Anda di halaman 1dari 23

1

PERAN SOSIAL EDUKATIF DAN PROFESI GURU


DAN
SEKOLAH SOSIALISASI ANAK DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen : Siti Saidah, M.Pd

Disusun Oleh

1. Aceng Muhidin : 19122141 6. Nia Nuraeni : 19122224


2. Ai Siti Aminah : 19122154 7. Nisa Yusopa Nur Padilah : 20122343
3. Ahmad Fairuz Abdul Hay : 19122151 8. Ridwan Muhamad Fauzi : 19122233
4. Diana Adhana : 19122174 9. Siti Mutoharoh : 19122250
5. Intan Mubasyirotul’ain : 19122200

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT) AT-TAQWA
CIPARAY-BANDUNG
2021
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat serta salam semoga
senantiasa terlimpah curah kepada Rasulullah SAW. Kami bersyukur kepada
Illahi Rabbi yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sosiologi Pendidikan yang berjudul :
1. Peran sosial edukatif dan profesi guru.
2. Sekolah sosialisasi anak dan pembentukan kepribadian.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu penyusunan makalah ini. Atas dukungan moral dan materil yang
diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka kami mengucapkan banyak
terima kasih kepada Ibu Siti Saidah, M.Pd selaku Dosen Mata Kuliah Sosiologi
Pendidikan..
Kami menyadari sepenuhnya di dalam penulisan makalah ini banyak
terdapat kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran
demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca serta dapat memahami secara mendalam hal-hal yang berkaitan
dengan peran guru dan sekolah.

Bandung, Oktober 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN ...................................................................................................1
A. Latar Belakang .........................................................................................1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................1
BAB II
PEMBAHASAN .....................................................................................................2
A. Peran Sosial Edukatif Dan Profesi Guru .............................................2
1 Pengerian Edukasi Interaktif ..............................................................2
2 Ciri-ciri Interaksi Edukatif .................................................................4
3 Interaksi Edukatif Sebagai Proses Belajar Mengajar .........................5
4 Hubungan Motivasi Dengan Interaksi Edukatif .................................6
5 Peran Guru Dalam Interaksi Edukatif ................................................6
B. Sekolah Sosialisasi Anak Dan Pembentukan Kepribadian ................8
1. Pengertian Sekolah ...............................................................................8
2. Pengertian Sosialisasi Anak ..................................................................9
3. Pembentukan Kepribadian ..................................................................15
BAB III
PENUTUP .............................................................................................................18
A. Simpulan .................................................................................................18
B. Saran .......................................................................................................18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah mahkluk ciptaan allah yang sifatnya sosial. Disebut sosial
karena manusia dalam menjalankan hidup sehari-hari tidak lepas dari
hubungan interaksi yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.
Dalam hubungan sosial ada proses interaksi yang berlansung dalam berbagai
bentuk komunikasi dan situasi, dari berbagai macam situasi tersebut ada situasi
khusus yaitu situasi pembelajaran. interaksi dalam situasi ini bernilai
edukatif karena mempunyai tujuan untuk mendidik dan mengarahkan anak
didik kearah kedewasaannya.
Dalam hal ini yang menjadi pokok adalah maksud dan tujuan dari
berlangsungnya interaksi tersebut, karena kegiatan interaksi itu memang
direncanakan atau disengaja. Kesadaran dan kesenjangan merupakan hal yang
mempengaruhi berbagai interaksi yang muncul dalam proses pembelajaran
pada diri guru dan siswa.
Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan
sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya sehingga interaksi itu merupakan
hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi edukatif harus
berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. karena itu, interaksi edukatif adalah
suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang
berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.
Untuk itu pembahasan dalam makalah ini untuk menjelaskan tentang
interaksi edukatif dan hal-hal yang terkait didalamnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian interaksi edukatif ?
2. Apa ciri-ciri interaksi edukatif ?
3. Bagaimana Interaksi edukatif sebagai proses belajar mengajar ?
4. Bagaiman Hubungan Motivasi Dengan Interaksi Edukatif
5. Apa pengertian dari sekolah ?
6. Apa pengertian dari sosialisasi anak ?
7. Apa pengertian dari pembentukan kepribadian ?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Peran Sosial Edukatif Dan Profesi Guru


1. Pengerian Edukasi Interaktif
Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau
lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.1 Sedangkan
edukatif berasal dari kata bahasa Inggris "to educate" yang artinya
mendidik (kt. kerja) menjadi educative (kt.sifat) atau education (kt.benda).
Sehingga edukatif (educative) bisa diartikan segala sesuatu yang bersifat
mendidik atau berhubungan dengan pendidikan.2 Jadi interaksi edukatif
adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan
pendidikan dan pengajaran. Interaksi edukatif sebenarnya komunikasi
timbal balik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, sudah
mengandung maksud-maksud tertentu yakni untuk mencapai tujuan
(dalam kegiatan belajar berarti untuk mencapai tujuan belajar).3
Interaksi akan selalu berkait dengan istilah komunikasi atau
hubungan. Dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan
dan komunikator. Hubungan antara komunikator dengan komunikan
biasanya karena menginteraksikan sesuatu, yang dikenal dengan istilah
pesan (message). Kemudian untuk menyampaikan atau mengontakkan
pesan itu diperlukan adanya media atau saluran (channel). Dinamika
kehidupan masyarakat akan senantiasa bersumber dari kegiatan
komunikasi dan interaksi dalam hubungannya dengan pihak lain dan
kelompok.
Interaksi yang dikatakan sebagai interaksi edukatif, apabila secara
sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik
kearah kedewasaannya. Jadi dalam hal ini yang penting bukan untuk
interaksinya, tetapi yang pokok adalah maksud dan tujuan berlangsungnya

