Anda di halaman 1dari 54

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini Fenomena meningkatnya penggunaan obat tradisional di


masyarakat, menunjukkan adanya pergeseran minat masyarakat menuju konsep
‘Back To Nature’ . Tentunya masyarakat Indonesia telah menyadari akan
keanekaragaman hayati yang dimilikinya, dan mulai banyak masyarakat Indonesia
menggunakan obat tradisional. WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional
termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan
pengobatan penyakit. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan
keamanan dan khasiat dari obat herbal untuk meminimalisir efek samping dari
obat tradisional meski pun efek samping obat tradisonal relatif lebih ringan
dibandingkan dengan obat-obat kimia karena obat tradisional Hal ini dikarenakan
bahan baku ramuan tradisional sangat alami atau tidak bersifat sintetik. Meskipun
demikian, obat herbal yang baru tetap harus melewati uji klinis yang sama dengan
obat-obatan sintetik.
Penggunaan obat tradisional memiliki daya tarik tersendiri bagi
masyarakat karena selain murah juga alami dan dianggap amandibandingkan obat
sintetis yang mahal dan menyakitkan Penggunaan obat tradisional memiliki daya
tarik tersendiri bagi masyarakat karena selain murah juga alami dan dianggap
aman dibandingkan obat sintetis yang mahal dan menyakitkan .
Oleh karna itu saat ini peneliti banyak mengembangkan obat dengan dari
bahan Alam dan memanfaatkan bahan alam yang selama ini belum banyak
terexplorer di dunia industri yaitu rimpang lempuyang wangi untuk itu maka
diperlukan pengetahuan tentang pembuatan simplisia untuk selanjutnya dibuat
suatu sediaan obat
Daun suji umumnya digunakan sebagai pewarna makan saat memasak,
selain sebagai pewarna menurut literature daun suji juga dapat berkhasiat sebagai
antiinflamasi, antibakteri,antikolesterok dan lainnya berdasarkan akndungan

1
fitokia dari daun suji tersebut. Oleh sebab itu pembuatan simplisia daun sujiini
dibuat dan dilakukan pengujian fitokimianya untuk mengetahui kadungan
yangterdapat dalam tanaman ini.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Untuk mengetahui cara pembuatan simplisia yang baik
2. Untuk mengetahu kandungan fitokimiadalam simplisia daun suji
3. Untuk mengidentifikasi amilum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Daun Suji

Suji merupakan tanaman perdu yang dalam aplikasinya di kehidupan

2
sehari-hari memiliki berbagai kegunaan. Secara tradisional, tanaman suji telah
dimanfaatkan baik untuk bidang pangan, kosmetika maupun pengobatan. Di
bidang pangan, ekstrak daun suji dalam medium air telah biasa digunakan sebagai
pewarna berbagai makanan tradisional. Selain memberikan warna hijau pada
makanan, daun suji juga memberikan aroma harum yang khas, meskipun tidak
seharum daun pandan. Sedangkan pucuk-pucuk mudanya dapat dibuat sayur.
Selain sebagai pewarna pangan, daun suji dapat digunakan sebagai pewarna
kertas, minyak jarak dan minyak kelapa, ekstrak daun suji digunakan sebagai
penyubur rambut. Di bidang pengobatan, air rebusan akar tanaman suji digunakan
sebagai campuran obat sakit gonorrhoe, mengobati penyakit beri-beri dengan cara
menggosokkan kuat-kuat daun yang telah dipanaskan pada anggota tubuh
penderita, nyeri lambung dan haid, bahkan sebagai penawar racun (anti disentri).
(Lemmens,R.H.M.J. 2003 dalam prasetyo hal 6-7 : Mahfud 2013: 200-202).
2.1.1. Klasifikasi tanaman Daun Suji
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida ( Monocots )
Anak kelas : Zingiberidae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Agavaceae
Jenis : Dracaena angustifolia
Sinonim : Pleomele angustifolia (Roxb.)

N.E.Br
Nama Daerah : Suji (Sunda), Semar

(Jawa), Pendusta utan (Ambon).

Di setiap daerah di Indonesia, tanaman suji mempunyai nama daerah yang

berbeda antara lain jejuang bukit atau pendusta utan (Ambon); ngase kolotide (Ternate);

jingkang, hanjuwang merak atau suji (Jawa Barat); semar (Jawa Tengah dan Jawa

3
Timur); kopoi (ponos), popopok im bolai, rereindeng im bolai, tawaang im bolai

(Minahasa). 2.1.2 Morfologi Tanaman


Tanaman Suji termasuk tumbuhan berbatang basah (herba) yang tumbuh

tegak.Diskripsi atau susunan tubuh tanaman Suji terdiri atas akar, batang, daun, bunga,

dan buah (Rukmana, 1995).


a. Akar
Tanaman suji mempunyai akar yang berupa akar tunggang dan berwarna

putih
b. Batang
Tanaman suji adalah tanaman perdu yang tumbuh tegak atau pohon kecil

dengan tinggi yang mencapai 6 sampai 8 meter. Batang tanaman suji berkayu dan

beralur melintang serta warnanya putih kotor. (Depkes RI,1989 hal 402, Suseno hal

201).
c. Daun
Tanaman suji memiliki daun yang berbentuk seperti pita atau lanset dengan

ujungnya sangat meruncing. Daun suji ini adalah daun tunggal yang letaknya selang

seling dan bagian tepi daun merata.. Pangkal daun memeluk batang dan panjang

daunnya sekitar 16 sampai 20 cm dengan lebar 3 sampai 4 cm. Pertulangan daun suji

sejajar dan warna daun hijau tua. Daun tanaman suji berbentuk lancet-garis, agak

kaku, berwarna hijau gelap, meruncing atau sangat runcing dengan panjang 10

sampai 25 cm dan lebar 0,9 sampai 1,5 cm. ((Backer 1962 hal 161, Heyne 1987 hal

175-177).
d. Bunga
Tanaman suji mempunyai jenis bunga termasuk bunga majemuk, berbentuk

malai dengan banyak bunga yang panjangnya 8 sampai 30 cm. Pada tiap kelopak

terdapat 1-4 bunga, tangkai bunga pendek (2,5-2,7 cm). Mahkota bunga berwarna

putih kekuningan, dan kalau malam hari berbau harum. (Backer 1962 hal 161, Heyne

1987 hal 175-177).


e. Buah dan Biji

4
Buah suji berbentuk membulat dengan 3 cuping dan berdiameter 1,5 sampai

2,5 cm. Buah ini berwarna hijau hingga jingga terang dan memiliki biji yang

berbentuk bulat dan berwarna putih bening. (Depkes RI,1989 hal 402, Suseno hal

201).
2.1.3 Penyebaran
Penyebaran tanaman ini meliputi kawasan India, Birma (Myanmar), Indo- Cina,

Cina bagian selatan, Thailand, Jawa, Filipina, Sulawesi, Maluku, New Guinea dan

Australia bagian utara.Suji akan tumbuh subur hingga ketinggian 1000 meter di atas

permukaan laut, dan menyukai daerah pegunungan atau dekat aliran air sungai kecil.

Tanaman ini sudah banyak ditanam di pekarangan rumah penduduk dengan potongan

rimpangnya atau ditanam sebagai pagar hidup, namun belum ditanam dalam skala besar

atau perkebunan (Suseno, 2013 hal 201, widyaningrum, 2011 hal 1069).
2.1.4 Kandungan Yang terdapat dalam daun Suji
Daun suji memiliki kandungan kimia alkaloid, saponin, flavonoid, tannin,

polifenol klorofil a dan b. Klorofil a termasuk dalam pigmen yang disebut porfirin,

hemoglobin juga termasuk di dalamnya. Klorofil a mengandung atom Mg yang diikat

dengan N dari 2 cincin pirol dengan ikatan kovalen serta oleh dua atom N dari dua cincin

pirol lain melalui ikatan koordinat yaitu N dari pirol yang menyumbangkan pasangan

elektronnya pada Mg. Dalam proses pengolahan pangan, perubahan yang paling umum

terjadi ialah penggantian atom magnesium dengan atom hidrogen yang membentuk

feofitin ditandai dengan perubahan warna dari hijau menjadi coklat olive yang suram.

Klorofil bersifat peka terhadap cahaya, suhu dan oksigen (Winarno 1991 hal 173-174).
2.1.5 Khasiat Dan Kegunaan
Daun suji berkhasiat untuk mengobati beri-beri, disentri, keputihan, galakta

gogum dan kencing nanah. Sedangkan akarnya berkhasiat untuk nyeri lambung, penawar

racun dan kencing nanah (Widyaningrum, 2011 hal 1026, Mahfud, 2013 hal 201-202).

Daun suji banyak digunakan sebagai pewarna makanan dan memberikan aroma harum

pada makanan. Daun suji juga berkhasiat untuk mengobati beri-beri, disentri, keputihan

dan lain sebagainya( Purwaningtyas, Tanpa tahun). Daun suji memiliki aktivitas

5
antibakteri terhadap S. mutans (Zulfa. Tanpa tahun). Daun suji (Dracaena angustifolia

Roxb.) mempunyai aktivitas sebagai penurun kolesterol secara in-vitro dengan nilai

EC50 yaitu 632,50 ppm.( Anggraini, 2018). Tanaman Suji (Dracaena angustifolia Roxb.)

telah digunakan secara empiris oleh masyarakat Sulawesi Utara untuk menyembuhkan

penyakit. Flavonoid dan steroid dalam daun suji diduga memiliki efek antiinflamasi

(Narande, 2013).
Manfaat Umum Daun Suji
1. Pewarna hijau pada makanan, seperti pada kue-kue tradisional dan es cendol.
2. Memberikan aroma yang khas pada makanan.
3. Daunnya berkhasiat untuk mengobati sakit kepala dan mengatasi beri-beri.
4. Getah daunnya dapat digunakan untuk menebalkan rambut, dan daunnya

digunakan sebagai zat warna untuk mengecat


5. Pucuk tanamannya dapat dimakan sebagai sayuran
6. Sebagai tanaman hias dan tanaman pagar.
2.2 Simplisia

2.2.1 Pengertian Simplisia


Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat ini sudah lama dimiliki oleh

nenek moyang kita dan hingga saat ini telah banyak yang terbukti secara ilmiah. Dan

Pemanfaatan tanaman obat Indonesia akan terus meningkat mengingat kuatnya

keterkaitan bangsa Indonesia terhadap tradisi kebudayaan memakai jamu. Bagian-

bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat yang disebut simplisia. Istilah

simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang masih berada dalam

wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk (Gunawan, 2010).


Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang

digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan

lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 60 0C (Ditjen POM, 2008).
Simplisia merupakan bahan awal pembuatan sediaan herbal. Mutu sediaan

herbal sangat dipengaruhi oleh mutu simplisia yang digunakan. Oleh karena itu,

sumber simplisia, cara pengolahan, dan penyimpanan harus dapat dilakukan dengan

cara yang baik. Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai bahan sediaan

6
herbal yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain

simplisia merupakan bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 2005).


2.2.2 Penggolongan Simplisia
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
a. Simplisia nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian

tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel yang secara

spontan keluar dari tumbuhan atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau

zat nabati lain yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya (Ditjen POM,

1995).
b. Simplisia hewani
Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang

dihasilkan oleh hewan. Contohnya adalah minyak ikan dan madu (Gunawan, 2010).
c. Simplisia pelikan atau mineral
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau

mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana. Contohnya serbuk

seng dan serbuk tembaga (Gunawan, 2010).


2.2.3 Faktor-faktor Penentu Kualitas Simplisia
Menurut Gunawan (2010), kualitas simplisia dipengaruhi oleh dua faktor antara

lain sebagai berikut:


a. Bahan Baku Simplisia
Berdasarkan bahan bakunya, simplisia bisa diperoleh dari tanaman liar dan atau

dari tanaman yang dibudidayakan. Tumbuhan liar umumnya kurang baik untuk dijadikan

bahan simplisia jika dibandingkan dengan hasil budidaya, karena simplisia yang

dihasilkan mutunya tidak seragam.


b. Proses Pembuatan Simplisia
Dasar pembuatan simplisia meliputi beberapa tahapan, yaitu:
1) Pengumpulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda yang tergantung pada

7
beberapa faktor, antara lain: bagian tumbuhan yang digunakan, umurtumbuhan atau

bagian tumbuhan pada saat panen, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh. Waktu

panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian

tumbuhan yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tumbuhan

tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Senyawa aktif akan

terbentuk secara maksimal di dalam bagian tumbuhan atau tumbuhan pada umur tertentu.

Berdasarkan garis besar pedoman panen, pengambilan bahan baku tanaman dilakukan

sebagai berikut:
a) Biji : Pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai mengeringnya buah atau

sebelum semuanya pecah.


b) Buah :Panen buah bisa dilakukan saat menjelang masak (misalnya Piper

nigrum), setelah benar-benar masak (misalnya adas), atau dengan cara melihat

perubahan warna/ bentuk dari buah yang bersangkutan (misalnya jeruk, asam,

dan pepaya).
c) Bunga : Panen dapat dilakukan saat menjelang penyerbukan, saat bunga masih

kuncup (seperti pada Jasminum sambac, melati), atau saat bunga sudah mulai

mekar (misalnya Rosa sinensis, mawar).


d) Daun atau herba : Panen daun atau herba dilakukan pada saat proses fotosintesis

berlangsung maksimal, yaitu ditandai dengan saat-saat tanaman mulai berbunga

atau buah mulai masak. Untuk mengambil pucuk daun, dianjurkan dipungut pada

saat warna pucuk daun berubah menjadi daun tua.


e) Kulit batang : Tumbuhan yang pada saat panen diambil kulit batang,

pengambilan dilakukan pada saat tumbuhan telah cukup umur. Agar pada saat

pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan, sebaiknya dilakukan pada musim

yang menguntungkan pertumbuhan antara lain menjelang musim kemarau.


f) Umbi lapis : Panen umbi dilakukan pada saat umbi mencapai besar maksimum

dan pertumbuhan pada bagian di atas berhenti. Misalnya bawang merah (Allium

cepa).
g) Rimpang : Pengambilan rimpang dilakukan pada saat musim kering dengan

8
tanda-tanda mengeringnya bagian atas tumbuhan. Dalam keadaan ini rimpang

dalam keadaan besar maksimum.


h) Akar : Panen akar dilakukan pada saat proses pertumbuhan berhenti atau tanaman

sudah cukup umur. Panen yang dilakukan terhadap akar umumnya akan

mematikan tanaman yang bersangkutan.


2) Sortasi basah
Sortasi basah adalah pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi

dilakukan terhadap:
− Tanah atau kerikil,
− Rumput-rumputan
− Bahan tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan, dan
− Bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat atau sebagainya).
3) Pencucian
Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat,

terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar

peptisida. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah mikroba

awal simplisia. Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah

mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada

permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri yang

umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter,

dan Escherichia.
4) Pengubahan bentuk
Beberapa jenis bahan baku atau simplisia seringkali harus diubah menjadi bentuk

lain, misalnya irisan, potongan, dan serutan untuk memudahkan kegiatan pengeringan,

penggilingan, pengemasan, penyimpanan dan pengolahan selanjutnya. Selain itu, proses

ini bertujuan untuk memperbaiki penampilan fisik dan memenuhi standar kualitas

(terutama keseragaman ukuran) serta meningkatkan kepraktisan dan ketahanan dalam

penyimpanan. Pengubahan bentuk harus dilakukan secara tepat dan hati-hati agar tidak

menurunkan kualitas simplisia yang diperoleh.

9
Simplisia yang mengalami perubahan bentuk hanya terbatas pada simplisia akar,

rimpang, umbi, batang, kayu, kulit batang, daun dan bunga. Perajangan bisa dilakukan

dengan pisau yang terbuat dari stainless steel ataupun alat perajang khusus untuk

menghasilkan rajangan yang seragam. Sedangkan untuk menghasilkan simplisia serutan

dapat digunakan alat penyerut kayu (elektrik) yang dapat diatur ukuran ketebalannya.
Semakin tipis ukuran hasil rajangan atau serutan, maka akan semakin cepat

proses penguapan air sehingga waktu pengeringannya menjadi lebih cepat. Namun

ukuran hasil rajangan yang terlalu tipis dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya

senyawa aktif yang mudah menguap, sehingga mempengaruhi komposisi, bau, dan rasa

yang diinginkan. Oleh karena itu, untuk bahan simplisia berupa rimpang seperti jahe,

temulawak, kunyit dan sejenisnya harus dihindari perajangan yang terlalu tipis agar dapat

mencegah berkurangnya minyak atsiri. Selain itu, perajangan yang terlalu tipis juga

menyebabkan simplisia mudah rusak saat dilakukan pengeringan dan pengemasan.

Ukuran ketebalan simplisia harus seragam tergantung pada bagian tumbuhan yang diiris.

Ketebalan irisan simplisia rimpang, umbi, dan akar ± 3 mm, sedangkan untuk bahan baku

berupa daun dipotong melintang dengan lebar daun ± 2 cm, dan kulit batang diiris dengan

ukuran 2 x 2 cm. pada umumnya rimpang diiris melintang, kecuali rimpang jahe, kunyit,

dan kencur dipotong membujur.


5) Pengeringan
Proses pengeringan simplisia, terutama bertujuan sebagai berikut:
− Menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan

bakteri.
− Menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat

aktif .
− Memudahkan dalam hal pengolahan proses selanjutnya (ringkas, mudah disimpan,

tahan lama, dan sebagainya).


6) Sortasi kering
Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan.

Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong atau bahan yang rusak.

10
7) Pengepakan dan penyimpanan
Pengepakan atau pengemasan simplisia sangat berpengaruh terhadap mutu terkait

dengan proses pengangkutan (distribusi) dan penyimpanan simplisia. Kegiatan ini

bertujuan untuk melindungi simplisia saat pengangkutan, distribusi, dan penyimpanan

dari gangguan luar, seperti suhu, kelembapan, cahaya, pencemaran mikroba, dan adanya

serangga atau hewan lainnya. Bahan pengemas harus kedap air dan udara, serta dapat

melindungi simplisia dari berbagai gangguan. Untuk jenis simplisia tertentu dapat

disimpan dalam kain katun atau karung yang terbuat dari bahan plastik, jerami, atau goni.

Guci porselin dan botol kaca biasanya digunakan untuk menyimpan simplisia berbentuk

cairan. Simplisia daun dan herba umumnya ditekan terlebih dahulu untuk mempermudah

pengemasan dan pengangkutan. Setelah dipadatkan, dapat dilakukan pengemasan

menggunakan karung plastik yang dijahit pada tiap sisinya. Pada setiap kemasan dapat

ditambahkan silika gel yang dibungkus dengan tujuan untuk menyerap air dan menjaga

kondisi kemasan agar tidak lembap. Berikut ini adalah persyaratan bahan pengemas,

antara lain:
1. Bersifat inert (netral), yaitu tidak bereaksi dengan simplisia yang dpat berakibat

terjadinya perubahan bau, warna, rasa, kadar air, dan kandungan senyawa

aktifnya
2. Mampu mencegah terjadinya kerusakan mekanis dan fisiologis
3. Mudah digunakan, tidak terlalu berat, dan harganya relatif murah
Setelah simplisia dikemas dalam wadah atau kemasan, maka dapat dilakukan

pemberian label atau etiket. Label tersebut harus menunjukkan informasi simplisia yang

jelas, meliputi nama ilmiah tanaman obat asal bahan (lokasi budidaya), tanggal panen,

dan tanggal simpan, berat simplisia, dan status kualitas bahan.


