Anda di halaman 1dari 28

PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II

TITRASI PENGENDAPAN : STANDARISASI Na-EDTA 0,01 M


DAN APLIKASINYA PADA PENENTUAN KESADAHAN AIR
SUMUR DI DS.MEKANDEREJO KEC. KEDUNGPRING KAB.
LAMONGAN

Eryna Dwi Trisviati


18030194083
PKA 2018

LABORATORIUM KIMIA
PRODI S1 PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Titrasi kompleksometri adalah salah satu metode kuantitatif dengan
memanfaatkan reaksi kompleks antara ligan dengan ion logam utamanya,
yang umum di indonesia EDTA (disodium ethylendiamintetraasetat/
tritiplex/komplekson, dll ). Senyawa ini dengan banyak kation membentuk
kompleks dengan perbandingan 1 : 1 Kompleksometri merupakan jenis titrasi
dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa
kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut
kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam
titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks,
sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Contoh reaksi
titrasi kompleksometri:
Ag+ + 2 CN- =Ag(CN)2
Hg2+ + 2Cl- =HgCl2
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan
titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks
yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah
kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan
sebuah anion atau molekul netral. Titrasi kompleksometri juga dikenal
sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun
pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan
mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi.
Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang
dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan
EDTA.
Air sadah adalah air yang mengandung garam-garam kalsium dan
magnesium. Garam – garam tersebut terlarut sebagai ion Ca2+ dan Mg2+
bersama-sama dengan anion HCO3-, SO42-,dan Cl-. Air asadah adalah air
yang memiliki kesadahan yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan
kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab
kesadahan juga bias dikarenakan ion logam lain maupun garam-garam
bikarbonat dan sulfat. Air sadah memang tidak begitu berbahaya untuk
diminum, namun dapat menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat
menyebabkan pengendapan mineal yang menyumbat saluran pipa dan keran.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara membuat dan menentukan standarisasi larutan Na-EDTA?
2. Bagaimana kesadahan total air sumur ?
1.3 Tujuan
1 Membuat dan menentukan standarisasi larutan Na-EDTA
2 Menentukan kesadahan total air sumur
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Titrasi Pengompleksan


Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan
persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion),
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling
mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan
kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga
banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas
tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.
Contoh reaksi titrasi kompleksometri:
- Ag+ + 2 CN  Ag(CN)2
- Hg + 2Cl  HgCl2
2+

(Khopkar, 1990)
Kompleksometri merupakan metoda titrasi yang pada reaksinya terjadi
pembentukan larutan atau senyawa kompleks dengan kata lain membentuk hash
berupa kompleks. Untuk dapat dipakai sebagai dasar suatu titrasi, reaksi
pembentukan kompleks disamping harus memenuhi persyaratan umum amok
titrasi, maka kompleks yang terjadi harus stabil. Titrasi ini biasanya digunakan
untuk penetapan kadar logam polivalen . Selektivitas kompleks dapat diatur
dengan pengendalian pH, missal Mg, Ca, Cr, dan Ba dapat dititrasi pada pH = 11
EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang
juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya
mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator
demikian disebut indikator metalokromat, contohnya : Eriochrome black T dan
Asam salisilat. Penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH
untuk titrasi adalah 10 dengan indikator Eriochrome black T. pada pH tinggi, 12,
Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+
dengan indicator murexide. (Underwood , 1992)
Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam
keadaan murni, sehingga EDTA banyak dipakai pada percobaan kompleksometri.
Larutan yang mengandung ion logam yang akan ditetapkan dibufferkan sampai
PH yang dikehendaki,(misal PH untuk logam Ca 10 dan untuk logam Mg 12) dan
ditirasi langsung dengan Na.EDTA 0,01 M dan ditambah indicator EBT untuk Ca
dan Murexide-NaCl untuk Mg. Amati titik akhir titrasi untuk ca dari warna merah
anggur menjadi biru sedangkan untuk Mg dari pink menjadi violet. Metode-
metode titrasi kompleksometri :

1.Titrasi Langsung
Titrasi ini dapat dilakukan terhadap sedikitnya 25 kation dengan menggunakan
indikator logam. Pereaksi pembentukan kompleks, seperti sitrat dan tartrat, sering
ditambahkan untuk pencegahan endapan hidroksida logam. Buffer NH3-NH4Cl
dengan pH 9 sampai 10 sering digunakan untuk logam yang membentuk
kompleks dengan amoniak.

