Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

TANDA BAHAYA MASSA NIFAS

Disusun Oleh :
Monalisa
2018.A.09.0768

YAYASAN EKAHARAP PALANGKARYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2021
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
TANDA BAHAYA KEHAMILAN TANDA BAHAYA MASSA NIFAS

Pokok bahasan
Sub pokok bahasan : Tanda bahaya massa nifas
Sasaran : Ibu Post Partum dan Keluarga
Hari/ tanggal :
Waktu : 20 menit
Tempat : Jalan Maduhara 1
Penyuluh : monalisa

A. Tujuan Penyuluhan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan mengenai tanda bahaya massa
nifas, di harapkan ibu hamil dapat mengerti mengenai tanda bahaya massa
nifas.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan tentang tanda bahaya massa nifas, di
harapkan ibu mengetahui :
a) Apa yang dimaksud dengan tanda bahaya massa nifas
b) Tanda bahaya massa nifas
B. Materi Penyuluhan
Terlampir
C. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
D. Media
Leaflet
E. Kegiatan Penyuluhan
No Tahap Waktu Kegiatan Kegiatan Audience
Penyaji
Pembukaa 5 Menit 1. Memberi 1. Menjawab salam
n salam dan 2. Mendengarkan dan
memperken memberi respon
alkan diri
2. Menjelask
an tujuan
kontrak
waktu
Pelaksanaa 15 1. Menjelask Mendengar dengan penuh
an
n Menit perhatian
Pengertia
n tanda
bahaya
massa
nifas
2. Menjelask
an tanda
bahaya
massa
nifas
Penutup 10 1. Tanya 1. Menanyaka hal yang
Menit jawab belum jelas
2. Menyimp 2. Aktif besama
ulkan menyimpulkan
hasil 3. Menjawab salam
pendidika
n
kesehatan
3. Memberi
salam
penutup
F. Evaluasi
1. Tanggal :
2. Waktu :
3. Tempat : Jalan Mutiara Cilik Riwut Km 4 no 02 Kios Alfazza
4. Standar Persiapan : Materi tanda bahaya massa nifas
5. Standar Proses :
a) Mengajukan pertanyaan lisan.
1) Tes awal.
Apakah ibu tahu apa saja tanda bahaya massa nifas?
2) Tes akhir
Hal apakah yang harus dilakukan ketika ibu mengalami tanda
bahaya massa nifas
3) Standar Hasil :
a) Ibu merespon dan menjawab pertanyaan dengan benar
b) Ibu antusias ingin mengetahui tanda bahaya massa nifas
c) Ibu mengajukan beberapa pertanyaaan

G. Materi : Terlampir

MATERI PENYULUHAN
TANDA BAHAYA MASSA NIFAS

1. Pengertian Massa nifas dan Tanda Bahaya Massa Nifas


Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta
keluar dan berakhir kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil) yaitu
pemulihan dari perubahan anatomis dan fisiologis yang berlangsung selama
kira-kira 6-12 minggu setelah kelahiran anak (Hutahaean, 2009; Sulistyawati,
2009)
Tanda-tanda bahaya masa nifas adalah suatu tanda yang abnormal yang
mengindikasikan adanya bahaya atau komplikasi yang dapat terjadi selama
masa nifas, apabila tidak dilaporkan atau tidak terdeteksi bisa menyebabkan
kematian ibu (Pusdiknakes, 2003).