8) Penyimpanan dan Transportasi
Simplisia yang telah dikemas dan diberi label, kemudian disimpan dalam gudang

yang telah dipersiapkan dengan berbagai pertimbangan. Tujuan penyimpanan adalah agar

simplisia tetap tersedia setiap saat bila diperlukan dan sebagai stok bila hasil panen

melebihi kebutuhan. Proses ini merupakan upaya untuk mempertahankan kualitas fisik

11
dan kestabilan kandungan senyawa aktif, sehingga tetap memenuhi persyaratan mutu

yang ditetapkan.
Selama dalam penyimpanan, simplisia dapat mengalami kerusakan maupun

penurunan mutunya karena beberapa faktor berikut:


1. Cahaya, Sinar dengan panjang gelombang tertentu dapat mempengaruhi mutu

simplisia secara fisik dan kimiawi, misalnya akibat terjadinya proses isomerasi

dan polimerasi
2. Reaksi kimiawi internal, Terjadinya perubahan kimia simplisia karena proses

fermentasi, polimerisasi, dan autooksidasi


3. Oksidasi, Oksigen dari udara dapat menyebabkan terjadinya oksidasi pada

senyawa aktif dalam simplisia sehingga kualitasnya menurun


4. Dehidrasi, Bila kelembapan di luar lebih rendah daripada di dalam simplisia,

maka akan terjadi proses kehilangan air yang disebut shrinkage


5. Absorpsi air, Simplisia yang bersifat higroskopis dapat menyerap air dari

lingkunga sekitarnya
6. Kontaminasi, Sumber kontaminan utama berupa debu, pasir, kotoran, dan bahan

asing (tumpahan minyak, organ binatang, dan fragmen wadah)


7. Serangga, Serangga dapat menimbulkan kerusakan dan mengotori simplisia

dalam bentuk larva, imago, dan sisa-sisa metamorfosis (kulit telur, kerangka yang

telah usang, dan lain-lain)


8. Kapang, Bila kadar air simplisia masih tinggi, maka akan mudah ditumbuhi

kapang, jamur, ragi,


9. dan jasad renik lain yang dapat menguraikan senyawa aktif atau menghasilkan

aflatoksin yang membahayakan konsumen


Oleh karena itu, perlu perhatian khusus terhadap wadah dan gudang penyimpanan

simplisia, suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan lain-lain selama penyimpanan. Lama

penyimpanan setiap jenis bahan berbeda-beda sehingga perlu diperhatikan pula agar mutu

simplisia dapat dijamin. Cara penyimpanan simplisia harus memenuhi kaidah first in first

out, yaitu simplisia yang disimpan lebih awal harus digunakan terlebih dahulu. Simplisia

12
dapat disimpan di tempat dengan suhu kamar (15-30 °C), tempat sejuk (5-15 °C), atau

tempat dingn (0-5 °C), tergantung pada sifat dan ketahanan simplisia.
Dengan melakukan pengelolaan pasca panen secara tepat, diharapkan dapat

menjaga mutu simplisia yang dihasilkan. Secara umum, pengelolaan pasca panen

tanaman obat dapat:


1. Mencegah terjadinya perubahan fisiologis bahan
2. Mencegah timbulnya gengguan mikroba patogen
3. Mencegah kerusakan penyimpanan akibat gangguan hama
Mengurangi kehilangan atau kerusakan fisik akibat proses panen dan pengangkutan
2.2.4 Serbuk Simplisia Nabati
Serbuk simplisia nabati adalah bentuk serbuk dari simplisia nabati, dengan

ukuran derajat kehalusan tertentu. Sesuai dengan derajat kehalusannya, dapat berupa

serbuk sangat kasar, kasar, agak kasar, halus, dan sangat halus. Serbuk simplisia nabati

tidak boleh mengandung fragmen jaringan dan benda asing yang bukan merupakan

komponen asli dari simplisia yang bersangkutan antara lain telur nematoda, bagian dari

serangga dan hama serta sisa tanah (Ditjen POM, 1995).


Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan. Pada

pembuatan serbuk kasar, terutama simplisia nabati, digerus lebih dulu sampai derajat

halus tertentu setelah itu dikeringkan pada suhu tidak lebih dari 600C (Anief, 2007).
Untuk simplisia nabati tidak boleh menggunakan bagian pertama yang terayak,

tetapi harus terayak habis dan dicampur homogen, karena zat berkhasiat tidak terbagi rata

pada semua bagian simplisia. Sebagai contoh daun kering yang digerus halus dan diayak

maka muka daun yang terayak dulu, setelah itu baru urat daun dapat terayak (Anief,

2007).
2.3 Pengujian Simplisia Nabati
2.3.1 Uji Organoleptis
Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada

prosespengindraan. Pengindraan diartikan sebagai suatu proses fisio-psikologis,

yaitukesadaran.

13
2.3.2 Uji makroskopik
Makroskopik merupakan pengujian yang dilakukan dengan mata telanjang atau

dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman yang digunakan untuk

simplisia.
2.3.3 Uji mikroskopik
Pengujian mikroskopis, yaitu pengujian yang dilakukan dengan menggunakan

mikroskop dengan pembesaran tertentu yang disesuaikan dengan keperluan simplisia

yang diuji dapat berupa sayatan melintang, membujur atau berupa serbuk. Fungsinya

untuk mengetahui unsur-unsur anatomi jaringan yang khas dari simplisia.


2.3.4 Pengujian Fitokimia
Fitokimia merupakan ilmu pengetahuan yang menguraikan aspek kimia suatu

tanaman, kajian fitokimia meliputi uraian yang mencakup aneka ragam senyawa organik

yang dibentuk dan disimpan oleh organisme, yaitu struktur kimianya, biosintesisnya,

perubahan serta metabolismenya, penyebarabbya secara alamiah dan fungsi biologisnya,

isolasi dan perbandingan komposisi senyawa kimia dari bermacam-macam jenis tanaman

(Putranti, 2013).
Skrning fitokimia adalah pemeriksaan senyawa-senyawa kimia secara kualitatif

yang aktif secara biologis yang terdapat dalam simplisia tumbuhan. Beberapa studi

terhadap manusia dan hewan yang menjelaskan kombinasi fitokimia yang di dalam tubuh

manusia dan hewan memiliki fungsi tentu yang berguna bagi kesehatan. Kombinasi

tersebut antara lain menghasilkan enzim-enzim sebagai penangkal racun, merangsang

sistem pertahanan tubuh, mencegah penggumpalan keping-keping darah, menghambat

sistem kolestrol dihati, meningkatkan metabolisme hormon dan menimbulkan efek anti

bakteri (Wardana, 2016).


Uji fitokimia merupakan salah satu langkah penting dalam upaya mengungkap

upaya potensi sumber daya tumbuhan (Hidajati, dkk., 2016). Menurut Robinson (1991,

dalam Wardana, 2016:25) alasan lain melakukan fitokimia adalah untuk menentukan ciri

senyawa aktif penyebab efek racun atau efek yang bermanfaat yang ditunjukkan oleh efek

tumbuhan kasar bila diuji dengan sistem biologis.

14
Analisis fitokimia adalah bagian dari ilmu farmakognosis yang mempelajari

metode atau cara analisis kandungan kimia yang terdapatdalam tumbuhan atau hewan

secara keseluruhan dan bagian-bagian nya termasuk cara isolasi atau pemisahanya

(Wardana, 2016). Hasil analisis fitokimia dapat memberikan petunjuk tentang keberadaan

komponen kmia (senyawa) jenis golongan alkoloid, flavonoid, fenolik, steroid, dan

triterpenoid pada tumbuhan (Hidajati, dkk., 2016).


1. Alkaloid
Alkaloid adalah sennyawa kimia taaman hasil metabolit sekunder yang

terbentuk berdasarkan prinsip pembentukan campuran (Sirait, 2007 didalam

Wardana, 2016:25). Alkaloid sekitar 5500 telah diketahui, merupakan golongan zat

tumbuhan sekunder yang terbesar. Pada umumnya alkaloid bersifat basa (adanya

gugus amino) yang mengandung atau satu lebih atau nitrogen, biasanya dalam

gabungan sebagai bagian dari siklik (Harborne, 1987).


Pada tumbuhan senyawa alkaloid terkandung dalam, akar, biji, kayu maupun

daun. Alkaloid merupakan senyawa hasil metabolisme yang digunakan tumbuhan

sebagai cadangan dalam sintesis protein. Kegunaan alkaloid bagi tumbuhan adalah

sebagai pelindung dari serangan hama, penguat tumbuhan, dan pengatur kerja

hormon (Wardana, 2016:26).

Gambar 1.1 Struktur Dasar Alkaloid


Uji skrining fitokimia dilakukan dengan menguji sampel dengan

menggunakan tiga reagen yaitu mayer, wagner, dan dragendorff. Persamaan uji

alkoloid sebagai berikut:

15
Gambar 1.2 Reaksi Uji Skrining Alkaloid. A. Reaksi Reagen Mayer, B. Reaksi

Reagen Wagner, C. Reaksi Reagen Dragendorff (Nafisah, dkk., 2014 didalam

Wardana, 2016:26).
2. Terpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonya berasal dari enam

satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C 36 asiklik, yaitu

skualena. Senyawa ini berstrukur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan berupa

alkohol, aldehida atau asam karboksilat. Triterpenoid berupa senyawa tak berguna,

berbentuk kristal, sering kali bertitik leleh tinggi dan optik aktif. Uji yang banyak

digunakan ialah reaksi lieberman-burchard (anhidrida asetat-H 2SO4 pekat) yang

dengan kebanyakan triterpena dan sterol memberikan warna hijau biru (harborne,

1987:147). Beberapa triterpen dikenal dengan rasanya terutama rasa pahit (Sirait,

2007 di dalam Wardana, 2016:27).


Tertepenoid memiliki beberapa macam senyawa seperti monoterpen dan

seskuiterpen yang mudah menguap, diterpen sukar menguap, serta triterpen yang

tidak menguap. Senyawa terpen larut dalam lemak dan terdapat pada sitoplasma sel

tumbuhan (Mailandari, 2012 di dalam Wardana, 2016:27).


