Anda di halaman 1dari 21

Tugas Kelompok

Kamis/14 Oktober 2021


MAKALAH

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN TERPADU

“Analisis Pengembangan Model Terpadu Tipe Networked pada


Pembelajaran IPA ”

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Usmeldi, M.Pd


Dr. Asrizal, M.Si

Oleh Kelompok 6 :

Gita Lutfiana (21175025)


Muhammad Fauzi (21175011)
Nesty Hasmadya Putri (21175012)
Puput Kartika (21175014)
Suci Ana Yolanda (21175030)

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul
“Analisis Pengembangan Model Terpadu Tipe Networked pada Pembelajaran IPA”.
Makalah ini merupakan tugas kelompok dalam mata kuliah Pengembangan
Pembelajaran Terpadu.

Dalam menulis Makalah ini Penulis mengambil dari berbagai sumber baik dari
buku maupun internet serta membuat gagasan dari beberapa sumber yang ada tersebut.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Usmeldi, M.Pd dan Dr.
Asrizal, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Pembelajaran
Terpadu ini.

Penulis juga menyadari bahwa dalam penyajian makalah ini masih banyak
terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca dalam penyempurnaan Makalah ini. Akhir kata,
semoga makalah ini bermanfaat sebagaimana yang diharapkan. Aamiin

Padang, Oktober 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR................................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................... 2
C. Tujuan.................................................................................................................. 3
D. Manfaat Penulisan .............................................................................................. 3

BAB II KAJIAN TEORI

A. Hakikat Pembelajaran Terpadu ........................................................................... 4

B. Pengertian Pembelajaran Terpadu Tipe Networked............................................ 8

C. Karakteristik Pembelajaran Terpadu Tipe Networked ........................................ 9

D. Langkah Pengembangan Pembelajaran Terpadu Tipe Networked ........................10

E. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Terpadu Tipe Networked.................. 10


F. Implikasi dan Implementasi Model Pembelajaran Terpadu Tipe Networked...... 11

BAB III PEMBAHASAN

A. Analisis Sampel Jurnal dengan Penggunaan Model Pembelajaran Terpadu Tipe


Networked........................................................................................................... 13

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan.......................................................................................................... 16
B. Saran.................................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting bagi kemajuan suatu


bangsa dan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Oleh karena itu
pendidikan di Indonesia selalu berubah menyesuaikan perkembangan zaman dan
teknologi agar kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia selalu meningkat
dan lebih baik. Semakin membaiknya kualitas pendidikan di Indonesia maka
SDM Indonesia juga akan semakin berkualitas. Salah satu upaya pemerintah
dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yaitu dengan
penyempurnaan kurikulum pendidikan. Kurikulum adalah perangkat yang berisi
rancangan pelajaran dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan belajar mengajar yangakan diberikan kepada peserta didikk dalam
jangka waktu tertentu. Kurikulum yang diterapkan pada pendidikan Indonesia
saat ini adalah Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 akan menjadi pedoman
pelaksaan pembelajaran pada setiap mata pelajaran pada tiap jenjang pendidikan,
termasuk pada proses pembelajaran IPA terpadu di Sekolah Menengah
Pertama(SMP).
Pembelajaran IPA terpadu merupakan salah satu model implementasi
kurikulum yang dianjurkan untuk di aplikasikan pada jenjang SMP yaitu dengan
menghubungkan kajian kimia, fisika dan biologi. Sehingga diperlukan suatu
model keterpaduan untuk mengintegrasikan konten dan kemampuan ilmiah
Sains, keterampilan praktis, sikap, dan nilai-nilai, serta mengkombinasikan
materi kimia, fisika dan biologi dalam pembelajaran. Dengan adanya integrasi
ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan minat
peserta didik, keterampilan berpikir kritis dan pembelajaran IPA menjadi lebih
bermakna. Menurut Robin Fogarty terdapat 10 tipe pembelajaran terpadu yang
dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA salah satunya network model.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang
mempelajari gejala-gejala di alam semesta, baik benda hidup maupun benda tak
hidup, dengan menggunakan metode ilmiah dan menghasilkan teori-teori yang
tersusun secara sistematis. IPA merupakan suatu kesatuan pengetahuan yang utuh