2. Tanda dan bahaya massa nifas


a. Perdarahan pasca persalinan (post partum)
Perdarahan pasca persalinan (post partum) adalah perdarahan yang
melebihi 500 – 600 ml setelah bayi lahir (Eny, 2009). Menurut waktu
terjadinya dibagi atas dua bagian yaitu :
1) Perdarahan post partum primer (Early post partum
hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir. Penyebab
utama adalah atonia uteri, retensio placenta, sisa plasenta dan robekan
jalan lahir.
2) Perdarahan post partum sekunder (Late post partum
hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam. Penyebab utamanya adalah
sub involusi, infeksi nifas dan sisa plasenta. Menurut Manuaba (2005),
perdarahan post partum merupakan penyebab penting kematian
maternal.
Faktor-faktor penyebab perdarahan post partum adalah:
a) Paritas lebih dari 5
b) Jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun
c) Persalinan yang dilakukan dengan tindakan yaitu pertolongan kala
uri sebelum waktunya, pertolongan persalinan oleh dukun,
persalinan dengan tindakan paksa (Notoatmodjo, 2008).
Penanganan :
Untuk mengatasi kondisi ini dilakukan penanganan umum dengan
perbaikan keadaan umum dengan pemasangan infuse, transfuse darah,
pemberian antibiotic, dan pemberian uterotonika. Pada kegawatdaruratan
dilakukan rujukan ke rumah sakit (Manuaba, 2008).
b. Lochea yang berbau busuk
Lochea adalah sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina
dalam masa nifas. Sedangkan lochea yang berbau busuk adalah sekret
yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas yang berupa
cairan seperti nanah yang berbau busuk (Prawirohardjo, 2007).
Faktor penyebab:
Ini terjadi karena infeksi dan komplikasi plasenta rest. Plasenta rest
merupakan bentuk perdarahan pasca partus berkepanjangan sehingga
pengeluaran lochea disertai darah lebih dari 7 – 10 hari. Dapat terjadi
perdarahan baru setelah pengeluaran lochea normal, dan dapat berbau
akibat infeksi plasenta rest. Pada evaluasi pemeriksaan dalam terdapat
pembukaan dan masih dapat diraba sisa plasenta atau membrannya.
Subinvolusi uteri karena infeksi dan menimbulkan perdarahan terlambat
(Manuaba, 2008).
Penanganan :
Tindakan penanganan meliputi pemasangan infus profilaksis,
pemberian antibiotik adekuat, pemberian uterotonika (oksitosin atau
metergin), dan tindakan definitif dengan kuretase dan dilakukan
pemeriksaan patologi-anatomik (Notoatmodjo, 2008).

c. Pengecilan rahim terganggu (Sub involusi uterus)


Involusi adalah keadaan uterus mengecil oleh kontraksi rahim
dimana berat rahim dari 1000 gram saat setelah bersalin menjadi 40-60
gram 6 minggu kemudian. Bila pengecilan ini kurang baik atau terganggu
disebut sub involusi (Eny, 2009).
Faktor penyebab:
Ini terjadi karena infeksi dan komplikasi plasenta rest. Plasenta rest
merupakan bentuk perdarahan pasca partus berkepanjangan sehingga
pengeluaran lochea disertai darah lebih dari 7 – 10 hari. Dapat terjadi
perdarahan baru setelah pengeluaran lochea normal, dan dapat berbau
akibat infeksi plasenta rest. Pada evaluasi pemeriksaan dalam terdapat
pembukaan dan masih dapat diraba sisa plasenta atau membrannya.
Subinvolusi uteri karena infeksi dan menimbulkan perdarahan terlambat
(Manuaba, 2008).
Penanganan :
Pengobatan dilakukan dengan memberikan injeksi methergin setiap
hari ditambah ergometrin per oral. Bila ada sisa plasenta lakukan
kuretase. Berikan antibiotika sebagai pelindung infeksi (Prawirohardjo,
2005).

d. Nyeri pada perut dan pelvis


Tanda-tanda nyeri perut dan pelvis dapat menyebabkan
komplikasi nifas seperti peritonitis. Peritonitis adalah peradangan pada
peritonium.
Faktor penyebab:
Peritonitis nifas bias terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi
dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan
sellulitis pelvika. Selanjutnya pada kemungkinan bahwa abses pada
sellulitis mengeluarkan nanahnya ke rongga paritonium dan
menyebabkan peritonitis (Prawirihardjo, 2007). Gejala klinik peritonoitis
dibagi 2 yaitu :
1) Peritonitis terbatas pada daerah pelvis
Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum.
Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap
baik. Pada pelvio peritonitis bisa terdapat pertumbuhan abses
(Prawirohardjo, 2007).
2) Peritonitis umum
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat pathogen dan
merupakan penyakit berat.Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi
cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire.
Muka penderita yang mula-mula kemerahan menjadi pucat, mata
cekung, kulit muka dingin, terdapat apa yang dinamakan facies
hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi (Prawirohardjo,
2007).
Penanganan :
Pengobatan dilakukan dengan pengisapan nasogastrik, pasang infuse
intravena, berikan kombinasi antibiotic sampai ibu tidak demam
selama 48 jam ( ampisilin 2 g melalui intravena setiap 6 jam,
ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan melalui intravena setiap
24 jam, ditambah metronidazol 500 mg melalui intravena setiap 8
jam) (Pamilih, 2006).