3. Steroid
Steroid adalah molekul kompleks yang larut di dalam lemak dengan 4

cincin yang saling bergabung (Lehninger, 1982). Steroid terdapat dalam hampir

16
semua tipe sistem kehidupan. Dalam binatang banyak steroid bertindak sebagai

hormon. Steroid ini, demikian pula steroid sintetikdigunakan meluas sebagai bahan

obat (Fessenden dan Fessenden, 1982). Steroid atau sterol adalah triterpenena yang

kerangka dasarnya sistem cincin siklopentana perhidrofenantrena (Harborne,

1987:148). Senyawa ini biasanya diidentifikasi dengan reaksi lieberman-burchard

(anhidrat asetat-H2SO4) yang memberikan warna hijau kehitaman sampai biru

(Maliandari, 2012 di dalam Wardana, 2016).

Gambar 3.1 Struktur Dasar Steroid (Siklopentana Perhidrofenantrena)


Reaksi uji skrining steroid dan terpenoid sebagai berikut

Gambar 3.2 Reaksi Uji Skrining Dan Terpenoid (Burke et al, 1974 di dalam

Wardana, 2016:28)
4. Fenol
Istilah senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari

tumbuhan, yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu

atau dua penyulih hidroksil. Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena

umumnya mereka seringkali berikatan dengan gula sebagai glikosida, dan biasanya

terdapat dalam vakuola sel (Harborne, 1987).

17
Menurut Hart (1990:162), “ fenol mempunyai gugus yang seperti alkohol,

tetapi gugus fungsinya melekat langsung pada cincin aromatik”.


Semua senyawa fenol menunjukkan sarapan kuat di daerah spektrum UV.

Senyawa fenol juga menunjukkan pergeseran batokromik pada spektrumnya jika

timbah basa. Pendeteksian sederhanan senyawa fenol dilakukan dengan penambahan

larutan besi (III) klorida 1%, uji positif ditandai dengan adanya warna hijau, merah

keunguan, biru atau hitam kuat (Harborne, 1987 di dalam Wardana, 2016:29).

Gambar 4.1 Struktur Dasar Fenol


Reaksi uji skrining fenolik dengan reagen FeCl3 sebagai berikut
FeCl3 (aq) + 6 ArOH (s)  6 H+ + 3 Cl- + [Fe(OAr)6]3- (aq)
Gambar 4.2 Reaksi Uji Skrining Fenolik (Nafisah, dkk., 2014, di dalam

Wardana, 2016).
5. Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang tersebar yang

ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakn zat warna merah., ungu, biru

dan kuning yang ditemukan banyak dalam tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar

flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat padamolekul gula sebagai glikosida,

dalam bentuk campuran, serta jarang sekali dijumpaiberupa senyawa tunggal.

Flavonoid dapat digunakan sebagai obat karena mempunyai bermacam-macam

bioaktivitas seperti antiinflamasi, membantu memaksimalkan fungsi vitamin C,

mencegah kropos tulang, sebagai antibiotik, antikanker, antifertilitas, antiviral,

antidiabetes, dan diuretik (Hidajati, dkk., 2016).


Istilah “flavonoid” umumnya digunakan untuk menggambarkan senyawa

bahan alam yang memiliki krangka karbon C 6-C3-C6, atau memiliki gugus fungsi

phenylbenzopyran. Berdasarkan posisi terikatnya gugus fungsi pada cincin aromatik

18
dengan gugus benzopyrana (chromono), flafonoid dibedakan menjadi tiga kelas yaitu

flavonoid (2-phenyl benzopyrans), isoflavonoid (3-benzopyrans), dan neoflavonoids

(4-benzopyrans) (Marais, 2006 di dalam Wardana, 2016:29).

Gambar 5.1 Struktur Dasar Golongan Flavonoid (1) Flavonoid, (2) Isoflavonoid,

(3) Neoflavonoid (Marais, 2006 di dalam Wardana, 2016:29).


Idendifikasi senyawa flavonoid dengan ditambahkan mg 0,1 gram dan 2

tetes HCl pekat. Uji positif ditandai terbentuknya warna merah (Harborne,

1987).Reaksi skrining flavonoid seperti berikut:


Mg (s) + 2 HCl (aq)  MgCl2 (aq) + H2 (g)

Gambar 5.2 Reaksi Uji Flavonoid (Andersen et al., 2006 di dalam Wardana,

2016:31).
6. Saponin
Saponin merupakan senyawa aktif permukaan yang kuat dan bersifat

seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa

jika dikocok dalam air dam menghemolisis sel darah merah pada konsetrasi rendah.

Saponin terdiri dari dua jenis yaitu glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida

struktur steroid tertentu yang mempunyai rantai samping spiroketal. Kedua jenis

19
saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter (Harborne, 1987,

di dalam Wardana, 20016:32-33). Saponin banyak digunakan dalam kehidupan

sehari-hari, misal untuk bahan penyuci kain (batik) dan sebagai sampo (Hidajati,

dkk., 2016:41). Reaksi uji skrining saponin sebagai berikut:

Gambar 7.1 Reaksi Uji Skrining Saponin (Marliana, S., 2005 di dalam Wardana,

2016:33).
Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol yang telah terdeteksi dalam

lebih dari 90 genus pada tumbuhan glikosida adalah suatu kompleks antara gula

pereduksi (glikon) dan bukan gula (aglikon). banyak saponin yang mempunyai

satuan gula sampai 5 dan komponen ynag umum ialah asam glukuronat. adanya

saponin dalam tumbuhan ditunjukkan tanpa warna, sering kali bersifat optik aktif,

kebanyakan berbentuk kristal tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (misalnya

nikotina) pada suhu kamar (Harborne, 1987).


Keenam golongan metabolit sekunder tumbuhan diatas memiliki fungsi dan

manfaat masing-masing, dari semua golongan metabolit sekunder golongan fenolik

dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Kepolaran senyawa fenolik

bersifat semi-polar sehingga digunakan pelarut semi-polar seperti kloroform untuk

mengekstraknya (Wardana, 2016:33).


2.4 Pengujian Amilum
2.4.1 Amilum
Amilum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam, yaitu sebagian

besar tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian (Poedjiadi, A. 2009).

Amilum merupakan suatu senyawa organik yang tersebar luas pada kandungan tanaman.

Amilum dihasilkan dari dalam daun-daun hijau sebagai wujud penyimpanan sementara

20
dari produk fotosintesis. Amilum juga tersimpan dalam bahan makanan cadangan yang

permanen untuk tanaman, dalam biji, jari-jari teras, kulit batang, akar tanaman menahun,

dan umbi. Amilum merupakan 50-65% berat kering biji gandum dan 80% bahan kering

umbi kentang (Gunawan,2004).


Amilum terdiri dari dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer

dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20 – 28 %) dan sisanya amilopektin.


1. Amilosa : Terdiri atas 250-300 unit D-glukosa yang berikatan dengan ikatan α

1,4 glikosidik. Jadi molekulnya menyerupai rantai terbuka.


2. Amilopektin : Terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian besar mempunyai

ikatan 1,4- glikosidik dan sebagian ikatan 1,6-glikosidik. adanya ikatan 1,6-

glikosidik menyebabkan terjadinya cabang, sehingga molekul amilopektin

berbentuk rantai terbuka dan bercabang. Molekul amilopektin lebih besar dari

pada molekul amilosa karena terdiri atas lebih 1000 unit glukosa (Poedjiadi, A.

2009).
Secara umum, amilum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa) dan 80%

bagian yag tidak larut air (amilopektin). Hidrolisis amilum oleh asama mineral

menghasilkan glukosa sebagai produk akhir secara hampir kuantitatif (Gunawan, 2004).

Bentuk sederhana amilum adalah glukosa dan rumus struktur glukosa adalah C 6H11O6 dan

rumus bangun dari α- D- glukosa. Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan

menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa. Hidrolisis juga dapat dilakukan

dengan bantuan enzim amilase, dalam air ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh

pankreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amilum yang terdapat pada makanan

kita oleh enzim amilase, amilum diubah menjadi maltosa dalam bentuk β – maltosa

(Poedjiadi,A. 2009).
Amilum juga disebut dengan pati. Pati yang diperdagangkan diperoleh dari

berbagai bagian tanaman, misalnya endosperma biji tanaman gandum, jagung dan padi ;

dari umbi kentang ; umbi akar Manihot esculenta (pati tapioka); batang Metroxylon sagu

(pati sagu); dan rhizom umbi tumbuhan bersitaminodia yang meliputi Canna edulis,

Maranta arundinacea, dan Curcuma angustifolia (pati umbi larut) (Fahn, 1995).

21
Tanaman dengan kandungan amilum yang digunakan di bidang farmasi adalah

jagung (Zea mays), Padi/beras (Oryza sativa), kentang (Solanum tuberosum), ketela

rambat (Ipomoea batatas), ketela pohon (Manihot utilissima) (Gunawan, 2004).


Pada bidang farmasi, amilum terdiri dari granul-granul yang diisolasi dari Zea

mays Linne (Graminae), Triticum aesticum Linne (Graminae), dan Solanum tuberosum

Linne (Solanaceae). Granul amilum jagung berbentu polygonal, membulat atau sferoidal

dam mempunyai garis tengah 35 mm. Amilum gandum dan kentang mempunyai

komposisi yang kurang seragam, masing-masing mempunyai 2 tipe granul yang berbeda

(Gunawan, 2004).
Amilum digunakan sebagai bahan penyusun dalam serbuk dan sebagai bahan

pembantu dalam pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahan pengisi tablet, bahan

pengikat, dan bahan penghancur. Sementara suspensi amilum dapat diberikan secara oral

sebagai antidotum terhadap keracunan iodium dam amilum gliserin biasa digunakan

sebagai emolien dan sebagai basis untuk supositoria (Gunawan, 2004).


Sebagai amilum normal, penggunaanya terbatas dalam industri farmasi. Hal ini

disebabkan karakteristiknya yang tidak mendukung seperti daya alir yang kurang baik,

tidak mempunyai sifat pengikat sehingga hanya digunakan sebagai pengisi tablet bagi

bahan obat yang mempunyai daya alir baik atau sebagai musilago, bahan pengikat dalam

pembuatan tablet cara granulasi basah (Anwar, 2004).


