Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

KESEHATAN DI SOSIAL/BUDAYA
PENGARUH BUDAYA MAKAN SIRIH TERHADAP
STATUS KESEHATAN PERIODONTAL

Disusun Oleh :

Desri Handayani NIM. 2019.C.11a.1004

YAYASAN EKAHARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas berkat
dan rahmatnya yang telah diberikan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan
Laporan Pendahuluan ini dalam rangka memenuhi persyaratan untuk pemenuhan
tugas selanjutnya dengan judul “Kesehatan Di Sosial/Budaya Pengaruh Budaya
Makan Sirih Terhadap Status Kesehatan Periodontal”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan dan
hambatan, akan tetapi semuanya bisa dilalui berkat bantuan dari berbagai pihak.
Dalam penyusunan makalah ini telah mendapatkan bantuan, dorongan dan
bimbingan dari berbagai pihak baik materil maupun moril.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada yang terhormat :
1. Ibu Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M. Kes Selaku Ketua STIKes Eka Harap
Palangka Raya.
2. Seluruh staf pengajar jurusan S1 Keperawatan sekolah tinggi ilmu kesehatan
eka harap palangka Raya yang telah memberikan bimbingan dan ilmu
pengetahuan selama ini.
3. Kepada kedua orang tua dan saudara-saudara saya yang selama ini telah
banyak memberikan dukungan baik secara materi, doa, nasehat, dan
senantiasa memotivasisayai dalam menyelesaikan laporan pendahuluan ini.

i
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN SAMPUL...................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................
A. Konsep Dasar Menyirih........................................................................ 5
B. Konsep Dasar Pinang.................................................................................... 11
C. Konsep Dasar Kapur...................................................................................... 13
D. Konsep Dasar Gambir................................................................................... 14
E. Kesehatan Gigi dan Mulut.................................................................... 15
F. Konsep Dasar Karies............................................................................. 16
BAB III KESIMPULAN...............................................................................
A. Kesimpulan........................................................................................... 24
B. Saran .................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 26

ii
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di indonesia tradisi makan sirih, merupakan bagian dari kebudayaan


dan kehidupan masyarakat dan sudah dikenal sejak abad ke-6 masehi serta
tradisi tersebut dilakukan hampir di seluruh wilayah di Indonesia, seperti; di
Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Papua (NN, 2009).
Tradisi makan sirih ini tidak dapat dipastikan dari mana asalnya. Tidak
sedikit orang yang mengatakan bahwa tradisi makan sirih berasal dari India.
Pendapat ini lebih didasarkan pada cerita-cerita sastra dan sejarah lisan.
Berdasarkan catatan perjalanan Marcopolo, yang dikenal sebagai penjelajah
pada abad ke-13 mencatat bahwa masyarakat di Kepulauan Nusantara
banyak yang makan sirih.

Makan sirih merupakan salah satu bentuk tradisi yang ada di


masyarakat yang secara turun-menurun dilakukan. Sirih digunakan sebagai
tanaman obat, yang juga sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai
upacara adat berbagai suku bangsa masyarakat Indonesia. Sirih adalah jenis
tumbuhan yang mirip dengan tanaman lada, dengan nama ilmiahnya adalah
Piper Betle, dan ada beberapa daerah di Indonesia memberikan nama lain
terhadap sirih yaitu, Belo (Batak Karo), Demban (Batak Toba), Ranub
(Aceh), Afo (Nias), Sirieh, Sirih (Minang), namun demikian nama paling
umum adalah sirih.

Makan sirih adalah budaya Indonesia dengan meramu daun sirih dan
bahan-bahan lain sebagai ramuannya. Perlengkapan atau ramuan yang
digunakan untuk makan sirih secara umum adalah terdiri dari sirih,
kapur, gambir, pinang, dan tembakau
Seperti hal nya dibeberapa kawasan di Indonesia NTT (Nusa
Tenggara Timur), pa happa atau makan sirih pinang merupakan salah satu
budaya yang sangat melekat pada masyarakat Sumba. Dimana
perpaduan buah sirih dan buah pinang yang kemudian dicampur dengan
2

kapur, dikunyah, dan diludahkan yang akan menghasilkan bercak merah

Pada masyarakat Minangkabau (yang disebut dengan orang-orang


Melayu Tua) juga memiliki tradisi makan sirih. Sirih tidak hanya sekedar
dikonsumsi, tapi juga dimanfaatkan sebagai sarana penunjang budaya dan
tradisi yang mereka miliki. Dalam penyambutan tamu terhormat misalnya,
si tamu akan disuguhi daun sirih, pinang muda dan gambir yang
kesemuanya diletakkan dalam satu carano. Kepada tamu dipersilahkan
untuk mencicipi suguhan itu barang sedikit. Daun sirih bersama suguhan
lainnya itu menunjukkan kesediaan mereka menerimatamunya selama
berada di Ranah Minang

Sirih juga dikenal sebagai simbol budaya dan menjadi bagian yang
tak terpisahkan dalam adat istiadat masyarakat Minangkabau khususnya di
Nagari Koto Gadang Guguk, Koto Gaek Guguk, Jawi-Jawi Guguk
Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok. Sirih juga dipakai dalam
upacara meminang yang dilakukan menurut adat yaitu maanta sirieh
langkok jo carano. Mencari dan atau meminang calon yang dilakukan baik
wanita maupun laki-laki, maka keluarga calon mempelai pihak keluarga
wanita dan atau laki-laki harus datang melamar kepada keluarga orang tua
pihak laki-laki dan atau wanita, maka keluarga calon mempelai pihak
keluarga dan atau laki-laki untuk meminta persetujuan kepada mamak yang
bersangkutan (Dumarni, dkk, 2015 :6).