1
dan di dalamnya terdapat sejumlah materi atau konsep yang saling terkait satu
sama lain dan bersifat menyeluruh. Namun, di sekolah saat ini IPA sering kali
disajikan sebagai kumpulan – kumpulan fakta dan konsep tanpa menghubungkan
keterkaitan antar fakta dari ketiga sudut pandang keilmuan IPA. Pembelajaran
IPA terpadu masih sulit untuk dilaksanakan. Pendidik memiliki kesulitan dalam
membuat RPP, media, bahan ajar yang akan digunakan dalam setiap model
keterpaduan dan memadukan konsep kimia, fisika, biologi dalam satu pokok
bahasan yang sedang diajarkan. Kesulitan ini muncul karena kurangnya
pemahaman konsep pendidik. Hal ini disebabkan oleh latar belakang pendidikan
pendidik IPA saat ini kebanyakan berasal dari kimia, fisika, biologi dan teknik.
Sedangkan mereka diminta untuk mengajarkan konsep IPA terpadu yang
merupakan gabungan dari kimia, fisika dan biologi. Maka pada pelaksanaan
pembelajaran terpadu dituntut profesionalitas pendidik dalam mengajar dan kerja
sama yang baik antar pendidik IPA pada ada di suatu sekolah agar saling
melengkapi pengetahuan konsep satu sama lain dari masing-masing latar
belakang pendidikan. Salah satu faktor yang dapat membantu pendidik dalam
mengajarkan IPA terpadu adalah tersedianya bahan ajar IPA terpadu.
Bahan ajar merupakan salah satu aspek penting yang berisi pengetahuan,
konsep, fakta, materi yang nyata, baik yang dicetak maupun yang belum
digunakan yang digunakan sebagai sumber bahan belajar. Bahan ajar IPA terpadu
juga perlu memperhatikan tipe keterpaduan Robin Fogarty agar dapat digunakan
untuk mendukung pembelajaran IPA terpadu sesuai dengan tipe keterpaduan yang
diterapkan oleh pendidik dalam pembelajaran. Setiap tipe keterpaduan dari Robin
Fogarty memiliki karakteristik yang berbeda - beda sehingga jika diadopsi
kedalam suatu bahan ajar tentu akan memberikan karakteristik tersendiri pada
bahan ajar tersebut. Berbeda tipe keterpaduan yang diterapkan maka bahan ajar
yang dihasilkan juga akan berbeda.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam penulisan
makalah ini adalah:
1. Bagaimana pengertian dari model pembelajaran terpadu tipe networked ?
2. Bagaimana karakteristik model pembelajaran terpadu tipe networked ?

2
3. Bagaimana langkah pengembangan model pembelajaran terpadu tipe
networked?
4. Apa saja yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran
terpadu tipe networked ?
5. Bagaimana Implikasi dan implementasi dari model pembelajaran terpadu tipe
networked ?
6. Bagaimana hasil analisis jurnal terkait dengan model pembelajaran terpadu
tipe networked?

C. Tujuan

Dari rumusan masalah di atas maka tujuan dari penulisan Makalah ini adalah
sebagai berikut:
1. Menjelaskan pengertian dari model pembelajaran terpadu tipe networked.
2. Menjelaskan karakteristik model pembelajaran terpadu tipe networked.
3. Menjelaskan langkah pengembangan pembelajaran terpadu tipe networked
4. Menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran terpadu tipe
networked.
5. Menjelaskan Implikasi dan implementasi dari model terpadu tipe networked
pada pembelajaran IPA.
6. Bagaimana hasil analisis jurnal terkait dengan model pembelajaran terpadu tipe
networked.
D. Manfaat
Penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak,
diantaranya;
1. Penulis, sebagai wadah untuk mengembangkan kompetensi dan menambah
wawasan mengenai model pembelajaran terpadu terutama tipe networked, serta
memenuhi tugas pada mata kuliah Pengembangan Pembelajaran Terpadu.
2. Pendidik, sebagai tambahan wawasan dan masukkan dalam membuat bahan ajar
yang dapat menunjang proses pembelajaran IPA terpadu di sekolah
3. Pembaca, sebagai wadah untuh menambah pengetahuan mengenai model
pembelajaran terpadu tipe networked.