e. Pusing dan lemas yang berlebihan


Menurut Manuba (2005), pusing merupakan tanda-tanda bahaya
pada masa nifas, pusing bisa disebabkan oleh karena darah tinggi (sistol
>140 mmHg dan diastole >110 mmHg).
Lemas yang berlebihan juga merupakan tanda-tanda bahaya,
dimana keadaan lemas disebabkan oleh kurangnya istirahat dan
kurangnya asupan kalori sehingga ibu kelihatan pucat, tekanan darah
rendah (sistol <100 mmHg diastole <60 mmHg). Penanganan gejala
tersebut adalah :
1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari.
2) Makan dengan diit berimbang untuk mandapatkan protein, mineral
dan vitamin yang cukup.
3) Minum sedikitnya 3 liter setiap hari.
4) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat setidaknya
selama 40 hari pasca bersalin.
5) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan
kadar vitaminnya pada bayinya.
6) Istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
f. Suhu tubuh ibu > 380C
Dalam beberapa hari setelah melahirkan suhu badan ibu sedikit
baik antara 37,20C-37,80C oleh karena reabsorbsi benda-benda dalam
rahim dan mulainya laktasi, dalam hal ini disebut demam reabsorbsi.
Hal itu adalah normal.
Namun apabila terjadi peningkatan melebihi 380C beturut-turut
selama 2 hari kemungkinan terjadi infeksi. Infeksi nifas adalah keadaan
yang mencakup semua peradangan alat-alat genetalia dalam masa nifas
(Mochtar, 2002). Penanganan umum bila terjadi demam
g. Payudara berubah menjadi merah, panas, dan terasa sakit
Pada masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan parenkim
kelenjar payudara (mastitis). Mastitis bernanah dapat terjadi setelah
minggu pertama pascasalin, tetapi biasanya tidak sampai melewati
minggu ke 3 atau ke 4 (Prawirohardjo, 2008).
Gejala awal mastitis adalah demam yang disertai menggigil, nyeri
dan takikardia. Pada pemeriksaan payudara membengkak, mengeras,
lebih hangat, kemerahan dengan batas tegas, dan disertai rasa nyeri
(Prawirohardjo, 2008). Penanganan utama mastitis adalah :
1) Memulihkan keadaan dan mencegah terjadinya komplikasi yaitu
bernanah (abses) dan sepsis yang dapat terjadi bila penanganan
terlambat, tidak cepat, atau kurang efektif.
2) Susukan bayi sesering mungkin.
3) Pemberian cairan yang cukup, anti nyeri dan anti inflamasi.
4) Pemberian antibiotic 500 mg/6 jam selama 10 hari.
5) Bila terjadi abses payudara dapat dilakukan sayatan (insisi) untuk
mengeluarkan nanah dan dilanjutkan dengan drainase dengan pipa
agar nanah dapat keluar terus.

h. Perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya (baby blues)


Ada kalanya ibu mengalami parasaan sedih yang berkaitan
dengan bayinya. Keadaan ini disebut baby blues, yang disebabkan
oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit
menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan
respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan, selain itu juga karena
perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan
(Eny, 2009). Gejala-gejala baby blues antara lain :
1) Menangis.
2) Mengalami perubahan perasaan.
3) Cemas.
4) Kesepian.
5) Khawatir mengenai sang bayi.
6) Penurunan gairah sex, dan kurang percaya diri terhadap
kemampuan menjadi seorang ibu.
Penanganan bila terjadi baby blues yaitu hilang tanpa pengobatan,
pengobatan psikologis dan antidepresan, konsultasi psikiatrik untuk
pengobatan lebih lanjut (tiga bulan) (Manuaba, 2008).

i. Depresi masa nifas (depresi postpartum)


Depresi masa nifas adalah keadaan yang amat serius. Hal ini
disebabkan oleh kesibukannya yang mengurusi anak-anak sebelum
kelahiran anaknya ini. Ibu yang tidak mengurus dirinya sendiri,
seorang ibu cepat murung, mudah marah-marah (Eny, 2009). Gejala-
gejala depresi masa nifas adalah :
1) Sulit tidur bahkan ketika bayi sudah tidur.
2) Nafsu makan hilang.
3) Perasaan tidak berdaya atau kehilangan kontrol.
4) Terlalu cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi.
5) Tidak menyukai atau takut menyentuh bayi.
6) Pikiran yang menakutkan mengenai bayi
7) Sedikit atau tidak ada perhatian terhadap penampilan pribadi.
8) Gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernafas atau perasaan
berdebar-debar.
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, E.R. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Jogjakarta : Mitra Cendikia


Press.

Depkes. 2009. Menkes Buka Rakernas : Kebersamaan Pusat dan Daerah dalam
Kemandirian Pembangunan Kesehatan Menuju Rakyat Sehat dan
Negara Kuat. Available from : http : // www.google.co.id.
Eny. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Jogjakarta : Mitra Cendikia Press.
Manuaba, I.B.G. 2005. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

_____________. 2008. Gawat-Darurat Obstetri-Ginekologi dan Obstetri-


Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta : EGC.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Pamilih, Ns. 2006. Manajemen Komplikasi Kehamilan dan Persalinan. Jakarta


:EGC.

Prawirohardjo, S. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal


dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawir