Anda di halaman 1dari 21

KONSEP DASAR ILMU POLITIK DAN PEMERINTAHAN

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Konsep Dasar IPS SD
Yang diampu oleh Dra.Ibu Siti Umayaroh, S.pd, M.Pd

Disusun oleh:

Misye Agustin Tri Wahyuni (210151601692)


Mu’awanatur Rizkiyah (210151601828) Nazwa
Sandra Febrina (210151601846)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
OKTOBER 2021

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya karena kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
”konsep dasar ilmu politik dan pemerintahan” dengan tepat waktu.

Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dra.Ibu


Siti Umayaroh, S.pd, M.Pd selaku Dosen mata kuliah Konsep Dasar IPS SD yang
sudah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini.
Makalah ini sudah kami susun dengan maksimal dengan segala pengetahuan yang
kita cari dari banyak sumber dan kerjasama yang kompak antar anggota.
Untuk itu kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Kami juga berharap dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat dalam
menambah ilmu pengetahuan dan juga wawasan yang terkait dengan dasar ilmu
politik dan pemerintahan

Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan


dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman
kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 10 Oktober 2021

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii

BAB 1 .....................................................................................................................

1 PENDAHULUAN ..................................................................................................

1.1 Latar Belakang ..............................................................................................

1 1.2 Rumusan Masalah

......................................................................................... 1 1.3 Tujuan Penulisan

Makalah............................................................................ 2 1.4 Manfaat

Penulisan Makalah.......................................................................... 2

BAB 2 .....................................................................................................................

3 PEMBAHASAN

..................................................................................................... 3 2.1 Definisi

Ilmu Politik ............................................................................. 3 2.2

Konsep-Konsep Ilmu Politik ................................................................ 3 2.3

Definisi ilmu pemerintahan .................................................................. 4 2.4

Macam-Macam Ilmu Pemerintahan...................................................... 5 BAB 3

................................................................................................................... 15

PENUTUP............................................................................................................. 15

3.1 Kesimpulan............................................................................................. 15 3.2

Saran....................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16


iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Politik berhubungan dengan kekuasaan, maka ia memiliki peran penting


dalam kehidupan masyarakat. Politik pada dasarnya merupakan suatu fenomena
yang berkaitan dengan manusia, yang pada kodratnya selalu hidup bermasyarakat.
Manusia adalah makhluk sosial yang dinamis dan berkembang, serta
menyesuaikan dengan keadaan di sekitarnya. Sebagai anggota masyarakat,
seseorang atau kelompok tentu terikat oleh nilai-nilai dan aturan-aturan umum
yang diakui dan dianut oleh masyarakat itu.

Masyarakat secara alamiah membutuhkan suatu sistem peraturan untuk


mengatur bermacam interaksi di dalamnya. Telaah ilmu politik sebagai bagian dari
ilmu sosial dilihat dalam kerangka yang lebih luas merupakan sebagai
pembahasan mengenai berbagai aspek kehidupan termasuk didalamya mencakup
kepercayaan, pemerintahan, kenegaraan atau kemasyarakatan, yang pada
pelaksanaannya banyak sekali dipengaruhi aspek budaya, aspek hukum, aspek
ekonomi, aspek pendidikan dan beberapa aspek yang lainnya. Hakikat politik
adalah perilaku manusia, baik berupa aktivitas atau sikap yang bertujuan
mempengaruhi atau mempertahankan suatu masyarakat dengan kekuasaan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari Ilmu Politik?


2. Apa saja konsep-konsep Ilmu Politik?

3. Apa definisi dari Ilmu Pemerintahan?

4. Apa saja macam-macam Ilmu Pemerintahan?

5. Bagaimana penerapan konsep dasar ilmu politik dan pemerintahan dalam


pembelajaran IPS?