3
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Hakikat Pembelajaran Terpadu

Istilah Pembelajaran Terpadu berasal dari kata “ integrated teaching and


learning” atau “ integrated curriculum approach ”. Konsep ini telah lama
dikemukakan oleh John Dewey sebagai usaha untuk mengintegrasikan perkembangan
dan pertumbuhan siswa dan kemampuan pengetahuannya ( Beans, 1993).
Pada perspektif bahasa, pembelajaran terpadu sering diartikan sebagai
pendekatan tematik ( thematic approach ). Pembelajaran terpadu didefinisikan sebagai
proses dan strategi yang mengintegrasikan isi bahasa (membaca, menulis, berbicara
dan mendengar) dan mengkaitkannya dengan mata pelajaran lain. Konsep ini
mengintegrasikan bahasa (language arts content) sebagai pusat pembelajaran yang
dihubungkan dengan berbagai tema atau topik pembelajaran.
Pembelajaran terpadu juga sering disebut pembelajaran koheren (a coherent
curriculum approach ) yang memandang bahwa pembelajaran terpadu merupakan
pendekatan untuk mengembangkan program pembelajaran yang menyatukan dan
menghubungkan berbagai program pendidikan. Keterhubungan dalam kurikulum
bukan hanya antara mata pelajaran dan kebutuhan serta minat dan bakat anak, tetapi
juga menghubungkan antara tujuan dan kegiatan, serta kondisi masyarakat pada
umumnya.
Definisi lain tentang pembelajaran terpadu adalah pendekatan holistik ( a holitic
approach ) yang mengkombinasikan aspek efistemologi, sosial, psikologi dan
pendekatan paedagogi untuk pendidikan anak, yaitu menghubungkan antara otak dan
otot, antara individu dan individu, antara individu dan komunitas, dan antara domain-
domain pengetahuan. (Udin Syaefudin Sa’ud, Ph.D, 2006 ). Pembelajaran terpadu
sangat memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik
dengan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun
emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari, menggali,
dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistik, bermakna, dan otentik
sehingga siswa dapat menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan masalah-
masalah yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari.