1
http://id.wikipedia.org/wiki/Interaksi diakses pada 24 mei 2015
2
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20111123060813AA3ghxy diakses pada 24
mei 2015
3
http://perkembanganpesertadidik7.blogspot.com/2014/04/interaksi-edukatif-komponen-
komponennya.html diakses pada 24 mei 2015

2
3

interaksi itu sendiri.4 Karena tujuan menjadi hal yang pokok, kegiatan
interaksi itu memang direncana atau disengaja.
Dari penjelasan diatas kami mengilustrasikan yaitu, misalnya
interaksi yang terjadi dalam kehidupan suatu keluarga. Pada hari minggu
pagi, ayah, ibu beserta anak-anaknya sedang berkumpul santai disebuah
serambi depan. Mereka bersendagurau dengan senang, karena kebetulan
hari libur. Ayahnya bercerita tentang kejadian lucu dikantor, kemudian
ibunya bercerita tentang kejadian dipasar, sedang anak-anaknya bercanda,
ada yang mendengarkan cerita ayah dan ibunya, ada yang berlari-lari
kesana kemari. Suasanapun menjadi gelak tawa yang menyenangkan.
Ditengah-tengah suasana gelak tawa itu kemudian keluarlah pembantu
rumah tangga untuk menyajikan teh dan hidangannya, tetapi secara tiba-
tiba salah seorang diantara anaknya memukul pembantu sehingga air teh
pada gelas yang akan dihidangkan itu tumpah. Karena tingkah salah
seorang anaknya tadi itulah ayah menjadi marah, menegur dan memanggil
anak tersebut untuk dinasehati, dengan suatu harapan atau tujuan dengan
anak tadi tidak mengulangi perbuatannya karena itu tidak baik, tidak
sopan. Peran ayah yang tadinya hanya sekadar partner bersendagurau
tanpa ada maksud tertentu, kemudian berubah menjadi penasihat ,sebagai
pendidik yang ingin mengubah tingkah laku anaknya yang dianggap
melanggar norma-norma kesopanan. Begitu juga si anak, menjadi diam
memerhatikan nasihat-nasihat yang diberikan ayahnya. Anak itu belajar
sesuatu yang baru. Bahwa memukul orang lain itu tidak baik, tidak boleh,
karena ... dan seterusnya. Anak dituntut untuk mengubah sikap dan tingkah
lakunya. Perubahan tingkah laku inilah sebagai pencerminan dari hasil
belajar.
Dengan contoh ilustrasi diatas, jelas dilihat dari kacamata interaksi
edukatif, tidak semua bentuk dan kegiatan interaksi dalam suatu kehidupan
berlangsung dalam suasana interaksi edukatif, yang didesain untuk suatu
tujuan tertentu. Hanya perlu diketahui bahwa tidak semua hasil belajar itu
berlangsung secara sadar dan terarah. Bahkan ada kecenderungan bahwa
perubahan-perubahan yang tidak disadari dan tidak direncana itu lebih
banyak memberi kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada diluar
titik tujuan. Oleh karena itu, kemungkinan-kemungkinan tersebut perlu

4
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ( Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada,1986 ), hal.7
4

diarahkan, didesain. Setidak-tidaknya sebagian dari kehidupan itu perlu


dibimbing secara sistematis. Di siniah saat munculnya gambaran seorang
guru. Guru dibutuhkan untuk membimbing, memberi bekal yang bergna.
Ia sebagai guru harus dapat memberikan sesuatu secara didaktis, dengan
tugasnya menciptakan situasi interaksi edukatif.
2. Ciri-ciri Interaksi Edukatif
Dalam suatu interaksi edukatif, setidaknya mengandung beberapa ciri,
yaitu:
a. Adanya tujuan yang hendak dicapai
Tujuan dalam interaksi edukatif adalah membantu anak didik dalam
suatu perkembangan tertentu. Hal ini bermaksud agar interaksi
edukatif sadar akan tujuan, dengan menempatkan anak didik sebagai
pusat perhatian, sedangkan unsur lainnya sebagai pengantar dan
pendukung. Tujuan juga berfungsi sebagai penentu arah jalanya
edukasi.
b. Ada pesan atau bahan yang menjadi inti interaksi
Dalam proses edukasi hendaknya terdapat suatu materi khusus yang
disusun dan dipersiapkan sedemikian rupa agar interaksi edukasi
dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Dalam hal ini perlu
memperhatikan komponen-komponen pengajaran yang lain.
c. Ada pelajar yang aktif mengalami
Pelajar/anak didik merupakan sentral edukasi. Sehingga setiap
aktifitasnya merupakan syarat mutlak terjadinya proses edukasi.
Aktivitas anak didik dalam hal ini baik secara fisik maupun mental.
d. Ada guru/pendidik yang melaksanakan
Dalam penerapannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha
menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses
interaksi edukatif yang kondusif. Guru harus siap sebagai mediator
dalam segala situasi proses interaksi edukatif, sehingga guru
merupakan tokoh yang akan dilihat dan ditiru tingkah lakunya oleh
anak didik.5
e. Ada metode untuk mencapai tujuan
Metode belajar adalah sistem penggunaan teknik-teknik didalam
interaksi antara guru dan anak didik dalam program belajar mengajar