1
1.3 Tujuan Penulisan Makalah

1. Mengetahui definisi dari Ilmu Politik

2. Mengetahui konsep-konsep Ilmu Politik

3. Mengetahui definisi dari Ilmu Pemerintahan

4. Mengetahui macam-macam Ilmu Pemerintahan

5. Mengetahui bagaimana penerapan ilmu politik dan pemerintahan dalam


pembelajaran

1.4 Manfaat Penulisan Makalah

Penulis berharap dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan dan


wawasan dasar Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan bagi pembaca sehingga
berguna untuk pedoman penerapan sehari-hari sebagai makhluk sosial.
2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Ilmu Politik

Ilmu politik merupakan ilmu yang mempelajari politik atau politics atau
kepolitikan. Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik. Di Indonesia
kita mengenal sebuah pepatah “gemah ripah loh jinawi”. Orang Yunani Kuno
terutama Plato dan Aristoteles menamakannya sebagai en dam onia atau the good
life. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa politik dalam suatu negara (state)
berkaitan dengan masalah kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision
making), kebijakan publik (public policy) dan alokasi atau distribusi (allocation or
distribution). Pemikiran politik di dunia barat banyak dipengaruhi oleh filsuf
Yunani Kuno abad ke-5 SM, seperti Plato dan Aristoteles menganggap politik
sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik yang terbaik.
Menurut Rod Hague et al, politik adalah kegiatan yang menyangkut cara
bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat
kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan
diantara anggota-anggotanya. Ada pendapat lain yang datang dari Andrew
Heywood yang menyatakan bahwa politik adalah kegiatan suatu bangsa yang
bertujuan untuk membuat, mempertahankan dan mengamandemen peraturan
peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak dapat lepas dari
gejala konflik dan kerja sama.

2.2 Konsep-Konsep Ilmu Politik

1. Negara

Sebagian ahli seperti Roger F. Soltau dan J. Barents berpendapat bahwa inti dari
Ilmu Politik adalah negara dengan pusat kajian pada lembaga-lembaga kenegaran
dan bentuk formalnya. Negara sendiri oleh Miriam Budiarjo diartikan sebagai
suatu organisasi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah
dan ditaati oleh rakyatnya.

3
2. Kekuasaan

Para ahli seperti Harold D. Lasswell, A. Kaplan, dan Deliar Noer berpendapat
bahwa inti dari Ilmu Politik adalah kekuasaan yakni memperebutkan dan
mempertahankan kekuasaan. Menurut Miriam Budiarjo, kekuasaan adalah
kemampuan seseorang atau suatu kelompok lain, sesuai dengan keinginan para
pelaku.

3. Pengambilan Keputusan

Dalam Ilmu Politik, pengambilan keputusan terkait dengan berbagai macam


keputusan yang diambil secara kolektif mengikat seluruh masyarakat. Keputusan
keputusan tersebut umumnya menyangkut tujuan masyarakat atau kebijakan untuk
mencapai tujuan itu.

4. Kebijakan Umum

Dengan Ilmu Politik, konsep kebijakan umum merujuk pada tujuan bersama yang
hendak dicapai melalui usaha bersama serta rencana-rencana yang mengikat yang
dituangkan dalam bentuk kebijakan oleh pihak yang berwenang atau pemerintah.
Menurut Miriam Budiarjo, kebijakan adalah suatu kumpulan keputusan yang
diambil oleh seorang pelaku atau kelompok politik, dalam usaha memilih tujuan
dan cara mencapai tujuan itu.

5. Pembagian atau Alokasi

Dalam ilmu politik, konsep pembagian atau alokasi berkaitan erat dengan
pembagian dan pengalokasian nilai-nilai secara mengikat. Pembagian atau alokasi
merupakan pembagian dan penjatahan nilai-nilai dalam masyarakat.

2.3 Definisi ilmu pemerintahan

Pemerintah secara etimologis berasal dari kata Yunani kubernan atau nahkoda
kapal artinya menatap ke depan (Rahman, 2018). Sedangkan pendapat lain,
mengatakan pemerintahan dari kata perintah titik kata perintah memiliki 4 unsur
yakni pertama, ada dua pihak yang saling terikat. Kedua, kedua belah pihak saling
memiliki hubungan kontraktual. Ketiga, pihak yang memerintah memiliki

4
kewenangan. Ke empat, pihak yang diperintahkan memiliki ketaatan (Ali dkk.,
2019)