4
Menurut para pakar pendidikan pembelajaran terpadu sangat tepat diterapkan
pada sekolah dasar, karena pada jenjang pendidikan dasar siswa memahami dan
menghayati pengalamannya masih secara totalitas serta masih sulit menghadapi
pemilahan dan pemisahan yang artificial. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat
dilihat dari asfek proses atau waktu, aspek bahan ajar dan asfek kegiatan belajar
mengajar.
Model pembelajaran terpadu pada dasarnya merupakan suatu sistem
pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun
kelompok aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip – prinsip keilmuan
secara holistik bermakna dan otentik.
Sedangkan pembelajaran terpadu menurut Prabowo (2000:2), pembelajaran
terpadu adalah suatu proses pembelajaran dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai
bidang studi. Dan ada dua pengertian yang perlu dikemukakan untuk menghilangkan
kerancuan dari pengertian pembelajaran terpadu di atas, yaitu konsep pembelajaran
terpadu dan IPA terpadu.
Menurut Prabowo (2000:2), pembelajaran terpadu merupakan pendekatan
belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi. Pendekatan belajar mengajar
seperti ini diharapkan akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada
anak didik kita. Arti bermakna disini dikarenakan dalam pembelajaran terpadu
diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka
pelajari dengan melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep
lain yang sudah mereka pahami.
Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang
memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik
(Developmentally Appropriate Practical). Pendekatan yang berangkat dari teori
pembelajaran yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan
struktur intelektual anak.
Langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran terpadu adalah pemilihan/
pengembangan topik atau tema. Dalam langkah awal ini guru mengajak peserta
didiknya untuk bersama-sama memilih dan mengembangkan topik atau tema tersebut.
Dengan demikian anak didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pembuatan
keputusan.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan terpadu ini diharapkan akan
dapat memperbaiki kualitas pendidikan dasar, terutama untuk mencegah gejala
5
penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran di sekolah. Dampak negatif dari
penjejalan kurikulum akan berakibat buruk terhadap perkembangan anak. Hal tersebut
terlihat dengan dituntutnya anak untuk mengerjakan berbagai tugas yang melebihi
kapasitas dan kebutuhan mereka. Mereka kurang mendapat kesempatan untuk belajar,
untuk membaca dan sebagainya. Disamping itu mereka akan kehilangan pengalaman
pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik dari dunia mereka yang akan
membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak (Prabowo, 2000:3).
Pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu :
berpusat pada peserta didik (student centered), proses pembelajaran mengutamakan
pemberian pengalaman langsung, serta pemisahan antar bidang studi tidak terlihat
jelas. Disamping itu pembelajaran terpadu menyajikan konsep dari berbagai bidang
studi dalam satu proses pembelajaran. Kecuali mempunyai sifat luwes, pembelajaran
terpadu juga memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai dengan minat dan
kebutuhan peserta didik.
Secara singkat dapat dismpulkan bahwa pada hakikatnya pembelajaran terpadu
adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang berkaitan, baik dalam satu
displin ilmu maupun antar disiplin ilmu dengan kehidupan dan kebutuhan nyata para
peserta didik, sehingga proses belajar menjadi sesuatu yang bermakna dan
menyenangkan. Pembelajaran terpadu mengacu kepada dua hal pokok, yaitu : 1)
keterkaitan materi belajar antar disiplin ilmu relevan dengan diikat/disatukan melalui
tema pokok, dan 2) keterhubungan tema pokok tersebut dengan kebutuhan dan
kehidupan aktual peserta didik. Dengan demikian tingkat keterpaduannya tergantung
kepada strategi dalam mengaitkan dan menghubungkan materi belajar dengan
pengalama nyata peserta didik.
Berikut ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran terpadu yaitu
meliputi :
1. Prinsip penggalian tema antara lain : a). Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun
dengan mudah dapat digunakan memadukan banyak bidang studi, b). Tema harus
bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal
bagi peserta didik untuk belajar selanjutnya c). Tema harus disesuaikan dengan
tingkat perkembangan psikologis peserta didik. d). Tema yang dikembangkan harus
mampu mewadahi sebagian besar minat peserta didik, e). Tema yang dipilih
hendaknya mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam
rentang waktu belajar, f) Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan
6
kurikulum yang berlaku, serta harapan dari masyarakat, g). Tema yang dipilih
hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
2. Prinsip pelaksanaan terpadu di antaranya : a) guru hendaknya jangan menjadi
“single actor “ yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar, b)
pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas 
yang menuntut adanya kerjasarna kelompok, c) guru perlu akomodatif terhadap
ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam poses perencanaan.
3. Prinsip evaluatif adalah : a). memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya, b) pendidik perlu
mengajak peserta didik untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai
berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disepakati dalam
kontrak.
4. Prinsip reaksi, dampak pengiring (nuturan efek) yang penting  bagi perilaku secara
sadar belum tersentuh oleh pendidik dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu,
pendidik dituntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran
sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. pendidik harus
bereaksi terhadap reaksi siswa dalam semua “event “ yang tidak diarahkan ke aspek
yang sempit tetapi ke suatu kesatuan utuh dan bermakna.
Waktu pembelajaran terpadu bisa bermacam-macam yaitu : a) pembelajaran
terpadu yang dilaksanakan pada waktu tertentu, yaitu apabila materi yang dijalankan
cocok sekali diajarkan secara terpadu; b) Pembelajaran terpadu bersifat temporer,
tanpa kepastian waktu dan bersifat situasional, dimana pelaksanaannya tidak
mengikuti jadwal yang teratur, pelaksanaan pembalajaran terpadu secara spontan
memiliki karakteristik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulum yang isinya masih
terkotak-kotak berdasarkan mata pelajaran. Walaupun demikian pendidik tetap harus
merencanakan keterkaitan konseptual atau antar pelajaran, dan model networked
memungkinkan dilaksanakan dengan pembelajaran terpadu secara spontan (tim
pengembang PGSD, 1996); c) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu
secara periodik, misalnya setiap akhir minggu, atau akhir catur wulan. Waktu-
waktunya telah dirancang secara pasti; d) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran
terpadu sehari penuh. Selama satu hari tidak ada pembelajaran yang lain, yang ada
peserta didik belajar dengan yang diinginkan.

7
B. Pengertian Pembelajaran Terpadu Tipe Networked

Pembelajaran IPA terpadu tipe networked merupakan pembelajaran yang


memberikan kesempatan bagi peserta didik menerima masukan dari luar dirinya
yang ia pandang sebagai pakar (expert), sehingga idenya mengalami
penghalusan, penyempurnaan, dan perkembangan secara berkelanjutan. Dalam
mengembangkan pengetahunannya, peserta didik menjadikan jejaring sebagai
sumber utama yang harus difilter dengan lensa dan minatnya. Dengan tipe
integrasi jejaring peserta didik secara langsung mengintegrasikan IPA melalui
proses pemilihan oleh dirinya (self-selection) jejaring yang diperlukan dalam
Fogarty (1991).