Amilum hidroksi-etil adalah bahan yang semisintetik yang digunakan sebagai

pengencer plasma (dalam larutan 6%). Ini merupakan pengibatan tasmbahan untuk

kejutan yang disebabkan oleh pendarahan, luka terbakar, pembedahan, sepsis, dan trauma

lain. Sediaan amilum yang terdapat dalam pasaran adalah Volex® (Gunawan, 2004).
Fungsi amilum dalam dunia farmasi digunakan sebagai bahan penghancur atau

pengembang (disintegrant), yang berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan

(Syamsuni H,A. 2007).


2.4.2 Metoda Pengujian Amilum
1. Identifikasi amilum secara mikroskopis
Identifikasi amilum secara mikroskopis bertujuan agar kita lebih mengetahui

22
bentuk-bentuk yang khas dari masing-masing amilum pada sampel sehingga

kedepannya akan lebih memudahkan praktikan dalam membuat sediaan farmasi.

Dengan cara melihat dengan mikroskop bentuk yang ditunjukn pati tersebut.
2. Identifikasi Amilum secara kimiawi
Identifikasi secara kimiawi kandungan amilum bertujuan untuk

mengidentifikasi ada atau tidaknya amilum dalam sampel yakni dengan cara uji

iodine. Pada uji ini sampel yang mengandung amilum akan berubah warna menjadi

biru. Sampel terlebih dahulu dipanaskan agar amilum dapat larut sempurna dnegan

air sehinggga lebih mudah dalam pendeteksian kandungan amilum.

BAB III PEMBUATAN SIMPLISIA DAUN SUJI

Proses pembuatan simplisia terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: Pengumpulan

bahan, sortasi basah, pencucian, pengecilan ukuran/volume, pengeringan sortasi kering,

pengepakan dan penyimpanan, serta pemeriksaan kualitas. Daun suji didapatkan didaerah

cibinong dan depok.Merupakan tanaman liar jadi tidak diketahui umur jenis dan

lingkungan hidupnya dengan pasti.


1. Pengumpulan Bahan
Pada proses pengumpulan/panen, faktor yang perlu diperhatikan agar bahan

baku nabati yang diambil dapat memenuhi standar sesuai yang disyaratkan untuk

23
memperoleh simplisia yang baik adalah :Bagian yang diambil daun, daun telah

membuka sempurna dan dipilih yang mendapat sinar matahari penuh.

2. Sortasi Basah
Pemisahan Daun Suji dari daun lain/ bahan dari pencemar. Contohnya

memisahkan daun dari batangnya maupun tanaman lain yang ikut terbawa. Hal ini

dilakukan untuk membuat simplisia pure dari bahan yang sesuai tanpa ada tambahan atau

kontaminasi dari bahan lainnya.

3. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan sisa tanah atau pencemar yang

melekat dan mengurangi jumlah mikroba awal.mencuci daun Suji. Proses ini

diakukan pada air mengalir, daun digosok lembut dengan tangan dalam air mengalir

untuk menghilangkan kotoran yang menempel dibagian daun.

24
4. Perajangan,
Perajangan dilakukan untuk mempercepat pengeringan dan mempermudah

pemrosesan dan penyimpanan/pengepakan dengan merhatikan juga adanya zat yang

mudah menguap, reaksi bahan dengan alat dan jumlah mikroba tak bertambah. Pada

daun perajangan boleh tidak dikakukan karena daun merupakan bagian tanaman yang

tipis dan mudah mongering. Dalam pembuatan simplisia daun suji tidak dilakukan

perajangan, tetapi karena cuaca yang kurang bersahabat (Curah hujan tinggi) proses

pengeringan memakan waktu lebih lama yaitu ± 10 hari disarankan tetap dikakukan

perajangan dalam bembuatansimplisia folium. Hal ini dikhawatirkan daun dapat

membusuk selama proses pengeringan tanpa adanya perajangan.


5. Pengeringan
Pengeringan dilakukan dengan cepat dalam suhu tidak terlalu tinggi. Tujuan

hasil panen segera dikeringkan, yaitu untuk mengurangi kadar air agar tidak busuk

dan tidak terjadi reaksi enzimatik. Kandungan air bahan sampai <10%.Temperatur

<600C, untuk zat mudah menguap 30 0C – 400C.Cara pengeringan yang saya lakukan

adalah dengan pengeringan alamiah dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan

dengan sinar matahari langsung. Karena daun merupakan bagian tanaman yang

bersifat lunak dan mengandung senyawa aktif yang mudah menguap. Dalam

pebuatan Simplisia daun suji pengeringan membutuhkan waktu yang cukup lama ±

10 hari karena curah hujan yang tinggi

25
Dari Hasil pengeringan didapatkan hasil simplisia kering sebanyak 200 gram
% Rendemen = 200 gram/ 1000 g x 100% = 20 %
6. Sortasi kering,
Sortasi kering dilakuaka untuk memisahan zat asing yang masih

tertinggal,Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan

simplisia. Tujuan sortasi ini adalah untuk memisahkan benda-benda asing seperti

bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan kotoran lain yang masih ada dan

tertinggal pada simplisia kering.

7. Pengubahan bentuk/Penghalusan
Bertujuan untuk memperkecil dan menghaluskan daun yang sudah kering.

Simplisia kering dihaluskan dengan blender kemudian di saring dengan mesh 100.

26
Proses penghalusan dan penyaringan
8. Pengepakan
Wadah yang digunakan tidak beracum/tidak bereaksi dengan bahan,

melindungi simplisia dari dehidrasi. Penyerapan air, kehilangan zat aktif,

menghindarkan simplisia dari pencemar/kerusakan oleh serangga dan hewan lain.

untuk simplisia daun suji dibungkus dengan menggunakan plastic polyethylene yang

tertutup rapat dengan penambahan silica gel untuk menjaga kadar air dalam

simplisia.Simplisia yang telah dihaluskan dipak dalam wadah silindris bertutup.

9. Penyimpanan
Simplisia ditempatkan pada ruang yang aman dan terlindung dari matahari

langsung, untuk menghindarkan kerusakan simplisia serta pengaruh luar. Faktor yang

berpengaruh terhadap simplisia, yaitu: cahaya, oksigen, reaksi kimia intern,

penyerapan air, dehidrasi, pencemaran, pengrusakan oleh serangga/hewan lain.

27
BAB IV METODA PENGUJIAN SIMPLISIA

4.1 Pengujian Organoleptis


4.1.1 Alat dan Bahan yang digunakan
Alat yang digunakan adalah :
1. Indra Penglihatan
2. Indra Peraba
3. Indra Pengecap
Bahan yang digunakan adalah :
1. Daun suji
4.1.2 Cara Kerja
Cara Kerja Pengujian Organoleptik adalah :
1. Diambil sehelai Daun Suji, Permukaan daun suji dipegang dengan kulit tangan,

dirasakan kasar/halus permukaannya dan dicatat pada lembar pengamatan


2. Diamati dengan indra penglihatan terhadap warna dan bentuk daun suji. Dicatat

pada lembar pengamatan


3. Diambil sedikit bagian daun suji. Dirasakan rasa raun suji, ditulis pada lembar

pengamatan
4.2 Pengujian Makroskopik
4.1.1 Alat dan Bahan yang digunakan

28
Alat yang digunakan adalah :
1. Indra Penglihatan
Bahan yang digunakan adalah :
1. Simplisia daun suji
2. Daun suji Segar
4.1.2 Cara Kerja
Cara Kerja Pengujian Organoleptik adalah :
1. Diamati dengan indra penglihatan terhadap warna dan bentuk daun suji. Dicatat

pada lembar pengamatan.


2. Diamati dengan indra penglihatan terhadap warna dan bentuk simplisia daun

suji. Dicatat pada lembar pengamatan.


4.3 Pengujian Mikroskopik
4.3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah:
1. Mikroskop 4. Kaki tiga
2. Object glass 5. Kasa Asbes
3. Pembakar spirtus 6. Erlenmeyer
Bahan yang digunakan adalah :
1. Simplisia daun suji 6. Simplisia Batang Bratawali
2. Simplisia Rimpang kencur 7. Simplisia Daun Cocor Bebek
3. Simplisia Rimpang bangle 8. Simplisia Bunga Kemuning
4. Simplisia Biji Pinang 9. Simplisia Buah Ciplukan
5. Simplisia Herba Pegagan 10. SImplisia Kulit Jengkol
11.
4.3.2 Cara Kerja
Cara Kerja Pengujian Mikroskopik simplisia adalah :
1. Amilum

Dilihat dalam media air dengan pembesaran lemah (12,5 x 10) dan pembesaran

kuat (12,5 x 40).

29
2. Radix, Rhizoma

Serbuk akar secukupnya ditempatkan di atas gelas objek ditambah beberapa tetes

larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas nyala lampu spiritus (jangan smapai

mendidih). Tutup dengan gelas penutup. Setelah dingin dilihat di bawah

mikroskop dengan pembesaran lemah dan bila perlu dilihat dengan pembesaran

kuat.
3. Lignum, Cortex

Serbuk batang atau kulit batang secukupnya ditempatkan di atas gelas objek

ditambah beberapa tetes larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas nyala lampu

spiritus (jangan smapai mendidih). Tutup dengan gelas penutup. Setelah dingin

dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan bila perlu dilihat

dengan pembesaran kuat.


4. Folium, Herba

Serbuk daun secukupnya ditempatkan di atas gelas objek ditambah beberapa tetes

larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas nyala lampu spiritus (jangan smapai

mendidih). Tutup dengan gelas penutup. Setelah dingin dilihat di bawah

mikroskop dengan pembesaran lemah dan bila perlu dilihat dengan pembesaran

kuat
5. Flos, Fructus, Semen

Serbuk bunga, buah atau biji secukupnya ditempatkan di atas gelas objek

ditambah beberapa tetes larutan kloralhidrat, dihangatkan di atas nyala lampu

spiritus (jangan smapai mendidih). Tutup dengan gelas penutup. Setelah dingin

dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan bila perlu dilihat

dengan pembesaran kuat.