Saat ini sejumlah penyakit gigi dan mulut dihubungkan dengan


kebiasaan, pola hidup, dan faktor lingkungan; salah satu adalah mengunyah
pinang. Diperkirakan terdapat sekitar 600 juta penduduk mempunyai pola
kebiasaan mengunyah pinang. Mengunyah pinang merupakan suatu
kebiasaan yang populer di Asia, terutama di India, Sri Lanka, Asia Tenggara,
Kepulauan Pasifik, dan China. Menurut catatan sejarah nenek moyang di
Asia Pasifik, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, kebiasaan ini secara sosial
diterima di seluruh lapisan masyarakat termasuk wanita dan sebagian anak-
anak. Hal ini telah diketahui dan dilaporkan di beberapa negara seperti
Bangladesh, Thailand, Kamboja, Srilanka, Pakistan, Malaysia, Indonesia,
3

Cina, Papua Nugini, beberapa pulau di Pasifik, dan populasi yang


bermigrasi ke tempat-tempat seperti Afrika Selatan, Afrika Timur, Eropa,
AmerikaUtara, dan Australia (Ray dkk., 2012).

Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun


2012, secara umum penduduk mempunyai masalah kesehatan gigi dan
mulut, di antara penduduk 15 tahun atau lebih yang mempunyai masalah
kesehatan gigi dan mulut hanya 29% menerima perawatan dari perawat gigi,
dokter gigi atau dokter spesialis gigi. Sebahagian besar masalah gigi dan
mulut terjadi di daerah pedesaan yaitu sebesar 40,6%, secara keseluruhan 7%
penduduk kehila ngan seluruh gigi, tertinggi pada penduduk kelompok umur
65 tahun (30%). Dilihat dari pelayanan kesehatan gigi dan mulut, sebahagian
besar pelayanan yang di berikan adalah pengobatan (85%), dibedah gigi dan
mulut serta tambal (45%), konseling (23%) serta pemasangan gigi palsu
hanya 9% diantara penduduk yang menerima perawatan (Depkes RI 2011).
Keadaan tersebut menunjukan bahwa secara nasional permasalahan gigi dan
mulut masih merupakan masalah kesehatan.Berdasarkan Profil Kesehatan
Kabupaten Deli Serdang (2013), diketahui jumlah kunjungan masyarakat ke
poli gigi menempati urutan ke Sembilan dari sepuluh penyakit terbesar,
dengan jumlah kunjungan sebanyak 1.482 kunjungan yang terdiri dari 62,8%
berusia lebih dari 15 tahun,dan 37,2% kunjungan usia <15 Tahun.
Kunjungan pasien ke poli gigi umumnya menderita gangguan gigi dan
mulut,43,9% diantaranya menderita karies gigi,da n 56,1% lainnya menderita
gangguan periodontal.

Penyebab terjadinya gangguan gigi dan mulut pada prinsipnya sama


dengan penyebab terjadinya jenis penyakit lainnya baik penyebab langsung
seperti bakteri, maupun penyebab tidak langsung seperti karakteristik
penderita, kebiasaan, perilaku dan faktor budaya. Penyakit gigi dan mulut
yang terbanyak di derita masyarakat adalah penyakit karies gigi kemudian di
ikuti dengan penyakit periodontal di urutan ke dua (Depkes RI,2011).

Ditinjau dari sisi kedokteran gigi, kebiasaan mengunyah pinang dapat


mengakiba tkan penyakit periodontal. Penyebab terbentuknya penyakit
4

periodontal adalah kalkulus atau karang gigi akibat stagnasi saliva pengunyah
pinang karena adanya kapur Ca(OH)2. Gabungan kapur dengan pinang
mengakibatkan timbulnya respon primer terhadap pembentukan senyawa
oksigen reaktif dan mungkin mengakibatkan kerusakan oksidatif pada DNA
di aspek bukal mukosa penyirih. Efek negatif adalah menyirih dapat
mengakibatkan penyakit periodontal dengan adanya lesi-lesipada mukosa
mulut seperti submucous fibrosis,oral premalignant lesion dan bahkan
dapat mengakibatkan kanker mulut (Kasim dkk.,2006).

Makan sirih merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh berbagai


suku di Indonesia, kebiasaan makan sirih ini merupakan tradisi yang di
dilakukan turun menurun pada sebahagian besar penduduk pedesaan yang pada
mulanya berkaitan erat dengan adat kebiasaan masyarakat setempat. Adat
kebiasaan ini biasanya di lakukan pada saat acara yang sifatnya ritual.
Begitu pula dengan suku Karo yang memiliki adat kebiasaan tersebut pada
tradisi mereka. Kebiasaan ini di jumpai tersebar luas di kalangan penduduk
wanita suku Karo.

Disetiap daerah mempunyai tradisi, hukum dan adat istiadat yang


berbeda- beda. Perbedaan itulah yang menjadi ciri khas dari masing-
masing wilayah sekaligus yang membedakan antara satu daerah suku besar
dari daerah suku lainnya (Ihromi, 2004:xxiii).

B. Rumusan Masalah
Untuk Mengetahui bagaimana Kesehatan Di Sosial/Budaya Seperti
Pengaruh Budaya Makan Sirih Terhadap Status Kesehatan Periodontal ?
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Menyirih, sirih, Gambir, Pinang, Kapur dan Karies

1. Konsep Dasar Menyirih

a. Menyirih

Menyirih merupakan proses meramu campuran dari komponen-


komponen yang telah terpilih dan dibungkus dalam daun sirih.
Campuran ini kemudian ditempatkan didalam mulut dan dikunyah.
Komponen utama dari sirih adalah biji pinang (Areca cathecu), daun
sirih (Piper betle) dan kapur (kalsium hidroksid). Selain itu
ditambahkan beberapa komponen tambahan seperti kapur, gambir, dan
pinang. Menyerih merupakan proses meramu campuran dari
komponen-komponen yang telah terpilih dan dibungkus dalam daun
sirih. Campuran ini kemudian ditempatkan dalam mulut dan
dikunyah.komponen utama dari sirih adalah biji pinang,gambir, daun
sirih dan kapur.