Dari istilah tersebut bisa disimpulkan bahwa pemerintahan adalah organisasi yang
dipimpin oleh seseorang yang memiliki tanggung jawab dan kewenangan serta
pandangan kedepan titik pemerintah selalu diorientasikan pada kemajuan sebuah
negara bangsa. Sebagaimana dikatakan Amien Rais dkk yang mendefinisikan
pemerintahan adalah sekelompok orang bersama-sama memikul tanggung jawab
terbatas untuk menggunakan kekuasaan (Haboddin, 2015)

2.4 Macam-Macam Ilmu Pemerintahan


Terdapat beberapa macam ilmu pemerintahan yang ada di dunia dan hal ini sering
kita sebut dengan bentuk pemerintahan. Macam-macam ilmu pemerintahan
tersebut ialah:
1. Aristokrasi
Aristokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu Aristokratia yaitu
aristos yang artinya best dan kratia yang artinya rule. Dapat disimpulkan
bahwa aristokrasi adalah sebuah system pemerintahan yang dipimpin oleh
orang terbaik. Akan tetapi kata terbaik dalam definisi ini terkesan samar
dengan istilah terbaik dimasa Yunani Kuno. Definisi terbaik yang tepat
ialah seseorang yang emiliki kecakapan tinggi, berpendidikan,
berpengalaman dan bermoral tinggi.

Aristokrasi merupakan system pemerintahan yang bersifat otoriter,


hal tersebut terjadi karena mayoritas warga Negara tidak memiliki peran
secara langsung atau terlembaga dalam pembentukan kebijakan, warga
tidak berperan serta dalam pemilihan umum, dan mereka tidak terorganisir
di dalam partai-partai politik yang bersaing ataupun kelompok-kelompok
yang dikenal.

Bentuk pemerintahan aristokrasi kepala Negara dipimpin oleh


seorang raja atau ratu dan kepala pemerintahan dipimpin oleh perdana

5
menteri, bentuk pemerintahan seperti ini banyak dijumpai di negara-negara
Eropa seperti Inggris dan Negara di Eropa lainnya.

2. Oligarki
Oligarki merupakan bentuk pemerintahan dimana yang berkuasa
adalah sekelompok pengusaha yang bekerjasama untuk menentukan
berbagai kebijakan politik, sosial, dan ekonomi negara tanpa harus
mempertimbangkan aspirasi dari rakyat. Oligarki juga diartikan
pemerintahan oleh golongan minoritas dalam masyarakat, suatu minoritas
yang keberadaannya tidak perlu dibedakan oleh gelar aristocrat atau hak
istimewa.
Kaum oligarki ini berkuasa atas nama rakyat, yang selalu
berusaha untuk memperpanjang bahkan jika memungkinkan berusaha
untuk mempertahankan dan memonopoli kekuasaan dan ekonomi yang
dipegang dengan menyelubungkan ideology tertentu, dengan dalih
kepentingan nasional dan tindakan-tindakan sejenisnya. Kelompok
oligarki akan menghancurkan setiap oposisi yang menentang dan
mempertanyakan legitimasi pemerintahannya dengan berbagai macam
tuntutan dan fitnah. Bentuk pemerintahan oligarki Negara juga dipimpin
oleh seorang raja atau ratu dan kepala pemerintahannya dipimpin oleh
perdana menteri.

3. Monarki
Monarki berasal daari bahasa Yunani monos yang berarti satu, dan
archein yang berarti pemerintah. Monarki merupakan sejenis
pemerintahan di mana Raja yang menjadi kepala Negara. Monarki atau
system pemerintahan kerajaan merupakan system tertua di dunia. Pada
abad ke-19, terdapat lebih dari 900 tahta kerajaan di dunia, akan tetapi
seiring berjalannya waktu menurun menjadi 240 buah dalam abad ke-20.
Sedangkan pada decade kedelapan abad ke-20, hanya 40 tahta saja yang
masih bertahan. Dari jumlah tersebut, hanya empat negara yang

6
mempunyai raja atau monarki yang utlak dan selebihnya terbatas kepada
system konstitusi.