5
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ...hal.13
5

sebagai proses pendidikan. Metode ini juga mempengaruhi


efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan edukasi. Beberapa teknik
yang dapat digunakan dalam interaksi dan komunikasi itu antara lain
bermain, tanya jawab, ceramah, diskusi, peragaan, eksperimen, kerja
kelompok, sosio drama, karya wisata dan modul.
f. Ada situasi yang memungkinkan proses belajar mengajar
berjalan dengan baik
Termasuk dalam pengertian ini adalah suasana yang berkaitan
dengan peserta didik, keadaan guru, keadaan kelas-kelas pengajaran
yang berdekatan yang mungkin mengganggu atau terganggu karena
penggunaan suatu metode. Terhadap situasi yang dapat
diperhitungkan, kita (guru) dapat menyediakan alternatif metode-
metode mengajar dengan mengingat kemungkina-kemungkinan
perubahan situasi. Situasi pengajaran yang kondusif (mendukung)
sangat menentukan dan bahkan menjadi salah satu indikator
terciptanya interaksi pengajaran, yang edukatif sifatnya.
g. Ada penilaian terhadap hasil interaksi
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan
data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan
keberhasilan guru dalam mengajar. Evaluasi tidak hanya sekedar
menentukan angka keberhasilan belajar tetapi yang lebih penting
adalah sebagai dasar untuk umpan balik (feed back) dari proses
interaksi edukatif yang dilaksanakan.

3. Interaksi Edukatif Sebagai Proses Belajar Mengajar


Pendidikan dapat dirumuskan dari sudut normatif, karena
pendidikan menurut hakikatnya memang sebagai suatu peristiwa yang
memiliki norma. Artinya bahwa dalam suatu peristiwa pendidikan,
pendidik (pengajar/guru) dan anak didik (siswa) berpegang pada ukuran,
norma kehidupan, panadangan terhadap individu dan masyarakat , nilai-
nilai moral, kesusilaan yang semuanya merupakan sumber di dalam
pendidikan.6 Aspek itu sangat dominan dalam merumuskan tujuan secara
umum. Oleh karena itu, persoalan ini merupakan bidang pembahasan teori

6
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ...hal.18
6

danfilsafat ilmu pendidikan. Tetapi di samping perumusan secara normatif,


pendidikan dapat dirumuskan dalam sudut proses teknis, yakni terutama di
liat dari segi peristiwanya. Peristiwa dalam hal ini merupakan
suatu kegiatan praktis yang langsung dalam suatu masa dan terikat dalam
suatu situasi serta terarah pada suatu tujuan. peristiwa tersebut adalah
suatu rangkaian kegiatan komunikasi antar manusia, rangkaian kegiatan
yang pengaruh memengaruhi. Satu rangkaian perubahan dan pertumbuhan
fungsi jasmaniah, pertumbuhan watak, pertumbuhan intelek dan
pertumbuhan sosial. Semua ini tercakup dalm peristiwa pendidikan.
Dengan demikian, pendidikan merupakan himpunan kultural yang sangat
kompleks yang dapat digunakan sebagai perencanaan kehidupan manusia.
4. Hubungan Motivasi Dengan Interaksi Edukatif
Motivasi memiliki akar bahasa Latin Movere, yang berarti gerak
atau dorongan untuk bergerak. Dengan begitu, memberikan motivasi bisa
diartikan dengan memberikan daya dorong sehingga sesuatu yang
dimotivasi tersebut dapat bergerak.7
Motivasi sangat berperan penting dalam interaksi edukatif karena
dengan adanya motivasi yang diberikan oleh seorang pendidik dapat
menjadi daya penggerak siswa yang kemudian menimbulkan kegiatan
belajar. Untuk itu tugas guru dalam interaksi edukatif tidak mendominasi
kegiatan , namun membantu menciptakan kondisi yang kondusif serta
memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan
potensi dan kreativitasnya, melalui kegiatan belajar.
Secara khusus, interaksi edukatif sebagai interaksi belajar mengajar
yang berintikan pada kegiatan motivasi.8

5. Peran Guru Dalam Interaksi Edukatif


Sekolah merupakan media sosialisasi yang lebih luas dari keluarga.
Berbeda dengan sosialisasi dalam keluarga, disekolah anak dituntut untuk
bersikap mandiri dan senantiasa memperoleh perlakuan yang tidak berbeda
dari teman-temannya.9 Kelompok pendidik atau guru disekolah,
diharapkan mampu menciptakan suatu suasana yang sangat mendorong

