Anda di halaman 1dari 35

Hegemoni dan Diskursus

Neoliberalisme
Menelusuri Langkah Indonesia Menuju
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015
Hegemoni dan Diskursus
Neoliberalisme
Menelusuri Langkah Indonesia Menuju
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Dodi Mantra
Mantra, Dodi
‌Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme— Dodi Mantra, Bekasi: MantraPress,
Oktober 2011

254 halaman, i -xiv, 16 x 23 cm


ISBN: 978-602-19076-0-3

1. Hegemoni 2. Diskursus 3. Neoliberalisme 4. ASEAN 5. Ekonomi-Politik


I. Judul

Cetakan Pertama, Oktober 2011

Diterbitkan oleh:
MantraPress
Jl. Gemak B. 153 RT03/09 Jaka Setia
Bekasi Selatan
Jawa Barat - 17147
085880909505
vi Daftar Isi

Bab 3
Masyarakat Ekonomi ASEAN:
Neoliberalisme dan Gelombang Kedua Regionalisme 77
Transformasi Regionalisme Asia Tenggara 77
Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Prinsip Neoliberalisme 83

Bab 4
Potret Ketidaksiapan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN 97
Daya Saing dan Kinerja Industri Manufaktur Indonesia 98
Daya Saing Industri Pariwisata Indonesia 118
Potret Komparatif Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia 121
Permasalahan Kualitas Tenaga Kerja dan Pengangguran
di Indonesia 142
Iklim Investasi Indonesia Menuju Liberalisasi Arus Investasi
Masyarakat Ekonomi ASEAN 149

Bab 5
Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme dalam Kebijakan
Ekonomi Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 161
Pendekatan Gramscian-Foucauldian 162
Hegemoni Ideologis Neoliberalisme dalam Formasi Kebijakan
Ekonomi Indonesia Menuju Terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN 181
Praktik Diskursif Neoliberalisme dan Kebijakan Ekonomi Indonesia
Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 203
Kedalaman Hegemoni dalam Formasi Diskursif: Praktikalitas,
Inevitabilitas dan Optimalitas dalam Menghadapi Agenda Neoliberal
Masyarakat Ekonomi ASEAN 226
Perjuangan Hegemoni dan Praktik Diskursif melalui Tiga Pusat
Kekuatan (Power Centers) dan Blok Historis Neoliberalisme 227
Kaburnya Paradigma dan Arah Kebijakan Pembangunan Nasional 230

Kesimpulan 234

Daftar Pustaka 240


Indeks 247
Daftar Tabel

Tabel 2.1
Delapan Putaran Negosiasi Perdagangan di bawah GATT 41
Tabel 2.2
Jumlah Regional Trade Agreements yang telah berjalan berdasarkan
Jenis Kesepakatan 47
Tabel 2.3
Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Serikat
(sampai dengan Maret 2009) 53
Tabel 2.4
Kesepakatan Perdagangan Kawasan sampai dengan tahun 2005 55
Tabel 2.5
Kesepakatan IMF-Negara-Negara Anggota, Jumlah Kesepakatan
dan Dana yang Dialokasikan, Negara-negara Berkembang
dan Transisi Periode 1988/1989 – 1992/1993 60
Tabel 2.6
Skenario Liberalisasi Perdagangan di Negara-Negara SAPRI/CASA 64
Tabel 2.7
Ringkasan Dampak Implementasi Program Penyesuaian Struktural
di Negara-Negara Berkembang SAPRI/CASA 68
Tabel 3.1
Paket CEPT bagi Negara ASEAN-9 sampai tahun 1998 85
Tabel 3.2
Empat Model Relasi Globalisasi-Regionalisme 95
Tabel 4.1
Perubahan Struktur Perdagangan berdasarkan Kelompok Negara
tahun 1990 dan 2005 100
Tabel 4.2
Spesialisasi Sektor Manufaktur Negara-Negara Berkembang 104
Tabel 4.3
Nilai Ekspor Kelompok Barang Manufaktur 106
Tabel 4.4
Indikator Sektor Industri Pengolahan Indonesia 1996-2002 108
viii Daftar Tabel

Tabel 4.5
Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (Sektoral) 109
Tabel 4.6
Peringkat Negara-Negara Kawasan Asia Timur dan Pasifik
berdasarkan Indeks Competitiveness Industrial Performance (CIP)
tahun 2000 dan 2005 112
Tabel 4.7
Enam Indikator Kinerja Industri, Negara-Negara ASEAN
tahun 2000 dan 2005 115
Tabel 4.8
Perkembangan Kunjungan Wisatawan Tahun 2004-2008 120
Tabel 4.9
Peringkat Daya Saing Pariwisata Negara ASEAN 121
Tabel 4.10
Indeks Pembangunan Manusia Negara-Negara ASEAN 2007 126
Tabel 4.11
Human Development Report 2009:
Human development index 2007 and its components ASEAN Countries 127
Tabel 4.12
Human Development Report 2007/2008,
Human and Income Poverty: ASEAN Countries 128
Tabel 4.13
Human Development Report 2007/2008, Commitment to health:
resources, access and services (ASEAN Countries) 132
Tabel 4.14
Human Development Report 2007/2008,
Water, sanitation and nutritional status (ASEAN Countries) 133
Tabel 4.15
Human Development Report 2007/2008, Commitment to Education:
public spending (ASEAN Countries) 134
Tabel 4.16
Human Development Report 2007/2008, Literacy and enrolment
(ASEAN Countries) 135
Tabel 4.17
Human Development Report 2007/2008,
Technology: diffusion and creation (ASEAN Countries) 139
Tabel 4.18
Indeks Daya Saing Negara-Negara ASEAN 2008-2009 dan 2009-2010 141
Daftar Tabel ix

Tabel 4.19
Persentase Penduduk yang Bekerja
Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2008-2010 144
Tabel 4.20
Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi
yang Ditamatkan 2004, 2005, 2006, 2007, 2008 dan 2009 147
Tabel 4.21
Tingkat Pengangguran Negara-Negara ASEAN 148
Tabel 4.22
Korelasi antara Pertumbuhan PDB dan FDI
dalam tahun sebelum, selama dan sesudah, 1981-2005 153
Tabel 4.23
Peringkat Indeks Kinerja dan Potensi FDI ke dalam, 1990-2007 156
Tabel 4.24
Arus Investasi Asing Langsung (FDI) ke ASEAN 2008-2009 157
Tabel 5.1
Komunitas Epistemis Liberal 187
Daftar Gambar

Gambar 2.1
Krisis Utang Internasional 1982-1985 34
Gambar 2.2
Sumber Ekspor Dunia 1953-2006 45
Gambar 2.3
Area Perdagangan Bebas di Dunia 48
Gambar 2.4
Kesepakatan Perdagangan Bebas dan 50 Peringkat Atas Pasar Ekspor Dunia 50
Gambar 2.5
Kemitraan FTA Negara Maju dan Berkembang 51
Gambar 2.6
Difusi FTA 1948-2008 51
Gambar 2.7
Persentase Output Ekonomi dan Populasi Dunia berdasarkan
GDP per Kapita Negara tahun 2004 56
Gambar 2.8
Sejarah Pinjaman IMF – Dana Pinjaman IMF dalam Proporsi
Eskpor Dunia 1948-2006 59
Gambar 4.1
Struktur Perdagangan Dunia 2005 102
Gambar 4.2
Struktur Sektoral Perdagangan Dunia berdasarkan Kawasan
tahun 2006 103
Gambar 4.3
Pertumbuhan Ekspor Nonmigas 107
Gambar 4.4
Indikator Sektor Industri Pengolahan Indonesia 1996-2009 108
Gambar 4.5
Jumlah Paten yang Didaftarkan di Direktorat Jenderal HKI 137
Gambar 5.1
Relasi Kekuatan, Antonio Gramsci 169
Gambar 5.2
Relasi Politik dari Hegemoni, Antonio Gramsci 169
xii Daftar Gambar

Gambar 5.3
Model Analisis Gramscian-Foucauldian 180
Gambar 5.4
Fase dan Mekanisme Perjuangan Hegemoni IMF terhadap
Pemerintah Indonesia 1997-2004 183
Kata Pengantar

Terlihat sesuatu yang berbeda ketika menyusuri jalan protokol ibukota Jakarta di
paruh pertama tahun 2011 ini. Hampir di setiap kantor instansi pemerintah terpam-
pang spanduk yang berisikan tulisan “Selamat atas Keketuaan ASEAN – Indonesia
2011, Ciptakan Masyarakat ASEAN yang Saling Peduli dan Berbagi,” “Indonesia
Mampu Pimpin ASEAN 2011.”
Semangat dan komitmen pemerintah Indonesia menuju terwujudnya Masyara-
kat ASEAN memang terasa semakin kuat seiring dengan jabatan Ketua ASEAN
yang diemban pemerintah di tahun 2011 ini. Kontradiksi dengan antusiasme pemer-
intah, rasa khawatir dan kegelisahan justru semakin memuncak di dalam dada penu-
lis menyaksikan fenomena semangat tanpa dasar ini. Laporan hasil penelitian penu-
lis mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN di tahun 2010 lalu, akhirnya dengan
segera dikemas menjadi sebuah buku yang saat ini ada di tangan pembaca.
Kegelisahan penulis berangkat dari suatu pemahaman atas realitas dan jejak
historis percobaan neoliberalisme di berbagai negara yang selalu berujung pada
keterpurukan ekonomi. Kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi, bahkan
kematian industri adalah persoalan yang melekat seiring dengan implementasi neo-
liberalisme. Terlepas dari nyata dan parahnya derita yang harus ditanggung rakyat
sebagai imbas dari neoliberalisme, pemerintah Indonesia justru memperlihatkan
langkah-langkah yang semakin nyata mengikatkan diri ke dalam bentuk kesepaka-
tan perdagangan bebas, terutama Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Neoliberalisme jelas menjadi dasar dari integrasi ekonomi di kawasan Asia
Tenggara. Aliran bebas dalam lima elemen yang menjadi pilar integrasi ekonomi
ASEAN menjadi bukti nyata betapa kekuatan pasar menjadi pendorong utamanya.
Lebih dari itu, agenda Masyarakat Ekonomi ASEAN memiliki kekuatan mengikat
secara hukum (legally binding), seiring dengan ditandatangi dan telah diratifikasin-
ya Piagam ASEAN.
Ironis memang, jika kita mengamati semangat gegap gempita pemerintah In-
donesia menuju terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN dibandingkan dengan
tidak berartinya langkah-langkah persiapan yang substantif dan riil. Langkah-lang-
kah pemerintah Indonesia menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN selama ini lebih
besar difokuskan pada persoalan teknis implementasi langkah-langkah yang terkan-
dung dalam Cetak Biru perwujudan agenda ini. Sementara itu, dari sisi langkah per-
siapan yang bersifat substantif dan riil bagi perekonomian Indonesia, fakta empiris
xiv Kata Pengantar
justru memperlihatkan betapa sektor-sektor penting dalam perekonomian negeri
ini berada dalam posisi yang jauh tertinggal dibandingkan dengan beberapa negara
ASEAN lainnya. Buku ini berupaya untuk mengulas persoalan tidak berartinya
langkah substantif dan riil pemerintah Indonesia dalam mempersiapkan perekono-
mian menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Tentu saja, buku ini hanyalah satu bagian kecil dari pemaknaan terhadap re-
alitas agenda Masyarakat Ekonomi ASEAN. Masih banyak kekurangan dan per-
soalan yang terkandung dalam buku ini. Setidaknya, buku ini dapat memberikan
pemahaman terhadap agenda neoliberal Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan
membawa dampak nyata bagi kehidupan rakyat Indonesia, yang jika kita mau jujur,
sebagian besar tidak mengetahui atau bahkan mengerti tentang agenda Masyarakat
Ekonomi ASEAN.
Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada se-
luruh pihak yang telah membantu terbitnya buku ini. Semoga dapat menjadi bagian
dalam upaya untuk membebaskan rakyat, membangun umat dan bangsa menuju
kemajuan yang sejati.