2.Titrasi Kembali
Titrasi ini digunakan apabila reaksi antara kation dengan EDTAlambat atau
apabila indicator yang sesuai tidak ada. EDTA berlebih ditambahkan berlebih dan
yang bersisa dititrasi dengan larutan standar Mg dengan menggunakan calmagnite
sebagai indicator. Kompleks Mg-EDTA mempunyai stabilitas relative rendah dan
kation yang ditentukan tidak digantikan dengan magnesium. Cara ini dapat juga
untuk menentukan logam dalam endapan, seperti Pb di dalam PbSO4 dan Ca
dalam CaSO4.

3.Titrasi Subtitusi
Titrasi ini berguna bila tidak ada indicator yang sesuai untuk ion logam yang
ditentukan. Sebuah larutan berlebih yang mengandung kompleks Mg-EDTA
ditambahkan dan ion logam, misalnya M2+, menggantikan magnesium dari
kompleks EDTA yang relative lemah itu.

4.Titrasi Tidak Langsung


Titrasi ini beberapa jenis telah dilaporkan, antara lain penentuan sulfat dengan
menambahkan larutan baku barium berlebihan dan menitrasi kelebihan tersebut
dengan EDTA. Juga pospat sudah ditentukan setelah pengendapan sebagai
MgNH4PO4 yang tidak terlalu sukar larut lalu menitrasi kelebihan Mg.
Titrasi kompleksometri sangat dipengaruhi oleh pH. Hanya pada harga-harga pH
lebih besar kira-kira 12, kebanyakan EDTA ada dalam bentuk tetraanion Y'-. Pada
harga-harga pH yang lebih rendah, zat yang berproton HY3-, dan seterusnya, ada
dalam jumlah berlebihan. Jelaslah bahwa kecenderungan yang sebenarnya untuk
membentuk khelonat logam pada sembarang pH tidak dapat diperbedakan
langsung, dari Kabs. Oleh sebab itu, pada titrasi kompleksometri ini juga
dilakukan penambahan buffer pH 10. ( Underwood , 1992)

EDTA bukan standar primer. Umumnya larutan EDTA dibuat dari garam
Na2H2Y yang mudah larut. Oleh karena itu EDTA perlu dibakukan terlebih
dahulu. Titrasi kompleksometri meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks
ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan.
Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan
tinggi. Contoh dari kompleks tersebut adalah kompleks logam dengan EDTA.
Berbagai logam membentuk kompleks pada pH yang berbeda-beda. Peristiwa
pengompleksan tergantung pada aktivitas anion bebas, misalkan Y4- (jika
asamnya H4Y dengan tetapan ionisasi pK1 = 2,0; pK2 = 2,64; pK3 = 6,16 dan
pK4 = 10,26). Variasi aktivitas Y4- bervariasi terhadap perubahan pH dari 1,0
sampai 10 dan secara umum perubahan ini sebanding dengan (H+) pada pH 3,0
– 6,0. ( Harvey , 2000)

Indikator

Banyak dari indikator ini juga merupakan beberapa senyawa trifenil


metana. Salah satu indikator yang digunakan adalah Eriochrome Black T (EBT)
(Underwood, 2002). Indikator ini membentuk kompleks-kompleks 1:1 yang stabil
berwarna merah anggur, dengan sejumlah kation seperti Ca2+, Zn2+, Mg2+, dan
Ni2+. Banyak titrasi EDTA terjadi dalam penyanggaan pH 8-10, suatu rentang
dimana bentuk dominan dari Eriochrome Black T adalah bentuk Hln2- biru. EBT
tidak stabil dalam larutan dan larutan harus dipersiapkan dengan segar untuk
mendapatkan perubahan warna yang sesuai.
Reaksi-reaksi:

merah biru (Svehla,1985)