Gambar 1. Model IPA Terpadu Tipe Networked

Menurut pandangan Robin Fogarty ( 1991 ) Networked merupakan model


pemaduan pembelajaran yang mengandalkan kemungkinan pengubahan konsepsi,
bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah
peserta didik mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang
berbeda-beda. Belajar disikapi sebagi proses yang berlangsung secara terus-menerus
karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan yang dihadapi
peserta didik.
Peserta didik membuat jaringan dengan orang lain baik dalam bidang yang
mereka tekuni maupun di luar bidang tersebut dan mereka menghubungkan ide-ide
baru ke dalam ide-ide lama secara kontinu atau terus-menerus. Peserta didik
menyaring semua yang mereka pelajari melalui kajian para ahli dan membuat koneksi
internal yang mengarah ke jaringan eksternal ahli di bidang terkait. Model ini
digambarkan seperti sebuah bangun prisma yaitu merupakan sebuah bangun yang
apabila dilihat dapat menciptakan berbagai dimensi dan arah fokus.Pendidikan
seorang manusia tidak pernah selesai sampai ia mati. (Robert E. Lee).
8
Model networked dalam model pembelajaran terpadu merupakan sumber
masukan eksternal yang berkelanjutan, model ini seterusnya akan memberikan ide-ide
baru, dan ide-ide ekstrapolasi atau ide yang halus. Jaringan profesional peserta didik
biasanya tumbuh di arah yang jelas dan kadang-kadang tidak begitu jelas. Dalam
pencarian pengetahuannya, peserta didik bergantung pada jaringan ini sebagai sumber
informasi utama dan mereka harus menyaring melalui sudut pandang mereka sendiri
sesuai dengan keahlian dan minat yang mereka miliki.
Model networked, tidak seperti di model sebelumnya, pelajar mengarahkan
proses integrasi melalui ruang pemilihan jaringan yang mereka butuhkan. Hanya
pembelajar sendiri yang mengetahui seluk-beluk dan dimensi bidang mereka, peserta
didik dapat menargetkan sumber daya yang diperlukan. Model ini, seperti model yang
lain, berkembang dan tumbuh sebagai kebutuhan tambahan yang dapat mendorong
peserta didik ke arah yang baru. Contoh: arsitek, jika mereka mengadaptasi teknologi
CAD / CAM untuk desain, jaringan dengan teknik pemrograman dan memperluas
pengetahuan dasar yang mereka miliki, seperti yang dia lakukan secara tradisional
dengan para desainer interior.
Pengembangan bahan ajar IPA menggunakan model IPA terpadu tipe
Networked sebenarnya hampir sama dengan bahan ajar IPA terpadu tipe
immersed. Perbedaan antara bahan ajar tipe networked dan immersed terletak
pada proses penggalian informasi terkait konsep yang mereka minati. Setelah
peserta didik menentukan konsep yang mereka minati, peserta didik menggali
informasi terkait konsep tersebut dengan bertanya pada temannya dan pendidik.
Sedangkan pada tipe immersed tadi siswa menggali informasi sendiri melalui
sumber belajar yang ada.

C. Karakteristik Pembelajaran Terpadu Tipe Networked

Networked adalah kegiatan peserta didik untuk membentuk jejaring pada kelas.
Kegiatan belajarnya adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan
hasil analisis. Pembelajaran terpadu ini mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi,
kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas,
serta mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar (Hosnan, 2014).
Karakteristik pembelajaran terpadu tipe networked adalah:
1. Potensial terciptanya sumber belajar antara banyak pihak yang membentuk
sebuah jaringan

9
2. Menimbulkan minat peserta didik dalam mencari informasi.
3. Potensi menjadikan peserta didik aktif dalam mencari informasi
4. Menuntut peserta didik untuk mampu menyimpulkan informasi yang diperoleh.

D. Langkah Pengembangan Pembelajaran Terpadu Tipe Networked

Fogarty (1991:116) mengungkapkan langkah awal yang dikembangkan


pendidik adalah dengan memikirkan dan mempertimbangkan apa yang menjadi minat
peserta didik. Kemudian pendidik merencanakan dan menyusun pembelajaran terpadu
tipe networked serta berbagai kemungkinan peserta didik dapat bekerjasama dengan
orang lain. Peserta didik juga dapat menemukan sumber media cetak atau elektronik.
Langkah-langkah memadukan materi pada model terpadu tipe networked
dijabarkan oleh Halida (2011) sebagai berikut.
1. Tentukan tema dan subtema, kaitkan dengan kebutuhan peserta didik.
2. Tentukan materi pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik dengan
menganalisis KI, KD, indikator, dan tujuan pembelajaran.
3. Desain model networked.
4. Tentukan model pembelajaran yang memuat langkah-langkah pembelajaran
sesuai tema.
E. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Terpadu Tipe Networked