4.4 Uji Fitokimia
4.4.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah :
1. Tabung reaksi 3. Corong
2. Beaker glass 100 ml 4. Kertas Saring

30
5. Penangas air 10. Cawan Penguapan
6. Pipet tetes 11. Timbangan analitik
7. Pembakar spirtus 12. Gelas ukur 10 ml
8. Kasa asbes 13. Pipet Ukur 5 ml
9. Kaki tiga
Bahan yang Digunakan adalah :
1. Simplisia Halus daun suji 8. Asam Klorida pekat
2. Kloroform 9. Logam Mg
3. Amoniak 10. Etanol
4. Asam Sulfat 2N 11. Air
5. Pereaksi Mayer 12. larutan Besi (III) Klorida
6. Pereaksi Buchardat 13. Pereaksi Lieberman-Buchardat
7. Metanol 14. Asam Sulfat Pekat
4.4.3 Cara Kerja
a. Uji Alkaloid
Cara Keja untuk uji alkaloid adalah :
1. Sampel simplisia ditimbang 2 gram ditambahkan 10 ml kloroform
2. Ditambahkan 10ml amoniak dan 10 ml kloroform, kemudian disaring

kedalam tabung reaksi


3. Dimbahkan 0.5 ml asam sulfat 2N, dikocok selama 1 menit hingga terbentuk

2 lapisan
4. Dididamkan, lapisan asam diambil dan dimasukan kedalam 2 tabung reaksi.
a) Lapisan asam pertama ditambahkan perekasi mayer akan timbul

endapan putih
b) lapisan kedua ditambahkan pereaksi bucchardat akan timbul endapan

merah coklat
b. Uji Flafonoid
Cara kerja Uji flavoniod adalah :
1. Ditimbang 2 gram sampel dimasukan kedalam cawan uap.
2. Ditambahkan 10 ml methanol, dipanaskan

31
3. Larutan Disaring panas-panas, filtrate kemudian dipekatkan di waterbath
4. Ditambahkan 3 tetes HCl pekat dan logam mg secukupnya. Hasilpositif

ditandai dengan munculnya warna merah


c. Uji Terpen/Steoid, Fenol dan Saponin
Cara kerjauntuk uji ini adalah :
1. 2 gram sampel ditambahkan 10ml etanol kemudian dipanaskan
2. Disaring panas-panas, kemudian filtrate diuapkan diwaterbath sampai kering
3. Sisanya dititurasi dengan kloroform sebanyak 10 ml
4. Bagian yang tidak larut air kemudian ditambahkan air
5. Ambil lapisan air ;
a) Saponin : Lapisan air dimasukan kedalam taung rekasi, kemudian

dikocok, terbentuk busa yang stabil, tidak hilang selama 15 menit

setinggi 3 cm
b) Fenol : Lapisan air ditambahkan 2-3 tetes asam klorida pekat dan FeCl 3.

Hasil positif ditunjukan dengan terbenuknya warna merah


6. Lapisan kloroformdiambil kemudian dikeringkandalam plat tetes

ditambahkan perekasi Liberman Burchard (10tetes asam asetat anhidrat) dan

titambahkan 2-3 tetes asam sulfat pekat maka akan terbentuk warna hijau

untuk terpen dan warna merah untuk steroid


4.5 Identifikasi Amilum
4.5.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah:
1. gelas obyek
2. gelas penutup
3. mikroskop
4. piala gelas
5. pipet tetes
6. tabung reaksi
7. kasa
8. kaki tiga

32
9. Pembakar spirtus
Bahan yang digunakan adalah :
1. aquadest
2. larutan iodium
3. pati beras
4. pati jagung
5. pati singkong
6. pati jagung
4.5.2 Cara Kerja
a. Pemeriksaan amilum dengan larutan iodium
1. Dibuat larutan amilum 2%, dipanaskan 5 menit (mendidih) lalu didinginkan,

untuk semua jenis amilum yang diperiksa dimasukkan dalam tabung reaksi.
2. Ditambahkan 3 tetes larutan iodium
3. Dicatat warna yang terjadi saat dipanaskan dan didinginkan untuk masing-masing

jenis amilum yang diperiksa.


4. Dibandingkan hasilnya dengan literature yang tersedia
b. Pemeriksaan Amilum dengan mikroskopi
1. Diambil sedikit amilum (secukupnya), diletakkan di atas gelas obyek, ditetesi

dengan sedikit air dan ditutup dengan gelas penutup.


2. Diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan pembesaran kuat.
3. Dianalisis bentuk amilum dari masing-masing spesies tanaman

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

33
5.1 Hasil Pengamatan
5.1.1 Uji Organoleptik
Daun berwana hijau, terasa pahit dan sepat, beraroma daun sedikit manis
5.1.2 Uji Makroskop
Makroskopik daun suji diketahui bahwa daun suji berbentuk lancet-garis, berwarna

hijau gelap, meruncing atau sangat runcing


5.1.3 Uji Mikroskopik

Nama simplisia Hasil pengamatan Gambar


Daun Suji berwarna hijau dari

klorofil sebelum

dipanaskan, berwarna

coklat setelah dipanaskan.

Berbentuk bongkahan

daun yang telah


sebelum pemanasan
dihaluskan, terlihat

dinding selnya

setelah pemanasan

Rimpang bangle Anatomi jaringan yang

dapat diamati meliputi

pembuluh kayu, serabut

xilem, dan putir pati

34
Rimpang Kencur Tersusun oleh gelembung

Herba Pegagan Berbentuk seperti

serssusun oleh klorofil

berwarna hijau

Biji Pinang Berbentuk butiran butiran

kecil berwarna hitam

kecoklatan. Butiran saling

menyatu

Bunga Kemuning Berbentuk serpihan

serpihan tidak beraturan

35
Batang Bratawali Berbentuk bongkahan

besar

Daun Cocor bebek Terlihat klorofil dan

memiliki beberapa corak

para pinggiran daun

36
Kulit Jengkol Berwarna hitam sebelum

dipanaskandan berwarna

coklat muda setelah

dipanaskan, berbentuk

bongkahan besar dan

butiran kecil

Buah Ciplukan Berwarna coklat,

berbentuk butiran-butiran

kecil hingga besar

37
5.1.4 Uji Fitokimia

Uji Hasil Pengamatan Gaambar


Alkaloid Dengan pereaksi Mayer :

Tidak terbentuk endapan putih


Dengan Pereaksi Bucchardat :

Terbentuk warna merah coklat

Flavonoid Terbentuk warna merah

Saponin Terbentuk busa yang tidak

stabil selama 15 menit

Fenol Terbentuk larutan berwarna

merah

38
Steroid/Terpenoid Terbentuk warna merah coklat

5.1.5 Uji Amilum


Uji dengan Larutan Iodium

Larutan uji penambahan Gambar Setelah Gambar


iod pemanasan
Pati beras Biru Tak berwarna

Pati Gandum Sedit biru Tak berwarna

Pati Jagung Biru Tak berwarna

Pati Biru Biru

Singkong

39
Pemeriksaan amilum dengan mikroskop

Sampel uji Hasil Pengamatan Gambar


Pati Jagung Berupa butir bersegi

banyak, bersudut, atau butir

bulat, kemudian terdapat

butir pati dan hilus yang

berupa rongga atau celah

Pati gandum Butir bentuk cakram besar

seperti ginjal; bentuk bulat

telur sepanjang poros

utama; butir bersegi

banyak/bulatan kecil. hilus

dan lamella sulit terlihat

Pati Beras Butir bersegi banyak,

tunggal atau majemuk

bentuk bulat telur, terdapat

butir telur dan hilus yang

tidak terlihat jelas, dan

tidak terdapat lamella


Pati Berupa butir tunggal,butir

agak bulat atau bersegi

banyak butir kecil, ada butir

pati,dan juga hilus yang

berupa garis dan titik, ada

juga lamella tapi tidak

jelas,yang berupa butir

majemuk sedikit.
5.2 Pembahasan

40
5.2.1 Uji Organoleptik

Uji organoleptik diakukan untuk mengetahui bentuk, rasa, aroma,


halus/kasar. Merupakan uji yang penggunaan alat indra dalam pengujiannya. Hasil
pengamatan uji organoleptik pada daun suji adalah berwana hijau, terasa pahit dan
sepat, beraroma daun sedikit manis
5.2.2 Uji Makroskopik
Uji Makroskopik merupakan pengujian yang dilakukan dengan mata telanjang

atau dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman yang digunakan

untuk simplisia. Hasil pengujian makroskopik simlisia daun suji adalah berbentuk lancet-

garis, berwarna hijau gelap, meruncing atau sangat runcing


5.2.2 Uji Mikroskopik
Pada pengujian ini dilakukan terhadap daun, batang,rimpang, kulit, bunga , buah

dan biji simplisia berbagai jenis. dilakukan untuk mengetahui bentuk simplisia jika dilihat

dengan mikroskop . Dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat

pembesarannya disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayaan

melintang, radial, paradermal, maupun membujur atau berupa serbuk. Pada uji

mikroskopis dicari unsure- unsure anatomi jaringan khas. Dari pengujian ini akan

diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik bagi masing-

masing simplisia.
Pada pengujian ini dilakukan terhadap 10 jenis simplisia :
1. Rimpang Bangle
Klasifikasi Tanaman Bangle

Kingdom : Plantae ( Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta ( Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta ( Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta ( Tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida ( berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas: Commelinidae

Ordo : Zingiberales

41
Famili : Zingiberaceae ( suku jahe-jahean)

Genus : Zingiber

Spesies : Zingiber purpureum Roxb


Hasil pengamatan telihat bentuk Anatomi jaringan yang dapat diamati meliputi

pembuluh kayu, serabut xilem, dan putir pati


2. Rimpang Kencur
Klasifikasi tanaman kencur
Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Kaempferia

Spesies : Kaempferia galangal


Hasil pengamatan berbentuk gelembung gelembung kecil
3. Biji Pinang
Klasifikasi tanaman pinang
Devisi : Spermatophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Klas : Monocotyledoneae

Ordo : Principes/Palmales/Arecales

Family : Palmae/Arecaceae

Sub Family : Arecoideae

Genus : Areca

Species : Areca catechu L.