4. Demokrasi
Demokrasi adalah bentuk system pemerintahan yang setiap warga
negaranya memiliki kesetaraan hak dalam pengambilan keputusan yang
dapat mengubah kehidupan. Demokrasi juga mengandung pengertian
secara tidak langsung bahwasanya rakyat memiliki kekuasaan tertinggi
dalam suatu negara. Pastinya kita sering mendengar slogan yang
diciptakan oleh Abraham Lincoln yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat yang melambangkan suatu system demokrasi.
Kata Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “demos” yang
artinya rakyat, dan ”Kratei” yang berarti pemerintah. dengan demikian
demokrasi dapat diartikan sebagai suatu system pemerintahan yang
kekuasaan tertingginya dipegang oleh rakyat.

Pengertian demokrasi menurut para ahli:


a. Aristoteles, Demokrasi merupakan suatu kebebasan, artinya
kebebasan bagi setiap warga negara dapat berbagi kekuasaan,
Aristoteles mengatakan bahwa setiap warga negara itu setara
dalam jumlah, yaitu satu individu, dalam system demokrasi tidak
ada penilaian mengenai seberapa tinggi nilai individu tersebut,
setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama.
b. AbrahamLincoln, Demokrasi adalah system pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
c. Sidney Hook, Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana
keputusan penting dalam suatu pemerintahan, baik secara
langsung maupun tidak langsung didasarkan oleh kepentingan
umum dengan berdasarkan hak yang diberikan kepada rakyat
biasa.
d. Samuel Huntington, Demokrasi terwujud apabila setiap pemegang
kekuasaan dalam suatu negara dipilih secara umum, adil, dan

7
jujur. Para peserta boleh bersaing secara bersih dan semua
masyarakat memiliki hak yang sama dalam pemilihan.

Prinsip-prinsip demokrasi:

∙ Persamaan diantara warga negara. Setiap warga negara memiliki


kesetaraan dalam praktik politik.
∙ Keterlibatan warga negara dalam mengambil keputusan politik. ∙
Kebebasan yang diakui dan dipakai serta diterima oleh warga negara.
Ciri-ciri pemerintahan demokrasi:

∙ Pemerintahan berdasarkan atas kehendak dan kepentingan rakyat


banyak.
∙ Ciri konstitusional, yaitu hal yang berkaitan dengan kepentingan,
kehendak, ataupun kekuasaan rakyat yang dituliskan dalam
konstitusi dan undang-undang negara tersebut.
∙ Ciri perwakilan, yaitu dalam mengatur negaranya, kedaulatan rakyat
diwakilkan oleh beberapa orang yang dipilih rakyat itu sendiri.
∙ Ciri pemilihan umum, yaitu suatu egiatan politik yang dilakukan
untuk memilih pihak dalam pemerintahan.
∙ Ciri keputusan, yaitu partai menjadi sarana atau media untuk
menjadi bagian dalam pelaksanaan system demokrasi. ∙ Ciri
kekuasaan, adanya pembagian dan pemisahan kekuasaan. ∙ Ciri
tanggung jawab, adanya tanggung jawab dari pihak yang telah terpilih
untuk ikut dalam pelaksanaan suatu system demokrasi.

Kelebihan dan kekurangan system demokrasi:

a. Kelebihan system demokrasi:


∙ Pemegang kekuasaan dipilih berdasarkan keinginan
rakyat.

8
∙ Mencegah terjadinya monopoli kekuasaan.
∙ Kesetaraan hak yang membuat masyarakat dapat
berpartisipasi dalam system politik.
b. Kekurangan system demokrasi:
∙ Kepercayaan rakyat mudah digoyangkan oleh pengaruh
media.
∙ Kesetaraan hak dianggap tidak wajar oleh beberapa ahli
karena pengetahuan politik setiap orang tidak
sama.
∙ Fokus pemerintah yang sedang menjabat akan berkurang
saat menjelang pemilihan umum berikutnya.

Dalam system pemerintahan ini kepala negara serta kepala


pemerintahan dipegang oleh presiden. Dalam bentuk pemerintahan
demokrasi biasanya terdapat tiga tingkatan yaitu eksekutif
(pemerintah), Legislatif, dan yudikatif.