7
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ...hal.20
8
Ibid...hal.5
9
Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. ( Jakarta : Prenada
Media Grup, 2004 ), hal.94-95
7

motivasi dan keberhasilan anak didiknya.10Dibawah ini kami jabarkan


beberapa peran guru dalam interaksi edukatif yaitu sebagai berikut :
a. Informator
Dalam peran ini, guru sebagai pelaksana cara mengajar informatif,
laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik.
Jadi guru merupakan pemberi informasi bagi para siswanya dimanapun
ia berada. Sebagai pendidik, hendaknya guru terbuka dengan berbagai
informasi yang diketahuinya dan tidak menyembunyikannya dari anak
didiknya.
b. Organisator
Peran guru sebagai organisator yaitu guru mengelola kegiatan
akademik, silabus, jadwal pelajaran, dan semua komponen mengajar
dikelola sedemikian rupa sehingga tercipta pembelajaran yang efektif
dan efisien dan pembelajaranpun bisa terstruktur dan tersusun dengan
baik.
c. Motivator
Peran guru sebagai motivator sangat diperlukan dalam interaksi belajar
mengajar. Untuk menimbulkan semangat belajar siswa dan
memunculkan rasa keingintahuan. Guru harus memberikan rangsang
dan dorongan untuk mendinamiskan potensi siswa, menumbuhkan
kreativitas dan kreatifitas, sehingga potensi siswa dapat berkembang
semaksimal mungkin dan mempermudah siswa dalam mencapai tujuan
hidupnya karena siswa mempunyai semangat tinggi untuk meraih
mimpi-mimpinya.
d. Pengarah / direktor
Dalam peranan ini, jiwa kepemimpinan guru lebih mendominasi. Guru
harus dapat membimbing dan mengarahkan anak didinya terutama
dalam pembelajaran agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Apabila
guru tidak mampu melakukan peran ini, maka siswa akan bertingkah
seenaknya sendiri dan tidak akan mematuhi aturan-aturan yang ada di
sekolah tersebut.
e. Inisiator
Dalam hal ini, guru berperan sebagai pencetus ide-ide kreatif yang
positif yang dapat dicontoh siswanya dan dapat mengembangkan

10
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar. ( Jakarta : Rajawali Pers, 1986 ), hal. 412
8

pembelajaran sehingga kegiatan belajar mengajar tidak akan


membosankan. Dengan demikian, siswa akan memiliki semangat
belajar yang tinggi dan akan mencapai prestasi yang diharapkannya
serta diharapkan orang tua dan orang-orang disekitarnya.
f. Transmitter
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru akan bertindak sebagai penyebar
kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan. Dalam hal ini guru mampu
mengambil keputusan secara bijaksana dan adil terhadap semua peserta
didiknya.11
g. Fasilitator
Guru memberikan fasilitas dan kemudahan dalam proses belajar
mengajar. Misalnya menciptakan suasana yang menyenangkan dan
serasi dengan perkembangan siswa sehingga interaksi belajar mengajar
akan berjalan dengan efektif.
h. Mediator
Mediator dalam hal ini dapat diartikan sebagai “penengah dalam
kegiatan belajar mengajar siswa”.12 Misalnya menengahi atau memberi
jalan keluar masalah yang dihadapi siswa saat diskusi atau tugas-tugas
siswa yang mengalami kemacetan ( tidak selesai ).
i. Evaluator
Guru mempunyai kewajiban untuk menilai prestasi siswa di bidang
akademik maupun non akademik, menilai tingkah laku siswa dan
memberi masukan kepada peserta didiknya sehingga dapat menentukan
peserta didik tersebut berhasil atau tidak dalam pembelajaran, hal ini
tidak hanya dilakukan diakhir semester atau akhir tahun ajaran saja,
tetapi juga dilakukan setelah pembahasan per bab.
B. Sekolah Sosialisasi Anak Dan Pembentukan Kepribadian
1. Pengertian Sekolah
Sekolah adalah usaha sadar, terencana dan diupayakan untuk
memungkinkan peserta didik aktif mengembangkan potensi diri, baik fisik
maupun nonfisik, yakni mengembangkan potensi pikir (mental
intelektual),sosial,emosional,nilai moral, spiritual,ekonomikal (kecakapan
hidup),fisikal,maupun kultural,sehingga ia dapat menjalankan hidup dan
kehidupannya sesuai dengan harapan dirinya,keluarganya, masyarakat,
11
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ... hal.145
12
Ibid ...hal.146
9

bangsa dan negara serta dapat menjawab tantangan peradapan yang


semakin maju.Dapat diartikan system social sebagai suatu keseluruhan
dari unsur-unsur sosial yang berkaitan dan berhubungan satu sama lain,dan
saling pengaruh-mempengaruhi dalam kesatuan.

2. Pengertian Sosialisasi Anak


a. Pengertian sosialisasi
Sosialisasi anak adalah proses membimbing individu ke dalam
dunia social disebut sosialisasi. Sosialisasi dilakukan dengan mendidik
individu tentang kebudayaan yang harus dimiliki dan diikutinya, agar
ia menjadi anggota yang baik dalam masyarakat dan dalam berbagai
kelompok khusus. Sosialisasi dapat dianggap sama dengan
Pendidikan.
Sosialisasi adalah soal belajar. Dalam proses sosialisasi individu
belajar Tingkah laku, kebiasaan serta pola-pola kebudayaan lainnya,
juga keterampilan-keterampilan social seperti berbahasa, bergaul,
berpakaian, cara makan dan sebagainya.
Segala sesuatu yang dipelajari individu harus dipelajari dengan
anggota masyarakat lainnya, secara sadar apa yang diajarkan oleh
orangtua, saudara-saudara, anggota dan di sekolah kebanyakan oleh
gurunya. Dengan tak sadar ia belajar dengan mendapatkan informasi
secara incidental dalam berbagai situasi sambal mengamati kelakuan
orang lain, membaca buku, menonton televisi, mendengar percakapan
orang da sebagainya atau menyerap kebiasaan-kebiasaan dalam
lingkungannya. Seluruh proses sosialisasi berlangsung dalam interaksi
individu dengan lingkungan.13
Berikut ini adalah definisi sosialisasi dari beberapa pakar sosilog
adalah sebagai berikut :
1) Charlotte Buehler, mendefinisikan sosialisasi sebagi proses
yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan
diri, bagaimana cara hidup dan berfikir kelompoknya agar ia
dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.