Penetapan Titik Akhir Dalam Reaksi Pengompleksan

Jumlah ekivalen Ca2+ = Jumlah ekivalen EDTA

Perubahan warna untuk larutan yang mengandung ion logam seperti di


atas setelah ditambah dengan indikator EBT akan berwarna merah anggur,
kemudian setelah terjadi ekivalen antara ion logam dengan EDTA dapat dilihat
dari terbentuknya warna biru dari indikator dalam bentuk Hln2-
EDTA adalah suattu lian yang heksadendat ( mempunyai enam buah atom
donor pasangan elektron ), yaitu melalui kedua atom N dan keempat atom O (dari
OH). Dalam pembentukan kelat, keenam donor (tetapi kadang hanya lima)
bersama-sama mengikat satu atom satu ion inti dengan membentuk lima lingkaran
kelat (Harjadi, 1990). Molekul EDTA dilipat mengelilingi ion logam itu
sedemikian rupa sehingga keenam atom donor terletak pada puncak-puncak
sebuah oktahedral. (Harjadi, 1990)

2.2 Aplikasi Titrasi Pengendapan dalam Garam Dapur


Air sadah adalah air yang mengandung garam, kalsium dan magnesium.
Kesadahan adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air. Penyebab air
2+ 2+
menjadi sadah adalah karena adanya ion Ca , Mg atau dapat juga disebabkan
karena adanya ion-ion lain polivalen metal seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam
bentuk garam sulfat klorida bikarbonat dalam jumlah kecil.
(Basset, 1994)
Kesadahan ada dua jenis :
1. Kesadahan Sementara
Kesadahan sementara adalah kesadahan yang disebabkan
adanya garam-garam bikarbonat, seperti Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2.
Kesadahan sementara ini dapat dihilangkan dengan pemanasan atau
pendinginan.
Ca(HCO3)2 CO2 (g) + H2O + CaCO3 putih
Mg(HCO3)2 CO2 (g) + H2O + MgCO3 ↓ putih
2. Kesadahan Tetap
Kesadahan tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh adnya garam-
garam klorida, sulfat dan karbonat. Misalnya CaSO4, MgSO4, CaCl2,
MgCl2. Kesadahan tetap dapat dikurangi dengan penambahan larutan soda
kapur sehingga terbentuk endapan hitam (padatan atau cairan).
Perhitungan yang sering digunakan dalam penentuan kesadahan total air :

M Na-EDTA x V Na-EDTA = M CaCO3 x V CaCO3


Kesadahan total CaCO3 = V CaCO3 x M CaCO3 x Mr CaCO3
(Hefni Effendi, 2003)
Menurut Permenkes RI No.907/Menkes/Per/IX/2002 kadar maksimal
kesadahan yang diijinkan untuk air minum dan air bersih adalah 500 mg per liter.
Khususnya di negara kita, jarang sekali air alam yang mengandung strontium dan
barium. Karena itu dalam memeriksa kesadahan air kita hanya memperhitungkan
Ca dan Mg saja. Perairan yang berada di sekitar batuan karbonat memiliki nilai
kesadahan tinggi. Perairan payau dan laut yang mengandung natrium dalam
jumlah besar juga dapat mengganggu daya kerja sabun, namun natrium bukan
termasuk kation penyusun kesadahan.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat

1. Standarisasi larutan Na-EDTA 0,01M dengan CaCl2 sebagai Baku


Nama Alat Ukuran Banyak
1. Timbangan/neraca - 1 buah
2. Kaca arloji - 1 buah
3. Labu ukur 100 mL 1 buah
4. Buret 50 mL 1 buah
5. Erlenmeyer 250 mL 3 buah
6. Gelas ukur 10 mL 1 buah
7. Gelas kimia 50 mL 1 buah
8. Pipet tetes - 5 buah
9. Corong - 1 buah
10. Botol semprot - 1 buah
11. Statif dan Klem - 1 buah

3.2 Bahan

1. Standarisasi larutan Na-EDTA 0,01M dengan CaCl2


- CaCO3 0,081 gram
- Larutan CaCl2 10mL
- Aquades Secukupnya
- HCl Secukupnya
- Na-EDTA 0,01N Sesuai ukuran buret yang digunakan
- Indikator EBT 3 tetes
- Larutan Buffer pH 10 2 mL
2. Aplikasi pada penentuan kesadahan total air sumur
- air sumur ds.Mekanderejo kec. Kedungpring kab. Lamongan 10mL
- Na-EDTA 0,01N Sesuai ukuran buret yang digunakan
- Indikator EBT 3 tetes
- Larutan Buffer pH 10 2 mL