Bekasi, Mei 2011

Dodi Mantra
Pendahuluan

Berangkat pada sebuah posisi pemikiran bahwa percobaan neoliberalisme akan


selalu berujung pada keterpurukan ekonomi, buku ini berupaya untuk membong-
kar faktor-faktor yang melatarbelakangi minimnya langkah-langkah atau upaya
yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam mempersiapkan perekonomian secara
substantif dan riil guna menghadapi terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN di
tahun 2015. Fakta historis mengungkapkan bahwa implementasi pilar-pilar neo-
liberalisme telah berhasil membuahkan persoalan-persoalan mendasar bagi per-
ekonomian negara-negara di berbagai belahan dunia. Kemiskinan, pengangguran,
kesenjangan dan deindustrialisasi, menjadi warna dominan yang melekat dalam
implementasi neoliberalisme. Bahkan episode krisis menjadi bagian yang tidak
dapat terlepaskan dari perekonomian global yang berjalan atas dasar aturan main
neoliberal.
Sementara itu, langkah dan komitmen negara-negara Asia Tenggara semakin
kuat menuju terwujudnya sebuah agenda neoliberal Masyarakat Ekonomi ASEAN
di tahun 2015. Prinsip-prinsip dasar neoliberalisme dalam wujud liberalisasi, priva-
tisasi dan deregulasi, menjadi roh dari terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Langkah-langkah implementasi strategis dengan tahapan yang spesifik dalam Ce-
tak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN, mencerminkan betapa neoliberalisme men-
jadi landasan dari integrasi ekonomi regional Asia Tenggara ini.
Pemerintah Indonesia memiliki komitmen dan semangat besar dalam mewu-
judnya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Semangat gegap gempita menuju pertarun-
gan dalam arena neoliberal ini seharusnya berjalan seiring dengan langkah-langkah
substantif dan riil untuk mempersiapkan perekonomian. Ironisnya, pemerintah In-
donesia justru terfokus pada langkah-langkah persiapan teknis neoliberal sejalan
dengan implementasi cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Dengan menggunakan pendekatan Gramscian-Foucauldian–sebuah pendekatan
analisis yang mengkombinasikan konsep hegemoni Antonio Gramsci dan diskur-
sus Michel Foucault– yang dikembangkan oleh Richard Peet, analisis dalam buku
berupaya untuk membongkar fenomena minimnya langkah persiapan substantif
dan riil dari pemerintah Indonesia tersebut. Analisis yang terkandung dalam sub-
stansi buku ini memperlihatkan bahwa neoliberalisme telah berada dalam posisi
hegemoni dalam perekonomian Indonesia. Dengan kata lain, neoliberalisme telah
menjadi konsensus tidak tertulis sebagai landasan paradigmatis bagi pembangunan
2 Pendahuluan
ekonomi Indonesia yang kebenaran dan manfaatnya diyakini oleh para pengam-
bil kebijakan ekonomi di negeri ini. Analisis dalam buku ini juga mengungkapkan
bahwa tercapainya posisi hegemoni neoliberal tersebut tidak terlepas dari keber-
hasilan perjuangan hegemoni yang dilakukan oleh komunitas epistemis liberal In-
donesia yang tersebar di berbagai ranah, baik itu ranah intelektual atau bahkan ra-
nah pengambil kebijakan. Langkah-langkah persiapan teknis yang kontras dengan
langkah substantif dan riil menuju terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN ber-
jalan seiring dengan diskursus keyakinan dan optimisme akan manfaat dari agenda
neoliberal ini. Praktik diskursif yang dijalankan oleh aktor-aktor sosial dengan mo-
dalitas enunsiatif (para ahli/pakar ekonomi dengan spesialisasi dan reputasi yang
diakui) dalam apa yang disebut Foucault sebagai formasi diskursif (disiplin ilmu
pengetahuan) ekonomi, diyakini sebagai kunci keberhasilan bagi naturalisasi mak-
na positif dari agenda Masyarakat Ekonomi ASEAN. Alhasil, kedalaman hegemoni
dalam formasi diskursif ekonomi di Indonesia, telah melahirkan fenomena prakti-
kalitas, inevitabilitas dan optimalitas dalam memaknai formasi kebijakan ekonomi
pemerintah Indonesia menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN. Praktikalitas mewu-
jud dalam batasan-batasan makna positif saja yang boleh dibicarakan terkait Ma-
syarakat Ekonomi ASEAN. Inevitabilitas mewujud dalam sikap yang memandang
bahwa agenda liberalisasi dan integrasi ekonomi regional ini merupakan sesuatu
yang tidak dapat terhindarkan. Sementara itu, optimalitas mewujud dalam keya-
kinan mendalam akan manfaat dari perwujuan agenda integrasi ekonomi regional
berbasis neoliberal. Posisi hegemoni neoliberalisme dengan topangan praktik dis-
kursif yang massif, menyebabkan kaburnya paradigma dan arah kebijakan pem-
bangunan nasional. Negara mengalami pelemahan kapasitas dalam menjalankan
fungsinya sementara kebijakan-kebijakan pemerintah berjalan secara parsial dan
tumpang tindih dalam berbagai dimensi.
Ketika neoliberalisme telah berada dalam posisi hegemoni, praktik diskursif
pun berada dalam demarkasi makna yang positif atas neoliberalisme, maka tidak
mengherankan jika langkah-langkah pemerintah Indonesia yang substantif dan riil
untuk memajukan perekonomian menjadi sangat minim dalam menghadapi ter-
wujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Hal ini terjadi tidak terlepas dari komit-
men kuat dan keyakinan mendalam pemerintah Indonesia akan manfaat besar dari
perwujudan Masyarakat Ekonomi ASEAN, yang lahir dari proses panjang keber-
hasilan perjuangan hegemoni dan praktik diskursif neoliberalisme dalam formasi
diskursif perekonomian Indonesia.
Hegemoni dan diskursus neoliberalisme berada di balik langkah pemerintah
Indonesia menuju terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Secara sistematis,
analisis yang membongkar kekuatan hegemoni dan diskursus neoliberal akan ditu-
angkan pada bab lima. Bab kedua dari buku ini mengulas secara historis jejak liber-
alisasi perekonomian negara-negara berkembang beserta dampak-dampak negatif
yang dihasilkannya. Pada bab ketiga diuraikan secara kritis dan spesifik prinsip-
prinsip neoliberal yang menjadi roh dalam agenda pembentukan Masyarakat Eko-
nomi ASEAN. Realitas ketidaksiapan dan minimnya langkah pemerintah Indonesia
untuk mempersiapkan perekonomian Indonesia secara sunstantif dan fundamental
diungkapkan pada bab keempat dari buku ini.
Bab 1
Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi
ASEAN: Komitmen dan Semangat Tanpa
Langkah Berarti

Disepakatinya Visi ASEAN 2020 pada bulan Desember 1997 di Kuala Lum-
pur menandai sebuah babak baru dalam sejarah integrasi ekonomi di kawasan Asia
Tenggara. Dalam deklarasi tersebut, pemimpin negara-negara ASEAN sepakat un-
tuk mentransformasikan kawasan Asia Tenggara menjadi sebuah kawasan yang sta-
bil, sejahtera dan kompetitif, didukung oleh pembangunan ekonomi yang seimbang,
pengurangan angka kemiskinan dan kesenjangan sosio-ekonomi di antara negara-
negara anggotanya.1 Komitmen untuk menciptakan suatu Masyarakat ASEAN
(ASEAN Community) sebagaimana dideklarasikan dalam visi tersebut, kemudian
semakin dikukuhkan melalui ASEAN Concord II pada Pertemuan Puncak di Bali
Oktober 2003, atau yang lebih dikenal sebagai Bali Concord II, di mana para pe-
mimpin ASEAN mendeklarasikan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN
(ASEAN Economic Community) sebagai tujuan dari integrasi ekonomi kawasan
pada 2020.2
Dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN (ASEAN Economic Ministers
Meeting – AEM) yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2006 di Kuala Lumpur,
komitmen yang kuat menuju terbentuknya integrasi ekonomi kawasan ini diejawa-
ntahkan ke dalam gagasan pengembangan sebuah cetak biru menuju Masyarakat
Ekonomi ASEAN yang kemudian secara terperinci disahkan dan diadopsi oleh se-
luruh negara anggota ASEAN pada November 2007. Bahkan, sebelumnya dalam
Pertemuan Puncak ASEAN ke-12 pada Januari 2007, komitmen yang kuat para
pemimpin negara-negara ASEAN terhadap pembentukan Masyarakat Ekonomi
ASEAN ini, semakin tercermin dari disepakatinya upaya percepatan terwujudnya
komunitas tersebut pada tahun 2015. Pada pertemuan tersebut, para pemimpin
ASEAN sepakat untuk mempercepat pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN
pada tahun 2015 dan mentransformasikan ASEAN menjadi sebuah kawasan di
mana barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan arus modal dapat bergerak den-
gan bebas.