5. Autokrasi
Autokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana kekuasaan
terpusat di tangan raja dan kaum elit negara. Dalam bentuk pemerintahan
ini terdapat beberapa kelompok yang diistimewakan. Autokrasi dianggap
bentuk pemerintahan yang kurang baik karena bentuk pemerintahan ini
dapat menyengsarakan rakyat. Bentuk pemerintahan ini menganggap raja
sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

6. Teokrasi
Teokrasi adalah bentuk pemerintahan diman agama atau iman
memegang peran utama. Kata “teokrasi” berasal dari bahasa Yunani theos
yang artinya tuhan dan kratein yang berarti memerintah. Jadi teokrasi
artinya pemerintahan oleh tuhan.
Bentuk pemerintahan teokrasi menganggap raja sebagai kepala negara
dan rakyat pun menganggap raja adalah orang yang dekat dengan tuhan.
Selain itu mayoritas rakyatnya menganut agama yang dianut dikerajaan.

9
7. Khilafah
System khilafah secara politik didedikasikan untuk melayani
kepentingan masyarakat. Hal itu dikarenakan, hakikat politik islam adalah
ri’ayah su’un al-ummah (pengurusan urusan umat) yang berdasarkan
pada syariah Islam. Karena itu, penguasa dalam Islam bagaikan
penggembala dan pelayan umat.

Dalam islam penguasa hadir untuk menerapkan hokum


hukumIslam, seperti halnya memastikan pemenuhan kebutuhan pokok
setiap individu masyarakat seperti pangan, sandang dan papan, menjamin
pendidikan yang bermutu tinggi dan kesehatan yang layak untuk
masyarakat secara gratis, memastikan tegaknya hokum dan terjaganya
keamanan rakyat.

Prinsip kedaulatan di tangan syariah akan memberikan jaminan


pelayanan pada masyarakat berjalan dengan baik karena masyarakat
diurus berdasarkan syariah Islam. Kedaulatan syariah ini akan menutup
intervsi manusia untuk membuat kebijakan hokum maupun politik yang
didasarkan pada kepentingan kelompok, hawa nafsu, atau kekuatan
modalnya seperti dalam system demokrasi yang meletakkan kedaulatan di
tangan manusia.

Sistem pemerintahan khilafah atau syariat Islam, system politik


memberikan kekuasaan kepada rakyat. Dengan hak kekuasaan tersebut,
rakyat memiliki hak untuk memilih khalifah atau pemimpin yang mereka
sukai tanpa ada paksaan. Rakyat juga berhak bahkan wajib mengkritik
pemimpin apabila menyimpang dari Islam. Islam memuliakan aktivitas
mengoreksi penguasa ini dengan sebutan sebaik-baik jihad dan dengan
julukan jika pelakunya terbunuh “pemimpin para syahada”.

Negara Khilafah merupakan negara hukum dimana setiap vonis


untuk menyelesaikan persengketaan atau kejahatan harus melalui proses
pengadilan. Hakim pun menjatuhkan hukuman sesuai dengan syariah

10
Islam dengan proses pembuktian dan saksi. Hukum dalam hal ini berlaku
sama bagi siapa saja, rakyat atau pengusaha, yang kaya maupun yang
miskin, Muslim atau non-Muslim.

Penerapan Konsep Dasar Politik dan Pemerintahan dalam pembelajaran IPS

Konsep dasar politik dan pemerintahan diterapkan dalam pembelajaran IPS


melalui mata pelajaran PPKN. Pendidikan kewarganegaraan berkaitan langsung
dengan perilaku atau perilaku warga negara, oleh karena itu pendidikan
kewarganegaraan menunjukkan tujuan pendidikan karakter, karakter, dan etika
bagi warga negara. Depdiknas 1993 menyatakan bahwa Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn) ditetapkan sebagai wadah untuk mengembangkan dan
memelihara nilai-nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya Indonesia.
Nilai-nilai luhur dan moral tersebut dalam bentuk perilaku diharapkan terwujud
dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, baik sebagai individu maupun sebagai
anggota masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan. Nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia tercermin dalam 5 Pancasila. Pancasila sebagai pedoman dan visi
kehidupan bangsa, tentunya nilai-nilai yang ditransmisikan tidak boleh
bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Kewarganegaraan, mata pelajaran yang erat kaitannya dengan falsafah hidup
berbangsa, memiliki tiga fungsi utama:

