Anda di halaman 1dari 35

PENGERTIAN, KARAKTERISTIK SISWA, RUANG LINGKUP DAN

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI MI, MTS DAN


MA

Makalah
Diajukan kepada Husnan Sulaiman, M.Pd Sebagai Tugas Terstruktur Kelompok pada
Mata Kuliah Pembelajaran Akidah Akhlak

Aceng Mumad 18210047


Fahmi Rajabi 19210008
Intan Pujiawati Lestari 19210016
Nuriyah Rahmi H.N 19210049
Nurul Halimatussaadah 18210068
Resti Risalati Multazam 19210032
Siti Nurwanti 19210056
Suryani Widiawati 19210041

Oleh:
Kelompok I
PAI / V
PRGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
STAI AL-MUSADDADIYAH GARUT
1443 H / 2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat allah SWT atas limpahan rahmat dan
pertolongannya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan sesuai waktu yang ditentukan.

Penulisan makalah ini dibuat adalah sebagai media pembelajaran di Sekolah


Tinggi Agama Islam ( STAI ) Al musaddadiyah Garut dalam rangka memenuhi tugas
diperguruan tinggi yang berkaitan dengan bahan pembelajaran mata kuliah
Pembelajaran Akidah Akhlak.

Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan kata atau kalimat dan tata letak
dalam makalah ini tentunya banyak sekali kekurangan dan kekhilafan, baik kata atau
kalimat dan tata letak.

Besar harapan kami bahwa makalah ini dapat bermanfaat dan dapat di jadikan
sebagai pegangan dalam mempelajari materi tentang Pengertian, Karakteristik Siswa,
Ruang Lingkup dan Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak di Mi, Mts Dan Ma.
Juga merupakan harapan kami dengan hadirnya makalah ini, akan mempermudah
semua pihak dalam proses perkuliahan pada mata kuliah Pembelajaran Akidah Akhlak.

Sesuai kata pepatah “tiada gading tak retak”, kami mengharapkan saran dan kritik,
khususnya dari rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi. Kesempurnaan hanyalah milik
Allah SWT. Akhir kata, semoga segala daya dan upaya yang kami lakukan dapat
bermanfaat, aamiin.

Garut, 10 Oktober 2021

Penyusun

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................I

DAFTAR ISI...................................................................................................................II

BAB I................................................................................................................................1

PENDAHULUAN............................................................................................................1

A. Latar Belakang........................................................................................................1

B. Rumusan Masalah..................................................................................................2

C. Tujuan Pembuatan Makalah...................................................................................2

D. Manfaat Penulisan..................................................................................................3

E. Sistematika Penulisan.............................................................................................3

BAB II...............................................................................................................................5

PEMBAHASAN...............................................................................................................5

A. Pengertian Pembelajaran........................................................................................5

B. Karakteristik Siswa Usia Sekolah Dasar, Menengah, dan Menengah Atas Serta
Implikasinya Terhadap Pembelajaran Aqidah Akhlak..................................................7

C. Ruang Lingkup Pembelajaran Aqidah Akhlak di MI, MTS, MA........................17

D. Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak di MI, MTS, dan MA.....................25

BAB III...........................................................................................................................31

PENUTUP......................................................................................................................31

A. Kesimpulan...........................................................................................................31

B. Saran.....................................................................................................................32

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................33

II
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses pembelajaran merupakan keseluruhan kegiatan yang dirancang untuk


membelajarkan peserta didik. Pada satuan pendidikan, proses pembelajaran
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpatisipasi aktif sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik. Di Indonesia Proses pembelajaran pada satuan
pendidikan dasar dan menengah diatur dalam standar proses.
Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum, karena
kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan
pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara, khususnya oleh guru dan
kepala sekolah. Menurut Sukmadinata. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral
dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum memberikan arahan segala bentuk
aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga
merupakan suatu rencana pendidikan memberikan pedoman dan pegangan tentang
jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan.
Dalam kurikulum 2013, penyelengaraan pendidikan karakter menjadi satu hal
yang mutlak dilakukan pada jenjang pendidikan manapun, hal ini sangat beralasan
karena pendidikan karakter adalah pondasi utama bagi tumbuh kembangnya generasi
muda Indonesia. Pemahaman yang mendalam dari praktisi pendidikan terhadap konsep
pendidikan karakter disetiap satuan pendidikan. Di era globalisasi saat ini banyak
masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya pendidikan Islam, sebab dengan
pendidikan Islam dapat membentuk akhlakul karimah.
Pendidikan yang berdasarkan Islam merupakan pendidikan yang dipahami dan
dikembangkan berdasarkan ajaran yang bersumber pada Al-Quran dan Hadits.
Pendidikan Islam berusaha menyajikan pola pendidikan yang dapat menampung semua
yang dibutuhkan peserta didik, saat ini banyak berdiri sekolah Islam yang menerapkan
berbagai macam pola pendidikan demi terwujudnya insan kamil. Proses membangun
karakter dalam kurikulum 2013 berlangsung terus menerus sejalan dengan tujuan

1
pendidikan yang ingin dicapai. Studi tentang pembangunan karakter dapat ditinjau dari
berbagai aspek, diantaranya melalui pembelajaran bidang studi tertentu, melalui
kemampuan berpikir mengintegrasikan domain kognitif, afektif dan psikomotor,
memfokuskan pada iptek dan imtaq. Pembangunan karakter melalui mata pelajaran
aqidah akhlak merupakan salah satu cara yang tepat dalam pengimplementasian nilai-
nilai karakter.
Pendidikan islam yang dikolaberasikan dengan kurikulum 2013 terangkum
dalam mata pelajaran aqidah akhlak. Mengapa aqidah akhlak? Karena aqidah akhlak
memiliki peran penting alam mendidik siswa, ruang lingkupnya dapat membentuk
akhlak mulia yang akan mengantarkan manusia Indonesia sebagai manusia yang
mumpuni dalam segala aspek kehidupan yang intinya menjadi manusia yang
berkarakter. Ruang lingkup dari aqidah yaitu: Ilahiyat, nubuwat, ruhaniyat, dan
samiyyat.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pengertian Pembelajaran ?


2. Bagaimana Karakteristik Siswa Pada Usia Sekolah Dasar, Menengah Dan
Menengah Atas Serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Aqidah Akhlak ?
3. Bagaimana Ruang Lingkup Pada Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak Pada
Sekolah MI, MTS, Dan MA ?
4. Bagaimana Problematika Pembelajaran Akidah Akhlak Pada Sekolah MI, MTS
Dan MA ?

C. Tujuan Pembuatan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :

1. Untuk Mengetahui Pengertian Pembelajaran


2. Untuk Mengetahui Karakteristik Siswa Usia Sekolah Dasar, Menengah dan
Menengah Atas serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Aqidah Akhlak
3. Untuk Mengetahui Ruang Lingkup Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak Di MI,
Mts, Dan MA

2
4. Untuk Mengetahui Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak Di MI, Mts, Dan
MA

D. Manfaat Penulisan

Adapun hasil dari penelitian ini diharapakan memperoleh manfaat sebagai


berikut:

1. Secara Teoritis

Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi mahasiswa STAIM


dalam mengkaji Pembelajaran Aqidah Aklak sebagai penambah wawasan dan rujukan
pengetahuan berdasarkan teori-teori yang telah ada.