3.3 Prosedur

1. Penentuan Standarisasi Larutan Na-EDTA 0,01M dengan CaCl2 sebagai


baku

Langkah pertama yaitu pembuatan larutan baku CaCl2, yaitu


dengan menimbang CaCO3 dengan teliti sebanyak ±0,081 gram dalam
arloji menggunakan neraca. Kemudian, dipindahkan dalam labu ukur 100
mL dengan aquades dan ditambahkan larutan HCl 1:1 sampai gelagak
yang terjadi terhenti, dilarutkan dengan aquades dan diencerkan sampai
tanda batas. Kocok dengan baik agar tercampur dengan sempurna. Setelah
itu buret yang sudah bersih dan sudah dibilas diisi dengan larutan Na-
EDTA. Kemudian, pipet 10 mL larutan CaCl2 menggunakan pipet yang
seukuran, lalu masukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL dan ditambah 2
mL larutan buffer pH 10 dan 3 tetes indikator EBT larutan berwarna
merah anggur.

Selanjutnya, dititrasi dengan larutan Na-EDTA, dan dihetikan


titrasi pada saat terjadi perubahan berwarna biru. Kemudian, dibaca dan
dicatat angka pada buret pada awal dan akhir titrasi, lalu ditentukan
volume Na-EDTA yang diperlukan. Titrasi diulangi sebanyak 3 kali
dengan volume CaCl2 yang sama. Kemudian hitung konsentrasi rata-rata
larutan Na-EDTA.

2. Penentuan Kesadahan Total Air Sumur Ds.Mekanderejo Kec.


Kedungpring Kab. Lamongan

Langkah pertama yaitu pipet 10 mL sampel air, dimasukkan ke


dalam Erlenmeyer. Setelah itu, ditambahkan indikator EBT 3 tetes dan
larutan buffer pH 10 sebanyak 2 mL. Kemudian dititrasi dengan Na-EDTA
yang sudah distandarisasi sampai terjadi perubahan warna dari merah
anggur menjadi biru. Percobaan dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan
dan dihitung kesadahan total.
BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

No. Posedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan / Reaksi Kesimpulan


sebelum sesudah
1. 1. Standarisasi Larutan Na-EDTA ±0,01N - CaCO3 : - CaCO3 + Dugaan Konsentrasi Na-
dengan CaCl2 sebagai baku Kristal Aquades 1) Ketika CaCl2 dititasi EDTA sebesar
putih : larutan dengan Na-EDTA 0,0108 M
0,081 gr CaCO3 pa - Aquades tak terbentuk larutan berwarna
1. Ditimbang dengan teliti tak berwarna biru
2. Dipindahkan kedalam labu berwarna - CaCO3 + 2) Setelah tercapai titik
ukur 100 mL - Larutan Aquades ekivalen, Na-EDTA
3. Diencerkan dengan aquades HCl : + 2mL bereaksi dengan indkator
sampai tanda batas larutan (30 tetes) EBT membentuk senyawa
4. Ditambahkan larutan HCl tak HCl : kompleks
sampai gelagak hilang berwarna larutan
5. Dikocok sampai homogeny - Aquades tidak Reaksi – reaksi :
: larutan berwarna
Larutan baku CaCl2 tak ,gelagak 3) CaCO3 (s) + HCl(aq) →
6. Dipipet menggunakan pipet berwarna gas CaCl2+(s) + H2O (l) +CO2(g)
gondok sebanyal 10 mL - Larutan hilang 4) Ca2+ + Hin- → CaIn- (aq) +
7. Dimasukkan kedalam buffer - CaCl2 + H+ (merah anggur)
Erlenmeyer 250 mL pH 10 : larutan 5) CaIn- + H2Y2-  CaH2Y2-
larutan buffer pH  CaH2Y2 + In2-
No. Posedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan / Reaksi Kesimpulan
sebelum sesudah
8. Ditambahkan 2mL larutan tak 10 : 6) In3- + H2O  HIn- + OH-
buffer pH 10 berwarna larutan (biru)
- Indikator berwarna
9. Ditabahkan 3 tetes indicator EBT : merah (Poedjiastuti, 2019)
EBT larutan anggur
berwarna - CaCl2 + Struktur EBT
Larutan warna merah anggur ONa
ungu buffer +
O S O
10. Dititrasi dengan larutan Na- - Larutan EBT +
O2N OH
EDTA ±0,01N Na- Na-
11. Dihentikan proses titrasi EDTA : EDTA :
N N
jikaterjadi perubahan warna larutan larutan
OH
tidak berwarna
Larutan warna biru berwarna biru
12. Dibaca dan dicatat angka - Titrasi 1 :
pada buret Biru ++
Na-EDTA
13. Dicatat volume Na-EDTA - Titrasi 2 : O
14. Diulang 3 kali Biru +
15. Dihitung konsentrsi rata – - Titrasi 3 : O OR