13
Prof .Dr. S Nasution, MA,2016: 126
10

2) Peter Berger, mendefinisikan sosialisasi sebagai proses dimana


anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi
dalam masyarakat.
3) Bruce J. Cohen, mendefinisikan sosialisasi sebagai proses-
proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam
masyarakat, untuk memperoleh kepribadian dan membangun
kapasitas agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun
sebagai anggota satu kelompok.
4) Karel J. Veeger, mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu
proses belajar mengajar, melalui individu belajar menjadi
anggota masyarakat, dimana prosesnya tidak semata-mata
mengerjakan pola-pola perilaku sosial kepada individu tetapi
juga individu tersebut mengembangkan dirinya atau
melakukan proses pendewasaan dirinya
5) Robert M. Z. Lawang, sosialisasi merupakan proses
mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan
lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang
efektif dalam kehidupan social
6) Soerjono Soekamto, soialisasi merupakan proses dimana
anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan
nilai-nilai masyarakat diman ia menjadi anggota.
7) M. Sitorus, sosialisasi merupakan proses diman seorang
mempelajari pola-pola hidup dalam masyarakat sesuai dengan
nilai-nilai, norma dan kebiasaan yang berlaku untuk
berkembang sebagai anggota masyarakat dan sebagai individu
(pribadi).
Berdasarkan beberapa pengertian para pakar sosiolog di atas, dapat
disimpulkan bahwa sosialisasi itu ditempuh seorang individu melalui
proses belajar untuk memahami, menghayati, menyesuaikan dan
melaksanakan suatu tindakan social yang sesuai dengan pola prilaku
masyarakatnya.
b. Proses Sosialisasi
Sosialisasi terjadi melalui “Conditioning” oleh lingkungan yang
menyebabkan individu mempelajari pola kebudayaan yang
fundamental seperti berbahasa, cara berjalan, duduk, makan, apa yang
11

dimakan, berkelakuan sopan, mengembangkan sikap yang dianut


dalam masyarakat seperti sikap terhadap agama, seks, orang yang
lebih tua, pekerjaan, rekreasi, dan segala Sesutu yang perlu bagi warga
masyarakat yang baik. Belajar-belajar norma kebudayaan pada
mulanya banyak terjadi di rumah dan sekitar, kemudian di sekolah,
bioskop, televisi dan lingkungan lain.
Di samping itu ada lagi bentuk pelajaran sosial yang bersifat
pribadi, misalnya seorang suka atau tak suka akan orang minta-minta,
main kartu dan sebagainya. Pengalaman serupa itu tidak merupakan
bagian dari kebudayaan, akan tetapi bercorak pribadi.
Dalam interaksi anak dengan lingkungan anak lambat laun
mendapat kesadaran akan dirinya sebagai pribadi. Anak belajar untuk
memandang dirinya sebagai obyek seperti orang lain memandang
dirinya. Anak dapat membayangkan kelakuan apa yang diharapkan
orang lain dari padanya. Anak dapat mengatur kelakuannya seperti
yang diharapkan orang dari padanya. Anak misalnya dapat merasakan
perbuatannya yang salah dan keharusan untuk minta maaf. Dengan
menyadari dirinya sebagai pribadi anak dapat mencari tempatnya
dalam struktur social, dapat mengharapkan konsekuensi positif bila
berlakuan menurut norma-norma atau akibat negatif atas kelakuan
yang melanggar aturan. Demikianlah akhirnya anak lebih mengenal
dirinya dalam lingkungan sosialnya, dapat menyesuaikan kelakuannya
dengan harapan masyarakat dan menjadi anggota masyarakat melalui
proses sosialisasi yang dilaluinya. Jadi dalam interaksi social itu
memperoleh “Self Concept” atau suatu konsep tentang dirinya.14
c. Kesulitan Sosialisasi
Proses sosialisasi tidak selalu berjalan lancer karena adanya
sejumlah kesulitan.
Pertama, ada kesulitan komunikasi, bila anak tidak mengerti apa
yang diharapkan dari padanya, atau takt ahu apa yang diinginkan oleh
masyarakat atau tuntutan kebudayaan tentang kelakuannya. Hal ini
akan terjadi bila anak itu tak memahami lambang-lambang seperti
Bahasa, isyarat dan sebagainya.