2. Secara Praktis

Makalah ini diharapkan dapat memberikan hasil positif bagi mahasiswa STAIM
guna mewujudkan generasi yang paham akan Pembelajaran Aqidah Aklak serta dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

E. Sistematika Penulisan

Penulisan makalah yang berjudul ”Pengertian, Karakteristik Siswa, Ruang


Lingkup dan Problematika Pembelajaran Akidah Akhlak Di MI, Mts Dan MA” ini
terdiri dari BAB I Pendahuluan yang memuat prinsip-prinsip; A) Latar Belakang
Masalah, B) Rumusan Masalah, C) Tujuan Penulisan, D) Manfaat Penulisan, dan E)
Sistematika Penulisan.
Pada BAB II dari makalah “Pengertian, Karakteristik Siswa, Ruang Lingkup dan
Problematika Pembelajaran Akidah Akhlak Di MI, Mts Dan MA” meliputi; A)
Pengertian Pembelajaran, B) Karakteristik Siswa Usia Sekolah Dasar, Menengah dan
Menengah Atas serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Aqidah Akhlak, C) Ruang
Lingkup Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak Di MI, Mts, Dan MA dan D)
Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak Ddi MI, Mts, Dan MA.

3
Pada BAB III Penutup dari makalah “Pengertian, Karakteristik Siswa, Ruang
Lingkup dan Problematika Pembelajaran Akidah Akhlak Di MI, Mts Dan MA”
meliputi; A) Kesimpulan, dan B) Saran.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian pembelajaran berarti proses, cara,


pembuatan, menjadi makhluk hidup belajar.1 Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Adapun pengertian
pembelajaran menurut para ahli sebagai berikut :

a. Oemar Hamalik
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi
mencapai tujuan pembelajaran. Manusia yang terlibat dalam proses pembelajaran terdiri
atas siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Materiil meliputi
buku-buku, papan tulis, fotografi, slide dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri
dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual juga komputer. Prosedur meliputi jadwal,
dan metode penyampaian informasi, praktek belajar, ujian dan sebagainya.2
b. Menurut D. Sudjana

Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan


kegiatan belajar.3

c. Mulyasa

Pembelajaran pada hakekatnya adalah interaksi antara peserta didik dengan


lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Dalam pembelajaran tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik
faktor internal yang datang dari diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dari
lingkungan individu.4

1
Kamus Besar Bahasa Indonesia
2
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta:Bumi Aksara,2003), Hal.61
3
http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/keguruan/belajar-mengajar-dan-pembelajaraan/
4
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Konsep, Karakteristik dan Implementasi),(Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2004), h. 100

5
Adapun ciri-ciri pembelajaran yaitu :

a) Memiliki tujuan yaitu untuk membentuk anak dalam suatu perkembangan


tertentu.
b) Terdapat mekanisme, prosedur, langkah-langkah, metode, dan tehnik yang
direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
c) Materi jelas, terarah dan terencana dengan baik.
d) Adanya activitas anak didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya
pembelajaran.
e) Aktor guru yang cermat dan tepat.
f) Terdapat pola aturan yang ditaati guru dan anak didik dalam proporsi
masing-masing.
g) Adanya waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
h) Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi produk.5

Secara substansial mata pelajaran Akidah Akhlak memiliki kontribusi


dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan akhlak al-
karimah sejak dini oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam
rangka mengantisipasi dampak negatif era globalisasi dan krisis multi dimensional
yang melanda bangsa dan negara Indonesia.

Pembelajaran aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam


menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,menghayati dan mengimani
Allah SWT dan merealisasikannya dalam perilaku akhlak mulia dalam kehidupan
sehari-hari berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist melalui kegiatan bimbingan
pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman disertai tuntutan untuk
menghormati penganut agama lain dan hubungannya kerukunan antar umat beragam
dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.6

Dari uraian pemaparan di atas dapat kami analisis dan simpulkan bahwasannya
pembelajaran berasal dari kata belajar dengan tambahan imbuhan awalan “pem-.” dan
5
Pupuh Fathurrahman & M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar,(Bandung : Aditama,2007)hal.7-11
6
DEPAG, KURIKULUM DAN HASIL BELAJAR Aqidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah (Jakarta:
Departemen Agama, 2003), h. 2

6
akhiran “–an”. Istilah belajar dan pembelajaran mempunyai pengertian yang berbeda.
Belajar mempunyai arti proses memperoleh ilmu dan bersifat umum sedangkan
pembelajaran mengacu kepada dua konsep yaitu belajar dan mengajar (teaching dan
learning). Jadi pembelajaran adalah suatu konsep yang diterapkan dalam suatu lembaga
pendidikan yang didalamnya terdapat interaksi antara guru dan murid dalam memahami
suatu konsep ilmu pengetahuan yang di dalamnya terdapat prosedur yang harus
dilakukan supaya tujuan belajar bisa tercapai.

F. Karakteristik Siswa Usia Sekolah Dasar, Menengah, dan Menengah Atas Serta
Implikasinya Terhadap Pembelajaran Aqidah Akhlak

Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi
pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun
berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Menurut
Tadkiratun Musfiroh, karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku
(behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).

Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau
tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya
dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan
kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Karakter adalah sifat pribadi yang
relative stabil pada diri individu yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam
standar nilai dan norma yang tinggi.7

1. Karakteristik Siswa Usia Sekolah Dasar

Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami perubahan yang


sangat drastis baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6 – 12 tahun
,usia 6 sampai 8 tahun adalah anak SD kelas bawah, usia 9-12 adalah anak SD kelas atas

7
Prayitno dan Belferik Manullang, Pendidikan Karakter dalam Pembangunan Bangsa, (Jakarta:  PT.
Grasindo, 2011), Hal. 47

7
menurut Seifert dan Haffung hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan
perubahan emosi individu.

J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan


dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan
sosial.    Menjelang masuk SD, anak telah mengembangkan keterampilan berpikir
bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada
dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalah rumah
keluarga, dan taman kanak‐kanaknya.   Selama duduk di kelas kecil SD, anak mulai
percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba
membuktikan bahwa mereka "dewasa". Mereka merasa "saya dapat mengerjakan sendiri
tugas itu, karenanya tahap ini disebut tahap "I can do it my self". Mereka sudah mampu
untuk diberikan suatu tugas.  

Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas kelas besar SD. Mereka dapat
meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan seringkali
mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya
tindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok dan bertindak menurut cara cara yang
dapat diterima lingkungan mereka. Mereka juga mulai peduli pada permainan yang
jujur.  

Di kelas besar SD anak laki‐laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam


kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima dalam
kelompok dapat membawa pada masalah emosional yang serius. Teman‐teman mereka
menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk diterima oleh teman
sebaya sangat tinggi. Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Pada saat
di SD kelas rendah, anak dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru.

Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak mereka
ceritakan kepada orang tua mereka. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka
sebagai model. Sementara itu, ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara
yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak
mungkin secara terbuka menentang gurunya.  

8
Kebutuhan Siswa Sekolah Dasar :

1) Anak SD Senang Bermain

Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan


yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya
merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di
dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi
santai.

2) Anak SD Senang Bergerak.

Orang dewasa dapat duduk berjam‐jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan
tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang
model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh
anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai
siksaan.

3) Anak usia SD Senang Bekerja dalam Kelompok.  

Anak usia SD dalam  pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar


aspek‐ aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi
aturan‐ aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada
diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing
dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan membawa
implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan
anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan
demokrasi.

4) Anak SD Senang Merasakan atau Melakukan/memperagakan Sesuatu Secara


Langsung.  

Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap


operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan
konsep‐ konsep baru dengan konsep‐konsep lama. Berdasar pengalaman ini, siswa

9
membentuk konsep‐konsep tentang angka, ruang, waktu,dll. Bagi anak SD,
penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak
melaksanakan sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa.
Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang
memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh
anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak
langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angina, bahkan
dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angina
saat itu bertiup.  8

Dapat kami analisa bahwasannya Karakteristik anak usia sekolah dasar bisa
terbilang mereka baru terjun kepada dunia, bisa dibuktikan dengan ciri khas nya yang
masih suka bermain dan beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka juga masih
disibukan mencari jati dirinya sendiri dan menilai dirinya sendiri bahkan meninjau
bagaimana karakter teman disekitarnya hal ini dibuktikan ketika mereka mampu
membandingkan dirinya dengan oranglain, kemampuan kognitifnya mereka cenderung
berfikir secara konkrit. Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang
perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya
ditingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang
sesuai dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik
mengetahui karakteristik siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan
kebutuhan peserta didik menjadi poin penting dalam proses pembelajaran, agar tujuan
pembelajaran bisa tercapai.

2. Karakteristik Siswa Usia Sekolah Menengah

Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. Rata-


rata usia adalah mulai umur 13 tahun, namun dibeberapa sekolah bisa saja umur 12
tahun. Selama tiga tahun ke depan, mereka akan resmi menjadi Siswa Menengah
Pertama, rentang usia siswa Sekolah menengah tergolong ke dalam usia remaja awal.

8
https://www.sekolahdasar.net/2011/05/karakeristik-dan-kebutuhan-anak-usia.html

10
Karakteristik anak remaja juga nampak dari perubahan kognitifnya. Berikut
perubahan pada area kognitifnya:

1. Memahami Hal-Hal Abstrak

Kemampuan kognitif anak pada usia SMP menunjukkan perkembangannya


dalam memahami hal-hal yang abstrak. Meski begitu, meskipun mereka sudah mampu
memahami hal abstrak, mereka masih berpikir secara hitam dan putih. Mereka akan
menilai sesuatu sebagai salah atau benar, dan tidak bisa keduanya.

2. Anak Ingin Lingkungan Menerimanya

Mengiringi perubahan emosinya, anak sedang fokus untuk dapat diterima oleh
lingkungannya, terutama teman-teman seumurannya. Ia ingin diterima secara fisik,
karena itulah ia mulai memperhatikan penampilan. Ia juga ingin diterima dan dianggap
sebagai pribadi yang spesial.

3. Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Rasa ingin tahu mereka juga sedang meningkat. Mereka mulai mencari tahu apa
saja yang menurut mereka berguna. Sebagai siswa SMP, mereka juga ingin dianggap
mampu untuk menghadapi permasalahan-permasalahan penting dalam hidup.

4. Berpikir Kritis

Perkembangan kognitif pada anak memampukannya untuk mulai berpikir kritis


akan sesuatu yang menarik baginya. Sebagai orang tua harus bisa memfasilitasi anak
dengan mengajaknya berdiskusi tentang berbagai macam hal. Meski anak sedang
senang berpikir kritis, bantu ia untuk dapat menerima sudut pandang orang lain.
Stimulasi anak untuk memecahkan berbagai masalah agar pemikiran kritisnya semakin
terasah untuk hal-hal yang berguna.

Menyikapi perubahan kognitif anak, jangan biarkan anak untuk berubah


sendirian. Mengajaknya berdiskusi bersama akan semakin mempertajam kognitifnya.
Latih lah anak agar ia dapat menguasai pikiran dan perasaannya yang sedang sama-
sama bergejolak.

11
Karakteristik Perkembangan Sosial Siswa Menengah Pertama (SMP) pada aspek
sosial, pengaruh dari teman-teman seumuran (peer) akan sangat besar bagi anak.
Karakteristiknya biasanya adalah:

a. Menjadi Bagian dari Sebuah Grup

Anak SMP pasti sangat ingin sekali menjadi bagian dari sebuah grup. Jadi, wajar
jika tiba-tiba saja anak Anda membuat sebuah “geng” bersama teman-temannya di
sekolah. Menjadi bagian dari sebuah grup pertemanan akan sangat berpengaruh pada
identitasnya. Sebagai orang tua, pastikan bahwa grup pertemanan ini adalah grup yang
fungsional. Asah anak untuk memiliki prinsip diri yang kuat, sehingga walaupun secara
tidak sengaja ia menemukan grup yang negatif, ia akan mundur dengan sendirinya.

b. Konformitas

Konformitas adalah proses dimana seseorang mengubah perilaku mereka agar


sama dengan kelompoknya atau lingkungan sosialnya. Tidak aneh lagi jika anak remaja
memutuskan untuk ‘meniru’ orang lain yang menurutnya keren hanya agar diterima
oleh peer group. Konformitas juga menjadi bagian penting dari siswa SMP. Dalam
beberapa situasi, anak yang tidak melakukan konformitas akan dianggap aneh dan pada
akhirnya tidak punya teman. Dunia remaja memang sebetulnya cukup kejam.

Orang tua tidak boleh berhenti mengingatkan anak, sejauh mana konformitas
bisa ia lakukan. Jika sudah mengarah pada hal negatif, maka sudah tidak perlu lagi
melakukan konformitas hanya demi diterima teman-teman yang lain. Selain itu,
yakinkan anak bahwa ia tidak perlu mengikuti semua hal. Pastikan anak menumbuhkan
rasa nyaman terhadap diri sendiri, sehingga ia tidak perlu terus menerus berubah karena
tidak memiliki jati diri.

c. Membutuhkan Role model

Hal ini juga tentu berkaitan dengan aspek perkembangan emosi anak remaja.
Remaja sedang membutuhkan seseorang yang bisa ditiru. Sayangnya, jika tidak ada role
model yang pantas, ia akan mencari siapa saja yang menurutnya patut untuk diikuti. Jika
sudah menemukan role model yang ‘klik’, anak bisa memujanya secara berlebihan.

12
Ini sebabnya orang tua harus dapat berperan menjadi role model, sehingga anak
tidak perlu jauh-jauh mencari inspirasi. Jadilah role model yang baik dan
menyenangkan bagi anak, karena pada usia ini anak-anak sangat merindukan role
model. Pada rentang usia remaja ini, Anda sebagai orang dewasa juga harus berubah
menjadi sahabatnya. Anda dapat memberi gambaran tentang apa saja tantangan yang
akan mereka lewati.

Dari pemaparan diatas dapat diambil sebuah analisa menurut kami, jadi Akan
usia sekolah menengah ini termasuk kepada fase remaja awal, kemudian karakteristik
anak usia sekolah menengah ini sudah mulai mencari identitas diri dan mempunyai rasa
keingin tahuan yang tinggi, sehingga mereka menyukai kegiatan yang diluar kegiatan
sekolah. Selain daripada itu juga mereka kemampuan berfikirnya abstrak walaupun
pemikirannya masih hitam putih, masa anak usia menengah ini masih perlu arahan dan
motivasi dari orang-orang terdekatnya untuk menunjang kepribadian yang baik dalam
kehidupannya.

3. Karakteristik Siswa Usia Sekolah Menengah Atas

Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) secara umum berusia enam belas tahun
sampai dengan Sembilan belas tahun dan berapa pada tahap perkembangan remaja.
Masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan
masa dewasa yang mengandung perubahan besar pada kondisi fisik, kognitif dan
psikososial. Piaget menyatakan bahwa siswa sekolah menengah atas berada pada
tahap perkembangan kognitif operasional formal

Remaja sering berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.


Mereka berpikir tentang ciri-ciri ideal diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia. Hal
inilah yang disebut oleh Santrock sebagai standar ideal remaja (siswa SMA). Pada
tahap ini, siswa mulai membandingkan kenyataan yang terjadi dengan standar
idealnya (siswa SMA) (Santrock, 2007:126).

Akan tetapi, kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri pada siswa ditahap ini
belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya sehingga pandangan dan

13
penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya
(Fatimah, 2010:94).