Menyirih merupakan salah satu bentuk dari kebiasaan masyarakat


yang dilakukan secara turun-temurun. Sirih adalah jenis tumbuhan yang
mirip dengan tanaman lada, dengan nama ilmiahnya adalah Piper Betle
Leaves. Menyirih adalah meramu campuran dari beberapa bahan yang
terpilih dan dikunyah secara bersamaan dalam beberapa menit sehingga
dihasilkan sugi air (quid). Menyirih dilakukan dengan cara yang
berbeda dari satu negara dengan negara lainnya dan satu daerah dengan
daerah lainnya dalam satu negara. Meskipun begitu komposisi terbesar
relatif konsisten, yang terdiri dari biji buah pinang, daun sirih atau buah
sirih, dan kapur (Musyafaatun dkk., 2017).

Sirih ( Piper betle Linn) merupakan tanaman yang mudah


ditemukan di sekitar lingkungan masyarakat. Masyarakat sering
menggunakan daun sirih untuk obat karena adanya minyak antibakteri
adalah katekin dan tannin yang merupakan senyawa dari polifenol.Dari
6

streptococcus mutans sebagai bakteri dominan penyebab terjadinya


karies gigi.

Daun sirih merupakan salah satu obat tradisional yang digunakan


oleh masyarakat indonesia sebagai campuran dalam kebiasaan menyirih
dipedesaan terutama bagi lanjut usia. Tanam sirih sangat mudah
ditemukan di Indonesia sehingga bagi orang yang mempunyai
kebiasaan mengunyah daun sirih tidak merasa kesulitan untuk
memperolehnya, seperti halnya pengunyahan daun sirih di Desa
Bintang Mersada Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi memperoleh
daun sirih dengan cara memetik dari hasil tanaman sendiri ataupun
membeli diwarung-warung terdekat. Sebelumnya menyirih daun sirih
diramu terlebih dahulu dengan gambir, sirih, kapur, dan buah pinang.
Menyirih biasanya dilakukan setiap sehabis makan, setiap ada waktu
luang, dan ada pula yang mengunyah daun sirih saat menderita sakit
gigi.

Menyirih memiliki efek terhadap gigi, gingiva, dan mukosa


mulut.Kepercayaan tentang menyirih dapat menghindari penyakit bau
mulut seperti mengobati gigi yang sakit dan nafas yang tidak sedap
kemungkinan telah mendarah daging diantara para penggunanya
(Avinaninasia, 2011).

Efek menyirih terhadap gigi dari segi positifnya adalah


menghabat Proses pembentukan karies, sedangkan efek negatif dari
menyirih terhadap gigi dan gingiva dapat menyebabkan timbulnya
stein, selain itu dapat menyebabkan penyakit periodontal dan pada
mukosa mulut dapat menyebabkan timbulnya lesi- lesi pada mukosa
mulut, oral hygine yang buruk, dan dapat menyebabkan atropi pada
mukosa lidah (Dondy, 2009).

Sirih termasuk jenis tumbuhan merambat dan bersandar pada


batang pohon lain. Bentuk daunnya pipih menyerupai jantung dengan
ukuran panjang antara 6-17,5 cm, lebar 3,5 - 10 cm dan buahnya
panjang. Daun sirih biasanya digunakan sebagai pembungkus untuk
7

menyirih. Sirih dikenal masyarakat dalam berbagai pengobatan


tradisional, antara lain untuk sariawan (Stomatitis), mimisan, bau
badan, batuk, gusi bengkak, radang tenggorokan.

Sirih ini merupakan bahan yang mengandung unsur psikoaktif

terbesar keempat setelah kafein, nikotin dan alkohol. Sirih secara kimia

mengandung minyak atsiri yang terdiri dari hidroksikavikol,

betlephenol, kavikol, seskuiterpen, cavibetol, estragol, karvakrol, dan

eugenol. Bahan-bahan tersebut menyebabkan rasa pedas pada daun atau

buah sirih (Tandiarrang, 2015).

b. Komposisi Menyirih
Berdasarkan kandungan utamanya, campuran menyirih adalah
kombinasi dari daun sirih ( Piper Betle), Buah pinang, gambir (Uncaria
Gambir), dan kapur.
Umumnya, bahan yang digunakan untuk menyirih terdiri dari biji
buah pinang (Areca Catechu), buah atau daun sirih (Piper Betle Leaves),
dan kapur (Kalsium Hidroksid). Di beberapa daerah atau negara,
tembakau juga dimasukan dalam quid (Shabrina, 2016).
c. Defenisi Sirih
Sirih merupakan tanaman asli indonesia yang tumbuh atau
merambat atau bersandar pada batang pohon lain, dimana dun dan
buahnya dikunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Selain berperan
8

dalam kehidupan dan berbagai upacara adat, sirih juga brperan dalam
pengobatan herbal. Daun sirih tumbuh dengan cara merambat mencapai
tinggi 15 meter, batang sirih berwarna coklat kehijauan, berbentuk bulat,
beruas dan merupkan tempat kluarnya akar. Daun sirih mempunyai
bentuk seperti jantung, cabang aun sirih bersifat tunggal atau satu-satu
dan tumbuh berselang-seling, bertangkai dan mengeluarkan bau yang
sedap bila diremas.Panjang daun sirih 5-8 cm dengan lebarnya 2-5 cm.
Adanya minyak atsiri dari dun sirih mengandung minyak terbang
(betelphenol), pati, diastase, gula,zat amak, dan chavicol yang memiliki
daya mematikan kuman, antioksidasi dan anti jamur (fungsida). Sirih
juga bermanfaat untuk menghilangkan bau badan yang ditimbulkan
bakteri dan cendawan. Daun sirih jug bersiat menahan pendarahan,
gelap dari menyembuhkan luka pad kulit, dan gangguan pencernaan

(Agoes, 2010).

d. Jenis-jenis Daun Sirih

1) Daun sirih hitam

Adalah daun sirih yang memiliki warna hitam atau warna yang lebih
daun sirih lainnya, daun sirih ini terbilang langka karena tidak
di semua daerah terdapat daun sirih hitam ini. Daun sirih hitam ini
memiliki fungsi yang lebih ampuh dari pada daun sirih lainnya.