rata Na-EDTA biru +++ N OR


RO N
Volume :
Konsentrasi rata-rata Na-EDTA
A. 7,4 mL RO O

B. 7,2 mL
O
C. 7,5 mL
No. Posedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan / Reaksi Kesimpulan
sebelum sesudah
2. Penentuan Kadar Air Sumur - Air - Air Dugaan : Kesadahan total
sumur : sumur + Kesadahan maksimal yang air sumur
Sampel air sumur larutan larutan diperbolehkan oleh permenkes sebesar 432,1
tidak buffer pH RI mg/L
1. Dippet 10 mL menggunakan berwarna 10 : No.492/MENKES/PER/II/2010
pipet gondok - Larutan larutan adalah sebesar 500 ppm
2. Dimasukkan kedalam buffer tak
Erlenmeyer pH 10 : berwarna Reaksi :
3. Ditambahkan 2mL larutan larutan - Air 1) Ca2+ + Hin- → CaIn- (aq) +
buffer pH 10 tak sumur + H+ (merah anggur)
4. Ditambahakan 3 tetes indicator berwarna larutan 2) CaIn- + H2Y2-  CaH2Y2-
EBT - Indikator buffer pH  CaH2Y2 + In2-
5. Dititrasi dengan larutan Na- EBT : 10 + 3) In3- + H2O  HIn- + OH-
EDTA larutan indikator (biru)
6. Dihentikan titrasi ketika berwarna EBT :
terjadiperubahan warna ungu larutan
7. Dicatat skala yang ada pada - Larutan berwarna
buret Na- hitam
8. Dihitung kesadahan total EDTA : - Air
dalam garam larutan sumur +
tidak larutan
Kesadahan sample air berwarna buffer pH
10 +
indikator
EBT +
Na-
No. Posedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan / Reaksi Kesimpulan
sebelum sesudah
EDTA :
Larutan
berwarna
biru
- Volume
Na-
EDTA :
A. 4mL
B. 4,2mL
C. 3,8mL
4.2 Analisis Dan Pembahasan