1) Mengembangkan dan melestarikan nilai luhur Pancasila,


2) Mengembangkan dan membina siswa yang sadar akan hak dan
kewajibannya, taat pada peraturan yang berlaku, serta budi pekerti luhur, 3)
Membina siswa agar memahami dan menyadari hubungan antar sesama
anggota keluarga, sekolah, dan masyarakat, serta dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara (Yunanto, 2020)

Mata kuliah Kewarganegaraan di sekolah dasar memiliki tujuan tertentu, yaitu


untuk menanamkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan
nilai-nilai luhur Pancasila, baik sebagai individu maupun sebagai anggota
masyarakat, dan untuk memberikan keterampilan bagi pendidikan tinggi. Nilai-

11
nilai Pancasila yang dimaksud adalah kerapian, kasih sayang, kebangsaan,
ketertiban, tolong-menolong, amanah, keterbukaan, suka cita, amanah, toleransi,
pengorbanan diri, ketekunan, kerukunan, percaya diri, kebebasan, disiplin,
ketaatan, persamaan dan kewajiban. Tekad, adab, keindahan, lapang dada,
persatuan dan kesatuan serta kebijaksanaan
Peran pemerintah dalam suatu negara sangatlah penting sehingga setiap orang
harus mengetahui atau mengakui kewenangannya. Guru seringkali kesulitan untuk
menyampaikan konsep pemerintah pusat kepada siswa. Mengingat pemikiran
siswa masih konkrit dan sulit dipahami, abstrak atau jauh dari kehidupan siswa
dan tidak diajarkan oleh semua orang tua.

Terdapat beberapa permasalahan yang menyebabkan rendahnya tingkat


pemahaman siswa mengenai konsep pemerintahan pusat.

Permasalahan yang di alami dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Permasalahan pertama adalah sebagian siswa terkesan bosan dengan


pembelajaran yang sulit dipahami karenamateri tersebut terbilang abstrak.
2) Permasalahan yang kedua yaitu penggunaan metode yang belum tepat.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk menciptakan pembelajaran yang
menyenangkan serta dapat mempermudah siswa untuk memahami materi
yang disampaikan. Banyak model pembelajaran, strategi, teknik atau
media pembelajaran yang dapat digunakan.

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan yang diuraikan di atas, maka
dapat digunakan sebuah metode yang dapat membuat proses pembelajaran
menjadi menyenangkan yaitu metode cooperative learning tipe make a match.
Tipe make a match adalah bentuk pasangan dengan dipasangkan oleh materi yang
cocok. Selain mendapatkan pelajaran, siswa juga dapat bermain dan belajar
bekerja sama dengan teman yang lainnya. Berbagai aspek pada bagian afektif pun
dapat diperoleh. Johnson & Smith (dalam Labolo, 2008) mengemukakan bahwa
“... belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga

12
proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang
lain dan membangun pengertian dan pengetahuan bersama.”

Untuk pelaksanaan dan optimalisasi proses sosialisasi politik diperlukan


strategi dan tempat yang tepat dimana sosialisasi politik berlangsung, misalnya
sebagai sarana atau agen sosialisasi politik di lingkungan sekolah. Sekolah
merupakan wahana sosialisasi politik yang luas (Lay & Masudi, 2005). Sebagai
lembaga pendidikan formal, sekolah memiliki potensi yang sangat besar untuk
meletakkan dasar bagi pembentukan masyarakat atau politik yang demokratis.

Pendidikan politik di sekolah lebih berorientasi pada pengembangan budaya


sederhana yang bercirikan demokrasi dan kemandirian. Ini merupakan dasar
fundamental untuk mewujudkan kehidupan demokrasi di masa depan. Dalam hal
ini, pendidikan kewarganegaraan di sekolah dapat dimulai dari hal-hal kecil dan
sederhana, dengan menonjolkan tumbuhnya budaya positif dalam pergaulan.
Berikut ini termasuk:

∙ Adanya kebebasan yang besar bagi siswa untuk menyampaikan pendapat


dalam forum-forum kelas. Metode-metode diskusi harus dilakukan
sesering mungkin dan tidak hanya berangkat dari buku-buku teks. Dalam
hal ini, harus disadari bahwa secara ilmiah tidak ada sesuatu yang
memiliki kebenaran absolut.
∙ Adanya komunikasi dua arah yang cair antara guru dan siswa. Bila kita
terbiasa dengan cara-cara komunikasi yang serba resmi dan kaku, seperti
saat guru mengajar di kelas, maka konsep pendidikan politik dan
pemerintahan yang harus diterapkan adalah menciptakan ruang-ruang
komunikasi yang tidak kaku. Dengan begitu siswa bisa menyampaikan
ide-ide secara bebas, terbuka dan kritis. Komunikasi yang berjalan dua
arah dan tidak kaku tersebut jelas berujung pada tumbuhnya rasa percaya
diri pada siswa yang pada gilirannya nanti akan melatih kreativitas dan
kemandirian mereka.

Keteladanan dalam kehidupan berorganisasi. Sekolah merupakan sistem


organisasi yang meliputi hubungan antara kepala sekolah, pegawai, guru hingga

13
para siswa. Meskipun berbagai teori mengenai kehidupan berorganisasi dan
bermasyarakat telah disampaikan oleh para guru, namun tanpa contoh langsung
walaupun dalam sekup kecil, maka teori-teori akan menguap dan hanya sekedar
membekas di catatan raport para siswa. Bagaimana seharusnya pemimpin
bersikap kepada bawahan atau sebaliknya, bagaimana bekerjasama yang baik
dengan rekan seorganisasi, menumbuhkan sikap empati dan tenggang rasa
dengan teman, semua itu juga bisa dicontohkan lewat organisasi.

14
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, bahwa Ilmu Pemerintahan Secara umum dapat dikatakan
bahwa ilmu pemerintahan, menekankan pada fungsi output daripada mutu sistem
politik, sedangkan ilmu politik menitikberatkan pada fungsi input. Maksudnya
ilmu pemerintahan membahas tentang penyelenggaraan kebijakan (peraturan)
serta kebijaksanaan kepada masyarakat, sedangkan Ilmu Politik mengkaji tentang
pembuatan kebijakan dan penampung aspirasi untuk menentukan suatu kebijakan
serta kebijaksanaaan.

3.2 Saran
Hal-hal mengenai Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan, sebagai bagian dari Ilmu
Sosial memang kompleks karena menyangkut kepentingan masyarakat dengan
berbagai perspektif. Namun, kami harap makalah yang kami susun ini dapat
bermanfaat para pembaca untuk memahami lebih jauh lagi mengenai Ilmu Politik
dan Pemerintahan. Kita adalah makhluk sosial dan bagian dari masyarakat, oleh
karena itu penting bagi kita untuk mempelajari Ilmu Politik dan Pemerintahan
sebagai pedoman kita dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar, Pesan
pentingnya adalah pemerintah harus bertanggung jawab dalam melaksanakan
kekuasaan. Kekuasaan yang bertanggung jawab merupakan prosedur dari
demokrasi secara prosedural.

15
DAFTAR PUSTAKA

Ali, F., Kadir, A. G., & Faried, F. S. (2019). Filsafat & Ilmu Pemerintahan.
Haboddin, M. (2015). Pengantar Ilmu Pemerintahan. Universitas Brawijaya Press.
Labolo, M. (2008). Memahami Ilmu Pemerintahan. Rajawali Pers.

Lay, C., & Masudi, W. (2005). Perkembangan Kajian Ilmu Pemerintahan. Jurnal Ilmu Sosial
Dan Politik, 9(2005).

Rahman, F. (2018). Teori Pemerintahan. Universitas Brawijaya Press.

Yunanto, S. E. (2020). Ilmu Pemerintahan: Anti Pada Politik, Lupa Pada Hukum, Dan
Enggan Padaadministrasi. Governabilitas (Jurnal Ilmu Pemerintahan Semesta), 1(1),
1–23.
16

Anda mungkin juga menyukai