2) Daun sirih bulu

Ialah daun sirih yang memiliki bulu-bulu halus di daun dan


batangnya, daun sirih ini memiliki ukuran daun yang lebih kecil dari
pada daun sirih pada umumnya, memiliki fungsi yang sama dengan
9

daun sirih lainnya yaitu bisa mengobati berbagai penyakit yang


menyerang manusia.

3) Daun sirih kuning

Daun sirih yang memiliki warna kuning pada daunnya atau memiliki
nama latin sirih gading, memiliki fungsi untuk mengobati mimisan
yang terjadi pada manusia.
4) Daun sirih silver
Adalah daun sirih yang memiliki warna silver, dengan warna yang di
hasilkan membuat banyak orang lebih membudidayakannya untuk
tanaman hias ketimbang untuk di manfaatkan lainnya, warna silver
yang di hasilkan mampu menarik perhatian banyak orang khususnya
kaum hawa yang lebih dominan menyukai tanaman.
5) Daun sirih putih
Adalah daun sirih yang memiliki warna putih yang diselingi dengan
warna hijau tua pada daunnya, daun sirih putih ini memiliki banyak
manfaat untuk kesehatan tubuh manusia. Bisa di manfaatkan untuk
mengatasi keputihan pada kaum hawa.

6) Daun sirih merah


Daun sirih merah ini berasal dari Indonesia lebih tepatnya Sulawesi,
daun sirih yang memiliki warna merah pada daunnya membuat daun
sirih ini memiliki ciri khas tersendiri, manfaat daun sirih merah
sendiri ialah untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti
penyakit hepatitis, penyakit radang dan nyeri sendi, penyakit maag,
kolesterol dan masih banyak lagi.
7) Daun Sirih Cina (Daun Ketumpang Air)
Sirih jenis ini memiliki untuk khasiatnya sendiri sangat banyak salah
satunya dapat megobati sakit perut, luka bakar, mual, pusing, sakit
ginjal,asam urat dan lain.
10

e. Dampak Buruk Menyirih

Menyirih memiliki efek mematikan pada jaringan periodonsium.


Status kesehatan periodontal dari menyirih dengan atau tanpa tembakau
menemukan bahwa pengunyah sirih pinang meningkatkan kerusakan
jaringan periodontal, termasuk peningkatan kejadian resesi gingiva, gusi
berdarah, lesi oral, bau mulut, kesulitan dalam membuka mulut,
kesulitan menelan makanan padat, dan sensasi mulut terbakar pada
jaringan lunak dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penambahan
tembakau dengan pinang menjadi sinergi negatif pada jaringan
periodontal. Penggunaan sirih kronis juga meninggalkan noda pada gigi
berwarna coklat ( Tandiarrang, 2015).

Menyirih dapat membahayakan jaringan periodontal dapat


dijelaskan sebagai suatu bahan yang dapat memberikan efek
karsinogenik jika menyirih ini bercampur dengan garam
kalsium.Deposit kalsium ini merupakan faktor yang dapat memicu
terjadinya hipersalivasi. Peningkatan deposit kalsium kemudian dapat
memicu kerusakan jaringan gingiva dan membran periodontal akibat
dari kebiasaan menyirih. Efek dari arekolin (zat alkaloid utama yang
11

ditemukan di dalam pinang) mampu menghalangi perlekatan sel,


penyebaran sel dan migrasi sel serta menurunkan pertumbuhan sel dan
sintesis kolagen. Hasil temuan menyatakan bahwa orang yang memiliki
kebiasaan menyirih pernah mengalami periodontitis yang parah,
sedangkan masyarakat yang tidak memiliki kebiasaan menyirih sering
beranggapan bahwa menghentikan kebiasaan menyirih ini dapat
bermanfaat untuk menjaga kesehatan mulut

B. Konsep Dasar Pinang


1. Defenisi Pinang
Pinang (Areca catechu) adalah jenis tanamana kelapa yang
ditemukan di Tiongkok,Iindia, Asia Tenggara, dan daerah tropis Afrika.
Mengunyah biji pinang adalah aktivitas populer pada zaman dahulu, dan
bahkan masih sering dilakukan bagi masyarakat yang tinggal dipedesaan
sampai saat ini. Zat yang terkandung didalam buah pinang ternyata
mampu memberikan rangsangan pada istem saraf pusat dan jika
dikombinasikan dengan daun sirih akan menimbulkan efek euforia
ringan. Selain itu biji pinang mampu mengencangkan gusi dan
menghentikan pendarahan ama seperti daun sirih. Piang dapat digunakan
secara sendiri maupun bersama dengan komponen lain seperti kapur,
gambir, dan bahan rempah-rempah lainya, yang dibungkus dala daun
sirih dan disebut sebagai campuran.

Pinang adalah sejenis palma yang tumbuh di daerah pasifik, Asia


12

dan Afrika bagian Timur bahkan terdapat juga di Indonesia pada daerah-
daerah tertentu. Pinang terutama ditanam untuk dimanfaatkan buahnya,
yang di dunia barat dikenal sebagai betel nut. Biji ini dikenal sebagai
salah satu bahan campuran dalam menyirih.

Secara tradisional, buah pinang sudah digunakan secara luas sejak


ratusan tahun yang lalu. Penggunaan paling populer adalah kegiatan
menyirih dengan bahan campuran buah pinang, daun sirih, dan kapur.
Ada juga yang mencampurnya dengan tembakau. Pinang diduga dapat
menghasilkan rasa senang, rasa lebih baik, sensasi hangat di tubuh,
keringat, menambah saliva, menambah stamina kerja, menahan rasa
lapar. Selain tersebut diatas, pinang juga mempengaruhi sistem saraf
pusat dan otonom.