1. Penentuan Standarisasi Larutan Na-EDTA 0,01M dengan CaCl2 sebagai


baku

Langkah pertama yaitu pembuatan larutan baku CaCl2, yaitu


dengan menimbang CaCO3 yang berbentuk padatan berwarna putih
dengan teliti sebanyak ±0,081 gram dalam arloji menggunakan neraca.
Dalam praktikum ini digunakan CaCO3 karena dalam praktikum ini
bertujuan untuk mencari kesadahan sementara yang mengandung ion Ca2+
dan ion bikarbonat. Kemudian, dipindahkan dalam labu ukur 100 mL
dengan aquades dan ditambahkan larutan HCl 1:1 yang terbuat dari
aquades dan HCl dengan volume sebanding, sampai gelagak yang terjadi
terhenti. Penambahan HCl 1:1 ini bertujuan untuk menghilangkan gelagak
gas yang berupa CaCO3 yang belum larut. Selain itu untuk mempermudah
pengamatan, dan mengionisasi atom Ca menjadi Ca2+. Setelah itu,
dilarutkan dengan aquades dan diencerkan sampai tanda batas. Kocok
dengan baik agar tercampur dengan sempurna. Setelah itu buret yang
sudah bersih dan sudah dibilas diisi dengan larutan Na-EDTA. Kemudian,
pipet 10 mL larutan CaCl2 menggunakan pipet yang seukuran, lalu
masukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL dan ditambah 2 mL larutan buffer
pH 10 dan 3 tetes indikator EBT larutan berwarna merah anggur.
Penambahan larutan buffer pH 10 bertujuan untuk mengkondisikan larutan
agar tetap menjaga suasana basa agar terbentuk senyawa kompleks, jika
larutan memiliki suasana asam akan terhidrolisis sehingga tidak
membentuk senyawa kompleks, sedangkan jika terlalu basa maka akan
membentuk hidroksida (Ca(OH)2). Buffer yang digunakan adalah amonia
dengan pH 10. Selain penambahan buffer juga terdapat penambahan
indikator EBT yang berfungsi untuk membantu menentukan titik akhir
dari proses titrasi. Selain itu indikator EBT memiliki rentang pH yang
sesuai dengan laruutan yang akan dititrasi yaitu 6-10. Sehingga sangat
mempermudah menentukan titik akhir.
Selanjutnya, dititrasi dengan larutan Na-EDTA, dan dihetikan
titrasi pada saat terjadi perubahan warna menjadi biru. Kemudian, dibaca
dan dicatat angka pada buret pada awal dan akhir titrasi, lalu ditentukan
volume Na-EDTA yang diperlukan. Titrasi diulangi sebanyak 3 kali
dengan volume CaCl2 yang sama. Kemudian dihitung konsentrasi rata-rata
larutan Na-EDTA. Pada titrasi pertama diperoleh volume sebanyak 7,4
mL, titrasi kedua diperoleh volume 7,2 mL dan titrasi ketiga diperoleh
volume Na-EDTA sebanyak 7,5 mL. Kemudian dihitung konsentrasi unuk
Na-EDTA dengan rumus perhitungan M1 x V1 = M2 x V2 sehingga
diperoleh konsentrasi Na-EDTA yaitu 0,0108 M, 0,0111 M, dan 0,0106
M. Dan dihitung rata-rata konsentrasi Na-EDTA diperoleh sebesar 0,0108
M.

Na-EDTA adalah salah satu ligan yang baik untuk digunakan


sebagai titran dalam titrasi kompleksomestri sebab Na-EDTA sangat
mudah larut didalam air, dan juga mudah bereaksi dengan logam sehingga
dapat membentuk senyawa kompleks yang stabil.

Adapun struktur EBT dan Na-EDTA:

 EBT (Eriochrome Black T)

ONa

O S O

O2N OH

N N

OH

Gambar 4.2 1 Struktur Eriochrome Black T


 Struktur Na-EDTA

O OR

N OR
RO N

RO O

Gambar 4.2 2 Struktur Na-EDTA

2. Penentuan Kesadahan Total Air Sumur Ds.Mekanderejo Kec.


Kedungpring Kab. Lamongan

Langkah pertama yaitu pipet 10 mL sampel air, dimasukkan ke


dalam Erlenmeyer. Setelah itu, ditambahkan indikator EBT 3 tetes dan
larutan buffer pH 10 sebanyak 2 mL. Penambahan larutan buffer pH 10
bertujuan untuk mengkondisikan larutan agar tetap menjaga suasana basa
agar terbentuk senyawa kompleks, jika larutan memiliki suasana asam
akan terhidrolisis sehingga tidak membentuk senyawa kompleks,
sedangkan jika terlalu basa maka akan membentuk hidroksida (Ca(OH)2).
Buffer yang digunakan adalah amonia dengan pH 10. Selain penambahan
buffer juga terdapat penambahan indikator EBT yang berfungsi untuk
membantu menentukan titik akhir dari proses titrasi. Selain itu indikator
EBT memiliki rentang pH yang sesuai dengan laruutan yang akan dititrasi
yaitu 6-10. Sehingga sangat mempermudah menentukan titik akhir.
Kemudian dititrasi dengan Na-EDTA yang sudah distandarisasi sampai
terjadi perubahan warna dari kehitaman menjadi biru. Percobaan dilakukan
sebanyak tiga kali pengulangan dan dihitung kesadahan total.

