Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PENENTUAN ARAH KIBLAT DI DESA TANGSIR LAMA

Dosen Pengampu : M. Anzaikhan, S. Fil. L., M.Ag

DI SUSUN OLEH :

NAMA ANGGOTA : MUAMMAR ZAMZAMY (2012020016)

SEMESTER : III (TIGA)

UNIT : 02

MATA KULIAH : ILMU FALAK

PROGRAM STUDI : HUKUM EKONOMI SYARIAH

IAIN LANGSA

TAHUN AKADEMIK 2021/2022


KATA PENGANTAR

Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya

sehingga makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami

mengucapkan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi

dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya.

Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah

pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh

lagi agar makalah ini bisa pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan

dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman

Kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun

dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Langsa, 27 Oktober 2021

Penulis

2
                                                        DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................2

DAFTAR ISI............................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................4

A. Latar belakang..............................................................................................4

B. Rumusan Masalah........................................................................................4

C. Tujuan..........................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................6

A. Penentuan Arah Kiblat.................................................................................6

B. Penentuan Arah Kiblat Di Desa Tangsir Lama............................................9

C. Tujuan Fiqh Bi’ah......................................................................................11

BAB III PENUTUP...............................................................................................14

KESIMPULAN.........................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA................................................................................15

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Arah kiblat merupakan arah yang dituju oleh umat Islam ketika

melaksanakan ibadah shalat, yaitu mengahadap ke arah ka’bah di Masjidil Haram.

Para ulama sepakat menghadap ke arah kiblat adalah suatu syarat sahnya ibadah

shalat yang wajib dituju oleh umat Islam. Pada hakikatnya kiblat, merupakan

suatu arah yang menyatukan segenap umat Islam dalam melaksanakan shalat,

tetapi titik arah itu sendiri bukanlah objek yang disembah oleh umat Islam dalam

melaksanakan shalat.

Di dalam penentuan arah kiblat, pada masa awal Islam dinyatakan zaman

Nabi dan para sahabat dikembangkan teori penentuan arah kiblat menggunakan

benda langit sebagai pedoman. Ketika Nabi berada di Madinah, beliau berijtihad

salat menghadap ke selatan. Posisi Madinah yang berada di utara Mekah

menjadikan posisi arah Ka’bah menghadap ke selatan. Nabi menyatakan bahwa

antara timur dan barat adalah kiblat. Dalam perkembangannya, pada abad

pertengahan penentuan arah kiblat menggunakan bintang Conopus (Najm Suhail)

yang kebanyakan terbit di bagian belahan bumi selatan, sedang di tempat lain

menggunakan arah terbit matahari pada solstice musim panas (Inqilab asy-Syaity).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Penentuan Arah Kiblat?

2. Bagaimana Penentuan Arah Kiblat Di Desa Tangsir Lama?

4
C. Tujuan Penulisan

1. Untuk Mengetahui Bagaimana Perkembangan Penentuan Arah Kiblat

2. Untuk Mengetahui Bagaimana Penentuan Arah Kiblat Di Desa Tangsir

Lama

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkembangan Penentuan Arah Kiblat

Arah kiblat terdiri dari dua kata yaitu, kata arah berarti jurusan, tujuan

dan maksud arah juga memberi arti jarak terdekat yang diukur melalui lingkaran

besar permukaan buni dan istilah yang lain artinya jihah, syathrah dan azimuth,

sedangkan kata kiblat berarti Ka’bah yang terletak di dalam Masjidil Haram kota

Mekkah. Letak Ka’bah sendiri secara lebh detail yaiti 21 0 25’ 21,17” LU dan 390

49’ 34,56”, juga dalam aplikasi Global Positioning System (GPS) Test berbasis

smartphone tepat terlihat pada tengah-tengah Ka’bah yaitu pada koordinat 210

25’21” LU dan 390 49’34.34” BB.1

Secara historis ijtihad penetuan arah kiblat sudah lama dilakukan oleh

umat Islam baik dengan astronomi modern klasik maupun dengan astronomi

modern mengikuti perkembangan sesuai dengan kualitas dan kapasitas intelektual

di kalangan kaum mislimin di Indonesia. Perkembangan metode dan cara

menentukan arah kiblat dapat dilihat pada perubahan besar di masa KH. Ahmad

Dahlan, beliau mempelopori perubahan arah kiblat di Yogyakarta sehingga

timbullah reaksi keras yang mengkibatkan pendapatnya tak diterima oleh

masyarakat.