1
  ASEAN Vision 2020, http://www.aseansec.org/1814.htm, diakses pada tanggal 2
Maret 2009, pukul 11:33 wib.
2
  ASEAN Concord II/Bali Concord II, http://www.aseansec.org/15159.htm, diak-
ses pada tanggal 2 Maret 2009 pukul 11:45 wib.
4 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
Dengan demikian, Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan suatu tujuan akhir
dari integrasi ekonomi yang ingin dicapai masyarakat ASEAN sebagaimana tercan-
tum dalam Visi ASEAN 2020, di mana di dalamnya terdapat konvergensi kepent-
ingan dari negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas
integrasi ekonomi. Sebuah perekonomian yang terbuka, berorientasi keluar, inklu-
sif dan bertumpu pada kekuatan pasar merupakan prinsip dasar dalam upaya pem-
bentukan komunitas ini. Berdasarkan cetak biru yang telah diadopsi oleh seluruh
negara anggota ASEAN, kawasan Asia Tenggara melalui pembentukan Masyara-
kat Ekonomi ASEAN akan ditransformasikan menjadi sebuah pasar tunggal dan
basis produksi; sebuah kawasan yang sangat kompetitif; sebuah kawasan dengan
pembangunan ekonomi yang merata; dan sebuah kawasan yang terintegrasi penuh
dengan perekonomian global.3
Sebagai sebuah pasar tunggal dan basis produksi, terdapat lima elemen inti
yang mendasari Masyarakat Ekonomi ASEAN, yaitu (1) pergerakan bebas barang;
(2) pergerakan bebas jasa; (3) pergerakan bebas investasi; (4) pergerakan bebas
modal; dan (5) pergerakan bebas pekerja terampil. Kelima elemen inti dalam Ma-
syarakat Ekonomi ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi ini dilengkapi
lagi dengan dua komponen penting lainnya, yaitu sektor integrasi prioritas yang ter-
diri dari dua belas sektor (produk berbasis pertanian; transportasi udara; otomotif;
e-ASEAN; elektronik; perikanan; pelayanan kesehatan; logistik; produk berbasis
logam; tekstil; pariwisata; dan produk berbasis kayu) dan sektor pangan, pertanian
dan kehutanan.4
Dalam konteks penciptaan perekonomian kawasan yang kompetitif, beragam
langkah strategis telah ditetapkan dalam cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN,
seperti pengembangan kebijakan persaingan, perlindungan konsumen, kerjasama
regional dalam Hak Kekayaan Intelektual, dan langkah-langkah lainnya seperti
kerjasama regional dalam pembangunan infrastruktur. Begitu juga halnya dalam
upaya transformasi ASEAN menuju sebuah kawasan dengan pembangunan eko-
nomi yang merata, kesepakatan negara-negara di kawasan ini mengupayakan
percepatan pengembangan usaha kecil dan menengah serta perluasan Inisiatif In-
tegrasi ASEAN (Initiative for ASEAN Integration) dalam rangka menjembatani
jurang kesenjangan pembangunan di antara negara-negara anggotanya. Sementara
itu, langkah-langkah menuju integrasi ekonomi Asia Tenggara ke dalam pereko-
nomian global ditempuh melalui penerimaan suatu pendekatan yang koheren ter-
hadap hubungan ekonomi eksternal, termasuk negosiasi dalam pembentukan ka-
wasan perdagangan bebas dan kemitraan ekonomi strategis. Cetak biru inilah yang
melandasi pembangunan Masyarakat Ekonomi ASEAN melalui langkah-langkah
spesifik dengan periode waktu yang terperinci, di mana terciptanya suatu pereko-
nomian kawasan yang terintegrasi atas dasar prinsip perekonomian pasar bebas dan
terbuka menjadi cita-cita besar yang ingin dicapai.
Tercermin dari beragam langkah-langkah strategis yang dicanangkan dalam
cetak biru dan hakikat dari Masyarakat Ekonomi ASEAN itu sendiri, neoliberal-
isme sebagai metamorfosa paradigma liberal merupakan ruh yang mendasari ger-
3
  ASEAN Economic Community Blueprint, , http://www.aseansec.org/21083.pdf, diakses
pada 15 Maret 2009, pukul 20:47 wib.
4
  ASEAN Economic Community Blueprint, http://www.aseansec.org/21083.pdf, diakses
pada 15 Maret 2009, pukul 20:47 wib.
Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 5
ak semangat dari terbentuknya komunitas ekonomi kawasan ini. Sebagai sebuah
paradigma pembangunan ekonomi, neoliberalisme berasumsi bahwa entitas pasar
merupakan aktor yang paling relevan dan efektif dalam menentukan keberhasilan
pembangunan ekonomi di dalam suatu negara. sebaliknya, mereka memandang
bahwa intervensi negara dalam hal ini pemerintah terhadap perekonomian, melalui
subsidi misalnya, merupakan hambatan yang mendistorsi berjalannya mekanisme
pasar.
Neoliberalisme mencuat sebagai sebuah paradigma pembangunan yang domi-
nan pada tahun 1980-an dan 1990-an menggantikan paradigma Keynesian dalam
pembangunan ekonomi yang dianut oleh sebagian besar negara-negara berkem-
bang. Neoliberalisme atau yang sering disebut juga sebagai “Washington Consen-
sus”, dirancang sebagai respon terhadap persoalan ekonomi negara-negara Ameri-
ka Latin yang menerapkan paradigma Keynesian. Berdasarkan asumsi Keynesian,
pembangunan di negara-negara ini diselenggarakan atas dasar peranan negara atau
pemerintah yang sangat besar dalam bidang ekonomi, di mana kebijakan ekonomi
pemerintah tersebut diarahkan kepada penyerapan tenaga kerja dan pengurangan
tingkat pengangguran serta pemerataan distribusi pendapatan. Namun pada tahun
1980-an, negara-negara di kawasan Amerika Latin mengalami defisit neraca pem-
bayaran yang sangat besar. Krisis ekonomi ini diyakini oleh padangan neoliberal
sebagai dampak dari kerugian yang dialami perusahaan-perusahaan pemerintah
yang tidak efisien dan langkah-langkah proteksionis yang diberlakukan pemerintah
sehingga perusahaan swasta yang tidak efisien memaksa konsumen untuk mem-
bayar dengan harga mahal serta kebijakan moneter yang sangat longgar yang me-
nyebabkan laju inflasi tidak terkendali.5
Kegagalan dari paradigma Keynesian ini kemudian memuculkan paradigma
neoliberal untuk menggantikan posisinya sebagai paradigma dominan. Neoliber-
alisme memandang keynesian gagal karena paradigma ini tidak efektif dalam me-
nyelesaikan persoalan ekonomi pada tahun 1980-an dan karena intervensi negara
dalam perekonomian tidak cukup mendisiplinkan sistem moneter dan perdagangan
internasional.
Terdapat tiga pilar utama paradigma neoliberal, yaitu disiplin fiskal (fiscal aus-
terity), privatisasi dan liberalisasi pasar bebas. Kebijakan-kebijakan pembangu-
nan dari paradigma ini didasarkan pada sebuah model sederhana ekonomi pasar,
model ekuilibrium kompetitif, yang berakar pada prinsip “invinsible hand” Adam
Smith yang diasumsikan bekerja dengan sempurna. Adapun asumsi-asumsi dasar
dari paradigma ini antara lain adalah meletakkan pasar sebagai aktor atau pelaku
utama dalam ekonomi; liberalisasi pasar dalam bentuk kebebasan pergerakan ba-
rang, jasa, investasi dan modal tanpa adanya intervensi negara; menghilangkan
semua pengeluaran negara untuk pemenuhan kebutuhan publik (public goods) atau
meminimalisirnya secara bertahap; deregulasi semua kebijakan negara yang mem-
batasi mekanisme pasar; privatisasi dengan menjual aset-aset negara kepada pasar.
Neoliberalisme juga menjadi paradigma yang dianut oleh trinitas rezim ekonomi
internasional yang sangat berpengaruh, yaitu IMF, Bank Dunia dan World Trade
Organization (WTO).
Washington Consensus atau neoliberalisme menekankan pada penciptaan per-

5
  Joseph Stiglitz, Globalization and Its Discontents (London: Penguin Books, 2002), 53.
6 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
tumbuhan ekonomi sebagai imperatif dalam menyelesaikan persoalan ekonomi dan
kemiskinan. Dalam pencapaian pertumbuhan tersebut, paradigma ini meletakkan
prioritas pada pertambahan input kapital dan tenaga kerja semata-mata, di mana
faktor kemajuan teknologi dipandang sebagai faktor eksogen dan mengabaikan
faktor-faktor di luar ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan.6 Melalui
pertumbuhan ekonomi ini diyakini akan terjadi apa yang disebut sebagai trickle
down effect, yakni efek penetesan ke bawah, di mana pertumbuhan ekonomi akan
meneteskan kesejahteraan ke seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat
miskin juga akan memperoleh manfaat dari pertumbuhan ini.7
Nafas neoliberalisme terasa sangat kental sekali dalam proses integrasi eko-
nomi di kawasan Asia Tenggara, di mana entitas pasar diagung-agungkan sebagai
landasan gerak perekonomian. Beragam hambatan yang membatasi pergerakan
pasar perlahan-lahan dihilangkan dalam upaya menuju terbentuknya Masyarakat
Ekonomi ASEAN. Kebebasan bergerak dari beragam faktor ekonomi menjadi inti
dari integrasi ekonomi ASEAN. Peranan pemerintah dalam perekonomian melalui
proteksi yang menjelma dalam berbagai bentuk hambatan perdagangan, subsidi
dan intervensi secara bertahap dihilangkan dalam proses integrasi ekonomi di ka-
wasan Asia Tenggara ini.
Namun demikian, fakta membuktikan bahwa entitas pasar tidak selamanya
dapat bekerja dengan sempurna tanpa celah. Krisis secara periodik yang tanpa henti
melanda dunia memperlihatkan dengan sangat jelas adanya kecacatan inheren yang
melekat di dalam tubuh entitas pasar. Hakikat dari pasar adalah peranan utama dari
keberadaan harga relatif dalam keputusan alokatif. Pada dasarnya, pasar memiliki
empat kegagalan mendasar yang menjadi landasan mengapa pada kenyataannya
entitas ini tidak dapat berperan sebagai cara yang paling efektif dalam mengelola
perekonomian. Pertama, adanya “spillover” dari aktifitas ekonomi, di mana aktifi-
tas salah satu aktor ekonomi dapat membawa dampak negatif bagi aktor lain, teru-
tama misalnya dalam hal dampak lingkungan. Kedua, kecenderungan monopoli
yang sangat besar dengan adanya peningkatan keuntungan dan biaya marginal dari
salah satu pelaku ekonomi. Ketiga, kekakuan pasar dan kurangnya informasi yang
dimiliki oleh informasi. Keempat, pasar tidak dapat menjamin adanya distribusi
kesejahteraan yang merata.8
Krisis yang menghantam negara-negara Asia di penghujung tahun 1990-an lalu,
merupakan wujud nyata dari gagalnya pasar sebagai entitas yang diagung-agung-
kan oleh pendukung liberalisme. Bahkan krisis keuangan global yang melanda du-
nia selama dua tahun terakhir merupakan imbas dari eksistensi sistem keuangan
global yang sangat liar dan rapuh yang lahir sebagai hasil dari proses liberalisasi
keuangan global tanpa henti selama lebih dari tiga dekade. Melalui kondisionalitas
yang diberlakukan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund -
IMF), komponen-komponen kunci liberalisasi keuangan (deregulasi suku bunga;
penghapusan kontrol kredit; swastanisasi bank dan institusi keuangan milik negara;
liberalisasi hambatan masuknya sektor swasta dan bank-bank serta institusi keuan-
gan asing ke pasar keuangan dalam negeri; pemberlakuan instrumen-instrumen

6
  Robert Gilpin, Global Political Economy: Understanding the International Economic
Order (New Jersey: Princeton University Press, 2001), 112-116.
7
  Robert Gilpin, Global Political Economy, 78.
8
  Robert Gilpin, Global Political Economy, 68.
Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 7
kontrol moneter berbasis pasar; liberalisasi lalu lintas devisa) dapat dengan mudah
menemui realisasinya di negara-negara yang berada dalam krisis likuiditas. Liber-
alisasi keuangan selalu menjadi komponen yang termaktub dalam kondisionalitas
IMF dalam berbagai program yang diberikan di banyak negara. Implementasi dari
kondisionalitas tersebut menjadi prasyarat bagi kucuran dana bertahap yang dibu-
tuhkan negara-negara pengutang dari IMF. Krisis global yang tengah melanda du-
nia dewasa ini merupakan dampak dari liar dan rapuhnya sistem keuangan global
yang berlandaskan pada liberalisme.
Kasus liberalisasi pertanian pasca Agreement on Agriculture (AoA) Organisa-
si Perdagangan Dunia (World Trade Organization – WTO) merupakan satu dari
sekian banyak bukti nyata kegagalan kebijakan liberalisasi ekonomi di Indonesia.
Bertepatan dengan berdirinya WTO di tahun 1995, Indonesia menyepakati Agree-
ment on Agriculture, di mana Indonesia harus meliberalisasi sektor pertanian do-
mestik. Beragam implementasi kebijakan neoliberal diimplementasikan terhadap
sektor pertanian Indonesia, seperti pengurangan subsidi pupuk, dibukanya keran
impor beras, dibebaskannya investasi asing untuk memasuki pasar domestik, bah-
kan pencabutan status BULOG sebagai perusahaan negara, sehingga kehilangan
kekuatan untuk memproteksi stabilitas harga produk petani Indonesia. Dampak-
nya, produksi dan distribusi pupuk domestik dikuasai oleh korporasi transnasional
raksasa seperti Monsanto dan Syngenta. Sementara itu, ketergantungan Indonesia
terhadap produk pertanian asing menjadi semakin kuat, bahkan pada periode 1990-
1999 Indonesia mengimpor rata-rata 1,5 juta ton beras per tahun.9 Terlebih lagi
dampak negatif liberalisasi yang dirasakan petani yang secara langsung kalah ber-
saing dengan produk-produk asing membanjiri pasar dalam negeri. Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 1999, jumlah penduduk miskin di
daerah pedesaan yang notabene adalah petani meningkat dua kali lipat dari 17,8
juta di tahun 1990 menjadi 32,3 juta. Meningkatnya angka kemiskinan di daerah
pedesaan selama periode tersebut merupakan bukti nyata bagaimana implementasi
kebijakan liberalisasi telah gagal dalam menciptakan kesejahteraan di Indonesia.
Terlebih dari itu, pengalaman integrasi ekonomi kawasan berlandaskan pada
liberalisme tidak sepenuhnya melahirkan kisah sukses di mana setiap negara dapat
menjadi pemenang di dalamnya. Beberapa kasus integrasi ekonomi regional justru
menunjukkan hasil yang sebaliknya. Pembentukan Kesepakatan Perdagangan Be-
bas di Kawasan Amerika Utara (North American Free Trade Agreement – NAFTA)
pada tahun 1994 mencerminkan pengalaman bagaimana integrasi ekonomi regional
membawa dampak negatif bagi perekonomian salah satu negara yang terlibat di
dalamnya. Kesepakatan perdagangan bebas yang membukakan pintu perekono-
mian negara terkaya di dunia Amerika Serikat kepada Meksiko ini merupakan ka-
wasan perdagangan bebas terbesar di dunia pada saat itu, penduduk sebesar 376
juta dan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai US$9 triliun.10 Janji-janji
kesejahteraan yang ditawarkan liberalisasi perdagangan dalam integrasi di kawasan
ini tidak menemui realisasinya. Salah satu argumen penciptaan perdagangan bebas

9
  Identifikasi: Periode Liberalisasi Perdagangan dalam Kasus Beras Indonesia, http://
www.fspi.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=161&Itemid=38, diakses
pada tanggal 17 Maret 2006, pukul 20:44 wib.
10
  Joseph Stiglitz, Making Globalization Work: the Next Step to Global Justice (London:
Penguin Books, 2006), 61.
8 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
di kawasan Amerika Utara adalah untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan
terutama antara Amerika Serikat dan Meksiko serta untuk menekan laju imigrasi
ilegal.11 Akan tetapi, alih-alih terjadi perbaikan ekonomi, kesenjangan pendapatan
di antara kedua negara selama satu dekade pertama NAFTA justru meningkat lebih
dari 10 persen.12 Selama dekade pertama NAFTA, pertumbuhan ekonomi Mek-
siko sangatlah suram, hanya sebesar 1,8 persen pada basis per kapita riil. Memang
pada kenyataannya, lebih baik jika dibandingkan dengan pencapaian negara-negara
Amerika Latin lainnya, namun jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi
yang dicapai Meksiko selama periode 1948-1973, angka pertumbuhan sebesar 1,8
persen sangatlah buruk, di mana pada periode tersebut angka pertumbuhan rata-
rata mencapai 3,2 persen.13 Faktanya, NAFTA justru menjadikan Meksiko sema-
kin tergantung kepada Amerika Serikat. Dengan kata lain, jika performa ekonomi
Amerika Serikat memburuk, begitu juga halnya dengan yang akan dialami oleh
Meksiko.14

Ketidaksiapan Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN


Fakta gagalnya pasar dan tidak berhasilnya neoliberalisme melandasi integra-
si ekonomi di tingkat regional menyiratkan suatu pesan yang sangat kuat bahwa
upaya penciptaan perekonomian berbasiskan peranan entitas pasar dan neoliber-
alisme tidak dapat membawa hasil yang positif jika tidak dilandasi oleh kesiapan
ekonomi internal negara yang ada di dalamnya. Kesiapan fundamental ekonomi,
eksistensi institusi dan regulasi yang kuat, adalah syarat mutlak yang harus dimil-
iki suatu negara secara matang sebelum menerapkan prinsip ekonomi pasar bebas.
Dengan kata lain, implementasi kebijakan neoliberalisme dalam berbagai bentuk
seperti liberalisasi, privatisasi dan deregulasi tidak dapat diterapkan secara prema-
tur. Dibutuhkan suatu upaya kesiapan yang matang dari suatu negara untuk meng-
hindari dampak negatif dari implementasi neoliberalisme. Dampak negatif tidak
hanya pada dimensi ekonomi tetapi juga sosial dan politik, sebagaimana yang di-
alami Indonesia di bawah program terapi kejut neoliberalisme IMF, menjadi bukti
yang sangat nyata bahwa kesiapan sebelum menuju liberalisasi adalah suatu hal
yang mutlak.
Pada dasarnya arah perkembangan perekonomian dunia ke arah prinsip pasar
bebas neoliberalisme bukanlah merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan
(inevitable). Kegagalan mekanisme pasar yang berujung pada kehancuran ekonomi
dan kemiskinan seharusnya menjadi landasan bagi lahirnya pilihan-pilihan kebi-
jakan ekonomi baru yang lepas dari peranan pasar bebas. Terdapat banyak alternatif
sistem ekonomi yang dapat dipilih dan diterapkan oleh suatu negara. Pasar bebas
bukanlah satu-satunya pilihan yang tidak dapat dihindari. Akan tetapi komitmen
kuat pemerintah Indonesia akan neoliberalisme yang menjelma ke dalam agenda
integrasi ekonomi kawasan Asia Tenggara tampaknya memperlihatkan suatu wujud
pandangan mengenai “ketidakterhindaran” dari neoliberalisme. Sayangnya, seman-

11
  Joseph Stiglitz, Making Globalization Work, 64.
12
  Joseph Stiglitz, Making Globalization Work, 64.
13
  Joseph Stiglitz, Making Globalization Work, 64.
14
  Joseph Stiglitz, Making Globalization Work, 64.
Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 9
gat dan komitmen kuat terhadap neoliberalisme ini dilakukan secara membabi-buta
tanpa diiringi oleh pertimbangan yang menyeluruh dan matang terhadap kesiapan
ekonomi dan antisipasi dampak negatif nyata dari perekonomian pasar bebas.
Dengan demikian, dalam menuju terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN,
di mana neoliberalisme dan kekuatan pasar bebas menjadi penggerak utamanya,
kesiapan perekonomian internal yang matang dari negara-negara Asia Tenggara
adalah bersifat imperatif. Terutama bagi Indonesia sebagai penggagas yang me-
miliki komitmen kuat terhadap integrasi ekonomi kawasan tersebut, seharusnya
fundamen ekonomi negeri dengan wilayah terluas di kawasan ini telah benar-benar
siap menuju integrasi. Terlebih lagi sebagai negara dengan populasi terbesar, dam-
pak negatif dari integrasi yang berlandaskan pada liberalisasi prematur akan secara
langsung dirasakan oleh rakyat yang jumlahnya lebih dari 220 juta jiwa.
Ironisnya, di balik optimisme dan komitmen yang kuat terhadap integrasi eko-
nomi kawasan, kondisi perekonomian Indonesia masih jauh dari kata siap secara
faktual dalam menghadapi terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Opti-
misme pemerintah Indonesia yang terlihat dalam pernyataan Menko Perekonomian
Boediono dan Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu kepada media massa
pada saat KTT ASEAN di Jakarta tahun 2007 lalu,15 tampaknya tidak berpijak
pada kondisi faktual kesiapan perekonomian Indonesia untuk menjadi bagian dari
Masyarakat Ekonomi ASEAN. Jika kita cermati secara mendalam, terlihat bahwa
pemerintah Indonesia pada kenyataannya tidak memiliki suatu peta jalan yang jelas
dalam meningkatkan kesiapan perekonomian Indonesia menghadapi integrasi re-
gional Asia Tenggara. Lebih-lebih jika kita bandingkan dengan performa perekono-
mian negara-negara ASEAN lainnya, terutama Singapura, Malaysia, Thailand dan
Vietnam, optimisme yang diindikasikan oleh pemerintah Indonesia benar-benar
harus dipertanyakan kembali dasar pijakannya.
Secara lebih terperinci akan kita telaah bagaimana realitas kesiapan dan upaya
persiapan yang dilakukan pemerintah Indonesia menuju integrasi ekonomi ASEAN.
Telaah kritis atas kondisi riil kesiapan ekonomi dan persiapan pemerintah Indonesia
ini difokuskan pada lima karakteristik dasar Masyarakat Ekonomi ASEAN ber-
dasarkan cetak biru yang disepakati, yaitu ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal
dan basis produksi, sebuah kawasan dengan daya saing tinggi, sebuah kawasan
dengan pembangunan ekonomi yang merata, dan sebuah kawasan yang terintegrasi
penuh dengan perekonomian global.
Telaah kritis pertama dilakukan mengenai kesiapan ekonomi dan strategi
pemerintah Indonesia dalam menghadapi pembentukan ASEAN sebagai sebuah
pasar tunggal dan basis produksi. Terdapat lima elemen inti dalam upaya pen-
ciptaan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi (pergerakan bebas arus
barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil), ditambah dengan inte-
grasi 12 sektor prioritas (produk berbasis pertanian; transportasi udara; otomotif;
e-ASEAN; elektronik; perikanan; pelayanan kesehatan; logistik; produk berbasis
logam; tekstil; pariwisata; dan produk berbasis kayu) dan sektor pangan, perta-
nian serta kehutanan. Pembentukan kawasan Asia Tenggara sebagai sebuah pasar
tunggal dan basis produksi ini bermakna dihapuskannya segala bentuk hambatan

  Boediono: Indonesia Siap Jadi Bagian AEC, http://www.antara.co.id/arc/2007/11/5/


15

boediono-indonesia-siap-jadi-bagian-aec/, diakses pada 19 Maret 2009, pukul 15:36 WIB.


10 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
bagi pergerakan barang dan jasa serta faktor produksi dalam melintasi batas-batas
negara-bangsa di Asia Tenggara. Bebasnya pergerakan aktifitas ekonomi dalam
integrasi sebuah kawasan, membutuhkan daya saing ekonomi yang tinggi untuk
menghindari dampak negatif menurunnya performa ekonomi dalam negeri karena
serbuan produk-produk dari negara lain yang berdaya saing lebih tinggi.
Namun demikian, pada kenyataannya produk barang Indonesia justru memi-
liki daya saing yang lemah, baik dari sisi kualitas ataupun harga. Khususnya di
bidang manufaktur, garmen dan tekstil, peringkat daya saing produk Indonesia di
dunia semakin lemah. Beragam kebijakan ekonomi pemerintah di bawah paradig-
ma neoliberalisme dalam bentuk pencabutan subsidi dan liberalisasi perdagangan,
semakin melemahkan kekuatan produk Indonesia dalam bersaing dengan produk-
produk asing. Dalam sektor tekstil misalnya, meningkatnya harga bahan bakar dan
tarif dasar listrik sebagai imbas dari kebijakan penghapusan subsidi menyebab-
kan industri tekstil dan produk tekstil Indonesia terbebani dengan mahalnya biaya
produksi di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah. Diperparah lagi dengan
serbuan produk tekstil dari Cina sebagai hasil dari dibukanya keran impor, sema-
kin menekan kondisi pengusaha tekstil dalam negeri. Belum lagi ditambah dengan
masuknya produk tekstil selundupan dari Cina, Korea dan Taiwan, menjadikan tek-
stil sebagai “sunset industry” yang kontribusinya terhadap PDB semakin menurun.
Bahkan produk batik yang merupakan produk andalan Indonesia, justru telah dapat
diproduksi oleh Cina dalam skala massal dan telah membanjiri pasar dalam neg-
eri.16 Tidak heran jika banyak dari industri tekstil Indonesia akhirnya gulung tikar,
dalam arti sama sekali menghentikan kegiatan produksinya.
Di sektor perdagangan jasa, laporan World Economic Forum (WEF) dalam
Global Competitiveness Report 2008-2009 yang mengelompokkan perekonomian
Indonesia dalam fase pertama, menunjukkan bagaimana sektor jasa Indonesia ka-
lah bersaing dengan Malaysia dan Thailand yang telah mengukuhkan diri dalam
fase kedua pembangunan.17 Terdapat tiga kelompok negara berdasarkan fase pem-
bangunan yang dilaporkan oleh WEF. Fase pertama, yaitu fase awal pembangunan,
di mana proses ekonomi sepenuhnya tergantung pada faktor-faktor keunggulan
komparatif yang ada atau didorong oleh faktor-faktor alam, seperti kekayaan sum-
ber daya alam, jumlah tenaga kerja dalam jumlah banyak dan murah (didominasi
oleh tenaga kerja tidak terdidik), iklim yang baik, lokasi yang strategis, dan faktor
alami lainnya.18 Pada fase kedua, pembangunan ekonomi didorong oleh efisiensi
dan produktifitas dalam pemakaian semua faktor-faktor alam tersebut. Dengan kata
lain, pada fase ini, teknologi dan pendidikan mulai berperan, karena untuk mening-
katkan efisiensi atau produktifitas diperlukan teknologi dan pekerja dengan pendi-
dikan atau keahlian tinggi. Fase terakhir, proses dan daya saing ekonomi sepenuh-

16
  Polemik Globalisasi (2) Kuncinya Peningkatan Daya Saing, http://news.okezone.com/
index.php/ReadStory/2008/10/06/217/151293/kuncinya-peningkatan-daya-saing, diakses
pada tanggal 19 Maret 2009, pukul 15:38 WIB.
17
  Tulus Tambunan, Daya Saing Global Indonesia 2008-2009 versi World Economic Forum
(WEF), http://www.kadin-indonesia.or.idenmimagesdokumenKADIN-98-2737-14042008.
pdf, diakses pada 15 Maret 2009, pukul 23:08 WIB.
18
  Tulus Tambunan, Daya Saing Global Indonesia 2008-2009 versi World Economic Forum
(WEF), http://www.kadin-indonesia.or.idenmimagesdokumenKADIN-98-2737-14042008.
pdf, diakses pada 15 Maret 2009, pukul 23:08 WIB.
Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 11
nya didorong oleh inovasi. Faktor-faktor keunggulan kompetitif, seperti teknologi,
sumber daya manusia berkualitas tinggi, ketersediaan infrastruktur yang baik,
iklim usaha yang kondusif, dan faktor inovatif lainnya, jauh lebih penting daripada
faktor-faktor keunggulan komparatif.19 Posisi Indonesia yang dikelompokkan pada
fase pembangunan pertama menunjukkan bagaimana sektor jasa di negeri ini belum
memainkan peranan yang penting, karena perekonomian masih didominasi oleh
faktor-faktor alami, di mana keberadaan tenaga kerja di sektor jasa yang terdidik
dan terampil masih sangat terbatas. Bahkan dalam peringkat berdasarkan ukuran
neoliberal ini sekalipun (WEF dan Global Competitiveness Report), sektor jasa
perekonomian Indonesia berada dalam keadaan yang tertinggal.
Salah satu elemen inti lainnya dalam penciptaan ASEAN sebagai pasar tunggal
dan basis produksi adalah kebebasan investasi. Bebasnya ruang gerak di kawasan
ini, diasumsikan dalam pandangan neoliberal, akan menyebabkan investasi berger-
ak ke tempat-tempat yang dinilai menjanjikan keuntungan. Dengan kata lain, in-
vestasi akan mengalir deras ke wilayah-wilayah dengan iklim investasi yang dinilai
baik. Ironisnya, di balik komitmen yang kuat menuju integrasi ekonomi ASEAN,
iklim investasi Indonesia justru masih berada di bawah peringkat negara-negara
lainnya di Asia Tenggara, terutama Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam dan
Filipina. Laporan Bank Dunia dalam Doing Business 2009, peringkat kemudahan
berinvestasi Indonesia berada pada posisi 129, jauh berada di bawah Singapura
(peringkat 1), Thailand (13), Malaysia (20), Brunei (88) dan Vietnam (92).20 Upaya
perbaikan iklim investasi yang dilakukan pemerintah Indonesia selama beberapa
tahun terakhir, untuk dapat bersaing dalam wilayah neoliberal ini juga tidak menun-
jukkan keseriusan yang optimal, sehingga perubahan peringkat kemudahan berin-
vestasi di Indonesia tidak mengalami perubahan yang berarti. Peringkat kemuda-
han berinvestasi dalam Doing Business 2009 mencerminkan kondisi iklim investasi
Indonesia per Juni 2008 yang menurun enam peringkat dari tahun 2007, di mana
Indonesia berada pada posisi 123 dari 178 negara. Pencapaian tahun 2007, yang
berhasil mendongkrak peringkat Indonesia dari 135 di tahun 2006 dan posisi 131
tahun 2005 tidak dapat dipertahankan Indonesia pada tahun 2008.21 Dalam kondisi
seperti ini, dapat kita bayangkan pada saat pasar tunggal ASEAN telah terwujud di
tahun 2015 nanti, jika iklim investasi Indonesia tidak juga mengalami perbaikan
dan masih tetap ketinggalan dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara
lainnya, tidak menutup kemungkinan jika nanti investor domestik sekalipun justru
akan memilih berinvestasi di negara-negara seperti Singapura, Thailand, Malay-
sia, Brunei, Filipina, bahkan Vietnam dan Kamboja. Dalam sebuah kawasan yang
terintegrasi di mana gerak investasi diberi kebebasan luas, kekhawatiran ini sangat
mungkin akan terealisasi.

19
  Tulus Tambunan, Daya Saing Global Indonesia 2008-2009 versi World Economic Forum
(WEF), http://www.kadin-indonesia.or.idenmimagesdokumenKADIN-98-2737-14042008.
pdf, diakses pada 15 Maret 2009, pukul 23:08 WIB.
20
  The World Bank, Doing Business 2009 (Washington: The World Bank, 2008), 85-146.
21
  Doing Business 2008: Indonesia is number two reformer in East Asia but still lags behind
major regional economies, http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/
EASTASIAPACIFICEXT/INDONESIAEXTN/0,,contentMDK:21486695~pagePK:14976
18~piPK:217854~theSitePK:226309,00.html, diakses pada tanggal 26 Maret 2006, pukul
22:25 WIB.
12 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
Kondisi yang serupa juga terjadi dalam menghadapi salah satu elemen inti pen-
ciptaan pasar tunggal ASEAN yaitu liberalisasi tenaga kerja terampil. Keberadaan
tenaga kerja terampil yang berkualitas dan dalam jumlah besar merupakan faktor
kunci yang menentukan daya saing sumber daya manusia suatu negara. Sementara
itu, terciptanya angkatan kerja yang terampil tidak terlepas dari kualitas pendidikan
yang diperoleh masyarakatnya. Ironisnya, berdasarkan data United Nations Devel-
opment Program (UNDP) mengenai peringkat negara-negara di dunia berdasarkan
daya saing kualitas sumber daya manusia atau dikenal dengan istilah Human De-
velopment Index (HDI) di tahun 2008, Indonesia berada di peringkat 109 dari 179
negara.22 Lagi-lagi daya saing sumber daya manusia Indonesia masih jauh berada di
bawah negara-negara ASEAN lainnya, bahkan peringkat di tahun 2008 ini mengal-
ami penurunan dari tahun sebelumnya di mana Indonesia berada di peringkat 107
dari 177 negara. Berdasarkan laporan HDI tahun 2008 tersebut, Brunei berada pada
posisi 27, disusul Singapura di peringkat 28, Malaysia 63 dan Thailand 88.23 Di-
karenakan kondisi daya saing SDM Indonesia yang rendah ini, tidak mengherankan
jika tenaga kerja asing yang terampil dan terdidik, merajai bursa kerja di sektor jasa
dan industri negeri ini.24 Selama lima bulan pertama tahun 2008 jumlah tenaga kerja
asing yang bekerja di Indonesia tercatat sebesar 21.267 orang.25 Sementara di tahun
2007 lalu, terdapat sebanyak 40.204 tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia,
sehingga diasumsikan terdapat 3.350 pekerja asing setiap bulannya.26 Pekerjaan di
sektor jasa yang paling diminati oleh tenaga kerja asing ini, terutama jasa konstruk-
si, pendidikan swasta, jasa hiburan dan jasa penunjang pertambangan.27 Memang
di satu sisi Indonesia mengirimkan juga tenaga kerja dalam jumlah besar ke luar
negeri, terutama di Asia Tenggara. Namun, tenaga kerja yang berasal dari Indone-
sia mayoritas adalah tenaga kerja tidak terampil yang memiliki daya saing rendah.
Sebaliknya, di sisi lain, lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja terampil di Indonesia
justru didominasi oleh tenaga kerja asing yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Yang lebih menyedihkan lagi, penyerapan tenaga kerja asing yang cukup besar di
Indonesia justru terjadi seiring dengan semakin tingginya angka pengangguran di
dalam negeri. Pada tahun 2006, angka pengangguran di Indonesia tercatat yang pal-
ing tinggi di Asia Tenggara, yaitu sebesar 10.5 persen.28
Ketidaksiapan ekonomi dan minimnya persiapan pemerintah Indonesia dalam
menghadapi terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN juga terlihat dari sektor

22
  Human Development Indices: A statistical update 2008 - HDI rankings, http://hdr.undp.
org/en/statistics/, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 17:57 WIB.
23
  Human Development Indices: A statistical update 2008 - HDI rankings, http://hdr.undp.
org/en/statistics/, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 17:57 WIB.
24
  Tenaga Kerja Asing di Indonesia Meningkat, http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-har-
ian/jasa-transportasi/1id63281.html, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 23:03 WIB.
25
  Tenaga Kerja Asing di Indonesia Meningkat, http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-har-
ian/jasa-transportasi/1id63281.html, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 23:03 WIB.
26
  Tenaga Kerja Asing di Indonesia Meningkat, http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-har-
ian/jasa-transportasi/1id63281.html, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 23:03 WIB.
27
  Tenaga Kerja Asing di Indonesia Meningkat, http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-har-
ian/jasa-transportasi/1id63281.html, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 23:03 WIB.
28
  ASEAN Finance and Macro-economic Surveillance Unit Database dan ASEAN Year-
book 2006.
Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 13
industri. Sektor industri hilir kelapa sawit misalnya, belum terlihat jelas adanya
strategi atau program nyata dari pemerintah untuk mengembangkan industri strat-
egis dalam perekonomian Indonesia ini. Suatu hal yang sangat disayangkan me-
mang, di satu sisi Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor minyak sawit
mentah (crude palm oil/CPO), namun di sisi lain, minyak sawit yang kita ekspor
tersebut diimpor kembali dalam bentuk produk-produk turunannya. Hal ini terjadi
dikarenakan tidak berkembangnya industri pengolahan minyak sawit dalam negeri
untuk dapat menghasilkan produk derivatif CPO yang merupakan bahan mentah
bagi banyak produk lainnya. Pengusaha menilai bahwa iklim usaha industri hilir
sawit belum mendukung mereka untuk melakukan pengolahan minyak sawit men-
tah.29 Keluhan dari pengusaha ini sayangnya tidak mendapat tanggapan yang berarti
dari pemerintah. Sampai saat ini, belum terlihat adanya langkah serius dari pemer-
intah, khususnya Kementerian Perindustrian, untuk mendorong pengembangan
industri pengolahan minyak sawit. Kondisi yang berbeda terjadi di Malaysia, neg-
eri tetangga ini telah mengolah produk turunan minyak sawit hingga 90 persen.30
Jangankan memiliki jaringan pasar produk turunan minyak sawit, pengembangan
industri ini pun masih sangat rendah.31 Terlebih lagi dalam menghadapi integrasi
ekonomi ASEAN di tahun 2015 nanti, jika tidak ingin tergantung pada produk tu-
runan minyak sawit dari Malaysia di tengah arus liberalisasi yang sangat deras,
pemerintah seharusnya telah menyusun suatu rencana strategis dan komprehensif
untuk mengembangkan industri pengolahan produk turunan minyak sawit nasional.
Lemahnya posisi Indonesia sektor pariwisata sekali lagi menunjukkan bagaima-
na ketidaksiapan dan kurangnya persiapan dari pemerintah menuju integrasi eko-
nomi kawasan. Dilihat dari indikator jumlah wisatawan yang berkunjung, harus
diakui Indonesia kalah jauh bersaing dengan Singapura, Malaysia dan Thailand.
Selama periode 2004-2007, jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia sebesar
19,3 juta masih jauh berada di bawah Malaysia, yang mencapai 69 juta wisatawan,
Thailand 47,5 juta, dan Singapura sebanyak 37,3 juta wisatawan.32 Bahkan jum-
lah wisatawan yang datang selama tiga tahun tersebut secara konsisten mengalami
penurunan, dari 5,3 juta di tahun 2004 menjadi 5 juta di tahun 2005, 4,9 juta tahun
2006 dan 4,1 juta wisatawan di tahun 2007.33 Kondisi ini mencerminkan renda-
hnya komitmen dan upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan daya saing
sektor pariwisata Indonesia. Minimnya anggaran untuk alokasi promosi pariwisata
semakin memperlihatkan kalahnya persiapan yang dilakukan pemerintah Indonesia
dibandingkan Singapura, Malaysia dan Thailand. Untuk mempromosikan pariwi-
satanya, Thailand mengalokasikan sedikitnya 200 juta dolar AS, Malaysia tidak

29
  Iklim Usaha Tak Dukung Industri Hilir: Perluasan Lahan Sawit Ditunda, http://cetak.
kompas.com/read/xml/2008/11/26/02133769/iklim.usaha.tak.dukung.industri.hilir, diakses
pada 19 Maret 2009, pukul 20:40 WIB.
30
  Potensi Industri Hilir Sawit Terabaikan: Dininabobokan Ekspor CPO, http://cetak.
kompas.com/read/xml/2008/11/25/00365371/potensi.industri.hilir.sawit.terabaikan, diakses
pada 19 Maret 2009, pukul 20:44 WIB
31
  Potensi Industri Hilir Sawit Terabaikan: Dininabobokan Ekspor CPO, http://cetak.
kompas.com/read/xml/2008/11/25/00365371/potensi.industri.hilir.sawit.terabaikan, diakses
pada 19 Maret 2009, pukul 20:44 WIB..
32
  ASEAN Tourism Database
33
  ASEAN Tourism Database
14 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
kurang dari 150 juta dolar AS, Singapura 60 juta dolar AS, sedangkan Indonesia
hanya sebesar 3 juta dolar AS.34 Belum lagi di tingkat kebijakan, banyak kebijakan
yang tumpang tindih sehingga membawa dampak negatif bagi pariwisata.35 Indo-
nesia memang lebih unggul dalam persoalan potensi, seperti luas wilayah, jumlah
penduduk dan keanekaragaman sosial budaya, namun negeri yang indah ini ma-
sih jauh tertinggal dari aspek inovasi produk.36 Produk yang ditawarkan Indonesia
sebatas sumber daya alam dan etnis serta budaya. Indonesia juga hanya mengan-
dalkan paket perjalanan alam dan wisata yang konvensional, sementara di negara-
negara pesaing telah mengembangkan unit-unit bisnis seperti makanan, minuman,
olahraga, hiburan, belanja, bahkan kesehatan dan gaya hidup.37
Kedua, melalui integrasi, ASEAN diproyeksikan akan menjadi sebuah kawasan
ekonomi dengan daya saing yang tinggi. Salah satu upaya yang dinyatakan dalam
cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah melalui kerjasama di bidang Hak
Kekayaan Intelektual (HKI). Sekali lagi, yang menjadi persoalan di sini adalah In-
donesia juga belum siap dalam mengelola HKI sebagai daya saing yang potensial.
Berdasarkan data paten Direktorat Jendral HKI Indonesia, selama 13 tahun (1993-
2006) permohonan paten lokal yang disetujui hanya sekitar 1,15% (212 paten)
dibandingkan dengan permohonan paten luar negeri yang mencapai 18.331 paten.
Jika dibandingkan dengan Thailand, Singapura dan Malaysia, dari aspek permo-
honan paten dalam negeri, Indonesia masih berada di posisi terakhir. Pada tahun
2000, Thailand terdapat sebanyak 615 paten dan desain lokal, Singapura 624, Ma-
laysia 322 dan Indonesia 228 paten dan desain lokal.38
Ketiga, salah satu aspek penting dalam perwujudan Masyarakat Ekonomi
ASEAN adalah penciptaan kawasan dengan pembangunan yang merata. Pemer-
ataan yang dimaksud dalam integrasi ekonomi Asia Tenggara ini lebih mengarah
kepada upaya untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar negara anggota
dalam wujud PDB dan pertumbuhan ekonomi yang setara. Sementara strategi pem-
erataan kesejahteraan rakyat dikembalikan kepada masing-masing negara anggota.
Sebuah langkah yang ditempuh untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang
merata ini adalah melalui percepatan pengembangan usaha kecil dan menengah
(UKM). Namun demikian, secara kritis dapat kita amati bahwa UKM di Indonesia
pada kenyataannya masih sulit bersaing dalam integrasi ekonomi ASEAN. Deputi