1. Kelebihan Model Terpadu Tipe Networked

Dari sepuluh tipe keterpaduan, tipe yang memungkinkan untuk pembentukan

kemampuann baru seperti kesiapsiagaan ialah tipe networked, Putri (2016)

mejelaskan beberapa kelebihan model networked yaitu: (1) mengajak peserta didik

aktif dalam pembelajaran, (2) meningkatkan inisiatif pembelajaran dalam mencari

dan menggali informasi, (3) merangsang peserta didik dengan informasi yang

relevan, (4) melatih peserta didik untuk cakap dan terampil dalam pencarian

informasi, (5) memperkaya pengalaman peserta didik. Peserta didik pada tipe

networked menghubungkan pengetahuan antar subtema dari masing-masing disiplin

ilmu menjadi satu tema yang utuh, sehingga memungkinkan terbentuknya suatu

kemampuan baru setelah pembelajaran.

10
2. Kekurangan Model Terpadu Tipe Networked

Kelemahan dari model jaringan sangat dipahami oleh mereka yang telah
mengembangkan beragam kepentingan tenaga dari cintanya. Sangat mudah untuk
mendapatkan sisi acak ke dalam salah satu ide disampingnya. Ini juga mungkin
untuk mendapatkan di dalam pemikiran kita. Sebuah jalan tertentu tampaknya
mengundang dan berguna, tapi tiba-tiba menjadi sebaliknya. Manfaat kadang tidak
lagi seimbang dengan harga yang harus dibayar. Kelemahan lain adalah bahwa
model jaringan, jika diambil untuk perbedaan-perbedaan besar, dapat menyebarkan
minat yang terlalu tipis dan dan tidak terkonsentrasi atau memecah perhatian peserta
didik sehingga upaya-upaya pengajaran yang dilakukan menjadi tidak efektif

F. Implikasi dan Implementasi Model Terpadu Tipe Networked pada


Pembelajaran IPA

Model terpadu tipe networked diumpamakan seperti conference call melalui tiga
arah yang menyediakan berbagai kesempatan bereksplorasi. Meskipun ide-ide yang
beragam dari berbagai arah ini mungkin tidak datang sekaligus, peserta didik tipe
networked terbuka menerima masukan untuk disaring dan diurutkan sesuai
kebutuhannya seperti pada Gambar (Fogarty, 1991).

Berbeda dengan tipe keterpaduan lainnya, peserta didik tipe networked


menunjukkan proses integrasi/keterpaduan melalui jaringan yang dibutuhkannya,
sehingga memindahkan tanggung jawab lebih berat kepada peserta didik daripada
guru sebagai perancang pembelajarannya (Fogarty, 1991). Konsekuensinya, guru
dalam tipe keterpaduan ini harus menyediakan jaringan-jaringan yang dibutuhkan
peserta didik, sehingga dapat mengurangi tanggung jawab peserta didik dalam
mencari informasi.

Pemaduan materi dalam buku teks yang dikembangkan merujuk pada langkah-
langkah tipe networked oleh Halida (2013). Langkah pertama adalah penentuan tema
dan subtema berdasarkan kebutuhan peserta didik yang berada di daerah terdampak
kabut asap. Konsekuensi langkah tersebut adalah ditetapkannya tema kabut dan asap
untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi peristiwa tersebut. Langkah
selanjutnya adalah penentuan materi yang akan dipadukan dalam tipe networked.
Langkah ini dilakukan melalui analisis kurikulum terkaikompetensi inti, kompetensi
dasar, indikator, dan tujuan pembelajaran yang memuat materi relevan dengan

11
peristiwa pemanasan global. Selanjutnya, kerangka tipe networked dirancang sebagai
langkah pemaduan materi/subtema untuk membentuk satu tema yang utuh. Kerangka
model networked yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar .

Subtema: Subtema:
Pemanasan global pada Peristiwa Kabut dan Asap sebagai bentuk
Penyebab pemanasan global pencemaran lingkungan
 

Kimia Fisika
 
Biologi Kimia
Wujud zat Pemanasan
global Pencemaran Gas
 
Lingkungan karbondioksida

Subtema: Subtema
Dampak pemanasan global adalah Polusi udara berdampah bagi
pulusi udara di bumi pernafasan manusi
 
Biologi Kimia
  Indera   
pernafasan
Biologi Kimia
Gas Manusia karbondioksida
Polusi karbondiok Pemanasan
udara sida global
Fisika

