khusus berdasarkan ruang lingkupnya. Makin luas ruang lingkup suatu kata makin umum
sifatnya, sebaliknya makin sempit ruang lingkupnya makin khusus sifatnya. Kata-kata umum
termasuk kata yang mempunyai hubungan luas, sedangkan kata-kata khusus mempunyai
hubungan sempit, terbatas, bahkan khusus atau unik.
Kata melihat adalah kata umum yang merujuk pada perihal ‘mengetahui sesuatu
melalui indera mata’. Kata melihat tidak hanya digunakan untuk menyatakan membuka mata
serta menunjuk objek tertentu, tetapi juga untuk mengetahui hal yang berkenaan dengan
objek tersebut. Untuk lebih jelasnya perhatikan dan bandingkan contoh berikut ini.
Contoh:
Kata umum: melihat;
Kata khusus: melotot, membelalak, melirik, mengerling, mengintai, mengintip,
memandang, menatap,memperhatikan, mengamati, mengawasi, menonton,
meneropong.

Beberapa hal yang harus diketahui setiap penulis atau pembicara, agar kata-kata yang
dipergunakan tidak akan mengganggu suasana dan tidak akan menimbulkan ketegangan
antara penulis dengan para hadirin atau pembaca. Syarat-syarat kesesuaian tersebut adalah:
1. Hindari bahasa atau unsur substandar dalam situasi yang formal.
Bahasa atau unsur substandar atau disebut juga nonstandar menurut KBBI adalah di
bawah yang baku atau lebih rendah dari yang baku atau disebut juga tidak baku.
2. Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi khusus saja. Dalam situasi umum
hendaknya menggunakan kata-kata populer.
3. Hindari jargon dalam tulisan untuk pembaca umum.
Jargon yang dimaksud adalah suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap kurang
sopan atau aneh.
4. Penulis atau pembicara sebisa mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang.
Kata-kata slang adalah kata informal yang memiliki arti kiasan yang khas dalam
percakapan.
5. Hindari ungkapan-ungkapan atau idiom yang usang.
Idiom merupakan ungkapan khas yang tidak dapat dijelaskan secara logis atau
gramatis, tetapi menambah daya tarik suatu bahasa.
6. Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial.
Bahasa artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni.
Contoh:
Artifisial : Ia mendengar kepak sayap kelelawar dan guyuran sisa hujan dan dedaunan
karena angin.
Biasa : Ia mendengar bunyi sayap kelelawar dan sisa hujan yang ditiup angin di daun.

6
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Penguasaan dalam pengolahan kata merupakan kunci utama dalam menghasilkan


tulisan yang indah, dapat dibaca serta ide yang ingin disampaikan penulis dapat dipahami
dengan baik.

Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang
ingin disampaikannya baik secara lisan maupun dengan tulisan. Pemilihan kata juga harus
sesuai dengan situasi kondisi dan tempat penggunaan kata-kata itu. Pembentukan kata atau
istilah adalah kata yang mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang khas
dalam bidang tertentu.

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa diksi mempunyai


persamaan yaitu sama-sama ingin menyampaikan sesuatu di hasil karya tulisannya dengan
maksud agar pembaca dapat memahami maksud dan tujuan penulis.

3.2 Saran

Penulis mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dalam pembuatan makalah ini
mengenai pengetahuan diksi (pilihan kata). Penulis menyarankan kepada semua pembaca
untuk mempelajari pengolahan kata dalam membuat kalimat. Dengan mempelajari diksi
diharapkan mahasiswa dan mahasiswi memiliki ketepatan dalam menyampaikan dan
menyusun suatu gagasan agar yang disampaikan mudah dipahami dengan baik.

7
DAFTAR PUSTAKA

Nurdjan, Sukiman dkk. 2016. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Makassar: Aksara
Timur.

Suyatno dkk. 2017. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi (Membangun Karakter
Mahasiswa melalui Bahasa). Bogor: In Media.

Keraf, Gorys. 2007. Diksi dan Gaya Bahasa Komposisi Lanjutan I. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.