Pada titrasi pertama diperoleh volume Na-EDTA sebanyak 4 mL,


titrasi kedua diperoleh volume 4,2 mL dan titrasi ketiga diperoleh volume
Na-EDTA sebanyak 3,8 mL. Kemudian volume yang diperoleh dari titrasi
tersebut digunakan untuk menghitung kesadahan air sumur yang menjadi
sampel dengan menggunakan rumus ppm = sehingga diperoleh

kesadahan air sebesar 432,1 mg/L, 453,6 mg/L, dan 410,4 mg/L. Dan
dihitung rata-rata kesadahan air total diperoleh sebesar 432,1 mg/L dengan
rata-rata jumlah volume Na-EDTA sebesar 4 mL.

Sedangkan dalam standar nasional di Indonesia menurut Permenkes


RI No.492/MENKES/PER/II/2010 kesadahan air yang diperbolehkan adalah
500 mg/L yang artinya kesadahan air tidak diperbolehkan melebihi dari
batas standar tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil kesdahan
air dari sampel yang diambil dari Ds. Mekanderejo Kec. Kedungpring Kab.
Lamongan sangatlah tinggi, artinya air tersebut banyak mengandung garam-
garam mineral salah satunya Ca2+.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Standarisasi larutan Na-EDTA dengan CaCl2 sebagai baku memperoleh


nilai rata-rata molaritas Na-EDTA sebesar 0,0108 M.

2. Penentuan kesadahan air sumur memperoleh nilai rata-rata sebesar


432,1 mg/L

5.2 Saran

Praktikan lebih teliti dalam mengukur massa ataupun volume


larutan yang akan digunakan dalam percobaan karena sangat berpengaruh
pada konsentrasi larutan.
DAFTAR PUSTAKA

Bassett, J. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Buku

Kedokteran. EGC. Jakarta.

Effendi, Hefni.2003.Telaah Kualitas Air.Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. (cetakan kedua). Jakarta: Erlangga.

Harvey, David. Modern Analytical Chemistry,2nd edition. Mc Graw-Hills


Company, 2000, San Francisco, p.314-347

Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit: UI-Press.

Svehla, G.1985.Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro

Edisi Ke Lima.Jakarta: PT.Kalman Media Pustaka.

Day, RA. Jr dan Al Underwood. 1992. Analisis Kimia Kuantitatif edisi kelima.
Jakarta Erlangga.
Lampiran

- Jawaban Pertanyaan
1. Carilah rumus kimia Na-EDTA dan erickhrom black T!
Jawab :

2. Berapa kosentrasi CaCl jika dinyatakan dengan ppm CaCO3 ?


Mol CaCO3
Jawab :
Diketahui : massa CaCO3 = 0,0811 gram = 81,1 mg
Air = 100 mL = 0,1 L
[CaCO3] = [CaCl2]
[CaCO3] = [mg/L]
[CaCO3] = [81,1 mg / 0,1 L ]
[CaCO3] = 811 ppm
3. Bagaimana cara membuat larutan buffer ammoia + ammonia
klorida dengan pH 10 ! tunjukkan perhitungannya !
Jawab :
NH3 + HCl  NH4Cl
Cara pembuatan larutan buffer adalah dengan mereaksiakan
antara NH3 dengan HCl yang nantinya akan menghasilkan
NH4Cl
Perhitungan : pH = 14 – pOH pOH = 14 – pH
= 14 – 10
= 4

[ OH- ] = Kb .

10-4 = Kb .

5,55556 [ garam]
Larutan buffer dibuat dengan menggunakan perbandingan
jumlah kosentrasi basa dengan konsentrasi garam.
- Alur
1. Standarisasi Larutan Na-EDTA ±0,01N dengan CaCl2 sebagai baku

0,081 gr CaCO3 pa
1. Ditimbang dengan teliti
2. Dipindahkan kedalam labu ukur 100 mL
3. Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas
4. Ditambahkan larutan HCl sampai gelagak hilang
5. Dikocok sampai homogeny
Larutan baku CaCl2

