Anda di halaman 1dari 8

UJIAN MID SEMESTER V

PROGRAM STUDI MANAJEMEN RUMAH SAKIT


AKADEMI MANAJEMEN YOGYAKARTA

Mata kuliah : Epidemiologi Manajerial


Dosen : Ubaidillah S.Si.,M.Kes,Epid
Tanggal : 28 Oktober 2021
Tipe Soal : Take Home Exam
Petunjuk Mengerjakan Soal :
a. Kerjakan soal dengan baik, boleh ditulis tangan atau diketik
b. Dilarang asal copypaste dari internet, bila ketahuan akan mendapat pengurangan nilai
c. Dilarang menyontek dari hasil pekerjaan orang lain
d. Maksimal dikumpulkan satu minggu ( tgl 5 Nopember 2021) Pukul 23.59 WIB
e. Selamat mengerjakan semoga sukses

LAPORAN :

Filariasis merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia.
Pada tahun 2000, lebih dari 120 juta orang terinfeksi, dengan sekitar 40 juta cacat dan lumpuh
oleh penyakit ini (www.who.int). Data WHO menunjukkan bahwa filariasis telah menginfeksi
120 juta penduduk di 83 negara di seluruh dunia, terutama negara-negara di daerah tropis dan
beberapa daerah subtropis. Di Regional South-East Asia (SEAR) terdapat 3 jenis parasit
filariasis, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori yang terdapat di 9 negara,
yaitu Bangladesh, India, Indonesia, Maldive, Myanmar, Nepal, Sri Langka, Thailand, dan Timor
Leste (Kementerian Kesehatan Rl, 2014).

Filariasis merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
di Indonesia karena masih berjangkit di sebagian besar wilayah Indonesia dan dapat
menyebabkan kecacatan seumur hidup. Indonesia telah sepakat untuk melaksanakan eliminasi
flariasis tahun 2020 sesuai ketetapan World Health Organization (WHO) tentang Kesepakatan
Global Eliminasi Filariasis tahun 2020 (The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis
as a Public Health Problem by the Year 2020) (Kementerian Kesehatan RI, 2014).

Di Indonesia, sampai dengan tahun 2014 terdapat lebih dari 14 ribu orang menderita klinis
kronis filariasis (elephantiasis) yang tersebar di semua provinsi. Secara epidemiologi, lebih dari
120 juta penduduk Indonesia berada di daerah yang berisiko tinggi tertular filariasis. Sampai
akhir tahun tahun 2014, terdapat 235 kabupaten/kota endemis filariasis, dari 511 kabupaten/kota
di seluruh Indonesia. Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis ini dapat bertambah karena masih
ada beberapa kabupaten/kota yang belum terpetakan (Kementerian Kesehatan RI, 2014).

Kasus filariasis terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun terhitung sejak tahun
2000 berjumlah 6.223 kasus hingga tahun 2006 mengalami peningkatan kasus yang cukup tinggi
sebesar 10.427 sampai dengan tahun 2009 sebesar 11.914 kasus.
Berdasarkan Permenkes Nomor 94 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Filariasis,
Penyakit Kaki Gajah (Lymphatic Filariasis) yang selanjutnya disebut filariasis adalah penyakit
menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelenjar
getah bening. Penyakit ini dapat merusak sistem limfe, menimbulkan pembengkakan pada
tangan, kaki, glandula mammae, dan scrotum, menimbulkan cacat seumur hidup serta stigma
sosial bagi penderita dan keluarganya. Secara tidak langsung, penyakit ini berdampak pada
penurunan produktivitas kerja penderita, beban keluarga, dan menimbulkan kerugian ekonomi
bagi negara yang tidak sedikit (Kementerian Kesehatan Rl, 2014).

(Sumber/Klik : https://pusdatin.kemkes.go.id/article/view/20010200001/infodatin-situasi-
filariasis-di-indonesia.html Kunjungi juga di : https://www.halodoc.com/artikel/kenali-cara-
penyebaran-filariasis )

Tugas :

1. Pahami informasi tersebut, Baik mengenai kasus, agent penyebab, vektor, Reservoir,
peran lingkungan dan Transmisi penularannya dan terangkan masing-masing.
(Download Infodatin filariasis 2019)
Jawabann: Pada pemeriksaan parasitologis nyamuk menunjukkan hasil negatif terhadap W.
bancrofti.  Sejumlah 945 karakter genetik telah teridentifikasi dari ke 4 lokasi koleksi, namun
dengan similaritas yang rendah (