2. Jenis-jenis Pinang

Jenis-jenis pinang adalah semua tanaman yang tergolong dalam


famili palmae. Tanaman ini tumbuh baik di Indonesia yang notabane
mempunyai iklim tropis. Piang merupakan tanaman yangakab dikenal
oleh masyarakat secara luas. Hal ini dikarenakan pohon pinang sering
ditanam di pekarangan rumah, baik sebagai tanaman herbal maupun
tanaman hias. Dari sekitar 460 ragam tanaman pinang setidaknya
terdapat 5 jenis yang paling banyak dipelihara yaitu:
a. Pinang Merah
13

b. Pinang Hutan
c. Pinang Irian
d. Pinang Biru
e. Pinang kelapa
C. Konsep Dasar Kapur
1. Defenisi Kapur
Kapur diperoleh dari berbagai sumber, seperti kerang laut, kerang air

tawar, batu kapur, dan batu karang.Supaya cocok untuk dikunyah, kapur
diolah menjadi bubuk (kalsium dioksida) dan dicampur dengan air
sehingga konsistensinya seperti pasta. Kapur dihaluskan dengan cara
yang berbeda, tergantung asal- usulnya.

Di Indonesia kerang dihancurkan dengan tangan, setelah dikurangi


menjadi bubuk halus, air, dan kadang-kadang sedikit minyak kelapa,
ditambahkan untuk membentuk pasta.Kapur yang merupakan bagian dari
campuran sirih menghidrolisa arecoline menjadi arecaidine yang dapat
merangsang sistem saraf pusat, dikombinasikan dengan minyak lada
esensial (campuran fenol dan zat terpenlike) adanya sifat euphoria ketika
diserap dari mukosa bukal. Pasta kapur melalui kontak langsung
menyebabkan percepatan pergantian sel. Di daerah tertentu kapur
ditambahkan langsung ke pinang, bukan dibungkus didalam daun sirih,
kemudian diletakkan pada tempat tertentu di mulut .

Kapur yang digunakan dalam mengonsumsi sirih pinang sebenarnya


mempunyai manfaat untuk kesehatan jaringan periodontal. Produk kitin
14

yang digunakan pada saat menginang berbentuk serbuk kapur yang dapat
merusak jaringan periodonsium secara mekanis dengan cara
pembentukan kalkulus yang akan menyebabkan peradangan jaringan
periodontal dan kegoyangan gigi (Siagan, 2012)

Kapur berwarna putih seperti salep yang berasal dari karang laut atau
cangkang kerang yang telah dibakar. Hasil dari debu cangkang tersebut
perlu dicampurkan air supaya memudahkan lagi untuk dioleskan pada
daun sirih bila diperlukan.

2. Jenis-jenis Kapur

a. Kapur Tohor atau Kapur Sirih


b. Kapur Karbonat
c. Kapur tembok atau kapur hidroksida
3. Kandungan pada Kapur
Kapur mengandung kalsium (Ca) bisa dalam bentuk CaO atau
CaCO3. Mungkin juga kapur sirih juga mengandung bahan lainnya
yang bisa dimanfaatkan sebagai penyerap atau adsorben seperti karbon
aktif. Kalau dalam air bisa menjadi Ca(OH)2 atau kalsium hidroksida

D. Konsep Dasar Gambir


1. Defenisi Gambir
Gambir adalah nama sejenis tanaman tropis yang daun dan
rantingnya dapat diekstra untuk diambil getahnya dan proses menjadi
15

bahan olahan yang disebut dengan nama yang sama yaitu gambir.
Gambir yang diekstra dari daun dan ranting gambir ini mempunyai
manfaat dan khasiat yang sangat banyak. Salah satnya sebagai bahan
baku obata-obatan, orang awam sering menyamakan gambir dengan
buah pinang yang bernama jambe. Kegunaan yang lebih penting adalah
sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna.

Kegunaan utama gambir adalah sebagai komponen menyirh,


manfaat gambir dalam bidang kesehatan sebagai campuran obat luka
bakar, sakit kepala,diare, disentri, kumur-kumur,sariawan, sakit kulit,
dn obat luar untuk merawat kulit (Agoes, 2010).

2. Jenis-Jenis Tumbuhan Gambir

Tumbuhan perdu setengah merambat dengan percabangan


memanjang. Daun oval, memanjang, ujung meruncing, permukaan
tidak berbulu (licin), dengan tangkai daun pendek. Bunganya tersusun
majmuk fengan mahkota berwarna merah muda atau hijau, kelopak
bunga pendek mahkota bunga berbentuk corong (seperti bungan kopi),
benang sari lima, dan buah berupa kapsula dengan dua ruang, dan
tingginya 1-3 cm.

E. Kesehatan Gigi dan Mulut


Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan
tubuh secara keseluruhan karena dapat mempengaruhi kualitas
kehidupan termasuk fungsi bicara , pengunyahan dan kepercayaan diri.
Angka kejadian masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia
tergolong masih tinggi.

Di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia, kesadaran


16

dan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan gigi dan mulut masih


kurang, khususnya perawatan jaringan periodontal. Penyakit gigi dan
mulut merupakan penyakit gigi keenam yang sering dikeluhkan
masyarakat Indonesia dan menempati peringkat keempat penyakit
termahal dalam pengobatan. Salah satu penyakit gigi dan mulut yang
mempunyai prevalansi cukup tinggi di Indonesia adalah karies gigi.

Karies gigi dapat dialami oleh setiap orang dan dapat timbul
pada suatu permukaan gigi tau lebih dan dapat meluas kebagian yang
lebih dalam dari gigi, misalnya : dari email kedenitin atau kepulpa.

F. Konsep Dasar Karies

1. Defenisi Karies

Karies gigi merupakan penyakit pada jaringan gigi yang diawali


dengan terjadinya kerusakan jaringan yang dimulai dari permukaan gigi
(pit, fissures, dan daerah inter proksimal), kemudiam meluas kearah
pulpa. Lubang gigi disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil
asam yang dapat merusak karena reaksi fermentasi karbohidrat termasuk
sukrosa, fruktosa, dan glukosa, Jika tidak ditangani penyakit ini dapat
menyebabkan nyeri, kematian saraf gigi(nekrose) dan infeksi periapikal
dan infeksi sitemik yang isa membahayakan penderita, dan bahkan bisa
berakibat kematian. Penyakit ini telah dikenal sejak masa lalau, berbagai
bukti telah menunjukkan bahwa penyakit ini telah dikenal sejak zaman
perunggu, zaman besi, dan zaman pertengahan. Peningkatan prevalensi
karies banyak dipengaruhi perubahan dari pola makan.Kini karies gigi
telah menjadi penyakit yang terbesar di seluruh dunia.Dua bakteri yang
paling umum bertanggug jawab untuk gigi berlubang adalah
Streptococcus mutans dan lactobacillus. Jika dibiarkan tidak diobati,
penyakit dapat menyebabkan rasa sakit, kehilangan gigi dan infeksi (
Tarigan, 2015).