42
Hasil pengamatan berbentuk butiran butiran kecil berwarna hitam kecoklatan. Butiran

saling menyatu
4. Herba Pegagan
Klasifikasitanaman pegegan

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Dicotyledone

Ordo : Umbillales

Famili : Umbilliferae (Apiaceae)

Genus : Centella

Spesies : Centella asiatica


Hasil Pengamatan berbentuk seperti serssusun oleh klorofil berwarna hijau
5. Batang Bratawali
Klasifikasi Tanaman Bratawali

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermathophyta

Sub divisio : Angiospermae

Classis : Dicotyledonae

Ordo : Euphorbiales

Familia : Euphorbiaceae

Genus : Tinospora

Spesies : Tinospora crispa (L.) Miers


Hasil pengamatan berbentuk bongkahan hijau
6. Daun Suji
Klasifikasi Tanaman Suji
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida ( Monocots )
Anak kelas : Zingiberidae
Bangsa : Zingiberales

43
Suku : Agavaceae
Jenis : Dracaena angustifolia
Sinonim : Pleomele angustifolia (Roxb.) N.E.Br
Nama Daerah : Suji (Sunda), Semar (Jawa), Pendusta utan (Ambon).
Hasil pengamatan berwarna hijau dari klorofil sebelum dipanaskan, berwarna coklat

setelah dipanaskan. Berbentuk bongkahan daun yang telah dihaluskan, terlihat

dinding selnya
7. Daun Cocor Bebek
Klasifikasi Tanaman Cocor Bebek

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas : Rosidae

Ordo : Rosales

Famili : Crassulaceae

Genus : Kalanchoe

Spesies : Kalanchoe waldheimii Raym.-Hamet & H. Perrier


Hasil pengamatan terlihat klorofil dan memiliki beberapa corak para pinggiran daun
8. Bunga Kemuning
Klasifikasi Kemuning
Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Super Divisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Sub Kelas : Rosidae

Ordo : Sapindales

44
Famili : Rutaceae

Genus : Murraya

Spesies : Murraya paniculata


Hasil pengamatan berbentuk serpihan serpihan tidak beraturan
9. Buah Ciplukan
Klasifikasi Tanaman Ciplukan

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Asteridae

Ordo : Solanales

Famili : Solanaceae

Genus : Physalis

Spesies : Physalis angulata L.


Hasil Pengamatan berwarna coklat, berbentuk butiran-butiran kecil hingga besar
10. Kulit Jengkol
Klasifikasi Jengkol

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Divisi : Magnoliophyta (berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (dikotil)

Ordo : Fabales

Famili : Mimosaceae (polong-polongan)

Genus : Pithecellobium

Spesies : Pithecellobium lobatum (Benth.)


Hasil pengamatan berwarna hitam sebelum dipanaskandan berwarna coklat muda

setelah dipanaskan, berbentuk bongkahan besar dan butiran kecil

45
5.2.3 Uji Fitokimia
Pada Uji fotokimia simplisia daun suji,kandungan yang diuji adalah Alkaloid,

Flavonoid, Saponin, Fenol, serta Steroid/Terpenoid.


Pada pengujian Alkaloid, Prinsip uji Alkaloid, sampel yang akan diuji dilarutkan

dalam kloroform ammonik, tujuannya adalah untuk memisahkan alkaloid yang terikat

pada garamnya (Harbone, 1987). Kemudian dilarutkan dalam beberapa tetes asam sulfat

2N. Pengujian menggunakan tiga pereaksi alkaloid yaitu pereaksi Dragendorff, pereaksi

Meyer dan pereaksi Wagner. Hasil uji dinyatakan positif bila dengan pereaksi

Dragendorff terbentuk endapan merah jingga. Kemudian, terbentuknya endapan putih

kekuningan dengan pereaksi Meyer dan terbentuknya endapan cokelat dengan pereaksi

Wagner (Harborne dalam Priyanto, 2012). Pada uji ini hanya digunakan uji mayer dan

Buchardat, dimana komposisi pereaksi buchardat dan wagner sama sama dari KI dan I 2.
Pertama-tama sampel sebanyak 2 gram simplisia dimasukkan kedalam piala gelas

100ml kemudian ditambah 10 mL kloroform (larutan tidak berwarna) menghasilkan

larutan hijau, setelah itu ditambahkan 10 mL amoniak (larutan tidak berwarna) dan

ditambahkan kembali 10ml klorofor.. Ekstraksi dengan penambahan kloroform bertujuan

untuk memutuskan ikatan antara asam tannin dan alkaloid yang terikat secara ionik

dimana atom N dari alkaloid berikatan saling stabil dengan gugus hidroksil fenolik dari

asam tannin. Dengan terputusnya ikatan ini alkaloid akan bebas, sedangkan asam tannin

akan terikat oleh kloroform. Setelah diekstraksi, larutan ini disaring dan Filtrat yang

diperoleh ditampung dalam tabung reaksi dan ditambahkan 0.5 ml asam sulfat 2N, dan

dikocok kuat-kuat setelah itu didiamkan beberapa menit hingga terpisah. Penambahan

asam sulfat 2N ini berfungsi untuk mengikat kembali alkaloid menjadi garam alkaloid

agar dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi logam berat yaitu spesifik untuk alkaloid

yang menghasilkan kompleks garam anorganik yang tidak larut sehingga terpisah dengan

metabolic sekundernya. Penambahan asam sulfat 2N mengakibatkan larutan terbentuk

menjadi dua fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran antara fase aquous yang

polar dan kloroform yang relative kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan

atas, sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan paling bawah karena memiliki

46
massa jenis yang lebih besar. Sedangkan pengocokan dengan kuat bertujuan untuk

melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara tepat dan sempurna. Lapisan

yang terpisah diambil lapisan atas untuk diuji dengan pereaksi Buchardat, dan Meyer.
Pada uji dengan peraksi Meyer larutan menghasilkan larutan berwarna merah

kecoklatan dan tidak terdapat endapan yang menandakan bahwa sampel negatif

mengandung alkanoid. Pada uji alkaloid dengan pereaksi Mayer, diperkirakan nitrogen

pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari kalium tetraiodomerkurat(II)

membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap dengan warna putih kekuningan.

Reaksi pada uji alkaloid ini dengan pereaksi Meyer adalah :


HgCl2(aq) + 2KI(aq)→ HgI2(aq) + 2 KCl(aq)
HgI2(aq) + 2 KI(aq)→ K2[HgI4](aq)

Pada pengujian dengan reagen Buchardat diperoleh larutan berwarna merah

kecoklatan dan terdapat endapan berwarna coklat yang menandakan bahwa sampel positif

megandung alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Buchardat, iodin bereaksi dengan ion I -

dari kalium iodide menghasilkan ion I3- yang berwarna coklat. Pada uji Wagner, ion

logam K+ akan membentuk ikatan kovalen koordinat dengan nitrogen pada alkaloid

membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap. Reaksi pada uji alkanoid ini

dengan pereaksi wagner:


I2(aq) + KI(aq)→ KI3(aq)

Flavonoid merupakan kelompok besar fitokimia yang bersifat melindungi dan

banyak terdapat pada buah dan sayuran. Flavonoid sering dikenal sebagai bioflavonoid

yang berperan sebagai antioksidan. Golongan flavonoid bersifat polar sehingga lebih larut

47
dalam pelarut polar dan semipolar. Kepolaran senyawa tersebut dikarenakan flavonoid

merupakan senyawa polihidroksi (memiliki lebih dari satu gugus hidroksil) (Harborne,

1987). Polihidroksi dari flavonon akan direduksi oleh logam magnesium dalam asam

klorida dalam larutan etanol sehingga membentuk garam benzopirilium yang berwarna

merah, kuning, atau disebut dengan garam flavilium (Sastrohamidjojo, 1996).


Pada Uji Flavonoid Penambahan logam Mg dan HCl untuk mendeteksi adanya

senyawa flavanoid dimana flavanoid akan bereaksi dengan Mg, setelah penambahan asam

klorida pekat terjadi perubahan berwarna merah dan larutan bawah berwarna kemerahan

sebab flavanoid mengalami perubahan serapan cahaya ke arah panjang gelombang yang

lebih besar akibat adanya reaksi reduksi oleh HCl. Warna merah pada lapisan etanol

menunjukkan adanya flavonoid pada sampel. Pada uji ini terbentuknya warna merah

menujukan bahwa daun suji mengandung flavonoid, hal ini sesuai dengan literatur.

Persamaan reaksinya sebagai berikut:


Mg (s) + 2HCl (aq)→ MgCl2(aq) + H2(g)

Pada Uji Saponin , hasil pemekatan ekstrak simplisia yang tidak larut
dalam kloroform dilarutkan dalam air dan dikocok kuat yang akan menimbulkan
busa yang mantap, busa ini menunjukan keberadaan saponin pada simplisia.
Menurut literatur, Daun suji mengandung saponin, tetapi pada hasil pengujian
busa yg dihasilkan tidak stabil selama 15 meenit ,hal ini dapat disebabkan oleh
kadar saponin dalam simplisia terlalu sedikit atau karena daun bahan bakunya