6. Dipipet menggunakan pipet gondok sebanyal 10 mL

7. Dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 mL

8. Ditambahkan 2mL larutan buffer pH 10

9. Ditabahkan 3 tetes indicator EBT


Larutan warna merah anggur

10. Dititrasi dengan larutan Na-EDTA ±0,01N


11. Dihentikan proses titrasi jikaterjadi perubahan warna
Larutan warna biru
12. Dibaca dan dicatat angka pada buret
13. Dicatat volume Na-EDTA
14. Diulang 3 kali
15. Dihitung konsentrsi rata – rata Na-EDTA
Konsentrasi rata-rata Na-EDTA

2. Penentuan Kadar Air Sumur

Sampel air sumur


1. Dippet 10 mL menggunakan pipet gondok
2. Dimasukkan kedalam Erlenmeyer
3. Ditambahkan 2mL larutan buffer pH 10
4. Ditambahakan 3 tetes indicator EBT
5. Dititrasi dengan larutan Na-EDTA
6. Dihentikan titrasi ketika terjadiperubahan warna
7. Dicatat skala yang ada pada buret
8. Dihitung kesadahan total dalam garam

Kesadahan sample air


- Dokumentasi Foto

Gambar Keterangan Gambar Keterangan

Alat-alat titrasi Statif, klem dan


buret titrasi

Pengisian buret
dengan Na-EDTA

Standarisasi Na-EDTA Aplikasi Air Sumur

Pengenceran Air sumur


CaCl2

10 mL larutan Tabung A B C +
CaCl2 Larutan
dimasukkan ke penyangga +
dalam Indikator EBT
Erlenmeyer A B
dan C

Tabung A + Titrasi
Larutan pengompleksan
penyangga +
Indikator EBT
Hasil titrasi
Hasil titrasi tabung A
tabung A

Tabung B + Hasil titrasi


Larutan tabung B
penyangga +
Indikator EBT

Hasil titrasi Hasil titrasi


tabung B tabung C

Tabung C + Hasil titrasi


Larutan tabung A, B dan
penyangga + C
Indikator EBT

Hasil titrasi
tabung C

Hasil titrasi
tabung A, B dan
C
- Perhitungan
1. Standarisasi larutan AgNo3 ± 0,01 N dengan NaCl sebagai baku

Diketahui : m CaCO3 : 0,081 gram V Na-EDTA A = 7,4mL

Mr CaCO3 : 100 gr/mol V Na-EDTA B = 7,2mL

V NaCl : 100 mL V Na-EDTA C = 7,5mL

Ditanya : M CaCl2?

 Jawab:

M = 0,008 M

 Titrasi A = 7,4mL

M EDTA =

= 0,0108 M

 Titrasi B = 7,2mL

M EDTA =

= 0,0111 M

 Titrasi C = 7,5mL

M EDTA =

= 0,0106 M
 M rata-rata:

: 0, 0108 M

2. Kesadahan Total Air Sumur

- Volume Na-EDTA A = 4 mL
- Volume Na-EDTA B = 4,2 mL
- Volume Na-EDTA C = 3,8mL
- Volume air sampel = 10 mL = 10 x 10-3 mL
- M Na-EDTA = 0,0108M
- Volume rata-rata Na-EDTA = = 4 mL = 4 x 10-
3
L

 V = 4mL
n1 = n2
n1 = M2 . V2
= 0,0108M x 4 x 10-3L
= 4,32 x 10-5 mol
 n1 x BM = massa
Massa = 4,32 x 10-5 mol x 100,09
= 4,323 x 10-3 gram x 103 mg
= 4,323 mg
 ppm = x 106

= = 432,3 mg/L

 V = 4,2mL
n1 = n2
n1 = M2 . V2
= 0,0108M x 4,2 x 10-3L
= 4,536 x 10-5 mol
 n1 x BM = massa
Massa = 4,536 x 10-5 mol x 100,09
= 4,536 x 10-3 gram x 103 mg
= 4,536 mg
 ppm = x 106

= = 453,6 mg/L

 V = 3,8mL
n1 = n2
n1 = M2 . V2
= 0,0108M x 3,8 x 10-3L
= 4,104 x 10-5 mol
 n1 x BM = massa
Massa = 4,104 x 10-5 mol x 100,09
= 4,104 x 10-3 gram x 103 mg
= 4,104 mg/L
 ppm = x 106

= = 410,4 mg/L

 ppm rata – rata =

=
= 432,1 mg/L