Karakteristik siswa SMA Menurut Sukintaka dalam lanun (2007:19-20)


karakteristik anak SMA umur 16-18 tahun antara lain :

a. Psikis atau Mental

1. Banyak memikirkan dirinya sendiri.

2. Mental menjadi stabil dan matang.

3. Membutuhkan pengalaman dari segala segi.

4. Sangat senang terhadap hal-hal yang ideal dan senang sekali bila memutuskan
masalah-masalah pendidikan, pekerjaan, perkawinan, pariwisata dan kepercayaan

b. Sosial

1. Sadar dan peka terhadap lawan jenis.

2. Lebih bebas.

3. Berusaha lepas dari lindungan orang dewasa atau pendidik.

4. Senang pada perkembangan sosial.

5. Senang pada masalah kebebasan diri dan berpetualang.

6. Sadar untuk berpenampilan dengan baik dan cara berpakaian rapi dan baik.

7. Tidak senang dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh kedua orang


tua.

8. Pandangan kelompoknya sangat menentukan sikap pribadinya.

c. Perkembangan Motorik

Anak akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan pada masa dewasanya,


keadaan tubuhnya pun akan menjadi lebih kuat dan lebih baik, maka kemampuan

14
motorik dan keadaan psikisnya juga telah siap menerima latihan-latihan peningkatan
ketrampilan gerak menuju prestasi yang lebih. Untuk itu mereka telah siap dilatih secara
intensif di luar jam pelajaran. Bentuk penyajian pembelajaran sebaiknya dalam bentuk
latihan dan tugas.9

Dapat kami analisa bahwasannya Sekolah menengah adalah sekolah lanjutan dari
sekolah menengah pertama. Anak usia sekolah menengah atas berkisar 16-19tahun,
anak usia sekolah menengah atas sudah masuk pada fase remaja akhir, mereka sudah
bisa mengaktualisasi diri, kemampuan memecahkan masalah sudah mulai bisa mereka
lakukan. Kemampuan motorik dan psikisnya sudah bisa mereka kuasai.

4. Implikasi Karakteristik Siswa Usia Sekolah Dasar, Menengah, Menengah


atas terhadap Pembelajaran Aqidah Akhlak

Setelah membahas mengenai pada tiga point sebelumnya yakni tentang


karakteristik siswa yang tentu sangat jelas terdapat perbedaan antara ketiga jenjang
pendidikan tersebut, maka hal tersebut tentu berimplikasi terhadap pembelajaran
aqidah akhlak di tiap jenjang pendidikan tersebut. Karakteristik siswa yang
berbeda tersebut akan berpengaruh terhadap beberapa komponen-komponen
pembelajaran aqidah akhlak.

Tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak adalah siswa dapat memahami akhlak


terpuji dan menjauhi akhlak tercela. Melalui tujuan pembelajaran aqidah akhlak
tersebut maka jelas bahwa tujuan meningkatnya mutu pembelajaran Aqidah
Akhlak ini sangat memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan akhlak-akhlak
terpuji, tujuan akhir siswa yang telah menerima materi ini dapat memahami serta
menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. maka dari itu setiap guru harus bisa
menyiapkan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan
dari siswa di setiap jenjang pendidikan. Karena pembelajaran aqidah akhlak ini
sangat diperlukan untuk memupuk ketauhidan kepada Allah dan menumbuh
kembangkan akhlakul-karimah dalam setiap diri setiap siswa.

9
eprint.umg.ac.id

15
Seperti misalkan terhadap strategi pembelajaran, metode pembelajaran,
teknik pembelajaran, pendekatan pembelajaran, indikator pembelajaran, tujuan
pembelajaran, evaluasi pembelajaran, media pembelajaran tentang aqidah akhlak
yang harus dipersiapkan untuk proses pembelajaran. Sebagai contoh misalnya
setelah kita mengetahui karakteristik siswa usia sekolah dasar yang mereka relatif
belum bisa mandiri ditambah kebutuhan anak sekolah dasar masih menyukai
bermain dan cara berfikirnya masih konkrit maka Guru bisa menyampaikan
pembelajaran kepada mereka metode pembelajaran Teacher Centered atau
pembelajaran yang berpusat pada guru. Kita bisa melakukan pembelajaran aqidah
akhlak dengan meninjau kepada alam disekitar dan berpusat pada kegiatan yang
realistis.

Sedangkan bagi siswa usia sekolah menengah, baik pertama maupun atas
dirasa mereka sudah bisa mempunyai sifat mandiri dan sebagai implikasinya
metode pembelajaran yang diberikan bisa berupa metode Student Centered atau
pembelajaran berpusat pada siswa. Begitu juga hal ini berlaku pada komponen-
komponen pembelajaran lainnya seperti yang telah disebutkan diatas dan tentunya
implikasinya akan menimbulkan perbedaan diantara ketiga jenjang pendidikan
tersebut.

Maka dari itu agar pembelajaran aqidah akhlak bisa dilaksanakan dan
mencapai tujuan yang diinginkan maka guru harus bisa mengetahui karakteristik
siswa nya dan mencari suatu metode yang sesuai dengan kebutuhan siswa nya.
Pembelajaran aqidah akhlak sangat penting dipelajari di setiap jenjang pendidikan,
karena pengaruh dari pembelajaran aqidah akhlak meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan siswa kepada Allah SWT serta dapat memberikan pengetahuan
sekitar pendidikan agama Islam kearah yang lebih baik. Jadi semakin bagus
kualitas pembelajaran aqidah akhlak di MI maka semakin besar pengaruhnya
terhadap perilaku peserta didik. Guru harus meningkatkan lagi mutu
pembelajarannya baik dari segi menyediakan fasilitas belajar, media
pembelajaran, strategi pembelajaran Aqidah Akhlak agar peserta didik
memahami manfaat pembelajaran Aqidah Akhlak. Pembelajaran aqidah akhlak

16
sangat diperlukan untuk menunjang sisi bathiniyah individu, oleh sebab itu
pembelajaran aqidah akhlak sangat berpengaruh kepada setiap siswa diberbagai
jenjang pendidikan baik itu pendidikan dasar, menengah, atau menengah atas,
dengan adanya pembelajaran aqidah akhlak ,para siswa bisa semakin kuat
keimananannya kepada sang Maha pencipta yakni Allah SWT, serta memupuk
akhlakul-karimah dalam diri siswa.

G. Ruang Lingkup Pembelajaran Aqidah Akhlak di MI, MTS, MA

1. Ruang Lingkup Pembelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah


(MI)

Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu mata pelajaran PAI
yang mempelajari tentang rukun iman yang dikaitkan dengan pengenalan dan
penghayatan terhadap al-asma’ al-husna, serta penciptaan suasana keteladanan dan
pembiasaan dalam mengamalkan akhlak terpuji dan adab Islami melalui pemberian
contoh-contoh perilaku dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Secara
substansial mata pelajaran Akidah Akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan
motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan al-akhlakul karimah dan adab
Islami dalam kehidupan sehari-hari sebagai manifestasi dari keimanannya kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta Qada dan
Qadar. Al-akhlak al-karimah ini sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan sejak
dini oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam rangka
mengantisipasi dampak negatif era globalisasi dan krisis multi dimensional yang
melanda bangsa dan Negara Indonesia. Mata pelajaran Akidah Akhalak di Madrasah
Ibtidaiyah bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:

 Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan


pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengalaman, pembiasaan, serta
pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga menjadi manusia muslim
yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

17
 Mewujudkan manusia Indonesia yang berakhlak mulia dan menghindari akhlak
tercela dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan individu maupun
sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan nilai-nilai akidah Islam.

Ruang Lingkup Pembelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah berisi


pelajaran yang dapat mengarahkan kepada pencapaian kemampuan dasar peserta
didik untuk dapat memahami rukun iman dengan sederhana serta pengamalan dan
pembiasaan berakhlak Islami secara sederhana pula, untuk dapat dijadikan perilaku
dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang pendidikan berikutnya.