48
berasal dari tempat yang berbeda sehingga kandungannya tidak sama.
Pada Uji fenol,hasil pemekatan ekstrak simplisia yang tidak larut dalam
kloroform dilarutkan dalam air ditambahkan asam klorida pekat dan larutan FeCl3,
hasil positif akan menunjukan warna merah. Penambahan FeCl3 dalam suasana
asam pekat membentuk senyawa kompleks yang berwarna merah. Pada uji ini
menunjukaan hasil positif berupa larutan berwarna merah.
Reaksi uji skrining fenolik dengan reagen FeCl3 sebagai berikut
FeCl3 (aq) + 6 ArOH (s) → 6 H+ + 3 Cl- + [Fe(OAr)6]3- (aq)
Pada uji Steroid/Terpenoid larutan larut dalam kloroform dipekatkan
dingga kering kemudian di tambahkan perekasi Lieberman Burchard dan asam
sulfat pekat yang akan menunjukan warna biru hijau untuk terpenoid dan warna
merah untuk steroid. Pada pengujian terbentuk warna merah, menandakan +
mengandung Steroid. Penambahan asam asetat anhidrat adalah untuk membentuk
turunan asetil. Penambahan asam sulfat pekat bertujuan untuk menghidrolisis air
yang akan bereaksi dengan turunan asetil membentuk cincin merah coklat atau
ungu
5.2.4 Uji Amilum
Amylum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam, yaitu
sebagian besar tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian.
Amylum terdiri dari dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer
dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20 – 28 %) dan sisanya amilopektin.
Amilosa: Terdiri atas 250-300 unit D-glukosa yang berikatan dengan ikatan α 1,4
glikosidik. Jadi molekulnya menyerupai rantai terbuka. Amilopektin:Terdiri atas
molekul D-glukosa yang sebagian besar mempunyai ikatan 1,4- glikosidik dan
sebagian ikatan 1,6-glikosidik. adanya ikatan 1,6-glikosidik menyebabkan
terjadinya cabang, sehingga molekul amilopektin berbentuk rantai terbuka dan
bercabang. Molekul amilopektin lebih besar dari pada molekul amilosa karena
terdiri atas lebih 1000 unit glukosa.
Amylum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa) dan 80% bagian

49
yag tidak larut air (amilopektin). Hidrolisis amylum oleh asam mineral
menghasilkan glukosa sebagai produk akhir secara hampir kuantitatif. Amylum
dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan
glukosa. Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim amilase, dalam air
ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh pankreas terdapat amilase yang
bekerja terhadap amylum yang terdapat pada makanan kita oleh enzim amilase,
amylum diubah menjadi maltosa dalam bentuk β – maltose.
Identifikasi amilum secara mikroskopis dan secara kimiawi. Sampel yang
digunakan pada percobaan kali ini adalah Amylum manihot, Amylum maydis,
Amylum oryzae, dan Amylum Tritici.
Identifikasi secara kimiawi kandungan amilum bertujuan untuk
mengidentifikasi ada atau tidaknya amilum dalam sampel yakni dengan cara uji
iodine. Pada uji ini sampel yang mengandung amilum akan berubah warna
menjadi biru. Sampel terlebih dahulu dipanaskan agar amilum dapat larut
sempurna dnegan air sehinggga lebih mudah dalam pendeteksian kandungan
amilum. Berdasarkan hasil percobaan sampel yang telah dipanaskan kemudian
ditetesi dengan iodine berubah menjadi biru ini dikarenakan warna biru yang
dihasilkan diperkirakan adalah hasil dari ikatan kompleks antara amilum dengan
iodin. Saat dipanaskan larutan berubah menjadi tak berwarna hal ini dikarenakan
pati terlah terhidrolisis menjadi glukosayang menyebabkan hilangnya warna biru.
pada pati singkong warna biru tidak hilang seluruhnya dikarenakan kandungan
amilosayang terlarut cukup banyak sehingga belum terhidrolisis sempurna
Identifikasi amilum secara mikroskopis bertujuan agar kita lebih
mengetahui bentuk-bentuk yang khas dari masing-masing amilum pada sampel
sehingga kedepannya akan lebih memudahkan praktikan dalam membuat sediaan
farmasi.
Hasil pengamatan pati jagung berupa butir bersegi banyak, bersudut, atau butir
bulat, kemudian terdapat butir pati dan hilus yang berupa rongga atau celah . Hasil

pengamatan pati gandum Butir bentuk cakram besar seperti ginjal; bentuk bulat telur

50
sepanjang poros utama; butir bersegi banyak/bulatan kecil. hilus dan lamella sulit terlihat.

Hasil pengmatan pati beras butir bersegi banyak, tunggal atau majemuk bentuk bulat telur,

terdapat butir telur dan hilus yang tidak terlihat jelas, dan tidak terdapat lamella. Hasil

pengamatan pati singkong berupa butir tunggal,butir agak bulat atau bersegi banyak butir

kecil, ada butir pati,dan juga hilus yang berupa garis dan titik, ada juga lamella tapi tidak

jelas,yang berupa butir majemuk sedikit.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang

digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali

dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 60 0C


2. Simplisia yang dibuat merupakan simplisia daun suji yang didapatkan didaerah

cibinong dan depok.

51
3. Proses pembuatan simplisia terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: Pengumpulan

bahan, sortasi basah, pencucian, pengecilan ukuran/volume, pengeringan

sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan, serta pemeriksaan kualitas


4. Pengujian yang dilakukan terhadap simplisia meliputi pengujian organoleptik,

Makroskopik, Mikroskopik, Fitokimia(Alkaloid, Flavonoid, Saponin, Fenol

dan Steroid/Terpenoid) serta pengujian amilum.


5. Pada uji Organoleptik daun berwana hijau, terasa pahit dan sepat, beraroma

daun sedikit manis .


6. Pada uji makroskopis daun suji berbentuk lancet-garis, berwarna hijau gelap,

meruncing atau sangat runcing


7. Pada uji mikroskopis daun suji berwarna hijau dari klorofil sebelum

dipanaskan, berwarna coklat setelah dipanaskan. Berbentuk bongkahan daun

yang telah dihaluskan, terlihat dinding selnya


8. Pada uji fitokimia , simplisia daun suji positif mengandung Alkaloid,

Flavonoid, Fenol dan Steroid. Sedangkang Saponin menunjukan hasil negative


9. Pada uji amilum, pati jagung, gandum, singkong dan beras mennujukan hasil

positif amilosa dengan penambahan iodium menghasilkan wana biru dongker.

DAFTAR PUSTAKA

Adiwisastra. 2014 .Bab II Tinjauan pustaka. http://www.google.co.id/url?


sa=t&rct=j&q=daun%20suji%20tinjauan
%20pustaka&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiHsPuTn
s3dAhVJro8KHU_oDOAQFjABegQICBAC&url=http%3A%2F
%2Frepository.unisba.ac.id%2Fbitstream%2Fhandle
%2F123456789%2F236%2F05bab1_adiwisastra_10060310052_skr_2014.pd
f%3Fsequence%3D5%26isAllowed
%3Dy&usg=AOvVaw3lgAQtZspcy0rlkrrO9v_W. Diakses pada 17
Sepetember 2018pukul 14.20 WIB

52
Aldi, Yufri,dkk. 2015. Aktivitas Ekstrak Daun Suji (Dracaena angustifolia Roxb.)
sebagai Antianafilaksis Kutan Aktif pada Mencit Putih Jantan. Jurnal Sains Farmasi
& Klinis, 1(2), 150-158
Anggraini,Devina Ingrid, dkk. 2018. Activity Test of Suji Leaf Extract (Dracaena
angustifolia Roxb.) on in vitro cholesterol lowering. Jurnal Kimia Sains dan
Aplikasi 21 (2) (2018): 54 – 58. 18 September 2018. Tersedia
:http://ejournal.undip.ac.id/index.php/ksa
Daulay, Anny Sartika. 2018. KARAKTERISASI SIMPLISIA KLOROFIL DAUN SUJI
HASIL EKSTRAKSI MENGGUNAKAN PELARUT AIR. Jurnal Seminar Nasional
Hasil Penelitian dan PkM hal 70-75
Effendi, Freddy . 2018 . Penuntun Praktikum Farmakognosi I . Bogor : STTIF Bogor
Fessenden, Ralp J. dan Joan S. Fessenden. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid
2. Jakarta: Erlangga.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Terjemahan Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung:
Institut Teknologi Bandung.
Hart, Harold. 1990. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Terjemahan Suminar
Achmadi. Jakarta: Erlangga.
Karmila, Ira. 2015. FARMAKOGNOSI.
http://irakarmila08.blogspot.com/2015/06/Farmakognosi.html?m=1 . Diakses pada
tanggal 29/09/18 pukul 10:07 pm
Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Erlangga.
Novariana, ina. 2014. Identifikasi Amilum (Farmakognosi).
http//inanovarina.blogspot.com/2014/12/identifikasi-amilum-farmakognosi.html?
m=1 . Diakses pada 26 september 2018 puku 21.35 WIB 
Putranri, Ristyana Ika. 2013. Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan
Ekstrak Rumput Laut Sargassum Oluplicatum dan Turbinaria Ornata dari
Japara. (Online). Sumber: www.epriats.undip.ac.id. Diakses pada 5
September 2016
Purwaningtyas, Hapsari putrid, dkk. Tanpa tahun. FORMULASI PERMEN JELLY
EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper betle L.) – DAUN SUJI (Pleomele
angustofolia) Formulation Of Jelly From Candy Betel (Piper betle L.) –Suji
(Pleomele angustofolia) Leaf Extract. Surakarta : Fakultas Teknologi dan
Industri Pangan Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Wardana, Andika Pramudya. 2016. Elusidasi Struktur Senyawa Hasil Isolasi Dari
Eksrtak Kloroform Kulit Batang Tumbuhan Gowok (syzygius polycephalum)
dan Uji Aktivitas Antioksidan. Skripsi Sarjana Pada Jurusan Kimia FMIPA

53
Universitas Negeri Surabaya: tidak diterbitkan
Wulandari, Friska Rosdiana,dkk. Tanpa Tahun . KAJIAN PENGARUH KONSENTRASI
PELARUT PENGEKSTRAK DAUN CINCAU HIJAU PERDU (Premna oblongifolia
Merr) DAN DAUN SUJI (Dracaena angustifolia (medik) Roxb) TERHADAP
KADAR KLOROFIL. Bogor: FMIPA Universitas Pakuan
Zulfa, Elya dkk.2018. Aktivitas Antibakteri Daun Suji Pada Bakteri Streptococuc
Mutans. Jurnal Ilmiah Cendikia Eksakta ISSM 2528-5912. 20 September
2018. Tersedia : http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=aktivitas
%20bakteri%20daun
%20suji&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiZ3qXTnc3d
AhUKuY8KHWv-C40QFjAAegQICBAC&url=https%3A%2F
%2Fpublikasiilmiah.unwahas.ac.id%2Findex.php%2FCE%2Farticle
%2Fdownload%2F2138%2F2142&usg=AOvVaw3NP9MXgoPoH-
6NXTw4DIz9

54