Gambar 2. Kerangka Model Networked dalam Pengembangan yang Dilakukan

Langkah terakhir dalam model terpadu networked adalah penentuan model

pembelajaran untuk mengajarkan materi/subtema menjadi satu tema yang utuh pada

peserta didik. Hasil analisis materi menunjukkan dominasi materi prosedural, sehingga

perlu diterapkan sebuah model pemecahan masalah. Model pemecahan masalah yang

cocok diterapkan di tingkat SMP adalah Example Problem Based Learning (EPBL)

12
BAB III

PEMBAHASAN

A. Analisis Sampel Jurnal Penggunaan Model Pembelajaran Terpadu Tipe


Networked

Judul PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU MODEL


INTEGRATED DAN NETWORKED UNTUK MENINGKATKAN
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA SMP PADA
TEMA PENCEMARAN AIR
Jurnal JurnalSerunaiIlmu Pendidikan (e-ISSN 2621-2676)
Volume dan Vol.4, No.1, Hal : 231 -240
Halaman
DOI https://doi.org/10.37755/sjip.v4i1
Tahun Desember 2018
Penulis Sanimah, M.Pd
Institusi Penulis STKIP Budidaya Binjai
Riviewer Erlinda Nofasari, M.Pd
Jepri Arizal, M.Pd
Tri Indah Rezeki, M.Hum
Sri Ulina Br. Ginting, M.Pd
Latar Belakang Kurangnnya ketertarikan siswa diakibatkan karena siswa masih belum
merasakan kebermaknaan materi ajar yang diberikan oleh guru, siswa
belum dapat melihat hubungan antara materi satu dengan yang lainnya.
Dari 10 model keterpaduan yang dikembangkan oleh Fogarty ini 3
model yang memungkinkan untuk dapat digunakan dalam
pembelajaran terpadu untuk SMP sesuai dengan kurikulum 2013
adalah model connected, shared dan integrated. Sehingga perlu adanya
penelitian mengenai penggunaan model keterpaduan yang lain untuk
dibandingkan dengan ketiga model yang dipilih kurikulum 2013.
Model lain yang memungkinkan yaitu model networked.
Pengembangan pembelajaran IPA terpadu dapat dimulai dari tema
dimana tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan masalah
yang sedang berkembang, sehingga pembelajaran IPA akan lebih
bermakna bagi siswa karena siswa akan mampu menerapkan
perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupan

13
sehari - hari. Salah satu masalah yang berkaitan dengan kehidupan
sehari – hari adalah persoalanl ingkungan.
Mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah
Tujuan siswa antara siswa diberi pembelajaran IPA terpadu model integrated
Penelitian dengan model networked.
Subjek Populasi penelitian, seluruh siswakelas SMP Negeri di Kota Stabat
Penelitian Provinsi Sumatera Utara. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa
kelas VIID dan kelas VIIF Tahun Ajaran 2013/2014.
1. Pembelajaran IPA Terpadu
Kajian Pustaka Pelaksanaan IPA terpadu mengajarkan siswa untuk melihat suatu
materi secara holistik atau menyeluruh sehinggadapat menambah
kebermaknaan pembelajaran.
2. Pembelajaran IPA terpadu Model integrated
Melalui pembelajaran IPA terpadu tipe integrated pembelajaran IPA
dimulai darit ema yang dibuat berdasarkan konsep, keterampilan dan
sikap yang tumpang tindih yang direncanakan guru sebagai sesuatu
yang diperioritaskan dalam pembelajaran
3. Pembelajaran IPA terpaduModel networked
pembelajaran IPA terpadu tipe networked keterpaduan dibuat sendiri
oleh siswa berdasarkan kebutuhan siswa melalui belajar dari berbagai
sumber dan berbagai ahli.
4. Pencematan Lingkungan
Melalui tema pencemaran air akan dapat dipadukan konsep – konsep
kimia, biologi, fisika , dan IPBA yang berhubungan dengan
pencemaran air, dan dapat dipadukan keterampilan berupa
keterampilan pemecahan masalah untuk memecahkan masalah
pencemaran air.
5. Kemampuan Pemecahan Masalah
Suatu upaya menemukan masalah dari suatu peristiwa kemudian
merancang metode tertentu untuk menemukan solusi atau
menyelesaikan masalah tersebut.
Keterpaduan Tema yang dipilih adalah Pencemaran air.
Keterpaduan model integrated memiliki ciri khas dikembangkan
dengan cara menggabungkan disiplin ilmu (fisika, biologi, kimia,