Sementara dari tempat perindukan nyamuk Cx. quinquefasciatus di keempat lokasi kajian
secara ekologis menunjukkan persamaan dan nyamuk menunjukkan variasi genetik yang
tinggi dengan polimorfisme mencapai 100 persen. Keberadaan molekul protein cecropin,
defensin dan transferin mengindikasikan adanya respon biologis nyamuk terhadap infeksi
cacing W. bancrofti. Penyakit Kaki Gajah disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu
Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Semua spesies tersebut terdapat di
Indonesia, namun lebih dari 70% kasus filariasis di Indonesia disebabkan oleh Brugia malayi.
Saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, dan
Armigeres yang dapat berperan sebagai vektor filariasis. Tetapi vektor utamanya adalah
Anopheles farauti dan Anopheles punctulatus. Hasil penelitian menyebutkan bahwa beberapa
spesies dari genus Anopheles disamping berperan sebagai vektor malaria juga dapat berperan
sebagai vektor filariasis.

Larva infektif yang disebut mikrofilaria memiliki panjang sekitar 200-250 um serta lebar 5-7
um yang bersarung. Bedanya diantara Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori,
hanya Brugia timori yang sarungnya tidak menyerap pewarna sehingga tidak kelihatan
bersarung di mikroskop. Juga yang membedakan ketiga spesies ini, pada spesies Brugia,
terdapat inti tambahan terutama di ujung ekor serta karakteristik lain seperti jarak mulut,
panjang tubuh. Perkembangan dari larva muda hingga menjadi larva infektif di dalam tubuh
nyamuk berlangsung selama 1-2 pekan sedangkan dari mulai masuknya larva dari nyamuk ke
tubuh manusia hingga menjadi cacing dewasa berlangsung selama 3-36 bulan. Meski
terkesan gampang sekali tertular oleh nyamuk, namun pada kenyataannya diperlukan ratusan
hingga ribuan gigitan nyamuk hingga bisa menyebabkan penyakit filarial.

Cacing jantan dan betina hidup di saluran dan kelenjar limfe, bentuknya halus seperti benang
dan berwarna putih susu. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung.
Mikrofilaria ini hidup di dalam darah dan terdapat di aliran darah tepi pada waktu tertentu
saja yang mempunyai periodisitas. Pada umumnya, Microfilaria Wucheria bancrofti bersifat
periodisitas nokturna, artinya mikrofilaria hanya terdapat di dalam darah tepi pada waktu
malam. Pada siang hari, mikrofilaria terdapat di kapiler dalam paru, jantung, ginjal dan
sebagainya.

2. Bagaimana cara mendiagnosa dan penegakan kasus Filariasis memastikan bahwa itu
positif filariasi, dan memastikan pula investigasi epidemiologinya.

Jawaban: Diagnosis filariasis ditegakkan dengan menggabungkan anamnesis dan


pemeriksaan fisik dan ditunjang dengan temuan mikrofilaria, baik pada pemeriksaan di
darah maupun biopsi kulit. Diagnosis filaria perlu diprioritaskan pada pasien yang
mengalami gejala dan tinggal di daerah endemis atau ada riwayat bepergian ke daerah
endemis.

3. Sebagai seorang manager bidang epidemiologi, apa yang akan anda lakukan untuk
mendapatkan data-data epidemiologinya seperti progress kasus, jumlah kematian,
penyebaran vektor dan terangkan pula mekanisme surveilans epidemiologinya

Jawaban: Gejala filariasis yang disebabkan oleh onchocerca volvulus adalah kulit gatal


dan ruam yang biasanya terkonsentrasi pada satu ekstremitas. Selain itu, dapat ditemukan
perubahan warna kulit, adanya nodul di bawah kulit, hilangnya elastisitas kulit, gangguan
penglihatan, dan pembengkakan kelanjar getah bening yang tidak nyeri.

Kegiatan surveilans Kesehatan didefinisikan sebagai kegiatan pengamatan yang


sistematis dan terus menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau
masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan
penularan penyakit atau masalah kesehatan untuk memperoleh dan memberikan
informasi guna mengarahkan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien

4. Buatlah Form sebagai alat bantu dalam melakukan surveilans Filariasis

Di bawah

5. Apabila anda seorang pemangku kebijakan, anda dituntut melakukan usaha pencegahan
dan promkes di masyarakat agar penularan bisa diatasi. Terangkan secara jelas usaha-
usaha apa yang akan anda lakukan sebagai seorang epidemiologi Managerial.
(hubungannya dengan Perencanaan, Organisasi, Staffing, Directing, Coordinating,
Budgeting, Evaluating dan monitoringnya) dan uraikan program apa yang bisa anda
terapkan dalam rangka mengurangi morbiditas Filariasis.