Problematika umat mengenai kiblat masih mengakar di masyarakat. Hal

ini terbukti dengan banyak ditemukan masjid-masjid yang kiblatnya berbeda.

1
Ahmad Izzudin, Akyrasi Metode-metode Penetuan Arah Kiblat, (Jakarta : Kemenag RI,
2012), hal 3

6
Sebagai akibat perbedaan tersebut sering terjadi perselisihan atau sengketa antar

kelompok. Pada awal perkembangan Islam, penentuan arah kiblat tidak banyak

menimbulkan masalah karena Rasulullah SAW ada bersama para sahabat dan

beliau sendiri yang menunjukkan arah kiblat apabila berada di luar kota Mekkah.

Sehingga jika para sahabat mulai mengembara untuk mengembangkan Islam,

metode dalam penentuan arah kiblat ini semakin rumit.

Metode penentuan arah kiblat pada periode awal adalah menggunakan

miqyas atau tongkat Istiwa. Penentuan arah kiblat menggunakan metode ini

memanfaatkan bayangan matahari sebelum dan setelah zawal atas tongkat Istiwa

untuk menentukan arah barat dan timur sejati; dengan berpedoman pada bayangan

dari ujung tongkat yang jatuh pada lingkaran yang titik pusatnya adalah tongkat

Istiwa tadi. Setelah ditentukan arah barat dan timur sejati untuk menentukan arah

kiblat digunakanlah Rubu’ Mujayyab sebagai alat bantu untuk mengukur

koordinat arah kiblat.

B. Penentuan Arah Kiblat Di Desa Tangsir Lama

Pada zaman dahulu masyarakat Indonesia menandai arah kiblat hanya

dengan arah mata angin yaitu menggunakan penentuam kira-kira. Suatu kenyataan

yang tidak dapat di pungkiri lagi bahwa adanya arah kiblat yang berbeda-beda

tersebut disebabkan karena anggapan remeh dan sikap acuh masyarakat. Apalagi

saat pembangunan masjid ataupun mushala, mereka tidak meminta bantuan

kepada pakar atau ahli yang mampu untuk menentukan arah kiblat secara akurat.

Mereka cenderung lebih percaya pada tokoh-tokoh dari kalangan mereka sendiri

7
dan menyerahkan segala persoalan ini kepada para tokoh tersebut. Seperti realitas

yang banyak terjadi di masyarakat yaitu dengan banyak ditemukannya arah kiblat

sejumlah masjid, terutama yang telah berusia tua, yang diperkirakan mengalami

kekurangtepatan arah kiblat. Seperti yang terjadi pada salah satu masjid di

Kelurahan Ingin Jaya Aceh Tamiang. Masyarakat melakukan musyawarah

kembali untuk menentukan arah kiblat yang dapat meyakinkan masyarakat,

karena arah kiblat tersebut hukumnya zhanni. Musyawarah dilakukan dengan

mengundang ulama dayah yang dianggap punya keahlian di bidang ilmu falak.

Dalam menentukan dan memperbaiki arah kiblat ke posisi yang lebih tepat, maka

sebagian warga memanggil pihak yang berwenang, tanpa adanya musyawarah

warga gampong. Setelah dilakukan pengecekan maka dilakukan beberapa metode

awal dalam pengukuran arah kiblat yaitu dengan cara :

1. Memanfaatkan bayang-bayang matahari dengan cara mengikat

benang dengan menggunakan batu timbang agar menjadi bandulan

dan letakkan bandukan tersebut ke tempat yang terkena cahaya

matahari.