14
IPBA yang terkait lingkungan),keterampilan, konsep, dan sikap yang
saling tumpang tindih, yang dicari dan dipilih guru dalam tahap
perencanaan. Dalam penelitian ini keterampilan yang tumpang tindih
adalah keterampilan dalam memecahkan masalah.
Pada kelas eksperimen I yang menggunakan keterpaduan model
integrated, keterampilan pemecahan masalah dilatihkan guru pada
setiap pembelajaran melalui pertanyaan untuk kemudian didiskusikan
dalam kelompok kecil dan kelaompok besar (kelas). Pembelajaran ini
sesuai dengan teori scaffolding dimana pesertadidik dapat
mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tingginya ketika
mendapat bimbingan dari seseorang yang lebih ahli dalam hal ini guru
IPA.
Pada kelas eksperimen II yang menggunakan keterpaduan model
networked dimana kemampuan pemecahan masalah tidak dilatihkan
tetapi didapat siswa sebagai hasil dari belajar mandirinya melalui
berbagai ahli dan berbagai sumber belajar berupa buku bacaan,
internet, saluran radio, TV, yang sebelumnya diberikan stimulus oleh
guru.
Hipotesis Ada perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa
antara siswa yang diberi pembelajaran IPA terpadu model integrated
dengan model networked
Metode Metode quasi eksperimen
Penelitian Desain non randomaized static group pretest-postest design.
 Kelas eksperimen 1 dengan pembelajaran IPA Terpadu model
integrated
 Kelas eksperimen 2 dengan pembelajaran IPA Terpadu model
networked

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Model pembelajaran terpadu tipe networked adalah model pembelajaran berupa
kerjasama antara siswa dengan seorang ahli dalam mencari data, keterangan, atau
lainnya sehubungan dengan mata pelajaran yang disukainya atau yang

15
diminatinya sehingga siswa secara tidak langsung mencari tahu dari berbagai
sumber. .
2. Karakteristik model pembelajaran terpadu tipe networked yaitu ; (1)Potensial
terciptanya sumber belajar antara banyak pihak yang membentuk sebuah jaringan
(2)Menimbulkan minat peserta didik dalam mencari informasi.(3)Potensi
menjadikan peserta didik aktif (4)Menuntut peserta didik untuk mampu
menyimpulkan informasi yang diperoleh
3. Langkah pengembangan pembelajaran terpadu tipe networked dengan
memikirkan dan mempertimbangkan apa yang menjadi minat peserta didik.
Kemudian pendidik merencanakan dan menyusun pembelajaran terpadu tipe
networked serta berbagai kemungkinan peserta didik dapat bekerjasama dengan
orang lain.
4. Kelebihan dari model pembelajaran terpadu tipe networked yaitu memungkinkan
peserta didik untuk meningkatkan keterampilan dalam menemukan informasi
yang relevan dari berbagai sumber dalam proses pembelajaran, sedangkan
kekurangannya yaitu sulitnya untuk menciptkan efisiensi dalam pembelajaran
karena minat peserta didik yang beragam..
5. Implikasi dan implementasi dari model terpadu tipe networked pada pembelajaran
IPA dapat dilakukan melalui langkah-langkah pengembangan model
pembelajaran.
6. Hasil analisis jurnal terkait dengan model pembelajaran terpadu tipe networked
dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.
B. Rencana Tindak Lanjut
1. Melalui makalah ini, semoga dapat menambah wawasan dalam memahami model
pembelajaran terpadu tipe networked
2. Makalah ini dapat membantu pendidik untuk mengembangkan pembelajaran IPA
dengan menggunakan model terpadu tipe networked dengan menyesuaikan
kebutuhan di lapangan
DAFTAR PUSTAKA

Asrizal .2015. Studi Pendahuluan Tentang Permasalahan dan Kesiapan Guru Untuk
Mengimplementasikan Pembelajaran IPA Terpadu Pada Siswa SMP.
Eksakta, 2.57–65.

16
Fogarty, Robin.1991.The Mindful School How to Integrate the Curricula.IRI/Skylight
Publishing, Inc.Palatine, Illinois.
Gunarti, Winda, Lilis, Azizah muis. 2010. Metode Pengembangan Perilaku dan
Kemampuan Dasar anak Sekolah Dasar, Jakarta : UT
Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21.
Bogor: Ghalia Indonesia
Julianto.2010. Kajian teori dan Kesimpulan Model Pembelajaran Terpadu dalam
Pembelajaran dikelas.Surabaya: Unesa University Press.
Saefudin,U, Rukmana. 2007. Pembelajaran Terpadu. Bandung: UPI Press.

Sudjana. Nana.1988.Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung :


Sinar Baru Algesindo.

17