Meningkatnya angka kejadian karies jugadihubungakan dengan


peningkatan konsumsi gula. Karies gigi merupakan penyakit yang paling
umum terjadi pada anak-anak dan prevalensinya meningkat sejalan
17

dengan pertumbuhan usia anaka tersebut, Survei epidemologi terbaru


yang dilakukan di Negara Timur Tengah menunjukan bahwa karies
terhadap anak relatif lebih tinggi dipengaruhi oleh diet ( Surya, dkk,
2014).

2. Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Karies


a. Mikroorganisme
Bakteri Streptococcus mutans dan bakteri Laktobacili
merupakan dua bakteri yang berperan penting dalam proses terjadinya
karies. Streptococcus mutans memiliki peran dalam proses awal
pembentukan karies, setelah itu bakteri laktobacili meneruskan peran
untuk membentuk kavitas pada enamel. Plak gigi mengandung bakteri
yang memiliki sifat acidogenic (mampu memproduksi asam) dan
aciduric (dapat bertahan pada kondisi asam). Selama proses
pembetukan lesi karies, pH plak turun menjadi dibawah 5,5 sehingga
menciptakan suasana asam dan terjadi proses demineralisasi enamel
gigi (Cameron, 2008). Enamel gigi dapat mengalami disolusi asam
selama proses keseimbangan kembali dengan proses yang dikenal
dengan istilah remineralisasi. Keseimbangan antara demineralisasi
dan remineralisasi dari enamel menentukan terjadinya karies gigi
(Tarigan, 2015).
b. Substrat
Konsumsi karbohidrat seperti sukrosa yang dapat terfermentasi
akan mempengaruhi pembentukan plak gigi dan membantu
perkembangbiakan serta kolonisasi bakteri Streptococcus mutans pada
permukaan gigi. Konsumsi sukrosa secara berlebih dapat
mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak untuk memproduksi
asam sehingga menyebabkan timbulnya karies (Heymann, 2013).

c. Waktu
Proses demineralisasi dan remineralisasi pada rongga mulut
terjadi secara terus menerus, oleh sebab itu maka dapat dikatakan
18

bahwa seseorang tidak pernah terbebas dari karies. Karies akan


terjadi jika terdapat gangguan keseimbangan antara proses
demineralisasi dan remineralisasi. Proses ini ditentukan oleh
komposisi dan jumlah plak yang terdapat pada rongga mulut,
konsumsi gula (frekuensi dan waktu), paparan fluoride, kualitas
enamel dan respon imun. Asam dapat menyebabkan hancurnya kristal
enamel sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan
enamel. Hal ini dapat terjadi dalam kurun waktu bulan hingga tahun
tergantung pada intensitas dan frekuensi suasana asam terjadi (
Cameron, 2014).

d. Faktor tidak langsung

komposisi dan jumlah plak yang terdapat pada rongga mulut,


konsumsi gula (frekuensi dan waktu), paparan fluoride, kualitas
enamel dan respon imun. Asam dapat menyebabkan hancurnya kristal
enamel sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada permukaan
enamel. Hal ini dapat terjadi dalam kurun waktu bulan hingga tahun
tergantung pada intensitas dan frekuensi suasana asam terjadi
(Cameron, 2008).
1) Ras (suku bangsa)
Pengaruh ras terhadap terjadinya karies gigi sangat sulit
ditentukan.Namun demikian, bentuk tulang rahang suatu ras bangsa
mungkin dapat berhubungan dengan presentase terjadinya karies
yang semakin meningkat atau menurun. Misalnya, pada ras tertentu
dengan bentuk rahang yang sempit sehingga gigi- geligi pada
rahang tumbuh berjejal yang menyebabkan seseorang sulit
membersihkan gigi-geligi secara keseluruhan sehingga akan
meningkatkan presentase karies pada ras tersebut (Tarigan, 2015).

Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan


pendapat antara hubungan ras (suku bangsa) dengan prevalensi
karies. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan tingkat sosial
ekonomi dan keadaan lingkungan sosial yang dipengaruhi oleh
19

perbedaan pendidikan, pendapatan dan ketersediaan akses


pelayanan kesehatan yang berbeda disetiap ras (suku bangsa)
(Fejerskov, 2008).

2) Usia
Prevalensi karies meningkat seiring dengan bertambahnya
usia. Hal ini disebabkan karena gigi lebih lama terpapar dengan
faktor resiko penyebab karies, oleh karena itu penting untuk
memahami dan mengendalikan faktor risiko untuk mencegah
timbulnya lesi karies baru atau memperlambat perkembangan lesi
karies yang sudah ada (Fejerskov, 2008; Heymann, 2013).

3) Jenis kelamin
Prevalensi karies gigi permanen dan gigi sulung pada
perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan
karena erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibanding anak laki-
laki, sehingga gigi anak perempuan terpapar faktor resiko karies
lebih lama (Fejerskov, 2008).
4) Keturunan
Orang tua dengan karies yang rendah anak-anaknya
cenderung memiliki karies yang rendah, sedangkan orang tua
dengan karies yang tinggi anak- anaknya cenderung memiliki
karies yang tinggi pula. (Shafer, 2012). Namun penelitian ini belum
dipastikan penyebabnya karena murni genetik, transmisi bakteri
atau kebiasaan makan dan perilaku dalam menjaga kesehatan gigi
yang sama dalam suatu keluarga (Fejerskov, 2008).
5) Status sosial ekonomi
Anak-anak dari keluarga dengan status sosial ekonomi
rendah memiliki indeks DMF-T lebih tinggi dibandingkan dengan
anak-anak dari keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi
(Tulongow, 2013). Hal ini disebabkan karena status sosial ekonomi
akan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam upaya
20

pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut (Fejerskov, 2008). Status


sosial ekonomi keluarga dapat dilihat dari tingkat pendidikan,
pekerjaan dan pendapatan orang tua yang dapat mempengaruhi
perubahan sikap dan perilaku seseorang dalam upaya pemeliharaan
kesehatan gigi dan mulut (Susi, 2012; Heymann, 2013).
6) Sikap dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan gigi,
yaitu :
a) Perilaku menggosok gigi
Perilaku memegang peranan yang penting dalam
mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut, salah satunya
adalah perilaku menggosok gigi (Anitasari, 2014).Beberapa
penelitian menunjukan bahwa kebiasaan menggosok gigi,
frekuensi menggosok gigi dan penggunaan pasta gigi yang
mengandung fluoride berpengaruh terhadap kejadian karies
(Lakhanpal, 2014).Menggosok gigi dua kali sehari dengan
menggunakan pasta gigi mengandung fluoride dapat
menurunkan angka kejadian karies (Angela, 2005).

b) Penggunaan dental floss

Dental floss atau benang gigi merupakan alat yang


digunakan untuk menghilangkan sisa makanan dan plak pada
daerah yang sulit dijangkau oleh sikat gigi, seperti pada daerah
interproksimal.Pembersihan plak pada daerah interproksimal
dianggap penting untuk memelihara kesehatan gingiva,
pencegahan karies dan penyakit periodontal.Penggunaan dental
floss sebaiknya dilakukan sebelum menggosok gigi, karena
dapat membersihkan daerah interdental yang tidak bisa dicapai
dengan sikat gigi dan fluor yang terkandung dalam pasta gigi
lebih mudah mencapai bagian interproksimal sehingga dapat
membantu melindungi permukaan gigi dari terbentuknya plak
(Magfirah, 2014).

c) Faktor pencegah terjadinya karies gigi


Karies gigi (tooth decay) disebabkan oleh pembentukan
21

plak pada gigi.Plak terbentuk karena gula di dalam mulut


mengundang datangnya bakteri. Plak bersifat sangat asam dan
mengikis enamel gigi. Inilah tahap awal dari proses gigi
berlubang. Seiring pelebaran lubang gigi, bakteri di mulut dapat
menyerang pulp gigi (jaringan hidup di gigi) dan menyebabkan
inflamasi yang bisa berlanjut menjadi infeksi bernama abses.
Proses ini cukup menyakitkan dan sangat tidak nyaman, belum
termasuk biaya pengobatannya yang sangat mahal. Namun,
karies gigi bisa dicegah dengan membersihkan gigi dengan
sikat gigi dan benang gigi, makan makanan yang tepat, serta
kunjungan teratur ke dokter gigi untuk pembersihan dan
pemeriksaan gigi

d) Klasifikasi karies
Berdasarkan kedalamannya karies gigi yaitu:
o Karies superficialis yaitu dimana karies baru mengenai
enamel saja, sedangkan dentin belum terbuka
o Karies media yaitu dimana karies sudah mengenai dentin,
tetapi belum melebihi setengah dentin.
o Karies propunda yaitu dimana karies sudah mengenai lebih
dari setengah dentin dan kadang-kadang. (Machfoedz, 2008).

Mulut adalah salah satu organ terpenting pada tubuh


manusia,dimana mulut mempunyai peran sebagai pintu masuknya berbagai
jenis makanan, minuman serta berbagai jenis kuman, bakteri dan virus.Di
dalam mulut terdapat juga organ organ lain, salah satunya yaitu gigi, yang
berfungsi sebagai penghancur atau pengunyah/pelumat makanan Gigi juga
berfungsi sebagai hiasan yang mencerminkan citra diri seseorang
(Boedihardjo,2015). Kesehatan mulut merupakan bagian fundamental dari
kesehatan secara menyeluruh. Kesehatan mulut yang dimaksud saat ini
adalah kesejahteraan rongga mulut, termasuk gigi dan struktur serta
jaringan-jaringan pendukungnya yang terbebas dari rasa sakit, serta
berfungsi secara optimal. Penyakit gigi dan mulut dapat menjadi risiko pada
22

penyakit lain, seperti fokal infeksi dari penyakit tonsillitis, faringitis dan
lain-lain. Tindakan pencegahan terhadap penyakit gigi dan mulut perlu
dilakukan agar tidak terjadi gangguan fungsi, aktivitas serta penurunan
produktivitas kerja yang tentunya akan mempengaruhi kualitas hidup
(Sriyono, 2016).

Kesehatan mulut penting bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh


secara umum dan sangat memengaruhi kualitas kehidupan termasuk fungsi
bicara, pengunyahan dan rasa percaya diri. Gangguan kesehatan mulut akan
berdampak pada kinerja seseorang. Masalah tingginya angka penyakit gigi
dan mulut saat ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
faktor perilaku masyarakat yang dijadikan suatu budaya atau kebiasaan
salah satunya adalah kebiasaan mengunyah sirih atau pinang (Nurjannah
dkk, 2014).

Penyebab terjadinya gangguan gigi dan mulut pada prinsipnya sama


dengan penyebab terjadinya jenis penyakit lainnya baik penyebab langsung
seperti bakteri, maupun penyebab tidak langsung seperti karakteristik
penderita, kebiasaan, perilaku dan faktor budaya. Penyakit gigi dan mulut
yang terbanyak di derita masyarakat adalah penyakit karies gigi kemudian
di ikuti dengan penyakit periodontal di urutan ke dua (Depkes RI,2011).