14
Prof . Dr. S Nasution, MA,2016: 127
12

Kedua, adanya pola kelakuan yang berbeda-beda atau yang


bertentangan. Masyarakat modern terpecah-pecah dalam berbagai
sector atau kelompok yang masing-masing menuntut ola kelakuan
yang berbeda-beda. Orangtua mengharapkan agar anak jujur, jangan
merokok akan tetapi kode siswa mengharuskannya turut dalam soal
contek-mencontek, merokok, dan sebagainya. Jika tidak makai a akan
dikucilkan dari kelompoknya.
Walaupun demikian tiap orang harus berusaha menyesuaikan diri
dengan berbagai situasi sosial, sering juga yang bertentangan
normanya. Bila pertentangan itu tajam dan individu tidak mampu
menyesuaikan diri maka ada kemungkinan ia akan mengalami
gangguan psikologis atau sosial.
Gangguan kepribadian ini dapat berbeda-beda tarafnya. Ada yang
ringan seperti kecanggungan dalam kelakuan, misalnya mengahadapi
situasi yang belum dikenal yang mudah diatasi. Akan tetapi ada
gangguan yang merusak pribadi individu, sampai memerlukan
psikolog atau psikiater. Dalam zaman modern ini, khususnya di kota-
kota banyak hal yang menimbulkan ketegangan karena norma-norma
bertentangan, dan karena itu makin banyak orang yang harus dirawat
dalam rumah sakit jiwa. Hingga batas tertentu sekolah dapat
merupakan salah satu sumber permulaan gangguan jiwa pada anak.
Kesulitan lain yang dihadapi dalam proses sosialisasi ialah
perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat
modernisasi, industrialisasi, dan urbanisasi. Perubahan dari kehidupan
daerah pertanian ke cara hidup di kota kosmopolitan sangat besar.
Ikatan kekeluargaan di daerah pedesaan sangat erat, baik dalam
keluarga maupun dengan tetangga. Semua anggota masyarakat desa
saling mengenal. Norma-norma kelakuan jelas dipahami oleh setiap
orang. Masing-masing saling memperhatikan kelakuan orang di
sekitarnya sehingga suka dilakukan pelanggaran atau penyelewengan.
Dengan control social yang demikian ketatnya dapat diharapkan
bahwa semua akan mematuhi norma-norma yang berlaku.
Sebaliknya kota besar tidak mempunyai norma kelakuan yang
sama karena penduduknya beraneka ragam, baik asal-usulnya, Bahasa
daerah, adat-istiadat, pekerjaan, Pendidikan, dan sebagainya. Maka
13

norma kehidupan pun akan berbeda-beda. Setiap orang harus bergerak


dari segmen yang sat uke segmen yang lain yang mempunyai aturan
hidup yang berlainan. Bentuk kelakuan orang di kantor, di rumah,
tempat ibadah, tempat rekreasi, bis, toko, rukun tetangga, jalan raya,
dan sebagainya berbeda-beda, bahkan ada kemungkinan bertentangan.
Seorang pegawai kecil yang selalu bersikap hormat dan patuh di
kantor akan berlainan sikapnya di rumah sebagai suami, ayah, dan
kepala rumah tangga, lain pula sebagai anggota perkumpulan
olahraga, kelompok studi, atau anggota penjaga keamanan
lingkungan. Demikian pula seorang ibu harus menjalankan berbagai
peranan di samping isteri, ibu rumah tangga juga sebagai anggota
arisan, dharma wanita, pegawai atau pekerja.
Perubahan masyarakat membawa perubahan norma-norma dan
terpecahnya masyarakat dalam berbagai segmen dan menimbulkan
norma yang beraneka ragam. Keadaan itu akan mempersulit proses
sosialisasi anak menjadi anggota masyarakat yang bertambah
kompleks.15
d. Sosialisasi di Sekolah
Sekolah memegang peranan yang penting dalam proses sosialisasi
anak, walaupun sekolah merupakan hanya salah satu Lembaga yang
bertanggung jawab atas Pendidikan anak.
Anak mengalami perubahan dalam kelakuan sosial setelah ia
masuk ke sekolah. Di rumah ia hanya bergaul dengan orang yang
terbatas jumlahnya, terutama dengan anggota keluarga dan anak-anak
tetangga. Suasana di rumah bercorak informal dan banyak kelakuan
yang diizinkan menurut suasana di rumah. Banyak sedikit anak di
rumah di manjakan oleh orangtua yang mengasihinya, terutama bila ia
anak pertama, anak tunggal, anak laki-laki satu-satunya di antara
anak-anak perempuan, anak bungsu atau anak yang lemah, sering
sakit-sakit dan memerlukan bantuan orang yang di sekitarnya. Anak-
anak di rumah biasanyamendapat perhatian secukupnya dari anggota
keluarga lainnya.
Disekolah anak itu mengalami suasana yang berlainan. Ia bukan
lagi anak istimewa yang diberi perhatian khusus oleh ibu guru,

15
Prof.Dr. S. Nasution, MA,2016: 128
14

melainkan hanya salah seorang di antara puluhan murid lainnya di


dalam kelas. Guru tidak mungkin memberikan perhatian banyak
kepadanya karena harus mengutamakan kepentingan kelas sebagai
keseluruhan. Untuk itu anak-anak harus mengikuti peraturan yang
bersifat formal yang tidak dialami anak di rumah, yang dengan
sendirinya membatasi kebebasannya. Ia harus duduk di bangku
tertentu untuk waktu yang di tentukan oleh lama jam pelajaran. Ia
tidak boleh keluar masuk, berjalan-jalan, melakukan atau mengatakan
sesuatu sesuka hatinya. Dalam kelas ia harus selalu memperlihatkan
aturan dan kepentingan anak-anak lain.
Dengan suasana kelas yang demikian, anak itu melihat dirinya
sebagai salah seorang di antara anak-anak lainnya. Demikian rasa
egosentrisme berkurang dan digantikan oleh kelakuan yang bercorak
sosial. Juga di pekarangan sewaktu istirahat ia tidak dapat
menjalankan kemauannya seperti di rumah akan tetapi harus
memperhitungkan kedudukannya dalam hubungannya dengan
kedudukan anak-anak lain. Jadi di sekolah anak itu belajar
menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru yang
memperluas keterampilan sosialnya. Ia juga berkenalan dengan anak
yang berbagai ragam latar belakangnya dan belajar untuk menjalankan
peranannya dalam struktur sosial yang dihadapinya di sekolah.
Sekolah merupakan Lembaga tempat anak terutama diberi
Pendidikan intelektual, yakni mempersiapkan anak untuk sekolah
yang lebih lanjut. Oleh sebab tugas itu cukup penting dan berat, maka
perhatian sekolah sebagian besar ditujukan kepada aspek intelektual
itu. Aspek lain seperti Pendidikan moral melalui Pendidikan agama
dan moral Pancasila juga diperhatikan, namun dapat kita katakana
bahwa Pendidikan sosial masih belum mendapat tempat yang
menonjol. Kesempatan-kesempatan untuk kerja sama dalam pelajaran
dan kegiatan kurikulum maupun ekstra-kulikuler lainnya perlu lebih
dimanfaatkan.
Untuk mengetahui hingga manakah Pendidikan sosial di sekolah
dilakukan, kita perlu mempelajari hal-hal yang berikut :
1. Nilai-nilai yang dianut di sekolah.
2. Corak kepemimpinan, apakah otokratis atau demokratis.
15

3. Hubungan antar murid, apakah misalnya terutama dipengaruhi oleh


suasana persaingan atau kerja sama.16
3. Pembentukan Kepribadian
a. Pembentukan Akhlak
Landasan akhlak menjadi suatu yang sangat penting dalam
mengaktualisasikan terhadap totalitas kehidupan yang lebih baik.
Pentingnya akhlak tidak terlepas dari pandangan hidup dalam
eksistensi kita sebagai khalifah di muka bumi. Pembentukan akhlak
berperan penting dalam membentuk kepribadian bangsa dalam
meliputi taubat, muhasabah, ikhlas, ridha, cinta Allah dan Rasul serta
perbuatan baik lainnya.
Pembentukan akhlak menjadi pijakan seseorang menuju jalan
spiritual yang sangat tepat dan layak untuk dijadikan pedoman dalam
setiap perbuatan dan tindakan kita setiap harinya. Mengingat
kompeleksitas persoalan sosiologis saat ini telah mengrongrong nilai-
nilai moral umat manusia.
Kita mesti melakukan gerakan-gerakan progresif untuk meng-
couter paham-paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan
moral bangsa kita.
Ajaran akhlak dalam kebijakan keislaman merupakan jalan menuju
improvisasi spiritual yakni tasawuf. Akhlak memuat nilai-nilai
riligiusitas yang bermanfaat untuk meningkatkan keimanan dan
ketakwaan kita kepada Allah SWT. Disamping itu, akan mampu
melahirkan keluhuran moral berupa kesalehan ritual sesama manusia
dan membentuk karakter kaislaman yang mampu membangun sebuah
peradaban.
b. Pembentukan Karakter
Pendidikan berbasis akhlak di lingkungan sekolah merupakan
suatu urgensi tersendiri bagi perkembangan pendidikan kedepannya.
Hal ini disebabkan pada hakekatnya moral dan tingkah laku anak
didik bangsa butuh"direkonstruksi" agar mereka mampu menciptakan
suasan yang bernuansa positif.
Pendidikan karakter ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai
pendidikan yang berdasarkan pada etika dan moral sehingga

16
Prof.Dr. S. Nasution, MA,2016: 129
16

kepribadian anak didik dapat berpengaruh terhadap tingkah lakunya


sehari-hari, baik di lingkungan pendidikan maupun di luar lingkungan
pendidikan.
c. Pembentukan Kepribadian
Pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada pengajaran
orientasinya pada pengembangan intelektualitas, tetapi juga berupaya
membentuk kepribadian anak didik secara utuh. Maka, islam pada
hakekatnya adalah berpaham perfeksionisme, yaitu menghendaki
kesempurnaan hidup secara paripurna. Sesuai dengan frman Allah
dalam kitab suci Al-quran yang berbunyi :
‫شيْط ِن اِنَّه لَ ُك ْم َعدُو ُّم ِبيْن‬
َّ ‫ت ال‬ ُ ‫س ِْل ِم ك َۤافَّة ۖ َّو َل تَت َّ ِب ُع ْىا ُخ‬
ِ ‫طى‬ ّ ‫ٰٓياَيُّ َها الَّ ِذيْنَ ا َمنُىا ادْ ُخلُ ْىا فِى ال‬
Terjemah :
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara
keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan.
Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu (QS Al-Baqarah[2]: 208).17
Disini seseorang akan mempelajari hal baru yang tidak diajarkan di
dalam keluarga maupun kelompok sepermainan. Sekolah
mempersiapkannya untuk peran-peran baru di masa mendatang saat ia
tidak tergantung lagi pada orang tua. Sekolah tidak hanya
mengajarkan pengetahuan dan ketrampilan yang bertujuan
memengaruhi perkembangan intelektual anak, tetapi juga
mempengaruhi hal lain seperti kemandirian, tanggungjawab, dan tata
tertib.
Menurut Horton, fungsi nyata dari pendidikan antara lain : (1)
Sebagai modal penting dalam menentukan mata pencaharian. (2)
Dapat mengembangkan potensi demi pemenuhan kebutuhan pribadi
dan pengembangan masyarakat (3) Melestarikan kebudayaan dengan
cara mewariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan (4)
Membentuk kepribadian.
d. Screening Moral
Screening (penyaringan) ini berdasarkan kemampuan anak atas
penguasaan ilmu pengetahuan,kompetensi,termasuk didalamnya
adalah moral.Ini berarti makin tinggi jenjang pendidikan seseorang, ia
akan terseleksi dan tersaringpada kasta social yang tinggi juga.

17
Departemen agama RI “al-Quranul Karim wa tafsiruhu,2009,Departemen agama RI.
17

Moral adalah sebuah istilah yang berarti tindakan positif yang


dilakukan oleh manusia dalam berinteraksi dengan orang lain. Moral
sangat diperlukan untuk proses sosialisasi dalam kehidupan
bermasyarakat. Moral meliputi akhlak dan etika yang baik seperti
perbuatan atau tingkah laku atau ucapan dalam berinteraksi dengan
orang lain.
Dalam konteks social screening, guru dituntut untuk melakukan
penilaian moral terhadap siswanya.Sementara factor moral dianggap
sebagai subjektif dan karena itu tidak menjadi pertimbangan
menaikkan atau meluluskan siswanya.Sekolah harus berlaku jujur dan
tidak melakukan manipulasi fakta atas nilai-nilai moral anak didik.
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu
ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Interaksi edukatif
sebenarnya komunikasi timbal balik antara pihak yang satu dengan pihak
yang lain, sudah mengandung maksud-maksud tertentu yakni untuk
mencapai tujuan (dalam kegiatan belajar berarti untuk mencapai tujuan
belajar). beberapa peran guru dalam interaksi edukatif yaitu sebagai
Informator, Organisator, Motivator, Pengarah / director, Inisiator,
Transmitter, Fasilitator, Mediator dan Evaluator.
Sosialisasi adalah suatu proses belajar seorang anggota masyarakat
untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dilingkungannya.
Melalui sosialisasi para generasi masyarakat dapat belajar tentang
bagaimana mereka seharusnya bertingkah laku dalam kondisi sosial
tertentu ketika berhubungan dengan orang lain.
Kepribadian merupakan organisasi sikap yang dimiliki seseorang
sebagai latar belakang dari prilakunya. Hal ini berarti kepribadian
menunjuk pada organisasi dari sikap-sikap seorang individu untuk berbuat,
mengetahui, berpikir, dan merasakan secara khusus apabila ia
berhubungan dengan orang lain atau ketika ia menanggapi suatu masalah
atau keadaan.
Setiap individu memiliki kepribadian melalui sosialisasi sejak
dilahirkan. Kepribadian Menunjuk pada pengaturan sikap-sikap sesorang
yang berbuat, berfikir, dan merasakan, khusunya apabila dia berhubungan
dengan orang lain atau menanggapi satu keadaan.
B. Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi
memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi

18
19

sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-


kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
20

DAFTAR PUSTAKA

 Fm, Rudy. 2016. Makalah Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadian.


 http://rudifm14.blogspot.co.id. Diakses pada 09 September 2016.
 Gutti. 2011. Makalah tentang Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadian.
 http://gutti211.blogspot.co.id. Diakses pada 27 Oktober 2011.
 Irba. 2013. Sosialisasi Dan Pembentukan Kepribadiaan.
 http://irwanbahar99.blogspot.co.id.
 Jikrillah, Febri. 2013. Macam-macam Sosialisasi.
 http://febri_zikrillah.blogspot.co.id.
 Kadhapi, Muamer. 2013. Makalah Sosiaalisasi Dan Pembentukan
Kepribadian.
 http://ukhuwahislah.blogspot.co.id. Diakses pada 12 Agustus 2013.
 A M, Sardiman. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar .Jakarta :
PT Raja Grafindo Persada.
 Narwoko, Dwi dan Bagong Suyanto. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan
Terapan. Jakarta : Prenada Media Grup.
 Soekanto, Soerjono. 1986. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali
Pers.
 http://id.wikipedia.org/wiki/Interaksi diakses pada 24 mei 2015.
 https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20111123060813AA3g
hxy diakses pada 24 mei 2015.
 http://perkembanganpesertadidik7.blogspot.com/2014/04/interaksi-
edukatif-komponen-komponennya.html diakses pada 24 mei 2015.
 Departemen agama RI “al-Quranul Karim wa tafsiruhu,2009,Departemen
agama RI.
 https://www.kompasiana.com/zakiabahama/5d99f29b097f3643416c34f2/s
ekolah-sosialisasi-anak-dan-pembentukan-kepribadian.
 Prof.Dr. S. Nasution, MA, 20