34
  Menuju Penguatan Kawasan ASEAN-Pariwisata Indonesia Harus Mampu Manfaatkan
Momentum, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/4/27/pa1.htm, diakses pada 19
Maret 2009, pukul 20:57 WIB
35
  Menuju Penguatan Kawasan ASEAN-Pariwisata Indonesia Harus Mampu Manfaatkan
Momentum, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/4/27/pa1.htm, diakses pada 19
Maret 2009, pukul 20:57 WIB
36
  Menuju Penguatan Kawasan ASEAN-Pariwisata Indonesia Harus Mampu Manfaatkan
Momentum, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/4/27/pa1.htm, diakses pada 19
Maret 2009, pukul 20:57 WIB
37
  Menuju Penguatan Kawasan ASEAN-Pariwisata Indonesia Harus Mampu Manfaatkan
Momentum, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/4/27/pa1.htm, diakses pada 19
Maret 2009, pukul 20:57 WIB.
38
  Menuju Penguatan Kawasan ASEAN-Pariwisata Indonesia Harus Mampu Manfaatkan
Momentum, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/4/27/pa1.htm, diakses pada 19
Maret 2009, pukul 20:57 WIB.
Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 15
Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan usaha
Kecil Menengah Indonesia mengakui bahwa khususnya UKM di sektor makanan
paling mengkhawatirkan mampu bersaing dengan negara ASEAN lainnya, teruta-
ma dengan Malaysia karena negeri jiran itu lebih siap untuk memproduksi makanan
dengan sertifikasi halal.39 Selain itu, teknologi yang dimiliki UKM sektor makanan
di Indonesia relatif masih tertinggal dengan negara lain, terutama Malaysia.40 Se-
mentara itu, 40 persen UKM di Indonesia didominasi oleh unit-unit usaha yang
bergerak di bidang makanan. Langkah-langkah yang ditempuh oleh pemerintah un-
tuk meningkatkan daya saing UKM juga masih jauh dari yang diharapkan. Langkah
yang ditempuh pemerintah melalui Kementerian UKM adalah dengan memberikan
bantuan dana ataupun alat kepada pengusaha kecil dan menengah sektor makanan
yang tergabung dalam koperasi yang memenuhi kategori pemerintah. Dan sejauh
ini baru ada 10 koperasi yang mendapatkan bantuan hanya sebesar masing-masing
Rp. 50 juta.41 Ditambah lagi dengan banyak hambatan lainnya dalam pengemban-
gan UKM. Seperti halnya otonomi daerah juga dapat menghambat pengembangan
UKM, dikarenakan berbagai fasilitas yang diserahkan pusat ke daerah justru tidak
diberdayakan secaya optimal oleh pemerintah daerah.42
Keempat, dalam proses menuju terintegrasinya ASEAN ke dalam perekonomian
global, langkah-langkah diambil untuk meningkatkan partisipasi ASEAN dalam ja-
ringan pasokan global. Jika kita melihat karakteristik ekspor Indonesia yang masih
didominasi oleh produk-produk keunggulan komparatif yang bersifat alamiah, tam-
paknya negeri ini masih belum dapat memainkan peranan penting dalam pereko-
nomian global. Perekonomian Indonesia yang masih berada dalam kelompok fase
pembangunan pertama akan sangat sulit bersaing dalam sebuah kawasan ekonomi
yang terintegrasi secara mendalam dengan ekonomi global. Terlebih lagi, daya sa-
ing produk Indonesia yang masih lemah, akan menjadi hambatan tersendiri untuk
berperan aktif dalam jaringan pasokan global, di mana standar-standar produksi dan
distrbusi internasional mensyaratkan kualifikasi yang sangat tinggi.
Demikianlah wujud ketidaksiapan perekonomian dan kurangnya persiapan
pemerintah Indonesia dalam menghadapi terwujudnya Masyarakat Ekonomi
ASEAN. Seharusnya, pemerintah Indonesia melakukan percepatan kesiapan eko-
nomi menuju integrasi ekonomi regional berlandaskan neoliberalisme dan prinsip
pasar bebas, yang justru dapat mendatangkan petaka ekonomi yang sangat buruk
jika dilakukan secara prematur dan cepat. Akan tetapi, pada kenyataannya pemer-
intah masih terdapat banyak sekali persoalan yang melanda perekonomian Indo-
nesia sehingga melemahkan daya saing dan menyimbolkan ketidaksiapan menuju
integrasi regional. Ditambah lagi dengan minimnya langkah-langkah dari pemer-
intah untuk dapat dengan segera meningkatkan kesiapan ekonomi negeri ini dalam
rangka menghindari dampak-dampak negatif yang melekat di dalam tubuh sistem

39
  UKM Makanan Sulit Bersaing di Pasar Tunggal ASEAN, http://www.sinarharapan.co.id/
berita/0609/02/eko08.html, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 13:03 WIB.
40
  UKM Makanan Sulit Bersaing di Pasar Tunggal ASEAN, http://www.sinarharapan.co.id/
berita/0609/02/eko08.html, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 13:03 WIB.
41
  UKM Makanan Sulit Bersaing di Pasar Tunggal ASEAN, http://www.sinarharapan.co.id/
berita/0609/02/eko08.html, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 13:03 WIB.
42
  UKM Makanan Sulit Bersaing di Pasar Tunggal ASEAN, http://www.sinarharapan.co.id/
berita/0609/02/eko08.html, diakses pada 26 Maret 2009, pukul 13:03 WIB.
16 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
pasar bebas.
Karenanya, upaya-upaya untuk mencari faktor-faktor yang melatarbelakangi
minimnya persiapan yang ditempuh pemerintah Indonesia dalam menghadapi in-
tegrasi ekonomi kawasan Asia Tenggara menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Langkah-langkah untuk menyelami akar persoalan di balik lemahnya persiapan ini
dapat membantu menyingkapkan celah-celah kelemahan yang mendasari sebagai
landasan untuk perbaikan di masa datang. Dengan mengidentifikasi penyebab keti-
daksiapan tersebut, waktu yang tersisa menjelang 2015 diharapkan dapat benar-
benar dimanfaatkan untuk melakukan percepatan peningkatan kesiapan ekonomi
demi menyelamatkan bangsa ini dari kegagalan pasar yang menjadi landasan pem-
bentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Gagasan utama yang melandasi penulisan buku ini adalah adanya perbenturan
antara idealitas dan realitas yang terkait dengan kesiapan perekonomian Indonesia
menuju integrasi ekonomi kawasan dalam bentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Pada tataran idealitas, fakta empiris kegagalan integrasi ekonomi di kawasan lain
yang berdasarkan pada paradigma neoliberalisme dan prinsip pasar bebas memberi-
kan peringatan kepada kita bahwa dibutuhkan kesiapan ekonomi yang benar-benar
matang untuk dapat berhasil di dalamnya. Namun sebaliknya, pada tataran realitas,
secara faktual, perekonomian Indonesia justru tidak menunjukkan adanya kesia-
pan yang matang dalam menghadapi integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara
ini. Kondisi ini diperparah lagi dengan minimnya langkah-langkah atau bahkan
program yang ditempuh pemerintah Indonesia untuk lebih mempersiapkan pereko-
nomian negeri menuju terciptanya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sebagai hasil-
nya, lahirlah sebuah pertanyaan besar yang kemudian menjadi permasalahan yang
diulas dalam buku ini. Mengapa pemerintah Indonesia selama periode 2003-2008
tidak memiliki langkah-langkah yang berarti untuk mempersiapkan perekonomian
Indonesia menuju terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN di tahun 2015, se-
mentara fakta membuktikan bahwa kesiapan ekonomi adalah mutlak diperlukan
dalam proses integrasi ekonomi kawasan yang berlandaskan pada neoliberalisme
dan prinsip pasar bebas?

Teori Kritis dan Pendekatan Gramscian-Foucauldian


Upaya analisis untuk membongkar faktor-faktor di balik ketidaksiapan dan
minimnya langkah pemerintah Indonesia menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN
dalam buku ini dilandaskan pada Teori Kritis (Critical Theory), sebagau salah
satu paradigma penting dalam Ilmu Hubungan Internasional. Teori kritis mulai
berpengaruh dalam Hubungan Internasional terutama sejak pertengahan 1980-an.
Pendekatan ini membuat kita untuk secara mendalam memikirkan praktik kehidu-
pan sehari-hari dan hubungan di antara ‘teori’ dengan cara kita bertindak.43 Pan-
dangan utama teori kritis, mungkin secara ringkas dapat disarikan dalam sebuah
perkataan Karl Marx yang terkenal mengenai tugas seorang filsuf tidak hanya
untuk menggambarkan dunia, tetapi yang penting adalah bagaimana merubahn-

  Jill Steans & Lloyd Pettiford, International Relations: Perspectives and Themes (Lon-
43

don: Pearson Education, 2001), 101.


Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 17
ya. Dalam pandangan teori kritis, kaum intelektual terlibat dalam kegiatan mem-
44

produksi pengetahuan atau kebenaran mengenai dunia, baik untuk mendukung


hubungan sosial yang dominan atau untuk menantang, bahkan menggantikannya.
Termasuk di dalamnya institusi sosial dan praktik-praktik yang menciptakan serta
melestarikan ketidakadilan. Dalam konteks ini, pengetahuan adalah secara inheren
bersifat sosial dan politik.45
Hubungan erat antara teori atau gagasan dengan praktik sosial yang aktual
merupakan persoalan penting dalam pandangan teori kritis. Hal ini terjadi karena
adanya sebuah kontradiksi antara gagasan dominan mengenai sifat dasar sistem
sosial dan ekonomi dengan kondisi aktual atau material kehidupan manusia. Dalam
sudut pandang kelas kapitalis, liberalisme benar-benar dapat menggambarkan re-
alitas kehidupan mereka.46 Namun demikian, bagi kelas pekerja yang termiskinkan,
realitas kehidupan sehari-hari mereka sangat berbeda, di mana mereka lebih suka
menggunakan istilah opresif, atau eksploitatif dan melihat diri mereka hanya memi-
liki sedikit pilihan dan kesempatan untuk mengendalikan kehidupan mereka send-
iri.47 Dengan demikian, liberalisme tidak memberikan gambaran mengenai sebuah
kebenaran akan sifat dasar manusia dan masyarakat, gagasan ini hanya merefleksi-
kan sudut pandang dari kelas yang dominan.48
Ciri utama dari perspektif teori kritis dalam disiplin hubungan internasional
dapat disederhanakan ke dalam enam asumsi. Pertama, dunia seharusnya dipahami
terutama dalam konteks kekuatan sosial dan ekonomi utama yang dihasilkan oleh
kapitalisme, yang saat ini memiliki ruang lingkup internasional, bahkan global.
Kedua, negara dan institusi juga harus dipahami dalam konteks fungsi yang dimain-
kannya dalam mendukung kapitalisme global. Ketiga, sementara dunia “nyata” itu
ada, pemahaman kita tentang dunia selalu dimediasi melalui gagasan, konsep dan
teori yang merupakan produk dari pemikiran dan refleksi kritis. Keempat, semua
pengetahuan bersifat ideologis, yaitu merupakan sebuah refleksi nilai-nilai, gaga-
san, dan terutama kepentungan dari kelompok sosial tertentu. Kelima, budaya dan
ideologi merupakan suatu kekuatan yang penting yang bekerja untuk mendukung
atau menentang tatanan ekonomi dan sosial yang berlaku. Keenam, hubungan inter-
nasional atau politik internasional, terdiri dari suatu pertentang di antara beragam
kelompok dan pergerakan sosial, atau kekuatan sosial, yang di satu sisi memiliki
kepentingan untuk mempertahankan status quo, sementara di sisi lain berupaya
melakukan perlawanan untuk mengubahnya.49
Dengan demikian, pendekatan teori kritis memandang bahwa gagasan menge-
nai integrasi ekonomi kawasan berlandaskan pada liberalisme tidak terlepas dari
kepentingan kelompok-kelompok sosial dan ekonomi tertentu, terutama kelas
pemilik modal. Sementara peranan pemerintah memainkan fungsi tertentu untuk
mendukung keberadaan sistem kapitalis di tingkat kawasan. Beragam upaya lib-
eralisasi ekonomi yang digalang pemerintah Indonesia di tingkat ASEAN dapat
dipahami sebagai suatu upaya untuk melestarikan eksistensi kapitalisme regional.

44
  Jill Steans & Lloyd Pettiford, International Relations, 101.
45
  Jill Steans & Lloyd Pettiford, International Relations, 101.
46
  Jill Steans & Lloyd Pettiford, International Relations, 102.
47
  Jill Steans & Lloyd Pettiford, International Relations, 102.
48
  Jill Steans & Lloyd Pettiford, International Relations, 102.
49
  Jill Steans & Lloyd Pettiford, International Relations, 102.
18 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
Dan minimnya persiapan yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi integrasi
ekonomi regional dipengaruhi oleh gagasan liberalisme yang diyakini merupakan
gambaran dari realitas atau kebenaran akan keadaan sosial dan ekonomi, sehingga
muncul optimisme di kalangan pemerintah akan kesiapan ekonomi Indonesia dalam
menghadapi terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN di tahun 2015 nanti.
Secara lebih spesifik, analisis dalam buku ini menggunakan pendekatan Grams-
cian-Foucauldian, sebuah model analisa yang dikembangkan oleh Richard Peet,
dalam bukunya yang berjudul The Unholy Trinity: the IMF, World Bank and WTO.
Pendekatan ini mengkombinasikan konsep hegemoni dan civil society Antonio
Gramsci dan konsep diskursus Michel Foucault, menunjukkan bahwa kebijakan
ekonomi tidak berasal dari kemampuan ilmu pengetahuan untuk mencerminkan
struktur realitas sosial yang pasti di dalam sebuah struktur pernyataan kebenaran
yang disebut sebagai teori pasti. Sebaliknya, kebijakan diproduksi secara sosial
oleh sebuah komunitas ahli yang menyepakati, lebih melalui konvensi atau per-
suasi politik ketimbang latar belakang faktual, untuk menghasilkan sebuah tipe pe-
mikiran dan perkataan tertentu yang bersifat ‘rasional’.50
Civil society atau masyarakat sipil, menurut Gramsci adalah sebuah sistem so-
sial dan institusi budaya (keluarga, gereja, sekolah, dll.) yang berada di luar dan
paralel terhadap negara di dalam sebuah konsepsi luas mengenai ‘superstruktur
politik dan sipil’. Gramsci meyakini bahwa hegemoni ideologi terbentuk terutama
oleh masyarakat sipil ketimbang institusi negara. Dalam formulasi ini, hegemoni
merupakan sebuah konsepsi tentang realitas, disebarluaskan oleh institusi sipil,
yang menginformasikan nilai-nilai, kebiasaan dan prinsip-prinsip spiritual, yang
membentuk konsensus terhadap status quo di dalam semua strata masyarakat.
Hegemoni merupakan sebuah pandangan terhadap dunia, yang ketika diinternalisa-
sikan menjadi ‘pemikiran yang masuk akal’ (common sense).51 Termasuk di dalam-
nya formasi perilaku ekonomi di dalam masyarakat. Dengan demikian, Gramsci
memandang rasionalitas ekonomi memenuhi kebutuhan materi dengan membentuk
sebuah kompleks keyakinan, dari mana tujuan-tujuan kongkrit diajukan kepada ke-
sadaran kolektif. 52
Berdasarkan konsep Gramsci ini, Richard Peet kemudian memindahkan anali-
sis mengenai kebijakan ekonomi dari level ideologis (produksi sosio-politik men-
genai apa yang dipikirkan manusia) ke level hegemoni (produksi sosio-kultural
mengenai cara manusia berpikir). Wilayah kebijakan terkait erat dengan sistem
produksi pemikiran ekonomi ‘yang baik’ yang terformalisasikan secara partiku-
lar. Ini merupakan sebuah area produksi kultural-politik yang dihuni oleh individu
yang berpengalaman dan terlatih (para ahli) dan institusi yang mapan dan ditopang
oleh pendanaan dalam jumlah besar, departemen pemerintah, think tank, lembaga-
lembaga yang ditopang kemapanan finansial dan sejenisnya.53
Model analisa ini kemudian dikombinasikan lagi dengan konsep diskursus
(discourse) Michel Foucault untuk menganalisa bagaimana proses hegemoni di-

50
  Richard Peet, Unholy Trinity: the IMF, World Bank and WTO 1st Edition (London: Zed
Books, 2003), 16.
51
  Richard Peet, Unholy Trinity, 16.
52
  Antonio Gramsci, Selection from the Prison Notebooks (New York: International Pub-
lisher, 1971), 412-413.
53
  Richard Peet, Unholy Trinity, 16.
Indonesia Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 19
terjemahkan ke dalam praktik. Foucault melihat bahwa ilmu pengetahuan manusia
sebagai sebuah sistem diskursus yang berdasarkan aturan. ���������������������
Diskursus adalah per-
nyataan yang terperinci, rasional dan terorganisasi, yang dibuat oleh para ahli.54
Foucault menemukan sebuah tipe yang tidak diperhatikan sebelumnya mengenai
fungsi lingusitik, ”serious speech act”, atau pernyataan dengan prosedur valida-
si yang dibuat di dalam komunitas para ahli. Pada satu titik, tindakan berbicara
(speech act) ini menunjukkan keteraturan sebagai apa yang disebut Foucault seba-
gai formasi diskursif. Formasi ini memiliki sistem aturan internal yang menentukan
apa yang dikatakan dan mengenai apa. Diskursus memiliki struktur sistematis yang
dapat dianalisa secara arkeologios (mengidentifikasi unsur-unsur dan relasi utama
yang membentuk pernyataan secara keseluruhan) dan genealogis (bagaimana dis-
kursus dibentuk oleh institusi kekuasaan). Dengan demikian, diskursus merupakan
sistem pernyataan yang rasional dan terorganisasi, ditopang oleh prosedur validasi,
dan diikat ke dalam formasi oleh komunitas para ahli.55
Ketika klaim atas rasionalitas itu telah diterima secara luas, dan ketika sekelom-
pok ahli dianggap membicarakan kebenaran, diskusi selanjutnya akan terbatas pada
topik ekonomi dalam cakupan yang sempit, berpikir dengan sekumpulan teori yang
telah ditentukan, menggunakan sekumpulan istilah yang ditentukan. Di dalam sis-
tem pemikiran yang sempit ini, analisis formal menggunakan sebuah kode intelek-
tual yang memperinci kategori-kategori dan istilah-istilah yang disetujui. Secara
sederhana menggunakan istilah-istilah ini membatasi apa yang dapat dipikirkan,
dikatakan dan dibayangkan. Karenanya, kedalaman dari sebuah hegemoni terletak
di dalam kemampuan dari sebuah formasi diskursif untuk memperinci parameter
praktis, realistis dan masuk akal di antara sekelompok teorisi, praktisi politik dan
pembuat kebijakan.56
Menurut Richard Peet, bagian penting dari pembatasan pemikiran dan ekspresi
ini terletak pada produksi institusional mengenai apa yang dapat disebut sebagai
sebuah ’praktikalitas’, melalui mana kita memaknai sebuah pemikiran sosial dari
isi dan batasan pragmatis. Terkait dengan ranah kebijakan, hal ini merupakan se-
buah bentuk kebijakan yang tepat sebagai respon atas situasi ekonomi tertentu yang
berasal dari sekumpulan teori dan cakupan alternatif yang terbatas yang dirancang
secara sosial dan institusional dapat dipraktikkan (praktis). Posisi praktis ini diben-
tuk berdasarkan kesepakatan di antara para ahli yang menentukan suatu keadaan
yang tidak terhindarkan (inevitability) dan optimalitas, tergantung daripada tingkat
keparahan dari krisis yang dihadapi.57 Keadaan inilah yang sangat sering dihada-
pi negara berkembang ketika berhadapan dengan kondisionalitas yang diajukan
IMF, dengan kondisi di mana tidak terdapat alternatif lain, sehingga tidak dapat
terhindarkan. Dan ketika berhadapan dengan kegagalan dari kebijakan kondisiona-
litas tersebut, maka kondisi yang mendominasi adalah optimalitas, bahwa apa yang
telah dilaksanakan adalah yang terbaik dan maksimal. Keberhasilan dari hegemoni
ini terletak pada strategi untuk mengkonversikan politik, yang merepresentasikan
kepentingan kelas tertentu, dan terdiri dari sekumpulan opini esensial, ke dalam
sebuah praktikalitas yang berasal dari teori dan yang tampak mengekspresikan ke-

54
  Michel Foucault, The Archaeology of Knowledge (New York: Harper and Row, 1972).
55
  Richard Peet, Unholy Trinity, 16.
56
  Richard Peet, Unholy Trinity, 17.
57
  Richard Peet, Unholy Trinity, 17.
20 Hegemoni dan Diskursus Neoliberalisme
baikan bersama ketimbang kepentingan sepihak.58
Dengan kata lain, model analisa Gramscian-Foucauldian yang dikembangkan
Richard Peet, menunjukkan bahwa hegemoni yang diproduksi secara kultural-
politik oleh suatu komunitas tertentu membentuk diskursus yang diformasikan
ke dalam batasan-batasan spesifik mengenai tindakan dan pemikiran sehingga
menciptakan praktik dalam bentuk kebijakan yang ’dianggap’ baik, dalam suatu
kondisi inevitabilitas dan optimalitas. Optimisme pemerintah Indonesia akan ke-
siapan perekonomian negeri ini dalam menghadapi integrasi ekonomi ASEAN,
mempengaruhi minimnya upaya penyiapan perekonomian Indonesia secara lebih
matang dalam sektor-sektor yang sangat penting. Keyakinan pemerintah indonesia
akan ideologi neoliberalisme mencerminkan eksistensi hegemoni yang melahirkan
praktik-praktik kebijakan yang bertumpu pada peranan entitas pasar, sehingga pe-
merintah tidak merasa perlu memainkan peranan yang strategis dalam mendorong
kemajuan ekonomi, dengan asumsi melalui liberalisasi daya saing ekonomi akan
berkembang dengan sendirinya melalui mekanisme pasar yang bekerja tanpa ter-
lihat.
Hegemoni dan diskursus neoliberalisme berada di balik langkah pemerintah
Indonesia menuju terwujudnya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Secara sistematis,
analisis yang membongkar kekuatan hegemoni dan diskursus neoliberal akan di-
tuangkan pada bab lima. Bagian kedua dari buku ini mengulas secara historis je-
jak liberalisasi perekonomian negara-negara berkembang beserta dampak-dampak
negatif yang dihasilkannya. Pada bagian ketiga diuraikan secara kritis dan spesifik
prinsip-prinsip neoliberal yang menjadi roh dalam agenda pembentukan Masyara-
kat Ekonomi ASEAN. Realitas ketidaksiapan dan minimnya langkah pemerintah
Indonesia untuk mempersiapkan perekonomian Indonesia secara sunstantif dan
fundamental diungkapkan pada bagian yang keempat dari buku ini.

58
  Richard Peet, Unholy Trinity, 18.