Ruang lingkup mata pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah meliputi:

a. Aspek Akidah (Keimanan) meliputi:


1) Kalimat tayyibah sebagai materi pembiasaan, meliputi: Lailaha illallah,
basmalah, alhamdulillah, subhanallah, Allahu Akbar, ta’awwuz, masya Allah,
assalamu‘alaikum, salawat, tarji’, la haula wala quwwata illa billah, dan istigfar.
2) Al-Asma’ al-husna sebagai materi pembiasaan, meliputi: alAhad, al-Khaliq, ar-
Rahman, ar-Rahim, as-Sami‘, ar-Razzaq, al-Mugni, al-Hamid, asy-Syakur, al-
Quddus, as-Samad, al-Muhaimin, al-‘Azim, al-Karim, al-Kabir, al-Malik, al-
Batin, al-Wali, al-Mujib, al-Wahhab, al-‘Alim, az-jahir, ar-Rasyid, al-Hadi, as-
Salam, al-Mu’min, al-Latif, al-Baqi, al-Basir, alMuhyi, al-Mumit, al-Qawi, al-
Hakim, al-Jabbar, al-Musawwir, al-Qadir, al-Gafur, al-‘Afuww, as-Sabur, dan
al-Halim.
3) Iman kepada Allah dengan pembuktian sederhana melalui kalimat hayyibah, al-
Asmw’ al-ousnw dan pengenalan terhadap salat lima waktu sebagai manifestasi
iman kepada Allah.
4) Meyakini rukun iman (iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan Hari
akhir serta Qada dan Qadar Allah).10
b. Aspek Akhlak meliputi:
1) Pembiasaan akhlak karimah (mahmudah) secara berurutan disajikan pada tiap
semester dan jenjang kelas, yaitu: disiplin, hidup bersih, ramah, sopan-santun,
10
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan
dan standar isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah, h. 23-24.

18
syukur nikmat, hidup sederhana, rendah hati, jujur, rajin, percaya diri, kasih
sayang, taat, rukun, tolong-menolong, hormat dan patuh, sidik, amanah,
tablig, fatanah, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh pendirian, dermawan,
optimis, qana’ah, dan tawakal.
2) Mengindari akhlak tercela (mazmumah) secara berurutan disajikan pada tiap
semester dan jenjang kelas, yaitu: hidup kotor, berbicara jorok/kasar,
bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki, membangkang,
munafik, hasud, kikir, serakah, pesimis, putus asa, marah, fasik, dan murtad.
c. Aspek adab Islami, meliputi:
1) Adab terhadap diri sendiri, yaitu: adab mandi, tidur, buang air besar/kecil,
berbicara, meludah, berpakaian, makan, minum, bersin, belajar, dan
bermain.
2) Adab terhadap Allah, yaitu: adab di masjid, mengaji, dan beribadah.
3) Adab kepada sesama, yaitu: kepada orang tua, saudara, guru, dan
teman.
d. Aspek kisah teladan, meliputi: Kisah Nabi Ibrahim a.s. mencari Tuhan, Nabi
Sulaiman a.s. dengan tentara semut, masa kecil Nabi Muhammad Saw., masa
remaja Nabi Muhammad Saw., Nabi Ismail a.s., Kan’an, Tsa’labah, Masyitah,
Abu Lahab, dan Qarun. Materi kisah-kisah teladan ini disajikan sebagai penguat
terhadap isi materi, yaitu akidah dan akhlak sehingga tidak ditampilkan dalam
Standar Kompetensi, tetapi ditampilkan dalam Kompetensi Dasar dan indikator.11
Lingkup materi aqidah akhlak MI sebagaimana yang telah dipaparkan diatas
dalam perspektif filosofis maka jika dilihat dari aliran progressivisme yang
menekankan kepada pelayanan maksimal terhadap perbedaan individual anak didik
dengan mengembangkan variasi pembelajaran dan pengalaman pembelajaran, maka
materi materi seperti: Kalimat thayyibah sebagai materi pembiasaan, meliputi: Laa
ilaaha illallaah, basmalah, alhamdulillah, subhanallah, Allahu Akbar, ta’awudz,
maasya Allah, assalamu’alaikum, salawat, tarji’, laa haula walaa quwwata illa
billah, dan istighfar. Menurut penulis sudah tepat, penyajian materi ini dianggap

11
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 tahun 2008 Tentang Standar
Kompetensi Lulusan dan standar isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah, h. 23-24.

19
menyahuti pengalaman anak yang sudah pernah belajar pada kurikulum TK/TPA
sehingga ketika hal ini disajikan kembali di MI akan menjadi lebih bermakna
mengingat penyajianya tidak sekedar dihafal tetapi sudah kepada tahap pemaknaan
materi tersebut.
Jadi Ruang lingkup pembelajaran Aqidah akhlak di MI, lebih kepada aspek
keimanan dan penguatan akhlak diantaranya Aspek Aqidah, Aspek Akhlak, Aspek
Adab Islami, Aspek Kisah teladan secara umum. Karena pada anak usia sekolah
dasar ini lebih untuk menumbuhkembangkan keimanan kepada Allah SWT yang
didalamnya ditujukan untuk mengenal kalimat thayyibah, mengenal asmaul husna
serta menanamkan akhlakul-karimah terhadap jiwa-jiwa setiap siswa baik di
sekolah ataupun di dalam kehidupan sehari-hari.

2. Ruang Lingkup Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah (MTS)

Mata pelajaran aqidah akhlak di tingkat Tsanawiah berdasarkan kurikulum


berbasis kompetensis bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan
peserta didik yang diwujutkan dalam akhlaknya yang terpuji, "melalui pemberian dan
pemupukan, pengetahuan, penghayatan, pengamalan peserta didik tentang aqidah
dan akhlak Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dan
meningkat kualitas keimanannya dan ketakwaannya kepada Allah SWT"

Ruang lingkup pembelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Tsanawiyah


meliputi:

a. Aspek akidah terdiri atas dasar dan tujuan akidah Islam, sifat-sifat Allah, al-
Asma’ al-husna, iman kepada Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, Hari
Akhir serta Qada Qadar.
b. Aspek akhlak terpuji yang terdiri atas ber-tauhid, ikhlas, taat, khauf, tobat,
tawakal, ikhtiar, sabar, syukur, qanaa’ah, tawaduk, husnuz-zan, tasamuh dan
ta‘awun, berilmu, kreatif, produktif, dan pergaulan remaja.
c. Aspek akhlak tercela meliputi kufur, syirik, riya, nifaq, ananiah, putus asa, gadab,
tamak, takabur, hasad, dendam, gibah, fitnah, dan namimah.

20
d. Aspek adab meliputi: Adab beribadah: adab salat, membaca AlQur’an dan adab
berdoa, adab kepada kepada orang tua dan guru, adab kepada kepada, saudara,
teman, dan tetangga, adab terhadap lingkungan, yaitu: pada binatang dan
tumbuhan, di tempat umum, dan di jalan
e. Aspek kisah teladan meliputi: Nabi Sulaiman a.s. dan umatnya, Ashabul
Kahfi, Nabi Yunus a.s. dan Nabi Ayyub a.s., Kisah Sahabat: Abu Bakar r.a.,
Umar bin Khattab r.a, Usman bin Affan r.a., dan Ali bin Abi Talib r.a.12

Ruang lingkup pembelajaran Aqidah Akhlak di MTS lebih kepada pengetahuan


yang lebih mendalam mengenai aspek aqidah yakni dasar dan tujuan akidah Islam,
aspek akhlak yang membahas mengenai akhlak terpuji dan tercela,aspek adab
beribadah, dan kisah teladan yang terjadi pada umat zaman dahulu.

