Anda di halaman 1dari 19

BAB X

PERENCANAAN SABUK (BELT) DAN RANTAI (CHAIN)

Elemen mesin yang lugas, seperti sabuk, kabel, atau rantai, dipakai untuk
memindahkan daya pada jarak yang terhitung panjang. Kalau elemen ini dipakai, mereka
biasanya menggantikan roda gigi, poros, dan bantalan atau alat pemindah daya yang
sejenis. Jadi mereka menyederhanakan suatu mesin dan karena itu adalah merupakan
elemen penekan biaya yang penting.
Sebagai tambahan, karena elemen ini adalah elastis dan biasanya panjang, mereka
memainkan peranan yang penting dalam menyerap beban-beban kejut dan dalam meredam
pengaruh gaya getaran. Walaupun keuntungan ini penting sejauh menyangkut umur dari
mesin penggerak, tetapi elemen penekanan biaya adalah faktor utama yang umum di dalam
pemilihan alat pemindah daya ini.

A. JENIS SABUK
Biasanya, sabuk dipakai untuk memindahkan daya antara dua poros yang sejajar.
Poros-poros harus terpisah pada suatu jarak minimum tertentu, yang tergantung pada jenis
pemakaian sabuk, agar bekerja secara efisien. Sabuk mempunyai karakteristik sebagai
berikut :
• Mereka bisa dipakai untuk jarak sumbu yang panjang.
• Karena slip dan gerakan sabuk yang lambat, perbandingan kecepatan sudut
antara kedua poros tidak konstan ataupun sama dengan perbandingan diameter puli.
• Bila menggunakan sabuk yang datar, aksi klos bisa didapat dengan menggeser
sabuk dari puli yang bebas ke puli yang ketat.
• Bila sabuk V dipakai, beberapa variasi dalam perbandingan kecepatan sudut
bisa didapat dengan menggunakan puli kecil dengan sisi yang dibebani pegas.
Diameter puli kemudian merupakan fungsi dari tegangan sabuk dan dapat diubah-
ubah dengan merubah jarak sumbunya.
• Sedikit penyetelan atas jarak sumbu biasanya diperlukan sewaktu sabuk sedang
dipakai.
• Dengan menggunakan puli yang bertingkat, suatu alat pengubah perbandingan
kecepatan yang ekonomis bisa didapat.
Sabuk datar(flat belt) umumnya terbuat dari kulit yang disamak atau kain yang
diresapi dengan karet. Sabuk datar yang modern terdiri dari inti elastis yang kuat, seperti

X-1
benang baja atau nilon, untuk menerima beban tarik dan memindahkan daya,digabung
dengan selubung yang lugas atau memberigesekan antara sabuk dan puli. Sabuk datar
sangat efisien untuk kecepatan tinggi, tidak bising, dapat memindahkan jumlah daya yang
besar pada jarak sumbu yang panjang, tidak memerlukan puli yang besar, dan dapat
memindahkan daya antara puli pada posisi yang tegak lurus satu sama lain. Sabuk datar
khususnya sangat berguna untuk instalasi penggerak dalam kelompok karena aksi klos
yang bisa didapat tersebut. Sabuk rata meneruskan momen antara dua poros hingga 10 m,
dengan perbandingan putaran 1/1 sampai 6/1.
Sabuk V (V belt) terbuat dari kain dan benang, biasanya katun, rayon, atau nylon,
dan diresapi dengan karet. Berbeda dengan sabuk datar, sabuk V dipakai dengan ikatan
yang lebih kecil dan pada jarak sumbu yang lebih pendek. Sabuk V sedikit kurang efisien
bila dibandingkan dengan sabuk datar, tetapi beberapa diantaranya dapat dipakai pada
ikatan tunggal, sehingga membuat suatu kelipatan penggerakan. Sabuk ini tak berujung,
yang menghindarkan sambungan seperti yang pakai pada sabuk datar. Sabuk ini dapat
dipakai hingga jarak 5 m dengan perbandingan putaran 1/1 sampai 7/1.
Sabuk V yang bermata rantai(link V belt) terbuat dari sejumlah kain berkaret yang
bermata yang digabungkan dengan alat pengikat logam yang sesuai. Jenis sabuk ini bisa
dilepas pada setiap mata rantai dan panjangnya bisa diatur dengan melepas beberapa mata
rantai. Ini menghindarkan kebutuhan akan penyetelan sumber putaran dan
menyederhanakan pemasangan. Ini memungkinkan untuk mengubah tegangan untuk
mendapatkan efisiensi yang maksimum dan juga mengurangi jumlah ukuran persediaan
sabuk yang harus disimpan. Sabuk ini jarak pusatnya sampai 2 m dan meneruskan putaran
secara tepat dengan perbandingan 1/1 sampai 6/1.
Sabuk pengatur waktu (timing belt) terbuat dari kain berkaret dan kawat baja, yang
mempunyai gigi-gigi yang cocok dengan alur yang dibuat disekeliling puli. Sabuk pengatur
waktu tidak akan molor atau slip dan karena itu akan memindahkan daya pada
perbandingan kecepatan sudut yang konstan. Kenyataan bahwa sabuk tersebut bergigi
memberi beberapa keuntungan dibandingkan dengan penyabukan yang biasa. Salah satu
diantaranya adalah tidak diperlukannya tegangan awal, sehingga penggerak yang
sumbunya tetap bisa dipakai. Yang lain adalah terhindarnya pembatasan kecepatan ; gigi-
gigi memberi kemungkinan untuk bekerja hampir pada semua kecepatan, lambat atau
cepat.kerugian yang pertama adalah biaya sabuk, perlunya membuat alur pada pulli, dan
kehadiran fluktuasi dinamis yang terjadi pada frekwensi pertautan sabuk gigi.

X-2
1. Sabuk Penggerak Datar
Sabuk datar yang modern terdiri dari inti elastis yang kuat yang dikelilingi oleh
kulit bersepuh chrom atau suatu elastomer; sabuk-sabuk ini mempunyai keuntungan yang
jelas dibanding dengan gerakan beroda-gigi atau sabuk-V. Gerakan sabuk datar
mempunyai efisiensi kira-kira 98 %, yang berarti kira-kira sama seperti roda gigi (efisien
sabuk V berkisar 70 – 96 %). Gerakkan sabuk datar lebih tenang dan menyerap lebih
banyak getaran puntir dari sistem dibanding roda gigi maupun sabuk V.
Gambar 10.1 menggambarkan sabuk yang terbuka dan bersilang dan memberi
persamaan untuk sudut persinggungan θ dan panjang sabuk total L pada setiap kasus.
Kalau susunan sabuk terbuka horizontal yang dipakai, penggerak harus berputar
sedemikian rupa agar sisi yang kendor di sebelah atas. Ini memberi sudut kontak yang
lebih besar pada kedua puli. Kalau penggeraknya vertikal atau jarak pusatnya pendek,
sudut kontak yang lebih besar bisa didapat dengan menggunakan puli penegang yang
menganggur.
Firbank menjelaskan teori sabuk penggerak datar dengan cara berikut. Perubahan
tegangan tarik sabuk karena gaya gesekan antara sabuk dan puli akan menyebabkan sabuk
memanjang atau mengerut dan bergerak relatif terhadap permukaan puli. Gerakan ini
disebabkan oleh gerakan lambat elastis (elastic creep) dan dikaitkan dengan gesekan
karena luncuran sebagai lawan dari gesekan statis. Aksi pada puli penggerak, melalui
bagian sudut kontak yang sebetulnya memindahkan daya, adalah sedemikian rupa sehingga
sabuk bergerak lebih lambat dari kecepatan puli karena gerakan lambat elastis tersebut.
Sudut kontak tersebut membentuk busur efektif (effective arc) melalui mana daya
dipindahkan, dan busur menganggur (iddle arc). Untuk puli penggerak sabuk mula-mula
menyinggung puli dengan gaya tarik sisi tegang (tight-side tention) F1 dan kecepatan V1,
yang mana adalah sama dengan kecepatan permukaan puli. Sabuk kemudian melewati
busur menganggur tanpa perubahan F1 dan V1. Kemudian persinggungan gerakan lamban
atau luncuran mulai, dan tegangan sabuk berubah sesuai dengan gaya gesek. Di ujung
busur efektif sabuk meninggalkan puli dengan suatu gaya tarik sisi kendor (loose side
tention) F2 dan kecepatan yang berkurang V2.
Firbank mengamati sejumlah daya yang lumayan dipindahkan oleh gesekan statis
sebagai lawan dari gesekan luncuran. Koefisien gesek untuk sabuk yang mempunyai inti
dari nilon dan permukaan dari kulit khususnya adalah 0,7, tetapi hal itu bisa dinaikkan
menjadi 0,9 dengan menggunakan pengerjaan akhir khusus pada permukaannya. Bila gaya
sentrifugal pada sabuk dapat diabaikan, maka hubungan antara gaya tarik sisi tegang F1
dan gaya tarik sisi kendor F2 adalah :

X-3
Gambar 10.1. Panjang sabuk dan sudut kontak sabuk terbuka dan menyilang

F1
= ef θ (10.1)
F2
Dimana f adalah koefisien gesekan adalah θ adalah sudut kontak. Daya yang dipindahkan
adalah :
P = (F1 – F2) V (10.2)
Atau,
( F1 − F2 )V
H= (10.3)
33 .000
Dimana tegangan F adalah dalam pound dan kecepatan dalam feet per menit.
Gaya sentrifugal diabaikan dalam menulis pers. (10.1). Gaya ini diberikan oleh
persamaan :
Fc = mv2 (10.4)
Dimana m adalah massa sabuk per satuan panjang, dan v adalah dalam satuan panjang per
detik. Bila gaya sentrifugal disertakan, Pers. (10-1) menjadi :
F1 − FC
=ef θ (10.5)
F2 − FC
Perbandingan tegangan bersih haruslah di bawah ef θ, karena ini adalah titik sisip
yang potensial dari permukaan sabuk ikatan. Sewaktu sabuk dipasang, suatu gaya tarik
awal F1 terjadi pada sabuk. Sekarang bayangkan bahwa setiap segmen sabuk
meninggalkan ikatan dibawah suatu gaya tarik awal F1. sementara daya diinginkan, ikatan

X-4
berputar, meregangkan sisi bergaya tarik tinggi dan mengkerutkan sisi yang bergaya tarik
rendah, jadi :
F1 = Fi + ∆F (a)
F2 = Fi + ∆F (b)
Penyelesaian untuk mendapatkan gaya tarik awal, memberi :
F1 + F2
Fi = (10.6)
2
Pentingnya pers. (10.6) adalah bahwa ia betul-betul menjelaskan gaya tarik sabuk
maksimum. Kalau tak ada daya yang dipindahkan, gaya tarik sabuk di kedua sisi adalah
sama dan sehingga F1 = F2 = Fi . Kalau sekarang sedikit beban ditambahkan, ada daya
yang dipindahkan dan Fi naik sebesar ∆F dan F2 turun dengan besar yang sama. Kalau
beban ditambah terus, sehingga akhirnya F2 akan menjadi nol karena sabuk tak sanggup
mendukung gaya tahan. Pada titik ini F1 = 2 Fi yaitu gaya tarik sabuk maksimum. Jadi,
satu-satunya cara untuk memindahkan daya yang lebih besar adalah menaikkan gaya tarik
awal dari sabuk.
Berdasarkan alasan ini, suatu sabuk penggerak datar direncanakan dengan
membatasi gaya tarik maksimum F1 sesuai dengan tegangan tarik maksimum yang
diizinkan yang sudah tertentu dari bahan sabuk tersebut. Harga-harga tersebut terdaftar
pada tabel 10.1 yang diterima dari berbagai sumber dan dapat dipakai sebagai penuntun
kasar untuk mencari ukuran sabuk dengan membatasi tegangan tarik. Bila pers. (10.6)
untuk mendapatkan F2 dan memasukkannya ke dalam pers. (10.2) dan (10.3), kita
mendapatkan :
( F1 − Fi )V ( F1 − Fi )V
H= dan H=
16 .500 2
(10.7)
Setelah memilih suatu gaya tarik awal dan mengevaluasi F1 = 2 Fi, persoalan
berikutnya adalah memeriksa pers. (10-1), atau (10-5) bila gaya sentrifugal disertakan
untuk mencari apakah sabuk tersebut mengalami slip. Kalau kemungkinan slip ada, dapat
menaikkan sudut kontak θ , mengganti bahan untuk menaikkan gesekan, atau
menggunakan panampang sabuk yang lebih besar. Untuk sabuk yang seluruhnya dari kulit.
Tegangan yang diizinkan yang paling konservatif adalah 1.75 MPa (250 psi).
Koefisien gesekan dari kulit, karet, kanvas kain pada baja adalah, masing-masing 0.40,
0.35. Yang lain mungkin berkisar antara 0.30 sampai yang paling 0.70 pada kasus khusus.

2. Sabuk-V

X-5
Penampang dan panjang sabuk V telah distandarisasi oleh ANSI dalam satuan U.S.
umum dan di dalam satuan SI. Sabuk untuk mobil adalah suatu kategori khusus, yang
distandarisasikan oleh ANSI dan SAE dalam kedua sistem satuan yang berlaku. Penetapan
yang tepat atas standar ini terlihat pada tabel 10-2.

Tabel 10-1. Sifat-Sifat Beberapa Bahan Sabuk Datar


Teg. Beban Kekuatan Berat
Sam
Bahan Ukuran tarik*izin akhir* Tarik
bungan
lb lb kpsi Lb/in3
n
5
Kulit yang disamak Padat ply 700 3-4 0.035-0.045
32
n
5
Kulit yang disamak Dikeling ply 300-600 1-2 0.035-0.045
32
n
5
Kulit yang disamak Dikat ply 300-600 1-2 0.035-0.045
32
Karet berbenang katun Divulkanisir 28 oz 15-25 280 0.041
Karet berbenang Divulkanisir 32 oz 15-25 300 0.047
Katun Divulkanisir 35 oz 15-25 320 0.051
Katun seluruhnya Ditenun 5 0.045
Katun seluruhnya Dijahit 7 0.044
Nylon Inti saja 35
Benang balatta Divulkanisir 22-25 0.040
* Lbf per inci lebar per lapis

Sabuk V ramping mempunyai banyak keuntungan dalam pemakaian tertentu


dimana ruangan terbatas. Mereka beroperasi pada diameter pulli yang kecil,
memungkinkan kecepatan yang lebih tinggi, motor penggerak yang lebih efisien, jumlah
sabuk yang lebih sedikit, dan biaya yang lebih murah dibanding sabuk V konvensional
yang sanggup untuk tugas berat. Penelitian oleh Ericksan memberi suatu hasil dimana lima
sabuk ramping dipakai untuk menggantikan delapan sabuk konvensional. Ini menghasilkan
penghematan biaya 33 persen, kalau biaya dari pulli yang lebih kecil diperhitungkan.
Sabuk V ditentukan dengan penggabungan identifikasi penampang (lihat tabel 10.2)
dengan panjang sabuk. Misalnya, sabuk konvensional tugas berat D173 mempunyai
penampang D dan panjang sebelah dalam (inside length) 173 in. panjang standar dari jenis
ini diberikan dalam tabel 10.7. panjang puncak (pitch length) dari sabuk ini di dapat
dengan menambahkan suatu besaran konversi, yang tampak pada tabel 10.4 terhadap
panjang sabuk sebelah dalam. Jadi suatu D173 mempunyai panjang puncak Lp = 173 + 3.3
= 176.3 in. Perhitungan perbandingan kecepatan didasarkan pada diameter puncak atau
diameter efektif dari pulli, karena itu, diameter pulli dikenal sebagai diameter puncak,
kecuali ditetapkan secara khusus.

X-6
Panjang sabuk metris distandarisasikan sebagai panjang puncak (pitch length), atau
panjang efektif (effective length). Lihat tabel 10-8 untuk standar panjang. Suatu sabuk
konvensional SI tugas berat yang dinyatakan sebagai 16C 1700 mempunyai penampang
16C dan panjang efektif 1700 mm.
Sudut kemiringan alur (groove angle) dari suatu pulli dibuat sedikit lebih kecil dari
sudut penampang sabuk. Ini menyebabkan sabuk menekuk sendiri ke dalam alur, jadi
meningkatkan gesekan. Harga yang setepatnya dari sudut ini tergantung pada penampang
sabuk, diameter puli, dan sudut kontak. Kalau ia dibuat terlalu kecil dibanding sudut sabuk,
gaya yang diperlukan untuk mengeluarkan sabuk dari alur tersebut akan lebih besar. Harga
optimum diberikan dalam literatur dagang.
Perencanaan gerakan sabuk V adalah sama seperti gerakan sabuk datar, keduanya
memerlukan informasi awal yang sama – lebih lanjut, gerakan sabuk datar ke sabuk V
dapat ditunjuk. Untuk hasil yang baik, suatu sabuk V harus beroperasi agak cepat, 4000
fpm adalah kecepatan yang baik. Kesulitan mungkin timbul bila sabuk bekerja lebih cepat
dari 5000 fpm atau kurang dari 1000 fpm.
Karena itu, bila mungkin, ukuran pulli harus dibuat sedemikian rupa agar memberi
kecepatan sabuk di sekitar 4000 fpm (20 m/s). Panjang suatu sabuk V didapat dengan cara
yang hampir sama dengan yang dipakai dalam mencari panjang sabuk datar. Persamaan
berikut berlaku :

L p = 2C + 1.57 ( D + d ) +
( D −d ) 2
4C

K + K 2 −32 ( D −d )
2

C= (10.8)
16
K = 4 L p − 6,28 ( D −d )

di mana : C = Jarak sumbu


D = Diameter puncak dari pulli yang besar
d = Diameter puncak dari pulli yang kecil
Lp = Panjang puncak dari sabuk (sama sebagai panjang efektif)

Perhitungan sudut kontak adalah sama seperti yang dipakai untuk sabuk datar (lihat
gambar 10-1). Telah kita perhatikan bahwa sabuk datar sebetulnya tidak mempunyai batas
akan jarak sumbunya. Begitupun, jarak sumbu yang panjang, tidak disarankan untuk sabuk
V karena vibrasi yang berlebihan pada sisi sabuk yang lebih kecil akan memperpendek
umur sabuk. Pada umumnya, jarak sumbu haruslah lebih besar dari tiga kali jumlah
diameter puli atau kurang dari diameter puli terbesar. Sabuk V tipe bermata rantai

X-7
mempunyai getaran yang lebih rendah; karena itu bisa mempunyai jarak sumbu yang lebih
besar.

Tabel 10-2. Standar Penunjukkan Berbagai Sabuk-V


Jenis Penampang Diameter Pulli* max. Standar**
A 3.0 in
B 5.4 in
Konvensional C 9.0 in ANSI/RMA-IP-20-1977
D 13.0 in
E 21.0 in
13C 80 mm
Konvensional SI 16C 140 mm
ANSI/RMA-IP-20-1977
tugas berat 22C 224 mm
32C 335 mm
3V 2.65 in
Tugas berat, ramping 5V 7.1 in RMA-IP-22
8V 12.3 in
3VX 2.2 in
Ramping bertakik RMA-IP-22
5VX 4.4 in
2L 0.8 in
3L 1.5 in
Tugas ringan RMA-IP-23
4L 2.5 in
5L 3.5 in
0.25
0.315 2.25 in
0.380 2.25 in
0.440 2.40 in
0.500 2.75 in
11 3.00 in
Otomotif, in 16 3.00 in ANSI/SAE J636C
3
3.00 in
4
7 3.50 in
8 4.00 in
1.0
6A
8A
10A
11A
Otomotif. SI 13A ANSI/SAE J636C
15A
17A
20A
23A
* Pulli bisa tersedia lebih kecil dari ini, tetapi pemakaiannya bisa memperpendek umur sabuk..
** Standar yang lain mencakup sabuk V ganda, sabuk serempak, sabuk kecepatan yang
berubah-ubah, dan sabuk V yang bertulang; masing-masing sebagai RMA-IP21, 24, 25 &26.

Pemilihan sabuk V didasarkan pada pencarian umur yang panjang dan yang bebas
dari kerusakan. Berkenan dengan itu, standar menyediakan suatu metode penilaian sabuk
V yang memberi perilaku yang memuaskan untuk berbagai kondisi. Metode tersebut dapat
disimpulkan dengan menggunakan persamaan daya (power rating equation). Untuk kedua
sistem satuan US dan SI, persamaan yang sangat empiris ini adalah ;

X-8
 C   1 
H r = C1 − 2 − C 3 ( rd ) − C 4 log ( rd )  ( rd ) + C 2 r  
2
1− 
 d   Ka 
(10-9)
Konstanta C1 sampai C4 tergantung pada penampang sabuk dan didaftarkan pada tabel 10-5
untuk kedua sistem satuan. Istilah yang umum untuk kedua sistem adalah :
r = rpm pada poros putaran tinggi, dibagi 1000
Ka = faktor perbandingan putaran (Lihat tabel 10.6).
Selanjutnya kita perhatikan bahwa nilai daya yang didapat dengan pers. (10.9)
adalah untuk busur kontak 1800 dan panjang sabuk rata-rata. Faktor koreksi K1
mengkoreksi nilai daya untuk sudut kontak dan didapat dari gambar 10.4. Faktor koreksi
panjang adalah K2 dan didapat dari tabel 10.7 dan 10.8. kedua faktor ini dipakai pada
persamaan : H’r = K1K2Hr Untuk mendapatkan nilai daya yang dikoreksi H’r.

Tabel 10-3. Penampang Sabuk-V Konvensional yang Sanggup Tugas Berat


Lebar, Tebal
Tebal sabuk Batas daya Ukuran standar pulli
Seri a sabuk
bergabung, b per sabuk yang khas
sabuk in tunggal, b
in (mm) hp (kW) in (mm)
(mm) in (mm)
Inci
A 0.50 0.31 0.41 0.2 – 5 2.6 keatas dengan kenaikan 0.2
B 0.66 0.41 0.50 0.7 – 10 4.6 keatas dengan kenaikan 0.2
C 0.88 0.53 0.66 1 – 21 7.0 keatas dengan kenaikan 0.5
D 1.25 0.75 0.84 2 – 50 12.0 keatas dengan kenaikan 0.5
E 1.50 0.91 1.03 4 - 80 18.0 keatas dengan kenaikan 1.0
SI
13 C (13) (8) (10) (0.1 – 3.6) (65 keatas dengan kenaikan 5)
16C (16) (10) (13) (0.5 – 72) (115 keatas dengan kenaikan 5)
22C (22) (13) (17) (0.7 – 15.0) (180 keatas dengan kenaikan 10)
32C (32) (19) (21) (1.3 – 39.0) (300 keatas dengan kenaikan 20)

Tabel 10-4. Besaran Konversi Panjang Sabuk Konvensional Tugas Berat


Penampang Batas ukuran Besaran konversi
Sabuk in in
A 26 sampai 128 1.3
B 35 sampai 240 1.8
B 240 ke atas 2.1
C 51 sampai 210 2.9
C 210 ke atas 3.8
D 120 sampai 210 3.3
D 210 ke atas 4.1
E 180 sampai 240 4.5
E 240 ke atas 5.5

Tabel 10-5. Konstanta yang Dipakai dalam Persamaan Nilai Daya


Penampang Sabuk C1 C2 C3 C4
A 0.8542 1.342 2.436 (10)-4 0.1703
B 1.506 3.520 4.193 (10)-4 0.2931

X-9
C 2.786 9.788 7.460 (10)-4 0.5214
-3
D 5.922 34.72 1.552 (10) 1.064
E 8.642 66.32 2.192 (10)-3 1.532
-2 -8
13 C 3.316 (10) 1.038 1.161 (10) 5.238 (10)-3
16 C 5.185 (10)-2 2.273 1.759 (10)-8 7.934 (10)-3
22 C 1.002 (10)-2 7.040 3.326 (10)-8 1.500 (10)-2
32 C 2.205 (10)-2 26.62 7.037 (10)-8 3.174 (10)-2

Gambar 10.2. Faktor koreksi K1 untuk sudut kontak 1800

Tabel 10-6. Faktor Perbandingan Kecepatan


Batas D/d KA
1.00 sampai 1.01 1.0000
1.02 sampai 1.04 1.0112
1.05 sampai 1.07 1.0226
1.08 sampai 1.10 1.0344
1.11 sampai 1.14 1.0463
1.15 sampai 1.20 1.0586
1.21 sampai 1.27 1.0711
1.28 sampai 1.39 1.0840
1.40 sampai 1.64 1.0972
di atas 64 1.1106

Tabel 10-7. Panjang Standar LS dan Faktor Koreksi Panjang K2 untuk Sabuk-V
Konvensional Tugas Berat Ukuran Inggris
LS A B C D LS B C D E
26 0.78 144 1.10 1.00 0.91
31 0.82 158 1.12 1.02 0.93
35 0.85 0.80 173 1.14 1.04 0.94
38 0.87 0.82 180 1.15 1.05 0.95 0.92
42 0.89 0.84 195 1.17 1.06 0.96 0.93
46 0.91 0.86 210 1.18 1.07 0.98 0.95
51 0.93 0.88 0.80 240 1.22 1.10 1.00 0.97
55 0.95 0.89 270 1.24 1.13 1.02 0.99
60 0.97 0.91 0.83 300 1.27 1.15 1.04 1.01
68 1.00 0.94 0.85 330 1.17 1.06 1.03
75 1.02 0.96 0.87 360 1.18 1.07 1.04
80 1.04 390 1.20 1.09 1.06
81 0.98 0.89 420 1.21 1.10 1.07
85 1.05 0.99 0.90 480 1.13 1.09

X-10
90 1.07 1.00 0.91 540 1.315 1.11
96 1.08 0.92 600 1.17 1.13
97 1.02 660 1.18 1.15
105 1.01 1.03 0.94
112 1.12 1.05 0.95
120 1.13 1.06 0.96 0.88
128 1.15 1.08 0.98 0.89
• penentuan panjang sesuai dengan keliling sebelah dalam. Sumber standar ANSI/RMA-IP-20-1977

Lebih lanjut, perilaku dari mesin penggerak dan yang digerakkan harus
diperhitungkan dalam pemilihan sabuk. Kalau, misalnya, beban sering-sering diberikan
oleh suatu sumber daya yang menghasilkan daya putar awal sampai 200 persen dari beban
penuh, maka daya yang diperlukan oleh gerakan sabuk harus dikalikan dengan suatu faktor
pemakaian beban lebih.
Faktor pemakaian atas beban lebih yang terdaftar pada tabel 10-9 bisa dipakai
sebagai penuntun kasar dalam pemilihan sabuk V. Pada umumnya, faktor terendah dalam
daerah yang disarankan harus dipakai untuk pemakaian yang terputus-putus, faktor
tertinggi untuk pemakaian yang kontinyu, dan rata-rata untuk pemakaian normal 8 sampai
10 jam per hari.

Tabel 10-8. Panjang Puncak Standard Lp dan Faktor Koreksi Panjang K2 untuk
Sabuk Konvensional SI Tugas Berat
13C 16C 22C 32C
Lp K2 Lp K2 Lp K2 Lp K2
710 0.83 960 0.81 1 400 0.83 3 190 0.89
750 0.84 1 040 0.83 1 500 0.85 3 390 0.90
800 0.86 1 090 0.84 1 630 0.86 3 800 0.92
850 0.88 1 120 0.85 1 830 0.89 4 160 0.94
900 0.89 1 190 0.86 1 900 0.90 4 250 0.94
950 0.90 1 250 0.87 2 000 0.91 4 540 0.95
1 000 0.92 1 320 0.88 2 160 0.92 4 720 0.96
1 075 0.93 1 400 0.90 2 260 0.93 5 100 0.98
1 120 0.94 1 500 0.91 2 390 0.94 5 480 0.99
1 150 0.95 1 600 0.92 2 540 0.96 5 800 1.00
1 230 0.97 1 700 0.94 2 800 0.98 6 180 1.01
1 300 0.98 1 800 0.95 3 030 0.99 6 560 1.02
1 400 1.00 1 900 0.96 3 150 1.00 6 940 1.03
1 500 1.02 1 980 0.97 3 350 1.01 7 330 1.04
1 585 1.03 2 110 0.99 3 550 1.02 8 090 1.06
1 710 1.05 2 240 1.00 3 760 1.04 8 470 1.07
1 790 1.06 2 360 1.01 4 120 1.06 8 850 1.08
1 865 1.07 2 500 1.02 4 220 1.06 9 240 1.09
1 965 1.08 2 620 1.03 4 500 1.07 10 000 1.10
2 120 1.10 2 820 1.05 4 680 1.08 10 760 1.11
2 220 1.11 2 920 1.06 5 060 1.10 11 530 1.13
2 350 1.13 3 130 1.07 5 440 1.11 12 290 1.14
2 500 1.14 3 330 1.09 5 770 1.13
2 600 1.15 3 530 1.10 6 150 1.14
2 730 1.17 3 740 1.11 6 540 1.15
2 910 1.18 4 090 1.13 6 920 1.16
3 110 1.20 4 200 1.14 7 300 1.17

X-11
3 310 1.21 4 480 1.15 7 680 1.18
4 650 1.16 8 060 1.19
5 040 1.18 8 440 1.20
5 300 1.19 8 820 1.21
5 760 1.21 9 200 1.22
6 140 1.23
6 520 1.24
6 910 1.25
7 290 1.26
7 670 1.27
Sumber : Dari standar ANSI/RMA-IP-20-1977

Tabel 10-9. Faktor Pemakaian Ks yang Disarankan untuk Gerakan Sabuk-V


Sumber Daya
Mesin yang
Perilaku Daya putar Daya putar Tinggi, atau
digerakkan
Normal Tidak merata
Merata 1.0 to 1.2 1.1 to 1.3
Kejutan ringan 1.1 to 1.3 1.2 to 1.4
Kejutan sedang 1.2 to 1.4 1.4 to 1.6
Kejutan besar 1.3 to 1.5 1.5 to 1.8

Sumber : diturunkan dari standar ANSI/RMA-IP-20-1977

Efisiensi.
Pemilihan elemen penggerak sabuk kadang-kadang bisa tergantung pada
efisiensinya. Pada umumnya, efisiensi sabuk V berkisar antara 70 sampai 95 persen. Sabuk
yang dipilih secara tepat mempunyai efisiensi dari 90 sampai 95 persen.
Beban daya putar mempunyai pengaruh yang paling besar pada efisiensi. Makin
rendah beban, efisiensi makin turun. Beban yang terlalu tinggi juga menurunkan efesiensi.
Pada kira-kira 20 persen dari daya putar perencanaan, suatu sabuk V tertentu mempunyai
efisiensi 80 persen, sementara pada daya putar perencanaan efisiensinya adalah 91 persen.
Kemudian, efisiensi juga turun dengan mengecilnya ukuran pulli. Penurunan diameter
pulli dari 5.6 in ke 2.6 in pada sistem sabuk V yang tersebut di atas menyebabkan suatu
penurunan efisiensi dari 95 persen ke 91 persen.

B. RANTAI ROL
Ciri-ciri dasar dari penggerak rantai antara lain perbandingan yang konstan, karena
tidak terjadi slip atau maju pelan-pelan (creep) ; umur yang panjang ; dan kemampuannya
untuk menggerakkan sejumlah poros dari suatu sumber daya tunggal.
Transmisi rantai terdiri atas rantai rol dan rantai gigi, yang dipergunakan untuk
meneruskan putaran dengan perbandingan yang tepat pada jarak sumbu poros sampai 4 m
dan perbandingan 1/1 sampai 7/1. Kecepatan yang diizinkan untuk rantai rol 5 m/s – 10
m/s. Untuk rantai gigi kecepatannya dapat dipertinggi hingga 16 sampai 30 m/s.

X-12
Jarak puncak ( pitch ) adalah jarak lurus antara pusat-pusat rol. Lebarnya adalah
ruang antara pelat penghubung sebelah dalam. Rantai-rantai ini dibuat dalam satu, dua, tiga
dan empat untai. Ukuran dari rantai terdaftar dalam tabel 10-10.

Gambar 10.3. Bagian dari rantai rol beruntai-ganda

Tabel 10-10. Ukuran Rantai Rol Beruntai Tunggal Menurut Sandar Amerika
Nomor J. puncak Lebar Kekuatan Berat Dia. rol J. untai
rantai In in Tarik min- Rata-rata in banyak
ANSI mm mm lb (N) lb/ft mm in (mm)

25 0.25 0.125 780 0.09 0.13 0.252


6.35 3.18 3470 1.31 3.3 6.4
35 0.375 0.188 1760 0.21 0.2 0.399
9.52 4.76 7830 3.06 5.8 1013
41 0.5 0.25 1500 0.25 0.306 …
12.7 6.35 6670 3.65 7.77 …
40 0.5 0.312 3130 0.42 0.312 0.566
12.7 7.94 13920 6.13 7.92 14.38
50 0.625 0.375 4880 0.69 0.4 0.713
15.88 9.52 21700 10.1 10.16 18.11
60 0.75 0.5 7030 1 0.469 0.897
19.05 12.7 31300 14.6 11.91 22.78
80 1 0.625 12500 1.71 0.625 1.153
25.4 15.88 55600 25 15.87 29.29
100 1.25 0.75 19500 2.58 0.75 1.409
31.75 19.05 86700 37.7 19.05 35.76
120 1.5 1 28000 3.87 0.875 1.789
38.1 25.4 124500 56.5 25.4 45.44
140 1.75 1 38000 4.95 1 1.924
44.45 25.4 169000 72.7 25.4 48.87
160 2 1.25 50000 6.61 1.125 2.305

X-13
50.8 31.75 222000 96.5 28.57 58.55
180 2.25 1.406 63000 9.06 1.406 2.592
57.15 35.71 35.71 132.2 35.71 65.84
200 2.5 1.5 78000 10.96 1.562 2.817
63.5 38.1 3810 159.9 39.67 11.55
240 3 1.875 112000 16.4 1.875 3.458
76.7 47.63 498000 239 47.62 87.83
Sumber : Dikompilasi dari ANSI B29.1 – 1975.

Pada gambar 10.4 tampak sebuah jentera yang menggerakkan rantai pada arah yang
berlawanan dengan putaran jarum jam. Dengan menyatakan puncak rantai dengan p, sudut
puncak dengan γ , dan diameter puncak dari jentera dengan D ,dari ilmu ukur sudut :
p p
γ D=
sin = 2 atau γ  (a)
2 D sin  
2
2

Gambar 10.4. Pengikatan rantai dan jentera

360
Karena γ = , dimana N adalah jumlah gigi dari jentera, Pers. (a) dapat ditulis
N
p
D=
 180  (10.10)
sin  
 N 
γ
Sudut , melalui mana mata rantai berayun sementara ia memasuki perkontakan,
2
disebut sudut-artikulasi ( angle of articulation ). Harga dari sudut ini telah digambarkan
sebagai fungsi dari jumlah gigi pada gambar 10.5a.
Dengan menggunakan geometri dari Gambar 10.4, besar dari perubahan kecepatan
ini dalam persen adalah :

X-14
∆V   180    180 
= 100 sec   − 1  cos  (b)
V   N    N 

Ini disebut variasi kecepatan penghubung ( chordal speed variation ) dan


digambarkan pada gambar 10.5b.

Gambar 10.5. (a) hubungan antara sudut artikulasi dan jumlah gigi jentera
(b) hubungan jumlah gigi jentera - variasi kecepatan penghubung

Tabel 10-11. Kapasitas Daya dari Rantai Rol Berpuncak Tunggal


dengan Untai Tunggal untuk Jentera Bergigi 17

X-15
Tabel 10-11. Kapasitas Daya dari Rantai Rol Berpuncak Tunggal
dengan Untai Tunggal untuk Jentera Bergigi 17

X-16
* Ditaksir dari table ANSI dengan interpolasi linear.
Catatan : Type A – Pelumasan tetes atau secara manual.
Type B – Pelumasan celup atau cakra.
Type C – Pelumasan aliran oli.
Type C’ – Type C, tetapi merupakan daerah yang sulit
Sumber : Dikompilasi dari ANSI B29-1 – 1975 hanya informasi penampang, dan dari B29-9 – 1958.

Perilaku beban adalah pertimbangan yang penting dalam pemilihan rantai rol. Pada
umumnya, kapasitas ekstra dari rantai diperlukan untuk setiap kondisi berikut ini:
• Jentera kecil yang mempunyai gigi kurang dari 9 untuk penggerak putaran
rendah atau kurang dari 16 gigi untuk penggerak putaran tinggi.
• Jentera yang besarnya diluar kebiasaan.
• Terjadi pembebanan kejut, atau terdapat beban berulang yang sering.
• Terdapat tiga jentera atau lebih pada penggerak.
• Pelumasannya jelek.
Rantai harus beroperasi pada kondisi kotor atau berdebu. Untuk memperhitungkan ini dan
kondisi operasi lainnya nilai dalam tabel 10-11 harus dimodifikasi oleh dua faktor untuk
mendapatkan harga yang dikoreksi untuk rantai tunggal atau banyak. Faktor-faktor tersebut
adalah :

X-17
• Faktor koreksi gigi K1, yang memperhitungkan kenyataan bahwa jentera
penggerak mungkin mempunyai gigi lebih atau kurang dari 17 (tabel 10-12)
• Faktor jumlah untai K2, yang memperhitungkan kenyataan bahwa nilai tersebut
tidak berhubungan secara linear dengan jumlah untai (tabel 10-13).

Daya yang dikoresi didapat dengan kedua factor ini pada nilai daya dari tabel 10-11
sebagai berikut :
H r' = K1 K2 Hr (10.13)

Di mana H r' adalah nilai yang telah dikoresi sepenuhnya.


Faktor pemakaian Ks dalam tabel 10-14 dipakai untuk memperhitungkan variasi
dalam sumber-sumber penggerak dan yang digerakkan. Kalikanlah daya terhitung atau
yang diketahui dengan Ks untuk mendapatkan daya perencaaan.
Panjang rantai harus dicari dalam jumlah puncak. Ini menginginkan jumlah puncak
yang genap, karena kalau tidak maka diperlukan mata rantai yang offset. Panjang yang
mendekati bisa didapat dari persamaan berikut :

L 2C N1 + N 2 ( N 2 − N 2 ) 2
= + +
p p 2 C  (10.14)
4π 2  
 p
di mana :
L = panjang rantai.
P = jarak puncak rantai.
C = jarak sumbu.
N1 = jumlah gigi pada jentera kecil.
N2 = jumlah gigi pada jentera besar.

Panjang rantai untuk penggerak berjentera banyak paling mudah didapat dengan
membuat gambar yang diskala secara teliti dan dengan mendapatkan panjangnya melalui
pengukuran pada gambar.
Pelumasan rantai rol adalah penting dalam mendapatkan umur yang panjang yang
bebas dari kerusakan. Pelumasan tetes maupun pelumasan celup dangkal cukup
memuaskan. Oli dengan mineral ringan atau sedang, tanpa additive, perlu dipakai. Kecuali
pada kondisi yang tidak biasa, oli berat dan gemuk tidak disarankan karena pelumas
tersebut terlalu kental untuk memasuki celah-celah yang sempit di antara bagian-bagian
rantai.

X-18
Tabel 10-12. Faktor Koreksi Gigi
Jumlah Gigi Faktor Jumlah Gigi Faktor
Jentera penggerak Koreksi gigi, K1 Jentera pengerak Koreksi gigi, K1
11 0.53 22 1.29
12 0.62 23 1.35
13 0.70 24 1.41
14 0.78 25 1.46
15 0.85 30 1.73
16 0.92 35 1.95
17 1.00 40 2.15
18 1.05 45 2.37
19 1.11 50 2.51
20 1.18 55 2.66
21 1.26 60 2.80

Tabel 10-13. Faktor Jumlah K1


Jumlah untai K2
1 1.0
2 1.7
3 2.5
4 3.3

Tabel 10-14. Faktor Beban Pemakaian Ks


Sumber penggerak
Mesin Motor Bakar Motor Listrik Motor Bakar
yang Digerakkan Penggerak Hidrolis atau Turbin Penggerak Mekanis
Hubung 1.00 1.00 1.2
Kejutan sedang 1.2 1.3 1.4
Kejutan Berat 1.4 1.5 1.7

X-19