Ditinjau dari sisi kedokteran gigi, kebiasaan mengunyah pinang dapat


mengakibatkan penyakit periodontal. Penyebab terbentuknya penyakit
periodontal adalah kalkulus atau karang gigi akibat stagnasi saliva
pengunyah pinang karena adanya kapur Ca(OH)2. Gabungan kapur dengan
pinang mengakibatkan timbulnya respon primer terhadap pembentukan
senyawa oksigen reaktif dan mungkin mengakibatkan kerusakan oksidatif
pada DNA di aspek bukal mukosa penyirih. Efek negatif adalah menyirih
dapat mengakibatkan penyakit periodontal dengan adanya lesi-lesipada
mukosa mulut seperti submucous fibrosis,oral premalignant lesion dan
bahkan dapat mengakibatkan kanker mulut. Makan sirih merupakan
kebiasaan yang dilakukan oleh berbagai suku di Indonesia, kebiasaan
makan sirih ini merupakan tradisi yang di dilakukan turun menurun pada
sebahagian besar penduduk pedesaan yang pada mulanya berkaitan erat
23

dengan adat kebiasaan masyarakat setempat. Adat kebiasaan ini biasanya di


lakukan pada saat acara yang sifatnya ritual. Begitu pula dengan suku Karo
yang memiliki adat kebiasaan tersebut pada tradisi mereka. Kebiasaan ini
di jumpai tersebar luas di kalangan penduduk wanita suku Karo.

Pada mulanya menyirih digunakan sebagian suguhan kehormatan


untuk orang orang/tamu-tamu yang di hormati pada upacara pertemuan atau
pesta perkawinan. Dalam perkembangannya budaya menyirih menjadi
kebiasaan memamah selingan di saat saat santai. Secara umum di lihat dari
tinjauan geografis, budaya, dan rumpun bangsa, suku Karo adalah salah
satu etnis suku suku bangsa Indonesia yaitu rumpun Batak yang berdiam
disebagian besar daratan tinggi Karo serta menganut system kekerabatan yang
di sebut dengan “Merga” karena kedekatan pengaruh kekerabatan itu,
rumpun etnis Batak ini ada yang memiliki kesamaan kebiasaan yang salah
satunya yaitu mengunyah sirih dengan daun sirih, pinang, gambir, dan
kapur sebagai bahan dasar akibat pengaruh makan sirih.

Namun pengaruh budaya makan sirih terhadap status kesehatan


periodontal, Jul Asdara menggambarkan budaya makan sirih pada Suku
Karo dan membuktikan bahwa makan sirih mempengaruhi status
kesehatan periodontal. Dan penelitian Maidilla menjelaskan keberadaan
sirih dalam tarian makan sirih, yang begitu mengikat dalam
pertunjukan tari. Serta Amalisa hanya menjelaskan kebiasaan dan
kepercayaan mengunyah sirih pinang, dan mengatakan kebiasaan dak
kepercayaan masyarakat yang mengatakan menguyah sirih pinang
menguatkan gigi tidak terbukti.
24

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh budaya makan sirih
terhadap status kesehatan periodontal pada masyarakat yang di teliti di suku Karo
di desa Tiga Juhar Kabupaten Deli Serdang, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. ada pengaruh tradisi makan sirih terhadap status kesehatan periodontal
2. ada pengaruh nilai makan sirih terhadap status kesehatan periodontal
3. Ada pengaruh komposisi sirih terhadap status kesehatan periodontal
4. Ada pengaruh frekuensi makan sirih terhadap status kesehatan periodontal
5. Ada pengaruh lama makan sirih terhadap status kesehatan periodontal
6. Variabel yang dominan terhadap status kesehatan periodontal adalah lama
makan sirih (p=0,032;OR=2,9) yang artinya lama makan sirih ≥5 tahun berisiko
2,9 kali lebih besar responden mengalami status kesehatan periodontal dibanding
dengan lama makan sirih <5 tahun.
B. SARAN
25

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan dan pertimbangan


bagi Dinas Kesehatan Tiga Juhar untuk usaha peningkatan derajat kesehatan
gigi dan mulut, dan status kebersihannya pada masyarat khususnya Suku
Karo yang tinggal di Desa Tiga Juhar yang memiliki kebiasaan makan sirih
dengan mengadakan kegiatan program promosi, edukasi dan pengobatan
kesehatan gigi dan mulut berupa penyuluhan, penyebaran leaflet dan poster,
pengobatan gigi yang terjangkau, bahkan gratis baik di puskesmas, kawasan
umum, tempat ibadah maupun lingkungan sekolah.
Diharapkan kepada tokoh masyarakat agar dapat memberikan
sosialisasi kepada masyarakat Tiga Juhar tentang makan sirih supaya
kebiasaan mengunyah sirih tetap bisa dilakukan tanpa mengganggu
kesehatan gigi maka penguyah sirih harus selalu merawat kesehatan gigi
dengan menjaga kebersihannya. Selain itu pada masyarakat juga agar lebih
memperhatikan lamanya makan sirih sehingga tidak terlalu berdampak pada
status kesehatan periodontal jika frekuensi dan lama makan sirih
diperhatikan oleh pemakan sirih.
26

DAFTAR PUSTAKA

Avinaninasia, 2011.Sirih, pinang; Budaya yang mengancam kesehatan?


https://Avinaninasia.Wordpress.com

Donday,2009.Kebiasaan menyirih terhadap jaringan


Periodontal.http:/drgdondy.blogspot.com

Enos, 2013.Pengaruh Tradisi Makan Sirih Terhadap Status Kesehatan


Periodontal. Jurnal Kesehatan

Febriana, N. C. 2015. Pemanfaatan Gambir ( Uncaria gambir Roxb) sebagai


sedian obat kumur sekripsi sarjana. Fakultas teknologi Pertanian.Institut
pertanian Bogor.

Iptika, A., t.t. Keterkaitan kebiasaan mengunyah sirih pinang dengan


kesehatangigi.Departemen FISIP Universitas Airlangga.

J.Dentika 2004, Natamiharja L, Sama R. Kebiasaan Mengunyah Sirih Dan


27

Hubungannya Dengan Indeks Penyakit Periodontal Pada Wanita di


Kecamatan Lau Belang Kabupaten Karo.