3. Ruang Lingkup Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Aliyah (MA)

Mata pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Aliyah adalah salah satu mata


pelajaran Pendidikan Agama Islam yang merupakan peningkatan dari akidah dan akhlak
yang telah dipelajari oleh peserta didik di Madrasah Tsanawiyah. Peningkatan tersebut
dilakukan dengan cara mempelajari dan memperdalam akidah-akhlak sebagai persiapan
untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan untuk hidup bermasyarakat dan
atau memasuki lapangan kerja.

Pada aspek akidah ditekankan pada pemahaman dan pengamalan prinsip-prinsip


akidah Islam, metode peningkatan kualitas akidah, wawasan tentang aliran-aliran dalam
akidah Islam sebagai landasan dalam pengamalan iman yang inklusif dalam kehidupan
sehari-hari, pemahaman tentang , konsep Tauhid dalam Islam serta perbuatan syirik dan
implikasinya dalam kehidupan. Aspek akhlak, di samping berupa pembiasaan dalam
menjalankan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela sesuai dengan tingkat
perkembangan peserta didik, juga mulai diperkenalkan tasawuf dan metode peningkatan
kualitas akhlak.

12
Departemen Agama RI,Kurikulum Aqidah Akhlak MTs 2004 Standar kompetensi (akarta: Direktorat
jendral Kelembagaan Agama Islam 2004). Hal.23

21
Secara substansial mata pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Aliyah memiliki
kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan
mempraktikkan akidahnya dalam bentuk pembiasaan untuk melakukan akhlak terpuji
dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Al-Akhlak al-karimah ini
sangat penting untuk dipraktikkan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan
individu, bermasyarakat dan berbangsa, terutama dalam rangka mengantisipasi dampak
negatif dari era globalisasi dan krisis multidimensional yang melanda bangsa dan
Negara Indonesia.

Ruang Lingkup Kelompok Mata Pelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Aliyah


Ruang lingkup mata pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Aliyah meliputi:

1. Aspek akidah terdiri atas: prinsip-prinsip akidah dan metode peningkatannya, al-
asma’ al-husna, konsep Tauhid dalam Islam, syirik dan implikasinya dalam
kehidupan, pengertian dan fungsi ilmu kalam serta hubungannya dengan ilmu-
ilmu lainnya, dan aliran-aliran dalam ilmu kalam klasik dan modern.
2. Aspek akhlak terpuji meliputi: masalah akhlak yang meliputi pengertian akhlak,
induk-induk akhlak terpuji dan tercela, metode peningkatan kualitas akhlak;
macam-macam akhlak terpuji seperti husnuzh-zhan, taubat, akhlak dalam
berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu, adil, rida, amal
salih, persatuan dan kerukunan, akhlak terpuji dalam pergaulan remaja; serta
pengenalan tentang tasawuf.
3. Aspek akhlak tercela meliputi: riya, aniaya dan diskriminasi, perbuatan dosa besar
seperti mabuk-mabukan, berjudi, zina, mencuri, mengkonsumsi narkoba, israaf,
tabdzir, dan fitnah.
4. Aspek adab meliputi: adab kepada orang tua dan guru, adab membesuk orang
sakit, Adab berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan menerima tamu,
melakukan takziyah, Adab bergaul dengan orang yang sebaya, yang lebih tua
yang lebih muda dan lawan jenis, Adab membaca Al Qur’an dan berdoa.

22
5. Aspek Kisah meliputi: Kisah kelicikan saudara-saudara Nabi Yusuf AS, Ulul Azmi,
Kisah Shahabat: Fatimatuzzahrah, Abdurrahman bin Auf, Abu Dzar al-Ghifari,
Uwes al-Qarni, al-Ghazali, Ibn Sina. 13

Ruang lingkup Mata Pelajaran Ruang lingkup Tujuan Mata Ruang lingkup Tujuan Mata
Akidah Akhlak di MI/SD Pelajaran Akidah Akhlak di MTS Pelajaran Akidah Akhlak di MA
a. Aspek Akidah a. Aspek Akidah, meliputi: a. Aspek Akidah, meliputi:
1)Kalimat thayibah sebagai materi Dasar dan tujuan akidah Islam, Prinsip-prinsip akidah dan
pembiasaan, meliputi: Sifat-sifat Allah al-asma’ al- metode peninggkatannya, al-
Laa ilaha illallah, basmalah, husna, Iman kepada Allah, Kitab- asma’ al-husna, macam-macam
Alhamdulillah, subhanallah, Allahu Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, tauhid (tauhid uluuhiyah, tauhid
Akbar, ta’awwudz, masya Allah, Hari Akhir, serta Qada Qadar rubuubiyah, tauhid ash-shifat wa
assalamu’alaikum, shalawat, tarji’, al-af’al, tauhud rahmaniyah,
laa haula walaa quwwata illa billah, tauhid mulkiyah,dll), syirik dan
dan istighfaar. implikasinya dalam kehidupan,
2)Al-asma’ al-husna sebagai materi pengertian dan fungsi ilmu kalam
pembiasaan, meliputi: 40 al-asma’ al- serta hubungannya dengan ilmu-
husna. ilmu lainnya, dan aliran-aliran
3)Iman kepada Allah dengan ilmu kalam (klasik dan modern).
pembuktian sederhana melalui kalimat
thayibah, al-asma’ al-husna dan
pengenalan terhadap salat lima waktu
sebagai manifestasi iman kepada
Allah.
4)Meyakini rukun iman (Iman kepada
Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, dan
Hari Akhir serta Qaada dan Qadar
Allah)
b. Aspek Akhlak b. Aspek akhlak, meliputi: b. Aspek akhlak, meliputi:
1)Pembiasaan akhlak karimah Bertauhiid, ikhlas, ta’at, khauf, Pengertian akhlak, induk-induk
(mahmudah), secara berurutan taubat, tawakal, ikhtiyar, shabar, akhlak terpuji dan tercela, metode
disajikan pada tiap jenjang semester syukur, qanaa’ah, tawaadu’, peningkatan kualitas akhlak;
dan kelas, yaitu: disiplin, hidup bersih, husnu-zhan, tasamuh, dan macam-macam akhlak terpuji
ramah, sopan-santun, syukur nikmat, ta’aawun, berilmu, kreatif, seperti husnuzh-zhan, taubat,
hidup sederhana, rendah hati, jujur, produktif, dan pergaulan remaja. akhlak dalam berpakaian, berhias,
rajin, percaya diri, kasih sayang, taat, perjalanan, bertamu dan
rukun, tolong-menolong, hormat dan menerima tamu, adil, rida, amal
patuh, sidik, amanah, tablig, fathanah, shalih, peratuan dan kerukunan,
tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh akhlak terpuji dalam pergaulan
pendirian, dermawan, optimis, qanaah, remaja; serta pengenalan tentang
dan tawakal. tasawuf. Ruang lingkup akhlak
2)Menghindari akhlak tercela tercela meliputi: riya, aniaya dan
(madzmumah) secara berurutan diskriminasi, perbuatan dosa
disajikan pada tiap semester dan besar (seperti: mabuk-mabukan,
jenjang kelas, yaitu: hidup kotor, berjudi, zina, mencuri,
berbicara jorok, bohong, sombong, mengkonsumsi narkoba), israaf,
malas, durhaka, hianat, iri, dengki, tabdzir, dan fitnah.
membangkang, munafik, hasud, kikir,
serakah, pesimis, putus asa, marah,
dan murtad
c. Aspek adab Islami c. Aspek akhlak tercela, meliputi:

13
E. Mulyasa, Kurikulum yang disempurnakan, Bandung :PT. Remaja Rosdakarya,2006. H.28

23
1) Adab terhadap diri sendiri, yaitu: Kufur, syirik, riya, nifaaq,
adab mandi, tidur, buang air anaaniah, putus asa, ghadlab,
besar/kecil, berbicara, meludah, tamak, takabur, hasad, dendam,
berpakaian, makan, minum, bersin, fitnah, dan namiimah.
belajar, bermain.
2) Adab terhadap Allah, yaitu: adab
dimasjid, mengaji, dan beribadah.
3) Adab kepada sesama, yaitu: kepada
orang tua, saudara, guru, teman, dan
tetangga.
4) Adab terhadap lingkungan, yaitu:
kepada binatang dan tumbuhan, di
tempat umum, dan di jalan.
d. Aspek kisah teladan, meliputi: Kisah
nabi Ibrahim mencari Tuhan, nabi
Sulaiman dan tentara semut, masa kecil
nabi Muhammad SAW, masa remaja
nabi Muhammad SAW, nabi Ismail,
Kan’an, Ulul Azmi, Abu Lahab, Qarun,
nabi Sulaiman dan umatnya, Ashabul
Kahfi, nabi yunus dan nabi Ayub.
Materi-materi kisah teladan ini disajikan
sebagai penguat isi materi, yaitu akidah
dan akhlak, sehingga tidak ditampilkan
dalam SK, tetapi ditampilkan dalam KD
dan Indikator.

Maka dapat kami simpulkan bahwa ruang lingkup materi pembelajaran aqidah
akhlak di MA Secara substansial memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi
kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan akidahnya dalam bentuk
pembiasaan untuk melakukan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam
kehidupan sehari-hari.

H. Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak di MI, MTS, dan MA

Problematika berasal dari bahassa inggris “problematic” yang berarti persoalan


atau masalah. Dalam dunia pendidikan pasti akan dihadapi berbagai masalah dalam
setiap kegiatannya salah satunya dalam proses pembelajaran. Sejatinya proses
pembelajaran melibatakan Guru, Siswa, materi dan segala hal yang menunjang
proses pembelajaran. Di bawah ini terdapat probelamatika dalam salah satu
pelajaran yaitu Aqidah Akhlak di tingkat MI,MTs, dan MA.
1. Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak di MI
a. Problem pada guru

24
Setiap guru seharusnya dapat mengajar di depan kelas. Bahkan mengajar
itu dapat dilakukan pula pada sekelompok siswa di luar kelas.14 Namun
kenyataannya tidak semua guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Padahal seorang guru memiliki tanggung jawab bukan hanya mengajar namun
masih banyak yang harus dilakukannya. Slameto, dalam buku belajar dan faktor-
faktor yang mempengaruhinya, mengemukakan tanggung jawab guru cukup
banyak yaitu meliputi hal-hal berikut ini:

a) Memberi bantuan kepada siswa dengan menceritakan sesuatu yang baik,


yang dapat menjamin kehidupannya.
b) Memberikan jawaban langsung pada pertanyaan yang diminta oleh siswa.
c) Memberikan kesempatan untuk berpendapat.
d) Memberikan evaluasi.
e) Memberikan kesempatan menghubungkan dengan pengalamannya sendiri.

Hal di atas merupakan sebagian kecil dari tanggung jawab guru. Disamping
tanggung jawab yang lain yang cukup penting. Tanggungjawab yang sangat
penting itu adalah menyampaikan materi dengan baik kepada siswa serta
bagaimana mendidik siswa agar memiliki ahklak yang mulia. Guru diharapkan
tidak hanya mampu mengajar saja namun kemampuan yang lain seperti yang
telah disebutkan di atas juga harus dikuasai. Karena guru di tuntut agar dapat
menjadi seorang organisator yaitu orang yang mengorganisasikan sesuatu.
Orang yang dapat mengorganisasikan segala sesuatu dengan baik maka dia akan
dapat mengendalikanya.

Pekerjaan mengajar bukanlah hal yang ringan. Seorang guru harus


berhadapan dengan sekelompok orang, mereka merupakan sekelompok
makhluk hidup yang memerlukan bimbingan dan pembinaan menuju pada
kedewasaan.

b. Problematika pada sistem pengelolaan kelas dan metode pembelajaran

14
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya.(jakarta: Rineka Cipta,2003)hal.31

25
Sistem pengelolaan kelas yang diterapkan oleh sebuah lembaga pendidikan
terkadang mendatangkan problematika tersendiri. Bagaimana pemimpin lembaga
tersebut mengelola lembaganya merupakan salah satu hal yang juga ikut
mempengaruhi terhadap perjalanan pendidikan. Pemimpin lembaga seharusnya
dapat memanajemen dengan baik semua komponen yang ada agar dapat menjadi
satu kesatuan yang utuh. Mengusahakan keserasian antara kegiatan tiap orang dan
tiap pihak demi mencapai sasaran dan tujuan bersama atau yang disebut dengan
koordinasi merupakan inti manajemen.

Selain problematika yang berkaitan dengan pengelolaan kelas juga ada


problematika yang berkaitan dengan metode pengajaran. Terkadang metode yang
diterapkan oleh guru tidak cocok bagi siswa dan siswa tidak dapat menangkap
pelajaran dengan baik. Masih banyak guru yang belum memahami metode yang
bagaimana yang harus ia terapkan dalam menyampaikan suatu materi. Sebelum
menerapkan metode yang akan diterapkan seharusnya guru memahami tugas
pokoknya.

Dengan mengetahui tugas pokoknya maka guru akan memiliki tanggung


jawab yang besar dan berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik. Tugas pokok
guru antara lain: mengajar, mendidik, melatih dan menilai atau mengevaluasi.
Sebab hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang
bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana
proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik,
kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan
prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.15

c. Problematika pada Peserta Didik


Problematika yang selanjutnya adalah problematika yang dihadapi oleh
peserta didik atau siswa. Siswa juga mengalami banyak problem dalam
belajarnya. Ada hal-hal yang dapat mempengaruhi belajar siswa, yang secara
umum ada dua faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor intern dan ekstern, hal
itu juga sama persis dengan apa yang disampaikan oleh Slameto.Problematika

15
Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta:PT Grasindo,2002)hlm.226

26
yang ada pada siswa juga berkaitan dengan faktor yang ada baik intern maupun
ekstern.16

2. Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak di MTS

Problematika pembelajaran Aqidah Akhlak terdapat pada materi yang sulit


dipahami siswa, kurangnya minat belajar siswa, metode pembelajaran yang kurang
menyenangkan bagi siswa, penerapan materi dan lingkungan yang memiliki
pengaruh buruk terhadap siswa.

Problematika tersebut muncul dikarenakan materi Aqidah Akhlak yang lebih


membutuhkan pendalaman lebih lanjut dan tidak mampu dijangkau hanya dengan
akal dan pancaindera saja seperti materi iman kepada Allah, malaikat dan hari akhir.
Dengan demikian minat belajar siswa menjadi kurang dan metode pembelajaran
menjadi tidak menyenangkan dan berdampak pada penerapan materi seperti
melalaikan perintah ibadah. Begitu pula pengaruh lingkungan sekitar yang tidak
mendukung untuk penerapan perilaku terpuji dan menghindari akhlak tercela,

Upaya yang dilakukan terkait faktor materi adalah dengan memahami


karakteristik siswa yang membutuhkan pendalaman lebih lanjut dan membatasi
pengetahuan tentang iman kepada Allah dengan membahas ciptaan Allah. Adapun
mengenai minat belajar, upaya memberikan motivasi belajar terus dilakukan.
Mengenai metode pembelajaran, guru menyesuaikan dengan kondisi siswa. Terkait
dengan penerapan materi, guru terus memantau perkembangan ibadah siswa.
Adapun mengenai pengaruh lingkungan, guru terus memberi nasihat terhadap siswa
agar menjauhi lingkungan yang memiliki pengaruh buruk.

3. Problematika Pembelajaran Aqidah Akhlak di MA

Sama dengan problematika pembelajaran Aqidah akhlak pada MI,dan Mts,pada


tingkat MA ada beberapa hal yang harus di perhatikan.salah satunya pembelajaran
aktif yang harus mulai di latih agar terbiasa menuju jenjang perguruan tinggi, Oleh
karena itu agar dapat menciptakan kondisi belajar yang baik, guru harus mengetahui
16
http://zumsk.blogspot.com/2016/04/problematika-pembelajaran-akidah-akhlak.html

27
aspek-aspek penentu dalam pembelajaran yang aktif. Berikut adalah aspek-aspek
pembelajaran aktif.

a. Guru

Seorang guru harus dapat mengetahui keunggulan dan kelemahannya


dalam melakukan kegiatan pada proses pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu
melakukan evaluasi kepada siswa atas kegiatan pembelajaran pada setiap akhir
pembelajaran. Dari sini guru harus selalu terbuka menerima kritik dan penilaian
demi meningkatan pembelajaran yang lebih baik kedepannya.

b. Bahasa

Dalam penyampaian materi dan informasi pada bidang keilmuan tertentu


merupakan bagian dari pembelajaran. Penyampaian informasi tersebut akan
selalu menggunakan media bahasa. Untuk itu bahasa merupakan faktor penting
dalam setiap pembelajaran. Dengan penggunaan bahasa yang baik, maka siswa
akan dapat memahami serta menguasai materi dengan baik

c. Siswa

Siswa adalah individu yang akan diberi materi dalam kegiatan


pembelajaran. Hal yang perlu diperhatian agar pembelajaran dapat berhasil adalah
dengan memahami karakteristik siswa itu sendiri. Karna berangkat dari keluarga
yang berbeda – beda, siswa juga memiliki karakteristik yang berbeda – beda.

d. Tujuan

Setiap proses pembelajaran yang dilakukan harus mempunyai tujuan,


baik itu tujuan intruksional yang sudah ditetapkan ataupun tujuan lain yang
secara tersirat dikehendaki oleh guru. Tujuan ini juga didasarkan pada keadaan
siswa, lingkungan, dan harapan guru.

e. Strategi pembelajaran
Penjelasan dari aspek karakteristik guru, siswa, bahasa dan tujuan
merupakan bagian yang akan menjadi penentu dalam penentuan strategi
pembelajaran. Strategi ini adalah cara-cara yang akan dilakukan oleh guru dalam

28
proses pembelajaran untuk mencapai tujuan-tujuan yang ingin dicapai.
Demikian aspek-aspek yang harus diperhatikan oleh guru agar dapat
menciptakan pembelajaran yang aktif dan kondusif.
Dari paparan diatas bisa diambil kesimpulan bahwasannya setiap
pembelajaran tidak akan luput dari adanya suatu permasalahan, baik
permasalahan itu timbul dari faktor pendidik, peserta didik, atau komponen-
komponen yang lainnya. Sebagai contoh problem dari guru yang belum
profesional dalam mengajar, dari peserta didik yang berbeda-beda dalam
menangkap suatu materi, dari sistem manajemen yang belum stabil dan lain-lain.
Hal itu bisa menjadikan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Maka dari itu
perlu diadakan evaluasi untuk menunjang sebuah problematika supaya tujuan
dari pembelajaran bisa tercapai.

29
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan


sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran juga adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling
bertukar informasi.
2. Karakteristik setiap siswa diberbagai jenjang pendidikan berbeda-beda.
 Anak SD merupakan anak dengan katagori banyak mengalami
perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik. Usia anak
SD yang berkisar antara 6 – 12 tahun ,usia 6 sampai 8 tahun adalah
anak SD kelas bawah, usia 9-12 adalah anak SD kelas atas,
karakternya lebih senang bermain, dan menjelajahi kehidupan
disekitarnya.
 Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan
lanjutan pendidikan dasar. Rata-rata usia adalah mulai umur 13
tahun, namun dibeberapa sekolah bisa saja umur 12 tahun. Selama
tiga tahun ke depan, mereka akan resmi menjadi Siswa Menengah
Pertama, rentang usia siswa Sekolah menengah tergolong ke dalam
usia remaja awal, pada masa ini siswa lebih ingin mengatahui segala
hal yang ada di lingkungannya.
 Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) secara umum berusia enam
belas tahun sampai dengan Sembilan belas tahun dan berapa pada
tahap perkembangan remaja. Masa remaja merupakan masa transisi
perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang
mengandung perubahan besar pada kondisi fisik, kognitif dan
psikososial. Piaget menyatakan bahwa siswa sekolah menengah atas
berada pada tahap perkembangan kognitif operasional formal

30
3. Ruang lingkup pembelajaran aqidah akhlak dari berbagai jenjang dalam segi
aspek memiliki kesamaan diantaranya aspek aqidah, aspek akhlak, aspek
adab islam, aspek kisah teladan. Setiap materi yang terdapat dalam aspek-
aspek memiliki perbedaan yakni dalam penyampaian materi. Ruang
Lingkup Pembelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah berisi
pelajaran yang dapat mengarahkan kepada pencapaian kemampuan dasar
peserta didik untuk dapat memahami rukun iman dengan sederhana
serta pengamalan dan pembiasaan berakhlak Islami secara sederhana pula,
untuk dapat dijadikan perilaku dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai
bekal untuk jenjang pendidikan berikutnya.

4. Problematika yaitu berasal dari kata problem yang artinya masalah atau
persoalan. Sedangkan problematika sendiri berarti hal yang dapat
menimbulkan masalah atau masalah yang belum terselesaikan masalahnya.
Setelah membahas hal – hal yang terkait pembelajaran Aqidah Akhlak.
Setiap jenjang pendidikan pasti terdapat suatu masalah, masalah itu dipicu
dari kurang profesionalnya seorang guru, metode belajara yang kurang
efektif , masalah dari peserta didik dan lani-lain.

I. Saran

Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Kami hanyalah seorang


manusia biasa yang tidak pernah luput dari kekhilafan dan kesalahan, karena
kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt karena dalam pembuatan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan, makadari itu kami mengharapkan kritik ataupun
saran yang membangun kepada para pembaca agar kami bisa memperbaiki
dalam pembuatan makalah selanjutnya supaya bisa menjadi lebih baik di masa
yang akan datang.

31
DAFTAR PUSTAKA

Abu Ghuddah, Abdul Fatttah, 2009. 40 Metode Pendidikan Pengajaran Rasulullah,


terj. Moechtar Zoerni, Bandung: Irsyad Baitus Salam.
Arifin, M., t.th. Filsafat Pendidikan Islam. Cet. ke-4. Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Zainal, 2011. Konsep & Model Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Donald Stepich. James lehman. James d. Russel. Anne Told Leftwich, 2010.
Educational Technology for Teaching and Learning, Purdue University: Pearson
Educational, limited.
Hamalik, Oumar,2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Hamdani, Ihsan, 2001. Filsafat Pendidikan Islam: Untuk Fakultas Tarbiyah
Komponen MKK. Yogyakarta: Pustaka Setia.
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Konsep, Karakteristik dan
Implementasi), Bandung: PT, Remaja Rosdakarya

http://repository.uin-suska.ac.id/6045/3/BAB%20II.pdf [diakses pada 08-10-2021


Online]
https://ejournal.iainbengkulu.ac.id/index.php/annizom/article/download/2077/1727
[diakses pada 08-10-2021 Online]
http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/keguruan/belajar-mengajar-dan-
pembelajaraan/
[diakses pada 11-10-2021 Online]

32