Untuk menjalankan program saya ingin membuat Program Indonesia Sehat yang mana
program tersebut dilaksanakan melalui Pendekatan Keluarga dan dilakukannya dari
gerakan masyarakat dan mahasiswa. Pendekatan Keluarga adalah salah satu cara
Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan
akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Program
Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga dilaksanakan oleh Puskesmas dengan
pendekatan siklus kehidupan atau life cycle approach, mengutamakan upaya promotif-
preventif, disertai penguatan upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM).

6. Kerjakan, dikumpulkan satu minggu setelah pemberian tugas.


FORMULIR SURVEILANS INFEKSI RUMAH SAKIT

Ruangan :…………………………………………Tgl masuk/Jam :......../.............


Departemen :………………………………………….Cara dirawat :emergency/ elektif
No.Rekam Medik:………………………………………

Identitas Pasien
1. Nama Pasien :......................................
2. Umur : th/ bln/ hr
3. Jenis Kelamin : L/ P
4. Alamat :

II. DIAGNOSA WAKTU MASUK : ......................................................................

III. Pindah ke Ruangan 1.……………………………………tgl …………


2.........................................................tgl................................

VI. Faktor resiko selama dirawat

No Jenis tindakan / alkes Lokasi Tanggal pemasangan Total Tanggal catatan


Mulai s/d hari infeksi
1 Intra vena kateter
Vena Sentral

Vena Perifer

Arteri

Umbilikal
2 Urine kateter

Suprapubik kateter

3 Ventilasi Mekanik
Tuba endotrakeal

Trakeostomi
4 Lain-lain ..................
Drain

Faktor Penyakit Hasil laboratorium:


 HBS Ag : Positif / Negatif / Tidak diperiksa Leukocyt: ………….
 Anti HCV : Positif / Negatif / Tidak diperiksa
 Anti HIV : Positif / Negatif / Tidak diperiksa LED : …………….

GDS :……………..
 Lain-lain : ......................................................
Hasil radiologi :…………………………………..

V. TINDAKAN / OPERASI ................................................................................................


1.DIAGNOSA ......................................................................................................
.......................................................................................................
2. Tanggal operasi 1:.................................... Lama Operasi..................jam,...............mnt
2:.................................... Lama Operasi..................jam,...............mnt

3 Jenis Operasi : Bersih Bersih tercemar Tercemar Kotor


4. Tindakan Operasi : Cito Elektif
5. ASA`score :1 2 3 4 5

VI. KOMPLIKASI/ INFEKSI NOSOKOMIAL


1. ILO ada / tidak ada hari ke...........................
Hasil kultur : ...........................................................................................................................

2. ISK ada / tidak ada hari ke...........................


Hasil kultur : ...........................................................................................................................

3. Pneumonia ada / tidak ada hari ke...........................


Hasil kultur : ...........................................................................................................................

4. IADP ada / tidak ada hari ke...........................


Hasil kultur : ...........................................................................................................................

5. Lain-lain ( Plebitis/ dikubitus).................. ada / tidak ada hari ke...........................


Hasil kultur : ...........................................................................................................................

VII. Pemakaian Antimikroba Profilaksis / pengobatan


1..................................................dosis ......................mulai tgl....................s/d.....................
2..................................................dosis…………… mulai tgl....................s/d.....................
3..................................................dosis ……………..mulai tgl....................s/d.....................
4..................................................dosis ……………..mulai tgl....................s/d.....................
Waktu pemberian : Preoperasi/ selama / sesudah operasi

VIII. TGL PASIEN KELUAR RS/ PINDAH/ MENINGGAL..................................................


PINDAH KE RS ............................................................
DIAGNOSA AKHIR .......................................................................................................

Perawat penanggung jawab/ pengisi formulir Ka. Ruangan


............................................................ ..............................
Nama jelas Nama jelas
Catatan :

1. Formulir ini berada dalam dokumen medik pasien


2. Diisi oleh perawat yang bertanggung jawab pada pasien tersebut
3. Diperiksa oleh perawat pengendali infeksi setiap hari
4. Setelah pasien pulang formulir dikumpulkan sekretariat PIN RS

Anda mungkin juga menyukai