2. Menghitung azimuth kiblat dan azimuth matahari, azimuth kiblat

adalah jarak sudut yang dihitung dari titik utara ke arah timur (searah

perputaran jarum jam) sampai dengan titik kiblat (Ka’bah). Titik

utara azimuthnya 00, titik timur azimuthnya 900, titik selatan

azimuthnya 1800 dan titik barat azimuthnya 2700.2 Untuk menentukan

azimuth kiblat diperlukan Lintang tempat atau Ardl al-balad. Bujur

2
Ahmad Izzudin, Akurasi Metode-metode Penentuan Arah Kiblat, (Jakarta : Kemenag RI,
2012) hal 3

8
tempat atau thul al-balad, lintang dan bujur kita Mekkah atau Ka’bah.

Setelah diketahui azimuth kibatnya, langkah selanjutnya adalah

mengetahui azimuth matahari dengan cara melihatnya di aplikasi

yang dapat diunduh di android.

3. Menggaris bayangan tali yang terlihat pada lantai, yang perlu

diketahui adalah saat menggaris pastikan centang biru yang ada pada

aplikasi SunCalc.org dimatikan sesaat setelah dilakukannya

penggarisan bayangan tali karena sesaat setelah dilakukannya

penggarisan bayangan tali karena kalau terlambat cukup lama akan

berdampak fatal. Sebab secara matematis kesalahan sebesar 0.10 saja

dari arah yang sebenarnya untuk suatu tepat yang jaraknya 1000

kilometer dari arah yang sebenarnya sehingga diperlukan ketelitian

yang sangat tinggi. Untuk menghitung jarak simpang dari titik

Ka’bah yang diakibatkan deviasi sudut sebesar (Ϫd) dari titik Ka‟bah

yang diakibatkan deviasi sudut sebesar θ° dapat dihitung dengan

persamaan sebagai berikut : Ϫd = r. θ°. π/180, dengan Ϫd = jarak

simpang dari titik kabar, r = jarak antara tempat dan Ka‟bah, θ° =

besar sudut simpang dari suatu tempat yang dicari arah kiblatnya dan

π = 3,14.3

Beberapa faktor yang diduga kuat menjadi penyebab kesalahan dalam

penentuan arah kiblat masjid di masyarakat antara lain :

 Arah kiblat masjid ditentukan sekedar perkiraan dengan mengacu

secara kasar pada arah kiblat masjid yang sudah ada. Padahal
3

9
masjid yang dijadikan acuan belum tentu presisi arah kiblatnya.

Apabila membangun sebuah masjid baru, arah kiblatnya hanya

mengikuti masjid yang berdekatan yang telah lebih dahulu

dibangun. Ketika masjid yang dijadikan acuan itu arah kiblatnya

tidak presisi, maka akan kelirulah arah kiblat masjid-masjid yang

dibangun mengacu kepadanya.

 Sebagian masjid arah kiblatnya ditentukan menggunakan alat

yang kurang atau tidak akurat seperti menggunakan silet/jarum

jahir, menggunakan kompas yang tingkat akurasinya rendah,

menggunakan kompas tanpa melakukan pengecekan atau

mengoreksi deklinasi magnetiknya.

 Terkadang dalam penentuan arah kiblat masjid atau mushala

ditentukan oleh seseorang yang ditokohkan dalam masyarakat

tersebut.

 Sebelum membangun arah kiblat masjid telah diukur secara benar

oleh ahlinya, tetapi dalam tahap pembangunannya terjadi

pergeseran oleh tukarng yang mengerjakannya tanpa dilakukan

pemantauan arah kiblat secara benar dan akurat.

 Banyak masjid yang dibangun lebih memperyimbangkan artistik

dan keindahan alih-alih perhitungan dan pengukuran arah

kiblatnya yang presisi.4

4
Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari jus I, (Beirut : Dar al-
Kutub al-‘Ilmiyah), hal 30

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

11
12